NILAI FILOSOFI RUMAH ADAT BATAK

R B MARPAUNG

Rumah adat bagi orang Batak didirikan bukan hanya sekedar tempat bemaung dan berteduh dari hujan dan panas terik matahari semata tetapi sebenanya sarat dengan nilai filosofi yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman hidup.

Beragam pengertian dan nilai luhur yang melekat dan dikandung dalam rumah adat tradisionil yang mestinya dapat dimaknai dan dipegang sebagai pandangan hidup dalam tatanan kehidupan sehari-hari, dalam rangka pergaulan antar individu.

Dalam kesempatan ini akan dipaparkan nilai flosofi yang terkandung didalamnya sebagai bentuk cagar budaya, yang diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian budaya, agar kelak dapat diwariskan kepada generasi penerus untuk selalu rindu dan cinta terhadap budayanya.

Proses Mendirikan Rumah.

Sebelum mendirikan rumah lebih dulu dikumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan, dalam bahasa Batak Toba dikatakan “mangarade”. Bahan-bahan yang diinginkan antara lain tiang, tustus (pasak), pandingdingan, parhongkom, urur, ninggor, ture-ture, sijongjongi, sitindangi, songsong boltok dan ijuk sebagai bahan atap. Juga bahan untuk singa-singa, ulu paung dan sebagainya yang diperlukan.

Dalam melengkapi kebutuhan akan bahan bangunan tersebut selalu dilaksanakan dengan gotong royong yang dalam bahasa Batak toba dikenal sebagai “marsirumpa” suatu bentuk gotong royong tanpa pamrih.

Sesudah bahan bangunan tersebut telah lengkap maka teknis pengerjaannya diserahkan kepada “pande” (ahli di bidang tertentu, untuk membuat rumah disebut tukang) untuk merancang dan mewujudkan pembangunan rumah dimaksud sesuai pesanan dan keinginan si pemilik rumah apakah bentuk “Ruma” atau “Sopo”.

Biasanya tahapan yang dilaksanakan oleh pande adalah untuk seleksi bahan bangunan dengan kriteria yang digunakan didasarkan pada nyaring suara kayu yang diketok oleh pande dengan alat tertentu. Hai itu disebut “mamingning”.

Kayu yang suaranya paling nyaring dipergunakan sebagai tiang “Jabu bona”. Dan kayu dengan suara nyaring kedua untuk tiang “jabu soding” yang seterusnya secara berturut dipergunakan untuk tiang “jabu suhat” dan “si tampar piring”.

Tahapan selanjutnya yang dilakukan pande adalah “marsitiktik”. Yang pertama dituhil (dipahat) adalah tiang jabu bona sesuai falsafah yang mengatakan “Tais pe banjar ganjang mandapot di raja huta. Bolon pe ruma gorga mandapot di jabu bona”.

Salah satu hal penting yang mendapat perhatian dalam membangun rumah adalah penentuan pondasi. Ada pemahaman bahwa tanpa letak pondasi yang kuat maka rumah tidak bakalan kokoh berdiri. Pengertian ini terangkum dalam falsafah yang mengatakan “hot di ojahanna” dan hal ini berhubungan dengan pengertian Batak yang berprinsip bahwa di mana tanah di pijak disitu langit jungjung.

Pondasi dibuat dalam formasi empat segi yang dibantu beberapa tiang penopang yang lain. Untuk keperluan dinding rumah komponen pembentuk terdiri dari “pandingdingan” yang bobotnya cukup berat sehingga ada falsafah yang mengatakan “Ndang tartea sahalak sada pandingdingan” sebagai isyarat perlu dijalin kerja sama dan kebersamaan dalam memikui beban berat.

Pandingdingan dipersatukan dengan “parhongkom” dengan menggunakan “hansing-hansing” sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Hot di batuna jala ransang di ransang-ransangna” dan “hansing di hansing-hansingna”, yang berpengertian bahwa dasar dan landasan telah dibuat dan kiranya komponen lainnya juga dapat berdiri dengan kokoh. Ini dimaknai untuk menunjukkan eksistensi rumah tersebut, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dimaknai juga bahwa setiap penghuni rumah harus selalu rangkul merangkul dan mempunyai pergaulan yang harmonis dengan tetangga.

