Cucu “Panggoaran”

Suhunan Situmorang

MESKI petang kian merapat, Nai Posma masih lelap di pondok humanya; tak lagi giat mengusir burung-burung kecil berwarna coklat yang terus berdatangan untuk menyantapi padinya. Sebagaimana padi yang terhampar di seluruh wilayah Janji Matogu, padi milik Nai Posma pun sudah mulai bunting dan menguning.

Ia amat kaget ketika tiba-tiba dibangunkan Amani Posma. Setengah sadar ia bertanya, gerangan apa kiranya yang penting hingga ayah anak-anaknya itu menemuinya ke pondok reot yang teronggok di tengah sawah mereka. Dengan nada riang dan raut muka berbinar-binar, Amani Posma berkata bahwa putra sulung mereka, Padot, baru saja menelepon, memberitahukan kelahiran anak lelakinya. Kegembiraan Nai Posma langsung membuncah dan tanpa menunggu waktu meminta suaminya kembali menghubungi Padot melalui telepon selulernya.

Suaranya terdengar lantang dan beberapa kali mengulang perkataannya karena koneksi telepon mereka tak begitu bersih. “Tak terkira lagi gembira hatiku ini, Amang. Seandainya bisa terbang, saat ini juga aku terbang ke Jakarta untuk melihat cucuku itu.” Entah apa yang dikatakan Padot, Nai Posma tampak manggut-manggut sembari tersenyum. “Olo, Amang, olo,” ucapnya sambil mengangguk, “Sampaikanlah salamku kepada mertuamu, ya.”

Perasaan Nai Posma bergelora laksana ombak samudera. Keutuhan dirinya sebagai natua-tua, seolah sudah terpenuhi setelah menunggu begitu lama. Cucu dari anak lelakinya yang pertama, akhirnya ada. Selama ini, ia dan suaminya acap merasa ada yang kurang dalam diri mereka lantaran belum memiliki nama panggoaran yang diambil dari nama cucu keturunan anak lelaki sulung mereka. Walau ketiga putrinya (kakak dan adik-adik Padot) sudah memberi mereka tujuh cucu, rasanya masih timpang dan karenanya mereka lebih senang dipanggil “Nai Posma” dan “Amani Posma” ketimbang “Ompung ni si Togi,” nama anak sulung Posma.

Usai menelepon Padot, Nai Posma langsung meminta suaminya mengirim SMS ke semua anaknya yang bermukim di perantauan; Posma di Cilegon, Tiodor di Kerinci, Astina di Sei Rampah, juga Manginar di Medan. Langsung pula diajaknya Amani Posma pulang ke huta, ingin segera menyampaikan berita gembira tersebut pada segenap tetangga dan kerabat mereka. Rasanya ia amat ingin bila semua orang yang dikenal dan mengenal mereka di Janji Matogu, Sibuntuon, Sihubak-hubak, Sirait Uruk, Porsea kota, tahu kelahiran cucu panggoaran-nya. Langkahnya tergesa ketika menelusuri pematang-pematang sawah hingga meninggalkan suaminya jauh di belakang.

Seperti dugaannya, para tetangga dan kerabatnya begitu antusias mendengar kabar lahirnya sang cucu; semakin melonjakkan gembira hatinya. Saat bertutur, dua tiga tetes air bening dari matanya sempat membasahi wajahnya yang cekung dan legam karena sering dibakar sinar matahari.
“Bah … tuani ma, Eda,” kata Ompu Netty boru Siagian sambil menyalami Nai Posma.
Amang tutu …, akhirnya doamu dikabulkan Tuhan,” ujar Ompu Elprida boru Naipospos, yang tergopoh-gopoh muncul dari rumahnya setelah mendengar keriuhan di halaman huta.
“Laki-laki atau perempuan, Inanguda?” tanya Amani Binsar Manurung.
“Laki-laki, Amang,” sahut Nai Posma bersemangat.
“Bah, persis seperti kata pepatah. Hatop adong nadiaduna, lambat adong nadipaima. Tak sia-sialah kalian menunggu, langsung dapat cucu panggoaran laki-laki.”
Nai Posma tersenyum bangga, raut mukanya berbinar-binar.
“Jadi, kapanlah Namboru berangkat ke Jakarta?” tanya Nai Luhut boru Sitorus yang datang bergabung seraya membetulkan letak sarungnya.
“Kalau bisa, secepatnyalah, Inang. Sudah tak sabar lagi aku menggendong cucuku itu, tapi panen padi kita masih sekitar sebulan lagi…”
Nai Luhut dan yang lain manggut-manggut.
“Kasihan pula amangboru-mu,” lanjut Nai Posma, “pastilah kesusahan bila kutinggal sebelum panen selesai, walau ada si Sabam menemaninya.”
“Siapa nama anaknya ito Padot itu, Inangtua?” tanya Donda boru Manurung yang baru datang dari sawah.
“Belum ada, eh … belum tahulah, Inang. Siapa tahu sudah mereka siapkan. Tapi memang sudah kusiapkan nama cucuku itu. Beberapa bulan lalu aku mimpi ada orangtua menemuiku, tak kukenal siapa dia. Katanya, cucuku itu laki-laki, eh … ternyata benar.”
“Baaa …”
“Jadi, siapalah nama cucumu yang sudah kau siapkan itu, Inang?” tanya Nai Sangap boru Panjaitan mengulang pertanyaan Donda.
“Si Pangihutan, Inang. Supaya mangihut hal-hal yang baik. Tapi nama tersebut belum pernah kuberitahu pada siapa pun, termasuk simatua-mu.”
Nai Sangap dan orang-orang yang mengitari Nai Posma manggut-manggut.
“Kalau begitu, mulai sekarang, Inangtua sudah bisa kami panggil Ompu Pangihutan, ya,” kata Donda.

Nai Posma tersenyum sambil manggut-manggut.
Untuk merayakan gembira hatinya, diajaknya tetangga dan kerabatnya itu melanjutkan perbincangan di rumahnya. Ia gelar tikarnya yang besar di ruang tengah rumahnya yang berlantai semen. Dua ekor ayam peliharaannya yang baru kembali ke kandang ia perintahkan agar disembelih Sabam, sementara Donda dan Nai Luhut dimintanya mengulek bumbu serta memasak nasi.

