DEBATA IDUP

Monang Naipospos

Datu Pangabang seorang tabib batak yang mulai populer. Dia sangat ulet melakukan penelitian bahan obat untuk berbagai penyakit yang ditemukannya. Hutan dijelajah, beragam tanaman, akar kayu dan kulitnya dikumpulkan.

Hasil racikannya kemudian disebut “tambar” disimpan dalam wadah sederhana. Dari beragam dedaunan dan buah serta sari pati akar-akaran kemudian diracik menjadi bahan dasar obat cair yang disebut “taor”. Disimpan dalam wadah bambu dan periuk tanah.

Sebagai tabib pemula, tentu saja dia masih tetap melakukan evaluasi dari setiap penemuannya untuk mendapatkan bahan yang lebih ampuh mengobati penyakit tertentu.

Rumintang adalah seorang gadis menanjak remaja yang mulai aktif melakukan penataan sisi rumah. Dia adalah putri Datu Pangabang. Dia sering kena dampratan ayahandanya karena sering mengasingkan ragam bahan obat yang terletak sembarangan di ruangan rumah. Ketika Rumintang menata lebih rapi di lain tempat, Datu Pangabang kebingungan. Dia menyangka bahan itu dibuang anaknya karena dianggap sampah.

Suatu ketika, Datu Pangabang benar-benar kecewa dan marah kepada Rumintang.

Rumintang melakukan pembersihan para-para dan talete rumah batak tempat mereka tinggal. Dia menemukan bungkusan daun pisang berisi benda seperti kotoran coklat kehitaman. Dia menyangka itu adalah sambal yang lupa dimakan dan tentu saja sudah basi. Dia membuangnya. Samaselaki dia tidak menduga benda itu adalah “tambar” hasil racikan ayahnya yang terbaru obat penyakit sampu-sampu.

Kemarahan ayahnya beralasan karena bahan obat itu dicarinya berbulan-bulan dari hutan yang sangat sulit menjangkaunya. Mengatasi keraguan Rumintang selanjutnya, Datu Pangabang membentuk wadah dari bambu. Kedalam rongga bambu itu bahan racikan obat itu di masukkan, lalu kedua ujungnya ditutup dengan kulit pisang yang diikat. Tentu Rumintang sudah mengerti.

Togap Pangalapan adalah seorang lelaki cerdas dan lincah. Dia adalah adik Rumintang yang berusia 8 tahun. Kurang peduli pengaturan seisi rumah apalagi ketabiban ayahnya. Di lebih gemar menggembala kerbau sambil bermain dengan teman sebayanya di sawah dan ladang.

Suatu ketika, ayahnya berteriak dari sawah memanggil Togap yang asik bermain di penggembalaannya tidak jauh dari ayahnya bekerja. Dia minta agar Togap sudi mencarikan sepotong bambu untuk digunakan saluran air di pematang sawah. Tanpa tanya apa dan dimana, Togap langsung berlari menuju perkampungan mencarikan bambu dimaksud. Togap kewalahan, menebang mambu tidak mampu, bambu yang tumbang tidak ditemukan. Dia teringat disamping hombung di rumahnya ada terletak potongan bambu. Dia langsung menuju rumah dan memeriksa bambu itu, ternyata isinya “bumbu masakan” yang sudah lama tidak dimakan, begitu pikirnya.

Dia membuang isi bambu, dan tanpa pikir panjang berlari ke sawah memberikan hasil pekerjaannya itu kepada ayahnya. Harapannya mendapat pujian karena kerjanya cepat, ternyata dampratan. Datu Pangabang mengenal bambu itu tempat penyimpanan tambar hasil olahannya. Bukan main kesalnya dia.

* * *

Datu Sontang Banua adalah tabib tersohor ni negeri dimana Datu Pangabang berada. Dari tabib tua ini pula dia banyak mendapatkan ilmu pengetahuan. Kunjungannya kesana dalam rangka penyempurnaan tenaga dalamnya yang belum sempurna dan masih jauh dibawah Datu Sontang Banua. Dia mencurahkan segala kekesalan di hatinya akibat ulah kedua anaknya.

Datu Sontang Banua tertawa terbahak-bahak. Tabib setengah baya ini kesal karena ditertawakan. Meningat yang mentertawakan itu sudah dianggap sebagai gurunya maka dia diam saja berusaha tidak memperlihatkan kejengkelannya.

Tambar dan taor adalah pagar kehidupan, begitu Datu Sontang Banua memberi keterangan. Kesehatan adalah keutamaan tubuh. Tubuh perlu dipagari dengan ketersediaan obat. Sebagaimana pentingnya kita menjaga kehidupan sebegitu pentingnya juga kita menjaga bahan obat. Keduanya harus dipelihara dengan seimbang.

