Euforia Natal Pada Sebuah Kampung

Jones Gultom

NATAL_018SUARA meriam bambu dari seberang dolok (bukit) tetap saja berdentum- dentum, memecah sunyi pada malam yang berkabut di Samosir. Meski rumputan yang basah, mungkin  pacet, juga lintah atau serangga-serangga malam lainnya, menempel di kaki yang mengerut, toh semangat dan keriangan anak-anak di kampung saya ketika menyambut Natal dan Tahun Baru, tak pernah surut.

Peristiwa itu  adalah momen yang sangat berharga bagi mereka. Tak hanya bermakna religius, euphoria itu justru merupakan puncak dari rangkaian peristiwa gembira lain yang datang beruntun di kampung saya. Natal dan Tahun Baru selalu ditandai dengan datangnya musim panen. Berbarengan pula dengan libur panjang anak- anak sekolah. Kepulangan mereka mengubah kampung yang biasa sunyi dan adem menjadi ramai dan meriah. Pada hari-hari terakhir, para perantau juga pulang untuk bersilatuhrahmi dengan sanak famili. Kepulangan para perantau, apalagi mereka yang sukses di perantauan biasanya disambut hangat sanak keluarga.

Tak jarang dengan sebuah pesta  lengkap dengan iringan musiknya pula. Bisa dibayangkan, bila dua puluh keluarga saja yang melakukan itu, betapa setiap malam pesta tak henti-hentinya digelar. Malam-malam menjadi ramai, oleh musik, handai tolan, anak-anak yang bermain-main di halaman rumah yang berpesta, dan juga pedagang yang ikut ambil kesempatan.

Bagi para perantau, inilah saat yang tepat untuk memamerkan tajinya. Ada yang membawa mobil pribadi, tidak perduli apakah itu cuma rentalan, ada yang mengenakan segudang perhiasan, layaknya toko emas berjalan, ada yang pamer-pamer handphone terbaru dengan berpura-pura mengangkat telepon sekeras-kerasnya sembari berkecak pinggang dan menyebutkan sejumlah proyek. Selain pamer-pamer harta, soal bahasa dan retorika juga ditata. Mereka yang merantau di kota Megapolitan, tiba-tiba jadi tak tahu berbahasa batak. Dialeknya menjadi kebetawi-betawian, dengan logat retro yang metropolis. Yang agak santun, mencoba tetap menujukkan kebatakannya.

Memang tak semuanya demikian. Ada juga yang biasa-biasa saja. Biasanya kelompok ini adalah mereka yang tak terlalu berhasil di perantauan. Nasibnya di perantauan juga tak jauh beda dengan di kampung. Masih juga mengandalkan tenaga. Soal logat  biasa saja. Pun pergaulan, masih kerap mengatakan; “Horas bah!” atau “Bah hamu doi lae!”. Kelompok ini masih mau ngumpul di parker tuak bersama teman-teman seangkatannya dulu. Masih tetap ngejreng… ngejreng… minum tuak sambil menyanyi oh inang… oh amang. Walau sesekali dengan latah mencoba lagu terbarunya Kerispatih………

Begitulah hiruk-pikuk Natal di kampung saya. Tidak hanya menyiratkan kemeriahan yang didasarkan kerinduan akan sebuah pesta, tapi juga memperlihatkan bagaimana pola sosial dan psikologi masyarakatnya. Sebenarnya momen ini bisa  menjadi acuan untuk mendalami watak dan pola hidup masyarakatnya, seperti yang coba diungkap Baharuddin Aritonang dalam bukunya; “Orang Batak Berpuasa”

Lepas dari semua itu, saya tak mungkin lupa, ketika tiba harinya, pada pagi hari yang masih berembun, lonceng gereja berdentang-dentang, bersahut-sahutan dari satu kampung ke kampung lain. Dan tentu saja, sebarisan anak-anak kecil dengan mengenakan baju, sepatu, rok, celana, pita, dandanan yang baru, terlihat riang dan sedikit tergesa, bergandeng menuju gereja. Mereka bersiap menyambut Natal dengan wajah yang bersahaja!

