Quo Vadis Danau Toba?

Hotman Jonathan Lumbangaol*)

Danau Toba adalah adalah tujuan wisata internasional ketiga di Indonesia; setelah Bali, Yogya dan Danau Toba. Danau Toba terletak di Provinsi Sumatera Utara. Provinsi keempat terpadat populasinya setelah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah. Dengan jumlah penduduk 12.869.169 (sumber BPS). Terdiri dari 19 kabupaten, 7 kotamadya, 326 kecamatan dan 5466 desa, 43,33 % ada di kota, dan 56, 37% di desa.

Danau Toba memang indah, seperti syair Nahum Situmorang. Danau persinggungan empat sub-etnis Batak; Batak Karo, Pakpak, Simalungun,Toba dengan tujuh kabupaten. Adalah merupakan sebuah kawasan muara air raksasa yang fungsinya sangat vital bagi kehidupan di Bona Pasogit.
Namun sekarang sudah rusak. Isu kerusakan di Danau Toba sudah sejak Tahun 1932 terdengar. Tahun 1998, delegasi Amerika Serikat dibawah naungan Lake Champlain Basin mengunjungi Danau Toba. Hasil penyelidikannya, Danau Toba tercemar. Danau Toba tercemar hingga taraf kronis. Ada berbagai macam sumber, ada dari bakteri coli, ada dari tumpahan minyak dan oli yang berasal kapal ferry, ada dari limbah pembuangan detergen berupa zat kimia dari hotel. Belum lagi enceng gondok yang dikavling-kavling warga menjadi milik pribadi, membuat Danau Toba seperti gadis murung. Padahal kalau didandani Danau Toba masih sangat cantik.

Kerusakan Danau Toba berdampak, wisatawan makin merosot datang ke Danau Toba! Ada banyak asumsi, masalah insfrakstrur yang tidak mendukung (akses dari Medan ke Danau Toba sangat lambat) menjadi alasan. Bandara Silangit, Siborongborong yang semula diprediksi mempermudah akses ke Danau Toba ternyata tidak dapat disinggahi pesawat Boeing. Tetapi yang paling benar sebenarnya Danau Toba tidak indah lagi.

Melestariakan Danau Toba

Membaca tulisan Posman Sibuea, Lektor Kepala di Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Unika Santo Thomas SU Medan, di Kompas pada Selasa, 24 April 2007 berjudul “Membangun Kearifan Ekologis.” Menurutnya, perusakan hutan secara sistematis akan menetaskan sejumlah masalah global yang tidak bisa diatasi dalam waktu singkat. Sekedar menyebut contoh; kehadiran pabrik pulp di Porsea, Toba Samosir, diklaim para pejabat tinggi di Kabupaten mampu meningkatkan pendapatan asli daerah dan menciptakan lapangan kerja baru. Tetapi menurut Yayasan Perhimpunan Pencinta Danau Toba (1999) pabrik pulp ini malah membawa malapetaka.

Survei Badan Pengendalian dan Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumut, bahwa, 87 persen penduduk di sekitar Danau Toba menggunakan air danau sebagai air minum dan kegiatan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.

Maka, penambangan hutan secara ilegal di sejumlah lereng Danau Toba oleh masyarakat seperti penambangan di daerah Tele, Humbang-Hasundutan adalah keegoisan. Dampaknya, danau yang memiliki luas 1.103 kilometer persegi dan 222 sungai (besar dan kecil) sebagian mata airnya mati.
Banyak lembaga yang mau melestarikan danau terbesar di Asia Tenggara ini. Dimasa pemerintahan T. Rizal Nurdin (alm), pada tahun 2004 pernah dibentuk Lake Toba Ecosystem Management Plan (LTEMP). Dibentuk untuk memulihkan dan menjaga ekosistem Danau Toba bersama sembilan pemerintah kabupaten/kota (termasuk otorita Asahan), namun tidak banyak berbuat.

Gereja Simalungun pun pernah mencoba lewat gerakan pelestarian hutan dan lingkungan pesisir Danau Toba yang dilakukan gereja-gereja di Simalungun. Tetapi sayang, penyelamatan lingkungan oleh GKPS ini gagal total. Penghijauan di sepanjang jalan lintas Ibukota Simalungun, Pematangsiantar hingga Seribudolok tersebut. Puluhan ribu tanaman mahoni yang ditanam pada sepanjang jalur 75 Km. Persis tidak ada yang tumbuh, layu karena dirusak warga. Hingga keinginan membangun hutan doa sekitar 100 hektare dan Salib Doa di bukit Sigiring-giring Haranggaol, pada September 2003. Gagal juga. Padahal, proyek ini menelan dana Rp 100 juta itu kini terhenti karena tidak mendapat izin dari Pemerintah Pusat atau Departemen Kehutanan.

Hendak Ke Mana?

Menyadari bahwa Ekosistem Kawasan Danau Toba adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. Dan merupakan ruang mencari nafkah masyarakat di sekelilingnya. Serta sebagai salah satu kekayaan tak ternilai bagi Sumatera Utara. Tidak jelas mau dibawa kemana Danau Toba, lembaga yang ada pun linglung. Serta memiliki keterkaitan ekologis yang tidak terpisahkan dengan ekosistem kawasan sekitarnya, yang mencakup dan tidak terbatas pada ekosistem.

Danau Toba rusak dari berbagai tekanan, baik yang disebabkan oleh faktor alamiah maupun beragam aktifitas yang kurang mengindahkan prinsip-prinsip kelestarian ekosistem. Artinya, sangat penting untuk mengantisipasi kemungkinan dan atau terjadinya degradasi yang lebih besar terhadap Kawasan Danau Toba. Pelestarian Danau Toba hanya akan berhasil, jika dilakukan secara bersama-sama.
Keberhasilan melestarikan Danau Toba sangat ditentukan oleh komitmen bersama dalam tujuan bersama mengelola Danau Toba. Peletariannya harus disepakati bersama, serta dilaksanakan dengan berlandaskan prinsip-prinsip kerjasama, kemitraan dan tanggung jawab. Jangan sebagian yang membersihkan sebagian lagi mengotori.

