Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan

Limantina Sihaloho

“Sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak, pohon-pohon besar itu masih berdiri; setelah agama Kristen masuk, pohon-pohon besar itu ditebangi antara lain untuk membuktikan bahwa pohon itu tak mempunyai kekuatan apapun”, begitu kata salah seorang teman kelas saya yang kebetulan orang Batak di Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana di pertengahan tahun 1990-an. Kala itu, istilah global-warming masih jauh dari telinga dan wacana publik. Jogja pada waktu itu masih relatif dingin malah; tidur pada malam hari masih perlu pakai selimut. Di awal 2000-an Jogjakarta telah berubah menjadi gerah, sumuk. Seperti Pematang Siantar pada masa sekarang ini yang juga sudah bertambah panas walau jauh dari tepi laut.

Pada tahun 1990-an bahkan sebelum itu, debit air di Danau Toba berkurang. Salah satu penyebabnya adalah ekosistem hutan mengalami gangguan, luas hutan berkurang di sekeliling danau, pepohonan terus-menerus ditebangi oleh manusia. Konteks pembicaraan teman kelas saya pada waktu itu lebih kepada situasi yang terjadi di Danau Toba. Sikap orang Kristen yang berubah dalam memperlakuan alam sekitar mereka secara langsung berpengaruh terhadap Danau Toba.

Sebelum agama Kristen masuk, orang-orang Batak mempunyai sikap tertentu terhadap alam sekitar termasuk terhadap pohon yang kalau kita telusuri sebenarnya berakar dari tradisi yang lebih tua yang dipelihara secara turun-temurun sejak zaman kuno. Masyarakat tradisional tidak hanya di Tanah Batak tetapi hampir di seluruh dunia menghormati alam sekitar mereka bahkan setara dengan diri mereka; alam bukan objek.

Para misionaris dan orang-orang Batak yang menjadi Kristen telah salah membaca kearifan nenek moyang (komunitas Batak pra-Kristen) berkaitan dengan bagaimana komunitas ini berinteraksi dengan alam sekitar mereka. Cara komunitas ini berinteraksi dengan alam sekitar, yang kalau kita simpulkan sebenarnya adalah sebuah dialog yang terus-menerus seirama dengan musim-musim yang berlangsung setiap tahunnya. Itu sebab ada ritus tertentu sebelum menanam benih di ladang atau sawah. Para misionaris dan orang-orang Batak yang sudah masuk Kristen melihat dan memahami cara-cara itu sebagai tindakan pagan atau kafir yang layak dimusnahkan.

Teologi para misionaris menegaskan: hanya Allah melalui Tuhan Yesus Kristus satu-satunya yang berkuasa; tidak ada kuasa di dalam sebuah pohon termasuk pohon yang sangat besar. Para misionaris terdahulu itu tidak mengerti bahwa orang-orang Batak kala itu sebenarnya tidak menyembah pohon tetapi Debata Mula Jadi na Bolon yang kalau kita terjemahkan ya berarti Allah. Pohon-pohon besar yang rindang dan dianggap suci pada masa itu berfungsi sebagai tempat ibadah seperti gereja pada masa sekarang bagi orang-orang Kristen.

Orang-orang Kristen yang datang ke gereja tentu tidak menyembah gedung gereja tetapi Allah yang mereka percayai. Sama halnya dengan masyakarat tradisional di Tanah Batak dan di berbagai penjuru bumi; mereka berkumpul dan melakukan ritual di tempat-tempat tertentu termasuk di bawah rindang dan teduhnya pohon bukan dalam rangka menyembah pohon itu tetapi menyembah Allah yang mereka percayai.

Orang-orang Kristen lebih banyak terpenjara dalam keyakinan mereka yang sempit; mengira bahwa satu-satunya agama yang benar adalah agama Kristen. Konsekwensinya: satu-satunya pandangan yang benar adalah pandangan Kristen. Dalam konteks tertentu, satu-satunya yang benar adalah apa yang keluar dari pikiran dan mulut orang-orang yang telah menjadi Kristen. Ini antara lain yang terjadi di Tanah Batak sejak masuknya Kekristenan: silahkan tebang pohon-pohon besar itu di mana para leluhur biasa berkumpul entah untuk bermusyawarah atau melakukan ritus keagamaan mereka. Pohon itu kafir demikian juga orang-orang yang berada di sana. Kristenkan mereka agar mereka tidak lagi kafir. Buktikan bahwa tidak ada kuasa tuhan mereka itu. Tebang pohon-pohon itu dan tidak akan terjadi sesuatu apapun.

Para misionaris juga senang melebih-lebihkan berita ke lembaga misi yang mengirimkan mereka ke negeri yang mereka sebut negeri-kafir, negeri yang belum mengenal Kristus. Orang-orang Kristen Eropa pada abad ke-19 percaya bahwa kehidupan penduduk di negeri-negeri yang belum menerima Kristus seperti di Tanah Batak sungguh mengenaskan dan sarat dengan apa yang mereka sebut kuasa-gelap. Agama tradisional Batak mereka anggap juga sebagai kuasa gelap. Mereka merasa hebat bisa mendirikan rumah mereka di tempat-tempat yang mereka laporkan ke badan misi sebagai tempat-tempat yang angker di Tanah Batak dan mereka tidak apa-apa yang membuktikan pada penduduk pribumi bahwa tidak ada kuasa dari yang penduduk primbumi sembah itu.

