MULAK MA HO AMANG

Michael Siregar

Ompu ni Jonggara Napitupulu menghapus air mata yang merembes di kelopak matanya, mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Eddy Silitonga yang bercerita tentang penyesalan orang tua atas kemarahannya yang berlebihan, mengakibatkan anaknya merantau dan tak pernah memberi kabar atau pun pulang menjenguknya.

“Bah inum kopimi Ompung… so sanga ngali annon…” (minumlah kopinya kek… nanti keburu dingin) tiba tiba yang empunya kedai kopi menyadarkannya dari lamunannya.

Setiap pagi Ompu ni Jonggara duduk minum kopi di warung “sikomatu” ini (siang kopi malam tuak) menunggu hari agak siang. Semenjak dia mengidap penyakit rheumatik, dia tidak bisa lagi pergi kesawah terlalu pagi karena dinginnya air sawah membuat persendian tulangnya serasa nyeri bagai ditusuk jarum. Tiap pagi dia hanya nongkrong sambil minum kopi menunggu sang mentari menghangatkan bumi. Untunglah nyonya Napitupulu boru Sianipar pemilik lapo tak pernah mau menerima uang darinya, mungkin karena merasa masih saudara atau mungkin perasaan kasihan kepada beliau yang hidup sebatang kara digubuk tuanya.

“Eh… olo itonan… songon na tabo lagu i hubege… ulakhon jolo bah (Eh iya… lagunya berkesan… tolong diulang lagi) Ompu ni Jonggara sedikit tersentak.

“Imada, ai baru dituhor pahompum nantoari… alai dang adong vicidina holan kaset do…” ( iya baru dibeli cucumu kemaren… tetapi tidak ada VCDnya hanya kaset) nyonya Napitupulu menerangkan, samabil merewind ulang kaset yang sedang diputar, kembali ke awal lagu.
Mengalunlah kembali suara Eddy Silitonga menyanyikan lagu :

Molo tung namuruk ma au na uju i
Molo tung marrimas ma au na salpu i
Ai satokkin do Amang muruk ni rohakki
Hu solsoli do Amang salpu ni hatakki

Alai boasa ma manibbas langkam i
Ai tung boasa ma lupahononmu au

Asi roham tu au naung matua on
Ai tung ro maho mandulo au Amangmon
Marsahit sahit au naung suda gogokki
Manakkar nakkar au dung monding inang mi

Pulutt ni rohami mangalupahon au
Atik na on nama ujung ni ngolukkon

Reff:
Aut na boi tarbahen au
lao manjururi hutami
Taontononhu do lao mandapothon ho
Asa huida bohimi anak hasianhu
Asa huhaol ho gomos….

Kalaupun saya marah dahulu
Kalaupun saya emosi dahulu
Kemarahan hati saya Cuma sekejap
Saya menyesal ucapan saya yang terlalu

Tetapi mengapa kamu nekad pergi
Mengapa kamu melupakan saya

Kasihanilah saya yang telah renta
Datanglah menjenguk ayahmu
Saya sakit sakitan kehabisan tenaga
Sebatang kara setelah ibumu meninggal

Teganya hatimu melupakan saya
Mungkin inilah akhir hidupku

Reff
Seandainya saya mampu
untuk menjalar ketempatmu
Akan kupaksakan untuk menemuimu
Agar kumelihat wajahmu anakku sayang
Agar ku memelukmu dengan erat

***

Ompu ni Jonggara kembali mengusap airmatanya dengan punggung lengannya. Kembali terbayang di pikirannya, anak laki lakinya yang saat itu baru berumur 15 tahun, seorang remaja tanggung yang seharusnya masih duduk di bangku SMP. Dia melarikan diri merantau entah kemana… setelah dia mengusirnya dari rumah, saat itu dia tidak mengakui lagi sebagai anak karena kenakalannya.

Memang kenakalan Timbul sangat keterlaluan. Ya, Timbul Pandapotan, nama yang dia berikan kepada putranya itu ketika lahir, yang berarti terbit atau bangkitlah pendapatan dalam segala hal, baik materi maupun kesejahteraan.
Sejak kecil dia sudah berani mencuri uang maupun barang barang milik kakaknya, bahkan anak anak sekolah yang banyak kost di daerah Sakkar Ni Huta, kampungnya tidak luput dari incarannya. Sudah tidak terhitung lagi kepala lorong (semacam RT) Sakkar Ni Huta mendatangi rumahnya, menuntut kelakuan Timbul yang selalu berbuat onar.

Ompu ni Jonggara pun sudah beberapa kali harus membayar atau mengganti Ayam, Telor Ayam, Entok, bahkan anak Babi yang di curi Timbul dengan teman temannya. Yang lebih merusak perasaan Ompu Jonggara adalah ketika Timbul pergi kerumah Tulangnya Silalahi di Sibodiala, dipuncak Dolok Tolong.

Hula hulanya itu datang berjalan kaki berjam jam, dari Sibodiala, karena memang saat itu hanya jalan kakilah transportasi satu satunya ke Sibodiala, walaupun letaknya tidak begitu jauh dari Soposurung Balige. Mereka menyampaikan keluhannya bahwa Timbul mencuri anak Babi milik parhangir GKPI Sibodiala, juga bermarga Silalahi. Timbul dan kawan kawan memanggangnya di tengah sawah dan memakannya beramai ramai.

Kedatangan Hula hulanya sangat membuat perasaan Ompuni Jonggara patah arang, maklum bagi orang Batak, Hula hula (pihak keluarga istri) adalah sumber pasu pasu (berkah), sehingga dia benar benar emosi dan putus asa. Dia menunggu Timbul pulang ke rumah dengan hati yang membara, tak ada kata maaf lagi darinya.

