Pak Donald di Mata Hati Saya

MJA Nashir

28 Mei 2007, ketika malam di Pantura Jawa terasa dingin, saya terima kabar via sms; “Mas, bapak sudah pulang ke rumah Tuhan”. Rasanya angin semakin dingin, tak sekadar tulang yang ngilu. Tapi juga hati ini ! Kenyataan harus dihadapi, Donald Hutabarat, sahabat terbaik di planet Bumi ini telah pergi untuk selama-selamanya, di usianya yang ke 57 .

Sms itu datang dari Mbak Ratna, seorang pegawai di Siayoka. Belum lama sms itu kubaca, Thea (putri pertama almarhum Donald Hutabarat) menelpon saya langsung, mengabarkan berita duka itu dari dalam mobil yang semula bertujuan membawa Pak Donald dari Makassar pulang ke kampung halaman. Toraja masih jauh pada pukul sekitar 1 malam dan nyawa beliau telah lepas dari raganya yang telah menderita sakit lama itu. Sebelumnya, beliau telah dirawat di RS selama kurang lebih dua bulan. Menderita penyakit yang kompleks (syaraf otak / stroke, lambung, dan tumor paru-paru).

Saya bayangkan malam itu, dalam perjalanan ke Toraja, satu keluarga (Ibu Ery Lebang/isteri tercinta almarhum, dan 2 orang anaknya – Thea dan Cita, serta para famili) menghadapi kenyataan yang berat; kematian seorang anggota keluarga tercinta. Dalam perasaan turut berduka, malam itu, saya berdoa semoga mereka tidak panik dan diberi kekuatan serta ketabahan menghadapi peristiwa itu. Dan semoga di perjalanan malam yang bermedan sempit dan berat itu – karena jalan pegunungan – agar semua yang hidup tetap selamat sampai ke Tamengtoe – Tana Toraja.

Sahabat yang Baik

“Teman memang banyak. Tapi sahabat tidak setiap waktu dan setiap langkah kita temui.”

Demikian sebaris sms bijak dari seorang sahabat di Jakarta, Nur ‘Monodzky’ Hidayat (kameramen-sineas) yang secara tidak langsung mengilhami saya untuk menuangkan tulisan ini. Mengingat seperti dalam baris kalimat itu pulalah hubungan saya dengan Pak Donald.

Tuhan pulalah yang telah mengatur dan mempertemukan kami, dari yang tidak kenal menjadi kenal, menjadi sahabat dan menjadi saudara. Meskipun kami berbeda suku, berbeda agama.
Awalnya, sekitar tahun 2003 Pak Donald mengundang saya ke Toraja. Beliau kenal saya lewat Aan Fitrianto (seorang teman yang saat itu bekerja sebagai distributor buku di sebuah penerbit di Makassar). Usai shoting sebuah iklan di Jakarta, tiba-tiba HP saya berdering. Tertera nomor kode daerah yang asing di layar HP saya.

“Mas Nashir, saya Donald Hutabarat, pimpinan sebuah penerbit di Tana Toraja.” Demikian suara yang terdengar dari HP saya, suara yang tegas, jelas dan berwibawa. Saat itu saya masih kaget dan tak kenal ‘Donald Hutabarat’. Ditambah lagi kata ‘Tana Toraja’. Yang akrab ditelinga saya cuma kata ‘penerbit’, karena maklum sebelumnya saya sempat bekerja sebagai editor dan penulis buku. Jadi sudah biasa berhubungan dengan kata ‘penerbit’.

Saya jawab “Ya, Pak. Saya MJA Nashir”

“Saya kenal Mas dari seorang kawan Anda, Aan. Bisakah Mas Nashir datang ke Toraja? Karena saya yakin sekali Mas bisa membantu saya. Mas Nashir tinggal berangkat saja kapan Mas bisa. Tiket sudah kami persiapkan”.

