DI BATAK, NAMA ITU PENTING

Monang Naipospos

Saya hendak memberi komentar pada tulisan lae Suhunan Situmorang Cucu Panggoaran. Cerita itu menggelitik membuat saya tertawa.

Setelah saya hendak memulai menulis komentar, otomatis tertunda. Saya teringat juga tulisan Ama Morlan Simanjuntak (Panggorga) tentang arti sebuah nama. Namun, saya melihat subsansi cerita Cucu Panggoaran yang lebih luas dan tidak sekedar membuat saya tertawa karena “Biangta Najingar”, tapi ada upaya menemu-kenali yang hilang dari permukaan kehidupan Batak memaknai sebuah nama. Batak tidak berpikir seperti William Shakespeare, karena di Batak, nama itu penting. Seorang anak sulung lahir, namanya akan disandang oleh ayahnya. Bila ayah atau ibunya anak sulung maka kakeknya juga akan menyandang namanya. Inilah nama “Panggoaran” yang selalu dipilih secara khusus dengan melibatkan orang yang akan menyandangya. William Shakespeare dan Tan Ceng Bok tidak memaknai ini karena di etnik mereka tidak menemukan hal seperti yang ada di Batak.

Batak mengenal dua pemahaman tentang makna sebuah nama, yaitu goar tulut, goar abalan dan mampe goar ;

Goar Abalan

Dengan harapan seperti nama itu kelak akan terwujud dalam hidup dan kehidupan lebih luas dalam klan, keluarga itu dan diri sendiri yang menyandang nama.
Bila goar abalan itu tak dapat disandang dan selalu berdampak terbalik, maka kadang diganti dengan nama lain dengan proses manggoar-goar. Setelah dewasa dia berkeinginan menggantikan namanya. Dia mempersiapkan itak gurgur dan berkeliling kampung menemui semua penduduk/klan memberitahukan namanya yang baru dan kepada mereka diberi kepalan itak gurgur.

Abalan adalah ruang kosong yang dapat dikembangkan dalam berbagai kepentingan. Abalan ni huta, adalah tempat kosong disekitar harbangan (pintu masuk) kampung yang digunakan sebagai partungkoan dan tempat istirahat sementara para tamu yang akan melaksanakan adat ke penghuni kampung. Abalan ni uma, adalah ruang kosong di hulu petakan sawah yang biasanya digunakan saat panen (mardege) dan tempat perbekalan pekerjaan ke sawah.

Goar Tulut.

Adalah nama yang diberikan kepada anaknya sebagai peringatan atas pengalaman hidupnya. Najringar bisa saja dianggap goar tulut karena ada kenangan terhadap yang punya nama, berkesan dalam hidupnya saat menolong proses persalinannya. Biasanya karena ada kelebihan diatas rata-rata, jadi bukan latah karena dia seorang dokter biasa saja. Si Paet, menjadi nama tulut (tulutan) karena selama ini mereka hidup susah dan selalu dalam penderitaan. Harapannya kedepan tetap seperti tujuan goar abalan.

Mampe Goar

Adalah menamakan kembali nama leluhur kepada anak yang lahir. Karena nama leluhur itu tidak dapat semena-mena disandang keturunannya, maka semua klan keturunan leluhur itu harus diundang untuk menabalkan nama itu. Kesepakatan dapat dimaknai agar nama leluhur itu hidup kembali. Biasanya bila kesan leluhur semasih hidupnya banyak nilai positif dan nama itu menjadi nama kebesarannya.

Apa kita malu menjadi Batak ?

Ada sahabat saya yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dari saya memberikan nama anak-anaknya aksen Jawa. Saya bertanya kenapa. Dikatakan bahwa pada masa mudanya, ruang kompetisi bagi orang batak apalagi bila dapat dikenal langsung dari namanya sebagai orang batak akan mendapat kesulitan. Tapi saya tidak pernah mengalami persoalan itu saat ini. Apakah itu dulunya menjadi dasar para orangtua kita meninggalkan nama Batak dengan menyandangkan nama Jawa dan Barat kepada anak-anaknya?

