APA YANG KAMU LAKUKAN, TIMBUL ?

Judul Asli : MULAK MA HO AMANG 2

Michael Siregar

Timbul Pandapotan Napitupulu MBA, begitu tertulis di atas meja kerja yang terbuat dari kayu jati yang keras dan mahal didalam ruangan berukuran delapan kali sepuluh meter itu.

Di sudut ruangan ada lemari kaca transparan yang berisi berbagai merek minuman keras yang berharga mahal seperti, Hennessy XO, Cognag MARTELL, Bourbon, Red Label, Blue label dan Calvados. Ditengah ruangan ada meja jati berukuran luas untuk keperluan meeting. Di sebelah kiri ada sofa yang empuk berbalut kulit dari Italy.

Timbul sedang asyik mengkalkulasi keuntungan yang akan diperoleh perusahaannya bulan depan yang akan berlipat. Dia baru saja membuka sebuah pabrik di daerah Muka Kuning Batam.
Telepon dari sekretarisnya berdering, melaporkan ada tamu seorang wartawan dari sebuah majalah dan surat kabar terbitan Medan. Seperti biasa sekretarisnya harus mengkonfirmasi terlebih dahulu sebelum tamu menemui Timbul.

“Bah… Horas Tulang…”, Amrin Simatupang sang wartawan menyapa.

“Bah..Horas, horas… songon na ro ho bere, apala aha na porlu…?!”, Timbul menyapa dengan akrab, Timbul sangat senang mengobrol dengan Amrin, karena beliau ini sangat pintar mengkilik-kilik perasaannya. Maklumlah bagi sipanggaron seperti Timbul sangat membutuhkan sosok parsarune bulu seperti Amrin.

“Dang pola na dia Tulang… tentang pabrik ni Tulang on do… asa binaen nian baritana di Majalah Bonapasogit dohot di Harian Medan Pos, asa di boto angka par-hitaan naung mamora Tulang di son…”, Amrin menyatakan keinginannya mempublikasikan kehebatan Timbul seiring dengan dibukanya sebuah pabrik.

“Boi do i bah…, memang jago do ho bere pasonang roha ni Tulangmu…. beres ma annon anggo pasi sigaretmu….”. Timbul menyambut rencana Amirin dengan bersemangat, membayangkan semua orang di Balige dan Sangkar ni Huta akan membicarakan keberhasilannya di lapo lapo, langsung kambang birrik birriknya.

Amrin pun tersenyum cerah. Dia sudah membayangkan berapa kira-kira pasi-sigaret yang akan dia terima. Tempo hari hanya menyebutkan sekilas saja nama Timbul di koran dia sudah dapat ang-pauw yang cukup lumayan. Sekarang akan memuat artikel penuh dan di dua Media… “Mangallangi ma au…”, begitu kata hatinya.

Mereka berdiskusi panjang lebar tentang apa yang akan di muat di dalam artikel itu, tentunya pada garis besarnya semua hal-hal yang menyebutkan kehebatan Timbul. Amrin pun tidak pernah menanyakan akan asal usul gelar MBA yang tercantum dibelakang nama Timbul. Sebenarnya dia tau kalau Timbul hanya tammat SD, SMP tidak dirampungkannya karena keburu merantau setelah diusir oleh Ayahnya akibat kenakalannya.

Amrin mencatat semuanya apa yang Timbul inginkan harus disebutkan di artikel itu. Tentunya bagi wartawan parsarune bulu seperti Amrin, semuanya sah-sah saja. Semua bisa diatur asal ada ongkosnya. “Hepeng do mangatur negara on”, begitu prinsipnya. Hal itulah yang selalu membuatnya bertentangan dengan Almarhum Albert Situmorang seorang Wartawan senior Harian SIB dan Kompas.

Setelah mereka selesai membuat draft tulisan, Amrin berpamitan, tentunya setelah menerima selembar cek yang nominalnya mampu membuat Amrin menahan napas.

“Bah…ai godang ma on Tulang….” , kata Amrin berbasa basi seolah kaget yang diterimanya terlalu banyak, tetapi langsung memasukkan ke kantong bajunya sebelum Timbul meminta kembali.

“Ah… ai ho nian bere… sadia ma i… molo jago do suratanmi hutambai pe muse…”, Timbul merasa enteng memberi uang sebanyak itu, dan berjanji akan menambah lagi untuk memastikan bahwa missinya menaruh berita tersampaikan.

