Agama dan Budaya

Jones Gultom*

MASIHKAH agama dengan nilai-nilai normatifnya itu, menjadi bagian vital di tengah hidup yang melaju cepat ini? Masihkah orang-orang akan berdoa, bila teknologi sudah mampu menjawab persoalan-persoalan dalam hidupnya? Masihkah puja-puji terus dilantunkan bila ketakjuban tak lagi ada di hati masing-masing orang? Pertanyaan ini pernah diutarakan Goenawan Mohammad dalam salah satu catatan pinggirnya di Majalah Tempo. Saya menduga, agama-agama formal yang dianut milyaran orang di dunia ini hanya menjadi identitas sebagai pra syarat statusnya sebagai warga negara. Agama semacam ini hanyalah sebuah lembaga hukum dan perangkat bertatanegara yang gampang bosan.

Sebaliknya orang-orang akan kembali ke agama karena masa lalunya. Orang-orang berharap menemukannya itu dalam sebuah agama.

Tiba-tiba kerinduan untuk memaknai agama itu, muncul ketika saya menyaksikan upacara Sipaha Lima di Hutatinggi, Laguboti beberapa waktu lalu. Tradisi ungkapan syukur masyarakat Batak Toba kuno kepada Sang Penguasa, yang oleh Parmalim dijadikan sebagai bagian dari ritus keagamaan mereka, memunculkan kembali kearifan lokal lewat definisi sebuah agama.

Barangkali benar, dalam hati setiap orang selalu ada semacam homesick yang membuat dirinya merasa rindu dengan sesuatu. Dalam hal ini, sebagai Batak, saya merasa kerinduan itu terwakilkan, baik secara spiritual maupun akar budaya, yang bagi saya dan juga mungkin sebagian besar masyarakat di negeri ini, mustahil untuk dipisahkan. Dan saya kira kombinasi itu berhasil tumbuh di banyak negara yang mengakomodir keduanya.

Lihatlah Konghucu, Buddha, Tao, Sinto dan bahkan Yahudi, Islam di Arab, Kristen di Yerusalem. Nilai-nilai budaya, yang bahasa Kristennya digenapkan oleh agama, begitu mengakar dan mengena di setiap kehidupannya. Bukan persoalan darimana dan bagaimana agama itu lahir, tetapi seperti apa ajaran yang dibawa.

Sebagai makhluk yang punya masa lalu, saya kira manusia akan selalu melihat ke belakang dan merindukan apa yang pernah ditinggalkannya. Pada saat-saat tertentu, kenangan itu bukan lagi sebatas kebutuhan psikologis, namun menjadi “sesuatu” yang kembali direnungkan dan dimaknai sebagai rekonsiliasi, seperti yang selalu dilakukan agama-agama.

Kesadaran itu pula yang membuat banyak agama kemudian menerapkan model inkulturasi. Bukan hanya performance dan tata ibadat, tapi juga spiritnya. Rupanya belakangan, tokoh-tokoh agama mahfum bahwa keduanya harus diakomodir. Keduanya tak bisa dipisah-pisahkan. Bukankah kekentalan umat Islam di Palestina dan Yahudi di Israel lebih karena persoalan akar budaya? Dan itu tak mungkin terjadi di negara-negara pengimpor agama, seperti Indonesia. Terlepas dari situasi kedua negara, saya kira, agama sebagai sesuatu yang universal, mestinya tumbuh dan berkembang dari unikum-unikum yang ada di masyarakatnya, seperti apa yang terlihat pada masyarakat Parmalim itu. Mungkin ini sebabnya, belakangan muncul gerakan-gerakan yang cenderung membela Parmalim itu, di nusantara tercinta ini.

Hotli Photo_09a Hotli Photo_02a

 

* ini kutitip lagi tulisanku di tanobatak, tulisan ini edisi nongkrongku di medanbisnis 1 Agustus 2010

 

 

Kara tulis Jones lainnya :

PUISI PASKAH

EUFORIA NATAL DI SEBUAH KAMPUNG

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

Iklan

5 thoughts on “Agama dan Budaya

  1. ND HUTABARAT berkata:

    NDH

    OPINI AGAḾA INSENTIPAN JONES GULTOM

    1. Jones Gultom terutama pada Masyarakat Batak NKRI mempertanyakan apa mengapa bagaimanamesti Agama itu. Ia menyebut neurisi Gunawan Mohammad begitupula Pemahaman Parmalim Batak di Acara Hutatinggi, sebagai bahan jadi mengajukan pada dirinya unutk juga mempertanyakan kepada Diskusan. GP Generasipenerus cq Batak NKRI.

