Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba

Jones Gultom

Berbicara tentang musik Batak Toba, tidak terlepas dari berbagai aspek. Seperti kita tahu, fungsi musik bagi bangsa ini, selalu terkait dengan ritus-ritus yang bersifat spiritual. Ia dipakai dalam upacara-upacara tertentu. Sebagaimana ciri kosmologis mereka, orang Batak Toba mendasarkan pengalaman empiris dan sipritualitas mereka, salah satunya melalui musik. Itu sebabnya, status sosial pemusik Batak Toba, mendapat tempat khusus di masyarakat. Mereka dianggap sosok pandai yang terpilih. Yang mempunyai kepekaan khusus dalam memandang hidup dan alam sekitarnya. Bahkan dalam konteks yang lebih sakral mereka disebut sebagi manifestasi Batara Guru. Batara Guru sendiri adalah satu dari trinitas dewa tertinggi Batak Toba (Batara Guru-Bala Bulan-Bala Sori) yang salah satu tugasnya menjadi mediator manusia dengan Mulajadi Nabolon ( Sang Pencipta).

Musik dianggap paling efektif untuk mendekatkan diri seseorang dengan Tuhannya. Tentu saja, karena musik adalah media yang paling gampang menyentuh perasaan manusia. Tidak heran jika kehadiran musik membawa nuansa yang lebih religius dalam setiap upacara atau ritus masyarakat Batak Toba. Hubungan ini dapat dilihat dari spiritualitas yang mendasari konsep musik itu. Sehingga membentuk perspektif serta tatanan baku dalam tradisi bermusik dalam masyarakat Batak Toba. Perspektif masyarakat terhadap pemusik dan pemusik dalam terhadap masyarakat. Keduanya saling menjalin dalam hubungan yang tak bisa dipisahkan

Bagaimana halnya dengan fungsi ekologis musik Batak Toba? Musik Batak Toba juga tidak lepas dari konsep yang mereka anut dalam menterjemahkan kehidupan. Di situlah sisi ekologis musik itu terekam. Misalnya, dalam suatu upacara, sebelum para peserta manortor dengan iringan gondang, terlebih dulu dilakukan sebuah ritus khusus yakni dengan mambuat tuah ni gondang (mensucikan gondang). Yaitu dengan memainkan sebuah reportoar musik sebanyak tujuh kali putaran. Setelah gondang disucikan, tahap selanjutnya pun dimulai. Diawali dengan gondang mula-mula. Dasar spiritualnya, bahwa semua yang ada di dunia memiliki asal muasal.

Selanjutnya gondang Somba-somba yakni menyembah Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta) yang merupakan Sang Asal-Muasal itu. Berlanjut dengan Gondang Liat-liat, yang memiliki makna bahwa manusia harus mengolah hidupnya dengan tuntunan Mulajadi Nabolon, figur yang disembah itu. Setelah melewati proses itu, lalu dilanjutkan dengan gondang lainnya yang muatannya disesuaikan dengan latarbelakang hajatan itu. Jika upacara pernikahan maka gondangnya akan berbeda dengan upacara kematian. Dalam arti, prosesi itu menegaskan adanya pengakuan terhadap mekanisme ekologis yang sering disebut “perjalanan evolusi” itu.

Alam yang Berdendang

Dalam perkembangannya, musik itu direpresentasikan dalam sejumlah instrument yang bermakna ekologis serta lebih dinamis. Misalnya kita mengenal reportoar musik gondang berjudul “Saniang Naga Laut” “Si Buruk” “Tapi Tola” “Si Bunga Ri” “Si Bunga Jambu” dan lainnya. Menariknya, nilai-nilai ekologis di dalamnya itu tidak berdiri sendiri. Ia berasal dari pemaknaan tertentu yang direlevansikan dengan kehidupan manusia. Contohnya reportoar “Saniang Naga Laut”. Gondang ini tercipta karena keyakinan terhadap adanya sosok power penjaga air. Tidak heran jika orang Batak Toba sangat mensakralkan sumber-sumber mata air.

