CALEG JADI KOLLEKTOR

Monang Naipospos

Ambisi menjadi anggota legislatif untuk ukuran kabupaten di hamion ditempuh dengan beragam cara. Para politikus instan dan yang berpengalaman tidak jauh beda. Keputusan ada di tangan rakyat. Rakyat tidak perduli yang akan berbuat baik atau akan menjadi destroyer, “ada duit ada suara” itulah market pemilu yang yang disebut sebagai pesta rakyat.

Para caleg yang tiba-tiba jadi dermawan, paradat, mendukung bakti sosial, gotong royong sudah lama berseliweran dari desa ke desa. Ada yang membangun jembatan, air minum, perbaikan dan pembukaan jalan. Mereka menunjukkan ada uang berjubel mereka kantongi dan siap edar. Masyarakat pun melakukan reaksi, siap menampung dari siapa saja, dengan pedoman “hansit mulak mangalean” tak etis bila ditolak.

Si Perly membagikan kain kebaya untuk 1000 kepala keluarga, diimbangi oleh si Polgak dengan sepotong kain sarung. Si Bonggak membagikan pupuk, tapi si Talpe memberikan modal kelompok.

Lain gayanya si Tajom. Pada awalnya sudah memberikan “ingot-ingot” 50 ribu rupiah dan menjelang hari H dipenuhi 100 ribu lagi. Si Talup tidak mau ketinggalan jaman, apalagi bicara dengan uang. Ada investor yang mendukungnya dan dilaksanakan strategi baru menimpa semua panjar dengan panjar baru.

Pemungutan suara dilakukan. Semua saksi melaporkan hasil yang diperoleh. Dilakukan analisa perolehan suara dari kantong suara yang dipetakan menjadi massanya.

“Berapa dari TPS 2”, tanya si Perly harap cemas.

“Hanya 5 suara ketua”, jawab si saksi.

“Bah… kenapa begitu… padahal yang sudah kita siram disana ada 54 suara”, selidik si Perly rada tak yakin.

“Banyak yang lari ketua”.

Ternyata semua calon legislatif yang berjanji akan membangun kampung halamannya ini mendapat perlakuan yang sama. Semuanya mendapat jatah “pengingkaran” dari orang yang dibelinya melalui pasar gelap itu.

Yang kalah mulai berang. Tim sukses mulai dikerahkan melakukan aksi pembalasan. Apa yang sudah diberikan ditagih kembali. Nai Hebur kelihatan gerah ketika si Perly menemuinya agar kain kebaya itu dikembalikan. Seperti kerbau dicocor hidung, Nai Hebur masuk kamar mengambil dua potong kain kebaya yang belum dijahitkan.

“Silahkanlah pilih yang mana yang kamu berikan”

“Bah… rupanya kau terima juga dari orang lain ya… pantas kamu tak memberi suara samaku … ya… dasar… brengsek…”

Di pesta adat, Nai Heppot cukup merasa malu karena perlakuan si Polgak. Pada kondisi rasa bangga menggunakan kain sarung baru, dia diserang tiba-tiba oleh orang yang pernah diberi janji dua suara.

“Nantulang… kembalikan kain sarung itu”, sergah si Polgak.

“Nantilah di rumah bere, ini kan lagi di pesta”,

“Tidak ada kesempatanku lagi nantulang kerumahmu…. Banyak lagi orang yang mau kutemui… pokoknya harus sekarang”, si Polgak tak memberi ampun.

Si Talup, walau terindikasi menang dalam pemilu ini kelihatan tidak terlalu bahagia. Perolehan suara yang mengantarkannya lolos dalam pemilu ini hanya setengah dari prediksi suara yang didaftarnya sudah diberi uang. Di sela kesibukannya mengumpulkan data suara yang masuk, dia ditelepon salah seorang konsituennya. “Horas komandan, menangnya kita?”

“Bah untuk apa kau tanya itu. Suaramu sudah kubeli, jadi kalah atau menang tidak ada lagi ususanmu”

Iklan

14 thoughts on “CALEG JADI KOLLEKTOR

  1. Bonar Siahaan berkata:

    Keadaan yang sangat memprihatinkan…. saya yakin,masih ada caleg dan pemilih yang bersih dari politik uang, salah satunya amanta MN….kurasa.

  2. RiM Napitupulu. berkata:

    Caleg2 tesebut diatas adalah para calon penghuni rumah sakit jiwa, cuma saya nggak tau apakah ada rumah sakit jiwa di bona pasogit yg dapat menampung mereka?

  3. Bernat sinaga berkata:

    Horas katua, sekalian salam kenal.

    Saya tertarik membaca tulisan Katua ini, teringat saya akan tulisan yg di post Tulang Raja huta bbrp hari yg lalu: Mati ketawa gara2 pemilu 2009.
    Jadi kl boleh sy menyarankan kepada kedua kubu tsb( kubu- caleg,dan kubu- konstituent) untuk hari hari ke depan bila ada kegiatan pemilu, baik pemilu: keplor, kepdes, bupati, dll entah pemilu apapun. Sebaiknya;
    @.Caleg, mendatangi setiap konstituent dan memberikan” Tangiang” dan selanjutnya meminta dukungan do’a.

    @.Konstituent, bila merasa cocok thp si calon, silahkan pilih, kalau tidak ya.. setidaknya Tangiangkon dia agar dipilih orang lain.

    Saya berkeyakinan, tidak akan terjadi fenomena seperti dalam cerita tadi paska pemilu.

