Batak dan Postkolonialisme

Jones Gultom

Saya menyadari semangat dan nafas tulisan Arief adalah bentuk pencarian makna kata "Batak" tanpa tendensi apapun, seperti yang berusaha ia "dirikan" dalam diskusi Karo bukan Batak itu. Terasa sangat kental pula apa yang hendak digugat; ketika ia masuk dalam terminologi "Postkolonialisme di Indonesia" versi Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna.

Dalam tulisan itu, Arief memokuskan wacananya untuk membongkar kembali motivasi tersembunyi dari penamaan kata "Batak" yang melulu disematkan oleh sebagian bangsa di Eropa sebagai diskreditas sekelompok masyarakat di nusantara. Ia menyitir itu sebagai bentuk penjajahan identitas-etnisitas khususnya Belanda dan corong arogansi superior Eropa terhadap negara-negara pesakitan semacam Indonesia.

Tapi semangat yang terlalu dini itu pula, membuat tulisan Arief terkesan "marah". Karena tak siap menerima dekonstruksi etnis itu, ia jadi seperti menolak kenyataan sejarah yang tak sesederhana nasionalisme itu. Akhirnya ia hanya kembali pada dua pertanyaan awal. Apakah Batak? Dan benar tidaknya Karo bukan Batak!

 

Batak?

Apakah Batak itu? Pertanyaan ini menjadi penting untuk menjawab benarkah Karo bukan Batak. Jika Arief setuju, bahwa penamaan "Batak" adalah sebagai ungkapan negatif yang disematkan Belanda selama merangsek Sumatera Utara, maka seharusnya ia juga menerima kemungkinan Karo juga Batak.

Dalam hal ini, refrensi saya yang digugat Arief, terutama ketika menyebut kata "Batak" yang salah satunya mungkin berasal dari kata ‘mamatak’ yang berarti ‘menaiki kuda’ dan seterusnya dijadikan idiom oleh Belanda untuk menyebut kelompok masyarakat berstigma negatif, di Sumatera Utara, sebagaimana tertulis di Riwayat Poelaoe Soematra (1903) memang tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan. Saya juga menggagapnya begitu. Tapi jika terminologinya postkolonialisme, seperti yang disuguhkan Arief (meminjam Ratna) maka dengan sendirinya argumen saya jadi masuk akal.

Diskursus-diskurus postkoloniaslime memang selalu menyentil negara kolonial yang dengan sesuka hati melabeli masyarakat jajahannya. Frantz Fanon, juga menguatkan itu. Ia bahkan menilai, kolonial akan selalu memegang monopoli kebenaran, menentukan definisi, identitas dan keberadaan kaum pribumi demi menjaga kolonialisasi itu. Kalaupun Arief menganggapnya sebagai bentuk penjajahan, hal itu sah-sah saja, karena memang demikian tugas kolonial.

Keajegan cara pandang penganut-penganut postkolonialisme, sering merujuk pada metode historisisme, yang selalu melihat sejarah dari luar (dari sisi penjajah) sehingga seringkali mengabaikan aspek psikoantropologis masyarakat yang dijajah. Ini karena sifat postkolonialisme yang dipengaruhi Ferdinand de Saussure, ditujukan untuk menggugat konstruksi kolonial yang telah menindas kelompok-kelompok jajahannya. Sementara historisisme sebagaimana yang disebut Karl R Popper dalam bukunya "Gagalnya Historisme" (1961) tak pernah berhasil mengkaji masalah-masalah sosial, termasuk sejarah dan budaya. Bisa jadi Arief terpengaruh buku-buku Amin Maalouf, terutama "In the Name of Identity" (2004) yang mengulas tak semudah mendefenisikan manusia. Tapi Karo bukanlah identitas, melainkan etnisitas yang terikat sejumlah syarat. Itu pula yang memungkinkannya saling beririsan dengan etnisitas lain. Menurut saya, Batak adalah induk etnisitas-etnisitas itu.

