sajak mati pada jumat

Thompson HS

 

kuingin mati pada jumat
dan dibakar pada sabtu
abuku ditabur pada minggu

ke danau abuku ditabur!
aku ingin berenang selama-lamanya di sana

dibacakan ditepi danau toba 17 September 2010

saat diskusi sekaitan dengan CEPITO 04 TONA NI TAO

Danau-Toba_35-web

Iklan

2 thoughts on “sajak mati pada jumat

  1. Sulaiman Sitanggang berkata:

    sajak yang indah. yang lahir dari sebuah penyikapan atas hidup. atas periodik kehidupan, kelahiran dan kematian. sikap yang lahir atas keteguhan tujuan dan pemaknaan jejak langkah dalam menelusuri sejarah hidup. apakah kita sedang menjalani mimpi orang lain, mewujudkan impian sejarah orang lain. atau sebaliknya, kita melahirkan mimpi kita sendiri, mengasuh dan membesarkannya sebagai manusia merdeka. manusia yang hendak menuliskan sejarahnya.

    quo vadis dijawab dengan sebuah sajak. sajak yang tak biasa. sebab daya pengaruhnya yang menguntit. membayang setiap hati yang membaca. aku yang dibakar menjadi abu dan ditaburkan di danau toba, ingin berenang selama-lamanya disana. kata-kata yang diucapkan dengan sederhana namun sublim dan menghentak. begitulah sifat sajak yang mengkristal dari pengalaman dan perjalanan hidup. kuingin mati, kehendak aku lirik merayakan babad akhir panggung kehidupan ini. arah kematiannya menuju sebuah kegembiraan yang abadi. seperti keriangan anak-anak berenang di tepian danau toba.

    apalagi sih yang membuat seorang menyadari dan menghayati hidup, selain ruang dan waktu yang berwajah kesementaraan. yang adalah kematian itu sendiri. bahwa semuanya kan berujung. di bawah matahari yang sama ini. oleh karena kita menuju kesana, lubang kematian yang menanti-nanti itu. dan hidup pun mesti takluk saat waktunya telah tiba. tak ada yang tahu kapan ia akan hadir dan menyapa. sementara itu, kita menunggu. melukis serangkaian tunggu. apa yang ditunggu di sebalik kematian itu. apa yang dikerjakan sembari penantian itu. penyair besar, chairil anwar, turut bersenandung, bahwa hidup adalah menunda kekalahan. aku tetap meradang menerjang. aku mau hidup seribu tahun lagi.

    sedikit tak sama dengan chairil. sang penyair hendak mengisi hidupnya yang abadi dengan berenang, riang dan gembira. andai chairil membaca sajak ini. chairil yang lahir di medan itu tak sempat menikmati keajaiban danau toba. sementara penyair ini, Thompson Hs, ia sosok pencari kesejatian yang bermuara di danau toba. kemanapun langkahnya menjejak, hati jiwa dan pikirannya menuju danau toba. entah apa pesona danau yang ajaib itu baginya. bahkan abunya ingin menyatu abadi bersama sang danau.

    barangkali disanalah rumah impian sang penyair. tempatnya berada selepas semuanya telah berlalu. sajak ini di bacakan langsung oleh sang penyair di tepian toba. dan kembali, danau toba menyimpan segala peristiwa di garis wajahnya yang elok, tenang dan teduh. bahwa danau ini punya cerita. cerita tentang seorang penyair membacakan sajaknya di suatu sore yang berbisik. kelak, anak-anak jaman yang berenang di tepiannya kan membacakan kembali sajak mati pada jumat. sembari menatap lepas panorama danau toba yang mempesona. kepada siapakah sajak itu kelak akan dibacakan kembali? kepada sang penyairnya yang sedang berenang bersama ombak danau. kepada siapakah penyair membacakan sajaknya di jumat tempo hari? kepada sosoknya di masa yang akan datang.

    tetaplah menginspirasi duhai penyair…

    salam
    -sstoba

  2. B.Parningotan berkata:

    tu ise nama masidengdeng angka parlange ni tao toba, tu angka pinompar dohot ianakonta tu joloan. ingkon ta hajobhon gombaran ni ardang i tu angka ianakkonta. Ingkon tongtong saksak manang bandang berengon, asa tongtong manggait berengon, unang gabe songon na gambalgambal ….o tao toba…..sai tu si do ahu marsihol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s