BATAK ?

Ahmad Arief Tarigan

Sebelum memulai tulisan ini, ada baiknya, penulis menjelaskan ‘posisi’ terlebih dahulu agar tidak terjebak dalam perdebatan emosional primordial serta tidak bias dengan subjektifitas manapun. Sekaligus juga menjadi penekanan bahwa tulisan ini mencoba untuk menempatkan perdebatan pada ranah yang lebih kritis dalam memandang permasalahan. Sebagaimana layaknya berdiskusi, kita semestinya bersikap terbuka (menerima perbedaan pendapat dan kritik), berpandangan luas, bebas dari praduga dan meyakini bahwa prasangka (kebencian pribadi maupun golongan) adalah ‘pembunuhan kejam’ sehingga tak pantas untuk dilakoni.

Dalam menanggapi wacana ‘Karo Bukan Batak’ yang dilontarkan oleh salah seorang Dosen Antropologi USU, Juara R. Ginting, pada suatu kesempatan diskusi di Rumah Buku, Padang Bulan – dimana penulis juga turut serta dalam diskusi tersebut – penulis menempatkan diri sebagai ‘manusia skeptis’, dalam arti, tidak meng-iya-kan ataupun me-tidak-kan tetapi cenderung lebih bersikap kritis dan meragui sebelum ada dukungan bukti-bukti yang kuat. Sikap yang sama juga penulis perlakukan pada tulisan ‘Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?’. Maka dalam kesempatan ini, penulis menyatakan diri tidak pada titik ‘Karo Bukan Batak’ maupun ‘Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?’.
Batak ?

Bukan sesuatu yang ‘haram’ bila ada yang ingin memperdebatkan masalah ‘Batak’, apalagi berada dalam konteks perdebatan yang ilmiah dan konstruktif. Perdebatan yang sering terjadi justru menyiratkan bahwa ada hal yang belum tuntas dari ‘Batak’ itu sendiri. Maka selayaknya pulalah kita tidak menempatkan si “Karo Bukan Batak” maupun si “Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?” menjadi si ‘pesakitan’. Tetapi, bagaimana pendapat-pendapat mereka dapat disikapi secara objektif dan tidak reaksioner.

Istilah ‘Batak’ sampai dengan sekarang lebih sering berada dalam wacana primordial belaka ketimbang menjadi sebuah ‘tanda tanya’ yang dijadikan pintu masuk untuk penyelidikan ilmu pengetahuan. Sehingga harus secara jujur diakui, istilah ‘Batak’ memiliki banyak versi dan membuat semakin tidak jelas asal-usulnya. Parahnya lagi, ‘Batak’ juga sering tersandera dalam ruang-ruang politik pragmatis yang tentu saja implikasinya – baik secara positif ataupun negatif – bagi masyarakat luas tidak dapat diabaikan begitu saja.

Juara R. Ginting, dalam diskusi di Rumah Buku beberapa waktu kemarin cenderung lebih mengarahkan istilah ‘Batak’ pada etnis Toba, lalu membuat komparasi (sosial budaya) dengan etnis Karo. Padahal menurut penulis, sebelum sampai pada kesimpulan, idealnya ‘Batak’ harus ‘bebas dari siapapun’, dalam arti, harus dirunut asal-usulnya secara jelas dan seobjektif mungkin. Selain itu, untuk memperkuat pendapatnya, ia memaparkan beberapa data-data yang sifatnya kasuistik. Penulis tidak hendak menyatakan ‘benar-salah’ dalam hal ini, hanya saja, menurut hemat penulis, pembuktian yang diajukan oleh Juara R. Ginting belum pada pencapaian ‘Karo Bukan Batak’. Meskipun begitu, spirit of intelectual yang ditawarkan olehnya mampu memberi kesejukan (minimal bagi penulis) di tengah kekeringan counter-naration yang sedang melanda para intelektual (akademisi) kita.