Tapi yang saya ingin soroti adalah jika kemudian karena ketidakrelaan itu, kita jadi merasa harus mendirikan menara gading. Saya setuju jika kehadiran Belanda ditengarai banyak merusak lokalitas kelompok-kelompok etnis di Indonesia. Tapi tak serta merta ia berupa blueprint yang sudah dirancang lebih dulu, seperti terkesan dalam teori-teori postkolonialisme. Apalagi kehancuran kerajaan-kerajaan di nusantara misalnya, justru kebanyakan akibat intrik dinasti serta siar agama yang barbar. Sisanya, karena campur tangan kolonial.

Namun mesti diakui sering juga Belanda sengaja dilibatkan, terutama oleh kelompok minor yang merasa terdesak dalam pertikaian internal. Dengan posisi seperti itu, wajar kemudian Belanda mengajukan posisi tawar. Karenanya saya menolak mengganggap Batak sebagai kelompok masyarakat mapan, adiluhung dan anti kritik sembari menuduh asing sebagai satu-satunya sumber intervensi (pengacau). Karena di Batak juga banyak kisah-kisah pengkhianatan.

Karo Bukan Batak?

Dalam kaitannya dengan Karo, secara sederhana pula, saya mengaitkannya dengan logika kemungkinan. Bahwa ada berbagai kesamaan nilai budaya, yang saya sebut "istilah budaya" terhadap makna kata "Batak" baik di Karo, Pakpak, dan Simalungun. Eksternalisasi ini saya anggap menjadi indikasi bahwa Karo, Toba, Simalungun, Pakpak masih terikat dalam satu kesatuan. Menjadi logis, jika mungkin kolonial, katakanlah Belanda, melihat kelompok-kelompok masyarakat ini sebagai satu kesatuan etnis, karena memiliki beberapa persamaan, terutama sistem budaya, kosmologi dan sosialnya. Dan menamai "Batak". Kesamaan itu antara lain; sistem kekerabatan, penggunaan marga, nilai-nilai filosofis arsitektural rumah adat, totem, aksara, beberapa idiom, keberyakinan (kosmologi)
Saya kira, hanya karena dampak mitologi penciptaan orang Batak yang dilegitimasi Toba-lah yang membuat orang Karo merasa sub ordinat Toba. Sehingga mencoba melepaskan diri demi eksistensinya itu. Mestinya dipahami bahwa mitos boleh saja propaganda, tapi kesamaan-kesamaan yang mengakar sejak lama dan turun-temurun itu, sangat tidak mungkin direkayasa.

 

(Penulis mantan Mahasiswa Matematika Unimed. Kini Mahasiswa Psikologi UMA)

Tulisan ini dimuat di Analisa, Ruang Rebana, 5 September 2010 oleh Jones Gultom pada 05 September 2010 dan naskahnya dikirim ke TanoBatak tanggal 06 September 2010.

Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Ahmad Arief Tarigan, di Analisa, 22 Agustus 2010, halaman Rebana, berjudul "Batak?" yang ditulisnya sebagai respon atas dua tulisan sebelumnya di halaman yang sama dan di blog ini. Masing-masing berjudul "Kenapa (harus) Karo bukan Batak" (Analisa, 18 Juli 2010, Jones Gultom) dan "Kenapa Orang Toba lebih Bangga sebagai Batak" ( Analisa, 25 Juli 2010, Thompson Hs, tidak dimuat di blog ini)

 

Tautan :

Karya tulis Jones Gultom di blog ini :

Euforia Natal Pada Sebuah Kampung

Puisi Paskah

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE

Iklan

3 thoughts on “Batak dan Postkolonialisme

  1. ND HUTABARAT berkata:

    BATAK

    BAHAN KONVERGENSI

    1 Say Sistematik Garis Info Universitas Hamburg:
    Batak dari Penduduk Asia, khususnya di Indonesia Mayor dan Indonesia MInor. Indonesia Mayor terdiri dari di Kamtsyatka, Jepang , Taiwan, Filippina, Asia Tenggara Daratan di India Belakang : Kamboja, Birma, Thailand, Vietnam dll, Malaka, Malaysia dn Serawak serta Brunai Kini, Serta Indonesia NKRI Kini, Andaman Nikobar, Srilangka, Madagaskar Dll.

