ANAK MEDAN KAU … BUKTIKAN

Monang Naipospos

Hendra sudah lama menunggu di kantin pojok kampusnya. Anton sahabatnya yang berjanji bertemu di tempat itu jam 4 sore belum juga muncul. Dasar… bedugul… dia mengumpat dalam hati. Sangat gusar dia kelihatannya.

Sebelum habis kesabarannya, di melihat Anton memarkirkan keretanya disisi jalan dekat kantin dan berseru kepada Hendra.

“Hoe… Hen… sudah lama menunggu…? Maaf ya .. aku terlambat…soalnya keretaku tadi merepet busi kotor, jadi terpaksa kubersihkan dulu”

“Ah…banyak kali alasan kau. Pasti kau nebeng dulu ketempat si Rosa kan?”, balas Hendra tidak puas karena keterlambatan sahabatnya itu.

“Terus sentimen kali kau Hen……tak pernah kau npercaya samaku”, Anton membela dirinya. Keterlambatannya kali ini memang karena keretanya mengulah. Selama ini memang diakui dalam hatinya sering melanggar janji karena sifatnya yang selalu menyapa temannya yang ditemui di jalan. Selalu disempatkan mengobrol setiap ada kesempatan. Janji waktu baginya tidak terlalu mengikat.

“Manalah ada yang bisa kau buktikan pernah tepat waktu. Kacaulah kita kalau Henny sudah pergi duluan, padahal kita sudah janjikan menjemput jam 4 dari rumahnya”

“Tenanglah kau Hendra, tak perlu kau persoalkan kemarahan si Henny. Gampang itu…aku yang atur”. Anton merusaha menenangkan hati sahabatnya yang hendak menjalin pertemanan dengan Si Henny.

Henny gadis manis teman sekampusnya itu sudah membuat Hendra kecantol, dan berusaha membetternya. Peran Anton yang mempertemukan mereka itu tidak dapat dilupakan Hendra. Sehingga apapun ulah yang dilakukan Anton selalu akan dimaafkan Hendra.

“Kau perlilah si Henny itu, selanjutnya aku yang atur”, demikian Anton berusaha mendorong pendekatan Hendra kepada Henny suatu ketika. Hendra memang bukan kategori otak dogol. Gaya dan penampilannya selalu meyakinkan, ditambah rasa percaya diri karena keberadaan Anton yang sudah mengenal Henny sahabat pacarnya, Rosa.

* * *

Di teras rumah Henny kelihatan gadis cantik itu duduk ngobrol dengan seorang lelaki setengah baya. Dia adalah Pak Jamian ayah Henny.

“Selamat sore pak”, sapa Anton menyebut namanya dilanjutkan dengan salaman tangan diikuti Hendara yang ngekor bak kambing congek. Kelihatan dia keder melihat wibawa pak Jamian itu.

“Mereka teman sekampus saya pak, sela Henny mengatasi kevakuman mereka karena kedua temannya kelihatan belum bisa melanjutkan pembicaraan. Pak Jamian memang sudah menduga keberadaan kedua anak muda itu. Ada rasa bangga di hati pak Jamian karena anak gadisnya sudah mulai didekati kumbang-kumbang. Tapi sebagai orang tua, dia terus melakukan kewaspadaan nasional. Tidak mau anaknya itu menjadi korban pergaulan bebas.

“Apa kalian satu Fakultas”, tanya pak Jamian mengawali penelusurannya.

“Tidak pak, kami berdua Fakultas Teknik, Henny di Ekonomi”, Anton berusaha jujur.

“Hmmm…berarti anda bukan untuk tujuan belajar bersama kalau begitu ya”

Ketiga orang muda ini mulai kikuk. Entah alasan apa yang akan mereka berikan untuk melegalkan pertemuan mereka itu. Sebelum kedatangan kedua pemuda itu, Henny belum sempat meminta ijin dari ayah dan ibunya untuk pergi raun-raun dan nonton bioskop. Film Blue Lagoon di bioskop Astanaria sudah ditetapkan melalui sebuah konvensi kecil yang lebih klop untuk mereka tonton di kencan pertama.

