Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!

Limantina Sihaloho

Konon, kemenyan yang dibawa orang-orang bijak dari timur (majus) kepada Yesus di palungan di Betlehem berasal dari Tanah Batak. Ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin melihat langsung seperti itu pohon kemenyan. Begitulah, saya sampai di Sipituhuta pada awal bulan ini untuk melihat pohon kemenyan mereka.

Saya menginap di sana. Warga desa mengatakan gompul (mereka sebut goppul) yaitu beruang telah masuk kampung dan mengobrak-abrik beberapa rumah warga.
Esoknya, para perempuan kedua desa itu pergi menghadap bupati di kantor bupati dan jajarannya untuk memperjuangkan Tombak Haminjon (Hutan Kemenyan) mereka lepas dari rampasan PT TPL. Para laki-laki kedua desa akan berangkat ke tombak haminjon untuk menjaga tombak yang semakin meluas dibabat oleh PT TPL. Saya bergabung dengan para laki-laki berangkat ke Tombak Haminjon sebab saya memang sangat ingin melihat haminjon yang rupanya tumbuh jauh dari desa. Dari yang hanya hendak melihat seperti apa rupa-bentuk pohon kemenyan secara langsung, malah ada tambahan lagi: penduduk Sipituhuta dan Pandumaan yang bertetangga itu (kecamatan Pollung, Humbahas) belakangan sedang dalam proses perjuangan mempertahankan tanah adat mereka dari PT TPL.

Jarak dari Sipituhuta dan Pandumaan ke Tombak Haminjon mereka yang semakin luas dibabat oleh PT TPL sekitar 18 km. Kami naik bis ke ujung desa sekitar 3 km. Lalu melanjutkan berjalan kaki di jalan setapak sampai ke tujuan sekitar 15 km jadi genap 30 km berjalan kaki untuk dua arah. Masing-masing membawa perbekalan: makan siang dan air minum. Setiap lelaki membawa serta peralatan mereka ke Tombak Haminjon: keranjang atau tas bertali dan pisau, keduanya digantungkan di bahu.

Luas Tombak Haminjon kedua warga desa itu sekitar 4100 ha, sudah mereka miliki sejak zaman nenek moyang mereka yang mulai bertempat tinggal di wilayah itu sejak 300 tahun yang lalu. Tombak mereka terdiri dari tiga bagian: Sipitu Rura, Dolok Ginjang dan Lombang Na Bagas.

Marga-marga yang bertempat tinggal di Sipituhuta dan Pandumaan: Marbun yakni Lumban Batu dan Lumban Gaol; Borubus sebagai marga boru yakni Nainggolan dan Pandiangan, Si Raja Oloan yakni Sinambela, Sihite, Simanullang. Ketiga kelompok marga ini sudah bertempat tinggal secara turun-temurun di sana selama 13 generasi dan menjadikan Tombak Haminjon yang saya sebutkan di atas sebagai sumber utama perekonomian mereka. Munthe dan Situmorang merupakan marga-marga yang datang kemudian dan sudah tinggal di sana selama 3 generasi.

Penduduk Desa Simataniari dari Kec. Parlilitan pada tahun 1920-1980 biasa berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Onan Pollung. Mereka berjalan melewati jalan setapak yang ada di Tombak Haminjon warga Sipituhuta dan Pandumaan. Mereka tidak datang lagi ke Onan Pollung karena sudah ada pekan di Kec. Parlilitan sejak tahun 1985.

Kronologi konflik antara Sipituhuta-Pandumaan berhadapan dengan PT TPL

23 Juni 2009, warga Sipituhuta dan Pandumaan mengetahui Tombak Haminjon mereka telah dirambah oleh PT TPL. Spontan mereka berangkat memeriksa areal di mana peristiwa itu sedang berlangsung. Sampai di Tombak Haminjon, mereka menemukan para pekerja TPL yang sedang memotongi pohon. Warga meminta agar pekerja melakukan pemotongan kayu dan meninggalkan tanah adat mereka.