Bahkan air dianggap sebagai “timbangan” kehidupan. Jika di satu kampung dilanda bencana, maka hal pertama yang dilakukan masyarakatnya adalah menggelar ritual terhadap sosok penjaga air. Mereka kemudian membersihkan sumber-sumber mata air itu lalu dengan juruk purut. Kemudian si sakit dimandikan di tempat itu. Tak jarang pula disertai dengan manortor bersama. Reportoar yang dimainkan ditujukan bagi “Saniang Naga Laut”.

Dalam situasi normal, setidaknya sekali dalam satu tahun dilakukan acara ritual pada mata air itu yang disebut “mangase homban” yang tujuannya merawat dengan cara membersihkan lokasi sumber mata air, perawatan tanaman dan pohon yang ada di sekitarnya, perawatan aliran air ke hilir hingga perbaikan pematang sawah.

Memang masing-masing sumber mata air diyakini memiliki simbol powernya sendiri. Boleh jadi berkaitan dengan leluhur si pemilik mata air itu. Namun orientasinya mengacu pada “Saniang Naga Laut”. Hal ini berkaitan dengan kisah penciptaan, orang Batak, dimana “Saniang Naga Laut” yang juga disebut “Si Boru Saniang Naga” adalah adik dari Si Boru Deak Perujar. Si Boru Deak Parujar-lah yang dipercaya mula-mula menempah Tanah Batak. Sedang Si Boru Saniang Naga sendiri, kemudian “berdaulat” atas air.

Dari sisi hermeneutika, “Saniang Naga Laut” boleh jadi berarti Sang Naga penjaga laut. Nah bukankah semua aliran air akan bermuara ke laut? Dan bukankah laut sering dianalogikan sebagai tempat muaranya kehidupan?

Begitu juga dengan reportoar “Si Buruk” Ia diciptakan berdasarkan pengalaman empiris seorang tabib yang melihat bagaimana seekor induk burung menyembuhkan kaki anaknya yang patah dengan air liurnya yang dicampurkan dengan getah sebuah pohon serta jenis rumputan tertentu. Tampak sekali, bahwa reportoar musik ini hendak menjelaskan betapa obat penyembuh dapat diperoleh dari alam. Memang penamaan reportoar-reportoar itu diduga masih terbilang baru, namun dasar ekologisnya telah dipraktikkan beribu-ribu tahun yang lalu.

“Si Bunga Ri” termasuk salah satu reportoar yang dimaknai dari filosofis ilalang. Bunga Ri sendiri bermakna ilalang. Konteks musiknya menggambarkan remaja yang kehidupannya diibaratkan seperti ilalang yang “oleng” jika tertiup angin. Remaja juga dianggap sebagai sosok progresif ketika menuntut sesuatu hal. Semakin dilarang semakin ngotot! Sama dengan ilalang, semakin dibabat, semakin merambat!

Nada-nada Alam

Dalam upacara yang lebih besar, seperti pembukaan kampung atau ketika akan mendirikan sebuah rumah juga digelar upacara tertentu dengan iringan gondang. Bahkan ketika akan menebang pohon, masyarakat terlebih dulu menggelar doa, memohon agar penebangan itu direstui. Sekaligus meminta berkah agar kayu yang umumnya untuk tiang itu, akan mampu menopang rumah. Kayu-kayu yang akan ditebang harus memiliki syarat-syarat khusus. Antara lain; sudah berumur dan tidak berada di sekitar sumber mata air. Lebih dari itu, diberlakukan sistem 3:1. Yakni sebatang kayu yang ditebang, harus diganti dengan 3 tanaman baru yang kurang lebih sejenis. Kenapa harus 3? Yang pertama untuk menggantikan yang baru saja ditebang. Yang kedua diperuntukkan bagi anak dan yang ketiga untuk cucu. Hal ini sesuai dengan prinsip patrenial Batak Toba yang hanya sampai pada generasi ke-3.