“Tapi tak apalah. Henny… beri temamu minum. Sebentar lagi namborumu bersama amangborumu mau datang. Sebelum mereka sampai nanti agar kamu siapkan makanan”, pak Jamian meninggalkan mereka di teras rumah yang lumayan luas itu.

Mereka bertiga saling pandang, melongo. Yang paling kecewa adalah Hendra. Dia kelihatan seperti orang senget, kasak kusuk di tempat dia duduk.

“Cemmana Hendra”, Anton mencoba memecahkan kebisuan mereka bertiga.

“Terserah kaulah”, jawab Hendra ketus. “Pening aku jadinya”.

“Maaf ya, ini nggak disangka terjadi. Tadi sebetulnya rencanaku mau minta ijin sebelum kalian datang”, Henny mencoba mengobati rasa kecewa kedua temannnya itu.

“Kalau begitu, cabutlah kita Ton”, Hendra berdiri bersikap meninggalkan tempat itu.

“Sekali lagi maafkan ya”, lain waktu kan masih bisa”, sekali lagi Henny berusaha menenangkan hati mereka yang kelihatan kecewa karena rencana mereka tidak dapat terwujud.

* * *

“Dasar lontong kau Anton, katamu bisa kau atur semua, nyatanya begini. Aahhhh….” Hendra menghempaskan tubuhnya di kasur kamar kos mereka. Bayangannya yang indah di kencan pertama buyar tanpa ada bahasan ha..hi..hu.. Harapannya Anton akan membuat solusi pada statemen Pak Jamian yang menjegal, ternyata dia diam saja.

“Lantam kalilah kau Hen. Kau kok jadi seperti orang senget. Kau salahkan pula aku. Yang bisa kuatur kan Henny untuk mau diajak, bukan mengatur bosnya la…”, Anton membela diri.

Hendra terdiam, pandangannya menerawang. Kecewa berat menimpa dirinya. Anton merasa kasihan dan mencoba menghiburnya. “Daripada kita berantam jadinya, lebih baik kita ciak dulu. Nanti kita lanjutkan mengatur strategi…yook!”

“Tak selera aku, tancaplah bagianmu”, jawab Hendra ketus.

“Pauk kali kau ini Hen… kek nggak ada lagi hari lain. Begitu aja kau terus meper, harapanmu seperti sudah kandas.”

Hari Kedua

Henny dan Rosa jalan bareng memasuki halaman kampus mereka. Kelihatannya ada pembicaraan serius. Henny menceritakan kegagalan mereka melakukan raun-raun bersama Hendra dan Anton tadi malam. Rosa tertawa terkekeh. “Syukur…hahahaha.. kalian berencana jalan-jalan tanpa mengikutkan aku..hahh, yang hebatlah kalian itu”.

“Tak kusangkalah kau tak ikut Rosa, kan mereka yang berencana mengajak aku”.

Kedua gadis ini melihat kedua cowok yang mereka bicarakan lewat boncengan diatas kereta Anton sambil berusaha ngobrol tanpa memperhatikan kedua gadis idaman mereka di sela keramaian orang yang melintasi jalan kampus.

“Nanti sore kita coba lagi ya Hendra!”

“Ah… tak perlu lagilah kau urus itu”

“Bah… yang mentiko kalilah kau… terus memperpanjang persoalan. Tak ada persoalan yang tak dapat diselesaikan”

Hendra terdiam hingga di lapangan parkir Anton masih terus berjuang memberikan harapan kepada sahabatnya itu.

“Jangan bawakan sikapmu seperti dikampunglah Hendra. Sekarang sudah anak Medan kau ini, buktikanlah”, Anton terus memberikan dorongan.

“Ah…lagak kali kau. Tapi bagaimana caramu mengatasi bosnya”, Hendra mencoba mengorek kiat yang akan dilakukan Anton.