“Adong ulaonmu bodari Bere..? molo aha asa dongani Tulang marmitu”, Timbul minta kepastian apa ada pekerjaan Amirin nanti malam, agar bisa diajak menemaninya minum minum.

“Bah… ai anggo Tulang do manogihon sadihari pe siap do iba…”. Amrin menyatakan kesediaannya dengan mata berbinar.

Siapa yang tak mau pergi bersenang senang dengan konglomerat, pergi ke High Class Club, VIP member, dikelilingi wanita wanita cantik….

“Ise nasongon au… tombus na marjalang i…” Siapa yang bisa seperti saya… perantauanku berhasil, kata hati Amrin.

Dia mengingat beberapa waktu lalu, Timbul mengajaknya menemani bermain judi di Hotel Grand Hyatt Batam, di basementnya ada Casino terselubung, yang hanya orang orang tertentu yang dapat masuk kedalamnya, bahkan peraturan Sutanto pun tak berlaku disana.

Siapa yang tak mengenal Timbul di daerah Nagoya, pusat segala hiburan di pulau Batam, tempat Night Club dan segala macamnya, tempat mengumpulnya Cukong Cukong Singapore berburu ABG.

Timbul memang suka bermain judi, sambil dikelilingi oleh wanita wanita cantik, bahkan ahir-ahir ini seleranya pun meningkat, dia hanya ingin ditemani oleh wanita wanita bule. Kebanyakan dari daerah pecahan Rusia seperti Uzbekistan. Bagi Timbul, negara asal tidak masalah yang penting bule.

Dua minggu kemudian Timbul menerima Majalah dan Koran yang memuat berita tentang keberhasilan dirinya itu dari Amrin. Timbul langsung membacanya, dia merasa puas akan isi berita tersebut, persis seperti yang di inginkannya, menonjolkan semua keberhasilannya.

“Memang jago do ho bere pasonang roha ni Tulangmu bah… asa di boto parhitaan… dang si Timbul najolo be Au… si Timbul namora i nama on…” (memang kamu hebat kamu menyenangkan hati Pamanmu… agar orang orang Kampung mengetahui… saya bukan si Timbul yang dahulu lagi… sekarang saya adalah si Timbul yang kaya raya) Timbul menyatakan kepuasannya atas tulisan Amrin dikedua media tersebut.

“Ai sadihari be patuduhonon ni tulang anggo dang saonnari… ai tulang nama nomor sada ni konglomerat halak Batak di Indonesia on…” (kapan lagi Paman akan memamerkannya kalau bukan sekarang… sekarang ini Paman adalah nomor satu konglomerat orang Batak di Indonesia…) Amrin kembali memuji Timbul, membuat Timbul mabuk pujian, semakin kambang birrik birriknya.

“Tetapi ada ideku lagi Tulang… supaya Tulang lebih terkenal lagi…”, Amrin melanjutkan.

“Apa itu..?!,” Timbul langsung tertarik.

“Begini Tulang…, di Toba sekarang sedang musim orang membuat tugu satu Ompu. Sudah banyak kali pun orang orang kaya dari Jakarta membuat tugu. Mereka mengadakan pesta yang meriah, padahal kekayaan mereka tak ada apa-apanya dibandingkan Tulang”, Amrin memasang jebakan.

“Jadi maksudmu..?”, Timbul masih belum mengerti.

“Ya Tulang bangunlah tugu yang lebih hebat… lalu di undang semua Marga Napitupulu untuk menghadiri peresmiannya, jadi semua mereka tau dan kenal sama tulang”, Amrin tersenyum didalam hati, karena kelihatannya Timbul termakan pancingan. Tetapi dilihatnya ada keraguan pada diri Timbul.

“Kalau dulu saya lihat orang paling hebat cuma mengundang Camat Balige untuk meresmikan tugu, kalau kita harus Bupati Tulang… kalau perlu Gubernur…”, Amrin semakin merasuk rayuannya, dasar parsarune bulu.

“Boleh, boleh itu… kalau soal Gubernurnya kuatur pun itu… hepeng do mangatur negara on…” Timbul benar benar terpancing egonya.

