ANGSA HITAM DI TEPIAN TOBA

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 001)

Pada suatu siang di pertengahan Mei 2010 bertempat di sebuah cafe sederhana berlokasi di tepian Danau Toba yang kembali akan saya katakan memiliki potensi dan keindahan yang istimewa. Entah sudah berapa ribu kali ungkapan dan tulisan tentang Danau Toba dan kawasan sekitarnya menjadi topik yang sering saya utarakan. Itu juga yang mengundang kehadiran saya dan beberapa sahabat dalam sebuah pertemuan yang tak terduga. Hanya sebuah SMS telah cukup untuk mempertemukan orang orang yang berasal dari berbagai ragam perbedaan. "Hei anak muda, ayo ngopi, kita duduk dan bertemu di tepian Toba. Kami berangkat sekarang." Demikian pesan yang saya terima.

Ada tuan Monang Naipospos yang baru pertama kali saya saksikan memainkan seruling bambu dan hasapi secara bergantian. Ia seorang penggiat Budaya Batak yang senantiasa berjuang merasionalisasi Budaya Batak yang kerap mendapat perlakuan diskriminasi dan kriminalisasi. Menurut tuan Monang, Budaya adalah sebuah Rasionalisasi Alam Semesta dan betapa Irasionalnya orang orang jaman sekarang.

Seruling bambu adalah alat musik tiup Batak tradisional yang dibuat dari sebilah bambu yang tumbuh di belakang rumah. Hasapi adalah alat musik petik Batak tradisional yang terdiri dari dua dawai. Paduan alat musik ini kerap menghadirkan untaian nada nada bersahaja.

Ada juga tuan Bonar Siahaan, orang tua yang telah berhasil meng"katapel" anaknya hingga ke Amerika. Seorang penggiat sawah dan ladang yang kerap berteman dengan sengatan matahari dan iklim yang semakin tak jelas kini. Kehidupan petani kerap menjadi sorotan perhatiannya. Mengingat pertanian menjadi divisi anak tiri pada pemerintahan daerah. Sudah anak tiri, dikorupsi pula anggarannya. Pertanian yang seharusnya menjadi andalan komoditas tentu saja tak akan bergerak kemana mana. Barangkali, menemukan penggiat agriculture yang kutu buku sekaligus penulis bebas yang menyebut dirinya seorang pemberontak kemapanan adalah sebuah keajaiban di Tanah Batak sekarang ini.

Sejak kehadiran kami yang datang dan hadir belakangan, tuan Imran Napitupulu sudah mengambil photo dari berbagai sudut perspektif. Menangkap sudut sudut kamera telah menjadi kebiasaannya. Sebagai seorang jurnalis tuan Imran salah satu yang memperjuangkan media kampung halaman tak hanya berisi berita kriminal dan pandangan skeptis terhadap kehidupan. Tuan yang satu ini senantiasa mencoba menawarkan ragam inspirasi olahannya untuk disuguhkan sebagai bahan bacaan yang bergizi sehat dan bervitamin pikiran untuk masyarakat Tobasa.

Pelan dan perlahan sembari memetik hasapi di sudut itu duduk seorang kebapaan dengan penuh perhatian. Ia adalah tuan Parlindungan Naipospos. Kerabat dari tuan Monang sendiri. Menurut pandangan saya tuan Parlindungan seorang yang hemat mengutarakan pendapat. Ia lebih banyak mendengarkan. Tentu saja, seni mendengarkan salah satu seni istimewa yang tak dimiliki oleh banyak orang. Kebanyakan hanya ingin didengarkan tanpa pernah mencoba mendengarkan. Tuan ini seorang guru SMP di Sigumpar. Saya pikir, keberhasilan anak anak muda yang berhasil menduduki kursi di PTN terkenal negeri ini tak lepas dari bimbingan dan arahan bapak guru kita yang bersahaja ini.

