Lelaki yang Ingin Dikubur di Samosir itu Bernama Nahum Situmorang

Suhunan Situmorang

SUDAH 40 tahun ia wafat, namun namanya kian sering disebut-sebut. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; menghibur orang-orang, menafkahi pekerja dunia malam, mengalirkan keuntungan bagi pengusaha hiburan dan industri rekaman. Tapi, orang-orang, khususnya etnis Batak dan yang familiar dengan lagu Batak, segelintir saja yang tahu siapa dia sesungguhnya. Ironisnya lagi banyak yang tak sadar bahwa sejumlah lagu yang selama ini begitu akrab di telinga mereka, lahir dari rahim kreativitas lelaki yang hingga ajalnya tiba tetap melajang itu.

Apa boleh buat, selain catatan atas diri Nahum sendiri yang memang minim, ia terlahir dan berada di tengah sebuah bangsa yang amat rendah tingkat pengapresiasian atas suatu karya cipta; yang hanya suka menikmati karya orang lain tanpa mau tahu siapa penciptanya, selain enggan memberi penghargaan pada orang-orang kreatif yang telah memperkaya khazanah karsa dan rasa.

Nahum pun menjadi sosok yang melegenda namun tak pernah tuntas diketahui asal-usulnya. Sulit menemukan sumber yang sahih untuk menerangkan seperti apakah dulu proses kreatifnya, peristiwa atau pengalaman pahit apa saja yang memengaruhi kelahiran lagu-lagu ciptaannya, seberapa besar andilnya menumbuhkan semangat kemerdekaan manusia Indonesia dari kuasa penjajah, dan jasanya yang tak sedikit untuk menyingkap tirai keterbelakangan manusia Batak di masa silam. Ia adalah pejuang yang dibengkalaikan bangsa dan negerinya, terutama sukunya sendiri. Seseorang yang sesungguhnya berjasa besar mencerdaskan orang-orang sekaumnya namun tak dianggap penting peranannya oleh para penguasa di bumi leluhurnya.

Nahum sendiri mungkin tak pernah berharap jadi pahlawan yang akan terus dipuja hingga dirinya tak lagi berjiwa. Pula tak pernah membayangkan bahwa namanya akan tetap hidup hingga zaman memasuki era millenia. Boleh jadi pula tak pernah bisa sempurna ia pahami perjalanan hidupnya hingga usianya benar-benar sirna. Ia hanya mengikuti alur hati dan pikirannya saat melintasi episode-episode kehidupan dirinya yang dipenuhi romantika yang melekat dalam diri para pelakon gaya hidup avonturisme. Tak mustahil pula ia sering bertanya mengapa terlahir sebagai insan penggubah dan pelantun nada dengan tuntutan jiwa harus sering berkelana, bukan seperti saudara-saudara kandungnya yang “hidup normal” sebagaimana umumnya orang-orang di zamannya.

Meski aliran musik yang diusungnya beraneka ragam dan tak seluruhnya bernuansa etnik Batak dan bahkan banyak yang mengadopsi aliran musik Barat macam waltz, bossa, folk, jazz, rumba, tembang-tembang gubahannya begitu subtil dan melodius. Lirik-liriknya pun tak murahan karena menggunakan kosa kata Batak klasik bercitarasa tinggi, kaya metafora, dan karena cukup baik menguasai filosofi dan nilai-nilai anutan masyarakat Batak, mampu menyisipkan nasehat dan harapan tanpa terkesan didaktis.

Ia begitu romantik tapi tak lalu terjebak di kubangan chauvinis, juga seseorang yang melankolis namun menghindari kecengengan bila jiwa dicambuki cinta. Ia melantunkan kegetiran hidup dengan tak meratap-ratap yang akhirnya malah memercikkan rasa muak, sebagaimana kecenderungan lagu-lagu pop Batak belakangan. Ia gamblang meluapkan luka hati akibat cinta yang dilarang namun tak jadi terjebak dalam sikap sarkastis.

***

NAHUM memang bukan cuma penyanyi dan penulis lagu, tetapi juga penyair yang kaya kata dengan balutan estetika yang penuh makna. Lelaki pengelana ini, kata beberapa saksi mata, dalam keseharian senang tampil parlente, senantiasa berpakaian resik dan modis dengan sisiran rambut yang terus mengikuti gaya yang tengah ditawarkan zaman. Anak kelima dari delapan bersaudara ini lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Februari 1908. Orangtuanya termasuk kalangan terpandang karena ayahnya, Kilian Situmorang, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah berbahasa Melayu, di tengah mayoritas penduduk yang kala itu masih buta huruf.

Kilian sendiri berasal dari Desa Urat, Samosir, sebuah kampung di tepi Danau Toba dan jamak diketahui sebagai kampungnya para keturunan Ompu Tuan Situmorang. (Situmorang Pande, Situmorang Nahor, Situmorang Suhutnihuta, Situmorang Siringoringo, Sitohang Uruk, Sitohang Tongatonga, Sitohang Toruan). Kilian merantau ke wilayah Tapanuli Selatan demi mengejar kemajuan yang kian menguak gerbang peradaban manusia Batak Toba yang begitu lama tertutup dengan splendid-isolation-nya.

Sebagaimana harapannya pada anak-anaknya yang lain, Kilian pun menginginkan Nahum menjadi pegawai pemerintah kolonial. Harapannya itu tak tercapai meski Nahum sangat memenuhi syarat. Ia lebih senang menjadi manusia bebas tanpa terikat, bahkan di kala usianya masih remaja pun sudah berlayar ke Pulau Jawa, suatu hal yang tak terbayangkan bagi umumnya manusia Batak masa itu. Bukan karena kemampuan orangtuanya, melainkan karena dibawa satu pendeta yang bertugas di Sipirok dan kemudian kembali ke Depok, Jawa Barat, setamatnya dari HIS, Tarutung. Di Jakarta ia sekolah di Kweekschool Gunung Sahari dan kemudian meneruskan pendidikan ke Lembang, Bandung, lulus tahun 1928. Selain sekolah umum, ia memperdalam seni musik, terutama saat bersekolah di Lembang.

Ia turut bergabung dengan kalangan pemuda berpendidikan tinggi yang masa itu diterpa kegelisahan yang hebat untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman kuasa kolonial. Mereka kerap berkumpul di bilangan Kramat Raya dan pada saat itulah ia berkenalan dan kemudian menjadi pesaing Wage Rudolf Supratman ketika mengikuti lomba penulisan lagu kebangsaan. Supratman memenangi lomba tersebut dengan lagu ciptaannya Indonesia Raya, Nahum diganjar juara dua.

Sayang sekali, lagu yang diperlombakan Nahum itu tak terdokumentasikan dan hingga kini belum ditemukan. Kabarnya, saat itu ia amat kecewa karena merasa lagu ciptaannyalah yang paling layak menang sebab selain unsur orisinalitas, durasinya pun lebih pendek ketimbang Indonesia Raya. (Unsur orisinalitas lagu Indonesia Raya sempat dipersoalkan, namun kemudian menguap begitu saja karena dianggap sensitif). Lelaki muda yang tengah digelontori idealisme dan cita-cita menjadi seniman musik yang mendunia ini pun memilih pulang ke Sumatera Utara, persisnya ke wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Sibolga. Di kota pantai barat Sumatera itulah ia jalani pekerjaan guru di sebuah sekolah partikelir H.I.S Bataksche Studiefonds, 1929-1932.

***

TAHUN 1932 itu pula ia hengkang ke Tarutung karena memenuhi ajakan abang kandungnya, Sopar Situmorang (juga berprofesi pendidik), untuk mendirikan sekolah partikelir bernama Instituut Voor Westers Lager Onderwijs. Pemerintah Hindia Belanda coba menghalangi karena saat itu ada peraturan melarang pembukaan sekolah bila dikelola partikelir. Nyatanya Nahum dan Sopar tetap bertahan dan mengajarkan pengetahun umum macam sejarah dunia, geografi, aljabar, selain musik, kepada murid-murid mereka. Sekolah swasta ini bertahan hingga 1942 karena tentara Dai Nippon kemudian mengambilalih kekuasaan Hindia Belanda, lalu menutupnya.

Sebelum sekolah tersebut ditutup Jepang, ia sudah wara-wiri ke Medan untuk menyalurkan bakat sekaligus mengaktualisasikan dirinya yang acap gelisah. Antara lain, bersama Raja Buntal, putra Sisingamangaraja XII, ia dirikan orkes musik ‘Sumatera Keroncong Concours’ dan pada tahun 1936 memenangkan lomba cipta lagu bernuansa keroncong di Medan. Hingga Hindia Belanda dan Jepang hengkang, ia tak pernah mau jadi pegawai mereka. Nahum memang nasionalis tulen dan karenanya memilih bergiat di ranah partikelir ketimbang mengabdi pada penjajah, selain pada dasarnya (mungkin karena seniman) tak menghendaki segala bentuk aturan yang mengekang kebebasannya berekspresi.

