Untung atau Buntung?

Limantina Sihaloho
[Kisah penduduk desa Sinar Pagi dan Sopo Komil]

Desa Sinar Pagi

Ruth Butar-butar, diakones dari Perkumpulan Diakones Pelangi Kasih (PDPK) yang tinggal di Parongil bercerita kepada saya bagaimana ia dan kawan-kawannya harus berjalan kaki paling tidak selama 4 jam untuk sampai ke sebuah desa bernama Sinar Pagi di Kecamatan Tanah Pinem Kabupaten Dairi.

Jalan menuju desa ini melalui bukit dan lembah yang sebagian bertebing curam. Kalau tidak hati-hati terutama di musim penghujan, tergelincir berarti masuk jurang. Ke desa ini kadang-kadang ada mobil milik PT Dairi Prima Mineral (DPM) yang tangguh dan sanggup melewati medan yang sulit. Kalau mobil ini kebetulan lewat dan tidak bermuatan penuh, diakones dan staf PDPK dapat menumpang. Ojek juga kadang ada tetapi tidak semua orang punya keberanian menumpanginya mengingat medan yang demikian sulit dan berbahaya.

Listrik jelas belum masuk ke desa Sinar Pagi. Penduduk di sini yang mayoritas adalah orang-orang Toba paling tidak satu abad tertinggal dari penduduk Indonesia lainnya yang tinggal dekat dengan jalan raya utama baik dekat jalan raya berkategori jalan-negara, jalan-provinsi, jalan-kabupaten dan jalan-kecamatan. Jalan raya yang memadai merupakan salah satu jaminan yang dapat memajukan sebuah komunitas tetapi masih banyak penduduk di Indonesia ini termasuk di Sumut yang terpencil. Desa Sinar Pagi hanya merupakan salah satu contoh dari sekian banyak contoh desa yang masih terpencil dan terisolasi sampai sekarang.

Di desa Sinar Pagi hanya ada Sekolah Dasar (SD). Kalau mau melanjut berarti harus keluar dari desa ini. Mayoritas generasi muda laki-laki bekerja sebagai penambang timah di sini yang disebut-sebut memiliki kualitas sangat bagus. Namun, para penduduk yang menambang timah secara swadaya dikategorikan sebagai penambang ilegal sebab mereka tidak mempunyai izin resmi dari pemerintah. Sejak PT DPM merambah desa Sinar Pagi, penduduk menjadi tahu bahwa di desa mereka terdapat harta karun lalu mereka pun mulai menambang secara kecil-kecilan. Inilah yang disebut ilegal oleh pihak pemerintah.

PT DPM mengantongi izin mengeksploitasi wilayah ini dan beberapa wilayah di Kabupaten Dairi. PT DPM inilah yang sudah dan akan mengeruk perut bumi wilayah ini dan penduduk setempat terutama hanya menjadi penonton sekaligus korban. Walau sebagian penduduk setempat bekerja di PT DPM, mereka terutama adalah buruh dan berada di level bawah.

Para perempuan dari desa Sinar Pagi setelah menyelesaikan pendidikan setingkat SMP dan SMA memilih meneruskan hidup di perantauan. Bangku universitas merupakan kemewahan yang amat besar bagi generasi muda desa ini. Nampaknya belum atau sangat jarang ada yang berpendidikan setingkat sarjana dari desa ini. Kondisi perekonomian penduduk setempat tidak memungkinkan untuk membiayai anak-anak mereka sampai ke tingkat universitas. Jenis tanaman mereka juga terbatas dan tidak adanya sarana transportasi yang memadai membuat desa ini sangat sulit berkembang.

Jika penduduk desa ini hanya mampu belajar hingga ke tingkat SMP dan SMA maka sektor utama pekerjaan mereka adalah menjadi buruh dan di sektor informal. Para perempuan yang berasal dari desa terpencil macam Sinar Pagi ketika sudah berada di kota bahkan sebelum menetap di kota juga rawan terhadap penipuan yang membuat mereka kemungkinan besar bisa terpaksa bekerja menjadi pekerja seks komersial. Di samping itu, kurangnya pendidikan menjadikan mereka potensial menjadi korban dalam praktik perdagangan manusia (human-trafficking) sebagaimana bisa terjadi kepada siapa saja dari latar belakang sosial-ekonomi rendah.***

Desa Sopo Komil

“Di sini sudah ada beberapa ibu yang kakinya sakit dan tidak normal akibat terlalu memaksakan diri bekerja membawa beban ke atas sana”, kata Br. Nababan di desa Sopo Komil Kabupaten Dairi belum lama ini. Sejak PT DPM mulai beroperasi di Sopo Komil, penduduk desa ini terutama para ibu mengangkut segala macam keperluan PT DPM berupa bahan-bahan bangunan, makanan dan keperluan sehari-hari mereka ke atas bukit di mana penambangan PT DPM berlangsung. Jalanan ke bukit menanjak. Para ibu di Sopo Komil membawa beban hingga 50 kg ke gunung tempat penambangan berlangsung. Di gunung itu sebagian staf T DPM tinggal.

Dalam satu hari, setiap orang dapat memperoleh Rp 50.000 – 100.000 dengan hanya bekerja 2 hingga 3 jam. Tadinya anak-anak juga ikut bekerja mengantarkan keperluan-keperluan PT DPM ke bukit sana tetapi kemudian anak-anak tidak boleh lagi sebab praktik semacam ini melanggar hak azasi anak. Lalu para ibulah yang mengambil alih hampir semua pekerjaan mengantarkan bahan-bahan yang menjadi keperluan sehari-hari pihak PT DPM ke atas gunung.

“Sudah banyak ladang penduduk di sini tidak terurus sama sekali”, kata Br. Nababan ketika kami berada di ladangnya di kaki bukit. Ibu ini, di samping bekerja mengantarkan barang-barang keperluan PT DPM ke bukit juga masih berusaha semaksimal mungkin mengurus ladang kopi dan sawahnya. Sebagian anak-anaknya masih duduk di bangku SMP dan SMA. Suaminya sudah meninggal dan dialah bersama anak perempuannya yang paling besar yang bekerja setelah lulus SMA di PT DPM yang menjadi tulang punggung perekonomian keluarganya.

“Kakiku terutama di sendi-sendi juga sudah sakit karena pekerjaan mengantarkan barang-barang PT DPM ke bukit sana”, lanjut Br. Nababan. Kadang para ibu di Sopo Komil ini juga masih harus membawa beban dari bukit di mana penambangan berlangsung ke desa. Ini pekerjaan paling sulit sebab kaki mereka bisa gemetar menahan beban ketika menuruni jalan yang curam. Inilah yang membuat lutut mereka terasa sangat ngilu dan sakit. Walau para diakones sudah menjelaskan bagaimana dampak yang bisa terjadi akibat mereka memaksakan diri membawa beban ke bukit dan ke desa melewati jalan menanjak dan curam itu, para ibu ini tidak dapat menghentikan pekerjaan itu sebab mereka perlu uang.

Baik penduduk desa Sinar Pagi dan Sopo Komil tinggal di tanah yang subur. Ketertinggalan penduduk Sinar pagi terutama karena tidak ada jalan raya ke desa itu. Penduduk Sopo Komil bersawah dan pasokan air selama ini cukup sebab mereka tinggal tak jauh dari kaki gunung yang berjejer memagari desa. Perambahan hutan apalagi disertai penambangan perut gunung oleh PT DPM akhir-akhir ini tentu berdampak buruk bagi terutama penduduk desa ini sebab pasokan air bisa berkurang, zat-zat yang dipergunakan di wilayah penambangan dapat mencemari air, tanah dan udara. Hewan-hewan liar seperti harimau juga sudah masuk kampung karena habitat asli mereka terganggu.

Pada tanggal 23 April 2007 yang lalu, pihak PT DPM mengadakan pesta adat Pakpak di mana mereka sebagai pemilik modal memposisikan diri sebagai boru pihak pemilik tanah ulayat di Sopo Komil. PT DPM menjadi dongan tubu marga Boang Manalu yang menjadi boru dari marga Cibero. Ini termasuk kategori manipulasi berbentuk penjinakan terhadap penduduk terutama kepala-kepala adat yang mungkin juga mata-duitan bercampur lugu. Pihak pemerintah seperti wakil bupati Dairi pun turut hadir dalam pesta adat tersebut. Investor dan pemerintah kongkalikong memanipulasi masyarakat.

Yang paling menderita dalam konteks masyarakat desa Sinar Pagi dan Sopo Komil adalah perempuan dan anak-anak. Kalau tidak ada keberpihakan pemerintah termasuk gereja terhadap penduduk Sinar pagi maka mereka akan tetap tertinggal dan terabaikan terus. Kalau para ibu di Sopo Komil sakit dan lumpuh karena bekerja di luar kemampuan mereka, keluarga akan terlantar.

Konteks masyarakat kita mengharuskan perempuan sebagai pihak yang terutama harus mengurus keluarga; pada umumnya juga, terutama di pedesaan, para ibu bekerja lebih banyak daripada laki-laki untuk menopang perekonomian keluarga sebagaimana terjadi di Sopo Komil dan Sinar Pagi. Di kedua desa ini termasuk di banyak desa di Tanah Batak terutama belakangan ini, sebagian besar para lelaki menghabiskan waktu mereka di kedai minum tuak dan mengobrol. Banyak pekerja tambang di desa Sinar Pagi dan penduduk Sopo Komil dan sekitarnya yang bekerja di PT DPM bisa menghabiskan lebih dari separoh gaji mereka di kedai-kedai (tuak).


Bookmark and Share

Tulisan Limantina :
Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen
Adat Dan Kepentingan Ekonomi
Gereja di Sumut mau ke mana?

Iklan

44 thoughts on “Untung atau Buntung?

  1. “Namun, para penduduk yang menambang timah secara swadaya dikategorikan sebagai penambang ilegal sebab mereka tidak mempunyai izin resmi dari pemerintah”… bah…puang…hebat kali pemerintah itu…illegal di tanah airku..eehh tanah air mereka…

  2. nirwan panggabean berkata:

    Horas…..
    Saya cuma bertanya…..apa yang bisa kita lakukan lae untuk membantu saudara kita disana….

    *** Inilah lae yg kita cari bentuknya. Memberi uang ke rakyat belum tentu menolong. Mereka hrs dikuatkan dulu melalui pencerdasan, keberanian, sehingga mereka mampu melihat masalah mereka dan membuat solusi. Sebenarnya mereka tau, tapi tdk terorganisir, tdk ada organiser diantara mereka. Ini hrs dimunculkan melalui pelatihan.

  3. G. Meha berkata:

    Kita memang untung(ber) memiliki sumber daya alam yang melimpah, bahkan beberapa diantaranya dikategorikan sebagai “terbesar di dunia”. Juga, kita sangat ber(untung) memiliki Undang Undang Dasar yang sangat perkasa, yang dengan tegas mengatakan bahwa semua keberuntungan yang kita miliki (bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya) itu dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

    Tetapi untung tak dapat diraih buntung tak dapat ditolak. Kita buntung. Masyarakat terperosok dalam jurang kemiskinan yang sangat dalam.

  4. Sitorus Par Lobam berkata:

    Yang perlu disadarkan itu pemerintahnya, apapun yang akan kita perbuat pada rakyat disana, kalau pemerintahnya tak mendukung akan sia sia, malah kita akan dituduh sebagai pemberontak, mencari hidup ditanah sendiri masa di dikategorikan ilegal, lucu tak itu…….

  5. Baginda Na70 berkata:

    Ya….kalau kayak gini apa lah jadinya negeri ku?
    Percuma saja ada DPR/DPRD,kalau bisanya cuma melongo kayak kerbo. jadi, yang ngerti bagaimana mencarikan bentuk solusi untuk saudara2 kita di desa Sinar Pagi kayaknya dah bisa mulai bergerak ni. sebelum nasi menjadi bubur.

  6. goklas berkata:

    saya jadi teringat dosen kami pak sitinjak:

    Bagaimana caranya biar penduduk indonesia ini bisa dirubah, cara merubah biar korupsi nggak ada??
    KATANYA :
    seluruh penduduk indonesia diatas 15 Tahun ke atas harus dibunuh alias dimusnahkan setelah itu generasi muda di didik menjadi orang Baik………

    karena dari dulu Cerita tentang pemimpin indonesia tetap ajah untuk memikirkan dirinya sendiri, masih sangat jarang kita temukan pemimpin yg jiwa raganya untuk masyarakatnya???
    begitu juga hasil tambang yg ada dalam cerita diatas:
    pemilik perusahaan akan mengadu domba masyarakat supaya mereka jangan bersatu untuk menuntut haknya???
    semoga yang maha kuasa Mendengarkan doa2 orang tertindas,,,,,,
    salam perjuangan…….

