Risalah Waktu

Sulaiman Sitanggang

Seiring waktu, apakah orang modern lebih bahagia dari orang dahulu? Apakah orang kota lebih bahagia dari orang desa? Apakah yang tinggal di tepiannya lebih menikmati danau toba dari mereka yang jauh disana? Waktulah yang menentukan.

Waktu bisa menjadi segalanya. Ia bisa menjadi lawan. Namun, ia juga bisa menjadi teman merajut keakraban walau didera sempitnya kesempatan yang luang. Berlaku untuk mereka yang selalu mencoba mengasah niat tulus tanpa motif ekonomis. Bukankah belakangan ini waktu telah menjadi sedemikian identik dengan fluktuasi ekonomi. Efektivitas dan efisiensi melilit pinggang yang dibanderol dengan prosesi untung rugi. Tak pelak, waktu berubah menjadi sahabat yang jahat. Menghabiskan waktu bersama kawan, teman, dan sahabat tak lagi berarti, sudah tak bermakna. Meluangkan waktu untuk sekedar menatap dan melepas rindu kepada birunya Danau Toba sudah tinggal impian belaka. Di perantauan atau di tanah leluhur, manusia telah bertransformasi menjadi makhluk yang terpidana dan terkurung oleh waktu. Tahanan waktu, selamanya. Tak efektif, tak efisien lantas tak masuk hitungan kesuksesan yang mekanistis dan logis. Namun, acap setiap berhadapan dengan situasi yang meletakkan waktu pada titik kritis, saya selalu ingat apa yang pernah disampaikan adage itu, "the time you enjoy wasting, is not wasting time!"

Jika waktu itu adalah jahat, tidak demikian halnya dengan suatu sore di tepian Toba. Apa gerangan seorang sahabat dari Kalimantan sudi membuang waktunya untuk datang ke kota kecil Balige ini. Apa urusan seorang sahabat hadir dari Jakarta berbagi tawa dan keceriaan, tak peduli berapa waktu yang dihabiskan. Apa hasrat seorang sahabat dari kampung terpencil di pebukitan Siboruon turun gunung berjalan kaki menembus kabut dan jalanan berlumpur, tak peduli usia yang semakin merontokkan kuat kekar yang dulu melekat di tubuhnya. Saat jarak berpacu dengan waktu, persahabatan mengalahkan segalanya. Setiap detik begitu berharga, tak peduli bentaran jarak waktu pada usia, persahabatan selalu berharga untuk dimiliki.

Lelaki berpostur sedang berkulit legam itu amat mengesankan. Hitam adalah eksotisme tiada tara, paparnya yang akrab disebut tulang birong. Setidaknya bagi saya yang selalu teramat mudah berdecak kagum kepada mereka yang mau bersakit lelah mengasah mata pena menjadi setajam cahaya merobek tirai kegelapan. Kugenggam Sordam, buku karangannya yang khusus dipersembahkan untuk pergerakan Cinta Danau Toba Biru. Ini kali pertama saya mengikuti pola populer di kalangan peminat baca, yaitu mendapatkan segores tanda tulisan langsung dari ujung jari sang penulis. Ah, buku dan tanda tangan ini hanya alasan bagi saya untuk menyibak kebersahajaannya. Bukan sahabat namanya tanpa unsur sahaja yang melekat. Berjam-jam kemudian ia dengan piawai melarutkan nuansa keceriaan humoris yang disertai tawa membahana diantara insan yang berkumpul dari segala penjuru. Barangkali ada benarnya yang dikatakan Horace, "Life is a comedy for those who think, and a tragedy for those who feel".

Ia lalu tiba, menjejakkan langkah di kedai sederhana yang biasa kami sambangi setelah beberapa putaran purnama. Kerap ia menekankan pada sahabat yang baru bergabung, di sudut ini dan di tempat inilah kita menghabiskan waktu. Di sela ragam kesibukan yang pelik. Sangga tupa, sangga pajumpang. Kata lain dari spontanitas dan naturalis yang menjadi ciri khasnya. Originalitas tentu saja melekat padanya. Barangkali ia adalah salah satunya pemerhati budaya Batak yang otentik, tanpa kutip mengutip dari orang lain apalagi bangsa lain. Lain daripada keotentikan itu, hanya penganut referensi gadungan yang minim penjiwaan akan apa itu Batak sesungguhnya. Aku tahu karena aku Batak. Aku Batak maka aku menjadi. Menjadi Batak tak pernah selesai. Begitu ia menimpali pertanyaan orang yang baru muncul dengan kalimat ‘kok bisa tahu hal itu?. Ia selalu bisa memunculkan kehadiran. Termasuk saat setiap kepala telah lelah menguras ketajamannya, ia akan memainkan kedalaman hati. "Lihat, biarlah kali ini danau toba yang menjadi penonton bagi kita. Tak kah kalian rasakan tak berhingga mata sedang menatapi keberadaan kita di tepian ini?" Ia penggiat weblog tanobatak yang sudah dikunjungi ratusan ribu pejalan maya. Sore itu wajahnya menyiratkan kesedihan yang tak bisa ia tutupi. Dua orang terhormat dalam pandangan hidupnya dan guru dalam berbagai hal baru saja menghembuskan nafas terakhir dari waktu kesementaraan hari kini. RB Marpaung (Ompu Miduk 67 thn) akan dikebumikan Kamis, dan M. Simanjuntak (Ompu Lamhot 63 thn) dikebumikan Jumat. Maaf, saya terlambat tiba, sebab saya mesti menghaturkan penghormatan terakhir kepada dua sosok yang mencintai tanah leluhur dan kebudayaan yang menari diatasnya. Kembali waktu yang mempertemukan, waktu juga yang memisahkan. Kematian hanya jalan hidup yang berbeda, rayakanlah hidup! Barangkali demikian benakku menerka misteri rahasia hidup ini.