Tapi kala itu, mengandalkan kesenimanan belaka untuk menopang kebutuhan hidup taklah memadai, apalagi Nahum senang bergaul dan nongkrong di kedai-kedai tuak hingga larut malam. Tanpa diminta akan ia petik gitarnya dan bernyanyi hingga puas dan dari situlah bermunculan lagu-lagu karangannya. Dan ia bagaikan magnet, kedai-kedai tuak akan dipenuhi pengunjung yang bukan hanya etnis Batak. Orang-orang seperti tersihir mendengar alunan suaranya. Ia memiliki satu keistimewaan karena bisa menggubah lagu secara spontan di tengah keramaian dan tanpa dicatat. (Inilah salah satu penyebab mengapa lagu-lagunya hanya bisa dikumpulkan 120, sementara dugaan karibnya seperti alm. Jan Sinambela, jumlahnya mendekati 200 lagu).

Jenuh berkelana dari satu kedai ke kedai tuak lainnya, dalam kurun waktu 1942-1945, ia coba berwirausaha dengan membuka restoran masakan Jepang bernama Sendehan Hondohan, seraya merangkap penyanyi untuk menghibur tamu-tamu yang datang untuk bersantap. Sepeninggal Jepang karena kemerdekaan RI, restoran yang dikelolanya bangkrut. Ia kemudian berkelana dari satu kota ke kota lain sebagai pedagang permata sembari mencipta lagu-lagu bertema perjuangan dan pop Batak. Masa-masa itu pula ia kembali memasuki dunia manusia Batak dengan berbagai puak yang menghuni Sidempuan, Sipirok, Sibolga, Tarutung, Siborongborong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Balige, Parapat, Pematang Siantar, Berastagi, dan Kabanjahe.

Tahun 1949, Nahum kembali menetap di Medan untuk menggeluti usaha broker jual-beli mobil dan tetap bernyanyi serta mencipta lagu, juga kembali melakoni kesenangannya bernyanyi di kedai-kedai tuak. Sesekali ia tampil mengisi acara musik di RRI bersama kelompok band yang ia bentuk (Nahum bisa memainkan piano, biola, bas betot, terompet, perkusi, selain gitar). Periode 1950-1960, menurut kawan-kawan dan kerabatnya, adalah masa-masa Nahum paling produktif mencipta lagu dan tampil total sebagai seniman penghibur. Tahun 1960, misalnya, ia dan rombongan musiknya tur ke Jakarta. Setahun lebih mereka bernyanyi, mulai dari istana presiden, mengisi acara-acara instansi pemerintah, diundang kedubes-kedubes asing, live di RRI, hingga muncul di kalangan komunitas Batak. Pada saat tur ini pula ia manfaatkan untuk merekam lagu-lagu ciptaannya dalam bentuk piringan hitam di perusahaan milik negara, Lokananta.

***

SAMPAI usianya berujung, ia tetap melajang. Kerap disebut-sebut, ia didera patah hati yang amat parah dan tak terpulihkan pada seorang perempuan bermarga Tobing, yang kabarnya berasal dari kalangan terpandang. Orangtua perempuan itu tak merestui Nahum yang “cuma” seniman menikahi anak gadis mereka. Cinta Nahum rupanya bukan jenis cinta sembarangan yang mudah digantikan wanita lain. Ternyata, berpisah dengan kekasihnya, benar-benar membuat Nahum bagaikan layang-layang yang putus tali di angkasa; terbang ke sana ke mari tanpa kendali. Ia tetap meratapi kepergian kekasihnya yang sudah menikah dengan pria lain. Sejumlah lagu kepedihan dan dahsyatnya terjangan cinta, berhamburan dari jiwanya yang merana.

Demikian pun Nahum tak hanya menulis sekaligus mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Dari 120 lagu ciptaannya yang mampu diingat para pewaris karyanya, mengangkat beragam tema: kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasehat, filosofi, sejarah marga, dan sisi-sisi kehidupan manusia Batak yang unik dan khas. Dan, kendati pada tahun 30-an isu dan pengaturan atas hak cipta suatu karya lagu/musik belum dikenal di Indonesia, Nahum sudah menunjukkan itikad baik ketika mengakui lagu Serenade Toscelli yang ia ubah liriknya ke dalam Bahasa Batak menjadi Ro ho Saonari, sebagai lagu ciptaan komponis Italia.

Nahum pun terkenal memiliki daya imajinasi serta empati yang luarbiasa. Tanpa pernah mengalami atau menjadi seseorang seperti yang ia senandungkan dalam berbagai lagu ciptaannya, ia bisa menulis lagu yang seolah-olah dirinya sendiri pernah atau tengah mengalaminya. Salah stau contoh adalah lagu Anakhonhi do Hamoraon di Au (Anakkulah kekayaanku yang Terutama). Lagu bernada riang itu seolah suara seorang ibu yang siap berlelah-lelah demi nafkah dan pendidikan anaknya hingga tak mempedulikan kebutuhan dirinya. Lagu tersebut akhirnya telah dijadikan semacam hymne oleh kaum ibu Batak, yang rela mati-matian berjuang demi anak. Ketika menulis lagu itu Nahum layaknya seorang ibu.

Kemampuannya berempati itu, bagi saya, masih tetap tanda tanya, karena ia lahir dan besar di lingkungan keluarga yang relatif mapan karena ayahnya seorang amtenar yang tak akrab dengan kesusahan sebagaimana dirasakan umumnya orang-orang yang masa itu, sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terbilang sulit. Ia pun tak pernah berumahtangga (apalagi memiliki anak) hingga mestinya tak begitu familiar dengan keluh-kesah khas orangtua Batak yang harus marhoi-hoi (susah-payah) memenuhi keperluan anak.

Juga ketika ia menulis lagu Modom ma Damang Unsok, laksana suara lirih seorang ibu yang sedih karena ditinggal pergi suami namun tetap meluapkan cintanya pada anak lelakinya yang masih kecil hingga seekor nyamuk pun takkan ia perkenankan menggigit tubuh si anak. Ia pun menulis lagu Boasa Ingkon Saonari Ho Hutanda yang menggambarkan susahnya hati karena jatuh cinta lagi pada perempuan yang datang belakangan sementara ia sudah terikat perkawinan, seolah-olah pernah mengalaminya.

Kesimpulan saya, selain memiliki daya imajinasi yang tinggi, Nahum memang punya empati yang amat dalam atas diri dan kemelut orang lain. Dalam lagu Beha Pandundung Bulung, misalnya, ia begitu imajinatif dan estetis mengungkapkan perasaan rindu pada seseorang yang dikasihi, entah siapa. Simak saja liriknya: Beha pandundung bulung da inang, da songonon dumaol-daol/Beha pasombu lungun da inang, da songon on padao-dao/Hansit jala ngotngot do namarsirang, arian nang bodari sai tangis inang/Beha roham di au haholongan, pasombuonmu au ito lungun-lungunan. Ia lukiskan perasaan rindu itu begitu sublim, indah, namun tetap menyisipkan nada-nada kesedihan.

Mengentak pula lagunya (yang dugaan saya dibuat untuk dirinya sendiri) berjudul Nahinali Bangkudu. Lirik lagu itu tak saja menggambarkan ironi, pun tragedi bagi sang lelaki yang akan mati dengan status lajang. Dengan pengunaan metafora yang mencekam, Nahum meratapi pria itu (dirinya sendiri?) begitu tajam dan menusuk kalbu: Atik parsombaonan dapot dope da pinele, behama ho doli songon buruk-burukni rere. Ironis sekaligus tragis.

Dan Nahum tak saja pandai menulis lagu yang iramanya berorientasi ke musik Barat, pun piawai mengayun sanubari lewat komposisi-komposisi berciri etnik dengan unsur andung (ratap) yang amat pekat. Perhatikanlah lagu Huandung ma Damang, Bulu Sihabuluan, Assideng-assidoli, Manuk ni Silangge, dan yang lain, begitu pekat unsur uning-uningan-nya.

Akhirnya kesan kita memang, dari 120 lagu ciptaannya yang mampu dikumpulkan para pewarisnya, tak ubahnya kumpulan 120 kisah tentang manusia Batak, alam Tano Batak, berikut romantika kehidupan. Ia tak hanya piawai menggambarkan suasana hati namun mampu merekam aspek sosio-antropologis masyarakat (Batak) yang pernah disinggahinya dengan menawan. Lagu Ketabo-ketabo, misalnya, menceritakan suasana riang kaum muda Angkola-Sipirok saat musim salak di Sidempuan, sementara Lissoi-lissoi yang kesohor itu merekam suasana di lapo tuak dan kita seakan hadir di sana.

Demikian halnya tembang Rura Silindung dan Dijou Au Mulak tu Rura Silingdung, begitu kental melukiskan lanskap daerah orang Tarutung itu, hingga saya sendiri, misalnya, selalu ingin kembali bersua dengan kota kecil yang dibelah Sungai Aeksigeaon dan hamparan petak-petak sawah dengan padi yang menguning itu bila mendengar kedua lagu tersebut. Nahum pun melampiaskan kekagumannya pada Danau Toba melalui O Tao Toba. Mendengar lagu ini, kita seperti berdiri di ketinggian Huta Ginjang-Humbang, atau Tongging, atau Menara Panatapan Tele, menyaksikan pesona danau biru nan luas itu. Kadang memang ia hiperbolik, contohnya dalam lagu Pulo Samosir, disebutnya pulau buatan itu memiliki tanah yang subur dan makmur sementara kenyataannya tak demikian.