Sebagian menjawab ini ada benarnya, dan sebagian lagi adalah dasar “kerennya”. Nama batak kurang keren. Banyak anak muda mengeluh dan protes kepada orangtuanya karena membuat namanya misalnya Marojahan sehingga dia harus susah payah memperkenalkan diri menjadi Jack. Pengamat sosial sekaliber Prof. Dr. RM. H. Subanindyo Hadiluwih, SH, MBA mengatakan, di masa sekarang ada pula yang mengelak dari identitas etnik dan atau keturunannya. Banyak orang “Jawa” yang mengaku bernama pak Siman, rupanya Simanjuntak, atau pak Mangun, ternyata (Si) Mangunsong. Sementara pak Sutopo aslinya malah Sitepu.

Dengan nama bukan batak, ditambah keengganan menyebut marga, dilengkapi dengan ketidak mampuan (atau kepura-puraan) berbahasa Batak, maka lengkaplah kita menciptakan lost generation dari akar budaya batak.

Sisi lain dari cerita Cucu Panggoaran adalah kesan, lebih berharganya sang mertua dari ayah-ibu sendiri. Normalnya adalah sebanding. Nai Bingta Najingar adalah paniaran penerus (sipagopas parik) klan Ama Binagta Najingar. Keraguan Nai Posma lengkap sudah, walau saya tidak mengartikan karena dia bukan boru batak. Boru Batak sendiri ada saja bertindak seperti itu. Banyak boru Jawa yang yang sangat klop disebut boru Batak karena menguasai dan melakoni adat istiadat Batak dengan baik.

Karena kemiskinan Nai Posma mungkin tidak membawa suaminya berobat ke Rumah Sakit. Memang diagnosanya tidak disebutkan, tapi mungkin saja kalau dilakukan pemeriksaan, dia sudah layak dibawa ke rumah sakit. Orang berada biasanya kerepotan mencari tempat berobat seperti ke Penang dan Singapore. Saya dapat mengeti apa yang dikatakan para orang bijak; “orang berjiwa besar akan berlari walau ada luka menganga di pundaknya, orang berjiwa kerdil akan meraung dengan luka kecil di kakinya”. Saya banyak menemukan orang di pedesaan tanah Batak yang memendam rasa sakit dalam tubuhnya untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Mereka lebih utama dalam pertimbangan kelangsungan hidup anak cucunya daripada menggunakan dana untuk mengobati penyakitnya yang sebenarnya sudah parah. Akhirnya “diboanhon” ditahankan.

Dalam kondisi ini, Ama Biangta Najingar tidak respon walau Nai Posma mengabarkan ayahnya sakit ditinggal dikampung. Kondisi seperti ini sering terjadi, menderita sakit, sementara diperkuat dengan bunga ni roha, bunga hatinya atas kelahiran sang cucu yang kelak namanya disandang menjadi “goar hatuaon” nama kehormatan sebagai kakek/nenek. Bagaimana kira-kira kondisi si Ompung Doli, Ompu Biangta Najingar mendengar berita yang akan dibawa Nai Posma dari Jakarta?

Suhunan Situmorang kuduga akan menguak banyak tabir kehidupan kita Batak ini. Aku harap cemas juga, dari sisimana nanti kena peluru cerpennya. Tapi bila dimaknai dengan serius, mungkin ada sugesti membawa perubahan perilaku post modern yang banyak menyeret kita dari etika habatahon, sikap sosial masyarakat dan lingkungan.

Teruskan lae Suhunan, karena nama itu ada arti yang dalam. Dalam contoh bahasa batak yang diberikan orang tua ; Sian naumpeop tona do suhunan barita, sian naumpeop arta do suhunan pandaraman, sian naumpeop bisuk do suhunan parbinotoan.

39 thoughts on “DI BATAK, NAMA ITU PENTING

  1. Dung nijaha hatorangan on , gabe ro tu pikkiran alani do hape asa jotjot natuatua niida mambaen goar ni pahompuna khususna si akkangan ( pahompu panggoaran ), ingat masa lalu ( parningotan ), masa sekarang ( saat lahir ) & masa depan ( harapan ) Mauliate tulang…

  2. Tulang naburju,
    Toho situtu ma i attong,
    unanghon i batak, sugari lao mambaen goarni sada produk iba, niluluan do filosofi ni goar i, lapatanni goar i.Apalagi ma jolma, na lao mamboan marga (tarlumobi baoa).Gabe aha do efekni goari muse tu na mamboan goar i?
    Sude ma i gabe pertimbangan:-)
    Dang i tahe tulang?