Waktu itu tanpa pikir panjang saya jawab, “Ya! Bisa Pak!” Barangkali yang mendorong saya waktu itu untuk menyanggupi dan segera berangkat ke Toraja karena suaranya. Suaranya yang khas, menggelegar namun terasa melegakan dan terasa kekeluargaan. Itulah pertama kali Tuhan meletakkan sebuah miracle di awal perkenalan kami, perkenalan hanya lewat telfon. Tanpa tatap mata secara langsung. Dan sejak detik itu pula sebenarnya dia telah menugaskan saya, yang saya sendiripun tidak tahu sebenarnya untuk apa saya diundang ke Toraja. Bagi saya ini misteri, dan kebetulan saya suka misteri. Namun saya yakin sekali dia orang baik, dan punya tujuan baik, dan baik juga untuk saya. Atau barangkali juga karena jauh sebelumnya di masa silam saya pernah bertemu dengan seorang tua yang mengerti hal-hal spiritual. Dan saya masih ingat kata-katanya. “Jika suatu hari kamu bertemu dengan seseorang, meskipun kamu belum kenal dengannya, dia minta kamu ikut dengannya dan hatimu yang dalam berprasangka baik terhadapnya, maka ikutilah dia! Dari pertemuan dengannya kamu akan menemukan sesuatu yang bermakna ”. Begitulah, saya tak tahu persis oleh sebab apa tepatnya saya akhirnya pergi ke Toraja untuk menemuinya. Wallahu A’lam!

Sejak saat itu selama empat tahun saya bekerja sebagai fotografer di instansinya, tepatnya untuk project kalender Toraja. Semacam pekerjaan tahunan. Tiap tahun datang ke Toraja, selama 1-2 bulan. Alhamdulillah-nya, selama bekerja dengannya saya tidak pernah merasa lelah. Justru selalu terasa menyenangkan bagi saya. Padahal kami tiap hari berangkat pagi, pulang malam, acap kali hunting foto di tempat-tempat yang jauh dan pelosok. Dia orang yang mudah bergaul, dan hangat. Meskipun sebenarnya beliau seorang atasan, namun beliau orang yang selalu tulus membuka diri untuk mendengarkan orang lain. Dan dia mampu mempraktikkan sesuatu yang di instansi lain barangkali sulit, yaitu hubungan sosial dirinya dengan karyawannya adalah sebagai “partner”, sebagai “kawan”, dan sebagai “saudara”, bukan hubungan “majikan-bawahan”. (Jika Karl Marx masih hidup barangkali ekonom dan filsuf German itu perlu mengkaji ulang teori-teorinya tentang hubungan kelas sosial). Para karyawannya justru makin tumbuh energi untuk berkarya bersama semakin baik lagi. Dalam terminologi tradisi filsafat kritis barangkali inilah yang disebut tindakan “memanusiakan manusia”.

Suasana bekerja yang dia bangun adalah suasana yang akrab penuh persaudaraan. Bahkan beliau suka bercanda, untuk meredakan suasana yang tegang. Itulah yang semakin mengakrabkan kami satu sama lain, sehingga pekerjaan tak terasa sebagai beban. Seperti suatu hal yang enjoy saja. Ketika kami hunting dengan mobil, di tengah jalan beliau suka menghentikan mobilnya untuk istirahat sebentar. Lalu Pak Don mengeluarkan harmonica-nya dan kami menyanyi bersama. Saya selalu sedih bila pekerjaan saya di Toraja ternyata sudah selesai. Rasanya berat meninggalkan Pak Donald! Hal itu pulalah yang mendorong saya untuk selalu berusaha menemui beliau semampu saya, tiap kali dia datang ke Jawa (baik di Yogya atau di Jakarta).

Beliau memang orang yang punya visi-visi humanisme. Dan visi-visinya tersebut berhasil beliau implementasikan ke dalam praktik kehidupan nyata. Visi-visi itu tak sekadar menjadi sesuatu yang sifatnya masih mengawang di langit. Ia telah berhasil membumikannya.

Saya sempat kaget melihat seorang tunawisma, atau yang biasanya di tempat lain disebut “gelandangan”, “pengemis” atau bahkan sering diejek sebagai “orang gila”. Namun beliau ternyata mampu menyapa orang-orang papa seperti itu. Dan ia mengajarinya bekerja, dari hal-hal yang kecil seperti mengumpulkan koran-koran bekas di belakang kantornya. Ini sangat luar biasa. Dan dia merasa biasa saja, atau tidak merasa jatuh harga dirinya bergaul dengan orang-orang seperti itu. Baginya, siapapun akan ia sentuh secara manusiawi.