Untuk mendukung rangka bagian atas yang disebut “bungkulan” ditopang oleh “tiang ninggor”. Agar ninggor dapat terus berdiri tegak, ditopang oleh “sitindangi”, dan penopang yang letaknya berada di depan tiang ninggor dinamai “sijongjongi”. Bagi orang Batak, tiang ninggor selalu diposisikan sebagai simbol kejujuran, karena tiang tersebut posisinya tegak lurus menjulang ke atas. Dan dalam menegakkan kejujuran tersebut termasuk dalam menegakkan kebenaran dan keadilan selalu ditopang dan dibantu oleh sitindangi dan sijongjongi.

Dibawah atap bagian depan ada yang disebut “arop-arop”. Ini merupakan simbol dari adanya pengharapan bahwa kelak dapat menikmati penghidupan yang layak, dan pengharapan agar selalu diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kepercayaan orang Batak sebelum mengenal agama disebut Mula Jadi Na Bolon sebagai Maha Pencipta dan Khalik langit dan bumi yang dalam bahasa Batak disebut “Si tompa hasiangan jala Sigomgom parluhutan”.

Di sebelah depan bagian atas yang merupakan komponen untuk merajut dan menahan atap supaya tetap kokoh ada “songsong boltok”. Maknanya, seandainya ada tindakan dan pelayanan yang kurang berkenan di hati termasuk dalam hal sajian makanan kepada tamu harus dipendam dalam hati. Seperti kata pepatah Melayu yang mengatakan “Kalau ada jarum yang patah jangan di simpan dalam peti kalau ada kata yang salah jangan disimpan dalam hati.

“Ombis-ombis” terletak disebalah kanan dan kiri yang membentang dari belakang ke depan. Kemungkinan dalam rumah modern sekarang disebut dengan list plank. Berfungsi sebagai pemersatu kekuatan bagi “urur” yang menahan atap yang terbuat dari ijuk sehingga tetap dalam keadaan utuh. Dalam pengertian orang Batak ombis-ombis ini dapat menyimbolkan bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari keterbatasan kemampuan, karena itu perlu untuk mendapat nasehat dan saran dari sesama manusia. Sosok individu yang berkarakter seperti itu disebut “Pangombisi do ibana di angka ulaon ni dongan” yaitu orang yang selalu peduli terhadap apa yang terjadi bagi sesama baik di kala duka maupun dalam sukacita.

Pemanfaatan Ruangan

Pada bagian dalam rumah (interior) dibangun lantai yang dalam pangertian Batak disebut “papan”. Agar lantai tersebut kokoh dan tidak goyang maka dibuat galang lantai (halang papan) yang disebut dengan “gulang-gulang”. Dapat juga berfungsi untuk memperkokoh bangunan rumah sehingga ada ungkapan yang mengatakan “Hot do jabu i hot margulang-gulang, boru ni ise pe dialap bere i hot do i boru ni tulang.”

Untuk menjaga kebersihan rumah, di bagian tengah agak ke belakang dekat tungku tempat bertanak ada dibuat lobang yang disebut dengan “talaga”. Semua yang kotor seperti debu, pasir karena lantai disapu keluar melalui lobang tersebut. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Talaga panduduran, lubang-lubang panompasan” yang dapat mengartikan bahwa segala perbuatan kawan yang tercela atau perbuatan yang dapat membuat orang tersinggung harus dapat dilupakan.

Di sebelah depan dibangun ruangan kecil berbentuk panggung (mirip balkon) dan ruangan tersebut dinamai sebagai “songkor”. Di kala ada pesta bagi yang empunya rumah ruangan tersebut digunakan sebagai tempat “pargonsi” (penabuh gendang Batak) dan ada juga kalanya dapat digunakan sebagai tempat alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul setelah selesai bertanam padi.

Setara dengan songkor di sebelah belakang rumah dibangun juga ruangan berbentuk panggung yang disebut “pangabang”, dipergunakan untuk tempat menyimpan padi, biasanya dimasukkan dalam “bahul-bahul”. Bila ukuran tempat padi itu lebih besar disebut dengan “ompon”. Hal itu penyebab maka penghuni rumah yang tingkat kehidupannya sejahtera dijuluki sebagai “Parbahul-bahul na bolon”. Dan ada juga falsafah yang mengatakan “Pir ma pongki bahul-bahul pansalongan. Pir ma tondi luju-luju ma pangomoan”, sebagai permohonan dan keinginan agar murah rejeki dan mata pencaharian menjadi lancar.

