Pendidikan Kemajemukan bagi Warga Gereja

Eliakim Sitorus

Pluralitas atau kemajemukan adalah fakta atau kondisi beranekaragamnya masyarakat, baik fisik (rambut, warna kulit, postur tubuh), dan nonfisik seperti suku, bahasa, budaya, keyakinan dan sebagainya. Sedang pluralisme adalah paham dan sikap yang menghargai dan menghormati pluralitas tersebut. Di atas realitas keberanekaragaman itulah, negara ini didirikan oleh para pendahulu kita. Sekalipun ada upaya-upaya sepanjang sejarah negeri ini, untuk menafikan kepelbagaian itu alias ingin menyeragamkan semuanya, namun faktanya negara bangsa Indonesia masih berdiri utuh. Dan, inilah yang kita kehendaki sesungguhnya sebagai masyarakat Indonesia yang berdaulat hidup senang dan damai di dalam tanah air yang berdaulat pula.

Sejarah Nasional yang Panjang

Dalam perjalanan sejarah bangsa kita, etnisitas, religiositas, bahasa, budaya dan ideologi di satu sisi menjadi pembeda satu dengan lainnya, tetapi pada saat yang sama atau atau pada masa yang berbeda semua itu acapkali juga menjadi pengikat kesamaan citra rasa berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Ada kalanya ikatan kebersamaan surut namun pada saat lain meningkat dan hangat. Artinya proses menjadi satu bangsa, satu negara dan satu masyarakat tetap berlangsung sebab generasi demi generasi juga berganti seturut usia manusia.

Ketika itulah, sangat naif manakala ada pemimpin mengatakan bahwa bentuk, sifat dan character building kita sebagai bangsa, negara dan masyarakat sudah final. Perbedaan dinafikan, keseragaman (uniformitas) menjadi tujuan. Itulah juga cikal bakal kekakuan hubungan antar entitas komponen bangsa ini. Seolah benar sudah final, padahal justru sedang menyimpan potensi perpecahan yang luar biasa. Oleh karena kecurigaan yang luar biasa, semua elemen masyarakat berdasarkan identiatas yang sama membentengi diri dalam pulau-pulau komunalisme memisahkan diri dari kelompok identitas beda dengan mereka

Proses menjadi dan menuju satu bangsa yang solid masih berlangsung hingga hari ini. Setelah sekian lama memasuki era reformasi atau transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi, baik pemimpin dan masyarakat yang dipimpin, sama-sama kelimpungan sedang mencari pijakan dasar bersama (common ground) sebagai bangsa dan negara juga masyarakat. Lalu sebagian masyarakat dan bekas pemimpin formal menyuarakan kembali lagi (dan lagi) perlunya kembali ke ideologi negara Pancasila. Harus diakui ada fenomena, sebagian masyarakat hendak menyingkirkannya.

Perjalanan bangsa kita sejak didirikan oleh para founding fathers and mothers, hingga hari ini mengalami perkembangan yang kadangkala menggembirakan, namun sering kali juga mengkhawatirkan, seperti akhir-akhir ini. Selama kesadaran tentang pluralitas masih sempit atau dangkal, maka ancaman untuk konflik karena perbedaan sangat besar peluangnya. Lihatlah misalnya konflik yang terjadi di Poso Sulawesi Tengah, Ambon Maluku dan Sampit Kalimantan Tengah, sejatinya dipicu oleh perbedaan etnis dan latar belakanga agama yang dianut oleh mereka yang berkonflik dan oleh mereka yang memprovokasi terjadinya konflik kekerasan. Padahal konflik kekerasan, bagaimana pun hebatnya tidak akan pernah bisa melenyapkan perbedaan tersebut.

Perbedaan suku, ras dan bentuk fisik tubuh, juga bahasa ibu merupakan bawaan dari generasi ke generasi penerusnya, sedangkan perbedaan budaya, agama, ideologi, rejeki dan kelas sosial adalah hasil dari pertumbuhan atau perkembangan juga persinggungan satu manusia dengan manusia lain, satu kelompok manusia dengan kelompok manusia lain.

