Pangulu Balang di Pulo Samosir

Ria Sitorus

“Tanpa pemahaman sejarah, jiwa generasi muda akan kosong. Mereka akan menjadi orang-orang pintar yang menjual bangsa dan negaranya sendiri,” demikian sebuah kalimat bijak yang penulis kutip dari sebuah tulisan bertajuk “Kreatif Budaya” di sebuah koran Nasional (Kompas 09/12/2012).

Barangkali pemikiran demikianlah yang menjadi landasan bagi Idris Pasaribu, seorang sastrawan dan budayawan Kota Medan yang sekaligus sebagai ketua KSI-Medan, untuk mengajak kami (anggota KSI-Medan) melakukan karya-wisata ke Pulau Samosir.

Aktifitas dan segala problema kehidupan terkadang menghambat laju kreatifitas seseorang. Sehingga perlulah mencari tempat-tempat yang indah untuk “wisata bhatin”.

Pulau Samosir tentu menjadi pilihan tepat yang sangat refresentatif bagi kami. Selain panoramanya yang nan eksostis, juga masih banyak misteri yang belum terungkap di sana. Pulau Samosir—adalah sebuah pulau di dalam peta Pulau Sumatera. Dan Danau Toba—adalah sebuah danau yang penuh misteri.


Dalam sejarah geologi, Danau Toba merupakan danau terbesar di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Proses super-vulcanologi pembentukan Danau Toba ini pun mengundang para peneliti dan ahli-ahli geologi dari berbagai belahan dunia untuk melakukan penelitian secara langsung ke Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba maha luas ini.

Jika para peneliti dari luar negeri dominan lebih tertarik meneliti bentang alam dan serajarah proses geologi Danau Toba dan Pulau Samosir, berbeda dengan kami yang kali ini mencoba menelusuri jejak-jejak sejarah Bangso Batak melalui situs-situs sejarah yang masih tersisa, seperti halnya situs Pangulu Balang di Huta Siallagan.

Pangulu Balang—dalam sejarah kerajaan Bangso Batak, merupakan pasukan penjaga Harbangan di sebuah ‘Huta’—kampung. Tugas dan fungsi “Pangulu Balang” adalah untuk menjaga ketahanan dan pertahanan sebuah ‘huta’ dari serangan musuh dan para penjahat yang berniat merusak ketentraman ‘huta’ tersebut. “Pangulu Balang” ditempatkan tepat di ‘harbangan’ ni ‘huta’ (pintu gerbang masuk sebuah perkampungan).

Jika “Pangulu Balang” berhasil menangkap penjahat yang masuk ke ‘huta’ yang mereka jaga, seperti misalnya ‘panangko’ (baca: panakko)—pencuri, ‘pangalangkup’ (baca: pangalakkup)—penzinah, ‘pamunu’—pembunuh; maka si penjahat tersebut akan diserahkan kepada Raja Huta yang berkuasa. Lalu, oleh Raja Huta, digelarlah acara “marlolo Raja”—sebuah acara untuk musyawarah-mufakat antara Raja, para penasehat huta, datu dan para tetua adat untuk menentukan hukuman yang sepantasnya bagi si penjahat tersebut sesuai jenis kejahatan yang dilakukannya.

Setelah si terdakwa terbukti bersalah, maka dijatuhilah dia hukuman mati. Si penjahat dibawa ke tempat ‘paneatan’—pemotongan, yang telah disediakan di ‘harbangan ni huta’—pintu gerbang masuk kampung. Si penjahat dikawal oleh para “Pangulu Balang” lalu diletakkan di atas batu ‘paneatan’ dalam posisi terbaring, tangan diikat di belakang punggung, kaki hingga lutut ditekut/dilipat di atas perut mencapai dada. Di bawah batu ‘paneatan’ itu telah terlebih dulu dikumpulkan biji-biji kemiri yang kering sebagai bahan bakar untuk membakar mayat itu nantinya, setelah si penjahat telah dipotong lehernya (tapi tidak sampai terputus dari kepala).

Setelah semua persiapan sudah lengkap, salah seorang “Pangulu Balang” yang telah dinobatkan sebagai ‘paneat’ (pemotong) akan mengambil pisau panjang yang telah disediakan oleh Raja Huta, lalu ‘maneat’ (memotong) leher si penjahat. Ritual ‘paneatan’ ini disaksikan oleh Raja Huta, para penasehat kerajaan, para datu, para tetua adat, para pangulu balang, warga huta serta terutama keluarga si terdakwa.

Setelah dipastikan si penjahat telah mati, maka tumpukan kemiri kering di bawah ‘batu paneatan’ itu dinyalakan untuk membakar mayat si penjahat tersebut (dengan tujuan, agar tidak menyebarkan penyakit).

clip_image008

(Situs Pangulu Balang; posisi si terdakwa saat akan dipotong lehernya. Foto oleh : Ria Sitorus)

Situs peninggalan “Batu Paneatan” itu masih bisa kita temukan di huta Siallagan, Pulau Samosir, beberapa km sebelum lokasi situs Pemenggalan Batu Kursi, Huta Siallagan. Situs Batu Paneatan Pangulu Balang ini terletak di harbangan ni huta, dekat dengan porlak (kebun) warga. Situs ini masih utuh meski terlihat agak berlumut kerana kurang perawatan.

