Batak dilawankan dengan Batak

Limantina Sihaloho

Selang dua hari setelah saya kembali ke Pematang Siantar dari melihat pohon kemenyan, dua orang staf humas PT TPL datang. Keduanya berlatar belakang pendidikan keagamaan yang dianut oleh suku-suku bangsa Batak dan keduanya Batak pula. Mereka mau menjumpai ephorus kami. Mereka malah terlebih dahulu jumpa dengan saya.

Sudah senja saat saya memperhatikan ada mobil berhenti di depan rumah. Saya keluar dan bertanya mereka cari siapa. Ternyata mereka dari PT TPL mau jumpa ephorus. Mereka tidak jadi jumpa ephorus senja itu karena sudah gelap; saya bilang, sebaiknya mereka datang pada jam kantor saja. Aneh, mengapa mencari pimpinan pusat gereja dalam waktu yang sudah gelap-gelap. Apa pimpinan mereka di PT TPL juga bisa dijumpai begitu saja tanpa pemberitahuan kalau hari sudah senja dan mulai gelap-gelap?

Mereka menjelaskan bahwa PT TPL benar dengan apa yang dilakukan oleh mereka termasuk di Tombak Haminjon penduduk desa Sipituhuta dan Pandumaan di Kec. Pollung itu. PT TPL memegang izin untuk beroperasi di tanah adat itu yang berasal dari pemerintah. Itulah senjata pamungkas mereka. Sedapat mungkin saya berusaha menekan perasaan saya mendengarkan penjelasan mereka. Bagi mereka, PT TPL itu benar karena tunduk pada izin yang diberikan oleh pemerintah. Pemerintah itu pelindung warga negara dan aset-aset yang menjadi kepentingan (warga) negara, begitu kata mereka.

Dalam profile PT TPL yang sudah dipersiapkan oleh mereka, pada bagian yang berkaitan dengan status PT itu, ada yang mereka sebut sebagai objek vital nasional. Itulah: Kepres No 63 tahun 2004, Permen Perindustrian RI No. 03/M-IND/PER/4/2005 tanggal 19 April 2005 dan Surat Keputusan Kapolri Nopol. Skep/738/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005. PT TPL di atas angin? Presiden, menteri dan kapolri berada bersama mereka.

Sebagian yang bekerja di PT TPL adalah orang-orang Batak yang secara formal wajib membela kepentingan PT TPL.

Pada saat kami tiba di Tombak Haminjon itu beberapa alat berat PT TPL sedang beroperasi di sana. Ada kayu-kayu yang barusan ditumbangkan, terlihat dari warna daunnya yang masih hijau. Penebang kayu itu pastilah melarikan diri melihat ratusan laki-laki kedua desa datang ke Tombak Haminjon milik mereka. Kebanyakan yang mengoperasikan alat-alat berat itu adalah juga orang Batak. Mereka adalah orang-orang biasa, yang tentu saja gemetar melihat iringan-iringan penduduk desa. Sekuriti dan brimob yang datang ke Tombak juga orang-orang Batak. Bupati dan kapolres Humbahas serta jajaran mereka juga orang-orang Batak. Apa yang mereka sebut objek vital nasional, berkas-berkas berupa kertas-kertas itu telah membuat orang-orang Batak harus berhadapan (berlawanan) dengan sesama mereka yang juga Batak.

Enak betul jadi presiden, menteri atau kapolri. Bisa memberikan surat keputusan untuk sebuah perusahaan seperti PT TPL untuk merambah termasuk sumber utama perekonomian masyarakat yang telah menjadi salah satu identitas historis selama ribuan tahun dalam bidang perekonomian dari Tanah Batak. TPL berusaha untuk menjinakkan masyarakat petani haminjon dengan berbagai cara termasuk dengan mengatakan bahwa mereka akan membangun kemitraan dan mendidik para petani haminjon bagaimana bertani haminjon. Keterlaluan! Petani haminjon itu yang tahu bagaimana bertani haminjon sebab mereka sudah melakukannya dari generasi ke generasi. Itu tidak sama dengan menanam eukaliptus PT TPL yang mengisap air dan unsur hara secara rakus dari tanah.

