PELUANG TOBA DI ASAHAN PASCA 2013

Monang Naipospos

Soal membangun tembok dengan teknologi canggih, mungkin Inalum di Indonesia dapat mencatat sejarah keberhasilan. Perpaduan teknik konstruksi beton dan teknik hidrolistrik ini mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang 604 MW untuk melebur aluminium 225.000 ton per tahun.

Kemampuan Otorita Asahan mewujudkan Inalum patut dipuji dalam sejarah negosiasi bisnis antar negara Indonesia dengan Jepang. Pembangkit tenaga listrik yang menghilangkan air terjun kebanggaan pariwisata di Paritohan ini diharapkan akan meningkatkan perekonomian Indonesia disamping alih teknologi kepada para ahli Indonesia

Kerjasama proyek Asahan berakhir tahun 2013, untuk mendapatkan consensus selanjutnya akan di tinjau ulang pada tahun 2010.

Selama 30 tahun berjalan, proyek Asahan kurang menguntungkan bagi masyarakat di kawasan Danau Toba. Masyarakat masih banyak yang mengingat adanya janji pemerintah akan menikmati listrik murah (gratis) bila PLTA Siguragura beroperasi, tapi tidak banyak yang tahu apakah janji itu ditepati, karena sampai saat ini ketika masyarakat menikmati listrik tetap membayar rekening yang sama sesuai tarip yang ditetapkan PLN.

Bila janji ini benar terealisasi, kemungkinan caranya dengan metode, Inalum menyalurkan listrik yang dijanjikan kepada masyarakat Toba melalui PLN. Sekali lagi, bila benar Inalum menepati janji listrik murah itu, artinya keuntungan listrik murah itu sekarang ada dimana ?, Jika dihitung dengan kasar mungkin sudah mencapai 10 milyar rupiah.

Annual Fee itu lebih banyak digunakan untuk kepentingan lain yang tidak ada kaitannya kepada pemeliharaan lingkungan Danau Toba. Kenyataan, Danau Toba tidak semakin baik. Dari tahun ke tahun kawasan ini semakin rusak dan tak terkendali. Penebangan hutan telah terbukti mengganggu siklus hidrologi, sehingga pada musim penghujan air melimpah memenuhi Danau Toba dan saat kemarau sungai sungai mengering.

Masyarakat awam biasanya tidak memikirkan peraturan dan berbagai tetek bengek hukum apabila luka hatinya sudah meledak kepermukaan. Unjuk rasa masyarakat Pintupohan Meranti kawasan PLTA itu tanggal 9 November 2003 sungguh tidak diduga. Tidak berlebihan bila mereka katakan bahwa Inalum “sombong”. “Mauas ditoru ni sampuran” merupakan awal dari sentilan mereka kepada Inalum beberapa tahun lalu yang ditulis di spanduk sebagai ekspresi mereka menunjukkan bahwa mereka kehausan dibawah air terjun. Tidak ada tanggapan serius.

Unjuk rasa yang dilakukan masyarakat merupakan habisnya masa kesabaran, namun patut dipuji karena mereka melakukan dengan batas kewajaran.

Barangkali pada awalnya kekuatan perundingan perencanaan Asahan berada di pihak Jepang yang sudah sangat berpengalaman dibandingkan Indonesia. Tentu saja bagi kita pengalaman selama 30 tahun sudah akan meberikan arti sebenarnya apa yang terjadi. Dalam hal ini sudah sejak dini kita bersiap, hati hati dan lebih jeli untuk mempertaruhkan bagian sebesar-besarnya dari potensi sumber daya kita yakni Danau Toba dan hydropower sungai Asahan yang ada di Toba Samosir.

Untuk menghadapi era peralihan Asahan mungkin tidak terlalu lama lagi, perlu dibentuk Tim Negosiasi untuk itu Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten lainnya di kawasan Danau Toba. Daerah ini sudah harus mempersiapkan usul kepentingan daerah untuk mendapatkan porsi yang terbesar dibandingkan daerah lainnya mengingat kawasan Danau Toba yang luas dan aliran sungai asahan tempat dimana proyek pembangkit listrik itu didirikan.

