Menunggu pilihan Mula Jadi Nabolon

150 Tahun Masa Diam

Sulaiman Sitanggang  (Cepito 13)

Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan berhenti di sebuah kota transit di kawasan Tapanuli, yaitu Balige. Kota kecil yang kian ramai sebab letak strategisnya yang menghubungkan beberapa Kabupaten, seperti Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan. Balige tampil sebagai salah satu titik sentral formasi bintang dari lima kabupaten dan segala pergerakan massa di dalamnya. Bagaimana tidak, hanya perjalanan 15 menit Bandara Silangit siap menerbangkan pelancong dari dan ke Bumi Tapanuli. Dan Balige tampil sebagai salah satu kota pendidikan dan kota sejarah yang disegani di Tapanuli. Setiap tahunnya, ribuan orang beranjak dari kota pendidikan itu menuju arah rantau yang jauh dan penuh tantangan. Ibarat pintu gerbang peradaban, Balige menjadi penjaga sekaligus penyaring keluar masuk kebudayaan ke Bumi Tapanuli.

Di kota kecil itu, saya teringat beberapa kenangan yang relatif berusia muda, sebuah susunan memori yang lebih banyak menghadirkan tawa, namun ada juga yang menyimpan tetes air mata. Bukankah hidup adalah susunan bahagia dan derita? batinku. Setiap orang menanggungkan nasib dan takdirnya sendiri, seperti simpulan penyair C. Anwar yang saya gemari, "hidup adalah kesunyian masing-masing".

Pertemuan saya dengan seorang sosok yang lebih tepat saya katakan sebagai sahabat sekaligus guru budaya membawa sekian banyak perbincangan menembus putaran waktu. Terlihat amang Monang Naipospos tersenyum menyaksikan rekaman Aksi Damai bernuansa kultural, baru-baru ini di Pulau Samosir. Sebuah aksi keprihatinan masyarakat atas situasi dan kondisi sosial masyarakat. Orang-orang Pulau itu menyebut dirinya Masyarakat Peduli Adat Samosir. Menggelar Aksi Damai, turun ke jalan, menyampaikan aspirasi dan jerit nurani ke gedung DPRD Kab Samosir. Orang-orang itu tampil menggugat pemerintahan untuk menjaga tatanan adat warisan leluhur supaya ditegakkan. Terkait pernikahan kontroversial seorang suri tauladan, seorang role model di tengah masyarakat, yaitu Ketua DPRD Samosir, yang berakhir menjadi tragedi. Masyarakat menilai peristiwa itu sebagai sebuah kesewenang-wenangan. Selain itu, masyarakat menyatakan telah MUAK atas konspirasi politik dinasti keluarga yang dijalankan pemerintahan Samosir sekarang ini.

Aksi itu membawa perbincangan ke ranah Adat Istiadat. Menggali kembali lembaran sejarah yang dalam kurun waktu 150 tahun terakhir terbungkam. Sebuah "masa diam" untuk budaya luhur yang pernah ada di pulau bersejarah itu. Kini masyarakat disana telah turun ke jalan seraya bertanya, dimana keberadaan tatanan ADAT yang pernah menjadi andalan masyarakat dalam menyelesaikan segala bentuk dinamika kehidupan? Dibandingkan dengan Hukum Positif, khususnya di Pulau Ulayat itu, Hukum Adat masih mendapatkan tempat yang lebih tinggi dalam menyelesaikan berbagai soal hidup. Sepertinya, masyarakat itu telah terbangun dari tidur panjang, mendapati kehidupan sosial masyarakatnya telah amburadul di segala lini, tanpa nilai, tanpa acuan, tanpa tauladan. Yang tua tak mengerti peran posisi dan tanggung jawab masyarakat. Yang muda bagai anak ayam kehilangan induk, tidak ada pegangan, kelabakan digempur budaya global di jaman yang serba cepat ini.