Dalam diri pemilik modal dan sebagian, maaf, para perantau Batak, yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana memodernisasi penduduk desa sesuai dengan cetak-biru yang telah mereka persiapkan tanpa peduli bagaimana perasaan dan pendapat warga desa. Ini tidak hanya berlangsung di Tanah Batak tetapi juga di wilayah Indonesia lainnya. TPL merasa hebat bisa membangun jalan di tengah hutan. Tujuan utama mereka adalah untuk lebih mudah mengangkut kayu dan nanti eukaliptus. Seperti kata salah satu humas yang bicara dengan saya: “Warga bisa menjangkau ladang kemenyan mereka jauh lebih cepat daripada sebelumnya melalui jalan yang kami buat”. Inilah konsep yang semata melihat nilai material dari sebuah konteks. Salah seorang warga mengatakan pada saya: “Kami, walaupun sudah tua tidak ada yang kena asam urat. Kami biasa berjalan ke tombak kami. Di sana kan banyak akar-akar pohon. Ketika berjalan itu, kami menginjak berbagai macam akar pohon dan menjadikan kaki kami kuat.”

Negara kongkalikong dengan pemilik modal seperti TPL menggiring masyarakat untuk bermental instan atas nama pembangunan. Orang kota dengan segala fasilitas infrastuktur yang ada justru menderita asam urat, kolesterol jahat, dan jenis penyakit lainnya yang khas perkotaan karena terlalu dimanjakan oleh berbagai macam fasilitas itu. Lama-lama mental masyarakatnya juga rusak. Anak-anak tumbuh tanpa latihan fisik dan alergi pada berbagai bentuk kesulitan karena sudah biasa hidup instan. Kita musti jeli menghitung berapa harga yang musti kita bayar untuk semua keteledoran ini.

Saya bertanya pada kedua staf humas PT TPL itu: “Apakah menurut Ito warga gereja akan mendengarkan pimpinan mereka dalam kasus ini?” Salah satu di antara mereka menjawab: “Kalau bukan pimpinan gereja, siapa lagi yang akan didengarkan?” Saya bilang: “Dengar ya Ito! Kalau para pemimpin gereja itu berpihak pada masyarakat, mereka akan didengarkan oleh masyarakat. Kalau para pemimpin gereja itu berpihak pada apa yang adil dan benar, secara otomatis masyarakat juga akan dengar dan ikut mereka. Kalau sebaliknya, maka yang terjadi juga adalah sebaliknya: masyarakat akan meninggalkan mereka!”

Karakter Manusia Batak yang semakin lemah

Dalam pandangan Anthony Giddens, negara (nation-state) kini telah menjadi power-container yang merasa sah sebagai pelaku tunggal kekerasan (violence) untuk melibas apa saja yang menghalangi jalannya. Negara bekerja sama dengan pemilik modal, kekuatan militer untuk menjalankan perannya sebagai the power-container itu. Laksana robot yang tak punya perasaan apalagi kebudayaan luhur, the power-container menjalankan perintah yang mengabdi pada kekuasaan semata, pada dirinya sendiri. Pemerintah atas nama negara dengan segala aparatnya mulai dari pusat sampai dusun/desa merupakan roda-roda dari power-container itu. Itulah sebab mengapa kertas-kertas berupa keputusan-keputusan itu bisa menihilkan fakta bahwa warga seperti di Pandumaan dan Sipituhuta seolah-olah dianggap tak ada.

Dulu, pemerintah kolonial dalam rangka memperkuat penjajahan mereka di Nusantara ini, menetapkan batas-batas wilayah yang sekarang dipopulerkan oleh pemerintah dengan sebutan register. Pada awal abad 20, Tombak Hamijon warga Pandumaan dan Sipituhuta yang dirambah PT TPL konon masuk dalam wilayah register tertentu. Nah, itulah yang konon pula diikuti oleh pemerintah republik ini.

Mengenaskan! Kok malah pemerintah di republik ini berlaku lebih kejam daripada penjajah? Kok tidak mau tahu dengan fakta bahwa sebelum penjajah datang, warga kedua desa di Pandumaan dan Sipituhuta sudah menjadikan wilayah itu sebagai Tombak Haminjon dan sumber perekonomian utama mereka? Lagipula, apa haknya penjajah itu untuk mematok-matok tanah air yang bukan milik nenek-moyangnya? Mereka kan sudah hengkang dari negeri ini, kok justru orang senegeri sendiri yang malah berlaku lebih kejam dari penjajah Belanda itu? Edan betul!