Tidak terlalu berlebihan bila kita katakan daerah Toba masih tertinggal mengingat selama 30 tahun ada proyek raksasa penghasil listrik itu beroperasi. Daerah ini juga sering jadi sasaran pemadaman aliran listrik oleh PLN yang seogianya menjamin dan memberikan listrik gratis dari iNALUM itu.

Yang dibutuhkan saat ini, menghimpun opini masyarakat dan “stakeholder” menyumbangkan pemikiran tentang peluang Kabupaten Kawasan Danau Toba pada tahap Negosiasi Asahan 2010. Memperkuat komitmen masyarakat mendukung posisi tawar Kabupaten di Kawasan Danau Toba untuk mendapatkan peluang pada setiap eksploitasi hydropower sungai Asahan.

 AddThis Social Bookmark Button

Tautan :

POTENSI PINTU POHAN MERANTI

DURIAN DICARI NILAM DIDAPAT

Iklan

13 thoughts on “PELUANG TOBA DI ASAHAN PASCA 2013

  1. hmmmmm..

    lagi-lagi masalah jani…
    tidak heran kalo orang pintar sering (sangat pandai)membodoh – bodohi
    rakyat kecil….

  2. Susah banget ya ambil budget pemerintah mungkin negosiasi dari Pemkab kita kurang bagus atau terlalu jujur tidak mau kasih pelicin kali…. dan itulah sebagiansumber ketertinggalan daerah Bona pasogit
    Negosiasi pengambilan anggaran dari Pusat, Propinsi kurang mantrap, aturanya udah ke Bona pasogit dialihkan ke daerah lain sehingga dari tahun ke tahun mandeglah kucuran itu…
    maaf ate Katua ala ro iba Mandulo Sopo munaon
    Horas ma da!!!!

  3. jika semua opini masyarakat toba samosir atau masyarakat sekitar kawasan danau toba serta masyarakat pencinta dan pemerhati kawasan danau toba plus stakeholders yang dimaksud terhimpun dalam satu suara dan melahirkan gagasan-gagasan brilian yang pro kepentingan warga dan alam kawasan danau toba itu adalah hal yang sangat indah sekali

    dengan demikian hal yang paling mendasar sekali adalah kebersihan dan kejujuran negosiator karena bukan tidak mungkin posisi kepentingan stakeholders akan lebih menonjol, terbukti dalam kurun waktu 30thn tidak ada janji yang real prokepentingan kawasan danau toba, saya yakin kawasan danau toba memiliki menpower yang handal untuk bernegosiasi

    horas

    *** Betl lae. Tapi kayaknya respon untuk masalah ini rendah, dan bakalan masalah kemudian hari. Kita akan kehilangan peluang….mungkin saja akhirnya demikian, bila stake holder dan kekuatan masyarakat tidak dibangun sejak saat ini. Alai ise ma tusi ate. Olo ma songo rapot ni bagudung ujungna.

  4. Kalo bekerja (berjuang) sendirian, kayaknya warga Toba sulit untuk mendapat peluang besar. Maka harus membangun network dengan berbagai pihak termasuk LSM agar ada dukungan yang tinggi.
    Perjuangannya harus mulai sekarang, kalo perlu kait juga dengan LSM internasional.

    Konsekuensinya harus bisa memanage kordinasi dengan network itu.

  5. goklas sinurat berkata:

    Yang di sanjung itu uda mulai di otak atik…..
    aku masih ingat waktu demo 1995 -1998 waktu demo melawan kekejaman indorayon… Inalum begitu di sanjung katanya inalum itu pemerhati rakyat…
    Tp menurut saya Apa yang dilakukan Sebuah Perusahaan Sudah Benar…mereka Udah Memberikan apa yang menjadi janjinya…Coma kita nggak tau siapa dari Pemerintah / masyarakat yang hanya memikirkan dirinya sendiri Itu yang perlu di binasakan di Usir Dari Bumi Tapanuli/Tobasa…
    krn saya Sudah Melihat secara Langsung Betapa Kejamnya Politikus Batak yang duduk di Kursi DPRD,DPR/MPR….Giliran Ada Pemilu Mereka turun Kekampung Dengan Membawa Janji yang Bigitu Makmur….Tetapi setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan sedikit Pun bantuanya nggak ada untuk daerah Tobasa….
    Tapi di sini saya Menghimbau Untuk PT Inalum/I ndorayon Perhatikan lah Lingkungan, Masyarakat sekitar Perusahaan salah Satu Contoh yang gampang mendapatkan simpati masyarakat adalah Penyediaan Pupuk Murah, Pembangunan Irigasi, Perbaikan jalan Dan Beasiswa bagi Pelajar, Tp yang mengatur semuanya Langsung Pihak perusahaaan…
    nggak Usah PEMDA Yang Mengatur, Krn klu Pemda Panitianya Semua Pembangunan Itu Omong Kosong… (Mereka akan lebih dulu memikirkan Uang kampaye Balik Modal…..)

    Hidup Masyarakat Tobasa…. Hanya Doa yang Masih bisa aku Lakukan, semoga Makin jaya dan makmur…….

  6. Salngam berkata:

    Siapakah shareholdernya Danau Toba sekarang???. Jawabnya adalah Pemerintah Indonesia, Pemprov. Sumatera Utara!!!!. Tidak dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat???. Kenapa tidak, hasil Pajak dari Inalum dan Bagian Hasil produksi serta Deviden untuk Pemerintah Indonesia yang kemudian dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.
    Orang Batak pemilik Danau Toba???, itu kata siapa???.
    Maka kalian orang Batak berfikirlah, cerdiklah berpolitik seperti orang Irian yang kalian ajari itu!!!. Freeport paling sedikit telah berbuat kepada Rakyat Papua!!!. Karena mereka punya propinsi dan Daerah Khusus pula!!!.
    Kalian mau bikin Propinsi Tapanuli!!!???, pakai nama peninggalan Belanda pulak!!!. Pakailah Propinsi Batak, usahakanlah pula sekeliling Danau Toba menjadi satu propinsi maka berhaklah Propinsi itu secara penuh atas isi air Danau Toba itu!!!, itu baru cerdik namanya!!!.
    Sala mandasor sega luhutan, rupanya holan umpasa nama i na so memiliki arti dohot nilai.
    Khusus tu Amang Naipospos na konsisten tu adat tai. Pasingot ma amang pengagas Protap i asa diulahi gagasan nai, jala muse asa unang holan guru dokna. Paingot hamu ma nasida asa unang maila jala mabiar mamakke terminologi Batak dalam kosa kata politik. Maertondi namangolu marbegu do namate. Ompunta si Raja Batak pe adong dope cita-cita na naso kesampaian, ai so adong dope territori Batak. Horas ma.

  7. saya nggak berani comment… soalnya saya juga merasa belum berbuat apa apa terhadap Bonapasogit… semoga saudara saudara yang punya Kuasa dan Kemampuan tergerak hatinya…. dan semoga suatu saat saya juga bisa berpartisipati untuk membangun Bonapasogit…
    Horasma….

  8. goklas sinurat berkata:

    menurut saya sih pak Salngam klu di Bentuk Propinsi Tapanuli bagus jg…krn tidak selamnya yang Daerah yang Luas Itu mempunyai arti Positif…
    Begitu jg daerah Perairan Danau Toba itu bukan harus Milik Protap semua….. sama seperi Pulai jawa ini, pulau sumatera, kalimantan, sulawesi kan daerahnya masih di bagi2 lg……..klu cuma alasan itu anda nggak setuju di bentuk Protap kurang kuat dasarnya…… tp Klu anda bilang nggak setuju klu di bentuk Protap krn masyarakatnya pasti tetapmenderita baru aku dukung… tks