Jones Gultom, Redaktur Sastra Budaya Medan Bisnis

Iklan

13 thoughts on “Euforia Natal Pada Sebuah Kampung

  1. Anson Simanjuntak berkata:

    Horas ma dihita saluhutna.
    Nuansa natal dari dahulu kala sampai sekarang sangat kental dengan rasa persaudaraan di halak hita dimanapun berada, terlepas dari berbagai macam gaya dan tingkah laku akibat perubahan zaman dan teknologi.
    Akan tetapi bersuka citalah kita selalu karena Tuhan kita Yesus memberikan kita kesempatan untuk merayakan natal kembali dengan walaupun sendiri dan bersama keluarga dan handai tolan.
    Untuk itu saya beserta keluarga melalui dunia maya ini mengucapkan ” SELAMAT HARI NATAL 25 December 2008 dan TAHUN BARU 01 January 2009 ”
    untuk seluruh pecinta web side ini dan pengelolahnya, semoga Tuhan menambahkan kita Rezeki dan umur yang panjang untuk mengarungi tahun yang baru.

    Tuhan memberkati.
    Anson Simanjuntak dan keluarga.

  2. Euforia Natal dulu dgn sekarang memang sangat jauh bedanya. Jaman dulu waktu saya masih Sekolah Minggu Pada waktu siang menjelang malam Natal, anak2 sekolah minggu makan bersama di gereja, bawa nasi dan tikar, kemudian anak2 dibagi jagal lombu/horbo, tp yg dimakan di gereja cm nasi dan lauk yg dibawa dr rumah sama kuah2 jagal itu. Lalu jagalnya dibawa utuh pulang ke rumah, untuk dinikmati semua anggota keluarga walaupun hanya kebagian kantangnya doang..

    Kalo baju natal sudah dibeli, bisa2 sepuluh kali coba sambil ngaca2.. hahahha, udah nggak sabaran menunggu tiba waktu natal. Corak baju cewek sekampung biasanya sama “marbunga2/marhillong2/berenda2” Rambut kepang dua pake pita warna merah…. hahhhhh jadi terbayang masa2 kecil…

    Untuk semua pengunjung Blog Partungkoan ini, kami sekeluarga mengucapkan: Selamat Hari Natal 2008.

    Songon hata ni ende i: “Nang Pat…Nang Mata…, Nang Pamangan, … Luhut marsala do hape ”
    “Mohon maaf molo salelengon adong hata2 ku na hurang berkenan” Horas ma dihita saluhutna..!

  3. Salngam berkata:

    Natal & Tahun Baru yang saya kenang.
    NATAL:
    Natal yang saya kenang pada waktu saya kecil hingga remaja di Balige Toba Samosir adalah waktu untuk uji kebolehan pajojorhon, baju dan sepatu baru yang berlangsung sekali setahun. Rasa menderita akibat kemiskinan seolah-olah hilang seketika.
    TAHUN BARU
    Tahun Baru adalah detik-detik yang mengharukan sekaligus menggembirakan. Kesepian terjadi manakala satu anggota keluarga tidak boleh pulang dari perantauan karena ketidakadaan biaya, keterbatasan supply sembako. Kegembiraan jika sembako lengkap dan anggota keluarga boleh berkumpul apalagi ada anggota keluarga yang boleh pulang kampung dengan oleh-oleh “roti” dan baju dan sepatu baru.
    Saya kira bagi orang miskin yang mengalami metamorfose menjadi tidak miskin cerita Bapak Jones Gultom di atas menurut saya adalah sesuatu yang alami. Menurut para Ekonom itu disebut “effect demosntrative” dan hal tersebut menjadi fenomenal di negara sedang berkembang.
    Saya kira juga untuk mereka yang sudah mapan secara ekonomi perilaku seperti itu tidak lagi menjadi kebutuhan.
    Semoga Natal & Tahun baru kita dimasa-masa yang akan datang kiranya tidak lagi masalah kebutuhan dasar (Sandang, Pangan Papan) kiranya lebih ke Social Needs-Self esteem dan Aktualisasi diri. Tuhan memberkati BANGSO BATAK