Karena sempitnya pemahaman dan kesadaran akan kepelbagaian, maka muncullah sikap anti kelompok lain yang diindentifikasi berbeda dengan dirinya dengan kelompoknya. Fenomena komunalisme, yaitu menganggap komunitasnya yang terbaik sedang komunitas lain buruk (stereo type) merebak di dalam masyarakat kita, dan sayangkan kecenderungan itu amat sering diperalat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab demi keuntungannya sendiri, tanpa memikirkan dampaknya. Mobilitas massa seragam untuk menyudutkan komunitas lain yang dinilai tidak sama dengan mereka biasanya mengarah ke tindakan anarkhis dan brutal.

Studi Kasus Jalan Air Bersih Ujung Medan

Kasus masyarakat menolak pendirian rumah ibadah kelompok Parmalim di Jalan Air Bersih Ujung Medan, selama tiga setengah tahun terakhir, mesti dipahami dalam konteks tersebut. Penolakan warga sekitar, termasuk kelompok warga jemaat gereja HKBP dipimpin oleh dua orang pendetanya, terhadap pendiriaan bangunan rumah ibadah kelompok Parmalim dan menolak keberadaan komunitas tersebut di lingkungan mereka, di samping karena ingin menunjukkan eksklusivisme dan sektarianisme, tetapi juga campur aduk dengan ketidakpahaman mereka tentang apa, siapa dan bagaimana seharusnya menjadi bangsa, negara dan masyarakat Indonesia.

Mereka itulah contoh masyarakat yang mendesak membutuhkan pendidikan penyadaran tentang multikulturalitas, pluralisme dan perdamaian. Untuk kalangan masyarakat seperti itu, layak diberi pemahaman tentang menjadi tetangga yang toleran di dalam kampung besar bernama Indonesia yang memang senyatanya dihuni oleh manusia yang beragam, yang berbeda satu sama lain dalam banyak hal, tetapi satu hal terpenting yang mempersamakan adalah kemanusiaanya.

Sejak awal rencana pendirian rumah ibadah itu, Ir. Maruli Sirait, selaku Ketua Parmalim Medan sudah melakukan pendekatan kepada warga sekitar. Dan, pada mulanya warga setempat yang juga berbeda suku dan agama bersetuju umat Ugamo Malim mendirikan rumah ibadahnya di situ. Tetapi entah kenapa belakangan warga menolak kehadiran rumah ibadah tersebut. Hingga sekarang rumah ibadah itu terbengkalai. Bangunan setengah jadi itu sudah mulai dijelari semak belukar. Kayu-kayu penyangga bakal atas dan flapon sudah membusuk. Tetapi warga sekitar tetap mengeraskan hati tak memberi ijin pihak Parmalim meneruskan pendirian rumah ibadahnya hingga detik ini.

Upaya Pencegahan Konflik

Dalam kesempatan ini secara ringkas saya sudah berusaha memaparkan analisis kondisi keberagaman masyarakat kita dan realitas satu kasus yang dekat dengan kita secara fisik. Pertanyaan berikutnya, agar perbedaan agama terutama tidak menjadi cikal bakal konflik sosial di masyarakat, apa yang harus kita lakukan, baik sebagai individu dan sebagai anggota kelompok komunitas masyarakat tertentu, terutama komunitas Kristen alias warga gereja? Jawabannya: banyak yang bisa dilakukan!

Pertama, kita mulailah dari diri kita menghormati orang yang secara fisik, sosial, ekonomi, politik, kultural dan keyakinan berbeda dari diri kita. Bagi kita mereka lain, sebagaimana bagi mereka juga kita lain. Contoh yang amat sederhana, bahwa kita sebagai orang tua, dewasa dan relatif besar. Sedangkan anak-anak kita, kecil, dan “kekanak-kanakan” (seharusnya memang demikian), dan masih tergantung kepada orang tua. Maka orang tua harus memandang anak-anaknya sama dengan dirinya yaitu manusia yang berbeda dari dirinya. Orang tua wajib mendengar pendapat anak-anaknya tentang segala hal yang terkait dengan kepentingan dan keperluan anak-anaknya. Di antara anak-anak kandung kita itu sendiripun ada perbedaan, bahkan dua atau tiga anak kembar pun pasti ada perbedaan. Anak-anak kita didik dan latih menghargai perbedaan.