Pada tahun 1877, IL Nommensen menjadi pemandu (dan juga penerjemah) bagi para serdadu Belanda yang melakukan ekspedisi di Tanah Batak. Dalam ekspedisi ini, para serdadu membakar banyak desa yang tidak mau tunduk pada pemerintah; memaksa para pemimpin desa yang takluk untuk membayar denda terhadap pemerintah kolonial pada masa itu. Ekspedisi berlangsung selama berbulan-bulan. Di pihak Belanda ini ekspedisi tetapi di pihak Batak, ini merupakan perang sehingga peristiwa ini umum kita sebut sebagai Perang Toba.

Ketika IL Nommensen bersama dengan Residen dan para serdadu tiba di Balige pada tahun 1877 itu, mereka begitu terpesona melihat keindahan alam sekitar. Pada tengah hari karena panas, para serdadu terjun ke danau. Mandi. Itulah pertama kali mereka menginjakkan kaki di dalam danau. Menurut laporan Nommensen, banyak di antara para serdadu itu yang mengungkapkan rasa jengkelnya: mengapa bangsa kafir yang keji itu (bangsa Batak maksudnya), memiliki bagian dunia yang begitu indah.

Di Tanah Batak, kecuali kemarau sepanjang tahun, pepohonan akan tetap berdaun. Pada masa awal kedatangan para misionaris itu, polusi udara bahkan tanah maupun air sangat kecil. Kehidupan dan pola hidup manusia masih tergolong alami, organik. Hutam masih alami. Alam begitu indah apalagi yang berada dekat atau di seputar Danau Toba. Tentu saja berbeda dengan Eropa negeri para misionaris apalagi di musim dingin di mana cuaca begitu tidak bersahabat, pada manusia dan hewan termasuk tumbuhan. Pohon-pohon (kecuali evergreen, semacam cemara) telanjang tak berdaun sama sekali di musim dingin. Siapa pula yang mau duduk di bawah pohon telanjang macam itu bahkan hanya untuk mengobrol saja seperti yang umum dilakukan oleh orang-orang Batak di bawah pohon-pohon beringin di sisi kampung mereka?

Sekarang kita mulai gembar-gembor untuk mengais-ngais apa yang kita sebut kearifan lokal. Kita merasa perlu untuk menemukannya sebab samar-samar kita tahu bahwa para pendahulu kita punya cara tertentu berinteraksi dengan alam termasuk di Tanah Batak. Kita mulai mempertanyakan keabsahan pandangan-pandangan dominan yang punya potensi besar untuk menindas dan memaksa pandangan yang berbeda untuk minggir. Bila perlu tidak hanya minggir, para pemilik pandangan dominan yang disokong oleh agama dominan dan kapitalisme (pemerintah kolonial, tuan-tuan kebon dan pengusaha) bisa menguburkan apa saja yang mereka anggap menghalangi langkah-tamak mereka, bila perlu hidup-hidup juga tak apa-apa.

Apa kabar kearifan lokal? Para orang tua di pedesaan dulu biasa mengajarkan kepada anak-anak mereka agar kalau mau, maaf, kencing di talun (wilayah) orang lain atau di luar kampung, di padang penggembalaan misalnya, permisi dulu terhadap penghuni talun itu. Masyarakat tradisional akrab dengan mitologi dan itu sebuah kearifan kolektif yang menjaga tatanan dan keseimbangan kosmos baik yang makro maupun mikro. Belakangan, kita terasing dari kearifan-kearifan macam itu karena kita membacanya secara harafiah. Orang lalu berpikir: kalau mau kencing, ya sudah kencing saja! Konsekwensinya, manusia tak lagi hormat pada alam. Inti dari kearifan tradisional itu antara lain adalah menegakkan rasa hormat terhadap alam sebab alam merupakan sumber penghidupan yang berkelanjutan dan mutlak. Tanpa dukungan alam, kita mau apa? Nggak bisa apa-apa!

Dalam perkembangan selanjutnya, berlangsung akumulasi terus-menerus di mana manusia semakin tidak hormat pada alam, pada bumi di mana mereka tinggal dan hidup. Anak-anak bahkan orang dewasa tidak lagi merasa bersalah untuk kencing sembarangan, buang sampah sembarangan. Tak lagi punya perasaan terhadap sampah-sampah plastik dan sampah lainnya yang mereka produksi setiap hari. Manusia semakin terpisah dari alam walau kaki mereka menginjak bumi saban waktu. Alam menjadi objek eksploitasi semata.