29 Juni 2009, ribuan warga melakukan aksi protes ke Pemkab dan DPRD Humbahas atas apa yang telah dilakukan oleh TPL di tanah adat mereka; dalam hitungan hari saja, TPL telah meratakan pepohonan ke tanah seluas sekitar 200 ha di areal tanah adat Sipituhuta dan Pandumaan.

14 Juli 2009, ratusan warga tua dan muda dari dua desa berangkat bersama-sama ke Tombak Haminjon mereka. Mereka sangat marah melihat pohon-pohon kemenyan mereka dan juga pohon-pohon yang bukan kemenyan milik mereka telah bertumbangan dan sebagian dalam bentuk gelondongan telah bertumpuk-tumpuk siap untuk diangkut oleh TPL ke luar dari tanah adat warga. Warga sedih sekaligus marah sehingga ada yang membakar kayu yang telah tumbang itu.

15 Juli 2009, 5 truk polisi dan 3 mobil patroli berisi sekitar 200 polisi dan brimob aparat mendatangi Sipituhuta dan Pandumaan; mereka mengepung rumah-rumah warga yang mereka anggap pemimpin kelompok. Desa kebetulan sudah sepi sebab sebagian warga yang laki-laki sudah berangkat ke Tombak Haminjon. Keributan mulai terjadi ketika aparat negara ini mulai mengobrak-abrik rumah warga. Seorang ibu yang baru pulang dari ladang terkejut menyaksikan anak-anaknya sedang berada di halaman rumah menangis ketakutan sementara polisi dan brimob mengobrak-abrik rumahnya. Seorang ibu yang sudah sangat tua berusia 95 terinjak oleh polisi di tempat tidurnya ketika polisi mengobrak-abrik rumahnya. Seorang bapak yang sedang membunyikan lonceng gereja sebagai panggilan agar warga berkumpul diciduk polisi. Seorang bapak yang lain diciduk dari ladangnya saat bekerja dan seorang bapak lainnya yang sudah tua diciduk di dalam perjalanan pulang dari pesta menuju rumahnya. Sore itu juga, atas perlakukan aparat negara pada kedua warga, sekitar 200 warga dari kedua desa mendatangi kantor polres. Mereka tiba di sana pukul 18.00 wib dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan sehingga sempat terjadi dorong-mendorong antara aparat dan warga. Aparat mementung warga, dua ibu terjatuh ke parit, jatuh dan pingsan dan sebagian luka-luka. Tiga orang dari barisan warga ini diciduk polisi. Aparat merampas benda-benda milik warga: tenda, tikar, pengeras suara, sepeda motor, beras, dandang dan peralatan lainnya. Warga mundur.

16 Juli 2009, hadir dalam rapat di kantor DPRD Humbahas: 20 orang utusan warga desa Sipituhuta-Pandumaan, ketua DPRD, Sekwan, Dandim dan beberapa media massa. Warga kedua desa meminta agar aparat membebaskan teman-teman mereka dari tahanan. Ketua DPRD berjanji akan membawakan persoalan dan permintaan warga ke dalam rapat Muspida. Warga menunggu hasil rapat sampai sore. Sementara menunggu, warga menerima kabar dari desa mereka bahwa TPL sedang beroperasi di tanah adat mereka lagi. Warga menyampaikan ini kepada DPRD. Warga mengambil inisiatif untuk berangkat ke kantor polres sebab belum ada hasil rapat yang mereka tunggu seperti yang dijanjikan ketua DPRD. Pukul 16.00 wib warga tiba di kantor polres meminta teman-teman mereka dibebaskan dari tahanan. Warga menunggu sampai pagi namum belum mendapatkan jawaban dari pihak aparat. Warga pulang dan empat orang tahanan dipindahkan ke LP Siborong-borong.