Kedua, utamakan dialog. Wujud pertama dari perbedaan manusia yang satu dengan lainnya adalah berbedanya kepentingan atau kebutuhan juga keperluan. Dalam rangka memenuhi keperluan itu maka kita bertemu (atau bersinggungan) dengan orang lain, yang pasti berbeda dengan kita. Maka kita harus berprinsip perbedaan jumlah, jenis dan kualitas kebutuhan kita dengan orang lain harus dimusyawarahkan atau didialogkan. Dialog adalah masa depan (Dialogue is future). Dialog adalah satu wahana atau perangkat terbaik dalam menyelesasaikan perbedaan di antara dua manusia atau kelompok manusia adil secara damai. Itu bedanya dengan yang bukan manusia yang cenderung mengutamakan kekuatan otot atau pengaruh besar badan. Dialog is power (dialog adalah kekuatan).

Ketiga, cara-cara penyelesaian konflik secara damai dan adil bisa dipelajari. Oleh karena kemajuan zaman, maka bukan hanya cara berkonflik atau berperang yang semakin canggih. Cara dan metode pencegahan konflik pun ada yang semakin canggih dan semua itu bisa dipelajari. Setelah lelah berkonflik di Irlandia Utara (protestan vs katolik), di Afrika Selatan (warga hitam vs putih), Macedonia (perang suku), Negara-negara Afrika (suku), maka muncullah kesadaran tentang perlunya menghentikan kekerasan, sebab kekerasan akan menghasilkan kekerasan baru lainnya, sebagaimana digambarkan oleh Uskup Dam Camara dalam bukunya “Circle of Violence” (Lingkaran Kekerasan). Dari kesadaran tersebut disistematisirlah pengalaman upaya-upaya perdamaian dengan berbagai istilah Conflict Transformation, Conflict Resolution, Conflict Prevention, Conflict Management, peace building, reconciliation dan lain-lain. Semuanya itu bisa dipelajari asal ada kemauan. Lalu setelah itu seterusnya diterapkan dalam kehidupan.

Di samping ketiga cara yang saya usulkan di atas, maka para pendeta, dengan kreatif bisa mengembangkan berbagai metode belajar hidup damai berdampingan dengan orang lain. Kotbahkanlah multikulturalitas sebagai bagian dari penghormatan martabat manusia dan sejalan dengan anjuran para promotor Hak Asasi Manusia (HAM) yang bersifat universal. Jangan hanya ketika gedung gerejanya diserbu massa atau dilarang didirikan, maka umat Kristen menjerit, sementara jika mereka merasa mayoritas di satu wilayah tertentu, ternyata menindas pihak lain yang dinilainya minoritas. (*)

Picture1Penulis adalah pengamat masalah sosial dan budaya, Konsultan Program Keaadilan, Perdamaian dan Keutuhan Cuiptaan (KPKC), SEKBER UEM, tinggal di Medan.

Iklan

14 thoughts on “Pendidikan Kemajemukan bagi Warga Gereja

  1. Bah???? Orang kristen juga ada yang ikut-ikutan menolak pendirian rumah ibadah ya…? Bagaimana perasaan orang itu membaca berita penolakan pendirian rumah ibadah di tempat lain ya?