Masyarakat tradisional tidak boleh buang sampah sembarangan sebab komunitas mengajarkan itu tindakan terlarang yang akan memicu kemarahan penghuni alam di masa sampah itu dibuang. Akan ada konsekwensi bagi pelaku. Intinya sama dengan konsep modern bahwa sampah akan menimbulkan bencana sebab mengganggu keseimbangan alam, merusak sebab menjadi polutan terhadap udara, tanah dan air. Kita di zaman ini melihat alam yang rusak dan terpolusi terlebih dahulu oleh sampah baru sadar bahwa sampah menimbulkan masalah dan bencana. Masyarakat tradisional pra Kristen misalnya, sudah mampu menciptakan sebuah kearifan yang melindungi alam yang dalam waktu yang sama berarti melindungi diri mereka sendiri sebab mereka juga adalah merupakan bagian dari alam.

Kenaifan manusia modern yang dipertegas oleh Kekristenan adalah menganggab dirinya bukan bagian dari alam tapi pemilik alam. Sebagai pemilik maka manusia mengembangkan sikap memiliki, indentik dengan mengeksploitasi. Lihat saja! Gereja diam-diam saja dengan perambahan hutan yang terus berlangsung. Hampir 80% daratan Sumatra telah menjadi lahan perkebunan mono-kultur yang melibas habis kakayaan flora dan fauna yang sangat berharga demi memenuhi sikap memiliki itu.

Gereja-gereja baik yang Protestan maupun yang Katolik bahkan ikut-ikutan membuka ratusan (bahkan ribuan?) hektar lahan untuk perkebunan monokultur, sebuah tindakan bunuh-diri jangka panjang dan sebuah penghinaan terhadap generasi-generasi yang akan datang sebab mereka tak akan lagi dapat melihat kekayaan flora dan fauna yang sejak awal Tuhan berikan pada manusia kecuali mungkin dalam buku dan gambar. Masih syukur kalau masih bisa melihat sawit atau karet atau kopi; siapa bisa jamin kalau alam tidak akan mengamuk?

Generasi (muda) sekarang yang peduli pada lingkungan termasuk Danau Toba yang mulai sibuk belakangan ini perlu mengetahui benang merah persoalan mengapa keadaan menjadi seperti sekarang ini kalau kita bicara soal lingkungan. Sikap kita setiap hari penting: bagaimana kita berinteraksi dengan alam sekitar. Adalah naif bicara soal Danau Toba tapi kita menjadi budak konsumerisme. Sistem perekonomian global memaksa kita dengan cara-cara yang halus menjadi hamba konsumerisme; membeli dan membeli terus termasuk hal-hal yang tanpanya kita tidak akan apa-apa. Konsumerisme adalah sebuah pertanda keterpisahan manusia dari alam sekaligus dari sesama dan Tuhan di mana manusia mencari semacam penyatuan dengan barang-barang yang mereka anggap menarik untuk mereka pakai atau makan.

Generasi (muda) sekarang terutama yang peduli pada lingkungan seperti Save Lake Toba Community (SLTC) juga perlu membangun landasan yang jelas bagaimana tidak hanya berpikir tetapi juga bagaimana bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari yang pro lingkungan hidup, tak peduli apakah dia di Jakarta, New York, atau Samosir. Gereja-gereja akan cenderung lambat dalam bersikap tegas pada tindakan pro lingkungan. Ada secercah harapan di dalam diri para generasi muda sekarang ini. Semoga langgeng! Plus, jangan lupa, Danau Toba ada di Sumetera Utara, belum berpindah ke tempat lain.***

Tautan :
Kearifan Budaya Batak Mengelola Lingkungan
Quo Vadis Danau Toba
Natal Di Taman Eden
APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DANAU TOBA ?
BEDA TASIK KENYIR DENGAN DANAU TOBA
Dermaga Selam
SELAMATKAN DANAU TOBA
APA ADA KANDUNGAN BERBAHAYA DI DANAU TOBA?
Apa Mungkin Danau Toba Menjadi Rawa Raksasa ?
Earth Society Tour Danau Toba
Kaos Viky Kering Seketika
Kutemui Batak Keren Di Samosir
oh tao toba na uli
REFLEKSI, LIMA TAHUN KABUPATEN SAMOSIR

15 pemikiran pada “Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan

  1. @ Limantina Sihaloho

    Ok. Ibu Limatina, kita tidak dapat memandang permasalahan sesederhana itu dan hanya mencari satu kambing hitam jaitu agama. Saya tidak setuju bahwa segala permasalahan dapat dipecahkan secara sederhana. Ibarat kata kalau ingin melihat bumi dengan jelas kita harus pergi dan melihat dari Bulan atau planet2 lain, selama kita di bumi kita tidak dapat melihat bumi dengan jelas.
    Ibaratnya seperti para WAROK (Ahli2 Ilmu kebatinan di P. Jawa. Dia tidak mau naik mobil karena dengan begitu ilmunya akan hilang, jadi harus tetap jalan kaki (ibarat tidak mencemarkan diri dengan teknologi).
    Kita semua telah ikut tercemar oleh teknologi itu sendiri. Seperti saya telah katakan dahulu mengenai Ompu Nomensen itu. Ia sekarang sudah berlalu dan sejarah mengenai dirinya bisa saja diubah2 menurut yang berkepentingan, bisa untuk tujuan memuji ataupun menjatuhkan maupun utuk kepentingan sendiri. Saya tidak berhak menilai dalam hali tersebut.
    Masalahnya kekristenan masuk bukan ke Indonesia saja melainkan juga ke bagian lain dari Dunia ini termasuk Jepang sebagai contoh, tapi disana efek masuknya kekristenan berbeda dengan kita di Negri batak, karena mereka mempunyai Jati Diri yang berbeda dari kita secara umum..

