Ketika Ganjil Tegur Genap

Jones Gultom

BAGI kebanyakan orang Batak (Toba) tradisional (mungkin juga umumnya masyarakat tradisi lain) angka ganjil punya makna tersendiri. Dikatakan, angka ganjil diyakini membawa keberuntungan. Keyakinan itu didasarkan atas kepercayaan lokal mereka yang mengaitkan angka ganjil sebagai miliknya tondi sahala (ruh). Tapi ada yang memplesetkan ganjil sebagai miliknya para hantu, sehingga perlu diwaspadai. Misalnya dalam penerapan keseharian, orang Batak (Toba) berupaya menghindari aktivitas besar di tanggal maupun bulan ganjil. Contohnya membangun rumah. Yang jelas kedua persefsi tentang ganjil itu sama-sama mengandung kesamaan nilai, yakni “mistikal”. Aku lebih suka menyebutnya “kebatinan”.

Tak heran jika pengobatan yang dilakukan para tabib di masyarakat tradisi manapun, suka ganjil-ganjil. Mulai dari jumlah jeruk purut, sirih, cawan, tanggal ritual, lapis tikar yang dipakai semuanya ganjil. Sampai, “Sim Salabim-nya juga ganjil. 1..2..3. Kun Fa Ya Kun! Anak-anak sering bilang “Ompimpa Ala Ium Gambreng….”. Beda hal dengan genap. Katanya, angka genap adalah milik manusia. Jadi rupanya, dalam kosmologi masyarakat tradisi, ganjil-genap sudah mendapat porsi. Yang ganjil milik ruh dan genap milik manusia. Wah ini pembagian yang adil. Sebuah Yin dan Yan. Keyakinan ini sebenarnya menarik untuk diteliti, terutama aspek filosofis dan budayanya.

Pernah aku ngobrol dengan seorang sahabat yang berprofesi sebagai metafisikus tentang fenomena kesurupan siswa yang melanda Indonesia sejak beberapa tahun ini. Sahabat saya ini tidak begitu sepakat jika kejadian itu semata-mata hanya dikatikan dengan kondisi phisikis dan psikologis. Menurut sahabatku yang lebih penting, bahwa sebenarnya itu merupakan teguran dari pemilik dunia ganjil kepada penguasa genap. “Perhatikan, yang kesurupan’kan bukan hanya orang-orang miskin, banyak juga di antaranya anak-anak pejabat dan pengusaha. Kalau karena kondisi tubuh yang kurang fit dianggap penyebabnya, mengapa juga melanda siswa-siswa yang suplai kebutuhan makanannya lebih dari cukup? Justru anak-anak miskin yang saban waktu bekerja membantu orangtuanya dan sering kecapekan jarang kesurupan,” jelas sahabatku.

Yang terjadi adalah kita sedang ditegur. Karena dunia genap tak lagi menghormati dunia ganjil. Semua diserobot. Mulai dari tempat bahkan juga waktu. “Tengoklah di negeri ini, mana ada lagi tempat-tempat yang disakralkan (dihormati) oleh manusia. Semua sudah dijamah bahkan dirambah. Hutan, gua, gunung, laut, sungai bahkan perkuburan pun sudah dijajah. Waktu juga begitu. Manusia itu cukup kurang cukup. Sudah dibagi waktunya, pagi ke malam 12 jam milik manusia, malam ke pagi 12 jam milik ruh, itupun dibabat juga. Manusia bekerja 24 jam! Jadi wajar saja jika mereka menegur kita.” Keseimbangan adalah takdirnya kehidupan, jika ini dilanggar maka akan ada yang tersakiti. Nah karena manusia si pemilik dunia genap itu yang memulai, maka dia pula yang harus menanggung. Itu juga bagian dari prinsip keseimbangan. Well… bukankah sekarang ini tahun ganjil ya? Kita lihatlah peristiwa apalagi yang sedang mengintip negeri tercinta ini.

(Dikirim Jumat, 14 Januari, 2011, juga diterbitkan di Medan Bisnis, 16 Januari 2011)

Iklan

3 thoughts on “Ketika Ganjil Tegur Genap

  1. KOMENTAR KONVERGENSI
    CERAHAN :

    Pemahaman Topik Thema tentu dapat dicerah oleh ITSS Ilmiah TeknoLogi Sekular Sakral, Globalitas dari Substansi – Eksistensi – Utilisasi, dari Alam Natural Kultural di Lithosphere – Hydrosphere – Atmosphere.

    Untuk itu pemahaman perlu lengkap disiplin terpadau (Interdisipliner) untuk bersama saling memberi informasi bahan konvergensi, apa mengapa bagaimanamesti hal itu di Tatanan Supranaturalkultural,

    Memang Manusia Generasi Regenerasi bisa maksimal memahami DGK Demografika Geografika Kulturologika Tatanan ITSS itu perlukan Kesanggupan Pemahaman Akademika Universitaria Honoriskausa !

    Dirgahayu Berusaha !

    NDH, HH, 15 1 2011

  2. Orang Jawa juga mingsih banyak nyang punya hitungan model bejituan mas, namanya KLENIK. Bagi kaum muslimin, klenik dan semacemnya itu tidak bisa dipercayai, karena nyang membuat baik buruk, hitam putihnya itu bukan angka, namun Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s