  2. P. Pangaribuan berkata:

    Bah nga gabe margulu gulamo sibahut di susuban dibahen penolakan pendirian rumah ibadah Parmalim oleh warga dan pendeta HKBP dalam Kasus Jalan air bersih ujung Medan on, kontradiksi dohot aha na dipahami dohot na dialami oleh warga gereja (dalam hal ini warga dan institusi hkbp) dalam pendirian tempat ibadahnya karena sering mengalami penolakan oleh warga lain…Bingung…derita dan kekecewaan yang dialami yang diterima dari warga lain atas pendirian gereja termasuk gereja hkbp semisal kasus yang paling up date saat ini di Depok, Jabar, ijin pendirian gereja hkbp yang sudah dimiliki dari walikota sebelumnya dicabut oleh walikota searang, dan dengarnya saat ini sedang diadukan ke pengadilan di tingkat propinsi (Bandung). kok sanggup melakukan hal serupa kepada warga Parmalim saudara sedarah dari nenek moyang (mungkin masih saompu) seakar, saparmeaman, sepergaulan dan mungkin diantaranya (saling) angka dongan magodang sapartandangan, dongan mangalusi partandang, dongan saparmituan, dongan markuaci, dongan marguli, dongan na manangko manuk, dongan mangombak, marbabo, marpanen marsidopari marungkit-ungkit di balian, dongan marsiajar marisap, dongan lari sian sikkola dongan saparbolaan, dongan saparidian na Ujuuuuui nahinaaaan, di huta bona ni pasogit na ni warishon ni omputa nauli basa, huta na ngali jala na gok dame dohot uhum na adil dohot demokratis, di huta hatubuan dohot hagodangan na sotarlupahon i, hape dung saonari dung lam martambah-tambah luas hamaloon, parbinotoan, pargaulan, kuasa, jabatan, keberadaan, parhepengon nga gabe lupa na deba di tona ni ompunta dohot natua-tua na mangajarhon hita angka pinomparna halak batak ikkon mardame-dame tanpa syarat tu sude jolma didia pe maringanan…agaiamaang tahe, parsega ni bangso i ma hape tu joloan on, nga lam godang jolma loahon jala lam oto dihamaloonna di hamajuon sonari dohot nangpe hita batak nga terbiasa berbudaya na demokratis dohot pluralis. Ai aha do hak na dohot atas dasar aha do halakhon tahe melarang orang lain beribadah dan mendirikan rumah ibadahna ate?Nungga salah besar sikap ni halak on, apalagi muse dohot-dohot pandita mangorai pendirian rumah ibadah Parmalim dohot komunitas Parmalim, Na pajolo gogo on papudi uhum. Bohado tahe ia sikap resmi ni institusi HKBP, seharusnya institusi HKBP harus menegor/ menghukum pendetanya tersebut sekaligus meminta maaf secara resmi tu institusi Parmalim, karena kondisi ini sangat aneh, ganjil, tidak masuk akal dan bukan sikap kristiani, apakah mungkin ada unsur terkait lainnya yang berperan dan dimainkan dalam moment tersebut??? Logikanya dan seharusnya HKBP harus memperbaikinya secepat mungkin, unang masa bodoh dan tutup mata, karena ini merupakan serangan terhadap dari hkbp dari unsurnya sendiri, unang holan durung-durung dohot parartaon diparrohahon alai paling utama adalah sikap, pergaulan antar institusi dan kepedulian terhadap sesama manusia apapun latar belakangnya.
    Sai anggiat ma tumibu nasida mardame jala hatop jadi dipajongjong rumah ibadah ni dongan Parmalim i.

  3. maridup berkata:

    Ada lebih dari 200-an agama lokal (tribal religion) di Indonesia dan sejak dahulu sudah menjunjung kearifan lokal yang mengikat dirinya dengan lingkungannya. Setelah Indonesia dijajah oleh faham agama-agama luar maka terjadilah sekat-sekat untuk menilai kearifan lokal tersebut, dan bahkan tak satupun diantara agama lokal itu tak ada yang diakui sebagai agama resmi di negara ini. Enam agama impor sebagai agama resmi yang dibentuk oleh figur-figurnya (kecuali Hindu) semuanya membuat sekat-sekat yang memporakporandakan kearifan lokal sehingga satu kultur harus bersedia bercerai-berai, sambil menunggu kepunahan identitasnya.

    HKBP dalam konteks cerita diatas nampaknya sudah memposisikan identitasnya kepermukaan bahwa fahamnya itu pertama kalinya memang dibentuk oleh figurnya dengan otoritas konflik, karena pada dasarnya faham itu mengandung sangat sedikit kearifan lokal – Batak sebagai suatu komunitas.

  4. Hendry Lbn Gaol berkata:

    Kasus masyarakat menolak pendirian rumah ibadah kelompok Parmalim di Jalan Air Bersih Ujung Medan, selama tiga setengah tahun terakhir, mesti dipahami dalam konteks tersebut. Penolakan warga sekitar, termasuk kelompok warga jemaat gereja HKBP dipimpin oleh dua orang pendetanya, terhadap pendiriaan bangunan rumah ibadah kelompok Parmalim dan menolak keberadaan komunitas tersebut di lingkungan mereka, di samping karena ingin menunjukkan eksklusivisme dan sektarianisme, tetapi juga campur aduk dengan ketidakpahaman mereka tentang apa, siapa dan bagaimana seharusnya menjadi bangsa, negara dan masyarakat Indonesia.

