Tona ni Tao

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 04 : Sangkamadeha dan Hariara Sundung Dilangit)

 

"Sedikit tentang batak, apa yang sudah pernah ada kini menjadi tiada. Dan ada upaya untuk melupakannya sama sekali". Hingga pada satu titik, manusia bertanya dan menunggu jawaban.Tak hanya menunggu, ia bergerak dalam sebuah jalan pencarian. Mencari jawaban. Tentang apa dan mengapa segala keberadaan ini. Sejenak merenung dan mengingat kembali. Apa saja yang pernah dicapai oleh sebuah peradaban, dan apa saja yang terlupa dan terabaikan oleh peradaban. Ialah insan sejati, sang manusia yang melangkah dan meninggalkan jejak di bawah matahari yang sama, menuang dan meneguk kelegaan dari sumber mata air yang sama, dalam rentang ruang dan waktu kesementaraan ini.

 

Lalu bagaimanakah manusia mengisi dan menjalani kehidupan. Seumur manusia itu sendiri, ada yang tak pernah tuntas, yang tak pernah selesai. Manusia menjadi satu-satunya makhluk yang tak pernah menjadi. Sementara itu, senantiasa berproses menjadi. Dalam pengosongannya dalam pemenuhannya. Ia memberi, ia mengambil. Ini dan itu dalam diam dan gerak. Ia tertawa, ia menangis. Ia pahit, ia manis. Hidupnya yang berdiri diantara paradoks. Disertanya ia mencari titik keseimbangan. Harmoni yang selalu menuntut perubahan yang tak statis. Dalam proses menjadi, ia mengukir wajahnya dengan ragam perubahan. Sejarah tak henti mencatat, perjalanan mata penanya. Manusia itu pernah menyebut kediriannya batak.

Sang pendahulu tentu saja meninggalkan catatan dan pertanda untuk generasi kemudian. Keunikan para pendahulu yang menyimpan apik kisah kisah abadi pada huruf, pada angka, pada nada, pada gambar, dan pada rasa. Jika leluhur mereka yang disana punya cerita, mengapa leluhur yang disini tak boleh bersuara dan bercerita untuk anak-anak jamannya. Ah, mereka itu, yang pernah hadir di tanah moyang ini membawa serta wajah hegemoni dan dominasi di berbagai sisi relung hidup dan sistem sosial. Tak terelakkan. Segala yang pernah ada disini, di bumi leluhur ini, kemudian dilupakan dan ditinggalkan. Penjajahan kultural yang luput dari pandangan.

Yang terpinggirkan, yang suaranya tak lagi dirindu-dengarkan, adalah batak. Pernah memiliki jawaban atas ragam pertanyaan keberadaan dan kehidupan manusia. Batak, the master of life and living. Teridealisasi dalam tata cara dan ritual perayaan hidupnya. Ia yang menjadi raja atas kediriannya. Serupa jagat tanpa batas yang telah tuntas. Seiring waktu termanifestasi dalam kotak-kotak hidup yang dibentuk oleh tangan-tangan leluhur. Kotak hidup yang dibangun diatas sebangunan pemahaman dan pengertian yang bersumber dari kebajikan kesejatian alam semesta. Ddari dan menuju semesta jagat, itulah yang menjadi titik mula dan ujung inspirasi habatahon. Kelindan antara mikrokosmos yang tak terpisahkan dari makrokosmos. Batak, adalah jagat tanpa sekat. Sepenyatuan kosmos, kesanalah kesadaran mata hati dan mata batin leluhur memandang. Hasil penglihatannya ditempa-bentukkan untuk menjawab tuntutan kemanfaatan hidupnya. Tangan dan kakinya bekerja. Hati dan pikirannya berkarya dan mencipta. Batinnya menjiwai sepenuh hayat. Batak dalam keseluruhan hidup dan matinya mengharapkan manusianya berani memaknai hidup semasa hidup, dan hidup selepas mati. Bahwasannya bersumber dari hal-hal kecil yang hakiki, disanalah batak meletakkan jejak kesejatiannya.

Katakanlah unit terkecil kesatuan sistem sosial, yaitu keluarga. Batak melahirkan sebuah sistem silsilah marga dan jejaring sosial yang kompleks yang hingga kini masih digunakan generasi penerusnya. Tak sedikit, bahkan dasar pemikiran besar filsafat yunani lahir dari pemahaman keluarga dan kekeluargaan. Sebelum paradigma yunani hadir di muka bumi ini, dimanakah paradigma batak? Ada di unit kesatuan terkecil sistem sosial batak, yaitu keluarga marga. Bertahan hingga pada jaman mutakhir kini. Sanggupkah paradigma modern (turunan peradaban yunani) mendekonstruksi dan merekonstruksi budaya batak yang otentik, original, dan telah terbukti bertahan sekian waktu lamanya?

Untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan keluarga marga yang kecil itu, batak juga mendisain arsitektural rumah tinggalnya dengan mengambil pemahaman dan inspirasi dari makhluk-makhluk kecil. Seperti ayam (manuk), cecak (boraspati), ulat (jenggar), dan belalang (sihapor). Kearifan apa yang terlihat dari makhluk-makhluk lemah dan rapuh namun memiliki kekuatan daya survival yang tinggi itu? Memahami keluarga batak tak dapat dipisahkan dari memaknai bentuk dan disain arsitektural rumah tinggal sang keluarga dalam ruma batak.

Dimanakah jejak peradaban berada? Untuk ditelusuri anak-anak jaman. Tak hanya pada artifak dan sisa peninggalan peradaban, namun ada pada manusia dan keluarganya. Bagaimana memahami manusia batak? Dari ragam karya cipta manusianya yang terlihat dalam kebudayaannya. Adakah upaya mendata kembali hasil kebudayaan batak? Dalam hal ini, kita dapat mengajukan pertanyaan serius, jika leluhur pernah menciptakan peradaban dan kebudayaan, maka apa yang sudah diciptakan manusia jaman sekarang? Jawaban untuk pertanyaan ini mudah terlihat pada kehidupan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Bagaimana itu, ya itulah yang telah diciptakan peradaban kekinian. Nilailah sebuah negara dari keluarga yang hidup di dalamnya. Mungkin saja, sulit mendefinisikan konsep politik negara dan kerajaan pada kepemimpinan budaya batak. Namun, jelas dan nyata ada konsep keluarga batak. Dan ada konsep raja dan pemimpin disana. Batak memahami raja seperti apa? Seorang boleh saja melupakan negaranya, namun ia terlarang untuk melupakan keluarganya. Dari sanalah ia berasal dan kesanalah ia kembali. Pun tak sedikit negarawan abad kekinian yang pernah berujar, keluargaku adalah negaraku. siapa keluargamu duhai batak? siapa rajamu duhai bangso batak? siapa dirimu duhai orang batak? Batak pernah berhasil menjawab eksistensi dan esensi kehidupan dan peradabannya. itu dulu, sekarang entahlah.

Diantara banyaknya pertanyaan yang menuntut jawaban runut dan terstruktur, itu mesti dilahirkan dari sebuah kesadaran otentik yang dimiliki oleh batak. Yang disimbolkan dalam sebuah metafora pohon (hau). disebutnya hau "sangkamadeha". Siapa yang tidak heran, kalau ternyata konsepsi pohon kehidupan dimiliki oleh budaya batak. Sejak dulu sekali, jauh sebelum apa yang ada sekarang ini. Sama seperti seorang bisa terheran kalau menurut tradisi pengetahuan batak ternyata ada kronologi nirkala keberadaan semesta yang jauh berbeda dari konsepsi penciptaan menurut tradisi samawi. Mula jadi nabolon dan Siboru deak parujar. Selain itu, parhalaan, perhitungan waktu kosmos juga menempatkan batak sebagai sebuah bangsa yang pernah menguasai jalannya pengetahuan dan pemahaman akan misteri semesta jagat ini. Di jagat ini, pernah ada sebuah peradaban melahirkan huruf, angka, gambar, standar ukuran volume, perhitungan kala, keteraturan sistem sosial, dan sebagainya.

Bukan hendak membanding-bandingkan interpretasi kosmos (karena kesadaran bukan untuk dikonfrontasikan, selebihnya niscaya dikomprehensifkan). Namun, semestinya ada penghargaan dan penghayatan terhadap kesadaran otentik yang pernah dimiliki dan diturunkan turun temurun oleh leluhur batak. Artinya, harus ada pelurusan sejarah. Siapa saja yang bertanggung jawab terhadap hilang dan punahnya kesadaran kosmos itu? Bila pun tidak ada yang mau mengaku dengan terhormat dan bertanggung jawab dengan ikhlas terhadap pemulihan budaya yang tergusur dan tertindas kini, kita masih bisa memungut serpihan yang tercecer. Sisa-sisa hegemoni dan dominasi itu masih bisa kita kumpulkan. Sebelum segala sesuatunya telah menjadi terlambat. salah satunya, kesadaran hau "sangkamadeha". Pohon inspirasi.