“Holan na pailahon do ho tu au, holanna paurakkon… sonnari pe lao maho sian jabu on… lao maho maup….” (kamu hanya membuat saya malu, membuat tercemar… sekarang pergilah dari rumah ini… pergilah kamu kemana saja)
“Mulai sadarion… huetong ma ho naung tilahakku…!!!” (mulai hari ini kamu kuanggap sudah mati) Ompu ni Jonggara membentak putra satu satunya itu dengan emosi, ketika Timbul pulang sore harinya.

Dia tidak memperdulikan lagi tangisan Istri dan anak perempuannya memohon agar dia merubah keputusannya, juga tetangga yang masih ada hubungan kerabat sudah tidak didengarnya. Ompu ni Jonggara memungut pakaian Timbul seadanya dan melemparkannya ke halaman.

Hari telah menjelang malam. Timbul melangkah tak pasti sambil memeluk pakaiannya seadanya diiringi tangisan Ibu dan dua orang Itonya.

Ke esokannya, Ompu Jonggara sudah bangun pagi pagi, hatinyapun sudah reda. Dia mengira bahwa Timbul tidak akan kemana mana, paling paling dia menompang tidur di rumahnya Marlon Hutabarat anak Hutabarat polisi, tetangganya. Ketika dia bertemu dengan Marlon dia bertanya; “Ai na di jabumuna do modom si Timbul, Marlon…?” (apakah si Timbul tidur di rumah kalian)
“Daong Tulang, ai naeng lao do ibana mangaranto ninna…” (tidak Paman, katanya dia akan pergi merantau) sahut Marlon Hutabarat sahabat Timbul.

“Bah… boasa pola pittor lao ibana… tu dia ninna tujuanna…?” (Wah… kenapa dia langsung pergi… kemana katanya tujuannya) Ompu ni Jonggara bertanya, dia merasa sedikit was was.
“Ai ima da Tulang, ala na nidok ni Tulangi naung tilaha ni Tulang ibana, gabe palungunhu rohana ninna, alai ibana pe dang diboto tu dia tujuanna Tulang” (itula paman karena paman mengatakan dia dianggap sudah mati… dia merasa sangat sedih, tetapi diapun tidak tau hendak pergi kemana), Marlon menerangkan.

Mulai hari itu Timbul menghilang bak ditelan bumi, tidak ada satu orang pun yang tau kemana dia pergi. Baru setelah tiga puluh tahun kemudian ada orang yang bercerita kalau Timbul ada di Batam dan menjadi orang yang sangat sukses, seorang pengusaha terkenal, export import dari Singapura. Ada sebagian orang mengatakan kalau Timbul adalah parsimokkel kelas kakap dan punya kapal sendiri.

Namun semua itu tak dapat mengurangi kesedihan Ompu ni Jonggara, karena dia belum melihat bagaimana wajah anak nya yang telah lama tidak kembali, bahkan suratpun tidak ada sama sekali.

Ada orang yang mengabarkan bahwa Timbul sudah menikah dan punya anak. Seharusnya dia tidak lagi dipanggil Ompu “ni” Jonggara. Harusnya dia dipanggil Ompu…, sesuai nama anak Timbul. (kalau cucu dari anak perempuan pakai “ni” di tengah tengah misal Ompu ni Radot, Ompu ni Sahat, kalau dari anak laki laki hanya nama misalnya Ompu Lambok, Ompu Jogal).

Ompu ni Jonggara sudah berpuluh kali menyampaikan pesan dan surat melalui orang orang Balige yang pulang dari Batam, tetapi tak ada kabar balasan. Dia sangat ingin menemui anaknya itu. Ingin menyampaikan penyesalannya, ingin membelai wajahnya, ingin memeluknya dan juga ingin memeluk cucu panggoarannya. Tetapi apa daya, dia sudah sakit sakitan, tak punya cukup uang untuk ongkos, sementara dua orang putrinya pun hidup pas-pasan sebagai buruh tani.

Nai Jonggara tinggal di Silaen, menjadi petani, sementara sawah yang dikelolanyapun milik orang lain, bukan miliknya. Nai Lambok tinggal di Gasaribu, juga buruh tani, sambil berdagang ikan Jahir di pasar Sirongit, itupun tidak setiap hari karena akhir-akhir ini ikan mujahirpun seolah mogok makan sehingga kurus kering kurang vitamin.

Dia tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada dua orang putrinya itu, perasaannya hanya diungkapkan dengan mangandung menangis sambil memeluk makam istrinya yang ada dibelakang rumahnya, hampir setiap hari.

“Bah gabe tangis ho Oppung ala ni lagu i…” (Wah kakek menjadi menangis karena lagu itu) Boru Sianipar kembali menyadarkannya dari lamunan.
“Ima da… gabe huingot si Timbul… ai tung na adong do nuaeng di ae jolma na asing songon lagu on ?, ate ito…” (ya itulah saya jadi teringat si Timbul… apakah mungkin ada orang lain yang mengalami seperti isi lagu ini?) Ompu Jonggara menyahut sambil menghapus air matanya.

“Martangiang ma ho Ompung… pos roham mulak doi…” (berdoalah kakek… percayalah dia akan pulang) Boru Sianipar berusaha menenangkan, walaupun hatinya tak yakin.

Empat hari kemudian Ompu ni Jonggara ditemukan telah meninggal di rumah “sopo”-nya oleh Boru Sianipar pemilik Lapo. Sudah berhari-hari dia tidak muncul di Lapo, Boru Sianipar jadi curiga lantas menyelidik kerumah Ompu ni Jonggara. Yang ia temukan adalah seonggok tubuh yang telah menjadi mayat, terbujur kaku di bale-bale bambu “Bulu Godang” buatannya sendiri.

