Euforia Nasionalisme Tor-tor dan Gordang Sambilan

Jones Gultom

Sensitivitas masyarakat Indonesia kembali teruji, ketika pemerintah Malaysia menunjukkan sinyalemen akan mengklaim Tor-tor dan Gordang Sambilan Mandailing sebagai warisan negaranya. Sejumlah reaksi pun bermunculan. Mulai dari sekedar diskusi sampai demonstrasi. Termasuk yang dilakukan oleh belasan seniman yang ada di Medan, beberapa waktu lalu. Sehabis berdiskusi, mereka kemudian menggelar aksi panggung bersama di trotoar depan Taman Budaya Sumatera Utara. Tak tanggung-tanggung, seperangkat gordang sambilan dihadirkan lengkap dengan para penarinya. Gordang ditabuh, penari-penari meliuk dan masyarakat pun berkumpul menikmati pertunjukan gratis itu. Secara bergantian para seniman ini membacakan pernyataan sikap dan orasi kebudayaannya. Beberapa di antara masyarakat yang datang menonton, mulai terpancing suasana. Salah satunya, ada yang sampai “nyeletuk” dengan kalimat-kalimat provokatif. “Perang pun jadi”, katanya.

Reaksi masyarakat yang diwakili oleh para seniman ini, sebenarnya menunjukkan kekesalan kepada pemerintahnya sendiri. Apalagi ada kesadaran untuk mengakui bahwa apa yang dilakukan pemerintah Malaysia justru bernilai positif bagi perkembangan tor-tor dan gordang sambilan Mandailing itu sendiri. Setidaknya dengan diakuinya tor-tor dan gordang sambilan Mandailing sebagai aset bangsa Malaysia, eksistensi masyarakat Mandailing di Negeri Jiran itu tidak tergerus. Seperti kita tahu bersama, selama ini pemerintah Indonesia sendiri tidak pernah memberi perhatian serius kepada aset-aset seni budayanya. Tidak ada pendataan ataupun pemetaan keragaman produk-produk seni dan kebudayaan yang mewakili keindonesiaan.

Selain itu, kantung-kantung kesenian, khususnya yang berorientasi pada seni tradisi, yang selama ini hidup survive, justru dibunuh. Belum lagi infrastuktur pendukungnya yang sangat minim. Tidak bisa dibayangkan, bangsa sebesar Indonesia, yang memiliki ribuan etnis dengan kekayaan keseniannya yang variatif itu, hanya memiliki 1 gedung pertunjukan yang boleh dianggap representatif, yakni Gedung Kesenian Jakarta. Itupun merupakan peninggalan kolonial. Ide membangun gedung ini berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Ironisnya, masih banyak provinsi di Indonesia yang sama sekali tidak memiliki gedung untuk seni pertunjukan. Masyarakat tidak tahu dimana harus menggelar pertunjukan keseniannya. Belum lagi dengan beragam masalah klasik yang lain. Sangat wajar jika perlahan-lahan aset yang cukup bernilai itu hilang.

Tak Sekedar Memiliki

Inisiatif komunitas masyarakat Mandailing yang ada di Malaysia untuk mempertahankan akar kebudayaannya, setali tiga uang dengan agenda “Truly Asia” yang tengah diusung pemerintah Malaysia. Faktanya, Malaysia tidak satu-satunya negara yang bermimpi untuk menjadi ”galeri Asia.” Di Pattaya, Thailand misalnya, kita harus membayar ratusan ribu rupiah untuk menonton pertunjukan tari Serampang 12. Bahkan kita harus pula belajar kebudayaan Batak di Jerman atau Belanda.

Sebaliknya, negara kita termasuk tempat yang paling subur bagi ekspansi seni dari berbagai negara. Pada genre musik, kita mengenal, klasik, blues, jazz, rap, termasuk keroncong yang bukan asli Indonesia. Di antaranya bahkan mendapat tempat yang cukup eksklusif di masyarakat. Belakangan boy-girl band yang seratus persen Korea. Pertumbuhan musik-musik impor itu seiring dengan labilitas masyarakat terhadap kebudayaannya sendiri. Saat-saat seperti ini, kita mestinya berterimakasih pada pemerintah Malaysia yang mau mangakomodir permintaan komunitas Mandailing yang ada di negaranya itu.

