UPAYA MELESTARIKAN NILAI HABATAHON

Monang Naipospos

Barangkali kini saatnya Pemerintah Daerah Kabupaten Toba Samosir terpikir saat menyadari, tidak memiliki event budaya dalam perayaan penting di daerah ini. Di Kabupaten Karo ada Pesta Bunga, Kabupaten Simalungun ada Pesta Rondang Bintang yang digelar dalam kebiasan budaya setempat.

Dalam perayaan 17 Agustus lalu memang dicoba melakukan perayaan Asean Taon, yang dulunya dilakukan masyarakat saat usai panen raya. Asean taon sebenarnya memiliki pengertian “pergantian tahun kerja”. Setelah selesai panen, akan dilanjutkan kembali dengan bekerja awal, dari mengolah aliran air dan mengolah tanah. Pada asean taon ini dilakukan syukuran kepada Maha Pencipta dengan istilah “Matumona”. Kegiatan ini dilarang oleh gereja Kristen, dengan pengalihan kegiatan ini ke gereja yang disebut dengan istilah baru “Pesta Gotilon”.

Dalam pemunculan ulang acara Asean taon ini kelihatan Pemkab Tobasa kebingungan memilih event yang sesuai karena kebanyakan yang menamakan dirinya tokok adat tidak memiliki lagi akses kepada kegiatan ini yang sebenarnya.

Pada pertemuan tokoh masyarakat dan camat se tobasa 16 September 2008 lalu, Resman Sirait Plt, Kadis Pariwisata Seni Budaya Tobasa mengutarakan hilangnya peran tokon dalam masyarakat. Banyak hal penting yang seharusnya diperankan tokoh masyarakat, seperti sumber informasi budaya batak, conflict resolution, dan penegakan nilai budaya dalam adat istiadat masyarakat.

Keresahan ini juga diutarakan P. Manullang tokoh masyarakat dari Narumonda. Dikatakan bahwa di rantau, adat istiadat itu dimaknai, namun setelah kembali ke Toba, dia menyaksikan bahwa pelaksanaan adat itu sudah kehilangan makna, hanya sekedar seremonial saja. Beliau juga mengatakan bahwa suku batak adalah salah satu suku yang tak disukai suku-suku lain di Indonesia. Akan tetapi bila batak memaknai nilai habatahon itu dengan baik kemungkinan akan dicintai suku lain.

Para tokoh kelihatan kebingungan dari mana akan dimulai. Kehilangan nilai habatahon itu sudah sejak lama berlangsung. Sintua J. Manurung dari Lumbanjulu mengatakan Agama Kristen berperan besar menghilangkan budaya batak. Ditambah lagi dengan kemajuan jaman yang mendorong masyarakat ke peradaban yang menjauhkan diri dari budayanya. Faktor selanjutnya menurut Manurung adalah karena mengandalkan “bolon ni partubu” (keluarga besar) yang kuat dengan sesukanya merobah tatanan adat istiadat. Akhirnya muncul kesepakatan “dos ni roha” suhar petaho diulahon ma, walau menyimpang sama-sama melakukan.

Untuk kembali menata kebudayaan batak, menurut B. Manurung dari Uluan, perlu ada sanggar dan pembinanya pada setiap desa. Hentikanlah hujatan kepada kebudayaan batak yang sebenarnya bernilai luhur itu.
Pemahaman budaya yang tidak mendasar sering menjadikan konflik dan sering juga terlihat dalam pelaksanaan adat. Perbedaan tidak lagi dihargai dan cenderung memaksakan kehendak. Fakta ini sering terjadi pada saat pelaksanaan adat perkawinan. Pihak parboru sering memaksakan kehendaknya di komunitas adat paranak. Pemahaman “naniambangan” menjadi alasan memaksakan perubahan adat di pihak “paranak”. “Pelaksanaan adat tidak dapat disamakan”, demikian ditegaskan Pahala Napitupulu tokoh masyarakat Balige. Marsolup di hundulan harus dipertahankan. Kita harus menghargai hukum dimana kita berada. Hal ini didukung oleh Musa Gurning tokoh masyarakat dari Siraituruk

Menurut Ompu Mandahar Sirait, kekurangan sering terjadi pada orang yang menamakan dirinya tokoh adat. Tokoh masyarakat Lumbanjulu yang memiliki nama panggilan populer Pangaliun ini, melihat penyimpangan dalam tatanan kemasyarakatan dan pelaksanaan adat, tapi “natunggane” tidak mau lagi melakukan tegoran. Tergerusnya gondang batak tidak lepas dari terseretnya orang tua dalam kegirangan musik barat itu dalam pesta adat. “Natua-tua” sudah minta gondang pocco-pocco yang bila dimaknai, dorong ke kiri dorong ke kanan. Ini sangat jauh menyimpang dari nilai moral dan etika tortor batak. Bila hal ini terus terjadi, kita akan kewalahan memberikan hal yang bernilai luhur kepada generesi muda kita.

