Sejarah Gerakan Perempuan Sumut

Limantina Sihaloho

Pada tahun 1783, William Marsden menerbitkan karnya di London berjudul: The History of Sumatera. Dalam buku ini, Marsden menceritakan dengan singkat tentang seorang perempuan di Batak di Sokum sebagai berikut:

Di bagian dalam ada sebuah tempat bernama Sokum. Di sini sebuah kehormatan yang sangat besar diberikan kepada seorang ketua perempuan atau Uti (kata yang saya rasa adalah turunan dari kata Putri) yang kekuasaannya meliputi banyak suku. Cucu lelakinya, yaitu pengeran yang sedang berkuasa, baru saja dibunuh seorang penyusup dan Uti mengumpulkan sekitar 2000 – 3000 prajurit untuk membalas dendam. Seorang agen kompeni berusaha mencegah peperangan besar ini. Namun, Uti memperingatkan jika kompeni tidak memberikan bantuan pasukan untuk membantu Uti, maka mereka tidak memiliki urusan apa-apa dalam perang ini dan harus pergi dengan pasukannya. Malam itu, si pembunuh dan sukunya ikut pergi bersama kompeni.[1]

Hanya itulah yang diceritakan oleh Marsden tentang seorang ketua perempuan di Sokum itu tetapi paling tidak dari data yang sedikit itu kita dapat mengetahui bagaimana pengaruh sang Uti yang dengan cepat dapat mengumpulkan prajurit dan mengusir kompeni.

Di Nusantara ini, bukan hal baru bagi perempuan berperan bahkan menjadi pemimpin di ruang publik. Pada tahun 1820, dalam karyanya History of the Indian Archipelago, J. Crawford menuliskan apa yang secara umum dia lihat di Sulawesi :

Di antara bangsa-bangsa Sulawesi … para perempuan muncul di muka umum tanpa skandal; mereka berperan aktif dalam semua urusan kehidupan; lelaki berkonsultasi dengan mereka mengenai semua masalah umum, dan berulang kali perempuan menduduki jabatan tinggi, dan juga ketika pemilihan kerajaan … Mereka yang mempunyai kewenangan duduk di dewan ketika masalah negara sedang dibahas.[2]

Sebelum Kekristenan masuk di Tanah Simalungun, penduduk di sini menganut agama yang disebut Habonaron. Pameluknya disebut sebagai Parhabonaron. Habonaron secara harafiah berarti kebenaran sedangkan Parhabonaron berarti orang yang menganut kebenaran. Sebagaimana dikisahkan oleh salah seorang keturunan raja di Simalungun yang sekarang masih hidup dan ketika kecil biasa mengikuti ritual para Parhabonaron, perempuanlah yang memimpin ritual dalam agama ini. Sewaktu-waktu, seorang perempuan dipanggil ke rumah bolon (rumah keluarga raja), biasanya pada malam hari. Ada makanan-makanan khusus yang perlu disiapkan di rumah raja untuk keperluan ritual. Djariaman Damanik antara lain menggambarkan:

Bila oleh ibu dukun dianggap segalanya sudah selesai, maka kepada setiap orang yang hadir, biasanya orang tua laki-laki dan anak laki-laki diberi kesempatan untuk berkonsultasi kepada “sang” dukun mengenai ramalan nasib masa datang, hal perkawinan, kesehatan dan lain-lain, dan akan dijawab oleh sang dukun tersebut yang pada saat itu seolah-olah masih “in trance” (dalam kondisi antara dunia profan atau dunia luar atau transendental). Setelah usai kaum laki-laki berkomunikasi dengan mediator maka barulah diberi kesempatan kepada pihak ibu dan anak-anak perempuan untuk bertanya.[3]

Agama Kristen termasuk juga Islam yang masuk di Nusantara memperlemah posisi perempuan termasuk di lingkup keagamaan. Laki-laki masih dominan dalam kedua agama ini sampai sekarang.

