TAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

Jones Gultom

SELALU saya ingat pesan seorang sahabat; "Dunia kehabisan tempat bagi orang yang biasa-biasa saja!"

Pesan ini mengingatkan, betapa kompetitifnya persaingan hidup dalam segala aspek. Bahkan untuk suatu pekerjaan yang haram saja, orang harus menjadi luar biasa. Dengan begitu, barulah orang tersebut mendapat tempat.

Tetapi tentu saja, makna biasa-biasa bagi setiap orang berbeda. Hal yang biasa bagi seseorang, bisa jadi sesuatu yang luar biasa bagi orang lain. Demikian sebaliknya. Bagaimana orang memaknai hidupnya, itulah yang membedakan persefsi tersebut.

Zaman akan selalu melahirkan orang-orang yang luar biasa dari dominasi kelompok yang biasa-biasa saja. Umumnya, kehadiran mereka mendapat kecaman, karena dianggap berbeda dari kebiasaan yang dianut. Itulah sebabnya di setiap sejarah, selalu muncul gerakan- gerakan underground, yang menyentak itu.

Sebenarnya untuk menjadi luar biasa, seseorang tidak perlu menyebrang dari pikiran dan kebiasaan lingkungannya. Yang dibutuhkan hanya penempatan diri, kejelian dan konsistensi dari apa yang diyakininya. Saya percaya setiap orang, siapapun dan apapun latarbelakangnya memiliki kesempatan sama untuk menjadi luar biasa.

Saya teringat dengan film The Mite’s of Knight. Dalam satu percakapan dengan anaknya, seorang bapak mengatakan bahwa setiap orang memiliki bintang. Karena itu setiap orang berhak atas bintangnya. Dia pun berhak merubah bintangnya. Kalimat tersebut menyanggah jiwa si anak sampai ketika dia dewasa. Dengan kalimat itu pula dia membalikkan nasibnya dari anak seorang penjahit jala, menjadi pendekar pedang pacuan kuda. Sekali meriah profesi dua prestasi yang diraih! Selain didaulat sebagai jago pedang, putri raja pun dipinang. Dia merubah bintangnya!

Orang muda, kehidupan selalu berulang. Bak kata penyair, semesta tak pernah beranjak kemana-mana, sekalipun abad demi abad sudah berlalu. Langit di atas kita masih sama dengan langit ketika Musa membelah Laut Merah! Tak ada yang berubah. Namun seringkali kita menyalahkan waktu dan menjadikan nasib sebagai tawanan. Dengan sikap berpasrah seperti itu kitapun merasa nyaman, sehingga ketika tidak juga melakukan perubahan, kita merasa tak terbeban.

Kekaguman kita terhadap seseorang, adalah bukti betapa lebarnya jurang psikologi di antaranya. Hingga ketika sang idola melakukan tindakan yang tidak berkenan, kita pun kecewa dan sedih. Konflik itu tumbuh dari rasa kagum dan kenyataan. Lalu dalam hati kecil kita, muncul harapan, kiranya sang idola tidak mengulang perbuatan serupa untuk kemudian dengan diam-diam memaafkannya.

Kondisi inilah yang sering dialami masyarakat Indonesia , khususnya mereka yang biasa-biasa. Sikap ini lahir karena ia mendudukkan dirinya pada posisi "penonton" plus "kritisi". Itulah sebabnya program entertainment yang menyuguhkan gosip selebriti selalu disambut hangat.

Tetapi bagi orang-orang luar biasa, peristiwa itu justru menegaskan betapa tidak seorang pun ada yang sempurna. Betapa hidup adalah jatuh bangun. Betapa hidup adalah sebuah pembaruan dan perbuhan. Orang-orang yang luar biasa akan mengambil hikma dan menerapkan nilai-nilai itu dalam hidupnya, karena ia merasa apa yang dialami sang idola, mungkin juga akan dialaminya. Dengan sikap seperti itu, secara tak langsung ia telah menyejajarkan diri dengan idolanya itu. Bahwa sang idola hanyalah bagian dari jiwanya sendiri, yang oleh waktu, kali ini diposisikan sebagai figure. Maka dalam jiwa orang-orang luar biasa tidak akan pernah muncul rasa kagum dan kecewa secara berlebihan. Itulah sebabnya bagi mereka, proses selalu lebih penting dari hasil!

Tautan :

PUISI PASKAH

EUFORIA NATAL DI SEBUAH KAMPUNG

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

Iklan