Datu Sontang Banua mengajak rekannya itu naik kerumah. Dia menunjukkan susunan benda tempat penyimpanan bahan obat yang dibuatnya. Ada sekitar duapuluh benda berukir yang terbuat dari kayu. Dengan bentuk berukir itu, kesannya menjadi hiasan sehingga seisi rumah tidak mengusiknya. Amanlah bahan obat yang ada didalamnya.

Patung mini itu disebutnya Debata Idup. Akan tetapi Datu Pangabang menolak pemberian nama itu karena Debata Idup adalah Dewa Pengobatan.

Benar, kata Datu Sontang Banua. Debata Idup adalah dewa obat, dan bukan obat, tapi ditangannya ada obat. Dia adalah sumber pengetahuan pengobatan. Pengobatan adalah “mangidupi” memberi hidup dari ancaman kematian karena penyakit.

Datu Pangabang kemudian menempa 10 wadah penyimpanan bahan obat racikannya. Kepada anak-anaknya disebut itu Debata Idup. Tanpa bertanya panjang lebar, mereka mengiyakan dan tidak pernah lagi terjadi gangguan terhadap bahan obat racikan sang tabib.

Ada orang dulu hingga sekarang mempelesetkan pengertian Debata Idup. Menuliskan dalam buku-buku dan menjadi refrensi masa kini. Mereka menyatakan itu benda keramat yang disembah dan dipuja. Ada yang mengatakan itu kategori iblis yang mengancam manusia sehingga disembah. Bila Datu Pangabang masih ada, mungkin akan tertawa terbahak-bahak.

Iklan

7 thoughts on “DEBATA IDUP

  1. goklas sinurat berkata:

    apa pula itu Debata Idup?????
    ada-ada ja cerita bapa tuaku ini Bah…..
    dari mana lah sumber cerita ini diambil Bapa tua????
    apa ide ceritanya datng sendiri??????
    tp sial jg datu parsiajar itu ia…..uda capek2 dia bikin obat tp nggak di dukung tondinya???? buktinya semua ramuan dia di buang anak2nya????

    tp si rumintang nggak tau kan bapaknya datu????

    SIAPA TAU AKU BESOK KETEMU SIRUMINTANG MANURUNG???????

    GBU

    *** Didunia pengobatan batak, debata idup adalah dewa obat. Para tabib menghormatinya. Secara material ada patung kecil yang berongga tempat penyimpanan obat. Ada juga yg terbuat dari tanduk, disebut SAHAN. Ingat asal mula nama ASAHAN.

  2. Menarik sekali Lae… saya juga sangat tertarik tentang hal hal seperti ini… bukan Hadatuonnya… atau mistisnya… tetapi sejarah dan segala filosofinya, misalnya ada Bahasa Datu atau Bahasa Tonggo yang pernah saya dengar dari Ompung saya dahulu… sayang saya sudah lupa … hanya satu yang saya ingat yaitu Ambalungan… artinya Ayam, saya yakin Lae pasti tau banyak akan Hal ini…
    BTW apakah Lae pernah mendengar Guru Andalu…?! berasal dari Sitoluama…. katanya cukup terkenal di Zamannya sebagai pengobati yang manjur.

    *** Belum kenal lae, saya tertarik menelusurinya. Saya sering ke Sitoluama.

  3. Maulina br sirait berkata:

    DEBATA IDUP ? belum pernah dengar sebelumnya, mauliate Tulang atas penjelasan ini, nunga tamba parbinotoan.

  4. Dian Sidauruk berkata:

    *Taor: Bukan taor tetapi taoar berasal dari kata tawar.
    Tawar artinya tak punya rasa. Taoar dalam terminologi Batak berarti tak mempan terhadap apapun termasuk tak mempan terhadap penyakit atau telah dibuat tak mempan. Pengertian umumnya adalah: telah disembuhkan. Maka Taoar adalah tambar (obat). Taoar tidak sama pengertiannya dengan obat dari apotik atau obat kimia sebab taoar mengandung pengertian ditabasi (dimanterai).

    *Debata Idup adalah sebuah patung kecil, bisa terbuat dari batu atau dari kayu yang dipahat menyerupai manusia. Jaman dahulu, ketika agama surgawi belum masuk ke tanah Batak patung ini disembah dan dipuja, dianggap sebagai dewa.