Melintang di bagian tengah dibangun “para-para” sebagai tempat ijuk yang kegunaannya untuk menyisip atap rumah jika bocor. Dibawah parapara dibuat “parlabian” digunakan tempat rotan dan alat-alat pertukangan seperti hortuk, baliung dan baji-baji dan lain sebagainya. Karena itu ada fatsafah yang mengatakan “Ijuk di para-para, hotang di parlabian, na bisuk bangkit gabe raja ndang adong be na oto tu pargadisan” yang artinya kira-kira jika manusia yang bijak bestari diangkat menjadi raja maka orang bodoh dan kaum lemah dapat terlindungi karena sudah mendapat perlakuan yang adil dan selalu diayomi.

Untuk masuk ke dalam rumah dilengkapi dengan “tangga” yang berada di sebelah depan rumah dan menempel pada parhongkom. Untuk rumah sopo dan tangga untuk “Ruma” dulu kala berada di “tampunak”. Karena itu ada falsafah yang berbunyi bahwa “Tampunak ni sibaganding, di dolok ni pangiringan. Horas ma na marhaha-maranggi jala tangkas ma sipairing-iringan”.

Ada kalanya keadaan tangga dapat menjadi kebanggaan bagi orang Batak. Bila tangga yang cepat aus menandakan bahwa tangga tersebut sering dilintasi orang. Pengertian bahwa yang punya rumah adalah orang yang senang menerima tamu dan sering dikunjungi orang karena orang tersebut ramah. Tangga tersebut dinamai dengan “Tangga rege-rege”.

Gorga

Disebelah depan rumah dihiasi dengan oramen dalam bentuk ukiran yang disebut dengan “gorga” dan terdiri dari beberapa jenis yaitu gorga sampur borna, gorga sipalang dan gorga sidomdom di robean.

Gorga itu dihiasi (dicat) dengan tlga warna yaitu wama merah (narara), putih (nabontar) dan hitam (nabirong). Warna merah melambangkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang berbuah kebijaksanaan. Warna putih melambangkan ketulusan dan kejujuran yang berbuah kesucian. Wama hitam melambangkan kerajaan dan kewibawaan yang berbuah kepemimpinan.

Sebelum orang Batak mengenal cat seperti sekarang, untuk mewarnai gorga mereka memakai “batu hula” untuk warna merah, untuk warna putih digunakan “tano buro” (sejenis tanah liat tapi berwana putih), dan untuk warna hitam didapat dengan mengambil minyak buah jarak yang dibakar sampai gosong. Sedangkan untuk perekatnya digunakan air taji dari jenis beras yang bernama Beras Siputo.

Disamping gorga, rumah Batak juga dilengkapi dengan ukiran lain yang dikenal sebagai “singa-singa”, suatu lambang yang mengartikan bahwa penghuni rumah harus sanggup mandiri dan menunjukkan identitasnya sebagai rnanusia berbudaya. Singa-singa berasal dari gambaran “sihapor” (belalang) yang diukir menjadi bentuk patung dan ditempatkan di sebelah depan rumah tersebut. Belalang tersebut ada dua jenis yaitu sihapor lunjung untuk singa-singa Ruma dan sihapor gurdong untuk rumah Sopo.

Hal ini dikukuhkan dalam bentuk filsafat yang mengatakan “Metmet pe sihapor lunjung di jujung do uluna” yang artinya bahwa meskipun kondisi dan status sosial pemilik rumah tidak terlalu beruntung namun harus selalu tegar dan mampu untuk menjaga integritas dan citra nama baiknya.

Perabot Penting

Berbagai bentuk dan perabotan yang bernilai bagi orang Batak antara lain adalah “ampang” yang berguna sebagai alat takaran (pengukur) untuk padi dan beras. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Ampang di jolo-jolo, panguhatan di pudi-pudi. Adat na hot pinungka ni na parjolo, ihuthononton sian pudi”. Pengertian yang dikandungnya adalah bahwa apa bentuk adat yang telah lazim dilaksanakan oleh para leluhur hendaknya dapat dilestarikan oleh generasi penerus. Perlu ditambahkan bahwa “panguhatan” adalah sebagai tempat air untuk keperluan memasak.