“Tenanglah kau kawan, kita juga akan mendiskusikan kepada Henny. Kalau dia juga kecantol sama kau pasti dia juga akan cari akal”

Henny dan Rosa juga melakukan diskusi tentang persoalan yang mereka hadapi. Rosa memberi pandangan untuk meloloskan rencana mereka berkencan asal saja mengikutkan dia. Henny menganggap temannya ini hanya banyak kombur, tapi ia pun mengiakan.

“Nah… begini Hen… Nanti aku pura-pura sakit. Lalu kutelepon kerumahmu untuk membantu aku mengantarkan berobat ke dokter. Mantap kan?”

Henny tersenyum mendengar akal bulus kawannya itu dan mengangguk setuju.

Hari Ketiga

Hari ini kebetulan Minggu. Telepon berdering, Pak Jamian menjawabnya, ternyata Rosa yang mencari Henny. Pak Jamian pun memberikan kepada Henny yang muncul dari dapur saat mendengar deringan telepon itu.

“Pak.. Rosa katanya sakit dan minta bantuanku mengantarnya ke dokter. Bisa kan pak aku membantunya?”

“Bah… macammana pula itu. Hari ini kan libur, mana ada dokter yang praktek!”

Henny kelihatan bingung. Sebagai mahasiswa, merasa gagal menganalisa situasi kalau hari ini minggu tidak ada dokter yang praktek. Melihat Henny kelihatan bingung, pak Jamian merasa kasihan. Dia menyangka Henny menghawatirkan penyakit temannya.

“Ah… tak apalah nak, jangan khawatir biar bapak bantu mengantarkan temanmu itu ke dokter. Ada sahabat saya dokter pasti bisa bapak minta kesediaannya untuk memeriksa temanmu. Tunggu sebentar bapak berkemas”.

Henny semakin bingung… “Kacau….kacau”, teriaknya dalam hati. Henny menyumpahi Rosa dungu… dongok… tolol… latteung…. karena tidak memperhitungkan rencana yang dibuatnya.

* * *

Didepan rumah kos Rosa, Hendra dan Anton berdiri mondar mandir seperti pengawal istana. Sebuah mobil perlahan menghampiri mereka melewati lorong sempit itu yang mereka kenal mobil Pak Jamian. Mereka tersenyum, mengira Henny berhasil meminjam mobil bosya untuk mereka pakai raun-raun.

Ketika Pak Jamian muncul dari dalam mobil, kedua pemuda ini menjadi pucat pasi. Henny hanya berondok dalam mobil, tak berani melihat rasa kecewa temannya itu. Rosa pun muncul dengan gembira dari rumah kosnya, setelah melongok keluar tiba-tiba pula pucat pasi. Tapi karena Rosa masih mampu berdiri, pak Jamian tidak terlalu cemas.

“Oh…nak masih bisa jalan ya… berarti penyakitnya tidak terlalu berat. Mungkin hanya kurang vitamin dan kurang tidur karena terlalu banyak belajar. Tapi tak apalah, kita langsung ke dokter biar diperiksa penyakitmu yang sebenarnya”

Seperti tawanan perang, mereka berjalan perlahan menuju mobil Pak Jamian. Mereka melihat Henny didalam mobil tertunduk lesu. Keempat remaja ini saling pandang bergantian tanpa bicara. Melihat kecemasan mereka itu, pak Jamian mencoba menghibur. “Henny ternyata kibus”, bisik mereka dalam hati.

“Kalian jangan terlalu cemas la…. Kamu berdua anak muda, kayaknya ada penyakit yang sama ya… jangan-jangan menular. Kalian juga kelihatan pucat”.

Tak ada jawaban. Semua terdiam hingga sampai di rumah pak dokter Gunawan sahabat pak Jamian yang tidak bisa mengelak dari liburannya saat ditelepon Pak Jamian sebelumnya.

“Dokter Gunawan, tolonglah periksa keempat anak ini, kulihat semuanya pucat. Saya takut ada penyakit menular mereka derita”, pinta Pak Jamian

Dengan telaten, Dokter Gunawan melakukan pemeriksaan kepada empat orang pasiennya. Jantung mereka berdebar kencang, tapi tidak ada indikasi penyakit jantung. Wajah mereka pucat, tapi tidak ada indikasi kekurangan vitamin dan masuk angin.

