Pondok Imajiner

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 011)

berada di ketinggian 999 m dpl, kampung itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari kota kecil pangururan, sebagai ibukota kabupaten yang masih relatif muda, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-8. dialah kabupaten samosir yang dikelilingi keindahan danau toba, danau yang juga dikelilingi pegununan bukit barisan, dan beberapa gunung yang telah menjadi mitos bagi kebudayaan bangsa batak sejak dulu kala. dari sini, peradaban bermula, kehidupan generasi demi generasi silih berganti takluk oleh waktu yang tak mungkin berulang, yang membentuk ingatan manusia.

pusuk-buhit_16-

konon, sebelum pangururan berdiri dan menjadi sekarang, sekitar 11 generasi diatas saya terlahir dan berasal dari kampung itu. merekalah pendiri perkampungan batak itu. merekalah nenek moyang saya, oppung dari oppung dari oppung saya hingga yang mampu tercatat oleh tarombo, catatan real-time bangsa batak, salah satu marga dari turunan si raja batak, yaitu sitanggang upar. jejak mereka tertinggal disana, di sebuah kampung yang masih mengguratkan ciri khas perkampungan batak tempo dulu.

jejak sejarah itu ditandai dengan beberapa pepohonan tua yang rindang pada pintu masuk perkampungan, disebut hariara. seperti lazimnya perkampungan batak, kampung itu berdindingkan tumbuhan bambu yang lebat di sekelilingnya. bisa dikatakan, bambu itu sebagai pelindung segenap kehidupan yang berlangsung di perkampungan dari berbagai mara bahaya. di balik tembok bambu itulah, asal usul pendahulu hingga saya sekarang ini berasal. jejak-jejak itu kini terbengkalai. beberapa pohon telah tumbang dan tinggal kenangan. rumpun bambu itu kini seperti tumbuhan liar yang tak berguna yang tak terawat. tembok itu perlahan runtuh. perkampungan itu semakin sunyi. satu persatu generasinya menggabungkan diri dengan kehidupan yang lain, di tempat lain yang lebih ramai dan gaduh.

kampung itu, kesanalah kini, pikiran dan imajinasiku terbang dan hinggap pada suatu waktu yang entah. entah masa lalu yang merasukiku, atau masa depan yang terlalu rakus menelanku. saya ingin menggabungkan keduanya, saat ini. saya ingin setiap orang yang datang kesana, seperti tersihir oleh indahnya kehidupan masa lalu tanpa lepas dari kehidupan kekiniannya.

hari ini kusaksikan, tak banyak sendi-sendi kehidupan modern terlihat disana. bahkan jalan menuju kesana masih berbatu dan berdebu, belum dilapisi aspal. listrik baru saja menemukan nyalanya disana. dan air, penduduk kampung yang tinggal beberapa keluarga saja kerap mengeluh soal ketersediaan air. padahal hanya sekali pandang saja, tak jauh di depan sana, terbentang birunya danau toba di kaki gunung pusuk buhit, yang mana posisinya tepat berhadap-hadapan dengan kampung itu. jika kita menarik garis imajiner, maka kampung itu berada pada satu tarikan garis lurus dengan pusuk buhit, mengikuti garis jembatan tano ponggol, membelah kepulauan samosir persis di tengahnya. dari kampung itu mata telanjang dengan bebas menatap danau toba yang terbagi di kedua sisi gunung. terlihat seperti sayap biru pusuk buhit yang terbagi dua. sayap-sayap yang mengepakkan peradaban dan kebudayaan yang disebut batak.

mengikuti hukum adat ulayat, maka segenap tanah perkampungan disana yang berbatasan dengan kota pangururan adalah berstatus kepemilikan secara adat oleh marga saya. hingga sekarang, tak satupun tanah itu bersertifikat atau memiliki surat keterangan sesuai dengan standar kepemilikan jaman modern. begitulah nenek moyang memulai kehidupan, tanpa perlu persetujuan ataupun standar baku yang harus dipenuhi. mereka tinggal saja, hidup saja, berbudaya saja, di tanah yang mereka diami itu. seiring waktu mereka memperkuat indepensi dan kemerdekaan terisolir mereka, tak bisa diintervensi oleh kampung lain dan bahkan oleh orang asing. hukum adalah hukum mereka, aturan adalah aturan yang dilahirkan sendiri oleh mereka. yang dipengaruhi oleh sosiologis dan kebudayaan batak pada umumnya.

