JERITAN RAKYAT BULU SILAPE

Monang Naipospos

Bulu Silape adalah sebuah dusun di Desa Sianipar II Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir (dulu Kabupaten Tapanuli Utara). Rakyatnya hidup tenteram, walau hanya bertani tanaman pangan, mereka tidak terlalu mengeluh dalam memenuhi hidup sehari-hari. Ketenteraman hidup ini mulai terusik sejak mulai beroperasi pabrik bubur kayu PT Inti Indorayon Utama (IIU).

Pada tahun 1987, pabrik yang berdiri di Sosorladang Porsea (saat ini Kecamatan Parmaksian) itu hendak membangun jalan menuju Simare untuk mengangkut pohon pinus yang tumbuh subur disana dan peruntukan penenaman kembali pohon Ekualiptus sebagai lanjutan bahan baku pabrik.

Selama pembangunan jalan, sering terjadi longsoran bekas bukaan jalan di lereng bukit Tampean yang terjal menutupi persawahan penduduk. Sebagai tanggung jawab IIU, sawah petani yang tertimbun longsoran diberi ganti rugi pembersihan dan hasil padi sebanyak dua kali masa tanam (1987-1988)

Pembuatan jalan yang mengabaikan dampak lingkungan itu semula sudah diprotes masyarakat. Ganti kerugian sawah tertimbun tidak membuat mereka senang. Kecemasan tetap menyelimuti hati masyarakat. Dua saluran air untuk persawahan mereka tertutup dan goa mata air di lereng bukit dibiarkan tersumbat. Ketelodoran ini menurut masyarakat, mengakibatkan aliran air mencari celah dengan liar karena aliran alam sudah terganggu. Getaran tanah mempermudah air menyusup, ditambah bila hujan turun sehingga tanah yang menyatu dengan dinding bukit  semakin larut dengan air mulai memisah.

Apa yang menjadi kecemasan masyarakat terbukti sudah. Pada tanggal 25 November 1989 dinding gunung melorot longsor dengan kecepatan tinggi ke lembah dan melompat ke perumahan penduduk. Sebanyak 13 orang meninggal tertimbun tanah (satu belum ditemukan) bersama puluhan rumah. Lembah yang menjadi rounding pelontar tanah adalah persawahan penduduk yang hingga saat ini diperhitungkan sekitar 522 rante tidak dapat diusahai.

Masyarakat mengakui pernah mendapat bantuan pembongkaran rumah penduduk ke lokasi yang lebih baik, perbaikan makam korban, bantuan atas kerusakan lahan. Namun mereka mengakui bantuan itu tidak cukup untuk biaya perpindahan. Pemerintah daerah Taput juga mencari solusi. Sebanyak 175 KK diberi PIR (Transmigrasi) sawit. Namun tidak semua penduduk yang menjadi korban yang mendapat PIR tersebut. Ditengarai ada sebagian yang bukan korban mendapat jatah.

23 TAHUN PENANTIAN

Kehilangan lahan sawah penduduk sudah berlangsung selama 23 tahun. Tidak ada kekuatan masyarakat membersihkan lahan sawah yang tertimbun yang terdiri dari gundukan tanah dan bongkahan batu besar. Beragam upaya pendekatan oleh masyarakat diabaikan IIU, hingga IIU dihentikan operasionalnya tahun 2000 atas tuntutan masyarakat.

Setelah re-operaional pabrik itu tahun 2003 dengan nama baru PT Toba Pulp Lestari yang dihiasi kalimat penyejuk hati “Pradigma Baru”, masyarakat mulai terbuka harapannya bahwa penderitaan mereka akan ditanggapi dengan pradigma baru itu.

Bupati Kabupaten Toba Samosir pada 6 Juni 2009 merespon keluhan masyarakat. Seluas 522 rante sawah yang memberi hasil 10 kaleng padi per rante, selama 20 tahun agar digantikan. Solusi yang ditunjuk adalah dari dana Community Development.

Surat Bupati tidak diindahkan PT. TPL, masyarakat kecewa. Tak ada cara lain, jalan operasional TPL yang melintasi desa mereka pada minggu ke 2 Maret 2010 dihempang. Truk pengangkut kayu untuk parbrik terhambat, walau tidak sampai menghambat kenderaan penduduk sejenis minibus. Aksi yang dilakukan pun mendapat reaksi dari Polres Tobasa, jalan umum harus dibuka. Walau masyarakat tidak mengakui jalan itu sebagai jalan umum tapi jalan perusahaan PT TPL.

