Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?

Jones Gultom

Identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan ini dalam sebuah diskusi bersama Antroplog Karo, Juara Ginting di Rumah Buku, Padang Bulan, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Juara mengajak para peserta diskusi yang notabene, Mahasiswa Karo USU, mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak yang lazim disematkan pada sukunya. "Kenapa mesti ada embel-embel Batak, jika tak ada kaitan antara Batak dengan Karo?" Tanya Juara. Sudah sejak lama prokontra itu muncul ke permukaan, terutama di masyarakat Karo. Menurut penulis, mulanya polemik ini muncul sebagai imbas dari persepsi keliru, dimana ketika menyebut Batak, masyarakat seolah-olah terbayang deskripsi akan sub etnis Batak tertentu (Toba). Mungkin tak menjadi soal, jika Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun serta Batak lain duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Apa yang digugat Juara lebih dari itu. Secara ekstrem, dosen USU ini sama sekali menentang penggunaan kata Batak dari Karo. "Bilapun posisi masing-masing kelompok masyarakat Sumatera Utara ini normal, tetap saya tak setuju jika Karo dianggap Batak. Karo punya standar adat-istiadat yang mandiri. Kalaupun ada kemiripan jangan langsung diklaim, harus dilihat dari banyak sisi."

Penggunaan kata "Batak" terutama di masa kolonial Belanda, digunakan untuk mendiskreditkan sekelompok masyarakat yang dalam buku "Riwayat Poelaoe Soematra" karangan Dja Endar Moeda (1903); "Adapoen bangsa jang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata "Batak" itoe pengertiannja; orang pandai berkuda. Masih ada kata "Batak" jang terpakai, jaitoe "mamatak", jang ertinja menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki kepada bangsa itoe�"

Dari versi ini terlihat, penggunaan kata "Batak" yang kemudian dibubuhi nuansa negatif itu, berlaku bagi setiap kelompok masyarakat yang secara administratif bermukim di persekitaran Tapanuli (Silindung-Humbahas-Toba-Samosir) yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Kemudian jika, batas geografis itu menjadi faktor, pertanyaannya, mengapa pula "Perang Sunggal" disebut Belanda sebagai "Batak Oorlog" (Perang Batak)?

 

Beberapa Pengertian Budaya

Beberapa perkataan "Batak" nyaris ditemui di semua suku di Sumut. Di Pakpak Dairi berbunyi: "Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn". Maksudnya adalah mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tepak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Mmas Batakn diartikan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia.

Di Karo dikenal upacara mbatak-mbataken; yakni mengembalikan roh penjaga (jinujung) kepada seseorang. Seorang Karo yang hendak mendirikan rumah, juga melakukan "Ibatakkenmin adah nda", yakni ritual meratakan tanah, agar rumah yang akan dibangun diberkahi.

Pada Simalungun, terdapat perkataan "Batak" antara lain "Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon". Artinya, tinggikanlah benteng agar bagus sawah kita ini.

Di luar itu, di masyarakat Pilipina konon ada satu pulau yang bernama "Batac" (huruf �c� di belakang).

Konon pengertian kata "Batac" di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Sejumlah kata yang sama ucap dan pengertiannya, juga ditemukan di pulau itu, seperti; "mangan" (makan), "inong" (inang), "ulu" (kepala), "sangsang" (daging babi cincang dimasak pakai darahnya).

 

"Akuisisi" Gereja dan PKI

Menurut Lembaga Penelitian dan Studi GBKP seperti dikutip penulis dari www. Permatabethesda, perkabaran Injil di Karo, dibagi atas dua kurun waktu. Pertama tahun 1890-1906 yang disebut waktu Permulaan. Kurun waktu kedua disebut masa Penanaman dan Penggarapan (1906-1940).

Bisa dikatakan, penginjilan di Karo, tak disengaja. Awalnya merupakan strategi Belanda untuk memuluskan aksi dagangnya di Karo. Waktu itu, keberadaan Belanda ditentang habis-habisan karena mengambil tanah rakyat untuk ditanami tembakau.

Untuk meredamnya, Belanda melakukan pendekatan agama, yakni pengabaran injil. Upaya itu berhasil. Lantas, Kepala Administrasi Deli Mij, Mr. J.T. Cremer, mengadakan perjanjian dengan Nederlandsche Zending Genoothchac (NZG), sebuah zending yang ada di Belanda untuk mengirim tenaga-tenaga tambahan Pengabar Injil ke Deli.

Melihat dinamika itu, sejak 1939 upaya untuk memandirikan Karo mulai dirintis. Pada 1940, dikirimlah dua guru injil pribumi, masing Palem Sitepu dan Thomas Sibero ke sekolah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Sipaholon. Keduanya menyelesaikan studi pada pertengahan sidang Sinode Pertama, yang menetapkan nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Sibolangit tanggal 23 Juli 1941.

Sebelumnya, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang dirintis Nommensen (Jerman) sendiri, dianggap simbol keberhasilan kerja misionaris di Tanah Batak, sekaligus merupakan Kristen Lutheran yang pertama ada di Tanah Batak. Euforia kejayaan Jerman mengkristenkan Batak yang sarat herois ini, kemudian diberlakukan bagi kelompok-kelompok masyarakat Kristen lain, termasuk Karo. Bisa disebut, masyarakat Kristen Karo yang �bentukan� Belanda, itu "diakuisisi" Jerman menjadi Batak.

Setelah fase itu, perkembangan GBKP, menurut Juara, tak serta merta pesat. Banyak masyarakat Karo yang belum memilih Kristen sebagai afiliasi keyakinannya. Di antaranya, masih menganut ajaran-ajaran yang bercikal pada tradisi leluhur mereka. Kemudian meletuslah pemberontakan PKI tahun 1965. Dalam rangka pembumihangusan PKI, pemerintah menyusup ke daerah-daerah, terutama yang masyarakatnya belum menganut identitas agama resmi versi pemerintah.

Kesan yang dihembuskan pemerintah waktu itu, menyiratkan PKI identik dengan masyarakat yang belum mengenal agama dan mesti dibantai. Stereotif itu memaksa kelompok masyarakat tradisi Karo harus menganut salah satu agama. Karena kedekatan emosional, mereka kemudian memilih GBKP sebagai identitasnya. Sejak itu, jemaat GBKP membludak, sehingga berkembang mindset, setiap Karo yang Kristen adalah GBKP. GBKP sudah pasti Batak.

Bagaimana pun penggalan-penggalan kisah ini merupakan sekelumit sejarah yang mengiringi perjalanan Karo sebagai Batak. Menurut saya, Batak hanyalah sebuah induk, predikat umum yang menjelaskan Karo, Toba atau Simalungun yang mapan. Mestinya semangat identitas masing-masing tak perlu ditanggapi secara "buta", sembari juga perlahan-lahan menghapus hegemoni dan klaim-klaim yang cenderung membuat kita primordial.

(Pernah Terbit di Harian Analisa, 18 Juli 2010)

Karya tulis Jones Gultom di blog ini :

Euforia Natal Pada Sebuah Kampung

Puisi Paskah

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

Baca juga : Ahmad Arief Tarigan ; BATAK?

482 thoughts on “Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?

  1. Songon i do molo pamalo HU prinsipna, namangalului sensasi sian naposo doi asa sega tu haduan gabe ndang adong parsadaan, gabe perbedaan ma naro, boasa ndang dibahas ibana negara on? boasa ndang dibahen ibana “BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?”
    sai na adong do tahe si suar sair.

  2. Yang saya tahu hanya Nias yang tidak Batak, Toba Simalungun ,Karo, Dairi dan Mandailing suku Batak………………

  3. Kalau memang suku Karo ingin tetap menggunakan kata Batak didepannya, adakah yang tidak pas?.
    dan kalaupun Batak tanpa suku Karo, apa yang terjadi?
    Seperti kata Shakespeare “Apalah arti sebuah nama”
    menurut hemat saya, yang penting
    marilah kita berlomba-lomba untuk membangun Bonapasogit ta be, agar masyarakat yang tinggal disekitar Danau Toba khususnya dan Tapanuli pada umumnya dapat menunjukkan kepada Dunia bahwa Hutanta i bukanlah Daerah yg termarjinalkan oleh kemajuan Zaman, tetapi mari kita bangun menjadi daerah yang sejahtera dalam bidang ekonomi.
    Demikian juga agar budaya kita agar tetap dilestarikan, agar tidak lekang dilindas Zaman sampai kapanpun.
    Bravo Batak

  4. kebetulan saya mempelajari bahasa Batak dalam rangka menyusun kamus Indonesia Batak, saya sangat terkejut mengenai perbendaharaan kata dalam bahasa Batak yang sangat bervariasi, misal dalam satu arti saja. bisa sampai delapan kata yang berbeda, tetapi setelah saya pikir secara mendalam kesimpulannya bangsa Batak adalah bangsa yang sangat Heterogen, antar, kampung dan kampung lainnya hubungannya sangat minim ini bisa dilihat dari tembok2 dan pagar2 setiap kampung yang sangat kokoh, dan perkawinan umumnya sangat tertutup di zaman dahylu, ini juga bisa dilihat dari wajah2 yang berbeda dari keturunan kampung yang berbeda. Yang membuat masyarakat batak mulai asimilasi malah sesudah datangnya agama atau penjajahan. Jadi jelas dapat dilihat misalnya bahasa pakat sudah berbeda dengan bahasa toba, sidngkalang, karo, dairi, dsb, sedang yang masih dekat saja bahasanya sudah bervariasi. Kalau kita lihat kesamaannya. tidak banyak suku di Indonesia yang memiliki marga, dan tulisannya pun yaitu tulisan Karo, Toba, Simalungun, Dairi, Pakpak, Mandailing memiliki tulisan yang serupa. Kesimpulan saya mereka memang masih bersaudara.
    Botima.

  5. Drs. Juara Ginting keahliannya adalah bidang Antropologi Kesehatan (bukan antropologi sejarah), dan dari salah satu komentar disitus lain disebutkan bahwa dia tidak lulus kuliah di Leiden, tetapi di USU dia memang memakai gelar M.A (Leiden), dan dosen di Fakultas Sospol, Departemen Antopologi Sosial. Kalau mau menyurati dia boleh ke juara@usu.ac.id.

    Sayangnya di artikel ini tidak begitu mendalam dipaparkan argumentasi Drs. Juara Ginting ini. Yang saya tangkap dalam artikel ini bahwa ‘dia secara ekstrim menentang penggunaan kata Batak pada Karo’.

    Kalau dia memang seorang antropolog mengapa hanya me-refer kepada sejarah semasa kolonialisme oleh Belanda? Apa dia tidak mampu me-refer kepada semasa Inggris menjelajahi Sumatra (History of Sumatra – William Marsden)? atau semasa Marco Polo, Nicolo di Conti, atau Pliny, Negara Kertagama, Pararaton, atau kaitan Kajian Antropologi Lembah Indus? Menurut saya dia ini ASBUN.

    Stereotype Batak memang sejak masuknya bangsa Eropah sudah sangat negatif dengan istilah canibalisme (eat human flesh), tetapi kalau kita runuti sejarahnya kejadiannya bukanlah di Tanah Batak yang komunitasnya secara tegas mengakui Batak, toh komunitas yang mengakui Batak ini mampu menerima kesan negatif tersebut dan secara gentlemen bangga dengan pengakuan diri sebagai Batak. Sebenarnya mereka boleh saja mengatakan dirinya Silindung, Toba, Humbang, Samosir, atau yang lain, kemudian mereka akan bersih dari sebutan canibalisme, tetapi bukan itu yang ada dibenak mereka, melainkan bahwa kata ‘Batak’ adalah sebutan untuk sebuah bangsa (secara antropologi, geopolitik, linguistik, dll.), sementara sebutan Silindung, Toba, Samosir, Humbang, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, Pakpak, Dairi, Kluet, Singkil, termasuk Melayu hanyalah ‘sub-bangsa’ yang saat ini sedang menonjolkan eforia etnisitasnya. Ternyata di jaman ultra moderen sekarang ini masih banyak berkembang dalam kelompok-kelompok masyarakat ini yang pola pikirnya masih terjajah, devide et impera, belum merdeka.

  6. ada banyak ciri yang menunjukkan bahwa Karo, Toba, Simalungun, Mandailing, Dairi singkil dan Pakpak masih serumpun yaitu rumpun batak tapi ciri yang paling menonjol adalah mereka mempunyai marga, dan mereka mempunyai tulisan yang masih mirip satu dengan yang lain,
    Tidak banyak bangsa yang kmemiliki Marga, yang paling menonjol adah bangsa Yahudi
    dan ciri ketiga yang paling menonjol ialah bila orang batak terutama yang masih terkebelakang , pergi merantau kekota, maka mereka akan malu mengaku sebagai bangsanya sendiri sampai timbul kata2: jika mereka telah merantau ke Bandung:mereka akan berkata

    ….sudah tiga bulan aku di Baddung ini, batakku sudah tak kentara lagi….; atau katakan lah tiga bulan saza aku di zakarta, batakku sudah tak kentara lagi. itu leluconnya.

    Memang orang karo sering mengaku lebih dekat ke India, tetapi kalau kita lihat warna kulit mereka lebih mirip kita, kecuali kalau sudah di jemur berbulan2 di sinar matahari barangkali. Sayangnya orang India tidak pernah menganggap orang Karo adalah bagian dari mereka. dan yang saya paling heran apa kehebatan orang India?
    kalau mau menjadi Yahudi ya bisa dimengerti.
    Kalau pak Ginting berlatar belakang agama Islam atau Kristen itu lebih seru lagi, rupanya pak Ginting tidak percaya dengan Adam dan Hawa sebagai moyang manusia ya?

    Jadi bila pak Ginting orang Karo yang mempunyai marga dan mempunyai tulisan serupa dengan huruf Batak tapi tidak mengaku BataK, itu biasa,,,biasa …saza. itu yang menunjukkan bahwa pak Ginting orang Batak ….yaitu Batak Karo.

    Saya bisa saja mengatakan saya orang Toba, atau Mandailing, atau Pakpak, atau Simalungun dll. tapi janganlah terjadi kembali cerita Sangkuriang di tanah Sunda dimana anak yang telah merantau ke negri orang tidak mengenal ibunya lagi dan tidak mengakuinya sebagai ibu.

  7. Komentar komentar ini membawa banyak informasi neh ..informasi berbasis pengetahuan maupun empirik san tentu pendapat pribadi…

    Hmm..apakah bila karo bukan batak, adakah implikasi bagi kita yang merasa Batak? Bagiku seh gak ada…mau mengaku bagian dari batak hayoooo….gak juga hayooo…yang merasakan positiif dan negatifnya kan mereka yg memilih bukan batak…hehe…

    aku adalah batak dengan segala konsekuensinya disana…ada streotype negatif tapi juga banyak yang bermakna positif….dan aku tidak perlu mengistilahkan diri dgn “Batak Keren” yang dibeberapa perbincangan istilah ini muncul…yang kesannya menjadi ada dikotomi: ada batak keren dan ada yg tidak keren…hehe…

    setiap entitas ada konsekuensi yang diemban…apakah karena bawaan sejarah, bawaan budaya, tinggal bagaimana menghadapinya…

    apapun itu ya aku emang dilahirkan jadi orang Batak, dan berarti aku memilki akar nilai nilai kehidupan, budaya dan pernak perniknya, …dan mari melakoninya dengan positif dan santai…

  8. Kata batak, bangsa batak, asal usulnya tidak diketahui sampai dengan sekarang, tetapi dalam buku batak (trorombo batak) mereka mengenal Raja Batak sebagai induk ataupun bapaknya bangsa batak, dan dari buku itu diceritakan marga-marga batak. Nah, dari cerita marga-marga itu lebih ditekankan hanya kepada marga orang batak (toba, simalungun, pakpak, angkola).
    Saya memang bukan seorang antropolog, tapi sangat sederhana berfikir yakni kalau memang karo adalah bagian dari bangsa batak (nenek moyangnya si raja batak tadi) apakah silima merga dari karo ada kampungnya di tano batak (asal usul marganya seperti yang diceritakan di tarombo batak) ? kita tidak usaha terlebih dahulu membicarakan kesamaan aksara batak, dari segi bahasa, adat istiadat sudah beda, gimana bisa karo merupakan bagian dari batak?
    Menurut hemat saya, apabila seseorang, golongan/kumpulan orang berasal dari kelompok tertentu pasti ada hubungan emosional.
    Karo tidak melupakan sejarah apalagi menghilangkan bahkan lupa diri tapi meluruskan karena karo tidak ada hubungan nenek moyang dengan si Raja Batak apalagi termasuk sub batak dengan bahasa asli yang banyak di klaim orang batak sendiri yakni bahasa toba.
    Suku Karo unik, mereka memilik sejarah tersendiri yang belum diungkapkan oleh sejarah nasional yakni cerita HARW (Kerajaan Haru sesuai buku Negarakertagama, Puteri Hijau, Raja Sunggal, Perjalanan Sibayak Lingga di Asahan, Guru Patimpus Pelawi yang ada diklaim oleh orang batak sendiri sebagai keturunan Sisingamangaraja)

    Saya tidak membela Juara Ginting karena satu suku, memang tulisan beliau di atas belum menjelaskan lebih detail bahkan saya pun bingung dengan penjelasannya dengan menghubungkan versi belanda bahkan kristen.
    Apa pun yang diklaim oleh saudara-saudara saya berkeyakinan KARO tidak memiliki hubungan emosional dengan Bangsa Batak apalagi SI RAJA BATAK, karena KARO adalah suku tersendiri dan sampai dengan saat ini belum ada penelitian untuk itu.

    TERIMAKASIH

    REDY PASKA SINULINGGA
    081264120780

  9. Di setiap jaman selalu muncul orang-orang yang mencari identitas. Tapi lebih sering ujung-ijungnya sekedar cari popularitas.
    Saya tidak begitu faham antropologi, apalagi sejarah Batak.
    Kalau Karo tidak mau disebut Batak, juga tidak masalah saya kira. Tapi kalau sekedar menjadikan alasan politik untuk mendirikikan dan menamai GBKP, sebagai orang awam, logika itu tidak nyambung.

    Mesti ada alasan mendasar, kenapa diberi nama GBKP.

    Jadi, kalau si JG itu berkoar-koar bahwa Karo bukan Batak, ya biarin aja, sampe dia capek sendiri.

  10. bah … agaknya memanas juga komentar atas tesis JG itu. sebenarnya banyak sdr2 kita dari karo setahu saya sudah lama meyakini bahwa mereka bukan batak. mereka mengaku bukan batak untuk alasan2 pragmatis saja, misalnya kalau di suatu institusi mau minta dukungan dari sdr2 karo biasanya mereka ini lebih sering berada di pihak yang mengaku bukan batak sehingga mereka tidak perlu memberikan dukungan. namun bila di suatu kesempatan mereka ini hanya sebagai minoritas, dan kurang ‘berdaya’ mereka secara langsung mengaku sebagai batak. mereka inkonsisten dan mudah2an saya salah. fakta, karena ada kesamaan keyakinan antara toba dan karo sehingga akhir-akhir ini amat susah keduanya untuk tidak satu persekutuan. sekali lagi untuk alasan pragmatis, untuk apa tidak mengaku batak?

  11. Ini menarik juga untuk didiskusikan apalagi yang punya ide adalah seorang teman kita dari suku Karo yang kebetulan antropolog. Saya juga sependapat kalau misalnya dilihat dari bahasa sepertinya sangat jauh antara batak Toba dengan Batak Karo, dan Nias. Secara garis besar menunjukkan tidak ada persamaan kosa kata . Berbeda dengan Toba, simalungun, dairi, Humbahas sebagian besar kosa kata hampir sama, meskipun ada perbedaan. Saya pikir itu adalah perobahan karena perjalanan waktu dan perbedaan geografis. Menurut saya bisa kita lihat pada masa itu ada penjajahan, satu komunitas yang dijajah ingin punya teman dari komunitas lainnya sehingga mereka mengatakan komunitas lainnya itu sesama batak, jadi kalau yang satu dijajah teman yang lainnya juga merasakan dan ikut melawan . Dan pada saat itu ampuh untuk persatuan.
    Saya kurang tau… apakah sekarang juga pemahaman seperti ini masih kita perlukan….??

  12. Identitas itu perlu, dan janganlah kita menghalangi orang/marga/suku/suku bangsa/bangsa untuk mencari identitasnya. Tidak ada didunia ini yg ga bersaudara, semua berasal dari Adam dan Hawa (kepercayaan Samawi – Menara Babel), manusia berasal dari primata yg berevolusi sempurna (Ilmiah). Mari kita belajar dan belajar, moga-moga antropolog membuka kebuntuan beberapa sejarah yg buntu/samar. Mungkin juga suatu saat ada formula untuk menilik ke jaman-jaman belakang, dan ke masa yg akan datang. Seperti pelajaran “Dilatasi waktu”. Lagian semisal satu rumpun pun itu, mungkin 100 tahun lagi tidak berarti lagi. Apakah kita bisa kenyang, kaya atau masuk surga dengan mempertentangkan itu? Malah kebencianlah yg timbul. Jangan saudara-saudaraku…!!! Bangunlah wahai dada kelana, hirup nafas yg baru, dunia sudah sempit dan penuh dengan penyakit dan keserakahan. Mari berlomba untuk maju, mudah2an kita bisa menemukan planet seperti bumi ini lagi. Dan kita mulai sejarah baru disitu…Horas/Mejuah-juah/Sekapur sirih sejuta pesan.

  13. Seru. “Kalak Karo, bukan Batak Karo”. Tampaknya kita harus telaah lebih mendalam dan mestinya berdiskusi secara lebih sehat. Ini cuma topik lama saja kok. Sayang jika diskusi 2010 tak maju (dalam argumen dan data) dibanding diskusi pra kemerdekaan.
    Semoga temukan kebenaran sejati.

  14. Kepada semua yang mau gabung dan memberi pandangan di forum ini mohon untuk menghormati pendapat orang lain. Karena kita semua berbeda latar belakang dan pengetahuan. Yang lebih tau atau punya data agar menyampaikan pandangannya secara sederhana agar orang lain bisa mencerna. Cara yang paling cocok berargumen dari fakta sejarah dan jangan sampai menyerang pribadi … OK lah yah….
    salam…..

  15. Horas
    Menjuah-juah!

    Memang sudah menjadi salah satu sifat manusia untuk selalu mencari perbedaan. Alasannya bermacam-macam

    Terkait dengan adanya beberpa orang yang mengklaim bahwa Karo bukanlah bagian dari Batak, perlu dipertanyakan Karo yang mana?

    Berbicara mengenai Batak. Pertanyaan yang timbul “SIAPAKAH ORANG BATAK ITU”?

    1. Berdasarkan Garis Keturunan
    Dalam hal ini, yang menjadi orang Batak adalah mereka yang sgenaelaogis merupakan keturunan Si Raja Batak. Itulah Batak yang kita kenal sekarang ini.
    2. Berdasarkan Pengakuan.
    Tidak dapat dipungkiri, bahwa terkait dengan kesamaan tempat tinggal maupun kesamaan kepentingan, kemudian ada dari penduduk yang bertetangga yang diangkat oleh marga tertentua menjadi bagian dari marganya ataupun atas kemauan sendiri menggabungkan diri kepada salah satu marga tertentu. Terkait dengan point 2 ini, memang masih perlu diteliti marga-marga apa yang mengalami hal seperti ini.

    Bagaimana dengan orang-orang Karo, dikaitkan dengan point 1, apakah adalah hubungan/garis keturunan?

    Terkait dengan pertanyaan ini, mungkin perlu diteliti apakah ada hubungan marga-marga yang ada di Tanah Karo dengan marga-marga yang ada pada Sub Suku Batak lainnya?

    Mengenai hal ini, ada beberapa marga di Karo yang saya dengar mempunyai pertalian dengan marga-marga pada Sub Suku Batak, antara lain :
    1. Marga Tarigan, Silangit dan Sibero, merupakan keturunan Purba (Toba) Simamora. Sama seperti Marga Siboro, Girsang, Tambun Saribu dan Tondang di Simalungun.
    2. Sitepu, merupakan Keturunan Sihotang (Si Raja Oloan), sama seperti Sitopu dan Lingga di Simalungun.
    3. Sebagian dari Marga Sembiring, mempunai pertalian dengan Silahi Sabungan
    4. Ginting dan Munte mempunyai pertalian keturunan dengan salah satu marga Parna.

    Banyak lagi marga-marga di Karo yang dulu diajarkan pada saya, mempunyai pertalian garis keturunan dengan marga Pokok Batak.

    Terkait dengan Silima Merga, sebagaimana disebutkan sdr Sinulingga, yang diajarkan pada saya (saya juga tidak tahu persis, karena belum memperdalamnnya) bahwa Silima Merga merupakan mengelompokan marga (Barangkali kesamaan daerah) dan bukan pengelompokan secara garis keturunan (Dalam hal ini bisa dilihat bahwa ada sembiring yang mempunyai pertalian secara keturunan dengan Silahi Sabungan, sementara Sembiring yang lainnya tidak mempunyai pertalian dengan Silahi Sabungan).

    Berkenaan dengan artikel ini, saya usulkan kepada Sdr. Ginting untuk kiranya dapat lebih memperdalam pertalian kekerabatan tersebut, apakah memang ada dan diakui oleh orang-orang tua kita di Tanah Karo.

    Saya Manalu, keturunan Simamora yang bersaudara dengan Marga Purba dan Debata Raja. Saya dan kami mengakui bahwa Tarigan dan Sibero (Siboro) adalah Kakak kami karena mereka merupakan keturunan Marga Purba.

  16. saya ginting berbicara, sebenarnya orang karo punya raja sendiri itulah raja Haru (Deli) dan kekuasaannya luas dari aceh hingga riau, dan ini perlu di telusuri lagi, bahwasannya tidak ada data yang jelas mengatakan mana lebih tua antara Raja Batak dan Haru. jika ditelaah sejarah Sumatera yang dikatakan Putri Hijau ini adalah putri dari kerajaan Haru. Siapa Raja Haru yaitu Pa Lagan, dimana ini berasal dari bahasa Karo. Disisini menjadi pertanyaan bagi saya, dikatakan Haru sempat berperang melawan Majapahit. Demikian halnya dengan Sisingamangaraja I. Perperangan ini merupakan kejayaan Raja dari Masing-masing suku untuk mempertahankan daerahnya. Tidak ada Raja Haru meminta bantuan ke Sisingamangaraja I, tetapi malah kekesultanan Aceh dikarenakan rakyat kesultanan Aceh adalah keturunan raja Haru. Karena kesimpang siuran inilah, pada saat itu belanda membedakan Propinsi Sumut dibagi berdasarkan Agama menjadi dua yaitu Provinsi Sumatera timur dan Tapanuli. Inilah warisan Kolonial yang seharusnya wilayah kerajaan Haru membetang di pesisir pantai Utara dari Aceh hingga Riau dan tanah Karo. Kalau kita telaah dari awalnya manusia terbentuk dari Nabi Adam pada dasarnya adalah Satu. Tetapi Raja merupakan generasi berikutnya yang beranak dan membawa kemakmuran rakyatnya, bisa dikatakan kenapa orang Batak dan Karo dapat mempertahan Marganya itu adalah sifat dari Rajanya yang menghormati orang tuanya sehingga memakai nama orang tuanya sebagai Identitas Rajanya. Dari gambaran ini tidak ada kaitan antara Batak dan Karo, Sebab Batak memiliki Raja dan Karo juga memiliki Raja. Raja Haru memiliki keturunan Lagi itulah yang dikenal dalam orang Karo Merga Silima. Orang Batak termasuk Simalungun, Toba, Mandailing, memiliki bahasa yang sama dan perwatakan yang sama dengan Rajanya. Tetapi tidak ada kemiripan dengan bahasa Karo, baik bahasa, budaya dll. seperti didaerah Sergei, Deli serdang, Langkat terdapat melayu yang mempunyai merga orang Karo, tetapi mereka tidak mau dikatakan batak sebab meraka adalah Keterunan Raja Haru, dan mereka cenderung mengatakan meraka Melayu Deli (Haru), dikatakan Melayu sebab mereka Muslim dan Raja Haru sendri adalah Muslim. Sebagai gambaran di Daerah Sergei, Deli serdang, Langkat apabila ada gendang karo, banyak orang melayu datang, ertutur dan setelah itu mereka mengatakan marganya. Dari tulisan ini sebenarnya orang Bataklah yang berusaha mempertahankan Karo sebagai batak , kebanggaan mereka akan budaya Karo, Gendang Karo/keyboard karo dan Keramahan orang karo serta gadis Karo yang cantik-cantik. Dari legenda putri hijau inilah bukti kecantikan gadis karo yang menolak lamaran Sultan Aceh. Dan tidak bisa dipungkiri orang karo membuat bersih nama Batak karena kehalusan bahasannya dan keramahan orangnya, dan orang batak sendiri mengakui diantara batak orang karo lah yang ramah. Kalau tidak percaya gerejalah di GBKP, disana tidak ada terlihat orang batak karena mereka tidak mengerti dan susah mancontoh sifat orang karo namun sebaliknya orang karo mudah diterima di HKBP walaupun kurang mengerti bahasa tapi terkenal ramahnya. Tatapi di akhir tulisan ini saya merasa bangga orang Karo dan Batak masih mempertahankan marganya, berbeda dengan suku-suku lain yang menghilangkan identitasnya dari rajanya, karena menurut saya ini sangat bermanfaat dan mencerminkan semangat juang Raja kita yang mewariskan kepada kita dan akan kita wariskan kembali ke nak cucu kita.

    Demikian Salam Hangat,
    Bujur ras mejuah-juah kita kerina…

  17. Dari seluruh pendapat di atas semuanya benar kalau kita melihat dari kaca mata masing-masing. Tapi pendapat dari JG perlu juga kita hargai bukan untuk dihina. JG hanya menuliskan pendapat-pendapat secara teori saja tidak disertai dengan bukti sementara teori yang tidak disertai dengan bukti saat sekarang ini tidak dapat diteerima begitu saja oleh masyarakat. Begitu juga kalau ada yang protes pendapat tersebut harus disertai dengan bukti juga. Mauliate

  18. sebagai orang bukan batak simalungun tp orang simalungun ,saya setuju dgn sudara JG..
    yg lbh tahu tentang suatu suku pasti suku itu sendiri,
    jd mari kita cari sejarah yang sebenarnya,jgn kita terpaku pd sejarah yg ditulis oleh orang toba..
    “yg menentukan eksisitensi sebuah suku adalah suku itu sendiri bkn suku lain”
    jd gak mungkin orang toba lbh tahu tentang karo dari pada orang karo itu sendiri,dan lebih tak mungkin lg orang karo lbh tahu tentang toba dari pada orang toba itu sendiri..

    mejuah-juah…

  19. @Andika M Ginting

    Saya ada sedikit tanggapan mengenai Hubungan antara Batak dan Karo.
    Naskah atau tulisan yang baik dapat membentuk opini masyarakat setempat, walau belum tentu tentang kebenarannya.
    Mungkin dalam suatu rumpun bangsa sebagian rakyat keturunan raja, tetapi tentu pula ada rakyat yang bukan keturunan raja itu sendiri, jadi mengenai hubungan kerajaan dengan asal dari suku bangsa tidak musti selaras, sebagai contoh raja Ingris turun temurun bukan berasal dari Inggris sendiri melainkan dari Scotlandia, juga halnya Kaisar Jepang adalah orang Korea.
    Mengenai hubungan antara Sisingamangaraja dan si Raja Batak yang konon kabarnya moyang dari orang Batak juga belum diketahui sejauh apa hubungannya.
    Salah satu teori yang saat ini sangat mempengaruhi opini dunia untuk menjadi Atheis adalah teori evolusi Darwin, padahal kalau ditanya pertanyaan pertama setelah timbulnya teori evolusi tidak pernah terjawab, pertanyaan itu adalah kalau dari tidak ada menjadi ada mengapa mereka menjadi tua dan mati? tapi teori itu sekarang tanpa memper masalahkannya telah mendarah daging bagi manusia saat ini termasuk juga umat yang mengaku beragama, sehingga agama mentolerir teori evolusi. Mungkin sebagian manusia tidak mengakui secara langsung, tapi dari perubahan tingkah laku dan reaksi mereka secara tidak sadar mereka maengakui hal itu.

    Saya sendiri Tidak sependapat dengan masyarakat Batak pada umumnya yang mengatakan semua orang Batak adalah keturunan si Raja Batak. Kalau di lihat di marga2 Batak ada yang berupa nama kampung, nama gunung, nama bilangan dsb, sebagai contoh Hutagalung, Hutapea, Napitupulu, Pasaribu, Pangaribuan, Dolok saribu dsb. Adapula marga2 yang berbau India seperti Munte, dalimunte, Gurusinga, Brahmana dsb, ada marga2 transisi dimana satu marga mencakup tiga suku contohnya marga Purba dan Manik ada yang berasal dari Toba, ada yang berasal dari Simalungun dan ada yang berasal dari Karo. Mengenai keramahan juga berbeda-beda, suku Mandailing seperti halnya suku Karo Lebih ramah dari Toba.
    jadi Karo tidak dapat menyimpulkan keramahan adalah milik Karo sendiri. Memang orang Toba sangat menyolok bahasanya tapi kata mereka itu bukan kasar tetapi Tedak yaitu sifat terus terang tanpa selubung.
    Sekarang mengenai kebesaran kerajaan Sisingamangaraja dan kerajaan Haru. Sejarah dapat dilihat dari peninggalannya, seperti halnya Mataram dengan candi2nya dan penyebaran bahasanya. Ibarat Bahasa Inggris dipakai hampir diseluruh dunia terutama negara2 kesemakmuran Commonwealth, kalau kita lihat bahasa kerajaan Haru sendiri kurang tersebar, jadi kebenaran kebesaran kerajaan Haru masih diragukan, sedang bahasa batak penyebarannya lebih luas, kalau dilihat mempengaruhi dari dairi, simalungun, angkola, mandailing, toba hingga pakat sidingkalang. Peninggalan lain berupa puing2 kerajaan maupun candi2 saya belum mendalami.
    Banyak cerita bahwa Sisingamangaraja adalah Muslim dan kalau menurut cerita pak Ginting maka Pa Lagan pun Muslim, tetapi sepengetahuan saya Muslim sang konsisten dalam memakai nama muslim seperti Ali, Anwar, Jusuf dsb. Mungkin ada pengaruh Islam ke tanah Batak dan Karo seperti yang terlihat pada mantera2 yang tertulis di buku laklak Simalungun, tetapi saya belum mendapat bukti yang dapat diandalkan bahwa Sisingamangaraja dan Pa Lagan adalah Muslim.
    Sekali lagi Cerita atau naskah yang ditulis dengan baik walau kebenarannya belum dapat dipastikan dapat mengubah opini masyarakat. Kalau seandainya tidak benar bahwa seluruh orang Batak keturunan si raja Batak seperti yang diceritakan tarombo mungkin hubungan antara Toba dengan Dairi, Simalungun dan Karo dan juga hubungan Toba dengan Mandailing yang mengaku dirinya keturunan Bugis akan lebih mungkin dijelaskan.
    Tidak dapat di Ingkari bahwa mereka semua bertetangga dan perkawinan campur sudah menjadi kebiasaan umum. Mungkin Bahasa Karo sangat berbeda dari lainnya tetapi pengaruh bahasa Karo selaku kerajaan yang berjaya terhadap bangsa2 tetangganya tidak ada.
    Mengenai wanita cantik dan kurang cantik ada dimana-mana juga orang yang berperawakan tinggi dan pendek, ganteng dan biasa-biasa ada dimana2. Orang pandai dan goblok pun ada dimana-mana.
    Miss Indonesia sendiri belum pernah datang dari tanah Karo apa lagi Miss Dunia. Apakah benar orang Karo lebih kuat dari bangsa lainnya? setahu saya olahragawan2 kelas dunia bukan datang dari tanah Karo.
    Horas

  20. @bg parningotan..

    horas..

    bkn maksud orang karo mengungulkan diri dr suku batak toba,namun setidaknya dgn diskusi ini kita bisa lebih mengkaji kekayaan budaya kita..
    jgn sampai org lain yg menuliskan ttg sejarah suku bangsa kita..

  21. Hati2 dalam Menganalisa Sejarah

    kalau kita ingin mendalami menganalisa sejarah dan menulis sebaiknya kita berpikir lebih kritis, tidak dipengaruhi emosi, khayalan diri sendiri atau maksud2 tertentu. karena tulisan kita dapat merubah opini pembaca, terutama bila kita dapat menulis dengan baik.
    sebagai contoh; Bahasa dan struktur bahasa batak sangat mirip dengan bahasa Tagalog di Filipina dan banyak juga kata yang sama artinya, sebagai contoh “ulu (kepala)” bahasa Tagalog sama dengan bahasa Batak, juga kata Asu (anjing), kerbau (horbo) dan kata lainnya, tapi pada bahasa Jawa Asu mempunyai arti yang sama walau bahasa Jawa mempunyai struktur yang berbeda dengan bahasa Batak.
    Awalan Ma, Pa sangat sering digunakan di bahasa Tagalog seperti halnya dengan bahasa Batak.
    Dari sini ada banyak kemungkinan yang bisa diambil
    1. Apakah Bangsa Filipina pernah infasi hingga daerah Batak
    2. Apakah Suku Batak pernah infasi ke Filipina
    3. Apakah kedua bangsa tersebut mempunyai asal usul yang sama
    4. Apakah Bangsa Filipina berasal dari tanah Batak
    5. Apakah bangsa Batak berasal dari Filipina
    6. Apakah kesamaan tersebut telah sejak mula atau datang secara kemudian

    Contoh masalah lain
    Ada pengaruh Muslim pada kitab Laklak Simalungun sejauh manakah Muslim mempengaruhi Simalungun?

    1. Kaum Muslim umumnya menggunakan tulisan Arab lebih diutamakan dengan tulisan mereka sendiri
    2. Kaum Muslim umumnya menggunakan nama Muslim
    3. Mengapa buku Laklak tidak tertulis dalam tulisan Arab
    4. Berapa banyak perbendaharaan kata dan adat istiadat Simalungun terpengaruh dengan masuknya Muslim ke Simalungun
    5. Berapa bagian dari Simalungun adalah Muslim dan berapa bagian yang tetap memegang kepercayaan mereka sendiri
    6. Sejak kapan pengaruh itu terjadi

    Mengenai hubungan Toba dan Karo

    1. konon banyak marga di Toba yang katanya dapat dikonversikan untuk Karo sebagai contoh banyak yang sependapat bahwa marga Sinambela adalah Surbakti di Karo, Sinaga dan Manik juga seperti marga2 lainnya yang saya sudah agak lupa. Kalau itu memang benar mengapa nama marga itu harus berganti nama
    2. Apakah suku Karo merasa bukan orang Toba atau kah hanya dari kelompok tertentu misalnya dari fraksi Tertentu
    3. Bagai mana hubungan antara suku Karo yang katakan mempunyai fraksi tertentu tersebut dengan suku Batak lain yang mempunyai fraksi yang sama dengan mereka apakah meraka lebih merasakan persaudaraan
    4. Bagai mana tingkat derajat kehidupan penganalisa naskah dalam suku tersebut apakah ia dari keturunan Raja, Bangsawan, rakyat jelata dan bagai mana keadaan emosi penganalisa tersebut.
    5. Dari sudut apa ia akan meng-analisa, sebagai contoh dukun akan mengatakan orang sakit kerasukan setan sedang Dokter akan mengatakan orang sakit karena virus sedang psikolog mengatakan orang sakit karena tekan jiwa. Orang Kaya mengatakan orang miskin sakit karena stress kurang gizi dsb.
    6. Apakah ada tulisan dari fihak lain yang menprovokasi perbedaan tersebut sebagai contoh saat masuknya Belanda ke Indonesia dengan melaksanakan politik pecah belah

    Tentunya masih banyak sudut pandang yang belum tertulis pada lembaran ini. Kalau kita menganggap tulisan kita bertanggung jawab untuk mencari kebenaran maka kita akan menulis lebih teliti, tetapi ada pula sebagian orang yang berniat menulis untuk provokasi atau maksud maksud tertentu, contoh yang paling jelas adalah politikus yang bercita2 ingin terpilih, dia tidak perduli impak tulisan itu pada karakter masyarakat yang terbentuk, apa lagi tulisan yang dibuat oleh pihak pemecah belah seperti halnya Belanda.

    Horas

  22. apa semua bahasa batak itu sama??
    klo mmg orang karo,simalungun berasal dari samosir,mengapa bahasa simalungun dan karo yg lbh dekat kpd bahasa sansekerta sbg induk bahasa di nusantara?
    jd saya bingung apa benar batak itu bersal dari satu nenek moyang yaitu org batak toba…

  23. horas ras mejuah_juah kita kerina……

    bagiku batak adalah karo,,karo adalah batak,,,kenapa harus dipermasalahkan ??
    di zaman yang serba sulit dan konflik d’sana sini yg semakin memanas janganlah kita sesama orang batak malah mempersoalkan hal yang sepele dan tidak perlu dipersoalkan…
    toh selama ini kita orang batak dikenal dengan kehidupan yang bersahaja dan hidup secara damai,,jadi dengan adanya prokontra seperti ini,,mungkin orang malah tidak akan bersimpati lagi dengan kita orang batak ini…jadi jagalah kerukunan tak usah saling berdebat.
    lebih baik kita bersatu kita usir teroris dari sumatera utara kita tercinta ini….heheheheheheh…

  24. Saya sudah baca secara seksama tulisan Lae Manalu, Sle Ginting dan Parningotan yang mecoba menggungkap fakta sejarah… ini sangat bagus untuk pencerahan bagi kita semua
    Terimaksih saya ucapkan kepada semuanya. Saya tidak ingin menyampaikan apapun kecuali rasa persaudaran kepada teman2 dari karo..mungkin ini pengalaman saya pribadi ketika kost di Padang Bulan Medan tahun 80-an.. sehari hari bergaul.. belajar bersama …berdebat .. nyanyi bersama dll. Saat itu saya merasa bahwa mereka tidak ubahnya seperti orang batak Toba seperti saya… hanya beda bahasa saja…. disaat saya kekurangan ataupun sedih mereka adalah penolong…. tidak melihat saya apakah dari Toba atau Kabanjahe….. dari sisi kemanusiaan mungkin ini hal terpenting……

    Horas…. Menjuah Juah kita krina..
    SALAM……

  25. Asyiik! Diskudi yang asyik. Tapi buat aku, sementara pass dulu mau googling dulu… Tapi yang ingin aku tegaskan hanya sangat disayangkan klaim dari seorang Juara Ginting, yang nota bene seorang akademikus, seharusnya didasarkan atas bukti ilmiah yang mendukung dan dipaparkan di forum ilmiah.

    Itu dulu lah….

  26. Yang saya tau Karo terbagi tiga yaitu; Karo gunung, Karo tengah dan Karo pesisir/melayu.

    Adapun Merga Silima saya dapat tunjukkan data-datanya bahwa itu adalah “SERUMPUN” dengan Batak lainnya……tapi maaf, saya akan uraikan bila ada forum yang resmi.
    Kuakui juga, dari penulis Batak Toba dan mungkin Karo banyak yang kurang penelitian tapi telah berani menerbitkan buku/tarombo sehingga menimbulkan polemik…

    Saran saya; janganlah memaksakan pendapat bila argumentasinya tak dapat diuji minimal dengan kepatutan dan rasio….sebab itu akan memperkeruh pokok bahasan. (maaf saya bukan mau menggurui atau merasa pintar)

  27. Horas.

    Setuju dengan sdr.Bonar Siahaan.

    Namun sekedar garis besar, sudi kiranya memaparkan Lae Bonar Siahaan,mudah2an pembaca menuai hal yang mencerahkan, ditunggu ya Lae Bonar Siahaan.

    Mauliate

  28. PENYEBARAN PANGULUBALANG DI SUMATRA UTARA
    menurut Proyek Pengembangan PerMusiuman Sumatra Utara
    Istilah PANGULUBALANG adalah ciri khas Sumatra Utara yang tidak didapat di daerah lain

    Pangulubalang adalah hantu yang diperhambakan kepada manusia untuk menjaga, melindungi bahkan membinasakan musuh2nya
    bentuk patung Pangulubalang yang terdapat pada suku Batak umumnya mempunyai kesamaan bantuk antara satu daerah dengan daerah lain , menurut bapak Suruhen Purba, ini menunjukkan bahwa suku suku Batak serumpun adanya. persamaan itu dapat dilihat dalam tehnik pemahatannya.Persamaan tujuan pembuatan arca tersebut juga menunjukkan alam pikiran yang sama

    Cara pembuatan pangulubalang
    1. umumnya orang yang akan dijadikan pangulubalang diculik dari kampung lain
    2. sebelum dibunuh dikurung, diasuh, dipenuhi segala keinginannya, tapi wajib patuh dan setia pada tuannya sampai terbiasa
    3. Harus Iklas jadi Pangulubalang
    4. Berjanji pada pemiliknua bahwa arwahnya nanti akan patuh pada tuannya
    5. Namanya dan nama tuannya dirahasiakan
    6. Dibunuh dengan cairan timah dimasukkan kemulutnya
    7. Sesudah mati diolan jadi pupuk dan dimasukkan pada cawan
    8. Bahan pangulubalang dibawa kehutan dan dilakukan upacara2
    9. patung Pangulubalang terbuat dari batu berbentuk manusia, dilubangi pada ubunubun, dada, pusat atu bagian kaki, dan di lubang ini ditempatkan abu mayat pangulubalang. Pangulubalang harus diberi sesajen secara berkala dan juga bila akan diperintah melakukan sesuatu

    sisa2 patung pangulubalang yang masih dapat di inventarisasi di daerah Batak :
    SIMALUNGUN
    1. pangulubalang Bah Ilang di Pematang Selampuyang
    2. Pangulubalang Puang Lima Sibukbuk di Pematang Tanah Jawa
    3. Pangulubalang Pallanang di Bosar Hataran
    4. Pangulubalang Sialo Musu di Huta Mariah
    5. Pangulubalang Sialo Musu di Huta Panahatan
    6. Pangulubalang Partaunan
    7. Pangulubalang sidogordogor di Lintong Sidapitu Sipangan Bolon
    8. Pangulubalang Sibiaksa
    DAIRI
    1. Pangulubalang Kecupak
    KARO
    1. Pangulubalang Ginting di Kampung Kutambaru nama pangulubalang di karo adalah pulubalang
    TAPANULI UTARA
    1. Pangulubalang Sanggapati na Bolon
    2. Pangulubalang marga Simamora Purba dari Dolok Sanggul Lumban Julu
    3. Pangulubalang Sigumpar
    4. Pangulubalang Situnggal Manunsar di Narumonda kec. Silaen
    Nama Pangulubalang di Toba sesuai dengn fungsinya
    1. Pangulubalang sipubonggari – pencabut nyawa
    2. Pangulubalang Nagara di Langit – memanggil, berbunyi, mencuri ayam ternak dari kampung musuh
    3. Pangulubalang Si Batu Nanggar – perusak kampung musuh
    4. Pangulubalang Sibatu Loting
    5. Pangulubalang Sigantung Rangin
    6. Pangulubalang pangihutihut

    TAPANULI SELATAN
    1. Pangulubalang Adian Boratan di kec Aekanopan
    2. Pangulubalang Muara Mampang
    3. Pangulubalang Magagar
    4. Batu Tagor

    catatan; jumlah peninggalan Pangulubalang di Simalungun lebih banyak ditemukan di Simalungun lebih banyak dari daerah lain bukan berarti dari daerah ini asal mula Pangulubalang, tetapi bisa juga karena didaerah ini terpelihara lebih baik, atau pengaruh faktor lain seperti masuknya agama Nasrani dan agama lain yang mungkin pula memusnahkan eksistensi tersebut, dapat pula oleh adanya perang meluas seperti saat serangan Tuanku Rao yang mendapat bantuan dari Sumatra Barat yang memusnahkan kebudayaan di Tapanuli Selatan/Utara

    kesamaan lain antara suku suku Toba, Karo, Dairi/Pakpak/ Simalungun/ Mandailing/Sipirok selain tulisan dan adanya marga juga adalah dengan adanya Dalihan natolu dan Pangulubalang
    Ini adalah fakta yang harus dipertimbangkan untuk mebuat naskah sejarah

    DALIHAN NATOLU

    Toba/Angkola/Mandailing Dalihan na tolu – dongan sabutuha, boru,hulahula
    Pakpak/Dairi Daliken sitolu – dongan saboltek, beru, kulakula
    Karo Sangkep sitelu – senina, anakberu, kalimbubu
    Simalungun Tolu sidalanan – Senina, anak boru, tondong

    Mengenai Istilah Datu itu pun harus dipelajari karena gelar Datu didapat dari Malaysia hingga Sumatra Utara hingga Sumatra Barat, saya belum mendalami hubungan antara datu di Batak dan Datuk di Malasia, Aceh, Tapanuli hingga Sumatra Barat

    Sumber Informasi Departemen Pendidikan dasar dan Kebudayaan proyek perkembangan perMusiuman Sumatra Utara

  29. Saya melihat suku Batak sebenarnya tidak ada !! penamaan itu tidak ideal sebagai penamaan etnis, apalagi karena dikembangkan oleh Penjajah dengan berbagai motivasi yg relevan untuk kepentingan mereka pada saat itu, salah satunya berdampak pada etnis Karo, terutama sejarah kristenisasi hingga berdirinya GBKP (abad 19-20)..
    Tapi saya tidak akan mengatakan kalo etnis Karo tidak ada hubungan dengan etnis “Batak Dominan” (baca : Toba). Data historis-arkeologis sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau mereka eksis bersama, saling mempengaruhi dengan berbagai paradigma penyebutan apapun itu pada masa itu hingga masa sekarang, terserah entah dipanggil karo, Toba, simalungun, Mandailing, dsb.. Apalagi saat ini berkembang berita bahwa identitas masyarakat Suku Karo sebelum abad 19-20, dikaitkan dengan eksistensi Kebesaran Kerajaan Haru / Aru pada masa itu yang menguasai seluruh wilayah Sumatera. HATI-HATI, BERITA SEPERTI INI SANGAT RENTAN MEMICU KONFLIK ANTAR ETNIS MASA KINI.. Saya sebagai arkeolog melihat datanya masih sangat lemah (data historis sumber-sumber tertulis abad 13)..Apalagi seharusnya ditunjang dengan data arkeologis yang sampai saat ini belum ada peninggkatan secara signifikan..Jadi tidak kurang kerjaan kali lah kita menyalahkan Belanda yang berhasil membumikan penamaan ‘Suku Batak’, namanya juga Penjajah punya kepentingan sendiri🙂

    Semoga kedepan kita2 bisa mampu semakin merekonstruksi riwayat “masyarakat Batak” sampai lebih jelas, jujur, demi kepentingan masa depan generasi muda Bangsa Ini😉

    Horas…. Menjuah Juah kita krina..
    SALAM DAMAI……

  30. @Defri Simatupang
    Mungkin perlu kita tambahkan referensi penelitian yang dilakukan oleh William Marsden pada abad-18 (History of Sumatra), supaya tidak selalu terperangkap pada penuduhan kepentingan penjajah (Belanda) tentang Batak. Dikatakan bahwa Tanah Batak adalah hampir seluruh wilayah Sumatra Utara sekarang.

    Saya rasa William Marsden tidak punya kepentingan politik untuk pecah belah sub-Batak. Menurut saya History of Sumatra memaparkan hal yan fair tentang geopolitik penduduk di Sumatra, termasuk Batak.

    Kitab Negarakertagama tidak hanya menyebutkan kerajaan Haru, malah terlebih dahulu disebutkan Toba dan beberapa kerajaan lainnya yang semuanya dikelompokkan sebagai kerajaan M’layu (Ekspedisi Pamalayu).

    Memang harus diakui bahwa semasa penjajahan Belanda terjadi politik pecah belah, ditambahlagi dikeluarkannya Tarombo Siraja Batak oleh WM Hutagalung, yang menabur konflik disemua marga-marga tentang penguasaan wilayah adat berdasarkan silsilah leluhur. Wajar saja sebagian dari komunitas Batak di Mandailing, Karo, Pakpak, Simalungun, tidak mengakui diri sebagai bagian dari Batak, sementara marga-marga di Silindung, Humbang, Toba Holbung, Samosir, tidak mempersoalkan konflik wilayah adat dalam konteks Batak melainkan hanya sebatas konflik marga-marga saja, maka jadilah marga-marga terutama dari 4 wilayah ini dianggap hegemoni pencitraan Batak.

    Yang menjadi persoalan, apakah marga-marga dari 4 wilayah yang mengakui diri sebagai Batak mampu menghapuskan (mencoret) sejarah leluhurnya yang ada di Karo, Pakpak-Dairi, Mandailing-Angkola, Simalungun. Kalau mereka mampu, ya relakan saja bahwa mereka bukan Batak. Tetapi saya kira mereka tak mampu menghapuskan garis keturunan leluhurnya, karena takut kualat.

  31. SAya rasa memang sudah saatnya tidak memakai nama Batak lagi , orang Toba biarlah memakai isatilah Halak Toba, juga demikian halnya ada Halak Simalungun, Halak Dairi, Halak Mandailing, Halak Pakpak saya tidak tahu dalam bahasa Karo apa kata halak katakan saja ………….Karo. mungkin ini lebih cocok
    kalau saya melihat memang dunia aneh, saya tidak tahu terkadang manusia merasa bukan serumpun oleh sebab agama yang berbeda, sedang tidak ada hubungan antara agama dan suku bangsa, sebagai contoh banyak mayarakat setelah memeluk agama tertentu tidak lagi memakai nama keluarga mereka, apakah berarti nama keluarga adalah najis ditinjau dalam segi agama, saya kurang mendalam dalam hal ini. malah ada agama yang mengajarkan bahwa “brother/sister” adalah yang se agama sedang abang/adik kandung sendiri kalau beda kerpercayaan bukan “brother/sister” lagi. Saya rasa dunia sudah sakit. harus dicari jalan keluarnya.

  32. Dalihan natolu…
    tdk hanya dikenal org batak saja,di minangkabau jg ada..
    pangulu balang,peninggalan jaman megatilikum semua daerah di indonesia jg ditemukan…
    jsaya setuju dgn lawei parningotan yg mengatakan istilah halak bg semua suku yg ada di sumatera utara,wlw lawei parningolan merasa terpaksa mengungkapkan hal itu…

  33. @Defri : Hai def, pkbr? Ketemu kita disini. Ni topik yg pernah kalian bahas dgn Nuansa kan?

    Aku bukan arkeolog, bukan budayawan dan bukan ahli sejarah. Hanya Orang biasa yang pernah membaca dan mendengar.
    Sepengetahuanku (dari buku, artikel dan literatur yang pernah aku baca) suku karo dan suku batak punya latar belakang yang berbeda. Seperti kata Bang @Andika, suku karo berasal dari keturunan kerajaan Haru.
    Soal dalinan na tolu atau di karo disebut rakut sitelu, dalam suku karo lebih kompleks lagi dan di jabarkan dalam tutur si waluh..
    Selain itu, jika memang memang suku karo bagian dari batak, bagaimana penjelasan terhadap marga-marga batak yang tak ada padanannya di suku karo ataupun merga-merga di suku karo yang tak ada padanannya di suku batak?
    Aku pernah naik becak ma Ibuku, kebetulan abang becaknya suku batak toba. Saat kami bertanya itu marga kalau dikaro masuk ke merga apa, abang becak tsb bilang, bahwa marga dia tidak bisa dipadankan dengan marga manapun. Hanya ada di daerah toba saja.(Maaf saya lupa dia marga apa)
    Setahuku juga, suku karo, toba, simalungun, pakpak, mandailing itu disebut batak adalah merupakan hasil perbuatan Kolonial Belanda untuk mempermudah menjajah sumatera.
    Soal marga atau di karo disebut merga, menurut artikel yang pernah ku baca dan mendengar penuturan seorang teman; marga-marga di karo dan suku lainnya (batak), sebenarnya tidak ada hubungan. Hanya jaman dahulu, mungkin mereka hidup bertetangga, atau pernah saling menolong, atau salah satu keturunan merantau ke suku lain dan diterima dengan baik maka mereka mengikat saudara. Dan sejak itu keturunan-keturunan mereka di padankan marganya. Misalnya sembiring yang dipadankan dengan silalahi.

    Apa yang aku tulis, bisa benar bisa pula salah, daripada kita bertegang urat saraf disini, bukankah lebih baik kita saling mempelajari satu dengan yang lain, jangan hanya mengemukakan pendapat sesuai dengan penelitian atau kajian dari suku kita aja. Tak ada salahnya teman-teman dari batak toba mulai mempelajari buku atau artikel yang membahas suku karo sehingga bisa mengerti mengapa orang karo memisahkan sukunya dari rumpun batak dan teman-teman suku karo juga ga ada salahnya menambah wawasan mengenai apa sih batak itu.
    Setelah itu, lebih baik kita saling menghargai pendapat masing-masing, ga ada yang lebih baik atau lebih buruk. Semuanya sama. Lebih baik mikirin gimana caranya kita memajukan sumatera utara yang udah ketinggalan di banding Indonesia bagian tengah sana. Lebih baik mikirin apa yang bisa kita perbuat bagi saudara-saudara kita yang kemalangan krn alam yang marah..
    Damai di hati, damai di bumi..

    Love u all..
    Gb

  34. @Yuniati Sembiring

    Saya kutip: “suku karo berasal dari keturunan kerajaan Haru”

    Tahun berapa ya kira-kira berkembangnya kerajaan Haru? Tahukah anda sejarah sebelum muncul kerajaan Haru?

    Saya kutip; “Selain itu, jika memang memang suku karo bagian dari batak, bagaimana penjelasan terhadap marga-marga batak yang tak ada padanannya di suku karo ataupun merga-merga di suku karo yang tak ada padanannya di suku batak?”

    Sudah kah anda menghafal/mempelajari semua sejarah ‘Merga Silima’? dan, Sudahkah anda menghafal/mempelajari sejarah marga-marga pada suku-suku lain seperti Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing, dll.? Kalau sudah, baru boleh katakan tak ada padanannya. Yang anda maksud suku batak itu yang mana? Yang saya tau Batak itu adalah sebutan bangsa, bukan suku? Kalau suku Karo bukan bagian dari bangsa Batak, masih perlu diperdebatkan. Dalam hati saya sih sebaiknya tidak. (Tak berani saya berpendapat ‘tidak’, hanya dalam hati saja)

    Saya kutip: “Setahuku juga, suku karo, toba, simalungun, pakpak, mandailing itu disebut batak adalah merupakan hasil perbuatan Kolonial Belanda untuk mempermudah menjajah sumatera.” Sebelum Belanda menjajah, sejarahnya kira-kira gimana ya?

    Komentarnya ini kan hanya setahu Yuniati Sembiring saja kan? Bukan yang diketahui orang lain kan?!

  35. Perkenalkan nama saya Timotius A. Purba.
    Saya karo-karo purba.
    Saya ingin memberikan sedikit tanggapan buat blog ini.
    Saya mengucapkan terimakasih buat mama J.Ginting buat artikel yang dibuatnnya.saya ingin menggapai beberapa koment dari teman2 di blog ini.

    @ Juni hutabarat
    “Songon i do molo pamalo HU prinsipna, namangalului sensasi sian naposo doi asa sega tu haduan gabe ndang adong parsadaan, gabe perbedaan ma naro, boasa ndang dibahas ibana negara on? boasa ndang dibahen ibana “BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?”
    sai na adong do tahe si suar sair. “
    Buat juni,ini blog berbahasa Indonesia,bukan bahasa toba.disini Nampak keegoaan anda dalam berfikir.msalah kenapa BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?”? kita disisni membahasa tema kenapa harus dipakai batak karo,sedangkan karo bukan batak. Kalau lari ke Indonesia mah itu kejahuan.jangan terlalu jauh dong berkoar2.kiat focus aja ke tema yg dibahas.

    @ Pontas e. Simanjuntak
    Bukan masalah apalah arti sebuah nama. Nama iru penting mpal. Kalau menurut impal ku nama g penting,untuk apa orang tua kam capek2 bikin nama. Maaf ne sebelumnnya,seandainnya nama g penting. Impal ku pontas mau namannya diganti dengan yang aneh2? Misalnya Pontas diganti dengan ayam??
    Gmn pal?jangan marah ya…

    @ buat om togar silaban
    Jangan dibawa2 GBKP.kalau mau tau kenapa GBKP ada kata BATAK,silahkan tanya langsung kepusat moderamen GBKP.anda akan tau sejarah lengkap GBKP dan penamaannya.jangan menulis argument yang anda ambil dari pikiran anda biar tidak terjadi hal2 yang tidak diinginkan.

    @mantak manalu
    Saya mengutip :
    “Terkait dengan adanya beberpa orang yang mengklaim bahwa Karo bukanlah bagian dari Batak, perlu dipertanyakan Karo yang mana?Berbicara mengenai Batak. Pertanyaan yang timbul “SIAPAKAH ORANG BATAK ITU”?
    1. Berdasarkan Garis Keturunan
    Dalam hal ini, yang menjadi orang Batak adalah mereka yang sgenaelaogis merupakan keturunan Si Raja Batak. Itulah Batak yang kita kenal sekarang ini.
    2. Berdasarkan Pengakuan.
    Tidak dapat dipungkiri, bahwa terkait dengan kesamaan tempat tinggal maupun kesamaan kepentingan, kemudian ada dari penduduk yang bertetangga yang diangkat oleh marga tertentua menjadi bagian dari marganya ataupun atas kemauan sendiri menggabungkan diri kepada salah satu marga tertentu. Terkait dengan point 2 ini, memang masih perlu diteliti marga-marga apa yang mengalami hal seperti ini.
    Yang mau saya Tanya.
    1.siapa si raja batak itu?kalau dia memang raja dimana kerajaannya dan ada,dimana kuburannya.
    2.kenapa setiap klan yang bermarga dikatakan keturunan si raja batak. Egois sekali kan.
    3.kami orang karo mengakui,beberapa klan merga ada yg dating dari toba,tapi TIDAK SEMUA.kok langsung dicomot kalau karo ada hubungan dengan toba.
    Trus saya mau bahas terombo versi soba.
    Contoh merga karo2 yng dikatakan berasal dari siraja oloan.
    Ini teksnya:
    Berikut urutan Marga-Marga Si Raja Oloan dari yang sulung sampai bungsu:
    1. NAIBAHO/Si Ganjang Ulu
    Marga Naibaho sendiri ada 5 bagian yaitu : Naibaho Siahaan, Naibaho Sitakkarain, Naibaho Sidauruk, Naibaho Huta Parik, dan Naibaho Siagian.
    Sedangkan Marga Sitindaon adalah hasil perkawinan (kecelakaan) antara sesama Naibaho Siahaan sendiri.
    Ada beberapa Marga Naibaho yang merantau ke daerah Karo dan Dairi/Pakpak antara lain: Porhas Japjap, Sitolpak Gading: Ujung, Angkat, Bintang, Gaja Diri, Gaja Manik, Sikamo (Sinamo), Capa (Sapa).
    2. SIHOTANG/Si Godang Ulu
    Marga Sihotang sendiri ada 7 bagian yaitu : Sihotang Sidardabuan (di Sidikalang disebut Sihotang Manik/Sumbul Parongil), Sihotang Sorganimusu, Sihotang Sitorbandolok (di Karo disebut Sitepu, Sinubulan, Batu Nangkar, Bukit), Sihotang Sirandos, Sihotang Simarsoit, Sihotang Raja Tunggal Hasugian (Di Karo disebut Sinulingga, Kaban, Surabakti, Kacaribu), dan Sihotang Lumban Batu (Di Karo disebut Sinuraya, Sinuaji).
    3. BANGKARA
    Marga Bangkara sendiri ada 3 bagian yaitu: Bangkara Dolok, Bangkara Tonga, dan Bangkara Toruan.
    4. SINAMBELA
    Marga Sinambela sendiri ada 3 bagian yaitu: Sinambela Raja Pareme, Sinambela Tuan Nabolas, dan Sinambela Bonani Onan.
    5. SIHITE
    Marga Sihite sendiri ada 3 bagian yaitu: Sihite Pande Raja, Sihite Siguru Tohuk, dan Sihite Siguru Leang.
    Marga Siteang sebenarnya juga masuk Sihite tapi saya tak tahu asal usulnya darimana.
    6. SIMANULLANG
    Marga Simanullang sendiri ada 3 bagian yaitu: Simanullang Lumban Nahukkup, Simanullang Lumban Ri, dan Simanullang Lumban Nalom.
    Sumber: http://batakgaul.wordpress.com/2008/11/30/marga-marga-si-raja-oloan/

    Dan ini cerita merga karo2 yang sudah dibukukan dan disahkan:
    • Merga Karo-Karo
    Merga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :
    • Karo-Karo Purba
    Merga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular.
    Dari isteri umang lahirlah merga-merga :
    o Purba
    Merga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.
    o Ketaren
    Dahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).
    o Sinukaban
    Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban..
    Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :
    o Karo-Karo Sekali
    Karo-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.
    o Sinuraya/Sinuhaji
    Merga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.
    o Jong/Kemit
    Merga ini mendirikan kampung Mulawari.
    o Samura
    o Karo-Karo Bukit
    Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.
    • Karo-Karo Sinulingga
    Merga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
    Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :
    o Kaban
    Merga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,
    o Kacaribu
    Merga ini medirikan kampung Kacaribu.
    o Surbakti
    Merga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.
    Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak.
    • Karo-Karo Kaban
    Merga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.
    • Karo-Karo Sitepu
    Merga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.
    • Karo-Karo Barus
    Merga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.
    (Petra : Wuih, sejarah nenek moyang gw jelek juga, ya….)
    • Karo-Karo Manik
    Di Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.
    Yang mau saya Tanya:
    Di versi toba,dikatakan merga sinuraya dan sinuhaji merupakan keturunan dari sihotang lumban batu dan versi karo mengatkan kalau merga sinuraya dan sinuhaji itu merupakan anak dari merga purba. Dan saya sudah perbah berbicara pada bolang yang bermarga sinuraya dan sinuhaji kalau memang kedua merga ini merupakan keturunan sibayak karo2 purba.
    Yang anehnya kok toba ‘tau” cerita sejarah karo?
    Bagai mana kalau kami bikin versi jika merga sihotang itu berasal dari karo??
    Kami bukannya tidak mau,tapi memang hal itu g penting buat kami karna memang orang toba itu g punya hubungan “khusus” dengan karo.hubungannya hanya kemiripan budaya,kedekatan daerah,bahasa,dll.
    Dan itu tdk bias langsung diklaim.
    Contoh dari bahasa,
    Kata TOLE dalam bahasa karo artinya TAMBAH (makanan.miniman.dll)
    Kalau kata TOLE dalam bahasa toba,kira2 apa artinya impalku?????

    Terus siapa sih yang buat terombo versi toba itu? WM Hutagalung itu kok begitu gampang main comot2 marga orang dimasukkan ke toba? Itu kan ego namanya. Memang sudah sejauh mana ilmu antropolgnya sehinnga dia berani membuat tarombo itu?Kenapa teman2 toba ini lebih tau sejarah suku lain ketimbang suku itu sendiri?
    Coba kakanda jawab….

    @ buat bang B.parningotan
    Saya mengutip :
    “Memang orang karo sering mengaku lebih dekat ke India, tetapi kalau kita lihat warna kulit mereka lebih mirip kita, kecuali kalau sudah di jemur berbulan2 di sinar matahari barangkali. Sayangnya orang India tidak pernah menganggap orang Karo adalah bagian dari mereka. dan yang saya paling heran apa kehebatan orang India?
    kalau mau menjadi Yahudi ya bisa dimengerti.
    Kalau pak Ginting berlatar belakang agama Islam atau Kristen itu lebih seru lagi, rupanya pak Ginting tidak percaya dengan Adam dan Hawa sebagai moyang manusia ya? “

    Kami bukan bangga sebagai keturunan orang india.bukan maksud kami membanggakan itu.menurut kami memang itulah cikal bakal nenek moyang kami,kususnya dari merga sembiring. Klau begitu,saya mau Tanya. Setau saya orang toba itu sering ngaku2 kalau neneak moyang mereka berasal dari fhiliphina.
    Hal sama yg mau saya Tanya,apa sih hebatnya fhliphina itu?
    Masalh adam dan hawa itu kejauhan om. Klau begitu,sudikah orang toba mengakui kalau orang melayu,jawa,minang,dll sebagai saudaranya BATAK ???
    Gmn om???

    Terus buat masalah dalihen ni tolu. Itu merupakan azas ideologi yang dianut oleh orang hindu jaman dahulu. Kenapa?
    Diminang juga mengenal itu walaupun dalam nama yang berbeda.di bali juga. Kalau jaman sekarang iyu kira2 sama dengan pancasila jadi y jangan asal main2 comot gitu bang…

    Akhirnya bang perningotan ini kekeh juga.dia bilang kata BATAK dihapus saja dan diganti dengan kata halak toba,halak simalungun………kalak karo.
    Kenapa bang?habis ilmu ya?

    Buat semua yang diblog ini saya mau Tanya ?

    1.kenapa kalian orang toba memaksakan karo masuk ke batak dan sangat tidak setuju kalau orang karo tidak mau diblang BATAK?apa untung dan ruginya buat kalian.
    2.permaslahan batak bukan hanya masalh orang karo.orang pakpak,simalungun,mandailing,gayo,nias,dll juga ogah dibilang BATAK. Silahkan tanykan mereka…
    3.siapa sih SI RAJA BATAK itu?
    4.kapan kata BATAK dipakai? Apakah sebelum penjajah datang(Portugal,belanda,inggris,jepang) kata batak sudah dipakai untuk menunnjukkan kalau BATAK itu merupakan nama sebuah bangsa?kalau ia kapan,dan mana sumber2 buktinya.
    5.Terus kalau memang BATAK itu mencakup banyak sub-etnis.kenapa kalau ada even2 batak,kata HOras yg hanya dipakai.terus budaya ToBA yang hanya ditonjolkan,seolah2 BATAK itu hanya TOBA???
    6.gini,kalau orang toba itu mendengar kata karo,langsung mau ketawa mereka.langsung muncul sindiran2 sperti merubah2 lagu mbiring manggis,sindirian ttng bahasa karo,dll. Itu apa maksudnya kalau orang toba itu memang bersaudara dengan karo???

    Sedikit info,dihati dan jiwa orang karo dimanapun dia berada hanya ada kata KARO DAN BUKAN BATAK KARO. Seperti pada semboyan “ ADI KITA KALAK KARO,ERCAKAPLAH CAKAP KARO.”
    BUKAN “ADI KITA KALAK BATAK KARO ERCAKAPLAH CAKAP BATAK KARO. “
    Ayo saya tunggu jawabanya.

    MEJUAH-JUAH

  36. Mejuah-Juah,

    Maridup Hutauruk, kalo soal padanan, saya sendiri sering bepergian ke daerah danau toba dan sekitar dan sering menemukan ngga ada padanan marga batak dengan merga karo (ini saya dapat dari orang-orang toba sendiri)

    dari tulisan bang/pak Timotius A. Karo-Karo Purba
    1.kenapa kalian orang toba memaksakan karo masuk ke batak dan sangat tidak setuju kalau orang karo tidak mau diblang BATAK?apa untung dan ruginya buat kalian.
    – ia saya juga mau bertanya ini,
    2.permaslahan batak bukan hanya masalh orang karo.orang pakpak,simalungun,mandailing,gayo,nias,dll juga ogah dibilang BATAK. Silahkan tanykan mereka…
    – setuju, karena di salah satu blog saya pernah membaca komentar dari orang simalungun seperti ini (saya tidak mengerti bahasa simalungun, diterjemahkan oleh teman saya)
    “Tongon do ai dahkam… Au pe lang setuju anggo hita ganub ihatahon batak. Tongon do ai memang sejarah ni peradaban suku ni ham ai na iulas iatas ai pasal sejarah harajan haru/ harou na gabe cikal bakal halak kita karo. Hanami pe lang ongga menentang in. Secara pribadi pe au lang setuju bani sejarah akal-akalan ni suku simbalog i siambiolu ni hanami….
    tapi, naha ma bahenon, halani hita na manggoluhon
    maningon do saling menghormati atap pe menghargai halak nalegan, se do mararti hita jadi suku halak ai…..

    Pasal ni anggo rugi halani hita do na sukses, hapeni jadi batak do na jenges, batak do nasimbei tapi hita do na icap buruk in pe iahapkon hanami ganuban do… Se do pitah nassiam

    Ai ma lobei tugah-tugahku, sebelum ni maapkon ham/ nassiam anggo dong na lepakku/ salahku hubamu.
    Horas/ mejuah-juah”

    6.gini,kalau orang toba itu mendengar kata karo,langsung mau ketawa mereka.langsung muncul sindiran2 sperti merubah2 lagu mbiring manggis,sindirian ttng bahasa karo,dll. Itu apa maksudnya kalau orang toba itu memang bersaudara dengan karo???
    ia ini sangat benar, sewaktu aku mengikuti organisasi keagamaan di pulau jawa, waktu acara bebas, orang batak beberapa kali menyanyikan mbiring manggis yang diubah-ubah, dan kata-katanya kurang enak di dengar, kapan orang karo mengubah2 lirik lagu toba menjadi sindiran?

    kalo dilihat dari komentar2 diatas semua, batak itu identik dengan batak toba ?? saya melihat orang2 ‘batak’ disini meminta sejarah/dokumen tentang kebenaran dari orang karo itu bukan batak ? sekarang bagaimana kalo orang ‘batak’ menunjukkan dokumen/bukti/sejarah bahwa karo itu adalah batak ? dan darimana asal kata batak itu ? saya membaca artikel di http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=75874:ichwan-azhari-nama-batak-bukan-dari-orangnya&catid=829:15-november-2010&Itemid=222 yang menyatakan bahwa batak itu tidak ada di dalam pustaha batak.

  37. @Tommy Surbakti
    Terimakasih Tommy Surbakti. Tentu saja saya sangat senang bahwa seorang Tommy Surbakti adalah orang Karo yang bukan Batak. Tentu semakin banyak yang mengatakan seperti ini semakin bagus, karena akan tiba saatnya yang disebut Batak itu akan murni sebagai Batak, tak adalagi yang abu2.

  38. man seninangku Tommy Surbakti…
    bujur man komen ndu e sen..
    aq kuliah denga sen.semester 9 denga. lenga empo aq sen, e maka la padah kam kataken aq bapa..
    mela aq sen…
    hahahahaaaa,,,,,,

    ia senina. aq pun heran kenapa “mereka” memaksakan kalo kita kalak karo ini merupakan batak. dan mereka mengatakan kalo simalungun, pakpak, mandailing ,dll itu batak. dan melihat yang komen, semuanya bermarga dari toba sana. tentulah meraka marah mendengar kalo mama j.Ginting buat artikel tersebut. pas ada impal kita bermarga sipayung menolak dikatakan batak simalungun, tapi simalungun saja. coba turang-senina kita dari pakpak,mandailing,gayo,dll koment disini pasti lain komentnya dan kalo memang batak itu mencakup multi etnis, lihat blog ini, semua membahas ttg adat toba. mana ada adat karo, simalungun, pakpak, dll. kan nampak kalo seolah2 mereka ingin membuat citra kalo disumut itu ada batak ( kalo memang meraka mengakui multi-etnis) dan batak itu hanya toba.
    lihat di televisi kalo udah menyangkut batak pasti yg ada HORAS, terus ULOS, terus GONDANG BATAK, DANAU TOBA, PULAU SAMOSIR, RUMA BATAK, TANO BATAK, HALAK BATAK, LAGU BATAK, dll yang berbau BATAK ( TOBA ).
    mana ada diputar ttg budaya Karo,simalungun,pakpak,mandailing,nias, bahkan melayu sumut…
    mana ada…

    statemen mereka kebanykan hanya berpatokan pada Tarombo MR. W.M. Hutagalung dan menutup kuping dengan Terombo suku lain.
    lihat aja tentang merga karo2 sinuraya dan sinuhaji….

    ok senina, sebenarnya saya masih banyak artikel2 ttg sumatra utara tempoe doloe. dan kalo kam mau berkoment lagi, coba kam buka di google judulnya “karo bukan batak”. disana saya juga berdebat ttg hal yg sama.
    mejuah2 sen…

  39. Pak Tony Surbakti, Bahasa Simalungun di atas saya mengerti walau saya orang Toba dan
    tidak pernah bergaul dengan orang Simalungun, Bagai mana, apa bahasa Simalungun itu bisa dimengerti oleh orang Karo yang tidak pernah belajar bahasa Simalungun?, saya hanya bertanya mengenai itu, tidak terlalu jauh………..

  40. @Timotius A Purba
    Saya orang silindung, komentator lainnya ada juga orang Humbang, saya dan mereka bukan orang Toba, tetapi dikatakan Toba ya boleh saja dan tidak merasa dikecilkan. Dikatakan orang Batak ya memang Batak.

    Kalau ada orang Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing yang menulis artikel dan dikirim kepada pengelola situs, saya rasa mereka dengan senang hati mempublikasikan, tetapi kalo nggak ada yang kirim artikel, tetu saja orang Toba nggak merasa pas membuat artikel spesifik diluar Toba kecuali yang sudah bersifat domain.

    Jadi, anda sepertinya hanya membuat argumen yang tidak beralasan, atau barangkali hanya kompensasi ketidaktauan saja?

  41. @ buat b.parningotan : maaf ne agak ikut campur mengenai pertanyaan kam tersebut…
    kam bilang orang karo mengerti apa tidak bahasa SIMALUNGUN..,
    saya sebagai orang karo asli sedikit banyak mengerti akan kalimat simalungun yg dipetik oleh senina saya surbakti. karna kosa kata bahasa karo banyak yang mirip dengan kosa kata bahasa simalungun asli dan bukan yang di siantar sana. contoh lagu2 lama simalungun kata2nya banyak yang saya mengerti dan orang simalungun sana pun banyak yg mengerti bahasa karo.
    bagitu kira2 pal…
    saya pun berani taruhan kam pasti mengartikan kalimat simalungun tersebut pasti sepotong2, g secara keseluruhan karna ada bahasa simalungun yang tidak anda mengerti.
    gimana pal ???

    mejuah-juah

  42. @ buat maridup hutahuruk,
    kam bilang “Terimakasih Tommy Surbakti. Tentu saja saya sangat senang bahwa seorang Tommy Surbakti adalah orang Karo yang bukan Batak. Tentu semakin banyak yang mengatakan seperti ini semakin bagus, karena akan tiba saatnya yang disebut Batak itu akan murni sebagai Batak, tak adalagi yang abu2. ”

    melihat kata2 anda, sepertinya anda kurang senang melihat pernyataan senina saya itu. tolong kam cermati dulu apa kata2nya, dia kecewa melihat sikap saurara toba nya yg sering mngejek2 suku karo dan hal itu hanya berani mereka lakukan dibelakang panggung. coba kalo ada perkumpulan karo, berani g “saudara” kami ini mengejek2 lagu karo pada saat perkumpulan itu????

    ok, sebagai orang karo, saya menunggu janjindu itu kalau batak itu akan murni, tak ada lagi yang abu2….

    mejuah-juah pal…

  43. @timotius A Purba
    SAya hanya mau bertanya pada Bapak
    Banyak kemiripan bahasa Simalungun dengan bahasa Toba, jadi kalau orang Simalungun itu bukan Batak pertanyaan saya ……apa orang Toba itu Batak bukan…………….begitu saja pertanyaan saya
    Horas

  44. Kemarin saya menghadiri pesta perkawinan Batak antara pengantin perempuan dari Silindung dan pengantin laki-laki dari Simalungun. Tondong dan tondong-tondong kebetulan sebagian dari marga Purba Simalungun, Purba Pakpak, Purba Karo.

    Acara berjalan persis seperti adat batak yang saya kenal di Jakarta dan tak ada yang tidak dimengerti oleh keduabelah pihak. Saya tidak melihat perbedaan. Bahasa adat yang dipakai masing2 etnis ini sepenuhnya difahami bersama. Lagu pengiring tortor terpakai dari Karo, Simalungun, Toba, Samosir, Silindung, semuanya seirama mengundang ceria bagi siapapun yang hadir. Saya tidak melihat ada gap sedikitpun.

    Jadi kalau ada suara2 sumbang yang dipaparkan oleh para komentator yang mengatakan etnis2 ini bukan satu dalam Batak. Saya rasa ini hanya pendapat pribadi dengan alasan tersendiri yang diarahkan sebagai kompensasi generalisasi (Provokasi). Mungkin alasannya sama seperti saya yang pernah sakit hati kepada seorang dari marga sendiri lalu kesal kepada semua orang yang memakai marga saya itu.

    Makanya kalau kita berkomentar dalam forum umum, kita jangan mengorbankan nama baik kelompok, marga, komunitas, suku, bangsa, dalam hal ini Batak dan sub-Batak. Kita jangan terperangkap dalam sikap yang naif, narsis, dan istilah lain yang berorientasi kepada pola pikir pribadi.