    Seperti Ibu Limatina ketahui sendiri, penganut agama sendiri masih meraba2 hingga timbul berbagai aliran dalam agama itu sendiri, dari aliran toleransi hingga aliran extreme. Ini terjadi juga di agama lain seperti contohnya agama Islam , Budha, Hindu dsb.
    Roda teknologi berjalan terus, harus diakui bahwa Dunia saat ini bukan dikuasai oleh masing2 negara, tetapi suatu kekuatan super natural yaitu suatu system (yang sudah jelas bersifat satanic) yang bersedia memusnakan semua pihak yang berlawanan ideology demi eksistensi dirinya sendiri. Dengan demikian pihak2 lain menjadi kerbau dicocok hidung oleh system tersebut, termasuk kita semua demi kelangsungan hidup kita sendiri,

    sebagai contohnya WAROK2 para ahli ilmu di Jawa itu musnah sendiri karena tidak mau dicocok hidung.

    Yang penting diketahui apakah kita masih menjejak di tanah ini atau di atas perahu yang hanyut menuju gelombang deras dimuara sambil menunggu kehacuran bumi itu sendiri (teknologi menyebabkan dampak negartif seperti pollusi dll. Orang2 kaya di Australia berlomba2 tinggal di OUTBACK untuk menghindari pollusi tetapi sial tertimpa kebakaran hutan.
    Kristus dapat menghentikan angin topan dan ombak, tentunya dapat memperbaiki kerusakan akibat olah manusia. seperti nubuat di alkitab, akan timbul Dunia baru dan langit yang baru, dimana tidak ada lagi kematian dan isak tangis. Segala sesuatu yang lama telah berlalu (Wahyu 21: 3-5). Kemah Allah akan diam bersama2 dengan mereka.

  2. Back tu nature….back to nature
    kata orang2 yg mengaku diri penyelamat lingkungan…
    tapi percayalah, bahwa orang yg hidup sekarang ini adalah hasil seleksi alam yaitu yg beradaptasi dengan alam.
    Sebagai contoh, orang yg hidup saat masuknya Padi PB ke petani2 diseantoro Indonesia (sekitar thn 1966), secara perlahan tapi pasti orang2 tsb telah terkontaminasi dengan zat2 kimia.
    Zat2 kimia tsb masuk melalui nasi+sayuran+ikan yg dimakan yg dihasilkan dari tanaman dan peliharaan yg menggunakan pupuk seperti Urea dan juga racun pembunuh hama dan pelet.
    Kalau manusia yg tinggal di kota telah terkontaminasi dg zat kimia disamping makanan pokok seperti nasi, sayuran dan Ikan yg dibudidayakan, melalui makanan ringan seperti baso, tahu yg menggunakan formalin (makanya baso kalau jatuh melenting),
    Saya tidak anti back to nature, roda hidup sdh terlanjur dg makanan yg terkontaminasi, so what gitu loh.
    Manusia sekarang bisa survive, juga tdk terlepas dari kontribusi polusi yg dihirup setiap hari…
    Mohon maaf apabila tdk berkenan

  3. Ada 8 catatan saya atas tulisan yang amat kritis ini:

    1. Selama ini gereja memang terkesan tidak begitu memerhatikan isu lingkungan hidup, tetapi sepanjang pengamatan saya yang rutin berkebaktian di sebuah HKBP di Jakarta, pendeta-pendeta yang berkhotbah sering menyisipkan persoalan kehancuran lingkungan dan imbauan agar jemaat peduli dan menanamkan tanggungjawab sosial—termasuk kebersihan, penghargaan pada alam, dll—pada diri jemaat dan anggota keluarga.

    2. Rasanya kurang “fair” pula menuntut tanggungjawab atau menyalahkan gereja (dalam hal ini HKBP) atas kemerosotan atau kehancuran lingkungan hidup di wilayah Tano Batak (apalagi Sumatera), sementara kita tahu persis tugas dan fungsi utama gereja adalah untuk menumbuhkan, merawat, dan mengembangkan aspek kerohanian jemaat berdasarkan iman dan teologi Kristen Protestan. Ideal atau ekspektasinya, implikasi dari atau atas keberimanan dan kepatuhan pada dogma Kristen itu akan membuat jemaat (individu atau kolektif) mencintai kehidupan, khususnya manusia dan alam sekitar. Bila realitasnya ternyata tak demikian, tentulah tak semata-mata karena kegagalan gereja. Begitu banyak faktor atau variable yg turut membentuk pandangan, sikap, dan nilai-nilai anutan individu atau komunitas.

