Percakapan di Parbaba

Jones Gultom

AYO cerita Danau Toba lagi, Yoh. Tentang pebukitan yang melingkarinya. Tentang airnya yang biru nan jernih. Tentang kesunyiannya. Tentang aroma kampung yang menggemaskan itu. Adakah cintamu masih tertambat di sana? Kapal-kapal yang melintas, berselisih dengan solu (perahu) nelayan. Lenting hasapi (kecapi) dan andung-andung sulim (ratapan seruling) yang mengiba-ngiba itu, adalah kerinduan yang tak terjelaskan.

Ah, masih kuingat pula nyanyian orang kampung di warung-warung. Kukenang pula tatapan kosong para petani yang galau melihat petak sawahnya. Bawang tak lagi tumbuh. Padi terbiarkan busuk sendiri. Tanah mengeras dan berkapur. Kekeringan meski berlimpah air. Terbayang pula wajah anak-anak sekolah yang menjinjing sepatunya. Bercengkrama di antara debu-debu jalanan yang bebatuan. “Seperti apa masa depan mereka kelak?” tanyamu. Aku tak berani menjawab. Pandanganku terbentur kerambah-kerambah. Bukit-bukit hitam mengejekku. Udara berminyak. Kehidupan sekedar siang dan malam. Gairah hidup hanya ada pada secangkir kopi. Setiap sudut ada yang mengeluh. Rasanya aku seperti mendengar lagu Silindut Ni Pahu.

Tak tahu mau marah kepada siapa? Kritikan-kritikan yang selama ini kita lontarkan dijawab dengan proposal-proposal. Geram rasanya, karena selalu ada orang-orang yang memanfaatan keadaan. Entahlah Yoh, rasanya seperti tak ada lagi harapan. Tak ada lagi kepercayaan. Orang-orang sudah terlalu pintar merancang nasibnya sendiri.

Persoalan pun semakin rumit. Orang-orang di sana terlanjur menaruh curiga kepada siapa saja yang mencoba melakukan sesuatu. Celakanya aku justru memahami itu. Sehingga kami pun larut dalam kepasrahan bersama. “Mungkin ‘ia’ memang tak ingin diganggu. Atau kita biarkan saja Danau Toba dengan segala kesunyian abadinya,” katamu menghibur. Tapi aku tak yakin. Sebab dunia ini lebih banyak dihuni orang-orang picik. Itu sebabnya di sana-sini selalu muncul pemberontakan. “Kalau begitu, bangkitlah !” Lagi-lagi aku tak berani menjawab. Mataku terlempar lurus ke depan. Menatap sebuah puncak gunung yang berkabut. Adakah dia juga menatapku? Ataukah kami sudah lama saling kehilangan? Ah Yoh, usaplah wajahku sekali lagi. Seperti yang pernah dilakukan nenek moyangku dulu. Lalu biarkan aku sendiri dalam keheningan ini.

DSC09048

Karya tulis Jones Gultom di blog ini :

Sapargondangan

Euforia Nasionalisme Tor-Tor Dan Gordang Sambilan

DANAU TOBA MILIK DUNIA

EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG

PUISI PASKAH

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

3 thoughts on “Percakapan di Parbaba

  1. lamhot sitorus berkata:

    “Sebab dunia ini lebih banyak dihuni orang-orang picik.”
    Setuju tapi pertanyaannya, siapa yang picik?
    –orang yang mau mengganggu keheningan danau toba ?–
    atau
    –Orang yang tak mau danau tobanya di ganggu–

  2. Sigulempong..

    Lagi lagi Danau Toba….!

    Oppung mulajadi nabolon … tatap ma sian pusukbuhit i tao toba nauli i, ai nungnga tung godang jolma halak hita “marsak” mamereng tao toba na sega i binahen ni namargoar “sihumisik” .
    Sotung gabe mago annon ‘Oppung’ angka sarita nauli sian tao toba, nalaho bo toon ni angka pinomparmu di arion, ditikkion, manang di ari nanaeng ro.
    Ah tahe . . . . mansai godang angka sarita begeon sian tao toba nauli i, masihol au sai naeng mulak tu ‘motung’ lao manatap tao i sian ginjang ni horsik.
    Santabi di amanta admin tano batak , aha dotahe lapatanni SILINDUT NI PAHU..?
    mauliate
    160812,bks jwbrt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s