  4. Selamat hari Natal dan Tahun Baru
    euforia!!, semoga tidak salah arah…tergantung dari kita……kita bebas memilih. Juga kesempatan untuk berubah selalu ada, tiap detik, jam dan hari…

  5. Hendry Lbn Gaol berkata:

    Setiap natal saya pasti teringat pada masa kecilku di sebuah desa di kaki Dolok Pinapan, namanya desa Pulogodang. Di desa inilah saya tumbuh menjadi anak-anak walopun setamat dari SD saya meninggalkan desa ii mengikuti orang tuaku yang pindah tugas ke Pakkat. Beberapa hal yang selalu saya ingat tak kala menjelang hari Natal adalah Mariam Bambu. Yah…permainan anak-anak paling terkenal.

    Bulu Godang tiga ruas dijadikan satu dengan menyatukan setiap BUHUnya, lalu di pangkalnya dibuat luban persegi empat seukuran 3cm x 3 cm dimana fungsinya untuk menyulut lidah api.

    Waktu itu, minya tanah amsih murah, satu liter masih 300 perak. Bandikan dengan harga sekarang sudah puluhan kali lipatnya. Minyak tanah dituang kedalam bambu yang ditidurkan dengan sudut 15 derajat dan lubang kecil itu menghadap keadas.

    Sulutan pertam hingga ke sepuluh belum apa-apa, minyaknya belum panas, lalu tiba suklutan ke 15 dan seterusnya hingga minyak tanah didalam bambu ii habis, mungking suaranya mirip meriam benara, kale yah…..

    Namanya juga anak-anak, kalo meriam ini suadh panas dan bunyinya sudah nyaring, ada saja usul yang ise. Asal usul, lalu muncul usulan asal-asalan. Pukul 12 malam, orang orang sudah pada tidur, dibawah BULUSAN dan ringkikan dibawah sarus tebal. Lalu moncong meriam ini kami arahkan ke kamar tidur orang.

    Dua orang menenteng didepan, dan dua orang dibelakan dengan cara mengikatnya ke sebatak pokok kayu, mengingat disebelah sisi yang berisi minya tanah ini, sangatlah panas sekali. Lalu, setelah ditiup sekali dua kali, dengan posisi, kaki siap tungganglanggang,…meriam disulut….DDuuuaarrrrrrr……

    Si pemilik rumah kaget, terbangun dari tidurnya, begitu ketahunan dia bangun, kami lari dengan tetap menenteng meriam ii, lalu lampu dimatikan. Gelap gulita!!

    Dia kemudian mengumpat ….Naso di ajari akam do ho akka bodat, sahali nai…ikkon hutallik ulumi…..( akam = amangmu)

    Ada rasa senang kalo orang satu kampung sudah geor dan sudah gaduh, tinggal kita sembunyi diabwah kolong rumah orang.
    Besoknya, lewat dari depan rumah itub pura-pura nggak tau aja. Salah satu kesan main meriam bambu ini, Salibon alias ALIS mata bisa hangus, belum lagi baju dan wajah MARGETONGI. Bara api masih menyalah didalam bambu, sudah ditiup, yang ada bukanya apinya amti, tapi menyembur lewat lubang itu.

    Setiap dusun di desa kami ini berjauhan, dan didiami sekelompok marga dari keturunan satu oppu tertentu, dan disnilah seninya. Bak seorang tentara pejuang, kami merangkak ke kampung lain dimana sedang ada permainan meriam bambu.