**

Pulau Samosir merupakan ladang sejarah misteri yang tersimpan di dalam celah-celah bebatuan. Semakin dicungkil—semakin banyak melahirkan tanda tanya. Dan tak habis-habisnya. Maka sangat wajar jika pada akhirnya Pulau Samosir menjadi tujuan utama perjalanan setiap orang. Apakah dia seorang penulis yang sedang ingin mencari inspirasi-inspirasi baru, atau pun mereka para penggiat seni rupa, sebab panorama nan eksotis, lukisan Agung Maha Karya Sang Debata tentu akan memancarkan keluasan imaji yang luar biasa. Atau pun bagi mereka para geolog yang sedang ingin memperkaya pemahaman dan ilmunya lewat penelitian, serta masyarakat umum dengan berbagai profesi lainnya. Danau Toba tentu menjadi tempat paling tepat.

clip_image010

(Situs Batu, sebagai tempat persidangan sebelum si terdaqwa dijatuhi hukuman mati. Foto oleh : Ria Sitorus)

Selain situs wisata budaya “Pangulu Balang”, masih banyak situs-situs budaya lainnya yang bisa kita kunjungi dan tak kalah menarik. Seperti halnya situs “Persidangan Batu Kursi”, situs “Kerajaan Sidabutar”, situs “Raja Lontung”, Huta Tomok, Sianjur Mula-Mula, Batu Hobon, Pusuk Buhit, Aek Sipitu Dai, dan situs-situs wisata-budaya lainnya yang juga menyimpan seribu misteri dari kisah sejarah masa lalu peradaban Bangso Batak.

Kuliner :

Selain objek wisata budaya, panorama alam nan eksotis, kekayaan dan keunikan budaya masyarakat setempat, Pulau Samosir juga memiliki potensi besar dalam hal wisata-kuliner. Banyak masakan khas dari Pulau Samosir yang telah familiar di kalangan masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia (khususnya para turis manca negara yang telah berkunjung ke Pulau Samosir).

Naniura—adalah salah satu kuliner khas dari Pulau Samosir yang cita rasanya bisa menyentuh lidah setiap pengunjung. Rasanya perjalanan kita menelusuri Pulau Samosir kurang lengkap jika belum menikmati kuliner khas Naniura ini.

Konon Naniura merupakan masakan khas yang disajikan khusus untuk para Raja. Artinya, Naniura tidak dimakan oleh sembarangan orang. Namun seiring berjalannya waktu, setelah sistem kerajaan kecil Bangso Batak kemudian tergantikan oleh sistem pemerintahan Republik Indonesia, Naniura tidak lagi hanya untuk para Raja. Meski demikian, Naniura tetap disajikan secara istimewa misalnya pada saat pesta-pesta adat, parhelatan besar, acara khusus keluarga besar dan lain-lain. Sama halnya dengan masakan khas Naniarsik.

***********************
Dikirimkan ke blog tanobatak, Minggu, 07 Juli 2013 pukul 14,53, dan sudah pernah dimuat di Harian Analisa
www.analisadaily.com pada tanggal yang sama.

Poloria Sitorus adalah mahasiswi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial – UNIMED. Penulis aktif bergabung di Komunitas Sastra Indonesia (KSI)-Medan di TBSU-Medan, sebagai daya upaya dalam meningkatkan kemampuan menulisnya. Selain menulis karya-karya fiksi seperti Cerpen, Puisi, dan Esai, penulis juga aktif menulis Artikel Lingkungan, Artikel Sastra dan Budaya, Opini, Feature, dll. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai Media Lokal, seperti: ANALISA, MedanBISNIS, Sumut Pos, Batak Pos, Batam Pos, KOMPAS.Com, dll.

Saat ini menjabat sebagai Redaktur Seni, Sastra & Budaya di Harian Umum BATAK POS-Medan.

6 thoughts on “Pangulu Balang di Pulo Samosir

  1. N.D. Hutabarat berkata:

    RE RIA SITORUS :

    1. Acc 2. Historiografika berisi variasi dan pengulangan DGK Demografika Geografika Kulturologika. 3. Sebagi Ontogenese dari Rekapitulasi dari Phylogenese 4. Terjadinya Bersinambung Lestari 5. Studilah Masyarakat Anthropologi cq Teori Pengulangan dari Bronisky dll terjadinya segala sesuatu dalam Tatan Omega.

    ________________________________

  2. Kutipannya bagus tapi isi artikelnya sendiri sampah! Mitos kosong (gereja?) aja itu cerita tentang tempat pengadilan dsb di Siallagan itu. Mana ada meja dan kursi dalam peradaban Batak Klasik! Jugak, Batak Klasik BUKAN merupakan Feodalisme yang memiliki Raja dan Pangulubalang segala! Penulis artikel di atas harus belajar yang benar dulu tentang sejarah Batak kerna kutipan yang dipakeknya di awal tulisannya tsb jadi ironi atas pemahamannya sendiri tentang sejarah budayanya sendiri!!!

  3. Mendingan si Penulis daripada si Saut… si Penulis telah memberikan sedikit ilmu bagi pembaca, sedang kan kau kawan cuma ‘kritik’ yang tidak mendidik…. kau nulis tentang apa?? jng suka men ‘just’ sesama penulis… kayak hebat aja kau…

  4. menurut saya artikel ini adalah pandangan yang sangat kental akan sejarah, dan bisa di bilang bisa menjadi poin untuk saya sebagai orang batak bahwa masih ada sejarah yang perlu di kenang dan perlu di lestarikan. terima kasih untuk artikelnya kawan

  5. Binsar Napitupulu berkata:

    @Saya setuju dengan Sdr Saut Situmorang, saya ragu akan kursi
    2 batu yang ada di Tano Batak, saya pikir itu kebudayaan Eropa!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s