    *** Merinding sy memdengar statemen dosen mu itu Goklas. Apa tdk ada solusi lain? Padahal mereka itu: laeku, tulangku, amangboruku, abangku, itoku, baoku, kawanku…:-(

  7. suhunan situmorang berkata:

    Ito Limantina, pantasan akhir-akhir ini nggak bisa saya hubungi, rupanya sedang “mengembara” ke pelosok Dairi sana. Menurutku, ito memang lebih cocok sebagai antropolog/sosiolog atau jurnalis ketimbang teolog; sebuah reportase yg mengharukan dan menyayat batin. Thn 1995, ihwal keterpencilan dan derita penduduk Sopo Komil-Dairi ini sudah pernah dibeberkan kawan lamaku (yg entah di mana dia sekarang). Ternyata, dari laporan ito, kondisinya masih sama, meski kini sudah thn 2008 dan telah dirambah sebuah perusahaan tambang bermodal kuat. Tak sanggup saya memberi komentar atas penderitaan penduduk dua desa di atas, seperti halnya ketidaksanggupan menanggapi terungkapnya satu per satu keganasan dan kerakusan pejabat dan mantan pejabat (gubernur, bupati), anggota dan bekas anggota DPR (dan DPRD), para politisi, juga aparat hukum, yang selama puluhan tahun berpesta pora menikmati uang hasil korupsi, mark-up, suap, yang anehnya selama ini dianggap masyarakat (termasuk kita, mungkin) sebagai “orang-orang sukses.”

    @ goklas
    Unang sampe terjadi songon na nidokni mantan dosenni lae i bah… Aku dan Lae Naipospos akan ikut dibasmi 😦 Padahal, sumpah lae, kami belum pernah ikut menikmati hasil korupsi uang negara, karena memang tak ada kesempatan kami. Ai dang pegawai negara manang politisi hami lae… Dang adong muse manggaji hami, lae, naikkon hodohan jala loja do hami asa dapotan jampalan.
    Ate dangi Lae Naipospos? 🙂

  8. Sangat menyedihkan…

    Memang dilemma ya…Kalau tidak ada investor yang datang, daerah akan kesulitan menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan Pendapatan Asli Daerah…Tetapi ketika investor datang kelestarian lingkungan dan dampak sosial akan menjadi taruhannya…

    Menjadi lebih sulit ketika ada investor yang masuk, para pejabat publiknya berlomba-lomba menggadaikan peraturan yang sebenarnya dibuat untuk menyeimbangkan manfaat kehadiran sebuah industri dengan resiko lingkungan dan sosial yang akan timbul (cost and benefit/ amdal)…

    Padahal industri jelas diperlukan untuk mendorong kemajuan sosial…Menurut perkiraan saya bekerja di Kabupaten Bintan selama 13 tahun terakhir, setiap kabupaten memerlukan setidaknya 3 perusahaan besar (yang turn overnya setara PT TPL) untuk menjadi pemutar roda ekonomi dan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut (money spiiner).

    Kalau tidak tano batak akan selamanya menjadi saksi bisu kemajuan daerah sekelilingnya…dan cerita tentang Desa Sinar Pagi dan Sopo Kamil ini akan terus terjadi…

  9. Marudut Pasaribu berkata:

    Horas ito…jadi teringat aku waktu kita jalan kaki ke Huta Partungkoan di Samosir. Waktu itu kita hanya jalan kaki kira-kira 1 jam tapi rasanya sudah capek kali, padahal kita berjalan tanpa beban yang harus kita pikul.

    Pengalaman kita itu membuat aku bisa merasakan betapa berat pekerjaan ibi-ibu di Desa Sinar Pagi itu. Mereka harus memikul beban berat dan melakukannya setiap hari ,walaupun dengan cara itu mereka mendapatkan uang antara 50 ribu sampai 100 ribu sehari, mungkin jumlah segitu sesuatu yang cukup besar buat mereka dibandingkan kalau mereka bertani.

    Dalam beberapa diskusi di blog Raja Huta tentang penambangan ini, beberapa teman yang berasal dari daerah itu sangat mendukung keberadaan tambang itu dengan alasan akan mendatangkan kemakmuran bagi masyarakatnya.

  10. jonny berkata:

    Sepengetahuan saya ya setiap perusahaan yang sudah melakukan eksploitasi atas tambang yang mau digarap, sebelumnya sudah harus melalukan ato membayar ganti rugi atas lahan yang hendak digarap(tambang) biar pun itu sebenarnya tanah milik negara, artinya penduduk setempat sudah menggarap lahan tersebut sebelum ditambang jadi seharusnya perusahaan yang akan menambang sudah harus memberikan ganti rugi sesuai kesepakatan perusahaan dengan penduduk tersebut berapa besar nilai dari lahan tersebut , tentunya di hitung berdasarkan luas dari lahannya, jadi perlu kita ketahui dulu apakah sudah ada ganti rugi, hal ini perlu di pertanyakan ke perusahaan atau ke penduduk setempat terutama ke bapak bapaknya karena takutnya sudah ada ganti rugi tapi kaum ibu tidak tau, ( habis di kedai) kalau memang belum ada penggantian diberikan oleh perusahaan, masyarakat berhak untuk menuntutnya, dan disamping ganti rugi, perusahaan juga wajib untuk membangun sarana umum seperti jalan dan sarana lainnya. dan masih banyak lagi yang harus diberikan oleh perusahaan ke warga seperti uang debu…uang kebisingan….dll. jadi saya harap teman teman untuk dapat menyumbangkan tenaganya untuk membantu penduduk desa yang memang sangat membetuhkan dan memang itu adalah hak mereka.

  11. hodbin marbun berkata:

    Horas.

    Manetek ilu manjaha surat ni ito Limantina on sian penderitaan ni aka Ina di dua huata i, tidak terteriman dng akal sehat.
    sappe saonari dang adong dope dalan na hona aspal, ai aha do ulaon ni pamaratta di Dairi na holan hundul do di kattor, manag kunjungan kehormatan do. ai bangsona na di Sopo Komil & Sinar Pagi dang hea di ida manag na Paola so Ibereng do nasiada na di dua luati nuaeng.

    Mudah2 ma di jaha akka pejabat Kab Dairi Blog Mulai sian Bupati,DPRD, dohot pejabat na asing asa tarbukka rohana.

    Mauliate

    GBU

    Horas.

  12. Belum ada buktinya kehadiran perusahaan pertambangan membawa kesejahteraan bagi penduduk setempat.

    Timika, Soroake, Sidoarjo, hanyalah beberapa bukti betapa kehadiran perusahaan tambang memaksa penduduk jadi penonton, korban, dan terusir.

    Mungkin pada urutan berikutnya dalam daftar itu, tak lama lagi akan tertera : Sopokomil.

    Bereng on Ompung, haotoon dohot hagaleon nami Bangso Batak. Unang pasombu bangsoi magargar jala russur ala so marbisuk jala mongkus. .

  13. Mauliate tu hamu sude naung merespon tulisan taringot tu huta na di Sinar Pagi dohot Sopo Komil i.

    Horas tu Ito Suhunan; bah, namago ma mungkin tanda-tanda-perhubungan i molo boti sian hp manang sian email huroha Ito. Molo Partungkoan-Samosir, manang boa pe i Ito Marudut, tarmasuk daerah turis do alai ingkon mardalan pat ma tarlumobi di ari parudan nang pe parpudion ala sepi pariwisata Indonesia, dang piga be turis na lewat sian huta i. Molo Sinar Pagi, saya kira belum ada turis yang ke sana kecuali staf PT DPM. Unang-unang Ephorus ni HKBP pe so sadar na adong ruas ni HKBP di desa i, na eksis halahi di portibion.

    Terimakasih untuk Pak Monang yang tadi malam meningatkan saya agar membaca respon yang masuk sebab ada yang melontarkan ide apa yang sebaiknya kita lakukan. Saya mengatakan kepada Pak Monang bahwa KSSPM, sebuah LSM yang berkantor di Parapat merupakan salah satu pendamping masyarakat Sopo Komil.

    Saya bisa mengerti mengapa putra daerah dari Sopo Komil seperti yang disebutkan oleh Ito Marudut Pasaribu setuju PT DPM beroperasi di Dairi termasuk di Sopo Komil. Mungkin itu bisa pendapat generasi muda Sopo Komil tetapi saya agak curiga juga itu pendapat generasi muda yang bisa saja lahir di Sidikalang. Sidikalang sebagai ibukota Kab. Dairi masih relatif jauh ke Sopo Komil. Atau mungkin pendapat generasi muda asal Dairi yang sudah berada di rantau. Kalau generasi mudah yang tinggal di Sopo Komil, saya ragu. Mereka kan belum biasa dengan internet.

    Memang dilematis. Seperti yang saya sebutkan dalam tulisan, anak perempuan Ibu Br. Nababan bekerja di PT DPM. Gajinya 1,5 juta per bulan sebagai sekretaris. Setelah lulus SMA dari Sidikalang, putri ibu ini tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Lalu ibu ini mendatangi seorang perempuan Batak yang sudah bekerja di PT DPM. Membujuk si perempuan Batak untuk mau menerima putrinya kerja di sana walau sebagai tukang cuci saja yang penting bisa kerja. Jadilah putri ibu ini bekerja sebagai tukang cuci selama 1,5 tahun. Setelah itu menjadi sekretaris karena pekerjaannya dinilai bagus.

    Terutama generasi muda Sopo Komil yang dirantau perlu mempertimbangkan matang-matang untung dan rugi beroperasinya PT DPM itu di sana. Betul memberikan lapangan kerja tapi masyarakat terutama hanya sebagai kroco-kroco di situ. Pertanian kita tidak berkembang, jalan di tempat saja. Sebagian padi di sawah di Sopo komil tidak bagus kali ini karena pupuk langka. Generasi muda tak punya minat bertani, kalaupun mau itu karena terpaksa dan tak ada pilihan.

    Mengadvokasi masyarakat seperti Sopo Komil akan merupakan pekerjaan yang panjang dan bisa sangat melelahkan. PT DPM telah lama melakukan penelitian dan eksplorasi di daerah itu, kalau tidak salah sejak tahun 70-an. Jadi di masa Orde Baru mereka sudah mondar-mandir tanpa sepengetahuan orang banyak. Dugaan saya mereka keluar masuk hutan ditemani oleh pihak pemerintah (tentara?).

    Harta kekayaan yang ada di gunung atau di alam Indonesia ini disebut dalam UUD 45 sebagai milik negara tetapi dalam prakteknya itu identik dengan milik penguasa dan pengusaha.

    Terutama dalam jangka panjang, kalau hutan sudah rusak dan limbah menumpuk, akibatnya bisa fatal bagi warga Sopo Komil. Mereka dari dulu sudah bersawah di lembah yang diapit dua dinding dataran tinggi memanjang. Sebagian warga sudah menjual sawah mereka dan ada rencana PT DPM untuk membuat tempat tertentu di lembah tempat persawahan penduduk itu menjadi tempat pembuangan limbah seperti diceritakan oleh salah satu diakones dari PDPK. Ada dua keluarga yang tidak mau menjual tanah mereka sampai sekarang di lokasi yang direncanakan sebagai tempat pembuangan limbah itu nanti.

    Di seberang desa Sopo Komil persis di kaki bukit dekat sawah penduduk, perumahan milik PT DPM sudah hampir selesai. Ini merupakan perumahan tambahan selain yang berada di dekat penambangan di atas gunung sana.

    Belum lama ini, karyawan PT DPM demonstrasi karena uang lembur mereka selama beberapa tahun belum dibayarkan oleh DPM. Mereka janji akan melakukan pembayaran.

    Yang bergerak mendampingi terutama para ibu di Sopo Komil dan Sinar Pagi adalah Perkumpulan Diakones Pelangi Kasih (PDKP). KSPPM setahu saya juga merupakan salah satu pendamping masyarakyat di situ.

    Dalam situasi yang sudah seperti sekarang ini, hampir tidak mungkinlah menyuruh investor PT DPM asal Australia itu untuk balik ke Australia saja. Mereka sudah punya dokumen-dokumen legal. Paling tidak dulu, masyarakat khususnya dari Sumut yang ada di rantaulah yang perlu tahu apa yang sedang terjadi di sana. Potensi ini lalu bisa menjadi kekuatan sosial yang setidaknya bisa memaksa PT DPM memperlakukan para buruh di sana manusiawi. Juga memberitahukan bahwa masih banyak warga Indonesia khususnya kita dari Sumut ini yang ngerti metode-metode manipulatif yang mereka lakukan untuk mengeruk bumi kita. Saya bukan anti investor tapi yang sering terjadi, tindakan mereka justru persis SERIGALA BERBULU DOMBA. Masyarakat desa kebanyakan hanya lihat DOMBA-nya, nggak lihat SERIGALA-nya. Orang lapar dan nggak punya uang juga bisa yang dilihatnya hanya bentuk dombanya. Pemerintah apalagi, sudah tahu yang datang serigala tapi tak mau ngaku kalau itu serigala.

