Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya

Jones Gultom.

BICARA tentang "Batak" sebagai identitas etnik, memang cukup kompleks. Dari asal-usul penyebutan kata "Batak" saja, sudah beragam serta sering menuai kontroversi. Hampir secara umum, menyebutkan, kata "Batak" merupakan stereotif negatif yang dilabelkan oleh orang non "Batak" terhadap sebuah kelompok masyarakat yang berdiam di tempat tertentu.

Dr. H.N. van der Tuuk (1824-1894) misalnya. Dalam setiap tulisannya, dia cenderung mengartikan "Batak" sebagai masyarakat komunal yang barbar. Tendensi yang dikesankan van der Tuuk, bagaimanapun tak lepas dari tujuannya sebagai misioner-kebudayaan.

Jauh sebelumnya dalam The History of Sumatera karya William Marsden (1754-1836) yang diterbitkan tahun 1784 juga memaknai "Batak" sebagai kata yang mempresentasikan sejumlah perilaku negatif atas sebuah kelompok masyarakat di satu wilayah di pedalaman Sumatera.

Bahkan Marcopolo yang juga sempat menyinggahi Barus pada abad ke-12, sempat pula memberikan komentar, ada sekelompok masyarakat di pedalaman hutan Sumatera, (mungkin maksudnya hulu Barus) yang terkenal keji, suka berperang dan barbar. Kelompok orang ini disebut "Betach" yang kemudian disebut "Batak".

Dalam arti, "Batak" dengan beragam penyebutannya itu, sudah berkembang jauh sebelum kedatangan Kolonial Belanda (abad 16). Ini sekaligus mematahkan tesis yang mengatakan penamaan "Batak" awalnya diberikan oleh Belanda.

Jauh ke belakang, kata "Batak" sendiri sudah disebut-sebut sejak abad ke-6, ketika Barus dimasuki pedagang dan khalifah Islam, kemudian berkembang menjadi Imperium Sumatera.

Di buku "Sejarah Raja-Raja Barus" karangan Jane Drakard, dituliskan; Kerajaan Hulu Barus (berdiam di lembah sebelah barat) secara sosial dekat dengan masyarakat yang disebut "Batak". Dikatakan pula, kelompok masyarakat "Batak" ini adalah masyarakat komunal yang sudah memiliki sistem sosial dan adat yang mapan. Kerajaan Hilir Barus yang terletak di pesisir itu, menjalin relasi sosial dengan kebanyakan pendatang dengan tujuan dagang. Buku "Sejarah Raja-Raja Barus" bercikal dari dua sumber, yakni; Kronik Hulu dan Kronik Hilir. Benar, sering terjadi peperangan antara kedua kerajaan itu.

Dalam situasi tertentu justru mereka bergabung untuk menghadapi musuh bersama, misalnya melakukan perlawanan pada Kerajaan Aceh. Pada akhirnya, bahkan kedua kerajaan ini bersatu.

Pertanyaannya, dari manakah muasal stereotif negatif itu muncul? Benarkah kelompok masyarakat yang dikatakan van der Tuuk, Marsden dan Marcopolo adalah masyarakat yang sama dengan yang di abad ke-6 itu? Kalau benar, peristiwa apakah yang terjadi, (rentang abad ke-6 sampai 12), sehingga merubah pola laku kelompok masyarakat "Batak" itu.

Saya kira, masyarakat "Batak" telah mengalami sejumlah persoalan yang kompleks sebagai imbas dari kemelut ekonomi, politik dan agama yang terjadi, jauh sebelum masa kolonialisme.

Analisis menarik lainnya diungkapkan beberapa antropolog lokal, salah satunya. Prof. Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak. Menurutnya, etnis "Batak" merupakan ras Mongolia Mansuria.

"Awalnya kurang lebih 5000 tahun lalu, tentara Mongol berperang dengan bangsa Tar-tar, terpojok dan kemudian lari menuju Indonesia Bagian Timur melalui China. Para tentara Mongol ini pada saat itu mengendarai kuda, dan masyarakat di daerah Indonesia Bagian Timur (saat itu belum beretnis Batak) menamai tentara Mongol ini dengan ’Batak.’ Itulah awal nama etnik Batak." Dengan kata lain, asal-usul nama etnik "Batak" itu menurut Bungaran, merupakan hasil dari budaya maupun sejarah di Sumut. "Batak merupakan satu kata dari bahasa Batak sendiri yang artinya penunggang kuda. Dari sisi inilah nama Batak ini muncul.