Saat berbincang menunggu matangnya makanan untuk disantap bersama, Nai Posma mengingatkan suaminya agar menemui sintua untuk memberi ucapan syukur kepada gereja. Jemari tangannya begitu ringan saat mengeluarkan lembaran-lembaran Rp 10.000. dan Rp 20.000. lusuh dari dompet plastiknya, padahal biasanya ia selalu merasa berat setiap kali mengeluarkan kertas yang amat berharga itu, karena harus susah-payah ia kumpulkan. “Biarlah uangku yang tak banyak ini kuserahkan kepada gereja sebagai tanda terimakasihku pada Tuhan,” ujarnya seraya menyodorkan uang berjumlah Rp 250.000. itu ke tangan Amani Posma.

***

SATU setengah bulan kemudian, usai memanen padi dan menjual sebagian beras hasil sawahnya di pasar Balige, Nai Posma berangkat menuju Jakarta. Sengaja ia naik bus meski uangnya cukup untuk membeli tiket pesawat dari Medan karena bermaksud mampir dulu di Kerinci untuk mengunjungi Tiodor. Putri keduanya itu, persis di bawah Padot, guru SMP di sana. Suaminya, Manahar Simanullang, bekerja di sebuah perkebunan sawit. Dari Kerinci Nai Posma akan meneruskan perjalanan ke Cilegon untuk mengunjungi Posma. Putri sulungnya itu bersama suaminya, Haposan Hutagalung, membuka usaha tambal ban sekaligus menjual bensin dan solar galon, oli, minyak rem, di tepi jalan raya Cilegon.

“Sudah kuesemes ke menantu dan boru kita memberitahukan keberangkatanmu siang ini,” kata Amani Posma kepada Nai Posma di sebuah kedai kopi merangkap stasiun bus ALS, persis di tepi jalan raya Porsea. Diingatkannya lagi Nai Posma agar tak lupa mengenali barang-barangnya yang sudah diberi Sabam tanda-tanda khusus berupa tulisan spidol agar tak tertukar dengan barang milik penumpang lain. Barang bawaan Nai Posma lumayan banyak. Sebuah koper biru tua berisi pakaiannya, tiga karung beras hasil sawahnya, dan sebuah tas besar yang saudah lusuh berisi delapan potong sarung Balige, empat kilogram ikan asin, enam bungkus tipa-tipa, dan dua kilogram andaliman. (Selama ini, melalui SMS, kedua putrinya sering mengaku mengidamkan ikan asin goreng jenis sangge atau kepala batu dengan sambal berbumbu andaliman. Posma bahkan mengaku sudah amat rindu mengunyah tipa-tipa yang dulu sering ia bikin bersama kawan-kawannya seusai panen).

Tak lupa Nai Posma membawa sehelai ulos mangiring yang ia beli saat menjual berasnya ke pasar Balige, khusus untuk cucunya yang baru lahir; ulos yang memiliki makna, kiranya dengan lahirnya Pangihutan, akan disertai hadirnya lagi adik-adiknya, perempuan maupun lelaki. Ia tak terlalu memasalahkan lelahnya perjalanan dengan bus melintasi wilayah Sumatera Utara, Riau, dan dari sana melanjutkan perjalanan menembus hutan Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, lalu menyeberangi Selat Sunda sebelum tiba di Cilegon. Perjalanan yang membutuhkan waktu berhari-hari dan pasti menjemukan itu seperti terhapuskan suka-cita yang terus bergelinjang di dadanya.

***

NAI POSMA hanya tiga hari di Kerinci, walau Tiodor dan suaminya terus berusaha menahan agar tak buru-buru ia pergi.
“Dua hari lagi pun Omak di sini,” bujuk putri keduanya itu di depan kedai Salero Bundo, stasiun bus P.O Andalas. “Kami kan tak selalu mudah bertemu dengan Omak.”
“Kan sudah kubilang, Inang, sepulang dari Jakarta, aku masih mampir ke Sei Rampah melihat adikmu. Kasihan bapakmu kalau terlalu lama kutinggalkan.” Meski Tiodor merajuk, Nai Posma tetap bertahan. “Sudahlah, Inang” ujarnya seraya mengelus rambut Tiodor, “aku sudah senang melihat kalian semua sehat, terutama cucuku yang dua itu. Doakan saja supaya Tuhan memambahkan rejeki bagi kalian supaya bisa pulang ke Toba tahun baru nanti, atau Omak dan bapakmu bisa mengunjungi kalian ke Kerinci ini.”
Wajah Tiodor cemberut, “Kayaknya memang hanya ito Padot yang penting bagi Omak,” gerutunya sambil menyibak-nyibakkan rambutnya yang panjang. “Kami bukan tak gembira atas kelahiran paramaan kami, tapi dari dulu Omak memang…”
“Eh, jangan bilang begitu, Inang. Semua kalian anak-menantu dan cucuku sama berharganya bagi diriku.”

Dalam perjalanan menuju Cilgeon, pernyataan Tiodor yang disangkal Nai Posma itu terngiang kembali. Di benaknya ia akui bahwa sejak kecil memang selalu mengistimewakan Padot dan sering berbuat tak adil pada anak-anaknya yang lain. Barangkali karena Padot anak lelakinya yang sulung, yang entah kenapa bagi umumnya perempuan Batak seperti dirinya, senantiasa menempatkan anak lelaki sulung dan bungsu di sudut hati tersendiri.
Dulu, kendati uangnya tak banyak, ia akan berusaha mengabulkan permintaan Padot, terutama saat meneruskan SMA-nya di Medan dan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Parahyangan, Bandung. Sementara Posma, walau terbilang cerdas, tak sempat kuliah karena alasan biaya. Tiodor pun hanya ia bolehkan mengambil D3 di IKIP Medan, sementara Astina hanya boleh sekolah perawat dua tahun di Pematang Siantar. Anak lelakinya Manginar yang dulu ngotot kuliah di Surabaya karena diterima di Institut Teknologi Surabaya, hanya ia bolehkan kuliah di Medan, itupun harus menumpang di rumah namboru-nya agar lebih ringan biayanya. Sementara si bungsu Sabam harus menganggur dan tinggal di kampung setamat SMA karena tak masuk di universitas negeri.