Apa artinya sebagian besar orang Batak ini sudah berpendidikan tinggi-tinggi? Terkenal sebagai praktisi dalam bidang hukum di negeri ini. Katanya berani bicara dan tidak kenal takut. Di mana semua hal ini? Apa kita ini masih punya solidaritas antara sesama kita? Kalau Tombak Haminjon yang merupakan sumber utama mata pencaharian warga di Tanah Batak sudah berubah menjadi ladang eukaliptus milik PT TPL, maka kemungkinan besar pelan tapi pasti, halaman rumah kita di Tanah Batak juga bisa diambil alih oleh PT TPL atau PT yang lain lewat persetujuan negara, termasuk air yang ada di Danau Toba bisa menjadi milik PT tertentu dan ini kan sudah berlangsung dengan kehadiran PT Aquafarm di sana.

Justru ternyata, orang-orang Batak di desa itu yang pendidikan formal mereka jauh lebih rendah dengan begitu banyak orang-orang Batak terutama yang tinggal di luar tanah Batak (perantau) lebih kuat solidaritas dan daya tahan mereka dalam hal bersolidaritas dan menanggung beban yang sedang mereka alami. Para perantau justru bisa terjebak sendiri dengan berpikir bahwa adalah baik kalau warga desa itu menuruti kehendak pemerintah untuk mendaftarkan nama, luas dan batas-batas wilayah Tombak Haminjon masing-masing di Tombak Haminjon yang merupakan tanah adat warga itu. Dengan cara seperti ini, maka akan jauh lebih mudah bagi negara untuk melakukan proses devide et impera terhadap penduduk desa itu. Ini yang kurang jeli ditangkap oleh orang-orang Batak di perantauan yang nampaknya sudah terlalu silau dengan kehadiran dan peran negara dalam mengendalikan kehidupan masyarakat. Yang ditekankan di sini adalah proses individualisasi di mana seseorang punya kebebasan untuk menjual tanahnya. Tanah adat adalah milik bersama, tidak ada individu yang bisa memperjualbelikan tanah adat. Kalaupun itu harus terjadi, maka harus ada kesepakatan dari semua yang menjadi pemilik sah suatu tanah adat.

Haminjon membuat Tanah Batak terkenal di dunia internasional karena memang haminjon tidak tumbuh di banyak tempat di dunia ini, hanya di beberapa tempat saja. Dari apa yang saya dengarkan dari salah satu warga di Sipituhuta, marhaminjon (bertani kemenyan) itu penuh dengan nilai-nilai luhur. Ada etika-etika komunal yang harus mereka taati dan itu adalah kekayaan kultural Batak. Kalau haminjon tidak ada, otomatis kekayaan kultural itu juga akan hilang.
Ada saya dengar belum lama ini: salah satu orang hebat di antara kita, seorang bapak, yang hendak membawa pulang (paling tidak fotokopi) dari harta karun kita yang dibuat oleh para pendahulu kita yang ada di luar negeri seperti Eropa. Baguslah itu bapak tetapi bagaimana dengan harta karun kita yang ada di depan hidung kita itu? Haminjon kita itu? Yang konon sudah sampai di Betlehem itu? Sesama kita di Pandumaan dan Sipituhuta itu, mereka yang berjuang mempertahankan Tombak Haminjon mereka, eh, malah mereka yang ditangkapi polisi dan ditahan. Hari ini, sudah 64 negeri ini merdeka tapi proses penjajahan terhadap masyarakat seperti warga Pandumaan dan Sipituhuta kok semakin menjadi-jadi? Kalau bergabung dengan Jakarta membuat kebanyakan warga di daerah menjadi lebih susah, mengapa harus terus mempertahankan persatuan yang hanya ilusif? Kalau tak ada lagi solidaritas, apa artinya kesatuan dengan Jakarta kecuali hanya ideologi ompong belaka. ***

Catt: Terimakasih untuk KSPPM (khususnya S.Simanjuntak); sebagian besar data-data kronologis saya peroleh darinya

Ditulis pada 17 Agustus 2009
Judul Asli Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini …! (Bagian II)

Tulisan-tulisan Limantina Sihaloho :

Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan
Apa kabar Protestan?
Untung Atau Buntung
Sejarah Pergerakan Perempuan Di Sumut
Gereja di Sumut Mau Kemana
– Adat dan Kepentingan Ekonomi ….
Gereja di Sumut mau ke mana?
Untung Atau Bungtung ?
Sejarah Pergerakan Kaum Perempuan Di Sumut
Catatan Buat Pengagum Nommensen

Iklan

19 thoughts on “Batak dilawankan dengan Batak

  1. Lamsito berkata:

    “Batak dilawankan dengan Batak”?????