19 Juli 2009, tepat hari Minggu, berlangsung ibadah bersama lintas gereja (GKPI, HKBP, GPDI, GKLI, BETEL, Khatolik, GKI) dari dua warga Sipituhuta dan Pandumaan. Ibadah ini merupakan bentuk keprihatinan untuk kesulitan yang sedang ditanggung kedua warga desa.

21 Juli 2009, keempat warga yang sudah ditahan aparat diubah statusnya menjadi tahanan luar. 20 utusan warga dua desa menjemput teman-teman mereka yang menjadi tahanan itu ke LP Siborong-borong sementara sebagian membereskan urusan administrasi di polres lalu mereka pulang bersama-sama ke desa.

26 Juli 2009, kembali berlangsung ibadah lintas gereja untuk menguatkan warga. Hadir dalam ibadah ini warga dua desa, beberapa pimpinan gereja, serikat tani, media dan LSM di Sumut.

27 Juli 2009, warga dua desa menyampaikan pengaduan ke polres Humbahas atas perampasan, penebangan dan perusakan Tombak Haminjon mereka oleh PT TPL bersama para kontraktornya ( : CV.KPM, CV. 44, CV. SDU, CV. RMA, CV. Parulian, dan CV. Gorga Duma Sari).

28 Juli 2009, puluhan ribu warga Humbahas menghadiri hari ulang tahun Humbahas ke-6. Saat gubernur Sumut berpidato, warga menggelar spanduk dengan bunyi: Hentikan penebangan pohon kemenyan milik warga desa Pandumaan dan Sipitu Huta; PT.TPL merampas hak hidup dan jatidiri petani kemenyan; Kemenyan produk unggulan harus dilindungi dari rampasan PT.TPL. Polisi menciduk satu warga atas kejadian ini dan melepaskannya pada pukul 10.00 malam.

3 Agustus 2009, 400 warga mayoritas perempuan (ibu dan anak) dari Sipituhuta dan Pandumaan berangkat menuju kantor bupati setelah sebelumnya memberitahukan pihak polres atas kedatangan mereka ini. Mereka menyampaikan tuntutan mereka agar tanah adat Tombak Haminjon mereka tidak dirampas oleh PT TPL; Tombak Haminjon adalah sumber mata pencaharian utama mereka. Gompul (beruang) telah masuk kampung karena hutan rusak, warga merasa tidak aman, Unsur muspida (Dandim, Polres, Asisten I, Kadis Kehutanan, dan pejabat kabupaten lainnya) berdiri di depan kantor bupati sementara bupati konon tidak berada di tempat. Warga mengatakan kepada para aparat negara itu: “Bunu hami ma hami sude parjolo, molo na gabe rampason muna do tombak nami i sian hami”. (Bunuh kami semua lebih dulu, kalau kalian hendak merampas tombak kami itu dari kami). Ketika para perempuan pergi ke kantor bupati, para bapak (tua dan muda) pergi ke Tombak Haminjon memeriksa keadaan tombak mereka. Ketika mereka tiba di sana, TPL sedang beroperasi: ada 3 truk pengakut kayu, 1 unit alat berat pembuat jalan, 1 unit tanki bahan bakar yang dioperasikan oleh TPL dan 1 unit mobil patroli berisi aparat TPL dan brimob. Warga meminta karyawan TPL untuk berhenti merusak Tombak Haminjon mereka.

4 Agustus 2009, 3 warga Sipituhuta dan Pandumaan mendapat surat panggilan dari polres dengan tuduhan membakar kayu di Tombak Haminjon milik dua warga desa ini.

Sampai pada peringatan 64 tahun Indonesia merdeka, hari ini 17 Agustus 2009, keempat warga Sipituhuta dan Pandumaan masih berstatus tahanan luar. Pihak muspida Humbahas telah berjanji di awal bulan ini atas desakan warga agar segera menyurati departemen kehutanan untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Sejak tanggal 4 Agustus lalu sampai hari ini warga kedua desa setiap hari secara berkelompok mengadakan penjagaan di areal Tombak Haminjon mereka persis di lahan sekitar 200 ha yang telah diratakan oleh TPL. Penjagaan ini untuk menjamin agar TPL berhenti beroperasi di atas tombak warga.