Demikian pula dalam konsep pertanian. Setiap kali musim tanam dan panen tiba, masyarakat Batak Toba di masa lalu, lazim menggelar upacara memohon berkat dan acara syukuran. Jika sedang musim tanam, masyarakat membawa bibit mereka untuk didoakan. Begitu juga ketika panen. Sebagian hasil panen itu dibawa untuk dipersembahkan kepada Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta). Upacara itu ditandai dengan manortor bersama yang diiringin gondang. Selain kepada “Saniang Naga Laut” reportoar musik juga ditujukan kepada “Naga Padoha Ni Aji” yang berdiam di dalam tanah.

Perkembangan zaman menuntut pemusik-pemusik Batak Toba lebih kreatif. Baik mengolah ulang reportoar sebelumnya atau menciptakan instrument yang baru. Yang menarik, dalam musik itu, tetap ditemui unsur-unsur alam. Baik dari syair maupun eksplorasi musikalitasnya. Memang tidak ada penelitian resmi, sejauh mana unsur-unsur alam itu tetap melekat. Namun jika disimak, tema-tema lagu yang diciptakan dewasa ini masih didominasi oleh alam. Prinsip Bona Ni Pinasa maupun Bona Pasogit, tetap menjadi dasar penciptaan musik dan lagu masyarakat Batak Toba. Pemujaan atau kritik terhadap alam, termasuk yang menginsipirasi sejak dulu sampai saat ini. Bahkan ungkapan-ungkapan yang kelihatannya bersifat sosial, seperti “Amang Parsinuan” maupun “Inang Pangitubu” bersumber dari paham ekologis. Karenanya, musik sebagai alternatif gerakan kebudayaan masih sangat memungkinkan untuk memulihkan lingkungan, khususnya di sekitar tempat mereka tinggal.

(Dimuat di Analisa, 16 Juni 2013. Dikirimkan ke blog TanoBatak tgl 18 Juni 2013)

Generasi Muda Gondang Batak

Tautan :

GONDANG BATAK WARISAN YANG KURANG DIHARGAI

Gondang Batak Dan Pemahamannya
Goar-goar ni gonsi Batak Toba
Tonggo Gondang Turun
Maminta Gondang
Sajak untuk Gondang Batak
Pargonsi dari Parsambilan Silaen
Pargonsi dari Ronggurnihuta Samosir
Gondang Naposo
Tortor dan Ulos

GONDANG YANG BAKAL HILANG

GELIAT GONDANG BATAK

MEMAHAMI SENI SUARA DAN SENI GERAK BATAK

Tulisan Jones :

Kumpulan Puisi Multidimensi

Menguatkan Wacana Geopark Toba

Hentikan Eksploitasi Danau Toba

PERCAKAPAN DI PARBABA

Sapargondangan

Euforia Nasionalisme Tor-Tor Dan Gordang Sambilan

DANAU TOBA MILIK DUNIA

EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG

PUISI PASKAH

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

4 thoughts on “Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba

  1. N.D. Hutabarat berkata:

    NDH

    Sent:Tuesday, June 18, 2013 8:13 AM

    Subject:MUSIK EKOLOGIS BUDAYA BATAK Yu Tube Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba | TanoBatak Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan | TanoBatak

    NDH 18 6 2013

    MENELUSURI HISTORIOGRAFIKA DGK DEMOGRAFIKA GEOGRAFIKA KULTUROLOGIKA BATAK CQ DI INDONESIA SUMATERA UTARA – NKRI

    1. Klik dan studi 2 Artikel di atas: Musik Ekologis…. dan Sumbangan Kebudayaan… 2. Keduanya dihidangkan Tano Batak, dari Monang Naipospos. 3. Tulisasn Cerahan Jones Gultom KOMENTAR KONVERGENSI NDH