Sambungan : MULAK MA HO AMANG 2

48 pemikiran pada “MULAK MA HO AMANG

  1. Horas ma di hita saluhutna.
    Sedih kalipun cerita ini.
    Tetapi kita harus mengambil maknanya, bahwa sekejam / Sekeras apapun orang tua kepada kita, itu tetap Orang Tua Kita.
    Ingot hita Patik Palimahon ni ate.
    Kalaupun kita merantau hendaknya kita rencanakan suatu waktu untuk pulang kampung bertemu dengan sanak saudara terutama Orang Tua kita.
    Jadi molo pargareja do hita, diingot be ma lagu namarjudul ” SAI MULAK SAI MULAK HO NALAHO JALANGI “.
    Horas dan Sukses selalu.

  2. bah… dang adong haroa age saotik di roha ni si timbul marningot natua2 ana ate..! unag majo tu bapana.. tu inong ma jo dohot tu ibotona…nadua i….dang a dong manang saotik dibagas rohana.. inongku tahe di huta.. sehat do nuang??

    lungun nai tahe ompu ni sijonggarai…

    radja nadeak

  3. untung ma dang alani muruk bapa dohot oma au mangaratto gabe dang pola tangis iba manjaha cerita ni amang siregar on ate??
    ba ido attong molo adong mananda si timbul i disuru ma imana mulak ai pajuppang di tano rara nama halahi dohot amang nai???

    Ceritanya menyentuh bangat tu akka dongan paredang edang na di terminal senen jakarta i??

  4. Ada cerita yang mirip dengan ini dan benar-benar kejadian ditempat kami satu RT. Ceritanya anaknya ini bandelnya kurang lebih sama dengan si Timbul selalu membuat orang tuanya kesal dan keluarlah kata-kata kasar dari orang tuanya berupa “mati aja kamu, mudah-mudahn ditabrak mobil, mudah-mudahan kamu tenggelam disungai mahakam” bapaknya ini kalau marah suaranya keras hingga kami tetangganya ini mendengar. Pada suatu Hari tiga tahun yang lau persisnya hari minggu si anak pergi main-main dengan temannya ke sungai mahakam, entah karena apa kakinya terpeleset dan jatuh kesungai mahakam. sampai dua hari tidak dapat ditemukan mayatnya, sudah berbagai macam cara (perenang yang handal di kota Samarinda disewa 5 orang masing-masing Rp. 2.500.000,- tidak juga ketemu, paranormal disewa Rp. 2,000.000 juga tidak muncul) karena sudah putus asa si Bapak pulang kerumah. Begitu si Bapak sampai dirumah Mayat anaknya sudah muncul kepermukaan sungai Mahakam kurang lebih 300 meter dari tempat jatuhnya) kesimpulannya semua orang mengambil hikmah dari kejadian itu. MENASIHATI ANAK DIBARENGI DENGAN TUNTUNAN KEARAH YANG BAIK

  5. Ngeri nai puang…appara Michael, sian kisah nyata do on?.
    Gabe ni ingot ma lagu ‘Lobi sapulu taon’. hiks..hiks.
    Sai marulak sai hu sukkun da amang, akka parjalang i, dongan sahuta i, soada umbotosa didia ho amang. dagaaaa.

    Sai tumatangis ma ahu amang, manaon sitaononhi. molo naung mate ho amang, paboa ma tu nipihi. asa sae mai sian rohangkon, unang tarpaima-ima ahu di harorom.

    Songonni ma huroa da Ompu ni Jonggara i, las mate paima-imahon si Timbul…sai dao mai sian ngoluta be. Horas & mauliate.

  6. Hancur tahe….sedih dan memilukan kali certanya, kisahnyata do on lae Monang? masih ada gak sambungan ceritanya lae?

    Mudah-mudahan kita semua dapat menjadi orang tua yang baik dan anak yang berbakti kepada orang tua.
    Piss…lae monang…

    *** Itu ceritanya lae Regar lae😉 kayaknya nyata ya. Saya waktu editing juga hampir menangis. Ada saya tau kisah nyata hampir sama dengan cerita ini.

  7. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada Lae Naipospos, karena bersedia memoles cerita ini dari yang biasa saja menjadi menarik, karena saya tidak pernah menulis cerita sebelumnya.
    @Anson Simanjuntak
    Memang sedih Lae, kalau soal maknanya terserah masing masinglah menafsirkannya.
    @Batu hapur
    Ala naung tabo ngoluna Lae gabe so di ingot be sude.
    @Goklas Sinurat
    Lae termasuk orang yang Beruntung, kalau saya merantau “alani hapogosonnya”, kalau maknanya terserah Laelah menafsirkan.
    @Pahala Panjaitan
    Terserah Laelah menafsirkan, mauliate.
    @Sahat ngln
    Memang ngeri Lae.
    @Baginda na70
    Ide cerita ini dari kisah nyata Lae, pertengahan 80an ada orang kaya raya yang mengadakan pesta tugu Dua minggu nonstop, dihibur artis2 top Ibukota, RitaBtr2, Diana Nst dll, bir diantar bertruk truk, tetapi sayang semasa hidup orang tuanya menyedihkan sekali, sampai meninggalpun tidak dilihat.
    Mungkin Lae Naipos pos atau Lae Imran Napitupulu tau orang yang saya maksud.
    Tadinya saya ingin menulis sampai si Timbul pulang kampung dan membuat pesta tugu, tetapi karena kesannya menyedihkan….membuat orang sedih, saya pikir pikir lagi Lae, Mauliate.