    *** Botul ito

  3. Terimakasih kepada amang Naipospos atas kesediaannya menuliskan topik ini.
    Pada kesempatan ini, saya ingin menanyakan mengenai masalah “Cucu Panggoaran “

    1. Kami 8 bersaudara. Yang pertama perempuan ( kakak saya ), anak kedua laki-laki ( ito saya ). Kakak saya menikah dan lahirlah anak perempuan ( Nurmala ), maka panggoaran ni natua-tua i adalah: Omp.ni si Nurmala. Setelah ito saya menikah, lahirlah borunya ( Lenny ), lalu panggoaran natua-tua ini berubah menjadi Omp. Lenny. Cukup lama ito saya ini menantikan kehadiran anak laki2 ( sampai 5 borunya ) Tapi atas berkat Tuhan, kemudian ito memperoleh anak ke 6 laki-laki.Ito minta agar bapaklah yang memberi namanya, maka bapak beri nama: Samuel Liberty. Liberty adalah nama ompung saya, tapi kata bapak nama Liberty “dang goar sipajou-jou on”, karena itu adalah nama bapaknya ( Ompung saya ) Pada satu kesempatan ito saya pulang ke kampung untuk mengganti nama paggoaran ni natua-tua i, dari Omp. Lenny menjadi Omp. Samuel secara adat. Maka sejak saat itu resmilah natua-tua i menjadi: Ompu Samuel.
    Nah, pada waktu bapak meninggal saur matua, ketika Tulang saya ( marga Lubis dari Parsoburan ) hendak pasahathon ulos kepada almarhum, Tulang saya ini bilang bahwa panggoaran bapak sebenarnya adalah: Ompu Lenny, bukan Ompu Samuel. Tulang saya bilang: “ Molo hami di toba tokka do sisongoni, nang pe boru si Lenny, tong do anak ni bapakna i !” Kamipun heran, mengingat bahwa kami juga dari Toba Kejadian ini juga terjadi pada saat mama meninggal. Pihak Tulang saya tetap mengatakan seperti itu.

    Demikian juga pada keluarga suami saya ( simatuakku par Humbang ) persis sama dengan yang saya utarakan di atas yaitu cucu pertamanya adalah dari borunya yang I, yaitu: Omp. ni si Vera, Kemudian ganti lagi menjadi Omp. Martha ( Putri pertama dari anaknya yang I) Sekarang menjadi: Omp. Marthin ( Putra 1 dari anaknya yang I ini juga )

    2. Lain halnya dengan Bapatua saya ( Abang dari bapak saya ) Bapatua ini mempunyai cucu perempuan dari anak pertamanya: Omp. Clara. Kemudian lahir cucu keduanya laki-laki namanya Simon. Tapi hingga Bapatua ini meninggal, panggoarannya tetap Omp. Clara, bukan Ompu Simon. Kog bisa beda ya? ( Padahal Bapakku dan Bapatua ini kan martinodohon, dan sama-sama berasal dari Toba juga )

    Yang menjadi pertanyaan saya adalah:
    – Mana yang benar diantara 2 versi yang saya sebutkan di atas?
    – Apakah benar bahwa pada setiap daerah khususnya di Tapanuli, pemberian “ Cucu Panggoaran” ini memang berbeda-beda?
    Mauliate. Horas..

    *** Yang benar apa yang dikatakan Tulang itu pada point 1.

  4. *** Yang benar apa yang dikatakan Tulang itu pada point 1.

    Tolonglah amang kasih penjelasan ( sedikiiiiiit saja…! )
    Supaya bisa jadi pertimbangan untuk yang akan datang
    Mudah-mudahan Tuhan kasih umur panjang hingga saya “marpahompu”, supaya gak salah lagi. Mauliate. Horas.

  5. Lae, jadi ketahuan deh (amang tahe tuit nai ate, pakai ‘deh’) arti namaku dalam Bahasa Batak. Selama ini kan selalu kubilang ke teman atau kenalan bahwa nama itu berbau nama Raja Jawa, biar keren:-) Daong bah lae, sasintongna, tung mansai bangga hian do au jadi Batak. Pangoaranhu pe mansai khas Batak do: Amani Jogi.

