Prasasti Dolok tolong

Humala Simanjuntak

Eksistensi prasasti Dolok Tolong dinyakini merupakan bukti utama atas persinggungan budaya batak dengan pradaban Hindu dan Budha di Indonesia. Prasasti Dolok Tolong merupakan Prasasti atas existensi, orang Majapahit di Tanah Batak

Saat itu Pasukan Marinir Kerajaan Majapahit, mengalami kekalahan pahit di Selat Malakka, mereka melalui Sungai Barumun menyelamatkan diri ke daratan Sumatera sampai ke suatu daerah di Portibi Tapanuli selatan, Disana mereka dicegat, di hadang masyarakat, sehingga mereka melanjutkan pelarian kearah utara ke Bukit Dolok Tolong di daerah Tampahan Balige. Di Gunung itulah mereka meminta suaka politik kepada seorang Raja dari Rumpun Marga Sumba (Isumbaon), yaitu Tuan Sorbadibanua yang saat itu menguasai daerah tersebut.

Daerah Dolok Tolong yang juga disebut daerah Tombak Longlongo Sisumbaon. Sebuah gunung yang lumayan tinggi, dari puncaknya pemandangan dapat di arahkan ke Samosir ke Silindung, ke Daerah Humbang, Tanah Asahan, Labuhanbatu dan ke arah Angkola. Doloktolong adalah Gunung seolah-olah merupakan pengawal daerah tinggi Toba yang ditengahnya terletak berada Danau Toba. Daerah Dataran Tinggi Toba, ditengah-tengahnya berada Danau Toba yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Daerah dataran tinggi Toba merupakan bahagian dari jajaran Bukit Barisan layaknya jajaran bukit-bukit itu bagaikan pagar dari Danau Toba.

Pasukan Mojopahit, yang menghindar ke sungai Barumun dipimpin seorang Pangeran dan ikut juga seorang putri bernama Siboru Basopaet (Putri Mojopahit) Srikandi Mojopahit,

Siboru Basopaet inilah yang ikut dalam rombongan pasukan/mariner yang kemudian dikawinkan kepada Raja Batak yang berkuasa pada waktu itu di daerah Toba yaitu Tuan Sorbadibanua. Dialah turunan Raja Batak dari turunan Isumbaon (Sumba). Puteri Mojopahit menjadi istri kedua dari Tuan Sorbadibanua. Istri pertama adalah boru Pasaribu memilih tempat tinggal di lereng Dolok Tolong disebelah barat namanya Galagala. Disitulah Boru Sipasopaet bertempat tinggal beserta 3 orang anaknya, Sobu, Sumba, Naipospos yang kemudian karena konflik dengan saudaranya yang tertua yaitu Sibagot Ni Pohan, mereka meninggalkan huta Galagala pada malam hari. Mereka turun ke Pangkodian dari sana mereka naik solu (sampan), satu orang kearah timur ke Sigaol dan 2 orang lagi kearah utara kedaerah Bakkara dan Tipang, kemudian dari 2 tempat itu turunannya menyebar ke daerah Humbang dan ke Silindung.

Daerah Dolok Tolong disebut juga Tombak Longo-longo Sisumbaon, diartikan Rimba yang menjadi tempat persembahan (sampai sekarang masih hidup istilah Tombak Longo-longo diceritakan orang-orang tua) di Puncak Dolok Tolong ada mata air (mual), yang di buat/dipelihara oleh Raja Sisingamangaraja untuk menggingatkan dan memperkuat Prasasti Dolok Tolong, namanya Mual Palakka Gading (tahun 40an penulis waktu masih sekolah SD meminum air dari mual itu dan dari sejak tahun 40an mual itu sudah menjadi objek wisata lokal).

Dapat dinyakini pada zaman Mojopahit Dolok Tolong itu dulu merupakan pusat Religius kaum Animisme dan Paganisme Batak. Bukan tidak mungkin kedatangan kerajaan Mojopahit sebenarnya sudah ada bentuk kebudayaan di daerah Toba/Balige tetapi kemudian hancur akibat peperangan-peperangan “Tingki ni Pidari”. Antara lain Perang Imam Bonjol dan kemudian bukti-bukti sejarah hancur setelah kedatangan agama Kristen. Dari sumber lain juga didapat penemuan sejarah bahwa salah satu putra Sisingamangaraja I (pertama) menghilang dari Bakkara pergi ke Balige namanya Siraja Hita, anak dari Siraja hita ini salah satu menjadi Raja Balige. Si Raja Balige bersaudara dengan Guru Patimpus/ Raja / Ulama yang sudah diakui pendiri Kota Medan.