  45. Mejuah-juah…

    @ Buat impalku B.Parningotan…
    Saya mengutip “SAya hanya mau bertanya pada Bapak
    Banyak kemiripan bahasa Simalungun dengan bahasa Toba, jadi kalau orang Simalungun itu bukan Batak pertanyaan saya ……apa orang Toba itu Batak bukan…………….begitu saja pertanyaan saya. “

    Begini pal, seperti yang telah saya uraikan sebelumnnya diatas ( argument saya sebelumnya dan belum anda jawab namun anda menbawa ke permasalahan lain) jikalau ada persamaan kosa kata antara suku karo, simalungun, toba, pakpak, dll perlu digarisbawahi itu karena persamaan letak geografis yang hampir berdekatan dan tentunya itu tidak bisa dijadikan patokan mutlak jika ada beberapa kosa kata yang mirip dikatakan satu suku (persamaan etnis). Jika persamaa kata kam jadikan patokan suatu suku itu dikatakan sama (satu etnis), ada beberapa kosa kata melayu di riau dan disumbar itu mirip (tulisan,bunyi, dan makna) dengan kosa kata suku karo, bahkan ada beberapa kosa kata suku karo itu mirip dengan kosa kata di jawa dan bali. Yang jadi pertanyaan saya, apakah impalku B.Parningotan mau dan berani mengatakan kalau orang melayu di riau, sumbar, jawa dan bali itu orang BATAK ???
    Terus kam bilang apa TOBA itu BATAK ?? saya mau Tanya pal (dan pertanyaan ne udah berulang2 kali saya tanyakan namun tidak ada kam respon, direspon lah), kapan kata BATAK itu pertama kali terdengar? Apakah orang toba jaman dulu sebelum penjajah datang sudah mengenal kata batak? apakah sebelum penjajah datang sudah ada nama BATAK? terus apakah nama BATAK itu menunjukkan nama suatu bangsa? Tolong dijawab ya pal, tentunya memakai bukti2 yang akurat. Bukan dari cerita yang mengatakan kalau orang batak berasal dari siraja batak dipusuk buhit sana (ju2r pal, menurut saya alasan itu sangat tidak logis. Jangan2 100tahun lagi dikatakan Tuhan Yesus disalib di Tarutung sana)
    Oh ya, bukannya kam dulu pernah mengatakan kalau kata BATAK dihilangkan saja dan diganti dengan kata Halak / Kalak saja…
    Kok g konsisten kam pal??? Konsisten lah dalam mengeluarkan pendapat. Jangan plin-plan….
    Nanti diejek orang kam pal…

    @ buat impal ku M. Hutahuruk.
    Saya mengutip “Saya orang silindung, komentator lainnya ada juga orang Humbang, saya dan mereka bukan orang Toba, tetapi dikatakan Toba ya boleh saja dan tidak merasa dikecilkan. Dikatakan orang Batak ya memang Batak.
    Kalau ada orang Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing yang menulis artikel dan dikirim kepada pengelola situs, saya rasa mereka dengan senang hati mempublikasikan, tetapi kalo nggak ada yang kirim artikel, tetu saja orang Toba nggak merasa pas membuat artikel spesifik diluar Toba kecuali yang sudah bersifat domain.
    Jadi, anda sepertinya hanya membuat argumen yang tidak beralasan, atau barangkali hanya kompensasi ketidaktauan saja? “
    Begini pal, seumur hidup saya pal, saya tidak pernah belajar dan dengar ada suku silindung dan suku humbang. Yang saya tau sampai sekarang itu suku toba (batak toba). Silindung dan humbang setau saya itu nama wilayah bagian suku toba dan bagian dari tapanuli. Dan orang karo, simalungun,pakpak, gayo, alas,rao itu tidak masuk keresidenan tapanuli pal.
    Coba kam lihat koment2 yang masuk pal, semua bermarga toba (terlepas daerahnya) yang menolak jika dikatakan suku karo malas dibilang batak. Coba lihat impal kita sipayung yang dari simalungun. Lihat dia berkata saya orang simalungun bukan batak simalungun. Karna belum masuk aja koment2 senina kita dari pakpak, gayo, alas, rao. Coba kalau ada yang masuk, pasti semakin seru pal…
    Melihat kenyataan diatas, tentunya saya menulis argument saya ini dengan “sejuta’ alasan dan tentu saya memiliki bukti2 yang real… bukan karna saya tidak tau pal… Ato jangan2 kam yang tidak tau sama sekali….
    Terus saya juga mengutip “Kemarin saya menghadiri pesta perkawinan Batak antara pengantin perempuan dari Silindung dan pengantin laki-laki dari Simalungun. Tondong dan tondong-tondong kebetulan sebagian dari marga Purba Simalungun, Purba Pakpak, Purba Karo.
    Bukan bermaksud mengejek ne pal, namun beginilah kalau orang yang pengetahuannya sangat sedikit tentang suku orang lain, namun merasa sok sangat tau. Kam bilang purba pakpak? Apa bedanya purba pakpak dengan purba simalungun? Bukannya Purba pakpak itu merupakan bagian dari marga purba dari simalungun itu sendiri pal? Purba dari simalungun itu ada banyak pal, ada purba tua,girsang,pakpak,dll. Dan purba pakpak bukan berasal dari pakpak sana. Coba kam ke dairi sana dan lihat apa2 saja marga orang pakpak.. jadi, tidak ada perbedaan adat antara purba pakpak dan purba dari simalungun. Saya mau membahas mengenai purba karo pal. Oh impal… saya bermarga Purba karo, atau yang lebih dikenal dengan Karo-Karo Purba, dan Karo2 Purba itu sangat berbeda dengan Purba simalungun dan Toba dan tentunya adat dan tata cara pernikahan kami berbeda dengan adat toba dan simalungun. Purba simalungun sana kalau masuk karo sama dengan TARIGAN dan bisa kami nikahi,entah lah dengan purba toba kalau masuk karo apa.dan pada suku karo, marga PURBA itu hanya KARO-KARO PURBA.Dan ada lagi pal,saya tidak tau apa artinya itu tondong dan tondong-tondong itu…
    Saya mengutip “Acara berjalan persis seperti adat batak yang saya kenal di Jakarta dan tak ada yang tidak dimengerti oleh keduabelah pihak. Saya tidak melihat perbedaan. Bahasa adat yang dipakai masing2 etnis ini sepenuhnya difahami bersama. Lagu pengiring tortor terpakai dari Karo, Simalungun, Toba, Samosir, Silindung, semuanya seirama mengundang ceria bagi siapapun yang hadir. Saya tidak melihat ada gap sedikitpun.”
    Yakin kam pal kalau adat batak yang dipakai tak ada yang tidak dimengerti oleh keduabelah pihak?? Apa anda berani taruhan dengan mempertarukan kebatakan anda kalau tidak ada perbedaan adat antara toba, karo dan simalungun pada pesta tersebut?yakin kam kalau bahasa adat yang dipakai benar2 dipahami 100% oleh kedua belah pihak? Juga dengan suku karo, karna kam tadi ada bawa2 purba karo.
    Benar saya bilang, kam orang yang tidak kenal baik adat suku orang namun merasa tau. Orang karo tidak mengenal tor-tor pal. Tarian orang karo sangat berbeda jauh dengan toba, dan alat musiknya pun berbeda. Tor-tor karo yang anda lihat itu modelnya macam apa pal?? Anda kan bilang kalau anda tidak melihat ada gap sedikit pun,itu kan pendapat anda… kalau pendapat orang karo itu gimana pal??
    Saya juga mengutip : “Jadi kalau ada suara2 sumbang yang dipaparkan oleh para komentator yang mengatakan etnis2 ini bukan satu dalam Batak. Saya rasa ini hanya pendapat pribadi dengan alasan tersendiri yang diarahkan sebagai kompensasi generalisasi (Provokasi). Mungkin alasannya sama seperti saya yang pernah sakit hati kepada seorang dari marga sendiri lalu kesal kepada semua orang yang memakai marga saya itu. Makanya kalau kita berkomentar dalam forum umum, kita jangan mengorbankan nama baik kelompok, marga, komunitas, suku, bangsa, dalam hal ini Batak dan sub-Batak. Kita jangan terperangkap dalam sikap yang naif, narsis, dan istilah lain yang berorientasi kepada pola pikir pribadi.”
    Begini pal, saya dan teman2 lain yg tidak setuju dengan penamaan batak bukan mau mempropokasi, namun untuk menjelaskan dengan argument, pengalaman, dan pengetahuan kami tentang jati diri bangsa kami.bukan mengeluarkan pendapat yang sumbang.dan Jujur, saya menulis argumen2 saya ini bukan karna sakit hati ataupun dendam,namun ju2r ada juga karna faktor kekecewaan,kenapa??ada alasannya pal…
    Oh ya, bagaimana seandainya ada forum yang mengatakan kalau orang karo, simalungn, TOBA, gayo, pakpak,dll dikatakan bagian dari bangsa/suku/sub-suku/puak melayu??? pasti kam sebagai orang batak toba kebakaran jenggot kan??? Karena orang melayu itu juga punya marga, tari2an, kain uis/ulos(dengan bahasa yang berbeda), ada bahasa yang mirip, tidak boleh mengawini anak dari saudara bapak(sama marga), dan persamaan2 lainnya terlepas dari agama yang diyakininya.
    Dan perlu kam tau pal, saya tidak menggorbankan nama baik kelompok,marga,komunitas,suku,bangsa saya. Saya menulis dengan penuh kejujuran. namun karna anda membawa2 nama marga dan kelompok, saya mau tantang anda dan tolong anda harus menjawabnya !!!
    Ini mengenai terombo batak toba. Disana dikatakan kalau marga karo-karo sinuraya dan sinuhaji berasal dari keturunan marga SIHOTANG/Si Godang Ulu???
    Padahal berdasarkan sejarah karo dan klan KARO-KARO, dikatakan kalau marga sinuraya dan sinuhaji itu merupakan anak/keturunan dari KARO-KARO PURBA.dan kuta sipanteken (kampung asal) tidak jauh letaknya dari kuta kalak merga karo-karo purba dan dikuta sinuhaji dan sinuraya tidak ada literature yang mengatakan kalau marga mereka berasal dari toba sana (SIHOTANG).
    Kenapa hal ini bias terjadi pal?kenapa orang toba dengan gampangnya mengatakan kalau marga itu berasal dari toba?bagaimana seandainya marga sihotang itu dikatakan bersal dari karo?pasti kalian marah besar kan???
    disini saya malah melihat kalau orang toba telah menggorbankan nama baik kelompok,marga,komunitas,suku,dan bangsa toba sendiri dengan dikeluarkannya tarombo itu. Itu baru dari klan karo-karo, bagaimana dengan klan2 lain seperti sembiring,tarigan,ginting,dan perangin2…
    oh ya, coba kam jawab pertanyaan saya pada argument pertama saya tertanggal 6 november 2010 pukul 12.04. karna pertanyaan2 anda saya jawab satu-persatu dengan seksama. Juga argument2 saya yang kedua dan ketiga. Dan tentunya dengan bukti yang akurat, bukan cerita2 tahayul yang tidak masuk akal dan tidak sumbang tentunya…
    bagaimana impalku???
    Mejuah-juah…

  46. @Timotius A Purba
    Horas impalku, kalau kita memposisika pola pikir ke arah perbedaan, maka semuanya memang berbeda. Kembar identik juga ada perbedaannya apalagi sub Batak yang sudah banyak berinteraksi dengan berbagai bangsa. Kalau Karo banyak berinteraksi dengan bangsa Keling, kan ngga bagus kalau orang Karo saya sebut bangsa Keling? Kalau Simalungun banyak berinteraksi dengan Jawa semasa Singosari dan Majapahit, kan ngga bagus orang Simalungun saya sebut Bangsa Jawa. Kalau orang Pakpak banyak interaksi dengan Aceh sementara bangsa Aceh yang di Utara adalah pendatang dari India Selatan, kan ngga bagus orang Pakpak saya sebut bangsa Aceh. Kalau orang mandailing banyak berinteraksi dengan bangsa Minang dan bangsa Lainnya (budis, keling) kan ngga bagus saya sebut orang Mandailing saya sebut bangsa Keling (Munda).

    Saya mau kasih informasi penting kepada impalku Timotius A Purba, bahwa sebelum Belanda menjajah Tanah Batak, Batak sudah disebut sebagai bangsa. Coba baca buku History of Sumatra yang ditulis berdasarkan penelitian suku2 bangsa di Pulau Sumatra tahun 1776. Batak disebut sebagai penduduk asli Sumatra. Disitu tidak ada disebut Karo, yang ada adalah Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Singkil. Ada disebut Pakpak dan Dairi tapi sama sekali tidak disebut Karo.

    Petualang-petualang Eropah sebelumnya juga menuliskan tentang Batak, seperti Tomme Pires, Odarus Barbosa, Nicolo Di Conti, bahkan Marco Polo di tahun 1290-an. Dan Tulisan awal tentang kata Batak sebagai komunitas penduduk sudah tercatat dalam tulisan Pliny di tahun 77 Masehi. Sumber dalam negeri menyebutkan Toba, termasuk Haru, dan kerajaan lainnya, dalam Negarakartagama.

    Jadi apalagi yang kam mau sangsikan tentang sejarah Batak? Kalau Karo masuk dalam bagian dari Batak, ya sangat logis walaupun belakangan ini saja Karo masuk dalam sub-Batak dengan berbagai argumentasi yang tak terbantahkan. Kalau Batak dikatakan bagian dati Karo memang sudah tak pantas. Kalau Karo bukan bagian dari Batak boleh saja, tinggal lagi apakah orang2 yang mengaku Batak tega mengatakan Karo bukan Batak? Mereka mungkin berkata “Asal ma dang hita na mandok !’ (‘jangan kita yang bilang itu’).

    Impalku Timotius A Purba, menyebut diri sebagai Batak bukanlah kenistaan, melainkan keagungan. Tetapi kalau impalku sendiri yang mengatakan bukan Batak, ya seperti sebutan tadi saja ‘asal bukan saya saja yang bilang itu – pantang !’

    Jadi saran saya kepada impal Timotius A Purba untuk membaca tentang Batak yang sudah tercatat pada awal-awal bangsa-bangsa sudah berperadaban menulis (library). Setahu saya sumber2 sejarah tentang Karo berkembang hanya semasa penjajahan Belanda, paling2 hanya disebut-sebut kerajaan Haru.

  47. Maaf ya saya belum melihat peninggalan2 kerajaan haru, tolong dikirimkan bila ada foto2nya, terimakasih sebelumnya

  48. @ Maridup Hutahuruk

    Mejuah-juah pal…
    Pa kabar kam, sehat2 kan…
    Ternyata kam langsung respon ya…
    Tapi sebelumnya, sentabi ne.. pertanyaan2 saya kepada anda kenapa tidak anda jawab satu-persatu??? Malah kam membawa ke permasalhan lain… dan saya tidak puas tentunya dengan respon kam seperti itu…
    Baiklah,memperssingkat waktu saya akan mejawab komentarndu…

    Saya mengutip “Horas impalku, kalau kita memposisikan pola pikir ke arah perbedaan, maka semuanya memang berbeda. Kembar identik juga ada perbedaannya apalagi sub Batak yang sudah banyak berinteraksi dengan berbagai bangsa. Kalau Karo banyak berinteraksi dengan bangsa Keling, kan ngga bagus kalau orang Karo saya sebut bangsa Keling? Kalau Simalungun banyak berinteraksi dengan Jawa semasa Singosari dan Majapahit, kan ngga bagus orang Simalungun saya sebut Bangsa Jawa. Kalau orang Pakpak banyak interaksi dengan Aceh sementara bangsa Aceh yang di Utara adalah pendatang dari India Selatan, kan ngga bagus orang Pakpak saya sebut bangsa Aceh. Kalau orang mandailing banyak berinteraksi dengan bangsa Minang dan bangsa Lainnya (budis, keling) kan ngga bagus saya sebut orang Mandailing saya sebut bangsa Keling (Munda).”

    Begini pal,kalau pola pikir kita sama,tentunya saya tidak akan membuang2 waktu saya untuk beradu argument dengan anda2 dari batak (toba) sana. Dan kalau pun karo berinteraksi dengan orang keling sana, karo tetap lah karo. Itu membuktikan kalau suku karo merupakan suku yang pandai bergaul,mudah diterima suku lain,bersahabat,tutur kata yg halus,menghormati suku lain, dll. Coba kam lihat, dimana coba orang karo ditolak keberadaannya. Seperti Indonesia yg berinteraksi sama amerika, Indonesia tetaplah Indonesia kan pal?bukan amerika.. interaksi merupakan hal yang lumrah yang dilakukan oleh manusia. Pasti suku toba juga melakukan interaksi dengan suku lain,namun kenapa kam tidak bilang seandainya toba melakukan interaksi dengan orang minang orang toba itu merupakan orang minang?tentunya tidak kan pal. Karena saya juga mengakui kalo toba itu tetap suku toba terlepas kepada siapa mereka berinteraksi. Buka begitu impal ku???

    Saya kutip “Saya mau kasih informasi penting kepada impalku Timotius A Purba, bahwa sebelum Belanda menjajah Tanah Batak, Batak sudah disebut sebagai bangsa. Coba baca buku History of Sumatra yang ditulis berdasarkan penelitian suku2 bangsa di Pulau Sumatra tahun 1776. Batak disebut sebagai penduduk asli Sumatra. Disitu tidak ada disebut Karo, yang ada adalah Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Singkil. Ada disebut Pakpak dan Dairi tapi sama sekali tidak disebut Karo.
    Petualang-petualang Eropah sebelumnya juga menuliskan tentang Batak, seperti Tomme Pires, Odarus Barbosa, Nicolo Di Conti, bahkan Marco Polo di tahun 1290-an. Dan Tulisan awal tentang kata Batak sebagai komunitas penduduk sudah tercatat dalam tulisan Pliny di tahun 77 Masehi. Sumber dalam negeri menyebutkan Toba, termasuk Haru, dan kerajaan lainnya, dalam Negarakartagama.”
    Begini pal, mengenai buku buku History of Sumatra tahun 1776 itu perlu kam kaji ulang pal. Dimana pertama kali orang2 eropa itu mendarat dibumi sumatrra dan kepada siapa pertama kali kata BATAK itu diberikn.. Bahkan didalam buku pustaha (sejarah orang2 toba dan sekitarnya) Kata batak tidak dikenal sama sekali pal. Bahkan dalam cerita2,adat, sejarah karo kata batak sama sekali tidak pernah didengar pal. Menurut beberapa penelitian yang saya baca,pertama kali kata batak itu dipakai untuk orang2 pedalaman di semenanjung malaka(Malaysia?) sana untuk orang2 pedalaman hutan yg sangat primitive..
    Ini pal,saya tuliskan artkel tersebut dan mohhon kam baca baik2 ..
    Nama Batak Bukan dari Orangnya
    Batak sebagai nama etnik (suku) ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi oleh para musafir barat dan kemudian dikukuhkan oleh misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860 an.
    Sebab dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha (tulisan tangan asli Batak) tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak.
    Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak melainkan sesuatu yang diciptakan dan diberikan dari luar.
    Demikian dikatakan sejarahwan dari Unimed, Ichwan Azhari dalam keterangan persnya, Minggu (14/11).
    Ichwan Azhari yang juga Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial-Universitas Negeri Medan (Pussis-Unimed) yang baru mengakhiri penelitiannya selama 2 bulan pada arsip misionaris di Wuppertal, Jerman atas biaya Dinas Pertukaran Akademis (DAAD) pemerintah Jerman mengungkapkan, selain meneliti arsip misionaris Jerman, juga melengkapi datanya ke arsip KITLV di Belanda.
    Selama meneliti, juga mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.
    Kata Batak menurut Ichwan, awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke Sumatra dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata .
    Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan,” ungkap Ichwan.
    Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden juga ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia.
    Penyebutan itu sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Saat Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks disebut : “masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak.Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu.”
    Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak.
    Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.
    Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka, ujarnya.
    Sedangkan di Sumatra Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu, ungkapnya.
    Ragu-Ragu
    Dalam penelitiannya di arsip misionaris Jerman di Wuppertal sejak bulan September 2011, Ichwan Azhari melihat para misionaris sendiri awalnya mengalami keragu-raguan untuk menggunakan kata Batak sebagai nama etnik.
    Hal ini dikarenakan kata Batak itu tidak dikenal oleh orang Batak ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal. “Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku,” terangnya.
    Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu arsip berisi informasi penting berkaitan dengan aktifitas dan pemikiran di tanah batak sejak pertengahan abad 19 itu, Ichwan menemukan dan meneliti puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman terkenal bernama Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.
    Dari peta-peta yang diteliti tersebut, ungkap Ichwan memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan lepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya.
    Dalam peta-peta kuno itu kata Bata Lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo dimana nama batak tidak ada sama sekali.
    “Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau,” ucapnya.
    Bata Lander
    Kata Ichwan, kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. “Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata batak itu,” ucap Ichwan.
    Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman dan kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatra Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20 bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.
    Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka.
    Bahkan dalam penelitian itu, ujar Ichwan ditemukan nama Batak digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam.
    Dalam sebuah majalah yang diterbitkan di Kotanopan, Tapanuli Selatan, tahun 1922 oleh pemimpin orang-orang Mandailing seperti Sutan Naposo, Gunung Mulia dll, mereka menggunakan kata Batak sebagai identitas.
    “Bahkan nama media mereka diberi nama Organ dari Bataksche-Studiefonds dan uniknya mereka tidak menggunakan marga Mandailing mereka di belakang nama,” ungkapnya

    Melihat artikel tersebut, apakah suku pedalaman yg ada dimalaysia dan filiphina sana berani kam bilang sebagai orang batak? Diartikel tersebut juga dijelaskan bahwa pertama kali para musafir pemberi nama batak ini tiba disemenanjung Melaka(Malaysia?).yg jadi pertanyaan, apakah orang2 toba (batak) letak geografisnya terletak di semenanjung Melaka?bukannya di tengah2 sumatra dan dipinggir pantai barat Sumatra?
    Saya juga mengutip kata2 anda (kalaupun itu saya benarkan) yaitu “Batak disebut sebagai penduduk asli Sumatra. Disitu tidak ada disebut Karo, yang ada adalah Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Singkil. Ada disebut Pakpak dan Dairi tapi sama sekali tidak disebut Karo.”
    Kam bilang karo tidak masuk batak. Ya udah, kan jelas kalau karo itu bukan batak. kenapa anda harus bekoar2 kalo karo itu batak? Dan kenapa anda harus kebakaran jenggot dalam menaggapi kalau suku karo itu menolak kebatakkannya?? Jadinya pernyataan anda sendiri yg membunuh anda kan???
    Saya juga mengutip “Jadi apalagi yang kam mau sangsikan tentang sejarah Batak? Kalau Karo masuk dalam bagian dari Batak, ya sangat logis walaupun belakangan ini saja Karo masuk dalam sub-Batak dengan berbagai argumentasi yang tak terbantahkan. Kalau Batak dikatakan bagian dati Karo memang sudah tak pantas. Kalau Karo bukan bagian dari Batak boleh saja, tinggal lagi apakah orang2 yang mengaku Batak tega mengatakan Karo bukan Batak? Mereka mungkin berkata “Asal ma dang hita na mandok !’ (‘jangan kita yang bilang itu’).
    Impalku Timotius A Purba, menyebut diri sebagai Batak bukanlah kenistaan, melainkan keagungan. Tetapi kalau impalku sendiri yang mengatakan bukan Batak, ya seperti sebutan tadi saja ‘asal bukan saya saja yang bilang itu – pantang !’”
    Malah saya yg meyangsikan kalau batak itu memang ada atau tidak. karna orang2 pedalaman sum.utara itu jaman dulu tidak kenal kata batak pal. Jangan bohongi diri anda sendiri pal, jujur lah dari hati kecil anda. Coba baca sekali lagi buku pustaha itu. Atau kam belum pernah baca dan dengar ya pal???? Permasalahan karo diterima sebgai batak apa tidak, kami orang karo tidak ambil pusing,karna kami memang bukan batak, tetapi suku karo saja. Malah kalian orang batak toba ini yang ambil pusing dengan mengatakan kalo karo itu batak dan sangat kebakaran jenggot melihat kami suku karo menolak kebatakkan kami. Apa sih untungnya buat kalian?? Dosa besar ya bagi kalian kalo suku karo ini tidak mau dibilang batak? Sebagai contoh pal,lihat lagu2 karo.disana tidak ada dikatakan kata batak karo,yang ada karo saja.lihat juga dalam hal2 lain seperti rumah adat, dll. Yang ada Cuma tanah karo bukan tanah batak karo.
    Sedikit informasi buat kam pal, dimalaysia sana mereka memasukkaan suku karo,toba,pakpak,simalungun,gayo,singkil,mandailing,dll sebagai puak melayu. Kenapa pal?menurut info yang saya dapat dan saya baca, alasannya karena melayu menurut mereka adalah orang2 yang tinggal disemenanjung malaka,Sumatra,dan kepulauan Sumatra. jawa tidak masuk melayu. Terus pal mereka melihat banyak kesamaan budaya antara suku disumatra utara dengan melayu, seperti punya marga, tari2an, kain uis/ulos(dengan bahasa yang berbeda), ada bahasa yang mirip, tidak boleh mengawini anak dari saudara bapak(sama marga), dan persamaan2 lainnya terlepas dari agama yang diyakininya. Pastinya melihat itu kam kebakaran jenggot kan? Buat apa kam bangga dengan penamaan bangsa anda yang anda dapat dari bangsa lain. Andaikata jaman dulu orang2 luar sana memberi nama bukan batak tapi “ingus.” kam mau nama suku anda jadi ingus toba? Maaf pal, karena memang kenyataan kalau dulu orang2 disumatra utara tidak mengenal kata BATAK dalam sejarahnya.kalo kam masih bersikeras, coba buktikan pada saya dan kami kalau dalam pustaha (tulisan asli suku2 dipedalaman Sumatra) ada kata batak dan kata batak itu menunjukkan nama suatu bangsa.
    Saya mengutip “Impalku Timotius A Purba, menyebut diri sebagai Batak bukanlah kenistaan, melainkan keagungan. Tetapi kalau impalku sendiri yang mengatakan bukan Batak, ya seperti sebutan tadi saja ‘asal bukan saya saja yang bilang itu – pantang !’
    Jadi saran saya kepada impal Timotius A Purba untuk membaca tentang Batak yang sudah tercatat pada awal-awal bangsa-bangsa sudah berperadaban menulis (library). Setahu saya sumber2 sejarah tentang Karo berkembang hanya semasa penjajahan Belanda, paling2 hanya disebut-sebut kerajaan Haru.”
    Bagi saya menyebut diri saya batak bukanlah suatu keagungan sama sekali,bahkan menurut saya itu adalah pembohongan,pembodohan,dan kelemahan. Saya lebih bangga disebut orang karo saja tanpa embel2 batak. Keagungan menurut saya apabila saya dikatakan orang Kristen saja(maaf kalau agama anda berbeda),bukan batak yang notabene pemberian bangsa lain untuk menghina kita.
    Malah saya yg perlu menyarankan anda untuk lebih memperdalam suku anda sendiri ketimbang suku orang lain. Agar kam tidak dibilang orang yang sok tau,sok pintar,dan sok mengerti suku lain.Biar kam tau pal, kerajaan haru itu didalam banyak kitab sejarah dituliskan sebagai kerajaan yang besar disumatra pada jamannya. Bahkan majapahit tidak mampu untuk mengusainya. mana ada sejarah kerajaan di toba sana yang ada tercatat. Karena pada jamannya orang2 toba tidak mengenal system pemerintahaan.kata raja pada toba bukan menunjukkan kalau dia seorang pemimpin.beda dengan makna raja pada suku karo.
    Oh ya pal, kalau kam memang begitu paham ttg suku lain kenapa anda sama sekali tidak menjawab pertanyaan2 saya secara kompleks dan satu-persatu sebagaimana saya menjawab segala komentar kam. Malah saya lihat kam melempar permasalhan yang lain dimana anda belum tentu tau akan permasalhan itu.
    Demikianlah pal kira2, agar wawasan kita akan suku kita terbuka pal dan agar kita lebih menghormati sejarah dan pandangan suku orang lain terhadap sukunya sendiri. Seperti kami orang karo yang tidak pernah memaksakan sejarah kami diterima oleh orang toba dan lainnya.kami juga tidak pernah mengatakan kalau orang toba dan lainnya merupakan bagian suku karo. Itu saja pal…
    Mejuah-juah….

  49. Horas mejuah-juah,

    Luar biasa tanggapan2 yg saya baca diatas. Tampaknya para saudaraku diatas yg memberi tanggapan semua orang2 pandai dan terpelajar.
    Topik yang sungguh menarik,dgn ulasan-ulasan dan tangapan-tanggapan yg tidak kalah menarik. Berbagai data,kajian,rujukan,sumber pustaka semua dikeluarkan.

    Lagi-lagi kalo sudah masalah yang bersifat dikotomitas pasti hangat dan tidak akan pernah ada pangkal ujungnya. Masing-masing akan tetap “kekeuh” untuk mempertahankan pendapatnya. Tadinya saya mau buka tulisan saya dgn kata-kata: Kalo ditanah Karo saya bukan Sihombing tapi Karo-karo. Tapi takut,nanti akan digempur habis-habisan. Hehehe.

    Berbagai buku-buku sejarah yang saya baca dari versi Si anu dibanding dengan versi si adu makin membuat saya makin puyeng. Padahal tadinya bermaksud utk menambah pengetahuan tapi justru jadi menambah keragu-raguan,akhirnya jadi “pla’un” sendiri. Yang lebih fatal lagi,keimanan saya nyaris goyah ketika saya membaca buku-buku yang mengulas tentang sejarah Agama. Nah…ini yang lebih sadis lagi. Mulai dari Injil ke -5 sampai ke Davinci Code. Mampus dah gue…mana yg benar ini?
    Pergi ke Gereja A bilangnya begini,pergi ke Gereja B bilangnya begono. Sama-sama Gereja. Nah loh……..makin *&^(%(&^$*%$(^%&

    Saudara-saudaraku baik dari Toba maupun Karo, oh ada juga yg Simalungun yah…..
    Perbedaan pasti selalu ada bahkan sampai setitik debu sekalipun bisa dicari kalau memang niatnya mau membeda-bedakan. Begitu juga dgn persamaan,mulai dari yang dekat sampai yg jauh bisa saja “disama-samakan” ,kalo memang mau lihat persamaan.
    Bila perlu jangan terbatas membahas yang dekat-dekat saja, langsung kita tembak yang jauh seperti daerah kepulauan Pacific ada Bangsa Tonga. Kalo mau dicari yang mirip-mirip banyak sekali. Kenapa tidak sampai di situ kita bahas?

    Seharusnya sih kalau menurut saya kitalah yg berpatokan pada sejarah jangan sejarah yang berpatokan pada kita. Tapi itulah hebatnya manusia ini. Semakin tinggi pendidikan,semakin banyak pengetahuan akhirnya ya jadi gitu deh. Sampe-sampe ada sejarah katering yg denotasinya berarti sejarah tergantung pesanan. Ada lagi sejarah dianggap sebagai masakan. Tergantung siapa koki/pembawanya. Bagaimana penambahan/pengurangan bumbu2nya.

    Semuanya kembali kepada kita masing-masing mau bagaimana dan seperti apa menyikapinya.

    Sedikit penutup ditulisan saya yang mungkin kurang bermutu ini,saya mau cerita ttg profil diri saya sendiri. Saya bermarga Sihombing Lumbantoruan ( yg sudah terlahir sudah memang itu marga saya dan sudah takdir lahir dr keluarga Toba, apa saya bisa memilih sebelum datang ke Dunia ini?? hehehe). Saya beristrikan boru Purba Pakpak dari Simalungun. Nah,kalo sampe kami dirumah ngotot2an tentang istilah etnis,sub-etnis atau apapun istilahnya didalam kamus EYD, bisa modar rumah tangga kami. Yang kasihan putri kecilku yg baru lahir. Mau gimana dia,apa bisa darah itu dibagi 2 menjadi: 50% Toba atau 50% Simalungun? atau dibagi sistem waktu saja kalau AM jadi Toba terus kalau PM jadi Simalungun?
    Weleh-weleh….terlalu lugu dan polos putri kecilku untuk menerima yg begituan…kasihan.

    Mungkin itu saja dulu dari saya.Selamat malam semuanya

    Mauliate,Bujur.

  50. @Timotius A Purba. (saya pakai istilah predikat diluar etnisitas saja, supaya tidak saya tanamkan kemunafikan dalam diri saya);

    Ada dua kutub yang bertolak belakang antara saya dan anda dalam memandang TOPIK BAHASAN. Bila saya memahaminya dari sudut pandang makro, sementara anda memahaminya dari sudut pandang mikro yang sangat terbatas, dan saya kali ini saja terakhir menanggapi artikel ini berdasarkan poin2 dari tanggapan anda:

    1. Saya rasa tidak perlu harus memberikan penjelasan secara khusus atas poin2 yang anda paparkan dalam tanggapan anda karena kepentingan forum ini bukan untuk menjelaskan kepentingan anda tetapi hanya yang saya anggap penting saja dari tanggapan anda itu, yang saya perlu dijelaskan untuk diketahui umum berdasarkan pemahaman saya.

    2. Bahasa saya dalam menyampaikan pendapat (termasuk komentator lainnya), menurut saya bukan sedang kebakaran jenggot, tetapi anda mengemukakan istilah ini dengan menyelipkan kata2 yang menjurus kepada bahasa yang bukan dari kalangan intelektual seperti kata ‘Batak Toba’ anda mengandaikannya bisa diganti dengan ‘ingus toba’.

    3. Anda seolah memaksakan saya untuk menjawab apa yang anda belum ketahui, apa hebatnya? Saya hanya berupaya memberikan pemahaman saya kepada orang banyak, bukan kepada anda seorang?

    4. Anda sepertinya sangat mengidolakan apa yang dikatakan oleh Antropolog Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari, yang dimuat di detiknews.com tanggal 15 Nopember 2010, sehingga semuanya anda telan bulat-bulat dan anda copy-paste ke ruang tanggapan anda, tanpa ada terlihat apa yang keluar dari pemikiran anda. malah anda menuliskannya secara salah dengan menyebutkan penelitian itu dilakukan pada September 2011, sementara tahun 2011 kan belum tiba?

    5. Anda menyebutkan bahwa Dr. Phil Ichwan Azhari melakukan penelitiannya hanya selama 2 (dua) bulan, lalu menyimpulkan apa yang dipaparkannya dalam ‘Press Release’ berjudul ‘Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman Dan Belanda’. lalu anda menganggapnya sebagai kebenaran. Kalau hanya dalam 2 bulan, berapa buku yang dapat dia baca? Tahukah anda literatur2 penelitian yang sudah berbentuk text-book memiliki jumlah halaman sekitar 500-1000 halaman? Tidakkah anda mencurigai penelitiannya ini ada sesuatu? (misalnya: ada udang dibalik mie kwitiaw)

    6. Dengan hanya membaca press-release dari Dr. Phil Ichwan Azhari, lalu anda menganulir penelitian yang dilakukan oleh William Marsden selama ber-tahun2 menyusuri pedalaman, bahkan memakan korban, sementara Dr. Phil Ichwan Azhari hanya studi literatur yang sangat singkat lalu membuat kesimpulan yang anda fahami sebagai sebuah kebenaran?

    7. Dr. Phil Ichwan Azhari, mendasari pemahamannya tentang Batak berdasarkan awal datangnya missionaris Jerman di tahun 1860, sementara saya sudah informasikan kepada anda bahwa kata batak itu sudah tertulis oleh Pliny dalam buku Natural History tahun 77 Masehi. Bahkan ada penelitian arkeologis yang ditemukan di Haifa (Israil Utara) atas sebuah kapal karam (barang dagangan) bertarik sekitar 3000 – 2000 tahun sebelum masehi yang terdapat tulisan hieroglyph dengan kata ‘bata’ (mirip aksara Batak untuk kata ba + ta) yang dikaitkan dengan barang dagangan dari Sumatra? (Sekarang sedang dikaji di Saraswati Research Center-India)

    8. Saya faham dengan sejarah Batak di Filipina dan Batak di Bulgaria. Bila anda ingin memahaminya sebelum anda mengait-ngaitkannya, coba anda baca buku ‘On The Road To Tribal Extinction’ untuk Batak Filipina dan sejarah Pembantaian etnik Batak di Bulgaria oleh Ottoman-Turki.

    9. Saya punya sebagian arsip KITLV tentang Batak. Saya sudah baca narasi dari Sir Stamford Raffles -maret 1825 tentang ‘Canibalism in Sumatra’ yang ditulisnya berdasarkan buku diary Miss Frances William Wynn (putri petinggi Inggris) yang ditulisnya antara tahun 1797-1844. Bandingkan dengan tahun penelitian oleh William Marsden 1776.

    10. Saya sudah baca buku ke-3 interpretasi catatan perjalanan Marco Polo dimana pada Bab-VIII s/d Bab-XI ada menceritakan tentang Batak. Ingat ! Buku ini berjumlah halaman 943 halaman. Marco Polo melakukan petualangannya tahun 1290.

    11. Ada yang saya setujui dari apa yang dipaparkan oleh Dr. Phil Ichwan Azhari, karena kemungkinan beliau mendapatkannya dari literatur yang sama seperti yang saya baca.

    12. Kalau saya membuat komentar2 sebelumnya tentu karena pemahaman saya tentang Batak berdasarkan Literatur, bukan saya buat-buat menurut selera saya pribadi yang saya comot2 dari persoalan grass-root, semisal hanya karena slip of the tongue menyanyikan lagu Karo, kemudian ada satu-dua orang yg tidak senang, lantas dikondisikan sebagai kebencian yang public-domain.

    13. Anda katakan saya sok tau, sok pintar, sok mengerti suku lain. Dan anda katakan Kerajaan Haru besar pada jamannya dan bahkan Majapahit tidak mampu menguasainya. Lalu anda sok tau dengan mengatakan “mana ada sejarah kerajaan di toba sana yang ada tercatat. Karena pada jamannya orang2 toba tidak mengenal system pemerintahaan. kata raja pada toba bukan menunjukkan kalau dia seorang pemimpin. beda dengan makna raja pada suku karo”.

    14. Saya sudah menulis sekitar 100-an judul ‘artikel-serius’ dengan berbagai topik bahasan, termasuk tentang Batak. Jadi jangan katakan saya sok tau, “memang saya tau”.

    15. Seperti sudah saya katakan sebelumnya bahwa pada ekspedisi Pamalayu di Kitab Nagarakartagama, yang disebutkan terlebih dahulu disana adalah kerajaaan TOBA (bukan Haru), kemudian setelah disebutkan beberapa kerajaan lainnya, barulah disebutkan kerajaan Haru. Apakah anda sudah baca pupuh-pupuh dari kitab Nagarakertagama? Tidakkah anda tau bahwa Kerajaan Majapahit pernah memberikan upeti ‘Putri Majapahit dikawini oleh raja batak’, sementara Putri Aceh dibawa Majapahit sebagai upeti kepada raja Majapahit, Putri Minang tidak jadi dibawa sebagai upeti kepada Majapahit karena kalah dalam tanding kerbau (Peristiwa Minangkabau), Putri Sriwijaya dibawa sebagai Upeti Kepada raja Majapahit, Putri Priangan yang dihantarkan oleh para pendekar Pajajaran sebagai upeti untuk Majapahit akhirnya mati dalam Perang Bubat.

    16. Saya rasa untuk pengunjung lain sudah cukup saya berikan informasi sebagai pemicu untuk mempelajari tentang Batak untuk dibandingkan dengan Karo atau dengan sub-batak lainnya, dan kalau saya lihat inteligensi pemahaman anda, maka perlu waktu yang lama untuk mampu memahaminya. Maaf untuk selanjutnya, menurut saya tidak perlu saya menanggapi apapun yang anda ketahui tentang Batak atau Karo, karena dihati anda sudah ada ‘KEBENCIAN’,

    17. Tujuh belas poin ini sudah cukup untuk memberikan pencerahan kepada anda. Apabila maksud anda dalam komentar2 anda hanya bermaksud untuk membuat agitasi, maka anda sudah berhasil mengorek ilmu dari saya. /Selamat menikmati.

  51. horas dan mejuah-juah,
    apakah tidak bisa didiskusikan ke forum yang lebih resmi?
    koment2 ini hanya mengarah untuk meretakkan hubungan,karena mau tak mau sebagai orang yang merasa benar akan selalu membenarkan pendapatnya dengan segala bukti-bukti sejarahnya dan ujung-ujungnya akan menimbulkan emosi.
    kita harus sadar seyogiyanya kita lebih mempertahankan kerukunan yang sdh ada dan tidak mencari2 kebenaran sendiri2.
    saya hanya khawatir hal ini hanya akan membawa opini2 yang berdampak negatif.
    biarkan mengalir seperti air dan itulah yang terjadi selama ini.
    saya masih muda dan tidak ada maksud menggurui.
    terimakasih.

  52. @ S.T.Sihombing..
    Mejuah-juah horas buat kam…
    Manggil apa saya ini, senina ya??? Karna pernah dulu sewaktu saya masih kecil tetangga aya bemarga sihombing datang kerumah saya dan menyuruh saya memanggil dia dengan kata bapak,karna semarga dengan saya (karo-karo).

    Begini senina, bukannya saya mau bermaksud mempropokasi disini. Maksud saya disini utk menjelaskan dengan pengetahuan,pengalaman,dan kejujuran dengan sudut pandang saya dan orang karo kebanyakan kalau suku karo itu bukan suku batak (persamaan etnis). Kalaupun sekarang ada orang karo yang mau dibilang batak itu hanya merupakan persamaan kepentingan politik,senasib dan sewilayah saja, BUKAN SESUKU/SE NENEK MOYANG. Dan dengan adanya suatu teori yg menurut saya tdk masuk akal sama sekali dan besfifat sangat memaksakan dengan mengatakan SEMUA ORANG BATAK DAN BERMARGA (TOBA,SIMALUNGUN,KARO,PAKPAK,MANDAILING,DLL) MERUPAKAN KETURUNAN SIRAJA BATAK DIPUSU BUHIT SANA…
    Dan perlu digaris bawahi kalau yg pertama kali membahas dan ikut campur dalam hal ini adalah blog ini yang notabene punya suku toba dengan mengangkat thema: “KENAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK”. UNTUK APA COBA SENINA KU? Untuk apa coba kalau bukan mau cari sensasi? Terus lucunya, orang2 yg tidak senang ini beraninya dibelakang saja ngoceh2, kenapa sewaktu forum oleh bapak J.Ginting itu berlangsug mereka tidak berani beradu argument? Sebagai pembanding seninaku, dan juga senina2 dan turangku dari toba coba kam baca blog ataupun situs2 karo, mana pernah kami meributkan ttg suku toba sepeti kalian yang doyan sekali bikin ribut…
    Begitulah kira2 seninaku Sihombing mergana,,,,
    Semoga kam sehat2 selalu..
    Mejuah-juah-Horas…

    @ M. Hutahuruk
    Saya mengutip “@Timotius A Purba. (saya pakai istilah predikat diluar etnisitas saja, supaya tidak saya tanamkan kemunafikan dalam diri saya);Ada dua kutub yang bertolak belakang antara saya dan anda dalam memandang TOPIK BAHASAN. Bila saya memahaminya dari sudut pandang makro, sementara anda memahaminya dari sudut pandang mikro yang sangat terbatas, dan saya kali ini saja terakhir menanggapi artikel ini berdasarkan poin2 dari tanggapan anda”
    Saya mau Tanya pal, maksud kemunafikan itu apa pal?kenapa begitu pal? Apa karna teori2 anda terbantahkan semua???
    oww.owwww… kam bilang saya melihat dari sudut pndg mikro yg sangat terbatas?apa buktinya terbatas pal??? nampak kan anda egois dlm berpendapat dan bersifat menghakimi???
    Wah,banyak juga ya pertanyaan kam…
    Ok sebagai pria yg gentle, saya akan membahasnya satu per satu (hal yg tidak kam lakukan pada saya).
    NB : maaf kalau saya tidak tulis pertanyaan2 anda,langsung saya jwb saja ya…
    1.Kenapa pal?atau jgn2 kam g tau apa2 ya ttg suku karo dan tdk bisa mnjwb pertanyaan2 saya? akui saja pal….

    2. Itu kan menurut anda tdk kebakan jenngot,saya saja dan teman2 saya diwarnet ini (ada orang karo,simalungun,dairi,melayu,jawa,minang,dll) mengatakan kalian orang2 toba kebakaran jenggot melihat kenyataan kalau kami orang karo ogah dibilang orang batak?kalau bukan kebakaran jenggot,buat apa kam repot2 menjawab dengan segudang buku yang baca dan kelihatannya sangat takut kalah berdebat pal? jujur saja lah… malu kita kalau dibaca orang lain…

    3. Saya bukan bermaksud memaksa,hanya menantang anda yg kelihatannya memang sok tau itu ttg suku karo.. ada hal yg saya tau dan tidak tau.yg tidak tau itu yg coba saya tnyakan sama kam yg “kelihataanya” tau itu… atau anda memang sama sekali g tau apa-apa ya ttg suku karo??? Berbeda dengan saya yang memang kurang paham dengan sejarah suku toba..

    4. Oh itu ya pal, itu merupakan kesalahan teknis penulisan tanggal pal.saya akui saya kilaf dan saya memang mengkopi teks tersebut pal. jujur saya kan pal????

    5. Begini pal,pastinya kalau kam bijak dan pintar coba kam lihat titel2 yg disandang beliau.tentu bukan orang biasa macam kita kan pal? tdk mungkin kan kalau dia dpt title itu dengan penelitian yg bohong?apa lagi tesis mengenai batak,sudah pasti ada dosen pengujinya orang batak kan pal?ato kam g pernah mengenyam bangku kuliah y???? tentunya saya mengambil kesimpulan kalau tulisan beliau itu 80% benar dengan penelitian,pangamatan,observasi,wawancara dan terjun lansung kelapangan. Tdk seperti cerita2 konyol yg mengatakan kalau nenek moyang orang batak berasal dari siraja batak dipusu buhit sana kan? saya tau jmlah literature dijerman&belanda mancapai 1000an. Tapi kan pal,kalau sudah masuk perpustakaan pasti setiap halaman sudah dipilah2,diberi keterangan,dll agar memudahkan pengunjung dan peneliti utk meneliti kan pal? ato kam g pernah ya masuk perputakaan ???? kan dari 1000an literature itu g semua menyebutkan ttg sejarah batak kan? pasti ada ttg lagu2,legenda,poto2 jaman dulu,dll. paling sekitar 40% menceritakan ttg sejarah asli suku2 di pedalaaman sumatra utara. Dan juga pal,kan beliau itu melakukan wawancara dan diskusi dengan ahli sejarah dijerman dan belanda kan sehingga dia mendapatkan data yang cukup valid. Bukan ada udang dibalik mie kwitiaw. atau jgn2 kam sewkatu menulis artikel kam ini, kam lagi makan mie kwiriaw yang ada udangnya sehinnga kam jadi tiba2 bertambah pintarnya ya????

    6. Sama seperti jawaban nomor 5 pal.saya yakin dia tdk bebohong.lagi pula dia orang yang indepanden(bukan orang batak) jadi pasti dia tdk merekayasa kan pal?beda kalau penelitinya orang batak, itu baru dipertanyakan…
    7. anda bilang kata batak itu sudah tertulis oleh Pliny dalam buku Natural History tahun 77 Masehi? tahun 77 pal? wah hebat sekali itu.. setau saya kalau tahun 77 itu inggris belum berbentuk kerajaan pal. Jangan ngawur lah.. tahun 77 kam bilang?berarti buku itu sudah berumur 1933 tahun?wah mengimbangi ALKITAB ne… ckckckckcccckkkkkkkkkkkk…………. Terus kam bilang tahun 2000-3000SM? Emang orang batak sudah tau menulis pal??? Setau saya huruf batak itu mirip dengan huruf palawa (tau huruf palawa kan pal?). dan huruf palawa itu berasal dari india.dan menurut catatan sejarah,bangsa india datng ke Indonesia sekitar tahun 100an. Berarti pada 2000 SM orang batak g tau nulis kan pal?????
    Terus kam bilang tertulis kata “bata” yg mirip aksara batak(ba+ta). Kan mirip pal,bukan berarti sama kan. Terus kata “BA+TA” apa maknanya sama dengan kata “BATA” ???

    8. kam bilang ada penamaan kata batak difhiliphina dan Bulgaria. Wah, saya baru dengar tu kalau dibulgaria ada suku batak? Jangan2 mereka juga anaknya SIRAJA BATAK dari PUSUK BUHIT yang merantau kebulgaria ya pal? apa2 aja marga mereka pal?jangan2 ada paman saya ne dibulgaria atau ada impal saya ne disana…. Coba lah pal kam jelaskan,saya g ngerti dan belum baca tuh buku yg kam sarankan. Kalau bias,tuliskan ya artikel tersebut diblog ini…

    9. tuliskan artikelnya pal…

    10. ttg marco polo pal.ada yg mau saya Tanya.dimana pertama kali dia tiba disumatra pal?bukankah dipantai timur Sumatra?saya mau Tanya,anda tau apa tidak, posisi geografis tapanuli itu dimana pal????

    11. ah,saya rasa tidak juga.apa anda pernah langsung kejerman dan belanda utk meneliti pal?ato jgn2 Cuma ngarang?kalau memang sama,kenapa kam dari pertanyaan 1-10 menolak artikel yg dituliskan beliau. Nampak kan anda ngawurrrr bin ngarang……

    12.bukan apa2 pal, ok lah kam jago teori.tap kenyataannya pal.. orang2 toba itu malas bergaul dengan suku karo pal.karo dan toba ini selalu bertentangan dalam berfikir pal. Bukan maksud saya mempropokasi,tp itulah kenyataaan. Kenapa nama batak disumatra utara tidak popular pal, namun hanya popular diluar Sumatra utara?

    13. itulah kenyataan pal. Menurut saya kam memang begitu pal. Mulai dari artikel kam kepada saya tertanggal 21-11-2010.anda dengan entengnya mengatakan ada purba pakpak,simalungun,dan karo yg sama adatnya. Hmmm apa itu bukannya sok tau???? Ya,saya mau Tanya dan coba anda tuliskan bunyi kalimat dan sumber yg mengatakan ada kerajaan toba. Coba anda Tanya pada tua2 anda,apa arti makna raja pada toba dan coba anda pelajari apa arti makna raja pada suku toba…

    14. melihat pernyataan kam diatas, malah saya ragu akan tulisan2 artikel anda. Kalau anda memang tau,kok pernyataan adan dapat saya bantah dan pertanyaan2 saya kok tidak kakanda jawab???

    15. tuliskan artikel dalam kitab tersebut !!!

    16. anda dengan gampangnya menghakimi saya dengan mengatakan didalam hati saya ada KEBENCIAN. Saya tidak pernah benci dengaan orang2 batak,terkhusus toba.karna saya menganggap mereka saudara senasib,sewilayah dan teman2 sewkatu kecil saya. namun,saya tidak akan pernah lupa darimana saya berasal. saya memegang teguh suku saya,yaitu SUKU KARO. Kalaupun penamaan BATAK itu saya terima,namun hanya persamaan kepentingan politk,kesamaan wilayah,dan nasib.namun BUKAN KESAMAAN NENEK MOYANG yg dengan gampangnya suku kalian bilang berasal dari SIRAJA BATAK. Begitu pula dengan simalungun,dairi,melayu,jawa,aceh,minang,dll. Saya tetap menganggap mereka saudara. Saya sangat kecewa dengan pernyataan anda.anda katakan kam seorang penulis,namun dengan gampangnya anda menghakimi saya…
    Biarlah,saya tetap akan memaafkan anda…

    17. saya sama sekali tidak dapat ilmu dari anda, malah saya mau ketawa membacanya…

    SYALOM MEJUAH-JUAH….

  53. Maaf kawan, mungkin saya harus ingatkan kembali, saya tidK mengungkapkan pendapat, saya juga tidak memihak, saya juga belum pernah mengatakan bahwa orang Karo itu sama dengan Toba atau pun Simalungun, malah saya sendiri tidak percaya bahwa semua Batak keturunan Siraja Batak, dalam hal ini saya pernah uraikan alasan saya oleh karena itu saya banyak bertanya dan tidak pernah menjawab, karena saya memang bukan ahlinya, tapi saya hanya ingin tahu walaupun kebanyakan pertanyaan saya tak pernah terjawab. Sekali lagi saya percaya bahwa jaman dulu selalu ada orang berpindah dengan sengaja, atau tersesat dalam perjalanan atau terbawa angin ribut atau lainnya dari satu tempat ke tempat lain dan jaman dahulu tidak ada tiket PP alias pulang pergi seperti kapal terbang, makanya umumnya mereka membentuk bangsa baru atau berasimilasi dengan masyarakat lokal. maaf kalau ada yang tersinggung oleh pertanyaan saya dan merasa tidak perlu menjawab

  54. aku orang batak, tapi lahir dan besar di Karo, orangtuaku juga orang batak. Mereka sering menceritakan pengalaman mereka tinggal di karo. Mereka KONTRA dgn sifat dan watak org Karo yang tidak ada di Toba sana. Saya(kita) mungkin juga tau watak orang karo. Malah GBKP(Gereja Batak Karo Protestan) pun diprotes karena penggunaan “Batak”.

    Mau dipakai bataknya atau dihilangkan, itu kan terserah mereka aja.
    Kita lihat saja,apakah kata ‘batak’ itu berpengaruh pada kehidupan karo?? Let’s see,what happen later…

  55. Jujur saya katakan kita Toba sangat jauh berbeda dengan kalak karo, di segala bidang. Biarlah Karo tetap Karo tidak memakai batak. Itu akan lebih menguntungkan bagi Batak itu sendiri. Sebetulnya ini berkaitan dengan dominansi batak (Toba) di perantauan. Dari semua yg disebut bangsa batak (Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak) asal di sebut Batak udah berarti Toba lah itu. Dahulu memang Toba lah yang paling dominan. (baik dari jabatan ataupun lainnya) Contoh, pahlawan revolusi DI. Panjaitan, pengarang lagu, Cornel Simanjuntak, pahlawan nasional Sisingamangaraja, TB. Simatupang, dll dan ini banyak dipakai sebagai nama jalan si seantero Nusantara). Sebenarnya tidak ada kepentingan Batak (Toba), apakah suku Karo itu berasal dari batak atau tidak. Ingat.. hanya orang Toba lah yang selalu menyebut dirinya Batak. Contoh, kalau diperantauan kita ditanya “suku apa kamu ???” Kita langsung jawab “Orang Batak”. atau “Suku Batak”. Saya lebih senang disebut orang BATAK, ketimbang orang TOBA, saking kuping mendengar kalau dibilang orang Toba atau Tapanuli. Sekali lagi menurut saya pribadi biarlah Karo tetap Karo, Simalungun tetap Simalungun, Pakpak tetap Pakpak , yang penting kita jaga Kerukunan. Jadi sebaiknya sahabat dari karo maupun simalungun siap2lah memploklamirkan “Kami Bukan BATAK, Ini marga-marga kami, dan ini Sejarah Kami”. dengan demikian babak baru lembaran sejarah dimulai, buku2 pelajaran yg menyebut sub etnis batak ada 5 agar diganti, nama gereja juga diganti tidak menggunakan kata “Batak”, dsb. Dengan demikian ke depannya akan menjadi jelas. Biarlah sejarah zaman dahulu para pakar di bidangnya yang mempelajarinya. Ini hanya pendapat pribadi berbekal pengalaman pribadi. Sekian dan Terimakasih

  56. @ Timoteus A Purba
    Saya hanya ingin bertanya, “MENGAPA AKSARA TOBA,KARO,SIMALUNGUN DAN MANDAILING BISA SAMA”??? Saya (mungkin batak toba) tak punya untung rugi bila karo tak mau dinamakan batak…..hanya saja banyak orang karo yang merasa dirinya batak, dan inilah yang penting anda satukan persepsi sesama orang karo agar mereka benar2 merasa bukan batak. Sebab yang menentukan karo adalah batak atau tidak adalah komunitas karo itu sendiri. Bukan prof Dr dan beberapa titel kesarjanaan lainnya.

  57. njuah-juah…

    saya sebagai orang pakpak, bukan batak pakpak setuju dengan pernyataan saudara Timotius A. Purba.
    pakpak tetap pakpak, karo tetap karo. tidak ada kata batak.
    malah orang2 batak (toba) banyak merusak adat kami orang pakpak.

    dari segi bahasa dan adat kami lebih mirip ke karo…
    dan kami merasa lebih sejiwa dengan orang karo..

    saya juga sangat tidak setuju dengan cerita siraja batak itu dan tarombo batak itu.
    terimaksaih

    njuah-juah..

  58. Ada suatu yang menarik, biasanya yang merasa telah maju di perantauan selalu mengaku dirinya sebagai batak, sebagai contoh Jendral Nasution, Jendralk Simatupang, Jendral Panggabean Adamalik batubara, Sintong Panjaitan Panggabean PT.Piola, Olo Panggabean, dan banyak yang lain, demikian juga di perguruan tinggi seperti di ITB atau perguruan tinggi lainnya mereka mengaku batak, kalau yang tamatan sekolah kurang populer atau namanya kurang terpandang biasanya tidak mengakui sebagai Batak……. begitulah

  59. hanya yang membedakan dan persamaan dari smua suku batak tersebut adalah sama2 memiliki RASA IRI DAN DENGKI JIKA ADA SESEORANG YG SUKSES DAN BERHASIL,JADI JGN PERNAH KAU MENGATAKAN KARO TIDAK BATAK,JIKA DI DIKOTA LAIN KAU BILANG KAU BATAK,PAKE OTAK

  60. Mejuah-juah….

    @Conovan
    “aku orang batak, tapi lahir dan besar di Karo, orangtuaku juga orang batak. Mereka sering menceritakan pengalaman mereka tinggal di karo. Mereka KONTRA dgn sifat dan watak org Karo yang tidak ada di Toba sana. Saya(kita) mungkin juga tau watak orang karo. Malah GBKP(Gereja Batak Karo Protestan) pun diprotes karena penggunaan “Batak”.Mau dipakai bataknya atau dihilangkan, itu kan terserah mereka aja.
    Kita lihat saja,apakah kata ‘batak’ itu berpengaruh pada kehidupan karo?? Let’s see,what happen later…”
    Menanggapi komentar anda, saya mau Tanya ne. kam bilang sifat orang karo KONTRA dengan orang toba. Kontra bagaimana ne pal?kalian tinggal ditanah orang,tentu kan wataknya berbeda dengan kalian. Sama seperti hal nya orang karo yg tinggal ditoba sana,pasti hal sama akan terjadi kan. Terus saya mau Tanya, bagaimana rupanya sifat orang karo itu pal? Sepertinya ada berbau kurang senang ini..
    Permasalahan GBKP,sudah saya jelaskan sebelumnya dikoment saya. Anda g tau secara pasti kan kenapa ada makna BATAK pada GBKP?jangan sok tau lah.kalau memang mau tau, silahkan tanykan langsung ke moderamennya dikabanjahe sana. Kam bilang kam tinggal di tanah karo, tanyakanlah…

    Saya juga mau Tanya sama kam, selama kam dan orang tua kam tinggal di tanah karo ada ya hal yg bepengaruh pada masyarakat karo yang menolak kebatakannya?apa mereka jadi gila semua?jadi miskin semua?jadi kaya?atau musnah?kiamat?dikutuk siraja batak? Atau g terjadi apa-apa sama sekali impalku?

    Dan bagaimana seandainya orang karo menerima kebatakkanya, apa yg terjadi pal?kaya-rayakah semua orang karo?terkenalkah tanah karo?makmurkah tanah karo?jadi politikus kah tanah karo?jadi propinsi kah tanah karo?suka bikin sensasi kah orang karo?suka memaksakan pendapatnya kah orang karo?suka mengejekkah orang karo?atau malah yg akan terjadi pertikaian berdarah pal???
    Ayo kam jawab ya….

    @ B. Situmeang

    Terimaksih..
    Benar itu, kita harusnya saling bersahabat,tapi tentunya kan juga menghormati pendapat sejarah suku lain yang menolak kata batak kan?bukannya “kita” malah marah2, g terima dan kebakaran jenggot kan kalau ada suku2 di Sumatra utara yg menolak kata batak pada suku mereka kan?
    Toh orang karo tidak pernah memaksakan pendapat mereka ke saudara2nya di luar sana kan. Persaudaraan memang harus tetap dijaga dan dibina namun kita juga harus menghormati pendapat suku lain kan pal. Saya juga sangat menghormati dan bersaudara dengan orang2 tapanuli kok Dan perlu diketahui disini, saya bukan sebagai propokator, tapi hanya mencoba meluruskan bahwa karo itu bukan batak, nenek moyang orang karo bukan dari siraja batak, asal muasal orang karo bukan dari pusuh bukit sana, bahasa karo bukan dari toba sana, dll.
    Dan saya rasa, dari dulu kala kami orang karo siap menerima konsekuensi kalau kami suku karo saja, bukan batak karo. Lihat lah, dari dulu yang ada TANAH KARO SIMALEM bukan TANAH BATAK KARO SIMALEM…

    @Bonar Siahaan
    “Saya hanya ingin bertanya, “MENGAPA AKSARA TOBA,KARO,SIMALUNGUN DAN MANDAILING BISA SAMA”??? Saya (mungkin batak toba) tak punya untung rugi bila karo tak mau dinamakan batak…..hanya saja banyak orang karo yang merasa dirinya batak, dan inilah yang penting anda satukan persepsi sesama orang karo agar mereka benar2 merasa bukan batak. Sebab yang menentukan karo adalah batak atau tidak adalah komunitas karo itu sendiri. Bukan prof Dr dan beberapa titel kesarjanaan lainnya.”
    Sudah saya jelaskan sebelumnya, aksara karo,toba,simalungun dan mandailing itu berasal dari huruf pallawa di india sana. Sesuai dengan cerita2 suku karo kalau dulu ada sekelompok orang dari india datang ke Sumatra sambil meyebarkan agama hindu juga berdagang, tinggal dan menikah dengan pnduduk setempat.ada juga yg mendirikan kerajaan. perlu juga utk kita ketahui bersama, di jambi,dikampar dan disumatra selatan (sriwijaya) ditemukan juga prasasti yg tulisannya hampir mirip dengan aksara karo-toba-simalungun-mandailing yang mana bunyi dan maknanya sama. Disumatra barat juga ada. Kalau begitu saya mau Tanya sama kam, apakah kam berani mengatakan kalau suku di Kampar, jambi, Palembang, padang itu orang batak???? Dan perlu diketahui, aksara karo-toba-mandailing-simalungun itu tidak sama 100% seperti yg kam katakan.. ada beberapa huruf yg berbeda dan sepertinya kam perlu belajar lagi sebelum mengeluarkan komentar…
    Hahaha…. Semuanya sama. kalian begitu “hepoott” melihat kami ogah dibilang batak…
    Kenapa ya? Tanya kenapa lah….
    @edison padang
    Lihat itu, senina kita dari pakpak sudah angkat bicara..
    Apa harus semua suku2 disumatra utara kecuali orang toba/tapanuli angkat bicara???

    Pesan saya, memang kita harus saling menjalin persaudaraan antara semua suku disumatra utara. Jangan ada kebencian, dendam, dll. Namun ada hal juga yang harus kita jaga, yaitu kita harus menghormati pendapat suku lain yang menolak kata batak pada diri mereka dan dengan bukti2 yang akurat tentunya- bukan dari cerita2 konyol- agar tidak terjadi permaslahan SARA. Ingat, bukan hanya orang tapanuli saja yang “doyan” berperang, punya pahlawan nasional, punya nama pahlawan yg jadi nama jalan, punya orang terkenal, dll…. Kita juga jangan suka cari sensasi dan cari ribut lah seperti gayus tambunan, pak tobing (masalah symbol garuda di baju timnas Indonesia), dll…
    Dan sebagai catatan juga, saya bukan mau jadi propokator disni seperti yg dikatakan segelintir orang yg tidak senang menerima pedapat saya…

    Terimakasih..
    Bujur ras mejuah-juah…
    Dibata simasu-masu kita kerina….

  61. @Timotius
    seharusnya anda menilai jawaban itu secara lebih dewasa..
    Kontra maksud saya,jujur saja, mereka cenderung tidak suka berbagi, walau sebatas antar tetangga, mereka cenderung egois….
    Itu saja…apakah itu membuat karo miskin,musnah,dll…owwowwoww…tentu saja tidak, dan anda tidak perlu membesarkan pembicaraan seperti itu…
    Masalah gbkp, itu kan hanya menurut yang saya dengar saja…. Sudah sy bilang, saya gak peduli mau dipakai batak,mau dihilangkan….ya terserah,saya ga mau memikirkan hal2 yang tidak perlu dipikirkan, anda saja yang terlalu melebih2kan sebuah statement….. Hah…itu urusan anda…

  62. @conovan : saya sudah menilai pertanyaan kam dengan pemikiran yg matang.saya mau tanya sama kam, dibagian mananya saya tidak dewasa dlm berfikir pal?
    kam bilang “Kontra maksud saya,jujur saja, mereka cenderung tidak suka berbagi, walau sebatas antar tetangga, mereka cenderung egois….”
    yg mau saya tanya, dimananya orang karo itu egois. bukannya orang tapanuli yg egois pal,lihat dengan egoisnya kalian bilang kami orang karo merupakan keturunan kalian…

    makannya kam jangan keluarkan statment yg g berbobot gitu,
    kalo kam jantan(seperti kata orang kebanyakan) dimana kam dulu tinggal di tanah karo (nama desa,kecamatan,dll).
    biar kami tau….

  63. memang kami orang Batak (Toba) ini sangat hebat sekali. Bahkan kami juga mengklaim Suku Gayo (Aceh Tenggara) adalah bagian dari Batak. Kenapa kami selalu ngotot bila ada orang yang bilang bahwa karo bukan batak, ya karena kami ingin mendominasi semua suku bangsa di Sumatara Utara ini, dan yang termasuk didalamnya adalah orang Karo itu sendiri…

    hahahhahahhahaha…

  64. Saya sangat setuju sekali dengan pendapatan Lae, Banjarnahor, BAtak Toba sangat mendominasi, ini bisa di dengar dari suara mereka ketika bernyanyi, sangat lantang, dan bersemangat, …membangunkan orang yang tertidur dan membuat orang yang sedang merenung manortor, ………..kalau lagu daerah lainnya menidurkan orang yang sadar dan membuat orang malas.
    Kepriyeee…ojo ngono lho mas!!!!!… semangat dong!!!

  65. @Timotius

    Kami enggak punya keuntungan langsung kalaupun mengklaim orang Jepang sebagai bagian dari Batak, tapi justru kami akan mendapatkan keuntungan jika mengklaim seluruh suku-suku di Sumatera Utara adalah orang Batak. Dalam skala nasional atau dalam kata lain dimata masyarakat Indonesia secara umum akan melihat kami adalah sebagai bangsa yang besar dan perlu ditakuti, nah disini lah keuntungan itu, dimana posisi tawar kami akan semakin mahal dibidang politik dan kemasyarakatan🙂

  66. Setuju sekali dengan lae Denny, perbandingan Karo dengan batak lainnya seperrti bangasa Jawa dan Sunda yang mempunyai bahasa yang sangat berbeda, tapi kalau diteliti lebih jauh , halak Karo adalah pendatang baru yang sangat terpengaruh bahasa Melayu, sebagai pendatang tentunya tidak punya tanah, mereka meminjam dari ompunta najolojolo tubu yang saat ini tentunya belum sanggup mengembalikannya.
    Horas

  67. @ T. Marojahan :
    bukan berarti sifat lagu dalam suku2 lain kam jadikan bahan pertimbangan pal.
    dan sepertinya komentar anda menghina lagu2 dari suku lain.
    ia lagu kalian memang membuat org terbangun, tapi terbangun ditengah malam bos, sangat menggangu ketenangan orang lain. saya ingat dulu didekat kos2an saya, ada seklmpk pemuda batak toba bernyanyi2 keras2 ditngh mlm, eh didatangi warga malah lari terkencing2 macam melihat harimau saja.besoknya g berani keluar rumah, macam harimau yg udah dikebiri, tidak mengaung lagi.

    bukan lagu yg menentukan sifat seseorang/sekelompok, lihat lagu2 orang flores, lembut2 tapi orangnya keras,begitu pula lagu2 jepang, lembut ,dinamis dan penuh filosphi namun watak orang jepang kam tau sendiri kan?? lagu karo jg lembut pal, berbobot tapi orangnya pal, boleh kam coba.

    @deni banjarnahor :
    posisi tawar menawar tidak pernah terjadi pal. dlam hal pemekaran protap, suku2 di pakpak,simalungun,karo, mandailing ogah dan malas bin ga banget bergabung dan mendukung adanya protap.
    posisi tawar menawar apa yg anda koar2kan itu?
    ditakuti?berarti suku kalian memang suka bikin onar pal,buknnya lebuh bangga kita kalau suku kita dihormati dan diterima dimana2?

    pernah dulu saya liburan di danau toba, ada rmh mkn karo.sangat ramai dan orang karo itu diterima masyarakat dan tidak mengganti marganya. namun hal yg 180 drajat terjadi dikmpng bapk saya, baru 4 bulan tinggal sudah bikin onar, udah gitu gnati marga ke karo pula dia.pertama dia diterima dgn baik, namun sifat sok ngatur dan sok kerasnya itu dicoba sama abg saya.eh,ampun2 dia..
    malu pal…

  68. Bila orang karo tak mau mengaku batak untuk apaq dipermasalahkan??? Tapi belum tentu orang karo yang lain tidak menganggap dirinya batak karo…timotius hanya dapat mewakili pribadinya bukan seluruh karo….

  69. Diskusi yang sangat menarik…….
    ORANG KARO TETAP ORANG KARO…….
    IDENTITAS ITU PERLU SUPAYA TIDAK ABU-ABU…
    Spesial thanks buat seninangku Timotius purba , semangat terus senina……

  70. tulisannya bagus……………berhasil mendapatkan respon yang baik………..masalahnya bukan dari penulis…. tapi dari kita-kita yang membaca……..mungkin perlu kita eja satu-persatu supaya kita…………?????????? “SATU”…………..

  71. _B.Parningotan :
    saya mengutip “Setuju sekali dengan lae Denny, perbandingan Karo dengan batak lainnya seperrti bangasa Jawa dan Sunda yang mempunyai bahasa yang sangat berbeda, tapi kalau diteliti lebih jauh , halak Karo adalah pendatang baru yang sangat terpengaruh bahasa Melayu, sebagai pendatang tentunya tidak punya tanah, mereka meminjam dari ompunta najolojolo tubu yang saat ini tentunya belum sanggup mengembalikannya.
    Horas”

    jujur ne pal, saya sangat aneh melihat pernyataan2 kam. disetiap komentar yg kam buat g pernah konsisiten.apalagi komentar yg plg baru ne.membacanya membuat saya mau berak dicelana saja. sama sekali g msk akal komentarnya itu.masa orng karo diblg pndtng baru dan dipengaruhi budaya melayu?biar kam tau sikit pal, melayu disumatra utara itu lah yg sangat dipengaruhi karo,lihat di deli,langkat,hamparan perak sana.tidak punya tanah kam bilang?tanah ulayat suku karo jauh lebih luas drpada tanah toba.dulu sering saya mendengar dr mulut orng batak sendiri kalau mereka sebenarnya kecewa punya tanah didaerh tapanuli, udah g subur,bnyk batu2nya, dll.plg2 cm danau toba yg dianggarkan.pdhl dr segi geografis, danau toba itu jg punya suku karo,simalungu,dan pakpak.bahkan suku kalianlah yg berdatangan sbgai pendatang ke taneh karo simalem utk hidup dan berganti marga.mana ada orang karo mengganti marganya di kampung/tanah orang lain.kalau kalian,jawab sendiri lah…
    makanya kalau g tau jangan bikin komentar yg bikin orng bisa mati ketawa pal…
    gmn,sip????

    _bonar siahaan : saya rasa apa yg saya pikirkan juga dipikirkan oleh orang2 karo lainnya..
    coba dilihat komentar dari orang karo di blog ini..

    _senina barus mergana: bujur sen…
    setidaknya saya bisa mewakili suara hati orang karo, kalau
    KARO TETAP LAH SUKU KARO, BUKAN BATAK KARO…
    yang punya sejarah asli,tanah,pahlawan,cerita,sikap,watak,budaya,dll…
    dengan tetap menjaga perasaan suku2 lain di indonesia ini, dan tidak bermaksud mempropokasi ke arah SARA namun agar jelas kalau kita kalak karo ini adalah suku bangsa tersendiri terlepas kemana kita bergaul…
    semoga karo menjadi besar seperti dulu disaat jaman penjajahan dimana kita punya orang2 besar,tidak menghianati pahlawannya sendiri seperti yg dialami sisinga mangaraja,jiwa yg besar yg ditunjukkan dengan hanya ada dua taman makan pahlawan nasional di indonesia ini.di surabaya dan di kabanjahe. bukan bangsa pengecut dan bangsa yg suka memandang rendah suku lain…

    mejuah-juah

  72. diskusi yang sangat menarik….
    ada yang merasa perlu ada yang merasa tidak perlu. saya bukan seorang antropolog, budayawan atau yang lainnya tentang suku.
    kita tidak bisa mengambil kesimpulan secara subjetif. kita harus melihat apa yang terjadi dilapangan. kenyataan yang terjadi dilapangan adalah bahwa teman2 dari kabupaten karo, simalungun merasa sangat bangga dengan predikat Batak. tman2 saya di lbih banyak orang karo. saya punya seorang teman marga sitepu dari kabanjahe. dia aktif dalam mempelajari tentang suku batak toba, dia tau padanan marga sitepu dengan marga toba, knapa dia ingin sekali mempelajari adat toba ?
    kenapa saudara2 mempermasalahkan perbedaan yg ada diantara kita ?
    mengapa teman2 saya tidak mengatakan bahwa mereka bukan batak ?
    mengapa orang toraja mengatakan bahwa mereka serumpun dengan bangsa Batak ?
    saya pikir belum peraturan dari bupati karo yang melarang memakai kata batak karo.
    seharusnya yang perlu kita bahas sekarang adalah kenapa pembakaran gereja di indonesia ini harus terjadi ?????????????

  73. saya adalah seorang batak toba merasa tercerahkan dengan informasi-informasi yang ada disini, dan dari penelusuran saya di internet tentang karo bukan batak dan saya menemukan sebuah situs yang cukup banyak mengulas masalah ini. situs bersangkutan bisa dilihat di http://karobukanbatak.wordpress.com

  74. _B..Parningotan : jadi kesimpulannya apa pal?
    masih tetap ngotot mengatakan kalau karo itu batak?kalau karo itu pendatang?kalau karo itu tidak punya tanah?
    atau masih ada komentar2 kam yg lain?

  75. Menyedihkan. Apa untung ruginya kalau “Karo” itu dikatakan Batak atau tidak. Ini namanya karakter kolonialisme (pecah belah). Capek deh…., kalau masing-masing merasa lebih unggul. Mari kita berlomba berprestasi membangun bangsa ini. Sedih…, sedih…, sedih…nya hati ini. Komentar diberikan oleh orang yang mengaku intelek, tapi pikiran dangkal.

  76. Buat M. Sidauruk :
    bukan permasalhn untung rugi yg di bahas disini pal. identitas suatu bangsa itu perlu dipertahankan. bagaimana seandainya dikatakan kalau batak itu merupakan sub suku melayu?kam terima apa tidak?

  77. Njuah- juah ..horas.. Mejuah…. juah…… numpang jalan” ea….. eh td ny cm jln” tp ad yg d’ bahas kyk n ya…. oea meskipun qta beda suka, adat dan budaya.. tp qyta tutetap satu ikatan….. batak karo. sama az.. batak karo jg batak.. ya lw mereka terima.. tp q opernh denger , lw karo ktnya orang btk jg ko.. salam dr orang pak”’ pakpak bharat com

  78. 🙂
    hmmmm

    tentunya sangat banyak kontraversi Mgn karo – batak…
    dalam Forum ini banyak yg mengungkit kehebatan, keunggulan Suku, Mengadili, menyalahkan, membenarkan dll….

    yang harus kita pegang adalah, bahwa kita di dalam forum ini tidak untuk mencari siapa yang paling hebat… tapi batasannya adalah DISKUSI…
    masing2 bebas mengemukakan pendapat dan menilai pendapat peserta diskusi lainnya, tapi Mohon untuk Tidak Memberikan Vonis kepada pendapat yg berbeda dengan pendapat kita….

    KARO – BATAK….

    saya pernah melihat hasil seminar budaya Karo yg di bawa Ortu saya, kebetulan Beliau merupakan salah satu budayawan karo. pada Kongres Budaya karo thn 1998 Di Hotel Sibayak Berastagi…. yg di hadiri oleh puluhan Budayawan Karo, Akademisi karo, dan Politisi karo, juga terlibat beberapa Pelajar…
    maka telah di putuskan bahwa KARO BUKAN BATAK, entah karena alasan apa, Karo di katakan bukan batak, saat itu saya blm terlalu tau dan tdk terlalu peduli juga, krn mengingat saat itu usia saya memang tidak di haruskan peduli thd hal spt itu.. tapi setelah say menduduki bangku kuliah, saya baru berpikir klo ternyata hal spt itu sangat penting… apa lagi saya hanya lahir di karo dan besar di Pulau jawa…

    sebagai perantau ahirnya saya mencari tau sejarah suku saya… dan ketika saya mempelajari serta membandingkan KARO – BATAK, saya pun setuju kalau KARO BUKAN BATAK…

    alasannya adalah sebagai Berikut

    1. BAHASA dan AKSARA
    bahasa karo dengan batak (toba) sangat berbeda, demikian juga dengan Aksaranya, artinya bahasa dan Aksara adalah Suatu hal yang umurnya sudah cukup lama, turun temurun dari generasi ke generasi… klo kite telaah lagi, kenapa suatu aksara dan bahasa berlaku pada satu kelompok, tentunya hal ini dulunya adalah sebagai sebuah keharusan siapa yang mengharuskan??? tentunya pemimpin kelompok atau orang yang punya karisma…. dan pada jaman dahulu bisa saja itu sebagai seorang raja… maka dapat saya simpulkan bahwa Pemimpin yang menyebarkan bahasa karo dan bahasa Batak sudah Pasti berbeda.
    kalau dikatakan ada kemiripan, itu memang betul tapi bukan sebuah alasan untuk mengatakn bahwa kemiripan itu adalah sebuah kesamaan asal usul secara Mutlak, karena bahasa karo dengan bahasa sunda juga ada kemiripan dialeg dan beberapa kosa kata, kemudian mengenai kemiripan aksara… itu juga menurut saya bukan sebagai bukti Bahwa KARO adalah batak, toh dari berbagai aksara yg ada di Nusantara bahkan Dunia juga memiliki kesamaan Induk aksaranya… spt contoh
    Aksara Karo adalah: ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, dst, dst
    Hiragana Jepang adlh : ha, hi, hu, he, ho, ga, gi, gu, ka, ki, ku ke, ko dst dst
    Aksara Palawa Jawa : ho, no, co, ro, ko, … po, do, jo, yo, nyo,…. dst dst
    bgitu juga denganSunda, Sanskerta, Kanji, katakana, dan masih banyak lagi aksara lainnya di dunia yg memiliki kesamaan, namun asal usul mreka pasti juga berbeda

    2. TATANAN ADAT
    sangat Jelas perbedaannya antara KARO dan BATAK. di batak sendiri sedikit mengandung Unsur kasta, seperti pada masyarakat jawa dan Bali… karena marga di masyarakat Batak, mempunyai urutan tinggi rendah serta hitungan Keturunan Brapa pemilik sebuah marga itu, namun di karo hal ini tidak pernah ada… ketika saya ketemu dengan seseorang yg mempunyai marga yg sama dengan saya, tidak pernah ditanyakan saya keturunan keberapa…. jadi ini sangat Jelas berbeda, begitu juga dalam alur tatanan acara Adat, baik acara adat dlm hal Pernikahan ataupun kematian dll.