    ””Jangan mau di adu domba kawan, bersatulah melawan mereka,,,, ingot tona ni da ompung…

    Horas…

  2. TIDAK MENGHERANKAN JIKA SESAMA BATAK DAPAT DIADU DOMBA, KARENA SEMUA BATAK ADALAH RAJA, TETAPI TIDAK ADA DAERAH KEKUASAAN.

    PT TPL SEBAIKNYA BERKOORDINASI DENGAN MASYARAKAT SETEMPAT BERSAMA PEMERINTAH- DAN BUAT BLUE PRINT DARI RENCANA PENGEMBANGAN DAN DIBICARAKAN BERSAMA-SAMA.

    TIDAK WAKTUNYA LAGI SESAMA KITA MENCIPTAKAN “HOTEL”

    LIHAT UNTUK PROTAP AJA PEMERINTAH ENGGAN UNTUK MENETAPKANNYA, KENAPA?????????????, KARENA KITA TIDAK PERNAH LUPA AKAN PREDIKAT SEBAGAI RAJA YANG SOMBONG, SOMBONG BOLEH KALAU ADA DAERAH KEKUASAAN – INI TIDAK

    HAI ORANG B-A-T-A-K BERTOBATLAH-BANGUNLAH NEGERIMU DENGAN ITIKAD BAIK DAN TIDAK MELULU MENIMBUN HARTA KEKAYAAN PRIBADI

    SUKSES UNTUK SEMUA – AMIN

  3. Ah….Aku belum pernah pegang duit 43M, Kau Uda Monang?? sudahkah??…..ai marrara mata dibaen hepengi ateh. Kalo nggak salah ini DUIT ASLI, dan bukan DUIT DAUN POHON HAMIJJON.

    43M, diberikan TPL ke PEMDA HUMHAS ( Bupati, kebagian nggak yah…..). 43M loh. 43.000.000.000 buset dah,….kalo beli possal dah berapa ratus gerobak itu.

    Maka pantaslah diam mulut penguasa di HUMBANG, dah di SUMPAL dengan UANG!!!…

  4. Bonar Siahaan berkata:

    Kita jangan menyalahkan masyarakat kecil, seharusnya yang pumya powerlah yang harus membela mereka……kita harus sadar bahwa yang menggiring PT Indorayon (TPL) membuka usaha di tanah batak adalah para intelektual Batak.
    Menurut hemat saya,tang dapat mencegah TPL melakukan kegiatan adalah Pemerintah Pusat,sebab mereka yang memeberi ijin.

  5. jeffar Lumban Gaol berkata:

    Situasi di tombak haminjon di Pollung, Pandumaan dan Sipituhuta mungkin yang kali ini adalah gejolak dari bawah. Sebab sesungguhnya persoalan ini sudah lama jadi perbincangan para tetua-tetua adat yang masih lurus dan tak mau menerima pago-pago dari TPL. Bahkan bupati humbang sudah berkali-kali berjanji akan menegakkan Kep menteri kehutanan N0 40 tahun 2004 yang menegaskan Hutan Haminjon itu berada dalam wilayah Reg 41, jadi sudah seharusnya kegiatan exploitasi TPL di wilayah tersebut dihentikan. Tapi memang dasar gombal Bupati itu, sampai detik ini tak pernah selesai pada selusi yang sudah sepatutnya di hormati, bahwa hutan haminjon itu adalah hak wilayat adat disana, oleh karena itu TPL harus tutup.

  6. B.Parningotan berkata:

    @LImatina Sihaloho

    Memang benar kata ito Limatina bahwa halak batak saat ini mempunyai adat yang lemah, terutama yang telah ada di perantauan, karena sebagian besar halak batak memang sekarang hidup di perantauan. Mereka rajin mangadati dengan berbagai ulos, mangalehon marga, tetapi yang diadati maupun yang mengadati tidak tidak tahu adat Batak. selalu kalau ada perkara dan hendak diselesaikan menurut adat mereka katakan ” ndang toho na nidok mi, ai ndang adong i di adat Batak” tetapi sebenarnya mereka sendiri yang tidak pernah memperdalam adat Batak. Dengan mangadati dan memberi marga kepada orang2 yang tak tahu adat mengakibatkan lebih banyak lagi orang yang ndang maradat.
    Saya punya saudara di surabaya yang menjadi sponsor dalam mangadati dan memberi marga untuk seorang kerabat sedang dia sendiri belum diadati.
    Kalau kita perhatikan bagai mana detail pembagian jambar dan ulos di adat Batak yang begitu rumit, apakah tidak juga demikian dalam hal lainnya?