    Mauliate do dohononku tu Lae ala dipatorang hamu maknani goar tu hita Batak; jujur, sebuah pengetahuan baru. Hurimpu hian do naung malo au taringot habatahon, hape godang dope nasohuboto dung nijaha angka nanisurat muna, Amang Bonar Siahaan, dohot naasing di blog on 😦

    taringot cerpen Lae, songon na hea hudok di blog on, tertarik hian do au menggali masalah-masalah kearifan lokal, budaya, dan kehidupan manusia Batak (na maringanan di Bonapasogit manang di parserahan) jadi bahan cerita manang esai. Nanggo apalai naboi bahenon tu ‘Dunia Batak.’ Alai porsea ma Lae, dang nalaho tembakonhu hamu Lae melalui cerpen… Hea doi, Lae?:-)
    Paima ma Lae, hugurati pe torus angka serpeni molo so “digugai” si Desy Hutabarat dht si Lidya Hutagaol. Sai olo halahi nadua nuaeng mangajak au mar-chatting.
    “Tulang, didia ho, bahen jo au mengkel,” inna si Desy. “Bang, aku lagi sumpek nih, cerita yang lucu-lucu, dong,” inna si Lidya muse. Bah, ai nadirimpu halahi nadua do naeng au ‘Ama Lompas’ ?:-)

  6. Aku jadi teringat kalau pulang kampung ke Bona pasogit, kebanyakan orang orang tua memanggil saya si Mekkel, bahkan Ompung sayapun memanggil demikian…saat itu kesal juga sih…nama Michael koq jadi Mekkel…tetapi sekarang kalau ingat itu sayapun jadi Mekkel….he..he..he..Horas ma dihita sasudena.

  7. horas..
    tu amang naipospos,ito br sirait,ito desy hutabarat dohot ito desy pardede..

    sattabi ma,songon umpasa ni halak melayu..ndak kenal ndak sayang geto..
    ahu ma si INGOT SIMATUPANG ima sian huta muara..ale pos do roha molo margoar batak on..hot do tondi gabe jolma na boi si boan barita nauli,tarlumobi di goar ni iba..SI INGOT..
    gabe di hamu akka dongan dohot ale-ale..unang pola maila hamu mamasang goar batak i..ai ido nauli..
    SINTONG,ULI,LUHUT,POLTAK,ROSMA,GABE,POSMA dll

    horas..
    sian Toba Na Uli

  8. Uda,…kalo dibilang penting, ya penting. tapi kadang yah..aku perhatikan, seolah nama itu tak penting. Bahkan tidak diperlukan. Coba, kita lihat, begitu sesorang menikah, maka pada umumnya mereka langsung menyingkat namanya. misal H. Lumban Gaol untuk nama saya. Coba deh uda perhatikan…

    APalagi kalau di kampung, mungkin amsih ada diatara para netter yang baru tau nama asli bapaknya setelah dia MSU atau smp, itu artinya nama itu tak begitu penting.

    Tapi sebaliknya neh……
    Saya dulu sering berantem gara-gara batu bata. Datanglah kawan ini, dibilang lah kek gini, nion ma bapakmu, jala nion bapakmu. ninna dongan on, huhut ma didok muse ” molo barani do ho, dege ma jo batu on….”
    Holan ni dege, tor didok ma muse tu iba…ianggggg,…nunga didege bapakmu.
    Toeee…tor goari bapak nai,…

    Lalu dengan semangat aku menyebut namanya dengan mengganti satu huruf dari nama itu.

    itulah kali pentingnya nama itu…..

    Setali tiga uang, memang molo di pete-pete, jarang orangv menyebutkan marga, dan dengan santainya menghilangkan marganya.

    je bingung do iba sipata….

    ia adong goarda,….ta singkat-singkat do on, jala tor muruk do hita molo adong pahganjanghon goar ta i. dang tudia juljulon

    songonima jo akke

    h. lbn gaol

  9. adong siribur-ribur taringot to goar na nilehon tu ahu, ianggo goarku apala ganjang do, Tahi Marojahan Binsar Paraningotan Napitupulu. boasa masa sisongoni….. ala holan ahui do sian sasude ianakon ni na tua-tuai na tubu di huta, angka anggi dohot angkangku tubu di [pangarantoan do, jadi bahat halak na mengalehon goar tu ahu, ima sian amang, sian ompung panggabean , sian Ompung Napitupulu, jala ndang huboto sian dia do na sada na i ro (Parningotan) i,
    Ala bangga do ahu di sude giar na nilehon i tu ahu. masa do sahali ditingki naeng mangoli ahu tu inang ni dakdanakkon (boru Simanjuntak), dibahenma boaboa , alai ala paganjanghu goarku di singkat ma i gabe TM Binsar Parningotan. Apala muruk do ahu dibahen i