    Saya berharap Bang Eliakim Sitorus dan rekan-rekannya dari KSPPM termasuk juga para diakones dari PDKP dapat memberikan respon untuk konteks ini sebab mereka yang antara lain sudah banyak bekerja dalam masyarakat itu. Saya ini hanya pergi dalam waktu singkat dan menuliskan apa yang saya dengar dan lihat.

  14. Penduduk Sopo Komil, Godung, Parongil sendiri banyak yang merasa bangga atas “proyek” itu. Dibuatkan jalan oleh PT DPM, ada sumber pendapatan walaupun itu nilainya sangat kecil dibanding mineral yang akan diangkut dari tanah itu.

    Bahkan sebagian dari putra daerah yang ada di Jakarta sudah bolak balik pulang kampung, mereka bilang cari peluang usaha atas berdirinya projek tersebut.

    Dulu ada sekelompok orang yang protest, belakangan ini sudah tidak pernah terdengar.

    Bagaimana caranya supaya pemerintah mengambil sikap. Membiarkan kekeyaan bumi Indonesia dijual ke asing tapi meninggalkan dampak negatif esok kepada penghuninya atau HENTIKAN

  15. Rebly Sidabutar berkata:

    ” Memang dilema hidup ini beragam-ragam……tetapi bagaimanapun harus masyarakat sekitar daerah tersebut yang harus menyelesaikan masalah ini. apalagi kalau ada Lembaga Swadaya Masyarakatnya (bukan buatan perusahaan itu ya…) yang bisa menjadi ujung tombak masyarakat dalam hal menuntut yang menjadi hak-hak masyarakat..baik kepada perusahaan maupun pemerintah……kalo gak salah sekarang lagi angat-angatnya masalah corporate social responsibility (CSR)…apakah ini sudah dijalankan perusahaan..???? atau sudah ada yang ambil dan menikmatinya sendiri….kalo saya kutip omongan bapak Wapres kita yang terhormat “Kuala Lumpur (ANTARA News) – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan, Corporate Social Responsibility (CSR) tetap akan diberlakukan untuk menjamin kelangsungan perusahaan di bidang sumberdaya alam serta jaminan kesejahteraan sosial bagi masyrakat sekitarnya.” tentu masyarakat tidak seperti ceritanya lae itu…atau peraturan……Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

    Pasal 1 ayat (3)

    Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

    Pasal 74

    (1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan TJSL.

    (2) TJSL merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

    (3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai TJSL diatur dengan Peraturan Pemerintah…….
    SEMOGA ADA YANG MAU MENJADI PENGGAGAS lsm DISANA…..MAULIATE

  16. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Pagi ini 9 September 2008 di Harian SIB SOPOKOMIL diulas sebagai Berita Utama,
    dan menurut Bangun Simamora yang menjabat sebagai Manajer CSR dan Humas PT. DPM mengatakan sbb :

    Tidak lama lagi Dusun Sopo Komil, Parongil Kecamatan Silima Pungga-pungga Dairi (kurang lebih 25 Km dari Sidikalang) bakal menjadi kota tambang terkenal di dunia dengan potensi Timah Hitam dan Seng yang dikandungnya. Tidak tanggung-tanggung, PT Dairi Prima Mineral (DPM) sudah hadir lebih dari 10 tahun (sejak 1998) di lokasi “anjing hitam” tersebut dan telah merampungkan eksplorasi dan memastikan bahwa potensi tambang itu layak digali (eksploitasi) dengan potensi 7,7 juta metric ton bijihTimah Hitam (Pb) dan Seng (Zn) yang diperkirakan bernilai triliunan rupiah.
    Berbekal Kontrak Karya 19 Pebruari 1998 dan ijin-ijin lainnya dari pemerintah PT DPM telah merampungkan eksplorasi dan telah memulai konstruksi namun sampai saat ini belum melakukan penggalian (eksploitasi). Ini perlu ditegaskan agar masyarakat jangan keliru menilai PT DPM dan menganggap hasilnya telah kita keruk dan dibawa ke luar dari Dairi, ujar Bangun Simamora Manager CSR dan Humas PT DPM didampingi Mazmur Tambunan Government Relations Manager, Tarmizi Ibrahim Administration Manager, Ir Ricardo H Pardede Regional Exploration Manager serta para geolog PT DPM di Parongil, Sabtu (6/9).
    Untuk mendukung pekerjaan eksploitasi, PT DPM juga telah membangun perumahan karyawan di Tombak Manjolor dan saat ini sudah hampir rampung. Juga telah dibangun jalan dari Parongil menuju lokasi tambang di dusun Sopo Komil, persiapan pengolahan tiling dan konstruksi pelabuhan di Kuala Tanjung serta persiapan-persiapan lainnya untuk mendukung kegiatan eksploitasi. Untuk kegiatan-kegiatan tersebut PT DPM telah menghabiskan 92 juta dolar AS sampai tahun 2008 ini. Dan yang cukup membanggakan bahwa pengelolaan tambang ini hampir semuanya menggunakan tenaga-tenaga anak bangsa. Dari 164 tenaga eksplorasi hanya 2 orang tenaga asing selainnya adalah tenaga pribumi terutama masyarakat sekitar, ujar Simamora.
    Bagaimana dampak kehadiran PT DPM terhadap masyarakat Dairi? Menurut Simamora meskipun PT DPM belum berproduksi tetapi secara langsung telah memberikan manfaat terhadap masyarakat. Untuk mendukung pertambangan ini saja PT DPM telah melakukan pembangunan infrastruktur jalan (konstruksi) yang sangat bermanfaat juga bagi masyarakat. Di antaranya PT DPM membangun kurang lebih 4,7 Km jalan ring road Sidikalang yang bakal dilalui dalam pengangkutan bahan tambang ke pelabuhan Kuala Tanjung serta peningkatan jalan Sidikalang – Parongil (23 Km) menjadi 6 meter dan pembuatan parit jalan.
    Mazmur Tambunan menambahkan, untuk konstruksi ring road Sidikalang PT DPM menghabiskan Rp 16 miliar dan menganggarkan Rp 5 miliar untuk pembebasan lahan. Sedangkan untuk peningkatan jalan Sidikalang-Parongil menghabiskan kurang lebih Rp 27 miliar dan semuanya dikerjakan pengusaha-pengusaha lokal. Bayangkan betapa besar dampaknya terhadap masyarakat di 4 kecamatan yang dilalui jalan sepanjang 23 Km tersebut yaitu Kecamatan Silima Pungga-pungga, Lae Parira, Berampu dan Sidikalang.
    Sebagai perusahaan yang hadir di tengah-tengah masyarakat, PT DPM juga mempunyai tanggungjawab sosial dan cukup peduli dengan masyarakat sekitar. Dalam dua tahun terakhir (2007-2008), telah mengeluarkan Rp 630 juta dana community development (CD) belum termasuk dana sumbangan dan bantuan lainnya. Dan CD ini disalurkan melalui bantuan di sektor pendidikan, kesehatan, perikanan, pertanian, infrastruktur dan kegiatan sosial lainnya. “PT DPM komit dengan program CD yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat sekitar karena merekalah pendukung utama kita dalam melakukan kegiatan ini”, ujar Simamora mantan Calon Bupati Humbahas itu.
    Dari segi kelayakan dari sudut lingkungan, kata Simamora PT DPM telah menyiapkan dokumen AMDAL, di antaranya AMDAL Tambang (disetujui November 2005), AMDAL Jalan (disetujui Februari 2007) dan AMDAL Pelabuhan Kuala Tanjung (disetujui Oktober 2007) sehingga eksploitasi seharusnya sudah bisa dilakukan tahun ini juga. Sayangya karena lokasi bahan tambang ini seluas 37 Ha berada di kawasan hutan lindung Register 66/Batu Ardan Dairi maka perlu ijin pinjam pakai kawasan hutan lindung dari Menteri Kehutanan. Inilah yang belum keluar dan masih dalam proses.
    Melihat karunia Tuhan yang tidak dimiliki daerah dan Negara lain ini, PT DPM optimis ijin ini akan segera dikeluarkan. Apalagi semua persyaratan telah dipenuhi dan siap untuk dipenuhi PT DPM yang sudah begitu banyak mengeluarkan dolar untuk menggali tambang ini. Demi kesejahteraan masyarakat Dairi kita yakin ijin pinjam pakai ini akan segera keluar, ujar Simamora. (R6/c)

    Komentar kami di Harian SIB hari Selasa tgl 9 September 2008 sbb :

    Kenapa terbalik Lae Simamora?
    Harusnya yang pertama diurus IZIN Pemanfaatan Hutan Lindung, setelah didapat izin baru ngurus AMDAL.
    Yang menjadi pertanyaan, apabila telah dieksplor lokasi tersebut, apakah masih layak disebut HUTAN LINDUNG??????
    Pemerintah Daerah harus jelas dan tegas, jangan sampai merugikan warga sekitar tambang, sebagaimana terjadi didaerah lain.
    Kami telah mengikuti perkembangan Sopokomil melalui Web Partungkoan, dan informasi mengenai derita warga disekitar Sopokomil sudah tersebar keseluruh dunia melalui WEB Partungkoan.
    Semoga Pemda Dairi tidak salah mengambil keputusan.

  17. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuah juah banta karina.

    Bpak Monang Naipospos & Bu, L.Sihaloho
    Izinkan aku nompang di ( untung atau buntung )

    Kepada yang terhormat para pembaca yang budiman dan juga yang telah banyak memberikan pendapat mengenai Proyek P.T.D.P.M. yang sedang ber jalan di Spokomil saat ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua Bapak2/ibu2 dan semua yang perduli terhadap masyarakat sekitarnya..

    Sebelumnya saya memberikan pendapat seperti selera bapak/ibu teristimewa yang perduli kepada masyarakat Sopokomil dan sekitarnya, bersama dengan artikel saya ini, saya lebih dulu mohon maaf agar tidak terjadi salah pengertian kepada semua pihak. bila mana ada sesuatu yang kurang berkenan ter hadap keinginan bapk/ibu mengenai pendapat saya ini.

    Saya tinggal di perantauan memang sangat jauh dari Indonesia, namun demikian saya selalu ber komunikasi dengan beberapa tokoh masyarkat disana juga adek2 maupun family yang masih tinggal di Sopokomil,Parongil,Longkotan dll.

    Dari hasil pembicaraan kami dengan mereka, bagaimana tanggapan nya mengenai kehadiran adannya Proyek D.P.M di kampung ini dan di jawab: dengan sangat2 menggembirakan karena hasil perkebunan, sawah dan lainpun tak ada lagi yang bisa di harapkan..

    Para bapak/ibu yang terhormat bilamana ada waktunya, tolong singgah di Blog yang lainnya seperti Toba Dream, Kennnorton disana ada beberapa orang yang telah membuat suatu keseksian yang menyatakan dukungan sebesarbeasarnya terhadap Proyek tersebut, seperti kesaksian yang di berikan Saudara Henri sbb.

    Jujur saja saya bisa meraih serjana saya secara tidak langsung di Bantu dengan adanya pertambangan itu.Orang tua saya mempunyai usaha kecil2an yang bisa di pasarkan kepada pihak P.T. Daairi Prima Mineral. Jadi saya setuju operasional pertambangan itu tetap di lanjutkan

    Barangkali masih dapat lagi bapak/ibu memperoleh kesaksian yang mendukung Proyek ini tetap di lanjutkan seperti pesan Sdr.Henri

    Saya pribadi sangat2 setuju kehadiran Proyek ini bisa ter laksana dengan baik soal apa akibatnya di kemudin hari itu urusan lain, kita sebagai ciptaan Tuhan kita akan lebih berpikir secara positf, yang penting apa yang kita dapat raih saat ini kita manfaatkan sebaik mungkin.

    Kalau bapak/ibu saudara sekalian membaca artikel Lae Robinson Samosir dan Ibu D.br Purrba yang bekerja di Proyek pertambangan maka kita akan sedikit mengerti resiko yang akan datang tetapi menurut pengalam beliau ini yang sudah lama bekerja di Proyek akan lebih banyak memberikan hal yang positif
    .

