GONDANG YANG BAKAL HILANG

Monang Naipospos

Program Revitalisasi Gondang Batak sudah berakhir. 12 orang murid sudah siap menambang pengalaman margonsi bersama para gurunya di lapangan. Mereka sudah mengenal beberapa gondang dan memainkannya dengan baik. Tentu saja selama pembelajaran dua tahun ini mereka dicecoki teknik permainan dan beberapa materi gondang saja sebagai bahan praktek pembelajaran.

Guru senior mereka sudah mulai dimakan usia. Diantara mereka hanya tiga orang yang menguasai sekitar ratusan gondang dan memainkannya dengan baik. Tangan mereka sudah mulai gemetar, kaki mereka sudah sering kesemutan. Bila kelak banyak orang batak lihai memainkan alat musik batak ini, lalu materi gondang apa yang bakal dimainkan?

Sekitar ratusan gondang tadi sudah jarang dimainkan karena masyarakat selama sewindu terakhir ini sudah lebih sering mendengar musik pop. Jaman dulu, menjadi pargonsi harus hati-hati, harus menguasai banyak materi gondang. Panguasaan lain adalah harus mampu menyesuaikan gondang yang dimainkan dengan paparan peminta gondang. Kadang peminta gondang menyebut nama gondang itu sendiri. Ini tidak ditemukan lagi saat ini. Yang menjengkelkan bagi para pargonsi tradisi, bila ada panortor minta gondang dengan menyebut lagu pop seperti biring-biring, pocco-pocco, terakhir ini masuk anak medan. Ini melecehkan pengetahuan mereka, tradisi yang dianut dari gurunya. Mereka tidak lagi melatih diri dan mengingat gondang batak original itu. Disisi lain, masyarakat tidak pernah lagi mendengar ragam irama gondang itu.

Di tengah perjalanan kesenian bermunculan pargonsi hanya dengan menguasai 10 gondang saja dan dibekali kemampuan membawakan lagu pop, mereka jadi eksis. Generasi muda hingga yang berusia 40 tahun saat ini akan kaget bila mengetahui dan mendengar ratusan repertoar gondang batak original itu. Ancaman yang mungkin akan terjadi, saat kita lelah dengan segala sesuatu pencapaian kita selama ini dan saatnya kembali ke basis kebudayaan, kita sudah kehilangan. Usia tua para pargonsi senior tidak mungkin di hempang untuk tetap ada diantara kita saat kita sudah butuh. Ilmu mereka akan dibawa mati karena tidak ada pargonsi muda yang terlalu berkepentingan mengetahui banyak materi gondang. Tidak ada masyarakat saat ini yang membutuhkannya. Pustaka hidup itu kelak akan hilang yang tidak mungkin dapat digali melalaui menggali kuburnya.

Antisipasi keadaan ini perlu langkah. Saya pernah mencoba mewacanakan itu kepada beberapa orang batak culture dan mendapat respon. Saya mencoba membuat sebuah program “dokumentasi” untuk gondang batak ini. Bapak Pertus Sitohang, Sahat M. Nainggolan dan ito kita Rianthy Sianturi dkk mendukung secara moral dan material. Saya baru mampu merekam 18 gondang yang jarang diperdengarkan. Hanya kami berampat terasa puas dengan apa yang kami lakukan. Kalau pun ini tidak dapat kami lanjutkan terus, setidaknya sudah pernah memikirkannya, melakukannya dan menghimbau semua orang untuk mendukung. Sebenarnya ini tanggungjawab siapa?

Rianthy Sianturi dkk melakukan pendekatan ke almamaternya di Politeknik Informatika DEL Sitoluama Laguboti. Sang Direktris menyambutnya, keputusan untuk peran yang lebih besar ada pada pengelola Yayasan. Pameran dilakukan dihadapan para petinggi yang hadir di Institusi itu saat pengukuhan mahasiswa baru 2008. Tidak pernah lagi saya dengar gaungnya.

Saya menghentikan sementara program ini karena beberapa hal. Bila harus mengandalkan ketiga sahabatku ini, beban yang akan dipikulnya akan besar. Bila dilakukan hanya sekedar, saya kasihan kepada para pargonsi tua itu bila harus menanggung sendiri transportnya, meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mendokumentasikan kelebihan yang ada pada diri mereka. Mereka adalah ekspert dari komunitas tradisional kepada orang batak dan dunia saat ini yang sudah tercabut dari kebudayaan batak. Mengapa tidak kuhargai dengan layak?