***

SAYA termasuk beruntung karena semasih bocah, 1969, beberapa bulan sebelum kematiannya, menyaksikannya bernyanyi di Pangururan bersama VG Solu Bolon. Saya belum tahu betul siapa Nahum Situmorang dan menurut saya saat itu show mereka begitu monoton dan kurang menggigit karena tanpa disertai instrumen band. Ia tampil parlente dengan kemeja dan celana warna putih, walau terlihat sudah tua. Rupanya ia sudah digerogoti penyakit (kalau tak salah lever) namun tetap memaksakan diri bernyanyi ke beberapa kota kecil di tepi Danau Toba hingga kemudian meninggal dunia di usia 62 tahun.

Lewat karya-karyanya, seniman-seniman Batak telah ia antarkan melanglang ke manca negara, macam Gordon Tobing, Trio The Kings, Amores, Trio Lasidos, dan yang lain. Lewat lagu-lagu gubahannya pula banyak orang telah dan masih terus diberinya nafkah dan keuntungan. Sejak remaja telah ia kontribusikan bakat dan mendedikasikan dirinya untuk negara dan Bangso Batak. Lebih dari patut sebenarnya bila mereka yang pernah berkuasa di seantero wilayah Tano Batak memberi penghargaan yang layak bagi dirinya, katakanlah menyediakan sebuah kubur di Samosir yang bisa dijadikan monumen untuk mengenang dirinya.

Kini sisa jasad Nahum masih tertimbun di komplek pekuburan Jalan Gajah Mada, Medan. Keinginannya dikembalikan ke tanah leluhurnya melalui lagu Pulo Samosir, masih tetap sebatas impian. Ia tinggalkan bumi ini pada 20 Oktober 1969 setelah sakit-sakitan tiga tahunan dan bolak-balik dirawat di RS Pirngadi. Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden SBY diganjar untuknya pada 10 Agustus 2006, melengkapi Piagam Anugerah Seni yang diberikan Menteri P&K, Mashuri, 17 Agustus 1969.

Para pewaris karya ciptanya yang sudah ditetapkan hakim PN Medan, 1969, sudah lama berkeinginan memindahkan jasadnya dan membuat museum kecil di Desa Urat, Samosir, sebagaimana keinginan Nahum. Diharapkan, para penggemarnya bisa berziarah seraya mendengar rekaman suaranya dan menyaksikan goresan lagu-lagu gubahannya. Rencana tersebut tak lanjut disebabkan faktor biaya dan (sungguh disesalkan) di antara para pewaris yang sah itu, yakni keturunan abang dan adik Nahum, terjadi perpecahan lantaran persoalan pengumpulan royalti.

***

PERTENGAHAN 2007, sekelompok pewaris yang diketuai Tagor Situmorang (salah seorang keponakan kandung Nahum, Ketua Yayasan Pewaris Nahum Situmorang) meminta Monang Sianipar, pengusaha kargo dan ayah musisi Viky Sianipar, sebagai ketua peringatan 100 Tahun Nahum Situmorang berupa pagelaran konser musik besar-besaran di Jakarta dan Medan, Februari 2008. Kemudian mereka minta pula saya, entah pertimbangan apa, jadi ketua pemindahan kerangka dan pembangunan Museum Nahum Situmorang di Desa Urat. Saya dan Monang tentu antusias menerima tawaran tersebut, namun setelah belakangan tahu di antara para pewaris ternyata ada perselisihan, saya sarankan agar mereka terlebih dahulu melakukan rekonsiliasi karena proyek semacam itu bukan sesuatu yang bisa disembarangkan dalam hukum adat Batak.

Di tengah proses penyiapan proposal, tiba-tiba saya dengar ada seorang dongan sabutuha (teman satu marga) yang belum lama berprofesi pengacara, mendirikan satu yayasan pengelola karya cipta Nahum Situmorang. Dirangkulnya kubu yang berselisih dengan kelompok Tagor (juga keponakan kandung Nahum) dan sejak itulah beruntun “kejadian hukum” yang hingga kini belum terselesaikan dan akhirnya menyeret-nyeret pedangdut Inul Daratista karena tuduhan tak membayar royalti yang diputar di karaoke-karaoke Inul Vista.

Saya pun lantas menghentikan langkah, semata-mata karena merasa tak elok bila dianggap turut meributkan royalti atas karya cipta seseorang yang sudah wafat dan sangat berjasa bagi Bangso Batak, selain seseorang yang amat saya kagumi. Konser batal, pemindahan kerangka dan pembangunan museum Nahum terbengkalai.

Tentu saja saya kecewa, seraya menyesali minimnya apresiasi dari para penguasa di wilayah eks Keresidenan Tapanuli terhadap Nahum, yang tak juga menunjukkan gelagat akan melakukan sesuatu untuk menghormati jasa-jasa beliau sebagai salah satu tokoh pencerahan Bangso Batak. Alangkah miskinnya ternyata penghormatan para bupati, khususnya Pemkab Tapanuli Utara, Tobasa, Samosir, terhadap seniman cum pendidik yang legendaris itu. Tetapi yang lebih saya sesali adalah kisruh akibat munculnya klaim-klaim sebagai pewaris yang absah atas karya cipta Nahum hingga keinginan mewujudkan impiannya (yang sebetulnya sederhana) agar dikubur di bumi Samosir, semakin tak pasti.

Saya tak tahu bagaimana perasaan mereka yang berseteru sengit hingga jadi santapan infoteinmen menyangkut klaim hak cipta karya Nahum itu manakala mendengar penggalan lirik lagu Pulo Samosir ini: Molo marujungma muse ngolukku sai ingotma/Anggo bangkeku disi tanomonmu/Disi udeanku, sarihonma. (Bila hidupku sudah berakhir, ingatlah/Makamkanlah jasadku di sana/Sediakanlah kuburanku di sana). Demikianpun, saya tetap berharap gagasan memindahkan jasad Sang Guru ke bumi Samosir berikut pembangunan museum kecil untuk menghormatinya akan terwujud suatu saat, entah siapapun pelaksananya. ***

* Pertamakali dimuat di blog.tanobatak.wordpress, September 2009. Demi etika, pemuatan ulang tulisan ini di media lain (termasuk milis dan blog), sepatutnya dengan meminta izin dari pengelola blog tanobatak, Monang Naipospos, atau penulisnya

Iklan

87 thoughts on “Lelaki yang Ingin Dikubur di Samosir itu Bernama Nahum Situmorang

  1. jeffar Lumban Gaol berkata:

    Nahun Situmorang adalah seniman sejati. Dia menjadi guru bagi banyak orang dan menjadi pelopor bagi Folk musik Batak yang sangat berjasa membuat pondasi musik rakyat Batak.
    Sayang “Cinta sejati” yang berkobar dalam dirinya membuatnya larut dalam kesendirian dan digrogoti penyakit. Sudah selayaknya ada museum Nahum Situmorang.

  2. Mauliate godang di apparaku SS dan lae MN yang menulis dan memposting article ini….walau aku marga Situmorang, baru kali ini mengetahui secara panjang lebar tentang perjalanan NS yang sangat luar biasa itu ***jadi malu on***

    Mudah2an prakarsa untuk mewujudkan keinginannya didalam lagu “Pulo Samosir” itu suatu saat nanti terealisir….. jangan patah arang seperti CINTAnya kepada boru Tobing itu.

  3. John Pasaribu berkata:

    Dia adalah salah satu anak bangsa yang benar-benar berjasa dan mendedikasikan seluruh cinta, kasih dan hidupnya untuk musik, dan sama sekali tidak terbantahkan.Dia besar dan sangat mengagumkan, lewat karya2nya, Dia seorang genius.Sayang banyak orang yang mengambil kesempatan dari karya yang Beliau relakan untuk dinikmati khayalak publik tanpa batas tanpa ongkos dll.Sadarlah kawan pengacara XXX Situmorang yang menempatkan diri sebagai penerima royalti (karena yayasan yang tak jelas asal-usul dan hulu-hilirnya)terhadap karya karya Bung Nahum Situmorang ,,,,, aplikasikan dululah lagu permintaan lagenda kita ini “Pulo Samosir”.
    Salam Hormat U/ Bung Nahum Situmorang

  4. B.Parningotan berkata:

    Semasa remaja saya adalah pengagum Nahum Situmorang, dan saya banyak mengetahui tentang lagu2nya termasuk lirik liriknya juga.
    Saya pernah ke Medan dan bertemu dengan guru Sopar situmorang (abang kandung Nahum Situmorang), karena ia adalah Ayah dari kawan saya Manumpak Bogart Situmorang, posma Situmorang dan Bistok Sistumorang,
    Sopar Stumorang dahulu juga merupakan Guru dari ayah saya.dan ayah saya sering bercerita tentang Nahum Ssitumorang dan Sopar Situmorang.
    Memang harus diakui bahwa Nahum Situmorang mempunyai andil yang sangat tinggi dalam mempopulerkan lagu batak Moderen.
    Perlu diketahui bangso batak dikenal dalam dua hal yaitu bernyanyi dan main catur.