    Atau barangkali kalau bisa, saya ajak bapak?ibu dan saudara2 sekalian untuk membaca Artikel yang sudah saya kirim ke Blog lainnya yang ber hubungan dengan Proyek yang ada di Sopokomil

    .
    . Agar kiranya sedikit dapat mengirit waktu dan mungkin dapat membantu bapk/ibu dan saudara sekalian meberikan pandangan selanjutnya.

    Di situ nanti akan bapak/ibu baca siapa yang pertama menemukan Lokasi yang sangat berharga itu, yang menjadikan ajang pembicaraan di dunia. Pertambangan saat ini.

    Sebagai perkenalan pertama yang ber ke cimpung di Blog Partugkoan (Tano Batak ) saya mengucapkan terima kasih, teristimewa kepada semua yang mempunyai Blog Internet yang rela mengorbitkan pendapat saya untuk di baca semua orang, sekali lagi saya ucapkan terima kasih semoga sukses dan tetap berjaya.

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    October, 04. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )

    Boaboa’s friendster.com ( sedikit ada perobahan dari friendster yg lama)

    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337.

    bersambung

  18. Stephen Lupin Bako berkata:

    Juah juah banta karina

    Untung atau buntung judul yang amat cantik untuk dapat perhatian dari pada orang2 yang memberikan response ter hadap cerita ibu Limantina br Sihaloho yang menceritakan daerah kelahiran saya Sopokomil yang menjadi sorotan buat Dunia.
    Kalau kita baca artikel ibu L.br Sihaloho ini sangat baik sampai ada orang yang memberikan respon terhadap tulisan ibu ini, sangat terharu mengakibatkan manetek ilunya mebaca tulisan ibu tersebut..
    Memang kalau kita lihat tutur kata2nya yang saling sambung menyambung mem bawa kita lupa akan menanyakan kehadiran ibu ini di Sopokomil sebagai apa.
    Sebelum saya memberikan sesuatu Respon ter hadap ibu, saya ingin lebih dulu tahu kehadiran ibu ini .sebenarnya di sana sebagai : Missionaris dari salah satu Agama, barangkali dari L.S.M. apakah ibu dari Salah satu Departemant Perlindungan Hutan, atau kah dari salah satu Jurnalistiq sebuah surat kabar yang terbit di Indonesia,
    Barangkali ibu ini berkenan untuk menjelaskan maksud dan tujuannya atas kedatangannya di Sopokomil tanah kelahiran saya ini agar saya lebih enak untuk memberikan sesuatu pendapat sesuai dengan keinginan yang saya miliki.
    Kenapa saya menanyakan hal ini, karena ibu ini saya lihat adalah salah seorang yang Super bisa, padahal biasanya kita dengar Super Man, soalnya segala-galanya tahu dari mulai Ephorus, Diakones, dll.
    Seperti cerita ibu serigala ber bulu domba, kayanya pernah ada cerita seperti itu saya dengar tapi yang lebih dahsyat lagi bu.
    Bagai mana bugusnya apakah saya panggil ibu atau ito
    Mudah2an kita punya cerita bisa enak di dengar para pembaca, tapi jangan yang mengerikan bu, agar semua orang dapat gembira
    Hati yang gembira obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang
    Jadi kalau membuat berita janganlah yang sedih2 ibu, kita dengan santai saja tapi pasti
    Terima kasih bu semoga sukses segalanya .
    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    October, 09. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com ( sedikit ada perobahan dari friendster yg lama)
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )
    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  19. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuah-juah kita karina

    Saudara2 yang ingin mengujutkan cita2 Sopokomil menjadi salah satu Proyek yang kita banggakan saya ingin mengajak bapak/ibu untuk membaca tulisan dari saudara Hendri bagaimana saudara ini menuturkan segala pengalamannya mulai dari sejak kecil sampai berhasil meraih pendidikan serjananya.

    Kalau kita lihat dari cerita saudara Hendri ini, maka perlu kita membuat suatu dukungan yang kuat ter hadap Proyek yang sedang berlangsung di Sopokomil, agar anak2 yang sedang dalam pendidikan mendapat kesempatan seperti saudara Hendri.

    Kalau bapak/ibu saudara ada kesempatan membaca tulisan saudara Hendri ada di Blognya Bapak.K.Hutasoit ( Kennorton@Baca tulis )

    Kami mengajak bapak/ibu saudara2 sekalian kiranya memberikan bantuan untuk mengujudkan semua cita2 penduduk Sopokomil dan sekitarnya.

    Sebagai ucapan terima kasih kami, saya sebagai salah seorang kelahiran Sopokomil yang tinggal di perantauan mendoakan bapak/ibu saudara/I sekalian, teristimewa kepada semua internet yang telah bersedia menampilkan tulisan kami secara baik, dengan harapan yang besar Tuhan selalu meberkatinya

    Terima kasih

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    October, 18. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  20. Stephen Lopin Bako berkata:

    Njuah juah. Banta karina

    Dengan berbagai macam munculnya tanggapan2 mengenai Proyek yang ada di Sopokomil, membuat para orang yang menampilkan idenya bermunculan di media Internet.

    Salah satu ide yang bagus datang dari Saudara Nurhalim Simanjutak, memberikan suatu tanggapan yang positif untuk mendapatkan perlindungan dari pihak P.T.DPM. sebagai pelaksana Proyek terbesar bagi masysrakat Sopokomil dan sekitarnya.

    Alangkah baiknya bilamana diantara bapak/ibu saudara/I yang telah membaca Propossal yang di ciptakan Saudara N.Simanjuntak ini kiranya dapat di usulkan kepada Pemerintah setempat dan juga kepada P.T.DPM. agar ter cipta suatu kondisi yang aman dan tentram yang membawa keuntungan dan kemakmuran di semua pihak.

    Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada saudara N.Simanjuntak atas upayanya memberikan sesuatu pandangan yang begitu mantap tentang kehadiran Proyek tersebut.

    Dengan demikian akan ter ciptalah suatu Negara yang adil dan makmur, dan harapan kami bagi bapk/ibu saudara/I kiranya dapat menyumbangkan buah pikiran yang bagus seperti Sdr.N.Simanjutak

    Sekali lagi saya mengajak bapak/ibu dan saudara/I sekalian untuk melihat Propossal yang di tayangkan saudara N.Simanjuntak di Blognya Pak.Hutasoit.

    Terima kasih selamat berjuang

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.

    October, 21. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )
    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  21. Stephen Lupin Bako berkata:

    Unang-unang Ephorus ni HKBP pe so sadar na adong ruas ni HKBP di desa i, na eksis halahi di portibion.

    Setelah sekian lama saya menunggu berita dari Ibu Limantina br Sihaloho tentang kehadirannya di kampung kelahiran saya Sopokomil / Parongil nan Indah belum juga ada berita yang pasti, namun demikian saya akan memulai memberikan masukan tentang Artikel yang berjudul Untung atau Buntung

    Kalau kita kutip sebahagian dari tulisan Ibu Limantina br Sihaloho yang menyatakan jangan-jangan Ephorus HKBP tidak sadar bahwa sudah ada Jemaat HKBP di desa itu yang eksis mereka di Dunia ini.

    Kalau saya baca tulisan ibu Limantina.S, ini terlalu cepat memberikan penilaian terhadap Pemimpin tertinggi HKBP yang sebenarnya belum pantas perkataan tersebut di berikan kepada Pimpinan tertinggi salah satu Jemaat.

    dengan munculnya kalimat tersebut terkesan Ephorus HKBP itu tidak ada Activitas

    Sebagai masukan yang saya berikan terhadap artikel Ibu Limantina.S. Ephorus tidak harus mendatangi semua pelosok dunia bahwa HKBP sudah ada di desa itu..

    Sebagai suatu organisasi yang baik cukuplah dengan laporan dari Sintua & Pendeta dan yang ber hubungan dengan Jema’t tersebut yang akan memberi laporan bahwa adanya pertambahan anggota.

    Sebelum Ibu Limantina menuliskan berita itu ke umum alangkah baiknya ibu terlebih dahulu menanyakan pengurus Gereja HKBP yang ada di desa yang ibu maksudkan. agar informasi yang di kirim mendapatkan berita yang pasti

    Kalau saya tak salah ibu ini sepertinya ada hubungannya dengan salah satu agama, karena ada kalimat yang menyatakan diakones, mudah2an saya tidak salah memberikan salah satu dari Firman Tuhan yang di kutif dari

    1Timotius 3: 8-9
    Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia dalam hati nurani yang suci

    Saya yakin bahwa Diakones yang ada di Sopokomil dll adalah orang baik2, tetapi kita tak salah memetik Firman ini untuk mengingatkan, sebelum ter jadi sesuatu hal yang tidak di inginkan atau seperti biasanya orang bilang sedia payung sebelum hujan.

    Mudah2an di dalam tulisan saya ini, tidak terdapat sesuatu yang menyinggung perasan semua pembaca maupun yang memberikan artikelnya Ibu Limantina.S. untuk di tanggapi dan saya mohon maaf apabila ada kata2 saya yang kurang berkenan untuk di baca.

    Terima kasih

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    November, 04. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )
    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  22. Srephen Lupin Bako berkata:

    Njuahjuah banta karina.

    Buat Silih B.R.Berutu, ST

    Saya mengucapkan terima kasih mendahi silih Berutu atas segala dukungannya terhadap Proyek Pertambangan di Sopokomil na i mudah2an kehadiran Proyek ini membawa hasil yang baik bagi Masyarakat Kab.Dairi. Khususmya Masyarakat Sopokomil dan sekitarnya.

    Saya juga ingin mengajak Bapak / Ibu kiranya dapat mendukung semua pengoperasian Proyek ini, seperti yang di tulis silih B.R Berutu dalam artikelnya agar kesempatan bekerja bagi anak2 muda kita mendapat tempat yang baik

    Perlu saya berikan informasi kepada Bapak / Ibu bahwa dukungan terhadap Proyek ini semakin bertambah maupun dari masyarakat setempat dan anak2 yang ada di perantauan, sepetri inilah suatu harapan yang sangat kami dambakan agar Proyek ini dapat beroperasi secepat mungkin.

    Terima kasih sili Berutu semoga silih selalu sukses dalam menjalankan tugasnya

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    November, 09,. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  23. G. Meha berkata:

    @Silih Stephen Lupin Bako

    Oda lot ku idah komentar silih B.R. Berutu ST, i blog en silih, kade ngo kamsudnya?

    Komentarku at glance lae:
    Pada prinsipnya tak seorangpun yang tidak setuju atas proyek itu, bila hal itu tidak akan merusak alam itu sendiri. Kerusakan alam dan akibatnyalah yang kita kuatirkan akan terjadi lae, disamping bagi hasil yang tidak seimbang.

    Tentang kesaksian saudara Hendri yang berkesempatan menyelesaikan kuliahnya berkat kehadiran DPM, saya pikir VOC/Boladda pun yang kembali menjajah kita dan mengekplorasi Sopo Komil, dan membawa seluruh hasil tambang itu ke negaranya tanpa tersisa, saudara itu tetap akan mendapat keuntungan yang sama. Tapi, apakah kita cukup merasa puas hanya kebagian angka na mapisikk i?

    Kasa bage oda i kira ke, holan teba teba nai do di hita, sementara kerusakan alam itu sendiri akan menjadi bumerang yang balik menyerang kita di kemudian hari?

    Mauliate.

  24. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Horas,
    Kita mendukung 100% kemajuan warga Sopokomil khususnya, masyarakat Indonesia pada umumnya,
    ……… tetapi dengan tegas, kita menolak perusakan lingkungan di wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
    Silahkan meng eksplor tambang apapun di negara tercinta Indonesia, asal menggunakan teknologi RAMAH LINGKUNGAN.
    GBU.

  25. Horas Ito Stephen Lupin Bako,

    Ito Monang Naipospos telah dua kali mengingatkan saya lewat email untuk merespon tanggapan-tanggapan Ito berkaitan dengan tulisan saya tentang Sopo Komil dan Sinar Pagi. Terimakasih banyak Ito Stephen untuk perhatianmu. Baru hari ini saya memeriksa blog-nya Ito Monang dan menemukan beberapa tanggapanmu telah menunggu untuk saya respon.

    Ito Stephen, menurut saya Ito masih agak “hijau” mengerti persoalan yang sedang terjadi ini. Ya, Sopo Komil memang tanah tumpah darahmu tetapi bukan berarti Ito bisa mengklaim lebih mengerti persoalan yang ada di Sopo Komil dibanding dengan orang-orang yang tidak lahir di Sopo Komil. Tantangan saya untuk Ito adalah pulang kampung ke Sopo Komil dan perbaiki itu kampungmu; Bikin data base yang bagus dan tuliskan sejarah kampung itu berikut kehidupan penduduknya dari generasi ke generasi; Petakan kehadiran PT.DPM dan bagaimana untung-rugi kehadiran PT DPM tidak hanya bagi penduduk Sopo Komil tapi juga bagi warga Indonesia secara keseluruhan; bahkan bagi warga dunia.