    Saya ingat mengenai kebijaksanaan pemerintah Belanda sekitar th 1912 yang berusaha meniadakan adat Batak dengan cara memberikan jabatan demang2 disetiap distrik di tanah Batak.(baca buku PUSTAHA TUMBAGA HOLING na pinatomu ni Raja Patik Tampubolon nahinan). Masyarakat Batak baru kembali memakai adat mereka sekitar th 1940 …an barang kali sesudah Indonesia Merdeka. Belanda pula yang memasukkan orang2 India (termasuk Keling) diBarus sebanyak 5000 orang saat itu agar berbaur dengan masyarakat setempat agar lebih cepat tercapainya penghapusan adat Batak tersebut, dan saat itu bila ada pertikaian dalam rumpun bangsa Batak maka hanya hukum Belanda yang berlaku. Salah satu dari Demangnya adalah ayah Ompung saya sendiri, Demang Ilyas di Sibolga.

    KURSUS ADAT” memang sudah sangat diperlukan masa ini.

    Tetapi saya meragukan apakah dengan kembali pada Adat kita semula maka permasalahan ini dapat diatasi, karena saat ini zaman telah berubah, dimana walaupun penguasa2 silih berganti hal yang sama tetap terjadi, karena saat ini adalah saat dimana bukan negara atau individu pemimpin yang mengatur perkembangan dunia saat ini melainkan suatu system yang lebih tinggi yang bersifat Satanic. Dengan dalih kemajuan Bangsa, demi demokrasi, keamanan Dunia, mareka mengeruk untuk kepentingan mereka sendiri, meniadakan oposisi atau kaum lain demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Mereka sudah jadi setan2 uang dengan dalih politis. Tetapi kita tidak perlu pesimis. Allah sendiri yang akan mengadili dan menghancurkan iblis tersebut karena manusia tidak mempunyai kuasa dalam hal itu.

    Dengan dalih penanggulangan Pollusi, mereka membuat berbagai proyek yang ujungnya adalah uang. Dapatkah mereka menandingi siklus ekologi yang diciptakan Allah pencipta Bumi dan Langit. Sungai2 di hutan yang belum didiami Manusia memiliki air yang sangat bening bagaikan kristal, bandingkan dengan sungai Ciliwung ataupun katakanlah dengan Yarra River di Australia yang walaupun telah mengalami proses pengolahan tetap berwarna keruh.

    Pada saat Gunung Krakatau meletus segala mahluk dan tumbuh2an musnah dari Pulau Krakatau, tetapi oleh proses alam yang Allah ciptakan dalam beberapa tahun pulau tersebut telah berpenghuni kembali ditutupi oleh berbagai mahluk dan tumbuh2an, kembali seperti semula.

    Kalau dilihat sepintas sebagian besar manusia saat ini adalah pemeluk agama yang taat, tetapi sebenarnya sebenarnya mereka telah tercemar….., haus uang dan teknologi. Dengan segala dalih mereka saling berdalih , saling menuduh, siapa yang bertanggung jawab akan kerusakan lingkungan. Mereka saling mengadili, kemuliaan Allah diremehkan.

    Dapatkah Darwin dengan teori evolusinya menjelaskan proses penuaan dan proses kematian?, kalau Sel itu berkembang , mengapa dia menjadi tua dan mati?
    Jiwa manusia adalah milik Allah sendiri, Allah yang menghembuskan nafas Kehidupan dan Allah sendiri yang akan membangkitkan kembali setiap orang mati pada hari pengadilan. Hanya nama Allah pencipta Langit dan Bumi yang pantas dipermuliakan.

  7. tona harahap berkata:

    Aku tak punya banyak komentar lagi karena ulasan di atas sudah cukup untuk mengungkapkan segalanya. Satu hal yang pasti, aku sangat sedih dan ingin berbuat sesuatu untuk dapat menghentikan kezoliman negara,PT dan sesama orang batak terhadap orang batak di tanah leluhurnya.

    Hanya revolusi yang dapat menghentikan penghambaan uang dan sikap egois serta individualis ini. Inilah pangkal semuanya. Mari kita buat suatu gerakan bangso batak untuk penyadaran bahwa batak itu kuat hebat dan bersatu jadi tidak dapat diperdaya apalagi di “negerinya” sendiri.

