Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

 

Sulaiman Sitanggang (Cepito 07)

Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Berkeliling di kawasan RS HKBP Balige memberikan nuansa yang berbeda. Kayu-kayu dan dinding disini masih merupakan hasil rancangan engineer dari benua seberang. Tak jauh mata memandang, rumah di depan sana, yang ditempati orang-orang Batak itu, seolah tak memiliki perencanaan. Berbeda sekali. Berdiri begitu saja, dan ditempati seadanya saja. Tanpa orientasi yang bisa dijadikan representasi keunikan manusianya. Bukankah realita bangunan fisik sebagai cerminan turunan alam pikir? Setidaknya dari apa yang terlihat itu jugalah yang tersirat.

Melihat hasil karya bangsa Eropa pada berbagai macam seni bangunan, seketika mentalitas inlanderisme menyapa ubun-ubun. Benarkah sudah sedemikian jauh bangsa kami ini melorot menuju kehancuran? Sekeropos bangunan-bangunan yang kami dirikan?  Mengapa bangunan peninggalan mereka yang sudah puluhan dan bahkan ratusan tahun itu masih tetap anggun dan kokoh? Sementara bangunan kami? Enggan mata ini memandangnya.

Rindang pepohonan mengelilingi sebuah bangunan tua di sudut kawasan itu. Nuansa asri menggoda langkah untuk rehat sejenak pada sebuah ruang dimana kursi-kursi rotan telah menunggu. lihat itu, beragam pohon-pohon begitu indah dan sejuknya. Sayangnya tak satupun dari kita tahu apa nama pohon itu. Minim sekali pengetahuan semesta yang kita punyai. Kita seperti manusia berjalan tanpa bekal ilmu. Seorang sahabat memaksa wajahku terkekeh mendengar kalimat-kalimatnya yang selalu bernada humoris melipat-lipat paradoksal situasi.

Tak hanya itu, lihat lagi kusen-kusen bangunan ini. Dari kayu yang paling bagus di kelasnya. Bertahan sudah puluhan tahun melintasi lorong waktu. Dan masih ia menunjukkan eksotisme dan kekuatan yang dibarengi rancangan yang khas Eropa. Juga, sirkulasi udara selalu menjadi perhatian utama engineer jaman dahulu. Padahal dulu belum ada Global Warming. Sekarang suhu jauh lebih panas, namun mengapa rumah-rumah jaman sekarang seolah tak peduli titik aero-sirkulasi?

Contohnya Gereja-gereja kita punya, hampir semua mengandalkan kipas angin dan pendingin ruangan. Kadang saya menjadi terlalu sibuk mencari sapaan angin pada wajah ketimbang mendengar sapaan firman dari mimbar. Saking panas dan pengabnya ruangan itu. Saya kira Tuhan juga tak suka ruangan pengab dan panas yang boros karena selalu mengandalkan kipas angin dan AC. Tak bisakah kita rancang bangunan yang aero-sirkularis yang manis cantik dan anggun? Gereja yang dibangun Eropa, duh, seolah Tuhan ada disana. Begitulah kalau yang membangun dan merencanakan punya ilmu. Lagi-lagi kawanku itu seolah melongok dari atas ubun-ubunku, seraya mencoba memastikan apakah di dalamnya  terkandung seonggok ilmu?

Balige_42Sore itu menjadi sebuah kilas balik dan perbandingan antar peradaban, antar jaman. Disertai kalimat-kalimat sentimental journey. Tentang pada jaman dulu bhwa sanitasi dan drainase menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rancangan bangunan. Hampir tidak didapati saluran yang mampet, pipa yang tidak berfungsi. Bila kita menengok hasil karya rancangan Eropa. Ada juga baiknya Belanda pernah menjajah kita. Setidaknya kita masih bisa melihat sisi pembangunan yang bisa dijadikan bahan pelajaran tentang bagaimana membangun rumah yang baik dan benar. Dan selanjutnya bagaimana membangun kota yang nyaman dan menyenangkan. Supaya tidak melulu seperti apa yang kita lihat di sekitar dan sekeliling kita. Utamanya bumi tapanuli yang minim kreasi dan seni bangunan ini.

Perlahan matahari kembali ke peraduannya di ambang senja, menemani langkah kami meninggalkan pelataran Rumah Sakit itu. Disana pernah terjadi kejayaan pelayanan kesehatan yang cukup masyhur. Berbaris di dinding seukuran photo merekam imaji kenangan kepada orang-orang yang pernah mengabdikan hidupnya untuk Tongkat Aesculapius. Bersumpah di bawah kode etik Sumpah Hippokrates. Keterlibatan Ras Arya dalam segala bentuk pengelolaan dan manajemennya tentu salah satu elemen kunci yang menjadikan Rumah Sakit HKBP Balige ini pernah menjadi Rujukan Kesembuhan bagi pasien dari segala penjuru Tapanuli.