    Ito, apa harus saya jelaskan dengan detil bahwa orang-orang yang bekerja di PT DPM sebagai apapun posisinya di sana termasuk sebagai kacung sekalipun 99% bahkan 100% akan bersikap pro-PT DPM terutama karena urusan perut Ito? Ito tahukan: Paling tidak selama empat dekade warga Indonesia secara keseluruhan terpasung daya analitisnya untuk mengerti berbagai persoalan sosial-politik-ekonomi dan budaya yang menyangkut dirinya sendiri; saya tak kaget sama sekali bahwa orang-orang seperti Ito Henri dan siapapun itu yang diuntungkan oleh PT DPM (kerja dan sekolah) akan pro PT DPM karena dia disekolahkan dan dipekerjakan oleh DPM. Samasekali tak ada yang mengejutkan soal sikap macam ini.

    Tinggal di Amerika mestinya membuat orang Batak sepertimu lebih cerdas! Peryataanmu yang mengatakan bahwa akibat dari eksploitasi PT DPM di Sopo Komil di kemudian hari itu urusan lain menurut saya secara moral dan ke-batak-an tak bertanggung jawab. Kau bilang pula bahwa sebagai ciptaan Tuhan kita akan lebih berpikir positif, yang penting apa yang kita raih saat ini kita manfaatkan sebaik mungkin. Kok jangka pendek kali pola pikir Ito yang macam ini? Kalau hutan-hutan di Sopo Komil itu rusak apa yang akan terjadi Ito Stephen?

    Tak benar bahwa sawah dan kebun tidak berfungsi lagi atau tak bisa menghasilkan. Yang benar Ito Stephen, PT DPM telah membangun budaya instan di sana. Camkan itu! Para petani termasuk ibu-ibu memilih memperoleh uang kontan dari Rp.50.000 sampai 100.000 bahkan lebih setiap hari daripada bekerja di ladang-sawah mereka. Anak-anak pun masuk dalam proses pembudayaan instan ini. Budaya macam ini merusak masa depan dan merusak evolusi peradaban. Ito tahu apa yang terjadi pada ibu-ibu di Sopo Komil? Mereka itu kan harus mendaki dan menuruni bukit yang sebagian terjal; saat naik mereka membawa beban yang berat saat turun pun kadang harus melakukan hal yang sama. Mereka sekarang, karena terlalu dipaksa bekerja mendaki dan menuruni bukit yang terjal itu mengalami sakit terutama di bagian lutut. Untuk jangka panjang, mereka justru rugi mendapatkan uang kontan walau angkanya nampak menggiurkan. Ladang mereka tertinggal dan kesehatan mereka sudah terganggu. Berapa harga untuk semua ini dan siapa yang akan bertanggung jawab? Jaminan apa rupanya yang diberikan PT DPM kepada terutama para ibu-ibu itu kalau kesehatan mereka terganggu karena mengusung beban di luar kewajaran?

    Ito, sejak dahulu kala, penduduk Sopo Komil toh hidup dari bersawah-ladang kan; kenapa kok tiba-tiba ada keluhan bahwa sawah-ladang tidak berfungsi lagi? Waktu saya ke sana, saya jalan-jalan di seputar sawah dan ladang; tak benar bahwa sawah ladang tak berfungsi. Yang saya dengar dari para diakones di sana, areal persawahan di dekat Sopo Komil itu sudah dijual kepada PT DPM tetapi ada warga yang tidak mau menjual sawahnya. Silahkan ito konfirmasikan ulang soal ini.

    Ito, sawah dan ladang itu tambang kehidupan yang sesungguhnya; kita tak bisa makan timah tapi nasi dan lauk-pauk yang berasal dari sawah ladang. Kandungan timah di bukit-bukit yang ada di Sopo Komil itu terbatas; kalau hutan harus hancur demi mengambil biji-biji timah dan sejenisnya itu, sawah dan ladang akan rusak karena sumber air hancur, pemanasan global akan semakin buruk. Berhubung Ito ada di Amerika, saya sarankan nonton The Inconvenience Truth-nya Algore itu. Mungkin sudah nonton? Bila perlu konsultasilah sekalian dengan Al Gore apa yang terjadi di kampung halaman Ito itu.

    Saya percaya bahwa hutan-hutan yang ada di negara kita atau di mana saja di dunia ini bukan untuk dirusak. Memang di dalam hutan itu ada biji-bijian yang bagi manusia berharga di pasaran tetapi logika saya mengatakan, keberlangsungan hidup dari generasi-ke-generasi jauh lebih berharga dan mahal daripada berjuta-juta ton emas dari perut gunung. Gunung-dan-bukit memang bentuknya sedemikian itu; keras dan kokoh di dalam perutnya untuk membuatnya indah dan kuat menopang pohon-pohon dan ekosistem hidup di atasnya. Gunung dan bukit berisi pepohonan tidak diformat untuk dieksploitasi sebab merupakan salah satu pendukung utama ketersediaan air, sumber makanan dan penjaga keseimbangan iklim lokal-nasional dan internasional. Jadi Ito, sebatang pohon yang tumbang di Sopo Komil juga secara langsung mempengaruhi udara yang Ito hirup dan iklim yang kau alami di Amerika.

    Kalaupun PT DPM itu harus terus beroperasi karena berbagai alasan, setidaknya orang seperti Ito ini bisa menggalang kekuatan sebagai penjaga gawang-moral dan solidaritas agar PT itu menjalankan tanggung jawabnya sebaik mungkin: tidak merusak hutan sedapat mungkin, mengelola limbah secara bertanggung jawab, melakukan reboisasi intensif dan besar-besaran, menjaga sawah-ladang tetap dikerjakan oleh penduduk kampung, terbuka kepada publik, menjaga kesehatan masyarakat, dan hal-hal berguna lainnya. Menurut saya, untuk sementara ini sikap menggalang kekuatan moral dan intelektual serta berjaringan inilah yang perlu Ito kembangkan dan perkuat. Kalau PT DPM tak mampu melaksanakan poin-poin di atas, mereka sebaiknya angkat kaki saja sebab untuk jangka panjang, kita juga yang rugi: alam rusak, komunitas pecah/konflik horizontal yang mahal harganya, sawah-ladang tak berfungsi. Harga sosial dan budaya itu sangat mahal Ito Stephen, tak bisa kita nilai dengan uang.

    Saya tak tertarik dengan pernyataan bahwa Sopo Komil itu adalah kampung halamanmu. Jauh-jauh berada di Amerika mestinya Ito bisa lebih mengerti bahwa Bumi ini adalah kampung milik kita bersama; tanggung jawab kita bersama untuk mengurusnya.

    Ito Stephen, saya datang ke Sopo Komil atas kehendak pribadi. Saya bukan pendeta, bukan orang LSM, bukan utusan suatu agama, bukan jurnalis, bukan yang lain-lain. Saya berbicara dan menulis atas nama dan kehendak diri saya sendiri.

    Salam,
    Limantina Sihaloho

  26. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuahjuah banta karina.

    Sebelum bapak / ibu menikmati isi tulisan ini dan untuk mengirit waktu alang kah baiknya bapak / ibu mengalihkan perhatiannya terhadap Blognya Pak Kennorton Hutaoit ( Kontroversi kehadiran Pt.D.P.M. ) membaca artikelnya Pak Hendri

    Halloooooooo Pak Hendri

    Semangatmu percis seperti semangat orang yang akan ter jun ke medan peperangan tanpa memandang siapa lawan yang penting perang sampai titik darah yang terahir.

    Perkataanmu maupun penjelasanmu dalam artikelnya bagaikan Pohon Natal yang teratur tingkatannya dan di hiasi lampu Natal yang berkelip2 seolah menerangi hati semua para pembaca tentang berita Sopokomil nan Indah, dan penjelasan kata2mu mengenai tujuan kehadiran Proyek yang memberikan harapan bagi Masyaakat Indonesia khususnya Sopokomil / Parongil Kec Silima pungga2.

    Kata orang Pakpak bilang I Love You Sopokomil

    Tahan sedikit emosimu sisahkan buat tahun depan jangan keluarkan dulu semua ilmunya cukuplah dulu dari lampaknya saja, hati panas ( mar si gorgor ) alai ubun2 do martimus-timus ( marasap dohot menguap ), perjuangkan terus, Indonesia harus mencapai tiitik kemakmuran khususnya Sopokomil / Parongil / Kab Dairi. di karenakan kehadiran Proyek yang paling terbesar dunia ini.

    Hiraukan semua orang2 yang bermaksud menggagalkan Proyek Pt.DPM jangan2 mereka yang bermaksud menggagalkan Proyek ini, untuk membuat Perekonomian Penduduk setempat Rusak yang mengakibatkan peceklik.

    Saya curiga ada maksud tertentu dengan membonceng Rentenir2 dari kota masuk ke Sopokomil, bilamana Ekonomi penduduk Sopokomil sudah dirusak oleh pendatang2 yang tak ber tanggung jawab

    Rentenir dari kota meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi dan membuat jaminan/ broh dengan tanah sebagai gadai, apa bila sewak-waktu tak dapat melunasi hutangnya maka tanahnya di tarik paksa oleh Rentenir yang di sebut Lintah Darat

    Ini perlu di waspadai Pak Hendri dan tolong di sampaikan ke semua Masyarakat dan saudara2 kita di Sopokomil agar hati2 menerima tamu yang tak jelas maksud dan tujuannya

    Seperti yang Ibu Limantina bilang sbb. Serigala berbulu domba, nah yang akan datang ini lebih berbahaya lagi Singa berbulu Kucing sangat sadis Lhoooo.

    Kalau serigala masih bisa kita bikin sate atau serigala guling pakai kecap dan cabe sirambu nasiak, nah kalau Singa siapa yang berani dekat. Harus pasang jurus pencak silat dari Cikabur kita pakai ilmu Langkah Seribu pak Hendri

    Ibu L.br Sihaloho belum saya berikan isi hatiku mengenai jawaban surat yang lalu sabar ya?

    Terimakasih semoga sukses

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    November, 12,. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  27. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuahjuah turang Limantina br Sihaloho

    Untung atau Buntung

    Halooo ito mohon maaf sebelumnya saya lupa menanyakan sitatus ito apakah sudah berumah tangga alias sudah menikah. kalau sudah menikah mohon maaf sama lae di rumah mengenai tulisan saya ini.

    Memang ito ini sangat pandai membuat judul artikelnya setelah pulang dari Sopokomil nan Indah, sayapun yakin siapa saja laki2 yang memiliki ito ini pasti Untung tidak bakalan Buntung

    Tarida do Imbo sian suarana artinya kalau membaca tulisan dan kata2 yang empuk dan lembut seperti hapas Palembangm saya yakin ito ini salah seorang perempuan yang cantik dan lemah lembut, sayapun hampir tak mampu untuk mengatakan sesuatu kalau orang bilang terpesona. makanya saya mencoba ,menuliskan seperti di bawah ini.

    Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.

    Sekali lagi mohon maaf sama ito dan lae, saya tidak bermaksud apa2 hanya saya kagum membaca semua tulisan ito ini bagaikan sutra yang terurai

    Sekarang ito Limantina kalau memang ito benar salah seorang yang memperjuangkan Hutan, jangan di Sopokomil buat suatu perjuangan cobalah dulu di kampung ito sendiri di P.Sintar, Baja Lingge, Tiga Balata, Kisaran, Lima Puluh dan sekitarnya pelihara itu Pohon Karet, Kelapa Sawit dan Kayu Jati agar tidak di jadikan itu Mall maupun Perumahan nantinya kalau itu habis, es yang ada di Kutub Utara bisa meleleh, kalau Hutan di Sopokomil tak berarti buat Indonesia masih banyak Hutan yang lebat ber dampingan dengannya

    Sekarang saya kasih contoh kepada ito Limantina br Sihaloho

    Kalau saya tak salah 1973 Batavia masih berpenduduk 2,5 juta( 3 juta ) jiwa apakah anda sudah lahir saat itu aku tak tahu. / nah saat itu Batavia masih di kelilingi Pohon2 yang rindang atau kita sebut lah Hutan kota. begitu juga pohon Karet, pohon Jati, pohon Meninjau ribuan Hektar mengelilingi ibukota Indonesia ter cinta, tapi sekarang penduduk Batavia Jabotabek, barangkali mencapai 15 juta jiwa apa yang terjadi terhadap pohon yang dulu sangat indah sudah berobah jadi perumahan dan Mall kalau ada rekan2nya ito Limantina tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya apakah mereka sadar bahwa mereka salah satunya ikut dalam pembantain hutan lindung yang ada di sekitar Jabotabek karena mereka sudah punya rumah di Jakarta

    Sewaktu saya tinggal di Kota Hujan Bogor tahun 1973, setiap hari Hujan pasti datang di barengi kabut yang tebal sampai di Kebun Raya Bogor, semua kendaraan yang melewati Puncak akan memakai lampu Kabut ( kuning ) pada siang hari karena jangkauan pandangan hanya sekitar lima meter kedepan dan kecepatan rata2 5 s/d 10 KM perjam mulai dari Bogor sampai Cianjur tetapi sekarang mana lagi ada kabut di Puncak walaupun dalam situasi musim hujan. ataupun malam hari.