Menanggapi tulisan Jones Gultom ”Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?”, penulis juga melihat banyak terdapat kelemahan dalam argumentasi yang diberikan. Alangkah bijaksananya bila kita tidak menyatakan ‘klaim’ atas sesuatu hal berdasarkan referensi dan penalaran rasional yang belum representatif. Ada beberapa kritik dari penulis terhadap diskursus yang digulirkan Jones Gultom dalam tulisannya. Pertama, kata ‘Batak’ yang berasal dari kata ‘mamatak’ yang berarti ‘menaiki kuda’ sebagaimana dikutip dari Riwayat Poelaoe Soematra (1903) tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan utama, karena banyak referensi lain justru menjelaskan etimologi yang berbeda. Kedua, interpretasi Jones Gultom terhadap residetie Tapanoeli patut diluruskan karena Residen bentukan Belanda tersebut, secara administratif, tak hanya SilindungHumbahasToba-Samosir. Ketiga, adanya terdapat kata ‘Batak’ dalam bahasa daerah Pakpak, Karo, Simalungun, maupun nama pulau di Philipina tidak secara serta merta menyatakan bahwa etnis-etnis tersebut adalah ‘Batak’. Mesti dipahami bahwa persamaan kata banyak terdapat pada bahasa suku bangsa di Nusantara karena memang termasuk dalam keluarga bahasa Austronesia.

Postkolonialisme Indonesia

Postkolonialisme, berasal dari kata ‘post + kolonial + isme’, berarti paham mengenai teori yang lahir pasca kolonial. Pada praktiknya, postkolonialisme tidak sekedar teori melainkan sebuah kesadaran untuk memerangi (pen. dalam konteks pemikiran) imperialisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya, baik material maupun spiritual, baik yang berasal dari bangsa asing maupun bangsa sendiri (Ratna, 2008:81-82). Sebagai bangsa yang pernah menjadi arena imperium kolonialisme, Indonesia tidak hanya diperas secara materi oleh bangsa lain. Untuk menjalankan roda kolonialisme-nya bangsa penjajah secara sistematis juga melakukan berbagai upaya pembodohan sehingga menyebabkan kerusakan mental dan karakter bangsa hingga kini.

Sekilas patut dipertanyakan kenapa penulis mengaitkan -atau malah membuat rumit- perdebatan ‘Batak’ yang terkesan sederhana dengan postkolonialisme di Indonesia. Hal ini wajar karena di samping kegamangan konsep ‘Batak’ pada ‘masyarakat Batak’ sendiri, sejauh pengetahuan penulis, istilah ‘Batak’ sangat akrab dalam konteks wacana kolonial Belanda, paling tidak, ia sering ditemukan dalam literatur dengan sudut pandang orientalisme ala Barat.

Lalu timbul pertanyaan : apa relevansi postkolonialisme dengan perdebatan ‘Batak’ di sini ? Justru, pada kesempatan inilah postkolonialisme selayaknya dijadikan teori analisis. Wacana “Karo Bukan Batak” maupun “Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?” adalah sebuah implikasi dari masa kolonial dan perspektif orientalisme karena baik istilah maupun acuannya berangkat dari keduanya. Sumber otentik informasi mengenai hal ini juga banyak dikumpulkan pada masa kolonial dan berdiam di ‘negeri seberang’ saat ini. Kondisi ini semakin menguatkan pada pernyataan yang secara kritis dinyatakan Ratna (2008:9), “……….postkolonialisme, postmodernisme, pada umumnya memandang misi (pen.pemberadaban oleh penjajah) tersebut justru memiliki fungsi tersembunyi, sebagai keunggulan ras. Misi-misi tidak berakhir pada saat negara jajahan memperoleh kemerdekaannya. Artinya, meskipun bangsa Barat tidak melakukan penjajahan secara langsung, tetapi secara tidak langsung, secara ideologis penjajahan tetap ada, bahkan tetap ada untuk selamanya, sebagai fungsi laten”. Inikah yang sedang terjadi pada kita ?

Dalam konteks ini, dugaan terjadinya error terminology yang kemudian meng-hegemoni sehingga melekat menjadi local identity pada suatu suku bangsa, secara empiris, tidak bisa dinafikan begitu saja. Penemuan benua Amerika oleh Columbus adalah salah satu contoh. Pada saat itu, Columbus mengira ia berada di India sehingga penduduk aslinya disebut Indian. Akhirnya, penduduk dunia secara sederhana menyamaratakan suku Sioux, Maya, Apache, dan lainnya dengan sebutan ‘Indian’. Parahnya lagi, pada era penjelajahan bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 dan abad ke-16, pandangan superior Eropasentris (terutama Eropa Barat) sering menganggap suku bangsa non Eropa sebagai orang Barbar (tidak beradab/primitif, tidak mengenal hukum/aturan, keturunan iblis, dan citra negatif lainnya) sehingga tak sedikit kelompok masyarakat yang mendapat label ‘suku Barbar’. Kesemuanya ini membuat penulis tiba pada perenungan : “Apakah saya ‘Barbar’ di tengah kearifan budaya lokal yang begitu kaya sebagaimana telah diwariskan nenek moyang tercinta?”