Dan ada saya bersama seorang rekan arsitek dan engineer sipil. Saya sendiri kerap dijuluki kawan kawan engineer aneh, sebab kegemaran saya kepada sastra dan literatur yang entah muncul darimana. Bertiga datang dari latar belakang engineer. Menyelesaikan kuliah dari kampus yang katanya keren yang ada di Pulau Jawa. Dan kini menjalani keanehan yang mengherankan orang orang sekampung yang menatap dan bertanya aneh. Mengapa kembali ke Bonapasogit? Begitu kerap pertanyaan yang saya sudah lelah menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Kerap saya hanya tersenyum saja ketika mendengar bisik bisik keluarga dan tetangga yang keheranan dengan jalan yang coba saya dan rekan rekan tempuh.

Kami mendapati, Pulang kampung sungguh Rantau Paling Jauh. Sekali waktu, saya terhenyak ketika seorang kerabat dekat menyatakan kritik sekaligus nasehat "unang mulak tu huta alani hasahatan ni pat na soada". Terjemahan bebasnya adalah, jangan pulang kampung sebab tak diterima dimana mana. Yang pertama muncul dalam benak saya adalah berapa banyak peti (kotak terakhir kehidupan) yang telah diterbangkan ke Tanah Batak sebagai persinggahan terakhir? Dan saya tak ingin termasuk salah satu yang berada dalam peti, kotak terakhir itu.

Begitulah, pertemuan yang entah bermula dan berujung kemana ini dimulai begitu saja. Orang bijak berkata, there is no coincidence in life. Tak ada suatu yang kebetulan di kehidupan ini. Betulkah? Mari kita jawab bersama sama.
Kita begitu berbeda dalam banyak hal, namun ada "sesuatu" yang menghubungkan perbedaan itu menjadi simpul simpul yang menarik untuk diperhatikan. Hingga saya melihat potensi Angsa Hitam di Tepian Toba.

Seperti esais sastra Nassim Nicholas Taleb mengungkapkan dalam bukunya yang sayang sekali bila dilewatkan para pembaca, "The Black Swan". Black swan atau Angsa Hitam berbicara tentang peristiwa acak yang mendasari kehidupan kita. Saat ini kita dihadapkan dengan berbagai fenomena yang nyaris mustahil diprediksi, namun setelah berhasil terjadi, kita berusaha merasionalisasinya. Ketidakpastian merupakan salah satu mesin pendorong dinamika peradaban. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi esok hari. Pun prediksi para ahli telah terbukti sebagian besar adalah bersifat bualan.

Setidaknya kita tak termasuk orang yang melupakan peristiwa dan sejarah. Untuk itulah tulisan ini dibuat ala kadarnya. Sebagai pengingat peristiwa yang masih jauh dari upaya merasionalisasi. Hanya catatan ringan, berteman segelas kopi sembari menikmati ketenangan, keteduhan dan kesahajaan Danau Toba. Cerita cerita orang pinggiran selalu menarik bukan? Katakanlah "Caping", catatan pinggir Goenawan Muhammad yang tenar itu. Begitulah, anggap saja ini salah satu "CEPITO" cerita tepian toba.

Bisa jadi, kalau saja saya konsisten dan ulet menggeluti dunia tulisan ini, CEPITO menjadi alternatif bacaan masyarakat.

Musisi Tradisional Batak mencipta apa saja?

Saya melihat ada dua jenis alat musik tradisional terletak di atas meja di sebelah cangkir kopi. Sesekali tuan Monang Naipospos memainkan seruling bambu bergantian dengan hasapi (alat musik petik khas batak yang hanya memiliki 2 dawai). Lalu tuan Bonar Siahaan setengah bergurau melemparkan pujian bahwa tuan Monang Naipospos seorang multi talenta yang pas-pasan. Saya tak memiliki sedikitpun kemampuan memainkan alat alat musik itu, telah lama saya berhenti berusaha karena memang saya sudah sadar usaha menjadi pemain musik tak akan kemana mana, lanjut tuan Bonar. Sementara tuan itu, antara memalingkan wajah kepada tuan Monang di sebelah kirinya dan lalu menatap kami yang duduk di hadapannya, hampir bisa saja memainkan alat musik apa saja.

