Teluk Harapan Danau Biru

Sulaiman Sitanggang (Cepito 08)

Ada yang terlupa dari sifat dan sikap purba yang melekat pada darah kemanusiaan kini, terkhusus bangso Batak. Dengan apakah leluhur menitipkan sejarah dan etika hidup kepada generasi kemudian? Dengan api unggun yang dilingkari anak-anak jaman. Penuh simak mengikuti gerak tubuh tetua-tetua kampung menuturkan kisah. Dingin berbalut hangat. Kuriositas berbalut amanah. Yang diantara jilatan lidah nyala api, barisan leluhur menanamkan semangat kearifan dan kesejatian. Dengan cara jamannya. Tercatatlah kisah-kisah cerita rakyat lagu rakyat yang hanya efektif penyampaiannya melalui mulut sejarah semata. Tak hanya itu, budaya aksara pun digurat untuk mencatatkan inspirasi dan tata cara kehidupan yang beretika, berbudaya, berkesenian, dan berkemanusiaan. Buku-buku laklak itu pun raib di tangan-tangan penjajah dan penakluk peradaban. Dan kita hanya tinggal diam di tengah gerak sejarah yang dipaksa membelot? Tak hanya itu, kita pun tak punya peninggalan kearifan untuk generasi kemudian.

Redup dan nyaris padam. Api unggun itu telah punah. Tak ada lagi nyanyian rakyat, tak ada lagi cerita rakyat.   Tetua-tetua itu satu persatu kembali keharibaan mengakhiri senjanya. Yang tersisa hanya sekelompok generasi yang gamang dalam kegelisahannya mencari sosok sosok tua yang layak dijadikan patron dan role model. Sudah menjadi sifat peradaban mimetik budaya yang membutuhkan teladan dan petunjuk dari para pendahulu. Tanpa lingkungan sosial yang mendidik, yang terlahir adalah anak-anak kemarahan tanpa arah. Yang kelak memegang kendali atas kesepakatan dan kesatuan hidup sosial. Apa yang bisa diharapkan dari generasi yang sedemikian? Ambang kehancuran menganga menanti kejatuhan generasi. Kebangsaan ambruk tak bersisa.

Dimana api itu? Sudahkan padam, sekali dan untuk selamanya? Ya, mungkin ada serpihan nyalanya disini, seperti saat ini beberapa manusia berkumpul di tepian toba. Mengukir cerita, nada, canda dan tawa disertai alunan miris kegetasan terhadap kehidupan sekitar yang mau tak mau musti diselidik dengan seksama. Jika dahulu manusia berkumpul disekitar api unggun, dalam sebuah prosesi purba pelantikan generasi penerus kesukuan, maka sekarang kita berkumpul dalam sebutan Kopdar (kopi darat). Versi modernnya roundtable. Istilah dari penatua huta tinggi, sangga tupa – sangga pajumpa. Berkumpul, berserikat, bergerak, sebuah usaha menyalakan api dalam sanubari.

Bukan kebetulan jika nurani kemanusiaan kita adalah berasas kolektifitas. Yang senantiasa menuju pelataran luhur, baik budi, akal, dan perasaannya. Mengisi dan mencipta hidup secara kolektif. Lahirlah sistem sosial yang berwujud adat istiadat. Ragam rupanya termaktub dalam rincian gotong royong, marsiadapari, dll di suku bangsa lain. Namun, nurani itu tergerus semakin retas dan rapuh tersebab ideologi individuasi dan institusionalisasi. Individualisme itu keniscayaan kata mereka. Insitusionalisasi itu kemajuan ala modern kata mereka. Bisa apa insititusi yang mengangungkan individualitas terkategori? Dimana letak hakiki? Lalu kita pun semakin nyaman dalam kotak-kotak kehangatan sendiri. Kadang terganggu dengan kehadiran yang lain. Kesepian pun semakin mencekam, lalu tak sedikit yang berakhir pada pilihan mengakhiri hidup sendiri. Naas dan tragis. Budaya yang semakin terkotak kotak dalam kesendirian, pada akhirnya menuju kematian. Sehingga, bhinneka tunggal ika saja tidak cukup. Di dalam persatuan itu musti terdapat persamaan dan perbedaan. Terdata dalam khazanah keilmuan. Sehingga keberagaman itu menjadi sumber inspirasi bagi dunia yang semakin seragam dan serupa ini. Kita tak boleh berhenti pada perayaan kebhinnekaan. Musti beranjak menuju pendataan, penataan, dan perencanaan kreatif dan inovatif. Tentu ada paragraf tersendiri untuk penyelidikan kebudayaan itu.