    Sebongkahan batu yang kita taksir bisa masuk ke corong meriam ini disiapkan, atau kain kain besar untuk disumpalkan. Lalu begitu ditiup dan siap di sundut. Kita masukkan batu ini. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi.

    Pertama, saking panasnya minya didalam bambu ini, meriam ini akan meledak
    atau mungkin, apinya akan berbalik, keluar dari lubang kecil, inilah yang menyebabkan salibon terbakar. Atau merimanya nggak bunyi, kayak bunyi kentut saja..mallepes!!!…..

    Itulah pengalaman masa kecil,….dang haulahan be mulak dakdanak…Selamat Natal dan tahun baru

  6. Simare anak muara berkata:

    Horas! Gabe taringot ujui dakdanak iba marnatal di huta, las roha jala ribur. Slmt natal ma tu sude pengunjung ni blog on

  7. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Pengalaman kami selama 6 hari di Bonapasogit dari tgl 16 s/d 24 Desember 2008 yg baru lalu, adalah sebagai berikut :
    Setelah sampai di atas Batu Gantung, kami beristirahat, sambil menikmati makanan di Restoran dipinggir jalan tetapi belum terasa suasana natal, karena di belum ada hiasan Natal seperti pohon terang atawa mare-mare dll.
    Demikian juga setelah memasuki Porsea dan Laguboti, malah lebih ramai LAPO dan Warnet dibanding gereja, padahal malam itu ada Natal di Gereja Aruan Laguboti.
    Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Balige, demikian juga, sepanjang jalan yg bertebaran adalah spanduk-spanduk dari Caleg masing2 partai yg mengucapkan Selamat Natal dll, btw…. koq Spanduknya Amangboru Monang Naipospos tidak saya lihat ya…. Kuda tunggangan Amangboru Partai apa ya…..
    Perjalanan kami teruskan ke Siborong-borong, disebelah kiri jalan sebelum kota Siborong-borong adalah Universitas Tapanuli tempat yg direncanakan untuk melaksanakan Natal Se Propinsi SUMUT, tapi koq sepi2 aja, spanduk pun tak ada…
    Sampai di Kota Tarutung kebetulan hari minggu, yg terlihat mencolok hanya Spanduk Bupati TOLUTO mengucapkan Selamat Natal di setiap sudut kota…. … padahal jalan dari Siborong2 sampai ke Tarutung banyak yang berlubang-lubang…. mbok ya dana bikin spanduk dibuat untuk memperbaiki jalan gitu…
    Setalah mengelilingi Tarutung kami kembali ke Siborong2 menuju Dolok Sanggul, yang mengobati hati hanya dari Siborong2 ke Dolok Sanggul karena jalannya relatif bagus, dan hanya Kabupaten HUMBANGHAS yang benar2 melaksanakan pembangunan infrastruktur antara lain memperlebar jalan menuju dan keluar kota Dolok Sanggul baik yg kearah Siborong2 maupun ke Sidikalang dan penataan pembangunan kantor Pemerintahan HumbangHas diatas bukit sangat indah…. saya ingin kembali ke Doloksanggul setelah pembangunan infrastruktur nya selesai…. kami menuju Sitinjo untuk mengunjungi Taman Iman….. jalan menuju Sitinjo dr Dolok Sanggul rusak ….. demikian juga dari Sitinjo menuju Merek sampai ke Panaitongah.
    Sepanjang jalan tidak terlihat suasana Natal… apabila dibandingkan dengan Singapura yg kami kunjungi pd tgl 3 s/d 5 Desember 2008, sepanjang jalan dan setiap sudut kota dihiasi hiasan Natal dan Pohon Terang.
    ” selamat Natal 25 Des 2008 dan Menyongsong Tahun Batu 1 Januari 2009,
    Tuhan Memberkati.

