Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan

Jones Gultom

Dasar kebudayaan orang Batak (Toba) adalah penghormatan atas seluruh makhluk hidup. Bahkan bukan hanya fisikal, tetapi kadang juga yang bersifat spiritual. Landasannya berdasarkan regalia atas pengakuan akan relasi mikrosmos dengan makrokosmos. Tujuannya, menciptakan keharmonisan antara mikrosmos (jagat kecil-manusia) dengan makrosmos (jagat besar-lingkungan). Itulah sebabnya, dalam spiritualitas Batak, dikenal tokoh-tokoh suci (disebut malim) yang bertugas menyelaraskan itu. Hal inilah yang diyakini oleh masyarakat Parmalim (Penganut Ugamo Malim; Agama Batak) sebagai usaha untuk mengharmoniskan konsep (buatan) manusia dengan konsep alam.

Karenanya dalam konteks revitalisasi Kawasan Danau Toba, gerakan kebudayaan merupakan sesuatu yang sangat penting. Sebab ia tak hanya berhubungan dengan manusia, tetapi juga sistem nilai, relasi dan aturan.

Pertama sekali, akan saya uraikan sumbangan kebudayaan Batak itu, khususnya bagi pelestarian lingkungan Kawasan Danau Toba. Mudah-mudahan bisa dikontruksi ke dalam berbagai action yang mendukung pelestarian alam, peningkatan ekonomi masyarakat serta terciptanya kehidupan yang berkelanjutan, tanpa kehilangan esensi dan identitasnya.

Dari sisi ruang, konsep spiritual Batak memandang semesta atas 3 tempat, yakni Banua Ginjang, Tonga dan Toru. Banua Ginjang dihuni oleh Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta) beserta Debata Na Tolu (Batara Guru, Sori Sohaliapan, Bala Bulan). Masing-masing berperan sebagai, pencipta aturan dan hukum, penjaga kehidupan yang luhur serta pemberi hukuman atau sangsi. Secara simbol, ketiganya mengandung nilai kebijaksanaan, kesucian dan keberanian. Nilai-nilai ini juga diimplementasikan atas psikologis warna Batak yakni, secara berturut; hitam-putih-merah. Tampak jelas, bahwa Batak, sebagaimana umumnya agama-agama lain, menganut paham harmoni dalam kosmologi hidup mereka.

Jauh-jauh hari, Batak juga telah mengakomodir unsur-unsur kehidupan. Untuk melegalisasi keyakinannya itu, maka diciptakanlah sosok-sosok yang menjadi symbol, yakni berupa dewa-dewi yang berdiam dan bertugas atas masing-masing sumber kehidupan itu. Misalnya atas air spiritual Batak mengenal Si Boru Saniang Naga (yang menguasai air) Naga Padoha Ni Aji (yang menguasai tanah) Leang-leang Mandi (yang menguasai udara) Raja Odap-odap (menguasai bebatuan).

Bukan hanya sekedar nilai, tetapi keyakinan atas keberadaan tokoh-tokoh suci itu, diaplikasikan lewat beragam ritus. Misalnya, setiap kali masyarakat Batak akan menanam atau memane, lebih dulu digelar upacara adat membersihkan tempat atau sumber-sumber mata air di kampung mereka, sebagai penghormatan terhadap Saniang Naga. Begitu juga ketika ada anggota keluarga yang sakit. Hal yang yang pertama mereka lakukan dengan “mensucikan” sumber mata air di kampung mereka. Mereka percaya, bahwa sumber penyakit, muncul manakala Si Boru Saniang Naga marah kepada mereka. Untuk “membujuk” hatinya, perlu digelar ritual dengan cara membersihkan sumber-sumber air.

Demikian juga, ketika akan membangun rumah atau membuka kampung, mereka akan menggelar ritus kepada Naga Padoha Ni Aji. Tujuannya agar rumah mereka dijauhi oleh bencana terutama longsor dan gempa. Itulah sebabnya dalam masyarakat Batak meyakini terjadinya gempa disebabkan karena Naga Padoha Ni Aji yang berdiam di dalam tanah itu, tengah murka. Ia mengibas-ngibaskan ekor dan kepalanya lantas terjadilah gempa. Faktanya keyakinan itu, sama dengan teori modern yang menjelaskan terjadinya gempa. Berdasarkan keyakinan itu, muncul insight dalam benak masyarakat Batak. Mereka merancang rumah-rumah mereka dengan model anti gempa. Untuk menghormati Sang Naga, desain rumahnya dipadakan dengan sosok Naga Padoha Ni Aji. Dan faktanya, rumah Batak dari sisi konstruksinya, tahan terhadap gempa.

Dari sisi waktu, spiritual Batak meyakini kehidupan abadi atas roh. Bahwa roh setiap makhluk hidup, tidak akan mati. Dengan begitu, penghargaan terhadapnya begitu tinggi. Keyakinan itu, diterjemahkan ke dalam konsep tokka (larangan) tona (anjuran) poda (nasehat) subang (pantang) dan lain-lain. Misalnya subang, jika seorang suami yang istrinya sedang hamil, menyembelih hewan. Kebudayaan Batak sangat menghormati pohon, hariara (beringin), khususnya. Seperti kita tahu, pohon beringin mempunyai multifungsi. Antara lain; sebagai sumber air, resapan air, juga sifatnya yang meneduhkan. Tidak heran, jika orang Batak menganggap hariara sebagai pohon hayat mereka. Dalam mengeksplorasi kayu, mereka menerapkan sistem tebang 1 tanam 2 serta prinsip tebang pilih. Kini, prinsip ekologis seperti ini tengah digalakkan di segala penjuru dunia.