    on ma nanidokna pendeta ‘namasamasai”…

  5. Salngam berkata:

    Saya kira hal di atas itu adalah aneh bin ajaib. Nabinoto Daerah Medan bukanlah huta ni HKBP, panombang do nasida disi.
    HKBP sepengetahuan saya adalah Gereja yang inklusif, saya kira dua Pendeta HKBP dimaksud adalah Fiksi atau mungkin sempalan dari HKBP.
    Lagian ko minta ijinnya kok bisa ke warga HKBP???. Bukan ke Walikota Medan???. Horas

  6. Bernat sinaga berkata:

    Horas.
    Pada umumnya kita tidak menyadari arti keseimbangan dan bahkan lebih sering atau bahkan kita tdk menyadari bhw kita hidup adalah dikarenakan keseimbangan itu sendiri.

    1. Maha Pencipta memiliki otoritas penuh thdp isi bumi ini.
    Tetapi kenapa Sang Pencipta membiarkan “Sang LUCIFER” juga boleh bahkan leluasa memperluas kekuasaannya?

    2. Sepatu saja kalau kiri semua apa yg terjadi, apalagi kaki?

    3. Tubuh manusia ideal apabila terdiri dari berbagai jenis organ yg lengkap.
    Apa yg terjadi kalau seandainya tubuh manusia itu terdiri dari mata semua. Bahkan dlm skala kecil, seandainya jari tangan terdiri dari jempol semua. (amit-amit ga lucu…)

    4. Seluas apakah otoritas kedua orang pendeta HKBP tsb sehingga mereka melarang umat lain melakukan aktivitasnya.

    5. Hal yg baik baru kita katakan baik ketika dia disandingkan dgn hal yg jahat.

  7. Pontaseddy berkata:

    Apabila ada kata2 penolakan didalam komunitas masyarakat Indonesia, saya pribadi adalah orang yang paling anti…
    Kembali ke….. penolakan pendirian rumah ibadah kelompok Parmalim di Jalan Air Bersih Ujung Medan …….. harusnya kita menyadari …………………… sebelum HKBP ada di Tapanuli, di Mandailing (TAPSEL) orang Batak sudah memeluk agama yaitu Islam….berarti di Tapanuli Utara waktu itu agama yg ada salah satunya adalah PARMALIM.
    dengan kata lain nenek moyang orang Batak adalah Parmalim, mengapa sekarang kita memusuhinya….. seperti kata pepatah, kacang lupa akan kulitnya…. saya adalah warga HKBP….. biarlah saudara kita yang Parmalim hidup berdampingan dengan kita …… karena Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita mencintai sesama manusia?
    Ingat: hanya dua Hukum yang utama yg diajarkan oleh Tuhan Yesus yaitu :
    KASIHILAH Tuhan Allahmu dari segenap hatimu…… dan KASIHILAH sesama mu manusia sebagaimana engkau mengasihi dirimu sendiri…

    Mana lebih baik Mengaku sebagai orang kristen , tetapi tidak pernah melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan, dibandingkan dengan Parmalim….yang berniat mendirikan rumah ibadahnya untuk memuji Mula Jadi Nabolon ?
    Saya kira, kita jangan seperti kata syair lagu yg terdapat di Buku Ende yang mengatakan …”KRISTEN AU HAPE HUTONDONG, DALAN HA MAGOAN I….”
    Mohon maaf kalau ada kata2 yang salah.
    Orang Batak “KEEP MOVING….”

  8. maridup berkata:

    @Pontaseddy
    Sedikit menambahi yang diutarakan di atas bahwa Parmalim bukanlah agama leluhur Bangso Batak tetapi dibentuk semasa Raja Sisingamangaraja-X (sepuluh) kira2 persis semasa perang saudara Paderi (1816-1833). Parmalim dikembangkan oleh para datu Parbaringin yang mengadopsi kepercayaan monotheis Mulajadi Nabolon yang sudah diyakini oleh Bangsa Batak sejak jaman purba, kemudian ditambah dengan pengaruh Islam dari Aceh. Para datu Parbaringin dapat disetarakan dengan para nabi yang ada pada Kitab Perjanjian Lama semisal semasa Jahudi dipimpin oleh Raja Daud dan Raja Sulaiman. Yang paling penting dari kehadiran Parmalim hidup berdampingan dengan agama-agama import bahwa komunitas parmalimlah sebagai penyambung kepercayaan Bangsa Batak purba dan mereka konsisten melaksankan dan memeliharanya, sementara agama import yang datang ke Tanah Batak cenderung menghilangkan nilai-nilai yang luhur dari peradaban Bangsa Batak. Untuk itu, apapun ceritanya, apapun alasannya bahwa Parmalim harus bertumbuh dan bukan dipunahkan. Sampai sekarang ini, hanya dalam kurun waktu 140-200 tahun sejak masuknya Islam dan Kristen ke Tanah Batak, maka sudah terjadi rantai yang putus dengan kearifan leluhur. Mengapa tidak agama leluhur Bangsa Batak itu yang kita promosikan ke Timur Tengah sana. Leluhur kita masih mengatur tatanan parhundulan dalam Dalihan Natolu dan Tarombo, sementara di Timur Tengah sana, boru dohot amangudana dapat kawin dan sah tidak berpantang, dalam kultur kita adalah mati taruhannya (contoh kecil). Kultur yang terbentuk pada Bangsa Batak sudah pasti untuk kebaikan Bangsa Batak itu sendiri, sementara kalau ada agama yang masuk ke dalam kultur Bangsa Batak itu mungkin saja baik tapi boleh juga tidak baik. Kita bisa menilainya sendiri.

  9. tanobatak berkata:

    @ maridup

    Sepertinya banyak yang mendeskripsikan Parmalim itu berbeda, padahal sudah dijelaskan di http://www.parmalim.com Dikatakan bahwa para Parbaringin tidak setuju dengan pengorganisasian Ugamo malim yang para pengikutnya disebut “kemudian” Parmalim itu.
    Apa pengaruh Islam dalam Parmalim? Ini juga tidak jelas. Bila hanya karena ada adopsi bahasa atau pantangan yang kebetulan sama misalnya apakah ajaran itu menjadi pengaruh? Bila Kristen Batak misalnya menggunakan kata Debata apakah Kristen dipengaruhi Batak atau Hindu?
    Analogi anda Raja Parbaringin seperti Raja Daud dan Raja Daud adalah Nabi sehingga Raja parbaringin adalah Nabi kami rasa kurang tepat. Memang diakui bahwa para Raja Parbaringin itu cukup dihormati di masyarakat Batak.
    Sebaiknya anda menyaksikan kegiatan ritual akbar Parmalim pada tanggal 6 Juli 2009 yang akan datang, agar terlihat jelas apakah ada pengaruh Islam dan Kristen disana. Apakah dirirkan oleh “para” Parbaringin atau seorang yang kebetulan Raja Parbaringin.
    Banyak peneliti sudah melakukan, bahkan dari manca negara. Masya kita orang batak masih salah persepsi?
    Horas.

  10. maridup berkata:

    Saya hanya mau menjelaskan konsep ritual yang dilakukan oleh bangsa Jahudi kuno dan Batak kuno, bahwa peran seorang datu pada Batak kuno dan peran nabi pada Jahudi kuno ada kesamaannya. Saya bukan menjelaskan dogmatika agamanya.

    Pada kepercayaan Jahudi kuno apabila melakukan doa khusus kepada tuhannya harus melalui seorang nabi yang menyampaikannya. Dalam hal Daud atau Sulaiman yang dianggap nabi bagi umat Kriatiani juga melakukan hal yang sama yaitu memanggil nabi untuk menyampaikan pesannya kepada Yahwe. Demikian pula dengan Kepercayaan Batak kuno/purba bahwa dalam menyampaikan tongotonggo kepada Mulajadi Nabolon harus disampaikan oleh datu.

    Kebetulan pengertian datu sekarang sudah mengalami degradasi yang sangat jauh dan bahkan diasumsikan negative, kalau disebut raja ya benar juga. Dalam hal dogmatika keagamaan saya kurang memahami apa dogmatika Ugamo Malim atau Agama Jahudi atau bahkan kelompok Kristiani sendiri demikian banyak dogmatikanya. Saya mungkin fahan dokmatika Kristen di HKBP, GKPI, HKI, tetapi seperti Katolik, Pentakosta atau kharismatik saya sama sekali tak faham padahal mereka memakai kitab yang sama.