    Kalu pun ada perilaku seperti dalam tulisan di atas muncul paska pemilu, maka akan tecipta fenomena baru: “Marsitangiangan ma saluhut”, masyarakat kembali ke fitrah. ” DAME MA DI BANGSO I”.

    Yach….. Kira-kira begitulah!..


    *** Horas lae Sinaga. Cerita ini kenyataan, tapi tidak etis menyebut namanya.

  4. Ginomgom Simanjuntak berkata:

    Waktu pulang ke Toba bulan lalu, orangtuaku sempat menceritakan yang mirip si tajom itu. Suatu hari team sukses dari salah seorang caleg datang ke rumah memberikan uang 100Rb dan 2 buah kaos.
    Tapi ibuku menolaknya dengan mengatakan ” ibu tahu susahnya mencari uang, lebih baik kembalikan saja kepada calegmu”.
    Sehari-harinya keluarga si caleg ini terkenal dengan pelitnya, tapi saat jadi caleg semua orang sekampung disiram dengan uang min 100rb…

  5. Bernat sinaga berkata:

    Horas ma tutu lae!

    Mekkel iba, alai huhut lungunan jala marinong-inongi di roha. (prihatin)

    Aha ma ulaning pandohan nion ate lae?. ” MEKKEL TANGIS” Ma ra ate lae.

    Pinapos ma roha, anggiat muba,jala lam tudengganna tu joloanon.

  6. Rakyat juga sudah pintar Tulang. Mereka menerima duitnya.
    Tapi tidak dipilih pada hari H.

    Sudah ketahuan belangnya, bila duduk jadi wakil rakyat,
    upaya pengembalian modal jadi prioritas utama.

  7. hendry berkata:

    annon ma hubaen komentarhu uda…gabe lola innon ho lao marrapot tu kpud..hehhehe..aupe karejo jo sangombbas

  8. G. Meha berkata:

    … dasar… brengsek…”
    kamu yang berengsek…….udah tau gak bisa nyontreng dua nama, masih kau berikan juga. Capek dah!

  9. bah boa bahenon , songoni dope na boi tapatupa hita huroa, anggo au dang pola husalahon akka namanjalo i, alana namarikkir do akka namanjaloi ala di ingot uppasa:

    “assit mulak manjalo ummassitan mulak mangalean”

    jadi nunga di leon ba ikkon jalo on do attong
    jala dari segi ekonomi masyarakat bolo godang beredar uang di masyarakat ido patandahon bahwa ekonomi di tobasa masih jalan.
    horas..horas..horas….

  10. Pontaseddy berkata:

    Dapem III Tobasa (Kec Porsea, Siantar Narumonda, Uluan, Pintu Pohan Meranti, Lumban Julu, Ajibata) anggota DPRD Tobasa yang lama adalah Ir Togar Manurung (Partai Buruh) dan Herbert Sibuea (Partai Golkar). Sementara wajah baru, Roy Robinhot Sirait (PPRN), Sahat Panjaitan (PPRN), Monang Naipospos (PKPI), Jojor Marintan Napitupulu (Partai Kedaulatan), Rahmat Kurniawan Manullang (Partai Demokrat)
    Posted in Marsipature Hutanabe (Harian Sinar Indonesia Baru) by Redaksi on April 27th, 2009

    Atas nama Keluarga, Kami menyampaikan SELAMAT tu Amangboru MONANG NAIPOSPOS atas terpilihnya menjadi Anggota DPRD TOBASA Periode 2009 – 2014.

  11. G. Meha berkata:

    Caleg jadi Kolektor

    Waktu kubaca judul postingan ini, aku pikir jalan ceritanya adalah seperti ini: Si Caleg sehabis nyaleg jadi Leg, setelah leg jadi kaya raya, sangkin kayanya jadi kolektor yaitu mengkoleksi berbagai type rumah dan mobil mewah, juga mengkoleksi singa singa ruma batak dan juga barang barang budaya berharga lainnya. Ternyata tidak. Ah, tahe. Aku yakin para legislator kita periode 2009-2014 ini akan lebih mengutamakan kepentingan umum, kebanggaan umum. Semoga.

  12. baginda napitupulu berkata:

    horas….. apa kabar pak ketua
    apa kbr lae monang?
    apa kbr lae Meha?
    apa kbr semua yg suka blog lae monang?
    apa kabar appara RIm napitupulu…

    yang betul ya lae monang jugak lah…..ngapain pake duit, berjuang dgn doa, usaha n gak neko2,,,,juga kta bisa ya lae.
    hidup lae monang…..yg still menang…..

    peace all…..senyum dulu lae monang ah…asa songon na gasteng……

  13. G. Meha berkata:

    Kabar baik dari saya, lae Baginda Napitupulu.

    Kemana saja lae Baginda. Nunga godang ra niomo muna lae, mangallangi ma jo hita da. Hehehe.

  14. Philips Silitonga berkata:

    Nangpe angka caleg i mambahen peduli tu angka rakyat i secara instant adong do disada sisi segi positif suang songon i sisi negatif, alai saranhu tu angka caleg na naeng maju tu periode berikutna, molo adong do team sukses jala adong silehononna sebagai ingot-ingot dungi pintor rap martangiang ma antong nasida da, jala isi ni tangiang i diangka namanjalo ingot-ingot alai dang mamillit calegna ba ingkon ripas manang rojanon, pasti nasida dang beralih kelain hati manang na pintor dipaulak do ingot-ingot i, ai boasa hudok songon i, unang antong dijalo hepengna alai dang di pillit, molo adong hian sipillitonna, ba pintor didok dijolo asa unang mangalean harapan na muluk-muluk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s