Di sebelah bagian atas kiri dan kanan yang letaknya berada di atas pandingdingan dibuat “pangumbari” yang gunanya sebagai tempat meletakkan barang-barang yang diperlukan sehari-hari seperti kain, tikar dan lain-lain. Falsafah hidup yang disuarakannya adalah “Ni buat silinjuang ampe tu pangumbari. Jagar do simanjujung molo ni ampehon tali-tali”.

Untuk menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi dan mempunyai harga yang mahal biasanya disimpan dalam “hombung”, seperti sere (emas), perak, ringgit (mata uang sebagai alat penukar), ogung, dan ragam ulos seperti ragi hotang, ragi idup, ragi pangko, ragi harangan, ragi huting, marmjam sisi, runjat, pinunsaan, jugia so pipot dan beraneka ragam jenis tati-tali seperti tutur-tutur, padang ursa, tumtuman dan piso halasan, tombuk lada, tutu pege dan lain sebagainya.

Karena orang Batak mempunyai karakter yang mengagungkan keterbukaan maka di kala penghuni rumah meninggal dunia dalam usia lanjut dan telah mempunyai cucu maka ada acara yang bersifat kekeluargaan untuk memeriksa isi hombung. Ini disebut dengan “ungkap hombung” yang disaksikan oleh pihak hula-hula.

Untuk keluarga dengan tingkat ekonomi sederhana, ada tempat menyimpan barang-barang yang disebut dengan “rumbi” yang fungsinya hampir sama dengan hombung hanya saja ukurannya lebih kecil dan tidak semewah hombung.

Sebagai tungku memasak biasanya terdiri dari beberapa buah batu yang disebut “dalihan”. Biasanya ini terdiri dari 5 (lima) buah sehingga tungku tempat memasak menjadi dua, sehingga dapat menanak nasi dan lauk pauk sekaligus.

Banyak julukan yang ditujukan kepada orang yang empunya rumah tentang kesudiannya untuk menerima tamu dengan hati yang senang yaitu “paramak so balunon” yang berarti bahwa “amak” (tikar) yang berfungsi sebagai tempat duduk bagi tamu terhormat jarang digulung, karena baru saja tikar tersebut digunakan sudah datang tamu yang lain lagi.

“Partataring so ra mintop” menandakan bahwa tungku tempat menanak nasi selalu mempunyai bara api tidak pernah padam. Menandakan bahwa yang empunya rumah selalu gesit dan siap sedia dalam menyuguhkan sajian yang perlu untuk tamu.

“Parsangkalan so mahiang” menandakan bahwa orang Batak akan berupaya semaksimal mungkin untuk memikirkan dan memberikan hidangan yang bernilai dan cukup enak yang biasanya dari daging ternak.

Untuk itu semua maka orang Batak selalu menginginkan penghasilan mencukupi untuk dapat hidup sejahtera dan kiranya murah rejeki, mempunyai mata pencaharian yang memadai, sehingga disebut “Parrambuan so ra marsik”.

Tikar yang disebut “amak” adalah benda yang penting bagi orang Batak. Berfungsi untuk alas tidur dan sebagai penghangat badan yang dinamai bulusan. Oleh karena itu ada falsafah yang mengatakan “Amak do bulusan bahul-bahul inganan ni eme. Horas uhum martulang gabe uhum marbere”.

Jenis lain dari tikar adalah rere yang khusus untuk digunakan sebagai alas tempat duduk sehari-hari dan bila sudah usang maka digunakan menjadi “pangarerean” sebagai dasar dari membentuk “luhutan” yaitu kumpulan padi yang baru disabit dan dibentuk bundar. Tentang hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Sala mandasor sega luhutan” di mana pengertiannya adalah bahwa jika salah dalam perencanaan maka akibatnya tujuan dapat menjadi terbengkalai.

Penutup

Nilai budaya itu sangat perlu dilestarikan dan hendaknya dapat ditempatkan sebagai dasar filosofi sebagai pandangan hidup bagi generasi penerus kelak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya, karena itu Bangso Batak perlu menjaga citra dan jati dirinya agar keberadaannya tetap mendapat tempat dalam pergaulan hubungan yang harmonis.