“Tapi kalau kita membangun, jangan tanggung tanggung, harus lebih hebat dari semua tugu yang pernah ada…. kalau perlu arsiteknya harus dari Bali, harus orang terkenal…”. Timbul bersemangat.

“Tetapi kalau begitu Tulang… biayanya nanti sangat Mahal…”, Amrin berusaha menggelitik ego Timbul.

“Bah…jangan kau singgung sama aku masalah biaya… berapapun tak masalah…!”, Timbul menegaskan.

“Agai amang tabo nai… mangallangi nama au… anggo on pe tombus namarjalang i…” (waduh bapak enaknya… makan besar saya… kalau begini berhasillah perantauanku…), Amrin tersenyum dan berkata dalam hatinya.

“Begini saja… mulai besok kau mulailah mencari arsitek yang hebat dari Bali… kau aturlah semua… kaulah pelaksananya….”, Timbul memberi tugas langsung pada Amrin. Ini sudah diduganya.

“Apala holan mangombak adong tarbirsak gambo tu pamangan, apalagi ma hepeng mar milliyar…” (memacul sawahpun akan terpercik lumpur ke mulut… apalagi proyek milliyaran..) Begitu prinsip Amrin.

Dengan semangat Amrin sibuk menghubungi para Arsitek, juga orang orang yang akan mensuplay bahan-bahan untuk pembuatan tugu, tentunya dengan potongan uang taba taba sekian persen.

Tugu yang di bangun Timbul itu memang sangat megah dan indah. Maklum, arsiteknya dari Bali, seorang arsitek yang cukup terkenal. Bahkan para pembuat ukir ukiran patungnya pun dari Bali. Tenaga tukang dari Balige hanya sebagai pembantu, sebagai tukang kocok semen.

Saran saran dari petukang Balige yang berpengalaman dan tau adat Batak itu tidak diindahkan. Ketika mereka mengatakan bahwa tidak baik membuat anak tangga yang berjumlah genap karena itu adalah symbol keluarga “Hatoban”, seharusnya mesti ganjil, milik para Radja, mereka tak menghiraukan.

***

Semenjak dari awal pendirian tugu, nyonya Napitupulu boru Sianipar, cuma geleng geleng kepala, sedikitpun dia tak merasa tertarik. Dia juga tak mau mengomentari ketika orang orang Sakkar ni Huta membicarkan keberhasilan Timbul dan kemegahan tugu yang di bangunnya, di laponya. Dia tak bisa melupakan pemandangannya ketika dia menemukan mayat Ompu ni Jonggara ayahanda Timbul yang telah kaku dengan posisi membungkuk di atas balai-balainya sudah mulai bau. Yang lebih parah lagi karena posisinya yang membungkuk, penduduk desa sangat kesulitan memasukkan mayat Ompu ni Jonggara kedalam abal-abal buatan Amang Sintua Siahaan Par-Sibulele. Mereka tak tega menekan atau menarik terlalu keras, karena takut mungkin ada bagian tubuh yang akan patah. Memang dia sudah tidak merasakan lagi, tetapi tetap saja tidak tega.

Boru Sianipar juga masih mengingat bagaimana sedihnya perasaannya bila melihat Ompu ni Jonggara meringis menahan sakit dikala penyakit rheumatik dan maagnya kambuh. Dia tak dapat berbuat banyak, mau membawanya berobat ke dokter dia pun kesulitan sebab dia juga harus membiayai sekolah anak anaknya. Membawa Ompu ni Jonggara berobat ke Rumah sakit Balige… lebih parah lagi, sebab Rumah Sakit milik HKBP ini yang nota bene, dibiayai oleh Persembahan durung-durung dan iyuran tahunan ruas (masyarakat umum) ternyata tak bisa diandalkan. Masyarakat HKBP memberikan durung-durung dan iyuran tahunan dengan ikhlas dan tanpa pamrih, tetapi ketika uang itu sampai ditangan Yayasan Rumah Sakit, mereka tak pernah ikhlas memberi pelayanan tanpa bayaran. Tak ada tempat bagi si miskin.

Pada waktu peresmian tugu, pembukaan acara sangat meriah, dihadiri beberapa pejabat. Music pengiring dari Jakarta, ada penyanyi penyanyi ibu kota yang tampil menghibur.