    1. Cerahan Pengantar saya dalam Studi ITSS Ilmiah Tekno Teleologi Sekular ke Sakral Teologi, sebagai usaha disiplin stusi pengetahuan manusia sadar alamnya dan sekitar, sebagai usaha terahir dan jadi awal lanjutan jabarannya. 2. Saya nyatakan kepada Pemerhjati ITSS yang nyata memiliki bakat untuk itu, bahwadalöam Kultur Batak juga ditemui Urutan Bersinambung Lestari DGK Demografika Geografik Kulturologika itu bersama dengan Pengamalnya (Manusia=Ahli/Pakar). 3. Kiranya kepada U,mum via Internet Diskusi Interkontinental di berbagai Werbsites dan Lainnya, secara khusus juga saya nyatakan dalam gaum dsb pembicaraan saya NDH dengan Bistok Siahaan, Prof DR (1990-an), Robert Sibarani, Prof DR, (1990-an), dan Andar Pasaribu, DR Cand, 2000-an. Serta juga mungkin yang lain termasuk Non Batak. 4. Yaitu juga di Batak ditemukan ketidak bersamaan aktuilnya timbul Ahli menjadi Pembimbing Pencerah Bersinambung Lestari Kulturologika itu, sebaga Kasus Konflik yang melibatkan 3 DGK itu. 5. Tatkala saya di Kota Medan tempat Timbul Terelite Sumut domisil selama 1949/1957, tatkala di SLA Sekolah Lanjutan Atas (Pendidikan Dasar /Pendidikan Tinggi -Akademik / Honoriskausa; Masuki Jabatan Usaha Masyarakat) saya membaca Buku dan Ttg DR Charles Darwin, Pencipta Teori Evoilusi, tatkala ia berumur 81 (atauz 83) tahun, berdoa kepada Tuhan, mohon umurnya diperpanjang, agar lebih jabar kontribusi ilmiahnya tentang universum (subtansi existensi utilisasi, apa mengapa bagaimanamestinya), betapa besar kuasa Tuhan atasnya. 6. Membaca kedua buah tangan Jones Gultom ini, saya acc-kan teleologis yang teologisnya. Termasuk pikiran yang tendensi saya terhadap Masyarakat Parmalim, Pengenal Agama Mulajadinabolon (Tuhan Allah, Monotheisme), diterima dari Tuhan Allah di Surga langsung diajarkan kepada Bataraguru Ayahandaawal Batak di Dunia Para Dewa, serta dioteruskan kepada Putrinya Deakparujar yang membawanya ke Dunia Bumi, Internalisasi dan Implementasi dalam Kultur DNT dalam DGK. TERJADI PERTUMBUHAN : BERSINAMBUNG LESTARI 1. Terimakasih Bibit (Inang/Ito) Jones Gultom, telah saya ikuti dan berinteraksi dalam diskusi, bertalian juga berterimkasih dengan Bapak Monang Naipospos, dalam Tema Tano Batak tentang DGK Demografika Geografika Kulturologika terutama, seperti didalam Cerahan ini- 2. Telah Bersinambung Lestari tampak dalam dalam tulisan Budaya dan Musik Batak ini, cerahan dalam Terminologi yang makin bertaut terutama dengan kasus ilmiah sektoralnya disebuit dalam eksistensi budaya dan musik disebut di sini. 3. Aristoteles bersama Rekan-Rekan Filosof Zamannya, kita sebut mula insentip pengetahuan pengertian pemahaman semua di alama sekitar yang diberi penamaannya, demikian Terminologi yang dimakausi bertalian Psikosomatisme, atau dalam 3 Faktor Lithosphere – Hydrosphere – Atmosphere, dimana terdapat pengakurasian terminologi masing-masing dalam jadi jelas DGK Demografika Geografika Kulturologika itu, di dalam lingkupan menyeluruh global makro dan mikrokosmos dari terbesar sampai bagian terkecil bersamaan dengan eksistensi konsekuensi kulturologika utilisasinya dalam kehidupam masyarakat manusia (HAM) dan hak azasi alam (HAA). 4. Kitaran tahun 1990-an/2000-an lalu di Kota Medan muncul Konflik terhadap Agama Bataktua PARMALIM. Ternyata dari pihak diri mayoritas lebih benar, ada perorangan yang mengingatkan sikap harga Dasar HAM HAA PS Panca Sila kepada mereka. Saya yang berada dikejauhan di Eropa, telah berkesempatan memberi pengukuhan Dasar HAM HAA PS itu justeru ditunjukkan oleh pihak pengkritik bahkan menghalangi misal Kantor Pusat di Medan dibangun. 