  8. Tdk ada Bapak yg tidak menyanyagi anak nya. Sekalipun mereka marah di luar kendali tapi itu hanya sekejap saja. Bagi kita kaum Bapak, adakah diantara kita yg memberikan ular kepada anak kalau mereka meminta ikan??? saya yakin jawabanya “TIDAK ADA”. Seharusnya si Timbul ini mengambil hikmah di balik kejadian masa lalu. Kalau Bapaknya tdk keras mendidik dia tentulah dia tidak sesukses dan menjadi orang besar seperti sekarang ini. Kata kuncinya setiap kejadian pasti ada hikmanya. Maukah kita mengambil hikmah dari balik setiap kejadian?
    Alangkah berdosanya si Timbul kalau dendam dan melupakan orang tuanya akibat peristiwa masa lalu.

  9. Amang tahe, si Timbul on apala hata si songon i gabe lupa ho mambaen kabar tu huta dang apala hepeng na uppetting alai rohai mi do nian asa mulak.

    Gabe songon na manetek do saotik iluon ni, terharu iba manjaha poang.

    Sai anggiat ma di tambai akka pansamotan dihita saluhutna.
    Amen

  10. saya juga hadal dulu bah….sude do suansuanan ni halak nitakkoan. Inong pangintubu pernah melihat among saya marah semarah-marahnya, among saya seorang yang baik, jarang marah, dia seorang sintua yang baik, lalu seorang guru koor ama.

    Suatu saat, ketika saya permisi membawa ‘hondanya’ untuk mandi-mandi bersama teman-teman saya dia berpesan ” amang, hatop ho muak dah, naeng markoor jala marrapot hami digareja”…..

    saking asiknya minum tuak dan mangan ‘dangket-dangket’ ini, ternyata jam sudah menunjukkan puluk 10 malam. Saya pulang kerumah dgn tak merasabersalah….

    Ternyata inong sudah menungguku dan banyak orang disitu, lalu inong menangis dia bilang begini ” Amang, matabuni ma jo ho satokkin, dison pe hai dohot bapatua nang akka tetangga ta on paombun rimasna innon,…diboto hodo ito??….bereng ma bukku koor dohot BIBEL na di sugut-sugut an….nungga di abbukkon nakkinon alani murukna…..didokkon seatonna jala usir onna nama ho…..”

    Kenapa among saya marahnya seperti itu?…beberapa hari sebelumnya, Among saya juga nyari-nyarin saya karna sepulang dari sekolah, kerbau kami yang 2 ekor yang sudah menjadi tanggung jawabku untuk marmahan tak kuabaikan, aku asyik main DOMINO dan MAin QQ dengan teman-teman,….

    KEtika among ketemu saat saya main domino, dia marah sekali, pas among makan, dia manggil saya…lalu saya duduk didepannya….tiba-tiba baskom tempat cuci tangan sudah melayang ke mukakku,..dia bilang ” Pailahon do ho….tardok ho anank ni sintua……seat ma au bulus…..”

    Namun ketika malam itu among pulang dari markoor, dilihatnya saya lagi belajar di teras rumah kami, lalu dia menuju tempat keyboard di pojok ruangan, dia mulai menyanyi ” Anakku na burju…..” serius sekali!!!…..

    Ketika saya mau tidur, saya sudah masuk kamar, lalu dia mendatangi saya dan menyelimuti saya, among bilang ” nga mangan ho anggi??? panggilan ‘anggi yang sampai kini selalu diucapkan ke saya.

    “nunga bapa…”
    “Imadah, ikkon porlu do di iba janji, janji do hot dongan, janji dohot diri niba sendiri…..modom ma neh,…bagi salimut i tu anggimi….”

    lalu dia lanjutkan acara nyanyi-nyanyinya……

    dibalik selimut, saya cuman bisa menangis dan menangis……

  11. Lae Sihomb,
    tingkosdo na nidok muna i lae, sala ni amangna i do i, pasalpu hu hata dohot murukna tu anakna i. Alai, ise na so tupa sala? Laos so targorak do roha ni anakna i naung masihol situtu amangna i?
    Ibape hea do jinalo hata sisongon i, alai olat ni Tarutung do iba lari, mulak do iba muse dung hira hira loja halak i mangalului.
    Sada sipeopon do on di hita ama, tagan tarmuruk hita tu gellengta, unangma tagintali (bangkitkan amarah) ianakhonta i.

  12. Cerita yang sangat bagus tu hita angka natua2, molo muruk unang pasalpu hu hata tu akka ianakkon, dan anak juga terlalu cepat menterjemahkan muruk ni orang tua,orang tua marah karen holong marinakkon dan orang tua tidak ada yang jahat pada anak, asa unang terjadi songon cerita ni Ompu ni Junggara, ta ingot lagu Anak koki do Hamoraon di Au.

    Horas jala Gabe

    Mauliate.