Pesta diadakan selama dua minggu nonstop, siang dan malam siapa saja boleh makan sepuasnya, boleh minum bir sepuasnya. Untuk kebutuhan ini setiap saat truk dari produsen bir siap mengantar kapan saja.

Setiap orang yang mau manortor mesti di beri saweran uang. Benar benar pesta yang fantastis. Ketika malam tiba penyanyi ibu kota menghibur bergantian. Tidak lupa beberapa gadis bule yang cantik cantik “Rekan Bisnis” Timbul berjoged dansa, disco, cha cha diatas pentas.

Masyarakat benar benar menikmati pertunjukan dan limpahan uang mendadak yang mereka dapat dari pesta ini. Mereka tak segan-segan berkata pada Timbul : “Ah… ho do na toho namarjalang i bah…. ho nama naummora di halak hita…” (andalah yang paling berhasil di perantauan… andalah yang terkaya di tengah orang Batak). Mendengar ini Timbul semakin kambang birrik birriknya.

Hanya satu keluarga yang tidak pernah tampak di pesta itu, boru Sianipar Parlapo.
Ada beberapa orang mengajaknya. “Bah beta… na masi hepeng on… ai holan sahali mangurdot nungnga dapotan hepeng…” ( marilah… mendapatkan uang… sekali berjoget saja sudah di beri uang… )

Boru Sianipar Cuma berkata : “Hamu ma tusi… dang tarpaida-ida au angka engkel muna i… Sai huingot natua-tua i nahinan… hansit nai ditaon….” (kalianlah ke sana… saya tak sanggup melihat tawa kalian… saya jadi teringat pada Almarhum… betapa sakit penderitaannya… )

Ketika malam terahir pesta itu, suara music yang hiruk pikuk dari pengeras suara, orang orang desa berpesta pora… uang berhamburan ditengah pesta sangat meriah. Boru Sianipar duduk sendiri dilaponya, semua pintu sorong laponya sengaja ditutup. Dia merenung, tak bergairah melayani pembeli.

Anehnya selama pesta berlangsung alam seolah olah protes, tak bersahabat. Hari selalu mendung dan hujan turun setiap hari, tak biasanya seperti ini.

Boru Sianipar duduk di bangku panjang laponya, disudut sambil bersandar. Dia teringat kembali pada Ompu ni Jonggara semasa hidupnya. Beliau yang sudah dianggapnya sebagai kakek kandungnya sendiri, sebatang kara menahan derita, tak ada yang perduli. Bahkan meninggal pun tak ada yang melihatnya. Ketika itu, seandainya dirinya tak penasaran atas ketidak munculan Ompu Jonggara di lapo, mungkin sampai beberapa lama tak ada yang mencarinya hingga membusuk.

Sekarang, setelah dia meninggal, jasadnya pun tak bisa tenang. Harus digali dari kuburnya. Tulang belulangnya diangkat, dimasukkan kedalam peti kecil terbuat dari kaca, sebagai pajangan agar semua orang bisa melihat tengkoraknya tanpa daging.

“Sonang ma ho di lambung ni Tuhan i Ompung…… dang adong be nahurang mu….” (Berbahagialah dirimu di sisi Tuhan Kakek…tak ada lagi yang kurang padamu….), boru Sianipar berbisik sambil menengadah kelangit. Tak terasa airmatanya telah membasahi pipinya.

Sebelumnya : MULAK MA HO AMANG

Iklan

31 thoughts on “APA YANG KAMU LAKUKAN, TIMBUL ?

  1. RM Napitupulu. berkata:

    Kalau tukang dan pemborongnya dari Bali, nanti marah lah si Pinahar Napitupulu dari Balige sana.

  2. Gabe tamba oto iba manjaha on abang gabe so binoto aha do baenon komentar, madetuk ate-ate manjaha. Songon na sepi na piga2 ari on na sibuk do ? sai pinadalan-dalan tuson dang adong na baru na tudia do nuaeng ninna roha….. Unang ganti i angka gravatar nami i ba…songoni ganteng2 dohot bagak2 i, gabe dibaen abang foto-ki belepotan….gabe so tinnanda be ise iba hape Ai So Ise nian. πŸ˜€

    ***
    Horas kedan. Hampir 2 minggu au pasadaroha persiapan ulaon pasahat sulang2 hariapan tu dainang. Nabodari pagelaran gondang. Ido daba. Unang pintor muruk ho asa minum tuak hita. Avatar i songon penyegaran do i. Baen gambarmu naganteng i di blogmi asa tarida dison πŸ˜€

  3. Bonar Siahaan berkata:

    Bah…. nunga dipaboa sude namasa i,ai hira-hira 20 taon nasalpu do ra namasa i ate lae Regar.