  5. Ian Anderson berkata:

    *Mauliate godang atas posting ini bapak, menarik sekali kisahanya. Memang sudah saya dengarkan lagu-lagu artis ini dan kebanyakan antaranya sungguh-sungguh mengharuhkan. Sekarang ini kita bisa mengerti secara mendalam bagaimana hidupan Nahum berpengaruh karya-karyanya.

    *Maafkan kalau Ian bukan pengomentar yang pertama, seperti kita sudah berbicara(!).

  6. goklas sinurat berkata:

    mauliate ma tulang boi ni jaha saotik tentang legenda nahum situmorang.
    sai anggiatma tu joloan on boi sukses akka nasinakkapan nirohani Tulang boi terwujud

  7. tanobatak berkata:

    Jeffar, memangkita harus menghargai karya besar beliau, dan satulagi Tilhang Gultom

    Bactiar, ima lae karya tulis dari laeku parangan-angan SS yang kubanggakan itu. Semoga anganangannya untuk memuwudkan museum Nahum di Samosir terwujud.

    John, semoga museum Nahum dapat terbujud dengan dukungankita semua. Dia bukan lagi milik Situmorang, tapi milik Batak.

    B. Parningotan. kalau konser lagu Nahum itu gagal di Indonesia, bagaimana kalau kita serahkan aja ke masyarakat benua Kanguru itu.

    Ian Anderson. Salam untuk keluarga di Inggris. Bagaimana lanjutan studi gondang batak anda. Kapan lagi ke Indonesia untuk belajar menjadi PARSARUNE? Bagaimana kesan anda selama 3 bulan di Samosir kampung Nahum Situmortang itu?

    Goklas. Urupi ,a poang tulangmi ate… rap hita sadalan hehehe…

    Hotman, semiga legenda itu terbujud dalam sejarah dan dapat diteriliti dengan ketersediaan museum Nahum

  8. Rondang br Siallagan berkata:

    Saya baru tahu kalau nyanyian yang sering kunyanyikan..adalah karangan Nahum Situmorang (Saya baca dari Ensiklopedia Tokoh Batak). Selama ini nggak pernah tahu ..siapa Nahum Situmorang…Terimakasih atas informasinya..

  9. Rondang br Siallagan berkata:

    Tidak bosan saya membaca cerita ini..SEMOGA saja suatu saat apa yang menjadi harapan dan keinginannya dapat terkabulkan…sesuai dengan lagu P.Samosir….

  10. ima da amang anggiatma suat sangkap niroha ni almarhum Nahum situmorang legendaris batak seperti lagu ciptaannya beliau diantarkan dan berdiam jasadnya di p samosir.semoga kepandaiannya mencipta lagu sekaligus mengalunkan suara yang mengagumkan diwarisi oleh anak-anak kita bangso batak yang gigih.

  11. Nahum situmorang adalah seniman batak moderen pada jaman itu mungkin, dan jika dibandingkan sampai hari ini belum ada bisa menandingi beliau, jika di bandingkan dengan seniman batak sekarang justru saya pikir ini adalah kemunduran, karena pada masa sekarang justru seniman batak merongrong kazanah budaya batak, merasa sudah maju atau sudah tidak tau aturan dan tuturan bahasa dan budaya batak seniman-seniman batak sekarang menyusupkan bahasa dan gaya berkesenian yang kurang baik, mirip dengan amburadulnya gaya hidup jaman sekarang, tidak perlu jauh-jauh mencari contohnya, lihat saja cara bernyanyi mereka di cafe – cafe batak di pinggiran kota Jakarta, atau lirik-lirik yang ditulis marambalangan pada text lagu, layaknya orang baru belajar berbahasa batak dan ironisnya justru jika kita bilang janggal berbahasa batak banyak kawan2 bangga dengan hal tersebut. Entah kapan lahir putera batak yang sehebat beliau

  12. maridup berkata:

    Ternyata Nahum Situmorang nabonggal sudah berbuat saat orang-orang Batak masih berpikir ditempat. Saya mengira kisahnya hanya seputar Sumut ternyata sebelum saya lahir dia sudah melanglangbuana di pusat Indonesia ini.

    Saran buat bung Suhunan Situmorang agar mengupayakan, jangan karena konflik keluarga, permintaan tondi-nya harus batal pulang ke samosir? masya kita yang enak2 dengar ciptaannya, dia tetap menderita dalam hidup dan matinya! Tragis…

  13. Ai dang holan malasya hape mangolat-olati akke 😉

    toe ma marsada ma hita, anggo ninna rohakku dang holan marga Situmorang nampuna NAHUM SITUMORANG tapi beliau telah menorehkan sejarah, beliau adalah milik negara ini, dan dia akan di kenang orang lewat karyanya.

    Ai ikkon marsada do hita ( khusus na hamu dongan nami sian marga situmorang ) ai sotung didok MALASYA annon,..Sikadi hami do si NAHUM I, ai halak MALASYA do i..ninna.. repot hita!!

  14. B.Parningotan berkata:

    @Hendry Lbn Gaol
    Tutu do na nidok mi, ai bahat do halak hita di Malaysia jala nidok nasida muse ….sian Malaysia do asal mula ni halak Batak…..nga sega bah!!!

  15. Sampai saat ini, baru tulisan ini yang paling lengkap rinciannya tentang Alm.Nahum Situmorang yang pernah saya baca.. Mauliate Lae SS dan Lae M.Naipospos.
    Semoga cita cita Nahum dan Lae SS segera tercapai…

  16. suhunan situmorang berkata:

    @ Sudena napinarsangapan (semua yg saya hormati)
    Mauliate, terimakasih, sdh mau membaca artikel yang lumayan panjang utk ukuran media online ini. Bisa saya bayangkan, pasti melelahkan membacanya. Tapi, karena saya memang sudah lama menyiapkan tulisan ini (bahkan semasa Jan Sinambela, teman NS, pencipta lagu “Dengke Jahir” yg terkenal itu, masih hidup), maka sayang sekali rasanya bila naskah saya potong.

    Saya bicara apa adanya saja dan bukan bermaksud mendiskreditkan punguan marga (keturunan Op. Tuan Situmorang, khususnya mereka yg bergiat di kepengurusan Jabodetabek), masalah ini sudah kelewat sering saya sampaikan, juga saat pembentukan SIMA Center (Situmorang Sipitu Ama) yg saya sendiri termasuk pengurusnya (Membidangi informasi & komunikasi).

    Kesimpulannya, kami (saya katakan kami saja), sepertinya takut sekali menghadapi “dongan tubu” yang belakangan ini mengkalim sbg pemegang royalti atas karya-karya NS itu! Saya heran, bingung, dan hanya bisa “ngongong…” Tak jauh beda ketika saya dng bernafsunya trs melaporkan kehancuran hutan-hutan di wilayah yg sejak masa Sisingamangaraja XII menguasai Tanah Batak sdh diakui menjadi hak ulayat Situmorang (Suhutnihuta) di wilayah Humbang-Tele-Samosir hingga berbatasan dng wilayah Dairi sekarang akibat pembabatan yg dilakukan PT TPL, pembalak liar, dan petinggi-petinggi di Tano Batak (Humbang, Samosir) yg mendapat banyak uang dari hutan-hutan khas Tano Batak yg terus dirambah itu.

    Motivasi utama saya menuliskan kisah NS ini pun, terusterang, agar “loloan natorop” (publik Batak yg akrab dng internet), bisa mengetahui siapakah sebenarnya NS, jasa-jasa beliau pd Bangso Batak, dan agar memiliki sedikit pengetahuan/informasi ttg kemelut yg timbul dari kasus/klaim atas hak cipta dan royalty atas karya-karyanya.
    Semua itu saya lakukan karena sangat sadar, NS, bukan hanya milik marga Situmorang, tapi juga Bangso Batak, dan Indonesia.

    Dengan meluasnya sekarang artikel yg terbilang masih mentah ini, saya sangat, sangat berharap, Bangso Batak yg masih mempunyai hati nurani dan holong, sama-sama ikut peduli atau setidaknya “dohot marsak” (ikut prihatin) atas “penderitaan” almarhum.

    Saya tidak pesimis—pun tdk berani terlalu optimis—impian NS itu akan terwujud di suatu saat. Tapi, setidaknya dng simpati semua orang yg mengetahui masalah ini, termasuk pembaca blog.tanobatak, pihak-pihak yang cuma mau mengambil keuntungan materi dari hasil jerih-payah NS, akan terbuka hatinya–kalau tak merasa malu dan berdosa pada NS dan semua Bangso Batak!

    Yang saya harapkan dari imbas tulisan ini adalah munculnya gerakan moral “laho pasingothon” (mengingatkan) mereka yg tidak menghormati jasa-jasa dan karya almarhum.