Nai Posma memang begitu bangga pada Padot. Selain terbilang anak pintar yang pendiam, tampang dan fisiknya agak beda dari saudara-saudara dan teman sebayanya. Sejak murid SMA, ia sudah disukai gadis-gadis, walau akhirnya Gerda, adik kelasnya di Universitas Parahyangan, penakluknya.
Tetapi, yang tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun termasuk pada suaminya, sesungguhnya ia tak menghendaki menantu setipe Gerda untuk putra kebanggaannya itu. Menurutnya, boru Batak kelahiran Malang itu masih kurang cantik untuk ukuran Padot; pun punya sejumlah kekurangan karena sama sekali tak paham Bahasa Batak dan tak begitu kental menerapkan tata-krama dan paradaton Batak. Tujuh tahun lalu, ketika Padot memutuskan menikahi Gerda, Nai Posma memang tak terang-terangan mengajukan keberatan. Padahal, saat itu, ia amat berharap Padot tak buru-buru menikah agar sempat membantu biaya sekolah adik-adiknya, dan perempuan yang akan diperistrinya, setidaknya memenuhi kriteria yang sudah terpatri di benaknya-sebagaimana umumnya kemauan ibu-ibu Batak pedesaan. Meski hatinya berat, pernikahan anak lelaki sulungnya itu ia setujui dengan jumlah sinamot yang membuat mulutnya sempat menganga-walau seluruhnya ditanggung Padot.

Sejak berumahtangga, Padot dan menantunya baru sekali pulang ke Janji Matogu, itupun hanya dua hari dan Nai Posma amat tak puas karena menurutnya, sikap Gerda tak ada bedanya dengan boru sileban. Mungkin karena saat itu Gerda lebih banyak diam dan lebih senang berduaan dengan Padot di kamar-bisa jadi karena tak paham Bahasa Batak. Tetapi Nai Posma selalu berusaha keras untuk menutupi kekurangan Padot dan menantunya. Bila Posma, Tiodor, Astina, atau Manginar, menggunjingkan ketakramahan dan ketidakpedulian Gerda pada mereka (via SMS atau telepon), jangan diharap akan ditanggapi Nai Posma.
Baginya, Padot dan Gerda seperti tak punya kekurangan, kendati sebenarnya diam-diam sering ia telan sejumlah kekecewaan. Demi menjaga perasaan Padot pula maka ia kubur perbuatan yang semestinya dilakukan seorang parumaen terhadap simatua-nya. Dan, selama tujuh tahun ini ia turut dicengkeram kecemasan seraya terus berdoa supaya Tuhan berbaik hati mengaruniai Padot dan Gerda keturunan; terlepas dari kepentingan mereka yang membutuhkan sebuah nama cucu untuk dijadikan pangggoaran.

***

TIGA minggu lewat dua hari sudah Nai Posma di Celegon. Ia kian gelisah dan sering mengeluhkan panasnya udara dan bisingnya jalan raya. Acap ia uring-uringan karena katanya tak bisa tidur nyenyak dan kehilangan nafsu makan, selain memikirkan keadaan Amani Posma di kampung yang kurang sehat.
Posma dan suaminya merasa tak enak hati, apalagi hunian mereka amat sempit dan bersahaja, rumah petak setengah beton merangkap tempat usaha, persis di sisi jalan raya yang lalu lintasnya padat dan berdebu. Tapi, bisa jadi penyebab utama yang membuat Nai Posma kerap mengeluh dan uring-uringan, karena belum juga bisa bersitatap dengan Padot dan cucu yang amat ingin digendongnya.

Padot masih di Balikpapan mengaudit perusahaan klien kantornya. Pada hari Nai Posma tiba di Cilegon, Padot baru pulang dari Surabaya untuk melakukan tugas yang sama di perusahaan lain. Esoknya langsung berangkat ke Semarang dan sesudah empat hari di sana terbang lagi ke Balikpapan. Sebagai akuntan, ia begitu sibuk. Gerda sendiri masih cuti dan sejak melahirkan bayinya memilih tinggal di rumah orangtuanya di Bukit Sentul, Bogor. Alasannya, supaya ada yang mengurus keperluannya dan bayinya. Apartemen mereka di Taman Rasuna sesekali saja ditengok Padot, biasanya sepulang kerja dari kantornya di gedung Menara Imperium.

Hampir tiap hari Nai Posma menyuruh putri atau menantunya menelepon atau meng-SMS Padot, menanyakan kapan menjemput dirinya ke Cilegon, selain mengungkapkan perasaannya yang tak sabar lagi melihat cucunya. Nai Posma bahkan sudah beberapa kali berkata akan ke Bukit Sentul untuk melihat cucunya, namun Padot tetap mengatakan tak usah karena selain jaraknya cukup jauh dari Cilegon, terasa kurang afdol bila ia tak di sana. Dalam setiap percakapan mereka atau via SMS, Nai Posma tak lupa mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan sebuah nama dan membawa ulos mangiring untuk cucunya, juga oleh-oleh sekarung beras hasil sawah mereka dan dua bungkus tipa-tipa.
Tapi, herannya, manakala bertelepon dengan Padot, Nai Posma akan menutupi kekecewaan dan kekesalan hatinya karena belum juga dijemput. Semua keluhannya seolah raib ditelan bumi, termasuk kekecewaannya pada Gerda yang belum pernah berinisiatif menelepon dirinya sejak tiba di Cilegon.

Diam-diam, Posma (dan suaminya) sudah kesal, apalagi merasa tak enak karena mereka seperti ditempatkan penampung kekecewaan dan keluhan Nai Posma belaka. Akibatnya, terkadang Posma begitu mudah membentak anak-anaknya karena menurutnya ribut hingga ompung tak bisa tidur. Mungkin perasaan Posma bertambah sensitif lantaran kondisi keuangan rumahtangganya yang tak mampu memiliki mobil sederhana sekalipun untuk membawa ibunya ke Bukit Sentul atau berekreasi ke Ancol, Monas, dan Taman Mini. Tapi, dengan keterbatasannya, ia ingin menyenangkan hati Nai Posma, bahkan sudah siap menyewa angkot untuk membawa mereka ke Bukit Sentul. Padotlah yang tak setuju, karena katanya akan segera datang menjemput mereka ke Cilegon.