Berbeda dengan Bungaran, ada satu tulisan yang terbit di surat kabar Immanuel edisi 17 Agustus 1919. Dalam tulisannya, penulis dengan inisial "JS" mengutip buku berjudul "Riwayat Poelaoe Soematra" karangan Dja Endar Moeda yang terbit tahun 1903 (halaman 64) menulis: "Adapoen bangsa yang mendoedoeki residentie Tapanoeli itoe, ialah bangsa "Batak" namanya. Adapoen kata "Batak" itoe pengertiannya: oerang pandai berkuda. Masih ada kata "Batak" yang terpakai, jaitoe "mamatak", yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan) kepada bangsa itoe…" Kata; "bangsa itoe", boleh jadi sebagai ejekan yang diberikan oleh orang di luar masyarakat "Batak" itu sendiri.

Beda pendapat dikemukakan oleh Sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Phill Ichwan Azhari, yang menyampaikan hasil penelitiannya di Jerman terkait etimologi (asal-usul kata) dan genealogi (asal-usul garis turunan) Batak. Menurut Ichwan, Batak bukan berasal dari Batak, tapi dikonstruksi para musafir barat dan dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Saat Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu, mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan Melayu ke dalam sistem kolonial, juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Belandalah yang kemudian membatakkan bangsa/umat Mandailing dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda. Menurutnya, konsep Batak dari misionaris Jerman semula digunakan kelompok masyarakat di kawasan Tapanuli Utara, tapi lebih lanjut dipakai Belanda menguatkan cengekraman ideologi kolonial.

Definisi masyarakat Batak, dipertegas dalam buku Daniel Perret, "Kolonialisme dan Etnisitas; Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut". Semua istilah Batak dicatat dalam tanda petik dan identifikasi "Batak" dalam setting kolonial waktu itu merupakan bagian dari dikotomi antara Melayu yang dianggap beradab melalui Kesultanan dan Keislamannya dan posisi orang-orang "Batak" yang belum menganut Islam yang dianggap stereotip dari orang-orang yang tidak beradab.

Habitus Baru

Menurut dugaan saya, tekanan yang dialami masyarakat "Batak" di berbagai fase sejarahnya itu, menyebabkan kelompok masyarakat ini kemudian bergegas mencari kehidupan baru. Merosotnya Barus di kemudian hari, akibat intervensi politik-ekonomi oleh Kerajaan Aceh maupun Pagaruyung, setelah abad ke -6 itu, menyebabkan kelompok masyarakat ini hijrah mencari tempat dan penghidupan baru. Saya menduga mereka pergi melalui jalur Pantai Barat, hingga sampai ke Dolok Sanggul. Dari Pantai Timur menuju Silindung. Kemudian dua wilayah ini menemukan sentralnya di Balige.

Pulau Samosir sendiri menyusul kemudian, terutama setelah transportasi air diciptakan oleh Belanda dan berkaitan erat dengan misi Katolik. Hal ini sejalan dengan historis yang dijelaskan dalam Kronik Hilir.

Dugaan ini luntur akibat mitologi penciptaan orang "Batak" dengan kiblatnya Pusuk Buhit. Mitologi ini menjadi sumber yang dipakai dalam Kronik Hulu. Kelompok masyarakat "Batak" sudah ada jauh sebelum kejayaan Barus. Mereka tinggal di lembah-lembah pegunungan Bukit Barisan di persekitaran Danau Toba. Jadi sejak semula kisah, masyarakat "Batak" memang sudah tercipta atas 2 opsi.

Simpang-siur muasal ini boleh jadi mendorong sejumlah pemikir kebudayaan membuat semacam regalia untuk dijadikan patokan, salah satunya memberlakukan konsep Dalihan Na Toli ( DNT) yang menurut Peneliti Universitas Leiden Belanda, Johann Angerler, baru muncul dan berkembang pesat pada tahun 1950-an. Menurut Johann konsep itu telah digunakan pada institusi Bataks Studiensfonds yang merupakan perhimpunan Batak di Kotanopan. Pada saat itu, konsepnya masih kurang akrab dengan orang Toba." Barulah setelah era kemerdekaan konsep itu sangat populer. Demikian pula dengan penggunaan konsep Tarombo (silsilah) yang baru muncul pada tahun 1920-an, berupa adanya pencatatan silsilah orang Batak Toba.