    Akhirnya, sekali lagi, saya sangat berharap meluasnya dukungan atau gerakan moral akan mampu meluruskan benang kusut atas hak cipta semua lagu milik NS dan perwujudan impiannya yg sebetulnya tdk mahal itu. Dan, seandainya saja Pemkab Taput atau Samosir mau, tak sulit merealisasikan impian NS itu. Bukankah beliau dulu sdh berjasa turut mencerdaskan orang-orang Silindung dan dua lagunya sangat menonjolkan Rura Silindung? Bukankah Pemkab Samosir mestinya bangga bila mereka mewujudkan impian NS itu? Siapa yg tahu Samosir bila beliau dulu tak menulis lagu Pulo Samosir?

    Semogalah hati dan pikiran para petinggi dan politisi (DPRD) di sana terbuka, lalu mengambilalih “proyek” yg terbengkalai ini.

    Horas ma di hita sude

    @ Lae Monang Naipospos
    Mauliatema lae naburju ala olo hamu maniarhon nahuguraton, sudenai alani holong dht parhatianmuna namansai balga do tu Bangso Batak i. Anggiatma angka nauli nadiulahon muna sahat tu sadari on, manghorhon nadenggan tu saluhutna Bangso Batak dht negaratta on.

    Sahali nai lae, mauliate.
    Horasma di hita saluhutna.

  17. Hodbin Marbun berkata:

    Mauliate Tulang S.S atas tulisan Alm.Nahum Situmorang, gabe niboto riwayat hidup na, ra molo soandon lagu Pulo Samosir na menceritakan hi Nauli ni Samoris dang diboto halak ra didia di Pulo i, mauliate ma di alm.Nahum Situmorang, suang songoni lagu Rura Silindung na patuduhon hinauli ni Rura Silindung di Tarututung, sebagai generasi muda batak kita mendukungdan berdoa agar museum dan tulang belulang Alm Nahum Situmorang mulak tu Samosir,semoga luliasan diatas di baca pejabat( BUPATI) Samosir dan Tapanuli utara asa tar gorat rohana laho marningot Alm Nahum Situmorang.Horas Jala Gabe Mauliate.

  18. sangat disayangkan ketidakpedulian pemda, terlebih pemda Samosir….sebenarnya ini merupakan suatu obyek wisata bahwa orang batak itu ahli dalam bernyanyi dan syair yang luar biasa..

  19. Darman siringoringo berkata:

    Songon-songonima halak hita asa dang boi maju, asal lao marulaon silasni roha manang sidangolon ikkon jolo MARBADA,

    E… hamu akka Bapa tua, amanguda dohot akka Apparakku napinarsangapan, dang boi be hita mardame? Asa saut jolo pangidoanni Amatta guru Nahum situmorang? nunga apala di pangido i dibagas endena…

  20. Pontaseddy berkata:

    3 (tiga) tahun lebih mulai dari th 1970, setiap pergi dan pulang sekolah aku selalu melewati kuburan alm Nahum Situmorang di Jln Gajah Mada Medan,
    Kalau bukan krn ada kuburan Alm NS, mungkin lokasi itu sdh menjadi Mall, sebab saat ini sebahagian kuburan dilokasi tsb sdh dibongkar, al didirikan kantor Perindustrian Medan.
    Dan maaf Amangboru Naipospos, waktu di facebook, pertanyaan amangboru, apa keinginan NS yg belum terpenuhi, ku jawab “Mangoli”, krn setiap kami melewati kuburan Alm NS, teman2 suka membuat teka-teki ” apa keinginan alm NS yg belum tercapai…jawabannya “Mangoli”, apa alasannya
    gara2 lagu “Malala Rohangki”

    Pro Lae SS
    Manang na jolo jongjong ma jo PROTAP, asa terlaksana?

  21. hero dupa sihombing berkata:

    Amangboru,

    Marsattabi ahu mangido ijin dina naing hu bahen artikel muna on tu KASKUS.US forum Medan, asa dijaha angka dongan disi ise do tahe Nahum Situmorang.

    Najolo hubege dope lagu ni Nahum Situmorang sian tape recorder ni damang di jabu, klasik, ai ndang adong lagu na batak na asing na boi hubandinghon to pamilliton hata dohot “persajakan” di lagu ni ibana.

    Mauliate ma hupasahat tu hamu.

    Horas ma

  22. maridup berkata:

    Tu lae ni iba Suhunan Situmorang dohot ampara ni iba Monang Naipospos, molo diijinhon asa hu posting hami artikel on di blog non komersil tanpa merubah satu huruf pun, alai adong saotik tambahan songon kata pengantar + tautan sian TanoBatak. HORAS

  23. Pahala Panjaitan berkata:

    – Tapasombuma halaki marbadai disi (ai halaki do sogot,
    halaki do haduan) alai diluluima Pihak Ketiga na olo
    mansponsori keinginanni Alm. Nahum Situmorang.
    – Cara mangumpulkan dana na cepat dibuat khusus lagu-
    lagu NS sebanyak 120 buah tersebut dalam VCD / DVD
    ( 12 Album) dijual oleh panitia, pasti laris deh dan saya
    yang pembeli perdama.
    – Perhitungannya 12 album x Rp. 50.000,- = Rp. 60.000,- X
    25.000 set = Rp. 1.500.000.000,- tinggal mencari
    tambahannyalah dari para donatur.

  24. iwan bass berkata:

    sungguh ironis memang, seorang seniman sekaliber NS tidak mendapat tempat yang selayaknya, padahal begitu banyak penyanyi2, pemusik2 dan pengusaha bisnis hiburan dan rekaman (yang mungkin bahkan sebagian besar tidak tau dimana kuburannnya NS) yang mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit dari hasil karya2 NS. Kenapa musisi tanah karo, Djaga Depari bisa sampai punya tugu….Selayaknya juga demikian NS. Ayo….Saya juga ketika masih tinggal di medan merasa “tidak sampai hati” melihat pekuburan NS menjadi “sarang waria” di malam hari……ironis…

  25. tumpal hendry Sihombing berkata:

    Bagus itu usul Lae Pahal Panjaitan.
    tapi aku punya usul tambahan.
    Beha do molo ta pasada ma jo angka sude artis-artis batak tarlumobi tu angka artis-artis yg menjadi besar karena karya-karya Nahum Situmorang untuk menjadi OC dari niat baik ini
    Sebagai masyarakat batak, maupun sebagai anggota dari punguan Ni Marga-marga mari kita beri dukungan sebagai legitimasi kepada artis-artis batak tersebut.
    perlu saya jelaskan kenapa perlu kita memberikan legitimasi,
    karena kita adalah orang-orang yang dipersatukan oleh Nahum Situmorang melalui Lagu O Tano Batak, yang sering dan kita lantunkan pada saat-saat pesta marga lagu ini telah menjadi pengikat bahkan menjadi sebuah lagu “kebangsaan” yang secara sadar kita pilih karena sangat universal bagi orang batak toba, humbang, silindung dll.
    lalu kenapa saya memilih Para Artis-artis batak sbg OC, karena mereka harus punya tanggung jawab Moral atas ketenaran mereka.
    selebihnya secara teknis saya setuju dengan lae Pahala Panjaitan

    Sebagai tambahan dan peringatan karena ini tanggung jawab Moral diharapkan artis-artis tidak mengharapkan imbalan apalagi berupa materi dari proyek niat baik ini

    Ndang pola lomo rohangku molo gabe ulaon pemerintah manang DPR sangkap ta on. Molo na dirohangku ingkon jadi ulaon ni sude halak batak do on ta mulai ma sian papunguhon sude ketua-ketua ni Punguan Ni Marga-marga batak i sebagai SC.
    Anggo gabe ulaon ni pamarentah do proyek on, dang mungkin saut on sahat tu taon 2020 on. Ai gabe proyek bisnis do annon on.

    Menurut saya pemindahan Makam NS, bukanlah suatu yg berkait dengan hukum adat Batak (tolong dikoreksi jika saya salah) mengingat NS meninggal dalam keadaan Lajang setahu saya, Adat batak tidak menempatkan orang yg belum menikah sebagai “subyek hukum adat” yg punya posisi penting.
    Dari titik pemikiran inilah makanya saya mengusulkan ini harus menjadi “tanggung jawab sosial” semua orang batak karena kita orang bataklah yg paling menikmati karya-karya sosial (seni) beliau

  26. saleh w siregar berkata:

    dulu, waktu kami masih kecil di Sipirok, sering sekali2 melagukan karya2-nya Nahum Situmorang,,tapi yang saya gak tau juga..kampungnya di Sipirok,,dimana ya

  27. Saya baru tahu cerita Nahum Situmorang sang musisi dan penyanyi yang legendaris itu. Terima kasih buat artikelnya. Setelah saya membaca artikel ini, saya merasa berhutang banyak kepada Nahum Situmorang. Memang saya bukan seorang yang suka bernyanyi tetapi sangat senang mendengarkan lagu2 nahum. Selain maknanya dalam juga liriknya sangat indah. Benar apa yang dikatakan lagu2nya dapat dikatakan penuh dengan Estetika ragam kehidupan. mulai dari rasa sedih samapai rasa senang.