    3. TAROMBO…

    secara sosiologi, tarombo bisa juga dikatakan sbg silsilah…
    maka ketika saya melihat tarombo dari SIRAJA BATAK, saya langsung tau klo semua marga yg terdapat di dalamnya adalah keturunan SIRAJA BATAK bukan RAJA KARO.. karena dalam Tarombo tsb tidak di sertakan Marga2 karo di dalamnya, jadi klo sekarang Di paksakan KARO = BATAK, berarti Orang yg memaksakan tersebut sudah menghianati SIRAJA BATAK, karena tarombo tsb di buat tentunya punya tujuan Khusus, paling tidak ketika team siraja batak menyusun TAROMBO tsb, pasti salah satu tujuannya adalah untuk mendata keturunan dan pengikutnya, maka ketika kita pada jaman skrng memasukkan yg bukan keturunan/pengikut si RAJA BATAK sebagai bagiannya, brrti kita menghianati Sejarah…. kemudian Mengenai TAROMBO, satu hal Yang sangat Penting di Ingat, bahwa…

    “SALAH SATU KETURUNAN SI RAJA BATAK, MENIKAHI PUTRI KARO BERU SEMBIRING MELIALA” Silahkan cek di tarombo SIRAJA BATAK
    maka ini merupakan sebuah bukti yg sangat kuat, bahwa pada saat itu ADA KARO dan ADA JUGA BATAK… dan KARO BUKAN BAGIAN DARI BATAK… tetapi saat itu sudah berjalan beriringan…

    nah… maka dari beberapa indikator yang saja sebutkan dan jelaskan diatas, bisa di tarik beberapa hipotesis….

    yaitu:
    1. ketika acuan kita adalah Tarombo SI RAJA BATAK, maka KARO BUKAN BAGIAN DARI BATAK (KARO tidak sama dengan BATAK)

    2. Ketika Acuan kita adalah Sistem yang Di buat pada masa KOLONIAL… maka KARO adalah BATAK. kASUS ini sama seperti ketika Kolonial Menglompokkan JAVA/jawa yg di dalamnya terdapat suku jawa, Sunda, Badui dll

    3. Ketika Acuan Kita adalah sejarah, Maka KARO BUKAN BATAK….

    maka, seperti yang di sebutkan Oleh sdr JONES GULTOM

    “Menurut saya, Batak hanyalah sebuah induk,”
    saya sangat tidak Setuju, karena yang namanya Induk itu bersifat mengayomi, memberi atau diberi… seperti Negara yg merupakan induk dari segala suku yg ada di dalamnya, maka negara pasti mengayomi anak2nya karena dia adalah induk, negara pasti memberi kepada anak2nya karena dia adalah induk, anak2 pasti juga memberi/berbakti kepada induknya, entah karena kesadaran, tekanan atau hal lain….

    tapi Pernah kah BATAK, mengayomi, memberi, atau diberi (pajak/upeti dll) oleh KARO??? sehingga anda mengatakannya sebagai Induk???

    dan bagi sdr2 lain yg mengatakan “hanya sedikit yang bermarga di Nusan tara ini”, semoga anda tidak malas menambah bahan bacaan…dan teman diskusi, karena kurang lebih 85 % suku yang ada di nusantara ini Memiliki MARGA, mulai dari Aceh, suku2 di sumatera utara, Minang, Suku Anak Dalam, Badui, Madura, Bali, Lombok, ambon, Kupang, Sumba, Dayak, Toraja, Manado, Flores sampai ke papua sana Semua Punya marga…. namun beberapa tidak menyebutnya dengan Marga, ada yg menyebut Famm, Clan, Trah dll Klo bahasa Internasionalnya Family Name…

    thanks…

  79. @ b.Parningotan :

    berarti yang meminjamkan tanah itu termasuk Orang yg Bodoh ya…
    analoginya Bgini : klo seandainya ada orang baru datang kekampung anda dan meminjam tanah dari anda, apakah anda akan memberikan tanah anda yang paling subur?? dan kemudian anda menggarap lahan yang tandus dan berbatu yg hanya bisa di tanami bawang dan kacang?? apa kah akan seperti itu??? wah wah.. dangkal sekali analisa anda..

  80. Maaf cuma numpang lewat … gan …
    Pada akhirnya pembaca (saya) dan teman pembaca lainnya bisa nilai kok …. siapa yang “punya kepentingan khusus” di blog ini🙂 … boleh juga dibilang apakah dianya ASBUN, nebar kebencian, fanatik pada suku tertentu aka tidak objektif pada pembahasan atau emank dianya sengaja buat pemahaman yang salah arah dengan memunculkan kata2 dan kalimat perdebatan yang tidak sehat …🙂 PEACE.
    Makasih buat yang kasi koment jadi nambah pengetahuan … nih.

  81. Horas Bah…

    Saya sudah membaca tulisan teman-teman semuanya menurut saya diskusi ini bagus dan sangat penting sekali dikaji melalui forum yang sangat resmi agar kita dan khalayak awam mengetahui makna arti sejarah BATAK yang kian terlupakan , walaupun memang setiap topik pasti ada pro dan kontranya…
    Bukan kali ini saja topik ini muncul kepermukaan baik di akademisi maupun diluar akademisi, Tidak hanya suku bangsa karo saja yang mengatakan suku bangsa karo bukanlah BATAK, tetapi suku bangsa MANDAILING juga pernah mengklaim bahwasannya MANDAILING bukankah BATAk. Ketika permasalahan ini muncul kepermukaan dalam benak saya bertanya apa sebenarnya konsep BATAK itu sendiri, namun dalam diskusi ini saya telah banyak mengetahui berbagai konsepsi kemunculan Batak yang sebenarnya.
    tidak hanya itu saya pernah juga bertanya kesetiap Suku Bangsa Karo yang ada ditanah Karo dan saya bertanya apakah bapak orang Karo atau orang Batak, dia berpikir sembari bingung dengan pertanyaan saya, Bapak tersebut menjawab saya adalah Batak Karo dan tidak ada perbedaan orang karo dengan orang Batak, karena menurut bapak tersebut konsep Batak adalah “PEMERSATU” begitu juga Suku Bangsa Mandiling yang mengklaim bahwa Mandiling bukanlah Batak. itu menurut masyarakat awam yang mengatakan secara fakta, nah sangat berbeda dengan seorang akademisi yang sering kali menggunkan konsep-konsep teori didalam membahas suatu permasalahan yang tak akan menemukan suatu pembenaran secara faktual hanya akan menciptakan suatu ke-eksistensian secara propaganda, namun dalam tulisan B’ Juara Ginting saya tidak mengerti kemana arah tujuan tulisan tersebut tidak berdasarkan penelitian dan analisis data yang kuat, walaupun saya seorang Antropolog abal-abal tapi saya tetap mengetahui bagaimana seorang Antropolog menempatkan dirinya didalam mengakaji sebuah masalah dan seorang Antropolog bukan menimbulkan sebuah masalah.
    Tapi dalam membahas Bahwa Karo Bukanlah Batak jangan dikaitkan dengan Agama, karena akan menimbulkan kesimpang siuran dalam mencari fakta yang sebenarnya..

    Salam Keraba….

    Horas Bah……….

  82. @Tamboenan
    Saya setuju dengan pandangan Lae Tamboenan. Tetapi ada yang aneh dalam diskusi ini. Saya membuat komentar , pertanyaan2 dan pendapat yang tidak memihak, tetapi semua pertanyaan saya tidak mendapat response dari pihak Karo dalam hal ini. Anda dapat melihat semuanya.Kemudian saya membuat sedikit pendapat keras untuk menanggapi sindiran penulis2 fanatis yang sedikit keras, all hasil timbul berpuluh2 jawabaan yang juga tidak realistis yang bersifat emosionil. Apakah ini adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan sebagian besar manusia?. Saya diam penulis2 tersebut tak henti2nya melemparkan serangan balik, ibarat tembakan senapan angin dibalas dengan meriam.

  83. MEJUAH-JUAH……..SEMUA ……………………………………..SYA INGIN KOMENTAR JUGA NEH HAHAHAHAHAHA………………………………………………….kawan2 semua…atas dasar apa anda ingin berbicara seperti itu..bahwa karo itu batak? saya juga senang dengan pemikiran bang tambunan…..marga ku sembiring bank……..!!!!!!!….saya mw tanyak bank kampung nya toba itu dimana setahu sya di samosir bang…kalo menurut abank gimana cuba abank jelaskan,,,,,,,,? dulu sebelum ada legenda danau toba …. apa nama kampunk di bawah danau toba itu bank… cobak di jelaskan dulu bank saya kurang paham……dan buat kawa-kawan jgn kita merendahkan gelar sese org…..kenapa suku karo tidak mw di sebut batak……karna karo berasal dari kerajaan aru..dimana kerajaan aru itu berada di daerah deli tua……di dataran tinggi karo pun belum ada org disana bank…..dary mana jalan nya sisinga mangaraja kesana..hutan semua..logika bank kalo emank suku toba..mengangap karo itu dary toba atou keturunanan siingamangaraja…bahasa daerah kita jauh berbeda….hanya sepenggal kalimat yg mirip…….pakean adat..jauh berbeda….rumah adat kita sangat jauh berbeda rumah adat suku toba lebih mirip dengan rumah adat minang…sumatera barat..DAN rumah adat toraja…rumah adat karo..menjulang tinggi keatas….kalau sya melihat kita ini saling bertahan dengan argumentasi masing-masing……toh kita lihat apakah senang suku mandailing di bilang batak?….simalungun apakha senang di bilang batak.?………begitu juga dengan yg lain…..kenapa karo tidak senang di bilang batak….karena kami punya sejarah sendiri…seperti kejadian di kabanjahe tempo dahulu..tahura (taman hutan raya) di klaim taman sisingamangaraja.logika marah nggak anda apa bila di daerah anda di buat seperti itu..pernah terjadi…..slalu bertanya batak itu ya karo kalo emank benar..lindungi…satu suara bukan di klaim..menurut fakta yg jelas..ilmu ANALISA ITU ADA 100 persen benar….ini saya lihat seperti politik belanda yg sengaja mw di ciptakan lagy…politik adu domba..buat kawan2 dari tao toba pun jgn terpancing analisa dulu…ingat BHINEKA TUNGGAL IKA……APA PUN ceritanya pasti org karo mempertahan kan hak nya dan siapa dia…jgn seolah mencari jati diri bahwa dia dary sini….belum tentu itu benar……/COBA ANDA CARI SIAPA KETURUNAN SISINGA MANGARAJA TERAHIR SIAPA KETURUNAN NYA…yg sekarang ini ya? kalo saya bilang kita keturunan adam atou ank2 nya adam…ada komentar kalo untuk ini…..saya tekan kan sekali lagy suku karo mulanya itu dary deli tua…..sisinga mangaraja bilang sendiri aku siraja toba………betul tidak menurut sejarah kitab toba…berarty dia mempunyai pemikiran maju….koq tiba2 suku toba sekarang ,karo iatu adalah batak….apakah anda ingin menghilang kan kalimat melayu ini di nusantara kita. ATAU ANDA INGIN MEMUNAHKAN SUKU KARO..kita ini banyak suku di indonesia…..kalok anda menyebutkan batak itu karo…..ORANG CUMA TAU,,BATAK ITU SUKU TOBA…karo ga nampak gak kelihatan..banyak perbedaan dan banyak hal-hal baru.ngerty bank…KENAPA ADA SANGKUT PAUT…TOBA DENGAN KARO….itu berdasar kan silatuh rahmi bank …sopan santun menyatukan budaya yg berbeda tapi tetap satu….jgn anda bilang dari toba semua..dary mana jalan nya hutan dulu dataran tinggi karo……masih ingat kah anada misi patih gajah mada mempersatukan nusantara…..ada kerajaan toba disitu di buat….kalo kerajaan haru/karo ada bank…jady di analisa lah semua dulu…..jgn terpancing dengan emosi argumentasi masing2…..itu bisa terjadi perang suku……..biarkan yg ada memang ada…..dan itu kenyataan nya…kami org karo keturunan nini karo…raja disebut sibayak,,,,petinggi2 nya disebut raja urung,,panglimanya di sebut simbisa…..sementara ini itu saja dulu…ingat bhineka tunggal ika…bukan mengkalim. itu lain jady nya…..nanty..mejuah-juah

  84. Mejuah juah,
    Ampun aku nge-baca semua komen2 diatas yang (sorry) g perlu diperdebatkan.
    tapi ini forum bebas jadi semua berhak menyatakan pendapatnya masing2… Aku jg punya pendapat.
    Berhubung karena aku bukan ilmuwan dan bukan sejarahwan, mohon maaf klo ada yg salah.
    Pendapatku adalah aku tidak sempat hidup di kehidupan lampau dimana penulis msh hidup, jadi tidak tahu kebenarannya, atau tidak pula sempat mengalami kehidupan di masa kejayaan kerajaan haru…
    Tapi yang aku tahu ketika aku lahir aku punya “sembiring” dibelakang namaku, dan aku bangga untuk itu. Pastinya, anakku nanti pun ada “sembiring” dibelakang namanya.

    Masalah KARO bukan sub BATAK atau sebaliknya menurutku sih g perlu diributkan karena g ada untung nya….buang – buang waktu.
    Blog ini ga sengaja aku buka karena ingin tahu asal muasal KARO dan silsilahnya, ternyata mr. google sendiri tidak bisa memberikan informasi yang akurat.

    Akhir kata, aku cm mau menyampaikan, ketika org bertanya “orang apa?” maka secara spontanitas aku menjawab “orang karo” karena memang aku orang karo, bukan karena ingin membanggakan kekaroan-nya tapi itulah realitanya.
    Aku g berani bilang pendapatku mewakili pendapat orang karo, tapi yang sok tau ku hampir rata-rata orang karo kalau ditanya orang apa ya jawabannya orang karo bukan batak karo.
    aku yakin karena spontanitas karena memang orang karo bukan berniat untuk membangga-banggakan kesukuannya.
    Skali lagi ga da untung nya membahas masalah ini..tapi ya krn forum bebas silahkan aja…
    Bujur……

  85. Makin seru aja neh….
    lewat lagi ah….
    klo masalah populer kayak kata bang parningotan memang harus diakui orang BATAK lah orangnya….mulai dari pengusaha, pengacara, sampai itu yang namanya CIRUS SINAGA, GAYUS TAMBUNAN, HAPOSAN, ROSALINDA MANULANG dan masih banyak lagi…
    klo orang KARO tu biasa-biasa aja bang, cuma petani yang biasa cuma punya ladang jeruk 20 hektar….biasa pake mobil chevrolet ke ladang cm ngangkat kol, klo rusak ya biasa lah..bsk beli lagi….jadi orang karo serba biasa, g perlu nge top sampe masuk penjara..
    klo pun masuk penjara bukan karena korupsi, tapi menikam karena HARGA DIRI dan MARTABAT KELUARGA terinjak – injak, bukan karena jago atau hebat….
    Aku orang karo harus bangga tapi bangga dalam konteks yang positif….

    Yang lucunya lagi statement “pendatang”…
    mau ketawa sebenarnya…masa klo pendatang di kasi tanah yang subur dan kaya…
    klo ngasi statement yang berbobot dan masuk akal juga menambah wawasan orang yg membaca lah..

  86. itu bukan statemen, soalnya, kalau orang karo Bukan batak, timbul pertanyaan baru siapa yang duluan datang atau barang kali salah satu penduduk asli dan yang lain pendatang. Saya hanya membuat memancing suasana. Tetapi memang banyak alasan yang tidak masuk diakal dalam hal ini. Ada sebagian orang yang merasa beda suku bangsa hanya karena perbedaan agama atau menjadi jijik bila dianggap kafir. nah orang Batak juga banyak yang beragama Islam. memang yang dipesisir seperti orang Mandailing dan orang Karo yang beragama Islam banyak yang mengaku bukan Batak, bahkan Mandailing Islam mengaku berasal dari Bugis. Boleh saja tapi cari alasan yang masuk akal. Dari dulu saya percaya bahwa jaman dahulu belum ada tiket pulang pergi. jadi kalau ada orang musafir, biasanya tidak kembali ke negri asal; tetapi bercampur dengan orang lokal. itu sebabnya banyak orang batak berwajah seperti India, Cina, Iran Burma bahkan New Zeland, Tongga dll. Demikian juga bahasa bercampur baur. Sayang batak islam yang berasal dari pusat Batak seperti Balige sangat sulit untuk mengaku bukan Batak. Batak atau bukan …. tidak sepenting kejujuran dalam diskusi itu sendiri. Kalau kita tidak bisa jujur, boleh dikatakan bangsa apapun kita tetap sampah masyarakat.!!!!

  87. Kebesaran kerajaan2 dapat terlihat dari sisa2 peninggalannya. Lihat kerajaan Majapahit dam Mataram dan lihat candi2 seperti Barobudur, Prambanan, candi Lorojongrang, candi sewu, CAndi AngKor Wat di Kamboja, lihat Thailand lihat sisa 2 puing Babilon, Roma dll. Kerajaan Sisingamangaraja ibarat Raja kampung jika dibandingkan dalam hal ini, lihat saja istananya. Kalau kita bicara tentang kerajaan Haru, saya belum melihat peninggalannya, walau mungkin itu telah lebih purba dari jaman Sisingamangaraja, kemungkinan besar memang ada tetapi kedigjayaannya terlalu dibesar2kan penulis sejarah maupun pemecah belah kolonial. hendaklah kita berpikir dan berbicara secara jujur, orang lain menilai mutu kita dari tutur kata dan perbuatan. Jangan menipu diri sendiri, memang banyak orang cenderung begitu. Sampai ada yang bisa mangatakan ?Tuhan memberkati kamu, apa urusannya Tuhan dengan kamu!!, apa kamu benar2 orang baik siapa yang tau. MALAH SAMPAI ADA YANG BERPIKIR MENJIJIKKAN ORANG LAIN, KELOMPOK LAIN ATAU BANGSA LAIN. Prilaku anda dan tutur kata dan cara berpikir anda menggambarkan kualitas kepercayaan yang anda miliki.

  88. Memang yang anda sebutkan diatas semua benar….
    orang barat blg “YOU ARE ABSOLUTELY 100 % RIGHT”….hanya saja klo hrs mencari bukti kebesaran suatu pristiwa, tempat, atau sejarah untuk mendapatkan pembenaran, itu pun belum tentu benar..kita hanya bisa membaca tulisan yang ditulis oleh penulis itu sendiri..kecuali klo kita bisa menyaksikannya sendiri…

    contoh sederhana, menurut para ilmuwan binatang purba sudah ada jutaan tahun yang lalu, sementara menurut kitab suci agama tertentu jarak antara periode ketika bumi atau manusia pertama diciptakan oleh Sang Pencipta sampai dengan manusia modern spt skrg ini adalah ribuan tahun, tidak sampai jutaan tahun spt yg mrk katakan…jadi siapa yang benar? ilmuwan atau kitab suci yang isinya hampir dipercaya setengah penduduk di dunia? padahal mereka semua bisa membuktikan sisa-sisa sejarah?

    Sorry lagi ne bro, bukannya berniat menggurui atau sok ngajarin..
    Menurut ajaran yang aku percayai (ada dikatakan dalam kitab suci) bahwa Tuhan tetap memberkati orang jahat sekali pun. Itu dibuktikan ketika Ia disalibkan dan penjahat yg disebelahnya memohon kepada-Nya “bawalah aku bersama-Mu” dan Ia menjawab “sesungguhnya hari ini engkau tlah bersama-Ku di taman firdaus” (kira-kira seperti itu lah, soalnya bukan tokoh agama).

    Intinya adalah kita tidak berhak utk menghakimi orang itu salah atau benar…
    masalah Tuhan memberkati atau tidak g ada urusannya dgn kita, itu urusan Tuhan dgn individu msg-msg…
    Jadi biarlah setiap orang, kelompok, suku, atau pun bangsa membesar-besar kan kebesaran mrk sepanjang tidak merugikan pihak lain…

    Nah buat b’parningotan, sorry klo aku salah…dari komen atau tulisan yang anda buat membuktikan klo itu menyudutkan atau merugikan pihak lain dan sebaliknya, SOMBONG atau ANGKUH..kenapa?
    KARENA tulisan anda slalu menyebut ANDA yg artinya menunjuk kepada orang lain…
    (Prilaku anda dan tutur kata dan cara berpikir anda menggambarkan kualitas kepercayaan yang anda miliki).
    Kecuali klo ANDA sebutkan KITA, yg artinya Saya, Anda, dan juga orang lain yang ada di forum ini…..

  89. Klo masalah masuk tidak masuk akal dari awal sudah dijelaskan oleh rekan-rekan yang lain diatas…silahkan periksa atau dibaca kembali dari atas.
    Masalahnya sederhana, tinggal terima atau tidak terima dan dua-duanya TIDAK ADA RUGI NYA…..

    Bujur ras mejuah juah kita kerina

  90. Kerajaan Aru atau Haru merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara sekarang. Nama kerajaan ini disebutkan dalam Pararaton (1336) dalam teks Jawa Pertengahan (terkenal dengan Sumpah Palapa) yang berbunyi sebagai berikut “Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa” Bila dialih-bahasakan mempunyai arti : “Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa [1].

    Sebaliknya tidak tercatat lagi dalam Kakawin Nagarakretagama (1365) sebagai negara bawahan sebagaimana tertulis dalam pupuh 13 paragraf 1 dan 2. [2]

    Sementara itu dalam Suma Oriental [3] disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang kuat Penguasa Terbesar di Sumatera yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya, Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Melaka pada masa itu.

  91. Ok mungkin saja itu benar, tapi kalau dipelajari penyebaran Bahasa Karo, terhadap lingkungan sekitarnya, sangat kecil, penyebaran bahasa Batak lebih luas. Bahasa Karo identik dengan bahasa Nias yang sangat intern dan tidak menyebar. Kalau kita lihat Bahasa Tagalog Filipina, Bahasa Jawa, Bahasa Melayu tua dan bahasa Batak ada banyak kemiripan walaupun arti kata terkadang sudah bergeser. Di Filipina ada suku yang bernama Batak, walaupun bahasanya mirip bahasa Jawa, ada namanya Kulonuwun dsb. Struktur bahasa Tagalog sangat sejalan dengan Bahasa Batak, ada awalan Ma, Pa akhiran an dsb.
    Saya tidak mengerti mengapa Karo mempunyai bahasa yang berbeda dengan yang lain. Dalihan Natolu dapat dilihat pengaruhnya hingga Gayo dan Alas Termasuk Karo, saya tidak tahu siapa yang memulai. Kalau dilihat dari warna kulit dan bentuk tubuh, seperti saya telah katakan ini tidak bisa jadi pegangan karena sepanjang jaman banyak kawin campur antara penduduk asli dan pendatang kesasar. Secara umum orang Aceh lebih mirip dengan orang India dari pada orang Karo, tetapi Orang Karo mempunyai bentuk badan sangat berbeda dengan orang Melayu, malah kalau saya bandingkan orang Burma, Thailand , Kamboja dll terkadang masih ada kesamaannya dengan bangsa Indonesia pada umumnya.
    Kalau dilihat dari ukuran tubuh, ada satu suku bagian dari Filipina (Mindanau) yang sangat besar2 perawakannya seperti sebagian orang Karo, tetapi banyak juga orang Karo bertubuh biasa2 saja, sedang Suku batak lainnya juga terkadang ada yang besar2. Kalau kita lihat suku Bugis dan Jawa Timur, banyak diantara mereka yang bertubung tinggi2 juga, mereka lebih besar2 dari orang2 Jawa Tengah. Orang Tongga, Cook Island dan Hawai dan New Zeland umumnya besar2, tetapi saya kenderung melihat ini adalah efek makanan mereka yang kaya akan protein, walau kalau dilihat dari postur tubuh dan warna kulit mereka lebih mirip kita.
    Orang2 Eropa dan Asia besar dan bangsa Melayu umumnya mempunyai bentuk paha dan pangkal lengan lebih kecil dari orang Batak, orang india, sedang memang orang India utara yang disebut bangsa Aria umumnya juga berbeda dengan bangsa India dari Selatan.
    Tetapi saya sangat menghargai kejujuran dalam diskusi ini. Saya tidak gampang menyimpulkan sesuatu hanya karena sentimenti, atau dibawa perasaan. Saya mempercayai sama pentingnya pertimbangan2 diatas dengan pertimbangan dari buku2 sejarah

  92. Wah……. ternyata orang Karo juga bertemperamen tinggi seperti orang Toba, ini dilihat dari komentar-konentar yang ada di blog ini.
    Orang Karo memang tutur katannya lebih halus, tapi hatinya sama galak dengan orang Toba.
    Ucapan orang Toba hampir sama dengan isi hatinya, tetapi yang lain…….. berbeda, lain bibir lain di hati, kebencian memang nyata ….. terlihat dari “sikap” dalam tulisan-tulisan diatas.
    Saya ingat dahulu, “separatisme” Batak VS Karo mulai marak setelah terjadi Konflik antara Kol. Maludin Simbolon dan Letkol. Djamin Gintings. Konflik ini mewariskan kebencian terutama bagi orang yang imannya lemah.
    Saya yakin sebagian besar pembaca blog ini adalah Nasrani, Yesus berfirman tebarlah kasih dan buang kebencian.

    GBU

    Danfer Lubis

  93. dalam terombo si raja batak, salah satu keturunannya ada yg menikahi Beru Sembiring Meliala… itu saja sudah cukup membuktikan bahwa saat itu Karo dan Batak sudah hidup ber iringan… jadi ga benar klo Karo itu bagian dari batak/karo adalah pendatang… krn dlm Konteks ini Batak adalah Keturunan Si Raja batak yg masuk dalam Tarombo Si raja Batak…. LOL

  94. Harusnya dilihat dari ilmu Antropologi. Tanggapan-tanggapan berdasarkan turi-turian Si Raja Batak yang turun temurun mungkin tidak menyelesaikan masalah ini.

    Tapi kenyataannya, pada arisan-arisan di luar Sumatera Utara, umumnya semua bersatu (Toba, Dairi, pakpak, Karo, Simalungun, Sipirok, Angkola, etc) dalam nama BATAK.

  95. dalam komentar2 pada website ini pernah ada komentar masuk dari saudara kita orang Padang yang mengatakan orang Padang keturunan Alexander The Great, wah itu omongan yang ngalor ngidul keterlaluan, Alexander orang bule, dia berwarna coklat, gimana ceritanya itu, …bisa saja Waktu Alexander The Great menyerang Padang dulu dia kawin sama orang Padang, makanya anaknya ada yang coklat dan menjadi moyang orang padang, hingga orang Padang mengaku keturunan Alexander The Great, tetapi tentunya ada juga bule mengaku keturunan padang viseversa (timbal balik), nah ini sama kasusnya sama permasalahan yang kita bicarakan. Sekarang kalau kita lihat postur tubuh. Orang Mauri dari New Zeland, orang Cook Island, orang Pacific, Hawai, Tongga semua mempunyai postur tubuh yang identik dengan kita, tetapi berbeda dengan orang Bule, China dan Negroid. Kita semua masih segolongan yaitu berwarna kulit sawo matang, Bahasa dan kebudayaan kita belum 100% berbeda, penyebaran orang berwarna kulit sawo matang umumnya disekitar Khatulistiwa, orang2 Indian dan Amerika Selatan berwarna kuning dan mempunyai wajah yang lebih tajam2 dari kulit sawo matang. Sekarang kita pelajari sifat2 pendatang. Pendatang itu umumnya mempunyai bahasa yang sangat berbeda dengan penduduk lokal dan sekitarnya. jadi kalau ada yang lain sendiri, maka yang lain itu adalah yang pendatang. Nah semua harus dipertimbangkan selain buku sejarah yang hanya ditulis oleh seorang penulis. Tetapi saya tidak gegabah memberi kesimpulan dalam hal ini, kasus yang mirip seperti Jawa dan Sunda dapat memberi kesimpulan cerita yang berbeda….. begitulah!!!

  96. Mungkin karena dominasi suku Toba (walau kata ini gak enak kedengarannya ditelinga) sejak berdirinya Indonesia, sehingga setiap berkaitan dgn hal keBatakan, saudara suku2 lain di Indonesia dari luar suku “Batak” langsung tertuju pada Batak Toba..sehingga memicu kecemburuan dari “Sub Batak” lain..saya bangga menjadi orang Batak..dan saya jg senang setiap ada ekspose tentang suku Karo, Simalungun, pak2, dan mandailing..saya interest untuk mempelajarinya..dan saya merasa ada didalamnya..Saya sendiri sedih kenapa hal ini harus diributkan..tanpa harus menghilangkan sejarah awal dari setiap suku, saya rasa, kata BATAK sebagai identitas pemersatu bagi 5 suku yg ada, telah menjadi sebuah identitas yang BESAR saat ini..banyak prestasi lokal dan internasional yg telah diukir oleh anak bangsa Batak..Sekarang, kenapa harus diributkan ya? mari saling mendukung dan menghargai satu sama lain..kemajuan dari 1 suku, juga akan menjadi kemajuan Batak kita Batak..demikian jg sebaliknya..tapi bagi saudara dari Karo yg gak mau disebut Batak, it’s ok lah..itu gak akan mengurangi KEBESARAN dari BATAK itu sendiri..Peace..!!🙂

  97. Salam persaudaraan…..
    Saya berusaha mengikuti dan membaca hampir 80% koment yg ada dlm blog ini, khususnya ttg topik ini. Kesimpulan saya ialah:

    1. Manusia zaman sekarang marasa lebih eksis jika berbeda, maka akan selalu mencari perbedaan, dan akan mem blow up sekecil apapun perbedaan itu. Sementara menurut pemahaman saya, “NENEK MOYANG KITA SELALU MENCARI PERSAMAAN SEKECIL APAPUN SBG PEREKAT”, dan kesimpulan saya ini juga tertuang dlm komen2 yg muncul, yg walaupun barangkali tdk disadari pemilik komentar.
    2. Saya tidak merasa terusik sedikitpun, apalagi terganggu dgn keinginan Saudara/i yang mencoba menelusuri identitas atas masa lalu, hingga akhirnya menyatakan dirinya dgn statement yg mengatakan bahwa Karo bukan Batak. Malah saya akan mendukung usaha dan niat itu. Saya akan menjadi bangga memiliki saudara yg memahami dan mengerti masa lalunya.
    3. Dari beberapa orang yang memberi koment, dan saya kenal melalui postingannya di blog lain, justru saya sangat kecewa dgn mereka, krn pada saat ini, di blog ini mereka tdk seperti yg saya bayangkan.
    Dari perdebatan yg terjadi, menurutku menjadi sangat berbahaya dan tdk mendidik
    4. Jika berkenan, ijinkan saya mengulangi apa yg saya katakan diatas, sebagai bentuk harapan saya: “NENEK MOYANG KITA SELALU MENCARI PERSAMAAN SEKECIL APAPUN UNTUK DIJADIKAN SBG PEREKAT”.

    Horas, Mejuah-juah, Njuah juah.

  98. buat danfer lubis….
    kayaknya dari sekian pendapat diatas otak anda tdk dpt menyimak.
    masalah kebencian atau yang lain tdk ada dalam pembahasan, ntar buat aja topik baru, g da jg hubungannya dng agama..

    buat b. parningotan
    setuju sekali apa yang anda sampaikan..jujur saya mendapat wawasan yg baru dari forum ini..masalah benar atau salah kayaknya g perlu diperdebatkan krn kita bukan ahlinya yg notabene ahli sekalipun bisa salah….

    Horas
    Mauliate godang

  99. Kita ingat pel;ajaran sekolah dasar bangsa Indonesia terdiri dari dua kelompok, bangsa Melayu tua, mereka adalah yang pertama masuk ke indonesia, termasuk didalamnya, orang DAyak, Toraja dan Batak. Bangsa yang datang kemudian adalah bangsa Melayu Muda termasuk didalammnya orang Jawa, melayu, Sunda. Nah saya tidak tau dalam hal ini orang Karo masuk yang mana, mau ikut Batak atau Melayu Muda. Kalau Melayu muda…ya datang belakangan … Logis. dan saya tidak tahu buku sejarah yang mana yang paling ampuh…!!!!. Nah yang jelas terdaftar sebagai keturunan mempunyai moyangnya orang hebat adalah impian orang2 umumnya. untuk itu sejarah bisa dipilih demi yang paling memberi keuntungan pribadi. tapi ini bukan suatu kejujuran dalam diskusi

  100. Semua Argumen baik yang mengatakan Karo adalah bagian dari Batak, atau bukan bisa dibantah. Argumen terakhir ini (keturunan siraja Batak menikahi Beru Sembiring), ini sangat dangkal, bukan kah turunan Siraja Batak itu saling menikah, hanya tidak satu marga. Kalau ada yang bertanya siapa menantunya ADAM ? tentu saja anaknya sendiri, kalau tidak siapa ya ??????

    Yang jelas Budaya dan Adat/Istiadat dari semua “Batak” (Mandailing,Angkola,Toba, Silindung,Pakpak,Karo dan Simalungun adalah “sama” atau symetris :
    – Sama-sama ber marga
    – Dalihan Natolu symetris, mungkin sedikit berbeda di Mandailing
    – Aksara nyaris sama
    – Posisi kekerabatan symetris (ke pihak ayah dan pihak ibu sama sama berbeda)
    – Kosa Kata banyak yang mirip
    – Aksesoris banyak yang mirip (ulos, musik, alat perang)
    – Mengikuti garis keturunan Patrilinial (garis ayah / laki-laki)

    Bandingkan jika kita ambil persamaan antara “Batak” dengan Melayu, atau
    “Batak” dengan Minangkabau jauh …….

    Jika anda kelahiran tahun 50 an, mungkin akan ingat peristiwa Simbolon vs Gintings (PRRI), inilah sebenarnya yang memicu “separatisme” Karo vs “Batak”, pada hal antara Maludin Simbolon dan Jamin Gintings adalah konflik Politik bukan SARA.

  101. @ Mr. Timotius A. Purba

    kutip1:Buat juni,ini blog berbahasa Indonesia,bukan bahasa toba.disini Nampak keegoaan anda dalam berfikir

    kutip2 man seninangku Tommy Surbakti…bujur man komen ndu e sen..
    aq kuliah denga sen.semester 9 denga. lenga empo aq sen, e maka la padah kam kataken aq bapa..mela aq sen…hahahahaaaa,,,,,,

    =>Kalau sekedar ber hahaha dengan senina, bilang denga lenga e_mail, eh…e maka, boleh ya bro? Kalau berkomentar seperti Ito Juni, tidak boleh?
    Perlu anda ketahui bahwa blog ini bukan hanya berbahasa Indonesia. Kalau anda bilang bahwa artikel yang sedang kita bahas ini berbahasa indonesia, 100 untuk unda.

    salam

  102. Timotius A. Karo-Karo Purba
    November 6th, 2010 pukul 12:04

    Kutip 1: @ Juni hutabarat
    “Songon i do molo pamalo HU prinsipna, namangalului sensasi sian naposo doi asa sega tu haduan gabe ndang adong parsadaan, gabe perbedaan ma naro, boasa ndang dibahas ibana negara on? boasa ndang dibahen ibana “BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?” sai na adong do tahe si suar sair. “

    Buat juni,ini blog berbahasa Indonesia,bukan bahasa toba.disini Nampak keegoaan anda dalam berfikir

    Kutip 2:man seninangku Tommy Surbakti…bujur man komen ndu e sen..
    aq kuliah denga sen.semester 9 denga. lenga empo aq sen, e maka la padah kam kataken aq bapa..mela aq sen…hahahahaaaa,,,,,,

    Komentar: Mengapa kalau menggunakani bahasa batak toba di forum ini anda anggap egois dalam berfikri, sementara anda menggunakan bahasa Kerajaan Haru?

    Perlu anda ketahui bahwa blog ini tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Batak Toba.

    salam

  103. @danfer Lubis

    keturunan siraja Batak menikahi Beru Sembiring
    SEMBIRING BUKAN KETURUNAN SI RAJA BATAK BOS…. ga ada sejarahnya itu

    Sama-sama ber marga
    – Dalihan Natolu symetris, mungkin sedikit berbeda di Mandailing
    klo di karo lebih komplex bos.. yaitu merga silima, rakut si telu tutur si waluh perkade2n si 12 + 1 (bukan 13)

    – Aksara nyaris sama
    Semua aksara asli di dunia ini memiliki kesamaan jumlah induk dan pelengkapnya.. katakana, hiragana, kanji, kawi juga hampir mirip

    – Kosa Kata banyak yang mirip
    dengan sunda, jawa, bali juga banyak yg mirip… itu klo anda ngeri bahasa sunda, bali dan jawa

    – Aksesoris banyak yang mirip (ulos, musik, alat perang)
    di Flores, toraja, juga mirip, karo & jawa timur punya sarunei… seluruh nusantara punya gong..

    – Mengikuti garis keturunan Patrilinial (garis ayah / laki-laki)
    hampir seluruh nusantara mengikuti garis keturunan Patrilinial… setau saya yg matrilineal hanya Padang

    -Simbolon vs Gintings
    sedikit pun tidak pernah di ajarkan atau di Doktrinkan hal tsb di dunia pendidikan/keluarga karo… say slh 1 dari keturunan yg anda sebut, sama skali tidak pernah di doktrin keluarga utk membenci krn Konflik tsb

    Dangkal banget seh. boss.. coba buka lagi Ensklopedi Indonesia boss

    @B. Parningotan

    terdaftar sebagai keturunan mempunyai moyangnya orang hebat adalah impian orang2 umumnya.
    betul boss

    tapi Mengakui dan di klaim sebagai keturunan moyangnya orang hebat yang bukan Moyangnya sendiri adalah Suatu hal yg sangat Memalukan
    masa saya harus ngaku Keturunannya Soekarno, Che atau Fidel Castro atau Hitler???

  104. aku pernah begitu tertarik dengan pendapat bru sembiring di sebuah blog.. tapi aku lupa blognya…. ktanya gini…
    orang Toba lebih suka menyebut mereka Batak, dan secara nasional orang2 melihat Toba itu sebagai Batak.
    orang Karo ga mau disebut Batak, bukan karna apa2, sebenarnya maksudnya ingin mengatakan Karo bukan Toba. tetapi karena Toba itu sendiri lebih akrab dipanggil sebagai Batak. akhirnya Karo bilang, Kami bukan Batak. padahal maksundnya Kami bukan Toba.
    marilah kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.
    jika ada momen2 nasional atau internasional sama ratakan sub2 suku ” Batak ” jgn cuma menonjolkan toba,, itu yang membuat sub suku lain merasa kurang enak….,,, bahasa batak bukan bahasa toba…. Bahasa batak tidak ada….. yang ada bahasa Toba, bahasa Karo, bahasa simalungun dll…
    pakaian batak bukan ulos… pakaian batak tidak ada… yang ada pakaian toba, karo, simalungun dll…
    marilah kita jadikan batak itu sebagai nama bangsa seperti halnya indonesia….
    hehehehe…….
    aku orang karo,, tapi aku pernah smp di pangururan, dan sma di siantar (simalungun), dan nenekku tinggal di kutabuluh dairi (pak2),, aku juga seorang yang gemar menyanyikan semua lagu2 sub batak…. dan semua sub etnis itu indah…
    bagiku semua sub suku itu sama rata……….. tetapi aku tetaplah berdarah karo asli, tapi aku punya teman2 yang baik2,,, ada orang toba, simalungun, pak pak.. dan semuanya kami adalah satu….
    hehe….
    aku bukan ilmuwan,, aku masih belum pintar,, masih mahasiswa semestr 3,,,, jika ada kata yang salah,,, mohon dimaafkan…
    itu hanya CURHAT aja…. hehe… supaya kita semua satu…
    Horas…
    Mejuah-juah….
    Njuah-njuah…..
    🙂

  105. eah…batak jering..
    Karo ya Karo
    Toba ya Toba
    masak semua mau kalian klaim..

    kalau di karo ada kalimat yang sering saya dengar sewaktu kecil dulu..”piga tebamu?” yang artinya berpa tebamu (berapa orang tobamu?). 😀

  106. Yang pasti juga Batak adalah pelabelan orang lain. dalam sebuah tulisan ada yang membedakan antara Batac dengan Karrou..bisa di check di google. Sejak kapan orang orang disumatera mengaku batak? itu juga dipertanyakan. Dari diskusi teman-teman di atas jelas sekali karakter Karo berbeda dengan Batak lainnya apalagi Toba……….Itu menunjukkan ada budaya dan MORAL yang berbeda. Contoh istilah Toba adalah Raja nami…………kalau orang Karo DIBATA NIIDAH (‘Tuhan yang tampak), Terminal kata ini menunjukkan manusia dengan kelasi karakter Raja dan Karakter TUHAN berbeda. Apalagi Batak memengandung instilah negatif dan digunakan untuk membedakan orang besosia pada jamannya, tidak berALLAH dan bahkan KANIBAL, Itu menunjukkan KARO bukan dari bagian itu, Karo sdh bersosial, sudah berdagang ke PENANG dengan tongkan menjual Lada di abad 17, Karo sudah ada yang islam seperti Datuk Sungal, Karo dapat hidup 8 keluarga serumah, Semua itu membuat KARO mengkoreksi ISTILAH Batak…ini, Dan yang jelas batak itu identik dengan Tapanuli………..link wiki pedia Yong Batak (Tapanuli), artinya dari dalam diri orang Batak/Tapanuli itu tidak merasa nyaman untuk mengabungkan Karo dalam Batak………………..Karakter berbeda =======> metabolisme berbeda====> kemungkinan besar Gen juga berbeda =======> perlu dilakukan test, http://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Batak

  107. Ketika kami di SD – SMP dulu (1966 – 1972) di Tigabinanga, sewaktu mengisi kolom suku, kami menulis : KARO (bukan Batak atau Batak Karo). Kami menyebut diri kami Kalak Karo dan menyebut Kalak Teba untuk saudara2 pendatang dari Toba/Batak yag kebetulan banyak di Tigabinanga sejak tahun 1950-an. Secara spontan dan naluriah pada umumnya orang Karo menyebut dirinya Kalak Karo, bukan Batak Karo/Batak.

  108. Koreksi atas tahun SD-SMP di Tigabinanga (1966-1975). Tambahan : seperti sdra2 pendatang Jawa, Kalak Teba di Tigabinanga umumnya bekerja sbg buruh tani, beberapa sbg guru dan peg pemerintahan. Pendatang dari Aceh, Minang dan Tionghoa di sektor informal sbg pedagang kecil. Umumnya pendatang di Tigabinanga fasih berbahasa Karo dan dipergunakan sbg bhs pergaulan sehari-hari. Beberapa pendatang bahkan kawin-mawin dengan orang Karo dan ditabalkan ke dalam salah satu merga orang Karo (Merga Silima). Inilah sepintas kilas potret sosial di Tigabinanga yg saya kira representasi dari Tanah Karo pada umumnya. Bagi teman-teman di luar Karo yang sudah bisa memahami dan menerima pernyataan Karo Bukan Batak sudilah kiranya untuk meluaskan dan menyebarkan hal itu ke internal keluarga dan sahabat2nya dalam pergaulan sehari-hari. . Bagi yang belum bisa memahami dan menerima, silahkan terus menggali dan melakukan pencarian. Menurut yg saya pahami, pernyataan Karo Bukan Batak bukanlah upaya pemisahan dari Batak, tapi pencarian akar sejarah, pelurusan dan pencerahan atas jatidiri Karo yang sesungguhnya. Dan hal itu bebas dari prasangka buruk, emosional dan permusuhan. Setidaknya untuk saya. Bujur ras mejuah-juah.

  109. @bonar siahaan
    saya setuju dengan pendapat lae
    memang Timotius A purba hanya mempertahankan pendapat sendiri dan mengatakan apa yang dipikiranya sendiri

    saya sebagai halak toba bangga dan kehormatan bagi saya terlahir sebagai batak
    yang ingin saya tanyakan kepada impal saya Timotius A purba
    mpal konsisten gak mengatakan karo bukan batak??(oppss saya juga tidak ingin sebenarnya mengatakan karo batk)
    silahkan kalau anda punya bukti dan nyali samapikan kepada semua orang karo dan deklarasikan karo bukan batak
    perlu anda ingat nenek moyang atau omoung kita adalah pintar pasti ada alasan mengatakan karo itu batak
    dan jika anda tidak setuju dngan pernyataan ompung2 kita ayo silahkan berembuglah sesama org karo dan nyatakan kalan bukan batak
    (toba tidak akan pernah keberatan jika anda bukan batak)
    perlu anda camkan itu
    bukan maksud untuk membeda2kan

  110. maksud aku disini
    kalau karo memang tak ingin jadi batak kok harus diributin
    biarlah apa yang menjadi maunya karo memisahkan diri dari batak dan gak make embel2 karo
    menurut pribadi saya sendiri itu hanya IRI
    kenapa?
    masalahny kro tidak ada bedanya dengan sunda,betawi =jago kandang

  111. @ Sirait Naburju

    Makanya ente klo mo masuk ke rumah masuk dari pintu, jgn dari jendela..
    siapa yg meributkan? coba baca dari awal..
    itulah yg membedakan antara karo dan toba, SOK TAU NYA ITU….
    klo ente bangga jd orang TEBA, ya silah kan saja….sapa yg keberatan…..

    Masalah IRI???????
    maksudnya kami iri ngeliat si Cyrus, Gayus, Haposan, Rosalinda,
    atau si toke minyak yg ASBUN…..dimana letak irinya tolong lah dijabarkan biar kami tau…..

    Masalah jago kandang….hmmmmm
    boleh ditest……one on one ……..

  112. dan hati-hati kalau memberikan komen…
    jangan statement ente dibaca oleh saudara seberang sana (betawi, sunda) yang ente blg jago kandang….g enak malu…..
    dari situ keliatan seberapa dangkal pemikiran ente, yg melebarkan masalah….

  113. @Sirait Naburju.
    Banyak cara dan media menyampaikan dan menyebarluaskan pandangan, temuan dan pernyataan, tidak harus dgn cara deklarasi. Bisa anda bayangkan saya mendeklarasikan Karo Bukan Batak sementara kedua putri saya lahir dari rahim seorang wanita Br Sipahutar ???. Ini hanya sebagai satu contoh kasus. Tentu saya punya cara mencerahkan keluarga saya dalam hal ini agar mereka paham Karo Bukan Batak. Begitulah pula hal-hal yang harus disikapi bijak secara umum oleh orang Karo. Tidak perlu secara provokatif kan. Soal iri, saya tdk paham kepada siapa dan terhadap apa org Karo iri. Saya sdh meninggalkan kampung saya sejak tahun 1976 (usia saya skrg 51 thn) untuk sekolah, kuliah dan bekerja di berbagai kota Indonesia dan saya melihat bagaimana kehidupan keluarga2 Karo dari segi sosial kemasyarakatan dan ekonomi dibanding dgn masyarakat lain. Kesimpulan saya adalah : tak ada yg perlu di-iri-kan dari masyarakat lain. Coba anda baca referensi mis : Menuju Sejarah Sumatera, Anthony Reid, (khususnya mulai hal 16) dan referensi2 lain, maka wawasan anda akan dinamika org Karo akan bertambah.

  114. wah, saya kira dgn adanya marga2x, silsilah keturunan yg katanya msh tersimpan, masih memegang adat yg ditinggalkan leluluhur, dll orang batak ini persaudaraannya lbh kental, kokoh, kuat dalam perantauan dan sptnya terorganisir dari kampung hingga ke berbagai daerah perantauan.

    Tp sptnya melihat tulisan dan komentar2x ini, sepertinya orang batak tidak akan mungkin bersaing dgn sekelas orang cina (“kuantitas”; dimana jmlhnya 1milyar lbh d cina, dan msh tersebar di berbagai belahan negara dan mereka bangga melabeli dirinya sebagai orang “cina”, meski banyak perbedaan internal seperti sub2x bahasa dll) ataupun orang Yahudi (“kualitas”; dimana jmlhnya sedikit kok di seluruh dunia, tersebar di amerika, eropa dan israel, tapi kepintaran, kebiijaksanaan dan persatuan mereka membuat kekuatan mereka disegani di berbagai negara).

  115. @Ricky Suhartono
    Pertama, topik ini Karo Bukan Batak, utk itu anda hrs membacanya secara utuh dan runtut shg anda menangkap nas-nya. Anda hrs memotretnya dari angle yg baru, jgn angle yg lama terutama jika anda dari luar kultur Toba/Batak atau Karo. Kedua, ketika anda menyebut Batak, maka kami orang Karo beranggapan bhwa yg anda maksud bukanlah kami. Selain itu ketika anda membandingkan maka posisinya hrslah compatible/setara, jgn anda membandingkan jeruk dengan semangka. Ketiga, org Jawa (Gatot) jadi Gubsu kenapa anda heran atau bertanya-tanya? Orang Jawa sdh ratusan tahun di Sumut dan jumlahnya sekitar 37% dari seluruh penduduk, ditambah lagi dgn kebhinekaan dan sifat keterbukaan warga Sumut maka wajarlah orang Jawa jadi Gubernur Sumut. Agar anda tahu jumlah orang Karo hanya sekitar 4% dari warga Sumut (dan/atau hanya sekitar 15% dari org Batak/Tapanuli) shg kualitas adalah jawaban satu2nya utk bisa tampil baik di level Sumut maupun Indonesia. Orang Karo sadar betul akan hal itu. Namun jika anda kebetulan suka travelling atau tinggal beberapa lama di berbagai kota Indonesia dan mengamatinya , maka anda akan melihat bagaimana org Karo berperan di kota2 itu baik sebagai pengusaha, birokrat, militer, profesional, tenaga pendidik, politisi maupun bidang2 lain. Misalnya, apakah anda pernah mendengar di kota Salatiga Jawa Tengah pernah ada Merga Ginting jadi Ketua DPRD-nya? Di Lampung merga Karo-karo sebagai pengusaha bus terbesar, atau merga Ginting sbg eksportir Kopi dan rempah2 yang jaya. Begitulah pula yang ditemukan di pulau-pulau lainnya di Indonesia, walaupun tidak sedikit pula yang hidupnya berkekurangan. Itulah keberagaman hidup.

  116. Saya Sinaga (Toba 100%) & istriku campuran Karo-Sunda (br. Sembiring Brahmana). Cinta kami meleburkan bnyak prbedaan,sprti suku,agama,status,dll..& kami pnya anak yg manis2 & brprestasi..
    RENUNGKANLAH: BEDA ITU INDAH
    HORAS..MENJUAH-JUAH..BHINNEKA TUNGGAL IKA

  117. susah emang diskusi ma org yang sok tau, jogal, jugul ato yg IQnya jongkok kali ya…
    disini yang dibahas adalah masalah IDENTITAS..bukan diskriminasi ato perbedaan….
    makanya, klo mo komen tolong dibaca dari atas ya guys….

  118. Mejuah-juah,

    Kalak Karo.. hmm… banyak juga yang membaca dan menyampaikan emosinya di atas sana… sebuah hal yang menarik yang perlu digelitik: Mengapa protes, dan bernada emosi? Sebuah hal yang tidaklah perlu terjadi bila mengingat kalak Karo ingin menegaskan sejarah dari mana asal budaya mereka… mengapa tidak ada bukti literatur tentang hal ini? Semuanya sayangnya sudah hangus terbakar ketika Belanda ingin menduduki Karo. Bangsa Haru, Umang, dan sebuah keragaman dari segi linguistik (saya adalah seorang dosen bahasa di Unimed). Sampai saat ini saya masih menganalisa hal tersebut dari segi bahasa. Bahwa “batak” yang lebih cenderung mirip adalah Batak Selatan, Simalungun, Toba, dan Mandailing. Kemiripan bahasa mereka lebih erat. Sedangkan “batak” utara diantaranya Karo, Gayo, Pakpak, dan Dairi memiliki kemiripan juga. Bahkan asal kata Simalungun yang diperkirakan (sekali lagi masih diperkirakan) berasal dari kata “Simelungen” dalam bahasa Karo, kemudian beberapa nama daerah di Medan seperti “Kesawan”, “Belawan” masih lebih erat kaitannya dengan bahasa Karo. Guru Patimpus Sembiring Pelawi juga ternyata telah didaulat sebagai pendiri kota Medan, inilah beberapa hal yang menunjukkan eksistensi suku Karo sebagai suku yang “diakui” keberadaannya…

    Perdebatan tentang apakah Karo bukan Batak, tentunya sudah jelas bukan mengarah ke perpecahan. Ini lebih condong sebagai pendalaman sejarah dan budaya… Saya membaca penyataan sdr. Timotius dan agak tergelitik sedikit karena akhirnya beliau terpancing emosi dengan pernyataan2 rekan-rekan bermarga Batak Toba lainnya…

    Memang benar. ada beberapa marga Karo yang juga hasil asimilasi dengan beberapa marga2 Toba. Setahu saya juga marga Ginting Suka yang saya miliki ini juga sejarahnya bukan berasal asli dari suku Karo, melainkan asimilasi dari Dairi… makanya kampung kami di Suka, Tigapanah sana dekat dengan Dairi.. Tapi dari kebahasaan, bahasa singalor lau dan bahasa gugung tetap memiliki kemiripan yang tinggi, tidaklah membentuk sebuah suku yang baru lagi. Hal ini membuktikan kedekatan merga Ginting ke rumpun Karo nya…

    Saya cenderung mendukung Karo adalah Karo, karena toh, Karo tidaklah memaksakan diri bahwa Gayo adalah Karo Gayo (karena sekali lagi, dari sejarahnya ada dua versi, Karo berasal dari kata Haru, atau berasal dari bahasa India, Karee) karena kalau tadinya Karo itu memang ada sejarahnya disebut sebagai Batak Karo, tentunya akan ada peninggalan sejarah (atau minimal dari segi kebahasaan, ilmu yang saya dalami) ciri Batak dalam Karo (seperti Gayo dan Karo).

    Karena bila dianggap Karo adalah “anak durhaka” Batak Toba yang tidak mau mengakui “satu ibu”. Saya kuatir, justru kenapa larinya menjadi mirip pemaksaan mengakui “ibu” orang lain untuk menjadi “ibu” kami? tapi kalau saya pribadi diajak untuk memutuskan hubungan “saudara” dengan apara dan lae ku dari Batak Toba sana, aku pribadi juga menolak. Karena memang aku merasa bahwa mereka adalah “saudara”ku, biarpun lain “ibu”

    Lebih menggelitik bila juga kemudian ditanya, bagaimana dengan suku lain? Bah! kalau suku Nias, Jawa, Sunda, bahkan Asmat di ujung sana adalah “saudaraku” juga, berarti Batak Toba bisa dikatakan “sepupu” ku… karena memang hubungan kita lebih dekat di tapal batas Kabupaten itu. Toh intinya “saudara” toh?

    Dan memang, untuk urusan budaya, tentunya saya tidak akan mengajarkan kepada anak saya bahwa “Angklung” adalah heritage dari leluhurnya. sehingga memang, “Ulos” juga bukan. tapi “Uis Gara”, “Kulcapi”, “Tapak Sulaiman” adalah heritage leluhur bapaknya… “Mejuah-juah” adalah ucapan salamnya, “Bujur” adalah ucapan terimakasihnya..

    karena apa? karena saya juga akan mengajarkannya untuk mengucapkan “mauliatae” kepada paman dan bibinya yang dari Batak Toba, dan melarangnya untuk mengucapkan “Bujur” kepada tante dan om nya dari Sunda sana..

    Itu saja pencerahan sedikit dari saya, satukan hati dan pikiran, perdalam budaya kita, dan bersatulah…

    Atur ula ribut…

    Bujur ras Mejuah-juah
    Njuah-juah
    Mauliate, Horas
    Sawagolo, Yaahowu

    Salam..

  119. Menurut saya batak itu bukan suku tp hanya sebutan kata ejekan masa jaman dahulu terhadap orang yg tinggal dipedalaman sumatra utara dianggap belum maju karena belum beragama (animisme/perbegu) disebutlah batak,padahal orang yang disebut batak itu sebetulnya telah memiliki suku seperti,suku toba,suku mandeling,suku karo,suku simalungun,suku pak pak,dan suku lainnya sudah memiliki bahasa budaya adat istiadat yang berbeda beda.
    Jadi kemungkinan besar masa dulu itu suku suku yang ada di pedalaman sumatra utara ini tidak mengerti apa arti dari kata batak tersebut,bahkan kata batak itu mungkin dianggap suatu sanjungan terhadap leluhurnya yang disebut sekarang dengan siraja batak,padahal siraja batak itu tidak ada karena batak itu adalah sebutan bagi orang yang belum beragama masa saat itu, jadi yang ada adalah raja suku toba,raja suku karo,raja suku mandeling,raja suku simalungun,raja suku pak pak,dan raja suku suku lainnya yang ada di sumatra utara ,karena jaman dahulu itu semua suku ada rajanya

  120. Baru tahu saya kalo karo dianggap sama dengan batak
    padahal suku karo dengan batak itu bak Suku sunda dengan suku bugis, tidak ada korelasinya. Kalo karo yang berdomisili di pesisir tidak pernah menggangab mereka sebagai bagian dari batak.

  121. Yg tdk setuju disebut BATAK, gali sejarahnya bgaimana sebutan itu ada jgn asal coment (dilat bibir sebelum mangkatai) puluhan tahun bersama dan seia mengapa sekarang ada kontra, apa lgi yg kau cari toh ga JUARA…

  122. kerajaan haru itu bukan milik orang karo.. tetapi milik orang melayu,aceh,india ttamil orang2 batak kuno yang merantau ke kerajaan haru.. bahasa kerajaan haru adalah bahasa melayu kuno.. bukan bahasa karo yang ada sekarang.. kebetulan kelompok orang2 batak yang ada di kerajaan haru ini sangat sering mendominasi dan mempengaruhi kerajaan ini.. sebab banyaknya komandan2 perang dan raja2, punggawa2 yang berasal dari kelompok batak ini,selama ratusan tahun masyarakat batak haru tadi berasimilasi dengan serta kawin mawin dengan orng2 masyarakatl lainnya yg ada di kerajaan itu yaitu orang2 india,melayu,orang aceh,bahkan arab..seiring dengan runtuhnya kerajaan haru kelompok orang2 batak tadi tetap membawa keagungan nama kerajaan tersebut dalam kehidupan dan diri mereka,sehingga timbullah jaman apa yang dikatakan dengan ORANG KARO atau SUKU KARO…

  123. @DG : ini bukan perdebatan menang-kalah tp soal pernyataan dan pencerahan jatidiri Karo. Mau didebat atau tidak pencerahan ini akan terus bergerak, baik secara individu, keluarga dan komunitas terutama terhadap generasi muda Karo. Makin didebat justru gerakan pencerahan ini makin mengental dan menguat.
    @RM : Coba kunjungi situs-situs spt Sapo Holland dll pemahaman anda akan lbh baik
    @RVH : idem dito

  124. Tapi karena sebagian besar warga sudah menjadi Muslim, maka perlu ada kajian hubungan Islam dengan keberadaan adat itu sendiri. Dan salah satu permasalahan ‘besar’ yang cukup berat ialah masalah penambahan nama ‘suku’ atau marga atau nama ‘nenek moyang’ setelah nama dirinya.

    Masalah penambahan nama nenek moyang dan bukan nama orang tua langsung pada nama setiap orang lalu dikaitkan pula dengan hubungan adat dan agama, inilah seyogianya dirasa perlu merujuk pada ajaran Islam itu sendiri. sebagai contoh menururt Al Quran ada suatu kewajiban dalam hal penggunaan nama sendiri ditambahi dan menambah nama ‘orang tua’ atau bapak-nya dan bukan nama atau identitas suku atau marga atau nama nenek moyangnya sendiri, mari kita simak QS. 33:5 sbb.

    Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Jika penambahan identitas nama atau suku atau marga dilihat dari kaca mata ajaran Islam, maka sudah nampak kecendrungan ke upaya ‘kesakralan’ atau pengkultusan sesuatu yakni nama suku atau marganya atau nama nenek moyang kita.

    Akibat yang cukup mendasar dari penampakan identitas marga atau suku tersebut adalah dengan adanya ketentuan atau rumusan adat seperti tidak boleh kawin semarga atau sesuku. pada hal dalam Islam tidak ada larangannya seseorang lelaki dengan perempuan yang berasal dari satu marga semacam itu.

    Atau akibat lainnya, kalau seseorang itu belum bermarga karena berasal dari suku lain, lalu akan dikawinkan maka ada suatu kewajibkan baginya untuk dipasangkan atau diangkat menjadi warga suku atau marga tertentu pula.

    Atas dasar sederhana tersebut, maka dirasa sudah perlu untuk kita kaji kembali masalah hubungan adat dengan ajaran agama khususnya Islam. Salah satu contoh penting kita kembali menerapkan identitas nama ‘bapak’ kita secara langsung itu lebih baik dari pada nama ‘nenek moyang’ kita dimana kita tak jelas riwayatnya, Muslim atau bukan.

    Karena pendapat saya di atas, maka saya mohon maaf jika tidak berkenan untuk dikemukakan. Wass.

  125. Dear All,
    Setelah membaca 140 komentar di atas, saya tidak mendapat pencerahan, selain bisa membaca karakter orang yang berkomentar. Pada akhirnya saya jadi menyesal membaca komentar-komentar tersebut, karena saya telah mengorbankan 1 jam lebih waktu saya.

    Saya jadi berpikir apakah saya termasuk salah satu dari mereka yang mudah terprovokasi, mudah tersulut, mudah di-adudomba?

    Apakah saya perlu dijajah 350 tahun lagi untuk bisa belajar tentang pentingnya nasionalisme?

    Belajarlah dari sejarah kelam bangsa ini.

  126. @Pakpahan
    Jika anda teliti aktivis atau pengakses tema Karo Bukan Batak (KBB) tersebut rata-rata berpendidikan tinggi dan usia dewasa, shg mereka amat kritis dan tak akan menerima ide atau temuan jika tidak didasari alur pikiran yang benar dan argumentasi yang kuat. Lagipula pemikiran KBB setau saya tidak memiliki tendensi dan target apapun kecuali menemukan dan menegaskan jati diri Karo yang sesungguhnya. Soal nasionalisme, saya tidak menemukan titik singgung apalagi pertentangan antara pemikiran KBB dengan tingkat nasionalisme orang Karo. Bahwa ada kebanggaan sebagai suku Karo tentulah iya, tp bukan dalam semangat etnisitas yg sempit dan eksklusif. Kita menyadari penuh dalam bingkai dan kerangka apa keberadaan orang Karo. Apalagi dalam sejarah bangsa tidak ada satupun fakta yg menunjukkan orang Karo pernah menentang NKRI atau pemerintah pusat. Soal dijajah 350 thn tampaknya anda perlu belajar kepada sejarawan Anhar Gonggong yang menggugat pelajaran sejarah bhw Indonesia dijajah Belanda 350 tahun. Jawa dijajah 350 tahun mungkin benar, tp Indonesia bukan hanya Jawa. Untuk info anda Belanda baru bisa memasuki Langkat dan Binjai (Karo Langkat) pada thn 1870 dan Karo Gugung (Kab Karo sekarang) thn 1902. Kata “memasuki” bukan berarti menguasai lho, karena rakyat Karo terus menerus melakukan perlawanan.

    RGM

  127. wah wah…diskusi yang sangat menarik..

    Dari atas sampai bawah saya belum dapat titik temunya, alangkahnya menariknya bila ada pertemuan semacam diskusi panel gtu untuk menelaah lebih lanjut membahas topik ini…

    tapi klo saran saya untuk mencari kbenaranya bagaimana klo kita buat aja ritual memanggil leluhur kita untuk mengungkapkannya ya ^^…
    salam…

  128. kenapa harus dipikirin sih….. biar saja pak Juara Ginting melepaskan dirinya dari cangkang nya.. lah wong cuma beliau saja yang geger sendiri, ngga ada tuh saudara kita (Karo) yang lain mempermasalahkan ” BATAK ” yang melekat di ” KARO ” nya itu sendiri…. Saya sendiri keturunan Batak tulen… Ayah Mandailing (M. Nasution ) Ibu Simalungun ( K. Damanik ) kandati keluarga besar saya ( Ayah + Ibu ) Muslim tapi kami ( Saya ) sangat bangga dengan ” BATAK ” ga perlu harus dipungkiri kan? atau gengsi dengan predikat BATAK..?? sekali batak ya tetap BATAK…. Seharusnya bangga dong jadi orang BATAK banyak Family Tree nya Toba, Simalungun, Mandailing, Pakpak, Dairi dan juga Karo, oh ya ada yang lupa.. saudaraku Karo kehilangan anggotanya satu orang… yaitu Pak dosen Juara Ginting. Horas batak…!! Dejes ma Batak, Dear ma Bapak, and….. ULA KAM BEGE PAK JUARA…. By : Yedi Irawadi Nasution

  129. Identitas Orang Karo, selalau saja anggapan orang bahwa orang Karo sama dengan orang Batak(Toba) / Tapanuli. Padahal sangat jauh berbeda ; bahasa tidak saling mengerti,adat istiadat berbeda jarang ada bisa menjalankan melaksanakan perkawinan secaraadat Karo sekalian adat Batak, makanya kalau ada Orang Karo kawin dengan Orang Batak ( Toba) pada pagi hari dilakukan perkawinan secara adat Karo siang hari setelah makan siang upacara secara adat Batak. Bahasa yang digunakan antara Orang karo dengan Orang Batak adalah bahasa Indonesia agar tidak salah pengertian. Disinipun sudah jelas bahwa Orang Karo tidak anggap dirinya sebagai Batak dan Orang Batak juga tidak anggap Karo sebagai Batak,sebab kalau samasama Batak cukup dengan adat Karo ataupun secara adat Batak saja. Ada kamus bahasa Batak disitu hanya menyangkut bahasa Toba saja , dan masih banyak contoh lain seperti lomba lagu Batak, siaran radio budaya Batak disitu pembawa acaranya memakai bahasa Batak( Toba) dan lagu dari daerah Toba .tks. LG

  130. Halo teman-teman yang masih tidak suka dikatakan batak. Memang benar, secara umum, kalau seseorang mengatakan Batak, si pendengar langsung berpikir itu adalah suku toba. Tetapi teman-teman kita dari karo juga memang tidak memperkenalkan diri sebagai Batak. Lebih cenderung mengatakan karo. Dan inilah sebenarnya asal mula dari pokok bahasan kita kali ini. Orang toba selalu memperkenalkan diri dengan mengatakan ” Saya Batak”, dan teman teman kita Karo mengatakan ” saya Karo”. Karena tidak semua orang batak tahu bahwa karo termasuk orang batak, maka perkenalan dengan ungkapan ” Saya Karo ” menjadi sangat umum dan tidak terkendali karena tidak ada yang saling menasehati. Misalnya Teman kita dari karo seharusnya mengatakan kepada teman kita Batak toba, seharusnya kamu memperkenalkan diri “saya toba dari suku batak, bukan saya batak”. Atau teman kita dari toba juga harus menasehati ” kamu jangan bilang Karo, seharusnya kamu mengatakan saya karo dari suku batak”. Tetapi karena kita tidak saling mengerti dan juga karena kita memperkenalkan diri dengan cara yang berbeda, maka panggilan Batak, langsung tertuju pada komunitas “toba”. Maka dari ini seharusnya para praktisi pendidikan dari kedua belah pihak mengajar para generasi muda kita untuk memperkenalkan diri lebih baik lagi, misalnya ” saya batak toba, marga Saragi” sama halnya dengan teman kita dari karo, ” saya batak karo, marga sembiring”. Mudah-mudahan 20 tahun kemudian generesi muda kita yang telah mendapakan ajaran dan bimbingan dari para praktisi akademi kedua belah pihak tidak akan mengatakan saya bukan batak. Saya orang batak toba, dan bangga mempunyai teman orang Batak Karo (sori, kalau teman-teman kurang suka di panggil batak karo). Dan semoga teman-teman kita dari batak lain berkenan dengan sebutan Batak yang melekat pada suku tersebut, seperti simalungun, pakpak, dan dairi. Dimohon pada teman-teman yang lagi mencari kasus untuk mendapatkan gelar master atau doktor untuk lebih selektif mengambil topik kajian. Terimakasih pada forum sekalian dan semoga kita melihat persoalan sebagai hal yang harus diselesaiakan bukan sebagai perang yang harus dimenangkan.

  131. Bebek tidak bisa mengerami telurnya, bahkan telurnya. Diletakkan seperti kotorannya saja. Ayam pun dijadikan mengerami telur bebek dan menetaslah telur bebek itu.

    Sang induk Ayam memanggil anak bebek ” kruk kruk kruk, ” Ci cit cit cit,,, ” suara anak bebek itu sebari berlari ke kolam kecil bukan mendekat ke Induk ayam.

    Setelah besar Induk ayam pun semakin heran, yang lain ” kukuk,,,,kukuk,,,,” kok yg satu ini ” gegekkkkkgekgekgek,,,”

    Sang bebek tetaplah akan menjadi bebek kendati dierami oleh Ayam.

    Jati diri yang sebenarnya seyogianya perlu disejatikan.

  132. Kenapa ya Batak dari Toba tidak menperkanalkan diri sebagai Batak Toba atau Toba saja? Karo bukan Batak, kenapa tidak dibahas kenapa Karo harus Batak? Sehingga kesamaran menjadi jelas dan konflik semakin meruncing/mengecil!

  133. Dengan Hormat Kami Berpendapat:
    1. Mungkin saja, Saudara-saudara kita dari (Batak) Karo banyak merasa “tidak ada untungnya” dengan mengaku Batak. Ini terlepas dari antropologi, sejarah, adat, silsilah, bahasa, dan lain-lain.
    2. “Untung” di sini mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari perasaan, harga diri, ikatan bathin, materi, jabatan, kebanggaan tertentu, adat istiadat, pokoknya menyangkut social/ekonomi/budaya/politiklah. Mengapa? Jangankan Saudara-saudara (Batak) Karo, orang Tiongkok pun ada yang bangga “menjadi” Batak dengan atribut marga di belakang namanya. Mungkin orang-orang ini merasa nyaman dengan “perasaan menjadi Batak. Jadi, siapapun, orang Irlandia sekalipun akan nyaman dengan atribut Batak bila terpenuhi tuntutan hidupnya tanpa mengurusi ‘antropologi’ atau apalah namanya….
    3. Dimanakah “keuntungan” menjadi Batak itu diperoleh oleh Saudara-saudara (Batak) Karo? Tempat yang paling strategis adalah Pemerintahan, dalam hal ini Pemprovsu. Bagaimana? Kalau (ini kalau saja) gubernurnya dari (Toba, Simalungun, Dairi, Mandailing), ya budaya, ya SDM, ya apa saja yang berbau ‘karo’ harus terakomodir. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penanggap, kapanpun, dimanapun, kalau sudah menyangkut Sumatra Utara maka yang terdengar adalah Horas, Ulos, Rumah dan lain-lain yang semuanya Toba.
    4. Untuk itu bagi Saudara-saudara dari Toba, instrospeksilah, berbesar hatilah terhadap rasa terabaikan dari Saudara-saudara kita (Batak) Karo. Begitu rasa kebanggaan, harga diri dan hal-hal lain baik yang materil maupun immaterial dipenuhi, niscaya tak akan ada yang mengungki-ungkit hal seperti diungkapkan Saudara kita Juara Ginting ini. Ini tidak sulit dipahami. Contoh, orang Papua kalau merasa diabaikan, mudah saja mereka mengatakan: “kami bukan Indonesia”, tanpa perlu repot ber”bulshit”ria dengan sejarah, antropologi, Belanda, kerajaan anu, hantublau dan lain-lain!
    5. Kami yakin, bahwa jumlah Saudara-saudara (Batak) Karo yang menggugat kebatakannya terlalu kecil untuk merubuhkan bangunan Batak (Karo, Toba, Simalungun, Dairi, Mandailing) yang sudah berakar berabad lamanya. Kalaupun tetap ada yang seperti itu (menggugat bahwa Karo bukan Batak) maka inilah saya katakan: Waspadalah kepada para “penumpang” yang tinggal di Sumut yang merupakan pendatang baik dari suku lain di Indonesia maupun dari negeri lain. Orang-orang ini, memang bukan Batak dan bukan Karo tapi sudah meleburkan dirinya menjadi bagian dari Karo. Silahkan diteliti. Orang-orang ini tentu membawa karakter bawaan dari bangsa induknya masing-masing yang “tidak ada ikatan bathin” dengan Batak!
    6. Terhadap golongan ini (yang selalu menggugat kebatakannya) kita pantas mengenakan cap “provokator disintegrasi Batak. Dan kita sebenarnya bisa mengadukannya ke pihak berwajib dengan tuduhan melakukan tindakan “SARA”!

    Demikian Pendapat Kami
    Mohon maaf bila ada yang salah.

  134. Sudah lama Orang Karo ( kalak Karo) diam tidak mau berbicara, orang luar menyebutnya /memanggilnya kau Batak dia diam kau Batak Karo dia juga diam. Saat ini Orang Karo sudah mulai ingin buka mulut dan mau berbicara siapa sebenarnya ia. Apakah Orang Karo benar ada ,siapa dia, identitas dirinya, bahasanya, adat istiadatnya, pakaian adatnya ,rumah adatnya , sifatsifatnnya . Orang Karo tidak mengerti bahasa Toba dan adat istiadat Toba demikian juga Orang Toba tidak ngerti bahasa Karo dan adat istiadat Karo . Orang Karo juga ingin tampak kelihatan seperti Orang Toba yang sudah dikenal mendunia dengan menamakan dirinya lebih senang sebagai Orang Batak. sudah lupa Toba nya. Tano Batak, apa tidak indah Tano Toba, kalau kami Orang Karo, Taneh Karo Simalem.

  135. @Patuan Naraja
    Pendapat untung-rugi anda yg mendasari KBB terlampau dangkal. Kalaupun ada pikiran seperti itu, tempatnya minoritas sekali di antara org Karo. Memang banyak kejadian yg mengusik hati nurani seperti istilah2 Karo yg tereduksi baik oleh org Batak maupun di luar Batak yg belum paham beda Karo dengan Batak : Uis gara disebut ulos, landek disebut tortor, mejuah-juah disebut horas dll. Itu jelas mengganggu org Karo. Bolehlah disebut hal-hal spt itu menjadi semacam penambah energi bagi orang Karo utk menelusuri lebih jauh dan seksama mengenai latar belakang “Batak” dilabelkan ke orang Karo shg sampailah pada satu kesimpulan bahwa kata Batak itu bukanlah secara indegeneous (internal mandiri) lahir dari orang Batak , tapi dari orang luar (orang-orang pesisir Sumtim zaman dulu) yang akhirnya dikukuhkan dan digunakan para penjajah untuk kepentingan mereka pd zaman itu. Dengan demikian posisi kata “Batak” di “Batak Karo” sangat lemah, shg dapat dipahami orang2 Karo jauh lebih bangga disebut secara tegas orang/suku Karo ketimbang dilabeli Batak Karo. Ini menyangkut jatidiri Karo yang akan bersangkut paut dgn karakter Karo. Memang pencerahan Karo Bukan Batak ini akan berlangsung lama krn salah kaprah penyebutan dan pengelompokan Karo menjadi Batak Karo oleh orang-orang Batak maupun non Batak telah berlangsung lama. Namun bagaimanapun upaya itu hrs ditempuh.

  136. @ChS Lubis
    Cara berfikir anda tampak progressif, out of the box. Jika menjadi penengah dlm suatu persoalan tampaknya anda bisa menjadi penengah yg adil. Betul, kenapa Karo harus Batak ? Silahkan bagi yg berminat temukan dan kumpulkan bukti-bukti sejarah yang akurat yg merujuk bhw Karo memang Batak, lbh hebat lagi bila ditemukan bukti2 genekologis bahw org Karo seketurunan dgn org Batak/Tapanuli. Sementara ini tampak bahwa penggugat Karo Bukan Batak pada umumnya mendasarkan pendapat mereka lebih kepada “suasana batin yang heran” bhw orang Karo kok tidak nyaman dengan sebutan dan pengelompokan Karo ke dalam rumpun Batak. Sementara org Batak merasa nyaman bahkan bangga disebut Batak, tanpa terlalu peduli asal-usul kata Batak itu sendiri. Dalam hal ini org Karo tdk pernah heran apalagi mengusik dgn kenyamanan dan kebanggaan mereka itu. Silahkan saja bangga dgn Batak. Yang mengherankan, kok sebagian org Batak heran, terusik, bahkan menghabiskan energi menggugat pencerahan Karo Bukan Batak, bahkan ada yg menyangkutpautkannya dgn SARA. Sungguh pikiran yg tumpul. Kalau yg namanya persaudaraan dan persatuan ya tdk ada yg berubah, yg berubah adalah mind-set (cara pandang) terhadap persaudaraan dan persatuan itu. Simaklah makna persaudaraan atara org Jawa dan Sunda, Madura dan Jawa, Maluku dgn Papua dan Timor, Minang dgn Melayu. Begitulah cara memandang Karo dengan Batak. Kalo lebih dekat-dekat sikit bolehlah.

  137. Buat saudara saya Maridup,
    Saya baru membaca dengan seksama sekitar 15 responden dair atas, dan saudara mengatakan bahwa Drs. Juara Ginting tidak lulus kuliah di Leiden. Sumber mana yang anda maksud?
    Bagaimana sebuah institusi pendidkan besar seperti USU memvalidasi gelar MA yang melekat pada nama saudara Drs. Juara Ginting?

  138. @ Luhut Sinaga, sejak dari dulu Orang Karo menyebut/mengatakan bahwa temanteman dari Tapanuli Utara ( Samosir,Silindung, Humbang, Toba) dengan sebutan Orang Toba atau kalak Teba ( bahasa Karo). Kenyataan temanteman dari Toba lebih senang memperkenalkan diri dengan sebutan Batak: Tano Batak, Kamus Batak,Adat Batak, akasara Batak,HKBP, Siraja Batak dan seterusnya. Coba Kalau Orang Karo juga menyebut dirinya sebagai Orang Batak dalam arti tanpa embelembel Karo maka pasti makin kacau, orang Karo mengatakan ucapan selamat adalah ” mejuahjuah” bukan kata ” horas”. Bahasa Persatuan Orang Batak jadi bahasa apa, Toba kah atau Karo, Teman dari Toba menganggap Orang Karo ngerti dan bisa bahasa Toba maka tidak jarang langsung ngomong Batak dengan Orang Karo. @ saudara Patuan Naraja ucapan selamat bahasa Karo adalah ” mejuahjuah” bukan ” menjuahjuah”, sebutan selamat dari teman kita Orang Pakpak ” Njuahnjuah”. @ Lubis, saya setuju pertanyaan anda kenapa Orang Batak dari Toba tidak memperkenalkan diri dengan isilah Toba saja & Kenapa Karo harus Batak ?. Margamarga pada Mergasilima di Karo tidak tercantum pada silsilah /tarombo pada Toba. Hanya pada dongeng cerita di Toba bahwa ada salah marga ini pergi ke Karo, Ginting disana dia bikin marganya, menjadi pertanyaan kenapa dia rubah marganya apa sebelumnya sudah ada marga Ginting di Karo sehingga mewajibkan semua pendatang harus menyesuaikan diri dengan merga Karo( Merga Silima). Namun apapun jadinya walaupun Karo bukan Batak saya kira persahabatan antara Orang Karo dengan Orang Toba tetap bersahabat seperti biasa bahkan lebih bersahabat lebih dekat bila dibandingkan dengan suku lain misalnya suku Papua.

  139. @ Robinson G Munthe
    “Pendapat untung-rugi anda yg mendasari KBB terlampau dangkal …..”

    Pola pikir saya praktis: “berangkat dari apa yang diinginkan di masa depan”! Saya menginginkan adanya persatuan ‘pribumi’ Sumut, dan ‘pengikat’ persatuan itu adalah BATAK. Justru pihak yang menggugat KBB adalah minoritas (dipelopori oleh orang-orang pendatang yang bukan Batak Karo dan bukan Batak Toba). Oleh karena itu persfektif saya tidak didasarkan atas HAL-HAL dimasa lalu yang sudah lapuk dan busuk dan cenderung memecah belah. Makanya pemikiran KBB bukan ‘pencerahan’ seperti istilah Saudaraku, tapi ‘pemecahbelahan!’ Dan ini dapat dikategorikan sebagai SARA.
    @L Ginting
    Bahasa Persatuan Orang Batak jadi bahasa apa,?
    Melayu!

    Mejuahjuah” bukan ” menjuahjuah”
    Terimakasih atas koreksinya.

    Hanya pada dongeng cerita di Toba bahwa ada salah (satu) marga ini pergi ke Karo,…

    Saudara menyebut itu dongeng, karena itu diungkap/dikisahkan oleh orang Batak Toba, tapi coba yang mengisahkan itu si, John, si Smith, si Anderson…anda akan menganggapnya sebagai kebenaran.

    Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah!

  140. Para penggemar blog ini sekalian,
    Saya adalah orang batak dari Mandailing, (Rangkuti) atau menurut nenek moyang saya Batak Mandailing, . Saya tidak mau dikatakan durhaka oleh nenek moyang saya, dengan mengatakan saya bukan BATAK, pantang.
    Setelah saya membandingkan proporsi argument antara orang batak toba dan Karo, dalam hal quantitas, bukan kualitas argument nya, saya melihat bahwa 68% adalah orang karo, 28% orang batak toba dan 4% yang bukan batak toba maupun karo. Jadi saya berasumsi bahwa:
    1. Kemungkinan orang karo lebih banyak di SUMUT daripada batak Toba, atau
    2. Orang batak toba lebih suka berargumen di dunia nyata, daripada maya, atau
    3. Orang batak toba penakut…? tapi mereka punya panggilan bergengsi seperti bangsa napistar, nanimiakan atau bangsa parbarani…!
    4. Orang karo lebih kaya dari pada batak toba, karena mempunyai akses internet 24 jam dan bisa duduk di internet beberapa jam tanpa kerja,
    5. Orang batak toba berpikir bahwa tidak ada untung ruginya karo menjadi batak atau tidak, atau..
    6. atau,..ataua….ataua…

    Teman-teman bagi saya hidup hanya sementara, menggali hal-hal yang kurang bermanfaat adalah sangat kurang bijaksana, menghargai apa yang dikatakan leluhur merupakan ibadah. Literatur belum ada yang mengklaim masalah yang dibahas di blog ini. Tapi bukti2 sudah banyak, seperti GKBP, siapa diantara kita di blog ini duluan ada di dunia ini, GKBP atau kita…? apa itu kurang menjadi bukti? Hormati leluhur kita yang telah berjasa menyatukan kita menjadi satu suku, dengan sub-subnya… Horas Batak…!

    yang terpenting bagi saya adalah, apakah dapur saya masih menyajikan masakan bergizi untuk anak dan keluarga saya? Kemana saya dan keluarga saya liburan bulan depan, ke danau Toba, Bali, Mentawai atau malah ke Hawai…? dan tentu saja, saya selalu bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa,…!