  8. menyedihkan memang, orang batak yang katanya gagah perkasa tidak bisa berbuat apa-apa saat bonapasogitnya diacak-acak oleh orang-orang kaya itu, justru ironisnya barisan tempur garis depannya adalah orang-orang batak juga.

    dan bukan hanya ditanah batak, diriau pun kejadian ini berlaku juga, kawasan hutan lindung NILO (lintas garis katulistiwa sumatara) habis dibabat pt ara-ara forestrynya indah kiat milik sinar mas, dan banyak lagi perusahaan lain seperti rapp milik garuda mas. dikalimantan juga demikian.

    bicara soal pemerintah, andaikata juga setiap pribadi kita mau bicara jujur dengan hati nurani kita masing-masing. maukah kita berbuat baik untuk diri kita sendiri?, sebab yang selalu kita lihat adalah ketika jabatan/kedudukan hanya merupakan kursi setan aji mumpung, mumpung saya yang menjabat dan seolah tidak perlu di pertanggung jawabkan

    dari masa anak-anak, saya sudah sering mendengar seorang tua ingin anaknya menjadi pegawai pemerintahan dan berani membayar backingan dengan mahal dengan alasan “pns” uangnya banyak padahal sesungguhnya pns penghasilannya tidak terlalu banyak jika tidak korup.

    jadi dengan demikian terjadilah kursi tak bertuan aji mumpung, sebab sianak tadi harus kejar setoran membayar semua biaya yang dikeluarkan ketika ia masuk di jabatan itu. dan tidak berhenti hanya mengembalikan biaya tadi tetapi berlanjut dengan mengeruk keuntungan pribadi lebih dan lebih lagi dengan tidak berkepuasan

    jadi saya pun sepertinya tidak perlu heran jika toba pulp bisa mengantongi ijin-ijin itu, dan kampungku pun sekarang tidak ada pinus lagi hanya ada kaliptus-kaliptus milik petani binaan toba pulp atau milik toba pulp sendiri

  9. goklas sinurat berkata:

    trimakasih untuk tulisan ito ini? kalau batak dilawankan dengan batak uda biasa itu……
    tp yang paling kejam satu keluarga di adukan dengan keluarga yang mana keluarga ini masih kakak adik, kampung antar kampung, inilah yang terjadi sampai sekarang di porsea Khususnya di Sirait uruk, lumban huala (Kampung saya), Lbn gurning dll. Desa2 di porsea dulu bersatu untuk melawan TPL makanya sempat di tutup pada thn 1998. tetapi pada thn 1999 bergejolak lg tutup TPL dengan adanya Pemilu, dan disini lah ke jayaan PDI Perjuangan dengan di bawah Seorang namboru bagi mereka yang menganggapnya seorang ibu, tp apa yang terjdi justru namboru itulah yang pertama sekali membacakan di operasikannya lg PT TPL, dan disinilah puncak kemarahannya pada namboru mereka para politikus busuk batak Khususnya PDI P (NB: yang walau dulunya saya ikut mendukungnya),

    Tapi sampai sekarang permasalahannya belom selesai jg dan masih di bahas sampai pemilu 2004, tp kita lihat dulu bagai mn para politikus itu bertindak setelah selesai pemilu, apakah mereka tetap sama membela yang membayar biar modal pemilu kembali????
    Tapi menurut saya pribadi sangat susah menutup TPL untuk sekarang, karena saat ini sudah banyak Putra daerah yang kerja di TPL, walau mereka bekerja tidak lebih dari seorang yang sama dengan Budak, karena dengan alasan nggak ada Kayu mereka di PHK, ha..ha….syukurlah mereka di PHK biar mereka merasakan merekia tidak lebih dari seorang budak…..
    pertanyaan yang bisa di jawab waktu kedepan adalah:
    -mungkin kah suatu saat orang batak di sekitar TPL saling bermusuhan????
    -Mungkinkah para pendiri gereja akan lebih berpihak kepada masyarakat kecil dari pada pengusaha??
    – masih semangatkah masyarakat yang tinggal di kampung untuk mempertahankan kelestarian lingkungannya??
    selamat berjuang>>>>>

  10. B.Parningotan berkata:

    itulah masalahnya, kalau hamoraon, hagabeon dohot hasangapon menjadi motto. tetapi memang begitulah. Contohnya di kerabat kami napitupulu saja, mereka selalu memuja2 saudara mereka yang lebih mora dan gabe dari pada yang biasa2 saja, kalau yang mora itu mengundang pesta, mereka datang dari jauh dengan bangga karena ikut diundang, datang kalau perlu dengan pesawat dengan biaya sendiri padahal yang mamora manang gabe itu sendiri tidak pernah mengunjungi rumahnya,
    kalau yang mora managa gabe itu berkata2 selalu didengar, padahal umunya merekalah yang sok tahu dalam hal adat dan mangadati.
    kekompakan yang saya masih lihat di anatara halak hita hanya ada di terminal2 bus.diantara para calo dan kernek bis..