    3. Saya pun berharap agar para petinggi gereja (HKBP) memberi perhatian yg intens dan berkelanjutan pd isu lingkungan, sebagaimana isu atau masalah lain yg tengah mengerubuti masyarakat (jemaat), seperti dekadensi moral, serbuan narkoba, fenomena seks bebas, dsb. Tapi tolong juga kita sadari bahwa ada “concern” atau persoalan besar yg dihadapi gereja, terutama di luar Tano Batak, yakni susahnya mendapat izin utk mendirikan bangunan gereja dan bahkan bangunan yang sudah berdiri dan digunakan utk beribadah pun masih banyak yg ditutup paksa, disegel, atau dirubuhkan warga yg tak berkenan atas kehadiran gereja. Artinya, tanpa menafikan pentingnya isu-isu lain seperti kian rusaknya ekosistem bumi itu, ada persoalan besar yg dihadapi gereja—sementara penyelenggara negara tak bisa diharapkan utk membantu, walau konstitusi memberi hak yang sama bagi setiap warga untuk menjalankan agama-kepercayaannya.

    4. Di tengah susahnya mengukuhkan eksistensi atau posisi gereja sebagai institusi keagamaan yang sah dan konstitusional, tentulah riskan bila gereja mengambil posisi yang vokal dan kritis menyikapi persoalan semisal deforestasi, ilegal logging, atau merambahnya agrobisnis (sawit, teh, kopi, cokelat, karet) dan rayon-pulp yg mengorbankan hutan-hutan alam yang heterogen itu. Artinya, utk menggapai sebuah hak yg paling fundamental pun gereja masih kesulitan, konon pula merecoki konversi hutan di bumi Sumatera menjadi perkebunan, yg nota bene bukan lagi di wilayah yg menjadi dominasinya itu. Bukankah tindakan tsb akan ditanggapi sbg perbuatan membangunkan macan tidur atawa mengundang bencana? Tak susah membayangkankan seperti apa reaksi dan tindakan pemerintah, politisi, ormas, dan pengusaha di daerah Riau, Sumbar, Sumsel, bila gereja mencoba vokal menyoroti pembabatan hutan utk digantikan perkebunan–yg asumsinya sdh mendapat izin dari pemerintah setempat. Sedangkan tak bertindak “neko-neko” saja dan cuma beribadah saja, Pemda Bogor dan Depok masih bisa menutup gereja!

    5. Tentang merosotnya kearifan lokal yg berkorelasi dng merosotnya sopan-santun—yg sebenarnya tdk hanya terjadi di wilayah Tano Batak itu—saya kira bukan karena keberhasilan para aktivis gereja melakukan demitosisasi, dng contoh: kencing di sembarang tempat itu. Saya melihat persoalan ketidaksopanan, ketidakpatuhan pada norma-norma sosial dan hukum, atau sikap intoleransi sebagian besar masyarakat atas perbedaan, akibat kegagalan pemerintah Orba mendidik dan membentuk karakter bangsa. Selama 32 thn Rezim Soeharto berkuasa, selama itu pula dibentuk karakter bangsa yg dasarnya heterogen itu menjadi bangsa yg kacau mentalitas dan karakternya. Rezim tsb telah sukses menanamkan sikap hipokrisi, keinginan korupsi, pemujaan materi dan kuasa, dan budaya konsumerisme pd masyarakat—selain pembunuhan demokrasi dan pengebirian intelektualitas manusia. Rezim tsb pula yg menanamkan akar egoisme dan ketidakpedulian pada persoalan-persoalan sosial dan lingkungan, termasuk intoleransi atas perbedaan.

    6. Bilapun Misi Zending yg dimotori IL Nommensen dituduh tlh berperan besar memudarkan kearifan lokal Batak yg dampaknya memunculkan sikap masyarakat yg kurang menghargai alam (pohon, air), taklah ada catatan sejarah bahwa untuk proses kristenisasi tsb telah menempuh segala cara hingga terjadi tindakan-tindakan sistematis yg mengarah ke penghancuran secara total peradaban sebuah suku, apalagi tindakan dehumaniasi. Karenanya, keenganan atau ketidakpedulian masyarakat di Tano Batak pada lingkungan, lebih disebabkan kesalahan penyelenggara negara yg haus kuasa dan korup, dan satu contoh yg masih aktual: pemberian izin pada sebuah pabrik pulp dan rayon (kini tinggal pulp) di Porsea yg nyata-nyata telah menyebabkan bencana lingkungan itu. (Harap dicatat, perlawanan terhadap pabrik pelahap kayu itu, juga dimotori oleh beberapa pendeta HKBP, walau mereka tdk bertindak atas nama lembaga gereja).

    7. Jangankan menyoal kerusakan lingkungan, karena ketidakpatuhan seorang mantan Ephorus HKBP pd Rezim Orba saja telah dilakukan tindakan yg mengobrak-abrik HKBP dng memantik api konflik internal hingga terjadinya sebuah tragedi berkepanjangan yg hingga kini blm seluruhnya pulih itu, bagaimana pula sikap pemerintah (termasuk Pemerintahan SBY) bila HKBP secara terang-terangan bersikap keras atas isu-isu lingkungan.