  141. Terlalu banyak orang pintar yg jadi komentator disini. Saya bkn orang pintar, sekolah saya juga tidak tinggi. Saya asli suku Karo! Bkn Karo pendatang atau apalah. Sudah sejak nenek moyang saya, kami tinggal di kampung tanah Karo. Jd paling tidak saya juga mengerti ttg suku, adat, bahasa suku saya sendiri. Memang beda!
    Apapun katanya, saya sebagai salah satu orang Karo di Indonesia ini, sampai kapanpun tidak pernah bisa terima kalo saya dikatakan sebagai orang Batak.
    Untuk saudara2 yg bersuku Batak, terimalah keadaan ini. Bahwa memang udah sejak lama orang Karo itu mengetahui perbedaan antara kedua suku ini. Hanya saja orang2nya pada gak peduli.

    Lalu knp sekarang bangkit emosi orang2 Karo ini, sehingga komplain?
    Saya sendiri merasa aneh. Kota Medan itu yg mendirikan Guru Patimpus yg udh jelas2 bersuku Karo, itu artinya udh jelas suku Karo lah yg mayoritas mendiami daerah ini. Lalu knp gedung kantor DPRD Sumatera Utara dibangun bercirikan rumah adat Batak? Aapakah krn pd waktu itu kepala daerahnya bersuku Batak? Bandara Kuala Namo yg mau dibangun pun dipermasalahkan atas namanya! Aneh kan?! Knp hrs diubah2 nama itu? Agar ada ciri Batak-nya kah? Ada 2 suku yang akan tersinggung jika nama itu diubah. Karo dan Melayu yg secara sejarahnya memiliki hubungan erat dgn suku Karo.

    Intinya, Karo adalah Karo. Batak adalah Batak.
    Antara Karo dan Batak banyak persamaan (karena daerahnya berdekatan/Ada interaksi sejak dahulu). Tp lebih banyak perbedaannya.

    Terimakasih.

  142. Istilah Si raja Batak ada pada zaman kolonial Belanda untuk mempermudah politik devida at impera nya,jd saya ragu apakah Siraja Batak itu ada atau hanya mitos saja,,,
    kemudian prinsip dalihan natolu itu bkn bersal dr org batak toba,tp dr org Mandailing,bagaimana kita menanggapi hal ini?

  143. @AndinLeo Rangkuti:
    >>”Hormati leluhur kita yang telah berjasa menyatukan kita menjadi satu suku, dengan sub-subnya… Horas Batak…!”

    Naraja; Good point!

    @Andreas Sinuraya: “Intinya, Karo adalah Karo. Batak adalah Batak”

    Naraja: Jenderalnya mengaku dirinya Batak.., para pejabatnya mengaku Batak.., gerejanya Gereja Kristen Batak Karo……anda ini siapa??

    @Tengku Eduart Zhein: “Istilah Si raja Batak ada pada zaman kolonial Belanda untuk mempermudah politik devida at impera nya,jd saya ragu apakah Siraja Batak itu ada atau hanya mitos saja,,,”

    Naraja: Dari nama saudara menunjukkan anda jenis ‘yang bukan-bukan’..Karo bukan, Toba bukan, Dairi bukan, Mandailing bukan, Simalungun bukan….akibatnya merecoki!

    Patuan Naraja
    Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah.

  144. @ Aldin Leo Rangkuti, GBKP ada sejak 1940 an sebelumnya hanya Gereja Karo saja dan orang Karo sudah ada jauh sebelum ada GBKP. @ Naraja , Kata Batak sebagai pemersatu pribumi di Sumut ?. Apa selama ini kita tidak bersatu dan apakah kalau etnis Karo tidak mau jadi Batak mengakibatkan kita terpecah ?. Apakah kata Batak itu untuk membedakan antara Orang Aceh dan Orang Minang. Kalau lah Karo merupakan sub dari Batak kenapa bahasa Karo berbeda jauh dengan bahasa Toba, coba lihat mana ada hubungan kata Mejuahjuah dan Horas. Apakah bahasa Batak itu ada ?. , bahasa Toba kah, apa Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola/Mandailing. Lalu kenapa sub etnis Toba menyatakan dirinya sebagai Batak, bukankan lebih baik pakai suku Toba saja sebagaimana Karo. Coba lihat disini blog Tano Batak disitu dibahas hanya Toba saja, Kamus Batak adalah kamus bahasa Toba ,HKBP adalah gereja Toba dan masih banyak lagi. Perlu anda ketahui selama ini Karo tidak mau dianggap sama dengan Toba karena memang beda baik bahasa, adat istiadat, sifatsifat dll. Bersatu dalam Batak , kongkrit bagaimana , kan nggak mungkin bahasa Karo dihapus diganti bahasa Toba., dari bahasa ini kita langsung beda , bahasa menunjukkan bangsa.

  145. Tingki dakdanak ahu, molo naeng marmeam, biasa do digorahon angka dongan, ninna ma: ISE NA OLO RO MA TU SON< ISE NA SO OLO LAO MA SIAN ON. Jadi molo so olo halak gabe Batak, lok ma disi. Nuaeng hita na Batak ma ta pasada rohanta. Boi do hita sada?

  146. Sekwilda Sumut Nurdin Lubis pada Sarasehan Pembinaan Mental Rohani TNI tgl 28 Maret 2012 mengutip data statistik (SP 2010) dari 12,9 juta penduduk Sumut, berdasarkian etnik rinciannya : Melayu 5,86%, Karo 5,09%, Batak 25,62%, Mandailing 11,27%, Nias 6,36%, Simalungun 1,04%, Pakpak 0,73%, Jawa 33,4%, Minang 2,66%, Tionghoa 2,71%, Aceh 0,97% dan gabungan etnis lainnya 3,29%. Kita bisa lihat dgn jelas dari data tsb bahwa Karo dari segi etnik/suku adalah berdiri sendiri, tidak masuk dalam kelompok Batak. Jadi saya melihat banyak kemajuan pandangan masyarakat luas termasuk didukung oleh data demografi mengenai Karo Bukan Batak ini. Dari banyak sumber dan media kita bisa melihat bhwa semakin hari semakin banyak masyarakat bisa membedakan mana Batak mana Karo.Atensi kita bukan asal berbeda, namun perbedaan yang proporsional dan bersahabat. Banyak hal yang menyangkut mitos yg selama ini ditanamkan dan diajarkan kepada kita, terutama disekolah-sekolah. Sama juga ttg mitos bhw bgs Indonesia dijajah Belanda 350 tahun. Sejarawan Anhar Gonggong, Taufik Abdullah dan Ichwan Azhari telah membantahnya dengan mengatakan bhw diantara tahun pendaratan Cornelis de Houtman di Banten thn 1596 sampai kemerdekaan Indonesia 1945 banyak daerah di nusantara yang bebas merdeka di bawah penguasa dan raja-raja lokal. Pelajaran sejarah memang harus ditulis ulang shg bebas dari mitos-mitos dengan kepentingan tertentu di belakangnya. Karenanya saya dapat memahami sinyalemen sdr Tengku Eduart Zhein di atas mengenai mitos Siraja Batak, tp utk hal tersebut saya tidak memiliki kompetensi utk membincangkannya.

  147. Wow, Marilah kita saling menghargai persamaan dan perbedaan tu. Jangan paksa seperti yang anda mau, apalagi ada benturan kepentingan, biarkan dia bebeda yang penting kita bisa memahami perbedaan itu, karena perbedaan itu termasuk hukum alam (sunatullah)
    Analoginya bisa seperti :
    Jus Jeruk versus Jus Mariquisa, kalo anda belum pernah mencobanya maka anda tidak akan tau perbedaanya, dan anda akan mengatakan; sama sama jus buah. tapi kalo kita memahami, kedua jenis buah ini sangatlah berbeda (bukan begitu he..he..)
    Sekarang ada lagi Produk baru Jus Martabe (srupppptt….seger ini, mau…)

    Salam Indonesia

  148. Teman-teman, bagaimana ke lima sub batak ini bisa terintegrasi dibawah 1 payung, saya pikir tidak terlepas dari hegemoni bahasa BATAK pada jaman dahulu. Kita bisa melihat apakah sebuah bangsa itu besar dari bahasa yang digunakan. Jauh sebelum bahasa Inggris terkenal, bahasa Latin sudah menjadi bahasa Global selama 2 millenium (Janson, 2007). Latin menjadi bahasa Global terletak pada tajamnya pedang dan tombak para prajurit2 Roma (Janson, 2007). Tetapi Latin tidak bisa bertahan sebagai bahasa Global karena tidak didukung oleh kekuatan ekonomi Bangsa Roma (Crystal, 1998). Syukur pada Gereja Katolik yang masih tetap mempertahankan bahasa Latin sampai pada saat ini.

    Dimasa vakum tidak ada bahasa Global, muncul beberapa bahasa besar kepermukaan seperti Jerman, Prancis dan Inggris. Namun, Bahasa Inggris yang tetap berjaya menjadi bahasa Global karena penyebaran secara geografis seperti penjajahan yang dilakukan Inggris, imigrasi orang-orang inggris selama terjadi penjajahan dan yang kedua adalah karena didukung oleh ekonomi Inggris yang kuat setelah terjadinya revolusi industri di Inggris.

    Teman-teman apa kaitannya dengan Batak setelah melihat deskripsi diatas? Saya berasumsi bahwa DULU bahasa BATAK merupakan bahasa yang BESAR di SUMUT yang diperankan oleh kekuatan prajurit2 BATAK, sehingga membuat Bahasa Batak berfungsi sebagai “Gate Keeping Function” dengan kata lain, untuk mendapatkan sesuatu yang bergengsi seseorang harus mengerti bahasa Batak. Dan pada jaman dahulu BATAK itu referent nya hanya 1 yaitu TOBA.

    Karena melihat kuasa dari BATAK itu maka setiap negeri jajahannya berusaha menguasai bahasa BATAK, terbukti, banyak teman-teman dari Karo bisa bahasa Toba, tapi orang toba tidak bisa bahasa karo, sama seperti orang Jepang bisa bahasa Inggris, tapi orang Inggris tidak bisa bahasa jepang. Selama penjajahan si raja BATAK, orang-orang batak juga ikut imigrasi ke negeri jajahannya dan menetap disana sehingga terjadilah penyebaran secara geografis. Jadi sepanjang SUMUT kita akan sangat mudah menjumpai teman-teman kita dari TOBA, karena penjajahan yang dilakukan si RAJA BATAK melalui ketajaman tombak dan pedang para prajuritnya. Jadi, suku-suku lain mau menjadi SUB BATAK karena melihat kekuasaan si Raja BATAK, tapi itu dulu, sebelum revolusi industri di Inggris, biasanya orang kecil kalau disamping orang besar membuat si kecil menjadi terkenal juga khan🙂 ???? Horas, mejuah-juah.

  149. @Pasaribu : Boi do hita sada?

    Wajib hukumnya!
    Tahapannya: mulai dari diri sendiri! Kalau kita biasa-biasakan bersatu, kita sebenarnya mendidik diri sendiri untuk bersatu.

    @L Ginting
    #Soal perbedaan: Saudara Ginting saya amati selalu bertolak dari ‘perbedaan, bukan persamaan! Biar saudara tahu, anak kembar satu rahimpun berbeda!

    #Soal blog : Gampang, saudara bikin blog Batak isinya Karo. Yang lain bikin blog Batak isinya Mandailing…dan seterusnya. Lihat orang Toba sudah memulainya: bikin blog Batak isinya Toba. Orang Toba sudah memulainya sebelum sauadara memikirkannya…!

    #Selama ini kita tidak bersatu? : Bulshit!! Kita memang berantakan! Kalau kita bersatu, TIDAK SULIT bagi kita mendudukkan seorang GINTING memimpin Sumatra Utara. Tidak sulit bagi kita membangun Menara Patimpus setinggi Petronas Malaysia! Itu hanya sekedar contoh. Banyak hal-hal lain menjadi mudah….

    Masalahnya: Kita kerdil! Dan yang bikin kita KERDIL adalah kita sendiri. Akibatnya kita jadi mangsa bangsa lain…….

    Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah.

  150. hahahahahha…..capek juga baca coment dari awal sampe yg terakhir ini….penuh dengan temuan2 baru yang bisa mencerahkan pendidikan sejarah yang selama ini tekesan dikaburkan untuk kepentingan penguasa yang ada di pusat sana..
    dari fakta dilapangan…bahasa dan adat istiadat toba dengan karo adalah hal yang berbeda…bila dikatakan sama,akan menambah makin kaburnya sejarah yg ada pada saat ini…..

    saya pribadi sangat menyayangkan statement2 dari orang2 yang punya marga / beru dari suku karo yang menyatakan bahwa ‘saya tidak perduli apakah karo termasuk batak atau bukan’…..untuk apa anda sekalian mahal2 disekolahkan bila anda sendiri tidak perduli dengan pencarian jati diri suku anda sendiri….!!!!!
    begitu juga halnya dengan suku2 yang lain..carilah jari diri suku anda sehingga akan terbuka sejarah yang sebenarnya….

    berbagai literatur dan penelitian tentang ‘BATAK’ telah disajikan oleh para peneliti dalam dan luar negeri…penelitian yang hanya sia2 bila kita masih berpegang teguh kepada cerita2 dongeng……

    perbedaan bukanlah untuk memecah belah namun sebagai kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan….

    salam sejahtera
    damai negeriku

  151. Terkejut mendengar judul diskusi ini begitu membaca undangannya via sms dari seorang teman, yang adalah Karo. Menurutku, tidak perlulah mempersoalkan identitas mana Karo mana Batak. Sederhana saja, kalau bisa dipersatukan kenapa harus dipisahkan oleh batasan etnis. Di satu sisi, isu ini berhasil melahirkan polemik lagi. Sayangnya, polemik ini absurd!

  152. RAJA ASEAN SUMBAYAK
    sumbayjagokahn@yahoo.co.id

    “Tongon do ai dahkam… Au pe lang setuju anggo hita ganub ihatahon batak. Tongon do ai memang sejarah ni peradaban suku ni ham ai na iulas iatas ai pasal sejarah harajan haru/ harou na gabe cikal bakal halak kita karo. Hanami pe lang ongga menentang in. Secara pribadi pe au lang setuju bani sejarah akal-akalan ni suku simbalog i siambiolu ni hanami….
    tapi, naha ma bahenon, halani hita na manggoluhon
    maningon do saling menghormati atap pe menghargai halak nalegan, se do mararti hita jadi suku halak ai…..

    Pasal ni anggo rugi halani hita do na sukses, hapeni jadi batak do na jenges, batak do nasimbei tapi hita do na icap buruk in pe iahapkon hanami ganuban do… Se do pitah nassiam

    Ai ma lobei tugah-tugahku, sebelum ni maapkon ham/ nassiam anggo dong na lepakku/ salahku hubamu.
    Horas/ mejuah-juah”

    sebelumnya, maaf ya… bahasa simalungun yang tertulis di atas tsb sebenarnya belum 100% bahasa/ sahap simalungun asli. hanya sekitar 25% saja yang asli, sisanya serapan dari bahasa indonesia skrg. dan wajar saja beberapa orang batak mengaku sok ngertid engan pernyataaan saya di atas.

    saya tidak terlalu memahami bahasa asli, namun saya yakin tidak kurang dari 50% bahasa simalungun terdapat juga pada bahasa karo bahkan sampai 80%, namun hanya perbedaan e menjadi o, k menjadi h dan c menjadi k, dll pada simalungun. ini tidak saya ada-ada karena ada yang pernah meneliti hal ini klu nggak salah namanya Bpk. MASRUL PURBA DASUHA. Tidak hanya sebatas bahasa, alat2 musik tradisional, induk aksara dan urutannya, tarian dan juga sistem tatanan kehidupan yang sudah mengenal kerajaan juga sangat dekat antara simalungun, karo dan pak-pak. berbeda dengan mandailing, angkola dan toba. Namun, pada akhir2 ini, sepertinya budaya dan peradaban simalungun telah terpengaruh dengan budaya luarnya,tidak seperti saudara kami karo yang mana mereka masih terjaga kebudayaan aslinya, terlihat dari musik dan kerja2 adatnya..

    Mungkin kemunduran peradaban simalungun ini juga tidak terlepas dari peristiwa GERAKAN BARISAN HARIMAU LIAR, di mana pada raja dan tuan di tanah sumatra timur (simalungun, karo dan melayu deli) dibantai oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan pengecut. peristiwa berdarah itu sangat parah dialami oleh suku simalungun itu sendiri, tidak seperti saudara2nya yang lain. Sepertinya simalungun saat ini telah kehilangan sosok pemimpin sehingga yang dulunya mereka yang berasal dari toba menjadi simalungun kembali lagi ke asal mereka dan justru lebih parahnya lagi, marga2 asli simalungun pun hanyut pada fenomena yang menyedihkan ini. Lalu keadaan simalungun yang condong ke batak untuk sekarang ini dimanfaatkan oleh mereka2 yang senang akan kondisi2 seperti ini. Seolah-olah simalungun itu berasal dari batak. apakah ini direncanakan oleh sekelompok atau alami terjadi, saya pun tidak tahu.Padahal dulunya simalungun ini lebih kemelayu-melayuan (80% melayu, asumsi saya). ini pernah saya tanyakan kepada orang tua saya dan juga leluhur saya.

    Sebenarnya, bukan tidak ingin saya punya teman, saudara, rekan yang banyak. namun, siapalah yang mau ditindas, dijajah, tidak diakui identitasnya bahkan dianggap tidak ada….????? saya bukan menolak dikatakan batak dan tidak sudi juga dikatakan batak. tolong dicerna dengan baik pernyataan ini ….!!!!!!

  153. Halo, teman-teman

    Saya pikir kalau karo tidak menjadi bagian dari Batak, sah-sah saja, ini tidak akan mengubah struktur sub-sub batak yang lain. Sebenarnya dalam hal ini, karo yang ingin jadi sub batak, bukan toba yang paksakan. KAlau pengalaman saya selama ini, saya telah tinggal dibanyak kabupaten di Indonesia, dan melihat bahwa Karo yang memaksakan diri untuk masuk kumpulan Batak, alasannya karena mereka juga dikategorikan sebagai batak kita semua sadar BATAK senang buat perkumpulan. Dengan rendah hati dan hormat akan leluhur kita dulu, Toba membukan tangan kepada saudara nya ini. Disetiap kumpulan toba, kebanyakn karo, simalungun menjadi satu kumpulan. Dan karena saya sadar bahwa MAnddailing juga batak, kami masuk menjadi anggota kumpulan BATAK, walaupun hanya sebentar, karena tugas.
    Akan sangat memalukan bilamana hanya sekelumit karo yang tidak berkenan kepada panggilan Batak, padahal hampir diseluruh Indonesia Karo masuk kumpulan Batak, bukan karena diminta toba, tapi karena mereka sadar mereka batak…:(

    Kami Mandailing tidak terlalu meributkan hal-hal seperti ini. Karena pencarian identitas diri ini memalukan, bayangkan kalau asumsi karo benar bukan merupakan bagian dari Batak, Toba mungkin mengatakan, siapa bilang kamu bagian dari Batak? Ada nggak bukti tertulisnya kamu bagian Batak? selama ini kamu yang bergabung dengan kumpulan toba…! Ini mungkin yang akan toba katakan.

    @LUHUT SINAGA, saya pikir gambaran mengenai Hegemoni Bahasa Batak di jaman dahulu itu benar. Bahwa Bahasa toba bisa dikatakan bahasa Global di sumatera utara dulu. Referensi saudara membuat argument anda lebih kuat.

    @ PATUAN NARAJA, Saya kagum akan argument saudara,
    Naraja : “Jenderalnya mengaku dirinya Batak.., para pejabatnya mengaku Batak..,
    gerejanya Gereja Kristen Batak Karo……anda ini siapa??”
    Andin : Mungkin dia Simalin kundang Modern …🙂 hah,haha hahah

    @ Andreas Sinuraya, kita tidak memerlukan orang pintar, mungkin kalau sekolah anda tinggi akan membuat suasana tidak kondusif pula, seperti si JG, syukur anda tidak pintar. Kita perlu orang yang bisa membuat suasana tenang dan kodusif.

    Salam
    ANDIN

  154. @Luhut Sinaga
    Penjajahan Siraja Batak yang anda analogikan seperti persebaran bhs Inggris, Latin dsb di berbagai negara, itu hanya ilusi semata. Itu lahir dari alam bawah sadar anda yang merasa Siraja Batak itu superior, muncul dari keangkuhan cara berpikir. Saya yakin hal Siraja Batak itu hanya mitos semata, sama seperti mitos kedatangan Ratu Adil di Jawa. Tak pernah ada dalam kenyataan. Faktanya adalah seperti dicatat peneliti Anthony Reid, orang2 Batak (Toba) telah melakukan migrasi ke daerah Simalungun dan Sumtim sejak tahun 1915 untuk membuka sawah dan perkebunan dibantu dan difasilitasi oleh Belanda, tidak lain karena sejak awal abad ke 20 Tanah Batak adalah wilayah terpadat penduduknya di nusantara sekaligus kantong kemiskinan. Semoga Tanah Batak sbg peta kemiskinan ini sekarang sdh berubah. Tapi tidak apa-apa, ilusi dan mitos Siraja Batak sbg penjajah spt yang anda sampaikan tsb malah membuat kami orang2 Karo dan barangkali teman-teman non Batak lainnya menjadi lebih sadar dan solid, bahwa barangkali mitos Siraja Batak ini memang sengaja dimunculkan dengan agenda tertentu. Jalan pikiran spt yang anda sampaikan membantu kami lebih waspada sekaligus lebih meyakini bahwa Karo bukanlah Batak. Hal lain pernyataan anda spt orang Karo bisa bhs Toba (kok anda tdk bilang bhs Batak ya ?) org Toba tidak bisa bhs Karo, atau orang Jepang bisa bhs Inggris, org Inggris tidak bisa bhs Jepang, itu malah menggelikan dan memperjelas seberapa dalam pengetahuan dan wawasan anda khususnya ttg Tanah Karo.
    @Raja Asean Sumbayak
    Sangat menarik sekaligus mengundang rasa hormat atas kejujuran, keberanian dan kerendahatian anda menuturkan kondisi sosial budaya Simalungun. Saran saya : yakinlah siapa diri anda sesungguhnya, jangan berada di area abu-abu. Menelusuri, menetapkan dan mengintrodusir jati diri anda (Simalungun) adalah hak anda sepenuhnya. Tak ada siapapun yg berhak mencegahnya, tak ada hukum yang dilanggar. Itulah inti dari kebhinekaan, jatidiri yang kuat namun tetap bersahabat dengan tetangga dan orang lain.
    @Bastanta
    Sayang sekali anda tidak mencantumkan merga anda, namun saya yakin anda org Karo dari nama anda. Orang2 Karo spt yang anda sebutkan adalah salah satu sasaran pencerahan KBB tersebut. Saya pun dahulu seperti itu. Sebagai salah satu media sosialisasi telah ada benih pikiran menerbitkan buku tentang hal ini, didahului dengan upaya menerbitkan hasil rangkuman dari berbagai diskusi dan forum tentang Karo Bukan Batak. Semoga bisa terwujud suatu ketika.

  155. Cara-cara kita dalam mengeluarkan pendapat masih dipengaruhi oleh budaya barbar. Yang biasanya dikategorikan lebih spontan dan merujuk langsung kepada interlocutor tanpa menggunakan coolheadedness (Wierzbicke, 2006). Orang barbar lebih mengutamakan physic dibanding dengan idea atau isi argument nya (Wierzbicke, 2006). Dengan kata lain orang barbar lebih cenderung menyerang pribadi dengan langsung tanpa menyerang substansi argument interlocutornya.

    Dalam argument, theory2 bisa di propose dan dihubungkan dengan asumsi berhubung literature dari asumsi tersebut belum ditemukan. Asumsi saya mengenai hegemoni Bahasa batak toba hanya didasarkan pada theory penyebaran Bahasa dan penduduk melalui kekuasaan orang2 terdahulu sebelum penjajahan.

    Kalau penyebaran Bahasa dan penduduk (sebelum penjajahan) diasumsikan Karena kemiskinan, saya pikir tidak logis atau absurd. Mengingat lahan yang harus dikelola ditanah sendiri masih sangat luas, dan bahkan diberi cuma-cuma kepada pendatang (menurut cerita2 orang tua) berhubung kepadatan penduduk tidak signifikan, tanah-tanah masih subur dan kantong-kantong mata air dimana-mana, dan kebetulan jaman dulu mayoritas masyarakat batak toba masih hidup dengan menggarap lahan pertanian.

    Tetapi penyebaran Bahasa dan penduduk Karena kekuasaan (sebelum penjajahan belanda) sangat mungkin. Imigrasi besar-besaran bisa terjadi Karena keinginan menaklukkan daerah-daerah tertentu, ini bukan karena kemiskinan, tetapi karena keunggulan, yang mana orang-orang imigran ini membawa bahasanya sendiri dan berusaha membuat orang2 sekitarnya mengerti , ini akan mempermudah mereka menaklukkan negeri tsb.

    Kalimat yang menyebutkan daerah kantong kemiskinan, Ini merupakan penggalan dari kata-kata motivasi untuk orang batak toba yang muncul di era tahun 90 an, bukan rujukan kehidupan yang riil. Karena kaya dan miskin itu terjadi dimana-mana, tetapi dengan adanya kata-kata motivasi ini, menginginkan semua orang batak toba bisa hidup lebih baik, daripada teman-teman yang tidak dirujuk dengan kata-kata motivasi seperti ini. Semoga penggalan kata-kata motivasi ini menjadi sumber inspirasi kepada teman-teman batak toba untuk tetap berkreasi, semakin sukses dan tetap rendah hati, jangan melupakan ajaran leluhur.

    Horas, mejuah-juah

  156. @Andin Leo Rangkuti: Salam Kenal Lae!
    @Lae-lae yg suka berteori-teori:
    Renungkan fakta-fakta (bukan teori) ini Lae_lae:
    >>Pergilah ke Pemprovsu: Siapa pimpianannya dan karyawan-karyawannya? (fakta bukan teori)
    >>Pergilah ke mal/mcdonald/fc/starbuck/….(representasi kemakmuran), apakah Halak Hita (karo/toba/simalungun/dairi/mandailing) yg bersiliweran/kongkow di sana? silahkan amati langsung! (fakta bukan teori)
    >>Cek apakah bandara kuala namu dinamai Patimpus/Nasution/Singamangaraja atau lain2 yg ‘mewakili’ HITA? Lagian siapa yg peduli? (fakta bukan teori)
    >> Cek lain2nya..yg fakta bukan teori!

    Catatan: soal ‘kecil’ nama bandara misalnya, sy hubungi anggota dewan yg mulia2 itu, juga kawan2..tak ada respon! Sy informasikan melalui web untuk ‘memancing’ dukungan, hasilnya? NOL. Siapa peduli? Itulah kita yg selalu sibuk ‘bicara’, ‘berfikir’, ‘argumen’ teori2…Nihil tindakan! (Tuan Internet beri ‘jasa’ malah cuma ‘chatting’)

    Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah.

  157. Saya juga kritik kepada Admin situs ini, kalau komentar kita diminta mencantumkan nama situs kita, saya pikir situs ini akan ‘bekerjasama’ dengan komentator yg kebetulan mengelola web sendiri, tapi nihil. Saya pikir kalau kita cantumkan alamat web kita akan dimasukkan ke blogroll-nya, tahunya nihil. Bagaimana mau ‘bersatu’?
    (Saya sdh lama memasukkan “tanobatak” ke blogroll web saya, tapi blog ini hanya ‘diam’ saja. Saya ‘iri’ melihat keakraban blogger tetangga)
    Ini juga cermin betapa rapuhnya ‘kekerabatan’ kita!

  158. Jika anda pernah ke Tanah Karo maka anda akan tau persis, bahwa hampir semua pendatang non Karo yang tinggal di sana fasih berbahasa Karo, bahkan sebagian akhirnya menggunakan salah satu merga Karo (Merga Silima) di belakang namanya, terutama karena kawin mawin. Saya persempit ke daerah asal saya Kec Tigabinanga sehingga lebih aktual dan saya tahu persis. Teman main saya sejak kanak-kanak tahun 60 – 70 an di Tigabinanga adalah orang Jawa, Batak (Simbolon, Nadeak, Siringoringo, Silalahi dll) Aceh, Minang dan Tionghoa. Sehari-hari semua kami berbahasa Karo termasuk orang tua mereka. Ini bukan teori, sinyalemen, dugaan atau lain-lain tetapi fakta kehidupan. Kami anak-anak Karo, orang tua kami dan kakek nenek kami tidak mengerti bahasa Batak (Toba) walaupun sehari-hari kami mempekerjakan orang2 Batak (Toba) dan orang2 Jawa di kebun dan sawah ladang kami secara turun temurun, termasuk di keluarga saya. Mereka kami anggap bukan lagi buruh pekerja atau pendatang tapi sudah seperti keluarga kami sendiri. Kakek saya dari ibu Alm T.Sebayang yang dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat Tigabinanga bahkan memberikan lahan garapan dan tempat tinggal kepada salah satu keluarga Simbolon sebagai tanda kasih. Bahkan dalam pesta adat Karo mereka terlibat sesuai bagiannya masing-masing. Mungkin anda pernah ke Tanjung Pinang dan berkenalan dengan Dr Bob Naima Ginting ? Dia adalah salah seorang keluarga Tionghoa yang lahir dan besar di Tigabinanga dan fasih berbahasa Karo dan sangat bangga dengan merga Ginting-nya, juga seluruh saudaranya. Saya sendiri sedikit-sedikit mengerti bahasa Batak (Toba) itu karena pergaulan ketika mahasiswa di Malang, terutama karena beberapa “teman dekat” saya wanita Batak dan akhirnya menikah dengan Br Sipahutar. Jadi bukan karena secara sosiologis dan kultural sejak kecil di bawah “pengaruh” orang Batak. Gitu lhoooo…

  159. Menarik sekali blog ini, banyak menyajikan informasi yang faktual dan bagusnya lagi pendapat tidak hanya beredar diatas angin, tapi memang didukung oleh beberap literatur yang relevant.
    @ Halo Lae Luhut Sinaga, saya nggak termasuk orang yang masih mewarisi budaya barbar ya, karena saya tidak langsung menyerang pribadi orang lain, mudaha-mudah nggak ya…kalau karo tidak mengaku BATAK itu sah-sah aja, semoga betulllllll,,,,

    @ Yang terhormat Moderator, saya pikir blog ini sudah bisa ditutup, karena yang memberikan komentar dari orang karo hanya beberap orang saja, banyak komentar hanyda dari mereka-mereka saja, dan ini tidak bisa menjadi representasi dari orang-orang karo secara keseluruhan. Teman-teman karo yang memberi komentar disini mungkin keahliannya di IT, yang ada access ke internet 24 jam, bukan orang-orang yang benar2 memiliki kompetensi menyatakan karo bukan BATAK. Saya takut, mereka bisa terbagi dua, ada yang mengaku batak dan sebaliknya, dan ini bisa mengakibatkan perang dingin diantara mereka, kalau untuk kita batak-batak yang lain nggak ngaruh karo menjadi batak atau tidak. Karena sebenarnya Karo yang selalu mengikuti BATAK, seperti kumpulan Batak, mereka ikut, arisan orang 0rang batak mereka juga ikut. Jaddi gimana, capek kita mikirin karo jadi batak atau tidak, saya ada pantun dibawah ini….!

    Mangaraja najolo giotna boja
    Ipangan halai di milas ni ari
    Mangaso ma jolo pala loja
    Anso sehat tu pudi ni ari

    Kawat madung marbalun
    Tiangpe madung teleng
    Na tagima marpantun
    Memang cocok iseng iseng, ha, hahahahahahh…

    Sori pantunnya nggak nyambung semua………

    Salam
    Andin

  160. Untuk Sdr. Andin Rangkuti, Karena sebenarnya Karo yang selalu mengikuti Batak ?, coba sdr tunjukkan di daerah mana orang Karo yang anda lihat yang selalu minta ikut perkumpulan orang Batak, arisan Batak perkumpulan/arisan batak apa namanya.

  161. Akhir-akhir ini banayk orang mempromosikan produk2 nya melalui TV, radio, koran dll. Tapi kita sadar bahwa untuk mepromosikan produk2 itu seseorang atau perusahaan penghasil produk tersebut harus mengeluarkan banyak uang kepada pembuat iklan. Tetapi ada promosi yang tanpa mengeluarkan uang dan ditujukan kepada khlayak ramai melalui internet, dan salah satunya melalui blog ini.

    Salah satu contoh yang konkrit adalah pamer kekayaan dan segala gengsi yang melekat kepada keluarga tertentu, yang bisa mempekerjakan beberapa suku dalam satu pekerjaan besar dan juga yang biasa berkontak dengan non-indigenous (non pribumi) seperti Cina, bule, dll. Wah, memang elit sekali keluarga ini…!

    Selamat anda berhasil mejadi orang kaya dengan kecerdasan emosi yang rendah…! Ha,ha,hahahahhaha….:)

    Salam
    Andin

  162. Buat semua:

    Napain kalian pusing2 mikirin si dosen ginting, ooooaalllaaahh… kalau dia gak mau ngaku batak y gpp lah, kalau dia mau ngaku leluhurnya dr india y biarin aja… aku gak mau maksa si ****** ginting ini untuk mengakui dirinya batak, tapi aku cuma mau kasi ada 2 pertanyaan aja ama si J ginting itu .

    1. kalau memang leluhur karo dari india, apakah ada kesamaan budaya karo dan india..?? apakah ada sistem kasta ksatria, brahmana, sudra di dalam org karo spt india..??? (..ampe rontokpun jembutmu gak kn sanggup kw jawab ini, aplg klu kw tau makna kasta2 itu dan implementasinya)

    2. si J Ginting menggunakan nalisis data zaman belanda,,muncul skrg pertanyaan,,belanda masuk ke tapanuli tahun berapa? dan istilah Batak itu sudah ada jauh sblum belanda masuk tapanuli….kw chek sana sejarah perdagangan barus/pusat perdagangan dipantai barat sumatera.

    …………………..
    jadi intinya: yg mau mengaku Batak y silahkan dan yg tidak mau mengakui dirinya Batak y juga silahkan,,,kenapa harus repot.

  163. @Horas,

    Saya pikir nada bicara kita bisa lebih sopan dalam berkomunikasi verbal BAIK TULISAN MAUPUN LANGSUNG. Belajar lagi lah dulu untuk bisa mengontrol emosi, karena saya pikir saat kita emosi, kata-kata yang kita ungkapkan bisa sembarangan dan tidak teratur. Saya pikir anda menuliskan pendapat anda diatas dengan emosi, terbukti banyak salah penulisan.
    Kita setuju dan sependapat bahwa tidak ada untungnya karo mau jadi bagian dari batak atau tidak, tetapi kita masih mengunakan bahasa yang lebih sopan baik dalam merujuk orangnya langsung. Seperti anda bilang “si JG itu “, kita dalam adat batak tidak dianjurkan memanggil nama orang tua dengan memulai “si” ini kita alamatkan kepada anak-anak…!

    Salam
    Andin

  164. MEJUAH-JUAH..!!!
    HORAS..!!!!

    Saya mo bilang dulu, ini sebetulnya forum buat meningkatkan ikatan erat kita sebagai masyarakat Suku Batak pada khususnya dan sebagai masyarakat Indonesia pada umumnya khan..????

    Jadi buat apa kalian semua BERADU URAT hanya demi sebuah kata “BATAK”..!!!!
    kukasih contoh sama kalian yang baca ini ya, kalo kita dijajah lagi apakah kalian mau bertarung membawa nama rakyat KARO, TOBA, SIMALUNGUN, ato yg lain..????

    Jangan ada dari kalian yg bilang klo komentarku ini ga pada tempatnya ato terlalu dangkal karena menurutku sebagian besar komentar kalian hnya membuat diri kalian SALING MEMBENCI, MUNAFIK dan INDIVIDUALIS….

    Mengapa saya bilang MEMBENCI? itu karena komentar ada dari kalian yg saling ingin menang sindiri yg membuat pihak lain SAKIT HATI…
    Mengapa saya bilang MUNAFIK? itu karena ada dari kalian SUKA MENJATUHKAN dengan embel-embel KATA-KATA FORMAL (saudara, saudari, dll) dan fakta…boleh fakta tapi ingat jaga perasaan juga…
    Mengapa saya mengatakan INDIVIDUALIS karena ada dari kalian (mungkin anda) yg merasa INGIN MENANG SENDIRI ato rasa ingin KELUAR dr BATAK….

    Forum ini hampir membuat kita terpecah belah. Mungkin sebagian dari teman2 suku (batak) Karo menganggap mereka bukan Batak. Namun teman2 dari batak Toba menganggap bahwa Karo itu termasuk BATAK. Niat dari suku batak Toba itu baik agar tali persaudaraan itu tetap kuat. Namun ada dari teman2 dari suku (batak) Karo yg menganggap klo suku mereka itu memang beda (masih pandangan awal).

    Saya rasa tidak ada salahnya mempertanyakan itu, tp yg saya cermati adalah suasana dan aura dari komentar dari semua saudara yg disini TERLALU PANAS…..

    Tidak ada yg melarang untuk memberikan argumen, fakta buat pembelajaran tp mohon diingat BHINEKA TUNGGAL IKA. Jadi jgn saling merendahkan orang lain dengan mengatakan “pandangan anda terlalu rendah” ato sejenisnya…

    Saya orang Batak Toba, dan saya memiliki kekasih dari suku Batak Karo…..
    Mungkin banyak diantara teman-teman saudara/i yg menjalin hubungan seperti saya, dan tidak ada dari antara kami yg mempermasalahkan itu…

    JADI INTINYA YG BISA SAYA SAMPAIKAN ADALAH JANGAN SAMPAI HAL INI MEMECAH BELAH KITA, MENANAM KEBENCIAN, INDIVIDUALIS, KEMUNAFIKAN….

  165. Horas!!! Mejuah-juah!!! Menjuah-njuah
    perbedaan pendapat itu adalah hal yang biasa…..
    untuk lebih membuktikan kebenaran dari apa yang di perdebatkan diatas..
    saya minta kepada saudara-saudaraku putra-putri indonesia silahkan buat suatu pertemuan untuk membrikan argumentasi masing-masing dengan mengundang berbagai pihak yang berkaitan dengan perdebatan tersebut. undang pakar dari toba,simalungun,karo,pak-pak,mandailing,melayu,nias,dll yang dapat membantu membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. buktikan argumen anda.

  166. haha.. boasa ikon songonon hita halak batak?? tapature ma huta ta be, ta somba Tuhan ta asa dipasada hita saluhutna. molo adong pe na naeng patakkashon sejarah ni masing2 suku, bah toe ta pa uli. ale sada na porlu ta boto molo batak toba sendiri ikkon do marsitiopan manggomgom gomos, taparida hita sude akka pinompar ni oppung ta, batak nungnga di tanda di seluruh dunia, halak austria, jerman, amerika, dohot na asing nga godang marmarga batak jala nga adong mambaen rumah batak songon di jerman. alana na adong do karakter halak batak na disaluthon halaki. Hamu akka na nungnga sukses songoni nang hami haduan ikkon ta ingot mulak mamikiri dohot mengembangkan huta ta.. hita sada akka pinomppar ni oppung ta. hami pe akka pemuda na di bagasna terdiri mahasiswa dohot akka na nungga karejo, hami bentuk do komunitas (Youth Earth Society) dison ma hami mambaen aksi perjalanan dan pembelajaran naeng mempelajari lbh dalam dohot mengembangkan Tao Toba keseluruhan (segala bidang). Horas Batak

  167. hahahahahaha… sensitifitas orang-orang memang berbeda-beda. Tapi kalau melihat moment ini, kecenderungan memandang entitas yang dianggap sensitif bisa berbahaya. Jangan karena seuatu mencitrakan diri menjadi manusia yang gak beradab.
    Hardy Barus (Barus+Situmeang), Aku orang Indonesia.

  168. Pemberian label Batak kepada orang Karo atau yang lain adalah pengingkaran terhadap faktor keanekaragaman untuk mengakomodasi sedikit persamaan. Apakah sih persamaan antara orang Karo dengan orang Toba ?. Yang sama adalah sama sama mencantum merga/marganya dibelakang namanya, katanya di Toba memakai istilah Dalihan Natolu di Karo istilahnya Rakut Sitelu. Dalam penerapannya dalam pelaksanaan adat perkawinan adat Karo dengan adat Toba sangat berbeda makanya tidak bisa digabungkan pesta adat Karo dengan pesta adat Toba. Saya sepakat kalau masing etnis punya jatidiri yang kuat namun tetap bersahabat bhineka tunggal ika . Allah menciptakan manusia berbangsa bangsa bersuku suku agar mereka saling kenal mengenal diantara mereka yang paling tinggi derajat ialah yang paling taqwa.

  169. Saya coba inventarisir beberapa persamaan dan perbedaan antara Karo dan Batak yang secara kasat mata dapat diamati. Persamaannya adlh : garis keturunan patrimonial, sama-sama punya merga/marga dan sama-sama tinggal di Sumut. Perbedaannya adlh : bahasa, salam (Karo : Mejuah-juah), kain adat, rumah adat, silsilah klan (terombo), sifat-sifat khas (cara berkomunikasi), aksara, tarian, tatacara perkawinan, panggilan ke anak wanita (Karo : anak, Batak : boru), nama panggilan merga (Karo : tiap merga ada nama panggilan, mis Ginting Munthe : anak lelaki Mburak, anak wanita : Unjuk). Kita hrs berbesar hati menyebutkan perbedaan justru bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk saling memahami dan menghormati satu dengan yang lain.

  170. saya bukan merecoki tp itu dari jurnal penelitian ,saya jg orang batak,saya marga sipayung,

  171. setelah membaca koment diatas selama 2 jam lebih… kesimpulan dari saya hilangkan hegemoni yg merasa lebih hebat, lebih superior, berbeda boleh saja tapi tetap bersatu yaitu bangsa Indonesia, ada beberapa komen yg asal bunyi ada yg berbobot tapi tdk semuanya menemukan titik temu… saya lahir dibelawan, besar di pulau jawa Bermerga Perangin Angin Sukatendel, hampir seluruh Indonesia telah saya jalani, tiap suku maupun bangsa di dunia ini saya pelajari ada sisi positifnya (baik) dan ada negatifnya (buruk) tdk ada yg sempurna, memang perlu mencari asal usul siapa dan darimana asal kita,, karena itu fakta sejarah, jikapun tdk berasal dari ibu yg sama tapi bisa saja bapak yg sama atau sebaliknya (semuanya berasal dari Nabi Adam)… tentang hal Batak dan karo atau yg lainnya, permasalahannya hampir sama di eropa.. tapi mereka bersatu membentuk uni eropa untuk kemakmuran bangsa eropa walau hampir mungkin mereka adalah penggabungan dari indo – eropa, sama halnya Catalan bukan Spanyol, juga Quebeq , sama halnya dengan daerah Balkan yg bergejolak padahal mereka adalah satu rumpun,.. kalau saya amati memang karo – batak sama dengan Chekoslowakia (dahulu) sekarang menjadi (Cheq dan Slavia) hampir sama tapi berbeda… jika ditarik ada kesamaan simetris dan ada perbedaan yg hyperbolik, antara Batak-Toba-Karo-Simalungun-Dairi/Pakpak-Mandailing-Angkola-Nias (agak jauh)-Melayu… demikian pula halnya. Tidaklah suatu Bangsa atau suku ada tiba tiba diatas Gunung tanpa melakukan perjalan panjang.. biasanya melalui laut menuju garis pantai dan alur sungai, ke atas bisa jadi terdesak bisa jadi mencari daerah yg lebih subur dan nyaman ini merupakana teori dan praktek kehidupan masalampau, seperti bangsa Mongol yg menyebar dimana mana ada di asia dan eropa, bangsa slav di eropa, germany, atilia, turk, tatar, bangsa gipsy, arab, india, china,afrika, indian, jews, dll, kenapa ada perbedaan diberikan Tuhan/Allah kenapa tdk satu merek saja atau satu tipe saja diciptakannnya dan satu nama saja contohnya si POLAN semua namanya ??? jawabnya … karena biar kita punya keragaman, mempergunakan akal pikiran kita, agar kita belajar memahami perbedaan org lain, memahami pendapat org lain.

    Sejarah bisa benar bisa juga kurang benar atau salah jika data datanya tdk akurat dan referensi yg dipakai atau disampling tidak representatif.

    Sebaiknya cari referensi yg akurat dan lengkap.. Saya dekat dengan hamparan perak, dekat dengan Labuhan Deli, kesemuanya tempat saya bermain sampai ke Langkat di Stabat, dulu orang tua saya punya ladang dan sawah di Paluh Makna ??? ada yg tau ??? tdk pernah saya temukan referensi ataupun situs yg tentang BATAK disana, Arca apalagi.. ??

    Sebenarnya Belanda punya andil membentuk penamaan suku maupun daerah Atas ataupun pedalaman menjadi Kata BATAK di sumatra ini adalah politik Belanda, sama seperti di Maluku, di Jawa, di batavia, di Sulawesi di Kalimantan apalagi (muslim suku melayu, tdk muslim adalah suku Dayak) kesemuanya adalah CAP atau Stempel untuk mengadu domba, agar tidak bersatu agar tetap di jajah ???

    Intinya jika memberikan suatu argumen ataupun komen harus didasarkan pada data data ataupun pengamatan yg terus menerus tdk satu atau dua bulan – atau satu dua tahun ??

    Jaman dulu kata Batak itu berkonotasi Negatif antara lain : suku primitif yang makan org lah ?? dan sampai sekarangpun masih ada yg mencap negatif namun banyak juga positifnya. jika diperantauan org lain tdk begitu mengenal (toba, karo, mandailing, pakpak/dairi, simalungun) mereka mencap atau mensegel that is all Rumpun /Suku BATAKS ????

    Jika kita berbisnis atau kita bekerja di pemerintahan maka akan terlihat pengelompokan yg secara tidak langsung akan terjadi secara natural, sumatra berafiliasi dengan Sulawesi-Ambon-Irian, jawa – jawa, Sunda – Sunda, Kalimantan – Sulawesi – Sumatra,.. disamping Kekerabatan (spt BATAK Group, Jawa, sanak famili, teman. alumni, dll).

    Saya tidak percaya Toba lebih hebat dari Karo dan karopun tidak lebih hebat dari Toba atau batak lainnya.. masing masing saling mengisi dan ada kekurangan dan kelebihan masing masing.

    Jika anda merasa suku yg berasal dari Aru-haru- haro, Karo, Batee Karee, Karou, kalak karo atau apapun itu yg ada dilembah aceh besar, di gayo di alas, di tanah karo di langkat, deli, serdang, simalungun, pakpak dairi, di tanah perantauan, dimanapun berada.. memang ada perbedaan dengan yg namanya Batak TOBA, atau yg dinamakan batak yg lainnya………. tapi JUJUR juga ada persamaannya…..!!!!

    Intinya sebutan BATAK – KARO sama dengan orang menyebut minuman air AQUA apapun mereknya Ades, VIT, Aquaria,dll, banyak org menyebutnya beli AQUA..padahal yg dibeli Ades atau VIT ??

    Jika kurang yakin mari diskusi dan kita bedah buku dan situs sejarah…!!!

    Mejuah Juah, Njuah njuah banta kerina, Horas, yahobu (sebutan)

    semoga bermanfaat
    Aryev Perangin Angin

  172. @ Tengku EZ, marga Sipayung bukankah dari Simalungun. jawaban yang paling tepat dan tuntas ” Aku Orang Simalungun” , beda dengan orang Karo, Toba, Pakpak. Saya amat jarang mendengar bahasa Simalungun di Siantar , begitu juga kalau kita niai bus Sepadan dari Siantar ke Kabanjahe kebanyakan berbahasa Toba dan Karo. Sama juga dengan Siantar di Tanoh Pakpak( Sidikalang) juga bahasa Pakpak semakin tidak terdengar.

  173. @L ginting,saya ragu apakah Simalungun itu beda dgn Sub Batak yg lain,krn org Simalungun tdk pernah bisa menunjukkan perbedaan tersebut,jd yg jd masalah,sampai kpn kita berpegang pd mitos tanpa memperhatikan fakta yg ada…

  174. Tengku : sebenarnya banyak perbedaan antara toba dengan simalungun, kenapa sekarang mayoritas bahasa toba disana adalah karena pengaruh revolusi sosial tahun 1952-53 dimana dinasti dan raja -raja dan org penting simalungun dan melayu-langkat banyak yg dibunuh karena anti raja-atau kerajaan dan setelah itu ada eksodus yg disengaja atau tdk disengaja di wilayah simalungun… jika anda ketemu org simalungun maka coba tanyakan anda akan tau jawabannya dan cerita itu adalah dari nenek-ibu=kakek=bapak mereka selalu diturikan…. nuri nuri saat menjelang tidur.

  175. perbedaan itu indah bila di sikapi dengan bijak, “soal karo bukan batak” atau “karo juga batak” merupakan suatu sejarah yang perlu di kaji secara ilmiah. secara pribadi saya tidak pernah keberatan dengan dari mana keturunan/suku saya berasal, asalkan semuanya bisa di buktikan secara ilmiah, atau minimal bisa meyakinkan saya. terlepas benar atau salah, ada penomena menarik ttg pengakuan beberapa etnis yg ada di sumut( salah satunya karo) yg mengatakan bahwa etnis/ sukunya bukan bagian dari suku batak. mayoritas suku karo lebih senang di sebut suku karo dari pada di sebut batak karo. karena -penasarannya lalu saya berusaha mencari kebenarannya dgn membaca beberapa buku dan artikel ttg hubungan batak dengan karo( tarombo marga batak dan marga karo). tetapi sampai saat ini saya belum mendapatkan/membaca/yg dapat meyakinkan saya tentang hubungan marga batak dan karo tsb dgn jelas. mengenai pengakuan suku

  176. soal pengakuan orang karo bahwa karo bukan batak adalah yg wajar-wajar saja , demikian juga hal nya apbila ada yg mengatakan bahwa karo adalah bagian dari batak adalah merupakan hal yg lumrah pula, karena masing2 punya pendapat dan pemikiran yg berbeda. dikatakan wajar dan lumrah karena kebenaran itu sendiri belum terkuak secara ilmiah. sama hal nya di suku karo itu sendiri, banyak orang karo yg sudah merasa bukan orang karo lagi ketika dia sudah berada diluar tanah karo, walaupun tidak sedikit jg yg masih mengaku orang karo padahal dia sudah tidak memakai merga di belakang namanya, dan orang karo tidak pernah mempermasalahkan ini.

  177. pusing kalian semua, pusinglah.
    karo bukan batak, tapi dinamakan (sebut) batak yang dihindarkan itu dengan kata toba.
    kalau yang satu toba yang lain karo (simalungun dan yang lainnya), yang mana batak?
    hahahahahaha, salam mula-mula.

  178. Horas !
    Tanggal 22 juli 2012 nanti perdebatan ini akan berumur genap 2 tahun,cukup lama perdebatan yang terjadi,…:), sudah tuntas belum??tentu tidaaaak….;),sudah puas???belum tentuuu….So?sebelum genap 2 tahun mari kita akhiri perdebatan yang tidak ada ujungnya ini, TERIMA KASIH buat saudara/i ku yang telah menambah banyak wawasan baru mengenai sejarah kita,terlepas dari “fakta” dan teori yang masih harus diuji kebenarannya,terlepas dari ego dan emosi yang berlebihan,terlepas dari berbagai efek negatif yang terjadi bagi semua yang berkomentar maupun yang hanya membaca…GBU!!!
    Mejuah-juah,Njuah-juah,Yahowu…Syalom!

  179. Para ilmuan menulis dalam buku bahwa di Sumatera terdapat berbagai etnis antara lain: Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak , Simalungun, Toba, Alas & Gayo. Semua etnis diatas dikelompokkan Batak. Masing masing etnis juga merasa etnisnya lah paling tua seperti Mandailing, Simalungun, Pakpak dan Toba. Saat ini kata Batak itu konotasinya kepada etnis Toba. Data sensus suku Toba inilah mayoritas sebanyak 25%, Mandailing 11%, Karo 5%, Simalungun 1% dan Pakpak dibawah 1%. Suku Karo dan Mandailing paling sering mengatakan bahwa dia bukan Batak,sedangkan Simalungun dan Pakpak nampaknya tenangtenang saja walaupun sebenarnya mereka juga lebih senang disebut jatidirinya sebagai suku Simalungun atau Pakpak. Dapat kita lihat tempat ibadah/gereja mereka tanpa memakai kata Batak, Simalungun ( GKPS), Pakpak ( GKPPD), Angkola ( GKPA). Saya rasa walaupun kita menamakan diri sebagai suku Karo, Simalungun, Toba, Pakpak & Mandailing tidak pakai embel embel Batak tidak akan membuat kita terpecah belah.

  180. Saya bukan dari suku Batak dan juga bukan seorang antropolog, tetapi banyak letratur tentang Batak sudah saya baca, dan saya tinggal ditanah Batak ( Porsea /Toba Hulbung) selama 11 tahun lebih bergaul dalam Pekerjaan, Kemasyarakatan dan Peradatan menyatu dengan Halak dan Tano Batak.
    Suku-suku di sekitar Samosir/Danau Toba dengan daerah-daerah perluasannya yang membentang dari Asahan / Sumatra Timur sampai Tepi Barat Sumatra, dari Rao di Selatan sampai Perbatasan Aceh (Gayo Alas) di Utara adalah merupakan Suku Batak / Bangso Batak dan yang terdiri dari Sub-sub Suku Toba, Mandailing, Fakfak, Simalungun dan Karo. ( Nias = ? )
    Suku batak dikenal dengan adatnya yang bersendikan Dalihan Na Tolu. Hal ini di anut oleh Sub-sub Suku tersebut dengan sistim pertuturan dalam kekeluargaan secara konsisten dimana cukup jelas dan sistimatis.
    – OLEH SUB-SUB SUKU BATAK TERSEBUT SISTIM ADAT DAN TUTUR TERSEBUT DIANUT DAN DIGUNAKAN DALAM SETIAP KEGIATAN SEHARI-HARI MAUPUN DALAM PESTA SECARA IDENTIK DAN SERUPA HANYA ISTILAHNYA SAJA YANG BERLAINAN.
    – DALAM TAROMBO BATAK SUDAH BANYAK DIKENAL BAHWA SEBAGAI CIKALBAKALNYA ADALAH SI RAJA BATAK YANG SUDAH BERLALU SELAMA +/- 30 GENERASI DAN BERKETURUNAN/BERKEMBANG MENJADI MARGA-MARGA YANG TERSEBAR KE SELURUH PELOSOK NEGERI DENGAN KAMPUNG-KAMPUNGNYA DI MANA MARGA-MARGA TERSEBUT KINI BERADA.
    Jadi panamaan “Batak” bukan hanya setelah dikuasai oleh penjajah Belanda saja.
    Adapaun perbedaan yang timbul disebabkan oleh adanya pengaruh-pengaruh dari luar antara lain: Pengaruh Melayu dari Pantai Timur sehingga terjadilah pergeseran menjadi Batak Karo, Pengaruh Padang dari Selatan sehingga terjadilah pergeseran menjadi Batak Mandailing, Pengaruh Aceh dari Utara sehingga terjadilah pergeseran menjadi Batak Dairi Fakfak. Ada lagi pengaruh dari Melayu-Asahan terjadilah Marga-marga Manurung, Sirait yang hanya bisa bicara dengan berbahasa Melayu/Asahan,

    Demikianlah mungkin dapat menjadi masukan. Terimakasih.

  181. Saya tambahkan bahwa saya dalam pekerjaan akrab berbaur juga dengan kawan-kawan dari Tanah Karo, antara lain dengan Sembiring ( tempat tinggal satu rumah, dan saya pernah ke Tiga Johar kampungnya.), Tarigan, Ginting dan Peranginangin. juga dari Mandailing: Nasution, Lubis, Dalimunthe dan Harahap.
    ( Hartoyo. )

  182. mejuah juah……
    KARO BUKAN BATAK

    banyak pengalaman saya di luar sumatera batak dicap negatif,
    jadi saya gak pernah bilang saya orang batak ( saya orang karo asli)

  183. Saya besar di Mandailing dan mendapatkan penghidupan di Negeri yang indah ini. Namun selama saya hidup, belum pernah Batak Mandailing menolak dikatakan sebagai Batak. Saya pikir saudara L. Ginting mencoba memprovokasi sub-sub Batak yang lain untuk menjadi salah satu pengikut dia sebagai Si Malin Kundang terbaru. Teman, sadarlah, selagi kamu hidup jangan menyukai konflik, buang pikiran2 mu yang kotor yang sengaja akan meracuni cara berpikir kamu. Jangan pernah kamu berpikir bahwa kamu tidak akan mati, hari esok bukan milikmu, sepenuhnya milik Dia yang Kuasa. Saya membaca komentar2 mu dari atas semua bernada provokatif. Apa salahnya kami bersatu dalam satu payung BATAK, tanpa karo kami akan lebih damai. Jangan paksakan kami sub-sub Batak yang lain untuk menjenalisir bahwa karo hanya satu suku yang sengaja mencari perkara. Selamat menunaikan ibadah puasa teman-teman yang muslim.

    Salam
    ANDIN LEO RANGKUTI

  184. mejuah-juah kita kerina……………
    aku orang toba tinggal di namorambe,
    mohon izin tuk menengahi masalah ”batak” man kita kerina……………………..
    ”jadi bagei pal….
    kata ”melayu” pun bukan berasal dari suku2 melayu itu tetapi orang luarlah yg menjadikan kata melayu itu.melayu itu pun tak di ikat satu bahasa dan adat.contoh:suku kubu[rohil-riau] dan suku sakai[dumai-riau],mereka mengakui melayu sementara bahasa beda apalagi adat,ditambah lagi melayu kepulauan,ocu[taluk] dan sampai jambi ,palembang,dan lampung……….begitu juga kata ”cina” dulu yg menyebut itu adalah penjajah negara tiongkok dengan sebutan ‘qin’ lama2 menjadi cina…..soal kata batak sepengatuhuan saya adalah itu sebutan orang luar terhadap penghuni sumatra utara…..jadi batak itu hanya sebutan bagi sekelompok kaum yg mendiamin sumut.tetapi entah bagai mana hanya orang toba yg iklas menerima kata ”batak” itu.kenapa penjajah membuat karo,pakpak, gayo alas,toba,simalungun,angkola,mandailing menjadikan kata batak???karna di pulau sumatra hanya kita yg bermarga menurut garis bapak,adat beda penyebutan tapi sama seperti :menikah bagi karo wajib di adati begitu juga dairi,toba,simalungun dll…….menghormatin tulang/mama karna itu dari pihak ibu sebutan kalimbubu[karo],kula kula[dairi],hula hula[toba]=sama.anak dari sodara ibu laki2 bisa dinikahin sebutannya impal[karo]dan pariban [toba]……….dan bahaa pun saling mengaitkan satu sama lain……………………………………………………………………………..
    jadi kata ”batak” itu hanya sebutan bagi sekelompok suku sama seperti kata ”melayu”.
    jadi batak itu banyak ada toba,simalungun,angkola,mandailing,karo,fakfak dairi,gayo alas……jadi kenapa harus diributkan?????????????soal orang karo tak senang di sebut berasal dari toba dan pusuk buhit bisa di trima karna tak ada peninggalan yg otentik…………………………..sekali lagi ”kata batak sebutan bagi kita yg bermarga,adat beda sebutan tapi sama pengerjaannya,dan cara menghormatin dari silsilah ibu, dan menghormatin dari ayah dll……………………………..jadi itulah batak????melayu pun tak di tulis melayu kubu,melayu,ocu,melayu sakai,melayu anak dalam….tetapi mereka mengakui melayu…………kita pun tak perlu ribut dan tak perlu di tulis di gereja GBKP.Ttetapi mari kita mengakui kita smua etnis batak suku beda……………..dan perlu kita ketahui inilah cara pendatang untuk membuat kita menjadi sentimen sesama suku toba,karo,dairi,angkola,mandailing supaya kita terpecah belah………..sehingga kita tak bisa satu suara jadi pemimpin di sumatra utara di tanah kita dan mereka menganggap hina etnis batak…….dan yg paling parah isu menhilangkan marga di belakang nama adalah politik pendatang dan melayu supaya bertambah jumlah melayu…………………..mari smua etnis batak suku karo,dairi,gayo alas,toba,simalungun,angkola,mandailing biar kita islam dan kristen kita tetap jangan malu bermarga…..kan sumut tanah kita!!!!!untuk suku toba kita juga jangan memaksakan tarombo bahwa karo berasal dari pusukbuhit…………soal toba identik ama batak karna hanya toba yg iklas menerima ”batak” dan dari etnis suku tobalah yg paling banyak dilihat gari jumlah………..sama seperti indonesia domonan jawa jadilah hanya jawa semua…………………..jadi mari kita semua suku batak etnis karo,dairi,gayo alas,toba,angkola,mandailing berkata karo ras batak,toba ras batak,mandailing ras batak seperti kubu ras melayu,ocu ras melayu,sakai ras melayu……………………………………………..

  185. seharusnya kita satu provinsi dari sumatra utara sampai ke aceh tenggara dan tengah………………karna kita satu budaya budaya bermarga dan satu bahasa yg saling berkaitan …………………karo,dairi,gayo alas serumpun mari kita buat margqa kita di belakang nama kita…….gayo alas sudah banyak menghilangkanmarga di belakang nama………………kenapa kita mengikuti suku lain????biar mereka yg m,engikutin kita…………….toba,simalungun,angkola,mandailing mari kita jangan ribut apalagi orang toba jangan memaksakan kehendak bahwa karo berasal dari pusuk buhit……………orang mandailing sudah banyak menghilangkan marganya…………………….apapun agama kita baik islam dan klristen mari kita buat marga di belakang nama kita………………………..itu cara pendatang menguasai kita menebar isu malu bermarga………………kalau kita bersatu karo,gayo alas,dairi,simalungun,toba,angkola,mandailing membuat satu negara wah makmurnya kita,……..kaya akan pertanian ,perkebunan,tempat wisata ,hasil laut…………negri batak sampai ke seentoro dunia……………..bujur,mejuah2,njuah2,muliate………………..

  186. Erwani Lubis Huta Nopan,
    Kami Lubis terdiri dari dua keluarga besar yaitu Huta Nopan dan Singa Soro, masing masing memuat bahasa batak toba, yaitu Huta dan Soro. Ini menjadi nasihat ayahku bahwa Lubis masuk dalam keluarga Batak. Saya sudah lama di perantauan walaupun belum seberhasil teman-teman yang lain, namun kaki ini sudah melangkah sangat jauh, dan yang menjadi kebanggaan saya adalah bahwa teman-teman Batak selalu ada disana dan memberikan pertolongan, saya tidak mungkin menutup mata atas bantuan teman teman batak selama ini.
    Sangat aneh begitu mendengar perdebatan ini bahwa Karo adalah karo bukan Batak, seperti yang dikatakan oleh A. SIBAYANG karena streotype negatif yang dia alami atas kata batak diluar sumatera, dia menolak menjadi bagian dari Batak. It’s fair enough, banyak orang yang menolak menjadi bagian dari hal yang membuatnya malu.
    Para sahabatkua, berhati-hatilah berteman dengan orang seperti ini, tipe orang ini adalah penghianat, dia akan berpura-pura baik didepan kita tapi dibelakang kita dia membelot. Dia ini ibarat orang yang malu mempunyai orang tua yang bermuka buruk. Seburuk apapun Batak di dunia ini, saya adalah orang batak, dan orang batak tidak pernah membuat aku malu.

    Wassalam
    Erwani

    Oh ya salam kenal Pak Rangkuti

  187. yg menjadi masalah adalah org batak toba tak pernah mau menerima argumen2 dan faktayg ada,pernah saya berdebat dgn seorang Guru Besar Antropologi di kampus saya mempertanyakan siapakah org batak itu sebenarnya,tp jawaban yg saya dapat ttp berpokok pd Si Raja Batak yg penuh dgn mitos tersebut,…..

    Yg saya tahu dr hasil penelurusan saya istilah Si Raja Batak ada pd jaman Belanda,istilah Dalihan Natolu jg yg di perkenalkan oleh orang Mandailing sekitar tahun 1923,kemudian bagaimana dgn peninggalan arkeologis di Simalungun yg usianya lebih tua dari situs lainnya yg di samosir sbg asal oang batak menurut Tarombo Si Raja Batak trsbt?

    apakah kita sekarang berpegang pd mitos atau hal yg argumen yg lain????
    saya bingung,mohon pencerahan dari orang yg bisa menjawab hal hal di atas…
    horas….

  188. ANDIN LEO RANGKUTI, sungguh naif pernyataan anda, anda mengatakan selama hidup anda blm pernah mendengar mandailing enggan di sebut sbg batak. anda slh besar, bahkan suku mandailing lah yg pertama kali menggugat kebatakannya. apa anda lupa peristiwa tanah pekuburan di sei mati?, apa anda gak pernah membaca gugatan2 rekan sesuku anda bahwa mereka enggan di sebut batak ?

  189. perbedaan itu indah jika disikapi dengan kearifan,, namun banyak org menghendaki org lain mengikuti kata katanya yg kadang aneh dan tak mendasar,, yg jelas ada persamaan dan ada perbedaan… sebelum berbicara dan membuat argument hendaknya belajar dulu memahami pendapat org lain… dan simak, teliti serta berikan bukti yg relevan… jangan pula hanya percaya dengan org barat yg punya kepentingan dan adu domba secara kolonial (dahulu)… sumut adalah penggabungan dua resident tapanuli dan sumatra timur .. namun sebelumnya daerah ini adalah independent..terbebas dari belanda karena pengaruh aceh,, ibukotanya sempat di tiga binanga ??? cek kesultanan serdang, deli dan langkat dan hamparan perak.. banyak dongeng dongeng diceritakan disini tapi banyak fakta tak terungkap dan senagaja tdk diungkapkan karena menyangkut hegemoni dan pengaruh perpolitikan diantara tahun 60an… revolusi sosial, dan sebagainya… sumut memang unik tdk ada yg mayoritas tapi ada akar sejarahnya… mari belajar,,,,,!!
    Mejuah juah,, njuah njuah, horas… dll

  190. Semua Pembaca
    Jika berbicara kota medan jelas ada pendirinya … tak terbantahkan dan tak terelakkan… !! selamata berpuasa….!!

  191. Kelihatannya kita memerlukan ahli sejarah, ahli antropologi, dan banyak ahli lainnya untuk upaya meluruskan identitas “batak” ini, supaya tidak terjebak dalam pendapat pribadi yang kesan subyektifnya terasa sekali. Mohon kepada yang kompeten masuklah ke blog ini, berilah pencerahan berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Kalau perlu kita buat seminarnya atau mendanai penelitian tentang “batak” yang sejarahnya masih banyak di sisi kabur. Aku mulai nyumbang Rp 1juta…. lanjut kam impal, hamu lae, ito, dan semua. O ya….tetaplah bersemangat berdebat ya di blog ini…..

  192. SAOR SILITONGA :Kelihatannya kita memerlukan ahli sejarah, ahli antropologi, dan banyak ahli lainnya untuk upaya meluruskan identitas “batak” ini, supaya tidak terjebak dalam pendapat pribadi yang kesan subyektifnya terasa sekali. Mohonkepada yang kompeten masuklah ke blog ini, berilah pencerahan berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Kalau perlu kita buat seminarnya atau mendanai penelitian tentang “batak” yang sejarahnya masih banyak di sisi kabur. Aku mulai nyumbang Rp 1juta…. lanjut kam impal, hamu lae, ito, dan semua. O ya….tetaplah bersemangat berdebat ya di blog ini…..SALUT BUAT ANDA, MEJUAH-JUAH, HORAS.

  193. Bukhor Ginting: setiap peristiwa mempunyai latar belakang masing-masing. Kejadian yang kamu propose itu berhubungan oknum dari Batak bukan kata batak yang di tolak atau incident yang terjadi bukan atas penolakan kata batak yang melekat kepada Mandailing, tetapi dikarenakan oknum atau pelaku. Bedakan “oknum” dengan kata “batak”. Untuk lebih jelasnya kamu baca ini : Maringan Harianja ” Dermagaku biru, tanahku merah: Sekelumit tentang Tapanuli Selatan”. Setelah kamu baca buku ini, kembali ke saya dan ceritakan hasil bacaanmu. Jangan salah menginterpretasikan hasil bacaanmu.

    Salam
    Andin

    Selamat berpuasa teman-teman muslim

  194. @ANDIN LEO RANGKUTI
    Maksud Sdr Andin memberikan komentar karo dan Batak sambil mengucapkan kata selamat berpuasa itu apa minta dukungan dari kaum muslim begitu? apa Karo berarti yang muslim saja? tolong jelaskan apa Karo yang bukan Muslim itu Batak? saya rasa anda menurunkan inti pokok dari Muslim. jangan dicampur campur dong, anda mencemarkan predikat Muslim dengan mencampur Karo, Batak dan muslim, itu ibarat berpuasa sambil merokok

  195. setiap pro kontra ttg asal usul suku atau etnis so pasti berhubungan dgn oknum, bkn secara keseluruhan dari org di dalam suku tsb. perkenaan kata batak yg sudah mendarah daging kedalam beberapa suku/etnis akan melahirkan pandangan yg berbeda terhadap kata batak itu sendiri. sedikit masukan bagi saudaraku bhw tidak semua orang mandailing setuju dikatakan sebagai batak mandailing, demikian jg hal nya dgn masyarakat karo. jd menurut sy itu adalah hal yg wajar dan lumrah, sebab perbedaan pandangan ttg kata batak dalam sukunya masing2 mempunyai dasar dan argumen yg sebenarnya msh perlu di gali secara mendalam.
    selamat berpuasa juga buat saudaraku yg muslim, mejuah-juah, horas.

  196. @Andi Leo Rangkuti,seharusnya anda bisa membedakan mana yg di sebut Mandailing Dan Batak Mandailing,perlu anda tahu Suku Mandailing itu lebih tua usianya dr pd org Batak Toba yg di sebut2 mitos Si Raja Batak sbg induk dr semua suku Batak,jgn hanya berpaku pada sebuah Buku yg di dalamnya melekat sebuah Fiksi atau pendapat dr seseorang pribadi……….

  197. Halo Tengku Zein, saya sarankan kamu untuk baca buku diatas juga, itu bukan fiksi teman dan bukan juga pendapat dari pengarang. Buka pikiran jernih untuk menerima jawaban yang benar, walaupun pada akhirnya jawaban itu akan menyakitkan kamu. Kalau kamu masih menutup diri dengan pendapat mu sendiri kamu hanya akan lari di tempat, nggak sampai di tujuan. Kamu lelah, tegang, mengeluarkan banyak energi dan uang, yang pada akhirnya kamu emosi karena tidak mendapatkan apapun. Baca buku diatas dengan seksama dan kembali ke saya.
    @ Binsar Napitupulu : Kamu berpikirnya nggak matang ya, kok asbun gitu sih, atau kamu nggak tahu sekarang bulan ramadhan? Sekarang banyak teman-teman kita kan lagi puasa, apa salahnya kalau kita mengucapkan selamat puasa kepada mereka yang menunaikan puasa? Batak toba juga ada muslim, batak karo juga ada muslim dan demikian batak-batak yang lain, get this point? Saya nggak minta dukungan siapa2 teman.

    Salam
    Andin

    Selamat berpuasa kepada teman-teman muslim

  198. @ANDIN LEO RANGKUTI
    ia kalau selaamat berpuasa ya selamat berpuasa saja jangan ada embel embel Karo, Batak dll. itu yang namanya omong asal bunyi, atau sambil menyelam minum air, atau sambil menyelam tenggelam.

  199. Memang dari sejarah kita bisa baca bahwa Batak baru menjadi Bagian dari Indonesia setelah PRRI dijinakkan oleh Presiden Sukarno. Sebelum itu Indonesia belum bersatu, tetapi masih berupa preserikatan ( RIS) Negara Indonesia Serikat Yang memproklamirkan Batak adalah bagian dari indonesia adalah presiden Sukarno sendiri termasuk panglima2nya yaitu Jendral KH Nasution dsb. pada saat itu Indonesia masih terdiri dari 16 negara yang dipersatukan dengan perjanjian Renville, yang disepakati di Kapal Renville termasuk di dalamnya Republik Maluku Selatan, Jawa Barat dsb.
    Saya belum tahu apa saat itu Karo telah masuk Indonesia, atau bergabung dengan PRRI antau menumpang disana-sini yang mana yang berhasil. Dari perjanjian Renville tersebut dinyatakan bahwa Batak adalah bagian dari Indonesia. nah jelas Karo tidak disebut2 dalam perjanjian Renville, demikian Karo bukan bagian dari Indonesia, atau menumpang Batak menjadi bagian dari Indonesia. kalau mengikuti sejarah yang ddisepakati itu saya menjadi ragu apa Karo adalah bagian dari Indonesia

  200. mejuah juah bang binsar napitupulu.
    kenapa kam bilang karo bukan bagian dari indonesia?
    sekolahkan dulu ***** kam itu ya bang biar nyambung percakapan ini🙂

  201. kenapa siih sbk betul…dasar pada bloon katanya tradisi moderen tapi kolot,…tobalah yang bagus dia selalu membawakan nama batak nya,….klo karo apanya daerah lain aja tak tau apa suku karo taunya suku batak..tau kau pada..

  202. makanya kita harus saling bersatu,….kenapasii,.harus malu menyebutkan klo anda suku batak..pasti yang bertanyaakan menanyakan suku batak apakah anda,…baru kita menjawab apa suku kita… toba,karo mandailing,simalungun,dairi,angkola……..gitu aja kok repottttt,………..

  203. Hallo Everyone,

    Wah…ternyata di sumatera timur ada yang mengarah kearah kebodohan. Mohon kita instrospeksi diri masing-masing, Pasang telinga, buka mata, pakai hati
    Saya adalah keturunan karo asli di sumatera, adalah sekarang generasi ke 5 dari kakek buyutanku yang semuanya berada di area Medan Tuntungan, Saya tidak menapikan bawha Karo bagian batak atau bukan. Tapi memang dari Ayah dan Bolang saya tidak pernah mereka menyampaikan bahwa saya adalah Batak, yang sering saya dengar begini ” Itu ada tamu kita dari batak atau kalo ada tetangga yang merried bilangya begini ” Sianu erjabu aras kalak Teba (ntah pe simalungun) nake ” e enggo mberadal kata yang lainya. Jadi adalah wajar ada kekagetan kalo tiba tiba ada nama sebutan baru disematkan. Bagi yang menerima it’s okay, tapi bagi yang tidak menerima It’s okay. Itu hak setiap peribadi masing masing. Jka sesuatu dipaksakan pasti akan rusak atau hancur. Mari kita kembalikan saja ke asal yang sebenarnya.

    Tapi melihat perkembangannya begini yang tidak ada penyelesaianya dan sepertinya admin membiarkan komentar yang tidak layak, toh rasanya tak ada gunaya saya ikuti terus blog ini, Saya mengharagi Kekaroan saya begitu juga saudara saya dari etnis lainya. Namun pun demikian bayak juga komentar komentar yang bgus yang sifatnya membangun kebersamaan khususnya di Sumatera, anda bisa croschek dari marga marga mana mereka.Tidak ada yang superior atau inferior menurut saya. (kalo kita tidak paham coba belajar lagi)

    Terima kasih.
    Untuk Saudara saya yang melaksanakan Puasa saya ucapakan selamat menjalankan ibadah puasa dan salam damai untuk anda yang lainya.Mohon maaf jika ada yang tidak pada porsinya.Ok

  204. Tidak sependapat dengan A. Sebayang menyebutkan bahwa Batak di Perantauan di sebut banyak Unsur negatifnya.

    Yang terjadi sebenarnya adalah sbb:

    1. Tidak ada gading yang tidak retak
    2. Prinsip hidupnya adalah kesetia kawanan dan yang bertetangga kedekatannya
    melebihi hidup bersaudara dan rela berkorban.
    3. Mempunyai integritas yang tinggi, rasa kebangsaan yang tinggi karena punya
    prinsip kepada bangsa dan pemimpinnya walau dalam kondisi apapun.
    4. Adalah bukti nyata, komunitas tersebut bisa hidup rukun dengan tetangganya yang
    tersebar di seluruh pelosok tanah air tercinta ini; Itu pertanda bahwa semua suku
    perantau yang bisa hidup dengan berbagai daerah, suku ras dan agama adalah
    salah satu perekat pemersatu bangsa ini.
    5. Hidup Bangsa ku dan jayalah tanah air ku, Indonesia.

  205. Permisi……….. numpang lewat aja.!!!
    Ternyata persoalan yg di gemboskan oleh si-Juara Giinting (JG) pada wawancara Radio Nederland Wereldomroep tgl 11 Maret 2010, mendapat respon dan didiskusikan sampai bertahun-tahun dan sampai saat ini belum ada Kesimpulan.
    Dan kalau boleh sedikit saran ….. sebelum membahas topik “KARO bukan BATAK” sebagaimana yg dimaksud oleh “JG” coba dengar dengan secara seksama jalannya wawancara…. saya sendiri sampai harus mendengarkannya berulang-ulang…
    (untuk download audionya silahkan ke link ini: http://content1d.omroep.nl/1b0e2512315921a95c65a8c0c905499c/5022b3e6/rnw/smac/cms/id_dimensi_karo_20100311_44_1kHz.mp3)

    ada beberapa kesimpulan yg ku dapatkan :
    1. si-JG itu sama sekali tidak sedang memperjuangkan identitas KALAK KARO, akan tetapi sedang gugup untuk mempertahankan disertasi-NYA.
    2. Si-JG adalah orang munafik dan tidak punya prinsip, dia menginginkan ke-utuhan budaya KALAK KARO, akan tetapi musik karo yg ingin diperkenalkannya adalah music keyboard (sementara itu KALAK KARO tulen sangat bangga dengan alat musik tradisionalnya yg mempunyai ciri khas tersendiri dan tidak dapat ditemukan di daerah manapun di dunia ini — yaitu Keteng-Keteng)
    3. Dasar si-JG orang primitif….., dijaman Globalisasi sekarang ini setiap KALAK KARO yg LANDEK harus berpakaian minim ,,,,alasannya sih untuk mempertahankan kemurnian budaya Karo…..
    4,…..oooooo, rupanya JG cari sensasi di Luar Negeri…… nyari identitas kok jauh-jauh amat … dan ahirnya ,,,,hahahahaha…. mau putar musik promosi Melayu Deli malah lagu MINANG yg disodorkan……….MEMALUKAN..!!!!!

    Hanya ini yg perlu saya sampaikan…..
    Hendaklah kita waspada.
    Horas ma,
    Bujur ras mejuah-juah.

  206. @ silih N Simanjuntak, ok. sangat setuju saling bersatu ,orang Karo tidak pernah memisahkan diri dengan sukusuku lain di NKRI ini dalam arti hubungan sederajat,tapi harus kam tahu bahwa orang Karo punya identitas ciri khas,punya bahasa ,punya adat mandiri. Orang Karo tidak bisa dipaksakan berbudaya Toba,bahasa Toba,adat istidat Toba. Kalau Karo mengatakan dirinya sebagai suku Batak apa tidak makin kacau dan membingungkan. Taruhlah kemana mana orang Karo mengatakan dirinya suku Batak, Gereja nya namanya Gereja Batak Protestan(GBP) maksudnya gereja Karo, dia menyatakan aku suku Batak maksudnya Karo,inilah identitas kami orang Batak maksudnya ini identitas kami orang Karo,inilah aksara Batak maksudnya aksara Karo, inilah tarian (landek) Batak maksudnya tarian Karo, ada kamus bahasa Batak- Indonesia maksudnya bahsa Karo- Indonesia, inilah bahasa Batak maksudnya bahasa Karo, adat istiadat Batak maksudnya adat suku Karo Mergasilima rakut sitelu tutur siwaluh. Sementara hal demikian telah dilakukan Toba seperti; HKBP, Siraja Batak,Opera Batak, kamus bahasa Batak dst… Dalam sehari hari aku sering jumpai teman teman dari Toba mengatakan ” bisa ngomong Batak ito/lae, ngomong Batak saja kita” maksud kata Batak tsb adalah Toba,bahasa Karo bukan dianggap sebagai bahasa Batak.

  207. b parningotan anda pintar tp emosi dan egois anada mengalahkan kepintaran anda,denny banjarnahaor batak memang hebat tp tidak termasuk anda,anda patatku pe lang,connorvan anda punya hobi agresi tp g punya amunisi dan nyali.