Penulis juga mengakui bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna maka segala bentuk saran dan masukan yang sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati, Kiranya Tuhan memberkati kita semua. HORAS


Bookmark and Share

Tautan ;
PAJONGJONG RUMA DOHOT SOPO
SOPO DOHOT ULOS
MAMUNGKA HUTA DOHOT JABU
MULA NI GORGA BATAK
SANGKAMADEHA
MENYIBAK TABIR MENAMPAK ISI
hasil penelitian Sandrine Germain tentang Rumah Batak Toba
RUMA GORGA BATAK

25 thoughts on “NILAI FILOSOFI RUMAH ADAT BATAK

  1. nirwan panggabean berkata:

    Horas….
    saya semakin bangga menjadi orang batak karena dari dulu sudah sangat menarik cara hidupnya…sangat berterima kasih tulisannya yang sangat bagus dan banyak informasi.
    kalau boleh saya mau tanya dua hal:
    1)apa yang berbeda RUMA dengan SOPO?
    2)dulu waktu pulang kekampung saya pernah masuk rumah traditional Batak, tangganya dari bawah, bukan dari depan….apakah ada maksud tertentu dan artinya…?
    Terima kasih.

  2. Baginda Na70 berkata:

    Kira-kira kalau mau mendirikan RUMAH ADAT BATAK berapa biaya yang di butuhkan Lae?

    *** Mana bisa ditaksir dengan mudah lae. Kayu dulu milik rakyat, sekarang sudah milik Departemen Kehutanan. Kalau diambil bisa masuk penjara. Kalau pun diberi ijin, kayu yang layak untuk ruma batak seperti di Tele sudah lenyap menjadi ekualiptus. Angan-angan nama i.

  3. Bonar Siahaan berkata:

    @ nirwn panggabean.

    1) SOPO tonggaknya (tiang) pangkal kayunya yang diatas ujungnya yang dibawah,sedang RUMA sebaliknya pangkalnya yang dibawah dan ujungnya yang diatas.

    2) Biasanya yang punya jabu RUMA sudah tergolong orang terhormat sebab di harus dapat menyelamatkan orang yang kelaparan,dengan kata lain dia telah dapat “patuk haleon” atau menyelamatkan orang dari bahaya kelaparan. Maka untuk orang terhormat masyarakat harus mengharagai dan menghormatinya.
    Sekian dulu,dan selanjutnya akan kita terangkan lebih luas.

    NB. Saya Bonar Siahaan hanya menuliskan dan langsung dibaca oleh bapak RB Marpaung sebelum dikirim

  4. Maulina br sirait berkata:

    Ruma ” GORGA ” Gabe huingot hea di podahon natua tua i didok hita marga SIRAIT naso boi manggorga inna. adong inna turiturian ni marga SIRAIT taringot tu namambaen jabu GORGA . Manungkun majo amang diboto hamu do turiturian i ?
    Mauliate…Horas.

  5. Terima kasih atas artikelnya,sangat bermanfaat. Bagi anda yg mau mengiklankan atau menjual rumah, tanah,mobil dll, atau mencari barang-barang kebutuhan rumah tangga baik baru maupun bekas bisa dilihat di http://www.infobarangbekas.com. Sebentar lagi akan muncul terobosan pasang iklan dapat penghasilan tambahan.tunggu saja ya…

  6. horas…..!!!
    semakin bangga rasanya sebagai orang batak, setelah membaca tulisan ini,
    memang orang batak itu mempunyai falsafah hidup yang sangat baik….!!!!
    perluy terus dilestarikan..

    horas…3x….

  7. Icca br manik berkata:

    Ada yg saya kurang ngerti, apa seh arti atau kegunaan dr ukiran cicak di dinding atau atap rumah adat batak? Tolong di jelaskan krna saya kurang paham,terima kasih.