Pemeriksaan selesai, sang dokter menyimpulkan diagnosa. Pak Jamian buru-buru ingin mendapatkan informasi. Sang dokter tersenyum, pertanda tidak ada penyakit berbahaya. Dia mempersilahkan keempat pemuda itu keluar dan memanggil Pak Jamian masuk ke kamar kerjanya.

“Pak Jamian, … tidak ada penyakit berbahaya. Tapi bisa bahaya kalau tidak segera diatasi. Mereka hanya butuh rekreasi dan dari rekreasi mereka itu nanti mereka makan dan minum yang mereka suka, pasti akan pulih segera.”, jelas dokter Gunawan.

“Bah… aneh… penyakit apa itu dokter?”, Pak Jamian minta penjelasan.

“Hanya kelelahan, kejenuhan dalam keseharian mereka”, jelas sang dokter yang menyadari semasa kuliahnya pernah mengalami penyakit yang sama.

Pak Jamian pun memahami penderitaan keempat anak muda ini dan mencoba menerapkan terapi yang diberikan dokter kepercayaannya itu. Dia menemui pemuda itu di teras rumah dokter. Mereka masih kelihatan sporing, melongo dan bingung menghadapi eksekusi berbayaya yang bakal dijatuhkan Pak Jamian yang tidak mengerti persoalan anak muda itu.

“Henny…..terpaksa bapak pulang sendiri. Bawalah temanmu menjalankan terapi yang diberikan dokter”, kata Pak jamian sambil berjalan menuju mobilnya.

Keempat anak muda ini semakin bingung sambil menyaksikan mobil Pak Jamian bergerak dari hadapan mereka. Tanpa mereka sadari, dibelakang mereka sudah muncul dokter Gunawan sambil tersenyum.

“Ayo…ini kesempatan kalian mengobati penyakit yang kalian derita. Pergilah raun-raun kemana kalian suka, tapi jangan terlalu larut malam. Ini sudah kesepakatan dengan Pak jamian”, jelas dokter yang penuh pengertian itu.

“Sontak…keempat anak muda itu gembira, wajah mereka tiba-tiba dialiri darah yang sempat tersumbat. Sore hingga malam itu mereka lewati denga canda ceria, kadang berjingkrak-jingkrak karena gembira. Tidak ada niat mereka memecah kelompok. Tidak ada kesempatan mereka berempat mengutarakan kata sayang dan cinta…. Hanya gembira ria merayakan kebebasan mereka dari kerangkeng pengawasan Pak Jamian.

Cerita ini merupakan respon atas upaya untuk mengkoleksi bahasa gaya Medan. Saat ini Bahasa Medan sudah mulai dipengaruhi Bahasa Jakarta akibat pengaruh sinetron indonesia di televisi.

Silahkan anda menambahkan kata/kalimat bahasa medan yang spesifik untuk didokumentasikan kemudian.

24 thoughts on “ANAK MEDAN KAU … BUKTIKAN

  1. G. Meha berkata:

    Henny, kemana saja kalian raun raun tadi nak?

    Kami cuma pusing pusing di Belpon pak. Hanya sebentar makan misop di dekat Biskop Bahagia Pasar Merah, terus makan kolding di Simpang Limun, trus balik lagi ke Belpon.

    Tidak nonton kalian nak?

    Tidak pak, karkis biskopnya mahal sekali.

    Hehehe.

  2. tanobatak berkata:

    G. Meha

    Bah.. pernahnya kau kedan di di belpon? langgananku nonton di bioskop remajanya. kalau makan kolding di supermarket simpang limun juga. misop sekarang di medan sudah kurang populer setelah masuk bakso…hahaha… semua bioskop langgana tiap hari minggu itu sudah jadi ruko dan mini market. seperti bioskop irama di kampung baru. Nonton Kung Fu daba dulu sewaktu jamannya si Fu Shen, Ti Lung, David Chang… hahahaha… Naik sepedanya aku jaman itu keliling medan raun-raun. Di Polonia nengok-nengok kapal terbang sambil marangan-angan, kapanlah aku bisa naik kapal terbang….
    Kadang ke belawan mengantar famili yang mau ke jakarta. Kapal Tampomas bikin Band di teras sampinnya itu. Adalah anak muda yang pegang gulungan benang giun ditarik kapal itu sampai habis.