Namun bukan berarti pemerintah Malaysia bebas mengklaim segala bentuk-bentuk kesenian yang ada di negaranya, sebagai warisan bangsa mereka. Secara de facto, Tor-tor dan Gordang Sambilan Mandailing ada di Malaysia, tetapi de jure, ia berakar dari bangsa Indonesia. Argumennya sederhana, bahwa masyarakat Mandailing yang ada di Malaysia adalah kelompok etnis yang memang berasal dari Indonesia (nusantara). Sekalipun komunitas masyarakat Mandailing itu sudah menjadi warga negara Malaysia, tetap saja akar kebudayaan maupun identitas kesukuannya berasal dari Indonesia. Sama halnya, di negara manapun orang Batak bermukim dia tetaplah Batak, jika ia masih menggunakan atribut kebatakannya. Pengakuan ini penting untuk mempertegas batas politik kebudayaan. Batas inilah yang harus dituntut oleh pemerintah Indonesia.

Tortor Batak Toba

(Tortor Batak Toba)

Duri Serumpun

Istilah ini dipopulerkan sejarawan, Rum Aly, menganalogikan hubungan Indonesia-Malaysia. Dalam satu catatannya, Rum menyebut ketidakmesraan Indonesia-Malaysia, di antaranya disebabkan, kekecewaan Soekarno yang merasa dikhianati Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri Persekutuan Tanah Melayu (PTM), Malaysia waktu itu. Konon sebelum merdeka, Malaysia pernah “bersepakat” akan bergabung ke Indonesia, yang merupakan saudara serumpun. Tidak heran jika, Indonesia di bawah Soekarno menjadi salah satu pendukung utama untuk kemerdekaan Malaya, (Malaysia) lepas dari kolonialisme Inggris. Salah satu usaha untuk itu dengan menggelar Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Selanjutnya, sebagai persiapan menuju kemerdekaan itu, Soekarno bahkan mengirimkan sejumlah penduduk Indonesia (Melayu, Bugis dan mungkin juga Mandailing) untuk mengisi kuota penduduk “lokal” seperti pra syarat yang diminta Inggris.

Tetapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Pada tahun 1957, Malaysia diberi kemerdekaan oleh Inggris. Tetapi sesudah 6 tahun berlalu, kesepakatan untuk bergabung bersama dalam satu negara serumpun itu, tak juga ditepati. Malaysia malah memilih gagasan yang dilontarkan Inggris untuk menjadi negara federasi. Konsep federasi itu dimaksudkan untuk merangkul Sabah, Serawak dan Brunei yang terletak di utara Kalimantan. Sebagai konsekuensinya, Malaysia tetap berada dalam naungan negara persemakmuran Inggris. Sebelumnya muncul saling klaim terhadap Sabah. Beberapa kali digelar pertemuan untuk membahas itu. Namun manuver gerakan bawah tanah yang dilakukan Kepala Intelijen, Soebandrio, berdampak pada kegagalan perundingan mencari kesepakatan. Sejak peristiwa itu, situasi politik antar kedua negara (Indonesia-Malaysia) memanas. Salah satu wujudnya Soekarno pun melancarkan aksi dwikora di tahun 1963. Adakah dendam politik ini yang masih terbawa antara Indonesia-Malaysia hingga sampai saat ini?