  8. Edward Simbolon berkata:

    Horas…………………….
    banyak hal yg aku kurang mengerti dari adat istiadat Batak, begitu juga dengan
    motif rumah adat kenapa ada lambang cecak/ukiran cecak.
    maklum aku jauh di Papua. tapi aku lahir di Sidikalang besar di medan jadi memang kurang
    pemahaman tentang adat Batak. mauleate

  9. bangun panggabean, S.Pd berkata:

    mauliate ma tulang,,,,,nungnga tabba be parbinotoan nami dung majjaha wacana na digijjang on,,,,atik bha adg dope akka artikel na berhubungan taringot tu bangso ta i,,,,ton ma terbithon tulang daa,,,Mauliate…HORASSSSS

  10. moradosimbolon berkata:

    MINIATUR RUMAH ADAT BATAK http://moradoart.wordpress.com
    Akhirnya ketemu juga artikel yg sangat luar biasa, Saya berharap, mudah-mudahan akan lebih bayak lagi orang batak yang mau menulis tentang kebudayaan batak, Supaya ada bahan pembelajaran bagi generasi muda batak seperti kami.
    O..ia.., Kalau ada yg mau MINIATUR RUMAH ADAT BATAK, Silahkah berkunjung ke http://moradoart.wordpress.com
    Mauliate godang ma di hamu

  11. indotim berkata:

    mohon tanya bang… istilah rumah adat yang digunakan di tulisan ini apakah sama dengan rumah adat di :
    Sumatera Barat : Rumah Gadang
    Sumatera Selatan : Rumah Limas
    Jawa : Joglo
    Papua : Honai
    Sulawesi Selatan : Tongkonang (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla Lompoa (Makassar Gowa)
    Sulawesi Tenggara: Istana buton
    Sulawesi Utara: Rumah Panggung
    Kalimantan Barat: Rumah Betang

  12. Velix p. Nainggolan berkata:

    Horas..horas..horas..
    Mauliate d hamu naung patakkashon parpeakni jabu/ruma d hami akka naposo on. Adong maksud nami/keluarg nami laho pajongjonghon sopo d huta pangarantoan nami d tano papua on. Aitsugari, boi do hera2 d bahen hamu natua-tua nami gambar ni sopo/ruma songon naung d patakkas hamu na d ginjang i? Hucoba-coba manggambar, alai sahera na so boi dope dapot rohakhu. Attar songoni majo na laho hupasahat t hamu. Mauliate d pangarade muna. Horas!

  13. Horass…
    Bang saya sedang menulis tesis tentang studi komparasi ruma bolon toba dan rumah tradisional toraja. bisakah saya dibantu untuk mendapatkan referensi lengkap beserta gambarnya. Juga simbol2 yg ada di ruma bolon ini? Terima kasih sebelumnya

  14. panti nadapdap berkata:

    Saya juga bingung tentang kebenaran dari makna lambang itu.
    Tapi menurut saya. Kesan dari lambang itu adalah cicak itu melambang kan keserakahan,parasit,dan jadi benalu. Itu udah karakter kebanyakan orang batak.buktinya di kehidupannyata.memang gak semua orang btak seperti itu. Terus makna dari 4 adop tersebut saya semakin negatif bro.. kenapa harus 4 kenapa gk 5 atau. Mungkin 3, atau 8 sekalian biar banyak. Apa cuman 4 kriteria untuk seorang ibu yang baik.kesucian, kesetiaan, kesejahtraan, dan kesuburan. Kenapa harus 4, apa perilaku baik dan jujur itu tidak perlu.apa lebih penting kesejahteraan dari pada kejujuran.saya pribadi cuman butuh 2 dari yang 4 itu. Dan itu sudah lebih dari cukup: kesetiaan dan kesuburan. Kenapa harus 4. Dari sini kita dapat menilai. Bahwa saya orang batak itu memang rakus dan serakah, dari sejarah batak pun sudah tertulis bahwa saya.orang batak itu tidak cukup dengan 2 payu dara. Terbukti dengan adanya perselingkuhan yang terjadi dan anak yang di sembunyikan karena status dari selingkuhan.dan sampai kapan pun saya secara pribadi tidak senang adanya lambang itu.terbukti dari sekian banyak rumah batak yang saya lihat dari sibisa sampai sigapiton jarang dan tidak ada sama sekali membuat lambang itu.
    Thank you. Nanti saya tambah lagi
    Saya : panti nadapdap
    Dari sigapiton
    Dan saya melihat hanya 20 % dari orang batak yang dapat di katakan berperilaku baik. Selebihnya pangalakkup

  15. gorga silalahi berkata:

    @panti nadapdap
    Sok tau kau!jangan selalu berpandangan negatif terhadap simbol budaya dan ciri khas sesuatu tersebut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s