    8. Sebagai salah satu penggagas gerakan-gerakan cinta dan bangga identitas suku (Habatahon) dan peduli lingkungan hidup Tano Batak (tdk hanya Danau Toba) yg sudah tiga tahun ini saya tekuni bersama teman-teman yg mendukung (dengan memanfaatkan teknologi internet), belum seberapa memang yg tlh saya lakukan, kecuali “kampanye” kesadaran menjadi Batak dan kepedulian pd Tano Batak, termasuk kesediaan bicara dng mulut berbusa-busa, mengeluarkan bensin, mengorbankan waktu, di kalangan kaum muda Batak di Jakarta dan atas undangan beberapa komunitas budaya yg “bersifat nasional” dlm dua thn terakhir ini. Dan, sebagai ketua Dewan Etik SLTC (Save Lake Toba Community), di setiap pertemuan dng teman-teman pengurus selalu saya tekankan: jangan pernah berkhayal bisa menyelamatkan Danau Toba dng tindakan atau program raksasa, jangan pernah bermimpi akan menghasilkan dampak yg amat besar, dan jangan pernah membayangkan akan mengubah keadaan yg sdh puluhan tahun terjadi di sana. Bagi saya, dengan ketertarikan mereka membicarakan dan ikut prihatin atas kondisi Danau Toba saja sdh penting
    dan menggembirakan–sebab seharusnya yg paling pertama dituntut utk melakukan tindakan semacam itu adalah para pejabat dan pegawai Pemda-pemda di sana yg sudah digaji negara setiap bulan selama puluhan tahun pula! Teman-teman di SLTC, Tobalover, dan komunitas apapun yg kemudian muncul utk memperlihatkan kepedulian pd Danau Toba, akan saya dukung dan hormati. Bilapun hasilnya tak maksimal atau mungkin saja umurnya cuma seumur jagung, setidaknya tlh mereka perlihatkan secara voluntir tanda cinta yg tulus berupa semangat, keinginan, waktu, tenaga, dan uang mereka utk kepedulian itu!

    Terakhir, dalam pertemuan-pertemuan di Coffeebean hingga di kedai-kedai kopi di tepi jalan hingga pagi dini dng teman-teman SLTC dan Tobalover, kami semua tetap sadar kok bahwa Danau Toba tetap di Sumatera Utara, dan takkan mungkin pindah ke Sulawesi atau California, misalnya😦

    Terimakasih utk saran dan masukannya yg amat berharga.

  4. judul dari tulisan namboru ini adalah sikap orang batak terhadap lingkungan????
    tp yang paling banyak di pandang dari segi keyakian tulisan ini seharusnya harus lebih di perdalam biar kena ke judulnya? jangan lupa namboru orang batak itu bukan jg kristen protestan dan katolik. tp ada jg islam dan parmalim dll.
    menurut saya klu gereja pasti tidak pernah setuju dengan kerusakan lingkungan, pernah saya dengar cerita di kampung saya bahwa Ephorus HKBP (Oppu SAE N)adalah salah 1 orang Pertama yang menolak di bukanya PT Pulp Indorayon.
    Dan sikap orang batak katanya selalu berobah ya benar sikap yang berobah itu datangnya dari pengaruh batak yang telah mendapatkan pendidikan tinggi di kota, krena merekalah yang paling banyak mendukung beroperasinya tetap indorayon… tanpa mereka pikirkan perasaan orang2 yang tinggal di kampung yang pengasilannya dari bertani, beternak.
    Lingkungan menjadi opjek politik saat ini sama seperti saat ini setelah selesai pemilu adakah dari antara orang partai itu yang peduli tentang lingkungan.
    dan ada saya dengar cerita kebenarannya hanya Tuhan lah yang tau: bahwa sebagian dari partai politik itu di biayai oleh perusahaan yang ada di daerah Tobasa??????……………..
    aku masih ingat betapa kuatnya semangat orang tua di kampung untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan Khususnya Tanah batak, dengan cara menolak PT TPL. karena itulah salah satu penghancur lingkungan di TOBA?
    Dan jangan salahkan Agama kristen yang masuk ke tanah batak? tp kita harus bersyukur karena kita menjadi tau tentang Tuhan…. memeng ada satu 2 pohon yang di tumbang yang dipakai nenek kita dulu untuk memuja yang dia yakini? apakah karena pohon yang satu dua itu di tebang jadi rusak lingkungan???

    aku nggak tau penulis pernah nggak bersama2 memperjuangkan dan menolak indorayon yang salah perusak di lingkungan Toba?

  5. Tu Ito Parningotan, Pontas, Suhunan dan Goklas, mauliate (terimakasih) banyak untuk masukan dan kritik yang mempertajam tulisan saya.

    Pak Monang, saya kira menarik juga kalau ke depan, komentar-komentar yang panjang justru bisa menjadi tulisan tersendiri untuk menanggapi tulisan berikutnya, jadi tidak hanya di badan komentar. Dengan begitu, dinamika dan proses pergulatan pemikiran menjadi lebih “berbadan”. Ini saya sebutkan untuk lebih memberi “tempat” pada pemikiran-pemikiran bagus yang secara spontan muncul sebagai tanggapan. Ini hanya usuls…

    Saya ingin menanggapi komentar para Ito sekalian dengan lebih intens, jadi izinkanlah saya mengambil waktu lebih banyak daripada sekarang harus saya deretkan ya; sehingga sedapat mungkin saya bisa memberi tanggapan yang lebih baik.