Selanjutnya : Batak dilawankan dengan Batak

Tulisan Limantina Sihaloho :

Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan
Apa kabar Protestan?
Untung Atau Buntung
Sejarah Pergerakan Perempuan Di Sumut
Gereja di Sumut Mau Kemana
– Adat dan Kepentingan Ekonomi ….
Gereja di Sumut mau ke mana?
Untung Atau Bungtung ?
Sejarah Pergerakan Kaum Perempuan Di Sumut
Catatan Buat Pengagum Nommensen

Iklan

17 thoughts on “Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!

  1. Dampak lain dari penggundulan hutan di arah HUMBANG adalah bahwa sumber mata air yang selama ini sangat banyak di KAKI DOLOK PINAPAN sedikit demi sedikit semakin berkurang.

    Sampai kapan derita rakyat ini akan berhenti!!

  2. sungguh memprihatinkan…apakah hal ini termasuk produk pemekaran wilayah dan otonomi daerah (?) dimana hati nuranimu hai para pembuat keputusan ?

  3. goklas sinurat berkata:

    yang perlu di pertanyakan siapa2 kah yang punya CV itu, apakah orang2 yang tinggal di daerah sana, atau hanya segelinir orang yang punya kekuasaan saat
    ini?
    mereka lah yang pantas di binasakan,yang hanya mementingkan dirinya tanpa memikirkan keturunan batak selanjutnya….

  4. Michael Silalahi berkata:

    @ Horas Ito Limantina Sihaloho,

    Saya, sebagai orang Batak merasa sangat prihatin, sedih dan pilu akan kejadian dalam tulisan ” Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!

    Naboi mangurupi Rakyat Batak na di Tano Batak, asima rohata di Bangso i (Batak). Alai saianggiat ma godang na simpatik di Rakyat Batak di situasi i.

    Lanjutkan Ito, monitoring, sainggiat, ma godang do media daerah & nasional bahkan internasional di portibion. Horas tabereng ma jala pro aktif di hita.

  5. adikara hutajulu berkata:

    Apa yang terjadi di Humbahas,mengenai pembabatan kemenyaan oleh PT.TPL adalah salah satu ketidak pedulian PT.TPL dan pemerintah terhadap kelangsungan hidup masyarakat Humbahas khususnya petani kemenyaan.karena otomatis apabila pohon kemenyaan habis dibabat tentu para petani akan kehilangan mata pencariannya.sedangkan pemerintah seharusnya melindungi apa yang menjadi kepentingan masyarakatnya,bukan kepentingan perusahaan.Seandainya pemerintah mempunyai niat yang tulus melindungi dan mempertahankan apa yang menjadi hak warganya,tentu PT.TPL tidak akan berani sejauh itu melangkah.PT.TPL adalah perusak lingkungan hidup di tapanuli,apa yang didapat pemerintah sebagai vi atau konpensasi yang diberikan jauh lebih kecil dari kerusakan yang telah ditimbulkan PT.TPL yang dulunya bernama PT.IIU milik Sokanto Tanoto

  6. jeffar Lumban Gaol berkata:

    Horas ito Limantina Sihaloho yang peduli dengan nasib petani haminjon di kedua Huta itu, yakni Sipitu Huta dan Pandumaan. Kondisi Ini sangat memprihatinkan. Ketika orang bicara menyelamatkan lingkungan Danau Toba, orang hanya berpikir soal konservasi di beberapa titik saja. Hutan Haminjon yang masuk dalam register 41 itu sudah seharusnya di monitoring oleh sebuah lembaga lingkungan hidup yang dibangun secara bersama dengan masyarakat adat dan penduduk di sana. Penduduklah yang pertama kali harus di persatukan. Sebab merekalah yang akan paling berkepentingan dengan pelestarian hutan Haminjon ini. Sebab orang-orang dari kota hanyalah pemain yang mencari keuntungan sendiri. Ironisnya tak ada dukungan yang sungguh dari kaum elit lokal di sana. DPRD, Bupati, Polres, dan Camat itu hanya kaki tangan dari pemilik modal di pusat kekuasaan. Seandainya masyarakat humbahas sadar bahwa mempertahankan Hutan Reg 41 beserta Haminjonnya itu lebih penting dari imbalan materi yang di berikan oleh TPL tersebut. Sebab nilai mempertahankan Hutan alam di sana tak bisa diulur oleh segepok materi dan kekuasaan. Itulah penyebab utama berubahnya pola tanam serta temperatur di sana. Dan yang lebih penting lagi adalah memberikan secercah warisan dan harapan bagi generasi mendatang bahwa hidup tak lepas dari mempertahankan lingkungan hidupnya.

  7. Dahulu, kami punya sebidang TOBBAK di kaki DOLOK PINAPAN, entah bagaimana ceritanya, itu menjadi TOBBAK kami..hehehhe…Sekitar 7 km dari rumah kami ke arah perbukitan DOLOK PINAPAN. Pada masa itu, memang hampir semua POKOK pohon yang ada disana adalah HAMIJJON.
    Lambat laun, seiriing dengan makin MATUANYA-para bapak-bapak kami disana, tobbak hamijjon ini berkurang. Alasanya, ada yang mati karena tua, dan tidak ada reboisasi, dan ada yang dicuri orang. Perlu di ingat, HAU hamijjon sangat bagus guat SOBAN. BARANYA panas dan apinya cukup besar.

    Seingat ku, sepulang sekolah, maka saya diperintah oleh bapakku untuk ke TOBBAK. Lalu ditengah jalan, pohon-pohon kecil ( anak hamijjon ) yang tumbuh liar kami cabuti dan kami tanam di TOBBAK kami.

    Saya bingung, buat apa nanam hamijjon, toh bapakku bukan par-hamijjon. Ilmu keguruanya pun muncul. Beliau bilang, akar HAMIJJON itu sangat bagus untuk mengikat tanah. Hamijjon bisa hidup berpuluh tahun lamanya dan kokoh dari terjangan angin.

    Ada dua macam HAMIJJON yang kami tanami. Hamijjon DAIRI dengan pohonnyan yang relatif lebih besar-besar dan daunya lebar-lebar, tapi getahnya agak mencair dan BURAM, dan kayunya KURANG KERAS. Ini lebih gampang TUMBUH.

    Lalu HAMIJJON TOBA, lebih kuat batak kayunya, daunya kecil-kecil dan Getahnya SEDIKIT, tapi BERKUALITAS tinggi, cuman NANAMNYA susah.\

    Ayah saya juga TURUNAN sdeorang PETANI HAMIJJON dari Sitapongan Kec. Sijamapolang.

    Dinamakan SIJAMAPOLANG, tentunya karena disana banyak HAMIJJON. TaliPOLANG adalah tali yang dugunakan petani hamijjon sebagi tempat berpijak untuk MANIGI dan Mengambil getah keringnya.

    Setali tiga uang dengan kawasan Dolok Pinapan, di kecamatan Sijamapolang pun sudah berkurang tanaman ini. Dulu, semasa kecil, saya sering diajak bapak saya ke kampung kelahirannya. Dan masih banyak menjumpai orangtua saya disana petani HAMIJJON.

    Hamijjon,..nasib mu kini. Apakah hamijjon ini hanya untuk DUPA ?? atau bisakah hamijjon ini sebagai matapencaharian??.