Sedikit yang bergidik lalu berselidik, banyak yang tidak menahu dan bahkan tak mau tahu. Tentang kapan sejarah budaya batak dibengkokkan? Sehingga yang teramati sekarang ini kontan bukan batak. Tak lebih dari serpihan kekacauan yang tertimbun dalam sistem masyarakat. Konon ajaran anti huru hara itu kini telah berbalik menjadi sumber huru hara. Tidak ada tempat untuk membangun pemikiran, berkesenian, dan berkebudayaan. Sebaliknya yang tumbuh kembang kecurigaan, menanam ketidakjujuran, mengembangbiakkan kesakitan dan kepahitan, bahkan pembakaran dan pembunuhan atas nama yang dituhankan. Seperti tak ada lagi tempat untuk nurani. Di negeri ini, berbuat baik itu membutuhkan keberanian yang tak kepalang tanggung. Di negeri ini, berbudaya dan berkesenian dianggap penyesatan terhadap dogma dan ajaran baku. Apa daya semua itu bermula dari tiga momentum peristiwa yang tak tercatat, yang menjadi akar muasal ambruknya sendi-sendi berkebudayaan dan berkesenian di bumi bangso batak permai ini:

  1. Penggantian Sahala Raja (bius) menjadi Sahala Huria (masuknya kristen dan islam ke tano batak). Otomatis kepemimpinan ala adat istiadat menjadi tercerabut. Hiduplah sistem masyarakat tanpa tatanan integritas pemimpin kultural. Digantikan pemimpin sturktural institusional.
  2. Penggantian role model, simbol, panggilan tertua dan termulia berdasarkan integritas dan kesejatian sosok manusia bangso batak. Penabalan gelar tertinggi Ompui kepada pimpinan gereja. Dari yang semula Ompui SisingaMangaraja menjadi Ompui Ephorus. Dari yang bersifat nation-ethnicity menjadi structural dogmatic non cultural.
  3. Pargodungan, dalam artian jebakan kelam tak terhindarkan, yang dimanifestasikan sebagai jebakan pemburu yang tak mengijinkan mangsanya lepas bebas. Sekali masuk, selamanya terjerat! Seperti itulah institusi dogmatis itu, tempat bersemayam para penjala manusia.

(sumber, obrolan ringan dengan tetua-tetua batak di tepian toba, akhir feb 2011)

Tentu saja alamat tulisan ini tak semata hendak menjelekkan dan menyalahkan pihak-pihak lain. Barangkali demikianlah jalannya sejarah peradaban bangso batak ini. Tak ada yang patut dipersalahkan. Ada yang berkata, masuknya kristen dan islam ke tano batak sebagai awal mula pencerahan peradaban bangso batak. Ah, mereka kurang membaca saja gerakan Renaissance di bumi Eropa itu justru karena berakhirnya masa kelaliman institusi theocrasy dan theopower. Budaya batak dipropagandakan sebagai kebudayaan yang membutuhkan terang. Terang apaan? Disini tidak pernah terjadi kegelapan kok. Sorry to say, budaya batak tidak butuh agama. Namun sekarang agama seperti memohon-mohon supaya serpihan artefak budaya batak itu ditransfigurasi ke dalam ritual dogmatis, sebagai hiasan. Ada masanya, paham ketuhanan itu musti mengalah kepada nilai-nilai kesejatian. Dimana ditemukan nurani kesejatian itu? Dengan menjadi manusia berkesenian dan berkebudayaan luhur. Peninggalan leluhur masih ada, kita hanya perlu menggalinya lebih mendekat lebih mendalam. Menjadi tamvan tak mesti menjelekkan. Menjadi berbudaya tak mesti dengan menghancurkan yang lain. Menjadi Batak adalah proses menjadi manusia. Tak pernah selesai, ia adalah proses keabadian. Rayakan hidup. Rawat dan pelihara harmonisasi alam Tapanuli dan Danau Toba. Salah satunya dengan gubahan puisi berikut ini:

Teluk Harapan Danau Biru

Aku

Terlahir pada lembah landai nan hijau

Menanam tatap dari jendela langit

Menyebar harap pada barisan teluk danau biru

Aku

Merayap pada jalan setapak di gigir tebing curam

Menggantungkan titian pada awan yang melayang tipis

Menjejak kehendak membumi langit

Aku

Yang melepus pada angin semesta leluhur

Yang jantungnya tertusuk darah purba

Yang jiwanya terperangkap gelisah

Aku

Petualang rantau meniti jejak kembali

Meretas pusaka yang kokoh berdiri melintasi jaman

Mengukir rumah kayu di celah peradaban batu pasir

Aku

Seperti pergi tak pernah pulang

Seperti pulang tak pernah kembali

Seperti prajurit perang tak tercatat sejarah

(digubah dari sajak Nestor Rico Tambunan, berjudul "Lembah Di Pelukan Teluk")

188444_1824891312404_1543902817_1904325_3285411_n

Terima kasih kepada:

Suhunan Situmorang, Nestor Rico Tambunan, Robert Naibaho yang memotori gerakan menanam kebaikan di bumi Bonapasogit dengan ragam aktivitas sosial: Kegiatan Alumni SMP N 1 Pangururan Berjalan Dengan Baik, Berawal Dari Penyerahan Hadiah Lomba Karya Tulis, Seminar Diskusi "Pemerintahan Daerah Dan Jurnalisme Masa Kini" , Penanaman Pohon sebanyak 2500 Pohon Dipusuk Buhit, Simarsasar, Aek Gaol.

….

Meniti jejak si burung Hudhud yang selalu rela bercerita dan berharap untuk kebaikan selama perjalanan menuju tahta Simurgh (inspirasi buku, Musyawarah Burung)

sstoba

Iklan

5 thoughts on “Teluk Harapan Danau Biru

  1. hardi hutauruk berkata:

    Horas.

    Gelisah dan waspada akan arus globalisasi, ya benar,namun mengkambinghitamkan kekristenan juga bukan hal yg arif. (….1. Penggantian shala raja menjadi sahala huria dst…).
    Kalau semua “kepurbaan” diklaim sudah baik dan sempurna,sehingga harus statis pada sikon “kepurbaan’ sebagai yang kami artikan dari tulisan diatas, (maaf kalau salah mengartikan), tentu banyak pihak tidak setuju.
    Menurut kami tidak perlu apriori terhadap “modernisasi” dan nilai lain yang berkembang bahkan memasuki wilayah nilai-nilai kita, yang perlu kita mudah2an bukan manusia yang mudah goyah bahkan mudah tergadai.
    Sebagai penutup, kami masih rindu keluhuran budaya Batak dan keseniannya, baiklah secara arif kita tidak membuat nilai Batak jadi exclusif dan terbungkus, tapi biarlah banyak irisan2nya terbentuk dengan budaya dan nilai2 lain disekelilingnya.
    Mauliate

  2. sudut pandang yang terlalu sempit kadang membuat segalanya menjadi kabur. Tapi tidak apalah untuk menghangatkan suasana.

    Budaya tidak statis. Ia berubah sesuai jaman karena pelaku budayanya adalah manusia yang juga berubah sesuai jaman.

    Kita bersyukur budaya batak mengalami modernisasi. Itu artinya para pelakunya sadar masa lalu tidak bisa mengendalikan jaman yang akan datang.

    Ingat juga, itulah alasan nenek moyang bangsa batak mau berubah. Sebab mereka sadar membutuhkan perubahan. Jika memang dari dirinya sendiri mereka tidak perlu perubahan, tentu injil,kekristenan,islam atau yang lainnya tidak akan mampu mengubahnya.

    Salam, nice post. 🙂

  3. b.Parningotan berkata:

    memang kita tidak boleh terpaku kepada kepurbaan, tetapi kita juga harus mengingat apakah langkah modrnisasi yang kita ikuti saat ini adalah langkah yang benar? saya rasa jauh dari situ, mungkin hanya benar secara materialistik ini pun belum tentu mengkingat jurang antara kemiskinan dan yang kaya makin dalam , juga dalam spiritual maupun keagamaan, manusia cenderung berpikiran asal dalam aliran mereka, semua yang mereka lakukan adalah benar, sebagai contoh adalah Kasih, asal dilakukan dalam kasih semuanya benar, …. tapi apa arti kasih iut luas sekali, dari eros, hingga, pengorbanan, hingga perasaan ego , lebih baik memberi dari pada meminta dsb. yang mana yang harus dijalankan? keegoan menjadijadi, hidup adalah perlombaan ( the stronggest is the survival …belum dalam hal lainnya. Horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s