    Sampai jumpa di sini segera.

    Limantina

  6. @ Kadang ito komentar yg panjang saya postin jadi badan tulisan, tanpa pemberitahuan bila tdk ada perubahan dan dgn pemberitahuan bila ada sisipan pembuka dan penutup serta kata2 yang harus dirubah atau dipotong. Tapi komentar ini tetaplah disini mengalir dgn komentar lainnya, apalagi dgn adanya rencana ito menulis jawaban untuk mempertegas tulisan ito. Selamat bekerja.

  7. Saya kira apa yang dikemukakan lae Suhunan Situmorang sangat benar. Point (5), adalah salah satu hal yang sangat besar pengaruhnya. Pada jaman Orba, tidak ada yang bisa dan berani memberikan pendapat berbeda dengan penguasa.

    Pejabat Pemda, hanya jadi kambing congek penguasa Orba. Implikasi dari kekuasaan Orba itu selama 32 tahun, sekali lagi 32 tahun (lebih dari satu generasi) telah mengaburkan kearifan lokal, mengaburkan nilai-nilai kemanusiaan.

    Sekarang, ketika semua aspek kehidupan terlihat keropos, kita mencoba mencari akar permasalahannya. Masalahnya “mindset’ masyarakat kita banyak yang sudah disetir oleh pakem Orba itu.

    Kalau lingkungan Tapanuli rusak, jangan melihat itu disebabkan semata oleh masyarakat Batak. Konteks nasional juga demikian, Lihatlah Kalimantan, khususnya Dayak, yang lingkungannya hancur jauh lebih parah dari Tapanuli.

    Sekarang, semua jadi serba kacau, ibarat benang kusut yang harus diurai satu persatu. Mari sama-sama kita urai, supaya jangan lagi kita mengulang kekeliruan Orba, yang akhirnya dikutuk anak cucu.

  8. bagus kali tulisan mu tante(mama sy boru Tambunan) tp sgt lah tepat bila kerusakan lingkungan itu bukan di letakkan dp orang batak apalagi mengambing hitamkan agama.so sanga muruk tuho TUHAN!

    sebaiknya dari judul tulisan tsb,kontribusi apa yg bisa kt berikan selaku kita orang batak yany nenek moyang dan komunitas kita sebagian besar disekitar “DANAU TOBA”
    MAQRI KITA BANGUN PARADIGMA YG POSITIF DEMI KEMAJUAN ,GBU

  9. Sungguh sebuah tulisan pendek yang ‘mengena’ mengaitkan manusia Batak-kearifan lokal-lingkungan-gereja. Scope bahasan yang terfokus kepada Tanah Batak Toba (khususnya Taput + ex-Taput) yang mayoritas penganut Kristus memang pas dikemas untuk issu lingkungan.

    Bukan hanya terkesan tetapi memang kenyataan bahwa gereja tidak berdaya membawakan manusia Batak menjadi sadar lingkungan. Lebih seribuan gereja berdiri di Tanah Batak Toba tentu seharusnya menjadi sebuah institusi sangat besar yang mampu merasuki umatnya untuk ‘sadar lingkungan’. Kenyataannya gereja hanya menceritakan surga yang tidak punya parameter. Semisal kehidupan saya sebagai ‘ikan asin’ yang kemudian diceritakan tentang surga ‘rendang padang’ maka pemahaman saya tentang enaknya surga mungkin hanya sedikit di atas ‘ikan asin’ atau maksimalnya ‘rendang padang saja’, sementara surga yang diketahui oleh orang lain sudah menyentuh ‘tenderloin’ atau ‘sup sirip hiu’ atau ‘kaviar’ dan bahkan lebih jauh lagi. Demikianlah menurut saya pemahaman manusia Batak Toba tentang lingkungan, kira-kira sepadan dengan yang ditulis oleh Limantina Sihaloho di atas.

    Jadi, gereja (Kristen Toba) harus rela menjadi tertuduh mengenai apasaja yang menyangkut tatanan kehidupan manusia Batak di Tanah Batak Toba, karena gereja (Kristen Toba) sudah menjadi genotip kehidupannya selama 140 tahun ini, yang boleh dikatakan seharusnya lebih powerful daripada otoritas pemerintahan. Kenyataan lain bahwa gereja tidak mampu menunjukkan diri sebagai contoh saluran berkat bagi ekonomi keluarga umatnya, gereja tidak mampu mencontohkan bahasa santun yang menjadikan anutan komunikasi massanya, gereja tidak mampu membuat pemahaman bahwa bersih itu sehat-indah-iman.

  10. @B.Parningotan
    memang seperti kata para ahli jika kita ingin melihat permukaan bumi kita harus pergi ke bulan, akan tetapi jangan batasi imajinasi anda untuk dapat membuat sesuatu yang berguna bagi orang lain. dengan kita memberikan sebuah pemikiran yang akan dibaca orang lain, tujuannya adalah agar orang lain dapat mengetahui dan melakukannya. dengan hal seperti itu saja sudah merupakan sesuatu yang sangat baik sekali membuat orang lain mengerti serta memahami walau hanya sebatas teori yang akan berangkat menjadi tindak lanjut.