Sisa-sisa kejayaan itu kini semakin redup. Dulu pernah dielu-elukan dan kini menjadi disedu-sedankan. Tak ada lagi yang layak untuk ditonjolkan sebagai tonggak prestasi dan pencapaian. Menjadi lemah serapuh bangunannya yang satu persatu mulai menunjukkan gejala ujur dan kerontokan. Umur Rencana berada di titik kritis. Revitalisasi menjadi tantangan sekaligus tugas dan tanggung jawab. Entah ya, apakah HKBP tidak sanggup mengelola assetnya yang sedemikian bertabur itu? atau apakah jemaatnya sudah kehilangan sikap kritis yang membangun? atau apakah Tuhan sedang tidur bersama umatnya yang diam dan berada jauh dari realita hidup?

Keterlaluankah bila hati kecil ini berbisik pelan, Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak? Sementara itu, Quo Vadis Budaya Batak? yang konon diarsiteki leluhurnya yang ahli kosmos dan filsuf hidup kesejatian. Dan tak kurang banyak, Artefak Budaya Adiluhung itu pun diboyong ke Eropa, dirumahkan disana. Ah, jadi serba salah pikiran ini. Nikmati sajalah cerita tepian toba edisi tujuh ini!!! CEPITO 007.

mauliate tu:

1.Miduk Hutabarat

2.M. Sihombing

3.Tantri Tobing

 

Tautan :

BALAIRUNG BALIGE

Iklan

14 thoughts on “Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

  1. Apa yang menjadi kekawatiran diatas sebenarnya sangat wajar, namun tidak perlulah sampai mengembalikan engineer eropa atau Belanda ke Tano Batak. Karena efeknya adalah Insinyur kita nanti banyak yang menganggur. Lagipula kemerosotan kita dibidang teknik terutama sipil dan arsitektur, tidak adil jika dibebankan hanya kepada sarjana teknik kita saja. Mereka sebenarnya ingin berkreasi semaksimal mungkin. Namun mereka tidak punya kemampuan melawan arus (Kekuatan Uang). Kebetulan saya sudah hampir 20 tahun di pulau jawa. Disini kualitan bangunan (kayu, bata, beton, dsb) lebih jelek dibanding dengan di Sumut. Pasinya saja lebih dari 50 % bercampur tanah. Kalau kita ngomong kepada yang punya rumah untuk memperhatikan kualitas, yang punya rumah tidak akan memakai jasa kita dan mencari tukang yang mau tunduk dibawah perintah dia, yang penting dengan uang yang sangat minim berharap hasil yang sangat maximum. (dalam hal ukuran). Itulah problem yang dihadapi oleh bangsa ini, sedangkan pemerintah tidak punya visi dalam menata ruang dan bangunan yang ada. Di perumahan misalnya sekarang lagi trend bangunan minimalis. Secara kosmis, bangunan seperti ini tidak bersahabat dengan lingkungan. Namun pasar menhendaki demikian dan semua pemain (developer, arsitek, pemborong sampai tukang yang bekerja serabutan ikut trend pasar) karena tidak ingin kehilangan job. Kalau kita berpikir dengan jernih dan saling percaya antara konsumen dan penyedia jasa sebenarnya arsitektur kita tidak kalah dalam hal kualitas. Contoh rumah adat yang sudah puluhan bahkan mungkin ada yang ratusan tahun masih berdiri kokoh.
    Perbedaan kita dengan Belanda adalah, pemerintah mereka punya visi, kebijakan dan regulasi yang mengatur ruang dan tata kota, pedesaan, kawasan industri, pertanian/perkebunan dsb berwawasan lingkungan.

  2. Saya pikir kita tak butuh engineer dari eropah. cukup Titisan dari Friederich Silaban saja. Aku kagum denan arsitek yang satu ini. Yang paling kukagumi adalah Univ. Nommensen, yang seingatku dulu tak pernah butuh kipas angin apalagi ac. semua alami, bahkan tanpa di cat. ternyatadidalam ruangan cukup adem. nggak tau sekarang ini ya….

    apakah sekarrang ini ada engineer yang menyerupai FS?.

    check this
    http://latteung.wordpress.com/2011/01/01/ars-frederich-silaban/

  3. Alonso berkata:

    jawabannya sangat sederhana..bangunan sekarang kebanyakan FUNCTION FOLLOW FORM ( fungsi mengikuti bentuk ) harusnya FORM FOLLOW FUNCION ( bentuk mengikuti fungsi )…tapi yang gawatnya engineer kita malah gagal di keduanya..gagal dalam bentuk dan gagal juga di fungsi….