  9. Salngam berkata:

    Bapak Goklas,
    Saya tidak bilang tidak setuju ProTap. Namanya yang saya tidak setuju. Nama yang saya rekomendasikan adalah Propinsi Batak , kalau tidak, ya… Propinsi Toba. Tapanuli adalah istilah Belanda.
    Siapa bilang masyarakatnya tetap menderita, belum dibuat kok Bapak sudah bisa memastikan menderita???. Maccam mana itu???!!!.
    Ingat Macro Ekonomi GDP=C+I (c-s) + G…dst
    G=Pengeluaran propinsi di propinsi itu saja sudah perubahan bukan lagi tetap!!!.
    Disamping itu sudah pasti dimungkinkan Human Resources Management setingkat Propinsi!!!, dll, dll. Dan itu sudah dipastikan pula melibatkan lebih banyak orang Batak Toba. Selamat bernalar. Horas

  10. Raol Sagala berkata:

    Horas Hita sude,sebagai orang batak saya sedih kenapa SDA Danau Toba g pernah kita secara penuh kita nikmati dan kenapa kita g pernah memimpin huta kita sendiri.torus mah ita memperjuankon huta asa’ hi boto dunia batak jago

  11. Humala simanjuntak. berkata:

    Setuju sekali dengan bpk Salngam. pendapat dan usul sangat baik.,cuma saya tambahkan. Akhiri perjanjian dgn Pem Jepang, ambil over PT INALUM.. Sinergikan ,semua energi,yg ada di Sum Utaea dan pihak Pemerintah Pusat., dgn kekuatan kekuatan, wira swasta yg canggih yg ada di Sum Utara.,diatur sahamnya sedemikian rupa., utk kesejahteraan masjarakat Sum Utara. Dulu saya masih ingat janjinya bahwa listrik akan bebas di Sum Utara ..

  12. FAUZY SIRAIT berkata:

    Menurut saya sih, kita masyarakat tobasa ini perlu bergandengan tangan di dalam proses negoisasi ini,karna bagaimana pun segala hal yang terjadi selama ini sudah kita rasakan…? tidak ada manfaat INALUM ini di tengah2 masyarakat TOBASA, kalau kita survey orang2 yg bekerja disana mungkin hanya 5 % saja putra daerah, sudah saatnya lah kita tidak dijajah lagi oleh Jepang,cukup lah sejarah yang dulu buat mereka, tp satu sisi kita harus sadar mengenai teknologi yg mereka buat sekarang,apalagi akhir2 ini mereka mengganti semua komponen2 pendukung jalannya turbin, apa kita mampu menciptakan mentenencenya ini nanti…?,apa ini indikasi Jepang tidak mau melepas Inalum ini…? biar la mereka2 yg pintar itu menurus proses negoisasi itu,yang kita buruhkan skr ini selaku masyarakat jelata apakah lebih baik nantinya pelayanan publik wktu jepang atau setelah ke Indonesia,apalagi dikampung halaman kita sendiri..? jgn pula keluar lagi bahasa ” MAUS DISAMPURAN ” brti uda gurun sahara lg kampung halaman kita..? akan tetapi kalau ini lebih baik lagi berarti kita uda layak dong jadi 1 kabupaten baru lagi,yaitu KABUPATEN TOBA ULUAN………………..kalau bukan kita siapa lagi……

  13. Lin Dsaribu berkata:

    Pembedayaan lembaga DPRD merupakan alternatif dalam setiap persoalan yang berhubungan dengan rakyak di daerah. Phihal wacana Inalum pasca 2013, kita tentunya memahami bahwa DPRD memiliki peluang untuk sukses dalam memperjuangkan PLTA sebagai industri yang memiliki keberpihakan terhadap pembangunan ekonomi masyarakat. Karena itu usaha keras yang akan/sudah dilakukan harus memiliki nilai “diplomasi tinggi”, dan bukan ” iba hati”. Dalam berdiplomasi “halak kita” tidak diragukan lagi kepiawaiannya. Saya yakin 99,99% bisa sukses, yang penting “niat baik” dan jangan sekali-kali tergoda untuk menggadaikan kepercayaan “bangso i”. Horas…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s