mereka bertetangga dengan jarak yang cukup jauh dengan perkampungan lain, dan mereka saling menghormati antar kampung. walau tak sedikit cerita yang mengisahkan adanya pertempuran antar marga antar kampung di kawasan tanah batak ini. akan tetapi, bila seorang sungguh mendalami arti dan makna keteraturan wilayah dan azas teritorial, sistem kemasyarakatan tradisional, yang diatur oleh dalihan natolu dan sistem bius dalam peradaban kebudayaan batak, maka pertempuran antar kampung itu sesungguhnya hanya bias impulsif kemanusiaan yang muncul dari rasa tertindasnya harga diri kepemimpinan. tak selamanya manusia itu ramah. sekali waktu ia bisa berwajah kebinatangan. perang antar kampung bisa jadi pernah ada, tapi pada esensinya manusia batak itu pencinta harmoni. harmoni terhadap, alam, sesama, dan dunia alam lain yang disebut sahala ni da ompung si jolo tubu (roh nenek moyang mula-mula) hingga keyakinan kepada ompu mula jadi na bolon (dia, yang maha awal mula)

sepetak dari tanah yang luas itu, terdapat peninggalan turun termurun dari oppung saya. yang melahirkan ayah saya dan kemudian menghadirkan saya ke dunia ini. saat ini, tanah itu masih ditumbuhi tumbuhan cengkeh yang sudah menua, padi musiman, bawang, kacang-kacangan, dan tanaman holtikultura lainnya. di belakangnya terdapat hamparan kecil aek natolu, sebuah danau kecoklatan yang membentuk geometri tiga lingkaran bersusun satu garis. sebuah danau diatas danau. fenomena lain dari alam samosir. aek natolu berada diatas danau toba, seperti halnya danau sidihoni. disinilah segala aktifitas keseharian penduduk berlangsung, juga sebagai tempat kerbau-kerbau setempat meneguk air minum dan dimandikan oleh anak-anak kecil yang jarang sekali menggunakan alas kaki. dengan kulit telapak saja mereka menjelajah bumi samosir. menyaksikan kehidupan di sisi aek natolu ini, seperti memasuki kehidupan yang jauh sekali dari era modernitas. anak-anak kampung menenteng jerigen air setelah menuang air ke dalamnya hingga penuh. dari sinilah, keluarga-keluarga mendapatkan sumber air untuk kebutuhan dapur rumah tangga. setiap anggota keluarga mempunyai peran dan tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan.

ketika fajar menjelang, kabut masih merayap di hamparan bumi, terlihat asap-asap mengepul dari dapur rumah adat batak yang dibangun dengan konstruksi kayu. kayu masih menjadi bahan dasar untuk kebutuhan rumah tangga. ibu-ibu memasak dengan kayu yang tempo hari dikumpulkan oleh tangan-tangan cilik dari hutan kecil tak jauh dari perkampungan. tangan-tangan rapuh itu berhasil mengumpulkan kayu-kayu yang rapuh juga. cukup rapuh hingga memudahkan untuk dibakar di tataring (perapian) sambil memasak keperluan makan sehari-hari.