(Dimuat di Harian Sumut Pos, edisi Kamis, 21 Juni 2012 dan naskah ini dikirim penulisnya ke email blog ini pada waktu yang sama)

Karya tulis Jones Gultom di blog ini :

DANAU TOBA MILIK DUNIA

EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG

PUISI PASKAH

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

3 thoughts on “Euforia Nasionalisme Tor-tor dan Gordang Sambilan

  1. ND HUTABARAT
    Hamburg, 22 6 2012

    D I A L O G
    TORTOR
    NKRI SUMUT VS MALAYSIA
    DALAM
    KOMENTAR KONVERGENSI
    CERAHAN ITSS ILMIAH TEKNOLOGI
    TELEOLOGI SEKULAR KE SAKRAL TEOLOGI

    1.Bersinambung Lestari telah terjadi Manusia (MmHss Manusia Mopderen Homo Sapiens Sapiens) melacak mengetahui mengerti memahami cq apa Budaya (KBP Kulturbudayaperadaban) Civilisasi itu dalam Trio DGK Demografika Geografika Kulturologika, sebagai Fenomena Substansi Eksistensi Utilisasi, dillihat dalam Historiografika sejak Catatan Kronologi 12 Jt Th sM / 5 Rb Th sM (Kronologi ITSS Erzbishop Uhser London 1650 / Historika Victoria 1890 / Bibliotika London 1997 / Bibliotika Jerman 1999 / Cerahan NDH 2000) : Kita Manusia menjelaskan Apa Mengapa Bagaimanamestinya Susbtansi Eksistensi Utilisasi itu di Universum.
    2.Cerahan Informasi itu diterakan mulai dari Makroglobal sampai ke Mikrolokal Substansi Eksistensi Utilisdasi Regional Sektoral, Terbesar ke Terkecil, dari Induk ITSS ke Anak ke Cucu sampai Cicit Terkecil Yang Otonom Terahir dengan Obyek dan Metode Analisisnya, memperkenalkan dalam 3 Disiplin Besar (Anak ITSS) Natural Sciences + Social Sciences + Humanities / Produk Kultural Aktivitas Sadar Manusia.
    3.Dengan Kegiatan Manusia MmHss ini dalam Dimensi I II III Apa Mengapa Bagaimanamesti, tampaklah pada kita sekarang, cq Dialog Tortor NKRI Sumut Vs Malaysia) ini, yang jelas ialah Kelompok Altivist (Masyarakat / Negara) mana yang paling maju dalam Varietas Quantum Qualitas, sedangkan Awalnya dalam Makna sama berasal dari DGK Batak Awal (Ciptaan Muljadinabolon Mlajadibesar Tuhan Allah dikembangkan ASM Akuratip Symbiose Mutualis Sektarial – yaitu yang Eufaria Eufomisme).
    4.Dalam Civilisasai Dimensi I II III itu, manusia Hidup Survival Of The Fittests, ini tampak Siap lebih dahulu melakukan Pengamodotian (KOMODITI) dalam Proses PATEN MASUK DALAM Daftar Resmi Perjanjian Dagang Interkomntinental. Dalam Ilmiah ITSS tidak ada denki cemburu (HOTEL= Hosom Teal Elat), re Acjaram BTS Bvangsa Tuhan Satu JKI Jahudi Keristen Islam dan HBK Hindu Buddha Kunghucu) juga Parmalim (Muajadinabolon Tuhan Allah).
    5.Misal Catatan dalam Ikatan Alumni Indonesia di Jerman Eropa Dunia: Dari antara anggotanya, telah terdapat 15 Orang yang terinformasi mendunia Pemilik Pencipta Paten, yaitu (1) Maruli Humala Simatupang (1950an) : Kimiakayutekindustri, (2) Jusuf B Habiibie (1960an) : Avionteknologi), (3) Eko Supriyanto (Biologihumanditeksitek), mereka masing-masing ciptakan 15 Paten.
    6.Dengan Paten itu, mereka otomatis menerima Imbalan / Kompensasi Uang menurut Ketentuan Hukum Dagang Internasional. Hukum Mekanisme Mutahir terjadi di Prosesd Maya Para Pakar hanya melapskan Ciptaannya pada Teknologi Maya yang Memuast Universum, langsung menerima otomatuis homornya masuk di Banknya. Rekan pelaku i i (Jerman sudah saya bertemu di Toko Buku Besar Thalia Passage Eropa Hamburg 2012 Awal. Halini sebelumnya di dalam Workshop KJRI HH dengan Pakar AAI Indonesia oleh IASI saya mengomentar Diskusi Mereka Para Pakar Ide di Maya akan bisa mendapatkan Pengharagaan Ciptaannya otomatis memasukkan dalam Namk Universum itu. Akan merupakan Fenomena maju Civiisasi Titik Omega.