Tiupan seruling yang mendayu dan bersahaja sementara berhenti dan lalu tuan Monang memberi komentar atas pernyataan tuan Bonar. Lihatlah tuan Binsar ini, di Melbourne Australia bukannya mempelajari saxophone malah datang ke Toba ini mencari seruling bambu. Nah kita yang di kampung malah mempelajari alat musik modern dan meninggalkan alat musik tradisional. Dengan gaya khas tuan Monang yang sudah seperti saya hafal seketika tertawa renyah sambil menanamkan kepada kami yang muda muda berbagai ragam paradigma menarik hasil olah pikirnya.

Cukup menarik gelitikan ini membuat tuan Binsar tak mampu hanya berdiam diri saja, lalu memberikan uraian menurut cara pandang dan pengalamannya setelah 20 tahun bermukim di Melbourne. Di Australia pemerintah sangat antusias dan perhatian terhadap keahlian dan kehidupan seniman. Jadi kalau kau seorang sarjana dari ITB barangkali tak akan menjadi apa apa di Australia sebab sarjana lulusan mereka jelas lebih kualified. Namun, apabila kau seorang pemain seruling bisa dipastikan pemerintah Australia memberikan support penuh atas bakat itu dan bahkan kewarganegaraan Australia bisa langsung saja di genggaman tangan. Itulah sebabnya, dari sarjana Geologi ITB tuan Binsar ini menjadi tukang las yang memiliki keahlian spesial, kelakar tuan Monang. Kami semua tertawa sambil menikmati percakapan yang menarik ini.

Lalu saya seperti sedang melakukan tinjauan reflektif, seketika memunculkan pernyataan yang saya agak malu mengutarakannya sebab merupakan salah satu kelemahan. Seandainya semasa kecil alat alat musik ini "diberikan dan dikenalkan" kepada saya, barangkali hari ini saya bisa saja tampil di MTV membawakan uning  uningan, saya tak mau ketinggalan kereta percakapan. Secepat kilat tuan Monang memotong ucapan spontan saya yang setengah memelas antara sedang menyesali masa lalu atau menyalahkan orang lain atas ketakmampuan saya sendiri.

Itulah letak semangatnya, kembali gaya khas tuan Monang menarik perhatian saya. Menjadi pemain musik berbeda dengan menjadi pencipta musik. Kita ini kan tak mungkin lagi mampu mengimbangi permainan Eropa atau Barat yang jelas sudah melampaui berbagai jaman dan sejarah. Katakanlah Renaissance atau Enlighment atau Modernisasi. Bahkan kini mereka sedang meretas jalan era kemutakhiran. Bagaimana kita mengimbangi permainan peradaban mereka? Tak akan sanggup, kecuali kita meniupkan seruling ini. Sebentar tuan Monang memainkan permainan tiupan nada yang indah dan menenangkan. Lalu melanjutkan pernyataannya sambil mengangkat satu seruling dengan tangan kanan. Sambil menatapi seruling itu, ia berkata bahwa negeri dan budaya Barat tak memiliki seruling seperti ini. Bambu tak tumbuh di daratan Eropa. Ia seperti geli menyaksikan sikap kebarat-baratan yang menghantui kehidupan masyarakat kita.

Mereka punya saxophone yang sangat rumit itu. Sebanyak 22 lubang nada, terbuat dari stainless stell, aih sampai kapanpun kita tak sanggup memproduksi saxophone. Dan keahlian memainkan saxophone jelas adalah keahlian mereka. Namun, sejak purba musisi nenek moyang kita sadar akan lingkungan. Ia melihat bambu, yang kalau dilubangi lalu ditiup akan menghasilkan nada. Bambu ada di belakang rumah kita, tinggal ambil bambu sepotong dan jadikan alat musik. Antara seruling bambu dan saxophone, Anda bisa membanding bandingkan sendiri. Tuan Monang tertawa kembali atas analisisnya yang menawan.