    Tangerang, Serpong tadinya yang ditanami ribuan hektar pohon Karet, Pohon Jati sekarang berobah jadi rumah,. Cibubur, Cileungsi sampai Jonggol, Cibarusa, Cikalong sudah berobah menjadi rumah, Bekasi Krawang, Purwokarta, Patrol memiliki pohon Jati, Karet, berobah menjadi kawasan Industri, Depok, Cibinong,Sentul, Parung, Sawangan sudah berobah menjadi Perumahan

    Tangerang, Serpong, Cikupa berobah menjadi Kawasan Industri dan Perumahan.
    LidoBogor, Gunung Batu Bogor Lewih Liang sampai Jasinga dan Gunung Salak di tanami ribuan hektar pohon Karet dan Jati sekarang hanya tinggal cerita saja.

    Kalau memang ito murni, salah seorang penyelamat Hutan, silahkan lah dulu mulai dari Jakarta supaya kren kedengarnya, jangan dari kampung, tidak seberapa oramg memperdulikannya.. cuman Bako dengan ito Limantina yang memberikan Rensponse. Yang lainya mana ngga ada?

    Cobalah anda lihat daerah Arab, Israel, atau sekitar Timur Tengah dimana ada Hutannya dan apakah ada gerakan penyelamatan Hutan seperti ito di sana, tapi mereka makmur dan bahagia coba tanyakan ke sana bagaimana mereka menata Negaranya Tanpa Hutan.

    Ito Limantina kita hidup di dunia ini pasti akan mengorbankan sesuatu demi kebutuhan manusia , kalau saya ingat dahulu waktu saya Sekolah kelas tiga S.R tahun 1958, penduduk Indonesia lebih kurang tiga puluh juta jiwa dan sekarang tahun 2008 lebih kurang dua ratus lima puluh juta jiwa. Bagaimana penduduk Indonesia 50 tahun yang akan dating mungkin bisa melebihi enam ratus juta jiwa nah orang itu kemana nantinya kalau tidak membantai hutan ito.

    Coba camkam itu ito Limantina sudah berapa juta Hektar hutan di Indonesia yang di bantai apakah itu bisa dilarang, ini adalah kebutuhan manusia tak mungkin orang di buat berpangkuan untuk menyelamatkan Hutan

    Terimakasih ito

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.

    November, 17. 2008

    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )

    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )
    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  28. G. Meha berkata:

    @Lae Bako Lupin Stephen (Stephen Lupin Bako?)

    Lae, kalau kehidupan di Loma Linda atau seluruh California manang US nahumaliangna sama seperti kehidupan di Sopo Komil setelah hadirnya DPM, demi mendapatkan uang limapuluh ribu rupiah ke seratus ribu rupiah perhari harus mendaki bukit tanpa alaskaki dengan beban yang sangat berat, apakah anda akan bertahan di sana?

    Tentu anda bisa dan mau bertahan hidup di sana karena memberikan kehidupan yang lebih baik daripada di Sopo Komil Silima Punggapungga bukan? Sekalipun misalnya anda hanya menerima upah minimum, tetapi bila mau bekerja keras, anda bisa tinggal di 10567 Ohio St, Loma Londa CA 92354, USA itu dengan rumah lima kamar dan tiga grasi mobil bukan?

    Nah, dapatkah anda bandingkan kehidupan anda itu dengan kehidupan ibu ibu yang bekerja untuk DPM seperti yang telah diceritakan ito Limantina Sihaloho itu? Dapatkah anda bandingkan penghasilan perusahaan dimana anda bekerja sekarang tetapi membayar anda dengan layak, dengan penghasilan perusahaan besar DPM yang tak bisa dihitung dengan kalkulator sepuluh digit tetapi membayar pekerjanya hanya US$5 – 10 per hari? Tak seberapa penghasilan perusahaan tempatmu bekerja itu lae kandung, dibandingkan dengan DPM. I Bettoh ko ngo i silih?

    Ini satu hal yang saya tidak setuju dengan kehadiran perusahaan itu SILIH. Harta yang melimpah di perut buni Sopo Komil akan dikuras habis tanpa sisa, tetapi tanpa memberikan kehidupan yang layak bagi penduduknya, jangankan 20% dari layaknya kehidupan anda sekarang ini, 10% pun tidak.

    Pernyataan anda ttg hasil bumi yang tidak memberikan harapan lagi di bumi Sopo Komil, itu salah besar lae. Karena bila dikelola dengan baik, tetap akan menghasilkan.

    Pelajarilah dulu lae keharmonisan antara masyarakat petani Amerika dengan pemerintahnya. Petaninya orang orang sekolahan semua, pengelolaannya serba teknology. Coba sekali sekali jalan lae, jangan kerja melulu, kurangi dikit bill bill itu. Coba perhatikan lae, diseluruh daerah di US, tak sejengkalpun tanah yang dibiarkan kosong selagi bisa ditanami. Rumput (hay) yang tumbuh, ya rumput ditanami, kacang kedele yang tumbuh ya kacang kedele yang ditanami, dll. Kalau terkadang diluar perencanaan hasil pertanian sangat melimpah yang memungkinkan harga turun drastis, pemerintah akan turun tangan mengatasinya sehingga harga dipasar tetap stabil. Saya rasa, kalau pemerintah memberikan perhatian yang sesungguhnya terhadap keadaan masyarakat kita, pasti persoalan kemiskinan itu akan bisa di atasi, tanpa harus menguras perut bumi itu sendiri. Sama seperti negara dimana anda tinggal sekarang, barang barang tambang mereka masih banyak yang belum di gali sampai sekarang, karna masih bisa memanfaatkan yang lain.

    Songon i ma jolo lae, au pe karejo ma jo, asa adong manggarar internet.

    Horas.

  29. Stephen Lupin Bako berkata:

    @Silih G.Meha

    Njuahjuah banta karina.

    Untung atau Buntung

    Dimana bumi di pijak disitulah langit di jungjung

    Kalau saya baca tulisan silih Meha ini sepertinya tak nyambung saya kurang mengerti maksud dan tujuannya, walaupun demikian saya akan coba membuat suatu pandangan buat silih Meha.

    Alangkah baiknya kalau silih Meha meluangkan waktu melihat kampung saya Sopokomil nan Indah, baru memberikan komentar agar isi hati silih tersalurkan dengan baik dan menemukan suatu kepuasan jadi bukan seperti sebuah Speaker yang hanya penyambung lidah orang saja.

    Kalau silih datang di kampung saya bilang saja saya adalah silih Stephen Lupin Bako pasti di terima dengan baik oleh penduduk di sana. cobalah datang kesana buat analisa jangan hanya sepintas saja luangkan waktu kurang lebih tujuh hari. Tak usah pikirin bayar makan saya yang tanggung jawab saya siap bayar kalau di tagih sama mereka okey ?

    Buatkan napaktilas perjalanan Sopokomil ke Parongil kota, jarak tempuh -/+ 4 k.m, dengan beban hasil perkebunan 30 kg. bandingkan dengan Sopokomil sampai ke Proyek PT.DPM -/+ 2,5.km
    dengan beban yang sama 30 kg. jalan mana yang paling berat diantara kedua lokasi jangan anda bandingkan anda naik kendaraan dari Sopokomil ke Parongil. tapi jalan kaki tanpa sepatu.

    Kalau buat saya itu tidak ada seper sepuluh yang saya alami dengan orang tua saya dimana kami menempuh jalan +/- 25 km. ( 5 jam ) Parongil ke Pardomuan dengan melewati hutan belukar, juga jalan yang terjal dan kedalamam lumpur diatas lutut orang dewasa dan membawa beban 25 kg s/d 30 kg untuk mengejar Pasar ( onan ) kadang kala kita harus lari2 kecil mengejar pasar, ini di lakukan setiap hari selama satu minggu ke Pasar ( onan ) kita tempuh dengan jalan kaki tanpa sepatu (Senen di Pardomuan Selasa ke Lae Gadong 20 km, Rabu ke Paongil 20 km, Kamis ke Siompung 8.km Jumat ke Buntu Raja 20 km Sabtu ke Sidikalang 24 km, Minggu dari Sidikalang ke Parongil 27 km. kalau silih Meha dating disana tanyakan sejarah perjalanan di masa lalu ke Pardomuan.

    Kalau penduduk setempat bisa mendapatkan uang lima puluh ribu s/d seratus ribu per hari itu sudah cukup bagus bagi ke hidupan di Sopokomil dari pada di Kota lain di Indonesia bung

    Kita lihat kalau penghasilan rata2 per hari Rp, 100.000 x 25 H.K. = Rp 2.500.000,- ini sudah jauh diatas UMR D.K.I ( DKI yang paling tinggi UMR di Indonesia )

    Kalau kerja di kebun gaji harian tarulah satu hari Rp.25.000,- x 25 HK = Rp.625.000 sudah barang tentulah dia akan memilih ke Proyek berarti ini adalah suatu peningkatan taraf hidup di daerah tersebut

    Dengan hadirnya PT. DPM, bukan berarti kalau orang (Pt.DPM ) punya modal Mega Billion terus dikasi sama penduduk setempat 10 % atau contoh : kalau silih buka warung dengan Modal Rp.100.000.000,- terus silih kasih 10% ( Rp.10.000.000.)sama karyawannya

    Silih Meha berfikirlah secara Rational jangan bandingkan Amerika dengan Sopokomil, anda sama memberikan perbandingan Gajah dengan Kambing jangankan Sopokomil, dengan D.K.I ataupun Jabotabek yang kemungkinan besar sekitar 60% dari total uang yang ada di Indonesia beredar di daerah ini, itupun tak dapat di buat per bandingan dengan salah satu desa di America.jangan kota di America.

    Asal tahu saja silih Meha sebuah rumah dengan kondisi 3 unit kamar tidur satu ruangan tamu dan Ruangan makan Standard sewa perbulan $ 1.500 USA + utility( Electric $ 100. Gas $ 100. Telephon $ 100. Air $ 30 Sampah $ 30 ) G.Tot: $ 1.860,- ( Rumah di P.Indah dan T.Wisata kemungkinan cicilannya hanya Rp.10.000.000,- ) per bulan atau bangun rumah di Sopokomil dengan biaya Rp. 10.000.000,- sudah termasuk rumah mewah.

    Kalau kamu membuat suatu perbandingan carilah tetangganya yang berdekatan dengan Sopokomil dan taraf hidup yang hampir bersamaan jadi hasilnya bisa akurat itulah yang dikatakan analisa secara Actuality .

    Lain kali jangan melihat hasil komenta rorang lain yang menjadikan komentar pribadi, harus murni dari buah pikiran sendiri supaya terkesan jangan megekori komentar yang tak jelas di lihat mata sendiri.

    Dan kalau silih Meha membaca secara teliti surat ito Limantina yang mengatakan sbb.

    Ito Stephen, menurut saya Ito masih agak “hijau” mengerti persoalan yang sedang terjadi ini. Ya, Sopo Komil memang tanah tumpah darahmu tetapi bukan berarti Ito bisa mengklaim lebih mengerti persoalan yang ada di Sopo Komil dibanding dengan orang-orang yang tidak lahir di Sopo Komil.

    Berarti ito Limantina sendiripun sebenarnya belum tahu secara pasti apa saja dan bagaimana semstinya yang ter jadi di Sopokomil yang sudah melihat secara jelas di tempat pembicaraan ini, dan yang saya herankan kok silih Meha sepertinya kebakaran jenggot.

    Persoalan perut bumi habis itu bukan persoalan pribadi saya pemerintah ada yang mengurus itu makanya di perlukan pengorbanan untuk nusa dan Bangsa, jangankan perut bumi nyawapun hilang untuk melawan Sibontar Mata alias Belanda untuk memerdekakan Indonesia ter cinta dan kata terahir Merdeka!!!!!!! Merdeka!!!!!!! Merdeka!!!!!!

