Makna Ragam Hias Dalam Rumah Batak

Monang Naipospos

Hal-hal yang mengandung magis memang sungguh menarik dibahas dan dibicarakan. Lagi-lagi wacana ini menjauhkan intelektual batak untuk menemu kenali kecerdasan para leluhurnya.
Sering saya mendengar pernyataan yang mengatakan bahwa rumah batak itu mengandung nilai magis yang dapat menolak roh jahat atau musuh. Konon pernyataan ini telah menjadi acuan tertulis bagi para pengamat budaya batak. Benarkah demikian.

Makna Singa-Singa

Singa tidak mengartikan si binatang buas. Singa mengandung arti rangkaian. Paningaon dimaknai sebagai kemampuan seseorang melakukan sesuatu. Sahala Simanjuntak mengartikan sebagai Cara Berpikir.
Totalitas perencanaan dan pembangunan rumah batak dan segala arti yang dikandungnya adalah kemampuan dalam pengertian paningaon
Segala bentuk alamiah dan makna diterjemahkan dalam bentuk ukiran yang indah. Penggambaran mahluk hidup dalam bentuk ukiran adalah bagian paningaon dan hasil seninya disebut singa-singa

Seseorang yang memiliki kemampuan mematung disebut panggana. Patung hasil karyanya itu biasanya kasar dan berbentuk manusia disebut gaga-ganaan. Karena banyaknya patung yang dibuat panggana ini untuk pangulubalang sejenis pertanda yang mengandung magis, sehingga gana-ganaan pada umumnya disebut mengandung nilai magis. Kajian seni memantungnya jadi terabaikan.

Jenggar-Jenggar

Jenggar artinya menyala, nyalak. Biasanya disebutkan untuk api yang menyala. Namun ada sejenis mahluk kerdil sejenis ulat disebut jenggar-jenggar atau jembur-jembur karena sifatnya. Ulat kecil sepanjang 1 cm dan diameter 2 mm itu biasanya ditemukan berjalan lincah diatas dedaunan. Bila dia bertemu dengan pemangsa yang lebih besar dari tubuhnya, maka dia melakukan reaksi yang bukan perlawanan. Dia mengerutkan badannya hingga panjangnya berkurang setengah dan menumpuk di sekitar kepala. Matanya semakin menyalak dan ada muncul tanduk lunak. Semut yang berada didepannya biasanya menyingkir karena melihat sososk yang lebih besar didepannya.

Leluhur batak awalnya menanamkan sikap mempertahankan diri tanpa tempur menghadapi musuh yang dapat mengganggu fisik, hidup dan eksistensinya. Dalam tubuh (pamatang) dapat memancarkan aura kehormatan dan intelektual (bisuk) memancarkan aura kecerdasan. Inilah pertahanan diri pitonggam original dari seorang manusia.

Ada sebagian orang mencari rasa percaya diri ini secara instan melalui kajian magis. Mereka datang kehadapan seorang berilmu mistis mendapatkan benda yang dipercaya meningkatkan auranya dan selanjutnya lebih populer dengan sebutan pitonggam.

Para seniman batak telah mampu menterjemahkan ini dalam karya arsitektur rumah tradisional. Salah satu filosofi hidup dengan pertahanan sesuai dengan kemampuan mengolah raga dan kecerdasan menjadi bagian penghias ruma batak. Mereka mencontoh jenggar, ulat kerdil dan empuk yang dapat mengolah fisiknya yang kerdil sehingga tampangnya terlihat menjadi besar untuk menghindari dirinya dari serangan pemangsa.

Gurdong dan Lunjung.

Kedua nama ini adalah jenis belalang. Ada hal menarik bagi para leluhur batak tentang belalang ini saat mereka mencari filosofi hidup walau sudah mati. Belalang lebih banyak diam daripada bergerak, apalagi terbang. Belalang jarang menggerakkan kepalanya tanpa mengikutkan tubuhnya. Yang paling unik dalam temuan mereka adalah bila belalang mati kelihatannya seperti hidup. Ada dua hal yang membuat manusia sulit menebak hidup atau mati belalang bila hanya dari kejauhan. Pertama, belalang banyak diamnya. Kedua, bila mati, kepalanya tidak terkulai dan badannya tidak terjerembab. Metmet pe sihapor, dijujung do simanjujungna. Walau belalang kecil, kepalanya tetap dijunjung.
Ini berbeda dengan gajah, singa, harimau dan banyak jenis binatang lainnya yang bila sudah mati sangat jelas dalam pandangan mata.