    2. Sejak saya melengkapi Pemaham dari Studi KBP Kulturbudayaperadaban Dunia I II III mulai th 1970-an, saya lakukan dari atau di Dunia I Eropa dan Interkontinental, juga pertanyaan saya bahkan sejak Umur 4 th ttg apa mengapa bagaimanamesti segala sesuatu itu, bertalian pertanyaan saya umur 4 th itu kepada seorang dewasa di keluarga, saya sistimatik darimana alam tanaman binatang manusia itu, kalau jawabnya dari Tuhan pertanyaan saya terahir darimana Tuhan itu, tidak dijawab lagi tapi memohon saya jangan lagi bertanyak agar tidak saset nanti, Dan saya tenang sendiri diam berjanji dalam hati nanti saya akan masuk sekolah dan studilanjut untuk menjawab sendiri. Sudah saya lakukan sampai di Interkontinental dan jawab sendiri.

    3. Saya simpul : Orang dewasa seperti di Gereja Batak NKRI masih bergumul bisa mencapai Pemahaman Cerahan TBB Tepat Baik Benar, Agama itu apa mengapa bagaimanamesti, sedang yang dicerah selama ini sangat terikat kepada hapalan dan percaya pada konvensi tradisional yang tentu terus dan makin dipertanyakan di dalam Gereja sendiri serta sudah terjadi berbagai renovasinya.

    4. Di Gereja yang juga tradisi konvensi tentu tertinggi, seperi Model Tuhan Adam-Hawa 4004 sM unutk semua Ciptaan Alamsemesta inklusip Kelompok Etnik Bangsa, bahwa akan jelas pada Pencerah yang memiliki kesanggupan Pikir TBB Tepat Baik Benar Tinggi, bisa menetapkan Kesimpulan yang damai aman sentosa pamrih pada Supranaturalkultural, dalam ia menetapkan Model Konsep Visi Missi Sendiri dan Demokrasi BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama melakukan kegiatan mencapai tujuan yang tentu dalam Batas Pembatasan dalam Hukum Causalitas Seba Akibat yg Resultasinya diterima nrimo pamrih aman damai sebagai kemestian terahir.

    5. Sigkat dulu, saya telah mengajukan sederhana menguraikan apa Agama itu memakai Metode ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral. Dengan Komunikasi Internet juga sudah saya diskusikan dengan (Prof DR) Sorimangaraja Sitanggang (Agama Mulajadinabolon) juga Masyarakat Raelia Paris 1973 (Atheis), dan menguatakan Merode yang saya pakai itu.

    6. Namunun untuk Diskusi ini sudi GP Generasipenerus Batak NKRI dll reorientasi konsiderasi konfirmasi konvergensi jabarkan cerahan agama itu akademik universitaria.

    7, NDH Turut Pencerah GP Generasipenerus. K 7.5. di LN.

  2. Togu Situmorang berkata:

    Kaum Parmalim perlu men-share kekayaan dari hikmat/kearifan Batak kuno kepada kalangan yg lebih luas, kalau perlu kepada bangsa2 asing dalam format yg kontemporer. Jika perlu, persiapkan dan kirim utusan kpd Dewan Agama-agama Dunia. Banyak orang bule yg berminat mempelajari agama dan hikmat Asia dan mereka mau mengeluarkan uang utk datang belajar langsung dr sumbernya. Tapi harus ada usaha yg cukup utk memperkenalkannya. Misalnya, menulis buku-buku ttg Parmalim dlm bhs. Inggris. Di Amerika dan Eropa, banyak yg tertarik mempelajari dan mensupport agama dan kebudayaan Tibet asli krn Tibet sudah mengirim banyak Lama (biksu Tibet) ke USA & Eropa utk memperkenalkannya kpd org2 Barat.

  3. TB Hutabarat berkata:

    Kapan nih jadi Propinsi tapanuli ? selama belum jadi provinsi TAPANULI tidak mungkin bisa maju tapanuli.Utk itu mari kita dukung biar jadi OK. Horas…Horas..Horas..

  4. Daniel Sombu.L berkata:

    Dear all,
    Mari kita dukung Taput menjadi propinsi ………..
    Untuk teman2 yang merantau dinegeri orang dan temen 2 yang sudah lebih dahulu maju pikirkan lah sedikit daerah asalmu dan kembangkan…
    Saya sangat ingin memajukan daerah saya lahir khususnya Siborongborong, walaupun saya sudah hampir 20 thn meninggalkannya.
    mudah-mudahan 10 thn kedepan dan usia sudah 40 thn saya akan mengembangkan usaha disana untuk kemakmuran masyarakat disana …..
    Jangan tunggu orang lain yang berbuat tapi do something what do you want to do and possitif dan jangan lupa diatas semuanya itu ingatlah Dia yang menciptakan kamu.
    God Bles You and Horas…….

    Best Regards,

    Daniel.S.L
    sombu@ani.co.id
    sombu_lbn@yahoo.com
    021-71325135
    Aviation Group and Melia Nature Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s