Saya mengambil kesimpulan dalam hati yang kelak akan saya tuliskan dalam lembar lembar maya ini. Musisi Batak tradisional yang tak hanya mencipta karya seni musik, namun juga mencipta peralatan musiknya sendiri. Sungguh luar biasa dibandingkan dengan musisi modern kita sekarang yang hanya tahu "membeli" alat musik untuk kemudian digunakannya secara serius dan tekun hingga memperoleh penghargaan sekelas Grammy Award, misalnya.

Apa yang bisa diamati dari fenomena sederhana namun menakjubkan ini adalah bahwa dalam dunia musik terjadi ketidakseimbangan ketenaran. Antara musisi tradisional yang bisa disebut si kerdil tak memperoleh ketenaran yang cukup, juga penghasilan yang pas-pasan dibandingkan dengan musisi internasional yang bisa disebut si raksasa yang memiliki penumpukan ketenaran dan penghasilan yang berlebihan. Ini sebuah jawaban ketika seseorang bertanya mengapa seorang pemain sepakbola klub internasional bisa saja menjadi miliarder pada usia muda sementara lulusan institut terbaik negeri ini kerap hanya mampu melongo dan lalu membuat tulisan utak atik tentang ketidakseimbangan yang terjadi. Kita sendiri yang membuat seseorang menjadi raksasa atau menjadi kerdil. Kembali kita harus berani bermimpi bahwa tak selamanya si raksasa menang atas si kerdil. Dari musik perbincangan melompat ke Aksara Batak. Seperti sejarah yang memang alurnya melompat. Akankah kita menghasilkan sejarah yang melompat? Dari Aksara Batak, kemungkinan itu terbuka.

Aksara Batak yang terpinggirkan

Telepon seluler tuan Monang berbunyi. Ia terlihat terlibat dalam salah satu percakapan beruntun. Ada canda dan gurau yang bernuansa mencekam dalam perbincangan seluler tersebut. Tiba tiba saja begitu. "kalau mau ketemu, biar kalian harus datang kesini, setengah jam bisa? Kalau tidak, lebih baik tak usah." Ultimatum yang singkat penuh canda.

Saya kira, ada sesuatu alasan yang terjadi sebelumnya hingga tuan Monang yang saya kenal mengucapkan demikian. Seorang yang rendah hati, humble, motivator, tak segan tak malu berbagi inspirasi dan pengalaman ternyata bisa juga terpancing kepongahannya. Dan itulah yang diakui beliau dalam kelakarnya.

Orang Batak jangan dipancing egonya dengan duri. Sekali persoalan harga diri tersentuh, maka apapun nyaris bisa terjadi. Itulah yang menjadikan ungkapan ini masih sering terdengar di kalangan Batak. "dang di ho, dang di au, tumagon di begu". Terjemahan bebasnya, "bukan untuk mu, bukan untuk ku, lebih baik serahkan kepada hantu". Peribahasa ini kerap terungkap manakala terjadi perselisihan dan sengketa menyangkut hak hak kepemilikan. Semisal sengketa tanah. Hanya di tanah Batak dijumpai persoalan sengketa atas sekian centimeter saja tanah perbatasan lahan yang sampai kepada pengadilan mahkamah agung. Kalau sudah menyangkut harga diri (hasangapon) siap siaplah berperkara hingga ke mahkamah internasional sekalipun. Cukup menarik fenomena ini, rekan saya brprofesi jaksa juga pernah terheran heran menangani kasus "ranting pohon". Gara gara ranting pohon yang ditebang tanpa permisi bisa menjadi perkara pengadilan. Insting dan naluri Batak saya mendeteksi ada persoalan hasangapon dalam beberapa kalimat yang diucapkan tuan Monang pada perbincangan teleponnya yang saya ikut menguping.

