SOPO BUDAYA atau PARTUNGKOAN, Mampukah..?

Manahara Tambunan

                       —————————————————-

Manahara TambunanSebuah imajinasi Esai untuk mendukung kualitas kesenian dan kebudayaan guna menopang kepariwisataan di Toba(Sa)mosir.

—————————————————–

 

  “Aku mengandalkan kemampuanku untuk mengkritik diriku sendiri, untuk meneliti ke dalam diriku sendiri. Di samping itu aku juga menghargai kritik sesama manusia, sebagai rangsangan untuk perkembangan baru. Pandanganku di dalam kemasyarakatan pun sama; aku mengandalkan kemampuan masyarakat untuk mengkritik dirinya sendiri, untuk meneliti dirinya sendiri”. -W.S. Rendra (dalam Mastodon dan Burung Kondor 2011: 117).

Pengantar:    

APAKAH kita tahu bahwa seni, budaya dan pariwisata memiliki bangunan masing-masing atas kata itu sendiri?. Bukankah kita mengetahui bahwa seni, budaya dan pariwisata memiliki masing-masing defenisi yang luas atas makna yang terkandung di dalamnya?. Apakah ketiga kata ini akan menjadi sebuah Mahakarya yang sangat bernilai tinggi bila saling merangkul  dan menopang satu sama lain?.  Bisakah kita membangun sebuah opini untuk kita hayati dan renungkan, bahkan kita realisasikan bersama?

***           

Peristiwa krisis moneter 1997 yang melanda Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, mengingatkan kita pada arus kunjungan wisatawan ke Danau Toba yang tingkat persentasenya menurun sangat drastis. Ditambah lagi peristiwa konflik horizontal (Mei 1998) yang menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan kepariwisataan nasional, dimana diumumkannya Travel Warning oleh pemerintah berbagai negara di  benua Asia dan Eropa  bagi warganya yang berkunjung ke Indonesia. Tentunya hal ini sangat disayangkan karena bangsa kita yang memiliki potensi pariwisata yang begitu besar untuk dikelola demi memulihkan keadaan ekonomi negara, justru menjadi sebaliknya malapetaka bagi rakyatnya. Danau Toba misalnya, sebelum terjadinya krisis moneter dan travel warning tadi, kawasan ini bagaikan sorganya destinasi wisata yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik nusantara terlebih mancanegara. Namun kini, kian meredup dan terlihat mati suri. Mengapa demikian? Tentu menjadi tugas kita bersama untuk menumbuhkembangkannya supaya kembali menjadi “magnet” bagi warga dunia.

Dinas pariwisata dan kebudayaan Toba(Sa)mosir merupakan sebuah instansi pemerintahan yang memiliki peran utama dalam membangun kembali image pariwisata kita. tugasnya selain penyelenggara kebijakan kepariwisataan dan kebudayaan yang berdaya saing adalah meningkatkan kualitas pariwisata yang berbasis budaya, serta mewujudkan industri pariwisata yang mampu menggerakkan perekonomian daerah melalui perluasan lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu misi pengembangan pariwisata dan budaya di kabupaten Toba(sa)mosir (tentu tidak jauh-jauh) adalah mendorong “terwujudnya pariwisata dan pelestarian kesenian serta ketahanan budaya yang hidup dan berakar dalam segala adat istiadat masyarakatnya” (dalam Simatupang, 2009: 6), artinya ada kesejahteraan masyarakat di dalamnya. Upaya ini, jelas lebih bersifat dinamis dan multidimensional dalam arti menjaga, membina dan terus menghidupsuburkannya secara  lebih kreatif. Dinas pariwisata dan budaya tentu harus punya peran lebih dalam hal ini. selanjutnya, bagaimana dinas pariwisata dan budaya melihat konsep misi tadi, dikaitkan dengan aktivitas berkesenian sebagai daya tarik kepariwisataan kita? (pertanyaan ini tentu saja dialamatkan kepada pemangku tugas dan jabatan terkait, juga seluruh stakeholder dalam kaitannya seni-budaya, dan pariwisata).