    *** Saya tidak pakai spanduk tulang… mereka kan sudah kenal saya. yang tidak kenal tak bisa didorong dengan spanduk. Kenyataan,… masyarakat mengkritiki spanduk itu dan membacanya seperti bahasa kartun…… haaa…haaaa…. Tak perlu ikutan kayak gitu tulang…. kan… i do…

  8. tobakartun berkata:

    Saya tersenyum membaca perilaku perantau Batak yang pulang dan menunjukkan tajinya. Terkadang sangat norak dan kampungan. Mulai dari pamer perhiasan, HP dan mobil.

    Berbeda dengan perantau Jawa yang pulang kampung lalau memakmurkan kampungnya, kalau perantau Batak yang pulang banyak yang cuman pamer. Dan bikin risi orang kampung.

  9. Peterson Pangaribuan berkata:

    Parjolo ma, Selamat Natal dan Tahun Baru di hita saluhut na. Saya kurang tau pasti apakah hanya saya sendiri yang merasanya, bahwa menurut saya sepertinya telah ada perubahan atau malah pergeseran sikap atas makna natal di bona pasogit, misalnya di kampung kami di sitoluama laguboti, tobasa. Tahun 2002 lalu saya natalan dan tahun baruan di kampung setelah 15 kali sebelumnya biasanya di rantau. Sejak pertengahan desember saya telah berada di toba. Jauh2 hari saya telah membayangkan bahwa natal begitu damai, indah dan sangat berkesan sewaktu masih masih anak-anak di di huta hatubuan nauli i, tidak mengerti pahit getirnya kemiskinan orang tua, yang ada sejak Oktober rasa sukacita dan bahagia yang meluap sudah mulai memancar di dalam hati setiap orang terutama anak-anak. Ayat-ayat liturgi telah dibagi di sekolah minggu dan sekolah-sekolah, tiap minggu akan manguji/ latihan di gereja begitu juga di sekolah latihan-latihan koor sebagai persiapan untuk natal di bulan desember nanti. Puncak kebahagiaan itu akan dialami oleh setiap orang saat melakukan perayaan natal masing-masing dengan penampilan yang telah disiapkan sebaik-baiknya dan dilanjutkan sampai tanggal 31 des, akan keliling-keliling ojalan kakio di sekitar kampung dan 1 jan bersilaturahmi dengan saudara, teman dan tetangga-tetangga dan keliling-keliling atau nonton bioskop di balige, laguboti dan porsea. Aduh mak betapa bahagianya saat itu… aku sangat merindukan suasana seperti itu di kampung dan di negara ini, akh tahe ai songoni dope saonarion? Akan tetapi tahun 2002 itu…situasi natal masa kecil yang selalu idam-idamkan dan bayang-bayangkan serta tunggu-tunggu lama sebelumnya bahkan telah promosikan pada istri dan anak kecil saya, sama sekali telah jauh berbeda dan berubah, malah menurut saya lebih berkesan di Jakarta, saat itu yang ada hanya sekedar perayaan rutin saja, seperti sesuatu yang telah ditinggal oleh ruhnya. Batin saya kesepian di tengah keberadaan huta hagodangan. Sedih sekali rasanya suasana yang telah sangat lama saya rindu dan idamkan, sesuatu yang tidak pernah lihat dan rasakan lagi, yang saya harapkan dapat saya temukan di bona pasogit kenyataannya tidak ada lagi, mungkinkah telah hilang sirna disebabkan beban ekonomi yang makin berat mendera dan menekan? Saya bertanya-tanya dalam hati dan kalbu saya protes pada Tuhan.” Tuhan, kenapa engkau membiarkan ini terjadi pada umatMu di bonapasogot?,kenapa sumber kebahagiaan ini Tuhan biarkan berlalu dari Tapanuli nauli i, sementara umatMu kebanyakan berada dalam kesederhanaan dan berbeban berat? Bukankah dengan suasana seperti dulu itu akan dapat menghibur setiap hati yang gundah dan terbeban ini? Sungguh saya tidak mengerti kenapa suasana ini telah hilang dari alam tapanuli yang telah 0engkau pilih melalui parbarita2 nauli yang telah 2ngkau utus dari belahan bumi yang lain? Di kebanyakan bagian negara ini hal sperti itu tidak pernah ditemukan, namun alam tapanuli sangat mendukung kedamaian dan sukacita natal tetapi sekarang telah berubah sama seperti daerah lain yang merayakan natal. Apakah umat Tuhan di Tapanuli telah berubah modern dan menemukan keceriaan yang lain, saya kurang tau. Alam Tapanuli sepertinya masih relatif belum berubah masih cukuo sunyi di banding kota-kota lain. Udaranya masih bersih dan dingin, panoramanya masih indah, suasana alamnya masih damai tapi kenapa perayaan natalnya terasa hambar? Sepertinya di eropa saja suasana natalnya masih terasa damai dan sukacita natalnya masih menggema dan ,natal di desa-desanya masih relatif sama seperti dulu. Tanggal 12 des 08 kemarin saya sempatkan pulang ke kampung 2 hari sehabis tugas di Medan, tapi suasana tahun 2002 itu masih sama, tidak ada sama sekali suasana natal seperti dulu… Ahk naingkon songonon nama nuaeng atau hanya saya saja yang merasa aneh. Tapi saya tetap menantikan suasana yang hilang itu di tapanuli dan di daerah lain.