  13. @sihomb

    Tohodo do nadidokmunai amang… ale dang iikon sononi sikap ni sitimbul.. baen majo ibana mahassit ni roha tu amongna… sae ma tu amongna dang adong hubungan… ale tu inongna dohot tu ibotona? unang2 inongna parjolo lao.. alani dang tahan manahan lungun…jadi molo di kasus on tong husalahon si Timbul…

    songon na didok ni lae Michael Siregar.. nga tabo ra ngoluna gabe lupa… jadi hampir sarupa mara i tu Simardan…

  14. HOras…..horas….
    @ Lae Regar, kalo memang ada sambungan ceritanya ya di muat aja lagi. karena kalau tak lae muat aku jadi penasaran berat ini bah. yah,,,kalo pun ceritanya tidak hepy ending ya gk apa-apa lah.
    @ Hendri gaol
    Horas Lae….
    Salam kenal lae gaol. Cerita lae juga menarik itu, kalo ada sambunganya bisa juga ditulis lae. tapi lae gk kesiangan bangun paginya kan, karena menangis satu malaman….hiks…hiks…!!! piss lae

  15. Mauliate di lae Hendri Gaol, di sempurnahon hamu ceritai. Alai laos mandok mauliate ma lae tu Tuhanta dipabolas dope lae diajari bapa nalambas roha.
    Berbuatlah yang TERBAIK semasa orang tua kita masih hidup, Unang dung mate dang adong lapatan ni i. Jadilah anak yang bijak.

  16. Adong do hea huboto songon on;
    Dung tamat sian SMA sahalak anak ni paranak, dipangido anak na i ma asa torus marsingkola tu parsingkolaan na tumimbo,alai didok natorasna ma, jolo hubereng jo haburjuonmu dohot pangoloionmu sataon on asa marsingkola ho tu napinangido mi.
    Dung adong sataon dipangido anakna i ma asa marsingkola ibana, hape pintor muruk ma amana i jala didok,molo naung sae diroham eme hasil ni naniula mi gadis ma asa marsingkola ho. Pintor laho do antong anakna i mangalapi partiga-tiga eme jala di suhati ma emena i,hape dang sadia leleng nari pintor ro ma Polisi ditangkup ma anakna i laos di tahan saborngin i. Alai marsogotna pintor roma sisolhotna jala ditobus ma anakna i sian tahanan polisi laos dipaborhat mangaranto.
    Dung adong manang sadia leleng berhasil ma anakna i di tano parserahan, jala mulak ma ibana parjolo mangebati sisolhotna na manobus ibana sian tahanan nauju i.Sian i ma nasida laho mandapothon natorasna. Sahat tu namarujung ngolu ni natorasna i sai tong-tong do anakna on mambalanjoi dohot mangalehon naringkot di natorasna,jala sahat tu tingki on lam mangimbuk-buk do huida hamoraon ni napinatahanhon ni amana i, jala nunga marsingkola nuaeng on pahompu ni ama-ama napahurungkon anakna i di amrik dohot di Inggris.
    Jadi molo hudok tu namoraon, diingot ho do nahinurunghon ni natua-tua i ho nauju i? on do alusna; “Alani posina i do umbahen bolas ahu songon on” ,jala hubereng sahat tu tingki on tung so hea do olo ibana margogo soara mangalusi natua-tua manang boha pe jut ni rohana dibahen natua-tua holan sip do ibana molo dung sotarjalo rohana hata ni natua-tua i.

  17. @ Lae Baginda
    : kalo ada sambunganya bisa juga ditulis lae. tapi lae gk kesiangan bangun paginya kan, karena menangis satu malaman….hiks…hiks…!!! piss lae……

    Memang sampai saya kuliah pun, heado tong naeng tangis au memereng burju ni bapakkon,..niatusan ma najolo, na-marTRUP on do sahit. Mulai sian pagi sahat tu botari holan mar trup…..suatu ketika, bapakku nitip surat-surat buat diantar ke kantor dinas P&K di Medan, dari kampung saya ke medan makan waktu 6-7 jam. Dia dah bilang, “Taruhon ma hatop anggi dah, ro pe au mangalap hasilna sekalian menaruhon balanjo muna….”

    Hape, dung mulak au au jam 8 borngin tu kontarkan, dunga modom-modom huhut manjaha koran bapa on, …husukkun, jam piga ro bapa?? alusna jam 1 siang….

    Bah….sian jam 1 siang sahat tu jam 8 malam mar -kartu dope au di Warung Tenda depan kampus USU,….Jadi do ditaruhon ho surat2 i?

    Saya nggak bisa bilang apa-apa lagi, dang among tau kalau saya belum melaksanakan perintahnya.
    LAlu tanpa komentar dia minta kutemani makan di BPK Padang Bulan. hingga jam 10 malam kami ngobrol disana.

    Ketika kami berdua tidur, dia bilang,….Dingolu on, adong do na porlu, adong na ringkot, adong na IKKON….on ma neh, ikkon gabe hu tinggalhon nama sikkola holan mangurus on marsogot, aut sura ma jalo ditaruhon ho, da nga boi iba mulak tu huta??…….

    Aku hanya diam membisu dan memeluknya, samapi aku bangun, ternyata among sudah bangun duluan dan teh manis sudah tersedia di meja berikut roti……

    Seumur hidupku, tak pernah keluar kata-kata yang menyakitkan kami darinya, itulah kesalutanku…aku pun nggak tau, kalo lagi marah atau tidak marah…hingga kini.

    hehehehhehehehe

  18. Kalau ini cerita, klassifikasinya terlalu Sad Ending. Kalau ini true story ini adalah jamita. Saya jadi teringat Alkitab tentang Bapa di surga yang tidak pernah menyatakan aku adalah tilahaNya sejahat apapun aku.
    Kesaksianku, ketika Bapaku pernah mau melaknat adikku yang membuat dia sangat kesal adalah saya suruh dia mengurungkan niatnya karena itu akan berakibat fatal dan akibatnya yang menanggung derita bukan cuma yang dilaknat tapi semua termasuk saya sebagai ahliwarisnya.
    Sipaingot tu angka dongan nanaeng gabe bapa manang naung gabe bapa, jadilah bapa yang lebih bijaksana apapun kesalahan anak-anakmu!!!. Bapamu di sorga juga sedih melihat kejahatanmu, sekiranya kamu boleh menyesali semua perbuatan jahatmu Dia akan menjamumu songon anakna parjalang na mulak i.

