Sapargondangan Wujudkan Geopark Toba

Jones Gultom

SEBAGAIMANA masyarakat komunal di berbagai belahan dunia, Bangsa Batak (Toba) dikenal sebagai masyarakat yang suka kebersamaan. Hal itu terlihat dari perilaku dan sistem sosial yang mereka ciptakan. Setiap perkerjaan dilakukan secara bergotong-royong, mulai dari menombang (membuka kampung baru) sampai membangun rumah. Bermacam persoalan yang ada juga diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat. Mereka berpatokan pada patik dohot uhum (aturan dan hukum), sehingga tak ada masalah yang tak terpecahkan.

Kebersamaan itu juga dibakukan lewat konsep kemasyarakatannya. Levelnya pun bertingkat-tingkat. Mula-mula kelompok marga. Kelompok yang satu induk dengan marga. Sampai yang satu trah dengan leluhur. Termasuk dari horja sampai bius. Ada juga yang diikat berdasarkan asal kampung. Bahkan pula dipersatukan oleh padan (sumpah nenek moyang). Bentuk-bentuk relasi sosial ini terlaksana sampai sekarang. Malah cenderung semakin kuat sebagai konsekuensi ekspansi yang progresif, terutama untuk mereka yang berdomisili di "Tanah Baru" (perantuan).

Semangat untuk selalu bersama-sama dalam pelaksanaan hak dan tanggungjawab inilah yang disebut Budayawan Batak, Irwansyah Harahap sebagai sapargondangan. Irwansyah menyebutnya dalam diskusi bertema "Mengusung Geopark Toba," di Gedung S2 Seni USU 26 Mei lalu. Diskusi yang diinisiatori Komunitas Earth Society ini merupakan lanjutan dari Talkshow yang telah dilaksanakan sebelumnya di sebuah radio di Medan, dengan tema yang sama. Berbagai profesi dari lintas disiplin ilmu antara lain, Gagarin Sembiring (geolog) Jhon Robert Simanjuntak (dokter dan pelaku pariwisata) Idris Pasaribu (jurnalis-budayawan Batak) Mangaliat Simarmata (ketua Earth Society), Jimmy Siahaan (Forum SM Raja) Rithaony Hutajulu (akademisi FIB USU) Erix Hutasoit (UM, PGI) Poloria (jurnalis/KSI) Juhendri Chaniago (aktivis LSM/KSI) sejumlah mahasiswa dan penulis sendiri ikut memberikan pemikirannya.

Spirit Orang Batak

Terminologi sapargondangan bisa berarti satu gondang yang sama. Pertama, analogi ini dipakai untuk menggambarkan sikap orang Batak yang selalu mengikuti arahan atau petunjuk pemimpinnya jika itu baik. Dalam pesta misalnya, ketika Raja Parhata mewakili kelompok-kelompok marga tertentu, didaulat meminta gondang (reportoar musik) mereka. Dia akan meminta izin lebih dulu dari kelompok yang dipimpinnya. Kemudian meminta kepastian dari mereka apakah setuju dengan permintaan yang dia sampaikan pada pargoncci (pemusik).

Menjelang akhir, dia akan menanyakan kepada anggota kelompoknya jikalau ada yang kurang. Bila ada, anggota kelompok tidak boleh mengatakannya langsung kepada khlayak ramai, tetap harus melalui Raja Parhata. Anggota kelompok percaya dengan pimpinannnya, karena sang pemimpin memperlihatkan sikap sapargondangan.

Kedua, dari semangatnya, Sapargondangan ingin menegaskan, orang Batak tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Kemanapun melangkah mereka akan menemukan ikatan sosial yang tak bisa mereka hindari. Dalam hal ini makna sapargondangan berarti bekerjasama untuk memainkan gondang dengan mematuhi aturan-aturan yang telah disepakati. Jika ada seorang pemain yang tidak mematuhi aturan dan bermain seenaknya, sudah pasti, suara yang dihasilkan menjadi sumbang dan tak harmonis.