  10. tanobatak berkata:

    Tulang Anson

    Memang goresan lae Gultom ini menyentuh semua sisi perilaku yang pernah saya lakonkan. Tapi saya sudah menyadarinya tulang. Ketika ler Gultom ini men-share artikelnya ini langsung saya tertarik. Tetapi selalu ada yang memaknai segala bentuk ritual.

    Ito Dessy

    Kubayangkan lah ito Desi kecil pakai baju kembang2 itu dan rambut kepang dua kiri kana pakaipita merah. Kalau ada poto itu tolong dibagi haaa… haaa… Menonton kita saat kecil melalui photo semakin menarik kan… Kombang layang dan sasagun campur kacang tojen dibungkus dalam plastik, dulu dalam saputangan. Ketika ada anak laki2 nakal merampok “sabur ma sude” nangis lah si pita merah …. haaa… haaaaa.

    Lae Salngam

    Teringat dulu lae semasih anak2 diwajibkan selesai dulu marsuan baru diijinkan bertahun baru dan diberi uang jajan. Itupun sebatas sampai ke Hephata nonton orkes para tuna netra.
    Perilaku menunjukkan kebolehan seperti diungkap lae Gultom itu masih ada juga lae. Utamanya mereka yang kaya mendadak dan tidak merupakan profesi yang jelas.
    Untung saat ini sedang marak KPK membantai korupsi. Pejabat bakalan pamer juga ke kampung halaman.

    Singal

    Betul itu lae. Kita hindarkan aktualisasidiri yang menyilaukan mata orang sedesa,tapikita galang partisipasi, kita bangun kecerdasan masyarakat yang berampak kepeningkatan ekonomi mereka.

    Hedry

    Satu per satu kisah “hadal”mu semasih anak2 kau buka. 😀 Kubanyangkan betapa kagetnya yang punya rumah kau tempaki seperti “hamas”. Kubanyangkan caramu melarikan diri. Kubayangkan wajah dan rambutmu disembur api dari lopang pemicu. Jangan2 rambutmu jingkrak karena terbakar dulunya 😀
    Kalau lae suhunan sudi buat ceritamu semasih kecil pasti akan menarik Judulnya KISAH SI ANAK NAHADAL 😀
    Kalau bisa “haulahan mulak dakdanak” pasti kamu bikin kacau lagi……

    Simare

    Horas… selamat berkunjung di blog ini.