setelah menikmati sarapan pagi, anak-anak kampung berlarian menuju sekolah dasar yang berada pada jalan jalur masuk perkampungan. sekolah sederhana dengan empat ruang kelas ini didirikan oleh kakek saya, beserta sebuah gereja di sebelahnya. pun tanah untuk sekolah dan gereja itu diserahkan kakek. saya masih ikut menyaksikan pembangunannya. sekolah dan gereja yang tepat menghadap ke arah pusuk buhit dan danau toba. konon kakek saya tidak pernah menikmati bangku sekolah, ia belajar membaca dan menulis dengan otodidak. belajar saat berjuang melawan belanda dan jepang, kisahnya bercerita sewaktu di masa hidupnya. nenek saya hingga hari ini buta huruf, tak mampu membedakan yang mana huruf, yang mana angka. namun, kejujuran dan ketulusan orang tua ini tidak mudah dikelabui orang lain. ia menghafal mata uang rupiah dari warna dan gambar-gambarnya saja. tak pernah silap. selebihnya ia menjadi sosok keibuan yang selalu menampilkan sifat feminimis yang merawat, menjaga, memelihara. sikapnya tak jauh dari taat kepada suami, menjalankan spiritual leluhur, dan ketat dalam pelaksanaan tatanan adat istiadat batak. sewaktu muda, nenek saya seorang partonun yang menghasilkan tenunan ulos. saat ini ketujuh anaknya masih menggunakan ulos tenunan tangannya sendiri setiap menghadiri acara adat. dari nenek jugalah saya mempelajari perihal penghormatan kepada nenek moyang dan penyembahan kepada mula jadi nabolon. konsepsi tuhan samawi belum akrab bagi mereka. spiritual kakek dan nenek banyak dipengaruhi spiritualime gunung yang dianut batak. seperti halnya suku-suku besar lainnya, memandang gunung sebagai simbol spirit, seperti dayak dan toraja, termasuk kebudayaan suku maya di belahan bumi lain.

oppung doli dan oppung boru saya kini tak lagi bermukim di kampung itu. kehidupan begitu keras menempa sejarah mereka. pada tahun awal kemerdekaan republik ini, mereka telah berpindah turun ke bawah perkampungan. yang sekarang dikenal dengan pangururan. disana, oppung melakoni kehidupan menjadi pedagang. jatuh bangun menghidupi sebelas anak, 7 laki-laki, 4 perempuan. titik nadir kehidupan mereka rasakan ketika pangururan dilalap api pada tahun 1969. semua habis terbakar menyala bersama lidah api menjilat langit. nyaris tak menyisakan apapun selain benang di badan. demikian halnya dengan pangururan, ia kembali memulai kehidupan dengan membangun dari titik awal. dari debu hingga menjadi seperti sekarang.

oppung bersama segenerasinya termasuk orang-orang yang mengawal sejarah dan pertumbuhan pangururan yang telah menjadi ibu kota kabupaten. sewaktu saya masih kanak, saya menjadi pendengar yang setia pada setiap perbincangan dan pertemuan-pertemuan oppung dengan orang-orang tua dari marga lain. oppung saya juga menjadi pemersatu marga sitanggang upar, mengumpulkan sejarah dan tarombo sebelas generasi. mendirikan tugu marga sebagai batu peringatan di masa kelak untuk generasi kemudian. dari pertemuan-pertemuan itu saya kerap berperan menjadi pelayan para orang tua ini. membuatkan secangkir teh atau kopi, mengantarkan makanan, membelikan rokok di lapo, membersihkan asbak, dan lain sebagainya yang sanggup dilaksanakan anak kecil. itulah yang menjadi tanggung jawab saya. tak jarang saya mendapatkan tips dari hasil kerja saya. kembalian uang rokok kerap disuruh saya pegang saja, jangan dihabiskan, nanti dimasukkan tabungan, supaya ada biaya sekolah, supaya bisa sekolah setinggi-tingginya. begitu para orang tua bersahaja itu berkelakar. merekalah role model bagi kekanakan saya. saat ini, saya mendata tak ada lagi orang tua sekelas oppung-oppung yang sering berkumpul di rumah itu, yang bisa dijadikan role model bagi generasi muda sekarang. generasi muda tumbuh tanpa sosok idola yang bisa dijadikan patron dalam kehidupan sosial. sudah tidak punya role model, ditambah lagi digempur oleh budaya modern dengan segala daya tariknya, utamanya game komputer yang menjadikan anak-anak bersikap asosial dan autis itu. belum lagi anak-anak itu musti berhadapan dengan hancurnya sendi-sendi keluarga. tak sedikit nilai-nilai kekeluargaan yang mengalami degradasi disebabkan oleh berbagai hal. reformasi dan kebebasan di bumi pertiwi ini turut serta membawa dampak keruntuhan nilai-nilai.