    7.Demikianlah kita dapat lacak terjadinya timbul tumbuh tumbang, dimulai dari Civilisasai di Purbakala ke Baru ke Moderen disebut dari Primitip Baru Moderen, dari MT Migrasi Tradisional Catatan I 40 Rb Th sM dan II 12 Rb Th sM (Indonesia NKRI Protoindonesia Indonesiatua sejak Terahir 3 Rb Th sM Re Batak juga di Sumut dll) serta MM Miigrasi Moderen yang Kelana jadi Invasi Kolonialisme Abad 15 / 20 terjadinya Polarisasai Dunia dalam Dunia I II III sampai Orref Kini dari 1998 NKRI 2004/2008 USA dan Dunia (Harus diawali Pionir Proklamasi Dunia dari 1 6 1945 dan Internalisasi NKRI Proklamasi Merdeka 17 8 1945, dan rekomendasi ke Dunia: 1948 HAM PBB, 1955 Dunia III Bandung, Dst Dst Dst Kini).
    8.Pada Tahap Quntum Qualitas Dasar HAM HAA PS I 1945/1995 dan dan ORREF II 1995 / 2045 Kini, jelas kita Manusia dari Awal yang Konvergen bertumbuh berkembang Sektoral dengan Divergir lalu mengalami Persentuhan yang konflik dan perang serta penghangusan tetapi syukur Survival Of The Fittests ini dalam Civilisasai Bersinambung Lestari sampai kini, sehingga jelas pada manusia JUGA MENGETAHUI MENGERTI MEMAHAMI dengan sadar Hukum Civilisasi Universum Titik Omega, Tuhan Pencipta Suprtanaturalkultural yang Kasihsuci itu.
    9.Maka Kita MmHss pun dapat dari Hukum Kesadaran juga dapat melakukan Tindakan Aktivitas dalam Hukum Batas Pembatsan, bekerja Sendiri dan Bersama yaitu BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama, yang Demokratis Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Panca Sila (Re 1 6 1945 dst).
    10.Tentu kita tegas dapat menyatakan Manusia mungkin Hidup Bersinambung Lestari Pamrih Amanah Tatanan Tuhan, yaitu bekerja dalam PBB serta semua Lembaganya yang Kybernetik ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral itu.
    11.Kita bisa tiba dalam PETA TUHAN Kembali (Konverggir) : Re Dari Konvergir Divergir Konvergir, memang Universum Mayapada itu Abadi (Termino Atheistis juga Theistis Arti Tuhanada re Hk Logika), adanya yang tumpas dalam waktu hanya hidup pendek juga panjang itu sama saja semua tetap berada di Universum, sebagai Biota dan Abiota, dalam Inkarnan tetap mempunyai fungsi keseluruhan substtan-eksisten-utilisan di universum itu. Hanya Tetapi ada dalam kesadaran manusia dalam hidup (biota) ia perlu hidup TBB Tepat Baik Benar dalam Kasihsuci Tuhan (Jalan Hidup Benar) – dengan demikian mungkin ia Hidup abadi sakral juga bisa di sekular (Materi Nonmateri).
    12.Mohon Reorientasi Dst Jabarkan Akademika Univertsitaria Honoriskausa ITSS.
    13.NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus, Missi Voluntir (Metode Tuhan, Teologi=Kebisaan Tuhan), HH.

  2. Paling tidak, sebagai orang Batak kita bangga budaya kita dihargai tinggi, sampai-sampai di klaim sepihak oleh Malaysia. Proud to be a Bataknese..

  3. Hiras Sirait berkata:

    @ NDT Hutabarat,
    Kenapa kamu menghabiskan waktumu menulis di blog ini kalau hanya mengexpresikan ide yang tidak informatif? Bahkan bisa dikategorikan idiotic? Sepertinya kamu itu seorang yang birth defect ya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s