Dan kini, dalam menyelesaikan persoalan etika sosial masyarakat harus dilakukan dengan turun ke jalan!!! Aksi Demo!!! Produk-produk demokrasi dalam menyampaikan aspirasi kepada Lembaga Perwakilan Rakyat. Tak ada lagi Tonggo Raja, dimana Raja Adat berkumpul membahas persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, Raja Adat yang adil, yang bisa mengayom dan menengahi dan mengambil keputusan yang adil dalam setiap persoalan masyarakat. Tindakan Ketua DPRD Samosir itu sungguh melenceng dari harapan masyarakat. Sudah menimbulkan kegaduhan dan keresahan publik, terbukti melakukan pelanggaran etika dan moral, dia tak juga mundur dari jabatan publiknya. Ada apa dengan kursi kedudukan itu, hingga mesti dipertahankan walau sudah tak memiliki marwah lagi?

Masyarakat Peduli Adat Samosir menyatakan MENCABUT AMANAH RAKYAT dari ketua dprd itu. Masyarakat tak menemukan metode penyelesaian masalah selain Turun ke Jalan, Aksi Damai ke gedung DPRD dan menuntut anggota dprd yang lainnya untuk mengadakan SIdang Paripurna untuk mengambil hukum atas setiap pelanggaran yang terjadi dalam skala publik. Sidang Rakyat melalui Paripurna akhirnya dilaksanakan. Keputusan diambil, merekomendasikan Pemberhentian Ketua DPRD Samosir, Tongam Sitinjak, dari keanggotaan sebagai anggota DPRD Kab. Samosir. Surat itu dilayangkan ke Partai pengusung, kepada pihak2 terkait, kepada gubernur, untuk mencabut SK yang bersangkutan. Begitulah jaman kekinian dalam mengambil keputusan dalam skala publik.

Berbeda dengan kehidupan 150 tahun silam yang jauh lebih sederhana. Tidak ada tipi, tidak ada blekberry, tidak ada henpon, tidak ada listrik, tidak ada dunia hiburan malam yang menjamur. Yang ada adalah ritual dan prosesi adat istiadat yang merasuk hingga kepada kehidupan sehari-hari. Termasuk ketika mencari nafkah di ladang dan sawah tak lepas dari tatanan adat istiadat. Marsiadapari masih menjadi senjata ampuh masyarakat dalam bekerja sama mengerjakan sawah. Tak hanya itu, kerap dalam melahirkan Pemimpin di tengah masyarakat juga mesti terlahir oleh tatanan adat. Seperti diuraikan Monang Naipospos yang bercerita tentang Si Dodong, Raja Hinalang. Seorang Raja yang diangkat melalui tatanan adat istiadat yang bermarwah dan bermartabat.

Raja Hinalang pilihan Mula Jadi Nabolon

Pada suatu ketika, terjadi pertentangan adat istiadat antara Marga Si Bagot Ni Pohan dengan Marga Tampubolon yang berawal dari pembagian Jambar dimana Tampubolon lebih dulu menyebut dan memberi Jambar kepada Marga Silalahi. Menurut Marga Si Bagot Ni Pohan hal tersebut telah pula menyalahi tatanan adat istiadat.

Persoalan itu memuncak dan semakin besar karena menyangkut eksistensi Marga dan harga diri dalam tatanan adat. Siapa yang mau ditiadakan dalam paradaton? Siapa yang mau dihilangkan hak-hak adat nya? Begitu pulak, tak ditemukan solusi, setiap orang menyatakan kebenarannya sendiri. Demikianlah pertentangan itu dibawa masuk ke ranah mistik sesuai dengan tingkat keyakinan masyarakat pada masa itu yang senantiasa menyampaikan beban hidup kepada Sang Khalik yang disebut Mula Jadi Nabolon.

Sebilah Pisau Pusaka di letak diatas tikar bersama napuran dan utte pangir, ditemani doa-doa dan tonggo-tonggo kepada Mula Jadi Nabolon. Seraya memohon turut campur Yang Kuasa untuk menunjukkan pertanda dan keadilan dari pada Nya atas kehidupan umat manusia. Barang siapa berhasil mencabut Pisau yang telah didoakan itu dari sarungnya, maka Dialah yang menjadi Hakim Bijak atas persoalan antara Marga Sibagot ni Pohan dengan Marga Tampubolon.