  28. Bilman Simanungkalit berkata:

    Terimakasih untuk penulis.
    Sungguh bagus, menyadarkan saya akan kebesaran Nahum Situmorang (NS). Kita doakan supaya keluarga Nahum Situmorang itu rukun dan harapan NS seperti tertulis dalam lagunya Pulo Samosir itu akan terealisasi.
    Kami semua siap membantu jika sinyal telah keluar dari mereka.
    Horas!

  29. P. D. Marpaung berkata:

    Horas ma di hita sudena.
    Saya tidak tahu partaromboan ni Nahum Situmorang, tetapi berkenaan dengan buah karya anak bangsa yang dihadirkannya, perlu kita renungkan :
    1. Hak Kesulungan serta seluruh aspek ikutannya sesuai dengan Hukum Adat Batak dengan segala pendekatan Habatakhon yang santun.
    2. Siapapun penerima royalti tsb, (..semoga sesuai dengan Habatakhon), kita berharap, kiranya dia berkenan utk memenuhi harapan sederhana anak bangsa tsb.
    3. Kalaupun penerima royalti tsb tidak berkenan, kita doakan spy dia panjang umur dan sehat selalu (..hehehe..).
    Horas.

  30. sahat malindo situmorang berkata:

    tu hita punguan tuan situmorang sipitu sada ama , songon na didok ni tulang Panjaitan ” hita do sogot hita do haduan “..
    Mansai las do rohakku manjaha isini blog tao toba on , ai nga huboto be hape sejarah ni oppu ta tuan Nahum Situmorang..
    Mansai las ma nian roha ate anggo boi gabe na diparsangaphon ni oppung i…
    Ai boa ma bahenon asa boi ma niboan saring2 ni oppung tai tu Bona Pasogit ta i ( Urat )..
    Sai anggiat ma dilehon tuhan hahipason dohot kejernihan pikiran di hita namardongan tubu , terutama di dongan tubu na lagi berselisih asa sai sada ma roha mamikkiri mambaen asa gabe na diparsangkap ni roha ni Oppung ta NS i , asa boi diboan saring2 nai tu Bona Pasogit..Songon na di ende ” Pulo Samosir ” i..
    Hu endehon ma so saotik he..he.( Lagu kesukaan soalnya )..
    Pulo Samosir do…Haroroanku samosir do
    Ido asalhu sai tong ingotonku
    saleleng ngolukku hupuji ho..
    Disi do pusokki …..pardengkeanku haumanki
    gok disi hassang , nang eme nang bawang
    rarak dok pinahan tusi ma ro…
    Lao pe au marhuta sada tung so pola leleng
    Nga mulak au..
    Diparjalangan nang sonang au sai tu Pulo Samosir
    masihol au..
    Molo marujung ma…muse ngolukku sai ingot ma
    Anggo bakke ku..disi tanomonmu
    Disi Udeanku..
    Sarihion ma…
    ( Sai anggiat ma ate Oppung )
    Horas ma di hita saluhutna akka pomparan Tuan Situmorang sipitu sada ama na di luat portibion..
    Salam hormat buat abang ku SS tarlumobi buat tulang Naipospos , Mauliate…

    Sahat Malindo Situmorang
    Riau ( Asli Siantar )
    Bona Pasogit : Huta Sosortala – Samosir
    Horas….

  31. bernando sitohang berkata:

    Bapak Nahum Situmorang,bukan hanya milik kami marga Tuan Situmorang Sipitu Sada Ama….melainkan sudah jadi milik bangsa Indonesia,khususnya kita Bangso Batak.
    Jadi lokma marbadai halaki namar haha maranggi i,alani royalti.
    Tapi karna niat pak SS ini baik,alangkah baiknya kalo impian pak NS ini kita wujudkan untuk dikuburkan kembali ke pulau Samosir nauli i.
    Saya setuju dengan usul Bapak Pahala Panjaitan.
    Terimakasih….salam.

  32. Edmund Manurung berkata:

    Dia Adalah Pejuang…

    Aku mengagumi semua ciptaanya…

    Turud Berduka Atas konflik yang terjadi…

  33. saya juga berterimakasih banyak yang membuat cerita guru nahum situmorang.aku sangat bangga memiliki saudara seperti guru nahum situmorang semoga apa yang dia pesan untuk kita cepat tercapai…….
    aq mengangumi semua lagu2 ciptaan ya yang penuh arti kehidupa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  34. Charliston Panjaitan berkata:

    belum ada orang batak batak yang bisa menyamai beliau (Nahum Situmorang) dalam hal mencipta lagu. Guru Nahum memang seniman hebat.
    ada nggak Foto beliau.

  35. Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden SBY Piagam Anugerah Seni yang diberikan Menteri P&K, Mashuri, pertanda kalau Bapak Almarhum Nahum Situmorang bukan milik keluarga kandung saja tapi sudah menjadi milik bangsa indonesia, oleh karenana kepada keluarga yang ribut masalah royalti agar TAU DIRI selama ini kamu-kamu pada kemana kok sekarang jadi ribut dasar MATA DUITAN dan kepada pengacara marga situmorang ente itu siapa KERJA ANDA CUMA BIKIN RIBUT SAJA. Bapak Alm. Nahum Situmorang kecewa dengan anda-anda yang telah meributkan royaltinya, anda-anda yang cuma MATA DUITAN haram jadah kalian semua. kepada bapak Sianipar dan MN tolonglah agar rencana pemindahan tulang-tulang alm diurus kembali demi cita-cita beliau….

  36. Shaut Hutabarat berkata:

    Wah, terlambat saya baca tulisan lae SS yang sangat menarik dan inspiratif ini. Baru kali ini saya membaca perjalanan karier seorang maestro lagu Batak, Nahum Situmorang. Jadi tertarik juga untuk bikin… [diboto lae SS do i, aha na terbetik di pikiranku]. Tapi, sungguh ironis mengetahui royalti dari karya almarhum jadi ajang rebutan. Sudah selayaknya hasil royalti itu dipergunakan untuk hal-hal kebaikan, salah satunya membuat museum serta pemindahan kuburan almarhum. Atau, diperuntukkan menyumbang halak hita yang benar-benar butuh pertolongan, seperti panti asuhan dll.

    Saya selalu tergeletik setiap kali lewat di persimpangan jalan Iskandar Muda dengan dan Sei Wampu menuju Padang Bulan, Medan, sebelah kanan. Di situ ada monumen [tugu] komponis lagu Karo, Djaga Depari. Lha, saya berpikir; “kok sekaliber almarhum Nahum Situmorang, tidak ada prasastinya sebagai penghormatan dari orang Batak Toba atas jasa-jasa beliau?” [Saya tidak menyebut punguan marga Situmorang, karena almarhum sudah milik masyarakat umum oleh karya-karyanya].

    Saya setuju dengan usul beberapa teman di atas, jika kita [Batak Toba] memang berniat untuk menghormati jasa beliau, taklah harus mengharapkan dari hasil royalti. Biarlah hal itu dipergunakan yang mengambilnya, dan semoga tidak menjadi bala baginya. Horas ma di hita sude.

  37. ……. Dari semua komentar dalam blog ini … hanya satu yang paling tertarik bagi saya yaitu komentar Sdr. Pahala Panjaitan, karena persoalan garis keturunan darah, royalty atau Marga, ataupun Adat, semua itu indikasi primordialis yg menurut saya mempersempit wawasan dan penghargaan terhadap ‘Sang Maestro Nahum Situmorang’ !!!

    ……Saran saya, …..Situmorang Sipitu Sada mempersilahkan Marga – marga lainnya, atau Suku-suku bangsa lainnya mis. (Jawa, Minangkabau, Ambon dll ) bahkan bila perlu kewarga negaraan selain Indonesia pun welcome !!

    ….. Untuk menjadi Ketua /Pimpinan Pembangunan Tugu atau Monumen, atau Museum, atau Pemrakarsa pemberian tanda Jasa Kepahlawanan Nasional bagi ‘Sang Maestro Nahum Situmorang’ .

    …… Yang penting adalah ide – ide menumbuhkan-kembangkan kreasi kesenian dan kebudayaan itu tetap eksis di bumi Nusantara tercinta ini .

    ….. Ingat bangsa yang besar karena menghargai Jasa para Pahlawannya !!

  38. David sinaga berkata:

    Mendengar lagu pulo samosir saja, serasa kita telah berada di Pulau Samosir, saya yakin jika lagu kebangsaan kita ciptaan Nahum Situmorang pasti kita akan cinta tanah air, tidak seperti orang Kita Indonesia yang sekarang. Kurang jiwa Nasionalisnya. Nahum Situmorang merasa kecewa berat karena lagu ciptaanya hanya jadi juara dua dan tidak pernah dipublikasikan. Kita juga harus mencari lagu ciptaanya tersebut, jangan hilang begitu saja. Jangan hanya mempermasalahkan pemindahan kuburannya ke Pulau Samosir. Saya terkejut juga heran, baru mengetahui bahwa beliau juga menciptakan lagu untuk dijadikan lagu kebangsaan Indonesia.