  208. Saya bukan bermaksud menganggap Karo bukan Indonesia, tetapi kata2 Indonesia, Polinesia, Micronesia adalah kata2 yang dicanangkan oleh para penjelajah jaman dahulu antara lain Macopolo, Colombus dsb, dan mereka itu adalah kelompok kolonialis. Nama Indonesia memang baru diakui bangsa Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan walaupun dalam pelaksanaan proklamasi tersebut belum ada wakil2 rakyat yang mewakili setiap daerah, tetapi umumnya hanya diwakili oleh individu pejuang2 saat itu. Zaman Sriwijaya maupun Majapahit belum ada nama Indonesia, jadi kita semua Batak, Karo dll menjadi bangsa indonesia hanya berdasarkan kesepakatan yang secara resmi atau tak resmi diakui oleh semua pihak, baik sukarela, ikut2an maupun terpaksa.
    Nama Batak memang telah berakar di beberapa tempat, seperti kita ketahui di Filipina juga ada suku batak dengan struktur bahasa yang sangat mirip dengan bahasa Batak. Bahasa Tagalog juga memiliki struktur sangat mirip dengan bahasa Batak, dengan awalan ma, pa dsb. jadi sangat diragukan kata Batak berasal dari Mamatak Hoda seperti tulisan pengarang terdahulu. yang lebih Aneh ada pula bangsa Batak di Bulgaria. kalau di lihat penyebaran Karo dan Batak tentu saja Batak jauh lebih meluas, Jelas Kerajaan Batak dahulu dilihat peninggalannya jauh lebih meluas sampai ke Filipina dari kerajaan Haru. Saya tidak telalu percaya hanya kepada penulis2 tapi kita harus juga melihat peninggalan2 yang ada

  209. Mejuah-juah
    Horas

    Banyak saudara kita dari Toba salah memahami pembahasan tentang “KARO BUKAN BATAK” ini sehingga banyak komentar dari saudara kita Toba yang merasa di lecehkan, Namun sebenarnya tidak ada pelecehan kalau kita paham permasalahannya. Orang Karo mengatakan dirinya bukan bagian dari Batak bukan bermaksud untuk menghina orang Batak, tapi orang Karo bemaksud untuk menyatakan kebenaran indentitas suku Karonya dengan menyatakan Karo adalah Karo bukan Batak. Dan pernyataan “Karo bukan Batak” ini perlu dikaji dari segi keilmuan. Apakah pernyataan tersebut benar atau salah, silahkan buktikan sbb :

    – Bagi orang Karo silahkan buktikan bahwa Karo bukanlah bagian dari Batak?
    – Bagi orang Toba silahkan buktikan Karo adalah Batak?

    Karena pernyataan Karo bukan Batak masih banyak yang kontra dari orang Toba, jadi saya menunggu penjelasan selanjutnya dari yang berilmu. Siapa tahu saudara kita dari Toba benar dan bisa menjelaskan dengan bukti yang terpercaya bukan dengan dongeng bahwa karo adalah Batak. Atau mungkin saja jangan-jangan nanti kita sudah dapat kesimpulan bahwa kita sebenarnya bukan orang Indonesia tapi kita sebenarnya orang Spanyol. Lumayan kan kecipratan Juara Dunia Sepak Bola.. Hahaha…
    Walapun saya merasa saya orang Karo bukan Batak dari apa yang saya rasakan, saya lihat dan saya alami dari tanah lahir saya Tanah Karo dan dari ajaran nenek moyang saya, tapi saya tidak akan mengklaim kebenaran saya itu karena saudara saya dari Toba memprotes pernyataan Karo bukan Batak itu. Jadi kita tunggu penjelasan dari saudara kita orang Toba, Orang awam seperti saya baiknya sebagai pembaca baik saja. Dan bagi orang Toba yang tidak mengerti Karo jadilah seperti saya.

    Cocok kita rasa?

    Satu lagi :
    Saya lahir di Tanah Karo, dan kalau ada pernyataan dari saudara kita orang Toba menyatakan bahwa hanya segelintir saja orang Karo tidak mengakui dirinya Batak adalah SALAH BESAR. Kampung saya Kuta Bangun kecamatan Tiga Binanga, dari yang saya alami, rasakan dan saya lihat bahwa 100% orang kampung saya merasa bukan Batak.
    Silahkan anda cek ke Tanah Karo!!

  210. Menarik baca “cuplikan” dari Thesis Pak JG dan menarik baca kommen yg ada meski belum semua kommen saya baca.
    ingin kasi pendapat saja.
    menurut saya bhw awal pembuatan thesis tsb tidak mengandung niat untuk memecah belah yg sudah bersatu. Karo disebut juga rumpun batak, dan kita semua menjadi indonesia. tp kurangnya analisa tentang impact dari thesis dikemudian hari itu tidak dilakukan dengan arif oleh Pak JG.
    sudah sejak lama bahwa Karo, terima atau tidak terima, disebut sebagai Batak Karo oleh nenek moyang bangsa Karo. apakah itu akan dimentahkan lagi?
    tolong diperhatikan jika ingin meneruskan penelitian tentang antropologi dan budaya ini supaya dikemas sedemikan rupa agar tidak memicu devide et inpera dengan metode yang lebih modern.
    Tarombo yang pernah saya dapat dari Bapak saya yang seorang guru sejarah bahwa Sitanggang itu adalah keturunan Si Raja Batak. Si Raja Batak punya keturunan dan keturunan hingga lahirlah Marga Munte. Sebagian marga munte menyebar ke daerah Karo yang sekarang kemudian punya keturunan Marga Ginting.
    Bapak Saya memang bukanlah seorang ahli antropologi tapi beliau mempelajari sejarah yang ada dan akhirnya selama ini saya jadi tahu kalau Ginting itu adalah bagian dari marga Saragi (Toba/Simalungun), Saragih (Karo).
    terlepas dari benar atau tidak, informasi dari Bapak saya membuat saya jadi merasa lebih dekat ketika bertemu dengan saudara2 etnik Karo yang menyebutkan dirinya keturunan dari marga Saragih.

  211. Sejarah kerajaan suku(karo/haru) pada abad 12-sampai abad 13 pada awal suku karo be…rnama haru yg dikenal ARU ,dilihat dari kerajaan ini cukup besar pada masa itu.bisa dikatakan lebih besar dari kerajaan batak ,karena kerajaan majapahit sangat memperhitungkan kerajaan haru.sampai-sampai kerajaan majapahit membuat sumpah yaitu sumpah palapa.yang berisi menaklukan kerajaan-kerajaan besar yg ada di sumatra,jawa,kalimantan ,sampai irianjaya .ya salah satunya ya kerajaan karo(haru) ,karena pada masa itu kerajaan haru berkembang pesat di wilayah sumatra utara .Tapi sayang, nya kerajan haru jatuh ditangan kerajaan aceh

    Setelah diserang oleh laskar Aceh pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar yang berkuasa tahun 1537-1568, (bukan Iskandar Muda) pada tahun 1564, nama ARU tidak pernah diberitakan lagi. Serangan Aceh yang kedua ini adalah serangan yang terhebat dimana seluruh kerajaan ARU habis dibakar dan yang tersisa hanyalah Benteng yang masih eksis hingga sekarang. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) dimana peperangan yang terjadi pada masa sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat pertempuran pada masa Sultan Al-Kahar. Lagi pula, pada masa kepemimpinan Iskandar Sejarah tersebut sudah menjadi legenda pada masyarakat melayu deli dan karo yang disebut kisah(PUTRI HIJAU). Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: ”Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul ”Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara .Jatuh kerajan haru ditangan kerajaan aceh,semua jalur pemeritahan haru di ambil alih kerajaan aceh. SEJARAH KEBATAKAN PADA ORANG KARO kira-kira pada tahun 1900an Belanda kewalahan melawan Musuh Berngi(malam) ini karena keberanian dan strategi mereka. Belanda kehilangan akal bagaimana menaklukkan pasukan sumpitan ini, sampai akhirnya Belanda menemukan taktik yang lain, yaitu dengan menginjili Orang karo supaya tidak lagi melawan. Pengusaha Belanda bekerja sama dengan badan penginjilan NZG untuk menjinakkan orang karo, karena berperang atau melalui senjata Belanda selalu kalah. Penginjilan yang berawal pada tahun 1890 ini berhasil menjinakkan gangguan musuh berngi(malam) namun dapak positifnya orang Karo pun menerima Injil. Upaya penginjilan ini adalah bukti tak terbantah bagaimana Belanda sangat mengakui kehebatan pasukan Orang Karo.pada masa itu daerah batak sudah dikuasi sepenuhnya oleh belanda melalui penginjilan pada masyarakat batak (HKBP) . dan selanjutnya terjadinya penginjilan di tanah karo. akhirnya kerajan aceh lepas tangan untuk membantu melawan belanda didaerah karo. karena aceh telah mendengar bahwa karo mau ikut dengan belanda .karo tidak lagi mendapat bantuan dari aceh dan selamanya,belanda membuat nama karo batak( karo menjadi rumpun batak).karena aceh tau hanya daerah kekuasaanya adalah daerah haru(karo).dan disitu lah tertangkapnya pahlawan-pahlawan orang karo. pada mula batak hanya satu (toba,tapanuli ini adalah nama daerah bukan nama suku)yang menetap di daerah toba,tapanuli adalah suku batak.suku karo dianggap suku batak termuda .di lihat dari sejarah memang melanda lebih dulu menguasai daerah batak,disitu lah basis kebatakan berawal dan meyebar ke tanah karo.kita sering mendengar bahwa batak menjadi 5 bagian yaitu tertua toba ,tapanuli,mandailing,simalungun,pakpak,dan terahir adalah karo(haru).itu hanyalah politik belanda untuk mempermudah masuk ke tanah karo .jadi intinya adalah karo bukan lah bagian dari batak itu hanya lah meralaskan politik belanda TANAH KARO(taneh karo) penjabaran nama tanah karo bukan lah main-main berawal dari kerajaan aru(haru\karo) bisa kita lihat dari nama daerah dan sekaligus daerah batas tanah karo

    Kota MedanPendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.Kota BinjaiKota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari kota Medan sebagai Ibu kota provinsi Sumatera Utara Kabupaten DairiWilayah kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian kabupaten Dairi yang merupakan Taneh Karo:• Kecamatan Taneh Pinem• Kecamatan Tiga Lingga• Kecamatan Gunung Sitember Kabupaten Aceh TenggaraTaneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:• Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)• Kecamatan Simpang SimadamDan bukan disitu aja nama tanah karo yg lebih populer, tapi pas belanda masuk ketanah karo .Belanda membuat perkebunan tembakau daerah tanah karo ,suku karo selalu merusak tanaman belanda tersebut. sampai2 belanda kewalahan menghadapi suku karo pada masa itu.nenek moyang kita rela kehilangan nyawa untuk mempertahankan nama tanah karo . terimakasih(bujur)

  212. KARO tetaplah KARO
    orang KARO yang pernah SAYA TEMUI diseluruh jagat raya ini tidak ada yang mau dikatakan bahwa dirinya adalah orang batak.
    JELASSSSS…………

    mejuah-juah kita kerina…
    bujur..

  213. Maccammananya bpk/ibu R Sebayang ini, jangan terlalu luaslah sampai ke jagad raya. Kalau semua negara dan tempat di bumi ini sudah anda kunjungi, mungkin saja.

    Ada beberapa teman saya orang Karo, ada yang lahir, besar, dan tinggal di Tanah Karo dan ada yang di luar Karo yang mengatakan bahwa mereka adalah Batak Karo (suku Karo itu masuk rumpun suku Batak). Barangkali mereka itu bukan asli orang Karo, ya?

  214. KARO TETAP LAH KARO, TINGGAL LAH BATAK, GOOD BYE BATAK….
    Seperti yang dibilang teman2 yang lain, mati pun jadi demi identitas, hahahahahah

  215. Jangan campurkan emosi dengan komentar anda, Ms Bunga Malam. Anda/kalian tidak perlu sampai mati mempertahankan identitas itu karena tidak ada pihak yang memaksa anda untuk melepaskannya.
    Terlalu banyak saya lihat komentar di postingan ini yang beranggapan seolah olah pihak Batak Toba (?) memaksa kalian harus masuk dalam etnis Batak. Semua komentar dari pihak Batak Toba (tetap dulu saya gunakan istilah Batak Toba itu ya, karena belum ada keputusan final bahwa hanya Tobalah yang etnis Batak) adalah berupa penjelasan disertai bukti-bukti yang mungkin mendukung pendapatnya bahwa suku Karo termasuk etnis Batak. Sama sekali tidak ada pemaksaan disana.
    Percayalah kawan, pendapat dan komentar dalam forum ini tidaklah sebagai penentu masuk tidaknya suku Karo sebagai etnis Batak. Jangan anda itu terlalu kuatir akan kehilangan identitas sebagai orang Karo sehingga berminat berjuang sampai mati hanya gara gara pendapat-pendapat dalam forum ini.

  216. Bunga Malam, kamu kan orang Minang, kamu jangan memecah belah ya, saya tahu identitas kamu. Dulu kamu mengatakan kamu keturunan Alexander The Great padahal ku
    lit kamu sawo matang sedang Alexander The Great orang bule yang makan keju. Dulu kamu menghina Batak, sekarang kamu memecah belah. Apa maksud kamu….???

  217. Kok semangatnya sdr. Bunga Malam sangat menggebu-gebu, matipun jadi demi identitasnya. Pengertian saya terhadap pendapatmu sangat tidak masuk akal tidak ada dari pihak manapun yang mengganggu identitasmu hanya perasaan mu saja yang menghantui dirimu. Janganlah mau mati sia-sia.

  218. Menurut riwayat Hamparan Perak salah seorang putera dari Sisingamangaraja bernama Tuan Si Raja Hita mempunyai seorang anak bernama Guru Patimpus pergi merantau ke beberapa tempat di Tanah Karo dan merajakan anak-anaknya di kampung–kampung: Kuluhu, Paropa, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji, dan Durian Kerajaan. Kemudian Guru Patimpus turun ke Sungai Sikambing dan bertemu dengan Datuk Kota Bangun.
    Menurut Datuk Bueng yang tinggal di Jl. Kertas Medan dia mempunyai dokumen tua dalam bentuk lempeng–lempeng. Menurut trombo yang ada padanya Raja–raja 12 Kuta (Hamparan Perak) adalah :
    Dinasti Sisingamangaraja I, setelah menghilang dari Bakkara.
    1. Sisingamangaraja, bernama aseli Mahkuta alias Manghuntal. Lahir di Bakkara, dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M. Mempunyai dua anak, yang pertama adalah Manjolong, menjadi Sisingamangaraja II di Bakkaara dengan gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan memerintah 1550 s.d 1595 dan yang kedua adalah:
    2. Tuan Siraja Hita, Di sana ia memperoleh tiga orang anak. Anak yang nomor dua menjadi raja di Kerajaan Pekan. Yang bungsu menjadi raja di Kerajaan Balige, Toba dan yang tertua bernama Patimpus alias Guru Patimpus.
    3. Guru Patimpus, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590, mendirikan kota Medan. Puteranya adalah, (1) Benara, Raja di Benara (2) Kuluhu, Raja di Keluhu (3) Batu, pendiri kerajaan Batu, (4) Salahan, Raja di Salahan (5) Paropa, Raja di Paropa (6) Liang, Raja di Liang Tanah (7) Seorang gadis yang menikah dengan Raja Tangging (Tingging) (8) Janda yang menetap di Aji Jahe (9) Si Gelit (Bagelit), Raja di Kerajaan Karo Islam Sukapiring, daerah antara Medan sampai ke pegunungan Karo (10) Raja Aji, yang menjadi perbapaan Perbaji, (11) Raja Hita yang menjadi raja di Durian Kerajaan, Langkat Hulu (12) Hafidz Tua dengan panggilannya Kolok, tidak menjadi raja tapi ulama dan Hafidz Muda dengan panggilannya Kecik yang menjadi pengganti Guru Patimpus di Kerajaan Medan.
    4. Raja Hafidz Muda
    5. Raja Muhammadsyah putera Hafidz Muda, makamnya terletak di dekat makam puteranya Masannah, daerah Petisah Medan. Mempunyai tiga putera. Yang pertama adalah Masannah yang dikenal dengan Datuk Saudagar, dia menetap di Pulau Bening dan keturunannya berada di sana. Makamnya di samping makam ayahnya Muhammadsyah yang disebut ‘Makam Melintang’, anak yang kedua adalah Pangeran Ahmad yang keturunanya menetap di Petisah, Medan dan yang ketiga adalah Raja Mahmud yang menjadi pengganti Raja Muhammadsyah. Saat ini pusat kerajaan yang meliputi 2/3 dari kerajaan Patimpus dipindahkan ke Terjuan. Dia dimakamkan di sana. Raja Muhammadsyah memperlua kerajaan ke kawasan baru yang bernama Kuala Bekala dan Terjun. Kedua daerah ini kemudian disebut Marhom Muhammadsyah Darat.
    6. Raja Mahmud putera Muhammadsyah, mempunyai dua putera mahkota. Pertama Pangeran Ali dan yang kedua Pangeran Zainal yang memilih tinggal di Klambir Tunggal dan kuburannya ada di sana.
    7. Raja Ali putera Mahmud, memindahkan ibukota ke kawasan Buluh Cina. Kerajaan mulai makmur dengan perdagangan. Penghasilan kerajaan berasal dari ekspor lada besar-besaran ke Penang/Melaka. Mempunyai satu putera mahkota, Banu Hasyim dan satu puteri, Bujang Semba yang menikah dengan Sultan Panglima Mangedar Alam dari Kesultanan Deli. Masuknya pengaruh kekuatan Aceh dan orang-orang melayu yang berciri khas India Dehli. Kesultanan Deli sendiri didirikan oleh Sri Paduka Gocah Pahlawan Laksamana Khoja Bintan.
    8. Raja Banu Hasyim putera Ali, menikah dengan puteri Manyak, kakak dari Datuk Sunggal Amar Laut. Dia memperluas kerajaan sampai ke kawasan Kampung Buluh. Mempunyai tiga anak. Pertama adalah Sultan Sri Ahmad, yang kedua adalah Sri Kemala, puteri yang menikah dengan Sultan Osman I dari Kesultanan Deli dan yang ketiga adalah Sri Hanum, seorang puteri yang menikah dengan Pangeran Kesultanan Langkat, Musa.
    9. Sultan Sri Ahmad putera Banu Hasyim. Pusat kerajaan di pindahkan ke Pangkalan Buluh. Kerajaan Karo Islam mulai tergeser karena menguatnya Kesultanan Deli yang didukung oleh pihak Imperium Kesultanan Aceh. Sultan pernah menerima tamu bernama John Anderson pada tahun 1823. Kerajaan Islam Karo akhirnya takluk ke Kesultanan Deli dan Sultan akhirnya masuk menjadi pembesar Kesultanan Deli yang bergelar Datuk Panglima Setia Raja Wazir XII-Kota. Pemerintahannya di bawah Kesultanan Deli akhirnya dipindahkan ke Hamparan Perak. Dia meninggal dalam usia 119 tahun
    10. Datuk Adil
    11. Datuk Gombak
    12. Datuk Hafiz Harberhan
    13. Datuk Syariful Azas Haberham. Riwayat Hamparan Perak ini pernah disalin ke dalam bahasa Belanda dalam “Nota Over De Landsgrooten van Deli”, juga dalam “Begraafplaatsrapport Gementee Medan 1928”

  219. wahhh smanagt bgt neh klo bahas perbedaan…ckckck
    mnurut saya suku yg ada di sumut itu gk ada keterkaitan secara garis keturunan..
    hanya saja krn suku toba,karo,simalungun,pakpak..dll brada di daerah yg berdekatan terciptalah silsilah mengganggap beberapa marga dr stiap suku itu sbagai kluarga mreka..
    klo jaman skarang tuh dikenal dgn saudara angkat kali yahh…hehehe
    tp apapun kbenaran dr sejarah nya,smua kita yg ada di muka bumi ini tetap lah bersaudara…
    skrg trgntung kt menjadikan perbedaan sbagai jln damai atw sbgai jln untuk perang…
    peaceeee./….

  220. Mejuah-juah kita kerina.

    Tuhu melala enggo enda komenta2ta kerina tentuna guna muat simehulina nge krina.Sada enda litnge mengganjau ibas pusuhku tentang kata suku batak.Adi menurutku,labo lit suku batak tapi bangsa Batak.Me enggome kita mengerti kata bangsa batak ningen e? Adi suku masing2 ada suku karo,suku teba dll.Emaka ulanai sikataken kalak batak langsung saja kataken sukuna.
    Sibar em bas aku nari..

  221. Kalau di Toba sya disebut orang Sigumpar, atau orang lain disebut orang Samosir dll, kalau di Batak saya disebut orang Toba, kalau di Indonesia saya disebut orang Batak, kalau di Amerika saya disebut orang Indonesia, karena orang Amerika tidak tahu Toba atau Karo, BArangkali kalau sudah di Planit Mars nanti kita disebut orang Dunia. dan kita tidak perlu protes dalam hal itu. Orang Karo, ataupun Sunda di Amerika selalu menyebut dirinya orang Indonesia kan.

  222. batak adalah toba,humbang,hasundutan,samosir,silindung,angkola,sebagian mandailing. yang lainnya bukan batak. seperti karo,simalungun dan pakpak.

  223. Barangkali lebih tepat dikatakan Toba dan Karo adalah suku bangsa yang “serumpun”,dilihat dari: marga, adat istiadat, letak geografis, tulisan,dll. Serumpun tidak berarti harus sama. Indonesia dan Malaysia adalah bangsa yang serumpun dan kedua bangsa sepakat akan hal itu. Masuk akal kalau dikatakan Jepang, Korea, dan China adalah bangsa serumpun dilihat dari budaya, tulisan, warna kulit, geografis,dll. Tapi Korea tidak mau kalau dikatakan sama dengan Jepang demikian juga China.
    Untuk melihat perbedaan lebih jauh antara Karo dan Toba barangkali perlu dilakukan penelitian lebih mendalam. Informasi yang dibuat oleh para pendatang asing sebelum kolonial tidak dapat dijadikan sebagai acuan mutlak karena sangat terbatas dan tidak lengkap akibat situasi pada saat itu: transportasi, komunikasi, bahasa, jarak, medan, dst.
    Dilihat dari fakta bahasadan budaya: Karo, Alas(Aceh Tenggara), Pak Pak disatu pihak, lebih ada kesamaan dibanding dengan: Toba, Mandailing, Angkola, Simalungun di pihak lain. Kalau ada interaksi (pendatang) dari Toba, Simalungun, Pak Pak, Alas, adalah suatu yang wajar karena wilayahnya berbatasan secara geografis.
    Dengan tidak mengurangi rasa hormat, tarombo yang ditulis oleh WM Hutagalung seperti disebutkan diatas, menurut saya tidak dapat dijadikan sebagai kebenaran mutlak karena mungkin penulisannya masih penuh keterbatasan, kurang penelitian akibat keterbatasan pada masa itu. Kesamaan Karo dan Haru (Kerajaan Haru) juga perlu diteliti karena data dan fakta yang masih terlalu minim. Saya lebih cenderung setuju dengan pendapat sebelumnya bahwa ada sebagian orang Karo dari “gunung” yang mengabdi kepada kerajaan Haru.
    Sejalan dengan kemajuan zaman dan tantangan global, persaingan antar manusia termasuk etnis pada saat ini semakin keras, barangkali itulah salah satu pemicu adanya “polemik” ini.

    Terima kasih.

    Ronald Tarigan

  224. maaf sebelum nya saya sebagai orang karo juga kurang sependapat dengan saudara2 yang beranggapan bahwa karo adalah sub dari batak. mengapa ? sebab tuhan menciptakan kita dari sepasang manusia pertama di bumi dan tanpa kita sadari nenek moyang kita itu berkembang dari masa kemasa memecah menjadi bersuku suku dan berbangsa bangsa yang kesemuanya tidak satupun yang sama atau sama persis . sampai pada masa kita sekarang ini,kenapa saya kurang setuju ?…. Jwb: sebab yang namanya suku, itu sudah pasti berbeda antara 1 dg yang lain. kalau dilihat dari bukti kenapa orang afrika bisa jauh berbeda dari segi warna kulit dan bahkan fisik dengan orang barat .padahalkan nenek moyang nya kan 1 , nah mungkin benar batak ada hubungannya dengan karo tapi saya rasa hubungan itu jauh sebelum terbentuknya suku karo dan batak alias belum bersuku/ belum tau suku apa. namun setelah suku suku itu terbentuk mereka memang sudah berbeda kian namun wilayahnya dekat .jadi karo adalah karo dan batak adalah batak ,sebab masing masing mempunyai kebudayaan tersendiri, sifat yang berbeda antara kedua suku, adat sendiri, masakan khas tersendiri, bahkan bahasa tersendiri, bahkan juga tidak tampak kedekatan dari segi kekeluargaan antara masing masing tanah dan interaksi keduanya , baik tano batak maupun tanah karo, dan tidak adanya bukti bukti konkrit dan jelas literaturnya serta kaitan kaitannya(kronologi) antara karo dengan batak merupakan alasan kenapa karo bukan batak, karena yang di artikan sesuku itu adalah memiliki kesamaan hampir dalam semua unsur. namun disini saya hanya memperjelas saja, dan memang tuhan menciptakan kita bersuku suku agar kita kita berusaha untuk bersatu dan saling menghargai satu sama lain.

  225. Setuju dengan pengelompokan yang dibuat Roy Simatupang dan sangat setuju dengan pendapat Ronald Tarigan mengenai kategori ‘Serumpun’. Sebab mengatakan Karo dan Batak tidak ada hubungan samasekali, juga tidak pas. Bagi saya istilah Karo Bukan Batak sudah final, pendapat ilmuwan dan peneliti yang mendukung ttg hal itu sudah cukup (terutama Daniel Perret dkk). Lagipula namanya ilmu sosial tentu ada penyimpangan, wong ilmu pasti aja ada penyimpangan kok. Soal kata “Batak” di GBKP saya menyebutnya sebagai “insiden” sejarah apapun latarbelakangnya. Ada kemungkinan dikemudian hari kata “Batak” tersebut akan diganti atau dicabut. Perlu diketahui bhw jemaat GBKP sekitar 300 ribuan org yakni sekitar 30% dari populasi org Karo sekitar 1 juta jiwa di seluruh dunia, artinya suara GBKP tdk identik dengan suara org Karo. Terhadap pendapat yang tidak sopan bahkan cederung memaki-maki Sdr Juara R Ginting yg telah menyuarakan “Karo Bukan Batak”, saya ingin menyampaikan bhw anda tidak gentle. Juara R Ginting sbg ilmuwan telah melakukan setidaknya sebuah analisis sebelum sampai pada kesimpulan tersebut. Kalau anda tidak setuju bikinlah analisis anda dan publikasikan dengan kata-kata yg lebih sopan.

  226. Saya sangat setuju dengan pendapat sdr Ronald Tarigan. Saya tidak terlalu percaya dengan Tarombo yang menyatakan semua orang Batak adalah keturunan patriakist dari Siraja Batak. kalau kita telaah Marga2 yang ada di Batak ssendiri ada yang berdasarkan nama kampung seperti Hutahayan, Hutasoit, Hutagalung, ada yang berdasarkan nama gunung, contoh Dolok Saribu. Ada yang karena satu dan lain hal mempunyai marga yang sama dengan di India atau Srilangka. Contohnya Marga Gurusinga di Karo sama dengan Gurusinghe di Srilangka. Marga Pane di Batak sama dengan marga Pane di India/Srilangka, belum lagi marga2 seperti Brahmana dsb. Jelas Asal usul bangsa tidak sesederhana dengan yang tertulis di buku2 yang beredar saat ini. Saya sangat setuju dengan istilah “serumpun” yang diucapkan Sdr Ronald Tarigan. untuk melihat asal usul kita juga harus melihat warna kulit, bentuk tubuh, rambut, ukuran badan selain yang telah banyak yang di analisa yaitu bahasa. Sebagai contoh kita tidak dapat mengatakan bahwa kita keturunan Alexander The Great kalau dia bermata biru dan berkulit putih sedang kita berkulit sawo matang. Selain dari itu juga kita harus menganalisa timbal balik, sebagai contoh bangsa2 Pacific seperti Cook Island, Tonga, New zeland Samoa, mereka mempunyai struktur tubuh yang identik dengan kita tetapi dengan ukuran lebih besar. Setelah diteliti lebih mendalam ternyata itu dikarenakan oleh jenis makanan utama yang berbeda. Kita lihat Orang Arab mempunyai bentuk hidung yang umumnya mancung dan bengkok, ternyata unta juga begitu, jadi ternyata mereka masih sama hanya karena hidup di gurun pasir yang berangin kencang yamg berpasir, bentuk hidung harus beradaptasi. Jaman dahulu tidak ada Tiket PP alias pulang pergi, apabila seseorang atau kelompok berpindah ke tempat klain umumnya mereka beradaptasi dengan bangsa setempat. Bila pendatang berjumpah banyak, maka bahasa pendatang mempengaruhi bahasa setempat, bila pendatang minoritas, pengaruhnya minim. Mengenai asal usul ini memang rumit. Sebagai contoh di Filipina ada suku Batak. Apakah suku batak berasal dari Filipina? atau apakah suku Batak Filipina berasal dari Sumatra, atau keduanya berasal dari tempat lain…… yang paling kecil kemungkinannya adalah namanya kebetulan sama2 bernama Batak. Banyak pula motifasi penulis yang mengatakan berbeda karena tidak mau disamakan oleh sebab satu atau lain hal. Tetapi ini juga hal yang umum, sebagai contoh banyak orang batak dari kampung sekolah ke Bandung ,,,, dan sesudah beberapa bulan di Bandung sudah tidak mau disebut Batak lagi karena dia beranggapan Bila menyebut diri Batak seperti terkebelakang, atau dari desa atau disamakan dengan orang jalanan atau anggapan lain. Memang hal ini tidak ada salahnya. tetapi bila ini terlalu banyak bisa memngubah opini masyarakat tentang Batak sendiri, atau sebaliknya karena kuualitas Batak yang menyebabkan mereka tidak mau disebut Batak, tetapi bagai mana pula kualitas mereka sendiri.

  227. Karo???? ahhh ga penting !!! Terserah deh mau nganggep Batak atau tidak, yang jelas silahkan saja menganggap diri kalian (orang karo,red) adalah suku dan etnis tersendiri..

    yaaa.. nama nya juga komunitas masyarakat yang terpisahkan, makanya ga mau terintegritas.. wajaaaar koq !!! Pemukiman nya aja di antara 2 gunung dan akses nya jauh sekali dengan sub etnis Batak yg lainnya.

    Mejuah juah.. jauh.. jauh lahhhh..

    HORAAASS !!!

  228. jd perdebatan yg seru,jd sekarang siapakah org batak itu sebenarnya??????
    siapa aja orang batak???
    apa ciri khas org batak,,,,
    ini ada;lah masalah yg perlu kita pecahkan sekarang..

  229. Sekilas tentang Karo, Karo dibagi menjadi beberapa kelompok, sebagaimana yang Gobatak kutip dari Sejarah Kompasiana, Karo terdiri atas Karo Gugung yang mendiami gunung, Karo Jahe yang mendiami dataran rendah, sementara Karo Langkat mendiami wilayah pesisir, dan ada Karo Singkil yang malah tidak pernah dianggap Batak. Selain itu, setelah mengalami pembauran dan migrasi ke daerah Melayu, terbentuk pula sebutan baru untuk mereka, yaitu Karo Maye-Maye.

    Orang Batak memang terkenal sebagai perantau ulung, sehingga saat ini, bangsa Batak telah menyebar di seluruh dunia. Namun demikian, Karo punya alasan sendiri yang mendukung bahwasanya Batak dan Karo memiliki nenek moyang yang berbeda.

    Merujuk pada artikel sebelumnya, Gobatak telah merangkum berbagai versi mengenai asal usul nenek moyang orang Batak. Terlepas dari mitos yang tersebar di masyarakat, diperkirakan Si Raja Batak dan rombongannya tiba di Gunung Pusuk Buhit sekitar tahun 950-1200. Sementara, pada waktu yang bersamaan, muncul pula Kerajaan Haru. Menurut catatan sejarah, Kerajaan Haru telah ada bersamaan dengan hadirnya Kerajaan besar di Indonesia, Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka, dan Aceh. Bahkan, konon Kerajaan Haru telah ada sejak abad 1 Masehi, diperintah oleh seorang raja bernama Pa Lagan, nama yang berasal dari bahasa Karo sebagaimana yang Gobatak kutip dari Wikipedia. Bahkan Putri Hijau, putri dari kerajaan Haru memiliki nama asli Seh Ngena boru Sembiring Meliala. Kerajaan Haru memiliki banyak persamaan kata dengan Karo. Nah, bagaimana mungkin Si Raja Batak yang muncul pada tahun 1200 adalah merupakan nenek moyang dari Karo, sementara Kerajaan Haru telah lebih dulu ada? Perlu diingat, orang Batak adalah semua keturunan Si Raja Batak.

    Menilik dari sisi fenotip-nya, kita bisa melihat sendiri perbedaan yang ada antara Batak dan Karo. Dialek Karo terbukti berbeda dengan dialek Batak. Bahkan kosakata dalam bahasa Karo kedengaran berbeda dengan subsuku Batak yang lainnya. Tak cukup hanya disitu, Karo masih menyimpan segudang perbedaan yang kadang terlupakan. Karo adalah kesatuan etnis dengan “kekerabatan” sebagai pengikatnya. Sementara, Batak dipersatukan oleh ikatan darah. Tentang hal ini akan kita bahas selanjutnya.

    Secara genotip, adalah sulit untuk menentukan apakah Karo merupakan bagian dari Batak melalui tes DNA. Berbagai bangsa telah membuktikan tes DNA merupakan kajian ilmiah yang paling ampuh untuk menentukan turunan dan keturunan, namun akan sulit bekerja pada Batak dan Karo.

    Karo sendiri telah menyebar hingga ke perbatasan Nepal-India. Tentulah pula selama berabad-abad, orang Karo telah mengalami kawin-mawin dengan suku bangsa yang ada di sekitarnya. Hal ini menjadi pemicu kesulitan yang pasti akan terjadi untuk menentukan apakah Karo bukan bagian dari Batak. Karena, untuk memecahkan hal itu, haruslah ditemukan seorang yang memang asli Karo, yang saat ini sangat sulit untuk ditemukan.

    Hal ini berhubungan dengan suku, asal usul dan keturunan. Dan segala sesuatu yang berada diantara sejarah dan fakta adalah misteri yang sulit untuk dipecahkan. Nah, bagaimana menurut Anda, Karo itu Batak, atau bukan?

  230. Di salah satu Kabupaten di Sumatera Selatan, saya menemukan satu suku yang beberapa kosa kata nya sama dengan bahasa Karo, yang di Sumatera Utara saja sepengetahuan saya kata ini hanya ditemukan pada suku Karo.Suatu hari seseorang bertanya kepada saya tentang nama makanan yang terbuat dari daging buah durian matang yang dibuat untuk sambal. Di kota Palembang nama makanan itu “Tempoyak”, namun di Kabupaten itu namanya bukan “tempoyak”, tapi 100 % sama dengan di Tanah Karo, yaitu: “JEROK”, saya sangat kaget mendengarnya. Perlu diketahui, makanan “JEROK” ini, di SUMUT mungkin hanya ada di Karo.Kemudian sebutan untuk buah buahan yang belum “matang”, suatu hari saya dan istri membeli buah Nanas di kebun di pinggir jalan. Dalam bahasa Karo saya berkata kepada istri bahwa yang dia pilih masih “matah” yang artinya belum matang, si Penjual mengerti dan menjawab, ini bukan”matah”, karena bahasa mereka juga “matah” untuk buah buahan yang belum “matang”. Boleh kah saya meng “klaim” bahwa suku “Lematang”, dan “Rambang” itu adalah bagian dari “Karo”, yang jaraknya saja dari Kabupaten Tanah Karo sejauh kurang lebih 2000 kilo meter ??!! Hal hal yang kita bicarakan diatas masih perlu penelitian dan belum bisa di simpulkan, apalagi di klaim menjadi suatu kebenaran.
    Saya masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dan masuk akal akan orang karo yang asli, karena beberapa marga Karo sangat mirip dengan marga di Pak Pak, Simalungun, dan Aceh Tenggara (Alas).
    Kesimpulan yang saya dapat adalah di Karo ada suatu suku bangsa dengan bahasa dan budaya tertentu, dan suatu saat di masa lampau, ada pendatang yang bermigrasi ke daerah itu terutama yang secara geografis berbatasan langsung dengan Karo.

    Ronald Tarigan

  231. Sekedar Sharing!
    Menurut pengalaman saya dan mungkin juga saudara-saudari, banyak masyarakat karo yang tidak mau dikatakan salah satu rumpun dari golongan BATAK . Kata BATAK mempunyai berbagai macam arti menurut negara atau daerah dimana ditemukan adanya kata “BATAK”. Hal ini dikatakan karena adanya perbedaan khas budaya, tradisi, bahasa, bentuk fisiologis, dialek bahasa, letak geografis, dll. Sedangkan menurut cerita sejarah (katanya), merga SINULINGGA berasal dari merga LINGGA yang ada di daerah DAIRI yang merantau ke tanah karo dan dijadikan merganya ke dalam Merga KARO-KARO ( Sinulingga sebagai salah satu sub merga dari karo-karo). Sedangkan DAIRI yang di dalamnya terdiri atas masyarakat suku PAKPAK, dan merupakan sub suku dari BATAK tidak merasa keberatan dikatakan sebagai salah satu sub suku dari BATAK. Jika kita tidak menerima dikatakan sebagai salah satu sub suku dari BATAK ( dalam hal ini batak pakpak), lalu bagaimana kita merunut ke latar belakang merga SINULINGGA yang berasal dari salah satu merga dari suku batak pakpak? Bujur ras mejuah-juah man banta kerina.

    Saya sebagai orang karo tidak mempermasalahkan kalo karo adalah satu rumpun dalam batak karena dalam masing masing sub suku itu banyak kita temukan persamaan, mulai dari bahasa adat istiadat dan berbagai bentuk lain dalam sistem kehidupan masyarakatnya. masalh kata BATAK itu hanya suatu identitas dalam suatu rumpun. Kalo kita kaji ke belakangnya tidak bisa dijelaskan. karena itu merupakan sejarah yang sangat sulit dibahas. sama halnya perbandingan ilmu AGAMA dan FILSAFAT. Keduanya mempunyai kelemahan yang tidak bisa dijelaskan oleh siapa pun. sama seperti merga sembiring, apakah kam bisa menjelaskan latar belakangnya hingga ke akar akarnya? itulah analogi untuk menjawab pertanyaan di atas. Sebab tidak ada saksi sejarah yang bisa menjelaskan sejak kapan ada namanya orang karo. dan sebelum berbagai macam marga dalam karo itu, berasal dari marga apa, dan istri nya beru/boru apa. Dan nenek moyang si raja karo itu bermarga apa? Dan suku apakah yang pertama sekali ada di dunia ini. Jika kita kaji dari kebenaran ALKITAB jika kita orang kristen, maka sejak dihancurkannya lah menara babel, maka manusia berpencar di muka bumi ini.perjalanan selanjutnya, alkitab tidak mencatat bahwa orang orang yang berpencar dari runtuhnya mnara babel itu pergi ke karo dan siapa namanya. Itulah misteri yang sangat sulit dijelaskan. Jika kita menolak kebenaran alkitab, maka sebaiknya kita tidak usah menganut agama kristen. cocok kan?

    Rudi Salam Sinulingga

  232. Kalau kita bertanya orang karo itu Batak bukan nah, lihat saja contoh ini: orang kulit putih di Abad pertengahan (Medieval) disebut orang Barbar oleh orang kulit berwarna. alasan mereka orang kulit putih itu tidak beradab dan kejam, suka berperang. Yang disebut orang Barbar termasuk semua jenis orang Eropa dari Ingris, Scotlandia, Ireland, Prancis, Belanda dsb. Nah kalau kita tanya bangsa2 tersebut sekarang apakah mereka itu keturunan Barbar selalu dengan bangga mereka mengiakan, karena Rumpun merekalah yang menguasai Dunia saat ini, walau orang Perancis bukanlah Inggris, Inggris bukanlah Belanda Dsb. Nah saya rasa ini adalah kenyataan yang identik dengan permasalahan Batak. Orang Toba tidak pernah mengatakan dirinya Karo, orang Karo tidak pernah menyatakan diri mereka Mandailing atau Gayo, Pakpak dsb. Orang Sigumpar tidak pernah menyatakan dirinya orang Samosir. Tetapi dilihat dari mata asing Kita semua dianggap orang Batak sama dengan orang Eropa saat Medieval disebut orang Barbar. Masalahnya mereka bangga sebagai keturunan Barbar, karena keturunan ini yang menguasai Dunia saat ini. Sedang kita apalah, Batak mempunyai banyak reputasi yang kurang dapat dibanggakan di Dunia luar.

  233. Kalau dilihat dari kemiripan lingkungan asal usul kita ….yang disebut oleh orang luar sebagai orang Batak. termasuk di dalamnya Gayo, Alas, Karo, Pakpak, Dairi, Simalungun, Toba, Mandailing. Kita semua berasal dari pedalaman/pegunungan Sumatra Utara termasuk Aceh, Kita memiliki Marga2 dan banyak kesamaan lainnya… termasuk didalamnya sedikit terisolir dan terkebelakang (anggapan orang Jawa yang merasa menguasai Indonesia!!!). Kata Batak itu bukan berasal dari kita sendiri tetapi panggilah dunia luar terhadap kita umumnya, sedang menurut kita sendiri orang Toba tidak pernah mengatakan dirinya orang Karo atau sebaliknya, malah lebih sering mereka mengatakan daerah asal usul kita seperti orang Sigumpar, orang Samosir, orangTarutung atau dsb. Nah sebagian dari kita mau menerima panggilan orang lain tersebut . Kalau anak kecil selalu dibilang Tolol maka lama2 dia bisa menganggap dirinya memang tolol dan menerima panggilan tersebut malah ada yang merasa bangga kalau disebut Tolol, tetapi kalau dia melawan dan selalu marah atas panggilan tersebut maka tidak ada lagi orang yang memanggil dia si Tolol. Tidak banyak suku bangsa yang memiliki marga (Family name) yang turun temurun seperti yang kita miliki

  234. sapa blg orang Karo malu atau ga mengakui klo mereka adalah bagian dr suku Batak. byak ko teman2 saya orang karo, dan saya tgl ditanah karp juga. orang yg ditanah karo ja blg mereka Batak Karo. cuma penulis blog ne n yg comment yg ga2 yg ga mau dblg bagian dr suku Batak. ga usa cari sensai de. antropolog paan kyak lo. antropolog yg ga tamat2 mugkin. atau mahasiswa abadi. klo u ga mau dibilang org Batak Karo. buang ja marga u, ato pindah suku ja yg ga pak marga, supaya u ga cari sensasi. pemerintah ja da blg suku batak itu ada 5: batak toba, batak karo, batak pakpak, batak simalungun,batak mandailing/ angkola. klo u ga suka, jd pemerintah dulu ya.

  235. Toba dan Karo adalah suku bangsa serumpun, bisa lebih diterima. Jadi Karo adalah Karo dan Toba adalah Toba. Karo bukan sub bagian dari Toba demikian juga sebaliknya Toba bukan bagian dari Karo. Memang dengan istilah Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Gayo, Alas, Mandailing tidaklah terkenal seperti kata Batak tetapi demi identitas yang jelas dan tepat ini harus dilakukan. KIta menunggu dari etnis Toba berani mengatakan kami orang Toba bukan Batak, karena kata Batak itu bukan berasal dari kita sendiri tetapi panggilan dunia luar terhadap kita.

  236. @Binsar Napitupulu,saya setuju dengan komentar abang,kita perlu meneliti lebih lanjut atau setidaknya mencari tahu….

  237. Mejuah-juah..

    sebelumnya mau bertanaya ke pemilik blog ini,kenapa komentar saya pernah tidak ditampilkan diblog ini ya????

    baiklah utk mempringkat waktu,saya ingin menuliskan beberapa kisah yang saya alami tentang bagaimana pandangan orang BATAK TOBA melihat SUKU KARO.

    ada hal unik yang terjadi pada diri orang BATAK TOBA yang mana diblog ini selalu “teriak-teriak” kalau suku karo adalah orang batak.

    Kisah ini terjadi tahun 2009 dimana didaerah bengkulu ada sebuah pagelaran seni yang konon katanya akan menampilkan seni budaya BATAK. kemudian teman saya mengundang saya untuk hadir karna mereka berfikir kalau saya orang batak, padahal saya orang karo bermerga Purba (Karo-Karo Purba). teman saya ini bermarga Sinaga dari Toba dan bermarga lumban tobing. pada hari H, saya dan teman2 berangkat ke tempat acara dan menunggu budaya batak dimainkan. sebelmnya acara2 budaya melayu bengkulu, riau, dan padang terlebih dahulu dimainkan. alhasil budaya batak yang dinantikan oleh banyak orang batak (mayoritas tamu orang toba-karna saya mengerti bahasa mereka-) akhirnya dimainkan.
    namun ternyata apa yang tamu dari orang batak toba ini lihat ternyata pagelaran seni budaya KARO yang menampilkan Seni tari LANDEK PISO SURIT (bukan TOR-TOR PISO SURIT) lengkap denga pakaian ROSE karo dengan UIS GARA-nya (BUKAN ULOS GARA-nya) diiringi GENDANG TELU SEDALANEN (BUKAN GONDANG TELU SEDALANEN).
    disela-sela acara itu, saya mendengar banyak suara-suara yang dengan sangat jelas mengatakan :

    ” DANG HALAK BATAK I,,, HALAK KARO DO I… ”

    rekan-rekan dari toba yang ada diblog ini dan yang akanmengomentari komentar saya ini,
    TOLONG COBA ANDA JELASKAN APA MAKSUD/ARTI KALIMAT YANG DIUCAPKAN REKAN2 SAUDARA SEKAMPUNG ANDA ITU…

    Mejuah-Juah Kita Kerina

  238. Kalau dilihat cerita SirajaBatak, ini lebih berupa Legenda atau Cerita rayat yang sulit dibuktikan kebenarannya. Kehadirin Alas, Gayo, Pakpak, Dairi, Karo, Simalungun, Angkola dan Mandailing yang disebut sebagai suku Batak oleh orang luar lebih rumit dari Tarombo yang pernah ditulis. karena percampuran darah dan budaya antara penduduk asli pegunungan dengan pendatang. dan tentunya terbentuk budaya olahan. Bentuk tubuh, ukuran Tubuh, Warna kulit yang sangat bervariasi menunjukkan adanya percampuran dari suku asing pendatang yang tidak mempunyai tiket PP (pulang pergi). kita sebaiknya menerima keadaan kita seadanya tanpa angan2 dan rencana berlebihan. Ibarat Burung setelah lepas dari sarang dang berdiri sendiri terkadang antara sesama bersaudara di negri asingpun kita sudah tidak saling berhubungan dan kurang saling mengetahui. Dunia berputar dan pengetahuan bertambah. Yang mengutamakan teknologi menganalisa asal usul kita berdasarkan penelitian science. Yang mengutamakan agama mempertanyakan asal mula kita berdasarkan agama. Yang mengutamakan Politik meninjau permasalahan ini dari segi keuntungan terhadap individu, kaum , suku dan bangsa. yang bersifat Emosionil lebih mengutamakan cerita kaum leluhur. Mana yang akan kita pilih. Masing2 berhak memilih apa yang terbaik bagi dirinya dan saya sendiri tetap memilih sebagai orang Batak yaitu ……….Batak Toba

  239. Du aku kesasar nich ….. tapi asik juga ngebacanya & pingin comment
    Aq karo Marga Tarigan bebere Pinem and bangga jadi Orang Karo and merasa gamang kalau dibilang batak Karo, Entah kenapa kuping kurang sreg, walau teman banyak orang batak.

  240. Terjadi perubahan pola pikir,semakin realistis dan logis, dulu kita menerima begitu saja berbagai macam “mitos” tentang “tarombo”, silsilah, dll,tanpa menganalisanya, sekarang mulai terjadi perubahan, mulai berpikir berdasarkan fakta (evidence), masuk akal tidak. Mungkin salah satu penyebab orang mau “berdebat” sampai pagi di kedai tuak untuk membahas masalah tarombo dan silsilah ini juga karena pola pikir itu.

  241. @Timotius Karo-Karo Purba , Yang paling aneh lagi Purba itu ada di Simalungun, ada di Toba dan ada di Karo, di toba namanya Simamora Purba; di karo namanya Karokaro Purba; juga ada Purba di Simalungun. Nah ini yang membuat menjadi makin menarik

  242. @ Timotius Karo karo Purba, pas kuakap sungkunen ndu man kalak Toba enda sigundari enda bangga ngataken ia kalak Batak. Sitimai dage jawabenna. Bujur. Mejuahjuah.

  243. mungkin pemerintah atau sejarawan2 dahulu tidak punya cukup ilmu untuk mengelompokkan apakah karo ini masuk ke sub batak atau tidak. sehingga membuat kesalahan memasukkan karo kedalam sub batak, atau bagaimana ?😀

    lebih aneh lagi ada yg asal ngoceh… batak ya batak, karo ya karo :hammer:
    tidak ubahnya dengan sunda ya sunda, jawa ya jawa… la emang iya.. tapi mereka itu kan indonesia ?

    sama dengan karo ya karo, toba ya toba, simalungun ya simalungun.. tapi semua itu disebut batak. Paham ???
    jadi orang kok goblok banget…, kek gak pernah belajar sejarah aja…

  244. Bapak R.Nababan, saya rasa masuk akal bahwa masyarakat kita pada zaman dahulu yang membuat : silsilah, tarombo, sejarah marga, dll memiliki keterbatasan dalam pendidikan, metode penelitian, fasilitas, komunikasi, dll, dan saat ini sejalan dengan perkembangan zaman dan pendidikan, kita wajar berpikir kritis terhadap berbagai hal termasuk yg kita bicarakan diatas, mari kita ber agumen dengan fakta dan data, bukan dengan mitos. Mungkin bukan saatnya lagi kita ber argumen tanpa data dan fakta, bila hal itu masih terus terjadi kita akan susah untuk maju. Saya ingat seorang dosen pernah berkata kepada mahasiswa, “enggak usah kau ngomong kalau gak ada referensi mu”, kelihatannya mungkin arogan tapi hal itu benar supaya setiap orang dalam menyampaikan pendapat harus didukung oleh data dan fakta (bukan gisip).

  245. Horas……………Mejuah-juah kita krina…
    Membaca tulisan Juara Ginting dan komentar dari saudara2 yg tidk setuju dengan penyebutan orang BATAK penempel pada dirinya, se
    harusnya bangga lah sebagai orang BATAK karena BATAK iitu MEMILIKI CATATAN SEJARAH YANG JELAS ( TAROMBO/SILSILAH ) yan tidak dimiliki oleh orang lain (suku lain) di DUNIA ini. Garis keturunan BATAK adalah sangat jelas terutama pada saat mulai terbentuknya Marga Marga BATAK sehingga BATAK itu tdk ada yang hilang dari orang pertama s.d sekarang serta tidak akan ada perkawinan sedarah karena adanya marga tadi. kalau orang lain tiga atau empat keturunan saja mungkin sdh saling tidak tau lagi bahwa mereka masih satu kakek/ nenek. Maaf sebenarnya saya masih banyak yang ingin saya utarakan tapi kalau memang KARO tdk mau disebut sbg BATAK, saya selaku BATAK TOBA apa untung nya …????????????? Justru Ruginya yang ada.terserah lah mau ngaku berasal dari mana… trimakasih

  246. @Timotius Karo-Karo Purba :Petanyaan saya belum terjawab, saya sama sekali tidak emosionil, dan saya tidak berkepentinganan agar Karo jadi Batak, tetapi Marga anda adalah marga perbatasan…… PURBA ada di tiga suku yaitu KARO, SIMALUNGUN , DAN TOBA…..Di Karo namanya Karo-karo Purba; di Toba namanya Simamora Purba; di Simalungun namanya Purba. Tolong dijelaskan,. tentunya tidak kebetulan. Purba bahasa Bataknya berarti Timur, apa Purba di Karo di sebelah timur Karo dan Purba di Simalungun di sebelah timur Simalungun, …..anda tentu lebih mengerti , saya pikir anda juga tidak emosionil…….
    !!!

  247. Sebelumnya saya mohon maaf karena saya bukan antropologis atau ahli kebudayaan, maka mungkin banyak kata-kata saya yang tidak ilmiah. Ini hanyalah pendapat pribadi berdasar perenungan dan hasil membaca berbagai sumber. Mohon maaf sekali lagi saya tidak bisa memberikan sumber, yang pasti saya sering membaca wikipedia.
    Bicara tentang ‘Batak’, ‘Karo’, ‘Toba’, dan sebagainya tidak akan ada habis-habisnya perdebatan selama definisi dan konteks pembicaraan tidak sama.
    Kalau kita baca buku-buku antropologi, suku-suku bangsa yang ada di Sumatera Utara dibagi menjadi tiga suku, yakni Melayu (pesisir Timur), Batak (sebagian besar pedalaman), dan Nias (pulau Nias dan pulau-pulau sekitarnya). Selanjutnya, suku Batak dibagi lagi menjadi Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Angkola, dan Mandailing.
    Betulkah subetnis-subetnis tersebut termasuk ‘Batak’?
    Nah, di sini definisi ‘Batak’ perlu dipahami dulu. Penggolongan suku-suku tersebut menjadi suku ‘Batak’ tampaknya dilakukan oleh ahli-ahli antropologi Barat, bukan oleh suku-suku itu sendiri. Para ahli tersebut menggabungkan suku-suku tersebut ke dalam golongan ‘Batak’ dengan melihat kesamaan budaya, adat istiadat, tata bahasa, dan letak geografis.
    Saya kurang tahu, siapa yang pertama kali menggolongkan suku-suku tersebut ke dalam golongan Batak. Yang saya ketahui, mereka yang menyebut diri orang Batak adalah mereka yang mengklaim bahwa mereka keturunan Si Raja Batak. Benarkah Si Raja Batak itu memang benar-benar ada, saya tidak yakin. Semua catatan tarombo (silsilah) tersebut lebih banyak berdasarkan tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat tersebut. Jangan menghakimi tarombo tersebut dengan kacamata ilmiah modern, tetapi terimalah itu sebagai tradisi turun temurun yang hidup di tengah masyarakat tertentu, dan tentu perlu ditinjau secara ilmiah.
    Dengan definisi tersebut, wajar kalau orang Karo, dan juga Simalungun serta Pakpak, tidak mengaku sebagai orang Batak, karena mereka tidak mengenal silsilah Si Raja Batak dalam tradisi mereka. Ditambah lagi bahasa dan adat istiadat yang (cukup banyak) berbeda.

  248. Apakah Karo (dan Simalungun, dan Pakpak, dsb) termasuk Batak? Dalam hal ini perlu jelas dulu, dalam konteks apa yang dimaksud ‘Batak’ itu.
    Sebagai perbandingan, kita mengenal adanya istilah ‘ras Melayu’. Istilah itu diberikan untuk orang Indonesia (kecuali sebagian Papua), Malaysia, Brunei, Filipina, dan bahkan juga orang Taiwan asli, Hawai, Maori, sampai Madagaskar. Betullkah orang Jawa, Sunda, Bali, Madura, Bugis, Dayak, atau Batak termasuk ‘Melayu’? Nah, istilah ‘Melayu’ di sini adalah dalam konteks antropologis, bukan adat istiadat. Penggunaan istilah ‘Melayu’ bukan dimulai oleh orang Melayu yang tinggal di pesisir Sumatra, Kalimantan, dan Tanah Semenanjung, tapi oleh ahli antropologi Barat.
    Demikian juga istilah ‘Batak’ untuk suku-suku di Sumatera Utara, konteksnya adalah antropologis.
    Secara nasional, kebijakan pemerintah RI, khususnya dalam statistik, memasukkan suku-suku bangsa asal Sumatera Utara (minus Melayu dan Nias) ke dalam kategori ‘Batak’. Namun khusus di propinsi Sumut sendiri, suku Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak tidak dimasukkan ke dalam suku ‘Batak’, hanya Batak ‘Toba’ yang dianggap Batak.

  249. Perlu diketahui juga, istilah ‘Toba’ pada masyarakat Batak ‘Toba’ sendiri merujuk kepada suatu bagian dari suku tersebut yang mendiami wilayah Toba, seperti Balige, Porsea, dan Laguboti. Berbeda dengan Tarutung, misalnya, yang termasuk wilayah Silindung. Sebagai contoh, bila saya berkunjung ke Tarutung, maka saya disebut oleh masyarakat setempat sebagai ‘halak Toba’.
    Dengan demikian, istilah ‘Batak Toba’ juga kurang tepat. Lebih baik Batak saja, tanpa embel-embel ‘Toba’, kecuali bagi mereka yang berasal dari wilayah Toba, seperti saya sendiri.
    Wilayah Batak itu terbagi atas Toba, Samosir, Humbang, dan Silindung.

  250. Secara linguistik (ilmu bahasa), dikenali adanya klasifikasi bahasa-bahasa Batak (bentuk jamak) yang terbagi ke dalam tiga kelompok: Utara, Selatan, dan Timur. Kelompok Utara terdiri atas bahasa Karo, Pakpak, dan Alas-Kluet. Kelompok Selatan: Toba dan Angkola-Mandailing. Sedangkan Timur adalah bahasa Simalungun. Bisa dibaca di ethnologue.com

  251. Pertanyaan sdr. Timotius Karo- karo Purba belum dijawab teman2 dari Toba. DANG HALAK BATAK !..HALAK KARO DO !…. Baik aku coba jawab kalau nanti tidak benar tolong dikoreksi. Arti kata diatas diucapkan sdr dari Tapanuli ( Silindung, Samosir,Humbang, Toba) kepada Karo bahwa kalian Karo bukan Batak . Jadi adat Karo itu bukan adat Batak, bahasa Karo itu bukan bahasa Batak,gendang/musik Karo bukan Gondang musik Batak,tarian Karo itu bukan tarian Batak .
    Mereka beranggapan dalam pikirannya bahwa Batak itu hanyalah Toba sedangkan Karo bukan dianggap Batak.

    Seringlah terdengar dari teman2 dari Toba, langsung dihadapan aku mereka berkomentar bahwa kami orang Batak sedangkan kalian orang Karo.

    Jadi bukan hanya sdr JG mengatakan Karo bukan Batak, orang Batak sendiri dalam kenyataannya seperti kata diatas mengatakan bahwa Karo bukan Batak.

    Tadinya aku pikir bahwa suku Karo, Toba ,Simalungun, Pakpak dsb. mengikuti .seperti ditulis dalam buku .disebut Batak oleh pihak luar karena memang ada persamaan dan ada juga bedanya.

    Kalaulah seandainya kita mau menerima pernyataan diatas baik dari Karo,Simalungun, Toba,Pakpak dst. maka tidak pantaslah atau tidak tepat lah orang dari Toba mengatakan dirinya Batak sedangkan yang lain tidak, sebab Batak itu milik bersama bermacam macam baik bahasanya, adat budayanya dst…..

    Kenyataanya kata Batak sdh identik dengan Toba, HKBP kata B artinya Toba, bahasa Batak kata B maksudnya Toba, halak Batak= orang Toba, lagu Batak= lagu Toba.

  252. @Timotius Karo-Karo Purba😛 etanyaan saya belum terjawab, saya sama sekali tidak emosionil, dan saya tidak berkepentinganan agar Karo jadi Batak, tetapi Marga anda adalah marga perbatasan…… PURBA ada di tiga suku yaitu KARO, SIMALUNGUN , DAN TOBA…..Di Karo namanya Karo-karo Purba; di Toba namanya Simamora Purba; di Simalungun namanya Purba. Tolong dijelaskan,. tentunya tidak kebetulan. Purba bahasa Bataknya berarti Timur, apa Purba di Karo di sebelah timur Karo dan Purba di Simalungun di sebelah timur Simalungun, …..anda tentu lebih mengerti , saya pikir anda juga tidak emosionil…….
    !!!

  253. Saya pribadi setuju saja kalau Karo bukan Batak. Dari penamaan daerah, kita kenal Tano Batak (bukan Tano Toba) yang meliputi Toba, Samosir, Silindung, dan Humbang. Kalaupun ada yang menyebut Tano Toba (jarang sekali/hampir tidak pernah terdengar), itu hanya meliputi wilayah Toba saja (Porsea, Balige, dsb), tidak meliputi Silindung (Tarutung dsk), pulau Samosir, ataupun Humbang.
    Berbeda dengan Tanah Karo Simalem, yang meliputi seluruh wilayah adat suku Karo, yakni Kab. Karo dan sebagian wilayah kabupaten2 lain yg berbatasan (Dairi, Langkat, Deli Serdang, dan sebagian NAD). Untuk suku Simalungun dikenali Tanoh Simalungun sebagai wilayah adanya. Jadi Tano Batak, Tanah Karo, dan Tanoh Simalungun merupakan wilayah adat masing2 suku tersebut. Dengan demikian kedudukan suku Batak, suku Karo, suku Simalungun, dan suku2 lain di Sumut, sejajar. Kalau ada persamaan, syukurilah itu, artinya menunjukkan bahwa kita masih bersaudara. Ada perbedaan, wajar, namanya juga beda suku. Yang penting jaga persatuan dan kesatuan. Ingat, Bhineka Tunggal Ika, NKRI Harga Mati!

  254. Nama saya Paris Parlin Manik Raja
    Saya terpaksa membuat kata raja di belakang marga saya karna marga manik raja memang asli marga dari Toba tepatnya dari Samosir, soalnya banyak juga marga manik di suku suku lain termasuk suku karo, saya lahir dan dibesarkan di Serdang Bedagai. dan saya perna tinggal di rumah bapak sembiring kembaren selama 11 tahun di medan, hal ini ( Karo bukan Batak ) tidak perna kami debatkan.
    bagi teman teman semua yg sedang berdebat tentang “”Karo bukan Batak ‘ kita harapkan jangan sampai menjurus ke SARA atau Anarkis, biarlah kita debatkan dengan hati yang jernih tanpa ada emosional disini. Dari judul diatas sudah kita ikuti bersama bahwa Kalak Karo keberatan kalo dikatakan sub etnis dari Batak. mungkin etnis karo disini punya alasan, krn Kalak karo juga punya tarombo ( Silsila ) dari masing masing marga ( merga silima ) dan tidak menemukan sejarah di dalam tarombo mereka bahwa meraka punya kaitan dengan suku Batak.( identik dengan Toba ) . pada dasarnya kami ( Toba ) tidak merasa kecil hati jika karo mengatakan mereka bukan batak. mari kita bantu mereka (suku karo) untuk mendeklarasikan bahwa mereka bukan sub etnis dari batak. tidak ada yang keberatan bahwa karo itu bukan Batak. saya pribadi menganggap ini semua tidak terlalu penting untuk didebatkan. mari kita bantu teman teman kita orang karo yang ingin meluruskan sejarah mereka yang telah lama meraka simpan dlm hati. mari kita kembalikan dulu sejenak kedalam diri kita, seandainya hal ini terjadi pada diri kita , “ada keluarga orang lain yang mengatakan bahwa kakek( opung ) saya dahulu adalah anak cucu dari kakek mereka. Saya pribadi akan berontak jika hal ini tidak perna dipesankan atau diajarkan oleh opung saya ke orang tua saya dan orang tua saya kepada saya.
    hal inilah yang terjadi pada etnis karo saat ini. mereka bukan sentimen dengan orang toba , melainkan mereka hanya ingin meluruskan silsilah meraka, toh.. selama ini pun batak sudah menjadi bangsa yang besar, etnis yang dipehitungkan di negeri ini. yang membesarkan suku batak tak lain adalah orang- orang dari toba, seperti : Atlet, Pejabat menteri, pengacara, penyanyi ( banyak yang sudah melegenda di indonesia) Pengusaha terbesar di indonesia ( Maratua sitorus orang terkaya di Indonesia). tokoh tokoh politik, tokoh Agama, dan bahkan nyaris presiden RI itu dari Batak ( Akbar Tanjung . asli dari Sibolga ) dan banyak lagi. jadi kalo orang karo keberatan dikatakan sebagai batak. hal ini tidak perlu di debatkan, alasannya : seperti tertulis diatas. mari kita bantu teman teman kita karo untuk meluruskan silsilah mereka yang sempat terganggu dengan terbitnya tarombo si Raja Batak yang mengaitkan mereka sebagai keturunan si Raja Batak. Saya Bangga jadi orang Batak, begitu juga orang Karo akan lebi bangga jika mereka dikatakan Karo, bukan Batak Karo. Menjuah juah kita krina, Horas ma hita sudena , Horas ma Hita ganupan ( Simalungun ) Mauliate godang.

  255. Saya malah tidak setuju kalau semua orang Batak (dalam arti Tapanuli bagian Utara) disebut Batak Toba. Kalau saya memang orang Toba, karena huta kami ada di wilayah Toba (Kab. Tobasa). Akan tetapi paman saya marga Tobing yang berasal dari Tarutung, bukan orang Toba tetapi orang Silindung. Begitu pula rekan saya marga Sihombing yang berasal dari Humbang atau yang marga Sijabat dari Samosir.
    Batak adalah Batak, Karo adalah Karo, demikian juga Simalungun, Pakpak, Mandailing, Alas, Kluet, dan seterusnya. Meski demikian, Batak, Karo, Simalungun, dan semuanya masih satu rumpun dalam bahasa dan prinsip dasar adat istiadat.
    Mengapa rumpun tersebut disebut ‘Batak’? Karena suku Bataklah yang paling besar jumlah orangnya, sehingga untuk kajian antropologis dan linguistik, serta kepentingan administrasi disebut saja semua Batak.
    Mohon maaf kalau salah, ini semua pendapat saya pribadi.

  256. Bagi orang luar Sumatera Utara, seperti di pulau Jawa tempat tinggal saya, mereka tahunya Sumatera Utara adalah Batak, dan karena Medan adalah ibukota Sumut, maka semua suku rumpun ‘Batak’ disebut orang ‘Medan’, seperti menyebut orang Minang sebagai orang ‘Padang’. Kalau ada orang datang ke pulau Jawa dan mengaku berasal dari Medan, biasanya akan disangka orang Batak, dan disapa ‘Horas’, meski orang tersebut sebenarnya Melayu Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Padahal orang Batak (Taput) di Sumut hanya sekitar 25%, di kota Medan sekitar 20%, lebih sedikit dari Pujakesuma yang hampir sepertiga penduduk Sumut maupun penduduk kota Medan.
    Akan tetapi masyarakat luar Sumut memang terlanjur lebih mengenal Batak sebagai identitias Sumut. Nah, inilah yang mungkin kurang menyenangkan bagi saudara2 suku Karo karena dengan dilekatkannya identitas ‘Batak’ pada diri mereka maka identitas keKaroan mereka terasa seperti dipinggirkan.

  257. Wah semakin seru ini, saya baru tau Manik ada di Karo, saya pikir Manik marga Simalungun…. eh Manik Raja malah berasal dari Samosir. Jadi kemarin hanya marga Purba yang dipertanyakan asalnya karena ada Simamora Purba, Karo-karo Purba dan Purba asal Simalungun. Nah sekarang tambah lagi Manik

  258. Komentar sdra Paris Manik Raja dan A. Siagian tampak lbih obyektif karena mereka telah “berani” melihat dari sisi perspektif orang Karo. Mereka lebih yakin atas alasan orang Karo mengatakan Karo Bukan Batak bukan dilandasi sentimen2 negatif atas org Batak. Kalaupun ada sentimen2 etnis itu porsinya kecil sekali dalam konteks Karo Bukan Batak. Kalaupun orang Karo mengatakan di media sosial dan pergaulan sehari2 bahwa Karo Bukan Batak, itu tak lain sebagai upaya sosialisasi dan pelurusan sejarah semata-mata, bukan untuk mendiskreditkan teman2 Batak. Tapi memang jelas bahwa orang Karo tidak nyaman disebut Batak. Entah Batak itu baik atau buruk biarlah Batak untuk orang Batak saja, janganlah dilekatkan untuk orang Karo. Begitupun sebaliknya, Karo baik atau buruk biarlah dilekatkan untuk orang Karo semata. Inilah tujuan sosialisasi dan pencerahan Karo Bukan Batak. Yang namanya sosialisasi dan pencerahan mau tidak mau hrs disampaikan dengan cara tersendiri kepada orang2 Karo dan Batak yg sebagian terlanjur menganggap Karo adalah bagian dari Batak. Juga kepada masyarakat di luar Karo dan Batak yg selama ini juga beranggapan orang Karo adalah Batak. Pengertian “serumpun” yang disinggung di muka bisa diterima sejauh kata “Batak’ tidak dilekatkan terhadap suku Karo. Silahkan kata Batak itu ambil dan dimonopoli sepenuhnya oleh orang Batak saja. Sekali lagi, baik atau buruk, hebat atau tidak hebat : Karo adalah Karo, Batak adalah Batak. Itu saja maksud sosialisasi KBB.

  259. sudah nampak jelas kan kalau karo itu bukan batak????
    jd tak ada keraguan lagi kalau karo itu bkn batak,yg meragukan adalah si raja batak itu,apakah ada atau tidak????

  260. Kalau saya perhatian, di Medan atau Sumut pada umumnya, orang Samosir akan menyebut dirinya orang Batak, tanpa embel2 ‘Toba’. Sedangkan orang Kabanjahe akan menyebut dirinya orang Karo, bukan Batak Karo. Akan tetapi, saat merantau ke luar Sumut, khususnya ke pulau Jawa, seringkali orang Karo sendiri menyebut diri orang ‘Batak Karo’, bahkan ada yang mengaku orang Batak saja, terutama bila ditanya orang dari suku luar Sumut. Kebanyakan orang luar Sumut tidak mengetahui suku2 apa saja yang ada di Sumut, selain Batak. Itu sebabnya, kalau ada yang datang dari Medan ke pulau Jawa seringkali disapa “Horas”, atau ditanya “marga apa?” Sepertinya, itulah sebabnya orang Karo akan mengaku “Batak” kalau ditanya oleh orang luar Sumut, daripada mengaku Karo dan harus menjelaskan panjang lebar tentang geografi, antropologi, dan demografi Sumatera Utara.

  261. Misalkan di Bandung, saya sedang bersama dengan teman marga Ginting dan teman lain dari suku Sunda. Teman Sunda itu mengatakan pada kami berdua,”Ayo, kalian bicara bahasa Batak.”
    Maka kami akan menjawab,”Batak kami berbeda, Siagian itu Batak Toba, Ginting itu Batak Karo, bahasanya lain.”
    Kalau ditanya kenapa berbeda atau apa bedanya, saya sering menganalogikan dengan bahasa Cirebon dan bahasa Sunda, yang sama2 bahasa daerah Jawa Barat, tapi berbeda jauh.

  262. B.Napitupulu :

    Mejuah-juah mpal/lae ku…
    trimaksih atas atensi kam kepada saya.baiklah, saya akan menjawab pertanyaan anda dengan jawaban yang jujur tanpa rekayasa.
    saya kutip :
    ” @Timotius Karo-Karo Purba😛 etanyaan saya belum terjawab, saya sama sekali tidak emosionil, dan saya tidak berkepentinganan agar Karo jadi Batak, tetapi Marga anda adalah marga perbatasan…… PURBA ada di tiga suku yaitu KARO, SIMALUNGUN , DAN TOBA…..Di Karo namanya Karo-karo Purba; di Toba namanya Simamora Purba; di Simalungun namanya Purba. Tolong dijelaskan,. tentunya tidak kebetulan. Purba bahasa Bataknya berarti Timur, apa Purba di Karo di sebelah timur Karo dan Purba di Simalungun di sebelah timur Simalungun, …..anda tentu lebih mengerti , saya pikir anda juga tidak emosionil…….
    !!! ”

    anda salah total bang kalau bilang marga saya adalah marga perbatasan. terlihat anda tidak menguasai marga2 di tanah karo, namun karna kam bilang kalau kam tidak berkepentinganan agar Karo jadi Batak, saya maklumi.
    marga Karo-Karo Purba merupkan salah satu cab. merga KARO-KARO. merga ini asalnya (kuta pantekkenna) ada di Kabanjahe,Berastagi dan Lau Cih. bisa kam bayangkan kan letaknya jauh dari perbatasan simalungun apalagi toba.
    merga ini tidak punya kesamaan dengan merga purba di simalungun (kalau masuk karo jadi TARIGAN) apalagi di toba.
    merga ini pun g mengenal istilah simamora purba karna merga ini kumpulannya adalah KARO-KARO dan sebagai bahasa kasarnya merga KARO-KARO PURBA bisa mengawini merga purba di simalungun apalagi merga purba dari toba.
    kami juga tidak memiliki ikatan emosional dari merga purba di simalugun/toba namun kami menghargai mereka dan bahkan kami menganggap mereka adalah saudara kami dengan tidak pernah menghina budaya asal mereka apalagi memaksakan mereka sama dengan kami sesuai terombo kami (kalau dari saudara suku toba, silahkan kam jawab sendiri).
    sedikit informasi buat kam,persamaan nama marga namun tidak serupa banyak terjadi di sumatra utara.
    con. : merga MANiK. merga ini ditanah karo ada 2, yaitu Ginting MANIK dan Karo-Karo Manik, ditoba anak marga MANIK raja, di pakpak ada merga Manik, disimalugun juga.namun semuanya itu TIDAK SAMA bang…
    dan masih banyak yg lain bang…

    jujur saja abang jawab dari hati paling kecil abng dan jujurlah,
    apa menurut abang suku Karo itu orang batak?
    atau apa hanya orang toba saja menurut abg yang org batak ?
    coba abg jawab pertanyaan saya sebelumnya dan pertanyaan saya ini.
    lebih kurang saya ucapkan banyak terimakasih sama kam abangku…
    mejuah-juah

  263. Buat Lae Binsar Napitupulu : Marga Manik itu adaya dari samosir, yaitu Keluarga dari MALAU, MANIK, AMBARITA dan GURNING, dan satu Rumpun dengan PASARIBU, LUBIS, SAGALA, LIMBONG SIPAHUTAR dll. Marga Manik ada disimalungun, yaitu DAMANIK, begitu juga di Karo ada Marga Manik yaitu Ginting Manik. dari Dairi dinamankan Manik Siketang.
    Untuk Impal Saya Robin G Munthe. perlu kita ingat bahwa kita adalah satu asal dari Sumatera Utara. adanya perbedaan akan membuat semakin indahnya persahabatan . belakangan ini suku karo memang selalu menolak jika ada yang mengatakan Karo adalah Batak, yah…. semua memang sudah terlanjur berkembang di masyarakat, saya masih ingat waktu pelajaran di sekolah SMP dan SMA bahwa dikatakan disana Karo adalah sub etnis dari batak. saya pribadi memahami apa yang membuat suku Karo menolak jika dikatakan Batak, sangat jelas tidak ada hal yang negatif disana, tidak ada unsur SARA dlm hal ini, semata mata hanya utk meluruskan apa yg sebenarnya. semuanya harus kita tanggapi dengan pikiran positif. untuk mencapai tujuan yang diharapkan masyarakat karo tersebut tentunya harus adanya sosialisasi. saya rasa semua ini tidak sulit jika kita sama sama memahami. ugah kap ndu pal ? La bage ?he..he..he.., / uai yahhh.
    semoga hal ini tidak berlarut larut utk didebatkan.
    HORAS ma hita saluhutna !!, Menjuah juah kita krina !!

  264. @Timotius Karo-Karo Purba, Paris Parlindungan Manik Raja. Pertama saya berterima kasih atas semua jawabannya yang anda berikan. Jawaban saya mengenai pertanyaan sdr Timotius. Secara hati kecil saya saya sama sekali tidak percaya bahwa suku Karo berasal dari keturunan yang sama dengan suku Toba, karena perbedaannya terlalu banyak. Saya juga tidak percaya akan kebenaran Legenda Si Raja Batak. tetapi saya percaya adanya interaksi antara beberapa suku yang berdampingan sejak lama, timbul adanya kawin campur, saling pengaruh mempengaruhi antara adat dan kebiasaan dan sebagainya. seperti yang saya sadari sekarang berapa besarnya pengaruh kebudayaan India dan Srilangka terhadap Toba terlebih karo, itu terlihat dari masakan, kepercayaaan malah lebih dari itu ada nama2 marga yang mirip contoh, Munthe, marga ini juga ada di India. Gurusinga, di srilangka ada yang namanya Gurusinghe. Pane, di Srilangka ada marga Pane.. juga beberapa marga lain yang pernah saya ingat tapi saat ini terlupakan. Tetapi kalau dibilang Asal bangsa Toba atau bangsa karo dari India atau Srilangka tentu akan salah juga karena mereka lebih hitam2 dari kita. Saya lebih percaya semuanya lebih komplex dari hal tersebut, karena ada juga pengaruh bangsa melayu. Malah saya percaya adanya darah Turki, Iran, Irak Kamboja China dll dalam darah kita, sebagai contoh Bangsa Komering di Sumatra selatan sangat serupa bentuk fisik mereka dengan bangsa minoritas Hazara di Iran. Saya juga percaya zaman dahulu kala tidak ada tiket pulang pergi atau PP. jadi biasaya kalau ada beberapa orang terdampar di tempat lain biasanya mereka berasimilasi dengan bangsa lokal baik darah, dan tata cara kehidupan walau penduduk asli daerah tersebut umumnya lebih mendominasi, antara setiap marga di Toba pun terlihat sedikit perbedaaan, contoh marga Sibarani, Lubis mempunyai kenampakan fisik lebih mendekat dengan bangsa India, sedang marga Panjaitan lerbih mirip kepada bangsa Turki atau Iran. Marga Nasution dan Harahap lebih mirip bangsa Minang. Setiap marga menunjukkan perbedaan fisik dari marga lain. Di Toba Marga2 Sianipar dan Situmorang mempunyai postur yang umumnya lebih tinggi dari marga lainnya. Saya lebih percaya hal2 yang komplex dari jawaban sederhana, Saya tidak percaya bahwa nama2 yang sama terjadi secara kebetulan, tetapi saya juga tidak percaya bahwa jawabannya sederhana. Misalnya ada orang memberi nama mereka kepada orang asing yang telah diterima sebagai anggota keluarga.

  265. Selamat Natal bagi kita semua…..
    Saya sangat bangga sekali menjadi anak batak. Walaupun fakta sejarah secara ilmiah belum jelas dari mana sebetulnya asal batak. Tapi saya anggap itu sebagai suatu hal (?) yang hingga akhirnya nanti bisa dipecahkan. Memang itu semua harus dicari dengan teliti sampai kita semuanya bisa menerima informasi yang real.
    Saya rasa, penelitian yang berkesinambungan adalah jawaban dari semua ini. Dibelakang itu semua, kita masyarakat sumut seharusnya bangga. Bisa hidup damai berdampingan walaupun multi etnis. Biarlah itu kita jaga bersama, sembari kita melakukan yang terbaik untuk masa depan anak cucu kita nanti yang memahami betul bahwa sejarah Sumatera tidaklah singkat. Dan kita tetap menghormati para leluhur kita. Salam bangga untuk semua pribadi…

  266. Pernyataan yang dibuat oleh Pak Binsar Napituplu lebih logis dan jauh dari mitos, sejalan dengan kemajuan pendidikan suatu saat kelak cara berpikir kita akan menuju kesana.