kenangan 20 tahun yang lalu itu masih segar dalam ingatan saya. terutama saat saya menyisir jalan berbatu menuju kampung itu. sekilas pada benak saya muncul sosok sebuah pondok imajiner. saya ingin melanjutkan perjuangan nenek moyang di kampung saya. bila generasi saya berlomba-lomba meninggalkan kehidupan di kampung, maka saya akan menarik kehidupan untuk bersarang kembali di kampung ini. kampung ini akan menjadi gravitasi bagi ragam transformasi di bumi kebudayaan batak. di tengah-tengah kebun cengkeh itu, akan berdiri sebuah pondok dengan gravitasi kreatif. sebuah tempat yang mandiri, independen, tak terpengaruh oleh intervensi siapapun. apa saja yang ada di pondok imajiner itu?

pertama, alam raya toba yang menenangkan, penuh magis dan inspirasi. di depan danau toba, di belakang aek natolu dan kehidupan perkampungan. dari pondok itu, mata anak manusia yang lelah dan muak akan kesemrawutan jaman ini akan dimanjakan dengan pemandangan yang menyentuh sisi terdalam insan. diajak menyatu kembali dengan alam. manusia yang pernah hidup akrab dan harmoni dengan alam, akan kembali ditampar dan diingatkan ketika kunjungan mereka sampai ke pondok itu. mereka boleh saja tinggal di pondok untuk waktu temporary. artinya, pondok itu juga akan menghadirkan layanan wisata home-stay untuk setiap pengunjung. bila para pejalan yang singgah ingin beraktifitas, mereka dapat terlibat dalam aktifitas pondok dengan status volunteer atau part time job. yang jelas, segala pekerjaan dikerjakan dengan tidak money-oriented. salah satu bentuk protes saya terhadap kapitalisme. dengan tidak bekerja untuk uang, saya pikir seseorang akan menemukan esensi hidupnya kembali. sehingga ia akan mampu menjalani kehidupan dengan senyuman.

kedua, di sekeliling pondok terdapat aktifitas agronomi. pertanian sederhana, untuk memenuhi kebutuhan rempah-rempah sehari-hari. bawang, tomat, cabe, sayur-sayuran, buah-buahan akan tumbuh disana. sebelum makan para pejalan boleh memetik sendiri ramuan apa saja yang mau dilahapnya. silahkan ambil di kebun yang menghadap pemandangan danau toba serupa sayap gunung pusuk buhit itu. dan kalau mau merasakan bagaimana bercocok tanam, silahkan terlibat kegiatan pondok dalam bercocok tanam. manusia metropolis tentu saja akan menganggap ini sebagai pengalaman megalitikum di era millenium. saat manusia baru saja belajar bercocok tanam. bedanya, kini dengan laptop dan peralatan modern di sebelah. sambil bercocok tanam di perkampungan samosir, bisa update status fb, ataupun nge-twit di social network, atau bahkan mengontrol pekerjaan dan perusahaan. pondok saya kan dilengkapi akses global. 

ketiga, sebagai pelopor dan perintis, pondok imajiner ini menjadi sebuah perpustakaan goodelian yang diidamkan oleh para pembaca, penulis, dan pejiarah lainnya. goodelian adalah simbol dan ikon gerakan finding good people (fgp) yang pernah digagas oleh beberapa anak muda yang unik sewaktu masih di bangku kuliah di itb bandung. di pondok ini, para pendatang akan berjiarah literatur dunia, melanglang buana dalam dunia yang dipenuhi kata dan imajinasi. the wonderland of alice is in this small world, akan ditemukan disini. berkenalan dengan maha karya para pemikir yang telah meletakkan batu-batu dasar berdirinya peradaban ini. pondok ini akan menciptakan pengalaman yang sungguh tak tergantikan. orang-orang akan merindukan pondok ini, mengenang dengan perasaan terindah yang dimilikinya. turut merasa bagian dari sejarah pondok ini. anak-anak samosir tentu saja akan meningkat cakrawala pengetahuannya dengan berlangganan buku-buku dari pondok ini. mereka akan disuguhkan pengalaman membaca lintas peradaban. mereka akan semakin mengenal dan memahami alam raya, khususnya bumi tercinta ini, tempat kehidupan berlangsung.