Sore itu, Padot menelepon Nai Posma. Bicaranya agak tergesa. Katanya, ia baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Balikpapan karena jantung mertua lelakinya tiba-tiba mengalami penyumbatan dan atas anjuran dokter harus segera dioperasi di Singapura. Ia bergabung dengan Gerda bersama kedua mertuanya di bandara dan tengah menunggu penerbangan ke Singapura. Lebih lanjut ia katakan, mungkin sekitar seminggu di Singapura supaya ada yang menemani mertuanya karena kondisi Gerda masih lemah sebab baru tiga bulan partus hingga belum bisa diharapkan bergerak cepat manakala diperlukan.
Baaa..,” tanggap Nai Posma agak terkejut namun nadanya amat jelas menyisipkan kekecewaan. “Mudah-mudahanlah operasi mertuamu berlangsung baik. Sampaikanlah salamku kepada mereka.”
“Iya, Omak. Tolong doakan mertuaku dan penjalanan kami ke Singapura.”
“Kudoakan pun, Amang. Tapi, aku mau bilang sekarang bahwa dua hari lagi aku akan pulang. Kasihan bapakmu, walau hatiku tak puas karena belum melihat cucuku itu.”
“Pulang?” sela Padot keheranan, “Maksud Omak, pulang ke kampung?”
Olo, Amang, kasihan bapakmu. Kemarin adikmu si Sabam menelepon, katanya bapakmu sudah seminggu kurang sehat.”
“Tapi, Omak kan belum sempat melihat si Biyanca Rajdjingar?”
“Kenapa harus kulihat dulu biangta najingar, Amang? Ada rupanya anjing kalian?”
“Bukan biangta najingar, Omak, tapi Biyanca Rajdjingar. Itu nama cucumu!”
Bah-bah-bah, kenapa kalian bikin nama cucuku itu seperti…?”
“Mmm…, Biyanca itu nama pilihan menantumu, Omak. Sedang Rajdjingar, diambil dari nama dokter yang dulu membantu pengobatan kami di Penang.”
Nai Posma tak lagi memberi tanggapan, namun dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia amat kecewa. Ia benar-benar tak sanggup membayangkan dirinya dan suaminya, kelak akan dipanggil dan dijuluki orang-orang di Janji Matogu, “Ompu biangta najingar.” ***

Catatan:
Biangta najingar: anjing kita yang galak/sangar
Panggoaran: panggilan/gelar untuk seseorang (orangtua)
Tuani ma: syukurlah
Hatop adong nadiaduna, lambat adong naipaima: (harafiah) cepat karena ada yang dikejar, lambat karena ada yang ditunggu
Mangihut: mengikut
Simatua: mertua
Parumaen: menantu perempuan
Paramaan: anak lelaki saudara laki-laki
Sinamot: mahar
Boru sileban: perempuan non-Batak

Baca juga Cerpen Suhunan :
Kebaya Pengantin
Keputusan Merlin
Permintaan Marojahan

Iklan

49 thoughts on “Cucu “Panggoaran”

  1. HUAHAHAHAH.
    lucu kaliiii….*aduh…sakit perutku*
    inilah rupanya yg dikerjain Bang SS selama libur lebaran. sampe2 smsku pun lama kali dijawab.
    tapi gak apa2 lah bang… lucu kali pun.

    ^_^

  2. Eston H. Sianturi berkata:

    Las ni roha, loja ni pamatang laho mangeahi ianakkonna naung lupa “mungkin” di dai ni rimbang dohot andaliman……sae ma holan cerita nian on ate? unang ma adong di ngolu ni halak batak naung mandapot jampalam na lomak di tano parserahan.

  3. Hendry Gaol berkata:

    Sama seramnya nama itu, kalao dinamakan TUTI…aahh…bisa-bisa jadi Opputtuti nanti nama panggoaranya

  4. Bonar Siahaan berkata:

    Lucu namun sedih.
    Aku jadi trenyuh membacanya, sepertinya ada yang kena ke ulu hati.

    Salam dari saya

  5. Boike sitorus berkata:

    Sai unangma adong kejadian na songoni bah,las ni roha gabe marujung lungun ni roha.Alai tahe di cilegon dope si Posma sahat tu sadarion,asa lao jo iba martamue tu bagas nasida.Ai mungkin martetangga do hami di cilegon…

  6. Maulina br sirait berkata:

    Molo pinaihut2 cerita ni Amatta S. Situmorang on seolah benar2 nyata ada kejadian seperti itu…. sering do binege angka ina manghata natua2 ala gumodang perhatian ni natuatua tu anak na dari pada boruna hape molo adong naringkot ni natuatuai sai boruna do manarihon inna. Horas…ditunggu cerita selanjutnya.

  7. Inang… tahe
    Aha ma dohonon ni Nai Posma tu dongan sahutana, mulak ibana ndang boi pajumpang dohot si Padot tarlobi pahompuna si Biangta Najingar.

    Ia tu simatuanai, pintor humalaput do si Padot mandapothon, hape ia omakna Nai Posma nunga mansai leleng tarpaima-ima di Cilegon, ndang dianturehon …

    Inang… inang … tahe, jambar hi…. na margelleng i …

  8. Hutahaean par kerinci berkata:

    Untung ma parjanji matogu Ompu Biang Nanjingar i, asa ganjang umurna aggo dang mungkin nga olo stroke ate.. alai unang pola lungun roham muna ai adong dope si sabam na mungkin mambaen si pangihutan annon goar ni pahoppum muse.

  9. Makjen Simarmata berkata:

    Mansai namalo ma hamu lae Situmorang, patorangkon namasa di keluarga ni Ompu Pangihutan i. Adong keyakinanku kisah nyata do on na holan pelaku dohot inganan do disamarkan.
    Tu hamu angka dongan na di partungkoan on, molo naeng paturehon asa unang masa be na songonon, sian dia do parjolo mula an. I anggo manurut ahu na hurang mangajari do inanta i sian na mamungka mambahen hasala an si Padot. Mungkin ala “tampuk ni pusu-pusu i”.

  10. Ngerima cerita na dibahenmon Tulang SS… gabe naeng tarilu ahuu.. Alai songoni do sipata akka jolma ate, dang sadar dihalojaon ni natua-tuana… anggaiat dang adong jolma sisongoni… horasma..