  39. mangadar sinaga berkata:

    Kita sangat prihatin dengan kondisi ini. Kalau mereka sadar, harusnya hasil dari royalty yang diterima mungkin cukup untuk merealisasikan niat baik ini. Masyarakat batak terkenal dengan keterbukaannya, musyawarah (demokrasi)nya melalui dalihan natolu, maka untuk mewujudkan keinginan almarhum saya mengajukan pendapat :

    1. Pihak-pihak yang bertikai karena masalah royalti, supaya diajak secara keluargaan duduk bersama oleh Punguan Situmorang sipitu ama untuk menjelaskan bahwa keuntungan yang didapat kemungkinan bukan hanya royalty lagu aja, tapi mungkin juga bisa didapat dari hasil pemindahan makam almarhum NS.
    2. Apabila tidak ada kesepakatan dan kemauan untuk memindahkan, maka dengan berbesar hati pihak yang berkonflik haruslah mau dengan hukum yang berlaku di negara ini membuat surat pernyataan tidak keberatan jika ada pihak lain yang mempunyai keperdulian terhadap almarhum untuk mewujudkan keinginannya.
    3. Sehubungan Pemerintah sudah memberikan pengakuan melalui penghargaan yang diterima almarhum, maka apabila tidak ada jalan lain, maka sebaiknya dimintalah keterlibatan pemerintah, khususnya kepada Pemkab Samosir supaya direalisasikan dan dibuatkan museum terhadap karya-karya almarhum. Hal ini sejalan dengan program pembangunan Pemda Samosir dibidang pariwisata. Keberadaan makam dan museum tentunya akan membawa keuntungan tersendiri bagi samosir, sebagai tempat tujuan wisata (situs budaya)

    Sebagai orang samosir, saya sangat berharap dapat segera terwujud maksud baik ini, karena samosir nantinya akan banyak dikunjungi oleh wisatawan dan peziarah, ini sangat signifikan menambah pendapatan daerah. Aek godang tu aek laut, dos ni roha do sibahen na saut. Horas….!!

  40. Robin Siadari berkata:

    HORAS,,…
    Saya masih ingat cerita Bapak saya, mengenai Beliau, dulu sering bersama Alm Nahum S, dari menyanyi sampai mengarang lagu , Bapak saya sering yang menulis, di kala Beliau mengarang lagu, Bapak saya anggota VG SOLUBOLON,, dan sampai hari ini Bapak masih sehat, dengar umur 76 TAhun,, sampai sekarang sisa video Solubolon, masih ada di medan, dan Tinggal Bapak saya, yang masih hidup dari SOLUBOLON,,
    Sampai saat ini pengen mengumpulin Album Solubolon,, cuma waktu yang belum bisa,,
    Mudah2an di masa akan datang bisa di buat, bahkan mempunyai web solubolon,,
    tapi kalo ada yang bisa bantu saya ucapkan terimakasih,,

  41. Tamalia Alisjahbana berkata:

    Saya bukan orang Batak tetapi seperti jutaan orang Indonesia lain, lagu-lagu Nahum Situmorang selalu membuat saya senang dan setelah mendengar lagunya hari selalu menjadi tambah cerah.

    Mengapa di Jakarta tidak ada Jalan Nahum Situmorang? Mengapa jalan di sini rata-rata diberi nama tentara atau politikus? Di Jakarta ada kurang banyak jalan yang diberi nama orang yang membuat bangsa kita tambah pintar atau tambah senang. Sudah waktunya orang seperti Nahum Situmorang diberi bintang Maha Putera. Sudah waktunya kita menghargai orang-orang Indonesia yang kreatif. Menteri Perdaganagan, Ibu Mari Pangestu mengatakan bangsa Indonesia harus lebih banyak menjual kreativitasnya. Ok, ‘Bu, bagaimana kalau pemerintah mulai dengan memberi bintang Maha Putera kepada lebih banyak seniman dan orang kreatif? Mulai dengan Maha Putera untuk Nahum Situmorang yang telah menambah kebahagiaan bangsa Indonesia dari berbagai suku dengan lagu-laginya dan yang juga telah menyumbang benda kreatif yang bisa dijual.

  42. b.parningotan berkata:

    Wah membuat orang tetap mengingat jasa Nahum Situmorang dengan mencantumkan namanya pada nama jalan utama /jalan raya itu ide cemerlang

  43. Merina Lusia Situmorang berkata:

    Horas buat semua ito2, kaka ,amang , namboru ,opung , pariban..
    Tuhan memberkati
    Semoga pomparan si7 ama jaya salalu

  44. Oscar Perapat berkata:

    Terima kasih atas pemuatan tulisan yang mendalam ini. Saya ingin menghubungi Saudara penulis untuk keperluan riset kecil , adakah pembaca yang bisa membantu?

  45. johannessimatupang berkata:

    Terima kasih, tulisan di atas saya tahu tak pernah cukup mengungkapkan kepribadian Nahum secara utuh. Hal yang paling saya ingat adalah lagu Marragam-ragam yang ternyata diilhami substansi kehidupan yang plural. Bisa menerima orang lain, tanpa mengabaikan dirinya sendiri asalkan semua itu dilandasi rasa kasih (holong). Dalam hal ini, orang Batak harus diingatkan lagi, tentang sifat plural yg dapat saling menerima satu dengan lainnya. Asal boleh saja berbeda, akan tetapi substansi saling mengasihi yg dirancang dalam rancang bangun dalihan natolu itu universal dan pemersatu dimanapun orang batak berada. Horas.

  46. Elida Gultom berkata:

    Mauliatae Amangboru SS (SUHUNAN SITUMORANG,..).
    Aku hanya tahu sedikit tentang Sang “GURU, NAHUM SITUMORANG”..
    Dengan tulisan ini banyak menambah wawasan ttg ” MAESTRO BANGSO BATAK NAHUM SITUMORANG”
    Semoga yang mengklaim ahli waris NS,,sadar dan mau berbagi sedikit untuk sang GURU untuk bisa dimakamkan di bona pasogitnya. ,,
    Teruskanlah amangboru SS berbuat baik sebagai pegiat monumen sang Guru,,,,Semoga..

  47. Sungguh Ironis kalau seorang anak bangsa ( Nahum Situmorang ) yang sudah begitu banyak berjasa pada bangsa dan negara ini ( terutama untuk kaumnya bangso Batak ) harus menunggu terlalu lama keinginan panggilan jiwanya yang ingin ” Pulang ” ke tanah leluhurnya Pulo Samosir kita abaikan. Saya sangat etuju dengan ide lae P.Panjaitan itu, mari kita bersama-sama seperti pesan Opputta si jolo tubu, marsada ni roha , marsiurupan, marsitogu-toguan songon suhat di robean ( maaf kalau kutipan ini salah ) supaya yang berat menjadi ringan. Doa saya untuk keluarga pemegang royalti agar cepat bersatu dan ihklas dan menyadari kekeliruan masing-masing. Percayalah semakin banyak kita menabur, akan semakin banyak kita menuai.
    Mauliate. Horas!!!!

  48. Sihar Simarmata berkata:

    Seluruh bangso batak sudah merasa meliki sang Guru ini. Dan permintaanya untuk bersemayam abadi di Samosir. Maka ini adalah tanggung jawab kita semua, termasuk menyatukan pihak ahli waris yang bertikai lebih dahulu.

    Pada ahliwaris yang bertikai kiranya segeralah bersatu, kalau tidak maka sifat buruk ini akan tersiar seluas sinar bintangnya sang Guru sampai ke ujung bumi.

    Ingot: Unang gabe songonon hamu di baen pinomparmuna muse.

    tabe.

  49. Saor Silitonga berkata:

    Rasanya belum ada tandingan NS sampai saat ini. Sekarang, menurutku, kita hanya punya Dakka Hutagalung dan Iran Ambarita yang memberi sumbangan berarti dalam khasanah lagu Batak, di samping nama lainnya seperti William Naibahao yang lebih junior. Tetap rasa NS memiliki bumbu khas dan mendalam… Sewaktu sekolah di SMA Negeri 1 Medan, pernah kududuk berlama-lama di makam NS…heran aku saat itu…koq orang sehebat ini berakhir spt ini? Jangan hanya marga situmorang dong….silitonga juga mau berperan…semua juga mau…memberi hati bagi NS.

  50. Ria Hutabarat berkata:

    “Luar biasa”.. hanya itu yg mampu kuungkapkan. Sy membaca artikel ini krn seorang teman (halak Jawa) menulis di milis kami, ia jatuh cinta pada lagu2 Batak. Teman ini (profesinya EO) berpikir hanya NS pencipta lagu2 Batak hehe (mungkin krn lagu2 NS yg banyak ia koleksi). Sy mau merespons tulisannya di Milis kami, mhn ijin mau kutip bbrp kalimat “pujian” untuknya. Mauliate godang amang SS yg sudah menulis artikel ini dgn hati. Smg terwujud cita2nya.