    Dimana Bumi di Pijak, disitulah langit di jungjung

    Artinya kalau topik pembicaraan di Indonesia, maka ambil sajalah perbandingan di Indonesia supaya enak di baca Bapak /ibu dan jangan suka mengajari orang, padahal komentar yang di tayangkan pun hasil dari orang lain dan masih di ragukan kepbenarannya seperti pengakuan ito Limantina.

    G.Meha
    Pernyataan anda ttg hasil bumi yang tidak memberikan harapan lagi di bumi Sopo Komil, itu salah besar lae. Karena bila dikelola dengan baik, tetap akan menghasilkan

    Komentar anda di atas sugguh menarik silih orang yang paling bodoh di bumi inipun tau itu, makanya di pilih beekerja ke Proyek karena lebih besar income yang akan di peroleh dan lebih gampang di raih

    Mudah2an ini bisa diterima oleh silih Meha, dan sebaiknya kalau membuat komentar cobalah dari buah hati sendiri jangan dari hasil buah pikiran orang lain, saya menantikan komentar yang akan datang

    Lias Ate

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    November, 20. 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com

  30. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuahjuah banta karina

    Dibawah ini saya memberikan suatu tanggapan kepada Bapak Monang Ringo yang di tayangkan melalui batak itu keren ( Rumahnya Raja Huta ) dalam artikel

    Gerakan Penyelamatan Hutan Lindung Dairi

    21 | Monang Ringo
    Oktober 21st, 2008 at 3:29 pm

    Semoga dalam pemberian tanggapan buat Pak Ringo, bisa meningkatkan suatu hubungan baik diantara semua yang memberikan dukungan terhadap Proyek yang ada di Sopokomil

    Halooo Pak Monang Ringo, selamat datang di hutan lindung Sopokomil nan Indah kalau saya lihat dengan nama yang sangat keren di dunia per filiman bagus sekali bahwa seorang Ringo star cukup mencuat di dunia Film. untuk tarik suara

    Tetapi sangat saya sayangkan gara2 hutan saja sudah sepertinya kesurupan saja bapak kita ini, dan telah berusaha untuk mempengaruhi semua masyarakat mau menggagalkan proyek yang ada di Sopokomil.

    Dengan sangat beraninya mengatakan sbb.

    kalau presiden sudah berani menggadaikan negara da hak ulayat Rakyat. Di tambah lagi dengan menuding Bapak Bupati dan pemerintah setempat untuk menyadarkan diri atau memang ente yang kurang sadar.

    Saya bipkir juga Pak Ringo, ini sudah tak layak lagi mengungkit ungkit Hutan Lindung nanti Raja Huta bisa tersinggung karena sepertinya juga lae kita yang keren ini sudah ikut mendukung Proyek ini, soalnya sudah lama beliau tak lagi memberikan tanggapan masalah Hutan Lindung

    Lagi pula artikel yang saya kirim ke Ito Limantina br Sihaloho November, 17, 08 dan ke silih Meha November 20, 08, melalui Partungkoan di Artikel Untung atau Bantung tidak lagi di tayangkan di Blognya Raja Huta, karena disitu terbentang semua masalah Hutan yang ada di Jakarta tempo dulu, barangkali rumah mereka berada di antara hutan yang saya paparkan padahal mereka sendiri telah menyebutkan

    Gerakan Penyelamatan Hutan Lindung Dairi

    sehingga tak enak kalau itu di baca oleh orang2 yang ada di lingkungan Batavia

    Ini adalah salah satu komentarnya bapak Ringo.

    , kepada Bupati, DPR, Tokoh masyarakat Kab Dairi sadarlah bahwa tambang akan merusak tatanan Masyarakat Batak di Kab Dairi, Lonte akan masuk ke Kab Dairi , Judi akan marak, preman akan menjadi-jadi. Kalau anda sebagai Bupati pandai tolong didik dan manfaatkan kawasan Kab Dairi menjadi kawasan agropolitan yang mandiri, sebab negara kita ini egara agraris

    Saya sangat terkesan kepada Komentar Pak Ringo, yang mengatakan adanya Perjudian dan Perlontean di akibatkan kehadiran PT.DPM, baru kali ini saya tahu kalau ada pertambangan di salah satu daerah secepat itupulah hadirnya perjudian dan perlontean sepertinya Pak Ringo katakan, sangat tajam sekali mengantisipasi gelagak perjudian dan perlontean kayanya sih sudah terbiasa dilingkungan seperti itu makanya pak ini mengetahui gerak geriknya

    Alangkah baiknya Pak Ringo bisa menangani problema yang akan datang sungguh sangat baik ide pak untuk menyelamatkan kampung Sopokomil dari Perjudian dan Perlontean, saya sangat2 mendukungnya tapi jangan lupa Proyek tetap berjalan dengan lancar agar anak Sopokomil bisa sekolah

    Mudah2an apa yang di katakana Pak Ringo tak akan terjadi di daerah Sopokomil dan saya sangat mengharapkan bantuan dari Pak Ringo untuk mengantisipasi keadaan. jangan sampai masyarakat di sana terjerumus.

    Mauliate Tuhan selalu memberkatinya
    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.

    November, 25, 2008

    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  31. Bonar Siahaan berkata:

    @ Steven lupin Bako

    Di era thn 80 an saya pernah berkunjung ke Pardomuan dengan seorang yang bernama Clemen Bancin (nama Phak-phak) tapi masih warga Amerika. Tujuannya (katanya) ingin mempelajari budaya-budaya lokal yang masih asli. Namun setelah kutemani sampai ke Klasen di daerah Salak (Pak-pak barat) disamping mempelajari budaya lokal terkesan ada sesuatu yang dicari selain mempelajari budaya, mungkin itu yang namanya harta karun yang terpendam diperut bumi.

    Yang ingin saya katakan; Masyarakat tak mungkin hidup sejahtra bila masih menggantungkan hidupnya kepada orang asing walau gajinya US $ 100 per hari (menurut prinsipku) bila itu dari hasil tanahnya sendiri. Logikanya orang yang mengelola tanahku sendiri tapi aku yang menjadi kariawan wajarkah itu? Memang kelemahannya ada pada pengelola negeri ini yang hanya mencari kepentingan sesaat, tapi apakah anda pernah berfikir bila hasil tambang yang di Sopo komil habis maukah PT.DPM mengganti apa yang telah di habiskannya? Tugas andalah yang memikirkannya.

    Hanya sebatas ini iyang dapat kukomentari, mohon maaf bila ada kata-kata saya yang tidak berkenaan.

    Njuah-njuah kita krina, horas.

  32. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuah juah banta karina

    Seandainya Bapak / Ibu menyediakan waktu membuka Internet berjudul Ayo Merdeka yang ada di “Bencana Lapindo” Bisa terjadi di Dairi disitu terdapat karya tulis dari Bapak Ben yang sangat singkat tapi jelas mengenai Proyek di Sopokomil
    (PT. Dairi Prima Mineral ) yang di terbitkan November, 22, 08 pkl. 12.44.pm

    YthBapak Ben dan Bapak /Ibu yang sedang menikmati artikel ini

    Sungguh sangat cantik permainan Bapak ini untuk memberikan kata sambutan buat orang2 yang ingin menggagalkan Proyek pertambangan ( PT.DPM.).yang ada di Sopokomil

    Banyak orang memberikan tanggapan hanya membuat ricuh situasi atau seperti nai Malvinas katakana

    Songon bonang narundut

    tanpa mengetahui sebenarnya kepentingan buat Negeri tercinta dan kebutuhan Masyarakat Indonesia

    Kalau kita lihat secara umum para pemberi komentar mengenai kehadiran Proyek yang ada di Sopokomil sepertinya sudah berpendidikan yang tinggi, tapi data pendukungnya tak terlampirkan seperti Pak Ben katakana, sehingga terkesan komentar asalan

    Saya sendiri sebenarnya sudah banyak memberikan masukan di Blog /Internet yang semarak mengudara di tanah air, tapi masih ada saja yang memberikan Komentar yang tak bisa di pertanggung jawabkan.

    Yang lebih parah lagi seseorang memberikan komentarnya bukan dari hasil buah pikirannya tapi hanya mengekori artikel orang lain sedangkan Lokasipun tidak tahu keberadaannya di kordinat berapa dalam Peta, padahal komentarnya seperti yang sudah menguasai medan maupun pengetahuan tentang pertambangan saja.

    Apakah ini yang di sebut Provokator Internet saya kurang jelas, tapi begitulah fakta yang kita lihat atau dibaca di semua Internet yang ada terutama bagi orang2 yang menolak kehadiran Proyek PT.DPM. di desa Sopokomil.

    Saya sangat berterima kasih kepada Pak Ben atas penjelasannya yang begitu mantap mudah2an para pemberi komentar di Internet sadar akan hal ini, agar kita jangan malu melihat Negara lain yang sudah maju pola berpikirnya

    Lias ate

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    Desember, 04, 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  33. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuah-juah banta karina

    Lae Bonar Siahaan, kalau lae sudah membaca semua tulisan2 yang saya kirim melalui beberapa Internet yang ada di tanah air, tentang keberadaan Proyek Pt.DPM, mungkin Lae sendiri sudah pasti paham semua mengapa begitu kuat saya untuk mendukung kehadiran Proyek ini di kampung saya Sopokomil

    Saya menganjurkan sama lae B.Siahaan agar mengulang kembali membaca semua hasil buah pikiran saya yang saya kirim ke beberapa Internet yang ada di tanah air.

    Kalau lae B.Siahaan belum pernah langsung kelokasi dan belum pernah mencari informasi dari masyarakat setempat saya agak sulit memberikan tanggapan buat lae

    Atau lebih gampang lagi sebagai jawaban untuk lae B.Siahaan alangkah baiknya coba membaca kiriman tulisan dari :

    1.Bapak Tamrin
    29 | Tamrin
    Oktober 23rd, 2008 at 8:42 am
    Batak itu keren
    Bencana Lapindo” Bisa Terjadi di Kabupaten Dairi

    2. Bapak. Ben

    Ben November, 22, 08 pkl, 12,44 pm

    berjudul Ayo Merdeka yang ada di “Bencana Lapindo” Bisa terjadi di Dairi .

    3.Bapak.Karlof Sitompul
    13 | karlof sitompul
    Desember 4th, 2008 at 3:43 pm
    di Raaja Huta

    Lae .Siahaan mudah2an lae bisa puas dengan membaca surat yang di tayangkan bapak2 di atas

    Terima kasih atas perhatian yang lae berikan terhadap Kampung saya Sopokomil, semoga tetap berjaya.

    Lias ate / Horas

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.

    Desember, 06, 2008

    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  34. Bonar Siahaan berkata:

    @ Steven Lupin Bako

    Sebenarnya saya kurang berminat membaca buah pikiran yang hanya dituangkan dalam teori tanpa pernah mau mempraktekkan secara nyata. Sebab teori tanpa praktek sama dengan sarjana yang hanya pencari upah.
    Pertanyaan yang ada didalam benak saya, mengapa kita tidak mengusahai milik kita. Kenapa kita harus jadi buruh ditanah milik kita. Alangkah baiknya bila kita mencari ilmu untuk kita gunakan demi kesejahteraan “Bangso” ini, bukan untuk memperkaya bangsa lain. Hanya itu yang saya pertanyakan, dan maaf bila jawabanku ini tidak nyambung.

    Salam untuk Lae.

  35. Stephen Lupin Bako berkata:

    Tutup PT.DPM

    PENAMBANGAN PT DPM USIK KEHARMONISAN PETANI

    Pendukung Gerakan Penyelamatan Hutan Lindung Dairi :

    Yang di siponsori Raja Huta tak ketinggalan meneriakkan suaranya.

    Dan berbagai macam komentar yang di teriakkan untuk menghalangi PT.DPM beroperasi di Sopokomil.
    Kata2 tersebut juga membuat urat di belakang tengkuk menjadi tegang tak karuan dan membuat bulu roma kita berdiri dan berguguran satu persatu. Tanpa di sadari

    Salah satu cara untuk mengendorkan semua itu adalah dengan cara sbb;

    Sebelum Bapak /Ibu dan Saudara/I memberikan komentar untuk menyangkal kehadiran PT.DPM alangkah baiknya anda mengarahkan panah Internetnya ke …………. Benss.co.cc————– Cari————Benss halaman depan—————- pilih paling bawah—————-Artikel judul—-isu-dampak-lingkungan-kegiatan-pertambangan-pt-dpm

    Kalau Bapak / Ibu dan saudara/I membacanya terutama bagi yang menamakan dirinya Pendukung Gerakan Penyelamatan Hutan Lindung Dairi : saya yakin urat di belakang tengkuk yang tadinya tegang pasti kendor kalau sudah di baca tinggalkan pesan anda

    Selamat mencoba

    Terima kasih

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    Desember, 07, 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  36. Stephen Lupin Bako berkata:

    Njuahjuah banta karina

    Halooo lae B.Siahaan, saya sangat salut dengan perkataan lae yang mengatakan sbb;

    1.kurang berminat membaca buah pikiran yang hanya dituangkan dalam teori tanpa pernah mau mempraktekkan secara nyata. Sebab teori tanpa praktek sama dengan sarjana yang hanya pencari upah.