5. Justeru saya ajukan kesempatan dapat dimabil Parmalim aktualisasimnya Upacara Edukasi Kesucian yang jkusteru pelaksanaan Iman Percaya yang populer jadi besar kini di Dunia Agama, menjadi makin mencari Metode Kesucian, yang m,ana ini Parmalim akan memberi kontribusi partispasi konvergensi Mulajadinabolon Tuhan Allah Debata Jahowa, dimana terutama tingkart Pembangunan Dunia DGK Kini 50 Th I 1945/1995 dan II 1995 / 2045 kiranya telah tiba Fernomena Urapan Tuhan pada Faktor Existensi Manusia cq IQ Meningkat, – karena memang dari Pengetahuan Penertin Pemahaman (Teori) Evolusi cq Charles Darwin Dkk, Peningkatan Lestari dalam Bersinambung itu adalah Produk Akurat dalam Symnbiose Mutualis. 6. Penting kiranya Bapak Monang Pospos juga dari Parmalim sebagai Sekumnya, disamping itu beliau sebagai Penggali Penginteresse Budaya Sastra Batak, serta duduk sebagai Anggota DPRD di Sumut, halmana berakibat konsequensi maju pada Masyarakat Parmalim sendiri sibagai jadi Kontributor Pembangunan Budaya Bersinambung Lestari di NKRI. 7. Bertalian usaha ini sebelum 1996 Bistok Siahaan, Prof DR, IKIP Negeri Jakarta, Direktur S3, minta usul saya, dan telah dimulai disusun Kurrikulum Pembinaan Kultur Batak, yang telah mulai dilaksanakannya Ceramah Daalam Rangka HUT 17 Agustus 1995 di Jakarta, halmana lanjutan usul yang saya ajukan akan bersinambung lestari. Hal bersamaan dalam konvergensi BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama dengan Usaha Jones Gultom dan Monang Pospos Dll. Sayang Maret 1996 beliau Bistok Siahaan marhum. 2 jam sebelumnya hubungan telepon kami berdua, masih sempat neliau mengusulkan mndorong saya meneruskan Hubungan Antar Alumni Batak Interkontinental. 8. Silahkan Bibit Jones Gultom dan GP Generasi Penerus dari GP Muda serta Semua yang ada sama terdapat di dalam Masyaerakat INTERGENERASI (Alumni Tua dan Muda) sebagai Masyarakat BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama Bersinambung Lestari itu dalam saling hubungan Tut Wuri Handayani, terjadinya Harmoni Hubungan Antar Manusia – karena itu atas Dasar Kasih !!! 9. Sangat urgen unutuk Pertumbuhan Cerahan Jones Gultom Serta Lainnya GP Generasi Penerus, lihatlah dengan baik Historiografika DGK Batak itu dalam ASM Akurat Symbiose Mutualas yang disebut dalam Kronologi ITSS Ilmiah Teleologi Sekular ke Sakral Teologi dari Erzbishop Uhser 1650 London / Historika Victoria 1890 / Bibiotika London 1997 / Bibliotika Jerman 1999 / Cerahan NDH 2000. 10. Kronologi itu memulai Catatan Universum 5 Miliar Th lalu, sebagai satu terdiri atas Abiota berjabar 3 Lithosphere-Hydrosphere – Atmosphere, Antar 4-3 Miliar Th lalu Timbul Tumbuh Biota (Vega Animal Humana). Dan Antar 12 jT Th sM / 5 Rb Th sM timbul tumbuh MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens Sapiens di Timteng Asal Afrika. Serta 4004 sM timbul tumbuh MmHss Adam / Hawa BTS Bangsa Tuhan Satu sebagai Model diajukan Tuhan kepada Ciptaan di Universum, lihatlah Biblika Injiltua dan Baru serta Quran, dengan jabarannya disertai legitimasi baik oleh Tuhan begitupula Legitimasi Tafsir dalam Konfessi Agama-Agama BTS itu. Dengan demikian Batak sendiri yang memulai menerima Ajaran dari Akar Bangsa MmHss 12 Jt Th sM telah mengadakan Akultrurasi dengan BTS serta Jabaran Legitimisainya, lihatlah Batak di Sumut NKRI sudah pada Abad 19 menyatakan Legitimasi Mulajadinabolon itulah yang disebut dalam Bibel dan Quran (Apostel : Nommensen / Bibel, Tuanku Rao Simabela/Quran)- dan Tuhan Allah Debata Jahowa diinternalisasi dijabarkan dalam DNT Dalihan Na Tolu DGK yaitu Triaspolitika Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Panca Sila untuk NKRI (Moderen) yang dicipta Pra NKRI 1 6 1945 / NKRI 17 8 1945 dan diterima Dunia / PBB Desember 1948 dan Dunia III Kongres Bandung 1955. Dst Kini dalam BBB PBB. 11. Mohon GP Generrasi Penerus melakukan Reorientasi Akademika Universitaria Honoriskausa. 12. NDH Turut Pencerah GP, Missi Voluntir. 13. HH 18 6 2013.