  51. Saladin Silitonga berkata:

    Pasti banyak penyanyi dan pengarang lagu Batak yang berbakat dan yang bertalenta untuk itu jangan ditahan-tahan, kembangkanlah bakat itu dan jangan ditunggu-tunggu,dan wujudkan dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, karena karya itu dengan sendirinya akan mendapat appresiasi yang seimbang. Percayalah. Tapi tolong ciptakan dan nyanyikan jugalah Lagu-Lagu Pujian untuk Tuhan kita Jesus Kristus yang memberikan kerongkongan emas bagi Saudara-saudaraku. Walaupun almarhun Nahum Situmorang telah tiada namun pasti banyak Nahum yang belum kita kenal. Tunjukkanlah kepada kami yang menunggu penampilan karyamu. Horas.

  52. Pahala Panjaitan berkata:

    Para komentator nunga godang ai bohado ise do na olo mamungka / mamulai parhalatan on asa sae urusan mamindahon bangke nilae i sian medan tu samosir

  53. junius hutasoit berkata:

    luar biasa, aku bangga menjadi orang batak yang mempunyai legendaris seperti Nahum Situmorang.

  54. Horas di Penulis….

    Mauliate di sude informasi kehidupan ni Maestro ni Bangso BATAK on bah…
    Mangido izin mamuat di blog-ku Lae….Sai anggiat sude na ni parsitta ni Alm. Guru i sahat ditingkina…

  55. maruli sitorus berkata:

    Nahum adalah seniman sepanjang masa, mari kita wujudkan impiannya supaya bisa dipindahkan ketanah leluhurnya di pulo samosir,kelak akan menjadi sejarah untuk kepentingan melestarikan budaya batak agar tidak punah dimakan jaman.

  56. Ucok Blue Eagle berkata:

    Terimakasih Bang SS atas tulisannya 🙂
    ini ada penggalan rekaman video lagu Si Boru Enggan ciptaan Nahum Situmorang yg saya unggah di youtube, saat kami nyanyikan bersama kawan-kawan ‘Par Sipirok’ di bunker Metro Mini 610 Pondok Labu pada awal Januari 2012 lalu.

    Si Boru Enggan (sian Sipirok)

    Ulang lupa hamu bayo anggo ke tu Sipirok
    Mardalan tu huta Baringin nang Parau Sorat
    Ai dalanan mu juo ma muse Pagaran Batu
    Ke he tu dolok tu Batu Holang tu Batu Holang

    Ulang lupa hamu bayo anggo giot mardongan
    Raphon dohot bujing najogi sang ape nadenggan
    Asa adong dongan mangecet bo pe namardalan
    Bujing najogi siboru enggan siboru enggan

    Reff.
    Ai dalanan mu juo ma muse dolok na timbo
    Torlangge dohot simamujing nang Simago mago
    Disi hatubuan ni hunik hotang dohot kopi
    Ima nasinuan ni siboru enggan bujing najogi

    Manuat ma muse dongan tu Muara Siregar
    Raphon dohot bujing najogi ke tu Sialagundi
    Malo malo maho dongan molo mangikat janji
    Acco ra ia di ho Siboru enggan bujing najogi

    Kema dongan ke tu Sipirok i
    Tu huta ni tulang marga siregar i
    Akke bahat disi da bujing najogi
    Acco marhusip hita na ro on disi

  57. saya adalh remaja 18 tahun
    pertama kali dengar cerita opung
    situmorang dari ayahku
    seakan akan sudah menjadi cerita rakyat.tapi jika semua ortu seperti ayah saya maka sang lagenda gk bakalan hilang dari ingatan ank muda
    saya percays!!
    pernh dengar judika sihotang!?
    kissah cinta dan talent yg dia miliki
    hampir seperti beliau
    misallnya soal kesetiaan cinta
    horas opung situmorang pos roham
    nunga hu jaha biografi ho
    terinspirrasi do iba
    naeng mambaen konser paringoton
    halak batak ise do ho
    doa hon ma opung asa gabe jolma na hasea au

  58. Nahum adalah seniman sepanjang masa, mari kita wujudkan impiannya supaya bisa dipindahkan ketanah leluhurnya di pulo samosir,kelak akan menjadi sejarah untuk kepentingan melestarikan budaya batak agar tidak punah dimakan jaman.

  59. Parsamosir berkata:

    Mauliate atas artikelnya.Membaca riwayat hidup singkat guru Nahum Situmorang serasa menghadirkan kembali sang guru ke dalam kehidupan nyata dunia blantika musik Batak.Satu lagi tokoh musik Batak yg ingin saya ketahui riwayatnya adalah Ismail Hutajulu.

  60. sanggam tobing berkata:

    Tamalia Alisyahbana, terimakasih atas perhatian Anda. Memang kami orang Batak kurang menghargai sejarah. Untuk memindahkan tugu Sisingamangaraja dari Tarutung ke Balige saja, harus inisiatip Bung Karno, yg beliau utarakan ketika berkunjung ke Tapanuli utk kedua kalinya di tahun 1950-an.
    Alasan pemindahannya, karena Balige adalah basis perjuangan SSR-XII ketika melawan penjajah Belanda.
    Terlepas dari ‘mata-duitan’ dsb, mengurus royalty lagu ciptaan Nahum S adalah patut, bahkan sudah terlambat. Bahkan royalty lagu Butet yg sudah direkam dalam berbagai bahasa di Cina, Taiwan, dll juga perlu diurus — sekalipun pemilik lagu itu adalah anonim.
    Setuju dgn komentator lainnya, jangan sampai Nahum S diaku-aku Malingsia sbg WN-nya. Yg lebih dikhawatirkan jangan sampai lagu ciptaannya diaku-aku sbg ciptaan warga M’sia.
    Mengurus royalty sudah sekaligus memantapkan posisi pencipta lagu, maka marilah kita lebih melihat sisi baiknya dp praduga ‘mata-duitan’ dsb. Sementara masalah pertikaiannya, itu biasa di kalangan halak-hita dan bisa diselesaikan secara adat

  61. harry pane berkata:

    Buat marga situmorang yg meributkan masalah royalti makan kalian lah itu!!!

    Aku sebagai keturunan dari keluarga situmorang cukup malu..dan bersedih.
    Doaku sama Tuhan aku mau mengurus kuburan Opungku Nahum situmorang.
    Karna aku dan ayahku Salomo Pane (manager Morbid medan/ banana split) mengikuti ETIKA bermusik dan bukan untuk mengumpulin UANG!!
    Op. Nahum itu orang kaya..
    Pada akhirnya dia Makin KAYA, kaya akan pengetahuan dan Nilai Kemanusiaan.

    Belajar menghormati kau Lae lae, tulang, amang, opung.
    Di medan lah penghargaan akan leluhur itu KURANG.

    Kuburan nya aja gk ada yg tau pasti dimana..
    Kasian kuburan nya di tengah kota berpatung gitar disamping sekolah tak banyak yang tau.

    Salam buat yang membaca, terima kasih buat Penulis Tulang.
    Mauliate.

    Sehat selalu Tulang.
    Horas

    Harry sitorus Pane(trmb.14)
    Sipirok pb.

  62. Mauli godang tu alak lae dohot tu sasudena nadohot mangangkat sejarah ni appara NS.au sebagai marga situmorang dht bangga tu sasasude perjuangan,karya naibaenni oppung ta Nahum situmorang on.soalna saleleng au mangolu ondope hubotokisah ni musisi legendaris batak(NS) secara jelas.mudah mudahan ma nian terwujud pangidoan dohot harapan ni ima musisi legendaris kebanggaan ta”nahum situmorang”aminnnnn

  63. ahong francisco situmorang berkata:

    saya sngat sedihmndengar critanya,kalau saya org kaya saya akan slalu ingat sama op.nahum.sebab bpk op saya dgn bpk nahum abg adik.

  64. Hotman Dhex Shooting berkata:

    aku gak sanggup dengar kisahmu apraku, hingga aku mengeluarkan air mataku.
    aku salut & bangga samamu apra.

  65. maju torus hutasoit berkata:

    Mauliate tu amang ss dht mn,naung mambaritahon sejarah ni amang ns, saleleng on ndang binoto,,hu bdukung hami do hamuna nanaeng mambaen sada monumen I,,jala ndang holan marga situmorang be nampunasai,sude do hita bangso batak nang pe bangso indonesia on,ai aset negara doi namamparjuanghon bangsoon,.mlt ma

  66. ferry kinalsal berkata:

    Mauliate godang to Lae Suhunan Situmorang atas artikel komponis besar Nahum Situmorang yang tidak saja (sebenarnya) milik keluarga Situmorang yang bertikai merebut hak royalti. Menjadi lebih tahu lagi kehidupan sang seniman besar kita. Semoga para ahli wari sudah berakhir pertikaiannya.

  67. Aperdi Situmorang berkata:

    Terima kasih kepada SS dan MN yang telah banyak memaparkan sejarah perjalanan musisi Alm NAHUM SITUMORANG semoga bermanfaat bagi generasi kita.

  68. darman simamora berkata:

    mauliate ma lae tung godang do lapatan ni surat muna on di au pribadi , sian nametmet pe au tikki di huta sai rikkot situtu do rohakku mandiori informasi taringot di si nahum situmorang . mauliate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s