Menurut saya, ada tiga hal yang selama ini barangkali sering terlupakan; Bahwa pada saat ini, justru dunia lebih cenderung terhadap keaslian (originality), keunikan (uniqueness) dan kelokalan (locality). Dewasa ini, pola dan perangai kita yang cenderung menyatakan: Modernisasi identik dengan westernisasi, memperlihatkan sikap keterlupaan kita tehadap seni dan budaya lokal. Katakanlah alat musik “Biola” adalah produk western untuk memperlihatkan sikap keterlupaan tadi; bayangkan, jikalau kita berkompetisi dalam seni musik (konser lomba Biola), maka kita akan sangat bersusah payah untuk menang. Tetapi jika berkompetisi dalam musik yang bersal dari negeri kita atau alat musik tradisional Batak seperti “Sordam/seruling, Garantung, bahkan Gondang”, maka saya yakin perhatian masyarakat dunia akan mengarah kepada kita.

Tidak saatnya lagi membangunkan kesadaran masyarakat; Seni-Budaya kita akan terus tertidur?, Ayooo bung..!

Prof.DR.I Made Bandem selaku mantan Rektor ISI Yogyakarta (dalam Marzuki, 1999: 178) pernah menyatakan: Bahwa Seni adalah “roh” (spirit) bagi seniman dan budayawan, juga bagi masyarakat penikmatnya. Lewat seni, seorang seniman dapat menjelajahi dunia, dengan berkesenian juga seorang seniman akan mengkomunikasikan bangsa lain dengan bangsanya. Dengan kata lain posisi seni disini telah menjadi sebuah alat diplomasi dan dialog antar budaya bangsa bagi tujuh benua di dunia. Kalau begitu kenapa kita belum memaksimalkannya?. Dengan pengembangan berkesenian yang sedemikian rupa, maka dari  aspek ekonominya, seniman kita-pun bisa hidup secara layak, sekaligus merupakan upaya melestarikan seni dan budaya kita.

Semakin maju sebuah bangsa, maka akan semakin kaya akan pemahaman dan penghargaan terhadap karya-karya seni dan budaya. Fenomena seperti inilah justru kita jadikan sebagai peluang untuk mengangkat karya-karya seni bangsa Batak ke kancah internasional. Barangkali, dalam hal ini, saya sedang hidup dengan mimpi dan bertanya; Apakah suatu saat nanti ada orang kita yang dengan rendah hati  (tanpa unsur lain) memberi sumbangsih dan kepedulian demi terwujudnya Sopo Budaya atau Partungkoan yang saya maksud?. Berangkat dari wadah itu, generasi muda berbakat, yang bergelut di bidang seni dan yang ingin belajar seni-budaya bisa berkarya kemana-mana. Melalui ruang Sopo Budaya atau Partungkoan itu pula,  masyarakat dan stakeholder pariwisata-seni budaya saling bekerjasama membuat sebuah agenda (event) mingguan, bulanan bahkan tahunan, mulai dari skala lokal-regional hingga internasional.

Dalam sebuah event itu, tentu kita dapat menampilkan karya seni-budaya dari sejumlah bangsa di dunia serta tidak tertutup kemungkinan untuk menggelar Travel Mart yang lebih berpeluang untuk menjaring devisa daerah, membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui produk wisata budaya, seni lukis-tari-ukir-pertunjukan, serta pameran kerajinan lokal. Sekali lagi, melalui kesadaran masyarakat akan fungsi dan manfaat Sopo Budaya atau Partungkoan tersebut, Toba(Sa)mosir dapat kita wujudkan menjadi sebuah jendela dunia untuk melihat dan menikmati seni dan budaya kita. Bisa kah?

Hubungannya dengan kepariwisataan daerah kita

Dalam kaitannya dengan kepariwisataan, kesenian yang dari daerah kita jugalah yang bisa kita suguhkan bagi wisatawan lewat inbound market. Di satu sisi seni juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi wisatawan tersebut, dimana mereka akan mendapatkan berbagai macam pengalaman tentang kesenian dan kebudayaan kita. Mengapa demikian? Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata dan Seni Budaya (1999: 170) pernah menjawab; “Karena apa yang disebut dengan seni (Art) memiliki nilai-nilai universal, nilai kesemestaan yang dapat diterima dan sekaligus dinikmati khalayak banyak di belahan dunia manapun”.