Ternyata yang menelopon adalah salah satu mahasiswa Politeknik Informatika DEL. Yang didirikan jenderal TNI kelahiran Tobasa, Luhut Panjaitan. Beliau salah satu dari sekian jenderal yang memusatkan perhatian pada peningkatan SDM Bonapasogit dengan mendirikan institusi pendidikan untuk anak miskin dan berbakat IQ tinggi. Mimpi apa nenek moyang Batak hingga cikal bakal Institut Teknologi Batak sudah berdiri mengisi sepinya peradaban Bonapasogit? Sangat layak diapresiasi setingginya. Tanah Batak yang terlupakan kini memasuki era yang berbeda. Orang yang mengenal PI-DEL dan segala fasilitas dan network yang berbasis dunia itu tentu akan geleng geleng kepala mengingat sekian belas juta subsidi pendidikan kepada setiap mahasiswa. Masih ada cita cita luhur tertanam di Bonapasogit. Semoga saja cita cita itu menjadi pohon beringin yang besar. Bertumbuh semakin kuat dan tangguh.

Tuan Monang setengah bercerita menyimpulkan kesalahpahaman yang terjadi antara beliau dan PI-DEL. Sekali waktu, para mahasiswa tergerak menunaikan tanggung jawab sebagai generasi intelektual yang termaktub dalam Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat. Para mahasiswa DEL membentuk klub I-Tapanuli. Singkatan dari Information-Tapanuli. Sebuah visi besar dari anak anak muda untuk menghasilkan OS (operating system) berbasis budaya kultural Batak. Saya bukan ahli IT tapi saya punya banyak teman jagoan IT. Saya pikir, keberadaan PI-DEL semestinya berdampak hingga ke kehidupan sosial keseharian masyarakat. Sebuah perjuangan dan pergerakan peradaban sedang berlangsung. Masyarakat yang dominan petani sawah dan ladang tadah hujan, bagaimana mungkin menggunakan program aplikasi IT? Namun tiada yang mustahil. Simpul simpul inspirasi pasti dan akan terbentuk.

Setengah jam kemudian, dua anak muda mahasiswa dan seorang lagi yang ternyata perwakilan kampus. Beliau tuan Herry Pasaribu, wakil rektor PI-DEL. Datang dari Sitoluama ke Balige. Sekilas, saya teringat masa-masa aktifitas dan kehidupan di kampus. Desa Binaan, Program Kersos (Kerja Sosial), Lokakarya Kaderisasi Kemahasiswaan, Pledoi Pendidikan dan kajian filosofi memanusiakan manusia, Pergerakan Masyarakat berbasis Organisasi, kajian peradaban dan ilmu pengetahuan, riset riset kompleksitas (chaos-order) hingga riset kultural dan sebagainya.

Banyak sekali kegiatan kemahasiswaan yang menginspirasi yang selalu dan selamanya akan saya rindukan. Masa muda hanya sekali, namun saya mau menjadi muda selamanya. Kerap saya larut dalam suasana melankolis sentimentil dan kesenduan manakala teringat lantunan lagu lagu perjuangan mahasiswa. Petikan gitar di tangan saya turut membawa saya pada kenangan yang tak akan lekang dari ingatan. Terlibat dalam kegiatan unit dan himpunan kemahasiswaan turut menggembleng kehidupan sosial dan intelektual saya bersama rekan rekan di kampus. Itu yang saya lihat di wajah kedua rekan muda dari PI-DEL ini. Apakah saya telah kehilangan semangat muda itu? Pertanyaan itu senantiasa terngiang hingga terbitnya tulisan sederhana ini.