    Melihat orang yang menangis sambil mengolok-oloknya “bereng ma au di bulan i…huhuhuhu…..hahaha.

    Bioskop Astanaria tenpatnya nongkrong Charlie Sianipar nya itu hahahaha…

    Air mancur yang di Teladan itu sudah tidak main lagi. Sepertinya pernah kau kulihat duduk-duduk dibawah pohon bunga itu dengan seseorang si panjang rambut. Kaunya itu kawan hehehe…

  3. B.Parningotan berkata:

    kalau apel cara Bandung lebih sistimatis dan berencana dari pada apel cara Medan, pertama kalau mau apel kita harus bawa teman/sahabat kita yang bisa dipercaya, jangan2 nanti dia jadi saingan kita.
    Nah setiba di rumah boru Batak tersebut, tidak perduli ada calon mertua atau tidak, itu soal belakangan , yang penting bikin mereka kagum dulu, bawa keluar gampang nanti.
    Na buka cerita dulu, kami berdua mulai bercerita panjang lebar sampai ke sekolah,Pusat Perbelanjaan Mol hingga dan tikus, …..
    eh omong2 ada tikus dirumahku kemaren, kakak ku ketakutan, kataku.
    Ia menyuruh aku mengejarnya, …. tikus lari ke atas kulkas, kemudian keatas microwave kaum, Ketika aku mau pukul ia lompat ke TV palsma kita yang ada di lantai dua rumah kami, dan terus meloncat ke ke garasi, temanku melanjutkan ……. jadi kamu kejar kesitu ya….. kukatakan ya, dan tikus itu melompat ke mobil BMW ayahku…….kataku.
    Looh…. temanku menjawab Mobil ayahmu bukan mercedes?
    …..Kataku tentunya bukan , Mersedes itu mobil abangku yang dokter…..
    Hah … kata temanku, … bukannya ayahmu yang dokter? …. oh memang ayahku dokter, tapi abangku juga….
    Nah ito itu dan calon mertua jadi terbingung-bingung. ……….dan bengong. Saat itu adalah saat yang terbaik untuk mengajaknya berjalan2.

  4. G. Meha berkata:

    Wah….. hebat sekali caranya abang B. Parningotan bikin camer terbingung bengong.

    Pernah soerang gadis pujuaanku kuajak makan misop, ketika mau bayar aku dicegatnya, dia bilang gini: ‘biar aku aja yang bayar bang, duit abang kan dari hasil narik becak’. Bah……..nga maup, langsung merah mukaku waktu itu, di depan banyak orang pulak dibilang kek gitu. Trus aku jawablah gini: Abang kan punya dua becak, satu abang bawa sendiri, yang satu lagi abang sewakan. Nah….yang mau bayar misop ini adalah hasil dari sewa becak yang satu lagi. Hahahahhah………semua orang yang lagi makan misop waktu itu terbahak bahak.

    Darimana kau tau dek bawha abang narik, padahal gak pernah aku narik di Simpang Limun ini, di Mariendalnya.
    Kan, aku sayang sama abang, yah…..aku cari taulah dari teman teman abang, ninna mangalusi. Hehehe.