Seni dan budaya kita bagaikan serat kapas, rotan, eceng gondok, dan kayu ingul/ungil, yang tumbuh secara alami dan dipandang sepele atau murahan . Namun, apabila diolah dengan apik akan menjadi sebuah mahakarya yang sangat tinggi nilainya. Masalahnya sekarang adalah bagaimana dinas pariwisata dan kebudayaan kita merangkul, mewadahi, mengemas secara profesional hingga memberdayakan masyarakat penggiat seni itu sendiri,  sehingga memiliki daya saing dan daya jual yang tinggi pada era sekarang ini. Misalanya: Apabila ada sebuah ruang bagi seniman dan budayawan lokal sebagai wadah penyampaian hasil karyanya, katakanlah “Sopo Budaya atau Partungkoan yang dimana fungsinya sama seperti gedung pertunjukan atau pameran (Taman budaya – Bentara budaya) di pulau Jawa dan daerah lainnya. Dengan begitu, karya seni dan kebudayaan itu tidak hanya dinikmati oleh seniman dan budayawan, tetapi akan menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk dinikmati masyarakat luas bahkan wisatawan mancanegara sehingga tentu akan memberikan pendapatan bagi masyarakat setempat dan devisa daerah Kabupaten Toba(Sa)mosir. 

Untuk itu, Toba(Sa)mosir perlu sebuah wadah dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pelestarian seni dan kebudayaan lokal. Disamping itu, kita  juga perlu merancang  sebuah format dalam berkesenian yang dapat dibina, dimanage, dikembangkan, dan diberdayakan sehingga nantinya menjadi salah satu komoditas pariwisata. Contoh kecil format yang saya maksud misalnya: pementasan Opera Batak (teater) seperti “Sisingamangaraja XII”. Tema yang ditampilkan memang spesifik, yaitu jatidiri seorang tokoh masyarakat asal Tanah Batak dalam sejarah perjuangan  kemerdekaan NKRI, dan bagaimana dampak (positif) serta pesan yang disampaikan terhadap kehidupan masyarakat “Batak” sehari-hari.  Pembentukan format tadi, bisa saja melakukan pendekatan kerjasama dengan dengan generasi muda Batak yang bergelut di bidang seni teater di negeri ini, misalnya kita mulai dari Sumatera utara, Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan daerah lainnya di tanah air. Dengan demikian, apa yang telah digarap dalam sebuah pementasan, dapat digelar untuk dikonsumsi wisatawan yang sedang berkunjung ke Toba(sa)mosir.

Saran saya kepada seniman dan masyarakat pencinta seni-budaya dan Pariwisata di Toba(Sa)mosir:

Selama persoalan menyangkut kepentingan kesenian-kebudayaan dan kepariwisataan, alangkah baiknya tidak perlu segan-segan untuk mendatangi pemangku jabatan di dinas terkait, silahkan mengkritik dan memberikansaran atau  solusi (merupakan tugas kita bersama) demi tercapainya misi pembangunan seni-budaya dan pariwisata di Toba(Sa)mosir yang kita bangga-banggakan itu. Bahhh..Mampukah?

Diawali dengan tanya dan di akhiri dengan tanya.

Jogjakarta, 20 Juni 2013

** Manahara Tambunan (Penikmat seni-budaya dan pariwisata, penduduk sementara di Yogyakarta).

REFERENSI

Rendra, W. S. Mastodon dan Burung Kondor. Jakarta: Burung Merak Press, 2011.

Simatupang, Titir Rulia . 2009. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir Dalam Rangka Pengembangan Kepariwiataan. Skripsi: Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli.

Usman, Marzuki. 1999. Bungarampai Dialog Pariwisata, Seni dan Budaya. Jakarta: H & L Communications Excellence.

One thought on “SOPO BUDAYA atau PARTUNGKOAN, Mampukah..?

  1. sahala simanjuntak berkata:

    Empat hal pokok tentang kesenian sebagai penunjang industri pariwisata tobasa :1)training&education,2)moseonologi,3)art performance,4)art apresiasion. Museum yang representatif telah ada di tobasa/balige. Point 1,3,4, perlu dipikirkan secara komperhensip. Untuk itu dukungan pemikiran sangat dibutuhkan terutama DONGAN PANGARANTO. Lae, aha do makna (Sa)mosir na sinurathonmuna on?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s