Sayembara itu dicoba oleh kedua belah pihak yang bertikai. Namun tak satupun yang berhasil mencabut Pisau martonggo itu dari sarungnya. Pada saat itu, Si Tolngo turut hadir menyaksikan acara adat yang diselenggarakan secara terbuka untuk khalayak ramai. Si Tolngo yang baik dan tulus hati menjadi heran betul, kenapa sebilah pisau tak bisa dicabut dari sarungnya. Ia meminta ijin kepada Raja-Raja Adat yang hadir dan memiliki kuasa, untuk turut serta melaksanakan panggilan adat.

Begitu si Tolngo menghaturkan sembah dan ijin kepada khalayak ramai. Publik menjadi heran atas inisiatif si Tolngo yang lahir dari keingintahuan yang dilandasi kebaikan dan ketulusan hati. Sebagian mencibir upaya si Tolngo seraya berkata, raja-raja adat saja tidak ada yang mampu, apalagilah dia itu… Namun, ucapan adalah tetap ucapan. Apa yang telah diucapkan mesti dilaksanakan. Sayembara itu berlaku untuk siapa saja, dan raja-raja adat memegang penuh hukum ucapan itu sambil mempersilakan si Tolngo tampil ke depan untuk mencabut Pisau Pusaka itu dari sarungnya.

Keheranan tiba-tiba terpancar pada wajah publik, menyaksikan si Tolngo dengan mudahnya mencabut Pisau Pusaka itu dari Sarungnya. Raja-raja adat percaya dan yakin sepenuhnya atas petunjuk Mula Jadi Nabolon. Pisau Pusaka yang dipenuhi dengan doa dan tonggo itu telah memilih sang Pemangkunya yang kemudian diangkat dan diakui masyarakat adat sebagai Raja. Si Tolngo yang tak dikenal, yang hanya memiliki kebaikan dan ketulusan hati, telah dipilih oleh Sang Khalik menjadi Raja yang kemudian menyelesaikan persoalan antar Marga Sibagot ni Pohan.

Dia yang datang dari ketulusan hati, Dia lah yang diangkat sang Mula Jadi Nabolon menjadi Raja yang adil atas bangsa Nya. Si Tolngo mendapat gelar kehormatan menjadi Raja Hinalang.

sstoba, des 2012

15 thoughts on “Menunggu pilihan Mula Jadi Nabolon

  1. tanobatak berkata:

    Kasianus Siahaan
    Menarik pertanyaan lae, dan sebaiknya memberikan uraian yang lebih jelas karena mungkin lae adalah keturunan dari Raja itu juga.
    Hal ini sudah pernah dikomentari di Facebook oleh
    Rudolf Manru mengatakan; “Raja Sitolngo do Raja Hinalang parjolo anakna ma Raja Sidogor jala rap mangalap boru Situmeang”

    Terimakasih….

  2. Boasa asing muse turi2an on among ???
    Ml na hu boto br.situmeang do di alap oppu I,,,dang naipopos…
    Jala dang hea tarpabege au si dodong gabe hinalang.alai pinoppar(anak) ni raja hinalang do si dodong.

    Gamal siahaan./poparan ni sidodong.

  3. tanobatak berkata:

    @GAmal Siahaan
    Terima kasih atas koreksinya. Sejatinya tulisan ini diposting di blog ini berdasarkan ketertarikan atas kisah masa lalu yang penuh kearifan. Sumber sejarah itu berdasarkan apa yang didengar dari mulut ke mulut, tidak melalui tulisan sejarah yang dibuat oleh keturunan Raja Hinalang, dan cerita sejarah ini belum pernah kami koreksi ke sumber yang punya otoritas, dari keturunan Raja Hinalang.

    Sama sekali postingan ini bukan pernyataan kebenaran alur sejarah Raja Hinalang, tapi karena rasa hormat atas beliau dengan lintasan peristiwa itu dan dimaknai sebagai “anugerah” yang belum pernah didapatkan pada tulisan legenda maupun sejarah yang memiliki nilai adi luhung.