Tua bukan persoalan berapa banyak angka yang dikau koleksi pada usiamu. Yang dituakan adalah mereka yang memiliki naluri kepekaan akan kesejatian. Dengan demikian kepercayaan berada di tangan mereka. Dituakan adalah simbol terpercaya menjalankan dan melakukan ragam hal. Saya berpikir kawan itu paling sedikit usianya empat puluhan, melihat caranya berpikir dan taktiknya menulis. Nyatanya ia masih hitungan kepala dua. Wah, saya gembira luar biasa. Meluap-luap harapan saya menyaksikan sederetan generasi muda hari kini. Paparnya singkat dan sedikit serius. Ia yang menghidupi diri dengan menyendiri dari keramaian berada di puncak pebukitan Toba dan hanya sesekali menuruni tebing curam. Keheranan saya kepadanya masih belum berlalu, mungkin saja ia adalah ciri kemiripan leluhur batak yang konon mengisolasi kehidupannya dari dunia luar. Dalam keterisolasian itulah ragam masterpiece kebudayaan Batak lahir dan dijalankan hingga sekarang. Terlintas di benak saya pada banyak orang mengatakan peristiwa ‘exile’ biasanya akan memperlihatkan sisi terbaik seorang insan. Sedikit yang berhasil, kebanyakan kandas dan terlindas.

Di sudut itu, asap rokok tak henti-henti mengukir rindu di udara. Ia yang piawai dengan ketulenan batak berbahasa. Kali ini ia tak banyak bicara. Mungkin sedang mencari cara, bagaimana mengungkapkan rasa. Tapi dasar tukang aksara, selalu bisa mengatasi gundah kelana. Kita tunggu saja taburan api asmara dari rangkaian huruf-hurufnya yang menari bebas di angkasa. Meninju langit, abadilah keotentikan bahasa batak di tanganmu, sahabat.

Hujan deras menerpa, suara yang mau keluar mesti dengan teriakan dan sedikit disertai racauan. Ia yang berteriak lantang kepada sang takdir bak seorang peracau. Memelintir paradoks hingga ke putih tulang. Meraup sumsum kehidupan untuk dinikmati dengan buas. Hidup adalah kotak pandora yang menunggu sentuhan tangan-tangan ajaib. Sekali hidup, atau tidak sama sekali. Tak mengenal ketergesaan, tak akrab dengan sesuatu yang perlahan. Ia adalah sesuatu yang terbuat dari entah. Langgam ketamvanan mencirikan kehadirannya. Pertahankan keromantisan, dikau yang telah menyelusuri sudut-sudut hutan Borneo. Bawalah jembatan merdeka untuk segala bentuk keterpenjaraan. Sibakkanlah rahasia aesthetic of existence yang menjadi jalan berkelok untuk langkahmu. Duhai, lelakiku perempuanku. Tamvannya dikau, sungguh!

Perlahan hujan mereda. Mentari mengakhiri garis edarnya di ufuk senja. Sekalipun tawa dan canda tak berakhir disini saja, sebab dunia maya facebuk telah cukup lama menyatukan kita. Berangsur sahabat kembali ke babad kehidupannya yang menunggu. Setelah mengalahkan waktu untuk menitipkan cinta dan harapan di tepian Danau Toba. Mungkin sepi akan kembali membayang perjalanan kita. Ingatlah selalu, kesendirian itu hanya ilusi. Kehadiranmu singkat namun abadi tak lekang dihempas waktu. Ada banyak yang menanti cahayamu berpendar terangi hari. Termasuk Danau Biru di depan sana yang teramat kita kagumi dan sayangi. Kita berlari menjadi cahaya birunya. Banyak yang telah berlalu dan pergi, lebih banyak lagi yang akan tiba dan hadir. Selamat Menikmati Waktu. Ijinkan kuakhiri senyum milik kita sesore itu dengan sebuah puisi sederhana, harapku temani harimu.

 

Sayangku,

Pada setiap kedatangan

Disitulah cinta dan rindu

Meninggalkan getar di dadamu

Berpisah dari detak jantungmu yang terhujam

Hendak menyatu bersama

Pada setiap kepergian

Disinilah cinta dan rindu

Menjadi satu-satunya tumpuan harapan

Yang kelak bahagiakanmu

Dan aku menunggu selamanya

Entah di jalan yang mana

Namun, jalan yang pernah kita lewati bersama

Sudah tidak nampak disana

Di kejauhan aku menatap siluet lambaianmu

Kukayuh arah menuju kesana

Jalan dan langkah

Kubentangkan dengan darah

Hingga detak jantung tak lagi menyapa matahari

 

sstoba januari2011

165133_1741232260980_1543902817_1755941_4794543_n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s