Quichote Menunggu Godot

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 010)

 

"Bagaimana jadinya, ya?" Ucapmu, di penghujung senja saat mata-langit mengatup ke balik bukit. Tak lupa memancarkan sinarnya yang tinggal satu-satu. Sinar terakhir pada hari itu. Tidak ada hari yang sama di bawah matahari yang sama, bukan? Hari berganti bulan berganti tahun. Semua bergerak, tak pernah sama. Pendar keindahan itu seperti berkata-kata melalui lukisan sore. Membisikkan isyarat pertemuan dan perpisahan yang dicari-cari pencinta senja. Nikmatilah untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Sebuah desis halus yang menyiksa perindu keindahan. Nyaring berkumandang di sudut-sudut kawasan kaldera tua dan terbesar di dunia ini. Sebuah negeri yang berbatas kabut di pagi hari, beratap bintang di malamnya. Gunung-gunung  berlomba menyelonjorkan kakinya ke permukaan danau hingga tampak seperti lekuk-lekuk yang melenakan sekaligus menggairahkan. Bukit-bukit disini, tinggi menjulang langit, jatuh menghujam di kedalaman Danau Toba, salah satu danau yang memiliki kedalaman yang masyhur ke seluruh dunia.

Kaki-kaki langit yang berendam di air tawar itu menjadi sebuah pemandangan sejati yang tak satupun lukisan buatan manusia bisa menandinginya. Elok yang tersembunyi di Pulau Emas ini. Ya, para penjelajah menyebut Sumatera dengan Pulau Emas.

265032_10150222680554397_702854396_7116000_1103731_n

Setibamu, langsung membawaku kembali mendatangi kaki-kaki langit yang dinaungi telaga itu. Seperti isyarat melepas dahaga, mengurut rindu yang remuk redam, mengumpulkan serpihan hati yang berserak. Lalu, kita berakhir pada sebuah pertanyaan. Tanpa didahului ciuman. Ah, tak seperti dulu lagi. Kemana perginya ciuman? Ya, rasanya kita cukup lama merindukan benak yang selalu bertanya-tanya. Karena pertanyaan adalah semacam zat hidup yang membuat kita senantiasa mencandu.

Aku termenung dengan pikiranku sendiri. Tak menemukan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu. Pertanyaan  yang menyudutkanku pada keputusan-keputusan. Kamu tahu itu, sejak lama aku sudah selesai dengan keputusan. Aku telah memutuskan untuk mengikuti garis edar mimpi-mimpi. Disinilah aku sekarang, bersama janji mimpi menyambut kedatanganmu. Dan kau, tak pernah percaya dengan mimpi-mimpi. Bagimu kenyataan lebih berharga untuk ditelaah, selalu berusaha meletakkan perbedaan yang mencolok kepada anak kemarin sore yang penuh khayalan. Bagimu, kenyataan adalah sebuah keniscayaan. Seperti niscayanya jaman ini. Kau yang menunggangi jaman, dan aku yang kepayahan menahan lajunya. Masihkah kau bertahan? Sampai kapan? Pertanyaanmu menjurus tajam seperti cemeti yang menghardik.

Bulan Juni, beberapa punggung bukit sedang terbakar. Tadinya terlihat seperti benteng hijau Danau Toba, sekarang menjadi benteng merah menyala menjilat malam. Udara kering dan kasar. Pohon-pohon meranggas, ilalang menggersang. Hewan-hewan berlarian mencari tempat teduh. Mentari senja yang terlihat mempesona juga menyimpan dendam membara. Betapa tidak, panasnya telah cukup membakar rumput dan daun yang mengering. Itulah sumber kebakaran itu. Alam yang membakar dirinya sendiri.

Kemarau berkepanjangan ini seperti tidak mau tahu lumbung padi sudah mulai menyusut. Di rumah-rumah adat tradisional yang gagal panen. Daging membungkus tulang juga terlihat menipis. Lihat, anak-anak kurus dan kering yang berlarian di tepian danau indah itu. Tanpa kenal lelah menghabiskan waktu berjam-jam berenang berjumpalitan pada bibir telaganya.

Kemudian pikiranku berkata-kata. Sepertinya, aku belum menjadi apa-apa, dan aku masih menunggu. Sahutku setelah jeda yang cukup lama untuk menimpali pertanyaanmu. Haha, tawamu sinis dan mengakhiri senja dengan sebuah kalimat susulan, seorang Quixotic yang menunggu Godot kau rupanya! Absurd! Lalu kau pergi begitu saja.

Bagaimana jadinya, ya? Aku mengulangi pertanyaanmu, lagi dan lagi…

sstoba, 2011

Iklan

One thought on “Quichote Menunggu Godot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s