    2.mengapa kita tidak mengusahai milik kita. Kenapa kita harus jadi buruh ditanah milik kita.

    Sepertinya lae Siahaan sudah mempunyai Program (strategi ) yang cukup mantap kalau saya membaca tulisan lae yang di terbitkan tgl, 08 Desember 2008 pkl4:21 am.

    Alangkah baiknya lae Siahaan menunjukkan suatu usaha bagaimana membawa Bangsa ini ke Era yang lebih maju jadi pengetahuan lae sebagai salah seorang yang sudah berpendidikan tinggi alias Sarjana dapat di hargai orang.

    Contohnya di daerah kita Sumatra Utara masih banyak di temukan pengusaha secara Tradisional atau tukang tenun ( Martonun )

    Nah kalau saja lae pikirkan bagaimana untuk membangun usaha terdisional ini menjadi Textil yang lebih Modern seperti yang pernah di lakukan T.D Pardede jaman kejayaannya membuat Indonesia di kenal Dunia dan bukan hanya Bangso Batak saja.

    Saya pikir lae akan menjadi orang yang terkenal dari salah satu putra Indonesia yang dapat mengembangkan usaha secara baik.

    Membuat suatu program memang sangat gampang lae, tapi dalam pelaksanaannya yang sangat sulit, kalau memang lae ahli dalam hal ini cobalah lakukan, jadi tidak seperti yang lae katakan aaaaaaaaa hhhhhhhh tiiioooooRRRRRRR iiiiiii

    Sadar atau tidak sadar lae saat ini mungkin masih memakai pakaian buatan Indonesia tapi bermodalkan Negara asing dan buruhnyapun orang Indonesia.

    Kenapa lae tak mengusahakan menjadi milik sendiri, agar buruh tersebut bukan menjadi buruh orang lain di tanah sendiri seperti yang lae katakana, modal maupun perencanaannya masih bisa terjangkau oleh Bangsa Indonesia, tidak seperti modal maupun ahli2 yang di pergunakan PT Dairi Prima Mineral ( Pt.DPM.). yang ada di Sopokomil nan Indah untuk membuat suatu Pertambangan tekekenal Dunia.

    Ibarat lae punya tanah tapi tak sanggup untuk mengelolanya padahal akan dapat menghasilkan yang mengembirakan, tapi karena modal maupun tenaga tak ada terpaksa di sewakan ( di bola pinang ) bukankah begitu lae?

    Jadi kalau lae ingat kata2 yang mengatakan sbb: seutas benang di seberang lautan bisa kelihatan, tapi balok di depan jidat tak nampak. Inilah yang sering terjadi bagi umat manusia.

    Perkataan lae ini sangat saya dukung bilamana semua itu telah mempunyai kerangka yang baik, misalkan modal yang cukup banyak dan ahli2 pertambangan yang cukup handal yang di miliki oleh bangsa Indonesia tercinta.

    Sebelum Lokasi Spokomil secara keseluruhan di serahkan kepada Investor luar ( Asing ) sebaiknya susunlah dulu program2 yang ada di benak lae, dan ajukan kepemerintah sesuai dengan persyaratan maupun kebutuhan yang di inginkan oleh Negara.

    Selamat mencoba mudah2an lae Siahaan dapat sukses meraihnya menjadi salah seorang penanam Modal tapi jangan lupa dengan saya laenya S.L.Bako mendaftar paling pertama menjadi salah seorang pekerja nantinya.

    Lias ate / Mauliate

    Stephen Lupin Bako
    10567 Ohio St Loma Linda
    Califonia 92354 U.S.A.
    Desember, 16, 2008
    E-mail ( pakbako@Hotmail.com )
    Boaboa’s friendster.com
    ( youtube: tulis Bakopakpak clik Bako Lupin Stephen )

    Cellphone ( 909 ) 5200-337

  37. G. Meha berkata:

    Puhun SL Bako, kalau dibolapinang masih mending puhun, itu berarti bahwa dari sekian puluh juta ton bahan tambang yang akan dikeruk dari perut bumi Sopokomil nan Indah akan dibagi dos/rata. Apa benar demikian puhun?

  38. Bonar Siahaan berkata:

    @ Stephen Lupin Bako

    Saya bukan harus seperti TD Pardede,namun saya berupaya mengarahkan beberapa pemuda yang ada di kampung saya untuk mandiri,bukan mental pencari kerja. Sekecil apapun usaha yang dapat dilakoni asal dapat menghidupi dirinya dengan kehidupan yang layak menurut saya itu sudah lebih baik ketimbang harus mengharafkan upah yang mungkin lebih besar tapi harus patuh oleh waktu yang telah ditentukan sang majikan.
    Sampai saat ini saya tak pernah memakai tenaga kerja yang dibayar perhari atau perbulan, yang saya lakukan adalah membina para pemuda untuk ber-usaha sendiri demi kehidupan mereka yang menuju kemandirian.
    Saya memang punya lahan seluas 50 ha (lebih kurang) dari peninggalan kakek saya, dan itu sudah saya tanami dengan kayu keras dan pohon enau yang telah dapat mengeluarkan tuak rata-rata 15 kaleng per hari. Untuk selanjutnya seluruh penduduk yang berada di daerahku kusarankan agar mengikuti langkah yang telah saya lakonkan, dan syukur saat ini hampir seluruh genersi muda telah bekerja sesuai dengan harapan.

    NB. Untuk melihat profil saya silahkan klik saya cinta budaya batak di blog tanobatak ini.

    Lias ate,njuah-njuah kita krina.

  39. @ Amang Bonar Siahaan

    Kita lakukan saja apa yang bisa dan mau lakukan, Amang. Hidup ini bukan hanya butuh materi. Bukankah ada dikatakan, “manusia tak hanya butuh roti?”

    Sejak semula, saya sudah sependapat dengan Amang dan orang-orang yang menghargai keselamatan lingkungan hidup di blog ini. Sang Pencipta menghibahkan bumi ini bagi manusia dan makhluk hidup lainnya utk dimanfaatkan demi kelangsungan hidup dan kehidupan. Tetapi, manusia pun diberi olehNya akal, budi, perasaan, kebajikan, agar tak rakus dan semena-mena memperlakukan alam–atas nama kemakmuran.

    Sudah terlalu banyak ulasan, kajian, penelitian, repotase, betapa sifat tamak manusia dan para pelaku dunia korporasi modern telah mengancam keselamatan bumi dan pengisinya. Tak usah harus berpendidikan tinggi dan mukim di negara-negara maju utk mengetahui bahwa isu dan persoalan rusaknya ekosistem sudah menjadi concern para pakar ekologi sejak dasawarsa 80-an (a.l. Lester Brown). PBB pun sudah membuat beberapa agenda dan memprakarsai pertemuan untuk menyelamatkan lingkungan hidup, salah satunya Kyoto Protocol itu. Mantan Wapres AS Al Gore bahkan sudah menyebarkan ancaman serius dan nyata (melalui media film dokumenter) betapa pencairan es di Kutub Utara sudah sedemikian mengkhawatirkan karena pemanasan global.

    Hutan, kandungan bumi, bukannya tak boleh dimanfaatkan manusia. Persoalan klasik sejak tahun 1800-an (era dimulainya penambangan) adalah: ternyata manusia hanya memikirkan profit, mengabaikan keserasian lingkungan hidup, dan cenderung menghancurkan. Akan seperti apapun kehancuran alam, tak soal bagi mereka–sepanjang belum dijerat hukum! Tak usah jauh-jauh mengambil contoh ke negara lain, para pemuja uang itu cukup melihat bumi Kalimantan, Sumatera (khususnya Riau) dan Irian. Kehancuran alam akibat penambangan dan pembabatan hutan, sungguh mengerikan! Jutaan hektar hutan disikat dan tak ditanami lagi. Kubangan-kubangan raksasa melukai bumi, menganga, menjadi lembah-lembah yang tak berguna bahkan bagi seekor semut.

    Apakah masyarakat setempat diuntungkan dengan diporakporandakannya bumi itu? Sebagian, pasti. Tapi amat tak sebandang dengan harga yang harus dibayar; yang sepanjang masa akan terus menjadi ancaman bagi kehidupan manusia! Ongkos sosial-environmentalnya terlalu mahal.

    Gerakan kapitalisme (Barat dan Timur) sudah lama tiba pada tahap penghancuran bumi untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dan, ironis atau tragisnya, mayoritas masyarakat, yang dalam terminologi hukum korporasi disebut ‘stake holders’ itu, hanya mendapat remah-remah, sebagai penonton belaka, atau cuma jadi korban industri penambangan dan perkayuan (kayu lapis, pulp, rayon, dll). Mereka pun tak sadar bahwa bila sumber daya alam sudah menipis, para ‘share holders’ itu akan hengkang dengan entengnya, mencari lahan lain, sebab demikianlah karakter dasar umumnya kaum korporat; menyisakan remah-remah, mewariskan alam yang siap menebarkan petaka.

    Demikian pun kecewanya kita, mari tetap peduli dan bersuara. Biarkan mereka yang tak sejalan dengan kita mengutarakan pendapat dan sikap. Jujur, saya jauh lebih kagum pada orang-orang semacam Amang, Monang Naipospos, Limantina Sihaloho, pengelola Taman Eden (dua lae marga Sirait) dibanding CEOs-nya Lehman Brothers, Citicorp, Riotinto, Freeport, Adaro, apalagi PT TPL itu!

    Saya sungguh-sungguh hormat pada siapapun yang menghargai tiap jengkal tanah di bumi ini, tiap batang pohon, dan tiap tetes air di sungai, danau, dan lautan.

    Horas, sai diramoti jala dipasu-pasu Debata Parbanuaginjang ma hita di siganup ari.

  40. Bonar Siahaan berkata:

    @ Amanta Suhunan Situmorang

    Terima kasih atas apresiasinya, dan;

    SELAMAT HARI NATAL 25 – 26 DESMBER 2008 & TAHUN BARU 1 JANUARI 2009.

    Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang Melindungi kita semua. Amin.

    @ Silih Stephen Lupin Bako

    Semoga Tuhan tetap memberikan kesehatan lahir & bathin untuk anda.

  41. rahmadin boangmanalu berkata:

    kirim balasan lewat email..
    saya asli putera daerah sapokomil,,, kehadiran PT.Dairi Prima Mineral sangat membantu perekonomian masyarakat setempat, secara umum Kab.Dairi. tergantung kepada masyarakat itu sendiri, satu satu nya jalan untuk bisa menjadi pemeran penting dalam p[erusahaan ini kelak adalah dengan pendidikan…
    persiapkan SKILL sejak dini. dan jadilah tuan rumah di kampung sendiri..
    njuah njuah, horas , mejuah juah..

  42. JULITA HASUGIAN berkata:

    Njuah-njuah!
    saya puteri dari desa Bongkaras, yang dekat dengan desa Sopokomil. Sebagai seorang Putri Dairi, saya kurang setuju dengan pemerintah Indonesia yang memberi ijin terhadap orang luar untuk mengelola Tambang yang ada di Sopokomil.karena kita bisa lihat walaupun tambang berada di sana namum penduduk Dairi sangat minim dijadikan sebagai staf DPM. Rata-rata hanya sebagai buruh kasar seperti Tukang angkut barang-barang keperluan PT.DPM. kehidupan semakin merosot ( kehidupan tidak makmur), dimana yang mayoritas penduduknya bertani sekarang sudah menjadi tukang angkut barang.meninggalkan pertanian mereka hanya untuk menjadi tukang angkut barang.Sehingga hasil pertanian tidak ada lagi.Mengapa terjadi seperti ini???
    belum tentu dengan dibukanya sebuah PT disana membuat masyarakat disana dapat membuat anaknya sampai keperguruan Tinggi. Dalam hal ini masih sangat dibutuhkan kesadaran dari para Masyarakat yang ada disana dan paling Utama Kepedulian dari Pihak pemerintah Indonesia untuk masyarakat yang masih tertinggal. Dan saya sangat mengharapkan para Putra/putri dari parongil yang sudah Sukses di Negeri orang untuk kepeduliannya terhadap kampung halaman kita.Ngilu hati saya ketika pulang kampung melihat para Ibu dan anak- anak harus naik Gunung demi mencari nafkah dan biaya Pendidikan.terimakasih. njuah-njuah, horas…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s