  11. @ Sude namanjaha:
    Mauliate di haradeon muna manjaha turi-turian ni Inanta Nai Posma on, anggiat adong hinorhonna tu dirinta be, tarlumobi maradophon angka natoras-natua-tuanta.

    @ Lidya Hutagaol
    Lucu memang, Lid, tapi kasihan ya inang itu 😦

    @ Eston H. Sianturi
    Imadah lae, sai unang ma masa songon serita on ate.

    @ Pontas Edy Simanjuntak
    Daong, Lae, hasilni imajinasi do on, alai memang diilhami berbagai kejadian di halak hita di Jakarta nahea hubereng.

    @ Hendry L.Gaol
    Aboha disi lae? Aman do Cikarang di krisis ekonomi dunia on? Baen jo antong lae saritamu angka nageok i di blog on.

    @ Sitohang par Bintan
    Hupaima kajianmu tu tolu cerpeni, anggia.

    @ Bonar Siahaan
    Bah.., hape maksudhu nian Amang, mambagi sada sarito songon bahan renungan do tu hita sude, hape gabe lungun rohani Amang ate. Sahat muse tabekku tu hamu, Amang.

    @ Boike Sitorus
    Ai di Cilegon do Lae maringanan? Dang saarisan hamu (parsahutaon) dohot si Posma? πŸ™‚

    @ Maulina br Sirait
    Ito, bere (sada berekku kandung, br Siregar, muli tu marga Sirait par Sihubakhubak-Porsea), tung mansai tertarik do au manurat tema/topik taringot halak hita Batak Toba; na di huta manang nadi pangarantoan. Sangat menarik dan banyak hal yang bisa dijadikan bahan tulisan (fiksi atau non-fiksi). Jeli do ho ate ito mencermati “pardingkananni” natua-tua halak hita (khususna natading huta) tu ianakhonna siangkangan dohot siampudan (baoa), hape tutu umumna angka boru ido napaling mangharingkothon natorasna.

    @ Togar Silaban
    Porsea do au antar godang do turi-turianni halak hita songon saritani inang Nai Posma nadibege Lae. Taringotna, akhir bulan Desember on, nunga marsangkap au mandulo tao Lobutala; anggiat dapot ilham manurat sada serpen πŸ™‚

    @ Hutahaean par Kerinci
    Bah.., ai di Kerinci do hamu maringanan? Na bulan sada 07 lewat au sian i, maradian dua jom, maju do hubereng kota i. Lumayan do inna halak hita di si nuaeng ate, Lae. Marsawit. Sadia bolak tahe kobun sawitni Lae di si πŸ™‚

    @ Makjen Simarmata
    Bahen ma nian Lae, songon nidokni Lae Naipospos par blog on, ulaonni akka parangan-angan do on. Ai dang boi be marleng manang marjokker karo Lae nuaeng on ala dilarang amanta Sutanto naung passiuni, gabe manurat-nurat serpen ma niula πŸ™‚

    @ Santrov
    Bah, berekku par Luwuk, Sulteng, pe nunga dohot ro marmeam tu Partungkoan on. Boha kabarmu, Bere?

  12. Songoni ma nipanotnotan monitor on, sian ginjang sahat tu toru, naganjangan.
    Ngeri Kali … … nasib inang ini nina roha.

    Isi sahat tu: β€œTapi, Omak kan belum sempat melihat si Biyanca Rajdjingar?”
    Pintor mengkel, sahalak ahu ahu …
    Ahu pe loja manjaha bahasa i, Biangta Najingar do ni jaha :-))

  13. Sahat Ngln berkata:

    Wakakakakak, ai geok ma cerita muna on lae. Las gabe biangta najingar…amang jo!. Alai boha ma perasaanni nai Posma i ate..lasso boi nasida mangida pahompu nai, sedih bercampur geram. Oh tahe.
    mauliate, sai horas ma!

  14. 2 hali hu jaha… teuteup… mekkel sasada au i baenna.

    etahe… niatna giot pa keren-keren hon nama… hape gabe biangta Najingar do na i bege tu suping ni nai posma…

    dang tarpasarisari nai posma…. molo i huta gabe ompu ni biang …. agoyyyyaamangggg…..

  15. Hodbin Marbun berkata:

    Gabe Turi-turian nauli maon dihita akka naposo asa unag terjadi nasisongonon di joloan niari on,asa tontong tapasangap natua tuata di tikki ngolua on.
    asa taingot patik palimahon i.

    Turi-turian yg sangt bagus.

    Horas, Mauliate.

  16. goklas sinurat berkata:

    ngerinai ate inattai??
    alai godang do namendekati tu ceritaon kisah nyata hulala ate?????
    atar songon di baribaon mai anggo tu toba dream dht cafe Hunter adong do hepeng???
    alai anggo mandulo huta dang adong ongkos???
    assitnai ate??? nunga habis be THR 2008…
    hick……hick……. hick….

  17. G. Meha berkata:

    Adong dope udut ni turi turian on lae? Molo adong dope, ahu ma jo mambahen ate Lae. Hehehehehe.

    Tiga tahun kemudian, ketika Op. Djingar doli dan boru sedang martugo di sopo balian yang semakin reot itu, SMS Padot datang memberitahukan bahwa telah lahir anak perempuan mereka dan meminta supaya orangtuanya datang ke Jakarta. Pangidoanhu bapa, hamuma mambahen goar ni pahompu mon, molo boi goar batakma. Demikian permintaan padot melalui SMS itu.

    Unang pola lao be hita tusi Op. Djingar doli, sotung mulak balging hita muse sian i. SMS i ma kirim. Si Byonce ma dokkon di bahen goar ni pahompunta i.

    Bah, ai sian dia diboto ho goar i? Bah, Op. Djingar doli, na dirimpu ho do parhuta huta manangkas au? He he he.

  18. @ Charlie Sianipar
    Tapi, waktu lae ngakak, nggak sampai jatuh kan kamera dan lensa milik lae yg sangat buanyak di dekat komputer lae itu? Sayang lae, bisa sega. Rugi hita.