  5. Aghh..sai adong adong do saritam pra Meha na ruddut🙂 alai ba songon i do haroa akka namasa diparngoluon on, sipata do adong sirikkot rikkot dipardalanan ni ngolu, ai songon i do au nabaru on dohot akkangborumu sinaparjolo.
    andorang marsitandaan, sai dicaritahon ma akka hinauli ni parniahapan na ditonga tonga ni jabuna, dohot napatuduhon na anak sasada do ibana. mansai hiap hiapon do atong roha anggiat tarampir tu iba hinaulini parniahapan na i ia dung saut nina roha.
    Dungkon mardalan tikki, jala jumpang ma ari boi mardalani tu jabuna rup marsitandaan dohot natua tuana, hape sude on holan denggan dohonon do, ndadea sesuai dohot kenyataan. Alai ala naung tarunduk janji dohot padan, digijjang ni sude uhum natarsurat dohot natarsirat, gabe do hupasaut boru ni raja i sian Swedia, alai dipardalanan ni ngolu massai ambal do anggo parrohaon dohot hasomalan na.
    gabe makkorhon pandelean dirohaku dohot keluarga, jadi sai maos do rupani sai dipajuju akka keluarga asa bulus niujungan parsaripeon i.
    Alai apala na massai rikkot huhilala ima pandok ni laekku siakkangan ( namangalap ibotokku) alai apala ramos do lae on molo niakkupan makkatai, alai dang apala haru putus mandok naso ra au mangoloi pangidoan nasida i, jadi sai hupandohi do akka sidalian na asing asa anggiat diattusi laenta on naso ra au dipangidoanna nasida i. Sampe do adong tikki rupane hudok , mabiar au anon gabe malala rohani inang baomu, alana holan ibana nama songon tading tading ni simatuakku ( nunga marujung ngoluni simatuakku doli dohot boru) jadi hudok , ai boha do dang lungun rohani anak sasada molo apala nitinggalhon ??
    gabe mekkel do au dibagas rohakku, alana didok laenta on hatana mangalusi au
    ” Ai tu te ma anak sasada anggo pogos do” ? nina mangalusi au, laos hulakkahon ma lakkaku tu lapo ni Si Kolombus na di sirpang laguboti i, minum tes manis dohot roti kalapa ihut manonton film namarsaimara hahahahah

  6. B.Parningotan berkata:

    Kalau begitu lae Meha kelas Playboy ni yeh……… soalnya makan2 sama gadis pujaan, tapi dia yang bersedia bayarin, itu tidak sering terjadi. . Kalau cara itu di Bandung, kalau punya beberapa pacar, …….uang kiriman bulanan dari huta bisah tetap utuh. alias makan gratis terus.

  7. Dagaaaa……a. Seperti dibawa lae Naipospos ini pun perasaanku waktu dulu sedang membetter si Jojor Sinta teman sekelasku yang sering aku curi-curi pandang waktu pelajaran Bahasa Indonesia itu…

    Mantap kalipun cerpennya ini lae…salut…hehehehehe.

    **** Tardapot lae… hehehe

  8. G. Meha berkata:

    @Judah
    Bah, ido hape ampra? Boru sian Swedia do hape parumaen i? Asalma unang songon dongan, didok halletna par Swedia jala lagi singkola di Sweden College. Hape maksudna di Sekolah Tingga Swadaya do, di jalan Pasrah Ujung, Medan.

  9. hendry berkata:

    Selamat atas terpilihnya ANAKMEDAN, amanguda Monang Naipospos jadi anggota legislatif di Kab. Tob

    Sembilan Caleg dari Dapem Tobasa III antara lain Syamsudin Manurung (Hanura), Roy Robinhot Sirait (PPRN), Sahat Panjaitan (PPRN), Monang Naipospos (PKPI) , Jojor Marintan Napitupulu SE (Partai Kedaulatan), Herbert Sibuea SE (Golkar), Ir Viktor Silalahi (PDIP), Ir Togar Manurung (Partai Buruh) dan Rahmat Kurniawan Manullang ST (Partai Demokrat).
    Ketua DPRD Tobasa, Mangatas Silaen, menjadi pemenang peringkat tertinggi perolehan suara terbanyak perorangan (caleg) dengan meraih 1.931 suara. sumber hariansib.com


    *** Terima kasih

  10. G. Meha berkata:

    bah, ampara henri, ai orang bule do hape ho?

    @Lae Par Bintan,
    Pohon pinang tumbuh sendiri
    Tumbuh menantang awan….
    ……..aha do sambunganna lae? dang hea dope hubege ende on…
    on do ra udutna akke?

