Politik dan Pesta Kawin

Jones Gultom

ORANG kawin yang lain jadi ikut berpesta. Beberapa hari lalu, di tengah kesibukan contreng-mencontreng di kampungku, tiba-tiba ada yang kawin. Sejenak isu politik mencair. Yang sebelumnya lawan di TPS, kembali berkawan. Yang berseberangan aliran, mau enggak mau harus bergandengan tangan.

Di kampungku jalinan adat masih kuat. Biar kata You biru, I merah dan mereka kuning, di adat kita tak bisa pisah. Kalau Albert Camus bilang; “Politik itu memisahkan, tapi seni menyatukan, maka perlu ditambahkan adat justru merekatkan”

Begitulah, malam itu, rombongan yang bermacam ideologi ini, berangkat ke Desa Janji Raja, seberang Muara, belakang Pulau Sibandang. Aku ikut di dalamnya. Tentu posisiku sebagai supporter, karena status lajang di adat Batak belum mendapat tempat.

Tahulah batak kalau dah bicara politik macam semuanya tahu. “Yang kau pikirnya dah bagus kali si anu itu.. menang ngomong ajanya itu. Enggak kayak si anu diam-diam tapi beres kerjanya.”

“Jangan salah kau tengoklah nanti!”

“Taruhan kita yuk!”

Yang skpetis angkat bicara; “Sama ajanya itu. Mana ada yang betul. Bangsa ini ibarat ban bocor, halus tapi keliling,” katanya berbijak ria.

Kalimat itu langsung dipotong ama yang maniak politik layaknya demokrat sejati. “Yang golput enggak boleh ngomong”

Merasa dilecehkan, yang disinggung langsung menyela, “Alah…, zaman sekarang ini yang penting hepeng. Hepeng do na mangatur negara on,”, pungkasnya.

Lama-lama mereka bersitekak. Enggak bapak-bapak, mamak-mamak, lajang-lajang saling mengutarakan pendapatnya masing-masing.

Begitu serunya. Di dalam bus, isu politik terasa ringan. Tema-tema politik menjadi sangat nyata oleh masyarakatnya sendiri.

Perdebatan berlanjut di dalam kapal yang menyeberangi Danau Toba. Waktu menjelang subuh. Udara yang dingin jadi tak terasa. Sudah pun turun dari kapal mereka terus saja berdebat. Diam-diam aku kagum akan keras kepalanya orang-orang ini. Pantas pengacara dan pakar hukum di negeri kebanyakan orang batak. Kayak dah memang talentanya berdebat. Tambah lagi suara dan penampilan yang garang, apa nggak hajab lawan hukumnya itu. “Kurasa tenggelam pun kapal ini, mereka masih akan berdebat,” gumamku.

Kupikir dengan nyampenya kami ke rumah pesta, perdebatan segera akan berhenti. Tapi rupanya salah. Perdebatan berlanjut ketika sarapan.

“Jadi kek mananya, masih sor kau dengan si anu!”

“Kalau aku tetapnya milih dia bah! Mau kau kasih berapapun,” sambil mulutnya mengunyah-ngunyah.

Aku dah merasa risih dan suntuk. Sejak berangkat 9 jam lalu, tak seorang pun dari mereka yang mau ngalah. Ya setidaknya jaga perasaan yang lain kek…

Perdebatan baru berhenti, ketika adat mulai digelar. “Kena batunya kalian,” umpatku. Apa pasal? Gini. Kalau dalam adat batak (Toba) parboru (pihak perempuan) posisinya bantu-bantu keluarga istrinya. Kasarnya sering jadi orang suruhan. Parboru itu adalah pihak menantu. Jadi misalkan aku kawin, maka aku jadi pihak parboru dari keluarga istriku. Maka kalau lae (ipar), suadara laki-laki istriku, kelak kawin, akulah yang paling sibuk.

Nah gitu juga yang saling ngotot ini. Mereka masih marlae. Maka sudah bisa dipastikan, si lae parboru ini suntuk bukan kepalang. Belum apa-apa langsung disuruhin sama lawan debatnya itu. Ambil ini ambil itu. Jemput dulu si anu, jemput si itu. Macamlah. Kesannya aji mumpung gitu. Belum lagi dia harus memberi hormat pada lae-nya itu, Dia tak bisa mengelak, apalagi ngotot berdebat, sekalipun ideologinya berbeda!

Iklan

4 thoughts on “Politik dan Pesta Kawin

  1. Anson Simanjuntak berkata:

    Horas ma dihita saluhutna.,
    On ma kelebihan adat batak dibanding yang lain.
    Jadi tung aha pe ninna namasa dang boi rubahon anggo adat sesuai dengan daerahnya.
    Molo Adat Si soli-soli.
    Molo Politik Sisol-solan.

    Horasma dihita saluhutnya.
    Anson S.

  2. prikcen sitanggang berkata:

    Itu baru namanya orang batak, teguh,keras mempertahankan pendapat. Mardomu di tano rara pe taho, ingkon na di rohaki do. Baru tahu ya…

  3. Bonar Siahaan berkata:

    @Jones Gultom
    “Parboru” didalam adat Batak Toba adalah “hula-hula” (mertua dari laki-laki). Sedang menantu laki-laki adalah “pamoruan”

    @Anson Simanjuntak
    Botul3x…Adat sisoli-soli, alai dang sude politik sisol-solan….hidup tanpa politik = hidup tanpa akal, dan akal harus ditambah dengan budi, itulah namanya akal-budi = politik…..hehehe (ikutan debat pulitik….)

  4. liberius sihombing berkata:

    Nunga be nian dikoreksi amanta Bonar Siahaan tentang kesalahan pengertian ‘parboru’. Ahu pe ido naeng hudok, ia parboru dang sarupa do pamoruon. Jala dang parboru gabe parhobas di pesta alai pamoruon, sedangkan parboru ima hula-hula do i, na gabe sihormatan. Mana mungkin hula-hula gabe tukang repot di ulaon untuk urusan sana-sini. Jadi nunga tingkos na nidok ni amanta Bonar Siahaan i alai hurang ganjang dialusi nasida. Santabi ba dang na mangajari ahu, ala sama-sama na mencintai budaya batak do hita ate angka dongan,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s