    ________________________________

  2. Binsar Napitupulu berkata:

    Mengenai eratnya hubungan Bangsa Batak dengan air bisa dilihat dari kata2 ini: Ndada lupa ahu di poda manang lolos di tona. Sai huingot do luhut angka ajar dohot poda ni angka natuatua: Ai sai marbo do ahu di tapian, sai marpaima do ahu di umbat jala sai marpanungkun do ahu di tingkada

  3. Mohonralatsekedar :18 3 2016 :

    NDH

    Sent:Tuesday, June 18, 2013 8:13 AM

    Subject:MUSIK EKOLOGIS BUDAYA BATAK Yu Tube Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba | TanoBatak Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan | TanoBatak

    NDH 18 6 2013

    MENELUSURI HISTORIOGRAFIKA DGK DEMOGRAFIKA GEOGRAFIKA KULTUROLOGIKA BATAK CQ DI INDONESIA SUMATERA UTARA – NKRI

    1. Klik dan studi 2 Artikel di atas: Musik Ekologis…. dan Sumbangan Kebudayaan… 2. Keduanya dihidangkan Tano Batak, dari Monang Naipospos. 3. Tulisasn Cerahan Jones Gultom KOMENTAR KONVERGENSI NDH

    1. Cerahan Pengantar saya dalam Studi ITSS Ilmiah Tekno Teleologi Sekular ke Sakral Teologi, sebagai usaha disiplin studi pengetahuan manusia sadar alamnya sekitar, sebagai usaha terahir dan jadi awal lanjutan jabarannya. 2. Saya nyatakan kepada Pemerhati ITSS yang nyata memiliki bakat untuk itu, bahwa dalam Kultur Batak juga ditemui Urutan Bersinambung Lestari DGK Demografika Geografika Kulturologika itu bersama dengan Pengamalnya (Manusia=Ahli/Pakar). 3. Kiranya kepada Umum via Internet Diskusi Interkontinental di berbagai Werbsites dan Lainnya, secara khusus juga saya nyatakan dalam gaum dsb pembicaraan saya NDH dengan Bistok Siahaan, Prof DR (1990-an), Robert Sibarani, Prof DR, (1990-an), dan Andar Pasaribu, DR Cand, 2000-an. Serta juga mungkin yang lain termasuk Non Batak. 4. Yaitu juga di Batak ditemukan ketidakbersamaan aktuilnya timbul Ahli menjadi Pembimbing Pencerah Bersinambung Lestari Kulturologika itu, sebagai Kasus Konflik yang melibatkan 3 DGK itu. 5. Tatkala saya di Kota Medan tempat Timbul Terelite Sumut domisil selama 1949/1957, tatkala di SLA Sekolah Lanjutan Atas (Pendidikan Dasar /Pendidikan Tinggi -Akademik / Honoriskausa; Masuki Jabatan Usaha Masyarakat) saya membaca Buku dan Ttg DR Charles Darwin, Pencipta Teori Evolusi, tatkala ia berumur 73 tahun (1809-1882), berdoa kepada Tuhan, mohon umurnya diperpanjang, agar lebih jabar kontribusi ilmiahnya tentang universum (subtansi existensi utilisasi, apa mengapa bagaimanamestinya), betapa besar kuasa Tuhan atasnya. 