  267. Kajian Ilmiah Bahwa KARO BUKAN BATAK sudah teruji ,……
    Penemuan Kerangka Manusia Purba di Kecamatan KEBAYAKEN ( nama Kebayaken hanya ada dalam istilah KARO yang Berarti KEKAYAAN ) disekitar Danau Laut Tawar Aceh Tengah ,… Oleh Arkeologi menyatakan bahwa Usia Kerangka Purba tersebut sudah berusia 3500 Tahun dan Ahli Forensik menyatakan Bahwa DNA kerangka tersbut adalah DNA orang KARO dan DNA orang GAYO,…. jadi secara ilmiah menyatakan bahwa Orang KARO sudah ada sejak 3500 Tahun yang lalu,…. ( ILMIAH ) sedangkan si Raja BATAK diperkirakan hidup adalah 1000 Tahun yang Lalu ,.. yang konon merupakan asal muasal orang /suku BATAK ini berdasarkan penelitian para pakar dan ahli tentang BATAK termasuk tokoh adat Batak,….. jadi Jelas Kelihatan perbedaan usia Orang Karo dan Siraja Batak ada selisih 2500 Tahun,…..dan terbukti secara Ilmiah Bahwa KARO lebih Tua (2500 Tahun ) dari BATAK sehingga KARO bukan BATAK,…. Karena yang dikatakan dengan orang /SUKU BATAK adalah orang2 yang mengaku /merasa adalah keturunan dari Si RAJA BATAK,…. Bagaimana dengan KARO,…? srcara ilmiah sudah teruji bahwa KARO bukan Keturunan dari siRAJA BATAK,… bahkan mungkin bisa saja sebaliknya
    Jadi Kalau DONGENG TEROMBO BATAK yang menyatakan bahwa orang karo adalah keturunan dari JELAK KARO yang Konon adalah KETURUNAN dari si Raja BATAK sudah terbukti BOHONG BESAR,…….
    Fakta Lain secara ilmiah,…….
    Menurut Penelitian Ahli2 Bahasa yang meneliti tetang Bahasa Bahasa di NUsantara,… mereka menyatakan bahwa Bahasa bahas yang termasuk Bahas yang sudah Purab /Tua di Tanah air adalah Bahas SUNDA.KARO,PASMA,GAYO,MELAYU,… kenapa disebut Tua karena sudah dituturkan/dibahasakan lebih dari 2500 Tahun,…. Nah apakah Bahasa Batak termasuk Bahasa PURBA,…? ternyata Tidak karena dituturkan belum dalam waktu lebih dari 1000 Tahun,….
    Atas kedua Pengujian Ilmiah tersebut maka terbutilah bahwa KARO BUKAN BATAK

  268. buat saudara B.Parningotan peninggalan kerajaan aru bisa anda jumpai dimedan yaitu istana Maimun atau pemandian Gading Nini biring br putri atau putri hijau yang terletak di Delitua

  269. _Binsar Napitupulu

    mejuah-juah mpal…
    maaf lama br bls komentar kam.
    membaca komentar kam, (saya mengutip)

    “Secara hati kecil saya saya sama sekali tidak percaya bahwa suku Karo berasal dari keturunan yang sama dengan suku Toba, karena perbedaannya terlalu banyak. Saya juga tidak percaya akan kebenaran Legenda Si Raja Batak”

    saya rasa pernyataan kam itu sudah mewakili pernyataan semua orang batak toba kalau suku karo itu bukan keturunan si raja batak dan bukan orang batak.
    lagi pula pal, sudah ada bukti2 ilmiah yang mengatakan orang karo jauh lebih lama keberadaannya dari pada suku batak toba (yang mana umur suku toba masih berupa leganda yang tak jelas rimbanya).
    atau jangan2 suku batak toba merupakan keturunan suku karo yang merantau ke pusuk bukit dan beranak pinak disana?
    itu masih rekaan saya mpal…

    saya rasa orang batak toba dimana pun berada baik di indonesia, luar negri bahkan kalo ada diluar angkasa sana ogah mengatakan kalau orang karo itu orang batak. hanya karn ikut2tan, ga tau sama sekali, dan sok tau aja yang tetap ngotot kalau bilang orang karo adalah orang batak dan keturunan si raja batak yang g jelas dimana kuburannya.

    siraja batak hanyalah sebuah legenda yang dibuat2 oleh pihak asing dimana jauh sebelum bangsa penjajah masuk ke indonesia kata batak itu tidak dikenal di nusantara dan bermkana sangat-sangat jelek, emang kam mau dan bangga dikatakan suku barbar, suka perang, biadap, tukang makan orang, g beragama, kolot, g pake baju , tukang santet, wajahnya jelek2, miskin2, dan lain2?
    sangat g logis kan???
    masa cap jelek bin buruk nan menghina itu mau kalian bangga2kan????
    kalau lah memang si raja batak itu memang ada, tolong jawab pertanyaan saya dengan ilmiah dan dengan bukti2 yag ada,
    1. dimana kuburan siraja batak itu?
    2. siapa ayah si raja batak
    3. mana bukti2 otentik mengenai keberadaan siraja batak

    trus apa makna kata2 yang saya kemukakan pada tanggal November 25th, 2012 pada 09:56 “DANG HALAK BATAK DO I, HALAK KARO DO I”

    bujur melala

  270. saya sependapat dengan bang timotius karo2 siraja batak itu mungkin hanya sebuah mitologi semata.karna tidak ada bukti yang kongkrit mengenai siapa sebenarnya siraja batak.saya pernah membaca tarombo siraja batak dan menurut saya sangat tidak masuk akal kalau dikatakan karo adalah anak siraja batak karna siraja batak sendiri diperkirakan hidup pada awal abad ke 13 sedangkan jauh sebelum abad ke 13 kerajaan haru sudah ada dan sudah berperang dengan aceh yang diceritakan melalui kisah putri hijau atau yang bergelar seh ngenana br meliala bagaimanapun peradaban suku karo jauh lebih tua dibanding siraja batak kan sudah terbukti dengan ditemukanya kerangka yang melalui tes DNA adalah DNA dari ras alas dan gayo dan kita tau bahwa ras alas dan gayo adalah identik dengan karo..
    yang ada mungkin suku batak toba merupakan keturunan suku karo yang merantau ke pusuk bukit dan beranak cucu disana.

  271. saudara Binsar Napitupuluh saya sangat setuju dengan pernyataan anda cara pandang anda sangat logis.interaksi antara suku karo dan toba akibat percampuran dua kebudayaan sangat tepat dan dapat diterima.demikian juga pemberian marga terhadap seseorang yang sudah dianggap sebagai keluarga. saya rasa tidak perlu kita memperdebatkan asal usul karo darimana karna sudah jelas berdasarkan bukti2 yang mendukung sudah terjawab jadi marilah kita sama sama saling menghargai antar suku dan hidup saling berdampingan
    horassss
    bujur mejuah juah man banta krina

  272. saya punya usul bagaimana kalo kita yang orang karo mendeklarasikan bahwa Karo bukan Batak soalnya kalo tidak dideklarasikan sampai kapan pun kata BATAK akan melekat didiri orang karo akhirnya sampai kapanpun Orang Karo akan disebut Orang Batak oleh orang luar karena Sumtera Utara Indentik dengan Batak di mata negara ini?

  273. Asumsi bahwa suku Batak, termasuk diantaranya Mandailing, Angkola, Simalungun, Toba, dengan anggapan bahwa Dairi, dan Pakpak masih menjadi pertanyaan, bukan berarti Batak menjadi Inferior terhadap suku Karo, Marga dan tarombo yang jelas mendekati kebenaran menunjukkan bahwa Batak datang dari Satu Daerah yang berperadaban tinggi, telah mengenal tulis menulis. Surat Batak sangat mirip dengan Surat Tagalog di Fililpina, legenda atau cerita rakyat Batak yang mengatakan bahwa Si Raja Batak adalah turunan renteng (telur) Hulambujati, Bangsa Tagalog percaya bahwa mereka turunan dari telur Tigmamanukin, (baca website Bathala).
    Pesta2 kelompok2 marga yang menerus, seperti pesta Sonak Malela (Napitupulu, Simangunsong, Pardede, Marpaung), pesta Sibagot ni Pohan dll menunjukkan kebenaran tarombo.
    Tidak banyak suku di Indonesia yang mengenal memiliki tulisan mereka sendiri, sebagian seperti Jawa mempunyai tulisan yang Mirip tulisan Arab. Selain suku Batak di Sumatra tidak ada suku yang memiliki aksara sendiri kecuali Bugis.
    Kemungkinan besar suku Karo mencopy surat Batak dengan sedikit menadaptasi pada bahasa mereka. Kita bisa melihat bahwa Aceh, Nias, Melayu dan Sumatra Barat tidak mempunyai tulisan asli mereka).
    Bahasa Batak dan Aksara Batak sangat mirip dengan bahasa Tagalog. Di Filipina ada suku Batak dan juga di Bulgaria ada suku Batak. Kalau dilihat dari Tarombo Batak yang tidak lebih berkisar 35 sundut ( jejeran keturunan), maka dengan anggapan setiap 25 th timbul generasi yang baru, (orang mempunai buyut berarti hidup dalam 4 generasi), maka Raja Batak datang ke tanah Batak sekitar 875 tahun yang lalu, berarti suku batak baru datang sekitar abad 12 ( tahun 1200 SM). Melihat penyebaran suku Batak, dan kehebatan kerajaan Haru dahulu kala, maka suku Karo adalah suku yang Terdesak. Seharusnya mereka mengusai semua wilayah Danau Toba yang sangat Indah sampai Rura Silindung hingga Mandailing, tetapi mereka terdesak, Danau toba hanya mereka kuasai sekirtar Tungging.
    Nama Batak di Filipina dan Bulgaria menunjukkan bahwa suku Batak dimanapun berada sangat bangga atas identistas mereka

  274. manik itu masuk apa ia , karo, simalungun, pakpak atau toba. Menurut para ahli bahwa nusantara ini yang disebut homo sapiens atau manusia yang sudah cerdas adalah ketika datangnya imigran dari Yunan di cina selatan diperkirakan sekitar abad 3 – 5 M dan iniah cikal bakal nenek moyang bangsa indonesia. Sesuai pernyataan sdr manik berdasarkan hasil penggalian yang ilmah menyimpulkan ternyata orang karo sudah ada di tanah karo semenjak 2500 tahun yang lalu. BISA KITA TARIK KESIMPULAN SEMENTARA YAITU BAJHWA KARO ADALAJH KETURUNAN PHITECANTROPUS ERECTUS. JADI TIDAK ADA HUBUNGAN SIRAJA BATAK YANG TELAH MEMILIKI PERADABAN TINGGI DENGAN NENEK MOYANG KARO YANG MASIH NOMADEN . THANKS

  275. betul nanti anak cucu kita jadi salah kaprah..contohnya depari sama silalahi nggak bisa kawin…dari mana./.asal;nya..sampai sekaranmg nggak ada yg bisa menjelaskn…hubungan marganya…

  276. Adakah disini Senina ku Merga Tarigan?

    1.Kenapa Merga Tarigan klan merganya sama jumlahnya dengan klan Marga Purba Simalungun, istilahnya embel-embelnya koq sama ya?

    2.Siapa sih sebenarnya Bapak/Orangtua/Nenek Moyangnya merga Tarigan itu?
    Siapa sih?

    3.Kenapa kalau ada Pesta Tugu Marga Purba di Dolok Sanggul Merga Tarigan harus hadir/diundang?

    4.Apakah Merga Tarigan boleh menikahi Beru Karo-Karo Purba, atau sebaliknya?
    -Kalau jawabnya TIDAK, kenapa?

    5. Apakah Karo-Karo Purba boleh menikahi beru Purba Toba/Simalungun?
    -Kalau jawabnya TIDAK, kenapa?

  277. Kebanyakan dari kita jika berargumentasi selalu dengan emosi, sebenarnya jika kita sikapi dengan positif atas statement yang dikeluarkan oleh JG harusnya dicari benang merahnya. Bukan melakukan pembusukan etnis, setiap etnis punya hak masing-masing untuk menemukan jati diri atau sejarahnya masing-masing dan bukan untuk bersinggungan atau saling klaim satu sama lain. Jika ada yang mengatakan seluruh etnis yang ada disumatera utara adalah keturunan Siraja Batak, sebaiknya berikan alasan yang konkret. Mari kita telaah dengan studi kasus : seperti yang diklaim dibeberapa situs atau blog bahwasanya Gayo Alas adalah keturunan Siraja Batak (http://bakkara.blogspot.com/2006/05/toga-laut-leluhur-gayo-alas.html). Kemudian terakhir ada penemuan kerangka manusia purba yang berusia 7400 tahun yang disinyalir sebagai orang Gayo (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/05/15/m422iy-ahli-dna-rusia-bakal-tiba-hari-ini). Lantas muncul pertanyaan, jika memang Siraja Batak adalah induk dari setiap suku yang ada (sumut-gayo). Tahun berapakah muncul Siraja Batak dan benarkah orang Gayo-Alas keturunan Siraja Batak ?

    Mari sama-sama kita pikirkan, dan bila perlu jika ada bukti autentik dari teman-teman yang dapat membenarkan pertanyaan ini lebih baik.

    Berpikirlah secara positif, bijaksana dalam menilai. Karena tanpa persatuan sudah lama manusia ini punah.

    Catatan : Tujuan saya bukan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, namun kebenaran dari sejarah itu. Sudah lama sejarah yang benar tersimpan (atau disembunyikan setelah Majapahit runtuh)

    Salam Damai

  278. Dimana ada Marga, disitu ada silsilah atau Tarombo. Sebagai Contoh bangsa Yahudi di Israel. mereka mempunyai silsilah yang jelas dari nama keluarga mereka sampai nenek moyang mereka, sebagai contoh, silsilah Kristus bisa dibaca di Alkitab lengkap sampai Abraham, malah silsilah Abaraham, Nuh, lengkap sampai Adam. berbeda dengan Familly name orang2 sekarang yang hanya bisa dilacak 3 – 4 keturunan atau family name yang berubah2 , mana yang menarik itu yang dipakai. Saya belum tau apa di Karo ada silsilah keturunan seperti Tarombo di Batak. nah kalau tidak , maka jelas Bila Karo memakai marga, itu hanya IKUT-IKUTAN suku Batak

  279. Salam sejahtera….

    _Binsar Napitupulu :
    saya mengutip “Asumsi bahwa suku Batak, termasuk diantaranya Mandailing, Angkola, Simalungun, Toba, dengan anggapan bahwa Dairi, dan Pakpak masih menjadi pertanyaan, bukan berarti Batak menjadi Inferior terhadap suku Karo, Marga dan tarombo yang jelas mendekati kebenaran menunjukkan bahwa Batak datang dari Satu Daerah yang berperadaban tinggi, telah mengenal tulis menulis. Surat Batak sangat mirip dengan Surat Tagalog di Fililpina, legenda atau cerita rakyat Batak yang mengatakan bahwa Si Raja Batak adalah turunan renteng (telur) Hulambujati, Bangsa Tagalog percaya bahwa mereka turunan dari telur Tigmamanukin, (baca website Bathala).
    Pesta2 kelompok2 marga yang menerus, seperti pesta Sonak Malela (Napitupulu, Simangunsong, Pardede, Marpaung), pesta Sibagot ni Pohan dll menunjukkan kebenaran tarombo.”

    orang simalungun, pakpak-dairi, mandailing pun sebenarnya malas dibilang orang batak pak.silahkan anda datang sendiri ke kampung asli mereka dan silahkan berdiskusi dengan mereka masalah kebatakkan yang anda pertahankan itu.
    kami orang karo tidak pernah merasa sekalipun kalau orang batak toba lebih inferior dari suku kami. kami merasa kalian itu duduk sama rendah dengan kami dan bediri sama tinggi dengan kami. secara tidak lanusng kam pun sangat ragu akan kebenaran legenda si raja batak dan tarombonya. pesta itu kan cuma diadakan di toba kan baro, di tanah karo acara yang anda sebutkan sama sekali tidak pernah dilaksanakaan. kalau pun benar, itu hanya tarombo orang batak toba saja.

    _Gaol Lumban :
    anda sendiri pun keturunan kera nya…
    benar2 bodah dan tolol anda..
    g pernah baca sejarah ya?
    makanya jangan jago kandang aja..

    _Monang Purba
    1.Kenapa Merga Tarigan klan merganya sama jumlahnya dengan klan Marga Purba Simalungun, istilahnya embel-embelnya koq sama ya?
    >bisa anda pastikan itu pal?kalau tidak sama gimana?biar jangan asal bicara aja..

    2.Siapa sih sebenarnya Bapak/Orangtua/Nenek Moyangnya merga Tarigan itu?
    Siapa sih?
    >tergantung versi suku mana pal..
    kalau versi karo dari karo lah nenek moyangnya, versi toba dari toba lah nenek moyangnya, dll…
    tergantung siapa yang bicara.
    kalau boleh tanya siapa sih bapak/orang tua/ nenek moyangnya mrga purba itu?

    3.Kenapa kalau ada Pesta Tugu Marga Purba di Dolok Sanggul Merga Tarigan harus hadir/diundang?
    >dolok sanggul kan perbatasan pal, wajar dong diundang yang dianngap mirip2 marganya..
    toh di tanah karo ga ada tu pesta tugu marga purba..
    jangan ngaco deh kam…

    4.Apakah Merga Tarigan boleh menikahi Beru Karo-Karo Purba, atau sebaliknya?
    -Kalau jawabnya TIDAK, kenapa?
    >boleh-boleh aja.. siapa yang larang,,,
    nampak kam g ngerti adat budaya karo tapi treriak2 sok tau..
    sudah jelas yang satu tarigan dan mau dikawini beru karo-karo, kan sudah beda marga pal..
    tambah lagi deh ngaconya impal purba morgana ini…

    5. Apakah Karo-Karo Purba boleh menikahi beru Purba Toba/Simalungun?
    -Kalau jawabnya TIDAK, kenapa?
    >pertanyaannya dibolak-balik, ga seru ah… mungkin sama dengan karakter orangnya suka membolak-balikkan pertanyaan…

    _binsar napitupulu
    orang melayu di sumut dulu pun punya marga bos, china pun punya marga bos, orang ttimor juga punya marga pak, orang bugis juga, toraja juga, minahasa juga,…
    jangan kampungan gitu deh kasih statement….

  280. saudara Gaol marga yang anda maksut marga ginting manik ya? saya marga ginting manik.saya juga kurang tau tepatnya darimana asalnya, cuma ada yang mengatakan asalnya dari karo kemudian mereka keluar dari tanah karo dan pergi ke daerah simalungun dan disana mereka diangkat sebagai saudara sehingga marganya jadi ginting manik demikian juga dengan munthe. kalo saya tidak salah asal munthe dan manik dari tongging..tapi sekali lagi saya juga kurang mengerti jika ada kesalahan saya dalam menyampaikan mohon diperjelas bagi saudara2 yang lebih paham
    bujur mejuah juah

  281. @Timotius Karo-Karo Purba. Anda keliru atass istilah Marga dan Family name. Family name umumnya sering berubah2 dan tidak lebih dari beberapa generasi saja. Umumnya Family name yang lebih berlangsung lama dipakai bila ia keturunan orang terkenal. contoh: Guntur Sukarnoputra karena ia anak presiden. Muzaffar Daud – karena ia cucu orang terkemuka Daud Berueh dll. Marga dalam hal ini menerus dari generasi ke generasi dengan catatan lengkap keturunan (Tarombo), contoh di Filipina Gringo Honasan – marga pembrontak folipina tersebut Honasan. Jessie Magaporo, marga kawan itu Magaporo. Marga Benyamin di Israel keturunan Benyamin anak dari Yussuf. Marga Ruben di Yahudi keturunan Ruben anak. Marga bisa dilacak hingga dengan induknya. (ompung ni ompungna). di Israel sampai dengan Abraham, sampai dengan Nuh, sampai dengan Adam.
    Jelas Karo dalam hal ini ikut2tan Batak dalam memakai Marga. Ini dibuktikan dengan tidak jelasnya garis keturunan di Karo.
    Dalam hal Simalungun mengapa saya masukkkan terhadap suku Batak, karena tanpa di sanggah lagi bahasa Simalungun jauh lebih mirip dengan bahasa Batak dari bahasa Karo, dan saya tidak percaya pendatang bisa mengubah bahasa suatu suku bangsa, kecuali kalau bangsa tersebut belum mempunyai bahasa. Dapat di lihat dari buku2 Laklak Simalungun Bahasanya sangat dimengerti oleh batak. Saya percaya banyak penduduk Simalungun tidak mengaku sebagai Batak, dalam hal ini juga banyak Batak di perantauan yang malu mengakui dirinya Batak
    Saya berbicara berdasarkan fakta, saya tidak berkeinginan seorang menjadi saudara saya bila memang dia tidak ada hubungan dengan saya.
    Kalau saya melihat ke Digjayaan kerajaan Haru dahulu kala, maka karo sekarang adalah sisa2 kerajaan yang hampir sirna (musnah), terjepit terdesak ole suku2 lain yang lebih progressif. berbeda dengan Batak yang baru datang ke Sumatra sekitar abad ke 12, saat ini Batak termasuk suku di Indonesia yang menjulang. Yang pertama adalah Jawa karena menang jumlah, kedua adalah Minang, juga mereka lebih banyak dari Batak. Di sumatra Utara sendiri, Batak dalam 35 generasi, sebagai pendatang telah menguasai hampir seluruh Danau Toba, Silindung hingga dengan Mandailing, juga ke arah Simalungun

  282. @Gaol Lumban & Tomotius Karo-Karo purba. kalian keracunan teori evolusi Darwin ya. …………….. Manusia asal dari kera… ini hal yang paling menyedihkan. Semua yang hidup menjadi tua dan yang tua menjadi mati dan yang mati menjadi Tanah….. Darwin mengajar tanah menjadi kehidupan… nah mengapa kehidupan itu bertambah tua dan mati. teori yang tolol sekali … kala dari tidak ada menjadi hidup, seharusnya yang hidup bertambah besar dan kua, bukan tua dan mati. kalau dari yang tidak ada bisa melawan akibat perubahan cuaca dan proses pelapukan. kenapa ia harus tua dan mati.
    Bukti segala mahluk ciptaan Tuhan adalah ciptaan tangan Tuhan. Ingat bila ayah anda menulis. lihat tulisannya, maka anda bisa membedakan tulisan ayah anda atau tulisan orang lain.
    Nah kesamaan semua mahluk dari daging menunjukkan satu pencipta. Tuhan semesta Alam. kalau ada dua pencipta barangkali satu membuat manusia berupa daging dan yang lain membuat seperti robot atau besi, dan Tuhan lain bisa saja membuat Manusia Elektronik.
    Jelas Kera dan binatang2 lain diciptakan sebelum manusia. Ciptaan terakhir adalah model terakhir, ciptaan akhir lebih sempurna dari ciptaan pertama. Manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Penciptanya, tetapi tidak se sempurna pencipta itu sendiri. Ref. Alkitab

  283. Bang timotius karo karo… mbages kel statement ndu e bang meggelut kari kalake si mbegi mbegi tahan emosindu bg. payo nge katandu e, aku pe kempak kuta tah lit kang piga piga ije kalak pak pak ras simalungun.pernah kang kusungkuni, kalake pe labo senang adi ikatakan ia kalak batak terlebih lebih ikataken keturunan siraja batak bagi sini ikataken teman2ta kalak teba.

  284. @Timotius Karo-Karo Purba. ……….. Benar sekali ucapan Anda orang Bugis punya Marga. . … selain itu Orang Bugis juga punya tulisan. Orang Bugis ulung dalam bidang pelayaran. Oleh karena itu ada orang Suku Bugis di Thailand, ……… malah banyak tanda2 bahwa orang Bugis sudah lama hinggap di Australia. Ini bsa dilihat dari pengaruh bahasa Bugis terhadap bahasa Aborigin di Australia. …..Malah banyak saudara kita dari Mandailing percaya bahwa mereka keturunan Bugis. Memang banyak kesamaan Bugis dengan Batak, tidak dapat dibantah.. perbedaannya. Mereka umumnya pelaut dan Batak manusia lebih bersifat menyukai daerah pedalaman. Orang Cina juga punya Marga. Tetapi tidak banyak suku2 di Indonesia yang punya Marga, umumnya hanya Family name

  285. @Karo Medan. Jelas kedatangan Batak merugikan Karo, karena dulu kejayaan karo meliputi seluruh Danau Toba ……………. kata orang!!!… sampai Palembang?. ..Dengan kedatangan Suku Batak … yang baru mencakup kira2 35 generasi…Karo jadi terpencil. malah orang Simalungun lebih senang bicara Bahasa Batak… Lihat buku Laklak mereka. Kalimat2 karo yang dikemukakan sdr Ginting Manik diatas saya masih bisa mengerti garis besarnya. ibarat bahasa Portugis dan bahasa Italy

  286. Perang Sisingamangaraja terakhir sebelum ditaklukkan oleh belanda adalah mengungsi ke Dairi, bukan Karo. Tidak mungkin Sisinga Mangaraja mengungsi dan mencari perlindungan ke daerah yang ia kurang Akrab. Hal Ini menunjukkan bahwa Dairi adalah Wawasan yang masih menunjukkan Keakraban , … barangkali juga mendukung Sisinga Mangaraja

  287. kenapa harus bingung dan berdebat kusir.. mari kita bangun bersama SUMUT khususnya dan INDONESIA secara keseluruhan… biar para antropolog dan etmonolog yang memecahkan perbedaan dan persamaan ini semua.. MERAH PUTIH harga MATI… MERDEKA….!! Mejuah Juah HORAS, Njuah Njuah, Yahowu…!

  288. Binsar Napitupulu :
    saya kutip
    “Anda keliru atass istilah Marga dan Family name. Family name umumnya sering berubah2 dan tidak lebih dari beberapa generasi saja. Umumnya Family name yang lebih berlangsung lama dipakai bila ia keturunan orang terkenal. contoh: Guntur Sukarnoputra karena ia anak presiden. Muzaffar Daud – karena ia cucu orang terkemuka Daud Berueh dll. Marga dalam hal ini menerus dari generasi ke generasi dengan catatan lengkap keturunan (Tarombo), contoh di Filipina Gringo Honasan – marga pembrontak folipina tersebut Honasan. Jessie Magaporo, marga kawan itu Magaporo. Marga Benyamin di Israel keturunan Benyamin anak dari Yussuf. Marga Ruben di Yahudi keturunan Ruben anak. Marga bisa dilacak hingga dengan induknya. (ompung ni ompungna). di Israel sampai dengan Abraham, sampai dengan Nuh, sampai dengan Adam.
    Jelas Karo dalam hal ini ikut2tan Batak dalam memakai Marga. Ini dibuktikan dengan tidak jelasnya garis keturunan di Karo.”

    1 hal yang mau saya sampaikan sama kam, kam g pernah konsisten dengan apa yng kam jawab dulu2 kala..
    apa bedanya family name dengan marga atau nama keluarga atau nama keturunan atau nama klan, dll? hanya berbeda tulisan bung..
    dengan gampangnya mulut anda mengatakan kalau suku karo ikut2tan pake marga dari orang batak. MANA BUKTINYA KALAU KAMI ORANG KARO IKUT-IKUTAN?
    jangan asal argumen bung kalau tidak ada bukti ilmiah. jangan suka mengada2 dalam bicara.
    makanya jalan2 lah keliling inonesia.jangan cuma disumatra saja.paling2 cuma di SUMUT.
    orang timor,bugis,dayak, mandar, nias, minang, makassar, dll punya marga yang jelas lengkap dengan terombonya beserta siapa nenek moyangnya.

    “Dalam hal Simalungun mengapa saya masukkkan terhadap suku Batak, karena tanpa di sanggah lagi bahasa Simalungun jauh lebih mirip dengan bahasa Batak dari bahasa Karo, dan saya tidak percaya pendatang bisa mengubah bahasa suatu suku bangsa, kecuali kalau bangsa tersebut belum mempunyai bahasa. Dapat di lihat dari buku2 Laklak Simalungun Bahasanya sangat dimengerti oleh batak. Saya percaya banyak penduduk Simalungun tidak mengaku sebagai Batak, dalam hal ini juga banyak Batak di perantauan yang malu mengakui dirinya Batak
    Saya berbicara berdasarkan fakta, saya tidak berkeinginan seorang menjadi saudara saya bila memang dia tidak ada hubungan dengan saya.
    Kalau saya melihat ke Digjayaan kerajaan Haru dahulu kala, maka karo sekarang adalah sisa2 kerajaan yang hampir sirna (musnah), terjepit terdesak ole suku2 lain yang lebih progressif. berbeda dengan Batak yang baru datang ke Sumatra sekitar abad ke 12, saat ini Batak termasuk suku di Indonesia yang menjulang. Yang pertama adalah Jawa karena menang jumlah, kedua adalah Minang, juga mereka lebih banyak dari Batak. Di sumatra Utara sendiri, Batak dalam 35 generasi, sebagai pendatang telah menguasai hampir seluruh Danau Toba, Silindung hingga dengan Mandailing, juga ke arah Simalungun”

    sudahkah anda bertanya kepada orang simalungun asli di kabupaten simalungun sana? laklak simalungun mana yang anda baca?coba sebutkan nama laklak itu?
    kam bilang bahasa simalungun asli mirip ke bahasa batak toba? argumen dari mana itu? kam bilang pendatang tidak bisa mengubah bahasa suatu suku bangsa? diamerika itu apa?dimedan itu apa?dipekanbaru itu apo?
    kam bilang juga orang karo merupakan sisa2 kerajaan yg hampir sirna?
    lancar sekali anda berbicara seperti itu.

    saya juga tidak keracunan soal teori darwin kakanda.cuma menjelaskan saja kalau kami orang karo bukan keturunan kera bila dilihat dari versi agama.
    kalau versi sejarah orang batak toba juga kerturunan monyet kok.

    _Impal Ginting manik mergana :
    kita pakai bahasa indonesia saja pal, soalnya aku pernah dikomentari karna pakai bahasa karo.
    memang begitu, hanya orang toba saja yang bangga dibilang BATAK, orang KARO,SIMALUNGUN,PAKPAK, SANGAT JIJIK DIBILANG ORANG BATAK. !
    saya sering bermain ke daerah pakpak bharat dan punya beberapa keluarga angkat disana salh satunya bermarga manik siketang. mereka sangat tidak suka melihat orang batak toba dan sangat tidak ingin anak mereka menikah dengan orang batak toba. begitu juga di simalungun. saya punya abang angkat bermerga saragih sumbayak. dikampung mereka, orang simalungun tidak cocok dengan orang batak toba yang sudah merusak tanah leluhur dan budaya mereka. kalau memang orang karo, pakpak dan simalungun senang dibilang orang batak, sebutkan dimana anda-anda orang batak bertanya dengan mereka.

    dairi membela sisinga mangaraja bukan karna merasa akrab.hanya krna senasib sepenanggungan dijajah belanda. toh sisinga mangaraja bersekutu dengan kesiltanan aceh melawan belanda yg jelas2 orang aceh musuh orng batak.
    ada hal yang kontras yg terjadi pada perlawanan sisinga mangaraja.kenapa ia melarikan diri ke daerah dairi? KARENA DIA DIKHIANATI OLEH SUKUNYA SENDIRI. SUKUNYA SENDIRI YANG MEMBERITAHU BELANDA DIMANA TEMPAT PERSEMBUNYIAN ANAK2NYA. SUKUNYA SENDIRI YANG TELAH MEMBUNUHNYA. SUKU YANG DIPERJUANGKANNYA MALAH YANG MEMBUNUHNYA….

    sungguh sangat ironis nasibmu pak sisinga mangaraja..

    sungguh sangat berbeda dengan cara perjuangan orang karo….

    sibar bagendam lebe impal..
    mejuah-juah

  289. Seorang Plato meninggalkan sebuah cerita tentang pusat peradaban dunia yang sampai saat ini masih juga di perdebatkan tentang kebenaran dan keberadaanya .
    siapakah Plato dan dari manakah dia berasal ?

    ilmuan , arkeologh dsb yg di sebut dengan peneliti , kebanyakan dari benua eropa , yang telah menjajah Dunia yg termasuk di dalamnya adalah Nusantara , dengan cara apa mereka mampu menguasai ibu pertiwi ini ? … kalo menurut saya , dengan cara membuat saudara saudaraku yg tercinta berdebat sengit seperti yg di atas ini. kemudian mereka menjadi juru dame dan menyatakan merekalah pusat peradaban itu.

    Kita (Nusantara) kacau karena kekayaan budaya dan alam , yakinlah … yang muda yg merubah sejarah . tunjukkan pada Dunia bahwa budaya itu mahal , budaya yg kaya itu hanya ada pada kita. budaya lebih mahal dari gelar/titel kependidikan yg di buat oleh bangsa barat mereka itu tidak tau bagaimana rasanya Pagit pagit , lomok lomok , rendang dan ayam penyet . sadarlah saudaraku !!!😀

  290. Hubungan Karo dan Batak memang tidak pernah akrab sejak jaman sebelum jaman Belanda. Ingat kata2 …. JANGAK….. atau JAANGAAAAK …?. Saya tidak yakin itu bahasa Batak atau Karo, yang jelas perbatasan Batak dan Karo dahulu kala sangat Rawan … hanya orang2 yang gagah berani yang mampu melintasi perbatasan itu. Arti Jangak setahu saya adalah … sitangko jolma. Jadi di perbatasan Laro dan Batak berdiam penyamun2 yang selalu siap …..sitangko jolma!!!!

  291. Saran : jika ingin mengetahui persisnya sejarah dan silsilah satu suku apalagi Habatakon…silahkan datang ke sianjur mula-mula dan bagi kalak karo silahkan buat suatu kegiatan spritual agar bertanya langsung kepada tondi oppunta na parjolo…saya sendiri dari pakpak dairi mengakui saya asli orang batak…dan ini menjadikan darah saya merah diperantauan, dan saya sangat bangga disebut batak…terimakasih buat oppung Si Raja Batak yang telah memberikan saya darah ni habatakon, dan terimakasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melahirkan saya di Tanah Batak na di pasu-pasu on, pengalaman saya : Nenek Moyang saya yang dari Pakpak dairi duduk dihasandarannya kepada boru hutagalung, dimana oppung saya itu menceritakan Dia sendiri Adalah orang Batak walau bahasa dan sukunya asli pakpak, oppung itu sendiri mengakui tinggal diparkelleng-kelleng ( bahasa bataknya gunung-gunung yang tinggi ), dan berbicara dengan Bahasa Pakpak Asli dimana yang menterjemahkan asli orang pakpak sulit mengerti bahasa oppung saya yang berbicara melalui hasandarannya dengan bahasa pakpak yang sangat kuno, oppung saya mengakui dirinya batak dan sangat tahu tarombo batak apalagi silsilah keturunan marga saya, sampai dengan migrasi marga-marga yang ada dari induk batak, sebagai himbauan agar selilih dan usaha mempertahankan jati diri ini kelak buahnya menjadi damai bagi anak cucu kita…Horas…Njuah-juah bangso Batak na bolon.

  292. Saran : jika ingin mengetahui persisnya sejarah dan silsilah satu suku apalagi Habatakon…silahkan datang ke sianjur mula-mula dan bagi kalak karo silahkan buat suatu kegiatan spritual agar bertanya langsung kepada tondi oppunta na parjolo…saya sendiri dari pakpak dairi mengakui saya asli orang batak…dan ini menjadikan darah saya merah diperantauan, dan saya sangat bangga disebut batak…terimakasih buat oppung Si Raja Batak yang telah memberikan saya darah ni habatakon, dan terimakasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melahirkan saya di Tanah Batak na di pasu-pasu on, pengalaman saya : Nenek Moyang saya yang dari Pakpak dairi duduk dihasandarannya kepada boru hutagalung, dimana oppung saya itu menceritakan Dia sendiri Adalah orang Batak walau bahasa dan sukunya asli pakpak, oppung itu sendiri mengakui tinggal diparkelleng-kelleng ( bahasa bataknya gunung-gunung yang tinggi ), dan berbicara dengan Bahasa Pakpak Asli dimana yang menterjemahkan asli orang pakpak sulit mengerti bahasa oppung saya yang berbicara melalui hasandarannya dengan bahasa pakpak yang sangat kuno, oppung saya mengakui dirinya batak walau oppung saya itu asli dari pakpak dan saya sangat salut, oppung saya sangat tahu tarombo batak apalagi silsilah keturunan marga saya, sampai dengan migrasi marga-marga yang ada dari induk batak, sebagai himbauan biarlah kita tanya yang berkompetensi dalam pembahasan ini yaitu kepada oppunta sijolo tubu, agar selilih dan usaha mempertahankan jati diri ini kelak buahnya menjadi damai bagi anak cucu kita…Horas…Njuah-juah bangso Batak na bolon.

  293. @Tuan Nahoda Raja,
    ada yg rancu dgn sejarah batak yg diketahui umum.
    Dari pengamatan diskusi mengenai ‘UMUR’ masyarakat Karo & Toba, saya lihat ada kesalahan mendasar. Kalau kita percaya bahwa Masyarakat Karo dimulai sejak Kerajaan Haru, maka setidaknya susah mencapai jumlah generasi = 56. Sedang Masyarakat Toba, bila berpatokan terhadap silsilah/tarombo, paling rata-rata jumlah generasi = 25. Dengan asumsi 1 generasi = 25 tahun, maka kita dapat menghitung UMUR masyarakat Karo = 56 x 25 = 1.400 tahun. Artinya, Masyarakat Karo sudah ada sejak Abad VII. Sedang Masyarakat Toba = 25 x 25 = 525 tahun. Artinya, masyarakat Toba bermula pada Tahun 1400-an, dimulai dengan KEBERADAAN Si Raja Batak di Sianjur Mula-mula….
    Bagaimana bisa Sagala Raja sudah ada pada taun 1.000, padahal ‘Ompung-nya’ Si Raja Batak BARU ADA pada Tahun 1.400-an??? Itulah satu kesalahannya….

    Jd bagaimana pula dgn Dinasti Sorimangaraja yg katanya bukan org Batak? Bahkan di kalangan org Toba sendiri ada mitos kalau mereka itu adalah keturunan Minang yg melarikan diri ke Tanah Batak.
    Saya tdk emosional ,saya hanya bingung dgn argumen2 yg disampaikan oleh Suku Toba dan Karo yg td jumpa titik tengahnya,
    ketika saya mencari literatur tentang Kerajaan Batak tak ada saya temukan satu pun yg menekankan kalau Kerajaan Batak itu ada dan berdaulat thd semua tanah Batak, dan bahkan kakek saya yg keturunan Bangsawan ulama wilayah Pidie hanya mengenal Haru sbg wilayah org Karee(karo) dan Nagore tetangganya,jd siapa yg benar antara argumen tsb

  294. @ Tuan Nahoda Raja, apakah suku Pakpak itu masih ada, identitas dan jatidirinya ?. Sejarah Karo tentunya orang Karo lebih tahu daripada orang Batak.

  295. Dari pengamatan diskusi mengenai ‘UMUR’ masyarakat Karo & Toba, saya lihat ada kesalahan mendasar. Kalau kita percaya bahwa Masyarakat Simalungun dimulai sejak Kerajaan Haru, maka setidaknya susah mencapai jumlah generasi = 56. Sedang Masyarakat Toba, bila berpatokan terhadap silsilah/tarombo, paling rata-rata jumlah generasi = 25. Dengan asumsi 1 generasi = 25 tahun, maka kita dapat menghitung UMUR masyarakat Haru = 56 x 25 = 1.400 tahun. Artinya, Masyarakat Simalungun sudah ada sejak Abad VII. Sedang Masyarakat Toba = 25 x 25 = 525 tahun. Artinya, masyarakat Toba bermula pada Tahun 1400-an, dimulai dengan KEBERADAAN Si Raja Batak di Sianjur Mula-mula….
    Bagaimana bisa Sagala Raja sudah ada pada taun 1.000, padahal ‘Ompung-nya’ Si Raja Batak BARU ADA pada Tahun 1.400-an??? Itulah satu kesalahannya….

  296. Dari pengamatan diskusi mengenai ‘UMUR’ masyarakat Karo & Toba, saya lihat ada kesalahan mendasar. Kalau kita percaya bahwa Masyarakat Karo dimulai sejak Kerajaan Haru, maka setidaknya susah mencapai jumlah generasi = 56. Sedang Masyarakat Toba, bila berpatokan terhadap silsilah/tarombo, paling rata-rata jumlah generasi = 25. Dengan asumsi 1 generasi = 25 tahun, maka kita dapat menghitung UMUR masyarakat Simalungun = 56 x 25 = 1.400 tahun. Artinya, Masyarakat Haru sudah ada sejak Abad VII. Sedang Masyarakat Toba = 25 x 25 = 525 tahun. Artinya, masyarakat Toba bermula pada Tahun 1400-an, dimulai dengan KEBERADAAN Si Raja Batak di Sianjur Mula-mula….
    Bagaimana bisa Sagala Raja sudah ada pada taun 1.000, padahal ‘Ompung-nya’ Si Raja Batak BARU ADA pada Tahun 1.400-an??? Itulah satu kesalahannya…

  297. njuha-juah..

    saya sebagai orang pakpak bermarga Tinendung yang berkampung asli di pakpak bharat dari hati yang paling dalam sangat tidak menyukai dikatakan sebagai orang batak pakpak, cukup orang pakpak saja.

    kalian teman2 kalak batak toba cukuplah sudah kalian merusak tanah adat kami, budaya kami dan adat kami.
    dulu kalian datang ke tanah kami hanya sebagai pekerja kasar yang ingin mencari sesuap nasi di tanah kami krna tanah kalian sangat tidak subur. kalian datang dengan penuh sopan santun, ramah, bersahabat dan saat populasi kalian sedikit kalian malah merubah2 marga kalian ke marga ornag pakpak. namun sekarang apa yg telah kalian perbuat? orang2 kalian yang malah memerintah daerah kami dan melakukan kegiatan pembodohan ditempat kami. dulu kami merasa suku karo bukan siapa2 kami, tapi malah sekaeang merekalah yang banyak membantu kami.baik dibidang pendidikan, kesehatan, dll.

    bantuan kalian? tidak ada. yang ada malah kalian melakukn suatu program penghapusan budaya,adat dan bahasa suku pakpak.
    dan saya (kami juga orang pakpak) merasa suku karo lah saudara jauh kami. baik di persamaan bahasa, budaya, adat dan sifat serta cara hidup kami.

    orang karo telah membuka mata kami orang pakpak(mungkin juga orang simalungun) kalau kami orang pakpak bukanlah orang batak. hanya orang karo yang tetap teguh mempertahankan budaya mereka dari serangan licik suku kalian.
    mungkin karna mereka suku karo yang begitu kuat dan solid mempertahankan ideologi mereka kalau mereka adalah orang karo bukan orang batak karo kalian lantas memandang negatif mereka. lalu bermunculan lah tren negatif mengatakan kalau orang karo itu tukang santet, pemarah, ,menusuk dari belakang, tidak setia kawan ,dll.
    padahal dari pengalaman saya kalian lah yang tukang santet itu, pemarah, menusuk dari belakang (bahkan keluarga sendiri pun bisa ditusuknya), penjilat, koruptor, licik, dll.
    maaf jika kalian suku batak toba merasa tersinggung,

    mungkin ini hanya tulisan kecil saya dan tidak 100% mewakili hati orang pakpak.
    tapi saya yakin dan percaya dimanapun orang pakpak berada, mereka pasti bangga dikatakan ORANG PAKPAK, dan bukan orang BATAK PAKPAK.

    NJUAH-JUAH….

  298. Kata2 Batak berasal dari mamatak Hoda sama sekali tidak ada kebenarannya… tolong sdr Jones Gultom mengoreksinya.. dan kata2 Batak didominasi oleh masyartakat Toba juga tidak ada benarnya. kalau kita melihat sejarah HKBP ( Huria Kristen Batak Protestant. HKBP pertama berdiri di Sipirok pada tangal 7 Oktober 1861. harap[ sdr Jones Gultom dan saudara Jurqa Ginting melihat sejarah HKBP. nah HKBP itu singkatan dari Huria Kristen Batak Protestant. dan Itu bukan berdiri di Toba!!!!!…. Saat itu Belanda belum menguasai tano batak, karena belanda baru mulai menyerang Batak pada tahun 1887 dan baru menguasai Batak sekitar 1912. Sipirok bukan Toba. tanya saja Sipirok itu orang Batak bukan, kalau tidak, mengapa mereka memakai nama HKBP

  299. @R.Tinendung: Kalau masalah Koruptor , tukang santet, tusuk dari belakang dsb dikategorikan sebagai Batak itu tidak beralasan sama sekali, ada orang baik, ada orang jahat, itu ada di semua bangsa, ada Jawa koruptor, ada Jawa orang baik2. koruptor bukan ada di Indonesia saja tetapi di seluruh Dunia, ada dimana2. kalau saudara Tinendung menganggap saya sebagai orang Toba adalah Koruptor, saya harap sebaiknya sdr Tinendung Mawas Diri. Saya orang Toba, keahlian saya sebagai Kuli Bangunan dan perbengkelan di Perantauan. Saya punya usaha sendiri di perantauan. Sebagai orang yang saya anggap beragama saya rasa anda tidak berhak mengadili orang lain seperti itu. kecuali anda sesat, atau sok beragama. Saya tidak mengadili tetapi membela diri

  300. @Tengku Eduart Zhein : kalau anda boleh meneliti, keturunan dari op. si raja batak sampai kegenerasi yang paling muda sekarang sudah tidak ada lagi yang membawa nama sendiri, yang ada hanyalah marga dengan nomor, salah satu contoh : marga sihombing nomor 19 atau yg paling muda dari nomor itu bisa 20 dst, jadi sebelum marga sihombing ada dan sudah ada nama sihombing yang menjadi marga sekarang, boleh anda menghitung ulang kembali….tentang empung raja sori mangaraja sendiri adalah keturunan dari empung raja isumbaon, putra ke-2 dari empung si Raja Batak, terimakasih.
    @L. Ginting ; Kalau anda boleh berkenan silahkan anda datang ke tanah pakpak di kota salak (pakpak bharat) dan rimo (aceh singkil), disitu anda masih bisa menemukan kalak pakpak, dan tentang jati diri saya mewakili kalak pakpak bahwa kalak pakpak tetap ada dan akan tetap mempunyai jati diri.
    @R.Tinendung : kelihatannya anda tidak puas dan senang dengan orang batak toba, saya sendiri sebagai keturunan empung dari batak pakpak merasa kecewa atas pernyataan anda dimedia ini, saya sarankan anda buang jauh-jauh pendapat seperti yang anda tuliskan diwall ini, karena sangat bersedih empung ta i midah kita karina wehh, oda boi bagi senina, aku pe parna ngo wehh, mungkin karena pakpak jarang bersekolah dan muncul kepermukaan makanya tidak ada yg maju sebagai pepimpin besar yang membawakan kalak pakpak, jadi anda jangan berpikiran semacam itu, anda perhatikan kalau anda pergi ke perbatasan singkil dan pakpak bharat disitu akan anda temukan gapura yang berisi gajah putih yang adalah hadiah atau lambang kerajaan yang berkuasa, yang melambangkan bahwa perjuangan pahlawan dari batak turut ambil bagian disana karena merasa satu keturunan makanya bahu membahu dan tolong menolong, saya tidak perlu sebutkan empung siapa namanya di kalak teba, kalau anda menelusuri sejarah di tapak tuan juga, anda akan mengerti kalau keturunan dari empung si raja bataklah yang ada disana, empung saya juga berasal dari perkelleng-kelleng ditanah pakpak, empung saya mengakui dan menjabarkan silsilah marga saya termasuk marga anda dari keturunan Mpu bada…kalau masalah moral yang anda sebutkan, jangankan orang batak toba, oarang pakpak sendiri juga punya msalah moral kok, tidak etis jika saya sebutkan masalah moral yang ada di wilayah keseluruhan tanah adat diwilayah sumut sana…dan kalau anda percaya bumi ini sudah tua, dimana hari-hari ini adalah jahat, tetap waspada dan kuatkan iman kepada Tuhan yang adalah Raja dari Segala Raja.
    NB : oh ya sebagai contoh : saya ada pernah bercerita dengan orang batak karo, kata beliau bahwa karo dan toba saling diadopsi bahasanya oleh pakpak, menurut saya itu salah betul, karena bahasa asli empung saya yang duduk dihasandaran nya boru hutagalung menggunakan bahasa yang sangat kuno, dan penterjemahnya tidak mengerti kecuali ada dayang-dayang empung itu yang berbicara kembali dengan bahasa yang sekarang ditanah pakpak, begitu juga dengan toba dimana bahasa yang sangat kuno nya juga ada…jadi seiring perkembangan zaman maka bahasa itu sudah dicampur dengan bahasa yang saling berdekatan daerahnya…sekali lagi saya menyebutkan Batak itu adalah Toba, karo, simalungun, angkola mandailing, pakpak dairi, bahkan gayo, nias yang adalah termasuk dalam bona ni pinasa disilsilah batak, bukan hanya empung saya yang duduk dihasandarannya saja yang menyebutkan seperti itu, saya pernah bertemu dengan empung si Raja Batak, dan mengatakan kalau danau toba sebelum ada, orang batak sudah ada dan tinggal di gunung toba yang sekarang disebut sianjur mula-mula, bisa anda-anda hitung sudah berapa ribu tahun usianya…terimaksih..horas, njuah-juah, mejuah-juah, yahowu.

  301. @Tuan Nahoda Raja ; bagaimana pula dengan hasil penelitian yg dilakukan di sekitar Candi portibi yg ditemukan lempengan yg bertuliskan nama Namora Pande Lubis yg sekarang di simpan di museum Nasional Indonesia yg berangka tahun 800 M yg menunjukkan kalau Mandailing itu bukan berasal dari Pusuk buhit seperti tarombo Si Raja Batak tapi dari minangkabau???
    kemudian orang yg disebutu batak dalam catatan Mendez pinto bukan menyebutkan Batak yg dari Toba Samosir?? tapi penduduk kerajaan haru yg dipimpin oleh klan marga surbakti???
    sangat aneh buat saya mengakui Tarombo yg penuh mitos itu,sama seperti mitos bukit siguntang bagi bangsa Melayu yg sangat meragukan kebenarannya,kalau mmg manusia itu berasal dari pusuk buhit,knp tidak di sana peradaban yg tertua ditemukan??? kenapa mesti di kerajaan Haru atau pane yg ada di atau di kerajaan Nagur di sumatera timur ditemukan situs2 yg umurnya jauh lebih tua dari yg ada di samosir yg semestinya jd tanah kelahiran suku Bangsa batak di dunia???

  302. Si Raja Batak diperkirakan hidup di sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang Tamil di Barus.
    Pada tahun 1275, Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1400, kerajaan Nakur berkuasa di sebelah timur Danau Toba, dan sebagian Aceh. Dengan memperhatikan tahun dan kejadian di atas, diperkirakan si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari selatan Danau Toba (Portibi), atau dari barat Danau Toba (Barus), yang mengungsi ke pedalaman akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus.
    Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya, ditempatkan di Portibi, Padang Lawas, dan sebelah timur Danau Toba (Simalungun)
    Sebutan Raja kepada si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan si Raja Batak, seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan dan sebagainya, meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.
    Selanjutnya menurut buku Leluhur marga-marga Batak, dalam silsilah dan legenda, yang ditulis Drs Richard Sinaga, Tarombo Borbor Marsada anak si Raja Batak ada tiga orang, yaitu Guru Teteabulan, Raja Isombaon, dan Toga Laut. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga Batak.
    Di antara masyarakat Batak, ada yang mungkin setuju bahwa asal-usul orang Batak dari negeri yang berbeda, tentu masih sangat masuk akal. Siapa yang bisa menyangkal bahwa Si Raja Batak yang pada suatu ketika antara tahun 950-1250 Masehi muncul di Pusuk Buhit, adalah asli leluhur Orang Batak?
    Dari sejarah Batak yang tertulis kita dapat membuat perbandingan antara kehidupan Si Raja Batak dengan sebuah kerjaan besar bernama Aru yang disebut-sebut sebagai kerjaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara saat ini.
    Dari catatan kronik Cina pada masa Dinasti Yuan, disebutkan bahwa pada tahun 1282 Kublai Khan menuntut tunduknya penguasa Haru pada Cina. Tuntutan itu disebutkan ditanggapi dengan pengiriman upeti oleh saudara penguasa Haru pada 1295. Maka dari catatan ini dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Aru sendiri pasti sudah ada sebelum tahun 1282? Antara Karo dan Kerjaan Aru selalu terkait, bahkan terdapat indikasi bahwa penduduk asli Haru berasal dari suku Karo, seperti nama-nama pembesar Haru dalam Sulalatus Salatin yang mengandung nama dan marga Karo.
    Membandingkan antara masa kehidupan si Raja Batak dengan masa berdirinya Kerjaan Aru yang secara bersama-sama hidup diantara abad ke-12 sampai abad ke-13 dengan dua kerjaan yang berbeda, maka sudah tentu, antara nenek moyang Batak dengan nenek moyang Karo itu berbeda. Disatu sisi nenek moyang Batak berasal dari Si Raja Batak. Namun disisi lain nenek moyang Karo berasal dari Kerjaan Aru yang rajanya disebut juga dengan Pa Lagan (nama orang karo)

  303. mejuah-juah…

    _B.Napitupulu : “nah HKBP itu singkatan dari Huria Kristen Batak Protestant. dan Itu bukan berdiri di Toba!!!!! ”

    tapi kenapa ya kalau kebaktian pakai bahasa TOBA, alkitab pakai bahasa TOBA, tutur sapa jemaatnya pakai budaya TOBA dan HKBP sangat berbau TOBA?
    kenapa pula gereja GKPS,GKPA,GKPP memisahlan diri dari HKBP?

    saudara tau ga kenapa belanda menyebut BATAK di daerah sipirok (TAP-SEL)?
    pasti g tau kan?

    _Tengku Eduart Zhen :
    saya setuju dengan pernyataan saudara. Karo jika ditelusuri secara ilmiah (LOGIKA DAN MASUK AKAL) berusia jauh lebih tua dari umur batak dan siraja batak yang tidak jelas sampai sekarnag siapa dia (MITOS , TIDAK ILMIAH DAN TIDAK MASUK AKAL).

    masa cucunya (suku karo) lebih tua dari kakeknya (siraja batak_suku batak) ???

    _R.Tinendung :
    Njuah-juah pal,
    semoga Tanoh Pakpak dan Kalak Pakpak semakin jaya dan berhasil memajukan daerah dan masyarakatnya dari belenggu pembodohan suku pendatang dari barat…

    _Tuan Na Hoda Raja :
    Njuah-juah pal…
    bukan maksud saya mau mencampuri urusan intern kalian sesama orang pakpak.
    namun karena kam sudah membawa suku karo (kam sebut suku batak karo) maka saya merasa ingin mengkomentarinya.

    “NB : oh ya sebagai contoh : saya ada pernah bercerita dengan orang batak karo, kata beliau bahwa karo dan toba saling diadopsi bahasanya oleh pakpak … ”
    kami orang karo tidak pernah merasa kalau bahasa pakpak diadopsi dari bahasa kami. persamaan bahasa mungkin terjadi dikarenakan wilayah tanah karo berbatasan langsung dengan pakpak.
    namun, seperti yang saya pernah tuliskan di komentar saya sebelumnya,
    saya punya banyak kenalan di daerah pakpak bharat dan punya kelurga angkat disana bermerga siketang dia punya pendapat yang sama seperti yang dituliskan oleh impal kita Tinendung mergana.
    kalau boleh tau, kam bermerga apa, asal dimana biar jelas mana tau kam orang batak yang mengaku2 jadi orang pakpak.

    Bujur ras Mejuah-juah kita kerina….

  304. @Timustius Karo-Karo Purba: Pertanyaan yang tidak mengena tidak perlu dijawab, pertanyaan yang belum bisa dijawab tidak perlu segera dijawab. Tidak terjawab bukan berarti tidak, BISA JADI, MUNGKIN, BARANGKALI dll….. hindarkanlah selalu katakata2 POKOROL atau … Mau Menang sendiri, saya tidak berniat membatah, tetapi MENCARI KEBENARAN…… bukan MEMAKSAKAN KEBENARAN

  305. Saudara R. Tinendung, dari suku Pakpak, sebagai orang Pakpak sudah menunjukkan dengan jelas jatidirinya sebagai orang Pakpak .Jadi jelas dan tidak abu abu kadang sebagai orang Pakpak kadang sebagai orang Batak ataupun Batak Pakpak. Yang mana contohnya bahwa kalak Teba telah merusak tanah adat Pakpak,budaya dan adat Pakpak, melakukan program penghapusan budaya,adat dan bahasa Pakpak.

  306. pakpak’ berasal dari nama orang. Alkisah, tiga pemuda bersahabat karib bertolak dari Singkil. Nama mereka adalah si Gayo, si Karo, dan si Pakpak. Pemuda Gayo melangkah mengikuti sungai Kali Alas. Ia tiba di tanah Gayo. Melanjut ke Kutacane dia dan mentap selamanya. Pemuda Karo mengikuti Lae Ulun dan tiba di tanah Karo. Di sana ia tinggal permanen. Adapun pemuda Pakpak, ia mengikuti Lae Renun dan sampai di Pegagan Hilir. Di sana ia bergabung dengan penduduk asli dan membentuk perkampungan. Seperti kedua sobatnya ia pun menjadi migran yang berdiam menetap. Namanya kemudian diabadikan untuk seluruh kawasan.

    Sudah ada tiga tafsir tentang muasal kata ‘pakpak’. Lantas orang Pakpak sendiri dari mana berasal? Seperti halnya asal-usul seluruh etnik atau sub-etnik lain di Republik ini, yang satu ini pun belum jelas betul. Aneka macam versinya. Secara umum, sejak zaman Belanda, oleh para etnolog orang Pakpak digolongkan ke dalam etnik Batak.

    Jadi sama seperti orang Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Angkola. Adanya sejumlah unsur kedekatan atau kesamaan—misalnya dalam struktur sosial, sistem budaya, dan bahasa—puak ini satu sama lain menjadi dasar penggolongan. Uli Kozok [11], misalnya, menyatakan keenam puak ini memiliki bahasa yang satu sama lain banyak kesamaannya.

    Merujuk para ahli bahasa ia menyebut bahasa Angkola, Mandailing, dan Toba membentuk rumpun selatan; sedangkan bahasa Karo dan Pakpak-Dairi termasuk rumpun utara. Ihwal Bahasa Simalungun ada dua pendapat. Berdiri di antara rumpun utara dan selatan, begitu satu pendapat. Merupakan cabang dari rumpun selatan yang kemudian terpisah sebelum bahasa Toba dan bahasa Angkola-Mandailing terbentuk, kata pendapat lain.[12]

  307. Kita orang batak harus berbangga hati atas penelitian Ichwan Azhari ini,tetapi dia salah sampai jauh-jauh ke jerman untuk mencari apa arti kata Batak. Arti kata batak itu berbeda dengan kata Me-layu atau Malai,melayu itu adalah sebuah sebutan atau gelar sementara kata batak adalah sebuah nama yaitu nama sebuah pohon kayu yaitu kayu batak yang menurut sejarahnya kayu batak tersebut hanya ada tumbuh di tanah batak yang dubuat oleh nenek moyang orang batak menjadi tongkat bahasa bataknya tuk-hot kayu batak yang dibuat menjadi tukkot Sisia lagundi.

    Menurut sejarah tongkat inilah tuk-hot kebesaran para Mangaraja batak dulu Ciri-ciri kayu batak kurang lebih sebagai berikut:

    1.Pohonnya paling besar berdiameter 20 cm.
    2.Setinggi 2 s/d 2.5 meter tidak bercabang pangkalnya kebawah lebih besar.
    3.Daunnya kecil seperti daun JIOR.
    4.Kulit pohonny tipis.
    5.Bagian tenngah dlm kayu warna hitam,bagian luar putih getahnya merah

    Menurut legenda ke saktian dari pada tongkat Sisia lagundi ini hampir menyerupai tongkat nabi musa.Maka arti Batak adalah tuk-hot yang maksudnya tuk itu sampai dan hot itu adalah tetap.Maka ada umpasa Batak mengenai tukhot ini.Tuat na dolok martukkot si sia lagundi pinukka di parjolo diulahon na di pudi.

    Menurut adat batak dulu hanya ada dua Tuho parngoluan orang batak secara garis besar yaitu:
    1.Poda ni agama Mulajadi Nabolon.
    2.Poda ni tuk-hot si sia Lagundi.

    Menurut sejarah nenek moyang orang batak ada terjadi masa kegelapan pertama dan kedua di tanah batak.Masa kegelapan pertama yaitu masa meletusnya gunung Toba atau rentetan letusan kesekian kali setelah letusan gunung toba yang maha dasyat yg terjadi 70.000 thn yg lalu setelah ada peradapan manusia di kaki bukit tuba itu.Mengakibatkan peradapan bangsa batakpun punah termasuk tukhot SI Sia Lagundi tersebut.Masa kegelapan kedua orang batak yaitu masa datangnya kepercayaan parmalim.Dimana saat itu sesama bangsa batak tidak dapat lagi duduk bersama melaksanakan pegelaran adat batak dalihan natolu.Karena kepercayaan malim yang datang dari mesir mengharamkan daging babi sementara adat batak dalihan na tolu tidak dapat di laksanakan tanpa daging babai atau lomok-lomok.

    Sementara kata Malai menurut bahasa batak Ma dan kata dasar Lai yang artinya sbb: Lai artinya dauk-dauk meleleh atau lebur,hilang tak berguna.Lailai terdapat pada ekor ayam yang selalu mengarah kebawah,tidak ada gunanya malah menjadi gangguan utk berjalan dan berkelahi.Kata melai dalam bahasa indonesia MELAYU atau MA-LA-YU atau jadi Layu.Jadi kata-kata melayu itu dalam bahasa batak adalah sebuah sebutan bahwa yang bersangkutan sudah meninggalkan marganya dan adatnya sehingga tidak lagi orang batak.

    Orang batak yang meninggalkan tanah batak atau kampung halamannya dpt di bagi tiga golongan:
    1.Borhat tu tano parserahan(atau membuat perkampungan bar mangombang.
    2.Borhat mangaratto.
    3.Borhat gabe malai.

  308. ebelum datangnya Pengaruh Kesultanan Aceh tanah Alas sudah mengenal yang namanya sistem Kerajaan yang di mulai dengan kerajaan mbatu bulan yang di dirikan oleh Raja lembing anak dari Raja lotung dari Tanah Samosir Laut yang di ikuti oleh berdirinya kerajaan Bambel, dan kerajaan mbiak moli. Berbeda dengan daerah inti Kesultanan Aceh Darussalam yang memimpin setiap Mukim adalah Ullebalang, Di Tanah Alas dan Gayo Lues tidak mengenal sistem Mukim melainkan Kejuruan yang masing-masing kejuruan di perintah oleh Geuchik yang langsung bertanggung jawab kepada Sultan di ibu kota kerajaan Banda Aceh. pada masa Sultan Iskandar Muda Tanah Alas di bagi menjadi Dua kejuruan yakni kejuruan Bambel dan Kejuruan Mbatu bulan yang masing-masing kejuruan telah mendapatakan Cap Sikureung dari Kesultanan Aceh Darussalam selain cap sekureung Sultan Iskandar Muda juga memberikan sebuah Bawar Pedang(sejenis Tongkat komando).
    Ada sebahagian pendapat orang bahwa bangsa batak atau sub suku toba tidak pernah ada kerajaan.Tetapi menurut keterangan diatas jelas kerajaan Mbatu bulan di kutacane didirikan oleh raja lembing anak dari Raja Lotung dari tanah Samosir laut.berarti jauh-jauh hari sebelum ada kerajaan di tanah karo atau kerajaan karo keturunan lotung sudah membuat kerajaan sampai melalui tanah karo.

  309. Raja Lambing tidak pernah mendirikan Kerajaan di daerah Alas tapi mendirikan perkampungan yg kemudian menjadi asal marga sebayang dan selian…
    dia tidak pernah memerintah sbg Raja tp hanya sebagai orang yg dihormati di sana….
    yg ada adalah KERAJAAN linge yg didirikan oleh keturunan kesultanan PEURLAK yg kemudian membentuk kerajaan yg dalam pemerintahan nya dibantu oleh pemimpin Kejuruan Bukit yg merupakan org Karo yg berasal dari Haru….

  310. Miris saya melihat forum ini, mirissssss…..!!!!!!
    mari kita kalak karo intropeksi diri, berpikir dengan kepala dingin dan logis, sehingga kita tidak berkomentar dengan hanya melampiaskan emosi, TERUTAMA buat saudaraku yg mengaku dia kalak karo tp tidak mengaku batak, saya ikuti semua perdebatan mengenai karo bukan batak di dunia maya, kebanyakan hanya komen dan menggebu2 mendeklarasikan karo bukan batak tanpa bisa menjelaskan alasan masuk akal, jgnkan alasan masuk akal kebanyakan bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. jadi kenali dulu siapa diri kita baru kita bisa beradu argument dengan kepala dingin dan bisa dipertanggung jawabkan, bukan hanya egoism atau fanatisme yang berlebihan yang tidak berguna.

    Saya akan lebih senang berkata seperti ini : ORANG KARO ADALAH BAGIAN DARI BATAK, SIAPA YG MENYEBUT DIRINYA KARO TAPI TIDAK MENGAKU BATAK, SEJUJURNYA DIALAH YANG BUKAN ORANG KARO (saya harap kita mengerti maksudku)
    Dan saya meragukan Juara Ginting adalah orang karo, kalaupun dia benar orang karo berarti dia tidak belajar mengenai karo, dia pikir orang karo itu Cuma keluarganya doang apa?!! Karo itu majemuk mpal,,,
    dia tidak mengerti Merga silima, siapa Merga Silima, mengapa ada Merga silima.. tentu akan sangat panjang klo kita jelaskan semua, (saya jadi pengen tau sebenarnya dia itu Ginting apa sih.. ) KITA KALAK KARO PERLU HARUS TAU, MERGA SILIMA (KARO-KARO, TARIGAN, GINTING, PERANGIN-ANGIN & SEMBIRING) BUKAN LAH IDENTITAS/MERGA DIRI KITA YANG SEBENARNYA, MERGA SILIMA HANYALAH BERUPA RUNGGUN/RUMPUN/PERSADAN MERGA2 YANG NOTABENE DIBUAT OLEH BULANG KITA DULU YANG BERASAL DARI BERBAGAI DAERAH TERMASUK DARI DAERAH TOBA/TAPANULI, SIMALUNGUN, DAIRI DLL. Itu yang saya tau.
    Nah kalau anda bilang karo bukan batak, saya juga hargai, bila perlu saya ikutin, tapi jangan tanggung2, bila perlu sosialisasikan dengan gencar, dimedia radio/tv/cetak, spanduk, diacara kerja2. BERANI GA??? KALAU KARO BUKAN BATAK BERARTI MERGA KALAK KARO TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN MERGA KALAK BATAK SIDEBAN, JADI SAH2 SAJA KALAU SALING MENIKAHI, MERGA GINTINGNYA PAK JUARA AKAN BISA MENIKAH DENGAN MARGA SARAGIH MUNTHE DARI SIMALUNGUN DLL, TARIGAN TAMBAK AKAN BISA MENIKAH DGN PURBA TAMBAK DARI SIMALUNGUN DLL, PERANGIN2 KACINAMBUN AKAN BISA MENIKAH DENGAN SIMANJORANG DARI KODON2 DLL, SITEPU AKAN BISA MENIKAH DENGAN SIHOTANG DLL, KEMBAREN AKAN BISA MENIKAH DENGAN SILALAHI DLL, BANGUN AKAN BISA MENIKAH DENGAN SINAGA DARI SIANTAR DLL. Bisakah Pak Juara Ginting dan pendukungnya mensahkan itu?? Itu saya kira perlu, supaya anak2 muda sekarangpun peluang jodohnya semakin banyak, Saya baru salut sama Pak Juara Ginting ini klo itu bisa tercapai jangan Cuma didunia maya aja berkoar2, coba kam kutantang sekali saja kam bilang kek gitu klo kam kukerja2. Bilang klo karo itu tidak ada hubungannya dengan Batak,, klo dikabanjahe mungkin anda sudah dimasukin karung trus dibuang ke jembatan laudah. (mela kuakap pe..) biar jelas oh Nande/ Bapa/ Turang/Senina/ Silihkuuu!! Ise kin kita situhuna.

  311. kita harus salut dan solit dan bangga atas adat dan marga yg dibuat nenek moyang kita si raja batak, yg belum mengenal sekola alias tidak pernah jadi murit kelas tapi yg kita ikuti saat ini adalah jejak dan palsapah nenek moyang kita.Terutama membuat suatu marga supaya genrasi berikutnya mengenal saudara segaris sampai saat ini yg begitu bagus,rapih dan solider, sementara saudara kita ada yg bantah bahwa karo bukan batak gimannnnnnaaaaa….????
    terus terang aja,saya sangat sependapat dgan saudara Simada Tarigan, bila tidak suka disebut batak karo,dibuat aja seminar atau iklan biar dunia tahu…
    sekaligus ga usah pake marga , protess yang jelas dong pak juara… !!!
    egoismu sangat ga berguna,itu namanya memecah belah lo…!
    orang yg berusaha minder tanpa alasan jelas dan positif tidak pantas utk berpidato ,jadi tolong jangan bikin saudara kita batak karo lainya jadi bingung,cukup orasi bapak juara ginting aja.

  312. @Simada Tarigan Girsang

    itukan dilihat dari segi ilmiah,bukan cerita dari mulut ke nulut…
    kalau anda mambawa ini ke masyarakat umum sama aja anda membawa komputer ke kedai kopi,apakah semua orang di kedai kopi akan meledek anda….

  313. @Tengku Eduart
    Emang anda siapa? sehingga saya harus buang energi beradu argumen dengan anda? lagian ilmu anda sudah terlalu tinggi dibanding saya, saya ini hanya seorang petani, dan perlu anda tau saya nongkrong dikedai kopi hampir setiap hari. saya tidak mengerti (dan tidak perlu) istilah ilmiah2 yg anda maksud. saya hanya mengutarakan hal2 yang nyata dan jelas. terima kasih.
    _Salam Damai_

  314. Tengku eduart.tulisan di ats bukan temuan saya bung tetapi itu pengakuan orang alas sendiri di Kutacane sana,Itu hanya saya sadurkan lewat sejarah yg di akui mereka.Anda kalau coment.harus di pelajari dulu baru comnt.Seperti daerah aceh anda taukah bangsa apa yg duluan mendiami daerah aceh itu.Yang mendiami daerah aceh dulu itu adalah bangsa batak dengan bangsa cina Tetapi akibat dari meletusnya gunung berapi gunung Tuba itu yaitu rentetan letusan setelah letusan 70.000 th. yg lalu Peradaban bangsa batak sekitar kaki gunung toba itu radius 100 km.musnah.Belasan tahun kemudian diluar radius 100 km. bangsa batak yg masih tersisa kembali mendiami daerah sekeliling toba itu inilah yg mabawa perobahan bahasa yg akhirnya bahasa batak toba banyak persinya sesuai diealek dimana dia diam sebelumnya.Dan sementara di daerah aceh bangsa cina masih terus eksis itulah sebabnya nama2 kota di aceh sekarang ada bahasa cinanya contoh ANG-TZE(Aceh) yaitu kehadiran jendral Ang-tze .Loksemawe berasal dari bahasa cina Lou-tse -Mao.
    Takengon berasal dari bahasa cinaThe Kong An.
    Loksukon berasal dari bahasa cina-lou Tsu Kong.
    Blangkejeren beasal dari bahasa Tamil termasuk Biruen.
    Kejadian letusan gunung berapi diatas terjadi sekitar 800 th.sesudah masehi Kejadian sebelumnya letusan gunung berapi terjadi sekitar 70 thn sebelum masehi di kaki bukiit tuba itu sudah ada bangsa batak disanahidup hampir 25.generasi.Namun emua sejarah ini susah terungkap karena catatan2 dan bukti hampir sumua musnah di telan semburan lahar gunung toba yg maha dasyat itu.Menurut catatan yg saya baca sampai saat ini masih ada sebuah klenteng cina di aceh yg namanya klenteng KwangTek Kong disitu ada catatan perjanjian bangsa batak dengan bangsa cina yg dipimpin oleh jendral ANG TZE yang di abadikan dgn sebuah alat spiritual benama OGUNG atau GONG yang telah berumur hampir 1300 th sampai saat ini masih ada di Aceh (ang tze) menurut ahli sejarah klenteng

  315. @Mega Malindo
    bahasa batak yg berkembang sekarang bukan bersal dari bahasa toba yg dari samosir,bahkan aksara mandailing adalah aksara paling tua serta bahasa yg paling tua adalah bahasa mandailing,bagaimana anda menaggapinya???

  316. Temuan itu sah2 saja,demikian juga hamka dulu dalam tulisannya menyatakan bahwa sisinga mangaraja asalnya dari Tanah minang.Tetapi yg mengejutkan istana pagaruyung disebut juga istana silindung bulan dan lumbung padinya di sebut Nantinjo lauit.Kata2 silindung hampir tidak ada di pakai di sumatra barat apakah nama kampung atau nama gunung atau sungai itu setahu saya adalah nama kampung orang batak toba.Demikian juga Nantinjo kalau tidak salah nama ini adalah nama salah seorang nenek moyang orang toba. yaitu anak putri dari Guru Tatea Bulan.Nama2 anaknya ialah.anak laki2
    1.Mangaraja Sumba.
    2.Sariburaja
    3.Mangaraja Limbong
    4.Mangaraja Sagala
    5 .Silau Raja.
    Putrinya 1.Siboru Pareme
    2.Siboru Paromas
    3.Siboru Biding Laut
    4.Siboru Nantinjo
    Maksudnya bisa saja dulu Bangsa Batak sudah menyebar sampai ke sumatra bagian selatan atau barat.Dan kemudian gunung toba itu meletus kedua kali setelah ada peradapan manusia disana dan punah sisa2nya yg hidup termasuk yg tinggal didaerah lain kembali menetap di kaki gunung toba itu sebahagian lagi tidak pindah.Dari sejarah di atas dapat kita dapat menyimpulkan pendapat dari Hamka ada kebenarannya.
    Setelah letusan gunung Toba Pertama setalah ada peradapan Manusia disana keturunan Mangaraja sumba yang kembali ke tanah Batak yaitu dari keturunan
    Mangaraja Tuan Sori Anak laKI2
    1.Datu Pargomgom
    2.Datu Pejel
    3.Tuan Sorbadibanua
    Anak perm..1. Siboru Tuan Inang (kemungkinan menetap di
    Tanah Minang)
    2.Siboru Nasiak Bagi (kemungkinan kerajaan
    Siak)
    Setelah letusan gunung toba pertama yang kembali dari daerah Aceh ketanah batak yaitu keturunan dari Ompu Tuan Mangalas yaitu TUAN PAKPAK ULU.Keturunannya yaitu
    1.Tuan Pakpak
    2.Tuan Jangga Tano
    3.Tuan Sori Naga

    4.Tuan Ambualas
    5.Mangaraja Ambe
    Putri 1.Siboru Haro
    2.Siboru Menta
    3.Siboru Enggan.
    Si Boru Haro inilah yang mungkin kawin dengan pendatang dari india sana dan membuat Kerajaan di antara aceh utara ,tengah dan timur tetapi kerajaan itu kalahperang dgn bangsa cina dan mereka membuat perkampungan baru didaerah pengunungan Tanah Karo sekarang tetapi yg kesana rombongan itu bukan hanya bangsa batak saja ada juga India Tamil hindustan,cina Dll.
    Jadi temuan aksara di atas itu sah-sah saja.

    Tanah batak dulu adalah tanah yg sangat subur karena terletak dikaki gunung berapi yaitu gunung Toba.bisa saja mandailing itu bukan ketunan langsung dari Mangaraja Batak.Karena memang tidak semua keturunan orang batak adalah se ibu se bapak.Sesuai adat nenek moyang orang batak dulu sebelum ada adat dalihan natolu.Yaitu yang disebut adat.TUHO PARNGOLUON NI BATAK.Jadi banyak orang2 atau suku lain yang di adopsi atau yang mengikut adat batak.siapakah orang batak atau bangsa batak itu yang sebenarnya?Bangsa batak adalah bangsa yang memakai bahasa batak tulisan batak adat batak,tempat tinggal tanah batak dan bemarga marga batak.
    Dan siapakah yang di sebut orang batak dulu yang bukan orang batak atau batak MALAI adalah mereka yang di hukum usir dari pusat tanah batak yang tidak malaksanakan Hukum Partukkoan,kawin melanggar adat,kawin dengan orang asing suami atau isteri tidak barsedia memakai marga batak,tidak mengakui agama .MULAJADI NABOLON.Hal ini dapat kita buktikan dengan arti kata MA_LAI yg artinya jadi dauk_dauk sehingga tidak dapat di pergunakan.Contoh ekor ayam jago yang melengkung menyapu tanah disebut bahasa bataknya LAILAI.

    Alkisah,setelah Mangaraja,mangaraja Batak selesai melakukan partukkoan di SAMON yaitu di pusuk buhit sekarang.Hasil keputusan partukkoan itu perlu di sampaikan kepada para pomparannya agar tetap mempertahankan adat,yaitu adat dalihan na tolu dari pengaruh sileban yang di keluhkan orang batak yang bertempat tinggal jauh dari pusat tanah batak di Toba yang sudah mulai di datangi bangsa asing.Guru Tatea Bulan mengadakan perjalanan ke arah selatan tanah batak.Di dalam perjalanan itu dia bertemu dgn seorang ibu bersama suaminya orang Hindustan yang membuat marganya melalui garis keturunan ibu,namnya Siboru Tuan Inang yang dulu di usir karena kawin dengan seorang pembantunya.Siboru Tuan Inang. Siboru inang ingin balas dendam kepada Tatea Bulan,tetapi tatea bulan tidak meladeninya kejadian ini menjadi legenda di daerah yang di sebut Daerah Minang Kabau.Kemudian guru tatea bulan menjelaskan kepada orang batak yang di jumpainya tentang adat batak,dan menceritakan siapa sebenarnya siboru tuan inang.Dalam perjalanan Tatea Bulan melihat ada satu kampung menumbuk daun-daunan dan di tanya untuk apa itu,di jawab katanya untuk PULI ,daun itu adalah daun TADATADA yg di gunakan mereka untuk mengawetkan mayat. Kemungkinan kisah ini di temui oleh Tatea bulan di daerah mandailing.Dan Tatea Bulan pun meminta bibitnya untuk di tanam maka di tanamlah tanaman tadatada itu di tanah batak toba. sejak itulah timbul satu UMPASA.SADA MANUAN TADATADA,SUDE NAMPUNA PULI.SAHALAK MANDOK HATA SUDE NAMPUNA ULI.
    Tentang pengawetan mayat ini tidak ada di temukan di dalam budaya batak.

  317. Didalam kehidupan sosial atau budaya bangsa batak sejak adadi dunia ini.Tidak sisitim kerajaan.Di Indonesia atau di dunia ini hanya bangsa batak lah yang menganut DEMOKRASI LIBERAL MURNI.Yang ke dua tapi tidak murni adalah Indian Amerika.Di luar itu semua bangsa,semua suku diatur oleh peraturan yang di buat oleh penguasa yang memerintah.Jadi kehidupan orang batak rasa kebersamaannya bukan di ikat karena rasa kebersamaan komunal,bukan kebersamaan Agama,bukan kebersamaan aliran atau isme.Tetapi kebersamaan yang di atur hukum-hukum dari aturan yang di lindungi sistim demokrasi yaitu demokrasi liberal dalam marga dan adat melalui TUHO PARNGOLUON,RUHUT NI ADAT,PODA NI UHUM dan PANGALAHO NI PADAN (sistim bermasyarakat bangsa Batak).Dan sistim kerajaan tidak ada di tanah batak.Kalaupun Raja Sisingamangaraja ke12 menobatkan dirinya menjadi raja.Itu adalah Raja MALIM yaitu suatu kepercayaan dari Mesir.

    gelar yang ada pada orang batak atau bangsa batak dulu adalah:
    1.Gelar yang di berikan karena mempunyai ke dudukan mewkili masyarakatnya di sebut MANARAJA atau MANGARAJA.2.Gelar yg di peroleh karena mengikuti pendidikan disebut PATUAN,GURU dan DATU (bukan dukun) 3.Gelar yg di berikan karena keahlian dari yang di pelajarinya sendiri,atau temuannya sendiri di sebut OMPU,bahasa sangsekertanya EMPU.4.Gelar pengetahuannya tentang agama di sebut ENG atau IANG.Itulah sebab di dalam bibel berbahasa batak mengatakan berdoa MARTAMIANG.
    Orang yang kerjannya hanya menyalah,tidak berguna dan selalu dalam ejekan di sebut RAJA.Kata Raja dalam bahasa batak adalah untuk ejekan karena ada orang yang menyatakan dirinya Raja sedang dalam kehidupan orang batak tidak dikenal sistim raja.
    Pada umumnya adanya sistim kerajaan yang ada di bumi nusantara ini dulu adalah pengaruh dari kerajaan_kerajaan luar umumnya kerajaan mesir yang selalu membawa adanya kekuatan_kekuatan mitis atau antologis, seperti jaman ke hidupan purba dulu.Dan mulai dari pada itulah bangsa batak atau tanah batak rusak,karena telah terjadi perbudakan,sistim perkawinan sex atau selir,dan kedukunan,Pangulubalang,dan kanibal.Adanya istilah begu ganjang,Tuyul pun terjadinya pada jaman itu yaitu pada saat jaman datangnya kepercayaan Malim atau parmalim dari tanah Mesir. Dan juga kepercayaan luar lainnya. Namun banyak juga putri batak dulu yang kawin dengan bangsa pendatang lain dan membuat suatu sisitim kerajaan yg di pengaruhi sistim yg dibawa oleh para suaminya.

    Reply

  318. _Binsar Napitupulu : “@Timustius Karo-Karo Purba: Pertanyaan yang tidak mengena tidak perlu dijawab, pertanyaan yang belum bisa dijawab tidak perlu segera dijawab. Tidak terjawab bukan berarti tidak, BISA JADI, MUNGKIN, BARANGKALI dll….. hindarkanlah selalu katakata2 POKOROL atau … Mau Menang sendiri, saya tidak berniat membatah, tetapi MENCARI KEBENARAN…… bukan MEMAKSAKAN KEBENARAN”

    menulis nama saya saja anda sudah g benar dan terlihat sekali saudara kesal dengan saya. saya rasa pertanyaan saya mengena dan memang harus saudara jawab. saya bertanya karena saya merasa anda bisa menjawabnya seperti saat anda menentang saya dengan pertanyaan2 saudara. atau memang anda tidak tau sama sekali apa2 tentang suku karo dan suku anda sendiri ?