    Horas bah.

  4. Desy Pardede berkata:

    Amang tahe, ai mangolu dope nuaeng si Timbul on? Asa pinangido jo getepnai. Kebetulan ito ku muse.
    Gari apala holan mangombak tutu adong tarbirsak gambo tu pamangan, apalagi ma MANJAHA…??? hahahhah….

    @ Ito Naipospos & Michael Siregar
    Two Thumbs, hebat… !! Rangkaian kata-katanya begitu apikk ..

    Molo “Kabbang birrit-birrit na” antar songon dia do tudosan ni i? Dos do i tahe tu “Habang birrit-birrit ?” hahaha.. songon na geok huhilala.

    *** “Sipanggaron” do ra lapatan ni i, ate lae Mekkel? πŸ˜€

  5. Ninggor Pardede berkata:

    Adong ende UJU DINGOLUNGKON.
    Rap mangendehon ma hita reff nai mandongani boru sianipar i.
    “somarlapatan marende, manortor, mangembas hamu
    molo dung mate au.
    Somarlapatan na uli na denggan patupaon mu
    molo dung mate au
    uju dingolungkon ma nian
    tupa ma bahen angka na denggan dohot udutna”

  6. Lamsito berkata:

    Sitimbul naso umboto magona….
    anggoi jalo onnna do nahombar tupambahenanna..
    molo adong dope lanjutanni cerita on oloma ra nanung manolsoli si timbul….ate..

  7. @ michael siregar
    Lae, kayak kutanda tokoh cerita ini, apalagi wartawan yg suka mamanggar-manggar si Timbul itu, kukenalnya siapa dia itu πŸ™‚ Tapi aku tak bisa dipanggarnya selama ini karena akupun tukang panggar orang-nya πŸ™‚ Lanjutkan ceritamu ini ya lae Mekkel. Ngeri-ngeri sodap.

    @ Lamsito
    “Sitimbul naso umboto magona…” , wakakakak… πŸ™‚ , lantas teringat aku ke Samosir. Kalau ada yang sok, belagu, biasanya akan dibilang begitu.

  8. Terima kasih kepada Lae Naipospos yang telah memoles cerita ini dengan baik sehingga menarik.
    @ RM Napitupulu
    Bah… kalau Pinahar napitupulu par Jalan Siliwangi kan Tukang Hau dia Lae… jadi nggak pala mangamuk dia he..he..he… Santabi ate Lae ala marga Napitupulu binaen tokoh cerita on… cerita fiksi do on…

    @ Joice Helena
    Msih ada Ito.. ini penghabisannya… dungi mungkin ba.. parborhat borhat nai ma muse… he..he..he…

    @ Eston Hasiant
    Bah… unang gabe songoni… daon lalap do on lae… antar songonna pinatorang saotik akka namasa di Batam ate….

    @ Bonar Siahaan
    Ai cerita fiksi do on Lae… molo tung adong pe na mirip mirip… na kebetulan do ra i… he..he..he…

    @ Desy Pardede
    Ai mangolu dope ra di Singapore… soal na mangombak i Ito… imada… asa rap mendukung hita di Ulaonni Lae Naipospos tahun depan ate… sotung lupa Ito paboahon tu akka tondong ta di huta… ai molo jadi Lae Naipospos gabe DPR … datung so boi iba baenonna nanggo apala mamboan boan tas dohot map nai dangi….??? he..he..he… tong do mangaithon tu ngadol.
    Molo Birrit Birrit dohot Birrik Birrik beda beda tipis ma i Ito… Molo Birrit Birrit sejenis Pi*ong do i (ai di huta nami Simangumban tongka do mandok Pi*ong), alai anggo Birrik Birrik ba perasaan tersanjung ma i mardongan sipanggaron

    @ Ninggor Pardede
    Ima da… lagu ciptaanni Lae Daulat Siahaan do anggo so sala ate…. pas ma lagu i tu ceritanta on.