    @ Sahat Ngln
    Kan lae sudah pernah “complain” karena aku terlalu sering menulis kisah kepedihan? Jadi, kucobalah tahe membikkin Lae SMN dan pembaca lain mengkel, inna rohangku πŸ™‚

    @ Srikandi br Pohan
    Imadah, ito, giot roha nasida asa keren goarni anaknai, hape gabe songoni ate. πŸ™‚

    @ Hodbin Marbun
    Ah, naposos do pe lae on alai nunga pintor diihuthon angka podani natua-tua. Mantap lae.

    @ Goklas Sinurat
    Bah, gabe tarboto, berarti lae jotjot do laho tu ‘kafe hunter’ na di jln bypass i. Ise biasa donganni lae marjoget? Hehehe…. , gaithu doi lae da πŸ™‚

    @ G. Meha
    Hahaha…, si Byonce. Pas, sossok doi lae. Asa songon goarni parende R&B Amerika i ate πŸ™‚

    @ rapmengkel
    Horas ma tulang!
    Hubukka ma kartukku ate, hupaboama: sude serpen nadimuat di blog ni Laenta Naipospos on, rencananya, akan dikumpulkan dan diterbitkan dlm satu buku. Ido alana asa antar songonna ganjang. Napapungu-punguhon dope lae, sada-sada nisurat. Sebelum diterbithon, nipasahat ma tu Lae Naipospos asa dipajahahon jolo tu penggemar ni blog on. Ido i, Tulang…

  19. Maulina br sirait berkata:

    @ Ito S. Situmorang.
    Ya ito… (oma br Siregar ) sai nipaihut2 do molo adong cerpen di tulis ito…tung mansai las do roha manjaha…boi gabe sada parsiajaran khususna pangaranto unang adong maniru songon pangalahoni si Padot i. Horas !!!

  20. batuhapur berkata:

    Gabe holan namekkel do ahu manjaha cerito on.sasahali manetek ilu… akka dongan sakantor gabe penasaran…asida pe gabe dohot manjaha cerita on.. ale gabe repot doahu patorangkon akka istilah naso ni attusan ni asida.

    sude akka cerita ni amang SS seru seru sude.taringot iba tu huta…masihol.
    di paima hamim muse cerita muna.

    Horas.
    Radja Nadeak

  21. michaelsiregar berkata:

    Cerita cerita dari Lae Situmorang ini memang selalu kita nantikan, sangat menyentuh hati pantas kita renungkan, tetapi juga lucu menyegarkan.
    Salam horamat saya, Michael di USA

  22. sahat sipahutar berkata:

    Mauliate Lae , atas tulisan yang bagus ini salam buat penulis dan pemilik blog saya selalu merindukan kalian amang .

    *** Mauliate lae, leleng dang masisisean hita πŸ™‚

  23. Ninggor Pardede berkata:

    Pesan moral na boi buaton sian sarita on:
    1. Tu saluhut baoa siangkangan, jolo marpanungkun be tu natoras (among dohot inong) na molo mambaen goar.
    2. Hasiholi natoras.
    Mauliate ma dinapajagarhon sarita on.

  24. Rondang br Siallagan berkata:

    Hahahaha…na so adong do.
    Kasihan banget si Ina…tidak bisa lihat cucunya…..sudah semua dijalani…

    Baca namanya itu sulit banget…. betullah apa yang dikatakan …Biangta Najingar…Hahhhhahha.

    Pesan untuk pemuda/i …Kalau beri nama pada anak hati2…jangan terlalu keren bisa2 salah sebut …seperti cerita ini…Biyanca Rajdjingar…Biangta Najingar
    Hahhhahha

  25. saurma berkata:

    Ito lucu banget sih, tapi hampir sama dengan kisahku, dulu anak kalau perempuan ingin kasih nama “Mayang” = untuk mengenang nama kampung halamanku yang sekarang sudah kami tinggaklkan, suamiku menambahkan didepan “Nikita” = katanya sih artinya Catatan harian, jadi “Nikita Mayang br sitorus”, tapi pas di cek hasil USG ternyata laki-laki, jadi terpikirku mayang di rubah jadi “Mayong Esthomohi” esthomihinya dari agenda minggu di Almanak.. pas didengar mertua, langsung marah katanya begini “ai aha do i dah jadi maksud muna oppung si meong ma au” wakakaka tapi ga jadi karena mertua sudah bikin gelar di kampung oppung salomo padahal belom lahir, akhirnya sekarang namanya jadi “Yovantri Andreas Salomo”,

  26. desy pardd berkata:

    Hahahhaa….. waduh ito SS, nga haccit butuhakku manjaha cerpen ni ito on. Memang anggo goar ni halak batak sapala keren, ya keren banget. Alai sapala roa, ya roa banget lah…
    Memang angka natua-tua olo do maol manghatahon goar na agak asing. Sebagai contoh, simatuakku dang hea tingkos mandok goar ni pahompuna (anakku) Raynhard. Molo Ompung dolina mandok: si Renghat. Ompung boruna mandok: si Remhat, sipatama muse didok Si Rehat. Borukku namanya: Nindya, duansa ompungna mandok: si India. Hehe….

  27. @ Maulina br Sirait
    Semoga ito, semoga bukan sekedar cerpen ya. Terimakasih utk perhatianmu terhadap cerpen-cerpenku.

    @ batuhapur
    Lae, sebenarnya aku pun memikirkan pembaca non-Batak, makanya kuterjemahkan beberapa kosa kata ke dlm Bhs Indonesia. Memang, kelemahan menulis sastra daerah/etnis di situ. Sementara, kalau ditulis seluruhnya dng BHs Indonesia, kadang kurang pas. Boha kabarmu lae Nadeak? Mulak do lae tu Tj Bunga, Samosir, Desember on? Jumpalah kita di sana, atau di Aek Rangat.

    @ michael siregar
    Mauliate lae Regar, sudah kubacai tulisan lae di blog lae itu. “Cemburu” juga aku sama lae, bisa bermukim di AS sekian lama dng kehidupan yg menyenangkan, dapot jampalan na lomak.

    @ sahat sipahutar
    Bah, kemana aja lae? Sudah lama kita tak email-email ya lae. Sehat do lae?

    @ Ninggor Pardede
    Keren, keren, pengamatan lae; macam pandangan pengamat sastra dari Majalah ‘Horison’. Benar lae, mauliate da.