  4. Saya setuju dengan Hendry Gaol, tak perlu datangkan engineer dari Eropah, mungkin engineer sekapasitas Silaban yang mendunia saja boleh jadi tak diterima disana. Biarlah Pande Pande yang ada disana saja yang ngurusi sesuai keahliannya.

    Lagi pula Tanah Batak itu perlu dilestarikan, artinya tak usah ada banyak perubahan, biar gitugitu aja seperti selama ini tak ada perubahan apa-apa (lestari)

  5. Saya sependapat dengan bpk. K.S Turnip,
    masalah itu yang membuat sebagian besar para arsitek gagal dalam bentuk dan juga gagal dalam fungsi, sperti yang dikatakn Bpk. Alonso.

  6. Molo au mandok, tung so talu hita di bagian arsitek, ruma batak naso adong pakkuna sama sekali, tanpa semen, apa kurang kokoh dan kurang sejuk. Jd kita jgn ter lalu mengagungkan luar merendahkan diri sendiri. Kt bisa asal kt mau.

  7. kita perlu…..intropeksi diri…….!!!!!!,ditano batak..pendirian “TUGU” secara Fisik lebih baik dari gereja bahkan dari rumah yang kita tempati……?????? apakah fenomena ini dapat berubah ???????????

  8. menyimak tulisan di atas,yang perlu kita ambil pelajaran adalah bagaimana insinyur kita bisa mencontoh material pada bagungan2 eropa peninggalan jaman dulu untuk dijadikan bahan materiar arsitektur bernuansa khas derah masing2 sehingga bisa bertahan lama

  9. Sya yakin warga batak unya potensi yg sangat besar dalam memajukan bangsa indonesia ini, knpa tdk di budi dayakan para enginer dari batak, sy yakin mereka mampu dan bisa

  10. tampu berkata:

    Salah satu kendala umum adalah keengganan menggunakan jasa engineer, banyak konsumen yang menganggap kalau hanya sebatas rumah tinggal atau bangunan 2-3 lantai cukuplah dengan menyewa tukang saja, desain bisa didiskusikan dengan tukang kenapa harus repot-repot menghabiskan uang memakai jasa engineer dan arsitek. padahal ada banyak hal kritis yg tidak disadari konsumen dengan mengabaikan hal-hal seperti ini. gempa di Jogyakarta seharusnya bisa jadi pelajaran pentingnya perencanaan yang baik dalam bangunan. menggunakan jasa engineer akan memberi keuntungan dari segi konsultasi struktur, efisiensi bahan, dan garansi/tanggungjawab. tentu saja dalam prosesnya harus selektif juga dalam memilih konsultan.
    mengenai arsitek saya kurang tahu, tapi sepanjang yang saya lihat arsitektur tropis banyak berkembang di indonesia, hanya tergantung kepercayaan konsumen saja untuk membiarkan arsitek berkreasi tanpa terlalu banyak mendikte pekerjaan arsitek. lagi pula banyak dari mereka yang berlatar belakang pendidikan eropa..

    – salam.horas-

  11. Saor Silitonga berkata:

    Sisi manakah hidup bangsa ini yang tak menyebalkan? Sulit nyarinya…. Bangunan buatan Belanda kita tau waktu selesai dibuat, tp tidak tau kapan runtuhnya. Bangunan bikinan anak negeri ini,…kita liat dibangun…kita liat juga runtuhnya. Aku pernah di Ambon mengunjungi satu benteng pertahanan buatan Belanda. Dinas pariwisata (atau dinas apalah itu) membuat prasasti yang bertuliskan…”benteng ini didirikan Tahun 18xx”, di sebelah bawah prasasti tertera tgl pembuatan prasasti tahun 199x…kira-kira bgitu. Ehhh…bentengnya masih kokoh…prasastinya dah retak-retak…. Lho? Nggak lucu banget….

  12. M.Tambunan berkata:

    atau mungkin baiknya kita dijajah oleh Eropa lebih lama lagi, secara keseluruhan bangsa Indonesia, mungkin bukan 3,5 abad tapi bertambah 50 tahun lagi…..karena bangsa kita saat ini bangsa yang terlalu manja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s