Jaihut Sihotang pargonsi dari Ronggurnihuta Samosir menelepon saya setelah sms yang kukirim tentang pagelaran sekolah gondang di Tobasa akan dilakukan. Saya berada di Lampung, katanya. Dari suaranya kuduga dia sangat terharu bahwa keseniannya itu mulai diangkat di negeri sendiri. Kudengar suaranya terbata. Selama ini dianggapnya komunitas seniman batak sudah terabaikan. Kepuasan bagi seniman ini pernah dikatakannya bukan karena materi yang diterima, tapi bila peminta gondang merasa puas dengan permainan mereka. Dia mengutarakan kesedihannya bila peminta gondang menyebut nama lagu pop untuk dimainkan. Beliau penuh pengharapan kepada saya, entah kenapa. Padahal ini baru geliat. Saya tidak berani mengatakan kepadanya bahwa ini mungkin akan tertidur kembali.


Bookmark and Share

Tautan :

Gondang Batak Dan Pemahamannya
Warisan Yang Kurang Dihargai
Goar-goar ni gonsi Batak Toba
Tonggo Gondang Turun
Maminta Gondang
Sajak untuk Gondang Batak
Pargonsi dari Parsambilan Silaen
Pargonsi dari Ronggurnihuta Samosir
Gondang Naposo
Geliat Gondang Batak

Iklan

16 thoughts on “GONDANG YANG BAKAL HILANG

  1. Sedih saya membaca tulisan Lae ini.. sangat sayang sekali bila budaya kita yang indah itu sirna dan punah.. sementara apresiasi masyarakat Batak semakin menipis terhadap Budayanya sendiri… di pesta pesta lebih menyukai music modern dan lagu lagu”heppi’ yang penting Goyang… saudara saya yang di Indonesia bilang.. sudah bukan hal aneh lagi lagu Cucak Rowo yang rada Ngeres itu dinyanyikan di pesta didengarkan dan di jogeti bersama antara namarito dan subang ni tutur… Bah… gejala apa ini..?!

  2. suhunan situmorang berkata:

    Pos roham lae Naipospos, pos roham.. Saut do nadiparsintani rohanta i. Tung pe nanget-nanget, saut do i muse. Nasai adong dope angka ugasan naasing dohot pikkiran namangalolai, nunga jotjot nian diarbishon lae Charlie Sianipar on tu hami. Unang patah semangat lae.

  3. Rondang br Siallagan berkata:

    Tidak ada yang bisa saya lakukan tentang masalah gondang tersebut…Soalnya saya hanya ibu rumahtangga. Saya hanya ikut prihatin apabila gondang ini punah..Tapi saya harapkan itu tidak punah.. Begitu merdunya gondang ini..
    Kami dirantau merindukan musik gondang asli…tapi di rumah sendiri…sudah jarang menggunakannya..Ah..tahe..

  4. G. Meha berkata:

    Pos roham tutu katua, ndang mago i gondangta i.

    Tungpe di dok halak inangbao br. Siallagan holan ibu rumahtangga do nasida, atikna pintor transferonna do opat digit, ai ibu rumahtangga do si tiop puro.

  5. sahala s'jtk berkata:

    Hancurkan budayanya,kuasai jiwaraganya,pupuskan “KEPINTARANNYA”.Demikian sibontarmata menjajah bangso BATAK.Telah berlaku 200thn lamanya hingga kini,AHLI/Toba=PANDE musnah dr mukabumi,termsk Pande Gonsi.Utk memunculkannya kepermukaan tdk spt membalikkan tangan.Itu akan terwujud apabila “KEPINTARAN”itu dpt dilakukan sbg penopang kehidupan/inovasi.Mari kita bersama mencari/membuat Sistem Pembinaan yg tepat utk diimplementasikan,secara moral amangboru MN sdh memulainya.Salut buat amangboru.HORAS.

  6. goklas berkata:

    boa do tutu bolo mago kebudayan batak i ate???
    aha do dohonon ni opputta si jolo-jolo tubu bolo dang boi ta jaga hita on kebudayaan (gondang) ta naarga on ate????
    hape iba pe songoni do nuaeng anggo adong acara gondang batak pittor marsisir do imbulu???
    alai bolo mangido musik iba pittor ni jalo do laguni par tripping???

    *** Ba molo manortori gondang i daba Goklas ingkon serius ma. Patudu ma hamaloonmu manortor i. Hubege baritana malo do ho manortor 😀

  7. Sahat Nainggolan berkata:

    Mari kawan, sebelum terlambat dan kita menyesal dikemudian hari. 😦

    Biarkanlah ia punah,
    Jika ia tak mampu lagi membuatmu menari,

  8. B.Parningotan berkata:

    semua yang tidak memiliki jati diri akan punah atau membaur pada budaya lain, seperti gula larut dalam air ataupun garam yang terbawa kelaut. seperti penyanyi tanpa pengeras suara bersnyani dalam irama band atau orkestra.

    dapatkah kita membuat warna gondang kita serta ciri2nya yang khas membuat ia tetap berdiri tegak disamping instrument musik dari negri lain?
    ataukan dapatkah kita buat nya menjadi seperti minyak yang tidak dapat bersatu dengan air melainkan dapat dipergunakan dengan cara yang berbeda, sebagai contoh air dipakai untuk merebus sedang minyak dipakai menggoreng.

    semoga irama gondang kita ini tak pernah hilang, demikian juga halnya dengan uninguningan kita yaitu sarune, sulim, gondang, taganing dan hasapi, semoga musik kita tetap memberi warna didunia musik.