  10. marmassam-massam do pandapot ni sada2 halak taringot tu goarna, adong do sada halak hutanda, margoar Harangan, ala ni ila na i diuba ma goarna gabe Rand, adong do deba nae na margoar Bongguk alai, muruk do ibana molo jouon goar na i, ingkon jouon ma ibana Bony,
    Alai adong deba nai na margoar Manumpak Bogart, ingkon jouon do ibana Bogart.
    Na rumibur, si Jemes(jouon mai di hata Ingris jems) alai inanta monjou ibana si ….Jaaames..!!

  11. @ desy pardd

    Maaf ya pertanyaannya tdk bisa cepat saya jawab. maklumlah, sekali seminggu saya ke warnet di Balige. Sekarang warnet selalu padat walalu sudah semakin banyak😉 karena anak muda supah pada internetmania. Kemajuan juga, tapi sial bila tidak ada kesempatan sore hari.😀

    Tentang panggoaran itu memang ada saja tingkah polah orang batak melakoni secara berbeda.

    “Pada satu kesempatan ito saya pulang ke kampung untuk mengganti nama paggoaran ni natua-tua i, dari Omp. Lenny menjadi Omp. Samuel secara adat. Maka sejak saat itu resmilah natua-tua i menjadi: Ompu Samuel.”

    Ini tidak lajim ditemukan bila cucu sesama dari anak laki-laki tertua. Selama hidupnya dia dapat terus dipanggil Ompu Lenny. Kelak setelah Ompu Lenny Doli dan boru sudah tiada, keluarganya dapat menyandangkan nama Ompu Samuel dalam silsilah, jadi tidak perlu dilakukan adat pertukaran karena tidak lagi menjadi panggilan sehari-hari. Bila tulang menolak, artinya beliau menganggap nama itu masih panggilannya karena pada saat upacara pemakaman panggilan semasih hidupnya mungkin masih dianggap berlaku.

    Ada ketakutan para orang tua nanti bila selamanya disebut panggoaran dari anak bila dia perempuan. katanya, cucu perempuan itu akan menjadi milik marga lain dan pindah “huta” jadi buru-buru ditukar. Kebiasaan ini ada juga beberapa ditemukan di Toba

    “Tapi hingga Bapatua ini meninggal, panggoarannya tetap Omp. Clara, bukan Ompu Simon.”

    Ini adalah kebiasaan. Bila selama masih hidup tetap panggilan, Ompu Clara. Bila kelak Ompu Clara sudah meninggal dunia keduanya, pada makamnya dan silsilah dapat ditulis Ompu Simon. karena urutan nama Simon ada dibawahnya, Clara tidak ada.

    Apa yang diutarakan diatas acara adat pergantian nama panggilan cucu boru ke cucu anak artinya tidak utuh karena tulang tetap menolak, atau saat acara itu tidak diundang.

    Di Batak lama, nama para leluhur buasanya adalah sebutan Ompu dengan menyandang nama cucu seorang laki-laki. Bukan tiadak mungkin diantaranya semasih hidup menyandang panggoaran ompu dari cucunya seorang perempuan.

    Nama para leluhur, tidak semua berdasarkan nama cucu, karena sebagian mereka memiliki nama kebesaran.

    Selamat berdiskusi ito, mungkin yang lain masih ada yang dapat menjawab pertanyaan ini. Mauliate.