*Penulis adalah Ketua Yayasan Aku Aru Center dan tinggal di Medan

Tautan :

Kenapa (harus) karo bukan batak

Iklan

10 thoughts on “BATAK ?

  1. ND HUTABARAT berkata:

    BATAK KARO DLL
    RILIS JONES GULTOM AMHMAD ARIEF TARIGAN

    Komentar Konvergensi NDH:

    1. Terimakasih atas Rilis JG / AAT

    2. Menemui Diskusi ini dalam Nasional NKRI dan Interkontinental cq Symposium Internasional Ilmiah Daerah Masyarakat Kultur Sumatera Utara 1982 Universitas Hamburg Pimpinan Prof Dr Reiner Carle (Habilzsi “Opera Batak”).

    2.1.Termasuk Pakar dari Indonesia cq Batak hadir
    2.2.L Manik vs Guru Tarigan aktuil polemik
    2.3.Saya memerhati, dan pahami kekurangan Diskusan Yang Konflik
    2.4.Terahir ini masih sering saya katakan:
    2.4.1.Bataktoba
    2.4.2.Batakmandailing
    2.4.3.Bataksimalungun
    2.4.4.Batakkaro
    2.4.4.1.Batakkarogayo
    2.4.4.2.Batakaroalas
    2.4.4.3.Batakkaropasai
    2.4.5.Batakdairipakpak

    2.4.6.Bataktobasilindung (saya NDH)

    3.Beberapa Rekan Umur Senior Alumni LN mempertanyakan:
    3.1.Mengapa kelainan di Batakaro dsb itu
    3.2.Saya katakan Prinsip Implementasi Hukum ASM Akuratip Symbiose Mutualis
    3.3.Geopilitik DGK Demografika Geografika Kulturologika
    3.4.Implementasi Setempat

    4.Kalau Diskusi TBB Tepat Baik Benar Batak
    4.1.Agar Stdu Dulu Filsafat Logika
    4.2.Ttg TBB Tepat Baik Benar Implementasi Dst.

    5.Demikian sebagai Bahan Insentip untuk mohon jabaran
    5.1.Dari / Oleh GP Generasi Penerus
    5.2.UTerutama Alademika Universitaria.

    6, NDH Turut Pencerah GP Generai Penerus.

  2. Posting yang amat baik. Memang jika agar rajin mencari mungkin bisa bertemu dengan fakta bahwa tak sedikit yang menolak fleksibilitas konsep Batak itu hingga memiliki daya cakup hingga Karo, Dairi, dan apalagi Nias. Salah satu di antaranya, jika tak salah, antrop;olog Sibeth (Australia?).
    Terimakasih.

  3. B.Parningotan berkata:

    Ok. Menurut pemikiran saya begini. Tidak ada bangsa yang Murni. Jaman dahulu seperti halnya jamansekarang selalu ada manusia yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain baik karena direncanakan, salah tujuan atau tersesat karena tidak tahu jalan kembali. Sayangnya jaman dahulu belum ada tiket pesawat atau kapal pulang pergi. Jadi umumnya bangsa yang merantau lebih cenderung ber asimilasi dengan suku lokal yang didatangi. Itulah sebabnya pada bangsa Batak sendiri ada yang berwajah cina, India, Thailand , setengah bule dsb. kalau kita lihat penampilan fisik orang Aceh maka mereka lebih hitam dari Batak walau mereka tak pernah menyebut bahwa mereka orang India atau Srilangka, jadi makin dekat ke suatu daerah, pembaurannya makin nyata. Itulah sebabnya suku aceh lebih dekat ke India dibanding Sumatra Utara, walau karena suatu hal banyak dari mereka yang menunjukkan darah Portugis. Malah saya melihat bangsa Komering di Lampung banyak yang mirip dengan bangsa Hazara di Afganistan.