    Jadi prosesi ritual yang dilakukan oleh Parmalim atau Ugamo Malim bukan menjadi baku sebagai dokmatika kepercayaan bangsa Batak kuno. Sebelum Raja Sisingamangaraja-X yang pertamasekali mencetuskan Parbaringin/Parmalim/Ugamo Malim, jauh sebelumnya Bangsa Batak sudah mengenal Mulajadi Nabolon. Itu makanya saya mau mengatakan bahwa Ugamo Malim (lebih pamor dikenal umum Parmalim) bukan agama batak purba tetapi menjadi agama yang baru muncul di Tanah Batak pada masa Sisingamangaraja-X.

    Harus ada pemahaman situasi pada masa itu bahwa ada ancaman dari Paderi (Islam = yang menganggap Batak paganis) dan adapula hubungan baik dengan Kerajaan Islam Aceh (yang menganggap Batak bukan paganis). Tidakkah kita mengagumi kecerdasan Raja Sisingamangaraja-X untuk bertindak menyelamatkan Bangsa Batak? Kecerdasan ini ditangkap oleh kejeniusan Raja Sisingamangaraja-XII dan terdokumentasilah semua aktivitas kerajaan yang dituangkan dalam Pustaha Harajaon dan buku ini diambil oleh pendeta Pilgrim. Sayang konsep Parbaringin tidak lantas diterima diseluruh Tanah Batak.

  11. dior berkata:

    Mohon maaf ..untuk semua yang meninggalkan opini menanggapi sebuah kejadian di medan, masih kurang pas menurut pendapat saya karena melihat persoalan ini masih belum jelas oleh penulis proses, sehingga terjadi penolakan tersebut.
    Hanya satu yang saya ingin soroti keberadaan seorang Pendeta yang dengan terang-terangan menebarkan kebencian ? atau apa ?
    ada apa ini…..? mohon pembelajaran yang baik untuk instrospeksi diri

  12. Esther Risma Purba berkata:

    Salam untuk semua pembaca:

    Mau menambahkan tentang upaya pencegahan konflik…Selaku anggota satu komunitas tertentu, setiap orang perlu pencerahan dan kesadaran untuk membagi atau memberikan kekuasaan (politik) dan penentuan keputusan bagi yang lain. Menghormati saja tidak cukup. Tidak jarang, orang menghormati “yang lain” tetapi tetap berpikir dirinya yang mampu “memimpin”, membuat keputusan, menentukan rumusan ttg sesuatu kepada “yang lain” itu.

    Saya kira, istilah yang tepat adalah interkulturalisme. Pluralisme sebatas penerimaan akan kenyataan akan yang ada (dalam hal ini kenyataan bhw masy.nya adalah multikultural). Yang penting kemudian adalah lantas mau diapakan kenyataan multikultur itu? Tindakannya harus ditunjukkan dengan kesadaran INTERkultural.

    Jadi, apa yang diuraikan Bapak Eliakim dan ingin dicapai melalui upaya di atas adalah perwujudan interkulturalisme (plus tambahan upaya yng saya berikan tadi)

    Horas,
    Esther

  13. Kasus masyarakat menolak pendirian rumah ibadah kelompok Parmalim di Jalan Air Bersih Ujung Medan, selama tiga setengah tahun terakhir, mesti dipahami dalam konteks tersebut. Penolakan warga sekitar, termasuk kelompok warga jemaat gereja HKBP dipimpin oleh dua orang pendetanya, terhadap pendiriaan bangunan rumah ibadah kelompok Parmalim dan menolak keberadaan komunitas tersebut di lingkungan mereka, di samping karena ingin menunjukkan eksklusivisme dan sektarianisme, tetapi juga campur aduk dengan ketidakpahaman mereka tentang apa, siapa dan bagaimana seharusnya menjadi bangsa, negara dan masyarakat Indonesia.

    on ma nanidokna pendeta ‘namasamasai”…
    Hutambai lae” on ma pandita nasala jurusan i,nga diantusi laekan molo sala jurusan? jonok tu jl timor najolo di medan manang tu grogol di jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s