6. Membaca kedua buah tangan Jones Gultom ini, saya acc-kan teleologis yang teologisnya. Termasuk pikiran yang tendensi saya terhadap Masyarakat Parmalim, Pengenal Agama Mulajadinabolon (Tuhan Allah, Monotheisme), diterima dari Tuhan Allah di Surga langsung diajarkan kepada Bataraguru Ayahandaawal Batak di Dunia Para Dewa, serta diteruskan kepada Putrinya Deakparujar yang membawanya ke Dunia Bumi, Internalisasi dan Implementasi dalam Kultur DNT (Dalihannatolu) dalam DGK (Demografika Geografika Kulturologika) . TERJADI PERTUMBUHAN : BERSINAMBUNG LESTARI 1. Terimakasih Bibit (Inang/Ito) Jones Gultom, telah saya ikuti dan berinteraksi dalam diskusi, bertalian juga berterimkasih dengan Bapak Monang Naipospos, dalam Tema Tano Batak tentang DGK Demografika Geografika Kulturologika, terutama, seperti didalam Cerahan ini- 2. Telah Bersinambung Lestari tampak dalam tulisan Budaya dan Musik Batak ini, cerahan dalam Terminologi yang makin bertaut terutama dengan kasus ilmiah sektoralnya disebut dalam eksistensi budaya dan musik disebut di sini. 3. Aristoteles bersama Rekan-Rekan Filosof Zamannya, kita sebut mula insentip pengetahuan pengertian pemahaman semua di alama sekitar yang diberi penamaannya, demikian Terminologi yang diakurasi bertalian Psikosomatisme, atau dalam 3 Faktor Lithosphere – Hydrosphere – Atmosphere, dimana terdapat pengakurasian terminologi masing-masing dalam jadi jelas DGK Demografika Geografika Kulturologika itu, di dalam lingkupan menyeluruh global makro dan mikrokosmos dari terbesar sampai bagian terkecil bersamaan dengan eksistensi konsekuensi kulturologika utilisasinya dalam kehidupam masyarakat manusia (HAM) dan hak azasi alam (HAA). 4. Kitaran tahun 1990-an/2000-an lalu di Kota Medan muncul Konflik terhadap Agama Bataktua PARMALIM. Ternyata dari pihak diri mayoritas anggapdiri lebih benar, ada perorangan yang mengingatkan sikap harga Dasar HAM HAA PS Panca Sila kepada mereka. Saya yang berada dikejauhan di Eropa, telah berkesempatan memberi pengukuhan Dasar HAM HAA PS itu justeru ditunjukkan oleh pihak pengkritik bahkan menghalangi misal Kantor Pusat di Medan dibangun. 5. Justeru saya ajukan kesempatan dapat diambil Parmalim aktualisasinya Upacara Edukasi Kesucian yang justeru pelaksanaan Iman Percaya yang populer jadi besar kini di Dunia Agama, menjadi makin mencari Metode Kesucian, yang mana disini Parmalim akan memberi kontribusi partispasi konvergensi Mulajadinabolon Tuhan Allah Debata Jahowa, dimana terutama tingkart Pembangunan Dunia DGK Kini 50 Th I 1945/1995 dan II 1995 / 2045 kiranya telah tiba Fenomena Urapan Tuhan pada Faktor Existensi Manusia cq IQ Meningkat, – karena memang dari Pengetahuan Pengertian Pemahaman (Teori) Evolusi cq Charles Darwin Dkk, Peningkatan Lestari dalam Bersinambung itu adalah Produk Akurat dalam Symnbiose Mutualis. 6. Penting kiranya Bapak Monang Pospos juga dari Parmalim sebagai Sekumnya, disamping itu beliau sebagai Penggali Penginteresse Budaya Sastra Batak, serta duduk sebagai Anggota DPRD di Sumut, halmana berakibat konsequensi maju pada Masyarakat Parmalim sendiri sibagai jadi Kontributor Pembangunan Budaya Bersinambung Lestari di NKRI. 7. Bertalian usaha ini sebelum 1996 Bistok Siahaan, Prof DR, IKIP Negeri Jakarta, Direktur S3, minta usul saya, dan telah dimulai disusun Kurrikulum Pembinaan Kultur Batak, yang telah mulai dilaksana-kannya Ceramah Dalam Rangka HUT 17 Agustus 1995 di Jakarta, halmana lanjutan usul yang saya ajukan akan bersinambung lestari. Hal bersamaan dalam konvergensi BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama dengan Usaha Jones Gultom dan Monang Pospos Dll. Sayang Maret 1996 beliau Bistok Siahaan marhum. 