  8. tanobatak berkata:

    @ Hendry
    Pantas anda tinggalkan kampung halaman dan haminjon yg legendaris itu. Saya jadi ragu, jangan2 tak ada anak petani haminjon yg berhasil.
    Haminjon harganya mahal. Pabrik kosmetik dan parfum di prancis cukup kenal benda itu. Mereka kenal haminjon berasal dari semarang.
    Sempatkan dulu mengamati ke pabrik mustika ratu, apa mereka menggunakan kemenyan. Bila iya mungkin harga produknya mahal.

  9. Iya uda….

    kenapa hamijjon nggak banyak diminati padahal harganya mahal??. proses dari manigi hingga panen makan waktu hingga setengah tahun. Jadi, dari dulu memang hamijjon bukanlah mata pencaharian utama. Melainkan MARSABA AEK. Setahun bisa pananen TIGA kali atau MANDERES ( bahasa kami MANODOK) yang saban hari SENEN bisa MARTULAK ke TOKKE GOTA.

    Hamijjon ini tanamann Tua dan tanaman keras, tentu budidayanya juga harus lama dan harus sabar menanti hasilnya.

    Alasan lain, anak-anak muda, lebih suka MANODOK, duitnya cepat CAIR. Sementara, kalau marhamijjon, gak secepat manodok.
    Parhamijjon, harus Cekatan dalam hal memanjat, dan kalau sudah musim HUJAN, maka susah untuk menaiki TALIPOLANG, licin!….

    Mungkin adong dope pasi-pasi ni hamijjon i, alai dang pola godang be

  10. Menanggapi appara niba si Henry.
    Kalau aku lain lagi. Dari amang mahulahi, ompung doli dan bapakku, semuanya parhaminjon. Kami punya hutan keminyaan di Sosor Napa, Ringkis, Siunong-unong dan Sigarang-garang arah ke Parlilitan. Semuanya di Dolok Sanggul. Demikian juga dari keluarga inong (saya panggil untuk ibu saya, Op Stephen) tulang mangulahi dan ompung, mereka semua parhaminjon (petani keminyaan). Tapi, praktis semuanya miskin.
    Terus terang setelah di Jakarta aku mengingatnya menjadi kenangan indah. Sejak dulu tidak berniat, berharap pun tidak, menjadi petani haminjon. Karena, sejak kecil, umur sepuluh tahun hingga lulus STM saya melihat kehidupan para parhaminjon setiap liburan sekolah akan dibawa ke hutan haminjon (tombak) untuk membantu ompung atau bapa “mangarambas”.
    Hidup parhiminjon itu sangat menyedihkan. Makan hanya dengan “gulamo” dan tidur hanya dengan apai disebut “sanganon” dan tidak ada penerangan. Memang ada yang menyenangkan, kalau kita bosan, ada tempat rekreasi: ada “sampuran” air terjun atau “marsigurampang” mencari kepiting di sungai. Dan, umumnya sungai itulah menjadi perbatasan antara tombak yang satu dengan yang lain.
    Parhaminjon bisa dua minggu tinggal di tombak, karena jauh dari tempat tinggal. Rata-rata jauhnya dari kampung 20-40 km–baru sampai ke tombak. Kalau ada yang pulang pergi disebutlah “marsulak”, itupun bagi mereka yang punya kendaraan sepeda motor saja. Umumnya mereka jalan kaki menempuh “tombak” itu.
    Saya tahu persis ritme kerja petani haminjon. Sampai di “tombak” biasanya yang pertama dibunyikan adalah “tuntung” (kentungan besar yang dibuat dari pohon nangka) menunjukkan parhaminjon baru datang, demikian juga kalau hendak pulang. Tuntung seperti media di tombak: kalau ada kecelakaan, sakit karena jatuh dari hamijon atau dikejar-kejar “babiat”, tuntung pasti dibunyikan. Suaranya pun berbeda-beda, tergantung keadaan. Dan, jika tuntung yang satu dibunyikan, maka tuntung yang lain akan segera menyahut. Indah memang.
    Memulai pekerjaan “mangguris” setelah itu “manige” selesai manige, haminjon akan mengeluarkan getah setelah tiga bulan. Setelah itu baru panen, yang disebut “mangaluak”.
    Terus terang, kalau ada berita haminjon, saya sedih. Sampai hari ini babakku masih marhaminjon, tetapi yang saya tahu mereka (parhaminjon) itu tidak pernah ekonominya lebih baik, sejak dulu “ngeri”. Apalagi, masih banyak disana “panangko”. Haminjon hilang biasanya justru hari Minggu, hari yang dimuliakan di kampung kami. Orang pergi bergereja-sedangkan penyamun menguduskan hari itu untuk manangko.
    Jadi, dang tardok be boha puang. Songon ima jo. Nungga paganjanghu. Nungga gabe artikel. Mauliathe ma di itonta boru Sihaloho di artikel nasida.