    @ Sibul
    Horas ma tutu Lae… Lubis termasuk Bor bor do ra ate…

    @ Lamsito
    Bah… tamba perbendaharaan istilah ate….alai on nama ra ujung ni cerita on… unang gabe bosan annon Hasuhuton Bolon … he..he..he….

    @Suhunan Situmorang
    Bah… Horas ma di Guru i… terus terang inspirasi saya mencoba menuliskan Cerita ini setelah membaca Cerpen Cerpen Lae.. termasuk Keputusan Merlin dan Cucu Panggoaran itu… saya coba berlatih menulis… meskipun saya tau tak akan pernah sehebat Tulisan lae…
    Kalau Alm. Albert Situmorang saya yakin Lae mengenalnya… tetapi sang tokoh… ?! ini kan cerita fiksi Lae…. he..he..he…. orang yang suka memanggar manggar itulah yang saya istilahkan Parsarune Bulu…. Sarune mestinya kan dari kayu … berarti Sarunenya palsu he..he..he….

  9. tanobatak berkata:

    Lae Mekkel πŸ˜€
    Patimbohu ma pangidoanmuna i maniop tas molo dpr au. Dang tumagon hamu dpr au wakil? Boi ma au dohot marhaliang portibion boanonmuna. Tar tadok ma antong study banding πŸ˜€
    Ah tahe lae, tabo ni namaranganangan i. Hape molo lae Suhunan maranganangan kaluar do sada serpen. Gabe huingot lae ande ni lae Tongam Sirait : ‘Michael nama au…, unang marsak au. Michael nama au…, unang holsoan au….’

  10. Bah… sebenarna setiap manjaha suratan ni Lae dohot Lae Situmorang tentang goar Mekkel on gabe taringot au tu Daompung na hinan… ai i do dijouhon sampe tu na marujung ngoluna Lae… Bah, gabe marbalik balik ate… he..he..he…
    Alai serius do au mangido tu angka Tondong asa dipillit Lae… mudah mudahan ma sahat sakkap ni rohanta… asa boi Lae mewakili suara nami akka Bangso on ate…. Horasma.

  11. suhunan situmorang berkata:

    @ G. Meha
    Tugasni Lae maniop jas ni Lae Naipospos ma attong. Amang Bonar Siahaan, penasehat urusan habatahon dht kepemimpinan ma. Laenta Silaban par Surabaya, mangalean advis mengenai lingkungan hidupma ulaonna. Lae Hendry Lbn. Gaol, seksi transportasi do huhilala na pas tu ibana. Lae Charly Silaban, bagian internet ma i, termasuk meng-update akka postingan nabaru. Au maniop laptop ma tugashu ate, asa songonna beteng dibereng halak daba; molo berkunjung Lae on, turne dht study banding, attar niketik-ketikma hape serpen do nanisurat πŸ™‚ Lae Charlie Sianipar pas attong tukkang potret asa adong dokumentasi foto. Lae Marudut Pasaribu, sitiop kas dht tukkang audit pengeluaran perjalananta mangiringkon Lae Naipospos ma karejona. Itonta si Lidya br Hutagaol, seksi busana ni Lae Naipospos ma jabatanna. Si Desy Hutabarat, bagian “sekuriti” ma attong ibana, unang adong nabarani massam-massam tu Lae Naipospos 😦 Lae Robert Manurung? Aha do nasossok tugasna ate? Sossok do ra ibana sebagai seksi “provokator”, khususna mangondami akka wartawan asa unang asing-asing sukkun-sukkun na tu Lae Naipospos, terutama molo study banding lae i beserta staf tu luar negeri! πŸ™‚

  12. desy pardd berkata:

    Mate au mekkel…. mambayangkon si Mekkel maniop2 tas ni Amanta DPR, huhut mangihut-ihut sian pudi. Dohot muse ma antong au manghandit-handit Laptopna, alana pintor hubayangkon muse ma au na gabe Sekretaris Pribadi ni DPR i… Huahahahhahah……….

    @Michael Siregar
    Bah, pola songon na di sensor ho, dok do apala mandok pidong….
    Jadi molo mandok Burung Gereja di huta muna aha do haroa? da, Pidong Gareja do?????? Hehehe… *margaitdodahh!!*

  13. Ito Ninggor Pardede…lagu niso do on tahe? Tolong jolo lehon hamu judul ni kasetna da. Au pe sering do manukkun dirikku, nunga hubahen tahe naun denggan tu natua-tua niba (marumur 72 dohot 74 taon) dohot tu simatua niba (marumur 65 dohot 66 taon)? Toho doi..molo dung dijou Tuhan nasida hasuan, so diboto be manang na poti mas nibaen potina manang kuburanna. Di tingki ngomunaon ma nian baenon sipalas ni roha nasida.