    Kalau kita lihat antar marga yang ada di Batak pun wajahnya ber-beda2, sebagai contoh wajah marga Sitompul berbeda dengan Panjaitan, demikian juga halnya wajah Napitupulu lain lagi. Wajah2 tsb baru lebih terbaur di jaman Modern ini. jadi permasalahannya adalah jauh lebih rumit. Mengenai Tulisan Batak dan Marga itupun ada permasalahannya. Nama marga itu ada yang nama tempat seperti Hutagaol, Hutagalung, Hutabarat dsb, ada nama gunung seprti Dolok Saribu, ada nama jumlah seperti Napitupulu, Pasaribu, Pangaribuan dsb, malah ada nama Marga yang mirip India atu Srilangka seperti Gurusinga, Brahmana, Munte, Dalimunte dsb.
    Tulisan Batak sangat bervariasi antar daerah.

    Jadi permasalahannya lebih kompleks, juga apakah benar orang batak semuanya keturunan Siraja Batak?, barang kali Konsep itu adalah konsep yang berdasarkan bahwa semua berkembang dari satu keturunan. Saya tidak percaya hal tersebut, tentunya lebih rumit dari itu. seperti contoh mengapa jumlah generasi di semua suku2 batak toba sekitar dua puluhan dan belum mencapai tiga puluh dengan jenis penamaan yang sangat bervarias?, kalau kita lihat satu generasi 25 tahun maka 20 generasi adalah sekitar 500 tahun, apakah pemakaian marga adalah efek modernisasi?

  4. Terimakasih atas tulisan bung Ahmad Arief Tarigan dalam dua tulisan di blog ini dengan konteks Batak dan Non Batak untuk suku-suku yang ada di Sumatra Utara sekarang, dan salut bila tetap berpandangan kritis. Saya sebagai salah satu dari etnis Silindung boleh saja mengatakan bukan Batak bila hanya beralasan untuk lari dari beban psychology dalam konotasi negatif. Bukan hanya dalam dua tulisan di web-blog ini saja muncul penolakan bukan batak dari sekelompok mandailing, Pakpak, Karo dan Simalungun, namun disayangkan bahwa wacana yang dihembuskan mendapat tanggapan yang seolah memunculkan kebencian dan sinisme oleh orang-orang yang samasekali tidak faham dan bahkan tidak memiliki dasar pengetahuan yang pantas untuk pokok bahasan. Perlu disampaikan bahwa tanggapan-tanggapan yang muncul itu bahkan telah mempolakan pikiran manusia-manusia yang non sumatera utara untuk ikut berkesan sinisme.

    Sebenarnya ‘kita’ yang masuk dalam forum-forum mendiskusikan tentang Batak & Non Batak ini terus terang belum memiliki dasar pengetahuan dan pemahaman yang setara untuk mendiskusikannya, sehingga condong untuk mengambil perbedaannya dibanding kesamaannya yang jauh lebih kental dari berbagai sudut pandang. Sebagai contoh yang menyebutkan adat-istiadat yang berbeda padahal semuanya memiliki falsafah yang sama seperti Dalihan Na Tolu (Mandailing-Angkola-Silindung-Toba-Samosir-Humbang), Daliken Si Tellu/ Rukut Sitellu (Karo, Pakpak), Tolu Sa Hundulan (Simalungun). Semuanya memilikin tatalaksana adat-istiadat yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama. Lalu mengapa ditonjolkan perbedaannya?

    Kata Batak bukan muncul hanya semasa penjajahan saja. Jauh sebelumnya sudah muncul dan dituliskan oleh penulis-penulis Eropah, seperti: Nicolo Di Conti (1449), Ludovico Bartema (1505), Tome Pires (1512), Odarus Barbosa (1516), De Barros (1563), Beaulifu (1622), William Marsden (1772/1811), semuanya adalah sebelum penjajahan.

    Kalau semasa Singosari (1222-1292) memang hanya menyebut dalam Kitab Nagarakartagama + Pararaton: pulau bawahan, paling dulu M’layu Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, Negara Perlak dan Padang. 2). Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama Negara-negara Melayu yang t’lah tunduk. Disini memang belum disebutkan ‘Batak’.

