Inang

Zulkarnain Siregar

 

masih kuingat inang…
ceritamu itu terngiang di telinga
ketika seorang lelaki gagah
datang dari kampung seberang
ingin meminang walau cuma
mahar kain panjang
yang diselempang
pada pinggang

 

dia datang dalam seribu bayang
rasa di angan memutik lalu taburkan asa
semerbak merona pada holong ni roha
di tangan merekah hati bagai mawar mekar
menghias jambangan di taman halaman
yang kautanam aneka kembang
dekat rumah berkolong lapang
di sudut jalan bersimpang
batangkuis, deli serdang

 

lalu mawar mekar di bawa pulang
ke kampung seberang, tanah lelaki
peminang, luat tapian nauli
bagas ni oppung , sisi kiri mesjid
belum sampai titi pinangsori

 

dia datang dari seberang
seorang lelaki serdadu perang
berwajah garang
pergi ke medan juang
tak berkabar pulang
hingga terdengar hilang
tinggalkan inang
membanting tulang
demi semata wayang

 

masih kuingat inang…
manetek ilu mi
saat cerita itu terkenang
pada lelaki peminang yang
terngiang hilang di medan juang
tak berkabar pulang
hingga petang menjelang

 

jangan kau hapus air mata itu
biar dia mengalir menyejuk
mawar yang dulu mekar
selalu menghias jambangan
di taman halaman yang sempat
kautanam aneka kembang

 

76820_178889852125790_100000143290129_738593_8324708_nBuat inang, istri pejuang di medan perang

Iklan

4 thoughts on “Inang

  1. Amang Zulkarnain Siregar,

    Teringat Masa Doeloe, saya juga masih ada kini, 1935 lahir di Huta Doloknagodang Lembah Silindung.

    Sudi Pak Z Siregar terus bertutur, kisahnya dibutuhkan GP Generasi Penerus.

    Kami 6 bersaudara 2 putri 4 putra, juga ditinggal Amang, tiba-tiba, kelahiran 1800-an, beliau setiap minggu hari tertentu rutin berangkat dagang berjuang mempertahankan kehidupan keluarga, sepuluh hari sebelumnya saya putra bungsu mereka di kampung kami di lereng Bukit Siatasbarita, sakit panas sangat tiggi Fiber, Amang tak sampai hati pergi walau di lembah sana kedengaran klakson Bus Adelim, syukur segera temperatur saya menurun, dan segera syuman segar kembali si anak jenaka mainkan mimik pada semua.

    Namun 10 hari kemudian hanya sakit sebentar, Amang meninggal tenang. Saya hanya ingat cerita Inang tentang Amang tatkala Inang sendiri biasa dalam rutin tugas sebagai Ibu, dan Bapak embawa saya sering ke Harean di sebuah Lapo sebuah rumah sudah lumayan luas dan bagus, bersama teman-teman setolok umur sebagai waktu istirahat dari harikerja berat kaum Bapak. Saya umur sekitar satu setengah tahun.

    Saya anak segera bisa kuat, gemar jalan mau lihat ingin tahu sekeliling. Satu hari dari Lapo itu Amang tertidur lelah, dan saya jalan terus ke jalan menuju dan mulai lalui Jembatan Harean itu, yang cukup panjang membentang Sungai Aek Situmandi yang luas, tapi di sana sini sudah ada lobang, tiba-tiba diteriaki orangtua anak siap itu di jembatan, dan hiruk itu didengar Amang serta segera berlari mengejar sya, syukur tidak terjadi sesuatu, sambil berlari memeluk saya, dan segera pulang 2 km itu ke Doloknagodang kampung kami, Amang seolah melapur terperanjatnya kepada Inang, kekasih mereka saya si bungsu (Siampudan) yang sangat disayang hampir ditelan marabahaya.

    Memang Inang, Ibu, segera memeluki saya terisakisak, sambil membentak Amang, bahkan turut terisak. Begitu cintanya mereka pada saya !

    Tentu saudara-saudari saya semua memandangi, saya ingat, mereka ada terutama kemudian putri berdua berkata, kasihan adik kecil, tak merasakan peninggalan Amang, memang simpanan keluarga untuk anak tertur ditabung di bank, yang kemudiasn dengan Ibu yang sanggup wirausaha membantu Abang (Pimpinan keluarga Interpares), syukur bisa menyelesaikan Pendidikan Guru Huria, sudah sanggup Tugas Jemat tanggugjawab Semi Tugas Pendeta bahkan dikirim ke Daerah Lain, ia baru umur 16 th tamat di Sidikalang, karena tanggungjawab keluarga, segera tugas kerja Wirausaha Keluarga, menggunakan Unag Simpanan Bank, pertama ia harus Berkeluarga Umur 19 Th dan Membuka Toko di Kota Tarutung selanjutnya sambil Tugas Negara terus berjuang membela keluarga Ibu menyekolahkan Adik semua, sampai tumpas usaha masa Perang Revolusi. Hanya 1 Tamat HIS Abang Kedua, dan direncanakan masuki Pendidikan Militer Marsuse Parapat, dan saya si Bungsu nangis minta ikut ke Siantar agar pasti bisa Sekolah dibimbingan Abang jadi Guru Pemerintah, bersama Keluargamudanya yang sangat sederhana gajinya, syukur Inang terus wirausaha kecil bisa sekedar membantu bawa beras dsb. Dan memang Kakak Isteri Abang berkata, saya biar dibawa ke Siantar, tambah 1 orang makan sama dengan yang harus lain bisa diatur, Saya memperhatikan Kakak Ipar itu bagaimana bijaknya penuh Cintakasih di Keluarga Abangtertua itu.

    Tahun 1966 Maret Inang wafat di Medan hampir umur 80 th, semua kami 6 dibesarkannya, saya bisa tamat SLA berganti tinggal Antarkeluarga Kami selanjutnya Usaha sendiri ke Perguruan Tinggi DN LN. Tapi saya seminggu sebelum Inang pergi, minta izin berkeluarga ditunda, sering jalan interkontinental, masih berjuang karier, dan lakukan voluntir saya sudah sebagai informan Abang TP Pejuang 45 (saya masih umur 11-12 tahun) masa aktip bantu keluarga Abang Tertua, sebagai Penjual Rokok Keliling di Pematang Siantar Masa Akasi I II Perjungan RI.

    Sejak 1995 saya pensiun tapi terus kerja Voluntir Pencerah GP Generasi Penerus, tinggal masih di Dunia I, setelah memahami KBP Kulturbudaya-peradaban Dunia I II III.

    HJG ! Dirgahayu ! GBU !
    NDH

  2. Bapakku memang gak ikut perang..tapi cepat meninggalkan inang karena meninggal. Inang membesarkan kami anaknya 7 orang. Kadang harus gaji-gajian ke orang lain untuk uang sekolah ANAKNYA…Tapi semua anaknya berhasil…

    Tanggal 27 Mei 2011, iNang meninggal dalam usia 86 tahun. Sai sahat ma ho inag tu surgo hasonangan i. Manumpak ma sahalam tu hami angka gelleng mon.

    Selamat jalan INANG NABURJU….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s