    Pada kelompok marga Naipospos bahwa Situmeang itu termasuk didalamnya. Karena pada artikel ditulis; “seorang perempuan boru Naipospos, kini banyak dikenal menjadi Situmeang”. Namun apabila pada sejarah di Keturunan raja Hinalang bahwa Situmeang bukan Naipospos, lain halnya, dan pernyataan anda menjadi mengingatkan dan sekaligus koreksi untuk dipahami para pembaca lainnya…

  4. Leon silalahi berkata:

    ada yg bisa bantu share tarombo siahaan hinalang, krn istri ku br. siahaan hinalang,, molo bapatua na mangulaki oppu sopoan.. mauliate

  5. alai. molo boi nian , diangka dongan namamboto taringot tu ” PUSUK BUHIT” molo boi jala sanga asa songon na di pamullup jo di partungkoan on . ai dang natanggung be ai anggo barita ni on. horas

  6. Luat Siahaan No. 11 Dari Raja Sitolngo berkata:

    Unang jo asal marcerita hamu, bo do parjadi na Raja Sidodong mangolu dope 100 taon na lewat, apala bapaku pe tubu taon 1925 jadi laos piga taon do raja Sidodong tubu hape ibana anak ni raja Sitolngo do (Siahaan Hinalang No. 1). Ralat hamu jo i bah, hapus hamu mai.

  7. tanobatak berkata:

    Kepada Turunan Raja Hinalang Siahaan yang terhormat.
    Apa yang menjadi kritikan anda semua mengenai urutan silsilah yang salah telah kami coba memperbaikinya. Namun apabila masih ada yang kurang, kami bersedia memperbaikinya. Kalau ada saran untuk menghapusnya, sengaja tidak kami lakukan karena kami merasakan ada pesan bermakna dari perjalanan sejarah itu. Namun bila perjalana sejarah yang telah menjadi cerita yang pernah terdengar juga salah, maka kami pun akan bersedia menghapusnya. Apabila anda bersedia menguraikan cerita yang sebenarnya, kami akan menyesuaikannya.

    Salam, Horas
    Admin

  8. Apul Rudolf Silalahi berkata:

    Ahu Amani Indy Silalahi tubuni boru Siahaan Hinalang, mangalap boru Siahaan Hinalang, jala damang parsinuan pe tinubuhonni boru Siahaan Hinalang..;
    Huta nami di Silalahi Dolok sainganan do dohot Hinalang jala najolo sanagari doi dimasani bolanda sahampung dimasa NKRI mula-mula..;
    Raja Sitolngo ndang na sipukka huta Hinalang, jala huta Hinalang mula nai ulos na so ra buruk doi sian pinomparni Raja Parmahan tu Tuan Odjur anakni Raja Sitolngo..;
    Tutu do Raja Sitolngo na gabe Raja Hinalang jala diimana do piso harajaoni Piso Raja Hinalang, turun doi sundut marsundut alai nuaeng mago mai (marmassam barita taringoti adong na mandok diboan bolanda adong muse pinda tu siborong-borong)..;
    Uli jala denggan do na barita na sinurathonna dison suang songoni na naeng binuatna..;
    Nang pe tutu hira na adong na hurang tingkos binaritahonna, alai songoni ma haroha na binotoni na mambaritahon sian “sumber” na nidapotna..;
    Binahenni, unang pola gabe parsoalan nian, godang do haholomon dimasa najolo na so ringkot be taringotan dimasa sinuaeng on..;
    Mauliate mardongan tabe…

  9. siahaan hinalang 14 berkata:

    horas,laho manambai/masukan taringot raja hinalang dhot history ni piso Raja hinalang di naparpudi boi manarik piso i sian sarung na.boi dona akka dongan na comment di son manukkun informasi tu no.hape on +6281376569574.ama roy hiskya siahaan.

  10. Andi Siahaan berkata:

    Au Siahaan Hinalang No.15,
    Gomparan Hinalang, Oppu Raja Badiaradja na marhuta di Dolok Martali-tali.
    Turiturian on nungnga sering hu bege sian Almarhum (among hu).

    Sepintas berita on hampir sarupa do dohot turiturian ni Among hu.

    Tertarik au mambege kabar ni Piso Raja Hinalang alana almarhum natua-tua i hea mamereng piso i

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s