    Adong ende UJU DINGOLUNGKON.
    Rap mangendehon ma hita reff nai mandongani boru sianipar i.
    β€œsomarlapatan marende, manortor, mangembas hamu
    molo dung mate au.
    Somarlapatan na uli na denggan patupaon mu
    molo dung mate au
    uju dingolungkon ma nian
    tupa ma bahen angka na denggan dohot udutna”

  14. tanobatak berkata:

    Ha…ha…haaaa….
    On dope hea au mengkel di dunia maya on sampe tariluilu. Pola longang boru simpudanhu. Tong ma i ala ni lae si Mekkel mamulai mandok maniop tas ni dpr. Ro muse ito Desy Pardede tar pola dipaganjang pi*ong ni si Mekkel i gabe geok hinilala. πŸ˜€

    Marganjang ma muse susunan kabinet bayangan ni lae Suhunan Situmorang mandampingi dpr i. Dang diingot si Pikki dohot Parbintan, muruk ma nasida annon lae dang dapot jabatan.

    Gabe huingot ma muse si Timbul, tabaen ma ibana gabe Bupati, setuju do hamu ? Tapanggar asa kambang birrik-birrina. Ha… ha… ha….. πŸ˜€ Hape nunga mandaftar hian kedanhu par-Kanada dohot si Eston Sianturi bah….. ha…ha….

  15. @ ito Suhunan Situmorang
    Hubereng waktu ni comment ta on ito, attar hira na rappak mengetik do hita ate. Dung hujaha muse comment ni ito on lam tamba mekkel-ekkel au.
    Nunga tung mansai godang hape tenaga ahli ni ito Naipospos on bah. Boha do annon bahenon ni ito i lao manggaji angka pasukan i, ai hubereng angka na profesional do sude. Olo ma annon tumpur bandar., boha nama i? Adong muse dope puang sitiop-tiop jas. Hebat nai ra i akke….?
    Ehh.. hurang sada nai ito, rapmengkel par Surabaya muruk annon molo dang masuk tu team. Jadi dos ma rohanta, tabahen ma amangborui gabe ahli Telekomunikasi ate. Mis: Molo adong team na kehabisan pulsa, boi ma diatasi amangboru i. Hahahaahhaa…..

  16. suhunan situmorang berkata:

    @ desy pardd
    Bah.., berarti sarupa tikkitta mangalamar tu Lae Naipospos ate, lowongan na tatuju pe sarupa: si tiop laptop.
    Molo gajitta haduan attong, ikkon tanggungon ni DPRD do, goar na pe stap ahli πŸ™‚ Dang masuk lae/tulangku Sihombing “rap mengkel”, memang nadisengaja tim seleksi do, ito. Alana molo dipadohot, holanna marlawaki torus…, gabe lola annon Lae Naipospos mula-ulaon πŸ™‚ Alai molo kehabisan pulsa flexi hita, pintor tatelepon ma tu Surabaya, asa dikirim pulsatta be 😦

    @ Monang Naipospos
    Nahuambati do lae asa unang pola sipadohot amparakku par Bintan, alana ibana dohot Lae Sahat Nainggolan, nungnga sossok mangurus Gondang Batak asa unang punah, songoni nang si Pikki. Hatanta ma on, unang pola diboto akka dongan na asing, hea do dipangido anggiku par Bintan on tu au asa KKN hami, pamasukonhu ibana sebagai stap ahli muna. Alai hudok ma songon on, “Mangurus gondang i ma ho, Anggia, asa puas ho dohot laetta par Kuala Lumpur manortori… Ai ido hubereng koji muna nadua. Molo naeng sampuron muna sasahali dohot band, ba jou hamu donganta si Pikki” πŸ™‚

  17. G. Meha berkata:

    Sian sude posisi na adong i, holan posisi ni si tiop jas do na humebat, alana, holan dipangke jas ni dpr i gabe sai hira dpr ma tong. Hehehe.