Penguatan Kelembagaan Adat

T. M Hutagaol memberikan contoh peran masyarakat Minangkabau dalam pembangunan. Lembaga Masyarakat sangat kuat dan diakui oleh pemerintah. Di Taput dulu sudah ada Lembaga Adat Dalihan Natolu, setelah Tobasa memisahkan diri, pemerintah daerah kurang menghargai peran lembaga itu. Sampai saat ini tidak ada Perda di Tobasa yang menaungi kelembagaan adat dan budaya.

Keadaan ini menurut D. A Manurung dari Uluan para tokoh masyarakat dan adat sering disepelekan Kepala Desa. Sangat baik bila ada perda yang mendukung. Namun, menurut R. B. Marpaung, tahun 1950 – 1960 belum ada Lembaga Adat, tapi “panungganei” pengetua masyarakat sangat berperan mendamaikan perselisihan antar masyarakat. Persoalan bisa selesai tanpa harus ke kantor polisi. Apa dengan adanya perda pemerintah dapat memberdayakan para tokoh? Mungkinkah persoalan yang didamaikan masyarakat tidak lagi dikutak-katik kepolisian?

Arah kepada penguatan kelembagaan masyarakat adat semakin mengkristal. Perda wajib hukumnya untu menaungi kelembagaan ini. Kelembagaan tidak bersifat sentralistis tetapi ada “Forum” di kabupaten sebagai wadah kelembagaan di desa dan kecamatan yang terbentuk menurut karakter wilayahnya. A. M Sitorus Camat Narumonda menyatakan memulai dengan pertemuan tokoh di Kecamatan. Camat yang pernah bertugas di Bidang Hukum Pemkab Tobasa ini mengatakan pada tahun 1999 sudah pernah diajukan Ran-Perda tentang lembaga Adat ini ke DPRD namun tidak terealisasi.

Iklan

5 thoughts on “UPAYA MELESTARIKAN NILAI HABATAHON

  1. jonson siahaan berkata:

    Hora ma di hita sude.

    Saya sebagai seorang orang batak memang sangat merasakan sudah semakin lunturnya paradaton sian kehidupan orang batak yang terutama sifat dan kepribadian ni halak batak yang terkenal dengan: dalihan natolu. Tetapi semuanya ini tidak terlepas dari ketidak perdulian dari semua nagka natua-tua, molo taringot tu partording ni angka ruhut-ruhut di ulaon pesta adat dohot angka parjambaron itu bisa sian dos ni roha, alai molo taringot tu pangalaho dang masa dos ni roha. jadi gabe bangso namaradat ma hita unang gabe naso maradat.
    Alana boasa hudok songon i, nunga masa be hagaoron, parsalisian, di tonga-tonga ni halak batak tarlumobi di Toba an holan ala ni politik on. Mari kita menjalin persaudaraan marhite-hite dalihan natolu, mauliate.

    reposting2008/10/03

  2. Horas ma….
    menarik membaca artikel ini. saya ditantang untuk merumuskan ulang nilai habatahon dengan maksud supaya nilai tersebut sungguh tetap konkret dan dibutuhkan oleh manusia Batak Postmodernisme sekarang. Nilai habatakon harus memuncak pada theoanthropokosmik (sang Kudus, Manusia dan kosmos secara sekaligus). Oleh karena itu, pertanyaan mendasar: manakah dasar sesuatu sehingga disebut sebagai nilai dalam budaya Batak. apakah yang dimaksud nilai dalam habatakon. Kita harus mencoba merumuskannya. Horas…. Mauliate.

  3. Bonar Siahaan berkata:

    Hubaen jolosaotik taringot tu HABATAHON.