Secara simbolik, sapargondangan mengandung filosofi akan pelaksanaan hak, kewajiban dan tanggungjawab masing-masing orang ketika beada dalam satu kelompok masyarakat tertentu.

Ketiga, sapargondangan berarti berdoa dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan suatu cita-cita. Doa dan perjuangan inilah yang melahirkan harapan. Seperti kita tahu, dalam masyarakat Batak terdahulu, ekspresi seni, khususnya musik yang diwakili gondang adalah media spiritual. Musik adalah doa. Nada-nada merupakan kata-kata. Dengan begitu istilah sapargondangan berada dalam wilayah yang sakral. Karena itu, literasi kata "sapargondangan" mengarah kepada sesuatu hal yang ilahiah.

Wujudkan Geopark Toba

Semangat geopark adalah integrasi pengelolaan warisan geologi (geological heritages) dengan warisan budaya (cultural heritages). Tujuannya konservasi, edukasi dan sustainable development. Konsep ini dikembangkan pertama kali di Eropa sejak tahun 1999 dan mendapat dukungan dari UNESCO. Saat ini sedikitnya sudah ada 78 wilayah di 21 negara yang sudah ditetapkan sebagai geopark. Dengan demikian wilayah-wilayah itu menjadi tanggungjawab warga bumi yang tak boleh dieksploitasi. Di Indonesia sedikitnya dari empat wilayah yang pernah diusulkan pemerintah, yakni Danau Batur, Pacitan, Danau Toba dan Raja Ampat, hanya Danau Batur dan Pacitan yang masuk nominasi geopark. Danau Batur dijadikan geopark karena di kawasan itu terdapat gunung aktif dan danaunya. Pacitan merupakan kawasan batu karst dengan sejumlah gua alaminya.

Bagaimana dengan Danau Toba? Ada banyak alasan menjadikan Danau Toba menjadi geopark. Pertama, dari segi sejarah. Gunung Toba pernah meletus tiga kali. Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea. Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di antara Silalahi dengan Haranggaol. Letusan ketiga adalah yang paling dashyat. Diperkirakan terjadi 74.000 tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera yang menjadi Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi.

Kedua, letak geografis Gunung Toba berada di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda. Setiap tahun lempeng-lempeng ini bergeser atau menabrak lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Indo-Australia misalnya mendesak lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dengan posisi geografis itu, sangat wajar jika Danau Toba dijadikan salah satu pusat studi geologi dunia, sesuai dengan syarat geopark itu sendiri.

Ketiga, kekayaan flora dan fauna yang ada di kawasan Danau Toba. Sebagai hutan tropis yang beriklim sejuk, hutan-hutan yang terdapat di sekitar Danau Toba kaya akan tumbuh-tumbuhan yang dapat dimanfaatkan baik sebagai bahan baku obat-obatan maupun untuk kebutuhan kuliner. Tumbuhan langka seperti edelweis (anaphalis javanica) atau kantung semar (nepenthes) masih dapat dengan mudah ditemukan di Pulau Samosir. Termasuk anggrek putih yang unik dan aneh, dimana Idris Pasaribu sudah melukiskannya. Di samping itu, rimbunan hutan yang berada di pegunungan yang melingkupi Danau Toba juga kaya dengan binatang endemis. Termasuk Harimau Sumatera yang telah langka itu.

Keempat, dari sisi industri kreatif pariwisata. Potensi yang dimiliki Danau Toba baik dari segi keindahan alam maupun ragam seni budaya masyarakat yang berdiam di persekitarannya begitu kaya. Airnya yang jernih dilingkupi pegunungan dengan ribuan air terjun dan sungai-sungai yang mengalirinya menjadi daya tarik tersendiri. Setidaknya ada dua air terjun besar yang menyuplay debit air Danau Toba, yakni air terjun Sipiso-piso di Tongging dan Sigura-gura di Asahan. Terdapat puluhan danau kecil di atas Pulau Samosir. Di Danau Toba sendiri ada ratusan pulau-pulau kecil yang sebagian besar di antaranya tidak berpenghuni.