  12. @dessy pardd
    hmmm…sebenarnya ga lazim sih. Soalnya BapakQ anak pertama, dan kkQ yang pertama namanya Lilis. Jadi, mulai dari dulu ampe sekarang, dia tetap Oppung Lilis meskipun sebenarnya aku punya adek cowok, tapi nama panggilannya ga diubah tuh…

    tapi adat (meskipun sama-sama Batak) kadang2 beda di masing2 daerah…
    :-)

  13. Aduh kasian juga ya amang “ngenet” nya sampai ke Balige. Tapi tidak ngantri kan…? Dang apala na tarlambat dope nian amang, alai na yakin do au bahwa suatu saat amang pasti akan menjawab permintaanku itu.
    Ai adong do hata na mandok : ” Lambat adong na pinaimana, Hatop adong na niaduna”, Mauliate godang ma amang di hatorangan muna i, alana lam tamba parbinotoan.
    Salam buat keluarga di Bona Pasogit. Horas

  14. @ Dessy Pardd

    Ima daba ito. Ai kegilaan nama na ngeblog on. Mulak sian balian, ba lao tu warnet botarina. masisoroan tempat duduk dohot dakdanak sipata. Songon istilah ni si Mekkel Siregar kasian deh gua …. hahaaa…
    Yang paling sial saat melakukan moderasi komen dari HP, wah terhapus semua komentar. Sudah pernah aku diprotes halus oleh kawan-kawan. Antar hudok ma alani Akismet, hape au do na sala. Ima nahuhatahon dison https://tanobatak.wordpress.com/2008/09/29/kesalahan-akibat-keterbatasan/ Daga tahe, sai marlapatan ma angka naniula on ate ito.

  15. @ Suhunan Situmorang

    Boi do porsea au disi, na sai manggugai si Lidya, ai nunga leleng ibana dang mangisi blogna i. Somalna sai masihol do iba manjaha puisi tao toba sian ibana, nuaeng nunga jarang. Produk ulos na i pe dang dipabotohon dope hape nipiniba nunga pinaboa tu ibana. Hirim do roha adong horja bolon pataridahon pinaulina i.

    Tenang ma lae taon baru on mulak do ito Desy Hutabarat, dang pola sai gugaanna be ale selama sabulan i😀 Berarti boi ma selesai 3 serpen parbue ni angan-angan Najingar i ate!.😀 Unang paboa lae lapatan ni natahatai on tu si Lidya da, binsan so diantusi😀

  16. Amang…
    buatku menulis itu adalah mengeluarkan yg ada di hati ini.
    sow, kalo hati lagi tak terpanggil untuk menulis, ya… begitulah blogku itu😉

    Mengenai produk ‘halakhita’: aku menunggu waktu yg tepat utk memberitahunya ke Amang sekaligus melemparnya ke pasar yg lebih luas.
    Kalau Amang sering mampir ke Facebook’ku, pasti sudah liat beberapa produk kami.
    (Kalau Abang2ku: Suhunan Situmorang, Charlie Sianipar, Robert Manurung & anggia Desy Hutabarat uda lihat langsung malah produk2 itu aku pakai😉

    Saat ini mmg strategi kami seperti ini dulu: mouth to mouth.
    Dgn mouth 2 mouth saja responnya sudah lumayan (ditandai dgn orderan seragam aplikasi ULOS dr salah satu instansi di Jkt & seragam Paduan Suara NHKBP salah satu distrik di Jkt juga, dan order personal lainnya).
    Takutnya kalau kami buru2 ‘go public’ malah tidak bisa memenuhi semua permintaan*hehehe.takut keburu promosi tp tak bisa mendeliver hasil sesuai janji*

    Tunggu aja tanggal mainnya ya Amangboru:)

    mauliate godang
    ^_^

  17. Goar, nama, goran, memang tak selamanya menggambarkan kepribadian orangnya, tapi itu adalah harapan, karena Tuhan juga menyapa kita dengan nama itu…ido tahe??? toho di???hihihihihihi……….

  18. Ito…. salut do au mamereng haringgason muna mangaradoti partungkoan on. Sada na pantas siihuthonon ni generasi naumposo.

    Nunga pola tutu marumur 50 lobi, alai tong dope dilehon rohana laho pabaritahon habatahon i, nangpe holan mulak sian hauma do ito mar internet. Alai molo naeng tu ladang ito, boi do cangkul i dipamasuk tu sakku ni baju kan.. ? hehehe…. Pos ma roha ni ito, marlapatan do sude angka naniulamuna i ito. Hape ia iba hampir ganup ari do pinatiop-tiop “bagudung” ehh.. “mouse” on, alai so niantusan nanggo apala mambahen blog…. kecian dech guee….hahhaha…..!
    Tuani ma dang sala pincit be ito, alana molo tarhapus do commenthu na ganjang i, bah.. marsamburetan ma ate..!
    Tabe sian Jkt, tu keluarga di Bona Pasogit. Horas