    sian ahu

    Hojot Marluga
    pengelola
    Ensiklopedia Tokoh Batak
    http://tokohbatak.wordpress.com

  11. irma s. nainggolan berkata:

    Ayoooooooo kwannnnnnnnn mari kita perjuangkan……. smangatttttttttt bawa dalam doa masing2——— Tuhan tau koq mana yang salah dan yang benar,,, dIA pasti akan memberi jalan yang terbaik…………………… thankzzzzzzzz

  12. hotman panggabean berkata:

    Hajar saja itu TPL, demo terus karena memang sudah salah. Tanaman Kemenyan adalah tanaman yang dilindungi, jadi jelas demi hukum di republik ini TPL salah. HPH TPL di Humbahas, belum ada tapal batasnya, juga menyalahi aturan seharusnya ada dulu tapal batak HPH TPL.
    Tiada ada cara lain selain cara yang dilakukan masyarakat Toba Samosir dahulu yakni tutup Indorayon, tolak TPL. Hajar terus karena memang salah
    Horas

  13. KPD IBU LIMANTINA SIHALOHO (Ito) DAN SEMUA REKAN
    PEMERHATI RE H A M I N J O N :

    1.Terimakasih tema haminjon, ito !
    1.1. Kini saya berincatatan 20 9 2015
    1.2.Karena tema ini tetap aktuil
    1.3.Terimakasih kepada semua komentator dan cerahan informasinya.

    2.S. Silitonga :
    2.Orangtuanya juiga saudagar Hamijjon di Tarutung.
    2.1. Kami berasama Masatua kini mukim di Eropa – Dunia I.
    2.2.Sejak th 1980-an juga pehati natur kaya kita cq haminon
    2.3.Bahkan masa Umur Senior Pensiun kini, K-7 /K-8.

    3. HAMIJJON DLM HISTORIOGRAFIKA LESTARI IPTEK:
    3.1.Kini Era Moderen kini, kita jadi Pencerah
    3.2.Apa mengapa bagaimanamesti diexistensi cq Hamijjon itu.
    3.3.TANAH BATAK (SUMUT) sebagai DGK Demografika Geografika Kulturologika
    3.3.Historiografikanya mennjukkan : Pengalaman Pembelajaran guna Futurologi.

    4. DGK BONAPSOGIT “TANO BATAK” SUMUT
    4.1.Sebagai PRT Populasi Risorsi Teknologi (SDM SDT SDT)
    4.2.Exlorasinya (S 1 2 3 )

    4.2.1.Sektor 1 : Budidaya
    4.2.2.Sektor 2 : Pengolahan
    4.3.3.Sektor 3 : Distrribusi / Pemasaran

    4.3.Industrialisaexplorasinya perlu
    4.3.1.TBB Tepat Baik Benar
    4.3.2.Matematik IPTEK Padatkarya / Samaadilmensejahtera DGK.

    5.Itulah tujuan Tatanan AO Mulajadinabolon (Tuhan).

    6.HDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus, Voluntir

    7.HH 20.09.2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s