    _mega malindo :
    istilah2 yang anda tuliskan itu tidak pernah terdengar dikuping saya, kuping orangtua saya, nenek dan bulang saya.
    kalau lah memang suku karo merupakan orang batak kenapa sejak dari jaman dahulu kala nenek moyang kami tidak pernah mengajakan kepada kami kalau kami adalah orang batak?
    malah batak dikepala nenek saya (83 tahun, dan masih hidup sampai sekarang) adalah milik orang toba (teba kata orang karo)?

    kenapa dari zaman nenek moyang kami yang ada hanya istilah ” Tanah Karo Simalem (bukan tanah batak karo simalem), kita kalak karo (bukan kita kalak batak karo), budaya karo (bukan budaya batak karo), dll yang tidak ada kata “BATAK” nya?
    ga usah koar2 kesana-kemari lah…

    lihat kenyataan saja, kalau orang karo adalh orang karo bukan orang batak karo

    _Simada Tarigan Girsang :
    mejuah-juah impal…

    sedikit saya menanggapi statement kam. kami disini orang karo yang menyatakan diri sebgai orang bukan batak karo tidak sedikit pun mau mancari ribut,sensasi, dan sebagainya. hanya mau menunjukkan jati diri kami sebagai orang karo.

    saya kutip ” dia tidak mengerti Merga silima, siapa Merga Silima, mengapa ada Merga silima.. tentu akan sangat panjang klo kita jelaskan semua, (saya jadi pengen tau sebenarnya dia itu Ginting apa sih.. ) KITA KALAK KARO PERLU HARUS TAU, MERGA SILIMA (KARO-KARO, TARIGAN, GINTING, PERANGIN-ANGIN & SEMBIRING) BUKAN LAH IDENTITAS/MERGA DIRI KITA YANG SEBENARNYA, MERGA SILIMA HANYALAH BERUPA RUNGGUN/RUMPUN/PERSADAN MERGA2 YANG NOTABENE DIBUAT OLEH BULANG KITA DULU YANG BERASAL DARI BERBAGAI DAERAH TERMASUK DARI DAERAH TOBA/TAPANULI, SIMALUNGUN, DAIRI DLL. Itu yang saya tau.
    Nah kalau anda bilang karo bukan batak, saya juga hargai, bila perlu saya ikutin, tapi jangan tanggung2, bila perlu sosialisasikan dengan gencar, dimedia radio/tv/cetak, spanduk, diacara kerja2. BERANI GA??? KALAU KARO BUKAN BATAK BERARTI MERGA KALAK KARO TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN MERGA KALAK BATAK SIDEBAN, JADI SAH2 SAJA KALAU SALING MENIKAHI, MERGA GINTINGNYA PAK JUARA AKAN BISA MENIKAH DENGAN MARGA SARAGIH MUNTHE DARI SIMALUNGUN DLL, TARIGAN TAMBAK AKAN BISA MENIKAH DGN PURBA TAMBAK DARI SIMALUNGUN DLL, PERANGIN2 KACINAMBUN AKAN BISA MENIKAH DENGAN SIMANJORANG DARI KODON2 DLL, SITEPU AKAN BISA MENIKAH DENGAN SIHOTANG DLL, KEMBAREN AKAN BISA MENIKAH DENGAN SILALAHI DLL, BANGUN AKAN BISA MENIKAH DENGAN SINAGA DARI SIANTAR DLL. Bisakah Pak Juara Ginting dan pendukungnya mensahkan itu?? Itu saya kira perlu, supaya anak2 muda sekarangpun peluang jodohnya semakin banyak, Saya baru salut sama Pak Juara Ginting ini klo itu bisa tercapai jangan Cuma didunia maya aja berkoar2, coba kam kutantang sekali saja kam bilang kek gitu klo kam kukerja2. Bilang klo karo itu tidak ada hubungannya dengan Batak,, klo dikabanjahe mungkin anda sudah dimasukin karung trus dibuang ke jembatan laudah. (mela kuakap pe..) biar jelas oh Nande/ Bapa/ Turang/Senina/ Silihkuuu!! Ise kin kita situhuna. ”

    masalah merga silima impal, yang kam sampaikan memang benar. merga silima dibentuk bukan 100% karna faktor keturunan (tidak seperti orang toba).
    masalah bisa menikah denga “marga-marga” yang dianggap sama aya rasa bukan masalh besar bagi orang karo.

    sebagai contoh, Coba kita menjenguk sebentar ke merga Purba. Di Simalungun ada marga Purba, di Karo juga ada. Secara umum dikatakan bahwa Purba Simalungun sama dengan Tarigan di Karo. Tapi Purba di Karo ada dua macam. Ada Karo-karo Purba, ada pula Tarigan Purba. Prof. Dr. Hendri Guntur Tarigan almarhum kawin dengan beru Purba Simalungun yang untuk Karo masuk Tarigan. Dari sisi Karo, perkawinan mereka adalah antara Tarigan dengan Tarigan atau dari sisi Simalungun, Purba dengan Purba. Ada polemik terjadi di tengah-tengah masyarakat tentang perkawinan mereka itu. Tokh mereka kawin.

    Di Pakpak ada merga Manik yang dapat dibedakan antara Manik Siketang dan Manik Kecupak. Siketang dan Kecupak menganggap senina satu sama lain. Tapi untuk Karo dan Toba mereka sudah lain. Manik Siketang untuk Karo adalah Karo-karo Sitepu, sedangkan Manik Kecupak adalah Ginting Manik. Untuk Toba, Siketang adalah sama dengan Sihotang sedangkan Kecupak adalah masuk Parna[iambaton]. Kasus ini menunjukan bahwa hubungan senina tidak mesti didasarkan pada prinsip garis keturunan. Almarhum Selamat Ginting [Munte] (Kilap Sumagan) kawin dengan Beru Manik Siketang meskipun di Karo, Munte dan Manik tidak bisa saling kawin.

    Mengapa Sihotang, Sikettang dan Sitepu dikatakan berasal dari satu nenek moyang? Ada ceriteranya, memang, tapi ada satu hal lain yang perlu dipertimbangkan. Sihotang adalah Si Rotan. Si Kettang adalah Si Rotan. Sitepu adalah sejenis tumbuhan mirip tebu. Menurut taxonomi Karo (yang juga dianut oleh Toba dan Pakpak), rotan dan tepu adalah satu ‘family’ (ingat istilah-istilah species, family dan orde dalam biologi).

    Ini mengisyaratkan bahwa merga adalah sekunder dalam sistim perkawinan Karo. Dalam tulisan yang berjudul The Position of Hinduism in Karo Society (North Sumatra) (2000), duraikan di situ bagaimana prinsip terpenting dari merga bukanlah garis keturunan, melainkan locality. Merga mengindikasikan taneh kemulihen, bukan asal-usul keturunan. Taneh kemulihen hendaknya tidak diterjemahkan dengan tanah asal, melainkan suatu wilayah (baca: land) dimana orang yang bersangkutan bisa diterima oleh taneh (baca: soil). Maksudnya, tempat dimana tubuh si person diterima oleh tanah untuk dikuburkan setelah mati. Dus, merga adalah sesuatu yang sangat religius, mengidentifikasikan seseorang sama dengan ‘soil’ di satu wilayah tertentu. Punya merga punya hubungan dengan tanah/ wilayah merga itu.

    Apakah Ginting dan Simbolon bisa saling kawin? Perlu kita ingat bahwa perkawinan Karo punya beberapa tingkatan (dari tingkat paling tinggi hingga ke paling rendah): erdemu bayu, nangkih, kiam. Untuk perkawinan jenis kiam, siapa saja boleh kawin dengan siapa saja. Kiam bukan berarti harus melarikan diri atau diusir. Di kampung-kampung Karo sendiri saya kenal Ginting dengan Ginting kawin dan tinggal di kampung asalnya si laki-laki. Dengan nangkih, sepasang pengantin berhak punya jabu di salah satu rumah adat (karena itu disebut juga nangkih jabu). Dengan erdemu bayu, pengantin tersebut senilai dengan sebuah rumah adat dimana mereka menjadi pengulu. Sesuatu yang senilai dengan rumah adat berarti senilai pula dengan satu wilayah tertentu.

    erdemu bayu juga punya tingkatan-tingkatan lagi. Ada erdemu bayu yang senilai dengan rumah adat, kesain, kuta, urung dan sibayak. Tergantung nilai mas kawin yang dipertukarkan.

    Di pihak lain, wilayah-wilayah punya hubungan satu sama lain. Ada kuta yang berhubungan sembuyak atau anak beru, kalimbubu dan senina satu sama lain. Begitu juga hubungan antara urung yang satu dengan urung yang lain atau antara satu sibayak dengan sibayak yang lain. Setiap wilayah merepresentasekan merga tertentu, dan sebaliknya satu merga tertentu merepresentasekan satu wilayah tertentu. Dengan begitu hubungan antar merga adalah bersamaan dengan hubungan antar wilayah. Perkawinan, misalnya, bukan hanya soal hubungan antar manusia, tapi juga hubungan antar wilayah. Karena itu, perkawinan tradisional Karo tak pernah terlepas dari soal politik; soal hubungan antar wilayah alias kerajaan. Kekerabatan (perkade-kaden) ‘menyerentakan’ hubungan perkawinan dengan hubungan antar wilayah (politik). Dengan begitu, bisa atau tidak bisa kawin adalah juga soal politik.

    Kiam adalah perkawinan yang mengabaikan hubungan antar merga/ wilayah/ kerajaan. Karena itu, tidak punya ‘adress’. Merga adalah sesuatu yang menandakan ‘adress’ seseorang di dalam society/ wilayah/ kerajaan tertentu. Seperti halnya email adress kita, boleh saja kita mengaku merga apa saja, tapi hanya orang yang punya password yang punya akses ke adress itu. Password yang menandakan kam punya akses di Karo society di-required lewat ritual, bukan lewat nama belakang.

    Untuk level kiam, Ginting dan Simbolon silahkan saling kawin. Untuk level nangkih, kadang bisa diterima kadang tidak. Tergantung orang dan situasinya. Untuk level erdemu bayu? Raja-raja tidak akan menerimanya, karena akan mengganggu hubungan antar wilayah yang telah ada. Akan terjadi kekacauan, kata mereka. Esensinya adalah politik, tapi dalam prakteknya di lapangan bisa sangat mendalam sebagai ‘religious faith’.

    Kekacauan apa yang dikhawatirkan dan keteraturan apa yang telah pernah ada diantara kedua merga ini? Wilayah Parna, dimana Simbolon termasuk di dalamnya, adalah bagian belakang dari wilayah-wilayah yang menghadapkan wajahnya ke pelabuhan-pelabuhan Pantai Barat Sumatra (khususnya Barus). Wilayah Ginting adalah bagian belakang dari wilayah-wilayah yang menghadapkan wajahnya ke pelabuhan-pelabuhan Pantai Timur Sumatra (khususnya Haru). Ini soal dagang internasional. Silahkan baca tulisan-tulisan McKinnon dan Micksic tentang ini yang menggarisbawahi pentingnya Putri Hijau di Seberaya/ Delitua dalam hubungannya dengan Aceh dan Malaka. Baca juga berbagai tulisan tentang hubungan antara Bakkara dan Barus yang dijembatani oleh Sisingamangaraja.

    Ada paralelisme antara Ginting dengan Simbolon dalam jaringan perdagangan itu. Paralelisme menuntut kesetaraan (equality) yang terkristal dalam istilah senina. Beda halnya dengan perkawinan yang tidak menuntut merga/ kerajaan/ wilayah pihak pengantin pria menjadi inferior terhadap merga/ kerajaan/ wilayah pihak pengantin wanita. Bukan hanya istilah-istilah anak beru dan kalimbubu yang mengindikasikan adanya hubungan inferior-superior, tapi juga sembuyak menandakan adanya hirarki yang dipertegas dengan istilah-istilah anak sintua, anak si nguda dan anak sintengah. Di dalam istilah senina, hubungan inferior-superior tidak relevan.

    Hubungan-hubungan perdagangan tradisional itu telah menjadi tidak relevan lagi sejak jaman kolonial karena dimatikannya perdagangan bebas oleh pemerintah. Belajar dari konsep Barat, terutama lewat sekolah dan buku-buku, kita melihat merga sebagai label garis keturunan atau family name. Bagaimana hubungan antara merga-merga? Menjadi sesuatu yang bersifat hapalan. Begitu diajarkan orangtua kita atau yang kita baca dibuku, begitulah wajib kita hapalkan. Dengan begitu, ritual beserta runggunya (baca: debat) yang bisa memakan waktu berhari-hari tanpa penyelesaian, sudah kita anggap sebagai si lang-lang. Kita menantikan adanya seseorang yang berkompeten (alias the most superior one) yang menentukan mana seharusnya yang menjadi anutan. Hapalan tidak membutuhkan debat.

    Uraian saya di atas mengajak kita melihat esensi merga bukan keturunan (descend), tapi hubungan (alliance) (silahkan baca desertasinya Masri Singarimbun hingga selesai) (Marriage, Descent and Alliance among the Karo Batak, 1975). Perkawinan, yang diekspresikan sebagai hubungan antar merga, mensejalankan hubungan-hubungan politik dan ekonomi. Karena itu, silahkan amati, perkawinan Karo dilaksanakan seperti market. Ada tawar-menawar, mawen-mawen sitebaken bas los ah (dan ingat, tempat upacara perkawinan biasanya adalah juga market place). Bukan hal baru. Hanya saja, perdagangan yang terjadi dengan apa yang dikatakan perkawinan Karo bukanlah perdagangan manusia, melainkan perdagangan access to society. Tanpa perkawinan kam tidak punya access to society. Tanpa akses ke society, kam la merga, la ermerga. Upacara perkawinan itu sendiri adalah pesta raja-raja yang, kalau mau, tak perlu dilakukan. Hanya saja, kam tidak punya akses ke lingkungan raja-raja. Itu saja.

    say kutip juga ” Saya baru salut sama Pak Juara Ginting ini klo itu bisa tercapai jangan Cuma didunia maya aja berkoar2, coba kam kutantang sekali saja kam bilang kek gitu klo kam kukerja2. Bilang klo karo itu tidak ada hubungannya dengan Batak,, klo dikabanjahe mungkin anda sudah dimasukin karung trus dibuang ke jembatan laudah. (mela kuakap pe..) biar jelas oh Nande/ Bapa/ Turang/Senina/ Silihkuuu!! Ise kin kita situhuna. ”

    perlu kam baca literatur terbaru (buku pelajaran, koran, majalah, siaran TV, dll) menuliskan dan mengatakan hanya suku karo tanpa embel2 batak karo. masalah kabanjahe mpal, saya orang kabanjahe dirumah kabanjahe sana. saya rasa selama saya hidup disana tidak pernah saya dengar ada orang karo yang mau bilang kalau dia adalah orang batak. malah orang karo disana krg senang melihat suku batak toba yang tinggal dan mengais rejeki disana. jangan kam karang2 lah cerita pal dan jgn jelek2kan kota kabanjahe.

    mejuah-juah

  319. Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak
    Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya “Gajah Putih” yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

    Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai 6 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.

    Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

    Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.

    Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

    DINASTI LINGGA

    1. Raja Lingga I di Gayo

    Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo
    Raja Marah Johan (pendiri Kesultanan Lamuri)
    Marah Silu (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan
    2. Raja Lingga II alias Marah Lingga di Gayo 3. Raja Lingga III-XII di Gayo 4. Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.

    Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era 1. Raja Sendi Sibayak Lingga. (Pilihan Belanda) 2. Raja Kalilong Sibayak Lingga

  320. @ Simada Tarigan Girsang saya tidak pernah mengajak anda berdebat,krn gk ada untungnya buat saya…
    kemudian dari marga anda saya meragukan ke karoan anda,krn marga anda adalah Tarigan Girsang,jika kita runut marga anda bukan marga asli orang karo,tp marga dari simalungun atau toba yg berafliasi ke marga karo mungkin ,leluhur anda berasal dari simalungun atau dari tanah dairi,jd wajar anda tidak setuju kalau orang karo mengaku bukan batak

  321. karo ya karo
    batak ya batak
    jangan mentang mentang ada kesamaan langsung di bilang sama

    karo = batak = toba ??????
    mau kah orang karo di sebut batak ?????

  322. Melihat ke belakang sedikit karo lebih memiliki hubungan dengan aceh dan melayu

    seperti di aceh banyak di temukan nama nama tempat yg berbau karo seperti : kuta raja (banda aceh ),lau sigala gala , kuta cane , blangkejeren(gayo)

    dan juga pada melayu
    di istana maimon terdapat puntungan meriam yg puntungan yg lainnya terdapat suka nalu kecamatan barus jahe

    dan jika di kaitkan dengan bahasa, bahasa dan logat gayo memiliki 40 % kesamaan dengan karo

  323. karo dibilang batak emang apa pengaruhnya buat kita?
    dan jika karo bukan batak .. apa sih ruginya buat kita???
    jika mayoritas mereka mengaku tidak batak
    biarkan sajalahhh.
    masuk tidaknya mereka dlm bangso batak….
    bangso batak adalah suku besar di indonesia!!!

    kalo karo???????
    tanyakan lah orang orang di luar apa mereka tau karo itu apa!!!

  324. Banyak yang gak jelas dalam upaya mempertegas Batak dalam hubnya dengan berbagai etnis lain di dataran tinggi di Sumatra ini. Kenapa tiba-tiba semua menjadi dibatakkan? bahkan pemerintah ikut-ikutan membatakkan etnis lain seperti karo, simalungun, pak-pak, dairi, angkola dan mandailing? Aneh? padahal refrensinya cuma apa yang ditulis zending Jerman dan kolonial Belanda? Kenapa refrensi lain yang jauh sebelumnya sudah ada tidak disebutkan? misal Negara Kertagama bahkan I Tsing misalnya yang sudah menyebut Mandailing pada abad ke 6 dan Negara Kertagama menyebutkannya dalam catatannya pada abad ke-13? Nah lho … batak baru disebut oleh seorang Inggris pada abad ke – 19. Lalu diamini oleh para antropolog Belanda lainnya. Dan kemudian membuat peta antropologi Indonesia yang menyebutkan nama Batak. Betapa anehnya sistem analisa sejarah kebudayaan sekarang.

    Ini bukan soal agama, bukan soal kekuasaan tapi soal kebenaran etnisitas. Kalau jumlah etnis semakin banyak, kenapa pulak para pendukung batak harus gerah? kenapa pulak Batak yang menjadi main etnis dan yang lain menjadi sub etnis? pertanyaan sederhana saya adalah, bila batak sebuah etnis, kenapa bukan disebut Toba saja, maka kembali kepahaman orang-orang tua dulu bahwa batak adalah pengidentifikasian kepada mereka yang melanggar nilai-nilai sosial dan hukum. jadi tidak ada suku batak, yang ada hanyalah suku toba, simalungun, karo, pakpak, dairi, angkola dan mandailing.

    kalaupun mau mengkaji sejarah kebudayaan, janganlah pake literatur Jerman dan Belanda saja. Pake juga literatur Cina dan Jawa (Majapahit). Atau tambahkan literatur yang berkembang di jazirah Arab dan Gujarat. mereka yang sudah lama, bahkan jauh berabad-abad sebelum Jerman dan Belanda ada di Sumatra.

  325. karo tidak lah di masukkan dalam batak
    ada yang bilang sama
    sama apanya ….
    gk ada yang sama,,kalau disama-samakan bisa
    marga dikaro yaitu silima merga dan punya cabang..
    toba ada berapa marga nya??????
    makasih

  326. Timoteus Karo-karo Kurba@
    Dari semua comnt.saya tidak pernah menyatakan karo itu keturunan dari Siraja batak.Saya sendiri batak Toba mungkin saja juga bukan langsung keturunan Siraja Batak.Karena Batak itu bukan suku atau puak.Tetapi Batak itu adalah Bangsa yaitu Bangsa Batak.Coba anda cermati coment. saya di atas.Hubungan suku Gayo Aceh dan Batak.Itu bukan saya penulisnya tetapi M.JUNUS DJAMIL dalam buku GAJAH PUTIH yang di terbitkan ;Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1958.Disitu di nyatakan Batak Gayo telah mendirikan kerajaan sekitar abad 2- 9 .Anda baca disitu siapakah anda sebenarnya.Disitu tidak di nyatakan keturunan Batak Toba tetapi disitu dinyatakan dengan jelas Karo.Kenapa dikatakan bangsa batak karena bangsa batak itu sejak dulu sudah mempunyai sisitim budaya sendiri,tulisan sendiri,marga sendiri dan juga memiliki Tanah sendiri yaitu tanah batak.Suku karo sendiri belum tentu satu nenek moya dari siraja karo.jadi anda jangan sembarang comnt. karena saya melihat tulisan atau pendapat anda itu tidak nyambung dengan pokok masalah,mungkin anda terlalu banyak mimpi dan mabuk.Tolonglah Pak Timotius kalau bertiindak atau membuat pendapat berdoalah dulu menurut kepercayaanmu,jangan berdoa menurut kepercayaan orang lain ya. Salam

  327. Ini Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak
    Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008
    In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar
    BATAK MANINGGORING
    Assalamoe alaikoem
    Kami jang bertanda tangan dibawah ini:
    Radja Mangatas
    Soetan Soripada Panoesoenan
    Mangaradja Panoesoenan
    Soetan Koemala Boelan
    Soetan Singa Soro Baringin
    Mangaradja Panobaoenan
    Mangaradja Soetan Solengaon
    Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi
    Soetan Pandapotan
    Mangaradja Solompoon
    Mangaradja Moeda Panoesoenan
    Mangaradja Iskandar Panoeroenan
    Soetan Bintang Pandapotan
    Patoean Koemala Boelan
    Masing masing radja panoesoenan (kepala koeria) di:
    Pakantan Lombang
    Pakantan Doeali
    Oleoe
    Tamiang
    Msnambin
    Kota Nopan
    Panombangan
    Maga
    Pidoli Boekit
    Kota Siantar
    Panjaboengan Djoeloe
    Panjaboengan Tonga
    Goenoeng Baringin
    Gewezen Kepala Koeria di Goenoeng Toea
    Semoeanja dalam lingkungan onderafdeling Groot en Klein Mandailing, Oelo en Pakantan, afdeling Padang Sidempuan, Residentie Tapanoeli, menerangkan dengan sesoenggoehnja bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ia-lah bangsa “Batak”, sedangkan agamanja sebahagian besar “Islam” dan sebahgian ketjil sekali agama “Christen” ia-itoe dalam koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar.
    Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak).
    Demikianlah soepaja terang akan adanja.
    Diperboeat dalam kerapatan radja2 Mandailing di Kajoe Laoet tanggal 18 Agustus 1922.
    Kami jang menerangkan
    (tanda tangan)
    BATAK sebenarnja boekan nama negeri ataoe nama agama, melainkan nama satoe bangsa di Indonesia tinggal di Residentie Tapanoeli..
    Nama MANDAILING boekan nama bangsa, tetapi nama satoe loehak di Tapanoeli – Selatan mendjadi Batak Mandailing
    ——————————————————————-
    Tulisan di atas merupakan salinan dari dokumen aslinya yang lengkap dengan tanda tangan para radja-radja Mandailing yang memberi pernyataan. Dapat dilihat di buku “AHU SISINGAMANGARAJA” karangan Prof. Dr. WB Sidjabat (Penerbit: SInar Harapan Jakarta, cetakan ketiga 2007, halaman 463).
    Mauliate

  328. Tengku Eduart Zhein, saya rasa nama anda berbau Arab dan melayu, tidak ada nama Karonya dan bagi saya nama Simada Tarigan Girsang lebih berbau Karo dari Tengku Eduart Zein, dengan demikian andalah yang berdebat kusir!!!!! ….. saya tidak memihak

  329. @Timotius Karo Karo Purba :
    Bagenda nak, (nak ningku sbab pernah kubaca kam nindu kuliah denga, aku nggo 38 umurku),, kam ena nggo jagosa, kam labo perlu oratkendu kerina kerna sejarah2 si lapenting menurutku ya, tp memang kam pe kuakui jago kerna sejarah2, aku pe kutteh kang sitik2 amina gia buen pemetehndu sabab kam berpendidiken, sada sisi memang aku turut bangga atas perjuangendu ena ras juara ginting, kam bangga jadi kalak karo, aku pe bage kang nak, perdebatenta enda tehndu kin, bali ras Israel-palestina, lalit ujungna, dua2na nge benar (enda sekedar ilustrasi sajange). Aku lanai perlu nanggapi kerina argumendu nak, ngkai,, sbab ena ndai, labo lit ujungna nak, nce aku pe yakin kam beluh nge kari lalap mereken penjelasen ntah pe pembelaan diri, menurutku argumenku sidatas nggom cukup jelas, adi la kam terima, ena hakndu, ulapadah mis aku serangndu, sabab aku pe hak ku kang mereken pendapat, mis ka kuidah katakendu “kami disini orang karo yang menyatakan diri sebgai orang bukan batak karo tidak sedikit pun mau mancari ribut,sensasi, dan sebagainya. hanya mau menunjukkan jati diri kami sebagai orang karo”, Arah tulisendu ena Seolah2 100 persen kalak karo keberaten ikataken bagian dari batak, maka tehndu nak, aku pe kalak karo kang, kutangku kubu simbelang nak, gelarku warma tarigan girsang bre ginting munthe, ginitng munthe simanteki kuta kubu nak. Gundari aku tading icaringin kota bandung.. Aku pribadi lebe mela nak, maka tendu bulangta barenda kapken singatakenca ia batak, ehh sory,, maksudku bulang kami tarigan nak, bulangta ningku ka, kari serangndu ka aku, tersinggung kam, tapi ukurken lah alu manjar2. Ula aku serangndu ya nak, masalah tulisenku kerna Laudah e aku minta maaf nak, mungkin aku terlalu over memang, labo berarti aku mencemarkan kota kabanjahe nak, lang. silamungkin kap e (salah sangka kam).

    aku tertarik adi kam banci menghargai pendapat orang, entah itu salah maupun benar, endam buktina kita kalak karo enda labo sada garis keturunen bagi sienggo iakukendu, menggo.. misalna enda nak, ula kam tersinggung adi kukataken arah tulisen2ndu kam cenderung membela diri, contohna arah tulisendu enda:
    “ masalah merga silima impal, yang kam sampaikan memang benar. merga silima dibentuk bukan 100% karna faktor keturunan (tidak seperti orang toba).
    masalah bisa menikah denga “marga-marga” yang dianggap sama aya rasa bukan masalh besar bagi orang karo. sebagai contoh, Coba kita menjenguk sebentar ke merga Purba. Di Simalungun ada marga Purba, di Karo juga ada. Secara umum dikatakan bahwa Purba Simalungun sama dengan Tarigan di Karo. Tapi Purba di Karo ada dua macam. Ada Karo-karo Purba, ada pula Tarigan Purba. Prof. Dr. Hendri Guntur Tarigan almarhum kawin dengan beru Purba Simalungun yang untuk Karo masuk Tarigan. Dari sisi Karo, perkawinan mereka adalah antara Tarigan dengan Tarigan atau dari sisi Simalungun, Purba dengan Purba. Ada polemik terjadi di tengah-tengah masyarakat tentang perkawinan mereka itu. Tokh mereka kawin”
    Perlu kam tau nak,, ibas kami runggun kalak tarigan, merga2 tarigan labo pernah “dianggap” sama, tapi kami memang sama, kami merasa dulu itu bulang kami sama, endam si niajarken bulang kami. Jadi saling menikah adalah sesuatu yang terlarang dan melanggar adat dan sebenarnya itu adalah masalah BESAR bagi kami, tapi lit nge kari lalap si ngelanggar, adi nggo ngelangar uga nari siban, melabo mis ia sibunuh, ntah si adili, sabab iape jelma kang, mon mon dahndu kade2ta kang, adi ena nindu bas kutanta pe lit nge erjabu sapih2 kalak tarigan, tp enda situhuna labo perlu i expose, tp kam malah bahandu jadi contoh,

    labo bagi merga silima sideban, e tuhu melala “dianggap sama”, semisal kelompok Purba Sibayak daerah Kabanjahe (ketaren, kaban, samura, bukit dll) dianggap sama dengan Barus, dianggap sama dengan Sinulingga, dianggap sama dengan Sitepu. Wajar dianggap sama karena memang Asalnya berbeda2, tapi mereka juga orang karo kan? mreka sudah di ikat dalam merga silima (Karo-Karo). Hal yang sama juga terjadi di kelompok Perangin-angin, kelompok Bangun dianggap sama dengan Sebayang, dianggap sama dengan Pinem, Dianggap sama dengan Kacinambun (simanjorang) dll. Mereka berbeda daerah asal tp sudah di ikat dalam Merga Silima (Perangin-angin) adi masalah asalna nindu aku labo perlu nurikenca, sungkunndu saja yang bersangkutan. ema ka aku setuju sama kam klo mreka saling nikah itu tidak masalah, tp aku belum pernah liat Ketaren menikah dengan purba atau kaban atau bukit dll.

    Sada nari nak, tehndu kin adi kita ngorati sejarah labo lit ujungna, cenderung akan menemukan polemik baru,
    Ula kam tersinggung menggo nak, sabab ndai kukataken kam jagosa, kalak toba memang sok tau yang menceritakan sejarah diluar toba, maksudku kam pe ula min bage, Maka tehndu nak, aku pe labo membela kalak toba sabab aku pribadi pe memang agak kurang nyambung, labo kalak toba saja, bulangta kalak karo barenda pe tehndu kin beluh kel nge adi nuri2, mon mon dahndu turi2n e pe nggo jadi sejarah, kusungkun kam lebe nak, kam sebagai purba “penggulu” rumah kabanjahe, yang mana purba (yang aku dengar alkisah adalah berasal dari simalungun) adalah nenek moyang pendiri banyak kampung dikabanjahe (semisal : ketaren, samura, bukit, surbakti, kaban, rsd.) tek dage kam si merga purba mbarenda sereh ras nipe? Me perlu kang sipertimbangken. Bage2m ia nak.

    sitik kujelasken man bandu kerna TARIGAN ras PURBA (simalungun) dan hubungan keduanya, secara struktural di simalungun PURBA sama dengan TARIGAN di taneh karo, PURBA di simalungun bukanlah merga yang sesungguhnya, tapi merupakan runggun merga, seperti TARIGAN ditaneh karo (INGATT INI BUKAN DONGENG NTAH PE TURI2N) jadi maaf ya saya pribadi sebenarnya kurang setuju klo ternyata kami Tarigan ini ada yang bikin dia Tarigan Purba, soalnya agak rancu, tapi memang ada, saya akui itu dan saya tidak mungkin memprotes itu, karena memang bukan kapasitasku melarangnya, dan saya pikir masih dalam lingkup Tarigan dan sekarang sudah sah2 saja.
    Jadi yang saya tau adalah seperti ini :
    Tarigan Sibero di simalungun disebut Purba Siboro
    Tarigan Tua di simalungun disebut Purba Tua
    Tarigan Girsang di simalungun disebut Girsang
    Tarigan Silangit di simalungun disebut Purba Silangit
    Tarigan Tambun di simalungun disebut Purba Tambun
    Tarigan Gerneng di simalungun disebut Purba Sigumonrong (cingkes)
    Tarigan Tambak di simalungun disebut Purba Tambak
    Dll.
    Nah, adi Karo karo Purba aku labo pang nurikenca nak, adi kuakap beluhen nge kam selaku simada merga.
    Sadanari nari tehndu kin nak, adi oratindu sada2 kerna merga tentu akan banyak sekali temuan2, fenomena2, kontroversi2 dan lain sebagainya, tapi menurutku tehndu kin sikenyataan2 sajalah si aloken, aku pribadi labo kurang bangga jadi kalak karo, tapi aku labo keberaten bicara kataken kalak (diluar batak) aku batak, adi ia kalak batak labo perlu kukataken aku kalak karo sabab ia pe mis nge kari tehna aku kalak karo, tapi kurang masuk kuakap adi ikataken aku keturunen melayu, gayo ntah pe aceh, (labo kutteh adi merga kalak karo sideban ya) tapi tehndu kin nak, epe banci nge kuterima adi lit cukup bukti. Sitik saja yah, nungkun aku sabab aku labo ku angka, kai kin deba merga kalak melayu e? Ula padah gia kerina, nce kai2 saja ia sisaling lit hubungenna. Ula padah si orati kerna sejarah kerajaan2.

    Bujur.
    @tengku edurat zein :
    Hehee.. Apa alasan anda bilang aku bukan orang karo? Sedangkan Bapakku saja bilang kami orang karo, adat kami adat karo, merga kami merga karo, gereja kami gereja karo, uis kami uis karo, hah??? Emang anda orang karo?? Coba aku Tanya anda, jangan2 anda provokator, nama anda kayaknya dari aceh ya?
    jadi maksud anda Tarigan itu bukan orang karo?? Wahh gawattt,Hehe hati2 kalau ngomong teman.
    Aku jelaskan ya teman, Ini akan berkaitan lagi dengan sejarah, tapi sejarah yang dampaknya nyata sekarang ini bukan sejarah dongeng. Tolong anda simak. Tarigan Girsang memang berasal dari daerah simalungun atas, nah apakah anda menilai orang karo dari asalnya? Berarti Tarigan Bukan orang karo dong? Karena asalnya dulu kebanyakan dari daerah simalungun, termasuk Tarigan Sibero sebelum menjadi Sibayak Juhar, Sibero dan Girsang sudah memiliki peradaban kecil di daerah Tong tong Batu (daerah Pak-Pak Dairi). Demikian juga marga yang lain diluar Tarigan. Coba anda survey sendiri dikecamatan Tigapanah, Barus Jahe Tarigan Girsang adalah yg terbanyak (Tarigan). Benar atau tidak Tarigan Girsang juga adalah Penghuni Pergendangen (tiga binanga) dan Berastepu di kaki gunung sinabung. Tarigan Girsang adalah pendiri Sigantang Sira, Penyanyi Legendaris Karo Sastrawan adalah Tarigan Girsang. Nggo metai jangte na pal.
    menurutku yang Bukan orang karo atau bahkan yang Bukan Batak Ga usah komenlahh..
    jangan memperkeruh suasana…

    Salam Damai..
    Simada Tarigan Girsang

  330. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa berkata:

    Tuan Na Hoda Raja
    .Horas Amang.Terus terang au tertarik botul do tu sejarah-sejarah khusus sejarah ni Bangsotta bangso Batak.Alai saleleng on sumberna na pas hurang do dapothu.ALai hubereng di ulasanmu na di ginjang adong ketertarikanku mungkin molo hita paduhon boi do ra menjadi sebuah bahan.Alana kepentingan on bukan untuk pihak lain kepentingannya adalah untuk pomparanta tu pudi niari muse.
    Sada muse amang latar belangku pendidkan formal sangat rendah usia 16 taon au ngamangaratto,alai alani sahala ni ompputtai sehat-sahat do iba dohot keluarga sahat tu sadarion.
    Sada na membingungkon au di tempat usahatta nga piga para normal mandok termasuk halak Dayak,Badui dohot halak hita na khusus hu undang,sude mandok namanjaga(mangingani)tempat i didok namborutta Biding Laut.Hape do do di Kalimantan memang attar godang do sere di tempat i

  331. Kalau kita melihat perdebatan kenapa Karo bukan batak ini sepertinya banyak pandangan bahwa Batak Toba kambing hitam segala permasalahan. Sekarang apakah pembicara mengerti benar wawasan Toba itu sendiri?, apakah Humbang termasuk Toba, apakah Silindung termasuk Toba, apakah Pakat atau Sidingkalang juga termasuk Toba? marga2 apa saja yang tercakup dalam Batak Toba?
    Bagai mana pengaruh sub batak lain terhadap pembentukan karakter Batak terhadap pandangan suku2 lain di Indonesia
    Banyak pembicaraan dalam perdebatan diatas yang ber inti tanggapan2 terhadap Tarombo Batak yang ditulis oleh WM Hutagalung dan tulisan Juara Ginting, walau untuk mencari fakta kebenarannya ditulis dari berbagai fakta sejarah dll. Perlu diketahui bahwa penulis2 dalam mengarang buku mempunyai motivasi yang berbeda2. Ada penulis yang menulis berdasarkan fakta yang dikumpulkan dan membuat kesimpulan dari fakta tersebut, bila fakta yang didapat cukup banyak maka tulisannya lebih mendekati kebenaran. Ada pula penulis yang menulis berdasarkan pemikiran pribadi kemudian mencari fakta2 yang dapat mendukung teorinya sendiri dan mengenyampingkan fakta2 yang tidak mengena. Perlu diketahui bahwa masing2 kita berhak untuk percaya, tidak percaya atau percaya sebagian atas tulisan2 tersebut.
    Sebetulnya dengan adanya perdebatan ini, mata kita menjadi terbuka tentang pandangan2 lain yang sebagian dari kita belum pernah mendengar atau memikirkan, demikian pula ungkapan2 sejarah2 yang saat ini tertutup bagi sebagian kita. Saya sangat menghargai semua hasil perdebatan diatas hanya ada yang harus saya tekankan:
    Walaupun seekor kera memikir dirinya adalah manusia terus menerus dia tidak akan menjadi manusia. Manusia bisa beranggapan bahwa mereka berasal dari kera, manusia lain beranggapan bahwa manusia adalah manusia, tidak ada hubungannya dengan kera. Namun walaupun apa dikatakan manusia adalah manusia.
    Silahkan berdebat dan carilah kebenaran yang hakiki, kalau perlu diambil contoh Darah untuk analisa DNA dari para sukarelawan suku2 Gayo, Alas, Karo, Pakpak, Dairi, Simalungun, Toba, Angkola, Mandailing untuk mengetahui hubungan darah mereka, selama analisa DNA masih dianggap sebagai cara terbaik untuk menganalisa, dan belum ditemukan cara yang lebih baik

  332. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa berkata:

    nBASIS: Anda kelihatannya semakin melenceng dari pokok masalah yang anda buat sendiri dengan judul.Seputar Kontroversi tentang Sebutan Batak: SEBAIKNYA AZHARI “DILAWAN” DENGAN DATA.Dengan kata-kata klaim bahwa Mandailing itu bagian dari Batak (kalau pun misalnya, sekali lagi, misalnya, Mandailing itu bagian dari Batak). Pembuktian di ranah ini tidak dengan ilmu (maaf) “tipu-tipu”. Ada displin ilmu lain yang kompeten untuk itu”.dan paparan Prof.WB.Sijabat. mau di jawab apa (ini membingungkan)
    Banyak comentara saya di media ini tentang itu termasuk lewat blognya Juara Ginting yang menyatakan KARO ITU BUKAN BATAK.Disitu saya jelaskan jangankan karo keturunan batak saya sendiri Batak toba belum tentu keturunan langsung si Raja Batak.Dan demikian juga Karo atau mandailing belum tentu keturunan si raja karo atau si raja mandailing. saya setuju klem anda
    Pokok masalah sesuai judul ini adalah apakah BATAK itu sebutan atau sebuah penamaan ? itulah intinya.Maka saya kutiplah beberapa sejarah tulisan di atas seperti:
    1.Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mem-
    punyai 6 orang anak Penahunan ini mungkin sangat relatif karena ke
    rajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat
    adalah pada antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh
    orang-orang Batak Gayo.
    2.Buku berjudul Sistim Bermasyarakat Bangso Batak tulisan Sabam Wesley
    Adanya sebuah perjanjian bangsa cina yang di pimpin oleh Jenderal
    ANG TZE dengan para tetua-tetua batak atau para mangaraja batak
    yang di abadikan dengan sebuah alat spritual bernama OGUNG atau
    GONG di Aceh atau ANG TZE yang sampai sekarang masih ada di Aceh
    menurut ahli sejarah Klenteng di KLENTENG KWANG TEK KONG.dan ke
    jadian perjanjian ini dilakukan sekitar 1.400 tahun yang lalu

    Apakah sejarah Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak di atas dan perjanjian jenderal Ang Tze ini yang ada kata-kata Batak, belanda penjajah yang berada di nusantara ini baru berkisar 400 tahun lamanya atau Jerman Yang mengajari atau ICHWAN AZHARI atau anda yang tipu-tipu ?

    Sebelum kepercayaan Malim atau Parmalim datang yaitu sekitar 500=600 tahun yang lalu ke tanah batak dimana mulai pada saat itulah adanya tersusun Tarombo dan marga Batak.secara perhitungan katanyan dari siraja batak sampai saat ini baru berkisar 25 generasi atau usia batak sekitar 600 tahun Namun sebenarnyaJauh-jauh hari atau ribuan tahun sebelum kepercataan MALIM sudah ada kepercayaan batak lain dan adat batak yang namanya kepercayaan Mulajadi Nabolon dengan adatnya TUHO PARNGOLUON NI BATAK dan kemudian adat DALIHAN NA TOLU.baru masa kepercayaan Malim atau Parmalim yang nama adatnya SUHI NI AMPANG NA OPAT.Baca kembali Blog.saya di atas.

    Kayu Batak itu sampai saat ini masih ada tumbuh di tanah batak tetapi sekarang penamaannya berubah menjadi nama dengan nama fungsiny di sebut kayu SI ALAGUNDI.Sebenarnya nama kayu itu adalah kayu Batak yang dibuat menjadi TUKHOT atau TUKKOT SI SIA LAGUNDI (SI SIA LAGOGO)
    Perkembangan jaman kemudian kata batak mulai indetik dengan label budaya.“Desertasi Daniel Perret menyimpulkan bahwa baik istilah Batak maupun Melayu .
    Kesimpulannya kata-kata BATAK bukanlah sebuah julukan atau sebutan namun itu adalah sebuah penamaan.

  333. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa berkata:

    ManaTimotius Karo Karo Purba danTengku Eduart Zhein
    Maaf untuk kalian berdua.Saya yakin kalian berdua mungkin kalian dulu keturunan pendatang dari Tamil atau Hindustan Jadi tanah leluhur kalian bukan di sumatra.Jadi kalian pura-pura ikut budaya batak karo biar selamat di negeri orang.Karena dulu bila kita lewat kuta bulu atau lawe balang memang suku itu masih ada terlihat pergi kepasar pakai kain sarung.Dan ciri-cirinya sorot matanya memang agak berbeda dengan karo lainnya warna kulit nya hitam legam dan rambut keriting.
    Coba anda telusuri dulu kebenaran ini biar anda jangan sesat tidak tau status keturunan anda sendiri, sudah berapa generasi anda tinggal di tanah karo agar perdebatan ini clear.

  334. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa berkata:

    SEJARAH BATAK – I
    SEJARAH BATAK – I

    Permulaan Generasi Pertama Manusia

    Tersebutlah dalam kitab-kitab suci bangsa Timur Tengah bahwa Adam, yang dianggap sebagai manusia pertama dan Nabi pertama, mulai mengembangkan generasinya bersama Siti Hawa, Nenek Moyang Manusia yang ditemukan kembali setelah didamparkan di daerah India dari Surga.
    Generasi berikutnya mulai melahirkan beberapa kelompok Bangsa.
    Bangsa Semetik kemudian menurunkan Bangsa Arab dan Israel yang selalu berperang. Khabarnya perpecahan kedua bangsa ini dimulai sejak Nabi Ibrahim.
    Bangsa Syam yang kemudian dikenal sebagai ras Aryan, menurunkan Bangsa Yunani dan Roma yang menjadi cikal bakal Eropa (Hitler merupakan tokoh ras ini yang ingin memurnikan bangsa Aryan di samping Bangsa Braminik yang chauvinistik dan menjadi penguasa kasta tinggi di agama Hindu), Nordik, Patan, Kaukasian, Slavia, Persia (Iran), dan India Utara (semisal Punjabi, Kashmir dan Gujarat) berkulit putih serta bule-bule lain sebangsanya.
    Bangsa Negroid menurunkan bangsa Afrika dan beberapa bangsa berkulit hitam lainnya di dunia seperti Bangsa Dravidian (India berkulit Hitam), Papua, Samoa, Aborigin di Autralia, Asmat, dan bangsa lain yang hidup di kepulauan Polinesia, Samudera Pasifik.
    Bangsa Tatar menurunkan Ras Mongoloid yang terdiri dari bangsa Mongol; Cina, Korea, Uzbek, Tazik, Kazakh, Kazan di Rusia, bangsa Nomad penghuni Kutub Utara dan Selatan bermata sipit, Hokkian yang menjadi Konglomerat dan Mafia di Indonesia serta Bangsa Maya, Suku Indian, dan lain sebagainya yang menjadi penduduk asli benua Amerika dan yang kedua; Ras Austronesia, yang menyebar di Madagaskar, Afrika, Batak; Proto Malayan dan Neo Malayan; Melayu, Jawa dan lain-lain.
    Penyebaran populasi manusia terjadi paska “Tsunami” pertama atau dikenal sebagai Banjir Bah di jaman Nabi Nuh AS. Di jaman ini pula ada sebuah komunitas manusia yang konon mempunyai tinggi badan 15-30 meter punah ditelan banjir karena kesombongannya. Peneliti antropologi Amerika di awal abad 20 menemukan kembali bangsa ini di pedalaman Afrika, namun lokasinya dirahasiakan oleh pihak militer yang tertarik untuk mengambil sampel komunitas ini untuk rekayasa gen tentara AS. Penelitian juga diarahkan untuk menghidupkan kembali Bangsa Dinosaurus, sejenis binatang purba, yang juga mati tenggelam karena tidak sempat dan tidak ‘muat’ dimasukkan di kapal Nabi Nuh.
    73.000-30.000 SM
    Penduduk nomaden mendiami sekitar pegunungan Batak, yang meledak membentuk danau Toba, keberadaan mereka berdasarkan penggalian sejarah.
    3000-1000 SM (Sebelum masehi)
    Bangsa Batak yang merupakan bagian dari Ras Proto Malayan hidup damai bermukim di perbatasan Burma/Myanmar dengan India. Beberapa komunitas tersebut yang kemudian menjadi cikal-bakal bangsa adalah kelompok Bangsa Karen, Toradja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo serta trio Naga, Manipur, Mizoram. Tiga yang terakhir ini sekarang berwarga negara India. Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki sampai sekarang masih mirp dengan pakaian Batak, misalnya pernik dan warna ulos.
    Sifat dominan dari ras ini adalah kebiasaan hidup dalam splendid isolation di lembah lembah sungai dan di puncak-puncak pegunungan. Mereka sangat jarang membuat kontak bersifat permanen dengan pendatang yang berasal dari komunitas lainnya misalnya komunitas yang berada di tepi pantai, pesisir, yang saat itu banyak dipengaruhi oleh ideologi yang berbeda dengan mereka, misalnya Hinduisme (Yang disinyalir sebagai ajaran turunan dari agama Nabi Nuh AS), Zoroaster, Animisme gaya Yunani dan Romawi, dan juga paham-paham baru seperti Buddha, Tao, dan Shintoisme
    Sifat tersebut masih membekas dan terus dipertahankan oleh orang-orang Batak hingga abad 19M. Sampai saat ini, diperkirakan suku bangsa yang berasal dari ras ini masih mempertahankan kebiasaan ini, terutama Bangsa Tayal, bangsa pribumi di Taiwan, Orang-orang Bontoc dan Batak Palawan penghuni pertama daerah Filipina.
    1000 SM
    Bangsa Mongol yang dikenal bengis dan mempunyai kemajuan teknologi yang lebih tinggi berkat hubungan mereka yang konsisten dengan berbagai bangsa mulai bergerak ke arah Selatan. Di sana, keturunan mereka menyebut dirinya Bangsa Syan dan kemudian menciptakan komunitas Burma, Siam (Thai) dan Kamboja yang kemudian menjadi cikal-bakal negara.
    Ras Proto Malayan mulai terdesak. Ketertutupan mereka menjadi bumerang karena teknologi mereka tidak up to date. Sebagian dari mereka kemudian mulai meninggalkan daerah-daerah tersebut, menempuh perjalanan untuk mencari daerah baru bahkan ke seberang lautan, di mana mereka akan menikmati hidup dalam ‘splendid isolation’ kembali.
    Bangsa Bontoc bergerak ke daerah Filipina, Bangsa Toraja ke Selatannya, di Sulawesi. Di Filipina, Batak Palawan merupakan sebuah suku yang sampai sekarang menggunakan istilah Batak. Saudara mereka bangsa Tayal membuka daerah di Kepulauan Formosa, yang kemudian, beberapa abad setelah itu, daerah mereka diserobot dan kedamaian hidup mereka terusak oleh orang-orang Cina nasionalis yang kemudian menamakannya Taiwan.
    Yang lain, Bangsa Ranau terdampar di Lampung. Bangsa Karen tidak sempat mempersiapkan diri untuk migrasi, mereka tertinggal di hutan belantara Burma/Myanmar dan sampai sekarang masih melakukan pemberontakan atas dominasi Suku Burma atau Myanmar yang memerintah.
    Selebihnya, Bangsa Meo berhasil mempertahankan eksistensinya di Thailand. Bangsa Naga, Manipur, Mizo, Assamese mendirikan negara-negara bagian di India dan setiap tahun mereka harus berjuang dan berperang untuk mempertahankan identitas mereka dari supremasi bangsa Arya-Dravidian, yakni Bangsa India, yang mulai menduduki daerah tersebut karena over populasi.
    Bangsa Batak sendiri, selain terdampar di Filipina, sebagian terdampat di kepulauan Andaman (sekarang merupakan bagian dari India) dan Andalas dalam tiga gelombang.
    Yang pertama mendarat di Nias, Mentawai, Siberut dan sampai ke Pulau Enggano. Gelombang kedua terdampar di muara Sungai Simpang. Mereka kemudian bergerak memasuki pedalaman Pulau Andalas menyusuri sungai Simpang Kiri dan mulai mendirikan tempat di Kotacane. Komunitas ini berkembang dan membuat identitas sendiri yang bernama Batak Gayo. Mereka yang menyusuri Sungai Simpang Kanan membentuk Komunitas Batak Alas dan Pakpak. Batak Gayo dan Alas kemudian dimasukkan Belanda ke peta Aceh.
    Mainstream dari Suku bangsa Batak mendarat di Muara Sungai Sorkam. Mereka kemudian bergerak ke pedalaman, perbukitan. Melewati Pakkat, Dolok Sanggul, dan dataran tinggi Tele mencapai Pantai Barat Danau Toba. Mereka kemudian mendirikan perkampungan pertama di Pusuk Buhit di Sianjur Sagala Limbong Mulana di seberang kota Pangururan yang sekarang. Mitos Pusuk Buhit pun tercipta.
    Masih dalam budaya ‘splendid isolation’, di sini, Bangsa Batak dapat berkembang dengan damai sesuai dengan kodratnya. Komunitas ini kemudian terbagi dalam dua kubu. Pertama Tatea Bulan yang dianggap secara adat sebagai kubu tertua dan yang kedua; Kubu Isumbaon yang di dalam adat dianggap yang bungsu.
    Sementara itu komunitas awal Bangsa Batak, jumlahnya sangat kecil, yang hijrah dan migrasi jauh sebelumnya, mulai menyadari kelemahan budayanya dan mengolah hasil-hasil hutan dan melakukan kontak dagang dengan Bangsa Arab, Yunani dan Romawi kuno melalui pelabuhan Barus. Di Mesir hasil produksi mereka, kapur Barus, digunakan sebagai bahan dasar pengawetan mumi, raja-raja tuhan Fir’aun yang sudah meninggal. Tentunya di masa inilah hidup seorang pembawa agama yang dikenal sebagai Nabi Musa AS.
    1000 SM – 1510 M
    Komunitas Batak berkembang dan struktur masyarakat berfungsi. Persaingan dan Kerjasama menciptakan sebuah pemerintahan yang berkuasa mengatur dan menetapkan sistem adat.
    Ratusan tahun sebelum lahirnya Nabi Isa Al Masih, Nabi Bangsa Israel di Tanah Palestina, Dinasti Sori Mangaraja telah berkuasa dan menciptakan tatanan bangsa yang maju selama 90 generasi di Sianjur Sagala Limbong Mulana.
    Dinasti tersebut bersama menteri-menterinya yang sebagian besar adalah Datu, Magician, mengatur pemerintahan atas seluruh Bangsa Batak, di daerah tersebut, dalam sebuah pemerintahan berbentuk Teokrasi.
    Dinasti Sorimangaraja terdiri dari orang-orang bermarga Sagala cabang Tatea Bulan. Mereka sangat disegani oleh Bangsa Batak di bagian Selatan yang keturunan dari Tatea Bulan.
    Dengan bertambahnya penduduk, maka berkurang pula lahan yang digunakan untuk pertanian, yang menjadi sumber makanan untuk mempertahankan regenerasi. Maka perpindahan terpaksa dilakukan untuk mencari lokasi baru. Alasan lain dari perpindahan tersebut adalah karena para tenaga medis kerajaan gagal membasmi penyakit menular yang sudah menjangkiti penduduk sampai menjadi epidemik yang parah.
    Perpindahan diarahkan ke segala arah, sebagian membuka pemukiman baru di daerah hutan belukar di arah Selatan yang kemudian bernama Rao, sekarang di Sumatera Barat. Beberapa kelompok di antaranya turun ke arah Timur, menetap dan membuka tanah, sekarang dikenal sebagai Tanjung Morawa, daerah di pinggir Kota Medan.
    Satu kerajaan lain yang berdiri di era ini adalah Kerajaan Hatorusan yang didirikan oleh Raja Uti di Sianjur Mula-mula. Pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Barus dan Singkil. Raja Uti adalah cucu langsung Si Raja Batak dari anaknya Guru Tatebulan.
    200 SM-150 M
    Orang-orang Mesir (masa Ramses) mengunjungi tanah Batak, tepatnya, Barus untuk membeli kapur barus. Sumber-sumber sejarah Yunani, misalnya dari Ptolomeus abad ke-2 SM mengatakan bahwa kapal-kapal Athena telah singgah di kota Barus pada abad-abad terakhir sebelum tibanya tarikh Masehi.
    Ptolomeus membicarakan Barus sebanyak lima kali di dalam laporannya dengan pandangan negatif terhadap penduduk pribumi Sumatera, khususnya orang Batak yang dikatakannya sebagai orang-orang kanibal (Wolters hal. 9; Krom h. 57-59).
    Begitu pula rombongan kapal Fir’aun dari Mesir telah berkali-kali berlabuh di Barus antara lain untuk membeli kapur barus (kamper), bahan yang sangat diperlukan untuk pembuatan mummi. Mereka adalah orang-orang Arab pra-Islam Funisia, Kartago yang sekarang menjadi Libya dan Mesir, Afrika Utara.
    100 SM
    Sementara itu di pedalaman Batak, Sianjur Mula-mula, beberapa kerajaan huta telah berdiri. Tahun 100 SM Kerajaan Batahan Pulo Morsa eksis. Kerajaan ini memakai sistem raja na opat atau raja berempat yang terdiri; Pulo Morsa Julu, dengan Raja Suma Hang Deha, Pulo Morsa Tonga, Raja Batahan Jonggi Nabolon, Pulo Morsa Jau dengan Raja Situan I Rugi-rugi dan Pulo Morsa Jae dengan Raja Umung Bane. Kerajaan ini bertahan selama 24 keturunan.
    450 M
    Daerah Toba telah diolah dan dikelola secara luas oleh rakyat kerajaan tersebut. Mereka yang dominan terutama dari kubu Isumbaon, kelompok marga Si Bagot Ni Pohan, leluhur Annisa Pohan, menantu SBY, Presiden pilihan langsung pertama RI. Di daerah ini bermukim juga kaum Tatea Bulan yang membentuk kelompok minoritas terutama dari marga Lubis.
    Sebagian dari Lubis terdesak ke luar Toba dan merantau ke Selatan. Sebagian lagi menetap di Toba dan Uluan hingga kini. Keturunannya di Medan mendirikan banyak lembaga sosial terutama Pesantren Modern Darul Arafah di Pinggiran Kota Medan.
    Di daerah Selatan kelompok marga Lubis harus bertarung melawan orang-orang Minang. Kalah. Perantauan berhenti dan mendirikan tanah Pekantan Dolok di Mandailing yang dikelilingi benteng pertahanan.
    Mereka kemudian berhadapan dengan bangsa Lubu, Bangsa berkulit Hitam ras Dravidian yang terusir dari India, melalui Kepulauan Andaman berkelana sampai daerah muara Sungai Batang Toru. Bangsa Lobu tersingkir dan kemudian menetap di hutan-hutan sekitar Muara Sipongi. Bila di India Bangsa Arya meletakkan mereka sebagai bangsa terhina, ‘untouchable’; haram dilihat dan disentuh, maka nasib sama hampir menimpa mereka di sini. Saudara Bangsa Lubu, Bangsa Tamil migrasi beberapa abad kemudian, dari India Selatan, membonceng perusahaan-perusahaan Eropa dan membentuk Kampung Keling di Kerajaan Melayu Deli, Medan.
    497 M
    Para pengikut parmalim menyakini bahwa tahun 497 M atau 1450 tahun Batak, merupakan tahun kebangkitan pemikiran keagamaan di kepemimpinan Raja-raja Uti. Raja Uti dinobatkan sebagai Tokoh Spiritual Batak dan Rasul Batak
    502-557 M
    Orang-orang Cina datang ke Barus. Orang Cina mengenal Barus dengan istilah P’o-lu-shih yang berarti pelabuhan peng-expor kapur. Sebuah itilah yang berasal dari kata Cina yang berarti harum: “P’o-lu” (Drakard 1993:3). Dalam teks-teks Cina pada zaman Dinasti Liang (502-557), saat itu, kapur dikenal dengan nama “obat salap dari P’o-lu atau Barus” atau P’o-lu-shih.
    600-700 M
    Pada abad ke-7, utusan dagang kerajaan Barus Hatorusan berangkat dari Barus menuju ke Cina membicarakan perdagangan bilateral antara Sumatera dan Cina (Wolters 33).
    600-1200 M
    Komunitas Batak di Simalungun memberontak dan memisahkan diri dari Dinasti Batak, Dinasti Sori Mangaraja di pusat. Mereka mendirikan Kerajaan Nagur. Mereka ini keturunan Batak yang bermukim di Tomok, Ambarita dan Simanindo di Pulau Samosir. Di kemudian hari Kerajaan Nagur di tangan orang Batak Gayo mendirikan kerajaan Islam Aceh.
    Simalungun merupakan tanah yang subur akibat bekas siraman lava. Siraman lava dan magma tersebut berasal dari ledakan gunung berapi terbesar di dunia, di zaman pra sejarah. Ledakan itu membentuk danau Toba. Orang Simalungun berhasil membudidayakan tanaman, selain padi yang menjadi tanaman kesukaan orang Batak; Pohon Karet.
    Hasil-hasil pohon karet tersebut mengundang kedatangan ras Mongoloid lainnya yang mengusir mereka dari daratan benua Asia; orang-orang Cina yang sudah pintar berperahu pada zaman Dinasti Swi, 570-620 M. Di antaranya Bangsa Yunnan yang sangat ramah dan banyak beradaptasi dengan pribumi dan suku bangsa Hokkian, suku bangsa yang dikucilkan di Cina daratan, yang mengekspor tabiat jahat dan menjadi bajak laut di Lautan Cina Selatan.
    Kolaborasi dengan bangsa Cina tersebut membentuk kembali kebudayaan maritim di masyarakat setempat. Mereka mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi sungai Bah Bolon lebih kurang tiga kilometer dari kota Perdagangan. Orang-orang dari Dinasti Swi tersebut meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun.
    Di daerah pesisir Barat, Barus, kota maritim yang bertambah pesat yang sekarang masuk di Kerajaan Batak mulai didatangi pelaut-pelaut baru, terutama Cina, Pedagang Gujarat, Persia dan Arab. Pelaut-pelaut Romawi Kuno dan Yunani Kuno sudah digantikan oleh keturunan mereka pelaut-pelaut Eropa yang lebih canggih, dididikan Arab Spanyol. Islam mulai diterima sebagai kepercayaan resmi oleh sebagian elemen pedagang Bangsa Batak yang mengimpor bahan perhiasan dan alat-alat teknologi lainnya serta mengekpor kemenyan komoditas satu-satunya tanah Batak yang sangat diminati dunia.
    Islam mulai dikenal dan diterima sebagai agama resmi orang-orang Batak di pesisir; khususnya Singkil dan Barus.
    600-700 M
    Sriwijaya menjajah Barus. Sementara itu laporan Cina yang lain mengatakan bahwa Sriwijaya pada abad ke-7 dan 8 merupakan kerajaan ganda satu diantaranya ialah Barus (Wolters 9). Diyakini lokasi strategis Barus dan volume perdagangan di wilayah tersebut membuat kerajaan Hatorusan terlibat dalam pertikaian politik dengan kerajaan Sriwijaya dari Sumatera Selatan dan Jawa, sehingga saling menganeksasi.
    Hubungan Barus dengan Sriwijaya dibicarakan di dalam kitab Sunda lama “Carita Parahyangan” yang mengatakan bahwa Barus merupakan daerah taklukan dari Raja Sanjaya, raja Sumatera dari Sriwijaya yang berkuasa di Jawa dan mendirikan candi Borobudur (Krom 126).
    850 M
    Kelompok Marga Harahap dari Kubu Tatea Bulan, bekas populasi Habinsaran bermigrasi massal ke arah Timur. Menetap di aliran sungai Kualu dan Barumun di Padang Lawas. Kelompok ini sangat hobbi berkuda sebagai kendaraan bermigrasi.
    Karena ini, dalam jangka waktu yang singkat, sekitar dua tahun, mereka sudah menguasai hampir seluruh daerah Padang Lawas antara Sungai Asahan dan Rokan. Sebuah daerah padang rumput yang justru sangat baik untuk mengembangbiakkan kuda-kuda mereka.
    Sebagian dari kelompok marga ini, melalui Sipirok, menduduki daerah Angkola dan di sini tradisi mengembala dan menunggang kuda hilang, mereka kembali menjadi komunitas agraris. Sementara di Padang Lawas mereka menjadi penguasa feodalistik dan mulai memperkenalkan perdagangan budak ke Tanah Batak Selatan.
    851 M
    Laporan Sulaiman pada tahun 851 M membicarakan tentang penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36).
    Ahli sejarah menemukan bukti-bukti arkeologis yang memperkuat dugaan bahwa sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatera seperti Peurlak dan Samudera Pasai, yaitu sekitar abad-9 dan 10, di Barus telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat Muslim dengan kehidupan yang cukup mapan.
    900 M
    Marga Nasution mulai tebentuk di Mandailing. Beberapa ratus tahun sebelumnya, sejak tahun-tahun pertama masyarakat Batak di sini, disinyalir saat itu zaman Nabi Sulaiman di Timur Tengah (Buku Ompu Parlindungan), perbauran penduduk dengan pendatang sudah menjadi tradisi di beberapa tempat, khusunya yang di tepi pantai.
    Penduduk dataran tinggi, para pendatang di pelabuhan Natal dan Muaralabu (dikenal dengan sebutan Singkuang atau Sing Kwang oleh ejaan Cina), dan terutama elemen-elemen bangsa Pelaut Bugis dari Sulawesi, yang singgah sebelum berlayar berdagang menuju Madagaskar, telah berasimilasi dengan penuh toleransi dengan bangsa Batak.
    Para pendatang tersebut dengan sukarela interaksi dan menerima adat Dalihan Natolu agar dapat mempersunting wanita-wanita setempat setelah puluhan tahun di tengah laut. Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan dari Toba, seorang yang disegani saat itu, menyatukan mereka; campuran penduduk peribumi dan pendatang tersebut, membentuk marga Nasution.
    Sementara itu perebutan kekuasaan terjadi di Pusat Pemerintahan Kerajaan Batak, martua Raja Doli dari Siangjur Sagala Limbong Mulana dengan pasukannya merebut wilayah Lottung di Samosir Timur. Percampuran keduanya membentuk kelompok Marga Lottung Si Sia Marina, yang terdiri atas; Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Pandiangan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.
    Ibnu Rustih, mengunjungi Barus kurang lebih pada tahun 900 M, menyebut Fansur, nama kota di Barus, sebagai negeri yang paling masyhur di kepulauan Nusantara (Ferrand 79).
    902 M
    Ibn Faqih, mengunjungi Barus, melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).
    1050 M
    Karena minimnya peralatan medis, epidemik melanda daerah Lottung kembali. Masyarakat Lottung Si Sia Marina berhamburan ke luar dari wilayah tersebut menuju daerah yang “sehat”. Akibatnya, kelompok Marga Siregar terpecah dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukin di Toba.
    1070-1120 M
    Kemasyhuran Barus juga mengundang imigran asing bermukim dan berdagang serta menjadi buruh di beberapa sentral industri. Sebuah inskripsi Tamil bertarikh 1088 M dari zaman pemerintahan Kulottungga I (1070-1120) dari kerajaan Cola menyebut Barus terletak di Lobu Tua, dan banyak orang Tamil tinggal di kota ini sebagai saudagar dan pengrajin (Krom 59-60).
    Guru Marsakkot Pardosi, Salah satu Dinasti Pardosi di Barus menjadi Raja di Lobu Tua, Barus. Nenek moyangnya berasal dari Tukka, Pakkat di Negeri Rambe yang datang dari Balige, Toba.
    Pada permulaan abad ke-12, seorang ahli geografi Arab, Idrisi, memberitakan mengenai eskport kapur di Sumatera (Marschall 1968:72). Kapur bahasa latinnya adalah camphora produk dari sebuah pohon yang bernama latin dryobalanops aromatica gaertn. Orang Batak yang menjadi produsen kapur menyebutnya hapur atau todung atau haboruan.
    Beberapa istilah asing mengenai Sumatera adalah al-Kafur al-Fansuri dengan istilah latin Canfora di Fanfur atau Hapur Barus dalam bahasa Batak dikenal sebagai produk terbaik di dunia (Drakard 1990:4) dan produk lain adalah Benzoin dengan bahasa latinnya Styrax benzoin. Semua ini adalah produk-produk di Sumatera Barat Laut dimana penduduk aslinya adalah orang-orang Pakpak dan Toba.
    1200-1285 M
    Kerajaan Nagur tetap eksis di hulu sungai Pasai. Marah Silu, Raja huta Kerajaan Nagur, mantan prajurit/pegawai Kesultanan Daya Pasai saat itu, masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Malik Al Shaleh. Di atas puing-puing kerajaan Nagur tersebut, sang Raja, yang asli Batak Gayo, berhasil melakukan ekspansi dan mendirikan Kerajaan Samudera Pasai sekaligus menjadikannya sebagai Sultan pertama.
    Kerabat Sultan Malik Al Shaleh, yakni Syarif Hidayat Fatahillah merupakan tokoh yang mendirikan kota Jakarta dan menjadi Sultan Banten (Emeritus) dan ikut serta mendirikan Kesultanan Cirebon. Dia, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah tokoh yang berhasil menyelamatkan penduduk pribumi dari amukan bangsa Portugis.
    Sultan Malik Al Shaleh sendiri lahir di Nagur, di tanah Batak Gayo. Dia adalah mantan prajurit Kesultanan Daya Pasai, sebuah kerajaan yang berdiri di sisa-sisa kerajaan Nagur atau tanah Nagur. Nama lahirnya adalah Marah Silu. Marah berasal dari kata Meurah yang artinya ketua. Sedangkan Silu adalah marga Batak Gayo.
    Sepeninggalannya (1285-1296) dia digantikan oleh anaknya Sultan Malik Al Tahir (1296-1327). Putranya yang lain Malik Al Mansyur pada tahun 1295 berkuasa di Barumun dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun pada tahun 1299.
    Dinasti Batak Gayo di Kesultanan Aru Barumun adalah sebagai berikut:
    1. Sultan Malik Al Mansyur (1299-1322)
    2. Sultan Hassan Al Gafur (1322-1336)
    3. Sultan Firman Al Karim (1336-1361), pada era nya banyak bertikai dengan kekuatan imperialis Jawa Majapahit. Di bawah panglima Laksamana Hang Tuah dan Hang Lekir, pasukan marinir Aru Barumun berkali-kali membendung kekuatan Hindu Majapahit dari Jawa.
    4. Sultan Sadik Al Quds (1361). Wafat akibat serangan jantung.
    5. Sultan Alwi Al Musawwir (1361-1379)
    6. Sultan Ridwan Al Hafidz (1379-1407). Banyak melakukan hubungan diplomatik dengan pihak Cina
    7. Sultan Hussin Dzul Arsa yang bergelar Sultan Haji. Pada tahun 1409 dia ikut dalam rombongan kapal induk Laksamana Cengho mengunjungi Mekkah dan Peking di zaman Yung Lo. Dia terkenal dalam annals dari Cina pada era Dinasti Ming dengan nama “Adji Alasa” (A Dji A La Sa). Orang Batak yang paling dikenal di Cina.
    8. Sultan Djafar Al Baki (1428-1459). Meninggal dalam pergulatan dengan seekor Harimau.
    9. Sultan Hamid Al Muktadir (1459-1462), gugur dalam sebuah pandemi.
    10. Sultan Zulkifli Al Majid. Lahir cacat; kebutaan dan pendengaran. Pada tahun 1469, kesultanan Aru Barumun diserang oleh Kesultanan Malakka, atas perintah Sultan Mansyur Syah yang memerintah antara tahun 1441-1476. Kota pelabuhan Labuhanbilik dibumihanguskan dan Angkatan Laut Kesultanan Aru Barumun dimusnahkan.
    11. Sultan Karim Al Mukji (1471-1489)
    12. Sultan Muhammad Al Wahid (1489-1512). Gugur dalam pertempuran melawan bajak laut Portugis.
    13. Sultan Ibrahim Al Jalil (1512-1523) ditawan dan diperalat oleh Portugis.
    1292-1302 M
    Sultan Marah Pangsu Pardosi naik tahta, memerintah di Barus Hulu yang mencakup beberapa negeri diantaranya Negeri Rambe, menggantikan ayahnya Sultan Mualif Pardosi, (700-710 H). Kakeknya Sultan Kadir Pardosi merupakan turunan pertama, dari Dinasti Pardosi, dari Tukka, yang masuk Islam.
    Dinasti Pardosi sejak dahulu kala sampai abad ke-19 adalah:
    1. Raja Kesaktian (Bermarga Pohan di Toba)
    2. Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
    3. Pucaro Duan Pardosi di Tukka
    4. Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
    5. Raja Tutung Pardosi di Tukka, berselisih dengan Raja Rambe di Pakkat.
    6. Tuan Namora Raja Pardosi
    7. nnnXXXXnnnn…. Ada gap yang lama, beberapa raja di fase ini tidak terdokumentasi
    8. Raja Tua Pardosi
    9. Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
    10. Raja Mualif Pardosi
    11. Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
    12. Sultan Marah Sifat Pardosi
    13. Tuanku Maharaja Bongsu Pardosi (1054 H)
    14. Tuanku Raja Kecil Pardosi
    15. Sultan Daeng Pardosi
    16. Sultan Marah Tulang Pardosi
    17. Sultan Munawar Syah Pardosi
    18. Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)
    19. Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H)
    20. Sultan Sailan Pardosi (1241 H )
    21. Sultan Limba Tua Pardosi
    22. Sultan Ma’in Intan Pardosi
    23. Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
    24. Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H).
    1292 M

  335. @ Mega Malindo, tulisan anda sangat panjang tetapi juga sangat menarik, masuk di akal dan dapat dipelajari lebih mendalam, Mauliate, Horas

  336. Bukan hanya orang Karo mengatakan bahwa Karo bukan Batak, dan memang Karo bukan Toba, Karo bukan Tapanuli. Karo dengan Batak beda bahasa, adat dan emosional . Akan tetapi orang kita Toba juga dalam kenyataan sehari hari mengartikan bahawa Batak itu harus identik sama dengan Toba. Yang terjadi adalah sebutan Batak maka orang Toba merasa yang punya. Saya sering berjumpa berkenalan dengan teman dari Toba yang selalu berkata kenapa kamu tidak bisa bahasa Batak( yang dimaksud bahasa Toba). Kalau begini berarti bahasa Karo bukan bahasa Batak, adat Karo bukan adat Batak sehingga jadinya benar pernyataan Karo bukan Batak.

  337. Menurut saya Batak adalah sebuah comunitas Comunitas tapi kurang tau juga syapa pendirinya hehehehe, serupa dengan Jawa . ada jawa Madura , ada Jawa Sunda , Banten , Badui dll. meeka adalah Jawa : Toba, Karo , Pakpak, Mandailing sada nari adi la salah (karo) Tapanuli ,kan songonido ate , molo percaya hamu (toba) . tapi mella boi ulang pella kita pedemu demu mi suku sidebaan seolah2 toba tertua (pakpak). sbb tidak ada bukti sejarah yang kuat.
    saya tinggal dan menuntut ilmu di medan selama kurang lebbih 17 thun kerna sekarang aku baru berumur 28 thun, namun aku bisa berbahasa 3 bahasa sekaligus tanpa les private , namun nota benenya aku faseh bahasa pakpak . kalau toba ,mandailing dan Tapanuli saya rasa itu satu rumpun , adi kami pakpak ras karo baci kel kami sada rumpun , menurut saya .
    Tuan tanah adalah orang yang memiliki tanah tersebut itu yang saya tau. jadi timbul pertanyaan . boi do manukkun kan to admin wordpress on kan .
    1. kenapa manduamas barus adalah tanah keturunan Empu bada , Berasa, Manik Dll
    2. Dari mana masuknya manusia ke Sumatera Utara . khususnya Keturunan Batak.
    3. dan jangan lagi kita ribut kerna masalah batak . kita memang batak makanya muka kita Petak2 . tengok jawa mulus bulat dan lain sebagainya . hehehehee

    salam Njuah njuah , Mejuah juah , Horas . Lias Ate , Bujur dan Mauliate !!! sama aja .

  338. Menurut hemat saya semua yang Comnt.di atas sudah benar.Bahwa orang karo atau sub.suku karo bukan keturunan Raja batak, yang lebih tepat juga bukan keturunan Toba,mandailing,simalungun,pakpak,nias,gayo atau angkola.Karena keturunan Raja Batak itu tidak ada Karena batak adalah sebuah indititas Budaya atau tempat,bahasa ,adat dan mungkin kepercayaan saat dulu.Demikian juga tentang Raja semua orang Batak atau bangsa batak adalah keturunan Raja atau boruni Raja.
    Perlu kita review kembali sejarah datangnya bangsa Batak atau rombongan Mangaraja Batak Bonggaran tiba di pulau sumatra sepanjang hampir 26 generasi.Para pembantunya sudah mengambil jalan sendiri.,mendirikan huta atau perkampungan baru,tetapi memakai marga Batak Bonggaran
    Dengan dasar inilah sampai sekarang,pada RUHUT NI ADAT,PODA NI UHUM dan PANGALAHO NI PADAN PARNGOLUON ORANG BATAK,siapa saja bisa jadi orang batak dengan membuat marga baru,dalam marga induk.
    Menurut para tetua-tetua batak yang memberi keterangan tidak semua marga sekarang dalam satu nenek moyang merupakan keturunan satu bapa dan satu ibu tetapi ada yang di adopsi melalui adat batak yang pada mulanya di sebut TUHO PARNGOLUON NI BATAK sebelum ada ADAT DALIHAN NA TOLU.
    http://bataksisialagundi.blogspot.com/
    Kalau melihat ulasan seluruh respondent tentang KARO BUKAN BATAK,Karo sendiri pecah 50%=50%.Batak Toba 80% menyatakan Karo adalah Batak.
    Pada saat saya di Aceh Tenggara dulu.Orang sub suku Alas,gayo Sipirok (mandailing) dan Karo.
    Simalungun Pakpak tidak banyak mendiami tanah alas,kalaupun ada mereka banyak melebur menjadi Toba.Di antara sub suku di atas tidak ada menyatakan sub suku Toba dengan sebutan suku batak.Orang alas lebih cendrung menyatakan orang Silindung..Kenapa di sebut silindung mungkin dulu kampung nenek moyang mereka bertetangga dengan kampung toba di silindung.
    Baik orang karo,mandailing gayo,alas mereka tidak pernah mengatakan orang batak kepada sub suku Toba,kenapa karena mereka memang bagian dari bangsa batak.Seperti kita sekarang ini mungkinkah sesama kita mengatakan eh orang indonesi sesama orang indonesia sendiri?
    Memang dapat di maklumi gejolak pembauran suku pendatang sangat pesat di alami oleh sub suku karo ini di akibatkan proses tempat tinggal orang karo yang dari Toba pernah berpindah ke Aceh utara,tengah atau timur baru kemudian ke tanah Karo.Pada saat proses itu berjalan ada juga perobahan budaya atau adat yang tidak dapat di bendung orang karo itu sendiri.Seperti budaya dari India Tamil,Srilangka dan lain-lain termasuk pengaruh bangsa Cina.
    Maka di dalam semua perdebatan KARO BUKAN BATAK.dapat kita simpulkan bahwa tidak semua karo menyetujui hal itu .hampir 50% lebih orang karo setuju disubut bagian dari Batak.Dan yang 50% ini terbagi dengan sebahagian latah ikut-ikutan atau memang tidak paham latar belakang sub suku karo karena memang dia masih murni pendatang dari Tamil sana.

  339. HORAS’ Amang Binsar Napitupulu ‘sejarah habatakon memang penuh misteri karena ada berbagai peristiwa terjadi yang mengakibatkan banyak terputusnya sejarah dan sulsilah bangsa batak.Sayang orang tua saya sudah meninggal.Dari cerita beliau itu banyak bertentangan dengan cerita sejarah batak yang ada sekarang. Seperti cerita orang tua saya dulu katanya ada peristiwa tragedi terjadi di tanah batak yang tidak dapat di lupakan nenek moyang kita. Peristiwa itu seperti antara lain.
    1TIKKI HAGOLAPON parjolo dohot paduahon ada terjadi LALO NABOLON yang di ind
    ikasikan dengan meletusnya Gunung Toba.Akibatnya hampir semua bangsa batak
    yang diam di kaki bukit itu punah beserta peradapannya.Sisa-sisa lain yang tidak te-
    rkena musibah adalah yang sudah sempat berdiam jauh dari kaki bukit Toba inilah
    kemudian yang membawa perobahan bahasa Batak menjadi ada 6 dialeg.

    2 Masa kehancuran atau masa suram yang dihadapi bangsa batak ke tiga yaitu de
    ngan datangnya kepercayaan malim.Pada saat itu malim atau parmalim merubah sul
    sulsilah atau keturunan batak dengan membuat sistim marga dan perubahan adat .
    demikian juga asal usul batak di buat cerita baru atau dongeng baru seolah-olah nen
    ek moyong batak turun dari langit.Sesuai tabiat budaya induk semangnya
    bangsa Mesir yaitu asal-usul datangnya kepercayaan malim .Dimana sesuatunya diya
    kini terjadi akibat ada kekuatan lain yang berbau magic.
    Transisi perobahan kepercaya bangsa batak ini sangat banyak membawa korban
    korban sejarah sulsilah juga perebutan pimpinan Malim atau Raja Parmalim
    membuat pertikayan panjang di tanah batak.Pada saat itu .Dan mulai itu
    pula lah di tanah batak ada istilah SANTET,BEGU GANJANG TUYUL dan ilmu gaib
    lainnya dan perkawinan sex atau istri boleh lebih dari satu yaitu untuk para raja-raja saat itu.

    Untuk itu saya selalu rindu dan mencari kebenaran yang sebenarnya sejarah bangsa batak itu Dari pencarian temuan di atas ada kebenaran cerita sejarah orang tua saya.
    Contoh postingan saya tgl 4 april di atas tentang perjalanan GURU TATEA BULAN kearah selatan tanah batak.Kemudian di dalam pencarian selanjutnya 27 April di temukan juga sejarah yang sama tentang Tatea Bulan

    (Dinasti Sorimangaraja terdiri dari orang-orang bermarga Sagala cabang Tatea Bulan. Mereka sangat disegani oleh Bangsa Batak di bagian Selatan yang keturunan dari Tatea Bulan.)

  340. Pendapat @ LIsa…, bahwa Keturunan Raja Batak itu tidak ada, karena batak adalah sebuah identitas tempat/dipegunungan kepercayaan/anismisme. Kalau demikian berarti tidak ada lebih tua antara orang orang yang bertempat tinggal di daerah /hamparan tsb. Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing . Benar apa dikatakan LIsa… dulu di kampung saya kami orang Karo tidak pernah mengatakan kepada orang dari Toba dengan sebutan Batak. Kami menyebut orang dari Toba adalah orang Toba dengan bahasa Karo ” kalak Teba”, kami sebut orang Simalungun, Mandailing, Pakpak,Alas dengan sebutan Kalak Simalungun,kalak Mandailing, kalak Pakpak, kalak Alas . Namun saat ini dikarenakan kalak Teba ( orang Toba) selalu menyatakan dirinya sebagai Batak maka orang Karo juga ikut mengatakan kalian orang Batak. Sebagian pendapat dari orang Karo, bahwa Karo bukan Batak maksudnya bahwa Karo bukan Toba. Coba kalau orang Toba menyatakan inilah kami orang Toba, bahasa Toba, adat Toba dst.. atau kalau mau menyebutkan Batak dipakai dengan ” Batak Toba”. , maka akan lebih jelas dan masalah Karo bukan Batak berhenti dengan sendirinnya.