Suatu hari ketika hunting pernah saya merasa tidak mood untuk motret karena suatu hal / keadaan. Saya sadar ini bukan karena unsur kesengajaan darinya yang membuat keadaan menjadi seperti itu. Namun yang mengagetkan saya waktu itu, sebelum kami turun menemui obyek fotografi, Pak Donald mengajak saya ngobrol di dalam mobil. Beliau minta maaf ke saya. Sungguh saya kaget setengah mati. “Maafkan saya Mas, jika saya telah membuat keadaan yang tidak mengenakkan Mas Nashir sehingga perasaan Mas jadi gak mood. Saya gak ingin kehilangan persahabatan di antara kita. Bagi saya, pekerjaan, adalah nomor sekian, tak ada apa-apanya dibanding nilai persahabatan. Maafkan saya Mas.” Demikian akhirnya kami saling memaafkan secara tulus, dan melanjutkan pekerjaan bersama secara cantik. Saya tulis ini karena jarang saya menemui seseorang seperti beliau yang meskipun punya kedudukan lebih tinggi tapi mau mengakui kesalahannya di hadapan orang lain. Saya makin salut dan hormat pada pribadinya yang mulia itu.

Beliau memang seorang atasan yang baik, sekaligus seorang sahabat yang baik.

Sebuah Pengabdian

..seperti nelayan menembus badai,
sebebas camar berteriak,
seperti lautan dia bersikap

(Rendra – Kantata)

Suatu hari di tahun pertama saya di Toraja saya pernah bertanya pada Pak Donald. “Kenapa bapak memilih untuk tinggal dan hidup di Toraja ini, Pak?”. Sungguh aneh bagi saya, orang yang sangat professional dan telah berpengalaman di dunia internasional seperti beliau pada akhirnya memilih hidup di Tana Toraja yang jauh dari keramaian itu. Saya yakin, beliau bisa eksis dan berhasil bisnis di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di negeri ini. Apalagi, bagi saya beliau adalah orang yang mampu mewujudkan sesuatu yang semula tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan menjadi uang.
“Saya sudah kenyang Mas di kota-kota besar seperti Jakarta. Secara pribadi saya merasa tidak cocok dengan kehidupan kota-kota besar. Saya jatuh cinta dengan Toraja ini. Saya ingin mengabdikan sisa hidup saya untuk Tana Toraja ini. Kampung yang telah saya pilih sejak menikahi isteri saya (Ery Lebang).

Bagi saya kata-katanya itu tidaklah main-main. Beliau adalah pribadi yang konsisten dengan ucapan dan pemikirannya yang selalu siap untuk ia wujudkan menjadi kenyataan. Dan memang, sejak pertama beliau menetap di Toraja, beliau telah memulai merintis sesuatu yang bermanfaat buat lingkungannya, Toraja tercinta. Meskipun awalnya, ia lakukan dengan banting tulang dan sendirian. Dengan tangannya yang selalu ringan untuk ia gerakkan itu, ia mau bercapek-capek, mewujudkan sebuah instansi penerbitan dan toko buku yang semula telah terlupakan dan sepi itu, menjadi suatu hal yang dipandang kembali oleh masyarakat. Dan masyarakat akhirnya merasa membutuhkan serta ikut merasa memiliki. Pertama kali yang ia bangun sembari membenahi fisik bangunan dan perangkat material (infrastruktur) adalah membangun sumber daya manusianya. Ia tak segan untuk mendidik dan mencerdaskan para karyawannya. Bayangkan, tiap ada karyawan baru ia langsung memberi tugas untuk membaca suatu artikel koran, dan menugasi karyawan tersebut menuliskan opini tentang apa yang telah dibacanya itu. Ini barangkali hal yang sepele. Tapi adalah suatu kejelian yang detail dari seorang Donald Hutabarat. Sebab dari situ dia akan bisa membaca jalan berpikir seseorang tentang suatu hal. Dan dari situ dia bisa memberikan apa yang kurang dari karyawannya tersebut. Proses ini biasanya ia lakukan setelah karyawan menuliskan opininya, lalu Pak Don mengajaknya diskusi secara santai dan hangat. Para karyawan baru itu senang dan merasa mendapat pengalaman baru. Dan lebih-lebih merasa diperhatikan. Apa yang dilakukan itu boleh dibilang sebagai proses edukasi, sebuah proses pencerdasan. Dari sekelumit contoh tadi, tampaklah figur beliau yang juga adalah seorang pendidik sejati.