pohon kehidupan batak, disebut "sangkamadeha"

 

Jika pohon sebagai metafora penghidupan, maka konsepsi *hamoraon, *hagabeon, dan *hasangapon adalah bersumber dari pemahaman dan pengertian hau sangkamadeha. Monang Naipospos pernah berujar dalam Sangkamadeha :

Biji berkecambah, tumbuh tunas dan mekar muda. Dahan mengembang ke samping, ke segenap penjuru angin, bagaikan tangan-tangan membentang “mandehai”. Tumbuh makin matang “matoras” dan semakin kuat “pangko”. Torasna jadi pangkona, diartikan kedewasaan yang dibarengi kebiasaan-kebiasaan hidup menjadi tabiat. Torasna jadi pangkona, somalna jadi bangkona.

Sangkamadeha mengartikan manusia mengekspresikan hidup dan kehidupannya dalam dunia nyata dengan segala kebanggaan dirinya. Kebanggaan terpuji adalah tabiat yang baik dan benar, sesuai hukum dan adat istiadat. Inilah kemudian disebut “hasangapon”. Cabang dan ranting yang banyak akan mempengaruhi kerimbunan dedaunan. Akar yang kokoh dan kerimbunan daun adalah gambaran “hatoropon” banyaknya populasi yang kemudian disebut “hagabeon”. Buah adalah biji disertai zat bermanfaat untuk pertumbuhan kelanjutannya dan stimulan kepada mahluk hidup untuk menyebarkannya. Ada buah, ada pemanfaat dan ada pertumbuhan, dan inilah yang disebut “hamoraon”. Sangkamadeha adalah penggambaran pohon kehidupan dan hidup yang diberikan Mulajadi Nabolon kepada manusia. Pohon ini sejak muda hingga tua tumbuh tegak lurus dan tajuknya menuju (sundung di… ) langit.

Belakangan ini pertemuan yang tak direncanakan sering terjadi di tepian toba, kota balige yang memiliki turunan kata dari mahligai raja (bahasa melayu) menjadi balige raja. Tinggal sedikit yang mengetahui dengan tepat napak kilas sejarah "mual si guti" sebagai awal mula terbentuknya kota kecil, Balige. Keakuratan dan kejelasan telisik sejarah ini pun layak dipelajari untuk menanamkan kesaradaran sejarah kepada setiap generasi yang dilahirkan dan dibesarkan di bagian selatan Danau Toba ini. Kehadiran beberapa sosok meninggalkan kesan yang tak mudah terlupa. Tersebutlah, Monang Naipospos (penggiat budaya dan pelopor weblog tanobatak.wordpress.com, Jimmy Purba (arsitek dan dosen ITB), Miduk Hutabarat (arsitek dan dosen USU), Thompson Hs (penyair dan sastrawan, penggiat Opera Batak), Klement Sinaga, Roy Marko Tinambunan, Freddy Siahaan, dan penulis sendiri, pemuda-pemuda Batak yang bersemangat dan berjiwa muda.

"Taburkan abuku di Danauku", penyair Thompson Hs membacakan salah satu sajaknya yang berjudul "sajak mati pada jumat". Sementara itu, Jimmy Purba dan Miduk Hutabarat asik berkelakar mendekonstruksi musik alam. Dengan memperlakukan musik sebagai makhluk hidup, niscaya kita akan menemukan konjektur fisika musik yang akan diaplikasikan dalam rencana pembangunan Gedung Opera Batak. "Kita tak bisa semudah itu takluk pada standar gedung opera barat sana yang menitikberatkan pada struktur massive yang kaku. Sebaliknya, di lembah dan gunung yang mengelilingi Danau Toba ini, akan berdiri sebuah bangunan gedung yang otentik dan original. Sebagai representasi mikrokosmos (manusia Batak) dan makrokosmos (semesta jagat Toba)". JP seperti sudah tak sabar menanti babad baru tanah batak. Dan itu akan dimulai di Balige dan Samosir.