Ada 7 kelompok sub etnis yang berdiam di kawasan Danau Toba yakni Toba, Karo, Simalungun, Pak-pak, Dairi, Angkola, Mandailing. Peninggalan sejarah budayanya etnis ini juga masih bisa ditemukan. Misalnya pada sub etnis Toba saja, kita bisa mendapati rumah-rumah tradisional yang tersebar di Pulau Samosir. Situs-situs batu di kaki Gunung Pusuk Buhit yang kaya dengan kearifan lokalnya. Kuburan batu di Tomok, Kampung Batak di Simanindo, Desa Tua Siallagan yang terkenal dengan artefak pengadilan batu-nya. Bakkara dengan istana peninggalan Sisingamangaraja-nya. Di Palipi terdapat Gereja Katolik tertua yang menjadi cikal bakal persebaran agama Katolik di Samosir. Dari segi spiritualitas masyarakatnya, masih bisa dijumpai kelompok masyarakat yang masih menganut agama lokal, agama masyarakat Batak (Toba) pra agama samawi.

Dari segi keseniannya, masyarakat yang berdiam di persekitaran Danau Toba juga memiliki karya seni yang tiada duanya. Karya seni itu berupa tor-tor (tarian) ulos (tenunan) gorga (ukiran) dan alat musik. Di Toba misalnya ada seperangkat gendang yang melodik pentatonik disebut taganing. Taganing adalah satu-satunya perkusi yang bisa jadi melodi sekaligus ritme, kata almarhum Drs. Ben M Pasaribu, MMA, SIT. Pada masyarakat Karo terdapat perkusi terkecil di dunia. Alat-alat musik itu sebagian besar dibuat dengan memanfaatkan alam, seperti bambu, kayu, maupun kulit binatang.

DSC00035a

Untuk mewujudkan Danau Toba menjadi geopark diperlukan dukungan semua pihak. Dibutuhkan semangat sapargondangan dari masyarakat, para ahli, anggota dewan dan pemerintah. Geopark adalah salah satu cara untuk menjaga Danau Toba; menyerahkan keberadaannya kepada warga dunia.

(Dimuat di Harian Analisa, rubrik Rebana, Minggu, 24 Juni 2012, dikirimkan untuk dimuat di blog ini Senin, 25 Juni, 2012)

Karya tulis Jones Gultom di blog ini :

Euforia Nasionalisme Tor-Tor Dan Gordang Sambilan

DANAU TOBA MILIK DUNIA

EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG

PUISI PASKAH

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

6 thoughts on “Sapargondangan Wujudkan Geopark Toba

  1. Di tengah keruyaman persahabatan oleh hegemoni politis yang menerpa masyarakat, pardonganon menyentak untuk dikembangkan sekuat tenaga sebagai original relationship khususnya dalam konservasi Danau Toba. Trims, salam

  2. setuju ! di akui jika dari daerah batak masyarakatnya menyatu dan benar benar kompak , mereka saling bantu jika ada yang butuh pertolongan