    Tumbuh menantang awan dan angin
    Tak perduli itu angin timur, barat, atau utara selatan

    Hehehe, jadi kassau lagu itu kubikin bah.

    Pohon pinang ini mengingatkan aku cerita tentang seorang anak baik baik yang di culik (dililuhon) Homang.

    Dalam kesedihannya karena dililuhon homang dan kerinduannya akan kedua orangtuanya dan saudara saudaranya, tiba tiba dia didatangi seorang habonaran/namartua tua dan memberikan sebuah biji pinang untuk ditanam berikut dengan mantera/tabas agar pohon pinang tersebut tumbuh membubung tinggi dan kemudian melengkung turun ke arah bungkulan rumah orangtuanya, dan juga tabas agar pohon pinang tersebut tidak bisa di cabut atau di tangke sang Homang Raksasa tersebut.

    Tabasnya adalah sbb.
    Molo ditaba dohot tangke, ponggol tangkena,
    Molo ditaba dohot sengso, margotapan rante ni gargaji i. Hehehe, mana ada chain saw waktu itu, yang berdusta nya aku, kutambah-tambahinnya itu.

    Tabas supaya pohon tumbuh cepat membubung tinggi dan sampai atap rumah orangtuanya:
    Haru timbo ma ho pinangda………(huhut marligato mendayu dayu kayak lagu odong-odong nyanyian sunyi perkemenjen )……. jala sahat tu bungkulan ni jabu ni dainang.

    Tetapi, saking senangnya si anak menyaksikan satu persatu peralatan tebang dari sang raksasa yang rontok saat menyentuh pohon pinang, dan semakin senang saat dari ketinggian yang cukup, dia dapat melihat keindahan Hutan Tapanuli yang terhampar luas, dan juga keindahan Danau Toba yang begitu mempesona, maka imipiannya akan bertemu dengan orangtuanya akan segera terwujud, dan dia akan menceritakan kepada penduduk bahwa sangatlah indah Tano Batak itu dilihat dari keinggian. Dan dia membayangkan betapa indahnya happy ending dari penculikian itu.
    Saking asiknya melamu, ada satu kata dalam tabas itu yang salah ucap waktu di nyayikan, sehingga pohon pinang itu tidak mau bengkok tetapi membubung tinggi. Baru setelah tembus melewati atmosfir bumi, pohon itu mulai bengkok mendekat permukaan bumi, tetapi tidak mengarah ke kampung orangtuanya, tetapi meliuk liuk ke segala penjuru mata angin; desa na ualu.

    Ketika pohon pinang itu menembus angkasa, secara ajaib pohon itu dapat berbicara dan menjelaskan kepada anak itu: Inilah gas rumah kaca akibat gas buang masin masin di bumi dan juga gas gas dari hewan hewan yang memamah biak di bumi, dan diperparah akibat hilangnya pohon2 dari hutan2 di bumi.

    Dan ketika pohon2 itu meliuk liuk melintas desa naulau, pohon pinang itu tetap berbicara dan menjelaskan: Inilah negara yang tadinya sangat subur, tetapi karena keegoisan pemerintahnya, lihatlah, penduduknya pada busung lapar.

    Inilah negara yang sangat menghargai manusia (warga negara berikut semua hak azasinya), mereka kaya dan makmur. Mereka sangat mengandalkan logika, sampai mengarah pada penyangkalan akan adanya Tuhan. Dll, dls, dsb, tetapi si anak tersebut tidak mengerti sedikitpun akan penjelasan itu.

    Jempek hata dohonon, demikianlah si anak tadi hidup lama sekali diatas pohon pinang yang menantang awan bahkan gas rumah kaca, melintas batas ruang dan waktu, hingga jaman reformasi yang super canggih ini, dia tetap mengudara.

    Suatu saat, dia menyadari bahwa pohon pinangnya sudah mulai bengkuk mengarah ke kampungnya, dia sangat heran sekali. Hutan yang dia saksikan dulu hampir tidak ada lagi, demikian juga Danau Toba, tidak lagi seindah dulu. Dan dia semakin sedih karena dari jarak yang bisa dengan jelas mengenal rumah dan orang orang di bawah, dia tidak melihat rumah orangtuanya yang dulu, dan tidak satupun dari orang orang dibawah itu yang dikenalnya.