Untuk musik, Museum Jepang sendiri mengakui Gondang Batak sebagai ansembel purba yang bertahan hingga abad mutakhir, yang memiliki keunikan dan rahasia sakral. Repertoarnya yang bisa diimplementasikan dalam ragam aktifitas sosial yang tak bisa lepas dari nada dan irama. Akan seperti apakah hidup ini tanpa kehadiran nada, dan bagaimanakah kita memperlakukan para seniman nada, menjadi pertanyaan tersendiri yang harus mampu kita jawab. Tentu saja, para seniman musisi itu tak asal dalam memainkan gondang yang membutuhkan spirit kolektifitas dalam memainkannya. Darimanakah asal mula Gondang Batak? Monang Naipospos menghentak wajah Danau Toba, berharap wajahnya yang teduh memberikan bisikan dan jawaban untuk membungkus kesadaran, kepada anak-anak jaman yang sedang berkumpul berserikat di tepiannya.

 

"tek tek mula ni gondang, ser ser mula ni tortor"

Sekali lagi, MN mencoba merasionalisasi gondang. Untuk dipahami dan dimengerti oleh peradaban yang katanya rasional ini. Dengarlah sesaat hujan akan turun, bebunyian tek-tek-tek…air menetes mengisi relung jiwa, membasahi kerinduan akan kesejatian. Bumi yang haus, tanah kering sudah mau basah. Menanti turunnya hujan dari langit. Ser-ser-ser… lalu hujan turun dalam debur deras yang perlahan menyusuri permukaan bumi. Tetesan air menari-nari bergerak ke setiap celah kering yang menanti hadirnya. Dan bumi pun hidup kembali. Tumbuhlah yang tumbuh, berkembanglah yang hendak berbuah. Leluhur pun mengabadikan peristiwa inspirasi alam ini ke dalam olah karya seni yang lahir dari hasil rasa, karsa dan cipta. MN mencatat kearifan itu dalam catatan singkat dan padat dalam Pemahaman Gondang Batak.

Miduk Hutabarat menyampaikan dalam kelakarnya, sepertinya kita sudah mulai sadar bahwa ada yang sakit dengan jalannya kehidupan ini. Dan pertemuan tak terencana seperti ini bukan tak mungkin akan melahirkan cikal risalah kebangkitan Batak yang selama ini dituduh sebagai dunia yang penuh kegelapan. Oleh mereka yang mengklaim diri "para pelita". Seandainya nih, kelak kita sampai pada sebuah konvensi kesadaran yang telah tercerahkan bahwa Batak bukanlah kegelapan, tentu saja di bumi Tapanuli yang teduh, tenang dan harmonis ini tak butuh kehadiran mereka yang menyebut diri, para pelita, yang terjebak dalam mimpi menjadi garam dan terang bagi dunia.

Thompson Hs menambahkan pada perbincangan sore itu, bahwa kebangkitan budaya tak bisa lepas dari jalan konspirasi. Kita bisa belajar dari kebangkitan Bali dan budayanya yang merupakan sebuah konspirasi kebudayaan. Konspirasi kolektif. Itu adalah politik kebudayaan. Sejauh mana, Museum Batak, yang dipelopori oleh TB Silalahi Center, yang akan hadir di desa kecil pelosok, PagarBatu Balige mampu menjawab tantangan gerakan kultural kebudayaan batak. Para museum berjalan, para seniman, para pemerhati, para penggiat, dan para insan yang melaksanakan budaya batak itu sendiri tentu saja memiliki peran yang sangat vital untuk menghidupkan dan memupuk semangat dinamisasi kebangkitan kebudayaan batak.

Pertemuan lintas generasi ini belumlah tuntas. Dan tidak akan pernah selesai. Aku Batak maka aku ada. Kita Batak maka kita menjadi. Sementara kita menggagas ide dan pemikiran, mari kita belajar, bekerja, dan berkarya. Mencintai Batak adalah Menginspirasi Indonesia dan Dunia.

 

inspirasi tepian toba, saat senjamu berbisik

 

duhai toba

di sudut pagimu yang teduh terbit

di tepi batas senja yang tenang terbenam

pada bantaran alirmu yang sunyi senyap

danaumu bersenandung

sayup terdengar kerinduan leluhur

menitip pesan kepada telinga yang mendengar mulutnya

disanalah lintas generasi kekinian duduk seputaran meja

mereguk aroma kopi berilmu

menggagas gerakan kultural

mencintai batak menginspirasi dunia

terukir pada wajah danaumu

terpatri pada hamparan gunung yang mengelilingi indahmu

kemanapun arah langkah kaki ini menjejak

kepadamu jualah hati jiwa dan pikiran menyatu padu

 