Maka, dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, setiap tingkatan Pemerintahan, sesuai kewenangan yang dimilikinya, mempunyai tanggung jawab untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan tetap menjaga daya dukung komponen Ekosistem Kawasan Danau Toba.
Kearifan ekologi dapat disemaikan lewat proses pendidikan yang tidak semata-mata dari kaum cedikiawan saja. Namun, pelestarian Danau Toba sejatinya harus bersemayam untuk membentuk masyarakat Batak yang memiliki etika budaya yang menjaga alamanya.

Proses pelestarian itu sebagai kecerdasan ekologi. Kesadaran ini berimplikasi, berbagi dalam ranah kehidupan. Memberi ruang yang pada kepentingan umum daripada sesuka hati merusak Danau Toba demi keuntungan sesaat.
Memahami eratnya keterkaitan antara tradisi dan nilai budaya masyarakat dengan keberadaan dan pemanfaatan komponen-komponen Ekosistem Kawasan Danau Toba, maka sangat penting untuk memberdayakan kearifan, inovasi dan pengetahuan tradisional yang ada dan yang hidup di masyarakat dalam upaya pemulihan, pelestarian, serta perlindungan Ekosistem Kawasan Danau Toba.
Dibutuhkan peningkatan kerjasama lokal, regional, nasional dan internasional, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun non-pemerintah dalam upaya pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba, serta pemanfaatan komponen-komponen yang ada.

Jadi, Quo Vadis Danau Toba kita bawa? Terserah kita. Apakah sudah cukup danau ini untuk tempat kerambah saja atau menjadi objek wisata yang punya masa depan.
Maka diperlukan pengaturan-pengaturan yang bersifat khusus untuk mengakomodasi kebutuhan pemulihan, pelestarian dan perlindungan komponen-komponen Ekosistem Kawasan Danau Toba. Yang berdaya guna dan berhasil guna untuk melestarikan Danau Toba.***

*) Penulis adalah bekerja di media budaya Batak.


Bookmark and Share

Tautan :

Natal Di Taman Eden
APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DANAU TOBA ?
BEDA TASIK KENYIR DENGAN DANAU TOBA
Dermaga Selam
SELAMATKAN DANAU TOBA
APA ADA KANDUNGAN BERBAHAYA DI DANAU TOBA?
Apa Mungkin Danau Toba Menjadi Rawa Raksasa ?
Earth Society Tour Danau Toba
Kaos Viky Kering Seketika
Kutemui Batak Keren Di Samosir
oh tao toba na uli
REFLEKSI, LIMA TAHUN KABUPATEN SAMOSIR
KEARIFAN BUDAYA BATAK MENGELOLA LINGKUNGAN

Iklan

4 thoughts on “Quo Vadis Danau Toba?

  1. Gubernur Sumut Syamsul Arifin, mestinya sudah punya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). RPJMD itu amanat undang-undang, dan panduan pelaksanaan program kerja gubernur selama mas jabatannya. Harusnya pelestarian Danau Toba, masuk di RPJMD Syamsul Arifin. Sejauh mana itu sudah masuk sekarang ??

    Saya coba lihat diwebsite Pemprov Sumut, tapi saya tidak ketemu RPJMD Gubernur. Apakah belum jadi atau bagaimana. Sebab mestinya paling lama 3 bulan setelah dilantik, RPJMD harus sudah disahkan menjadi PERDA.

    kalau pelestarian danau Toba tidak masuk dalam RPJMD Gubernur, maka semakin jauhlah harapan kita untuk melihat pelestarian danau Toba. Logikanya jelas, kalau Gubernur saja tidak peduli, mana mungkin orang Jakarta (Presiden dan pembantunya) peduli.

    Tulisan tentang ini kubuat di : http://taolobutala.wordpress.com/2008/08/15/gubernur-harus-melestarikan-danau-toba/

  2. Humisar Panahatan Tua manullang berkata:

    Saya sedih memang membaca artikel ini . Karna memanglah apa hendak dikata dalam sebuah bahasa kalimat .
    Danau Toba…. mungkin ini sudah nasibnya harus begitu , karna memang keturunan batak sudah tidak ada lagi menghargai leluhur dan tidak ambil dalam hati yang bersih , bahwa nenek moyang mereka ada sejarah disini .
    Memang benar kata orang bijak , bahwa orang tidak pernah menghargai akan nenek moyang ,sejarah , dan adat , habis tidak akan tersisa . oh ya gimana bisa diperhatikan danau toba bila bukanlah asli orang bersangkutan wilayah itu menjabat gubernur sumut . Biarlah itu berjalan dan yakinlah akan pesan opung sisingamangara bahwa akan datang dirinya dalam wujud sifat tak bernilai kurang , hanya wajah yang berubah . sabarlah menantikan itu dan yakinlah itu akan tiba , walau kapan kebenaran itu akan terjawab nyata . berdoalah kiranya sepenuh hati agar Tuhan sudi mengabulkan doa kita yang tulus , dan waktu itu dipercepat .amin .

  3. Gom Tobing berkata:

    Jika ada pemilu, dan Pilkada, salah satu yang penting ditanyakan bagi para calon adalah ” APA YANG NANTINYA DILAKUKAN OLEH SANG CALON, UNTUK DANAU TOBA?” dari janji dan jawabannya, kita boleh memilihnya.
    Kapan lagi kita melakukan pemilihan cerdas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s