  19. Horas Lae
    @RM Napitupulu.,
    memberikan ular kepada anak kalau mereka meminta ikan?
    Kayaknya zaman sudah berubah Lae,
    Akhir2 ini kita sering tonton di tv, membaca di koran, bahwa Orang tua ada yang memperkosa anak perempuannya, suami membunuh istri demikian sebaliknya, dan Ada Bapak membunuh anaknya demikian juga sebaliknya,
    Apalagi Ayah Tiri atau Ibu tiri, yang semena-mena terhadap anak Tirinya.
    ……………………………. ……………

  20. Horas Lae’
    @RM napitupulu

    adakah diantara kita yg memberikan ular kepada anak kalau mereka meminta ikan?…..

    Zaman kayaknya sudah berubah Lae, jangankan memberi ULAR, sering kita disuguhi berita2 baik melalui TV maupun membaca Koran, tentang
    Bapak yg memperkosa boru kandungnya,
    Suami membunuh Istri demikian juga sebaliknya, Bapak membunuh Anaknya demikian juga sebaliknya.
    nga putor songon langkitang..

  21. mau koreksi acchh sama penulis…kok ompung jonggara Napitupulu panggil ito sama yg punya lapo br Sianipar ny Napitupulu..??
    btw ceritanya sedih banget…tp ada pelajaran yg kita ambil baik kita sebagai orangtua maupun kita sebagai anak.
    terusin ya Ito talent menulis cerpennya…bagus

  22. Horas, ai holan angka hamu baoa do na mambahen komentar, gabe maila iba masuk…. ( hehehe ) Ala na baoa do ra sutradara dohot pelaku utama ni cerita on ate..?
    Ai tu dia hamu angka ina i hamunaaaaaa…!…unang holan sitau manjaha antonggg…
    Jadi molo menurut ahu, dang adong na sala di sarita on.
    Ai wajar do Omp. ni Jonggara pasingothon anakna di na hurang denggan marpangalaho. Holan, adong tutu saotik na humurang ala tar salpu hatana tu anaknai naso patut sidohonon ni sada natua-tua tu ianakkonna ima: “Mulai sadarion…huetong ma ho naung tilahakku…!!!” Boha ma tutu roha ni si Timbul mambegesa i, tontu mandele do di rohana. Alai molo na sadar/bijak do si Timbul on, tung pe songoni nian pandokan ni amongnai tu ibana ingkon maklumanna ma nian, ai somalna do i, ala naung marsigor-gor do muruk ni amongnai hinorhon ni pangalahona.

    @ ito Hendry Gaol
    Menarik ceritanya, terutama pada :
    “Ternyata inong sudah menungguku dan banyak orang disitu, lalu inong menangis dia bilang begini ” Amang, matabuni ma jo ho satokkin, dison pe hai dohot bapatua nang akka tetangga ta on paombun rimasna innon,…diboto hodo ito??….bereng ma bukku koor dohot BIBEL na di sugut-sugut an….nungga di abbukkon nakkinon alani murukna…..didokkon seatonna jala usir onna nama ho…..”

    Ima sada holong ni ina tu ianakkonna. Songon na berbagi pengalaman saotik. Ia dakdanak di hami 2 halak (1 baoa 15 thn , 1 boru 12 thn ) dua-duanya saat ini sedang menuju masa remaja. Molo songon na humurang pangalaho ni ianakkon on, olo do iba mambadai/manang manonggak.
    Hea do di sada tingki, muruk au tu borukku toho dinahumurang ibana mangkobasi na porlu tu parsingkolaanna. Hu songgahi ibana sampe tumatangis sahat rodi borhat ditaruhon bapakna tu singkola tong sai tangis ibana. Ala na tong dibagasan emosi dope iba, ndang pola be lao roha manganju ibana. Tep ma, dung mulak bapakna manaruhon, husukkun ma atik boha dope sai tangis ibana di singkola, sai tong dope ninna, jala marrara huhut marbosol simalolongna. Madetuk ma rohakku, menolsoli ma ahu, dang tardok ahu be manang aha. Dina borhat au tu kantor, saleleng di pardalanan sai tong manolsoli au dibagasan rohangku, diparkarejoan pe dang tenang jala dang konsentrasi iba mula ulaon.
    Dung hira-hira mulak ibana sian singkola hutelepon ma ibana tu jabu, minta maaf au, hudokma tu ibana bahwa ahu salah dan sangat menyesal atas kejadian tadi pagi.
    Alai aha ma didok tu au: “ Mama gak salah kog, *kakak kog yang salah, kakak sudah bikin mama marah, kakak gak nurut sama mama..! Kakak nangis bukan karena mama marahin kakak, kakak nangis karena takut sama guru yang ngasi tugas itu….!” ( Bah…bah…bah… nga jelek be… ninna rohangku…. huhut senyum simpul ahu…..! )
    * Nama panggilannya sehari2

    Alai sebalikna molo bapakna do mambadai ianakkon on, tung mansai hancit do roha jala dang terima iba. Olo do gabe iba alo ni amanta, jala sipata ma haruar hata : “ Ido… ibaen na so ho manubuhon…, ai so dihilala ho attong na hansit i…., sampe dua hali iba tu paneatan ( ruang operasi )… !” ningon do. ( hahahha….maaf.. maaf… Asa mengkel do hamu angka ama i .. ) Horas ma di hita saluhutna.

