TONTONAN YANG SEMPAT KULUPAKAN

Monang Naipospos

Dulu, catatan hanya kukenal dalam bentuk tulisan saja. Namun saat ini saya sudah memahami photo sebagai catatan sebuah peristiwa, kemudian video yang dapat memberikan lebih detail catatan sebuah kejadian yang sulit dijelaskan dengan kalimat saja.

Pada saat pengukuhan mahasiswa baru 2008 Politeknik Informatika DEL di Sitoluama Laguboti, saya diundang. Ada hal yang menarik hati saya disana diluar penerapan IT di kampus tersebut. Saya kagum mendengar paduan suara mahasiswa yang membahana dan dinamis. Diringi dengan instrumen akustik dan gendang batak serta gong.

Setelah selesai acara, kutemukan acara non formal yang memukau. Mungkin ini diluar selera para petinggi PI DEL, tapi tak urung menyurutkan langkahku yang hendak pulang. Kudengar suara gendang bertalutalu, suara gong bersahut-sahutan. Dipadukan dengan suara gitar, dan nyanyian satu persatu didendangkan.

Tak terbayang sebelumnya para calon teknorat ini begitu piawai memainkan alat yang jauh dari pembelajaran mereka. Dasar batak, begitu menyentuh alat kesenian miliknya langsung kena.

Pada Festival Tortor Batak 2008 di Tobasa saya tidak ikut menjadi anggota dewan juri. Dua tahun berturut-turut sebelumnya saya tetap menjadi anggota dewan juri. Selama itu saya tidak menikmati festifal ini dan menemukan hal yang menggembirakan hatiku. Bila terjadi kesalahan para panortor, yang terpikir adalah timbangan nilai yang akan diberikan.

Untuk tahun ini, saya manfaatkan sepenuhnya menikmati tarian itu dan menemukan hal menyenangkan dan menggembirakan. Kebetulan tahun ini juga kontingen dari Laguboti menjadi juara pertama. Kulihat mereka bahagia dan melambai kepada saya ; “Selama bapak anggota juri kita tidak pernah juara satu, tapi sekarang sudah”. Saya tertawa bangga karena selama menjadi juri tidak pernah berpihak, namun mungkin menurut juri saat ini mereka cukup layak dan. Keputusan ada di tangan dewan juri tanpa ada pengaruh dari kekuasaan dunia…. he…he…

Kamera video murahan pun kuarahkan ke arah panortor itu. Memang sulit memprediksi pemenang karena semuanya meningkatkan kualitas. Pengalaman selama dua tahun ini mungkin menjadi pedoman peningkatan bagi mereka.

Ketika saya mengkutak katik komputer dan menemukan catatan lenggak-lenggok para penari itu dalam bentuk video, saya tertegun. Saya menikmati lebih daripada saat menyaksikan langsung, yang dipenuhi rasa bertanya siapa bakal juara. Inilah cuplikan panortor toba oleh kontingen Kecamatan Laguboti.

Ada lagi kontingen yang unik dan nakal menampilkan diri. Mereka tidak tunduk kepada aturan tata cara berpakaian dan jenis ulos yang digunakan. Nampaknya mereka tidak mengejar jadi juara, tapi mereka cukup PD menari. Ini yang membuat saya tertawa sendiri. Rupanya pimpinan tari yang anak-anak itu tidak hanya diluar batas usia, diluar tata busana yang ditentukan, juga tidak tunduk kepada aturan yang telah diberikan oleh pelatihnya. Dia meminta gondang dilampiri dengan pantun-pantun yang pengucapannya lancar. Pengetua cilik ini disambut sorak-sorai penonton saat meminta gondang. Dia memulai tortor tanpa pemanasan awal, spontan dan lantang. Saat teman-temannya sudah selesai menari menurut ukuran waktu dan bilangan yang ditetapkan oleh gurunya, dia terus melanjutkan tariannya dengan penuh semangat. Temannya pun heran, apa kawan ini kesurupan?.

Bang….. Bang…. udah selesai narinya…. ah…..

AddThis Social Bookmark Button

Video Lainnya : Klik disini

Iklan

12 thoughts on “TONTONAN YANG SEMPAT KULUPAKAN

  1. goklas sinurat berkata:

    waohhhhh mantap kali videonya… gabe naeng dohot iba manortor lae mamereng………..emang amng tuakkon memang lam mantap do pasudahon rohani penggemarna……. on do tortor asli naposo bolo tikki adon pesta naposo di huta…….

    nang pe lao paredang -edang i tu cafe alai tong do sai ni luluan tortor/ serampang XII i?????
    alai angga au B.tua dang sanga dope hulupahon tarian batak on…. ai anak baru kemarin dope au sian huta……
    sukses selalu bapa tua……..
    mauliate.

  2. Rondang br Siallagan berkata:

    Waduh enaknya dengar musik gondang ini dan melihat tariannya. Tarian seperti ini yang saya suka tidak seperti tarian modern…seperti tari melayu. Jago kalilah dia/adek tersebut meminta gondang, berani dan lantang lagi…Mantap.
    Agak lucu juga.memang..yang lain sudah berhenti dia masih menari..Terlena dia dengan musik gondang tersebut. ..apa namanya syor…Kadang yang seperti ini lebih enak di tonton..soalnya tidak dibuat-buat.

    Saya pun pernah seperti itu…waktu acara gondang kematian Mama…syor sekali saya.menikmati musik gondang tersebut…sampai2 kakak mengingatkan saya..”dang,sadar…sadar” Ach tahe…

  3. Rondang br Siallagan berkata:

    Tidak bosan2 nya saya menonton musik gondang/tarian ini. Jadi ikut saya manortor..Ach tahe.. masihol ahu bo…mambege musik gondangon..

  4. Hematov Purba berkata:

    Ada ungkapan yang mengatakan sekolah adalah pusat kebudayaan. Mungkin dalam rangka otonomi daerah sekarang ini, muatan budaya lokal seperti tarian, musik dan bahasa Batak sudah bisa dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian generasi muda semakin mengenal budayanya.

  5. Menjadi semakin menyesal sekali saya nggak menyempatkan diri pulang ke Bonapasogit padahal sudah sampe di Medan …. waktu di Medanpun acara manortornya nggak kena dengan apa yang saya pikirkan, ternyata yang dimainkan adalah poco poco dan cucak rowo….. atau selayang pandang … Mauufsss ….. melihat tortor diatas gabe marsahit lungun ….. semoga dalam waktu dekat saya bisa pulang ke sana …..
    Salam dari Belgia ……….

    *** Rasain lae 😀

  6. partoba pangaribuan berkata:

    Apa bener GONDANG memiliki nilai magis?
    cerita ini pernah saya dengar dari para orang tua……

  7. Wah budaya bangsa kita itu amat beragam dan unik…

    Ini adalah PR pemerintah dan warga semua yang saling mendukung guna lestarinya kesenian yang begitu memukau itu,..

    Salam/..//

  8. Replan manik berkata:

    Alai molo dijakarta nunga godang akka na tua tua mambahen tor tor i sian lagu poco2.hera naung habis stok lagu batak. Horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s