    2. Historiografika DGK Demografika Geografika Kulturologika:
    Ikuti Kronologi Erzbishp Uhser London 1650 / Historika Victoria 1890 / Bibliotika London 1997 / Bibbliotika Jerman 1990, bertaut Sejarah ATS Agama Tuhan Satu Adam-Hawa 4004 sM, mulai Umur iTSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral 5 Milyar Th Universum ada sebagai Abiota Lithosphere-Hydrosphere-Atmosphere, antara 4-3 Milyar Th dari Abiota timbul Biota Tanaman Binatang Manusia, dan Antara 12 Jt Th sM – 5 Rb Th sM timbul tumbuh MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens Sapiens .

    3.MmHss 12 Jt Th – 5 Rb Th sM berakulturasi dg ATS Adam-Hawa 4004 Th sM dan Lain-Lain dan Turúnannya, dimana Bangsa Tuhan sebagai Model sudah tersebar di Seluruh Dunia pada 2247 sM. Serta sebelumnya Latihan-Latihan mereka terjadi misal Kain membunuh Abel dan Putra Ketiga Seth menurunkan Noah 3248 dan Putranya Sem Ham Jafet dan Isteri dan Calon serta masing Sepasang Binatang diselamatkan Tuhan di Biduk Air Bah itu. Dan Turunan Sem Abraham 1921 sM dipanggil Tuhan dari Ur pindah ke Tanah Kanaan Pantai Mediteranea, selanjutnya dilatih di Paceklik I 1919-196 sM mereka Pekerjka ke Mesir Kemenakan Lot mengalami Sodom Gomptrah Katastrofe 1898 hanya bertiga diselamatkan Tuhan (Lot Putrinya Shuah dan Lamek), sedang Abraham tetap di Tanah Kanaan tetangga. Lalau Abraham menurunkan Ishak dari Perempuan Hagar 1910 sM kelak menurunkan Muhammad Nabi Islam lahir Abad 6 M mendiami Semenanjung Arabia, dan lahir Ishaak dari Isteri Sarah kelak mnenurunkan Jesus Juruselamat Keristen 0 M, serta juga dari Ketura Isteri kedua dinikahi 1853 sM setalah Sarah wafat 1859 sM. Paceklik II Timteng Turun 1703 -1453 sM 215 th Turunan Jacob : Israel 12 Marga / Bani tinggal migran di Mesir mulai Jusuf sebagai Wakil Firaom sebagai PM demi menyl4mtkan Mesir dari Pacrklik itu, tetapi kemudia berobah mereka jadi budak Mesir, lalu ditugaskan Musa menolong mereka, yang tadinya dia gkat Mahkota Firaon.

    4. Supremasihukum Hidup Manusia 1491 sM 10 Hukum Musa diberi Tuhan di Sinai, dan Mamnusia Tak boleh lagi Nikah Incest.

    Batak dari MmHJss Ajaran Percaya Mulajadinabolon diberi pada Bataraguru dan Deak Parujar untuk dibawa dijabarkan di Dunia Bumi dalam DGK Demogŕafika Geografika Kulturologika Batak mulai dari DNT Dalihan Na Tolu 3 Masyarakat Marga Batak demi Nikah Exogam itu. Alkulturtasi Nikah Exogam Batak juga dijabarkan re kini sangat sistimatik dalam Supremasihukum Naturalkultural, serta selanjutnya Batak mengkontribusi Amanah Mulajadinnabolon Tuhan kepada NKRI Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Pamnca Sila 16 1945 / 17 8 1945 dan Dunia dst dst, dala mana kultural demokratis moderen bisa mungkin berpeluang dilakukan.