Setelah menyiapkan sumber dayanya secara baik, ia pun membenahi manajemen, dan pembukuan. Untuk hal-hal ini biasanya dia mengundang juga para ahli di bidang tersebut, untuk sekaligus memberikan pelatihan kepada para karyawannya. Tidak hanya pelatihan tata buku dan manajemen saja yang sering digelar oleh beliau untuk karyawan-karyawan di instansinya itu, namun juga pelatihan design grafis, bahasa Inggris, sablonase dll. Proses yang dilakukan pak Don ini saya saksikan sebagai suatu pergumulan energi positif yang hidup yang pada gilirannya menumbuhkan energi-energi positif orang-orang disekitarnya. Dan lantas menjadi sebuah sinergi yang baik. Tak ayal jika akhirnya instansi yang ditangani sejak awal itu mampu membuahkan hasil yang gemilang.

Usaha membangun sesuatu itu bukanlah hal yang ringan seperti membalikkan tangan. Mengamati apa yang dilakukan Pak Don sejak awal, saya jadi teringat kata-kata bijak seorang penyair Indonesia, WS Rendra, “Surga tak kan pernah ada, tanpa tangan-tangan kita kotor”.

Suatu hari saya bertanya lagi pada Pak Don, ketika menyaksikan beliau mengirim beberapa karyawannya ke Yogyakarta dan Pekalongan untuk belajar seni kerajinan dan Batik. “Untuk apa Bapak mengirim mereka itu belajar keluar Toraja, toh di sini keseniannya juga baik?”. Pak Don dengan kalem menjawab, “Saya memberikan pada mereka kesempatan untuk bergaul dengan orang lain. Bergaul dengan budaya dan kesenian lain. Agar mereka tidak minder. Agar wawasan mereka bertambah luas.”
Ketika saya masih di Jawa dan mendengar dari seorang kawan tentang kabar beliau bahwa dia sudah dinonaktifkan dari instansi tersebut, bahkan ada suara-suara yang negatif tentang beliau saya sempat kaget bukan main. Jelas, terhadap suara-suara negatif itu saya tidak percaya. Pak Don orang yang jujur, karena segala sesuatunya ia catat dengan baik. Dan beliau orang yang sangat sederhana. Saya mencoba memaknai oleh karena apa akhirnya ia disingkirkan. Barangkali ada pihak-pihak yang tidak siap dengan sebuah perubahan ke arah yang baik. Tapi bagaimanapun, pak Don adalah seorang pelopor perubahan ke arah yang lebih baik. Seorang Pembaharu.

Seorang pelopor dan pejuang sejati seperti beliau tak kan pernah menyerah untuk menjadi koma dengan tak melakukan apa-apa. Beliau orang yang sangat kreatif, dan tak pernah berhenti dari aktivitas. Setelah dikeluarkan dari instansinya yang awal dia akhirnya membangun lagi instansi baru. Bangkit dari titik nol. Sahabat-sahabatnya yang mengerti akan perjuangan Pak Don, seperti Pak Yan Lethe, Pak Nogi, Pak Abed Nego dan lain-lainnya dengan tulus membantu. Kini jelas ia tidak sendirian lagi. Ide-ide pencerahan dari energi positif hidupnya semakin menggugah sahabat-sahabatnya untuk turun langsung membantu usaha-usaha beliau.