Jalan rekonsiliasi dipikirkan Pemkab Tobasa. Pada tanggal 25 Maret 2010, masyarakat Bulu Silape sekitar 50 orang bertemu dengan Pemkab, PT TPL, Kapolres di Balai Data Kantor Bupati Tobasa. Walau tidak diharapkan (tidak diundang) menjadi peserta, Ketua DPRD Tobasa Sahat Panjaitan bersama 4 orang anggota DPRD Tobasa hadir pada pertemuan itu. Hadir juga pada pertemuan itu Lundu Panjaitan, Komisaris Independen PT TPL, Hasudungan Butarbutar, Sekretaris Yayasan Tobamas (penerima kucuran dana CD TPL) yang juga merangkap sebagai anggota Tim Independen pemantau reoperasional PT TPL.

Lundu Panjaitan saat mengawali ceramahnya mengutip kata “Jangan Ada Dusta Dintara KIta”. Lundu diprotes kaum perempuan penduduk Bulu Silape saat dikatakan bahwa peristiwa itu murni bencana alam, bukan karena TPL. Mereka dengan tegas mengatakan peristiwa itu adalah karena adanya pekerjaan jalan pada dinding tebing curam Bukit Tampean. Sudah ratusan tahun mereka tinggal disana tidak pernah mengalami mimpi buruk seperti itu.

Masyarakat juga kecewa dari penjelasan Hasudungan Butarbutar yang mengatakan Surat Bupati bukan hasil musyawarah, tapi upaya menenangkan masyarakatnya. Tidak terlihat Independensi Hasudungan dalam merespon aspirasi masyarakat. Ditegaskan pula oleh Firman Purba salah seorang Direksi PT TPL yang mengatakan bahwa Surat Bupati menjelaskan kembali masa lalu. Tidak dapat dijawab karena seolah-olah memposisikan direksi baru bertanggungjawab ke masa lalu. Surat itu bisa membuka polemik panjang, dan tidak mendudukkan posisi yang sebenarnya antara bencana alam murni atau dampak pembangunan jalan.

HARAPAN YANG MASIH TERTUNDA

Tidak ada titik terang dari pertemuan ini. Manuasa Sianipar anggota masyarakat yang menuntut menyatakan siap jadi tumbal hingga dipenjara bila upaya mereka dengan cara mereka menutup jalan dianggap pelanggaran hukum, sampai tuntutan mereka direalisasikan.

Dengan mengandalkan dana CD melalui Yayasan Tobamas juga belum jelas. Yayasan itu masih dalam proses audit kegiatan tahun 2007. Kucuran dana 2007 saja masih terealisasi 3 miliar dan sisa 4 miliar lagi dalam tahap program. Dana CD 2008 hingga tahun 2010 berarti belum dapat direalisasikan.

Bila digunakan untuk merealisasikan tuntutan masyarakat Bulu Silape maka setengah tahun anggaran dana CD (sekitar 7 miliar) akan terpakai. Bila diperhitungkan ganti kerugian 552 rante dengan 10 kaleng padi selama 20 tahun, taksiran harga padi Rp 40.000 per kaleng, sudah sekitar 4 miliar. Persoalan lain mungkin akan muncul bila menggunakan dana CD. Dana itu adalah untuk pemberdayaan masyarakat se Kabupaten Toba Samosir, bukan untuk ganti rugi.

Keputusan dari pertemuan itu adalah mengadakan rembuk ulang pada tanggal 1 April 2010. Semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian masalah ini akan turun ke lapangan dalam kurun waktu tersebut.

 bulusilape_02abulusilape_03a bulusilape_04a 

Keterangan Gambar :.

  1. Sebagian longsoran yang masih dapat dibersihkan ditanami padi. Latar belakang adalah Bukit Tampean yang lerengnya longsor.
  2. Longsoran yang menyisakan batuan besar dan tebalnya lapisan berbatu menyulitkan petani melakukan penataan ulang sawah mereka. Sawah yang dulunya sampai di kaki/lereng bukit sekarang tertutup semak belukar.
  3. Perkampungan Bulu Silape yang dikosongkan penduduk terdiri dari rumah tradisional, sisa dari perkampungan yang ditimbun longsor.

Photo-photo : Tunggul Sianipar, wartawan Media Tapanuli.

Iklan

14 thoughts on “JERITAN RAKYAT BULU SILAPE

  1. Permasalahan ini akan terus ada di Tano Batak, perpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, selama ada perusahaan yang tidak memperdulikan kepentingan penduduk lokal dan dampak pengrusakan lingkungan, alam, atau hutan. Perjuangan penduduk Bulu Silape membutuhkan dukungan dari berbagai komunitas.