    5. Dapat dirisersi dilakukan Observasi ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral Teliti dari Historiografika dari Naturalkultural sempurna awal ke divergir jabar kembali lagi konvergir kembali asal muŕni awal. Hal itu dapat dipahami via metode ITSS Itu.

    6. Mohon konvergensi,

    7. NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus,

  2. B.Parningotan berkata:

    Berbicara tentang KERAJAAN mempunyai arti mendalam dalam kata2. kerajaan dapat dibayangkan seperti kerajaan INGGRIS, atau kerajaan ROMAWI jaman maupun MAJAPAHIT di jaman dahulu, kerajaan yang telah memapan telah melindungi rakyatnya,
    Kerajaan yang memapan menarik PAJAK dari RAKYATNYA, membuat sensus untuk mengtahui kekuatan kerajaan mereka, mebuat benteng2 pertahan untuk menyangga serangan musuh dan mempunyai batas2 jang jelas dan membuat peraturan2 yang tegas untuk kepentingan kelangsungan kerajaan dan mejaga invasi asing dan rakyatnya. kerajaan yang berjaya juga, dapat dilihat dari peninggalan2nya.

    Memang umumnya masyarakat kecil mengidamkan adanya raja yang bisa diandalkan sebagai pelindung, dan kebanggaannya; oleh karena itu pula banyak pengikut Kristus mengharap ia akan menjadi raja seperti layaknya raja Herodes

    Kalau kita pelajari tentang Batak sendiri, bagai mana perbandingan kerajaan2 besar tersebut dengan Sisingamangaraja?

    Dijaman dahulu ketika saat memanen di kampung ada istilah SIDEANG NA RUMINTE dimana didaerah persawahan di luar desa ketika saat memanen para wanita dan gadis berbaris untuk memanen padi sedang Lakilaki berjaga-jaga untuk menolak adanya MUSUH TANDANG.

    Ini menunjukkan pada kita bahwa pengaruh KERAJAAN SISINGAMANGARAJA belum secara efektif melingdungi perkampungan. Memang kalau dilihat dari AMPANG NA OPAT jelas dalam acara2 ada selalu diundang raja bius dan raja. Dengan demikian jela bawa Raja masih bersifat orang yang dihormati.

    Tetapi dengan adanya “PANGULUBALANG” yang diandalkan untuk melindungi desa, jelas bahwa kampung belum mengandalkan raja sebagai pelindung mereka malah sebaliknya PERAN DATU lebih menyolok.

    bagai mana pengaruh kerajaan Sisingamangaraja akan masuknya kepercayaan2 asing ke wilayahnya?

    Saya tidak mau memberi tanggapan seberapa jauh sifat kejayaan kerajaan SISINGAMANGARAJA ataupun LA PAGAN di tanah Karo. Jangan kita terlalu bermegah-megah oleh khayalan kita sendiri.