    1. MARDEBATA.
    Ima Debata Mula-jadi Nabolon sitompa nasa na-adong jala sigomgom nasa parluhutan

    2. MARPATIK
    a. PATIK NI PARSAORAN DOHOT PARTUTURON
    “Sungkun mula uhum,sise mula hata”
    b. PATIK NI PARSAHUTAON.
    “Dang-jadi pamasuhon anak ni aili paluaon anak ni babi”
    c. PATIK NI PARMUSUON.
    “Dang jadi bunuon na somarpipot, jala dang jadi rambasan biur ni eme”.
    d. PATIK NI TEAN-TEANAN.
    “dang jadi pupusan arta ni na dihaporusan,jala dang jadi pasudaon arta ni natading maetek manang na mabalu”.
    e. PATIK NI PAR-JAMBARAN DOHOT TEAN-TEANAN.
    “Dang siseaton guru ni juhut,jala dang sidohonon guru ni hata”
    f. PATIK NI PAR-MUSUON.
    “Sampak aek asa masibodilan,gotil lanok asa ma-sibajoan”.
    g. PATIK NI ONAN.
    “Onan parsimburan,tiga-bolit parsaoran”.
    h. PATIK NI PARPINAHANON DOHOT PARTONAAN.
    “Paung mangirik-irik nasojadi pautangon,tomu manomu-nomu nasojadi bajoon”.
    i. PATIK NI PARUGASANON.
    “Pangumpolan dang tarbahen ripe-ripe,ripe-ripe dang tarbahen pangumpolan,ugasan lume dang jadi doboon”
    j. PATIK NI PARSARIPEON.
    “Niduda rimbang angkup ni si margala-gala,dang sala na marimbang asal masiula di ibana”.
    k. “Rang-rang abor dangjadi suruhon,jempek handang dangjadi langkaan jala ganjang pe ruas dangjadi langkaan simanjujung.

    Panimpulina
    “Dangjadi pajolo gogo papudi uhum”

    3. UHUM TU NAMANGALAOSI PATIK.

    a. “Mar-indahan sinaor”
    b. “Marsomba sondukna marsomba sangkalanna”
    c. “Didurui”.
    d. “Dipabali tu balian ni huta tu duru ni patula”
    e. “Dibuhar sian luat i, jala dangjadi adong masitopotan tu nabinuhar i”.

    4. MARTUTUR
    “MAR-HULAHULA,MARBORU,MARDONGANTUBU DOHOT MARPARIBAN”

    5. MARHARAJAON DOHOT PATIKNA,
    A, RAJA HUTA,RAJA BIUS DOHOT RAJA HURIA.
    B. Patik ni harajaon;
    a. Dang jadi allangon indahan ni pinarorotna.
    b. Dangjadi allangon indahan ni beguc. Dangjadi allangon sian toru ni rere.
    c. Dangjadi pa-hait pa-tudahon

    6. MARSURAT.
    Ima surat batak (aksara batak)

    PANIMPULI.

    ADAT PI-NARADAT UHUM PI-NARUHUM,ASA HOT SONGON PULO TINGKOS SONGON PARSIHODOAN, GABE MARBANGGUA SONGON RURA MARJUNJUNGAN SONGON DOLOK

    HORAS TONDI MADINGIN PIR TONDI MATOGU.

  4. Baginda na70 berkata:

    Yang pasti untuk melestarikan Nilai2 habatahon harus ada wadahnya. harus ada juga orang2nya….dan selanjutnya lae monang lah yang lebih tau.

  5. Bonar Siahaan berkata:

    @ Lae Baginda na70

    Sebenarnya untuk melestarikan nilai habatahon telah ada di dirikan “LEMBAGA BUDAYA DAN ADAT BATAK BONAPINASA” sebagai pendiri termasuk lae Monang dan beberapa orang lainnya termasuk saya sendiri.
    Thn 2005 terpilih bpk B.Marpaung sebagai Ketua Umum dan saya sebagai Sekretaris Jenderal serta dibantu oleh beberapa ketua.
    Akibat dari minimnya dana (hanya didanai kami sendiri) Lembaga ini kurang dapat bergerak untuk menggali,meneliti serta melestarikan nilai habatahon itu sendiri.
    Pinangido anggiat di tangianghon angka dongan Lembaga i asa bolas marbungaran habatahonta.

    Mauliate.Horas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s