  23. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada teman teman yang membaca dan memberi Comment di Cerita ini, meskipun ide cerita dari kisah nyata tetapi ini hanyalah cerita fiksi.
    @RM Napitupulu
    Setuju Lae.
    @Masian Donald Panjaitan
    Bah….gabe terharu hamu Lae alai unang pola bersedih ate.
    @Sihomb
    Seperti saya katakan masalah penafsiran itu terserah masing masinglah.
    Pernyataan Amangboru Betul sekali.
    @Hendry Gaol
    Sampai sekarangpun masih kelihatan hadalnya Lae…gaittu do i he..he..he..
    Sangat beruntung Lae mempunyai Orang Tua seperti Beliau, saran saya :Lakukanlah yang terbaik pada Beliau (kedua Orang Tua) semasa mereka masih Hidup, masih ada kesempatan untuk Lae, jangan nanti sesudah mereka Tiada, Lae membuat Tugu NaTimbo, pesta nan Meriah mewah…tak ada artinya buat mereka…dang marlapatan i Laekku.
    @G.Meha
    Mauliate Lae.
    @Hodbin Marbun
    Mauliate, tepat sekali keterangan Lae itu.
    @Batu Hapur
    Mirip miriplah Lae tu Simardan manang SiSampuraga.
    @Baginda Na70
    Bah….jadi penasaran Lae…tetapi kita tanyakanlah dulu sama Hasuhuton Bolon, Lae Naipospos, dan teman teman apa masih boleh dilanjut ceritanya ya…?!
    @Nanggor Pardede
    Lae sangat jeli melihat inti cerita ini, sebenarnya saya pribadi, inilah yang saya ingin saya sampaikan, seperti saya tuliskan diatas, jangan sesudah meninggal orang tua baru membuat pesta yang Wah, Tugu yang mewah dsb, tak ada gunanya bagi Orang Tua karena mereka sudah tidak bisa menikmatinya lagi.
    Menyenangkan Orang Tua bukan hanya materi, dengan berkirim surat atau berteleponpun sudah membuat mereka merasa di ingat dan dihargai.
    @Bonar Siahaan
    Bah…adong do hape nasongono?! Alai tuanima Anak ni Amanta i mambuat hikmah tu na positif
    @Salngam
    Itulah sebabnya Lae, saya jadi ragu…apakah perlu di lanjutkan atau tidak.
    Kalau dikatakan Jamita…terlalu berat itu Lae…, amin Lae, Mauliate.
    @Pontas Edi Simanjuntak
    Memang banyak kejadian yang aneh sekarang ini, tetapi bukan berarti kita harus ikut ikutan kan Lae…?!
    @Ari
    Mauliate Lae.
    @Estonhasiant
    Ai i mada Lae….alai di Sibodiala Listrik pe so sahat dope tikki i….
    @Indah Sitepu
    Baru belajar Ito…Terima kasih.
    @Nana Simarmata
    Partuturon mereka kan antara Ompung dan Pahompu, jadi agak bebas, untuk lebih akrab dipanggillah Ito…kalau marparumaen, tidak boleh…harus panggil Inang Parumaen.Ceritanya memang sedih, sebenarnya masih ada lanjutannya sampai si Timbul Pulang kampung, menurut Ito perlu di lanjutkan nggak?!
    @Desy Pardede
    Asa unang dirippu Ito namardikkan Iba, adong do husurat Ito tentang Boru Batak, judulna IMBAR NI BORU HITA DOHOT BORU AMERIKA diBlog hu ima: http://michaelsiregar.wordpress.com/ alana hurang tabo tu Hasuhuton Bolon molo pagodang hu menumpang iba, molo adong tikki ni Ito asa jaha hamu nian, Mauliate.
    @Rondang Siallagan
    Semoga Ito….

  24. @ Michael Siregar

    Dang na mengada-ada ahu di nahudok i, jala calon DPR Pusat do nuaeng ibana sian daerah pemilihan Kepri. Hurang suman do molo hupaboa ise goarna alai tangkas do hutanda halakna.

    Horas.

  25. Ceritanya sedih benar …. ( las songoni nasib ni O. Jonggara namarianakhon i ) mate soadong mamereng . tung godang do kehidupan ni halak batak on naboi gabe turiturian.

  26. lungun do nian cerita i. tapi ada hal yang harus kita ingat terlebih orangtua :
    hamu ankka natua-tua nami, unang pa salpu-salpu hu mandok hata. jangan terlalu kasar berbicara. lidah itu berkuasa, jadi hati-hati. molo dang lomo roha ni natua-tua nami ro ankka na so suman tu hami gelleng muna on ba akka hata na denggan i ma pakaluar hamu

    janganlah keluar kata-kata kotor keluar dari mulutmu, tetapi biarlah kata yang baik dan benar dan membangun, sehingga setiap orang yang mendengar akan diberkati.

  27. Songon i do na lalap diparlalapan, asa “tinallik bulung sihupi, pinarsaong bulung siala, unang sumolsol di pudi, ai ndada sipaingot na soada”, dungi asa unang ma “nai humalaput tata indahanna, nai humarojor mabola hudonna”.
    Dungi, asa unang masa, ia ditingki ngolu ni amanta dohot inanta natua-tua i, ndang dipardulihon, dung peak dipodoman dilehon sipanganonna, hape ndang boi be dipangan.

  28. Gabe taringot do au tu Tungganekku/Laekku namar goar Roben situmorang sian huta lumban lintong samosir simbolon, Tong ma songonon dang mulak -+ 30 Tahun, Atik boha adong manada asa dipasahat jo tu ibana nungnga masihol situtu sude keluarga naeng pajumpang dohot ibana, Jala amang simatua i pe nungnga marujung dang pajumpang dohot ibana, hape tikki dingoluna tung harap situtu do rohana naeng pajumpang dohot laeon.