  11. adikara hutajulu berkata:

    PT.TPL tidak pernah memberikan keuntungan apapun bagi rakyat tapanuli selain kerusakan lingkungan dan menyebarkan banyak penyakit.sudah saatnya orang batak yang masih peduli akan bona pasogitnya angkat bicara,percuma banyak politikus,ahli hukum,akademisi dan tokoh2 besar tetapi tidak memiliki sedikitpun kepedulian terhadap bona pasogitnya.jgn cuma setelah jadi mayat pulang kampung.

  12. jeffar Lumban Gaol berkata:

    Sekarang setelah saya bandingkan dengan fakta di Sipitu Huta dan Pandumaan kec Pollung itu, saya mulai mengerti maksud dari ito Lamantina boru Sihaloho ini. Persoalan Tuhe dan kesewenangan penguasa Mulai dari Bupati, DPRD, Polres, Dandim ada pada posisi dang kepentingabn yang berseberangan dengan masyarakat wilayat. Ini sebuah system dari manipulasi kekuasaan yang dipilih sendiri oleh masyarakatnya, jelas ini sebuah masalah dalam birokrasi. Seandainya DPRD, kepolisian, Bupati dan Camat di sana sudah di setorkan dana oleh TPL, tentu ini menjadi salah satu penyebab amarah dari maryarakat adat beserta kepala desa Sipitu Huta dan Pandumaan. Namun yang lebih menyedihkan adalah turunnya para perantau, diantaranya pengacara, dari poldasu serta Lsm merah putih, yang seolah olah ingin memperjuangkan nasib masyarakat itu, namun ketahuan akhirnya sebagai kaki tangan TPL juga. Orang yang sudah masuk ke kota tentu punya agenda tersembunyi ketika terlibat dalam sengketa lingkungan hidup seperti di lahan Hutan Haminjon yan telah mereka kuasai lebih dari dua ratus tahun lampau. Namun justru anak-anak yang di sekolahkan atas hasil Haminjon ini juga yang mengkhianati mereka. Sungguh ironis…

  13. B.Parningotan berkata:

    mengenai Batak dilawan dengan Batak bukanlah cerita baru, memang orang Batak relatif mudah diadu domba atau lebih tepat kurang rasa persatuan. Dahulu di jaman Suharto itu telah terjadi di HKBP dimana ephorus Nababan dan Ephorus Simanjuntak saling adu kekuatan memecah belah HKBP, yaitu pihak yang loyal terhadap pihak pro pemerintah. Di jaman penjajahan Kompeni mengangkat putra2 daerah untuk diberi kuasa sebagai Demang2 untuk melawan pemuka2 adat dan menghapuskan kebudayaan Batak. Waktu jaman Sisingamangaraja dahulu Tuanku Rao meminta Bantuan Suku Minangkabau untuk memerangi Sisinga Mangaraja. Belum lagi cerita tentang PT Indo Rayon dan masih banyak cerita2 lain yang tidak cukup untuk dituliskan disini. Sekarang kita harus mulai menyadari kwalitas dari suku kita agar dapat melakukan perbaikan bagi orang Batak..
    Horas

  14. dedi ginting berkata:

    Kupikir, penyebab terjadinya orang batak berhadapan dengan orang batak, dalam hal melihat TPL, adalah karena faktor ekonomi. Kebutuhan akan ekonomi tersebut, telah melemahkan persatuan orang batak yang sangat terkenal.

    Jadi kupikir, mari kita gulirkan aja isu TPL akan direbut oleh orang batak, dan dikelola sendiri oleh orang batak, guna untuk kesejahteraan seluruh orang batak yang ada didaerah sekitar tempat beroperasinya TPL.

    Tentang bagaimana dengan pemerintah yang selama ini mendapat keuntungan secara legal maupun ilegal perorangan, tidak masalah kalau dibayarkan aja juga oleh masyarakat saat TPL telah dikelola sendiri oleh orang batak. Biar gak ada lawan orang batak dalam merebut TPL itu.