    Tiba tiba pohon pinang itu berbicara lagi, mari kita tinggalkan tanah ini, karena hampir seluruh penduduknya sudah “bengkuhon”

    Tidak, tidak semua. Turunkanlah aku. Kata si anak memohon dengan sangat. “Masih banyak orang yang benar, aku akan menemui mereka.

    Hehehe.

  11. Rondang br Siallagan berkata:

    Ceritanya sangat mengesankan.dan lucu..mengingatkan masa tahun 1983 an….
    Masa2 puber…ach..jadi ingat aku dengan doi pertama…tapi saya tidak pintar cerita…Jadi tersenyum dan tertawa sendiri saya disini.

    Masa ya…sich bahasa Medan akan tersisikan…
    Rindu saya mendengar bahasanya..Itulah khasnya..

  12. Rondang br Siallagan berkata:

    @G.Meha.

    Didia do jalan Pasrah Ujung Medan..didia lokasina..
    Dang hea hubege jalan on.

    Taringot hata Medan…na huingot..
    Putar-putar, pusing-pusing, mengepek,lagaecek, mati kau, mampuslah kau,, sok kali kau, spgr (sipanggaron), anggar kalipun kau..mungkin ada yang lain ingat..

  13. G. Meha berkata:

    @Rondang br. Siallagan Tonkin

    Jl. Pasrah Ujung = Jl. Pasar Merah Ujung. atau Jl. HM Jhoni, Medan.

  14. @Garth Meha

    Bah….??? Lagu “Anak Medan” dari LANTAMA TRIO cipt. Freddy Tambunan ido nuaeng na hira lagu wajib ni pesta ni halak hita…Mungkin na so sahat dope ra ende i tu Kanada ateh…Pos roham lae. Hutongos pe annon.

  15. Rondang br Siallagan berkata:

    @Garth Meha.

    O..ala….Singkatan rupanya..jelas saya nggak pernah dengar…kalau Pasar Merah Ujung…ya …saya pernah dengar…

    Itu nyanyian dari Iban Sitohang…saya pun nggak pernah dengar…Tahun berapa itu…ya….

    O..ya, ada kuingat lagi .bahasa Medan….ecek-ecek dan angek.

  16. Lamdor Sihaloho berkata:

    Mungkinkah bahasa Indonesia yang menjadi ciri khas orang Medan akan tersisihkan??? Aku rasa seandainya itu pun terjadi, masih akan lama lagi. Kenapa? Tiap hari anak-anak di tempat aku tinggal masih pakai bahasa khasnya orang Medan.

    Sekedar nambah koleksi bahasa Medan aja.
    Dulu waktu kami masih remaja kan suka nonton bioskop. Gak pernah dulu kami bilang itu nonton.
    “Metin yo,” itu dulu kata kawan-kawanku yang sering kami bilang kalau ngajak kawan nonton bioskop. Kalau gak ada uang mau beli karcis, terpaksalah ngecek (minta) sama mama atau bapak.
    Karena biasanya dulu kami lebih sering metin pas hari Sabtu, malamnya kami suka ngembun (begadang) sambil minum tuak atau nengok-nengok orang bergandengan tangan yang lewat dari depan kami.

  17. Hamonangan Sirait berkata:

    Horas!!!
    Mantaf kali ceritanya, jadi rindu pulang ke medan.
    Walaupun sering ke Medan sekali2 karena kerjaan kantor, istilahnya pulkam dibayar negara.
    Tapi aku bukan PNS, yang kerja mocok2nya aku ini he..he..
    Kapan ya bisa kerja di Medan, tapi standard gajinya ikut Jakarta ???
    Btw, kalo aku dulu sering norat (nonton rata2) di bioskop Remaja, Bahagia, dan Irama
    Hidup Anak Medan, hansurr demi kawan
    Biar kambing di kampung sendiri, tapi banteng di perantauan, sangarr……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s