16 thoughts on “Prasasti Dolok tolong

  1. Halasan Sioturs berkata:

    mengutp : Bukan tidak mungkin kedatangan kerajaan Mojopahit sebenarnya sudah ada bentuk kebudayaan di daerah Toba/Balige tetapi kemudian hancur akibat peperangan-peperangan “Tingki ni Pidari”.
    ===> Itu sudah pasti dan sebelum majapahit peradaban sudah ada di Tapanuli termasuk Toba . (tertulis di Negarakertagama pupuh XIII /Mpu Prapanca).

  2. Gaol Lumban berkata:

    ai gambar ni dolok tolong do dipatudu lae hape gambar ni Prasasti nai ndang haidaan. Oke lae kalo bisa sumber sejarahnya jga disebut sehingga kesannya tidak suhut-suhutan. Dan sngat menarik untk disimak “dapat dinyakini pada zaman Mojopahit Dolok Tolong itu dulu merupakan pusat Religius kaum Animisme dan Paganisme batak…dan kemudian bukti-bukti sejarah hancur setelah kedatangan agama Kristen. Rasanya kristen tidak pernah merusak situs-situs bersejarah dimanapun. Kalo kolonial Belanda mungkin merusak tapi missionaris tidak merusak. Kompeni dengan Missionaris dua hal yang berbeda.
    Au ndang tubu di balige alai alumni SMA N 1 Balige ngahudalani tu Sibodiala tombus tu tangga batu. Uli ni Balige ndang tarlupahon rrruar biasa hamajuonna.

  3. Thanks infomya: Sampai saat ini Mual Palakka Gading itu masih ada dan anehnya airnya tetap saja ada walau pada musim kering, dan berada pada pelataran yang paling puncak, dan disekitarnya hanya ditumbuhi semak2 saja, tidak ada pepohonan besar. Apa sumur itu diisi oleh pihak penjaga menara telkom yang ada disitu?, karena bagi yang berkunjung kesitu agak dikomersilkan juga oleh petugas jaga Telkom?

  4. sahala simanjuntak berkata:

    Sampai sekarang situs-situs disekitar dolok tolong belum terindifikasi,al: dolok siatas barita dan sombaon silindung/apakah ada kaitannya dengan dolok siatas barita di tarutung dan isitilah silindung di taput. Dimana letak perkampungan, sumba,sobu,naipospos? Riwayat dolok pamatahan yang konon dari sana Singamangaraja XII memacu kudanya sampai ke puncak dolok tolong. Horas.

  5. Humala Simanjuntak berkata:

    Pasukan marinir Mojopahit beberapa kali ke Selat Malaka/ Kerajaan Melayu, tetapi pada operasi terahir, mereka menghindar karena,Pasukan Kerajaan Melayu lebih kuat. Kerajaan Mojopahit kirakira tahun 1360-tahun1389 di perintah seorang Ratu yaitu Tribuwana Wijaya Tunggudewi. Pada waktu Pemerintahannya , menunjuk Gajahmada sebagai Mahapatih Pada zaman Gajahmada sebagai Mahapatih, kekuasan Mojopahit meliputi Sumatera, semenanjung Malaya, termasuk Singapura, Kalimantan Selatan, sulawesi ,Nusatenggara , Pada zaman Gajahmada sebagai Mahapatih,kekuasan Mojopahit semakin menurun,, maka untuk mengembalikan kejayaan Mojopahit ,di ciptakanlah/ diucapkan Sumpah Palapa..

  6. Horas Tulang Humala,
    Sebelumnya perkenalkan saya Justinus Nababan, Inang pangintubu hu Boru Simanjuntak Nomor 15 Mardaup (Tuan Sibadogil).

    Saya tertarik dengan tulisan Tulang ini, sungguh membuat saya penasaran dan bertanya-tanya apakah betul Istri kedua dari Tuan Sorbadibanua adalah Putri Majapahit yaitu Sibaso Paet ?. Ada beberapa kata yang saya Kritisi yaitu “Sibaso” dan “Paet” yang jika diartikan Sibaso artinya “Profesi Dukun yang dilakukan oleh Wanita atau lebih dikenal dengan Istilah Dukun Beranak” sedangkan Paet artinya bisa Pahit, Obat atau Hitam.
    Jadi agak meragukan, apakah Sibaso Paet ini Seorang Putri Majapahit yang berprofesi sebagai dukun beranak atau Dukun beranak yang tidak diketahui asal-usulnya.
    Mengenai bukti “Prasasti Dolok Tolong” ini bentuknya berupa apa ? Apakah Tulang punya gambarnya ?.