    Tq

  15. kalau memang dijaman dulu orang batak mudah diadu domba saat ini marilah kita satu hati satu pikir dalam memperjuangkan persatuan dan kesatuan demi memajukan masyarakat kita ditano batak hehehe…. kita ingat pesan dari adat batak yang disebut dalihan natolu, maka janganlah kita saling hantam sebab masalah tidak terselesaikan. tapi masipaleanan rohama bangso batak agar dapat memajukan tanah batak.memang sifat dan karakter kita boleh dikatakan keras namun kelemah lembutan juga terwariskan dalam sifat tersebut.Biasanya kalau raja dengan raja berbicara bahasanya juga bahasa raja yang pantas digugu oleh rakyatnya.Maka baiklah para penguasa ditanah batak saroha saoloan membangn bangso batak oke….GBU

  16. @Ito Limantina yang baik,

    Saya ingin melihat kasus ini dalam sisi yang berbeda: Rakyat melawan Penguasa.

    Kalau kita membalik ke belakang, sewaktu pemerintah Orde Baru ingin membangun waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah pertengahan tahun 80an, beberapa desa dengan sengaja harus ditenggelamkan. Penduduk desa-desa yang ditenggelamkan itu bisa dikatakan semuanya orang-orang Jawa. Presiden Suharto, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bupati dan semua pemimpin yang menyetujui dan melaksanakan proyek yang menyengsarakan ribuan penduduk desa-desa yang ditenggelamkan itu adalah orang Jawa…Thus kalau kita memakai pola pendeskripsian persoalan yang ito pakai, kasus itu menjadi orang Jawa melawan Jawa.

    Pesoalan sejenis itu juga terjadi antara lain di Papua, Kabupaten Manggarai dan banyak daerah lain di Indonesia.

    Saya melihat persoalan semacam itu, bukanlah berlatar belakang primordialisme…Sebab bagaimana mungkin sekelompok etnis tertentu sengaja ingin menindas kelompoknya secara sengaja dengan aspirasi keetnisan…

    Menurut saya persoalannya adalah adanya jurang pemahaman tentang bernegara antara rakyat kecil dengan penguasa. Persoalan menjadi semakin kompleks, ketika penguasa yang memperoleh mandat dari rakyat, tidak kompeten mencari cara yang tepat untuk menjalankan kekuasaannya untuk memakmurkan rakyat yang dipimpinnya.

    Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi salah satu jalan yang paling mudah adalah memberikan konsesi kepada pengusaha besar untuk menguasai lahan besar untuk industri pertambangan atau logging…atau industri yang mengandalkan bahan bakunya dari logging…Meskipun para pejabat pemerintah itu tahu betul resikonya, kerusakan alam yang luar bisa, pencemaran dan sebagainya, mereka tetap mengambil pilihan itu karena itulah cara yang paling cepat untuk mendongkrak statistik pertumbuhan ekonomi domestik berbasis perhitungan Produk Domestik Bruto…Belum lagi rejeki sampingan yang akan diperoleh para penguasa dari tingkat pusat hingga lokal yang biasanya akan mengalir dari pengusaha yang meperoleh konsesi atau ijin penguasaan kawasan luas tersebut.

    Berbeda dengan jalan mengembangkan ekomoni kerakyatan yang mengandalkan partisipasi rakyat banyak dalam aktifitas perekonomian yang memerlukan anggaran belanja APBN dan APBD dan biasanya sangat sulit karena mensyaratkan adanya komitmen dari aparat PNS untuk memberikan penyuluhan, pendampingan dan pengawasan yang dalam kebanyakan kasus, kita melihat lebih sering gagal…baik karena kebocoran, korupsi, maupun ketidakkompetenan dalam melaksanakan program-program yang telah disusun…

    Mendiskripsikan persoalan di atas menjada Batak melawan Batak menurut saya tidak sepenuhnya membantu menyelesaikan akar persoalan ini.

  17. Pontaseddy berkata:

    Menurut berita Kompas hari ini Kamis 8 Oktober 2009, akibat perubahan struktur dan kondisi tanah KARENA POHON DIATASNYA DITEBANGIN akan memacu mepercepat datangnya GEMPA.

    Apakah kita tinggal DIAM?, siapapun dia mo Batak keq….kalau memang mau merusak lingkungan agar di reject.

  18. trhyantho shihombing berkata:

    emang ya,ap ngak ada kerjaan lain apa??????
    aku juga ngak setuju kalo bisa itumah….bukannya mo di musnahin,,,,,itu untuk dirawat.
    emang udah ditebangin gt????????
    ya,,,,,,,,,,,,, cp tau komentar aku ini telat
    dangido??????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s