Setelah perkenalan singkat perbincangan melarut kemana mana. Sesekali terselip kalimat kalimat rekonsiliasi. Penjelasan rasional akan kesalahpahaman yang terjadi antara tuan Monang dan manajemen kampus. Bahwasannya semua persepsi dan tindakan semata hanya ketidaksamaan frekuensi gelombang aksi. Dari sisi unit kegiatan mahasiswa juga terdapat kekurangan prosedur. Tanpa memperpanjang pembahasan semua pihak mencoba mencapai titik pijakan yang baru. Kami yang berada di meja memanjang tak ingin mencampuri urusan yang bukan urusan kami. Menjadi pendengar saja sudah lebih dari cukup. Namun luar biasanya, sebuah kerikil kecil tempo hari tak menyebabkan langkah terjatuh. Saya melihat justru sebaliknya, kerikil sedang diasah menjadi intan. Entah bagaimana alurnya pembicaraan sudah sampai ke Aksara Batak yang terpinggirkan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana membuat Aksara Batak menjadi salah satu font master pada aplikasi Microsoft Office yang sedang diupayakan oleh tuan Binsar Napitupulu. Atau menjadi pilihan bahasa dalam aplikasi google seperti yang diungkapkan tuan Imran Napitupulu. Kalau sampai mimpi ini menjadi kenyataan artinya kita sudah melakukan sebuah loncatan sejarah. Inovasi tradisi peninggalan nenek moyang dipreservasi secara mutakhir. Aksara Batak sebuah karya intelektual nenek moyang Batak. Ada berapa suku bangsa yang memiliki aksara sendiri? Batak salah satu dari yang sedikit itu. Saya tak mampu mengimajinasikan pencapaian intelektual peradaban para nenek moyang yang mampu menciptakan Aksara tersendiri untuk bangsanya. Yang saya coba pelajari, huruf adalah kombinasi matematis antara garis dan titik. Sebagian menyebutnya kaligrafi. Ilmu tentang pola permainan garis dan titik. Terdapat tak hingga kombinasi matematis disini. Huruf menjadi sebuah pola geometri antara dua atau tiga garis dan satu titik.

Bagaimana mungkin suatu konvensi bersama lahir, hingga terbentuklah Aksara Batak?. Sama seperti latin dengan hurufnya yang kita gunakan ini, dan juga Arab dengan angka yang kita gunakan sekarang. Sungguh sebuah kesalahan yang tak termaafkan jika karya intelektual ini punah dengan sendirinya. Aksara Batak adalah sebuah karya matematis yang agung. Dan sekali lagi, kita akan kehilangan keagungan dan kesejatian ilmu pengetahuan dengan punahnya aksara ini.

Luar biasa leluhur Batak. Tak tercatat siapa matematikawan yang berhasil menemukan pola huruf dan aksara Batak. Kita tak pernah tahu dari sejarah kita yang terjarah. Saya pikir intelektual pada jaman purba sangat jauh dari sikap sikap barbar yang kerap dilekatkan kepada nenek moyang Batak. Katanya ini yah, nenek moyang Batak adalah barbar dan kanibal. Alias barbar paling busuk dan terkutuk. Loh kok bisa intelektual? Menghasilkan Aksara? Berbudaya? Generalisasi yang bersifat irasional inilah yang kini menghantui sisi rasionalitas keturunan Batak. Sehingga tak sedikit dijumpai orang Batak yang tak lagi menghargai identitas kulturalnya sebagai bangsa Batak.

Pertemuan yang terdiri dari ragam perbedaan ini pada satu titik menghasilkan sebuah perbincangna menarik terkait eksistensi Aksara Batak. Kita tunggu saja, kiprah selanjutnya. Akankah Inovasi terjadi pada konservasi Aksara Batak yang nyaris terlupakan ini? Apa yang membuat sebuah karya intelektual tetap bertahan adalah bahwa ia senantiasa digunakan dan bermanfaat untuk kehidupan. Sejauh mana Aksara Batak bermanfaat dalam keseharian sosial kemasyarakatan kita? Huruf Batak jangan dijadikan huruf keramat. Bahkan bila memungkinkan sejak usia dini, generasi muda kita sudah semestinya akrab dan fasih menggunakan aksara yang terdiri dari 19 huruf ini. Jepang tetap bertahan dan maju berkat ketahanan budayanya, Cina dan Korea juga demikian. Quo Vadis Aksara Batak?