  3. ND HUTABARAT berkata:

    KORREKTUR 11 2 2012

    ND HUTABARAT
    September 7th, 2010 pukul 04:09
    BATAK

    BAHAN KONVERGENSI
    1. Say Sistematik Garis Info Universitas Hamburg: Batak dari Penduduk Asia, khususnya di Indonesia Mayor dan Indonesia MInor. Indonesia Mayor terdiri dari di Kamtsyatka, Jepang , Taiwan, Filippina, Asia Tenggara Daratan di India Belakang : Kamboja, Birma, Thailand, Vietnam dll, Malaka, Malaysia dn Serawak serta Brunai Kini, Serta Indonesia NKRI Kini, Andaman Nikobar, Srilangka, Madagaskar Dll.
    2. Historiografika DGK Demografika Geografika Kulturologika: Ikuti Kronologi Erzbishp Uhser London 1650 / Historika Victoria 1890 / Bibliotika London 1997 / Bibbliotika Jerman 1999, Cerahan SDNH 2000, bertaut Sejarah ATS Agama Tuhan Satu Adam-Hawa 4004 sM, mulai Umur ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral 5 Milyar Th Universum ada sebagai Abiota Lithosphere-Hydrosphere-Atmosphere, antara 4-3 Milyar Th dari Abiota timbul Biota Tanaman Binatang Manusia, dan Antara 12 Jt Th sM – 5 Rb Th sM timbul tumbuh MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens Sapiens .
    3. MmHss 12 Jt Th – 5 Rb Th sM berakulturasi dg ATS Adam-Hawa 4004 Th sM dan Lain-Lain dan Turúnannya, dimana Bangsa Tuhan sebagai Model sudah tersebar di Seluruh Dunia pada 2247 sM. Serta sebelumnya Latihan-Latihan mereka terjadi misal Kain membunuh Abel dan Putra Ketiga Seth menurunkan Noah 3248 dan Putranya Sem Ham Jafet dan Isteri dan Calon serta masing Sepasang Binatang diselamatkan Tuhan di Biduk Air Bah itu. Dan Turunan Sem Abraham 1921 sM dipanggil Tuhan dari Ur pindah ke Tanah Kanaan Pantai Mediteranea, selanjutnya dilatih di Paceklik I 1919-196 sM mereka Pekerjka ke Mesir Kemenakan Lot mengalami Sodom Gomptrah Katastrofe 1898 hanya bertiga diselamatkan Tuhan (Lot Putrinya Shuah dan Lamek), sedang Abraham tetap di Tanah Kanaan tetangga. Lalau Abraham menurunkan Ishak dari Perempuan Hagar 1910 sM kelak menurunkan Muhammad Nabi Islam lahir Abad 6 M mendiami Semenanjung Arabia, dan lahir Ishaak dari Isteri Sarah kelak mnenurunkan Jesus Juruselamat Keristen 0 M, serta juga dari Ketura Isteri kedua dinikahi 1853 sM setalah Sarah wafat 1859 sM. Paceklik II Timteng Turun 1703 -1453 sM 215 th Turunan Jacob : Israel 12 Marga / Bani tinggal migran di Mesir mulai Jusuf sebagai Wakil Firaom sebagai PM demi menylamatkan Mesir dari Paceklik itu, tetapi kemudian berobah mereka jadi budak Mesir, lalu ditugaskan Musa menolong mereka, yang tadinya calon diangkat Mahkota Firaon.
    4. Supremasihukum Hidup Manusia 1491 sM 10 Hukum Musa diberi Tuhan di Sinai, dan Mamnusia Tak boleh lagi Nikah Incest.
    Batak dari MmHss Ajaran Percaya Mulajadinabolon diberi pada Bataraguru dan Deak Parujar untuk dibawa dijabarkan di Dunia Bumi dalam DGK Demogŕafika Geografika Kulturologika Batak mulai dari DNT Dalihan Na Tolu 3 Masyarakat Marga Batak demi Nikah Exogam itu. Alkulturasi Nikah Exogam Batak juga dijabarkan re kini sangat sistimatik dalam Supremasihukum Naturalkultural, serta selanjutnya Batak mengkontribusi Amanah Mulajadinnabolon Tuhan kepada NKRI Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Panca Sila 1 6 1945 / 17 8 1945 dan Dunia dst dst, dalammana kultural demokratis moderen bisa mungkin berpeluang dilakukan.
    5. Dapat dirisersi dilakukan Observasi ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral Teliti dari Historiografika dari Naturalkultural sempurna awal ke divergir jabar kembali lagi konvergir kembali asal muŕni awal. Hal itu dapat dipahami via metode ITSS Itu.
    6. Mohon konvergensi,
    7. NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s