siapakah ibu bumi bagi anak-anak jaman

adalah engkau semesta para leluhur mencatat sejarah

tentang batak yang sudah pernah ada dan kini menjadi tiada

o deak parujar, ijinkan anakmu memeluk siang dan malam yang hendak melupakanmu

o mula jadi na bolon, berikan pertanda dari terang gelap langitmu yang bertabur bintang gemintang

karena batak bukan kegelapan yang membutuhkan pelita

karena batak adalah semesta insan menjalani hidup

dan semesta adalah asal usul habatahon

 

sstoba, september2010

Iklan

6 thoughts on “Tona ni Tao

  1. 1.Terimakasih rilis tiba
    2.Beberapa hadirin Rapat Balige sudah saya kenal walau hanya via internet.
    3.Global diskusi kena dalam apa mengapa bagaimanamesti .
    4.GP Generasi Penerus Kontemporer, kita, bisa akan memulai.
    5.Observasi Diagnosa Terapi akan dijalankan
    6.Mulai dari Tim Kecil cq ini
    6.1.Dengan anggota variasi akademika universitaria honoriskausa
    6.2.Kalian memgingatkan saya pertanyaan Sitor Situmorang
    6.3.Juga ingatkan Nueurisitas Plato-Sokrates-Aristoteles dst
    6.4.Juga lanjutan Charles Darwin, Einstein, Hawking, Mike, Davis dll dst
    6.5.Pokoknya benar Diskusi Batak Global Lokal Makro- Mikrokosmos
    6.6.Itulah Konsep Pikir Unitarial
    6.7.Kelengkapan Awal dari Mulajadinabolon
    6.8.Yang diterima Bataraguru diteruslakan pada Putrinya Deak Parujar
    6.9.Diterima di Dunia Para Dewa
    6.9.Dibawa ke Dunia Bumi
    6.9.Agar dijabarakan di DGK Demografika Geografika Kulturologika
    6.9.Mulai di Wadah Inti Keluarga DNT Dalihan Na Tolu
    6.9.Yang Natural ke Kultural : Modernisasi
    6.9. Senantiasa pahami via metode ITSS Ilmiah Teknologi Sekural Sakral.

    7.Mohon Lanjutkan

    8.Siaga Kesinambungaan

    9.NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus, K 7,5+

  2. mantafss… tulisan yg lugas dan pemaparan yg luas, salut untuk Lae Sulaiman Sitanggang, pengetahuan Lae yg luas tentang Habatahon bisa menjadi harapan di generasi muda Batak… Mauliate.

  3. kita batak maka kita menjadi, kita menulis maka kita menjadi, kita menghayati hidup maka kita menjadi. sejatinya demikianlah kita, batak dan budaya batak bereksistensi.

    lae sulaiman, aku yakin kau salah satu jadi harapan besar untuk menghidu…pkan budaya batak yang mungkin pernah ada dan kini tiada. berkaryalah terus lae. karena kau batak, kau ada. akan tetapi, karena kau berkarya maka kau menjadi. dengan kata lain: karena kau berkarya, maka kau tamvan, Lelakiku 🙂

  4. Sulaiman SItanggang berkata:

    mauliate atas apresiasinya. salam hormatku untuk mereka yang telah menginspirasi, mengapresiasi, dan selalu mensupport. mohon pengertian untuk segenap kekurangan, keterbatasan dan ketidaklengkapan data dan informasi.

    salam kenal kepada tuan ND Hutabarat. kalau bisa saya tahu ID fb nya tuan. biar semakin interaktif dan memudahkan pertemuan kita di partungkoan na marsangap ini.

    lae Michael, terima kasih untuk harapan dan dukungannya. mari berharap yang terbaik.

    lae John, ah kau ini! karya2 dan racauanmu juga telah menginspirasiku brader… thanks yo Tamvan.

  5. B.Parningotan berkata:

    surat na bagas lapatanna na pataringothon, na boi gabe jamajamaon ni ngolunta tujoloan
    Horas

  6. horas tano batak ! ba molo binereng tu judul ni situs on” TANO BATAK ”
    adong do bahasanta asatabo hita ba tapangke ma ba bahasa batak ki,asa lamdiantusi angka dongan ta nahurang diboto marbahasa batak,ai songon ni dok ni natua-tua ,SOMAL NADO BANGKONA ,BANGKONAI GABE SOMAL NA. JADI ANGKA DONGAN TAPASOMAL- SOMAL MA MARBAHASA BATAK Asa unang punah i bahasa batak ta na tung mansai uli i . mauli ate tusude hita bangso batak ,didia pe hita maringanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s