    tobakartun

    Horas…. Bisa kami kenal anda lebih banyak, setidaknya nama bila tidak ada marga…

    Peterson

    Ai na mulak do ho hape….
    Kita adalah bagian dari kini dan merasakan masa kini itu. Dulu yang pernah kita rasakan bagaimana kita mendapatkan kalau kita bersamasama membangunnya…
    Kebersamaan yang hilang itu sulit dikembalikan, tapi setidaknya dapat kita mulai dengan perbuatan

    Dulu tradisi memiring kue ke tetangga pada tahun baru sangat bagus. Sehingga ada kewajiban membuat kue, masa itu sasagun dan kombang layang. Segala bentuk kue tetangga ada di rumah kita karena tradisi menghantar tadi.
    Biasanya anak2 yang disuruh mengantarkan. Ini pendidikan awal bagi anak2 anak untuk saling memberi dan menerima.
    Saya sendiri yang tinggal di kampung sulit mengulangnya. Entah apa awalnya itu hilang.

  11. Desy Pardede berkata:

    Hahahha… anggo ito on ma nian….. sai na adong2 do bah…
    Ai najolo ito, tingki mulai dohot au masipajojoron, holan semangat do tinggi, alai disi sahat ma giliranku pintor tangis do au marlojong tu inongku, mengkel2 ma jolma.

    Jumpa ma muse taon berikutna, didok dainang ma tu au: “Molo dang olo ho mandok ayat2mu dang tuhoron be baju natalmu” ninna. Jadi marjanji ma au bahwa naingkon dohononku do ayat2 hu, daripada dang marbaju naimbaru au ninna rohangku. Hape tong do nian sundat hudok, alana sek parila au ito andorang dakdanak, pas ma songon istilah na mandok “mental karupuk” do mentalhu hahhahaha….. Jadi dung dapot ma giliranku dang pola marlojong be au tu dainang, alai i dope hudok sangkababa nunga pintor tangis au, belepotan ma tutu badak dohot listip niba, “dok ma inang… dok ma! ninna inongku sian pudi, bah tamba hupagogoma tutu tangishu… jolma pe lam tamba margak hargak ma… wakakkakkkk

    Tep ma di taon patoluhon, tong ma adong ancaman i, alai saulak i hubaranihon ma tutu, alai giliran dipasahat tu au halo2 i ( mic ) dang barani au mar mic, alana mabiar au atik boha pintor tompu au tangis…. jadi hudok ma ayat2 hu tanpa microfone… disi mulai hudok ayat2hu tung i nama gogona…. mancai gogooooo… alai huhut mardongan biar, alai lam leleng lam metep ma suarakku, toooonggg ma siparekkelon iba… ehhh tahe, gabe dibahen ma gelarhu “SI PARTANGIS”
    Molo huingot i, sipata marpingkir do iba boasa boi songoni ate?
    Btw, adong dope nian poto i ito, alai maila au bah…. situtu….! wakakakkkkkk…..

  12. napitupulu_chaidir berkata:

    horas lae pospos.

    selamat taon na imbaru majo parjolo.

    toho do antong tung mansai ribur do molo tingki martaon baru iba di huta, molo di huta nami na jolo, tep ma di borngin di parsirangan taon na buruk tu taon na imbaru, di borngin nai sude do antong ni dai angka na so boi dope si dai on, hira na adong do sada uhum no so tarsurat na mandokkon DILARANG UNTUK MELARANG, nang pe rupani iba tingki i marsingkola di SD dope, marisap/sigaret, minum-minuman sap bulan manang tuak bebas do ndang pola ibadai akka natua-tua manang abang nima, jala muse margadang sampe tiur mata niari dohot angka dongan satorbang laho paintehon “bintang berekor” alana sahali sataon do.

    Ago tahe………., hape dungkon saonari on dang dapot be antong suasana si songon i di huta saonarion.

    *** Horas lae Napit. Molo mulak hamu taon naro, paboa hamu asa tabaen acara songon najolo i ate 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s