Kalau kita mendengar kata dukun saat ini, maka kita cenderung berpikir negatif tentang profesi itu. Kata-kata yang kita lekatkan pada sebuah profesi termasuk dalam hal ini profesi seorang perempuan yang memimpin ritual keagamaan kepada siapa para anggota keluarga raja biasa berkonsultasi sebagai dukun bisa menjadi sebuah proses pembunuhan karakter. Para misioaris Kristen juga secara aktif turut melakukan pembunuhan karakter tersebut tidak hanya di Indonesia tetapi juga merata di Asia . Tradisi yang sudah ada di tingkat lokal dianggap kafir oleh para misionaris yang pada umumnya datang dari Eropah. Penduduk pribumi diarahkan untuk meninggalkan kekafiran mereka apalagi kalau sudah menjadi Kristen.

Pada bulan Juni 2008 saya mengunjungi sebuah keluarga suku Simalungun. Si bapak ketika masih kanak-kanak hingga remaja menganut Habonaron. Si istri juga tetapi nampaknya tidak begitu mendalami. Kalau kami bicara tentang agama orang-orang Simalungun sebelum masuk Kristen, entah bagaimana, si istri secara otomatis langsung menyebut orang-orang yang belum memeluk agama Kristen atau Islam itu sebagai Parsipelebegu dengan nada dan gerak-tubuh yang tidak bersahabat. Setelah berulang kali si istri mengalamatkan para penganut Parhabonaron itu sebagai Sipelebegu, si suami dengan sabar meluruskan apa yang dikatakan oleh istrinya, “Mereka bukan Sipelebegu tapi Parhabonaron.” Terutama di telinga orang-orang zaman sekarang, kata sipelebegu itu sendiri sangat bernada dan berarti negatif.

Di Sidikalang bulan Agustus 2008 yang lalu, saya mendapat informasi dari Ramida Sinaga, staf Perkumpulan Sada Ahmo (Pesada) tentang seorang ibu bernama Mamat Munthe. Ibu ini terkenal sebagai seorang yang piawai dalam masalah-masalah adat. Ia piawai berbicara dalam pesta-pesta adat di daerahnya layaknya para raja-parhata di pesta-pesta adat Batak pada umumnya. Memang perlu perjuangan dan kesabaran di tahap awal karena dia perempuan, dianggap kurang layak menjadi parhata dalam acara-acara adat.

Tidak benar bahwa seorang perempuan tidak bisa menjadi parhata dalam acara-acara adat masyarakat Batak layaknya laki-laki. Mamat Munthe membuktikan bahwa masyarakat di sekitarnya dapat menerimanya sebagai parhata. Tentu, melalui contoh yang ada di Dairi ini, masyarakat Batak pada umumnya terutama laki-laki perlu memberi ruang bagi perempuan untuk menjadi parhata, tidak hanya berbicara ketika memberikan ulos dalam acara-acara adat.

—————————————————-
[1] Lihat dalam: William Marsden, Sejarah Sumatra, Komunitas Bambu, Jakarta , Juni 2008, hlm. 343. Komunitas Bambu menerjemahkan edisi bahasa Inggris The History of Sumatra edisi 1966.
[2] Cora Vreede-De Stuers, Sejarah Perempuan Indonesia , Komunitas Bambu, Jakarta , April 2008.
[3] Bintan R. Saragih & Darwan Madja Purba (editor), 80 Tahun Djariaman Damanik, SH, PT Sardo Sarana Media, Medan , 2000.


Bookmark and Share

Tulisan Limantina Lainnya :
– Adat dan Kepentingan Ekonomi ….
Gereja di Sumut mau ke mana?
Untung Atau Bungtung ?
Catatan Buat Pengagum Nommensen

Tautan Perempuan Batak :

Lidya Semakin Cinta
Bila Boru batak Marhasapi
Perempuan Batak Memecahkan Kebisuan
Apa Pesan Siboru Tumbaga
Menjamin Hak Perempuan Batak Setelah Menikah
Pesona Boru Batak

Iklan

One thought on “Sejarah Gerakan Perempuan Sumut

  1. Rencana yang patut didukung. Semoga rencana ito dapat mengungkap kerja mulia para perempuan di Sumut dapat terangkat ke permukaan dan mendapatkan appresiasi yang layak.

    Usaha yang sangat mulia. Semoga Tuhan memberkati.

    Horas,

    Petrus Sitohang
    (pengangum wanita Batak )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s