CEPITO (catatan tepian toba) ini hanya sebuah kisah yang akan dikenang di masa mendatang. Pemicu trigger solusi kreatif dan aksi nyata untuk selanjutnya mengisi ruang ruang harapan kita bersama. Seperti yang diungkapkan tuan Monang, setelah perbincangan di cafe, perjalanan dilanjutkan dengan investigasi potensi, penyatuan simpul simpul inspirasi, dan petikan harapan ke depan.

Diantaranya, kunjungan ke sebuah situs pergerakan budaya yang sedang dilakukan di kawasan TB Silalahi Center, Pagar Batu Balige. Kami menyaksikan pembangunan cikal bakal Museum Batak yang berdiri megah disana. Spontan saja tuan Herry Pasaribu berkelakar, sejak dua tahun berkarya di Tanah Batak sudah lama merencanakan kunjungan kesini. Namun, ya tunggu gratis dulu barulah kesampaian.
Hahaha. kami tertawa terbahak bahak mengingat keberadaan saya sebagai tuan rumah disana, dan tentu saja setiap tamu yang saya bawa dan hadirkan disana biasanya tak dipungut biaya administrasi dan retribusi seperti biasanya. Kebetulan saya masih termasuk pengurus dalam pergerakan budaya di kawasan TB Silalahi Center, terlibat dalam program pembangunan konstruksi Museum Batak.

Disamping itu, suasana peradaban leluhur seketika melesap ke relung sanubari ketika melangkahkan kaki di sebuah replika nyata "Huta Batak" yang terletak di sudut kawasan yang menghadap Danau Toba. Beberapa pemilik Rumah Bolon itu menitipkan rumah yang berusia ratusan tahun di kawasan TBSC. Kampung tradisional dengan barisan arsitektural Rumah Batak, disekelilingnya tertanam bambu yang biasanya akan menjadi seruling bambu yang dimainkan anak anak kampung. Khususnya parmahan (penggembala).

Dari sana arah langkah menjejakkan bumi kampus PI-DEL yang mutakhir. Entah apa yang membuat kami seketika gandrung berjalan jalan. Barangkali duduk diam saja menyeruput kopi tak lengkap rasanya tanpa menjejak bumi dan membentang langit. Suasana kampus DEL yang mutakhir seketika membawa kehadiran imajinasi akan kemajuan Tanah Batak di masa mendatang. Saya dan kawan kawan bergurau dengan ringan dan berkata, semoga kelak Tanah Batak menjadi kota pilihan edukasi dan budaya.

 Picture-032Picture-045 Picture-046

Picture-057Picture-054Picture-056 

Diantara sekian banyak inspirasi dan harapan yang bertumbuh dari pertemuan pertama rangkaian kebersamaan ini, tentu saja yang tertulis ini masih sangat sedikit dari yang tersirat. Seperti bunyi pepatah, banyak yang tertulis namun masih lebih banyak yang tersirat. Satu senyum saja dapat mengubah segalanya. Seperti senyum dari tuan Binsar Napitupulu yang datang jauh jauh dari Melbourne tentu saja tak akan terlupakan. Mara berharap yang terbaik.