  341. @ L.Ginting . ulasan di atas sudah benar,namun yang sangat membingungkan saya, tahun 1984 saya ikut membangun bangunan SMP Muara Maderas di Kec.Jangkat.Dulu tempat ini masih masuk kabupaten Sarolangon Bangko. prop.Jambi
    Sekarang kalau tidak salah sudah menjadi Kabupaten Marangin.Pada saat itu akses dari dusun Tuo kesana masih berjalan kaki selama dua hari dan barang-barang di bawa pakai Kuda.Sepanjang perjalanan kita terkadang singgah di kampung yang kita lalui.Dari warga yg di lalu itu mereka memberi info bahwa di Muara Maderas ada tinggal dua orang orang batak .Yang satu namanya Jamalludin yang satu lagi Tarigan.Besoknya setelah tiba di tempat tujuan kedua orang batak ini bertemu saya dan langsung kedua-duanya menyapa saya dengan kata-kata HORAS dan menyalami saya.Ternyata yang satu orang Batak bermarga Harahap dari Tapsel dan yang satunya bermarga Tarigan dari Tanah Karo. kami pada saat itu ngobrol ngidul dengan pasihnya mereka itu memakai bahasa batak toba dengan saya.
    Demikian juga yang terjadi di kalimantan Barat tepatnya di Balai Karangan ada namanya disitu si Panjang waktu pertama ketemu saya dia bilang halak batak do au lae.ba hurippu manang halak aha hamu saleleng on, hape halak hita do kataku.Jadi marga aha hamu Dia bilang Marga Tarigan.Demikian juga saat di pontianak makan di kedai orang Batak tempat itu bertepatan agak sepi di lain meja ada seseorang menyalami kami Horas lae katanya sambil menyalam kami hurippu do hamu dang halak batak ba sarupa do hita au marga Barutu do lae,katanya.Demikian juga Ada adik poribanku kami sama-sama mengambil istri orang dayak dan mertuanya kakak beradik dengan mertua saya waktu pertama kali saya kekampung mertua orang kampung atau keluarga di sana di bilang kami sudah punya Dua orang menantu sama-sama orang batak Satu suami adik kamu Marganya Sembiring sayang dia tidak di sini dia di Sekadau tugas jadi polisi kata mereka.
    Dari cerita kisah nyata di atas dan perdebatan KARO MENGGUGAT BUKAN BATAK apa yang salah ya? Apakah tempat atau karena terjadinya reformasi saat ini menjadi eporia akan putra asli daerah semakin bermimpi untuk mencari AKU INI KETURUNAN SIAPA ? Atau ada rasa ketersaingan dengan kehadiran kelompok lain,atau memang mungkin dia tidak memahami akan indititasnya ?
    Coba lae (turang) Ginting di jawab semua ini dengan arif dan bijaksana MAKA AKAN LEBIH JELAS DAN MASALAH KARO BUKAN INDITITASNYA BATAK BERHENTI DENGAN SENDIRINYA.

  342. Tengku Eduart Zhen, Timotius A. Karo-Karo Purba dan sdr.L.Ginting.kemana kalian kok berhenti berkomentar.Kalau saya melihat dari seluruh comnt.Yang ada menyangkut KARO BUKAN BATAK sepertinya kalianlah perwakilan dari sub suku karo atau intelektual karo selama ini selain dari Juara Ginting Tetapi apa bila kalian tidak menjawab komentar dari Mega malindo dan Lisa.Kalian sangat memalukan Koro sendiri atau juga Batak secara umum.Karena saya yakin kalain pernah mengecap pendidikan walau pun sekolah SD.karena orang yang pernah sekolah adalah orang yang memahami, mengakui kekurangannya atau pengetahuannya,itulah sebabnya mau menuntut ilmu.Jadi kalau menurut analisa kalian pendapat di atas sudah benar akui benar.jangan takut dan sembunyi,karena saya yakin kalian pasti sudah baca itu

  343. hahhaa ..

    hati2 bergaul sma org batak toba , bisa2 kita di jajah lihat aja simalungun dah di jajah ..
    hahhaha

  344. Dari pada memperbantahkan apakah Karo itu Batak atau apa saja yang Termasuk Batak, atau apakah kata Batak itu Rekayasa, … apakah tidak lebih baik menganalisa secara mendalam penetrasi hubungan satu dengan lainnya, seperti diketahui banyak marga2 yang berikatan baik nama maupun lainnya dalam struktur budaya Batak, karo atau lainnya!!… atau sampai sejauh mana kebenaran Sejarah yang ada hingga saat ini? , ingat Sejarah bisa di Rekayasa oleh pemimpin yang sedang berkuasa!!, baca sejarah presiden Sukarno yang dibuat oleh rezim Suharto dan Riwayat Sukarno yang ia tulis sendiri untuk kepentingan sendiri, dan Sejarah Sukarno yang kita tau saat ini

  345. @ Lisa , sebagian orang Karo terutama yang tinggal di daerah perbatasan/ campuran/perantaun mengerti lah mereka berbahasa Toba, seperti dari Daerah Dairi ( Tigalingga), Kuta Cane( Aceh Tenggara), Tongging. Saya sendiri dan mungkin teman teman orang Karo lainnya tidak sedikitpun merasa benci dengki iri dengan teman teman dari Toba yang saat ini lebih terkenal, sukses dan lebih senang dikatakan orang Batak. Saya banyak berteman dengan orang Toba, bahkan kalau dihitung keluarga kami sudah ada kawin mawin sekitar 20 orang dengan orang dari Tapanuli. Marga nya antara lain: Situmorang, Sianturi, Rajaguguk, Manurung, Sitorus, Napitupulu, Hutagalung, Nainggolan, Hutabarat, Sihombing, Siahaan, Simarmata ,Sitohang dsb…. Karena antara Karo dengan Toba berbeda baik adat dan bahasa nya maka dalam pelaksanaan adat dilaksanakan dengan 2 adat perkawinan yang berbeda. Pada pagi hari sekitar pk.8.00 wib dilaksanakan secara adat Karo berbahasa Karo sebelum pelaksanaan adat Karo mereka yang kawin dengan orang Karo diberikan dulu merga dari Karo, siang nya mulai pk.12.00wib dilaksanakan perkawinan secara adat Toba berbahasa Toba pula. Kalau lah antara Karo dengan Toba itu sama kenapa pula dalam melaksanakan adat ini dilangsungkan dengan 2 versi adat berbeda, bahasa berbeda, asesoris pakaian adat berbeda. Dan belum ada yang bisa sebagai orang Karo bisa melaksanakan adat Toba berbahasa Toba, demikian juga orang Toba bisa melaksanakan adat Karo berbahasa Karo. Bujur. Mejuahjuah.

  346. L.Ginting.yang kita bahas ini adalah KENAPA KARO HARUS BATAK ? Atau KARO BUKAN BATAK.Bukan KENAPA KARO HARUS TOBA atau KARO BUKAN TOBA.
    Menyangkut adat istiadat saya yakin di dalam rumpun Batak Karo sendiri belum tentu semua seragam,sama dengan Batak Toba semua adat di Toba belum tentu semua sama.Itulah sebabnya setiap pada saat adat Batak itu mau di laksanakan harus terlebih dahulu di lakukan pembahasan Agar seragam,di buat rumusannya agar pelaksanaannya tidak tercela.Itulah yang di sebut MARTONGGO RAJA.

    Kalau anda pernah ke Jakarta orang2 kita batak di sana mati2an mempromosikan Batak.Asal dia bisa memetik gitar atau suaranya sedikit bagus.Dia tidak mau bernyanyi meminjam lagu bahasa orang lain.Akhirnya lagu bahasa Batak itu di kenal dan disukai semua orang.
    Kami di perantawan ini membaca Judul yang dibuat JUARA GINTING di atas merasa sedih dan miris.Tidak pantas seorang akademisi melontarkan tiori-tiori yg demikian.Sebenarnya J.Ginting sudah sepatutnya memposisikan diri sebagai pembangun atau pelestari budaya kita Budaya Batak.Masa lebih bernilai pengamen dari dia.
    Kita melihat saat ini batak secara umum sudah jauh tertinggal dari berbagai sendi kehidupan.Tidak lagi seperti batak-batak kita dulu yang terkenal,seperti Jenderal Nasution,Panggabean, Simatupang,A E.Manihuruk TD Pardede, sampai uang pun di tanda tangani orang batak Arifin Siregar.Dulu selalu saya bilang sama orang jawa uang yang kau pegang itu paman saya yang buat, kalau dia tidak tanda tangan uang itu tidak laku.
    Tetapi sekarang bila kita membayangkan daerah kita,kita semua malu, semua sudah Jawa yang lebih terkenal padahal thn 80 an jawa itu bagi orang batak adalh hatoban(kuli) tetapi sekarang jawa sudah menjadi raja di tanah Batak
    Untuk itu mari kita bersatu semua Batak.
    Batak Toba,Karo,Simalungun,Pakpak,Mandailing,Gayo,Akkola. Kita buat bendera kita Bendera BATAK MENGGUGAT, menggugat bagaimana peradapan,ekonomi,politik dan budaya lain lebih maju di tanah kita TANAH BATAK.Jangan di dengar ocehan J.Ginting dan ICHWAN AZHARI itu.
    Baru-baru ini saya ada melakukan perjalanan dari Brastagi ke Silalahi dolok sanggul,Parapat dan ke Siantar Lubuk Pakam.Ada dua hal yang unik saya lihat di sana Kok masih ada Ratusan ribu hektar DI tengah-tengah kota HTI dan Perkebunan apakah itu masih kebanyakan Inti atau sudah semua Plasma.Kalau masih lebih banyak Inti kelihatannya sudah sangat tidak layak.Karena saat ini populasi batak sudah sangat pesat.
    Jadi pada kesempatan ini bagi kita semua batak ada dua point yang mendasar yg harus di kerjakan’
    1.Harus Orang Batak yg menjadi Raja di Tanah Batak.
    2.Semua Perkebunan dan HTI sudah harus menjadi plasma Serastus persen.

  347. Komentar saya dI nBASIS.
    Seputar Kontroversi tentang Sebutan Batak: SEBAIKNYA AZHARI “DILAWAN” DENGAN DATA

    Menyangkut legenda atau sejarah asal usul suatu suku atau penaman di dalamnya memang tidak terjadi dengan terkonstruksi begitu saja.Tidak sama seperti kita mempertanyakan siapa pencipta mobil tahun berapa di ciptakan,apa arti mobil dan kenapa di ciptakan mobil.

    Kasus ini sama saja apa bila anda di tanya kenapa anda di lahirkan ke dunia ini dan kenapa nama anda si anu.
    Bisa saja Batak itu asal katanya Baatar dari Mongol dan sebahagian batak adalah keturunan Mongol kan tidak ada yang salah.
    Dan saya menilai tulisan Ichwan Azhar,Juara Ginting dan judul yang anda buat ini sangat sepi dari dunia akadimisi dan jauh dari ilmiah.
    Di lain dialog Ichwan Azhari menyatakan bahwa kata-kata batak sudah di pergunaan pada abat 11.baca tentang Tuan ku Rao.
    Kasus batak tidak berbedah jauh dengan kasus suku-suku lain seperti minang,jawa,dayak bugis,aceh,melayu dll.Semua ini misteri dan tidak terjawab apa artinya.Jadi kalau saya melihat yg membuat tulisan ini sama saja seperti orang yang membawa mobil tanpa setir.
    Tahun yang lalu saya bertemu dengan tokoh Melayu dari Riau di Hotel Aston di Pontianak kami sma2 sarapan pagi dalam rombongon itu juga ada Ray Sahitapi.
    Dalam cerita kami akhirnya nyerempet dengan sejarah dan saya katakan mungkin kerajaan SIAK ada hubungannya dengan batak dan kerajaan Pagaruyung dengan alasan karena ada nama nenek moyang kami si boru nasiak Bagi,Dan istana pagaruyung kenapa di buat namanya istana Silindung Bulan.Dia melakukan bantahan dan argumen saat itu.Terakhir saya jawab.Bagi saya melihat sejarah dan budaya kita di indonesia ini sy mencari persamaannya saja, bagaimana persamaan itu kita kembangkan menjadi nilai-nilai pemersatu.Karena kesatuan NKRI dan Pancasila tidak cukup sakti untuk mempersatukan negara ini.Tanpa kita sadari hanya bahasa saja yg satu yaitu bahasa indonesia .Seperti melayu kan hanya agama saja yg satu adatnya kan lain-lain demikian juga pakayan adat dan bahasanya semua berbeda.Batak saja persamaannya sudah mulai sepi tinggal hanya marga saja.
    Kenapa saya menceritakan persamaan di atas atau hubungan di atas, karena saya rindu akan persatuan bangsa kita ini,bagaimana adanya hubungan masa-masa lalu itu kita gali kita kembangkan untuk menambah bahan bahan pemersatu kita.
    Teakhir saya bilang saya bukan akademisi sekolah SMP pun saya hampir tidak tamat tahun 1980 saya sudah merantau.tetapi kenapa sekarang saya bisa duduk di hotel ini dan menjadi pemilik Tambang PT MEGA MALINDO.ya saya yakin karena saya orang batak beradatkan adat batak dan pengaruh dari budaya batak itu sangat besar di dalam mengembangkan kehidupan peradapannya
    Saya bilang 500 orang jawa dI satu tempat dan orang batak 50 orang pasti orang bataknya yg lebih terkenal .Dan kita -kita yang memikirkan budaya coba kita gali apa misteri semua ini dan kita kembangkan untuk mempersatukan jangan sampai gontok-gontokan di mana-mana.
    HORAS..

  348. Pemena Adalah Buktinya
    OPINI | 27 June 2012 | 20:19 Dibaca: 1763 Komentar: 35 2
    Koq bisa? Ya, karena memang asal-muasal Karo adalah dari India. Sebagai informasi, di India ada sebuah negara bagian bernama Tamil Nadhu, yang mana mereka ini masuk dalam sub ras Dravidia, yang secara mudahnya ciri-ciri fisiknya adalah: tinggi, kurus, dan berkulit hitam pekat. Komunitas seperti ini banyak ditemui di Medan, dikenal sebagai Keling, sehingga ada yang namanya Kampung Keling, yang ciri-ciri penghuni kampung tersebut adalah seperti di atas.

    Pada tahun 1879 ditemukan sebuah ditemukan sebuah prasasti di Lobu Tua, Barus, Tapanuli Selatan, oleh seorang kontrolir Belanda bernama G.J.J. Deuts. Tahun 1932, prasasti tersebut diterjemahkan oleh Prof. Nilakantiasastri, seorang guru besar Universitas Madras, India.

    Dari tulisan di prasasti tersebut diketahui bahwa pada tahun 1080, ada pemukiman Orang Tamil di daerah tersebut (Lobu Tua). Pada awalnya, Orang Tamil ini adalah pedagang kapur barus. Pedagang Tamil tersebut membawa pegawai-pegawainya yang berjumlah sekitar 1500 orang. Mereka datang dari berbagai daerah asal seperti Colay, Pandya, Teykaman, Muoham, Malaylam, dan Kalingga. Kemudian, seiring datangnya pedagang Arab yang Muslim, pada tahun 1128-1285, para Tamil ini tersingkir karena persaingan untuk menguasai perdagangan kapur barus yang ingin memonopoli perdagangan di daerah pantai barat Sumatera tersebut. Selain berdagang, pedagang Arab ini juga mengembangkan Islam, sehingga terjadi dua pertentangan: Bangsa dan agama/budaya. Kedatangan Bangsa Arab ini membuat mereka (Tamil) ini harus mengungsi ke bagian timur, masuk ke daerah yang sekarang dikenal sebagai Alas dan Gayo, yang keduanya berada di propinsi Nagroe Acheh Darussalam (NAD). Selain ke Alas dan Gayo, ada juga yang dengan menyusuri sungai Cinendang akhirnya sampai di wilayah yang sekarnag dikenal sebagai Karo, berbaur dengan masyarakat asli setempat. Kemudian, orang Tamil ini mendirikan Kerajaan Haru Lingga Timur Raja. Dari pembauran dengan masyarakat asli di sana, lahirlah marga Sembiring Sigombak, yang mana kemudian dipecah menjadi beberapa sub-marga: Brahmana, Pandia, Colya, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunuh Aji, Busuk, Muhan, Meliala, Pande Bayang, Maha, Teykang, dan Kapur, yang mana setiap marga tersebut menggambarkan asal-usul kedatangan mereka di daerah India, yang 1.500 orang tadi. Komunitas tetap menjaga tradisi atau agamanaya, yang mana dalam perkembangannya nama kepercayaan ini disebut Agama PEMENA, yang mana artinya adalah Agama PERTAMA.

    Salah satu dari tradisi pemena ini adalah melarung abu jenazah ke laut. Bila di India dilakukan di Sungai Gangga, maka di pedalaman Sumatra dilakukan di Sungai Wampu, Langkat, yang tembus ke laut di Selat Malaka. Ritus keagamaan ini sempat tidak hilang beberapa dekade lalu. Abu jenazah yang tidak sempat di hanyutkan/dilarung, abunya disimpang dalam sebuah wadah yang terbuat dari batu berbentuk rumah mini yang disebut abu partulenan.

    Bukti budaya Karo yang berasal dari Tamil adalah suara serunai Karo yang lebih tinggi oktafnya dari seruai masyarakat Batak, cenderung suaranya melengking tinggi, mengingatkan kita kepada film India yang mana suara perempuan akan selalu melengking tinggi (high pitch). Beberapa tradisi lain yang masih dilakukan oleh penganut agama Pemena di Karo adalah pemotongan gigi dan menghitamkannya, mandi air limau (erpangir kulau), dan tentu saja kebiasaan wanita hamil yang yang membuat titik di keningnya. Kebiasaan tersebut sangat mudah kita “raba” saat kita melihat budaya India tradisional, khususnya yang berbau Tamil.

    Kontak masyarakat Tamil di Sumatara sempat terputus dengan leluhurnya di India, hingga pada pada abad ke-16, seorang resi Megit, seorang Brahmana, datang dari India. Resi ini menikah dengan Putri Karo. Turunan mereka ini kemudian mengembangkan agama Hindu aliran Maharesi Brgu Sekte Ciwi, serta mereka bergabung ke dalam marga Sembiring yang sudah lebih dulu dibentuk orang Tamil berabad sebelumnya. Hubungan dengan India sempat terputus lagi hingga pada tahun 1950-an seorang Pendeta Hindu datang ke Karo. Hasil kunjungan itu menbuktikan bahwa Pemena adalah Hindu. Dan pada tahun 1977 terbentuklah Parisadha Hindu Dharma di Tanah Karo. Inilah penjelasan yang menjelaskan mengapa Tanah Karo adalah tempat kedua penganut Hindu terbesar di Indonesia setelah Bali.

    Selain bukti adat dan kepercayaan di atas, bukti lain adalah tulisan. Tulisan dan huruf Karo (dan juga Toba) adalah sama dengan tulisan atau huruf di India Selatan, yang bahkan hingga hari ini pun masih ada dari mereka yang bisa membaca tulisan tersebut, setidaknya meraba bunyinya. Tentu hal ini tidak asing bagi kita, karena memang budaya Tamil telah mempengaruhi kehidupan di Sumatara.

    Lalu, mengapa Karo sekarang tidak seperti Tamil, berkulit hitam pekat dan tinggi kurus? Jawabnya adalah perbauran. Karo sudah terbentuk dari budaya gado-gado. Tamil asli tetap terlihat dengan ras Dravidianya, dan yang asli ras Austronesia tetap terlihat ras keaustronesiannya. Oleh sebab itu, mendefinisikan Karo tidaklah semudah yang dibayangkan Si Taringan yang dengan dengan gigih “memperjuankan” kebukan-batakannya. Tetapi, Karo bukanlah hitam putih. Karo adalah campuran gado-gado, nano-nano, “manis-asam, asin” rupanya.

    Untuk sedikit informasi tambahan kepada pembaca, bahwa tidak semua penduduk Sumatara Utara yang telihat berwajah Tamil India adalah Karo. Sebagian dari Mereka adalah memang orang India yang didatangkan ke Sumatara Utara pada masa penjajahan Belanda dulu, untuk membuka perkebunan di sana. Mereka ini hidup dengan budaya yang bisa dikatakan hampir tidak berbeda dengan nenek moyang mereka di India Selatan sana, dan mereka tetap menganut Agama Hindu India. Kampung Keling di Medan sepertinya adalah kampung yang dibentuk oleh Tamil India yang didatangkan oleh Belanda tersebut, bukan yang datang berabad sebelumnya.

    Baca Tradisi Pemena di desa Suka Jadi II, Medan, Sumatra Utara: http://www.scribd.com/dberantemmaornggpent/d/96243013-Visual-Anthropology

    Edited: Tambahan Informasi. Kata Sembiring yang memang berasal dari Bahasa Tamil, bisa diterjemahkan menjadi The Black One

  349. Tulisan di atas dapat membuktikan Bahwa tamil harus tetap tamil,mereka jelas asal usunya dari india sana.Jadi jangan lalu mengakui bahwa mereka orang karo.Jadi di tanah karo itu ada dua suku secara garis besar.Suku Karo penduduk asli yang masih berhubungan darah dan adat dengan bangsa batak.Sementara suku tamil adalah pendatang dari india sana jangan ngaku-ngaku suku karo,agar jangan sampai berantakan.Akhirnya pendudk asli terprofokasi.

  350. klo menurut logika saya sepertinya yang membuat judul ini juga sepertinya beranggapan kalo orang karo adalah batak (harus). alangkah lebih bijaksana jika dibuat – Kenapa Karo Bukan Batak?-

    mohon maaf sebelumnya saya bukan ahli sejarah, antropologi apalagi orang belanda dahulu yg menjajah indonesia.

    baru sedikit saya baca tanggapan saudara saudari ada yang pro dan ada yang kontra. namun dari judul tersebu ini lebih menjurus ke dalam suku, karena kalo dibahas dari keturunan jelas kita semua keturunan dari adam dan hawa. tapi jika dikatakan suku karo adalah batak saya tidak setuju karena sudah jelas dari bahasa dan kebudayaan itu sudah berbeda, klo menurut saya kenapa sebagian besar suku di sumatera utara khususnya di katakan batak itu hanya kerjaan orang belanda yang menjajah pada saat itu, dan saya rasa suku di pulau jawa atau pulau2 lainnya tidak mau dikatakan suku batak atau suku karo, bahkan mungkin selain suku karo sebagian besar suku di sumatera utara tidak mau dikatakan batak juga, karena setahu saya dari nini bulang saya batak adalah sebutan untuk teba (toba). saya rasa nini bulang saya tau itu dari nini bulangnya nini bulang saya, hanya yang benjadi PR untuk suku karo tidak seditel suku batak ada silsilah turunan mulai dari raja batak sampai ke marga2 mereka masing2 dan itu sangat saya hargai. seharusnya suku karo juga punya sebagai contoh saya karo karo sinukaban dari RAJA KARO ada turunan ke marga karo,2 dari karo2 dibagi lagi karo2 apa saja, jika saya sinukaban dibagi lagi nini bulangnya bermukim di kuta (kampung mana saja) sebagai contoh seprti yang di tulis seninakuTimotius A karo2 Purba “Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban” (sangat nyata kebenarannya. bujur sina). dari sana barulah diketahui bulang/kakek saya siapa dan diturunkan lagi ke bapak saya, kemudian saya dan begitu seterusnya sampai anak cucu saya.

    kesimpulannya karo ya karo, batak ya batak yang nota bene nini bulang saya katakan kalo batak itu teba (toba), jika suku2 yang lain mau dikatakan batak itu hak mereka. jadi jangan katakan suku orang lain bagian dari suku kita jika kita tidak paham betul tentang suku tersebut, karena saya dan nini bulang saya tidak paham betul tentang bahasa dan adat kebudayaan batak (teba/toba) jadi saya bukan suku batak, sebaliknya jika ada orang batak (teba/toba) katakan kalo suku karo adalah suku batak (teba/toba) dia harus paham betul bahasa dan adat kebudayaan suku karo tersebut. adi lang reh kam kutanta sumbul tanah karo pelepar ras kuta kaban gelah erlajar ras2 kita (jika tidak datanglah ke kampung kita sumbul tanah berseberangan dengan kampung Kaban biar belajar sama2 kita).

    salam sejahtera
    mejuah juah,

    Mazmur sinukaban

  351. MAZMUR SINUKABAN.
    Lewat media ini kita tidak di ajak berkisah tentang pribadi kita,pokok masalah di atas karo menggugat bahwa mereka bukan bagian dari batak .Tetapi topik ini dari 2010 sampai saat ini tidak ada titik temu, karena karo itu sendiri suaranya tidak bulat sebahagian besar mereka mengakui bahwa karo itu bagian dari batak atau batak karo.Sdr.Mazmur blog. ini bukan biro perjalanan seperti ajakan di akhir tulisan anda.
    Di bait terbawah comentar ini ada temuan kepercayaan PEMENA yang di bawa oleh Bangsa Tamil ke tanah karo yang membaur dengan penduduk setempat(pendudk asli) maksudnya sebelum tamil datang sudah ada yang terlebih dahulu diam atau bermukim disana.Berarti yang ingin di pertanyakan disini apakah anda bagian dari pendatang itu,coba pelajari dan tanyakan kepada nenek moyangmu.Kalau benar berarti anda dapat di katagorikan SUKU KARO TAMIL.Dan pendudk asli yang dulu itu itulah yang di namankan BATAK KARO. coba anda buka Blog.ini http://www.scribd.com/dberantemmaornggpent/d/96243013-Visual-Anthropology
    Ini adalah bagian dari kebudayaan mereka disitu terlihat jelas mereka mencontoh-contoh ulos Batak dan juga tortornya.
    Ada tidak kira-kira gaya tor-tor dan ulos seperti itu di Tamil sana saat ini,kalau tidak ada sangat membingungkan ya.

  352. < Lewat media ini kita tidak di ajak berkisah tentang pribadi kita,pokok masalah di atas karo menggugat bahwa mereka bukan bagian dari batak .Tetapi topik ini dari 2010 sampai saat ini tidak ada titik temu, karena karo itu sendiri suaranya tidak bulat sebahagian besar mereka mengakui bahwa karo itu bagian dari batak atau batak karo.

    @Karo;
    – disini tidak ada yang melarang menceritakan tentang pribadi yang dialami atau diketahui kan, apalagi itu berhubungan dengan suku karo tersebut, toh saya tidak menceritakan pribadi anda.
    – jika tidak ditemukan titik temu dari tahun berapa kek dan ada perbedaan suara, emang itu masalah buat anda. wajar dong pendapat orang berbeda beda karena suku karo kan ga hanya terdiri dari 1 orang. perlu saya luruskan topiknya bukan "karo menggugat bahwa mereka bukan bagian dari batak" tapi dari judul besarnya ""kenapa (harus) karo bukan batak?" jadi klo ada tanda tanya (?) setiap orang berhak menjawab sesuai dengan yang diketahuinya.

    < ini bukan biro perjalanan seperti ajakan di akhir tulisan anda.

    @karo;
    anda harus bisa membedakan mana ajakan, mana biro perjalanan. ajakan saya sangat postif kawan tak kenal maka tak sayang, jika kita mau lebih tau suatu daerah terlebih adat istiadatnya tentunya kita lebih bagus langsung mengunjunginya.

    < ada temuan kepercayaan PEMENA yang di bawa oleh Bangsa Tamil ke tanah karo yang membaur dengan penduduk setempat(pendudk asli) maksudnya sebelum tamil datang sudah ada yang terlebih dahulu diam atau bermukim disana.Berarti yang ingin di pertanyakan disini apakah anda bagian dari pendatang itu,coba pelajari dan tanyakan kepada nenek moyangmu.Kalau benar berarti anda dapat di katagorikan SUKU KARO TAMIL.Dan pendudk asli yang dulu itu itulah yang di namankan BATAK KARO. coba anda buka Blog.ini http://www.scribd.com/dberantemmaornggpent/d/96243013-Visual-Anthropology
    Ini adalah bagian dari kebudayaan mereka disitu terlihat jelas mereka mencontoh-contoh ulos Batak dan juga tortornya.
    Ada tidak kira-kira gaya tor-tor dan ulos seperti itu di Tamil sana saat ini,kalau tidak ada sangat membingungkan ya.

    @karo;
    mohon maaf saya tidak sempat membuka, apalagi membaca isi alamat blog yang anda cantumkan. saya rasa tidak penting karena anda sadar atau tidak sadar anda sudah menjawab pertanyaan anda sendiri. sudah jelas bangsa tamil ke tanah karo membaur dengan penduduk setempat (penduduk asli) dan anda perjelas lagi sebelum tamil datang sudah ada yg diam atau bermukim disana. jadi jelas dong penduduk itu suku karo bukan tamil, masalah ada pendatang kawin dengan suku asli karo tersebut itu urusan mereka, karna klo ditanya nenek moyangmu juga saya rasa dia tidak tau dan ga mungkin bisa saya rasa. kecuali klo dibilang keturunan adam dan hawa, ia.

    saya rasa wajar anda orangnya suka bingung karena di tanah karo itu tidak ada yang namanya ulos dan tortor yang ada juga Uis Gara dan Landek, jadi beda kan sobat. kita harus bisa membedakan mana TANAH KARO, Mana TANAH BATAK, Apalagi TANAH ABANG🙂 tapi jadikanlah semua perbedaan itu jadi indah.

    saya jadi curiga jangan2 anda bukan suku karo asli.
    A10T10N Koruptor itu berbahaya tapi Provokator lebih berbahaya.

    salam sejahtera
    mejuah juah,

    Mazmur Sinukaban

  353. knp mesti malu mjd suku yg diberi nama batak* krn itu hny nama yg diberikan untuk merumpun sub etnis di nusantara
    n jauh lbh bsr dr pd itu apa yg msh dimiliki hikayat,tambo/tarombo,tutur/babad yg dimiliki suku batak* itu sendiri melebihi cakupan sejarah nusantara ini n mengisi sejarah period per period masa sejarah nusantara ini

  354. Yang menolak disebut “Batak” adalah golongan barisan sakit hati yang tidak menerima dominasi toba dalam etnisitas Batak termasuk dosen saya Pak JG dengan mengatasnamakan identitas…Tp itu lumrah sebagai manusia yang ingin mencari keadilan…yg penting disini suku apa pun itu kita adalah NKRI…

    Mejuah-juah man banta kerina..horas ma dihita saluhutna..Njuah-njuah man kita krina..ya’ahowu..terimakasih

  355. Setelah membaca secara terperinci tulisan sdr Karo, saya sangat setuju dengan pernyataan Sdr di Atas, Seperti halnya dengan Koro yang sudah bersifat gado2 saya juga percaya adanya kontaminasi darah dan budaya2 asing terhadap bangsa Batak lainnya pada umumnya. Ini kita lihat dari taritarian mereka, contoh dari Karo sifatnya sangat tidak jelas, seperti tortor melayu atau ketuk tilu dari Sunda, barangkali juga Menado. Tetapi bila kita lihat ke arah selatan di Toba maupun lainnya terutma akhir2 ini juga sudah banyak pengaruh tarian suku lain seperti Minang (tari piring) dsb. Sebetulnya jenis tortor yang masih terlihat sangat konsistentterhadap keasliannya adalah Tortor Mandailing. Tetapi seperti halnya di bagian utara, dibagian Timur juga terkontaminasi, sebagai contoh di daerah Sibolga, bahasa Batak dipengaruhi bahasa Minangkabau

  356. MAZMUR SINUKABAN@
    Diskusi di Blog ini harus Ilmiah kawan,karena ribuan manusia akan membaca.Kalau kam bilang datang lah kekampung kita Sumbul seberangan dan setahu saya dari nini bulang saya.Kata-kata ini kan tidak masuk dalam kontex komunikasi ilmiah.Kenapa tidak kau suruh saja nini bulang kamu itu buat commentar disini ?
    Saya tanya kamu sekali lagi,apakah benar ada kepercayaan PEMENA di Tanah Karo ? Dan siapa yang membawa kepercayaan ini ? apakah karo, Tamil atau Bangsa Batak.Kalau bangsa Tamil berarti ada orang Tamil disana, jangan dibilang itu Batak Karo atau karo.Tamil tetaplah tamil,
    Mazmur Sinukaban, dari tutur kata anda di atas tidak ada sedikitpun mencerminkan manusia beradab saya yakin anda pasti bukan KARO murni.
    Coba anda tanya lagi ke nini bulang kam asal kalian dari mana .

  357. Sdr.Mazmur Sinukaban.
    anda belum membuka dan mencermati Blog.yang di kirim sdr.kita karo, kenapa anda sudah mengomentarinya.Karena saya melihat disitu memang ada memakai ulos,dan bergaya tortornya tortor batak.Tetapi saya yakin itu bukan budaya BANGSA BATAK ATAU BATAK KARO.
    Bahasa yang Ilmiah se andainya sdr.bilang nini bulang ku adalah Profesor A Dan hasil temuannya ini.Atau di Sumbul seberangan ada perpustakaan suku Karo boleh anda datang kesana membacanya, atau juga di Sumbul akan di adakan seminar budaya Karo.maka boleh lah kami2 di undang kesana.Ini baru namaya Ilmiah
    Kembali kepada kepercayaan PEMENA apakah benar ini ada di tanah karo yang di bawa bangsa Tamil ? Kalau benar berarti ini adalah suku Tamil,mana boleh itu kita buat suku Karo.
    Sama seperti kepercayaan Batak Toba yaitu kepercayaan MALIM atau PARMALIM di Lagu Boti.Itu adalah kepercayaan nenek moyang orang batak dan di akui oleh mereka.
    Jadi cobalah sdr.buat tulisan yang jelas seperti yang di buat oleh sdr.kita karo itu,ada
    temuan sejarah secara ilmiah dan dokumentasinya.

  358. SEDIKIT UNTUK BAHAN RENUNGAN SEMOGA BERMANFAAT.

    Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

    (QS. 49. Al-Hujuraat:13)

    Bahasa Silaturahim

    Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal-mengenal (QS. 49:13). Kenyataan bahwa manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa mengisyaratkan adanya bahasa yang dapat digunakan untuk saling mengenal. Kebutuhan manusia untuk saling kenal-mengenal mengisyaratkan perlunya kasih-sayang sesama manusia. Individu-individu manusia perlu diikat dengan tali kasih sayang, yaitu silaturahim. Jika ada individu-individu (terutama sesama orang yang beriman) yang berbeda pandangan atau bermusuhan, perlu ada upaya mengislahkan mereka (QS. 49:10). Bahasa dan kasih sayang menghubungkan hati manusia agar saling menyayangi, berhubungan, dan memaafkan.

  359. Terima kasih saudara ku, Marpaung Bre” Barus.

    Perdamayan yang bisa di dapatkan manusia secara utuh adalah melalui persamaan hati,persamaan ke inginan melalui peradapan budaya manusia itu sendiri.
    Agama sendiri pun akan menjadi lumpuh apa bila para manusia atau umatnya selalu mencari-cari perbedaan dan kejelekan orang lain.
    Tak cukup letih kah kita melihat ,mendengar dan mungkin saja merasakan banyaknya tragedi akibat dari tingkah laku manusia yang selalu menonjol-nonjolkan perbedaan ?
    Tulisan saya di atas adalah Blog. sdr.Andreas. Karo adalah Tamil India? Agama Pemena Adalah Buktinya.
    Yang saya kritisi kan itu.karena di dalam tulisan itu di katakan berbaur dengan masyarakat asli setempat. Kemudian, orang Tamil ini mendirikan Kerajaan Haru Lingga Timur Raja. Dari pembauran dengan masyarakat asli di sana.
    Berarti di dalam tulisan itu dikatakan ada masyarakat asli yang telah terlebih dahulu mendiami tanah karo dan bangsa tamil datang dan membaur bersama penduduk asli tersebut.
    Yang ingin di pertanyakan ,SIAPAKAH PENDUDUK ASLI ITU, Karena Tamil tetaplah tamil karena mereka adalah bangsa yang jelas yang datang dari india sana.Siapa yang membuat mereka jadi Karo dan kapan dan penduduk asli tadi suku apa ?
    Kalau pertanyaan ini tidak dapat terjawab,berarti jelas ada dua suku yang mendiami tanah karo ya itu bangsa Tamil dan penduduk asli
    Pada biasanya pembauran pendatang tidak serta merta mampu merubah nama tempat dan ras yang telah ada sebelumnya
    Kalau kemampuan itu ada terjadi di tanah karo berarti ada deklarasi pada saat itu.
    Kembali kepada Perdamayan manusia rasanya kita sebaiknya janganlah selalu menonjol-nonjolkan perbedaan mari kita jalan melalui persamaannya.

  360. Kepada semua saudara2ku yang menyebut diri kalak karo (yang anti batak),cerita2 kerajaan Haru jangan dulu kita sebut sebagai patokan asal mula kata karo, ga usahlah mendongeng panjang lebar, itu cenderung membuat bingung (maaf ya), emang udah pasti apa karo itu berasal dari kata haru? Apa karna mirip doing? Haru yang notabene adalah nama bekas sebuah kerajaan melayu. trus dimana kah lokasi kerajaan haru itu? Kita seperti dibutakan hal2 yang tidak pasti. setau saya ditaneh karo (kabupaten karo) ga ada peninggalan kerajaan yg klian sebut itu, dengar2 itu lokasinya di daerah melayu sana, klo itu memang benar kenapa ga disana aja dulu kabupaten karo? kenapa peradaban karo disana tidak menonjol? kenapa daerah kami gugung sini yang jadi barometer karo? perlu kita tau, peradaban karo itu semisal rumah adat, uis, gendang, sarune, kulcapi, asal merga, tutur semua berkembang di gugung, bukan pesisir, dan saya LIHAT, saya ALAMI, dan SADARI semua itu lebih mirip ke tetangga kita Batak (Simalungun, Pak-pak, Toba) jadi saya ga setuju klo karo itu berasal dari melayu, lagian melayu marganya apa coba?

    Itulah alasan saya sebagai seorang Tarigan sampai detik ini masih mendukung kalau Karo itu adalah bagian dari Batak.
    saya harap di forum ini tidak ada merga Tarigan yang tidak tau asal-usul bulangnya dan mendukung Mr Juara ginting yang seorang karo maya-maya (maaf.. begitulah kami menyebut orang karo yang tinggal di jahe-jahe/dataran rendah/pesisir) itu.

  361. @Karo;
    saya tidak katakan komentar saya ilmiah tapi pola pikir logika. dan sesuatu yang ilmiah harus sejalan dengan logika, karena bagaimana orang bisa mengerti ilmiah jika tidak bisa diterima logia. jadi jangan anda katakan anda seorang yang ilmiah tapi anda sendiri tidak memberi solusi malah bertanya dan bingung sendiri, klo bingung jangan bawa2 orang lain juga bingung.
    jika anda menaggapi komentar saya dengan EMOSI wajar anda katakan saya manusia tidak beradab, karena saya rasa anda orang yang lebih tidak beradap menyuruh orang menanyakan nenek moyang bahkan menyuruh menulis di blog ini, adi nini bulangku nggo mate pal/sina kadeku kin kam yah, isekin gelarndu situhuna, janah janarikin kutandu.

    @lisa+karo;
    sekali lagi saya luruskan yang dibahas “kenapa (harus) karo bukan batak”. bukan “kepercayaan pemena” yang lebih mengarah kepada kepercayaan mula2/pertama atau bisa dibilang agama pertama. perlu anda baca seksama dari komentar saya sebelumnya tidak pernah menyakut ke kepercayaan pemena dan saya rasa tidak bisa dikatakan bangsa/suku/orang yang membawa satu agama ke sebuah suku lantas otomatis suku itu menjadi sukunya orang yang membawa agama/kepercayaan tersebut

    -anda belum membuka dan mencermati Blog.yang di kirim sdr.kita karo, kenapa anda sudah mengomentarinya.Karena saya melihat disitu memang ada memakai ulos,dan bergaya tortornya tortor batak.Tetapi saya yakin itu bukan budaya BANGSA BATAK ATAU BATAK KARO.

    @Lisa;
    kenapa saya tidak mau membuang waktu membuka dan mencermati blog tersebut karena dari ringkasan yang dibuat sdr. karo tentang blog tersebut termasuk komentar anda diatas paragraf ini anda sendiri menjadi ragu dan tidak yakin, jadi sah2 saja kan saya tidak mencermatinya. jadi ilmiah seperti itu yg anda dan sdr karo maksudkan sebagai bahasa atau kalimat ilmiah, yang membuat pembacanya jadi ragu dan bingung? atau hanya ilmiah yang copy paste?

    -Bahasa yang Ilmiah se andainya sdr.bilang nini bulang ku adalah Profesor A Dan hasil temuannya ini.Atau di Sumbul seberangan ada perpustakaan suku Karo boleh anda datang kesana membacanya, atau juga di Sumbul akan di adakan seminar budaya Karo.maka boleh lah kami2 di undang kesana.Ini baru namaya Ilmiah

    @lisa;
    jika berandai2pun jaman nini bulangku blm ada yg namanya profesor. hanya apa yang diketahuinya tentang budaya dan suku KARO tersebut (bukan batak karo) diturunkan ke anak cucunya sampai sekarang. jadi jangan terlalu sempit anda mengartikan ILMIAH. untuk mempelajari/mengetahui bahasa adat istiadat KARO tidak harus dengan ada perpustakaan atau seminar disana kan, bisa dengan melihat peninggalan2nya,bahasanya tatacara adat istiadatnya dan langsung bertanya sama masyarakatnya disana apakah suku batak sama dengan suku Karo.

    saya rasa tidak harus dengan cara ilmiah sekali untuk mengerti sesuatu, tetapi bisa dengan logika. sudah jelas2 bahasa, daerah, dan adat istiadat berbeda kenapa tidak merelakan bahwa batak dan karo itu memang beda (batak ya batak, karo ya karo) jangan yang beda dimirip2kan dan yang mirip disama2kan. tapi tetap walaupun berbeda tetap NKRI bukan berarti dengan semua perbedaan yang ada menmbulkan permusuhan.

  362. sdr.MAZMUR SINUKABAN
    memang betul itu copy paste visual antrophologi departemen antrophologi unuversitas sumatra utara.Dan itu di akui dan sah.
    Maka sdr.karo pun mengkritisi temuan itu.Dimana di nyatakan di dalamnya sebelum bangsa tamil datang sudah ada penduduk asli di sana.
    Yang di pertanyakan sdr.karo sesuai visual tersebut,suku apakah penduduk asli itu ? Sementara didalam copy paste di atas di katakan Tamil lah yang menjadi karo,apakah mungkin bangsa tamil jadi merubah budaya dan nama bangsanya sementara mereka sudah jelas bangsa tamil.Ini yang di cermati dari visual tersebut.Jadi sdr.karo membuat sebuah comnt.disini ada refrensinya ada dasarnya,bukan seperti yang sdr.tuduhkan kebingungan atau bingung.
    Kalau melihat komentar diatas sebenarnya andalah yang kebingungan.
    Karena hal ini memang sudah menjadi perdebatan yah memang jalan satu2nya ya harus ILMIAH,tidak boleh lagi kata saya atau kata nini bulang saya.
    Suku seseorang tidak dapat kita lepaskan dari ciri2nya dan anda lihat di visual itu,pakayan dan tortor mereka kan pada saat ritual itu tidak ada mencerminkan ciri2 lain selain dari tortor batak dan ulos batak.

  363. Mau Karo mau Batak Karo sama aja, apa bedanya? Saya pernah membaca beberapa buku dan tulisan mengenai sejarah Karo atau Batak Karo tapi saya tidak ambil pusing mengenai itu yang saya tau banyak marga di karo bukan asli karo, contohnya sangat banyak dan dilengkapi dengan bukti misalnya brahmana bukan asli karo, sinulingga berasal dari lingga pak pak, munthe berasal dari munthe tapanuli banyak lagi dan banyak lagi ( googling aja atau tanya tetua tetua karo, beberapa kali aku temui tetua karo dan bulang bulangku sendiri bercerita mereka cerita atas dasar turun temurun dan disimpulkan bahwa banyak marga karo yang bukan berasal dari karo hanya di “karokan” memang adat karo seperti itu setiap yang masuk ke hulayat karo (daerah kekuasaan) maka di wajibkan memakai marga karo) . paling penting menurut hemat saya cari keluarga bukan perbedaan. Saya sendiri dilahirkan seorang ibu beru Karo Sekali dari Seberaya tanah karo, dan Bapak merga Silalahi Pintu Batu ( Kalo di Karo dibuat Sembiring Kembaren) dimana bapak saya lahir dari Beru Tarigan Silangit dan besar di Tanah Karo, karena opungnya (bulangnya) merantau ke tanah karo. Bagi saya “suara” Pak Juara Ginting adalah hal yang tidak penting dan tidak perlu di bahas karena sampai detik ini saya tidak menemukan bukti bahwa adat istiadat karo dan sejarah Kalak Karo berbeda jauh dari rumpun batak (bahasa, dalihan natolu) kalo ada yang bisa menunjukkan dengan jelas bisa kita “debatkan”. Semua Batak Hormat kepada Hula Hula nya Tulangnya posisi sama dengan Karo mehamat man Kalimbubu. Mohon maaf kalau kata katanya kurang berkenan di hati

  364. Sdr. Pintu Batu Bre Karo Sekali
    Saya berterima kasih sekali ats keterangan lae,sebaiknya kita jangan selalu mencari-cari perbedaan,mau kemana kita buat peradapan kita ini kalau perbedaan terus yg kita gali-gali.Perlu juga kita garis bawahi di sini bangsa batak itu bukan lah satu keturunan atau satu darah nenek moyang.Bangsa batak itu adalah suatu perkumpulan antara suku dengan suku yang lain, yang di ikat dengan bahasa yaitu bahasa batak,adat batak,marga batak dan persamaan lain tentang batak.
    Karena dulu memang adat batak ada di katakan.TUHO PARNGOLUON NI BATAK yang artinya kepadamu di letakkan sistim kehidupan orang batak atau di margahon.Contoh Martua Sitorus semua orang pasti mengatakan bahwa dia adalh orang batak padahal aslinya kan bukan.Dia adalh orang cina tetapi sudah di margahon jadi marga Sitorus.Jelaslah Martua Sitorus ini bukan keturunan si Raja batak.Demikian juga karo banyak faktor yang memepengaruhi suku ini.Tetapi budaya telah mempersatukannya menjadi masuk bagian dari bangsa batak,.Karena nenek moyang bangsa batak dulu sisitim tatanan hidup mereka berpedoman kepada sistim demokrasi liberal bukan sistim demokrasi komunal dimana sesuatunya di atur oleh hirarki sistim kerajaan yang di pengaruhi oleh bangsa lain.Kalau teman-teman katakan ada kerajaan di tanah batak atau di Karo,mandailing,pakpak,toba,simalungun,,dan akkola. Siapa nama raja itu kekuasaannya saat ini dimana,dan putra mahkotanya sekarang namanya siapa.Ini harus jelas dulu.Kalau ini tidak jelas berarti sebelum bangsa indonesia ini ada.Semua suku2 di atas pastilah memakai sistim peradapan aturan dari bangsa batak.Dapat kita cermati ada tidak di dalam suku2 di dunia ini istilah di margahon atau di rajahon menjadi anak ni raja marga ini dan marga itu.
    Ingat di dalam kehidupan bangsa batak ada dikatakan TUHO PARNGULUON DALIHAN NA TOLU Sistim Bermasyarakat Bangsa Batak.Dan TUHO PARNGOLUON RUHUT NI ADAT PODA NI UHUM PANGALAHO NI PADAN DALIHAN NA TOLU.Saya tidak tau membahasa karo kan ini tolong teman-teman dari karo membantunya.Karena sistim inilah sebahagian yang di pakai oleh nenek moyang kita didalam mengatur tatanan hidup mereka.Ingat kalau sistim ini di pakai maka sistim keajaan tidak akan berjalan maksimal.Jadi kita jangan lah berandai-andai,agar jangan sampai berantakan persatuan kita.Nenek moyang kita dahulu telah menanamkan suatu karya maha besar untuk kita mari kita lestarikan itu untuk mempersatukan kita semua batak,karena persatuan itu sangat maha indah

  365. Saling menyerang, saling membenarkan dan mencari celah kelemahan yang lain. Membuat opini atau argumentasi berlandaskan emosional, terlalu picik dengan doktrin sesat untuk mencapai tujuan yang sesat. Saya amati mulai dari tulisan Bung J Gultom sampai dengan komentar yang terlampir saya merasa geli, Sebenarnya apakah kalian mengerti dengan apa yang kalian katakan dan yang kelompok kalian klaim ????

    SIRAJA BATAK, siapakah dia ? dimanakah kerjaannya ? apakah ada struktur organisasinya ? Dan saya juga heran kenapa label BATAK sangat ditinggikan bahkan dibela mati-matian.

    TAROMBO BATAK, tahukah kalian siapa penciptanya ? tahukah kalian apa motivasinya menciptakan Tarombo tersebut ? coba berpikir jernih buat semuanya tanpa menghilangkan ikatan persaudaraan yang ada bersama-sama mencari benang merahnya. (WS …. ?????)

    SIRAJA BATAK dalam TAROMBO BATAK ada mencatut Batak Gayo, Batak Nias. Dan seperti kita ketahui bersama, hasil penelitian terakhir menemukan jika tes DNA orang Nias lebih dominan kepada orang Taiwan dan Piliphina. Kemudian muncul lagi pertanyaan manakah lebih Tua orang Nias atau SIRAJA BATAK, kenapa Nias dimasukkan kedalam Tarombo ???? Hasil penemuan di Aceh Tengah juga menunjukkan perbedaan yang sangat jauh seperti apa yang diklaim oleh (Bangsa Batak ??????), tes DNA kerangka manusia purba yang berusia lk. 7400 tahun sama dengan orang Gayo…Lantas muncul lagi pertanyaan, manakah lebih dahulu muncul SIRAJA BATAK atau Gayo ?

    Karo Bukan Batak, Simalungun bukan Batak, Pakphak bukan Batak, Mandailing bukan Batak, Angkola bukan Batak, Toba bukan Batak (“Au Raja Toba” bukan “Au Raja Batak” di stempel smraja). Kalau teman-teman sekalian bukan ahli, mari kita kupas dengan logika yang positif atas klaim BATAK tersebut.

    Coba berpikir cerdas, jangan kehendak BODOH dan TOLOL dikedepankan untuk mewujudkan DOKTRIN SESAT, sehingga menghilangkan fakta sejarah yang sebenarnya.

  366. Ruginya apa kalau karo bukan batak, kami akan terus menyuarakan KBB, sekarang juga Mandailing sudah tidak mau di bilang Batak…

  367. sdri LISA
    menurut sdri. orang meneliti sesuatu berdasarkan ilmiah mendapatkan data dengan cara apa saja ya?, sehingga anda katakan tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan informasi yang didapat dari nini bulang/nenek moyang diturunkan ke anak cucunya?.
    seluruh bahasa, budaya adat istiadat dinusantara yang ada dan masih ada sampai sekarang ini dari mana jika bukan dari nenek moyang diturunkan ke orang tua dan anak cucunya, dan tidak mungkin saya mengajarkan ke anak saya bahasa, budaya adat istiadat batak, jawa, sunda dll sebagai bahasa, adat istiadat suku saya sedangkan saya sendiri suku karo.
    Jadi jangan terlalu sempit mendefinisikan kata ILMIAH. Bukan tidak menghargai karya para antrophologi seperti yang di copy paste tersebut, tapi apakah anda mau berpatokan terhadap satu karya ilmiah saja, yang dimana suatu temuan ilmiah bisa terus dikembangkan lagi bahkan bisa berubah sejalan waktu, belum lagi karya ilmiah2 antara orang yang satu dengan yang lainnya berbeda tetntang satu masalah yg diteliti. Jadi sekali lagi suku apa seseorang dapat dijelaskan/dijawab dari bagaimana bahasa, budaya adat istiadatnya.

    Jika berbicara tentang perbedaan, pasti akan ada perbedaan yang diungkapan disini karena dari judul besarnya “Kenapa (Harus) Karo Bukan Batak ?”namun jangan beranggapan ungkapan perbedaan yang di utarakan sesorang dinilai dengan negative, karena untuk menjawab pertanyaan dari judul besar blog ini mau tidak mau harus ada perbedaan yang diungkapan, toh perbedaan tersebut bukan untuk mencari permusuhan.

    Jika diperdebatkan raja suku si A siapa si B siapa dan sampai si Z , blm lagi raja rajanya suku si A-Z tersebut siapa sampai berakhir di saya, anda atau adam dan hawa? sampai mencari keliling seluruh universitas dan perpustakaan di seluruh Indonesia tidak akan dapat titik temunya.

    Mohon maaf sebelumnya bagi agama yang non nasrani. disini saya sisipkan sedikit isi kitab suci nasrani: peristiwa ini setelah Air Bah

    Kejadian
    11:1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.

    11:2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

    11:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.

    11:4 Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

    11:5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,

    11:6 dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

    11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”

    11:8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.

    11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.

    11:10 Inilah keturunan Sem. Setelah Sem berumur seratus tahun, ia memperanakkan Arpakhsad, dua tahun setelah air bah itu.

    Mungkin bisa dibaca sebelum ayat2 ini maupun sesudahnya.

    Maksud saya menyisipkan sedikit isi kitab suci tersebut, agar jangan terlalu memaksakan diri mencari jawaban ilmiah tentang “kenapa (Harus) karo bukan batak” karena menurut kitab suci terebut tuhan sendiri yang menjadikan banyak bahasa di muka bumi jadi sebuah suku bangsa itu bisa dibedakan dari bahasanya. Jika kita keturunan siapa saya rasa kita semua sudah mengetahinya.

  368. mejuah-juah
    salam sejahtra….
    au….ahhhhhh gelapppp…….jadi bingung saya.saya orang asli karo…berasal dari karo juga.Batak karo atau kalak karo,batak toba,tapanuli,simalungun atau apalah itu…atau karo kah anda,batak kah anda yang menulis blok diatas tetap nya anda berasal dari sumatra utara,NKRI indonesia raya.setiap senen nya kita menyanyikan lagu indonesia raya.bukan lagu batak atau lagu karo yang di nyanyikan.kalau anda punya jabatan tinggi,beresin saja sumut itu,pendidikan,kesehatan,kebersihan,pariwisata itu yang di bahas harusnya di blok ini,bukan masalah etnis,hadehhhhhhhhh………..

    Bujur….

  369. Saya setuju dengan artikel anda. Karena karo tu tidak sama dengan batak. Soalna karo itu sebenarnya orang melayu. Jadi bukan orang batak.
    Sultan deli asalnya jg puna marga karo.
    Dari sisi etnomusikologi juga kita bsa tinjau musik patam2 yang memakai karo n melayu. Tapi tidak dengan batak.
    Semua harus di luruskan agar tidak terjadi kekeliruan.
    Mejuah-juah

  370. ME-LAYU atau MA-LAI.Dalam bahasa batak Lai adalah ekor atau ekor ayam jago yang menjulur kebawah.Jadi arti malai itu sendiri dalam bahasa batak dauk-dauk.karena mereka meninggalkan adatnya adat batak jadilah dia
    atau seperti yg di katakan sdr.kita SEMANDA TARIGAN.Di atas.saya harap di forum ini tidak ada merga Tarigan yang tidak tau asal-usul bulangnya dan mendukung Mr Juara ginting yang seorang karo maya-maya (maaf.. begitulah kami menyebut orang karo yang tinggal di jahe-jahe/dataran rendah/pesisir) itu.

  371. Karo tak bisa di samakan dengan Batak [TOBA] terkadang Batak sendiri yang selalu menghubung hubungkan ke Karo. Contoh: Marga Bukit katanya kalau di Batak masuk ke Parna, Tapi kenapa marga selain Bukit yang masih satu Grup Karo karo melenceng jauh ke marga lain… Dasar Le eb..!!! Mejuah juah

  372. secara umum kelihatannya yang merasa dirinya suku karo tetapi tidak mengakui dirinya batak karo adalah keturunan bangsa Tamil yang berdiam ditanah karo.
    Namun yang membingungkan, kenapa keturunan tamil di tempat lain termasuk di aceh sana keturunan Tamil tidak bermarga ya
    ?
    Kenapa hanya di tanah karo mereka itu ada membuat marganya.Ini pengaruh dari mana.Mohon maaf jangan berhianat dengan apa yang telah di wariskan nenek moyang mu.

  373. MAZMUR SINUKABAN@
    Kenapa semua menurut pendapatmu salah Lembaga Antropologi Univ.USU pun kau bilang salah.Dan nenek bulangmu yang lebih benar.Coba kau baca lagi semua comnt.mu dari ats sampai kebawah dari situ semua orang pasti meragukan ke batakan anmu atau ke karoanmu.karena orang karo adalah orang yang bersahaja yang menerima perkembangan peradapan, bukanlah orang yang ngotot dan keras kepala dan terbelakang seperti kamu itu.

  374. @karo
    terima kasih sudah membaca semua comment saya dari atas sampe bawah, tapi ternyata anda memang manusia menyedihkan sekali seakan anda adalah tuhan bisa ngejust “SEMUA ORANG meragukan kebatakanmu atau kekaroanmu”. tapi anda sendiri ditanya keaslian karomu dari mana masih saja bungkam, malah membuat pernyataan baru terhadap orang lain yang lebih parahnyanya lagi memutar balikkan kata. saran saya anda masuk play group dulu klo ga konsul ke sp Psikiatri deh biar bisa sinkron hati dan otakmu, yang lebih penting lagi bisa bertutur kata lebih sopan (maaf dari awal debat kita anda yang memuali tidak sopan). Anjing menggonggong Kafilah berlalu karo ya karo, batak ya batak. teruskanlah mencari perbedaan dan persamaannya dan bukti2nya tapi hati2 jangan sampai sakit jiwa klo ga nemu juga jawaban yang anda inginkan. mohon maaf comment terakhir saya di blog ini buat anda YANG WARAS NGALAH.

  375. @MAZMUR SINUKABAN.
    Kalau anda betul orang karo suku karo,coba anda jawab comentar Lisa tertanggal 25 juli di atas.Kalau anda tidak bisa menjawabnya berarti anda tidak mengerti sejarah siapa karo yang sebenarnya.Kenapa karo jadi gado-gado dan akhirnya suku karo kebingungan sendiri mencari indititas jati dirinya .Termasuk Juara Ginting dia sudah Master tetapi dia tidak tau dia suku apa yang sebenarnya.
    Kenapa saya katakan gado-gado,baca komentar saya yang tertanggal 18 juni di atas bangsa tamil datang ke tanah karo membaur dengan penduduk asli setempat.Suku apakah penduduk asli setempat ini ?
    Sementara yang kebanyakan marga2 karo sekarang kok semua berbau bahasa India atau India Tamil ?Kok bisa India atau Tamil di tanah Karo mempunyai marga di tanah Karo sementara di tempat lain mereka tidak memiliki marga.Titik tolong ini kau bahas dulu dengan keluarga nenek bulang kamu.Hasil kesimpulan itu baru kau buat comentar.Agar kamu jangan strees dan kebingungan sendiri.
    Seperti comentar mu ke pada Lisa 15 juli di atas.
    Karena merasa nenek bulangmu kau bawa2 juga tidak mampu kemudian kau coba lagi bawa2 Ayat-ayat alkitab.

  376. aaahhh, buat kawan kawan pecinta debat kusir. udalah, kalau anda nasrani nikmati aja BPK nya. kalau muslim nikmati aja buah dan sayur berwarnanya. tau beres do i sude, alai ula lupa bayar donk.

  377. Inilah suku yang tidak jelas identitasnya karena sepele terhadap kebudayaan.Sebenarnya darimana asal usul Karo ini?Apakah dari India?Atau dari Melayu?Karena India dan Melayu tidak mengenal budaya Ulos, Dalihan Natolu(raket sitellu) dan sistem marga patrilineal.Apakah budaya itu cuma ditiru tiru dari orang Batak?

  378. Gultom Kedhanta@.
    Hahaha…….Apa perpanjangan dari BPK lae,MAZMUR SINUKABAN.menanyainya dengan Mr.Juara Ginting.Yan nyuruh berkomentar di blog.ini siapa.Yang nyuruh mengakhiri siapa..Emangnya gue pikirin .

  379. Karo itu asalnya bermacam macam.Ada yang dari Tamil, aceh, dan daerah lain, kemudian menjadi suatu komunitas yang tinggal di dataran tinggi subur di daerah pegunungan Sibayak/sinabung .Awalnya belum ada suku karo, tapi seiring waktu komunitas ini berbaur dan mempunyai bahasa sendiri, dan juga telah berbaur dengan suku toba serta mengadopsi beberapa kebudayaan toba yang merupakan suku asli daerah danau toba.Pada saat Sisingamangaraja 1 berkuasa digabungkanlah komunitas komunitas yang ada di sekitar danau toba tersebut, dan dibuatlah namanya Bangso Batak.Bangsa ini memiliki hukum seperti dalihan natolu(raket sitellu), sistem marga patrilineal,penggunaan ulos dsb.Ritual kanibalisme juga berlaku tapi untuk kasus yang sangat sempit, yaitu pemerkosaan,zinah dan pengkhianatan.Kemudian dibagilah bangsa Batak tersebut berdasarkan bahasa dan daerah mereka masing masing, yaitu Toba,Simalungun, Karo, Pakpak dan Mandailing.Toba sendiri lebih dekat ke Mandailing, sebaliknya Karo lebih cenderung ke Pakpak dari segi bahasa.Tapi dari segi perilaku, orang karo dan pakpak sangat berbeda, suku karo sangat rajin bertani dan punya hobby membeli tanah, sebaliknya Pakpak terkenal malas bertani,dan lebih suka menjual tanahnya.Bangso Batak itu sendiri sudah runtuh saat wafatnya Sisingamangaraja ke 12 di Dairi, tetapi kesatuan batak masih melekat pada suku suku bekas bangso batak tersebut.
    Sulit untuk membuktikan darimana asal usul suku Karo ini sebenarnya, karena sejak ratusan tahun sudah terjadi perkawinan silang dengan suku lain, baik itu melayu, Toba,simalungun,orang kelinng, aceh dll.Ciri ciri fisik suku Karo itu sulit dibedakan, ada yang mirip India, Toba,Melayu dan bahkan ada juga yang cipit seperti cina.

  380. 28 oktober 1928 Jong bataks bond itu wakil dari semua sub suku di sumatera utara untuk mengikrarkan sumpah pemuda. Saya yakin tak satupun komentator disini yang sudah eksis di tahun tersebut. Memangnya anda anda ini siapa? Kontribusi apa yang sudah kalian berikan kepada negara?? Kontribusi apa yang sudah kalian berikan kepada budaya Karo atau pakpak ataupun Batak?Coba kalian tunjukkan apa kelebihan budaya karo atau pakpak itu dibanding batak toba? Yang ada juga setiap orang toba mengadakan acara Budaya batak pasti menyelipkan atau mempromosikan lagu lagu karo dan pakpak yang diracik sedemikian rupa agar lebih menarik. Dan sejarahnya tidak pernah orang toba jadi kuli kasar kepada orang pakpak.Kalau bekerja sama orang karo iya. Orang Pakpak itu dulu terkenal buta huruf dan malas bertani dan lebih senang mengambil hasil hutan seperti kemenyan. Mereka sendiri yang menjual tanahnya dan lebih suka tinggal di hutan. Jangan membalikkan fakta dengan mengatakan Batak itu menghapus budaya kalian. Saya sebagai orang batak toba yang tinggal di Dairi sudah mengenal sifat sifat kalian baik karo maupun Pakpak : Kalian itu gengsinya tinggi sehingga takut dibilang ketinggalan zaman jadi kalian sendiri yang melupakan adat adat itu. Satu contoh nyata : Delleng Simpon(puncak bukit tertinggi di Kab.Pakpak Bharat) . Kami regu penjelajah Alam Katulistiwa(mayoritas batak toba) yang berusaha mempromosikan foto foto eksklusif delleng simpon melalui jejaring sosial.Begitu juga danau sicike cike. Kalian yang pakpak yang komentar disini dimana?Apakah ada kami yang orang toba bilang delleng simpon itu punya orang toba?

  381. Batak Pro KBB
    Terima kasih buat pemilik blog ini. Baru saja saya membaca isi dari blog ini dan membaca semua komentar dari pembaca tapi tak ada satu orang batakpun yang mendukung “ Karo bukan Batak”
    Saya batak toba yang mendukung KKB, karena saya benci melihat sikap orang karo yang tidak mengakui dia orang batak. Saya sengaja mengumpulkan nama-nama yang orang karo yang pro KKB di blog ini untuk menghitung jumlah orang karo yang pro KKB yakni:
    Juara Ginting, Sinulingga, Mintas Svarnadwipa, tengku syafiq sipayung,Timotius A. Karo-Karo Purba,Timotius A. Purba ,BAROES JUNED,fadi tarigan ,agungginting,Bang Tarigan,Robinson G Munthe,Hendra Wijaya ,Sembiring depari,Manu Gintings ,Monangsembiring,Roy Surbakti,L Ginting ,,Joni Hendra Tarigan,Kambe Ginting,Andreas Sinuraya,bukhori ginting,Alfons Sembiring Depari,R. SEBAYANG,Robinson G Munthe,ITHINKX MOENTE,,Ronald Tarigan,Putra Tarigan,manik ,Demokrat roletar,Karo Medan,Asmat Ginting,MAZMUR SINUKABAN,Baron Pandi Nde Nangin,Green Land paradise,imon ,Sastra Boekit, ada sekitar 37 orang atau kalau salah hitung atau ada yang terlewat saya tambahkan jumlahnya 50 0rang pendukung KBB. Sewaktu saya kuliah dulu di padang bulan teman saya orang karo yang satu jurusan ilmu computer seingat saya ada 10 orang atau bahkan lebih. Kalau di gabungkan dengan junior saya jumlahnya kira kira 30 orang. 14 tahun sudah berlalu, orang karo lulusan ilmu computer dari tempat saya kuliah sudah ada 300 orang. Saya ambil jurusan computer artinya sudah pasti pernah buka internet. Kalau misalnya 50 % dari kawan saya ini tidak pernah membaca blog ini berarti masih ada 150 orang yang sudah membaca. Artinya untuk memenangkan KKB ini orang karo yang anti batak sudah seharusnya ada 76 orang, Padahal jumlah yang anti hanya 50 orang yang berarti KBB tidak akan berjalan. Jadi sebagai orang batak yang pro KKB saya juga harus mencari dukungan dari orang batak bukan dari karo kenapa? Karena saya berpedoman pada salah seorang karo yang mendukung KKB bahwa Orang karo lebih mengerti karonya. Bagi teman dari batak yang biarkanlah karo melepaskan diri dari batak. Apa untungnya Karo adalah batak bagi anda? Bukankah batak tampa karo sudah maju?
    Saya batak toba yang mendukung KKB artinya saya mau dari silsilah Batak “ Keluarkan karo dari Batak!!!!!!” Biar mereka jadi India, biarkan mereka jadi melayu. Rugikah kalian batak jika karo bukan batak? Pasti tidakkan?…….. Yang rugi adalah saya orang batak yang pro KKB. Inilah yang benar saudaraku yang mengaku karo. Bukan orang yang mempertahankan kamu batak yang untung tapi yang untung adalah saya yang menginginkan kamu dikeluarkan dari batak dan yang rugi hitung jumlah karo yang masuk batak di seluruh Indonesia bahkan dunia.
    Halo pak juara ginting sudah sampai dimana kampenya kita “KBB” , sudah berapa banyak pendukung kita? Dari salah seorang komentator mengatakan karo ada 1 juta orang, menurut saya mungkin sudah lebih dari 1 juta tapi ini saja acuannya kita buat yang berarti 500001 orang untuk memenangkan “KBB”
    Halo rekan anti batak di blog ini apakah anda kampanye di dunia nyata? Ingat 500001 orang angka yang cukup besar. Saya ada saran untuk pak juara dan rekan rekan karo yang bukan batak bentuklah dulu organisasi “Karo Bukan Batak” . Dalam peresmiannya undang semua ketua merga silima dari setiap propinsi di Indonesia atau kalau ada ketua merga silima seluruh dunia. Diskusikan dulu sama mereka kalau sudah berhasil dengan ide kita maka kita adakan pesta satu bulan penuh.
    Halo kawan batak di seluruh dunia nantikan kapan juara ginting jadi juara atau hanya namanya saja yang juara ……………………………………..
    Himbauan saya pada kalian jika juara ginting dan orang karo di blog ini berhasil detik itu juga kamu harus mengeluarkan orang karo yang masuk perkumpulan orang batak. Biarlah orang karo yang dikeluarkan dari perkumpulan orang batak yang menghakimi juara ginting dan rekan-rekannya.
    Jadi kalau juara ginting belum mendirikan KBB atau menetapkan KBB 6 bulan kedepan berarti KBB tidak ada yang ada Karo adalah Batak dan saya juga akan mengakui batak karo. Semoga bermamfaat

  382. Kalau ditotal, lebih dari 3 jam saya baca komentar diatas. Terus terang melelahkan, tapi ada juga yang menarik.
    “Root anchestor seeking”, kira-kira gitulah, itu sah-sah saja. Ketika kondisi sosial ekonomi semakin meningkat, identitas eksklusif itu menjadi penting. Orang dari luar melihat bahwa puak-puak yang tinggal di kawasan Danau Toba mempunyai banyak persamaan, masuk akal kalau mereka disebut “dari satu asal”. Dan memang banyak persamaan. Pasti ada perbedaan, anak kembar dari satu ibu dan satu ayah saja ada perbedaan. Kalau ada kelompok yang menyatakan diri “asing” atau berbeda, ya biarkan sajalah. Gitu aja kok repot……………………………..

  383. Saya dari suku Gayo di Aceh Tengah. Ayah bermarga Meluwem dari Kebayaken dan ibu beru Cibro (Dewasa ini tinggal 10% saja orang Gayo yang masih menggunakan marga). Kebetulan sekitar 30 meter dari kuburan ayah saya ditemukan fosil yg diperkirakan berusia 7.400 tahun. Kuburan tersebut berlokasi di desa Jongok Meluwem Kecamatan Kebayaken kabupaten Aceh Tengah. Beberapa waktu yg lalu berita ini sempat menghiasi berbagai media, baik cetak maupun on-line.

    Setelah diteliti dan dilakukan test DNA ternyata itu adalah nenek moyang suku Gayo dan suku Karo. Keluarga besar kami jg sudah di-test DNA dan haslinya klop.

    Untuk menentukan apakah Karo=Batak tinggal test saja DNA orang Batak (Teba) dengan DNA yg ada pada fosil tersebut. Yang pasti berdasarkan hasil test DNA tsb diketahui nenek moyang suku Gayo dan juga suku Karo sudah ada sejak 7.400 tahun yg lalu. Mungkin temuan fosil ini dapat menjelaskan mengapa banyak terdapat kemirifan antara bahasa Gayo dengan bahasa Karo.

    Sebagai tambahan, marga-marga (belah) di Tanoh Gayo (Aceh Tengah dan Bener Meriah, minus Gayo Lues dan Tanoh Alas) mirif dengan merga-merga yang terdapat di Taneh Karo. Marga yang paling umum pada orang Gayo adalah Melala, Cibro, Munthe, Bukit dan Lingga. Kebetulan sekali istri saya juga beru Lingga dari kecamatan Linge.

    Meski belum di-test DNA, saya tidak yakin kalau DNA fosil tsb sama dengan DNA orang Batak (Teba), mengingat bahasa Gayo sangat berbeda dengan bahasa Teba.

    Terima kasih, bujur.
    Wassalam.

  384. Umumnya (umumnya lho) orang Batak yg tidak mengakui (malu mengakui) dirinya Batak itu yg non kristen (no offense, tanya diri sendiri), itu dikarenakan Batak itu sudah sedemikian melekat dengan Kristen, jadi untuk Batak yg non kristen (apalagi yang sudah 3 keturunan) sudah merasa tidak nyaman lagi dengan ke”batak”annya, banyak saya lihat Batak Toba asli yg non kristen memakai marga saja malu. Tetapi ada juga Batak yg non kristen masih bangga dengan ke”batak”annya (teman saya kuliah, dan saya salut dengannya karena dia boru batak) dan meski dia non kristen dia tetap menjunjung tinggi adat batak untuk tidak menikah dengan semarganya (meskipun dalam kepercayaannya diperbolehkan karena sudah jauh garis keturunannya meski semarga). Jadi intinya, kalau orang-orang dulu bangga mengaku menjadi Batak, mengapa orang-orang sekarang malu mengaku Batak? Batak itu umurnya lebih tua dari agama-agama yg masuk (catat saat agama itu masuk) ke Tanah Batak, jadi jangan sampai agama malah menghancurkan jati diri dan budaya kita.

  385. @Nawar74
    Di Univ. Udayana Bali sudah dilakukan test DNA untuk 3 suku Batak yaitu Toba-Simalungun-Karo. Hasilnya mengatakan bahwa Toba lebih tua, kemudian Simalungun, dan Karo lebih muda dari tiga suku ini.
    Coba cari tau hasil ini, mungkin akan membantu menambah wawasan. Selamat googling….

  386. @nawar74
    7400 Tahun???? ngeri kali orang gayo ini berarti ya, ternyata gayo lebih tua dari peradaban mesir kuno (3150 SM) yang notabene adalah termasuk peradaban tertua didunia. hahahaaa
    gini aja bung,, just simple,saya bukannya tidak percaya test DNA, yang jadi masalah adalah siapakah orang karo yg DNA nya sudah di test itu? merga apa? apakah dia sudah mewakili semua orang karo? apakah semua yang mengaku karo DNA-nya sudah di test? hehehee… tentu akan sangat repot bukan??

    saya pikir anda-anda ini sudah terlalu naif, KALIAN JANGAN MEMBAWA2 KARO LAH DALAM HAL INI, MULAILAH DARI DIRI KALIAN SENDIRI, KALAU KALIAN MERASA BUKAN BATAK CUKUP BILANG SAJA MERGA KALIAN !!! MISALNYA BUKIT BUKAN BATAK, KETAREN BUKAN BATAK, PURBA BUKAN BATAK, PANDIA BUKAN BATAK, DEPARI BUKAN BATAK, BARUS BUKAN BATAK,, (INI CUMA CONTOH..) ATAU APALAH ITU… SAYA YAKIN DALAM HAL INIPUN ANDA2 INI PASTI MENEMUKAN KESULITAN, JADI JANGAN TERLALU PEDE DULU BAWA2 NAMA SUKU KARO ITU, KARENA SUKU KARO BUKAN CUMA MERGA ANDA SENDIRI, OKE…!!!!
    DALAM HAL INI SAYA TEGASKAN, TARIGAN ADALAH BAGIAN DARI RUMPUN BATAK, KALAU ADA DIATAS TARIGAN YANG MENGAKU BUKAN BATAK, SEBENARNYA DIA BUKAN ORANG KARO. MUNGKIN BULANGNYA DULU ADALAH PENDATANG YANG KEMUDIAN MENGAKU TARIGAN. KARENA TARIGAN YANG SEBENARNYA ADALAH BAGIAN DARI BATAK KARO. TITIK..
    0877-3096-3000 (ENDA NOMOR HENPONKU ADI LIT BUTUH INFORMASI)

  387. Kalau mengaku bukan Batak si okke2 saja. …… Eksistensi Batak telah ada sebelum Eksistensi negara INDONESIA. …….. nah Batak bukan didominasi oleh Toba.!!! ….kalau menghasut yang lain agar jadi bukan Batak.. nah itu namanya provokator, alias Bangsat!!, … sejenis Imperialis kecil-kecilan, sok jago di kandang sendiri ……. apakah kalian memang begitu????

  388. Kebetulan minggu kemaren tema ibadah di GKI Gading Serpong adalah : Batak (mereka tidak menyebut diri dengan Batak Toba ya ) jadi mulai dari receptionist, dekorasi dan aksesori ruang, alat musik, seragam koor, nyanyian, salam (horas) termasuk pendetanya (Ev Ria Pasaribu) semuanya Batak. Tidak ada satupun hal-hal yang menyangkut Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing dsb. Nah, itulah Batak sebagaimana dikenal umum, dan sebagaimana orang2 Batak mengenalkan dan mengidentifikasikan dirinya ke masyarakat luas. Menurut saya pribadi, hal itu sudah benar dan tidak ada masalah sama sekali. Saya sungguh menikmati suasana ibadah itu. Akan menjadi menganggu seandainya disana-sini ikut-ikutan ditampilkan pernak-pernik Karo dll. Saya sungguh berharap teruslah lakukan hal itu secara konsisten kapan dan dimanapun kalau temanya memang Batak. Janganlah dengan pertimbangan ini-itu ikut-ikutan ditampilkan nuansa lain selain Batak.(misalnya Karo dll.). Tidak mengurangi persahabatan kok. Kalau temanya Sumut bolehlah tampil bersama-sama dengan Melayu, Karo, Pakpak dll.

  389. Saya setuju klo karo memang bukan batak. Tapi permasalahannya di kalangan orang karo itu sendiri,karena masih ada sebagian menyebut dirinya batak karo,terutama di daerah perantauan. Klo saya kenalan dengan orang karo,pasti mereka menanyakan marga saya versi karonya.

  390. @SS : betul memang sebagian Karo lebih suka disebut Batak Karo (sekitar 23% menurut satu jajak pendapat), apalagi ada GBKP (institusi keagamaan dgn jemaat sekitar 300.000 dari sekitar 1 jt populasi Karo global) yang selalu dijadikan alasan klaim bahwa Karo itu termasuk Batak. Bahkan disinyalir bbrpa sub-merga (dari Merga Silima) berasal dari etnis tetangga yang mulai ratusan tahun lalu bermigrasi ke Taneh Karo dan mengikatkan diri dan patuh (bunch and submissive) pada bbrpa sub-merga ( dari total sktr 75 sub-merga dlm Merga Silima). Begitupun dari etnis dan bangsa lain mengikatkan diri dan diterima menjadi orang Karo secara adat . “Mengikatkan diri dan diterima” dalam hal ini artinya “sudah ada merga terdahulu yang eksis sebagai penerima” di Taneh Karo, shg mereka “yang diterima dan mengikatkan diri” ini tidak berhak lagi (atau tidak pada tempatnya) membawa-bawa “label etnis” mereka terdahulu. Karena itu tidak tertutup kemungkinan bahwa DNA bbrp sub-merga di Taneh Karo ada kesamaan dengan DNA etnis-etnis tertentu, tapi secara kesukuan (etnisitas) mereka adalah berbeda. Inilah antara lain tujuan pencerahan KBB utk menjelaskannya ke dalam (org Karo) dan ke luar. Mejuah-juah.

  391. saya jadi teringat cerita orang tua saya tentang sifat orang karo yang suka bermanis di depan namun menikam dari belakang berbalik dengan sifat orang Batak yg to the point tanpa basa-basi namun begitulah sifat aslinya tak mau mendendam perasaan..seperti cerita pemberontakan Kol.M Simbolon PRRI dulu orang tua saya adalah Veteran TNI yg tau sedikit banyak asal usul Kol.M Simbolon yg memberontak terhadap NKRI karena ketidak sejahtraan masyarakat sumatra antara perbedaan pembangunan insfratruktur di pulo Jawa dan sumatra misal bangunan sekolah yang tidak memadai gedung rumah sakit yang tidak memadai begitu juga pembangunan Jalan-jalan yg sangat memprihatinkan..sedangkan pada saat itu Kol.M.Simbolon sebagai Panglima tertinggi Bukit Barisan merasa terketuk hatinya dan pada saat itu wakil panglima adalah Jend.Jamin Ginting yg dianggap kol M.Simbolon sebagai Adiknya karena latar belakang marga Ginting adalah semarga dengan Simbolon sehingga dalam bahasa batak makkuling mudar (Kol M Simbolon merasa sedarah dengan Jend.Jamin Ginting karena sama sama simbolon walaupun dari sub suku batak yg berbeda) singkat cerita Kol M.Simbolon berang dengan kesenjangan pembangunan antara pulau Jawa dan Sumatra pada hal Devisa Negara sangat banyak dari sumatra seperti Perkebunan dan Pangkalan Minyak di pangkalan susu,maka KOL M SIMBOLON Pada 22 Desember 1956 KOl M Simbolon mengatakan perang sehingga para perwira yang mendukung Kol M simbolon dan juga Djamin ginting membuat cap darah dari jempol ke kain putih bukti kebersamaan dan berjuang demi Ketidak adilan,maka KOL M Simbolon berpesan pada Wakilnya Djamin Ginting biarlah saya yg duluan berangkat ke sibolga dengan membawa satu Batalion Pasukan,,dan urus segala sesuatu dan 2,3 hari kau bawa 1 batalion ke tanah Karo,,seraya memeluk saudaranya djamin Ginting namun kenyataan nya berbalik Djamin Ginting tergiur dengan jabatan Panglima T1 Bukit Barisan sehingga menghianati Kol M SIMBOLON berjuang sendiri,,.itulah Aib yg memang tidak ingin saya ungkapkan karena merasa persaudaraan antara Karo dan Toba ,,namun Alhamdulilah perjuangan KOL,M,SIMBOLON sudah dinikmati masyarakat indonesia khususnya SUMATERA dan paling khusus sumatera utara..KOL M SIMBOLON meletakkan Jabatan Panglima demi solidaritas (sifat Batak ASLI)

  392. .Tau banyak dulu baru banyak omong, jangan banyak omong kalau nggak tau banyak.

    .disini bukan tempat yg tepat untuk berkomentar tentang “