Pak Donald adalah sosok budayawan. Beliau orang yang punya kepedulian tinggi dengan budaya dan lokalitas Toraja. Ia tidak ingin menyaksikan kebudayaan toraja yang murni hilang tergerus oleh zaman dan tak terperhatikan. Ia sangat peduli untuk memperhatikannya, mendokumentasikannya, serta memfasilitasi untuk berkembang. Lewat bidang yang ia gelutinya – penerbitan – ia berusaha menerbitkan beberapa buku tentang kebudayaan Toraja (sastra, dll), disamping kalender Toraja. Bahkan untuk itu beliau terjun langsung ke medan-medan yang berat, seperti Toraja Barat. Anak-anak muda seperti Sanggar Dao Bulan yang punya gairah akan tradisi dan kesenian Toraja itu pun sering mengajak berdiskusi dan bekerjasama dengan beliau. Beliau memang orang yang kedua tangannya selalu terbuka secara hangat untuk siapa saja yang mendambakan kebaikan.

Lewat Siayoka, usaha toko buku, penerbitan, dan percetakan itu ia tak hanya membangun nilai-nilai ekonomi semata. Namun juga membangun dan melestarikan kebudayaan Toraja serta partisipasi langsung dalam mencerdaskan masyarakat Toraja. Maka tak ayal, ketika beliau masih terbaring sakit di RS Toraja, beliau sempat berpesan agar Siayoka terus jalan.

Sebelum menderita sakit, selain aktivitasnya di Siayoka dan di ranah kebudayaan, beliau masih menyempatkan waktunya di organisasi-organisai sosial. Sebut saja misalnya perhimpunan Batak di Toraja. Di organisasi tersebut beliau dipercaya sebagai ketuanya. Dalam perhimpunan ini beliau adalah seorang pemimpin yang dicintai dan dihormati warganya. Di luar organisasi itu, beliau juga aktif di suatu komite sekolah, suatu dewan yang mewakili para orang tua murid. Ide-ide kreatif dan kritis seringkali beliau munculkan tanpa segan-segan dengan niatan demi kemajuan sekolah.

Saya masih ingat betul, ketika suatu hari di Jakarta berdiskusi dengannya bersama teman-teman aktivis komunitas anak (Bela Studio), beliau banyak sekali sharing ide-ide yang membangun di dunia pendidikan. Berangkat dari pengalamannya secara langsung di dunia pendidikan di daerahnya (Toraja), beliau mencermati secara kritis tentang dana sumbangan dari pusat untuk sekolah, seperti “Dana Bos”, yang seharusnya digunakan untuk kemajuan sekolah, namun seringkali pada praktiknya menyimpang. Bahkan jika hadir dalam rapat-rapat komite sekolah, beliau dengan tegas menolak ‘pembagian uang hadir’ komite sekolah, “Saudara-saudara yang hadir di sini, marilah kita lihat WC sekolah. WC sekolah saja kotor dan tidak ada air. Bayangkan betapa susahnya anak-anak di sekolahan ini untuk buang air. WC yang kotor dan tak ada air itu jelas mengganggu kegiatan belajar di sekolah. Maka sangatlah tidak tepat dan tidak patut jika kita yang di sini sebagai anggota komite sekolah mau menerima uang seperti ini. Uang ini seharusnya justru digunakan untuk membenahi WC sekolah. Mari kita renungkan bahwa seharusnya kita memikirkan bagaimana agar komite sekolah justru mampu menghasilkan uang untuk membantu sekolahan”. Demikian beliau memaparkan kembali pengalamannya pada kami. Itulah sebuah sikap yang tegas dan kritis dari seorang Donald Hutabarat yang selalu berpijak pada nilai-nilai kebenaran.

Seingat saya Pak Don pernah menulis sebuah lagu keroncong. Lagu itu beliau ciptakan ketika berada di Hongkong. Saya sangat kagum pada syair lagu itu. Syair yang sederhana, namun begitu dalam maknanya. Menurut Pak Nogi – seorang sahabat beliau – syair itu sangat menggambarkan pribadi Pak Don. Demikian syair lagu itu ;

Ku mau memuliakan nama-Mu Tuhan kekasih jiwaku
dengan segenap jiwa dan ragaku dan dengan hidup kerjaku.