    Sebelum memainkan irama musik kita selalu membuat semua instrument menjadi seirama walaupun semua alat musik itu berbeda, dalam istilah batai irama tersebut dinamakan ( sitolu sadalanan), dalam istilah asingnya alat2 musik tersebut di tune dulu agar seirama.

    Jika semua warna yang ada telah membaur maka dunia ini akan berwarna kelabu, tidak ada siang, tidak ada malam, tidak ada hijau, merah maupun kuning, apakah dunia ini tetap indah jika ia menjadi kelabu?

    Jika semua musik istrument menjadi gitar termasuk penyanyinya dapatkah anda bayangkan irama orkestra yang muncul?

  9. jeffar lumban gaol berkata:

    Mengembalikan Gondang Batak dalam wadah adat Dalihan na Tolu adalah persoalan besar. Besar karena kita kesulitan menempatkannya dalam dinamika kultur orang Batak, baik itu di Bona Pasogit apalagi di tanah rantau. Hal ini bisa saja terjadi kalau semua orang Batak menyadari kekeliruan kita selama ini. Hambatannya antara lain, pertama orang Batak yang masih mencintai dan mengapresiasi gondang pasti kena stigma kuno atau bagian dari sipelebegu. Bagi yang muda-muda tentu musik Mtv adalah pilihan yang tak dapat kita tawar lagi. Untuk melestarikan Gondang Selain mengadakan Festival seperti yang sering saya dengung-dengunkan selama ini. Menghidupkan upacara adat seperti Saur Matua dan Mangokkal holi/ saring-saring yang menggunakan Gondang Sabangunan tentu tak kalah pentingnya. Tugu-tugu yang baru tak perlu dibangun. Sebab setahu saya Tugu-tugu yang sudah ada, bisa saja diisi dengan saring-saring keturunannya. Sehingga dana untuk membangun tugu itu, bisa dipergunakan untuk keperluan lain umpamanya bea siswa. Sebenarnya membicarakan Gondang dan bagaimana melestarikannya adalah tema besar yang mungkin lebih baik lewat sebuah Seminar sehingga orang dapat dengan leluasa berinteraksi dan memaparkan pemikirannya. Harapan saya yang kita bahas disini tentu hanyalah sebuah penghantar ke sebuah forum yang lebih besar. Pembuatan dokumentasi Gondang Batak memang perlu. Tapi yang lebih penting lagi adalah mengembalikan ruang dan wadahnya untuk kita hidupkan dan kita lakoni dalam kehidupan ini. Coba kita amati, ada berapa orang yang mencapai Strata Saur Matua keluarganya mau membunyikan Ogung? (mamalu Ogung) maaf mungkin saya terlalu panjang berceloteh.

  10. joshua berkata:

    JANGAN SAMPAI TERJADI,KITA HARUS PROMOSIKAN BAHWA GONDANG HARUS ABADI,SAYA SENDIRI PROMOSIIN TANO BATAK AMA ORANG ASING,ATAU NEGARA2 LAEN.DENGAN CARA JEJARINGAN SOSIAL { FACEBOOK}

  11. hokkop tua situmeang berkata:

    saya juga melihat hal yang sama…
    bahwa originalitas gondang batak tak lagi bisa di dapatkan…
    khususnya di daerah perkotaan…
    pertanyaan saya sebagai orang muda adalah “apakah gondang batak yang ada saat ini adalah proses akulturasi atau memang hanya sebuah lahan bisnis tanpa pertimbangan etis dan budaya?
    tolong dijawab…

  12. Hilda larosa berkata:

    di tano pangarattoan on pe sering adong gondang naposo marga2,, alai dang sesuai dengan original ….

  13. ELEN S SIHOTANG berkata:

    terimakasih untuk artikel yang anda tulis
    sy pribadi sangat apresiatif sekali akan hal ini
    saya ingin berkenalan dengan bapak Jaihut sihotang.

    Dalam waktu dekat ini saya mengharapkan secepatnya nomor bapak Jaihut sihotang tersebut. Mohon konfirmasi nya ke nomor saya 0812 6918 0807. Terimakasih atas waktunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s