Produk-produk kebudayaan, yakni menyangkut aturan dan sistem sosial-adat, juga lahir atas spiritualitas mereka. Salah satunya kini diterjemahkan dalam konsep Dalihan Natolu. Namun jauh sebelum Dalihan Natolu, masyarakat Batak telah lebih dulu mengenal sistem yang sama, disebut, Suhi Na Ampang Na Opat (analogi empat sudut talam). Dimana ketiga butir dari Dalihan Natolu dilengkapi dengan poin terakhir, yakni hormat maraja. Disebut-sebut, point keempat ini sengaja dihapus oleh kolonial demi mengurangi pengaruh raja serta mempermudah penguasaan.

Diyakini bahwa kehidupan akan menjadi sempurna, bila empat sudut bumi, bertemu dengan empat sudut di langit. Oleh karena kehidupan manusia yang telah jauh dari kemaliman (kesucian), maka Mulajadi Nabolon mengutus beberapa malim (orang suci) ke banua tonga (dunia). Di antaranya Raja Uti, Tuhan Simarimbulubosi, Sisingamangaraja dan Raja Na 44. Tugas mereka adalah mengalimkan manusia agar sudut-sudut itu bisa kongruen.

Prinsip mempersatukan 4 sudut di bumi dengan 4 sudut di langit, inilah yang memunculkan sosok Raja Na 44. Raja Na 44 itu sendiri bersifat jamak dan kelembagaan. Yang dimaksud Raja Na 44, adalah orang-orang suci dari berbagai penjuru dunia yang misinya sama dengan para malim dalam spiritual Batak. Raja 44 itu, bisa saja berasal dari keyakinan spiritual dan agama yang berbeda dari Batak. Ia semacam regalia, bahwa ada kebenaran di luar keyakinan spiritual mereka.

Karena itu, pendekatan kebudayaan masih sangat memungkinkan dilakukan bagi upaya pelestarian Kawasan Danau Toba. Tinggal bagaimana pemangku kekuasaan dan stakeholder lain, mengemasnya sehingga melahirkan kebijakan-kebijakan yang lebih populis. Kita sangat yakin, terciptanya produk-produk kebudayaan suatu kelompok masyarakat, telah mengalami uji coba yang panjang. Yaitu sebuah usaha dalam mengatasi persoalan yang dihadapinya. Begitu juga dengan masyarakat yang ada di Kawasan Danau Toba.

Rekonstruksi

Di antara masyarakat komunal di negeri ini, barangkali tinggal masyarakat Batak yang masih setia menggunakan produk-produk kebudayaannya itu, walau kini penerapannya tak seketat di masa lalu. Terkait dengan isu-isu lingkungan, potensi kebudayaan itulah yang sebenarnya paling sangat mungkin dijadikan landasan dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya di Kawasan Danau Toba. Dalam format yang lebih universal, bukan hal yang mustahil bila ia nantinya dijadikan produk-produk hukum yang baku.

Kecenderungan ke arah itu, sebenarnya pernah dipraktikkkan. Misalnya dengan “menasionalisasikan” konsep “marsiadapari” menjadi gotong-royong. Dalam wilayah regional, dibahasakan oleh Raja Inal Siregar, sebagai “marsipature hutanabe”. Hanya saja praktiknya tidak berjalan maksima. Salah satu penyebanya, karena konsep-konsep itu dianggap sebagai jargon politik.

Karena itu, usul saya, pemerintah harus melibatkan secara lebih maksimal peran-peran budayawan dan lembaga-lembaga kebudayaan dalam setiap kali musyawarah rencana pembangunan (musrembang). Sebab, memang begitulah ciri khas masyarakat komunal. Begitu juga dengan berbagai kebijakan, sudah harus diorientasikan pada prinsip budaya.

Salah satu bentuk yang paling nyata adalah dengan menghidupkan kembali peran lembaga-lembaga adat. Harapannya, lembaga-lembaga itu akan menjadi stakeholder, patner, bahkan berfungsi sebagai kontrol sosial. Karena bagaimanapun, kelompok-kelompok inilah yang lebih dekat dan mengerti dengan dinamika masyarakatnya. Pemerintah harusnya lebih concern terhadap fungsinya sebagai regulator-fasilitator. Dengan begitu, kedaulatan itu akan kembali sepenuhnya kepada rakyat yang tentunya berbudaya.

 (Dimuat di Analisa, 12 Mei 2013. Penulis bergiat di Earth Society dan Jendela Toba. Dikirimkan ke blog TanoBatak tgl 18 Juni 2013)

Tautan :

KEARIFAN BUDAYA BATAK MENGELOLA LINGKUNGAN

Ikan Batak Di Mual Sirambe

LESTARIKAN BATAKKU

Hentikan Eksploitasi Danau Toba

Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!

Sikap Orang Batak Terhadap Lingkungan

 

Tulisan Jones :

Kumpulan Puisi Multidimensi

Menguatkan Wacana Geopark Toba

Hentikan Eksploitasi Danau Toba

PERCAKAPAN DI PARBABA

Sapargondangan

Euforia Nasionalisme Tor-Tor Dan Gordang Sambilan

DANAU TOBA MILIK DUNIA

EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG

PUISI PASKAH

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s