    @ Amang Bonar Siahaan

    Ai songon na sepi-sepi amang…… Nunga boha barita ni A. ni Benget nuaeng …? Hipas-hipas do nasida..? Nunga malo be ra Nai Benget marhata batak dohot martutur ate….hahaha

    @ Ito Suhunan Situmorang

    Nunga boha barita ni si Tarina. ito..? Tu marga aha do saut dipakke ibana kebaya pengantinna i …?
    Suang songoni nang si Merlin, nunga muli tahe… ?
    hahaha…

    Horas

  19. @ Ito desy pardd

    Ama ni Benget sehat do nuaeng, alai nialap ni si Bengat songon na hurang ringgas mulak tu hutana dung sidung dibulang-bulangi nasida.

    Molo ahu songon na sompit tingki nuaeng manurat-nurat, ala marsikola ahu tu sikola met-met. Jadi tangianghon ito asa haru tumibu sidung parsingkolaanhon asa bolas muse hita mar-situriak di internet on, Mauliate di hamu.

    HORAS.

  20. hoas lae monang…..yang selalu monang kayak namanya
    ini lah arti dari sebuah nama yakan lae

    *** Kenyataan lae aku sering kalah, mengalah, kecewa dan menderita😦

  21. Soal nama ini memang banyak pendapat. Bisa sangat penting, tapi bisa juga sekedar identitas biasa.

    Sahat tu sadarion, sai sungkun-sungkun dope rohangku di goar ni anggikku. Monding ibana tingki poso, secara tiba-tiba peak langsung koma. Dang boi dideteksi dokter aha penyebab sahitna. Sampulu air di koma RS, selesai ngoluna.
    Ninna rohangku ma, napaborathu do ulaning goar i di ibana. Siampudan ibana, goarna Raja Manumpak Haholongan.

  22. @desy pardd
    Horas ito. Ia baritani ito si Tarina, tong dope ibana karejo di Batam, alai molo tarsor pajumpang dohot si Linggom di mall, dang marsipangkulingan be nasida😦 Dang muli dope ibana ito nangpe adong do piga-piga doli-doli manjonohi, songonna maol dope huroha dilupahon ibana si Longgom i:-) Taringot si Merlin, imadah ito, holanna marsak do ibana torus dung mulak tu Jakarta. Jot-jot do nian hami pajumpang di kantin na di basement kantor Jln Sudirman, alai holanna sip do ibana. Songonna segan au mamangkulingi, hudophon rohangku molo dokdok pikkiran:-) Halak bule mandok: “Leave me alone, please”😦

  23. toho doi tahe,
    nauli do goar na nilehon ni angka natua-tua tu anakkon na
    alai,
    molo goar na artina roa, salah doi nian ate
    alana na mandoahon na roa nama i ate…
    jadi nian
    ingkon goar na denggan ima ate
    asa gabe sada tamiang tu anank konnna
    :-)

  24. salam kenal………
    sy boru parhusip.

    Banyak org malu mengakui diri nya org batak dan malu menggunakan bahasa batak.sy tidak taw knp, tapi itulah penomena yg terjadi akhir2 ini.. Padahal menurut sy pribadi orang batak itu berbeda dgn suku2 lain di indonesia. Batak pny kepribadian tegas, luwes,pintar dan pekerja keras.
    Sy punya beberapa temen org batak di lingkungan kerja sy.tp sy sedih mereka rata2 ga bisa bahasa batak. padahal mereka bkn lahiran jakarta tp dari medan & balige sna.
    Justru yg bisa sy ajak ngobrol bhs. batak itu org yg dah lahir di jakarta,

  25. Horas, Amang Naipospos.

    Perkenalkan namaku Enrico Patuan Togap Manullang, sundut 14 sian Amanghu Jonggi Saur Malum Manullang (atik boha diboto amang na mambaen logu “Mangkuling Giring-Giring”), na diparanakhon, ompung Sopar, na diparanakhon Ompung Pangangkatni Begu, na diparanakhon Ompung Raja Nawalu, na diparanakhon, bolahanni Ompung Pamuha Raja – Manullang.

    Pos do rohaku amang, dipoda-podamu, na ingkon taringot hita do, tangiang ni tua-tuanta, dohot di engkelni tua-taunta, songon di andungni tua-tuanta, dilangkani ngolunai na mangido to Debata Mulajadi, sada manisia na tarboto na martondi.