    Skripsi Portibi yang diterjemahkan oleh Prof. Nilakantisasri menyebutkan bahwa 1500 tentara cola dimukimkan di Barus tahun 1024 dalam rangka akan menyerang Sriwijaya, dan mereka sudah menemukan kerajaan Panei (ahli sejarah menyebutkannya kerajaan Batak). Kalau kita boleh bayangkan bahwa pemukiman mungkin memakan waktu bertahun dan tentu melakukan kawin mawin, apakah lantas apa yang dikatakan sekelompok dari Mandailing, Pakpak, Karo, tidak lagi berkaitan dengan Batak? atau karena pasukan Singosari pernah bermukim di Simalungun lantas sekelompok Simalungun mengatakan tak berhubungan dengan Batak?

    Yang mengagumkan bahwa ‘Batak’ sudah disebutkan dalam buku ‘Natural History’ oleh Pliny di tahun 77 Masehi semasa kekaisaran Titus di Roma. Mereka sudah menjelajah sampai ke Semenanjung Malaka dalam pencacahan penduduk bumi.

    Dan mungkin akan lebih kagum lagi kita bahwa penggalian arkeology dari kapal karam di Haifa (Utara Israel) ditaksir berusia 3000 tahun SM ditemukan tulisan pada batangan timah murni (barang dagangan), saat ini sedang dikaji di Sarasvaty Research Center, India). Sementara mereka mengatakan jenis tulisan ini adalah Sarasvaty Hieroglyph yang sekarang sedang dalam kajian dan sementara diterjemahkan sebagai Mleccha – Meluhha (mungkin saja sebutan Malaka, red.) dan Bat.a. (mungkin saja untuk sebutan Batak). Apakah ini aneh atau kebetulan tulisan yang tertera pada batangan timah murni itu mirip dengan tulisan Batak (Toba, Mandailing, Karo, Simalungun) yaitu ‘ba-ta’. Sementara pula mereka menterjemahkan kata bat.a sebagai: jalan (road), tungku pelebur (furnace, smelter), pabrik batu bata/ porselin, kesana-kemari (to roam, to wander), pangadangi (a highwayman), mata-mata (a spy), Petualang (traveller). Kalau ada yang menyebut kata Batak berasal dari kan ‘mammatak’ yang berarti memecut kuda supaya berlari kencang, mungkin ada kaitannya dengan yang disebut diatas seperti ‘to roam, to wander), ‘a highwayman’, ‘a spy’, atau ‘traveller’.

    Yang paling penting ingin disampaikan, walaupun sah-sah saja menyebutkan ‘bukan Batak’, janganlah terkesan sinisme dan mengasumsikan ‘Batak’ sebagai stereotype negatif, seperti najis, pagan, canibal; kalau bahasa sekarang bebal, keras kepala, perampok, preman, suara keras, nepotisme, dll.

    Thanks, mudah-mudahan difahami oleh banyak orang.

  5. Setelah sekian lama tidak menemukan kayu batak itu,Mangaraja Bonggaran mengambil keputusan untuk mengarahkan perjalanannya kearah selat malaka sekarang.
    Dan semua rombongan itu ada 51 keluarga,dan ada orang lain kira_kira 44 keluarga yang mengikuti rombongan tersebut menyeberang menuju pulau sumatera.
    Berarti sebutan batak adalah sebutan nama sebuah kayu yaitu kayu batak.
    Jadi yang mengikuti mangaraja Bonggaran yaitu nenek moyang orang batak ada orang lain tetapi disebut juga rombongan orang batak.,berati batak bukanlah sebutan suatu sub suku.Melainkan adalah suatu meeltingfod perkumpulan dari berbagai suku yang disatukan dengan budaya,bahasa,adat,tulisan ,dan tanah yaitu tanah batak jadi batak bukanlah sebuah suku,melainkan adalah sebuah bangsa yaitu bangsa batak.
    Menurut para tuatua batak yang memberi keterangan tidak semua marga sekarang dalam satu nenek moyang merupakan keturunan satu bapak satu ibu tetapi ada yang diadopsi melalui adat batak yang pada mulanya disebut TUHO PARNGOLUAN ni BATAK sebelum ada DALIHAN NA TOLU
    Menurut para tetuatua batak yang memberi keterangan

  6. Suprie berkata:

    Suku Batak masih kecil udah mau memperkecil diri lagi….semakin besar suatu suku semakin menguntungkan terutama dalam politik.Sekarang Gubernur Sumut aja gak punya marga, gak pake ulos gak ngerti dalihan natolu(raket sitellu).Kita dijajah kalau kita memperkecil diri sendiri.