keempat, kegiatan kultural yang beraneka ragam dan kesenian dalam berbagai bentuknya, baik dadakan maupun yang terencana dengan baik. setiap pengunjung boleh mengadakan acara disini, dengan melibatkan orang-orang lain juga tentunya. di pondok ini orang-orang yang berasal dari penjuru dunia akan saling berbagi, saling menginspirasi. dengan caranya masing-masing. pondok ini adalah salah satu keping teka teki keindahan, the fountain of life force. secara tidak langsung, pondok ini menjadi galery seni real-time. yang selalu aktual dan terupdate dengan kehadiran pengunjung. kehadiran seseorang adalah menjadi inspirasi bagi kehadiran yang lain. semua akan terjadi di pondok imajiner ini.

kelima, kehidupan perkampungan ciri khas batak yang terletak bertetangga dengan pondok ini tak akan hilang. malah akan semakin dijaga, dirawat, dan dilindungi. keluarga-keluarga yang tinggal di perkampungan akan menjadi bagian dari institusi pondok imajiner ini. mereka turut berada di dalam pengaruh transformasi yang sedang terjadi di pondok. sebab kehidupan mereka adalah salah satu gravitasi eksotisme yang akan dirindukan oleh orang-orang kota yang metropolis. lelaki akan mengasah kembali ujung pahat dan mata ukirnya, berbagai variasi dan inovasi seni pahat dan ukiran gorga batak lahir kembali. perempuan menghempangkan tikar sebagai alas partonunan mereka di bawah rumah adat, ulos-ulos akan ditenun kembali dengan seni tenun tradisional menggunakan metoda dan manajemen modern. para pemain musik tradisional menabuh gondang batak kembali. petik kecapi dan tiupan seruling bambu akan bersenandung melantunkan partitur demi partitur mengisi lubuk jiwa. para menari mengambil posisi masing-masing, menarikan tarian-tarian adiluhung, mengajak jiwa-jiwa menari merayakan alam semesta. para penyanyi menguatkan tarikan nafas pada irama nada, kembali menyanyikan alunan-alunan nada- nada purba. makanan dan minuman tradisional kembali tersaji di hadapan para pejiarah di pondok yang menjadi the heart of samosir itu. sapaan horas sbg pertanda persahabatan multikultur dan mauliate sebagai pertanda gracefull akan terbawa oleh pejiarah hingga ke ujung benua. para peneliti dan researcher akan hadir untuk mencatatkan irama pembelajaran akan dahsyatnya inspirasi kehidupan di pondok imajiner ini. karena kita, ..ancient mover of action in the computational age.

saat pikiran, perasaan dan imajinasi bercengkrama, saya hanya bisa tersenyum menikmati. banyak sekali balok-balok bangunan pikiran berhamburan seolah ingin sekali merangkai kehidupan imajinatif di pondok imajiner itu. pondok yang berada di tanah pendahulu menjejakkan sejarah. dan kini giliran kita mengukir batu sejarah disana. mencintai batak adalah mencintai indonesia. menginspirasi batak adalah menginspirasi indonesia. kesanalah arah kaki melangkah, hingga kelak impian menjadi kenyataan. lalu impian demi impian yang lainnya akan tercipta, serta inspirasi demi inspirasi terlahir, hanya untuk merayakan kehidupan yang singkat ini. dengan lebih cerdas. tak lebih tak kurang. itu saja!

sstoba

Iklan

4 thoughts on “Pondok Imajiner

  1. bramastara berkata:

    sayangnya keindahan dan tajamnya narasi tidak dirangkai dengan rindangnya pohon tua, riuhnya bisikan daun bambu pada sebuah photo. konon katanya sebuah gambar mewakili seribu kata.
    save toba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s