Semoga CEPITO ini berkelanjutan ke bagian selanjutnya…
CEPITO-001 Angsa Hitam di Tepian Toba, Sulaiman Sitanggang

CEPITO 002  Sisi Lain, Pesta Danau Toba 2010

CEPITO 003  Untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam

CEPITO 004  Tona Ni Tao

Iklan

11 thoughts on “ANGSA HITAM DI TEPIAN TOBA

  1. mangatas oloan pardomuan hutabarat berkata:

    ari selasa 18.05.10 pkl.12.44 AM nunga hubahen pangidoan marhite forum intelektual masyarakat batak, tu sude napistar ni halak batak patupahon komputer marhata batak, mauliate ala dohot partungkoan tano batak on manaringoti, dipasu-pasu Tuhan ma saluhut angka anak napistar ni halak batak

  2. tanobatak berkata:

    @ mangatas
    Mailuate di informasimuna i. Didia forum i tahe? Sai lam denggan ma angka sangkap nauli di halak Batak napistar i. Horas

    @ Parningotan
    Horas lae, alana nunga horas hamu sahat tu bangsomuna Australia. Taon na ro sai lam tudengganna ma angka parjumpangan di tano batak. Sukses revitalisasi aksara batak…

  3. B.Parningotan berkata:

    @tanobatak
    Horas Lae, andigan boi kirimon muna gombaran surat batak na naeng disignon ni TB Silalahi Centre asa hu padenggan/ hupagokhon surat batak ta i

  4. horas.. songon na mantab do sarita ni “Capito” munai lae,
    btw , alai tahe sanga do mallange di tao toba “the black swan” munai ???
    bravoo tano batak

    @manroesambola

  5. Bonar Siahaan berkata:

    Setelah saya bertemu dengan beberapa anak muda batak yang masih peduli dengan “habatahon”, semangat yang telah mulai redup sepertinya hendak menyala kembali….salam buat “anak na ra tujolo, na ra pajolohon…..dohot tu boru na ra manghodohon hudon bolon”.

    SEMOGA IMPIAN KITA DAPAT TERWUJUD

  6. Monang.Sidabutar berkata:

    Horas ma di hita sude !
    Mansai las roha manjaha hagioton muna di habatahon tarlumobi tu “Aksara Batak”.
    Anggiatma sai diparbisuhi Tuhanta hamu saluhut na laho paturehon bangsonta on.
    Horas ma di hita saluhutna.GBU

  7. au hurang setuju do au dipublishon di google bahasa dan huruf Bataki dabah sebelum asli ni sude barang-barang budaya Bataki disimpan filena/copyna di sebuah tempat na denggan molo boi dibuat jo HAKIna, aman asa unang boi dicatut halak namangaku ampunani ompungna , contoni tukang catut dibaen caritani ompungna di wikipedia jaha hamunama asalni Adityawarman sian dia inna sian Jawa lahir di Trowulan hape inna Uli Kozok asli sian Sumatera do ibana , jala dang raja jawa mengangkat ibana gabe raja Pagaruyuang , biar niba kan bukti prasasti dihancurhon dibaenma prasasti baru naadong linkna tu surat nadi Wikipediai ai ise haroa naboi mamboto umurni batui ? Halak Barat , jai boa molo dipaksa halak Barati mandongkon gabus bahwasana ido asli ngaribuan taon umurni prasastion inna ? Songon si Thomas Rafflesma ibana do kan manulis tentang Borobudur ala ibana manggalii sian tano hampir 200m tertimbun alai boasa di buku sejarah raja Jawa inna mambanguni alana adong raja Jawa ahli manjaha grafiti nadi Borobuduri hapena adong arkeolog Bangka ahli tulisan dan bahasa kuno Malayu Muslihun gorana inna grafiti nadi Borobuduri dibangun raja Sriwijaya hhahahhah,,,maila angka pargabus kan ? Huedit maantong wikipediai . Ok , semoga dimengerti , saya setuju rencana anda semua tapi mohon dukunglah saya …orang kampung justru butuh IT untuk memasarkan karyanya karena menunggu pemerintah berbuat sama saja dengan menunggu pemerintah membeli mesin pengolah limbah , uda tek2an aja belinya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s