Ku mau memuliakan nama-Mu di sepanjang jalan hidupku
agar ku meninggalkan kegelapanku melakukan kehendak-Mu.

Inilah persembahan hidupku dan ajarku mengasihi sesamaku,
karena kasih karunia yang Kau berikan menjadi kekuatanku.

Rasanya, kepergian beliau itu terasa cepat. Kepergiannya seperti melengkapi misteri Tuhan yang sering berlaku di bumi ini untuk orang-orang baik, para pejuang, pelopor dan pemberani seperti John Lennon, Soe Hok Gie, Chairil Anwar, Bung Tomo dan lain-lain.
Tapi bagaimanapun spirit beliau tak kan pernah mati. Akan selalu kita kenang dan selalu kita lanjutkan perjuangannya yang ternyata mulia itu.

Selamat jalan sahabatku,
Namamu,
dan perjuanganmu yang tanpa pamrih itu
selalu terukir di hatiku
Berjalanlah dengan tenang,
Tuhan mencintaimu.

Pekalongan – Makassar, 30-31 Mei 2007

Tulisan Terakhir Buat Sahabat yang Berpulang

(naskah ini dibacakan di depan publik Toraja, malam sebelum pemakaman, 1 Juni 2007)

 

Tulisan Nashir sebelumnya :

Dalam Puisi Oo Ompung

Iklan

2 thoughts on “Pak Donald di Mata Hati Saya

  1. ND HUTABARAT berkata:

    DONALD HUTABARAT DARII TORAJA

    Saya tidak mengenal langsung Donald Hutabarat ini yang diceritakan Rekannya Fotografer Nashir, Saya turut memberi pujian pada pribadi Donald.

    Hanya sudah sering saya bertemu membaca DR Hutabarat (Teolog) Tokoh Gereja dan Orang Toraja, Isteri seorang Marga Hutabarat dari Batak, kata Rekan-Rekan / Kenalan Toraja, termasuk Pdt Manguling Sulaiman, yang pernah bertugas di Hamburg sebagai Pendeta selama 5 tahun di Persekutuan Keristen Indonesia PERKI KKI.

    Belum lama yang lalu DR Hutabarat bersama Anggota Dewan Gereja se Asia beliau sebagai Sekjen, saya milis komentar konvergensi disebarkan di antara Rekan MDIII Masyarakat Diskusan Interkontinental.

    Saya dapat menghikmahi pribadi sosial Donald Hutabarat sebagai Cerahan dan Pencerah untuk GP Generasi Penerus.

    Selamat Sejahtera bagi Keluarga Donal Hutabarat.
    Terimakasih kepadfa Informasi Nashir.

    NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus (LN di HH, K-7,5+))

  2. Saor Silitonga berkata:

    Amang Donald Hutabarat…. Saya tidak mengira dapat membaca dan ‘mendengar’ lagi cerita Mas Nashir tentang seorang Donald Hutabarat. Salam kenal Mas Nashir, saya Saor Silitonga yang pada malam ibadah penghiburan berada di antara orang ramai di Rantepao Tana Toraja, hening menyimak kisah persahabatan seorang Jawa Muslim dengan seorang Batak Kristen (suami pendeta pula) di negeri nun jauh di utara Provinsi Sulawesi Selatan, Tana Toraja. Benar belaka dan amat persis penuturan Mas Nashir. Sebagai sesama orang Batak di perantauan, naluri in group langsung mempertemukan saya dengan Amang Donald Hutabarat dan dengan isterinya Pdt. Ery Lebang, bersama dengan 2 putri mereka, Thea dan Cita boru Hutabarat. Beberapa kali bertemu untuk hanya sekedar nyanyi lagu Batak (marmitu, Batak) diiringi gitar di rumah beliau, adalah saat-saat yang tidak terlupakan. Rendah hati, cerdas, empati, adalah ciri sifat Amang Hutabarat yang sampai berpulang ke rumah Bapa didaulat sebagai Ketua Perkumpulan Batak di Tana Toraja. Rindu dengan sosok Amang Donald Hutabarat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s