    @ Rondang br Siallagan
    Ito kemana aja beberapa bulan ini? Bukan karena capek ‘marbada’ di dunia maya dengan seseorang itu, kan? Lupakan, mari terus kita tampilkan kebajikan dan holongta tu Batak melalui dunia maya ini.

    @ Saurma & desy pardd
    Horas. Senang juga mendengar kalau aku bisa menghibur sejenak hamu nadua ito. Mengenai nama-nama anak yg bisa menyebabkan “misleading” bagi orangtua Batak, ini contohnya: satu laeku, anak tulang, punya boru siangkangan, namanya dibikin Marsha. Lalu, inanguda-inanguda, parompungan, dll, memanggil tulang-nantulang kami itu “Ompu Marsak” Bah! Maufff… πŸ™‚

  28. Bonar Siahaan berkata:

    Dung sorang pahompu sian boru (boru do panggoaranhu) didok angka dongantubu ma asa hupaboa manang ise goar ni pahompu i nalaho jouhomonna panggoarhononhu. Alai ala hasomalan sian angka Daompung sai sian anak do dipanggoarhon goar abalan gabe hudokma “nangpe pahompu i dangpala panggoarhononhu i gabe goar abalan di ahu”. Alai sai disosak dongan ma ahu asa hupanggoarhon,gabe hudokma tu nasida, “si Nami” do goar ni pahompu i. Sanga do adong sian angka dongan manjou ahu “Ompu Nami” ala sopola diparrohahon lapatan ni goar i. Dung dilapati goar i pintor nina nasidama, “gabe sude ma hami marompu tu ho?” Hudok tu nasida,hamu do mandok ingkon panggoarhononhu,hape dung hupaboa goarna gabe haboratan hamu, antong molo songon i unang pola jouhon hamu molo dang sintong di rohamuna. Laos mulai i dang dijouhon be ahu “Ompu Nami”.

  29. FaridaSimanjuntak berkata:

    Sedih sekali membayangkan persaan nai Posma.. Dengan segenap cintanya dia ingin melihat cucu yang dinantikannya tapi hanya kekecewaan yang dia dapat..
    Hansit nai ate, sian gelleng di pamanja dung berhasil gabe umholong tu keluarga ni mertua…

  30. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Horasss!!!
    Saotik masukan tu Abang Bonar Siahaan,
    Molo di hami di Tampahan Gurgur adong do beda ni panjouon tu pahompu sian boru.
    Molo pahompu sian buha baju boru, goarna misalna Nami, jadi di jouhon pake Ni gabe Ompu ni Nami, alai molo panggoaran sian buha baju baoa, toho mai goari ima “Ompu Nami”.

    dan Fiksi alai fakta do on, adong dihutanami ndang olo menyingkat goarna, ingkon jouon goarna dohot margana sekaligus, mulai sian dakdanak sahat tu na marpahompu dang olo ibana mangganti goar, hape nunga gabe ibana maranak marboru, marpahompu sian anak marpahompu sian boru.
    Kebetulan goarna ‘Rajani Siahaan”, gabe sude ma na di hutanami majou ibana Raja Ni Siahaan, hea ma sahali naeng marhusip keluarga Siahaan tu huta nami, parjolo pintor dilului do dongan tubuna, jadi disungkun Siahaan na ro on ma, adong diboto hamu marga Siahaan di luat on? hualusi hami ma adong, ima amanta Rajani Siahaan, pintor tarsonggot Amantai, bah sian dia dalanna gabe boi Rajani Siahaan marhuta dison.
    Akhirna pajumpang ma amanta Rajani Siahaan dohot sian Siahaan naroi, dung martarombo nasida, hape Manjou Ompung do Rajani Siahaan tu marga Siahaan naro i,
    Ai boasa dibahen ho goarmu Rajani Siahaan?, ba dang tuau sungkunonmu i Ompung, ai Amang dohot Dainang do mambaen goarhi ninna….
    Masih kah kita mengatakan, Apalah arti sebuah nama?.
    mohon maaf apabila ada yang salah-salah kate, ninna halak Betawi.

  31. Bonar Siahaan berkata:

    Horas ma di Anggi doli Pontas Eddy Simanjuntak.

    Boi do masa songon nidok ni anggidoli i nuaeng on nang dihamian (Siboruon), alai Ompu parsadaan ni hami par Siboruon Ompu ni Aji do (mamahe “ni” andorang so Aji), namargoar si Aji ima anak sihahaan ni Patuan Raja parjolo, Patuan Raja ima anak sihahaan ni ompu ni Aji. Nangpe pahompu sian anak si Aji tong-tong do margoar Ompu ni Aji Purba Ompu parsadaan ni hami Siahaan Siboruon sahat tu tingki on. Jadi dihilala roha holan sumanna jouon do molo dipake “ni” dipanggoaranna.
    (astuanna) hurang pas jouhonon tu jolma ; “Ama aji”, ummura do jouhonon Ama ni Aji,suang-songon i “Ompu Aji”, sumuman do jouhonon “Ompu ni Aji”

    Mauliate ma di hatorangan ni Anggi-doli i,horas.

  32. Nai Posma kehilangan otoritas terakhir–yang dia pikir masih dilimilikinya–atas anaknya yang telah berubah menjadi monster, yaitu hak memberikan nama pada cucu pertamanya.

    Sebuah parodi memilukan mengenai kebangkrutan Tano Batak, di mana segala sumber daya dikorbankan demi kemajuan generasi muda di rantau, namun yang kembali ke bonapasogit adalah ejekan atas semua pengorbanan itu.

    Hanya penghinaan dan kematian yang datang; contohnya gergaji mesin yang kini membabat hutan Tele atas dukungan tokoh-tokoh Batak di rantau, dan mayat-mayat perantau yang datang di dalam ambulans dengan raungan sirene yang congkak.

    Salut buatmu Lae Suhunan Situmorang. Salut!

  33. Hujaha muse cerpen i dohot angka komentar, gabe hansit butuha manjahasa, mekkel-ekkel sahalak niba.

    Tu lae Bonar Siahaan, ba sude ma hami mandok “Ompu Nami” tu hamu da, boha bahenon
    Adong muse Ompu ni meong…… alamak….