  3. NDH
    27 6 2012

    GEOPARK
    TOBA
    1.Ide Bersinambung Letari Manusia (MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens Sapiens.
    2.Bila 1999 di UNI Eropa terdapat Kreasi Realisasi Geopark ini, termasuk dalam Mekanisme disebut di Toba.
    3.Tahun 1963 kirnya mungkin saya akan sudah Studilanjut di USA tetapi Mekanisme Kultur Civilisasi saya tidak secepat itu dan baru pertama kali saya ke Dunia I Eropa Th 1970-an ahir serta dalam dekade itu langsung di dalamnya, intesip sehingga 1980-an sudah berintegarsi termasuk Turut Pencerah GP Generasi Penerus Interkontinental Fokus Indonesa NKRI sebagai Pelacak Planet Bumi Universum dalam Kultur Dunia I II III terutama untuk makna utilisasi teknologinya.
    4.Tatkala saya tiba di Jerman di Satu Taman di Wolfsburg Pabrik Pusat Motor VW Volkswagen meninjau, pada saat pause saya senang di Taman Hijau Park di kota itu tidak bosan-bosannya turut dengan kanak-kanak terutama banyak Orangtua Senior Pensiunan, berkomunikasi dengan banyak Unggas di Taman itu terutama yang bebas tetapi menjadi rekan sama merdeka hidup, mereka disuguhi para perempuantua itu makanan-makanan yang sudah gampang dibeli di Toko sesuai dengan kebutuhan bonatang-binatang itu, atau yang mereka bawa dari rumah, sisa makan keluarga, tetapi selalau yang sehat sesuai kebutuhan binatang itu. Tentu tak ada yang bermakna menjadikan sakit bintang itu tetapi harus tetap sehat seperti mereka pemberinya. Mangara Pardamean Sitorus kalau bertanyak dimana saya siang itu saya jawab di Taman, ia hanya tercengang, karena ia lebih sibuk Main di Mesin Otomat dapat Untung.
    5.Demikianlah Naturalkultural Bersinambung lestari telah nyata terjadi juga di Dunia I Eropa, manusia sudah beralih dari kekurangan kebutuhan konsumsi telah berkembang dari Kelana Koloni Perang Pulang Ke Awal karena Dunia hanya ditolerir Negara Medeka Semua, tentu Lingkungannya Intensip dipelihara dari DGK Demografika Geografika Kulturologika itu, sehingga banyak misal Bebek atau Gangsa langsung disemak dekat bertelor dan mengeram lahir anak-naknya dan segera memasuki kolam-kolam berenang bebas hidup sejahtera seperti diidamkan diusahkan manusia sejahtera Eropa itu : Cita-Cita Thomas Morus Ide Adam Smith – Inspirasi Ajaran Iman Percaya Tuhan.
    6.Geopark Toba Batak tentu Ikuti Hereditasnya yang sudah sejak awal dilakukan ajaran Mulajadinabolon diberi pada Ayahandaawal Bataraguru dan Putrinya Deak Parujar Ibunda Awal dari Era MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens Sapiens 12 Jt Th sM / 5 Rb Th sM serta juga Akulturasi dengan Turunan DGK MmHss Adam / Hawa 4004 sM yang juga sudah tersebar di Seluruh Planet Bumi Catatan 2247 sM (Re Erzbishop Uhser London 1650 Dst) istimewa 10 Hukum Musa di Sinai 1491 sM, serta Batak 3 Rb Th sM sudah tiba di Sumut di NKRI Kini juga melakukan Legitimasi Akultrasi Abad 19 pada BTS Bangsa Tuhan Satu Quran dan Bibel serta Kreasi Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Batak bersama Etnik Lain yang kukuh sejak awal dan Indonesiatua Protoindonesia budayanya, kontribusikan ke NKRI Mereka hingga kini dan dunia, kembali.
    7.Sebab itu dalam Teknologi Tinggi Dimenasi I II III Semua Kultur Civilisasi inklusip Verbal Sastra mendorong Geopark Toba ini Realisasinya akan Bersinambung Lestari Sekular Teleologi dan Sakral Teologi, TBB Tepat Baik Benar.
    8.Mohon Reorientasi Dst Akademika Universitaria Honoriskausa.
    9.NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus, Missi Voluntir, HH.
    10.B A C A :

  4. ya benar gan Untuk mewujudkan Danau Toba menjadi geopark diperlukan dukungan semua pihak,, ane dukung gan,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s