  11. KOMENTAR KONVERGENSI:

    1.Acc Lamentina
    1.1.IL Nommensen pun tidak mendalami pemahaman Muljdinabolon Batak
    1.2.Walau telah diInsentip oleh Neubroner van der Tuuk
    1.3.Ia hanya lihat Konsep IT Ilmiahteknologi Sekular Belanda utk disrakral
    1.4.Ligatan kapItalisliberal nekolim Belanda demi kebutuhan Tanah Leluhur
    1.4.1.Harus gunakan maksimalisasi opportuniti metode teknik
    1.4.2.Disini IL Nommensen hanya sanggup jadi filter
    1.4.3.ILN memang cintakasihsuci Tuhan pd Batak
    1.4.4.Saya himbau ketaksanggupan IL Nommensen
    1.4.5.Generasipenerus teruskan (kita)

    2. Namun risersi saya sampai terahir Para Doktor Teologia Batak
    2.1.Ikuti konfessi /konvensi Teologfia di Baratkan itu
    2.1.Sedang kesanggupan tumbuhTeologi Batak Mulajadinabolon
    2.2.Tuhan Debata Jahowa Legitimasi Batak Abad 19 (1861/2)
    2.3.Tak ketulungan.

    3.Terahir saya lihat Peran Independen Pengetahuan Globalis
    3.1.Perlu membantu Batak lakukan konvergensi Legitimasi
    3.2.Bukku Lakkat Mulajadinabolon dan Bibel Barat / Quran Timteng.
    3.3.Seminar kami di Reha Pasien Jesteburg Jly 2009 memahami
    3.4.kebodohan masih pada waktu lalu.

    4.Aliran Baru cq Lamentina, walau timbul terlambat mungkin .
    4.1.Namun segera perlu dicanangkan pelaksanaannya (Konvergensi).

    5. Mohon Reorientasi rekonsdiderasi rekonfirmasi rekonvergensi jabarkan

    6.NDH, Turut Pencerah Generasipenerus !

  12. ito limantina sihaloho, saya tidak mengerti ito itu pintar atau terlalu pintar, saya rasa ada yang kurang pas atau kurang pantas dalam tulisan ito (berlebihan) kalau Gereja tidak pedui terhadap lingkungan bagaimana dengan PT. Indorayon yang diporsea , ito orang Kristen atau bukan, didalam ajaran KRISTEN tidak pernah diajarkan untuk tidak peduli terhadap lingkungan, APA YANG SUDAH ANDA PERBUAT TERHADAP LINGKUNGAN BATAK (TANO BATAK), Perbuatlah apa yang bisa kau perbuat untuk lingkungan dan masyarakat batak tanpa menyalahkan siapapun atau mengkambing hitamkan siapapun, maka kau akan berharga di mata masyarakat

    PADA UMUMNYA ORANG HANYA TAU MENYALAHKAN ORANG LAIN PADAHAL YANG DIA PERBUAT SEDIKIT PUN TIDAK ADA (nol BESAR) UNTUK MEMPERBAIKI KESALAHAN ITU (PINTAR KOMENTAR DOANG)

  13. menurut saya kerusakan lingkungan di tano batak itu dalah bukti sedikitnya perhatian orang batak untuk mencintai tanah leluhurnya sendiri. ini sejalan semakin terkikisnya rasa kecintaan terhadap kesukuannya sebagai orang batak boro2 menjaga lingkungan di tanah batak ngaku jadi orang batak aja sudah malu. marga2nya di hilangkan untuk menyembunyikan identitas kesukuannya. orang kalau sudah di perantauan tidak akan pernah ingat akan Tanah Batak kecuali kalau sudah berusia lanjut kenapa? karena kalau meninggal takut di kubur apalgi di jakarta yang suatu ketika terjadi penggusuran kuburan. maka nanti beberapa puluh tahun kedepan Tanah Batak akan berubah Menjadi Pemakaman Terbesar dan Terluas Di dunia. dan ini adalah fakta bisa anda lakukan riset kalau perlu. saya sebagai generasi muda batak tidak terlalu bangga dengan sikap sebagian orang batak yang kaya di perantauan yang membangun tugu besar2 tapi tidak peduli dengan kelestarian Tanah leluhurnya. bangun tugu besar karena dia thu kalau dia meninggal maunya di kubur di sana juga. jangan salah kita jangan terlena jangan sampai kita merupakan korban sebuah konspirasi penghancuran sebuah etnis melihat bahwa bangsa batak merupakan salah satu suku yang dinamis di asia tenggara khususnya Indonesia sehingga ada usaha dari sekelompok orang untuk menghancurkan eksistensi orang batak itu sendiri. ini hanya hipotesa dari saya semoga kita bisa antisipasi sebelum ini bnar2 terjadi. Horas Tano Batak Cintailah Tanah Batak seperti dirimu sendiri. saya mau mengutip bahasa orang terdahulu ARGA DO BONA NI PINASA DI ANGKA NA BISUK MARROHA.. Lanjutkan ….. Horas Tano Batak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s