  2. pantas pangaribuan berkata:

    masyarakat punya hak untuk hidup didalam ketentraman dan kesejahtaran tapi adakah pemimpin/penguasa yang mampu untuk melindungi rakyatnya dari ketertindasan, adakah kebijakan yang pro rakyat..?
    smoga para pemimpin dan penguasa dibukakan mata hatinya, untuk melihat suatau masalah dengan pikiran jernih tidak menyalahkan alam dikarenakan keserakahan manusia, kami menitipkan ini kepada wakil2x rakyat yang duduk dikursi empuk dan bersafari dibangunan mewah sana untuk membela kami yang menyuarakanMU.

  3. Braijen sianipar datulopak no 15 asli bulu silape berkata:

    TUTUP TPL(Toba Pulp Lestari)!!!!!!! untuk kesejahteraan masayarakat TOBASA

  4. dollin hutajulu berkata:

    masyarakat jadi korban ……harus ada perubahan mengarak yg lebih baik….perhatikan putra daerah..

  5. goklas sinurat berkata:

    uda saatnya kita mendukung selalu masyarakat tertindas. tidak jamannya lg takut pada senjata dan pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa perduli masyarakat Toba 20 tahun kedepan.
    berjuanglah..perjuanglah dan bangkitlah melawan ketidak adilan ini.

  6. Busmin sianipar berkata:

    Sebagai generasi atau cucu dari bulu silape kita sangat prihatin melihat kondisi tersebut terakhir sy kesana tahun 1988, untuk itu ingin belar sejarah daerah tsb lebih detail.

  7. Manuasa Sianipar berkata:

    Saya adalah bagian dari perjuangan ini dan saya tinggal di Bulusilape. Kepada saudaraku sekalian yang ada di rantau, kami masyarakat sangat mengharapkan dukungannya.
    Berbagai upaya telah kami lakukan termasuk dukungan DPRD Tobasa yang saat ini terus mendukung perjuangan kami.

    Saya mengharapkan bila dukungan semua pihak dipadukan, penderitaan kami selaku korban mungkin akan cepat tertolong.

    Sampai saat ini dalam temu masyarakat, pemkab, tpl yang difasilitasi DPRD Tobasa belum terlihat ujud seperti yang kami harapkan.

    Terimakasih atas komentar dan keprihatinan semua yang memberi tanggapan pada kasus ini

    @ Brajen
    Tolong teruskan tuntutan ini dan beritahukan kepada teman2 putra/putri bulu silape dan semua marga sianipar yang ada di jakarta dan di seluruh penjuru dunia.

  8. r.butarbutar berkata:

    saudara2 ku,teruslah berjuang, demi kebenaran dan keadilan, jangan ada dusta diantara kita sebuah kalimat yang melecehkan, dusta dgn siapa ? ingat bung , umur sudah uzur, marilah berlomba-lomba menanam kebaikan, Tuhan pasti sudah memperhitungkan amal dan dosa yang kita perbuat, hidupmu hanya sesaat, gunakan untuk kemuliaan TUHAN , bukan mencari kesenangan sesaat, kita tau anda2 ini digaji apa tidak ama mereka, tapi jangan mencederai hati rakyat kecil, kami sadar mereka rakyat kecil yang tidk mungkin menang walau benar melawan anda anda yang berhati …….( sebaiknya anda sendiri yang mengisi titik titik itu< karena saya bingung harus menulis apa )

  9. Rino Sianipar berkata:

    Sebagai salah satu korban peristiwa 1989 dibulusilape, saya tetap mendukung apa yang saat ini sedang diperjuangkan natua/hahaanggi nang pinaribot/ yang masih tinggal dikampug halaman, perjuangan belum berakhir selama TPL masih belum memenuhi tuntutan masyarakat, bagaimapun Pimpinan daerah yang baru sekarang ini minta perhatiaannya dalam manangani tuntutan masyrakat bulusllape. Untuk warga bulusilape, satukan kata, visi, dan misi, hilangkan perbedaan kepentingan, mari kita menjadi 1 kata dalam memperjuangkan hak kita.. .. ” salam hangat kepada dongan sahuta”

  10. ramson simamora berkata:

    Banyak yang berkomentar dan saya setuju dengan komentar itu. Tutup saja itu TPL karena ternyata sama saja Indorayon dengan TPL. Usul saya sebaiknya jangan hanya komentar saja, mar membuat action seperti tahun 1998 lalu, saya yang berada di Toba Samosir melihat perlawanan itu.
    Dulu kan Indorayon sudah minta ampun maka ganti TPL, tetapi mengapa sekarang masih belum tobat juga?

  11. pdt.bendrio sibarani, M.Th berkata:

    selaku pelayan gereja, saya yang telah menyaksikan peristiwa bulusilape, meminta agar gereja juga turut menyuarakan aspirasi umatnya, gereja harus memainkan profetis etisnya…horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s