    Patung ini Disebut Debata Idup karena Debata adalah Maha pengobat, Maha datu dan Maha menghidupkan. Idup berasal dari kata ‘meng-Hidup-kan’. Oleh karena perubahan pengucapan maka Debata Meng-Hidup-kan berubah menjadi Debata Hidup kemudian berubah menjadi Debata Idup yang artinya Debata yang membuat Hidup.

    Ref:
    Perubahahan pengucapan ini sama dengan Tunggal Pataluhon yang kemudian berubah menjadi Tunggal Panaluan.
    Tunggal Panaluan adalah sebuah Tongkat.
    Tunggal Panaluan = Tongkat Jantan yang Mengalahkan.

    Pa-talu-hon = membuat kalah = mengalahkan = kata kerja.
    Pa-nalu-an = pembuat kalah = bila menggunakan tongkat ini musuh pasti kalah = kata benada.

    Pergeseran sebutan dari Pataluhon ke Panaluan adalah suatu strategi membentukan mental. Bila menggunakan kata Pataluhon maka jelas kita harus menggunakan tenaga untuk menggunakan Tunggal Pataluhon tersebut berperang melawan musuh agar menang tetapi bila menggunakan kata Panaluan maka kita tak perlu menggunakan tenaga tetapi cukup memiliki Tunggal Panaluan maka musuh pasti kalah.

    Apa makna dibalik ini?
    Bila hanya dengan memiliki Tunggal Panaluan saja kita pasti menang, maka, kemenangan apakah yang akan kita raih bila kita memiliki Tunggal Panaluan sekaligus kita bersedia menggunakan tenaga kita menggunakannya? Pasti luar biasa.
    Raihlah kemenangan sebesar-besarnya, engkau punya senjata tetapi jangan sombong, engkau harus berlatih dan bersedia menggunakan tenagamu menggunakan sejata itu.

    Bandingkan dengan: Pa-taru-hon dan Pa-naru-hon.
    Pataruhon = kata kerja.
    Panaruhon = kata benda.

    Salam dari Bali.

  5. Horas di hita saluhutna.
    Mauliate di hamu lae, alana nga tamba sada parbinotoan di tradisi Batak. Taringot tu hata “Debata” adong do muse istilah na hea hubege, on ma istilana “Debata Na Tarida”. Di tingki dakdanak sungkun-sungkun do rohangku, aha do maksudna Debata Na Tarida” on. Dung leleng huriman-rimangi, dapot au ma maksudna ima ” Natua-tua” manang “Natoras niba” (Orang tua/ Ayah-ibu) di bahasa Indonesia na. Molo hubandinghon angka naposo generasi nuaeng, nung-nga tung godang naposo ni halak Batak na lupa tu “Debata na Tarida” on. Godang do hubege kabar generasi muda di pangarantoan dang pasangaphon natua-tua na, alai par-gareja na utusan do ibana (khusus sian gareja aliran tertentu). Boasa hu dok songon i? Marsahit ma Bapa na di huta ala naung matua jala sihol rohana tu anakna naung leleng di pangarantoan, ditonahon ma anak nai asa mulak jo tu huta alai anak na on dang mar na ra mulak alana sibuk pelayanan (alasanna kerja diladang Tuhan). Sampe naing mate bapa na i tong ditonahaon asa mulak jo nanggo apala piga -piga borngin. I pe tong do dang ra mulak alasan na dang boi di tinggalhon “Ladang ni Tuhanna i” Jala di dok anakhon na i: Kalau Kristus memang menghendaki bapak meninggal, apa boleh buat. Kita terima saja dgn Ikhlas. Gabe Kristus do di bahen alasanna. Dang marna ra mulak sampe dikubur bapa na i. Padahal jarang sian Batam tu Panei Tongah sanjongkal do i nuaeng.(kebetulan parhutanta). Hubereng ma godang kasus na hampir sarupa di Jakarta on, adong persamaan. Ima gareja ni halak i siang sada aliran tertentu. Na mandao sian adat, na so olo mamangke ulos, na so olo pasangaphon natua-tua na ala ni berbeda aliran kepercayaan. Sai Debata na so tarida i ma tong-tong di somba, alai “Debata na Tarida” i dang di pasangap. Alai dung di toru tano haduan Natua-tua nai baru pe olo ziara tu kuburanna. Boha do nuaeng menyadarhon akka naposo na songonon tahe? Mungkin adong do di keluarganta be na ikut-ikutan songon on. Mauliate.

  6. Julyster Sinurat berkata:

    Mauliate godang dihamu nagodang parbinotoan muna i, sai anggiat ma diramoti Tuhan hamu jala tamba godang parbinotoan muna…….
    Unang marna bosan mambaen akka ulasan mengenai Habatahon da…..
    Horas jala gabe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s