    Ahu pe bingung do, boasa gabe adong goar Arab goarhu, Togar Arifin, dang sanga be nisungkun natua-tua sian dia dapotna goar i. Di bona pasogit do iba sorang, songon na so adong dope halak Arab di hami an tingki i. Saleleng on so pola nipasoal goar niba, boasa adong goar Arab.

    Anakku goarna Daniel Tonggi Parulian, lengkap goar i sian bapana, sian oppung suhutna dohot sian oppung baona. Ai pahompu panggoaran ibana. Anakku sipaidua, siampudan i, goarna Dennis Hasian, asa anggiat hasian ni sude jolma ibana.

    Ima cucu panggoaran i.

    Lae Raja Huta: sipata mekkel hamu lae, unang pa serius hu…..

  34. Bonar Siahaan berkata:

    @ togarparlobutua,

    Ai ndang sanga hupanggoarhon i (Op Nami), holan mangalusi dongan do ala didok ingkon panggoarhononnhu pahompu panggoaran sian boru,hape hela i pe tong anak siangkangan sian natorasna. Gabe sapanggoaran ma ahu dohot simatua ni boruku? Lae i ompu Martina doli hape molo dohot ahu gabe Op. Martina doli jala inanta nahualap gabe dohot Op. Martina boru da nunga gabe sursar begeon ni natorop? Sapanggoaran ma na marbao sama-sama Op. Martina,ido na hupasiding umbahen hukarang si Nami goar ni pahompu i asa gabe angka dongan namamaksa ahu i do mangalusi dirina sandiri. Ido daba amang,ai pahompu panggoaran si Tumitang do hubahen goarna jala Op. Tumitang do ahu.

    Horas dihita saluhutna.

  35. togarsitanggang berkata:

    sai torus do hupaihut-ihut turi-turian ni tulang on… serius do ahu manjaha… hape.. biangta najinar do ujungna… hahaha…

  36. rahmad lubis berkata:

    Cerpen yang sangat luar biasa. Miris sekaligus menggelitik… Buat Suhunan Situmorang, ucap salut saya untuk Anda. Membaca cerpen Anda, saya seperti berselencar di dunia Nai Posma… Tapi kemudian saya terjerambab, sebelum akhirnya tersenyum simpul. Bagus.. Horas Bang Suhunan… πŸ™‚

  37. suhunan situmorang berkata:

    @ Raja Huta
    Bege i lae nanidokni laetta Silaban par Surabaya i, unang paserius hu lae πŸ™‚

    @ togar sitanggang
    Imadah bere, alai gabe dijou akka dongan (termasuk akka dongan biasa marnonang di HKBP Jatiwaringin) do au nuaeng “Amanta Najingar” alani serpen sisandap on πŸ™‚

    @ Monang Naipospos
    Lae, berekku do Togar Sitanggang on (marboru Sianipar), tubu di Medan, sikkola sahat tu Amerika, karejo di nuaeng di perusahaan asing & maringanan di Jakarta. Salut do au tu ibana, aktif di paradaton jala termasuk ‘parhata’ di marga Sitanggang, hape poso dope pamatangna. Molo huajak ibana manghatai taringot ruhut-ruhutni paradaton di ‘Bakoel Koffie’ jonok kantorna, mansai malo patoranghon. Naringgas do ibana mandulo bonapasogit, hutana, di Buhit-Pangururan-Samosir, jala dipature do bagasni ompungna mansai uli songoni nang pangurupion ni nasida tu akka dongan sahutana; dang songon si Marojahan nahinan πŸ™‚ Las roha.

    & rahmad lubis
    Horas Lae. Sampai terkezzuut aku membassa komentarmu. Tapi, jujur, kebahagiaanku saat meluncurkan sebuah karya (fiksi & non-fiksi) adalah, bila yang membaca tak merasa percuma membacanya. Mauliate utk pujian lae, menyemangatiku utk terus menulis, menulis, menulis…, dengan harapan: blog ini tdk mendadak ditutup Lae Naipospos πŸ™‚

    *** πŸ˜€ Blog ini tidak akan ditutup lae semasih kita hidup. Kecuali dilarang pemerintah Blogger Batak dituding pengacau. Mudah2an kita tidak jadi korban lae …. Ate… πŸ˜‰

  38. Horas lae, tulisan dan cerita anda sangat bagus. Porlu songonon tulisan/cerita (sangat perlu) untuk orang kita dan saya sangat yakin kejadian macam ini sering terjadi bagi orang kita (halak kita). Saran saya, cerita ini harus didesiminasi (sebarluaskan) melaui media cetak, bila perlu media tv (sinetron mini). Disamping lucu, tapi sangat menyedihkan, coba anda bayangkan brgitu kecewanya ibunya Padot (nai Posma), dia usdah begitua bahagianya dan memohon kepada Tuhan supaya diberi cucu tapi apa yang dia dapat hanya kecewa yang mendalam. Maksud saya lae cerita ini sangat bagus (nilai 99) dan ini sering terjadi bagi oraang batak. Menurut saya, seorang ibu tidaklah begitu antusia dengan harta anaknya tapi hanya minta kesenangan (lasniroha) melalui penyambutan.

  39. Nani gultom berkata:

    horas amang….tulisan dan ceritanya bagus…banyak hikmah yang dapat diambil dari cerita amang…aong dope muse na asing amang?

  40. Maslan Donal Panjaitan berkata:

    Tulisan yang begitu mengena terhadap kita para perantau yang datang dari bona pasogit.

  41. Sangat cocok bahan referensi untuk dibaca bagi kawula muda sblm menjajaki rumah tangga——,, apalagi keluarga yg super sibuk tp masih kental melekat tradisi paradaton ni halak batak………….., bagaimana berdiri ditengah2 kerjaan, dan dikeluarga kedua belah pihak………..

  42. dang tardok hata laho manaritahon isi ni cerita on tulang..
    naeng mengkel ale songon na lungun..
    naeng tangis tong adong do nian na lawak..
    anggiat haduan asi Roha ni Tuhan i, unang ma sampe songon i nian pangalaho ni iba tu na tua-tua i…

  43. marudut manurung berkata:

    ai lucu ma on lae…. nganang mate iba mekkel….
    gbe sai hira na rittik ma iba mekkel.sahalak niba….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s