  29. ngeri ni caritai poang lae michael…….
    tung pola manetek ilunghu manjaha carita i.
    gabe taringot ahu tu hahangku…….
    memang dang pola songon i sampe diusir, jala ndang sampe dodok damang gabe tilaha na. denggan do nean di paborhat tu parjalangan. sampe dipataru dope muse sahat tu tujuan.
    alai parlungunhu alani bandalna do naeng2 dos ma tu carita ni lae on…..
    horas…….!!!!!!

  30. hhhh…lae michael..
    atik pe dang pas sarupa tu ahu, alai gabe tangis doahu manjaha turi2an muna i.Tung on ma lungun ni rohakku di par”lao” ni Bapa nahuhaholongi na tgl.2 mei 2009 i.Saotik historis uju ngolu ni bapa nahuhaholongi on, nasai mabuk ma ulaon na ganup ari, bincar mataniari dang bukka dope parlapo, nga hundul bapa nami on paimahon tuak.”Molo dang ro dope tuak inang, ba tuak sinabodari petaho masuk doi…”, ima addung ni parlapo tuak i ditikki par”lao” ni bapa on..las ima akka sikap ni bapa namambahen hurang siholhu tu bapa..(ngamarabur muse ilukku lae…)

    godang do akka donganna parmabuk hutanda, alai tong do diparate atehon tu jabu..alai bapa namion (ndang naparoa2hon), olo do sai holan na “gaor” molo ngamabuk mulak sian lapo. jadi sahat tu ujung ni ngoluna, (ahu diranto) molo martelepon ahu jarang do rikkot rohakku mangkkatai dohot bapa nami on (tung pe dibagas rohakku sihol hian roha makkatai).1.5 taon ma naso jumpang dohot bapa, paling holan 3 hali hami makkatai di telepon,terakhir mai borngin sebelum ari hamateannai.

    Hape tep mai tgl 2 mei 2009 i, marujung ma bapa nami on di kecelakaan maut, di jl raya sidikalang 3lingga km 11 (letter Z) desa silumboyah,dalam perjalanan dinas tu puskesmas Tigalingga.Disi sahat ahu,parumaenna dohot pahoppuna di jolo ni bakke na..ndang tardok ahu be manang sakkababa hata, ala ni gok ni rohakku di parlao nai.Dung pe sajom sai hutatap bakkenai, haruar ma sude panolsolanki, lungun ni rohakki, sihol nirohakki, sakkap nirohakki……
    Bulan ualu ma rencana ro Bapa dohot Oma tu ranto nami laho marlas niroha mamasuki jabu nami “…gabe gotap mai amang…….”.
    (Tu ise be hatahononku bapa…) on dope sanga marhosa diranto, naing manian sanga binaen nadenggan tu bapa, alai las lao do ho..Godang Ni dosakki Tuhan….maradophon bapa i…

    lae michael…
    ibaenna hupasahat pe cerita pribadion, asa tung unang nian akka dongan naasing mangalami songon na huae on…Inti na..:
    “Tung sadia pe balga ni sala ni natua2tai, tung sadia pe hahurangan ni natua2tai, dang boi hita gabe marsogo niroha tu nasida…”

    Songon nidok ni situa2, Natua2 i do Debata NaNiida..dang be tarsolsoli ahu…mangido ma ahu tu hamu akka dongan nadi dunia maya on asa tangiangkon hamu nian asa anggiat dijalo Bapa nami on di siamun ni Tuhan.

    mauliate lae regar…
    horas..

  31. naeng adong hian do surathononku alai dang jadi bei. holan manjaha sude komentar na masuk on, amang tahe, godang ni na hansit i ate na masa na uju i.
    horas ma lae.

    asa lam pas, putar lagi pasangannya, asa lam ngeri, lam bernit, lam paet, lam doras ilu i…

    MULAK MA HO ANAKHONHU
    Ciptaan: Fredy Tambunan
    Vocal: Santana Trio

    Mulak ma jo ho anakhonhu
    Mulak ma ho amang anakhu na burju
    Asa bulus usehononhu ma ilungku di jolom
    Mangangku sala ahu amang di pambahenanhu
    Huboto do hansit roham marnida ahu saleleng on
    Naeng ummaonhu ho laho pasombu siholhu

    Sap-sap so magulang da amang
    Luha so tarbunihon i sinahinan
    Hurimpu ajar na denggan i ajar buriapus i
    Hape balik do i nuaeng dangol di ahu
    Ipos pangalinsinganhi bogas ni pambalbalanhi
    Sotung ma i marbogas tu partondionmu

    Pitu-pitu lili sadari, tolu-tolu hotang matipul
    Lala tu dagingmi amang
    Ima na sai husolsoli, ilungku ma marabur-abur
    Molo huingot i amang

    Mulak ma jo ho anakhonhu
    Mulak sian ias ni roham
    Oloi pangidoanhon sahali pe
    Paima mate ahu haduan
    Asa sonang rohangku naung matua on
    Di son ma tapasae sasude

    Dududu…dududu…hahaha…hahaaa…
    Dududu…dududu…hahaha…hahaaa…

    …Mulak tu: Sapsap so magulang…d.u.

  32. bah puang….gabe manetek do ilu niba di baen cerita ni tulang on.
    tapi bisa juga dijadikan pelajaran….
    mauliate ma tulang, merasa beruntung do au mambaca artikel on daba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s