    @ Tulang Sahala : Letak Perkampungan Toga Sumba ada di Tipang, Tipang adalah Tanah Pauseang yang diberikan Raja Lontung kepada Toga Sumba karena menikah dengan Putrinya Siamak Pandan Nauli. Bukti Arkeologisnya ada di Huta Soit.

    Salam🙂

  7. Jonner Sianipar berkata:

    Data dukung untuk tanggapan Halasan Sitorus, 19 Des 2012:
    “mengutp : Bukan tidak mungkin kedatangan kerajaan Mojopahit sebenarnya sudah ada bentuk kebudayaan di daerah Toba/Balige tetapi kemudian hancur akibat peperangan-peperangan “Tingki ni Pidari”.
    ===> Itu sudah pasti dan sebelum majapahit peradaban sudah ada di Tapanuli termasuk Toba . (tertulis di Negarakertagama pupuh XIII /Mpu Prapanca).”

    Pupuh 13
    1. Terperinci pulau Negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane.
    2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama Negara‐negara melayu yang telah tunduk. Negara‐negara di Pulau Tanjungnegara; Kapuas‐ Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.

    (dikutip dari:
    Negarakretagama, Terjemahan Naskah Manuskrip Kuno Majapahit
    Ditulis Oleh: Prapanca – 1365 Masehi
    Didigitalisasi Oleh: Wira Nugraha – 2011 Masehi, untuk History Note
    http://historynote.wordpress.com)

    Dalam Pupuh 13 butir 1, Mpu Prapanca menulis bahwa Toba sebagai Negara bawahan (yang mungkin maksudnya Toba adalah bagian) dari Kerajaan Majapahit.

  8. Humala Simanjuntak berkata:

    @ Justinus Nababan.Terjemahan paling dekat dlam bahsa Btak adalah Sibaso Paet di anggap perempuan yang berpengetahuan pada zaman itu, boru sibasopaet itu aslinya adalah Srikandi yang di bawa pasukan angkatan laut pada ekspedisi di Selat Malaka. Mereka menghindar karena tidak bisa menghadapi angakatan laut Siam/Melayu pada waktu itu, setelah mereka sampai menyingkir kepada Padang Lawas melalui sungai barumun, terus melanjutkan perjalanan ke sebelah utara mengingat di tanah Batak ada Kerajaan yang di pimpin oleh Tuan Sorbadibanua. Akhirnya Tuan Sorbadibanua mengawini Srikandi Mojopahit dengan maksut memperkuat Kerajjan Majapahit di tanah Batak. Dan peristiwa ini di tandai dengan Prasasti Dolok Tolong. Dan di lereng Gunung inilah si Boru Basopaet tinggal dengan anak-anaknya Tuan Sorbadibanua, nama lereng Gunung itu adalah Lumban Gala-gala. Jadi Boru Sibasopaet adalah terjemahan dalam Bahasa Batak yaitu terjehan dari Srikandi Mojopahit. Karena Pengetahuannya pada waktu itu sudah lumayan tinngi di banding dengan wanita-wanita Batak, maka dia di beri nama Boru Majapahit akhirnya di terjemahkan menjadi Boru Sibasopaet.

  9. Gaol Lumban: Bahwa Prasasti dolok tolong ditandai mata air yang sekarang sudah dibikin oleh Telkomsel menjadi seperti bak air. Dolok tolong pusat paganisme itu benar dan di lereng Dook tolong itulah Tuan Sorga di banua menempatkan istri keduanya, yaitu Boru Sibasopaet bermukim dengan anak-anaknya, Sumba, Sobu, dan Naipospos. Benar bahwa Kristen tidakpernah merusak situs2, tetapi tidak memeliharanya, sehingga rusak dan hilang. Perang Paderi/perang Bonjol yang merusak sebagian dari situs2 itu

  10. @Gaol lumban: Prasasti Dolok tolong ditandai dengan mata air di puncak yang sekarang sudah di buat oleh telkomsel menjadi bak air dan fotonya ini banyak di tempat lain, Dolok tolong pernah menjadi pusat animisme dan paganisme itu adalah benar. Selanjutnya Tuan Sorbadibanua menempatkan pemukiman istri keduanya boru Sibaso paet beserta anak-anaknya di Lereng Dolok tolong, yaitu Lumban galagala. Anaknya ada 3 orang, yaitu Sumba, Sobu, dan Naipospos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s