  7. Abdon Hutauruk berkata:

    Memang masih saja ada peninggalan doktrin penjajah Belanda dulu yaitu ” Devide et Impera” Kenapa mesti dipersolkan segala bahwa Karo bukan Batak, dan lain-lain Bukan Batak. Apa malu jadi orang Batak? Apakah rugi kalau disebut Kita orang Batak ? Trus kalo Kita menjadi Bukan orang Batak apakah apakah kita memperoleh Untung? Untungnya Apa ? Yang jelas selama saya berteman dengan orang Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, kayaknya belum ada yang keberatan menyebut dirinya sebagai orang Batak. Malah sebaliknya : mereka cenderung senang sebagai orang Batak. Gak taulah apakah ada unsur politis dari orang yg mengemukakan hal ini. Mungkin terlalu takut, dengan pameo yg mengatakan kalau Batak susah dipakai jadi pejabat di Negara ini ….. Tapi gak juga ….. Buktinya sudah banyak juga orang Batak yang sampai ke Jabatan Tinggi, bahkan sekarang juga buannyyaakk….. Benarr tuh komentar sdr Suprie …. Kok masih ada ya yang mau mengerdilkan diri sendiri ? Bukan karena saya orang Batak Toba dari Silindung …. Menurut saya … sendainya pun ada info seperti itu .. kita harus mampu menolak pernyataan yg bermaksud memecah belah kesatuan kita “BATAK” Horas !

  8. yudha berkata:

    Saya kira akan lebih baik kepada bapak2 dan ibu ahli antropologi, sosiologi, bahkan budayawan dan para tetua adat duduk satu meja melakukan sebuah simposium atau sejenisnya sehingga dapat merumuskan masalah ini sehingga tidak terjadi pengklasifikasian berdasarkan presepsi sepihak atau sumber data masing2 tetapi akan lebih baik semua data yang ada dikumpulkan dan dibahas bersama dan ditarik kesimpulan bersama-sama sehingga kita mendapat pengertian bersama untuk diajarkan/ diwariskan kepada anak2 kita. Dengan demikian pada generasi berikutnya akan lebih objektif lagi dalam mempelajari masalah ini ketika mereka mendapatkan bukti2 yg baru secara ilmiah dari bukti2 empiris dan bukan yang dipengaruhi oleh “ke-aku-” dimana suku yg satu lebih tinggi kelasnya dari yg lain, sadar atau tidak bukankah ini adalah sisa sisa dari paham devide et impera – belanda pada masa penjajahan dulu… salam

  9. Amani Atma berkata:

    VARIASI GENETIK SUKU BATAK YANG TINGGAL DI KOTA DENPASAR DAN KABUPATEN BADUNG BERDASARKAN TIGA LOKUS MIKROSATELIT DNA AUTOSOM

    INTISARI: Penelitian tentang variasi genetik menggunakan tiga lokus mikrosatelit DNA D2S1338, D13S317 dan D16S539 dilakukan untuk memperoleh ragam alel pada 76 sampel suku Batak yang tidak berhubungan keluarga yang tinggal di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Sampel DNA diektraksi dari darah menggunakan metode fenol-khloroform dan presipitasi etanol. Amplifikasi DNA dilakukan dengan menggunakan metode PCR (SuperMix, Invitrogen). Ditemukan sebanyak 14 alel pada lokus D2S1338, 10 alel pada lokus D13S317 dan 8 alel pada lokus D16S539. Ketiga lokus menunjukkan keragaman genetik yang tinggi baik pada masing-masing lokus maupun pada pada masing-masing sub-suku Batak dengan keragaman genetik sebesar 0,8637 pada sub-suku Batak Toba, 0,7314 pada sub-suku Batak Karo dan 0,7692 pada sub-suku Batak Simalungun.

    Kata kunci: DNA mikrosatelit, Suku Batak, keragaman genetik, frekuensi alel, heterozigositas

    Penulis: YOSSY CAROLINA UNADI, INNA NARAYANI, I KETUT JUNITHA

    Sumber:
    http://www.e-jurnal.com/2013/10/variasi-genetik-suku-batak-yang-tinggal.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s