Manusia batak memiliki pengharapan hidup setelah mati. Selain roh, arwah menjadi sahala, juga nama besar yang hidup setelah badannya mati. Pengharapan itu diukirkan dalam seni pahat pangganaon, dan filosofi hidup dan mati belalang itu dituanggan dalam paningaon yang memberikan makna kepada manusia agar kelak setelah mati akan tetap hidup, dalam arti nama baik dan kebesarannya semasih hidup.

Seni pahat pangganaon dan pemahaman makna paningaon membentuk ukiran berbentuk kepala belalang dalam sisi kiri dan kanan rumah batak. Dalam ruma diukir replikan belalang yang kepalanya runcing yang disebut sihapor lunjung. Pada sopo dibuatkan ukiran belalang yang kepalanya bulat yang disebut sihapor gurdong.

Setelah pemaknaan paningaon hilang, kedua bentuk ini disebut ulu gurdong tanpa ada upaya pelurusan. Yang paling mendasar lagi, kemudian kedua bentuk ini disebut singa-singa saja. Yang paling amburadul lagi, diberikan pemahaman baru bahwa itu gambaran dari singa yang melambangkan keperkasaan.

Rumah, tempat berlindung.

Dimana manusia betah tinggal dan mendapatkan keteduhan, kehangatan, kenyamanan dan keamanan, itulah rumahnya. Leluhur batak menggambarkan seekor ayam betina yang melindungi anak-anaknya yang masih bayi dalam lorong tubuhnya yang diselimuti bulu tebal dan terlindung dengan sayap yang kokoh.

Rumah batak dibentuk seperti ayam betina yang melindungi anak-anaknya. Dipuncak mercu dibuat ulu paung kepala bermahkota dihiasi jengger seperti ayam.
Banyak pemahaman leluhur batak yang dituangkan dalam seni arsitektur yang memberi makna kehidupan kepada manusia. Ini sebagian sudah dijelaskan oleh bapak RB Marpaung dan melalui tulisan lainnya. Apakah anda memahami apa yang dipikirkan para leluhur Batak? Atau apakah anda masih berkutat menyebutkan para leluhur Batak itu barbar dan tidak beradab?


Bookmark and Share

Tautan ;

Akhirnya Runtuh
FILOSOFI RUMA ADAT BATAK
PAJONGJONG RUMA DOHOT SOPO
SOPO DOHOT ULOS
MAMUNGKA HUTA DOHOT JABU
SANGKAMADEHA
MENYIBAK TABIR MENAMPAK ISI
hasil penelitian Sandrine Germain tentang Rumah Batak Toba

Iklan

4 thoughts on “Makna Ragam Hias Dalam Rumah Batak

  1. Memang sangat menarik mempelajari Filosopy kehidupan nenek moyang kita Batak, dari Simangot sampai Sibaganding Tua, dari Sihapor sampai Ambalungan, semua mereka sadari adalah kehendak Mula Jadi Na Bolon.
    Yang menjadi persoalan adalah apakah kita Generasi Muda masih Peduli pada falsafah hidup mereka?!

  2. B.Parningotan berkata:

    lae Michael Siregar meragukan, apakah generasi muda masih perduli akan falsafah mereka, Dalam hal ini lah filosofi kehidupan nenek moyang kita harus ditaringoti selalu, scara berulang2 sehingga tidak pernah dilupakan, karena daya ingatan mengenai filosofi nenek moyang kita akan meperkuat percaya diri kita terhadap diri kita sendiri dan bangsa kita, percaya diri ini memperkuat persatuan, kerjasama kita, dan menpertinggi kualitas hidup kita, dimana kita akan memandang bahwa hidup itu bukan hanya dilalui seenaknya seperti pemabuk dan hidup yang tak terarah melainkan akan saling lebih menghargai hasil karya kita dan meningkatkan kwalitas hidup, karena ini adalah awal dari segala kemajuan.

  3. F.W Nainggolan berkata:

    Horas,
    Jadi selama ini kita sebut ukiran di tepi ruma batak itu singa-singa adalah salah ?
    Ternyata itu kepala sihapor..bah!

  4. tanobatak berkata:

    Nainggolan : Sebutan singa-singa tidak salah, tapi jangan diartikan singa hewan. “Paningaon” artinya kepandaian merancang, membentuk, merangkai dan sepadan dengan itu. Singa dalam pengartian ini adalah “bentuk”. Singa-mangaraja dimaksudkan untuk menata(praja, harajaon) sebuah betuk kehidupan yang adil dan berdaulat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s