Jika merujuk pada keyakinan Parmalim, DNT sebenarnya sudah lama ada, yang dirintis oleh Raja Uti. Cikalnya berasal dari konsep "Suhi Na Ampang na Opat." Dalam Suhi Na Ampang Na Opat" ditambahkan satu unsur lagi dari DNT, yakni Hormat Maraja. Menurut keyakinan Parmalim, seperti tertulis dalam buku "Agama Malim di Tanah Batak" oleh Prof. Ibrahim Gultom, pencopotan unsur "Hormat Maraja" itu dilakukan oleh Belanda untuk mengurangi kekuasaan raja, sehingga mempermudah kolonialisasi. Meski begitu DNT bukanlah jaminan penanda orang Batak. Bagaimana dengan orang-orang Batak yang menikah dengan orang di luar sukunya. Tentu prinsip DNT tak berlaku kepadanya.

Tarombo Batak yang diberlakukan juga justru sering menuai kontroversi, terutama oleh sub Batak (di luar Toba) yang menolak klaim atas marganya. Kemudian kelompok ini menguatkan diri sekalian menolak disebut sebagai "Batak" seperti yang ditunjukkan Mandailing dan Karo. Penolakan (denial) itu tentu saja memengaruhi wilayah administrasi "Batak" yang dulu sempat dipetakan oleh pemerintah Belanda sebagai "Bataklanden" yang mencakup seluruh wilayah Tapian Nauli.

Atas berbagai keadaan ini, menurut saya memang sudah perlu dirumuskan sebuah konsensus baru terhadap "Batak" menyangkut identitas-etniknya. Sebab, bagaimanapun historis pembentuknya tak lepas dari kepentingan berbagai pihak. Saat ini kita membutuhkan "Batak" yang kuat, mengakar dan mencerahkan!

Penulis; pekerja seni, media, dan budaya. Disampaikan dalam diskusi Forum Sisingamangaraja XII, Medan, 30 Juli 2011

Karya tulis Jones Gultom di blog ini :

Euforia Natal Pada Sebuah Kampung

Puisi Paskah

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

Baca juga : Ahmad Arief Tarigan ; BATAK?

Iklan

13 thoughts on “Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya

  1. GOOD. Tulisan ini cukup bagus sehingga perlu dibaca oleh mereka (kelompok aub etnik) di SUM UT yang masih gamang akan identitasnya.

    Terima kasih, Batak?????????????…..KEREN ABIS ……

  2. mengenai, pulau Samosir dan transportasi air, tolong ditinjau kembali, karena sebelum Belanda ada tidak ada pulau samosir, dan setahu saya dahulu Samosir bersatu dengan daratan Sumatra, sedang tanah genting antara Samosir dan Sumatra dibuat terusan buatan dan diganti dengan jembatan sehingga kapal dapat melewati tanpa harus berputar.. Ini dilakukan di zaman Belanda?

  3. Batak diartikan sebagai orang yang pandai berkuda. Pada umumnya kata Batak meyiratkan definisi-definisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di surat kabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.

  4. Martua Sidauruk berkata:

    Bagi saya, yang penting adalah bagaimana meningkatkan kualitas diri dan memberikan kontribusi yang luar bisa dari yang mengaku Batak terhadap sesama Batak dan negara ini.

  5. sahala simanjuntak berkata:

    PEMERINTAHAN BATAK, mungkinkah????????????????????????????????
    System Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-undang dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dipandang perlu untuk lebih
    menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut azas desentralisasi yaitu Penyerahan wewenang Pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meliputi mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

    Daerah Otonom menurut perundang-undangan adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Struktur perwilayahan daerah yang terendah adalah Desa. Selanjutnya dalam perundang-undangan tersebut ditegaskan bahwa landasan pemikiran pengaturan pemerintahan desa adalah : “Keanekaragaman, memiliki makna bahwa
    istilah Desa dapat disesuaikan dengan asal usul dan kondisi sosial Budaya masyarakat setempat, seperti Nagari, Negeri Kampung, Pakon , Lembang, Pamusungan, HUta, Bori, atau Naga, hal ini berarti pola penyelenggaraan pemerintahan Desa akan menghormati sistim nilai yang berlaku dalam adat istiadat dan budaya masyarakat setempat, namun harus tetap mengindahkan system nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”.
    Dari segi pengaruh Kebudayaan Batak di Pulau Sumatera, mencakup :
    – Sebelah Utara berbatasan dengan suku bangsa Aceh
    – Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka
    – Sebelah Selatan berbatasan dengan suku bangsa Minangkabau
    – Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia
    PEMERINTAHAN BATAK, mungkinkah????????????????????????????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s