    Molo so adong lapatanni na margoar, tong-tong ma so adong lapatanni na marbasa. Holan jolma na mate do na so marbasa, jala so diboto angka na maradian i do lapatan nai na mangolu na martondi. Siantabi ma amang, anggo di ahu, na poda-podani halak na di udean i do podani amang Panggorga.

    Alahi taringot ahu do sada hatani amang. Alani na tubu di Jakarta do ahu, gabe gok do na sinungkunanhu di hata batak. Alai anggo di son, sada do naing sungkunonhu. Siantabi amang, molo dinggan do dirohani amang, sitorangon amang jo aha do i lapatanni ‘Biangta Najingar’.

    Hu ingot do anggo ‘biang’ alahi daong huboto dope lapatan na i ‘najingar’. hehehehe…

    Mauliate amang. Anggo adong pangalahonku na so suman, tabehon amang ma ahu, alani so adong segel di tano batak. Horas. Mauliate.

  26. Horas amang,

    Nunga huboto do lapatan i ‘biangta najingar’. Nunga hu tingkir suraton i amang Suhunan Situmorang.

    Mauliate..

  27. wah… coba kalow ada yg bisa bikin bank data nama nama original batak, pasti berguna buat keberlangsungan kebudayaan kita, terutama bagi generasi muda yang ingin memberi nama dgn unsur batak.

  28. “Pada satu kesempatan ito saya pulang ke kampung untuk mengganti nama paggoaran ni natua-tua i, dari Omp. Lenny menjadi Omp. Samuel secara adat. Maka sejak saat itu resmilah natua-tua i menjadi: Ompu Samuel.”
    =======================================
    On do na toho, ai molo di bahen do Op Lenny, gabe mago do annon si samuel di tarombo ni keluarga on.
    Bandingkon ma silsilah 2 keluarga on:
    no 13. Omp Lenny silalahi
    no 14. Omp jordang (bapak lenny) silalahi
    No 15. Omp domu hutabarat (ai si lenny do on, na muli tu marga hutabarat)
    No 16 pak domu hutabarat
    no 17. domu hutabarat

    bandinghon tu
    no 13. Omp Samuel
    no 14. Omp Jordang (bapak samuel)
    no 15. Omp Jaultop (samuel)
    no 16. Pak Jaultop (anak samuel)
    no 17. jaultop (cucu samuel)

    Silahkan dikomentari

  29. HI, nama gue Stefani Centi Krisna.
    gue dikasih nama ‘STEFANIi’ sama nyokap krn lahir bln september, katanya biar gampang diinget.
    tapi nama tengah ‘CENTI KRISNA’ yg kasih opung doli gue.
    smp sekarang gue g tau artinya… maklum, opung gue udh dipanggil yg maha kuasa.
    ada yg tau artinya g ya? krn semua kluarga gue g ada yg tau, apalagi gue.:) thanks

  30. Saya sedang mencari data, nama-nama wania Batak yang khas, sehingga tidak usah menyebut marganya, orang tahu itu nama Batak. Saya sendiri penulis skenario film dan sinetron.

  31. Imam Tantowi
    Nama khas perempuan Batak Toba;
    Taruli, Tiarma, Tiurma, Titir, Marlinang, Marnida, Tami (Taminauli), Donda, Odor, Udur, Lambok, Renta, Ulina, Nata, Dasma, Riama, Rohana, Udur, Sorta, Gokma, Tarias, Sarma, Dameria, Rotua, Mangisi, Marisi, Pita, Rondang, Pinta (Pintauli), Ulina, Risma, Rouli (Roulina), Pirma (Pirmauli), Tarida, Asima, Tiodor, dll
    Kalau masih kurang, bisa ditambah lagi nanti….
    Salam….

  32. mauliate dah tulang.., sonari kondisiikku naeng lahir isteriku. mauliate godang di Tuhan di leon bawwa..mangido masukan jo au amang…adong goar naeng hubaen “Mikko Patoropalden”…leon jo amang masukanmu aha do arti nai….pas doi?

  33. @Hakim Tobing
    Dia ma botoon artina ai so hea binoto lapatan ni Mikko Patoropalden… Hamu do mangaririt goar i, ba hamu do nian patoranghon… Sugari hata batak, atik boi antusan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s