    Ingkon huatur jo, pas dipangke lae SS laptop i mambahen serpen, tompuma mullop au mar Jas DPR, gabe humalaput ma lae pamatehon laptop i so jolo di save serpen i. Hape dung diparrohahonma, sitiop jas do na ro, ndang dpr i.

  18. Maulina br sirait berkata:

    Ha..ha..coment-coment diatas sangat menghibur ..alani cerita ni Tulang Michael on, gabe tarsonggot angka dongan sakarejo…dirippu nasibuk kerja iba alani seriusna, hape sibuk manjaha coment diatas. Horas…!!! sai saut ma Tulang jadi anggota DPR ai nunga sude mendukung niida.

  19. seksi busana ni Amangboru???
    SIAAAAPPP komandan! laksanakan!
    hu haluarhon pe design2 na keren i πŸ˜‰

    *** Pengen kayak jas Timbul, tapi cuma lae Mekkel yg tau modelnya. Nunga gabe kambang birrik2 bah πŸ˜€

  20. Bonar Siahaan berkata:

    @ Amanta Suhunan Situmorang

    Baaaahhh nga dohot ahu hape dibahen hamu penasehat ni amanta Monang Naipospos…….. Boha molo sodapotna dpr i gabe marhua ma hita?????? hehehehe…….

  21. Hematov Purba berkata:

    Sepertinya Timbul dan sang wartawan adalah oportunis sejati. Suatu kritik bagi para wartawan, di mana media mereka seharusnya menjadi social control. Media juga berfungsi meng-edukasi masyarakat. Di negara ini, media sering diarahkan untuk membentuk opini publik untuk kepentingan sekelompok orang.

  22. Amang tahe….pistar ni laeku Suhunan Situmorang on ma mambaen mengkel angka jolma di liat portibi on. Hape tangkas do huboto sai manombo do ipon ni lae SS di bagasan sabulan on.

    Sampe hansit butuhaku manjaha nasinuratmi lae. Bah, adong do hape bakat nepotisme di lae SS on ninna rohaku. Asa hudok songoni, ai angka kalle-kalle ni lae do ipillit lae gabe tim staf anggota DPR Monang Naipospos.

    Ipe adong do piga naso dapotan jabatan, ima ito Limantina Sihaloho (sossok gabe penasehat spiritual manang partonggo) jala lae Jarar Siahaan. Huhilala, lebih sossok da lae on menangani angka wartawan “parsarune bulu”, alana lassar do pe lae i mangogapi pake hata Batak.

    Molo tung sai naeng ingkon lehonon ni lae tu iba jabatan urusan pers, hurasa antar mambaen konsep pres rilis ma ulaonhu. Molo lae antong mambaen konsep program ma dohot draft pidato.

    Dungi muse, molo boi nian, pamasukma laenta Jephman Simamora di seksi komunikasi visual. Ai nalomoan roha ni panduduk Tobasa manjaha karikatur, tarlumobi Si Suar Sair. Ai holan ibereng angka panduduk Tobasa karikatur anakni biang na dohot martamiang, imana nabinaen ni lae Simamora i Kartun Batak, jamin do pintor mengkel nasida pitu ari pitu borngin.

    Jala, laenta Toga Nainggolan pe dang dapot jabatan dope di tim staf. Songoni muse pareman namalo marende : Tongam Sirait. Antar aha ma jabatan na sossok tu nasida ?

  23. M.S.Ritonga berkata:

    Amang tabonai ate namambagi-bagi jabatan ni,molo adong dope lowongan i ba,asa mangalamar iba jadi OB pe dang masalah,

  24. Enak kali kalian membagi-bagi jabatan itu…jadi, ahu ahama jabatanhu baenonmu amang uda?? staff ahli sitiop leptop nunga adong…staff ahli sisuan latteung nunga tahe???…..au tusi

    *** Daftarhon ma tu lae SS πŸ˜€

  25. Terbayangkan oleh saya bahasa-bahasa daerah menjadi resmi digunakan setara bahasa Indonesia kita, biar kita menjadi tuan di negara sendiri, menggalinya dan mengembangkannya.
    Jayalah Bangsaku…negeriku (daerahku)… kalau perlu bahasa daerah kita ini bisa menembus Globalisasi.
    Do’a ku buatmu negeri…tercinta
    Horasss.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s