2 jam sebelumnya hubungan telepon kami berdua, masih sempat neliau mengusulkan mendorong saya teruskan Hubungan Antar Alumni Batak Interkontinental. 8. Silahkan Bibit Jones Gultom dan GP Generasi Penerus dari GP Muda serta Semua yang ada sama terdapat di dalam Masyarakat INTERGENERASI (Alumni Tua dan Muda) sebagai Masyarakat BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama Bersinambung Lestari itu dalam saling hubungan Tut Wuri Handayani, terjadinya Harmoni Hubungan Antar Manusia – karena itu atas Dasar Kasih !!! 9. Sangat urgen unutuk Pertumbuhan Cerahan Jones Gultom Serta Lainnya GP Generasi Penerus, lihatlah dengan baik Historiografika DGK Batak itu dalam ASM Akurat Symbiose Mutualis yang disebut dalam Kronologi ITSS Ilmiah Teleologi Sekular ke Sakral Teologi dari Erzbishop Uhser 1650 London / Historika Victoria 1890 / Bibiotika London 1997 / Bibliotika Jerman 1999 / Cerahan NDH 2000. 10. Kronologi itu memulai Catatan Universum 5 Miliar Th lalu, sebagai satu terdiri atas Abiota berjabar 3 Lithosphere – Hydrosphere-Atmosphere, Antar 4-3 Miliar Th lalu Timbul Tumbuh Biota (Vega Animal Humana). Dan Antar 12 Jt Th sM / 5 Rb Th sM timbul tumbuh MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens Sapiens di Timteng Asal Afrika. Serta 4004 sM timbul tumbuh MmHss Adam / Hawa BTS Bangsa Tuhan Satu sebagai Model diajukan Tuhan kepada Ciptaan di Universum, lihatlah Biblika Injiltua dan Baru serta Quran, dengan jabarannya disertai legitimasi baik oleh Tuhan begitupula Legitimasi Tafsir dalam Konfessi Agama-Agama BTS itu. Dengan demikian Batak sendiri yang memulai menerima Ajaran dari Akar Bangsa MmHss 12 Jt Th sM telah mengadakan Akultrurasi dengan BTS serta Jabaran Legitimisainya, lihatlah Batak di Sumut NKRI sudah pada Abad 19 menyatakan Legitimasi Mulajadinabolon itulah yang disebut dalam Bibel dan Quran (Apostel : Nommensen / Bibel, Tuanku Rao Sinambela/Quran)- dan Tuhan Allah Debata Jahowa diinternalisasi dijabarkan dalam DNT Dalihan Na Tolu DGK yaitu Triaspolitika Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Panca Sila untuk NKRI (Moderen) yang dicipta Pra NKRI 1 6 1945 / NKRI 17 8 1945 dan diterima Dunia / PBB 10 Desember 1948 dan Dunia III Kongres Bandung 1955. Dst Kini dalam BBB PBB. 11. Mohon GP Generrasi Penerus melakukan Reorientasi Akademika Universitaria Honoriskausa. 12. NDH Turut Pencerah GP, Missi Voluntir. 13. HH 18 6 2013.

    ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s